PENGEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN JEMBER MELALUI PENGALIHAN STRATEGI PERTANIAN TEMBAKAU DARI BERBASIS
AGRO PRODUKSI MENJADI AGRO BISNIS
MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH Geografi Pengembangan Wilayah
Yang dibina oleh Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd
Oleh:
Nida Muftiatul Magfiroh (130721611785)
UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN GEOGRAFI
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Jember merupakan salah satu kabupaten yang terletak di bagian timur provinsi Jawa Timur dan berjarak 198 km dari kota Surabaya. Secara atronomis terletak pada posisi 6º27'29" s/d 7º14'35" BT dan 7º59'6" s/d 8º33'56". Jember mempunyai luas wilayah 3.293,34 km2 dengan pulau-pulau kecil sebanyak 76 pulau. Kabupaten Jember berada pada ketinggian 0-3330 mdpl dan beriklim tropis dengan suhu sekitar 230 C - 320 C. Curah hujan cukup banyak yaitu antara 1.969 mm – 3.394 mm. Secara umum tanah di kabupaten Jember merupakan tanah litosol dan regosol coklat
kekuningan yang subur. Kabupaten Jember dibagi menjadi 2 wilayah, yaitu wilayah selatan dan wilayah utara. Pada wilayah Jember selatan merupakan daerah dataran rendah yang subur dan cocok untuk ditanami tanaman pangan, sedangkan pada wilayah utara merupakan daerah perbukitan dan bergunung-gunung yang cocok dimanfaatkan sebagai lahan penanaman tanaman keras dan tanaman perkebunan. Melihat kondisi alam yang sangat mendukung sumber daya alam sektor pertanian mendominasi di kabupaten Jember. Adapun hasil dari pertanian adalah padi, jagung, tebu, cabe, tomat, beberapa jenis sayuran dan tembakau. Tembakau merupakan hasil dari sektor pertanian yang paling berkontribusi dalam perekonomian masyarakat Jember.
Tembakau sebagai salah satu sektor pertanian yang paling berkontribusi terhadap perekonomian masyarakat Jember menjadi komoditas utama kabupaten Jember. Tembakau yang dihasilkan di kabupaten Jember mempenyai nilai jual yang tnggi baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Tembakau dari kabupaten Jember selain berkualitas kuantitasnya juga mencukupi baik untuk keperluan lokal maupun keperluan ekspor karena tembakau dapat tumbuh hampir diseluruh wilayah
perekonomian masyarakat dan juga pendapatan pemerintah daerah, pemerintah kabupaten Jember intensif mengembangkan pertanian tembakau.Pada awalnya stratehi pertania yang diterapkan oleh pemerintah kabupaten Jember untuk
meningkatkan produksi tembakau adalah dengan cara menerapkan strategi pertanian berbasis produksi yang dikenal dengan agroproduksi. Penerapan strategi
agroproduksi dalam upaya peningkatan produksi tembakau di kabupaten Jember diaanggap mampu meningkatkan jumlah produksi tembakau, sehingga jumlah ekspor tembakau semakin meningkat.
Upaya pengembangan tembakau kabupaten Jember dapat dilakukan pula dengan mengalihkan strategi pertanian dari berbasis agroproduksi menjadi berbasis
agrobisnis. Pengalihan strategi pertanian menjadi berbasi agrobisnis mempunyai beberapa kelebihan. Kelebihan penerapan strategi berbasi agrobisnis adalah selain dapat meningkatkan jumlah tembakau yang diperdagangkan baik di dalam negeri maupun di luar negeri, masyarakat Jember juga dapat melakukan pengolahan sendiri. Upaya pengolahan tembakau sebagai cerutu oleh pemerintah kabupaten Jember sudah dilakukan. Cerutu yang dihasilkan oleh masyarakat Jember di olah oleh PT.Perkebunan Nusantara IX kecamatan Ajung. Pada dasarnya penerapan strategi pertaian berbasi agrobisni terhadap pertanian tembakau tidak hanya dapat
dikembangkan dengan cara pembuatan cerutu, namun dapat pula dilakukan dengan memproduksi olahan tembakau non rokok seperti pestisida organik. Pengembangan hasil olahan rokok dapat membantu meningkatkan nilai jual tembakau dari
kabupaten Jember sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat yang berdampak secara tidak langsung terhadap pengembangan wilayah kabupaten Jember. Dengan optimalisasi sektor pertanian tembakau melalui strategi pertanian berbasis agrobisnis cocok untuk diterapkan di kabupaten Jember mengingat kondisi geografis kabupaten Jember sangat mendukung serta tembakau produksi Jember yang sudah mempunyai nilai ekspor yang tinggi.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana karekteristik tembakau kabupaten Jember?
3. Bagaimana pengembangan pertanian tembakau melalui strategi pertanian berbasis agrobisnis sebagai salah satu upaya pengembangan wilayah kabupaten Jember?
1.3. Tujuan
1. Mendeskripsikan karakteristik tembakau kabupaten Jember.
2. Mendeskripsikan kontribusi pertanian termbakau terhadap pertumbuhan perekonomian kabupaten Jember.
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1.Karakteristik Tembakau Kabupaten Jember
Tembakau merupakan tanaman semusim dimana dalam dunia pertanian termasuk dalam golongang tanaman perkebunan bukan termasuk golongan tanaman pangan. Pada awal perkembangan hingga sekarang sebagian besar tanaman tembakau dimanfaatkan daunnya sebagai bahan baku rokok. Produksi tanaman tembakau dengan kualitas yang baik dipengaruhi oleh faktor alam dan juga faktor manusia. Faktor manusia yang mempengaruhi adalah pengolahan pasca panen sedangkan faktor alam yang mempengaruhi adalah tanah, pemupukan, dan iklim. Tanaman tembakau bukan
merupakan jenis tanaman yang dapat tumbuh pada semua kondisi iklim. Menurut Tegar dalam Pratama persyaratan kondisi iklim agar tanaman tembakau dapat berproduksi secara baik dan maksimal adalah sebagai berikut:
1. Tanamana tembakau tidak menghendaki terhadap keadaan iklim kering dan iklim yang sangat basah, namun pada dasarnya hal ini bergantung pada jenis tembakau yang dibudidayakan hal ini karena setiap tembakau memiliki kesesuaian iklim yang berbeda.
2. Angin kencang juga tidak sesuai dalam usaha budidaya tanamana tembakau karena angin kencang dapat merusak tanaman tembakau mengingat tembakau mempunyai sistem perakaran berupa akar serabut. Namun bila menggunakan teknik budidaya tembakau dibawah naungan akan memperkecil resiko
kerusakan. Selainit angin yang kencang akan berpengaruh terhadap mengering dan mengerasnya tanah yang dapat menyebabkan berkurangnya kandungan oksigen dalam tanah.
3. Untuk tanaman tembakau dataran rendah curah hujan yang sesuai adalah rata-rata 2000mm/tahun sedangkan untuk tembakau dataran tinggi curah hujan yang sesuai adalah rata-rata 1500-3500 mm/tahun.
5. Suhu udara yang cocok untuk perumbuhan tanaman tembakau berkisar antara 210C-32,30C (Tegar dalam Pratama, 2012)
Selain iklim, faktor media penanaman juga dapat mempengaruhi produktivitas dan kualitas tembakau yang dihasilkan. Menurut Rocman dalam Pratama syarat media yang cocok digunakan untuk budidaya tanaman tembakau adalah sebagai berikut:
1. Untuk tembakau jenis Deli sangat cocok untuk ditanam pada jenis tanah aluvial dan andosol. Untuk tanah regosol sangat cocok untuk tembakau vorstenlanden dan besuki. Tembakau virginia flucured cocok ditanam pada tanah podsolik. Sedangkan untuk tembakau rakyat atau tembakau lokal dapat tumbuh mulai dari tanah berpasir sampai dengan tanah liat.
2. Derajat keasaman tanah yang baik untuk tanaman tembakau adalah yang memiliki pH 5-6. Untuk tembakau Deli memerlukan pH 5-5,6, tembakau virginia 5,5-6,0. Jika kondisi pH tanah kurang dari 5 maka perlu dilakukan pengapuran untuk menaikkan pH, sedangkan jika kondisi pH lebih dari 6 maka perlu diberikan belerang untuk menurunkan pH.
3. Tanah yang bersifat gembur, remah, mudah mengikat air, memiliki tata air dan udara yang baik sehingga dapat meningkatkan drainase.
4. Makin tinggi tempat penanaman makin tinggi kadar nikotinnya. Kemiringan lereng yang tidak direkomendasikan untuk ditanami tembakau adalah lereng dengan kemiringan 30% (Rocman dalam Pratama 2006).
Berdasarkan teknik budidaya tembakau jenis Na-Oogst dan tembakau jenis Voor-Oogst memiliki perbedaan, terutama dalam proses pengeringan karena kedua jenis tembakau tersebut mempunyai fungsi yang berbeda. Ada yang berfungsi sebagai bahan baku cerutu dan ada yang dijadikan sebagai bahan baku sigaret. Menurut Edi teknik-teknik pengeringan pada tanaman tembakau dapat dibagi menjadi 4, yaitu sebagai berikut:
1. Air cured
Air cured adalah proses pengeringan daun tembakau dengan menggunakan aliran udara bebas. Pengeringan dengan metode air cured akan menghasilkan tembakau dengan kadar gula rendah namun tinggi nikotin.
2. Flue cured
sangat sederhana, berkurangnya kelembaban secara perlahan selama 24-60jam pertama (masa penguningan) diikuti hilanganya kadar air secara cepat hingga lamina mengering yang diikuti mengeringnya gagang.
3. Sun cured
Sun cured adalah proses pengeringan dengan menggunakan sinar matahari secara langsung atau penjemuran langsung. Proses penjemuran untuk tembakau rajangan berlangsung selama 2-3 hari. Metode sun cured dapat menghasilkan tembakau dengan kadar gula serta nikotin yang rendah.
4. Fire cured
Fire cured adalah proses pengeringan daun tembakau dengan cara mengalirkan asap dan panas dari bawah susunan daun tembakau. Bahan baku yang umum digunakan agar menghasilkan asap yang cukup antara lain adalah kayu akasia yang dicampur dengan amps dan bongkol tebu sehingga diharapkan
menghasilkan aroma yang harum dan manis. Pengeringan dengan metode ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar gula rendah namun tinggi nikotin (Edi, 2001).
Kabupaten Jember merupakan salah satu penghasil tembakau terbesar di Indonesia sehingga mendapat julukan sebagai kota Tembakau. Tembakau yang dihasilkan oleh pertanian kabupaten Jember tidak hanya memiliki kualitas yang baik, tapi juga mampu di produksi sepanjang tahun. Wilayah kabupaten Jember bagian selatan adalah wilayah penghasil tembakau terbesar di kabupaten Jember karena wilayah Jember bagian selatan merupakan dataran rendah yang didominasi tanah regosol yang subur. Berdasarkan teknik budidayanya dan kegunaannya tanaman tembakau di daerah Jember dibagi menjadi dua, yaitu tembakau Oogst dan tembakau Voor-Oogst. Tembakau jenis Na-Oogst merupakan tembakau yang dikembangkan dengan teknik budidaya menggunakan naungan yang ditanam di lahan sawah setelah musim panen padi dengan teknik
Tabel 1. Luas areal penanaman tembakau di tiap kecamatan dan jenis-jenis tembakau 2 Sumbersari 52,0 - 127,0 18,0 - 4,0 201,0
3 Jelbuk - - - 8,0 991,0 - 999,0
12 Tempurejo 90,0 130,0 - 28,0 224,0 62,0 534,0 13 Mumbulsari 180,0 - - 84,0 - 26,3 290,8 14 Ambulu - 1.178,
8
5,0 218,0 - 75,5 1.477,3
15 Wuluhan - 632,0 105,0 166,0 - 139,5 1.042,5
16 Balung 25,0 12,5 52,0 - - 22,0 111,5
17 Jenggawah - 30,0 36,0 5,0 - - 71,0
18 Rambipuji 130,0 78,0 336,0 - - 53,0 597,0
19 Bangsalsari 10,0 7,0 - - - - 17,0
27 Puger 112,0 112,0 87,0 16,0 25,0 51,0 403,0
28 Jombang - - -
2.2.Kontribusi Pertanian Tembakau Terhadap Pertumbuhan Perekonomian Kabupaten Jember
Dalam upaya mencapai pertumbuhan ekonomi hal yang penting dilakukan adalah menggunakan sumber daya yang ada secara efisien dan meningkatkan kualitas serta kuantitas elemen-elemen yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi.Dalam ilmu ekonomi pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dipengaruhi oleh faktor penggerak perekonomian. Menurut Eva elemen-elemen yang memacu pertumbuhan ekonomi adalah sebagai berikut:
1. Sumber-sumber alam
Elemen sumber alam meliputi luas tanah, sumber mineral dan tambang, serta iklim.
2. Sumber-sumber tenaga kerja 3. Kualitas tenaga kerja
4. Akumulasi kapital
Jember sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau terbesar di Indonesia pada tahun 2006 mempunyai luas area mencapai 22,372 ha dengan produksi sebesar 26.752,94 ton. Nilai ekspor tembakau Jember sebesar US$ 67.867.700 atau 53,39% dari perolehan total ekspor tembakau Indonesia. Volume ekspor tembakau yang tidak terlalu besar dikarenakan tembakau tidak hanya laku di pasaran luar negeri, tapi juga dipasaran dalam negeri. Tembakau di dalama negeri digunakan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan-perusahaan rokok dalam negeri. Kontribusi komoditas tembakau dalam pertumbuhan perekonomian masyarakat kabupaten Jember tidak hanya melalui nilai jualnya yang tinggi baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kontribusi komoditas tembakau terhadap perekonomian masyarakat kabupaten Jember yang kain adalah sebagai penyedia lapangan kerja. Tembakau dan industri hasil tembakau dalam
perekonomian mampu menyediakan lapangan kerja secara langsung bagi 4.900 pekerja.
Tabel 2. Produksi Tembakau Kabupaten Jember Tahun 2001-2004 N
O
URAIAN 2001 2002 2003 2004
I Luas Panen (Ha)
1 Na-Oogst 11.807 7.686 3.117,90 3.551,50 2 Voor-Oogst Kasturi 6.931 8.067 3.196,69 2.115,60
3 Voor-Oogst Rajang - - - 414,30
4 Voor-Oogst White Burley - - 374,48 547,60 II Produksi (Ton)
1 Na-Oogst 130.127 83.826 3.743,73 5.294,44 2 Voor-Oogst Kasturi 53.104 56.671 2.557,43 1.675,98
3 Voor-Oogst Rajang - - - 290,01
4 Voor-Oogst White Burley - - 559,07 876,16 Sumber:BPS Kabupaten Jember
Tabel 3. Volume Ekspor Tembakau Na-Oogst tahun 2001-2005
2.3.Pengembangan Pertanian Tembakau Melalui Strategi Pertanian Berbasis Agrobisnis Sebagai Salah Satu Upaya Pengembangan Wilayah Kabupaten Jember
Pada hakikatnya pengembangn wilayah merupakan strategi memanfaatkan dan mengkombinasikan faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan tantangan) yang ada sebagai potensi dan peluang yang dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi wilayah terhadap barang dan jasa yang merupakan fungsi dari kebutuhan baik secara internal maupun eksternal. Dalam upaya menganalisis
pengembangan suatu wilayah menurut Sumarmi dalam bukunya yang berjudul
Pengembangan Wilayah Berkelanjutan didasarkan pada dua teori, yaitu sebagai berikut: 1. Teori dasar Ekspor (Export Base Theory)
Teori dasar ekspor berkembang atas dasar pertumbuhan dan perkembangan suatu region akibat adanya barang-barang atau komoditi yang dieskpor dari region yang bersangkutan.
2. Pendekatan Substitusi Impor (Impor Substitution Approach)
Pendekatan substitusi impor merupakan pendekatan yang diterapkan pada daerah atau kawasan yang berkembang akibat adanya import bahan-bahan pengganti yang tidak terdapat di kawasan tersebut yang mendorong pertumbuhan serta perkembangan setempat (Sumarmi, 2012).
1. Agro produksi yang berdasarkan kemampuan dan kesesuaian lahan. 2. Agro industri yang merupakan usaha pengelolaan hasil-hasil pertanian 3. Agro bisnis merupakan perdagangan hasil-hasil pertanian
(lokal-regional-internasional)
4. Agro teknologi dengan cara penggunaan teknologi ramah lingkungan.
5. Agro tourisme-sosiokultur yang dikembangkan (Worosuprodjo dalam Sumarmi, 2012).
Mengacu pada teori yang diungakapkan oleh Worosuprodjo dapat diketahui bahwa pada awal perkembangannya kabupaten Jember sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau terbesar di Indonesia menerapkan strategi pertanian berbasis agroproduksi untuk meningkatkan hasil produksi tembakau dengan tujuan memenuhi kebutuhan pasar baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Penerapan strategi pertanian berbasis agroproduksi mampu meningkatkan produksi pertanian tembakau dan mampu
memenuhi permintaan pasar baik dalam negeri maupun luar negeri. Melihat permintaan pasar yang semakin meningkat yang diikuti dengan peningkatan jumlah penduduk strategi pertanian berbasis agroproduksi dikembangkan menjadi strategi pertanian berbasis agrobisnis. Penerapan strategi pertanian berbasis agrobisnis dalam pertanian tembakau pada dasarnya telah diterapkan oleh pemerintah kabupaten Jember namun belum maksimal sehingga hasil yang diperoleh juga belum maksimal.
Pada dasarnya agro bisnis adalah suatu kesatuan kegiatan usaha yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan hasil dan pemasaran yang ada hubungannya dengan pertanian dalam arti luas. Sedangkan yang dimaksup
pertanian dalam arti luas adalah kegiatan yang menunjang kegiatan pertanian dan kegiatan yang ditunjan oleh kegiatan pertanian. Strategi pertanian berbasis Agrobisnis merupakan wujud dari pertanian sebagai kegiatan ekonomi. Strategi pertanian berbasis agro bisnis merupakan suatu sistem yang mempunyai seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk sistem agro bisnis. Menurut Laksana subs sistem yang menyusun struktur agrobisnis terdiri dari 5 subsistem yang terdiri dari sebagai berikut:
1. Subsistem penyediaan sarana produksi
teknologi dan sumber daua agar penyediaan sarana produksi atau input usaha tani memenuhi kriteria tepat waktu,tepat jumlah, tepat jenis,tepat mutu, dan tepat produk.
2. Subsistem usaha tani atau proses produksi
Subsistem usaha tani atau proses produksi mencakup kegiatan pembinaan dan pengembangan usaha tani dalam rangka meningkatkan produksi primer pertanian. Termasuk dalam kegiatan ini adalah perencanaan pemilihan lokasi, komoditas, teknologi, dan pola usaha tani dalam rangka meningkatkan produksi primer.
3. Subsistem agroindutri/pengolahan hasil
Lingkup kegiatan pada subsistem agroindustri tidak hanya aktivitas pengolahan sederhana di tingkat petani, tetapi menyangkut keseluruhan kegiatan mulai dari penanganan pasca panen produk pertanian sampai pada tingkat pengolahan lanjutan dengan maksud untuk menambah value added dari produksi primer. 4. Subsistem pemasaran
Subsistem pemasaran mencakup pemasaran hasil-hasil usaha tani dan agroindustri baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Kegiatan utama
subsistem ini adalah pemantauan dan pengembangan informasi pasar dan market intelligence pada pasar domestik dan pasar luar negeri.
5. Subsistem penunjang
k. Transportasi
l. Kebijakan Pemerintah (Laksana, 2013)
Dalam strategi pertanian yang berbasis Agro bisnis dapat dikembangkan dengan menerapkan strategi pengembangan agro bisni. Strategi pengembangan agro bisnis menurut Laksana terdiri dari beberapa aspek. Adapun beberapa aspek yang menyusun strategi pengembangan agro bisnis adalah sebagai berikut:
1. Pembangunan agro bisnis merupakan pembangunan industri dan pertanian serta jasa yang dilakukan sekaligus secara simultan dan harmonis.
2. Membangun agrobisnis adalah membangun keunggulan bersaing diatas keunggulan komparatif.
3. Menggerakkan kelima subsistem agro bisnis secara simultan, serentak dan harmonis.
4. Menjadikan agroindustri sebagai A Leading Sector.
5. Membangun sistem agrobisnis melalui industri perbenihan.
6. Dukungan indutri Agro-otomotif dalam pengembangan sistem Agro bisnis. 7. Dukungan industri pupuk dalam pengembangan sistem Agro bisnis
8. Pengembangan sistem agrobisnis melalui reposisi koperasi Agrobisnis. 9. Pengembangan sistem agrobisnis melalui pengembangan sistem informasi
agrobisnis.
10. Membumikan pembangunan sistem agrobisnis dalam otonomi daerah. 11. Dukungan perbankan dalam pengembangan sistem agrobisnis di daerah. 12. Pengembangan strategi pemasaran.
13. Pengembangan sumber daya Agrobisnis.
14. Pengembangan pusat pertumbuhan sektor agro bisnis. 15. Pengembangan infrastruktur agro bisnis.
16. Pembinaan sumber daya manusia untuk mendukung pengembangan agro bisnis dan ekonomi (Laksana, 2013)
saat ini olahan daun tembakau yang di hasilkan oleh masyarakat kabupaten Jember hanya sebatas cerutu dan rokok. Untuk mengembangkan strategi pertanian berbasis agrobisnis maka produk olahan daun tembakau perlu dikembangkan. Salah satu produk yang bisa dihasilkan dari daun tembakau adalah sebagai bioinsektisida yang dapat digunakan sebagai pembasmi serangga yang ramah lingkungan. Bioinsektisida dapat dijadikan alternatif oleh produsen insektisida,karena bahan baku yang berupa tembakau akan menekan biaya produksi dan biaya operasional produsen insektisida sehingga harga insektisida lebih murah. Dengan pengembangan hasil olahan daun tembakau dapat menambah nilai ekonomi tembakau sehingga petani tembakau dari kabupaten Jember dapat meningkatkan laba, selain petani yang akan diuntungkan, pihak-pihak yang mengolah daut tembakau juga akan diuntungkan secara ekonomi. Adanya
kemajuan dalam bidang pertanian kabupaten Jember sebagai kabupaten yang bergerak dalam bidang agraris akan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang stabil sehingga upaya pengembangan wilayah sektor pertanian dengan strategi pertanian berbasis agro bisnis dapat tercapai sesuai tujuan pemerintah kabupaten Jember.
BAB 3 PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Tembakau merupakan tanaman semusim dimana dalam dunia pertanian termasuk dalam golongang tanaman perkebunan bukan termasuk golongan tanaman pangan. Pada awal perkembangan hingga sekarang sebagian besar tanaman tembakau dimanfaatkan daunnya sebagai bahan baku rokok. Salah satu daerah penghasil
tembakau terbesar adalah kabupaten Jember. Tembakau yang dihasilkan oleh pertanian kabupaten Jember tidak hanya memiliki kualitas yang baik, tapi juga mampu di
produksi sepanjang tahun. Berdasarkan teknik budidayanya dan kegunaannya tanaman tembakau di daerah Jember dibagi menjadi dua, yaitu tembakau Na-Oogst dan
tembakau Voor-Oogst.
besar dikarenakan tembakau tidak hanya laku di pasaran luar negeri, tapi juga dipasaran dalam negeri. Tembakau di dalama negeri digunakan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan-perusahaan rokok dalam negeri. Kontribusi komoditas tembakau dalam pertumbuhan perekonomian masyarakat kabupaten Jember tidak hanya melalui nilai jualnya yang tinggi baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kontribusi komoditas tembakau terhadap perekonomian masyarakat kabupaten Jember yang kain adalah sebagai penyedia lapangan kerja. Tembakau dan industri hasil tembakau dalam
DAFTAR RUJUKAN
Edi, P.2001.Penggunaan Irigasi Curah Pada Tembakau Cerutu Besuki Tanam Awal.Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Seat.Malang: 87-88.
Laksana, Sudrajat.2013.Model dan Strategi Pengembangan Pertanian Agribisnis. (Online), (http://disperta.cianjurkab.go.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=72:model-dan-strategi-pengembangan-pertani,n-agribisnis&catid=78:berita-dan-informasi&Itemid=472), diakses 5 Maret 2015.
Masita.2015.Analisis Kontribusi Komoditas Tembakau Terhadap Perekonomian Wilayah Kabupaten Jember.(Online),
(http://repository.unej.ac.id/bitstream/handle/123456789/61369/EMILIA
%20MASITA%20-%20080810191005_1.pdf?sequence=1), diakses 5 Maret
2015.
Pratama, D.2012.Awalan Tembakau Jadi.(Online),
(http://dodikfaperta.blogspot.com/2012/02/awalan-tembakau-jadi.html),