MAKALAH
MENINGKATKAN PENDIDIKAN KETERAMPILAN BERBAHASA PADA ANAK USIA DINI MELALUI CERITA
Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Permasalahan Anak Usia Dini Dosen Pengampu : Diah Nugraheni, S, M.pd
Disusun Oleh: Tri Setyowati
13260959 PG_PAUD
3B
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS IKIP VETERAN SMARANG
▸ Baca selengkapnya: pertanyaan tentang permasalahan anak usia dini
(2)BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perilaku anak usia prasekolah saat ini beragam, salah satu perilakunya adalah anak-anak yang sangat sulit diatur, tidak bisa diam dan seolah-olah tidak memperhatikan pelajaran dikelas. Anak-anak tersebut biasanya mengalami gangguan dalam perkembangannya yaitu gangguan hiperkinetik yang secara luas dimasyarakat disebut sebagai anak hiperaktif.
Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktvitas (GPPH) atau attention dificit and hyperactivity disorder (ADHD). Kondisi ini juga disebut sebagai gangguan hiperkinetik. Dahulu kondisi ini sering disebut minimal brain dysfunction syndrome. Terhadap kondisi anak yang demikian , biasanya para pendidik sangat susah mengatur dan membimbingnya. Disamping karena keadaan dirinya yang sangat sulit untuk tenang juga anak hiperaktif sering mengganggu orang lain, suka memotong pembicaraan guru atau teman , dan mengalami kesulitan dalam memahami sesuatu yang diajarkan pendidik kepada anak tersebut. Selain itu juga, prestasi belajar anak hiperaktif juga tidak bisa maksimal. Untuk itulah dibutuhkan suatu pendekatan untuk membantu anak-anak hiperaktif teresebut supaya mereka dapat memaksimalkan potensi diri dan meningkatkan prestasinya.
Ditinjau secara psikologis, hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal yang disabkan disfungsi neurologia dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Begitupula anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian.
Gangguan ini disebabkan kerusakan kecil pada system saraf pusat dan otak sehingga rentang konsentrasi penderita menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan. Penyebab lainya didikarenakan temperamen bawaan, pengaruh lingkungan, malfungsi otak, serta epilepsi. Atau bisa juga karena gangguan dikepala seperti geger otak, trauma karena persalinan sulit atau pernah terbentur, infeksi, keracunan, gizi buruk atau alergi makanan.
untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik tanpa terkecuali, karena pengajaran yang diberikan telah disesuaikan dengan kemampuan dan kesulitan yang dimilikinya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Mengetahui pengertian anak yang hiperaktif 2. Mengetahui ciri-ciri anak yang hiperaktif
3. Mengetahui faktor-faktor penyebab hiperaktif pada anak
4. Mengetahui problem-problemyang biasa dialami oleh anak hiperaktif 5. Mengetahui penanganan anak hiperaktif
1.3 Tujuan penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi masalah anak yang Hiperaktif. Serta ingin memperluas ilmu sosial.
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan makalah ini antara lain :
1. Memperluas cakrawala berfikir kita mengenai masalah anak yang Hiperaktif serta solusinya.
2. Sebagai media informasi dalam dunia pendidikan terutama PAUD-SD
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Anak Hiperaktif
Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktvitas (GPPH) atau attention dificit and hyperactivity disorder (ADHD). Kondisi ini juga disebut sebagai gangguan hiperkinetik. Dahulu kondisi ini sering disebut minimal brain dysfunction syndrome.
Gangguan hiperkinetik adalah gangguan pada anak yang timbul pada masa perkembangan dini (sebelum usia 7 tahun) dengan ciri utama tidak mampu memusatkan perhatian, hiperaktif dan impulsif. Ciri perilaku ini mewarnai berbagainsituasi dan dapat berlanjut hingga dewasa.
Dr.Seto mulyadi dalam bukunya “Mengatasi Problem Anak Sehari-hari” mengatakan pengertian istilah anak hiperaktif adalah : hiperaktif menunjukkan adanya suatu pola perilaku yang menetap pada seorang anak. Perilaku ini ditandai dengan sikap tidak mau diam, tidak bisa berkonsentrasi dan bertindak sekehendak hatinya atau impulsif.
1. Tipe anak yang tidak bisa memusatkan perhatian
Mereka sangat mudah terganggu perhatiannya, tetapi tidak hiperaktif atau impulsif, mereka tidak menunjukkan gejala hiperaktif. Tipe ini kebanyakan ada pada anak perempuan, mereka seringkali melamun dan dapat digambarkan seperti sedang berada “di awang-awang”.
2. Tipe anak yang hiperaktif dan impulsive
Mereka menunjukkan gejala yang sangat hiperaktif dan impulsive, tetapi bisa memusatkan perhatian, tupe ini sering kali ditemukan pada anak-anak kecil
3. Tipe gabungan
dikarenakan perhatian mereka suka beralih dari satufokus ke fokus yang lain, mereka seakan-akan tanpa henti mencari sesuatu yang menarik dan mengasikkan namuntidak kunjung datang.
2.2 Ciri-Ciri Anak Hiperaktif
Ciri utama anak yang menderita ADHD, yaitu :
1. Tidak ada perhatian
Ketidakmampuan memusatkan perhatian atau ketidakmampuan berkonsentrasi pada beberapahal seperti membaca, menyimak dan sering tidak mendengarkan perkataan orang lain.
2. Hiperaktif
Mempunyai terlalu banyak energi, misalnya berbicara terus menerus, tidak mampu duduk diam , selalu bergerak dan sulit tidur.
3. Impulsif
Sulit untuk menunggu giliran dalam permainan, sulit mengatur pekerjaanya, bertindak tanpa dipikir, misalnya mengejar bola yang lari kejalan raya, menabrak pot bunga pada saat berlari diruanngan , atau bicara tanpa dipikir terlebih dahulu akibatnya.
4. Menentang
Anak dengan gangguyan hiperaktivitas biasanya memiliki sikap penentang/ pembangkang atau tidak mau dinasehati, misalnya penderita akan marah jika dilarang berlari kesana kemari, corat-coret atau naik turun tak berhenti, penilakanya juga bisa bisa ditunjuk dengan sikap cuex.
5. Destruktif
Perilakunya bersifat merusak, oleh karena itu anak hiperaktif sebaiknya dijauhkan dari barang-barang yangmudah rusak.
Semua aktivitas dilakukkan tanpa tujuan jelas, kalau anak aktif, ketika naik keatas kursi mempunyai tujuan, misal mengambil mainan ataubermain peran sebagai supeman, sebaliknya anak hipraktif melakukanya tanpa tujuan , dia hanya naik turun saja.
7. Tidak sabar dan usil
Ciri-ciri khusus anak yang hiperaktif menurut Irawati Ismail (2009) diantaranya ialah sebagai berikut :
1. Sering menggerak-gerakkan tangan atau kaki ketika duduk, atau sering menggeliat. 2. Sering meninggalkan tempat duduknya, padahal seharusnya ia duduk manis. 3. Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan pada keadaan yang tidak selayaknya.
4. Sering tidak mampu melakukan atau mengikuti kegiatan dengan tenang.
Selalu bergerak, seolah-olah tubuhnya didorong oleh mesin. Juga, tenaganya tidak pernah habis.
5. Sering terlalu banyak bicara 6. Sering sulit menunggu giliran
7. Sering memotong atau menyela pembicaraan
Jika diajak bicara tidak dapat memperhatikan lawan bicaranya (bersikap apatis terhadap lawan bicaranya).
2.3 Pengaruh Hiperaktivitas Terhadap Perkembangan Anak
Menurut Irawati Iskandar (2009), pengaruh jangka panjang terhadap anak yang mengalami Gangguan Pemusatan Perhatian dengan Hiperaktivitas (GPPH/ADHD). 1. Anak tidak dapat mengikuti kegiatan belajar dengan baik, sehingga akhirnya
mengalami kegagalan sekolah.
2. Anak sering tidak patuh terhadap perintah orang tua. 3. Anak sulit didisiplinkan, sehingga akhirnya mempunyai hambatan fungsi sosial dan pekerjaan.
1. Mencoba menganalisis masalah yang dihadapi.
2. Mencari jalan untuk mencairkan suasana yang terlanjur tegang dan berusaha membina kembali hubungan yang hangat dan positif, yanag selanjutnya akan digunakan sebagai landasan untuk pelaksanaan sistem kontrol.
3. Menerima atau mencari bantuan dari luar bila diperlukan.1[13]
2.4 Mengatasi Hiperaktivitas
Orang tua dan anak-anak hiperaktifnya berkembang dengan baik sering kali adalah orang tua yang berhasil mengatasi sendiri masalah mereka.
1. Mereka telah menemukan cara-cara untuk mengidentifikasi dan merangsang pengendalian diri anak mereka.
2. Mereka memberlakukan aturan-aturan yang jelas, dan mereka berusaha sebanyak mungkin meluangkan waktu untuk kegiatan-kegiatan bersama anak mereka bahkan meskipun di antara mereka juga sering terjadi pertentangan.
3. Mereka berusaha mengendalikan diri mereka sendiri.
4. Sebagai suami istri, mereka tetap berusaha agar pendekatan mereka sejalan.2[14]
ADHD sering kali ditanggani dengan obat, terkadang dikombinasikan dengan terapi prilaku,konseling,pelatihan keterampilan sosial,dan penempatan ruang kelas khusus. Dalam jangka pendek psikomotorik stimulan seperti Methylphenidate (“Ritalin”), yang digunakan dalam dosis yang tepat tampaknya aman dan efektif, akan tetapi dampak jangka panjangnya tidak diketahui (AAP Committee On Children with disabilities dan committee on Drugs,1996;Elia et all,1999;NIH,1998;Rodrigues,1999;USDHHS,1999c; Zametkin,1995;Zametkin & Ernst,1999).sebuah studi 14 bulan yang dilakukan secara acak terhadap 579 anak penderita ADHD usia 7 sampai 9 tahun menemuka program perawatan denagn Ritalin yandg dimonitor secara hati-hati, baik berdiri sendiri atau dikombinasikan dengan modifikasi prilaku, lebih efektif di bandingkan dengan terapi prilaku saja atau perawatan komunitas standar (MTA cooperative group,1999). Obat lebih baru yang disebut Atomoxehrie tampaknya juga aman dan efektif bagi ADHD (Michelson et al,2001).3[15]
1
2
2.5Metode Penanganan Anak Hiperaktif diLingkungan Keluarga
Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mendidik dan membimbing anak-anak mereka yang tergolong hiperaktif : 1. Orang tua perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas
2. Kenali kelebihan dan bakat anak
3. Membantu anak dalam bersosialisasi
4.Menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif (misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib), memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak.
5. Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya
6. Menerima keterbatasan anak
7. Membangkitkan rasa percaya diri anak
8. Bekerja sama dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya. 9. Latih anak-anak dapat medisiplin diri sendiri dengan sistematis, konsisten, jelas dan konsekuen.
10. Jangan menghukum anak hiperaktif karena itu bukan sepenuhnya kesalahan dia. 11. Jangan menjuluki anak hiperaktif dengan julukan yang buruk, seperti nakal, bodoh, dan lain sebagainya, karena mereka akan menjadi seperti apa yang kita katakan. Dan menjadi anak yang tidak percaya diri.
12. Penanganan sebaiknya diberikan mulai dari keluarga terdekat (ibu).
13. Memberikan kasih sayang kepada anak namun tidak memanjakannya. 14. Ketika menasehati anak sebaiknya jelas dan spesifik serta diulang-ulang agar
anak mudah memahami dan menggunakan kekerasan.
15. Menjalin komunikasi yang baik dengan anak, selalu katakan ia anak baik dan berikan apresiasi bila ia melakukan hal yang baik.
16. Hindari tayangan TV, video dan games yang bersifat kekerasan
17. Praktekan pola hidup sehat dengan menu makanan alamiah yang sesuai
Kebutuhan anak.
Untuk penanganan anak hiperaktif di Taman Kanak-kanak dapat mengunakan metode bermain, metode ini sangat baik diberikan kepada anak hiperaktif karena anak akan belajar mengendalikan diri sendiri dan memahami dunianya. Dengan menggunakan metode bermain kepada anak seperti ini diperlukan guru-guru yang harus menemaninya. Melalui kegiatan bermain anak dapat mengembangkan kreatifitasnya, yaitu melakukan kegiatan yang dapat menyalurkan bakat si anak. Bagi anak seperti ini, metode ini dapat diberikan dan anak akan merasa sangat senang. Karena anak itu dapat dengan bebas melakukan kegiatannya yang dirasakan cukup baik bagi dirinya. Melalui kegiatan bermain ini anak dapat menggunakan fisik-motorik. Bermacam-macam cara dan teknik dapat dipergunakan dalam kegiatan tersebut seperti merayap, berlari, merangkak, berjalan, melompat, menendang dan melempar. Guru atau pembimbing anak dapat melakukan metode bermain ini sehingga anak tersebut tidak cepat bosan dengan cara yang diberikan oleh guru. Seperti mengajak anak untuk bernyanyi yang menggunakan aturan main, anak seperti ini akan tertarik untuk melakukannya. Kegiatan bermain dapat membantu penyaluran kelebihan tenaga. Setelah melakukan kegiatan bermain anak memperoleh keseimbangan antara kegiatan dengan menggunakan kekuatan tenaga dan kegiatan yang memerlukan ketenangan. Anak dapat menyalurkan rasa ingin tahunya dengan menggunakan metode bermain ini seperti bagaimana caranya memasak, mengapa pohon layu bila tidak diberi air, dan sebagainya. Kegiatan menggambar dapat juga diberikan kepada anak hiperaktif termasuk didalam kegiatan bermain. Anak dalam menggambar dapat menggunakan pensil warna dan kertas gambar. Cara seperti ini merupakan salah satu kegiatan yang dapat menyalurkan tenaga pada dirinya.
Penanganan anak hiperaktif melalui bimbingan dan konseling di Taman Kanak-Kanak, dapat
pula dilakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Mulailah pelajaran dengan kegiatan yang mengeluarkan energi, seperti gerak dan lagu. Tujuannya untuk mengurangi kelebihan energi khususnya pada anak yang hiperaktif.
2. Tutuplah benda-benda yang menarik perhatian anak.
3. Gunakan warna cat yang lembut untuk kelas dan peralatan yang ada serta hindari
warna-warna yang terlalu menyolok.
4. Selalu menjelaskan kepada anak hiperaktif mengenai kegiatan yang akan dilakukan, meliputi jenis kegiatannya, hasil yang diharapkan, dan lama waktu yang dibutuhkan agar
5. Berilah label pada setiap tempat penyimpanan benda karena anak yang hiperaktif suka
mengambil benda dan lupa mengembalikannya.4[16]
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD). Kondisi ini juga disebut sebagai gangguan hiperkinetik. Dahulu kondisi ini sering disebut minimal brain dysfunction syndrome. Terhadap kondisi siswa yang demikian, biasanya para guru sangat susah mengatur dan mendidiknya. Di samping karena keadaan dirinya yang sangat sulit untuk tenang, juga karena anak hiperaktif sering mengganggu orang lain, suka memotong pembicaran guru atau teman, dan mengalami kesulitan dalam memahami sesuatu yangdiajarkan guru kepadanya.
Bimbingan dan konseling menjadi sarana mengatasi anak hiperaktif baik bimbingan konseling yang dilakukan di rumah maupun di sekolah. Selain itu perlu ada kerjasama antara pihak sekolah dan orang tua dalam menangani anak yang hiperaktif. Kerjasama yang baik antara semua pihak dalam menangani anak hiperaktif akan sangat membantu dalam perbaikannya kedepan demi masa depan anak tersebut.
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, sity, dkk. Perkembangan dan Konsep Dasar AUD, Jakarta; Universitas Terbuka,2009
Papalia E. Diane, Sally wendkos old, Ruth Duskin Feldman, Human Development ( Psikologi Perkembangan), Cet : Ke-1, Jakarta; Kencana, 2008