SEKS BEBAS DI KALANGAN REMAJA DAN UPAYA

43 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SEKS BEBAS DI KALANGAN REMAJA DAN UPAYA PENCEGAHANNYA Oleh: Dara Eli Laia

BAB I

PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

Seks pada hakekatnya merupakan dorongan naluri alamiah tentang kepuasan syahwat. Tetapi banyak kalangan yang secara ringkas mengatakan bahwa seks itu adalah istilah lain dari Jenis kelamin yang membedakan antara pria dan wanita. Jika kedua jenis seks ini bersatu, maka disebut perilaku seks. Sedangkan perilaku seks dapatdiartikan sebagai suatu perbuatan untuk menyatakan cinta dan menyatukan kehidupan secara intim. Ada pula yang men

gatakan bahwa seks merupakan hadiah untuk memenuhi atau memuaskan hasrat birahi pihak lain. Akan tetapi sebagai manusia yang beragama, berbudaya, beradab dan bermoral, seks merupakan dorongan emosi cinta suci yang dibutuhkan dalam angka mencapai kepuasan nurani dan

memantapkan kelangsungan keturunannya. Tegasnya, orang yang ingin mendapatkan cinta dan keturunan, maka ia akan melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya. Perilaku seks merupakan salah satu kebutuhan pokok yang senantiasa mewarnai pola kehidupan manusia dalam masyarakat. Perilaku seks sangat dipengaruhi oleh nilai dan norma budaya yang berlaku dalam masyarakat. Setiap golongan masyarakat memiliki persepsi dan batas kepentingan tersendiri terhadap perilaku seks. Bagi golongan masyarakat tradisional yang terikat kuat dengan nilai dan norma, agama serta moralitas budaya, cenderung memandang seks sebagai suatu perilaku yang bersifat rahasia dan tabu untuk dibicarakan secara terbuka, khususnya bagi golongan yang dianggap

belum cukup dewasa. Para orang tua pada umumnya menutup pembicaraan tentang seks kepada anak-anaknya, termasuk mereka sendiri sebagai suami isteri merasa risih dan malu berbicara tentang seks. Bagi kalangan ini perilaku seksual diatur sedemikian rupa dengan ketentuan-ketentuan hukum adat, Agama dan ajaran moralitas, dengan tujuan agar dorongan perilaku seks yang alamiah ini dalam prakteknya sesuai dengan batas-batas kehormatan dan kemanusiaan.

(2)

Menurut Abdul Syani (Unila:2003) salah seorang pemateri Seminar UNILA, mengatakan bahwa “Pupulernya perilaku seks di luar nikah, karena adanya tekanan dari teman-teman atau lingkungan atau mungkin dari pasangannya sendiri. Kemudian disusul oleh dorongan kebutuhan nafsu seks secara emosional, disamping karena rendahnya pemahaman tentang makna cinta dan rasa keingintahuan yang tinggi tentang seks. Beberapa hasil penelitian mengungkapkan bahwa gadis melakukan seks di luar nikah karena tekanan teman-temannya sesama wanita. Teman- temannya mengatakan bahwa:"Semua gadis modern melakukannya, kalau tidak, ya.., termasuk gadis kampungan";

Berdasarkan pernyataan di atas, maka penulis tertarik untuk membahas mengenai masalah

kenakalan remaja, khususnya mengenai seks bebas di kalangan remaja dalam bentuk makalah yang berjudul “Seks Bebas Di Kalangan Remaja dan Upaya Pencegahannya”.

1.2.Perumusan Masalah

Melihat kenyataan paparan di atas, bahwa pada zaman modern ini perilaku seks bebas di kalangan remaja sudah tidak lagi menjadi hal yang asing dan langka ditemukan, tetapi sebaliknya sudah menjadi perilaku yang menjadi kebiasaan dikalangan para remaja.

Dengan demikian adapun yang menjjadi rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah : 1.Apa itu pengertian kenakalan remaja-seks bebas?

2.Faktor apa saja yang mempengaruhi adanya perilaku seks bebas di kalangan remaja? 3.Bagaimana karakteristik dan pola perkembangan seks bebas dalam masyarakat? 4.Bagaimana upaya mengatasi dan mencegah perilaku seks bebas?

1.3.Tujuan Penulisan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan : 1.Pengertian kenakalan remaja-seks bebas.

2.Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya perilaku seks bebas. 3.Karakteristik dan pola perkembangan seks bebas dalam masyarakat. 4.Upaya mengatasi dan mencegah perilaku seks bebas.

1.4.Kegunaan Penelitian

Penulisan makalah ini diharapkan akan bermanfaat baik secara praktis maupun secara teoritis. a.Secara teoritis, hasil penulisan makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan umum, khususnya pengetahuan tentang seks dan pergaulan bebas di kalangan remaja.

b.Secara praktis, hasil penulisan makalah ini diharapkan menjadi bahan masukan bagi semua kalangan, khususnya kalangan remaja sehingga perilaku-perilaku seks bebas dapat diminimalisir dan tidak menjadi berkembang di kalangan masyarakat.

1.5.Ruang Lingkup Penulisan

(3)

berikut :

a.Pengertian Kenakalan Remaja – Seks Bebas

b.Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya perilaku seks bebas, yaitu : a.Faktor umum.

b.Faktor internal. c.Factor eksternal.

c.Karakteristik dan pola perkembangan seks bebas dalam masyarakat. d.Upaya mengatasi dan mencegah perilaku seks bebas.

BAB II

PEMBAHASAN PENELITIAN

2.1.Pengertian Kenakalan Remaja – Seks Bebas

Berdasarkan sumber berita mencatat beberapa pengertian kenakalan remaja menurut para ahli. Menurut Kartono, ilmuwan sosiologi mengatakan bahwa “Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang”.

Menurut Santrock mengatakan bahwa, “Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.”

Kenakalan remaja di era modern ini sudah melebihi batas yang sewajarnya. Banyak anak dibawah umur yang sudah mengenal Rokok, Narkoba, Freesex, dan terlibat banyak tindakan kriminal lainnya. Fakta ini sudah tidak dapat dipungkiri lagi, anda dapat melihat brutalnya remaja jaman sekarang. Dan saya pun pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri ketika sebuah anak kelas satu SMA di kompelks saya, ditangkap/diciduk POLISI akibat menjadi seorang bandar gele, atau yang lebih kita kenal dengan ganja.

Berdasarkan sumber berita mencatat pengertian seks bebas.

Seks bebas adalah hubungan seksual yang dilakukan diluar ikatan pernikahan, baik suka sama suka atau dalam dunia prostitusi.Seks bebas bukan hanya dilakukan oleh kaum remaja bahkan yang telah b erumah tangga pun sering melakukannya dengan orang yang bukan pasangannya. Biasanya dilakukan dengan alasan mencari variasi seks ataupun sensasi seks untuk mengatasi kejenuhan. Seks bebas sangat tidak layak dilakukan mengingat resiko yang sangat besar. Pada remaja biasanya akan mengalami kehamilan diluar nikah yang memicu terjadinya aborsi. Ingat aborsi itu sangatlah berbahaya dan beresiko kemandulan bahkan kematian. Selain itu tentu saja para pelaku seks bebas sangat beresiko terinfeksi virus HIV yang menyebabkan AIDS, ataupun penyakit menular seksual lainnya.

(4)

2.2.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Adanya Perilaku Seks Bebas 2.2.1.Faktor Umum

Menurut Abdul Syani, latar belakang terjadinya perilaku seks bebas pada umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

a.Gagalnya sosialisasi norma-norma dalam keluarga, terutama keyakinan agama dan moralitas; b.Semakin terbukanya peluang pergaulan bebas; setara dengan kuantitas pengetahuan sosial dan kelompok pertemanan;

c.Kekosongan aktivitas-aktivitas fisik dan rasio dalam kehidupansehari-hari;

d.Sensitifitas penyerapan dan penghayatan terhadap struktur pergaulan dan seks bebas relatif tinggi; e.Rendahnya konsistensi pewarisan contoh perilaku tokoh-tokoh masyarakat dan lembaga-lembaga sosial yang berwenang;

f.Rendahnya keperdulian dan kontrol sosial masyarakat; g.Adanya kemudahan dalam mengantisipasi resiko kehamilan;

h.Rendahnya pengetahuan tentang kesehatan dan resiko penyakit berbahaya; i.Sikap perilaku dan busana yang mengundang desakan seks;

j.Kesepian, berpisah dengan pasangan terlalu lama, atau karena keinginan untuk menikmati sensasi seks di luar rutinitas rumah tangga;

k.Tersedianya lokalisasi atau legalitas pekerja seks. Berdasarkan alasan tersebut, maka semakin terbukalah pergaulanbebas antara pria dan wanita, baik bagi kalangan remaja maupun kalangan yang sudah berumah tangga. Hal ini dimungkinkan karenasosialisasi norma dalam keluarga tidak efektif, sementara cabang hubungan pergaulan dengan berbagai pola perilaku seks di luar rumah meningkat yang kemudian mendominasi pembentukan kepribadianbaru. Kalangan remaja pada umumnya lebih sensitif menyerap struktur pergaulan bebas dalam kehidupan masyarakat. Bagi suami isteri yang bekerja di luar rumah, tidak mustahil semakin banyak meninggalkan norma-norma dan tradisi keluarga sebelumnya, kemudian dituntut untuk menyesuaikan diri dalam sistem pergaulan baru, termasuk pergaulan intim dengan lawan jenis dalam perosespenyelesaian pekerjaan. Kondisi pergaulan semacam ini seseorang tidak hanya mungkin menjauh dari perhitungan nilai harmonisasi keluarga, akan tetapi selanjutnya semakin terdorong untuk mengejar karier dalam perhitungan ekonomis material. Kenyataan ini secara implicit melembaga, dimaklumi, lumrah, dan bahkan merupakan kebutuhanbaru bagi sebagian besar keluarga dalam masyarakat modern.Kebutuhan baru ini menuntut seseorang untuk membentuk system pergaulan modernitas yang cenderung

meminimalisasi ikatan moral dan kepedulian terhadap hukum-hukum agama. Sementara di pihak lain, jajaran pemegang status terhormat sebagai sumber pewarisan norma, seperti penegak hukum, para pemimpin formal, tokoh masyarakat dan agama, ternyata tidak mampu berperan dengan contoh-contoh perilaku yang sesuai dengan statusnya. Sebagai konsekuensinya adalah membuka peluang untuk mencari kebebasan di luar rumah. Khususnya dalam pergaulan lawan jenis pada lingkungan bebas norma dan rendahnya kontrol sosial, cenderung mengundang hasrat dan

kebutuhan seks seraya menerapkannya secara bebas. Bagi kalangan remaja, seks merupakan indikasi kedewasaan yang normal, akan tetapi karena mereka tidak cukup mengetahui secara utuh tentang rahasia dan fungsi seks, maka lumrah kalau mereka menafsirkan seks semata-mata sebagai tempat pelampiasan birahi,

(5)

terdorong untuk lebih dekat mengenal lika-liku seks sesungguhnya. Jika immajinasi seks ini

memperoleh tanggapan yang sama dari pasangannya, maka tidak mustahil kalau harapan-harapan indah yang termuat dalam konsep seks ini benarbenar dilakukan.

Menurut Sumber (http://kabarmu.blogspot.com) mencatat Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi remaja sehingga mereka nekat melakukan seks bebas - seks pra nikah. Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut barangkali bisa membantu para orang tua untuk menemukan solusi dalam mengantisipasi prilaku - perilaku anak yang mengarak kepada perilaku seks bebas ini. Menurut Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi BKKBN, M Masri Muadz, data itu merupakan hasil survei oleh sebuah lembaga survai yang mengambil sampel di 33 provinsi di Indonesia pada 2008.

BKKBN merekomendasikan sebagaimana diungkapkan Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi BKKBN, M Masri Muadz, ada beberapa faktor yang mendorong remaja melakukan hubungan seks pra-nikah. Di antaranya, kata Masrie, pengaruh liberalisme dan pergaulan bebas, kemudian lingkungan dan keluarga, serta pengaruh media massa, khususnya TV dan internet. "Data ini menunjukkan, kalau 10 tahun lalu tren free sex hanya di kota-kota besar, kini bahkan mulai masuk di kota kecamatan". Data dari Aliansi Selamatkan Anak Indonesia (ASA) yang disampaikan peneliti Shakina Mirfa Nasution SE Mapp.Fin yang disampaikan dalam sebuah seminar masalah remaja di BKKBN di Jabar, mengatakan, dampak psiko-sosialnya remaja akibat pornografi mulai dari adiksi (ketagihan) sampai ekskalasi perilaku seksual menyimpang seperti lesbian, incest, pedophilia, dan desensifitasi atau penurunan sensivitas seks.

2.2.2. Faktor Internal

Berdasarkan sumber dari beberapa berita mencatat beberapa factor penyebab perilaku nakal dan seks bebas di kalangan remaja, baik internal maupun eksternal. Perilaku ‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal). Faktor internal:

a.Krisis identitas

Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.

b.Kontrol diri yang lemah

Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah

mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

2.2.3. Faktor eksternal:

(6)

a.Keluarga

Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.

b.Teman sebaya yang kurang baik

c.Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.

Hal-hal di atas yang merupakan factor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku remaja melakukan hubungan seks pra-nikah atau melakukan tindakan-tindakan kenakalan remaja yang sangat

bervariasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa factor penyebab adanya perilaku seks bebas di kalangan remaja cukup kompleks dan sangat luas, yang meliputi:

kurangnya kasih sayang orang tua. kurangnya pengawasan dari orang tua. pergaulan dengan teman yang tidak sebaya.

peran dari perkembangan iptek yang berdampak negatif. tidak adanya bimbingan kepribadian dari sekolah. dasar-dasar agama yang kurang

tidak adanya media penyalur bakat dan hobinya kebasan yang berlebihan

masalah yang dipendam

2.3. Karakteristik dan Pola Perkembangan Seks Bebas Dalam Masyarakat

Ada sebagian kalangan yang menganggap bahwa perilaku seks pranikahterpisah dari ukuran moral; artinya sah-sah saja sepanjang dilakukan atas dasar kebutuhan bersama. Ukuran moral berbicara tatkala hubungan seks terjadi melalui pemaksaan fisik. Seks pernikahan secara formal dilakukan sebagai suatu dalih umum lantaran sebelumnya terdapat hambatan atau kesulitan untuk mempeloleh seks.

(7)

bagian-bagian tubuh yang diketahui mengundang birahi.

Kalau diketahui karakteristik pria lebih merupakan gejala badaniah yang didorongoleh gemuruh seks yang dangkal, sementara wanita cenderung memberikan peluang, maka meskipun pria sebagai sumber inisiatif penekan dalam melakukan serentetan pendekatan seks melalui pegangan tangan, ciuman, memeluk dan mencumbu; bukan berartisebagai satu-satunya pihak yang bertanggungjawab, tetapi pihak wanita juga menentukan tingkat intimitas batas kepantasanhubungan seks mereka. Oleh karena itu dalam perkembangan hubungan intim itu, lagi-lagi pihak wanita menyerah dan

mengizinkan pria untuk memenuhi tuntutan seksnya, lantaran iapun sesungguhnya mempunyai deru-gelora nafsu seks tersendiri. Sebab bila puncak birahikeduanya telah seimbang, maka hampir tak ada orang yang sanggup menolak keinginan hubungan seksnya, baik dengan

alasan-alasanrasional maupun alasan-alasan moral, dosa ataupun sanksi sosial. Dalam perburuan seks, kaum pria cenderung bersifat lebih independen dan interaktif dalam posisi meminta dan menekan (memaksa), sehingga tanpa disadari terjadi eksploitasi perilaku seks yang kemudian mengaburkan makna cinta dan seks. Pihak wanita sendiri memberikan reaksi seks dalam posisi terikat (dependen) dan tak mampu menolak tuntutan seks. Keterikatan wanita dalam perilaku seks masa kini cenderung salah kaprah menanggapi makna mitos cinta sejati yang berarti "rela memberikan segalanya". Hal ini justeru diartikan sebagai proses kompromi seks yang saling merelakan segala yang berharga demi sebuah kenikmatan seks.

Oleh karena itu nilai pengorbanan, harga diri dan penyesalan, akibat hubungan seks tersebut semaksimal mungkin ditiadakan. Artinya kebebasan seks

cenderung dipandang sebagai perilaku pemuasan nafsu yang melahirkan kenikmatan belaka, dan melupakan realitas negatif akibat dari seks itu sendiri. Perilaku seks bebas, tak terkecuali

perselingkuhan kaum pria danwanita berumah tangga, dipandang sebagai kesenangan hidup tanpa ikatan, sehingga patut dijadikan kebutuhan permanen. Resiko perilaku seks bebas, seperti kehamilan dan tercemarnya nama baik keluarga tidak lagi menakutkan, disamping karena peristiwa ini sudah biasa terjadi, juga karena kehamilan dapat dicegah melalui kebebasan penggunaan kontrasepsi (paling tidak, kondom sutra). Kebiasaan seks bebas dapat mengakibatkan orang semakin tidak mampu menahan birahinya yang sewaktu-waktu mendesak, tidak mustahil terjadi perkosaan di mana-mana sebagaimana diketahuicenderung meningkat, baik kuantitas maupun kualitasnya. Dari segi sosial-psikologis, perilaku seks bebas dianggap tidak

mendatangkan beban tanggungjawab yang besar, dan tidak pula dirasakan sebagai pencemaran terhadap tradisi adat dan moral. Tentang kemungkinan terjadi depresi karena perasaan berdosa, penyesalan atau rasa takut terjangkitnya penyakit kelamin, semuanya tidak termasuk dalam perhitungan.

Persepsi masyarakat terhadap perilaku seks cenderung menghalalkan seks atas dasar argumen saling suka, saling cinta, dan saling membutuhkan. Kondisi semacam ini mengisyaratkan suatu pengakuan terhadap penyelewengan hubungan (love affair) atau perselingkuhan, baik sebelum atau sesudah menikah. Kondisi ini kemudian menempatkan posisi hubungan intimitas seks manusia mendekati persamaannya dengan perilaku seks pada binatang.

(8)

timbulnya gerakan sosial (social movement) dari kolektifitas kelompok

untuk menegakkan pola perilaku seks bebas. Meskipun secara terselubung dalam jangka waktu tertentu, tetapi lama kelamaan akan membawa perubahan perilaku yang diakui oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai suatu kelaziman. Sepanjang hubungan seks itu masih dalam kerangka jaminan kepentingan bersama dengan sedikit mungkin beban tanggungjawab atas syarat-syarat kontrak sosialnya, maka selama itu pula rutinitas hubungan seks akan berlangsung sebagai suatu kelaziman dalam kehidupan masyarakat. Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yang ideal, tentu semua tindakan itu dapat dikategorikan sebagai jalan pintas yang mengotorkan jiwa, pikiran dan fisik, karena mau tak mau ada perasaan taklayak, kotor, berdosa dan pengaruh negatifnya, baik terhadap

hubungan perkawinan maupun terhadap masa depan remaja. Semua

tindakan itu dapat menurunkan kesucian dan kemulyaan perkawinan, di samping dapat merusak sumber daya generasi muda. Perilaku seks bebas dapat membentuk struktur kemasyarakatan dalam status social yang rendah dalam kehidupan masyarakat.

2.4. Upaya Mengatasi dan Mencegah Perilaku Seks Bebas Remaja

Ada beberapa upaya yang harus dilakukan dalam mengatasi dan mencegah perilaku seks bebas di kalangan remaja, yaitu sebagai berikut :

a.Perlunya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dalam hal apapun.

b.Adanya pengawasan dari orang tua yang tidak mengekang. contohnya: kita boleh saja membiarkan dia melakukan apa saja yang masih sewajarnya, dan apabila menurut pengawasan kita dia telah melewati batas yang sewajarnya, kita sebagai orangtua perlu memberitahu dia dampak dan akibat yang harus ditanggungnya bila dia terus melakukan hal yang sudah melewati batas tersebut.

c.Biarkanlah dia bergaul dengan teman yang sebaya, yang hanya beda umur 2 atau 3 tahun baik lebih tua darinya. Karena apabila kita membiarkan dia bergaul dengan teman main yang sangat tidak sebaya dengannya, yang gaya hidupnya sudah pasti berbeda, maka dia pun bisa terbawa gaya hidup yang mungkin seharusnya belum perlu dia jalani.

d.Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi seperti tv, internet, radio, handphone, dll.

e.Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah, karena disanalah tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya selain di rumah.

f.Perlunya pembelanjaran agama yang dilakukan sejak dini, seperti beribadah dan mengunjungi tempat ibadah sesuai dengan iman kepercayaannya.

g.Kita perlu mendukung hobi yang dia inginkan selama itu masih positif untuk dia. Jangan pernah kita mencegah hobinya maupun kesempatan dia mengembangkan bakat yang dia sukai selama bersifat Positif. Karena dengan melarangnya dapat menggangu kepribadian dan kepercayaan dirinya.

(9)

i.Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.

j.Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.

k.Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.

l.Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.

m.Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.

BAB III PENUTUP A.Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik bebarapa kesimpulan, sebagai berikut: 1.Populernya seks pra-nikah di kalangan remaja, karena adanya tekanan dari teman-teman, lingkungan atau mungkin pasangan sendiri.

2.Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya perilaku seks bebas adalah krisis identitas dan kurangny control diri.

3.Upaya untuk mengatasi dan mencegah perilaku seks bebas yaitu orang tua harus memberi kasih sayang dan perhatian kepada anak-anak remaja, adanya pengawasan yang tidak mengekang, bimbingan kepribadian dan pendidikan agama.

B.Saran-Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis menyarankan beberapa hal berikut, kepada: 1.Para orang tua untuk memberi kasih sayang, pengawasan intensif dan perhatian, pendidikan kepribadian dan pendidikan agama yang cukup bagi bagi anak remajanya sehingga terhindar dari perilaku seks bebas.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...