Rangkuman teori ilmu ilmu sosial

23 

Teks penuh

(1)

Rangkuman Pengelompokan Teori – Teori Dan Pendekatan Kedalam

Sejumlah Paradigma

1. ORGANIC PARADIGM

Ada beberapa versi dari paradigma organik, tapi konsep umumnya mengacu pada beberapa aplikasi pemahaman Yunani klasik dari sifat manusia secara keseluruhan komposit. Paradigma organik telah sering disebut model dari sifat manusia sebagai gabungan dari dimensi fisik, sosial, mental dan spiritual. Pemahaman ini sifat manusia kadang-kadang digambarkan sebagai metafora karena telah dianggap seperti berbagai aspek dunia di mana kita hidup. Model organik dari sifat manusia akhirnya digantikan dalam filsafat karena, dalam bentuk Platonis hirarkis, itu telah digunakan untuk mendukung struktur hirarkis dalam Gereja dan Negara. Metafora menunjukkan organicism dalam masyarakat juga telah dihindari di masa kita sebagian karena Hegel diperpanjang ini ke konsep metafisik dari Volksgeist yang kemudian digunakan sebagian untuk mendukung nasionalisme totaliter. Mengapa kemudian, harus kita kembali versi modern dari paradigma organik? Wawasan utama pada ini adalah bahwa dalam seratus tahun terakhir ilmu biologi dan obat-obatan cenderung menggunakan kategori mirip dengan paradigma organik, tetapi belum tentu menafsirkan beberapa dimensi dari sifat manusia untuk menjadi hirarkis atau ideologi. Interpretasi saat ini akan lebih menekankan sistem checks and balances untuk kesehatan dan kesejahteraan. Kedua, Darwinisme baru, yang kurang hirarkis dan mengakui kedua evolusi alam dan budaya, atau co-evolusi, memberikan kita ruang konseptual yang cukup untuk mempertimbangkan kembali peran alam dan versi ekologi paradigma organik. Ketiga, definisi yang cukup luas dari kapasitas interpretif dan metafisika, di sisi lain, dapat digunakan untuk membawa lagi pertimbangan integratif dan metafisik kembali ke tempat yang tepat dalam diskusi akademik filsafat moral dan politik. Keempat, paradigma organik ekologis adalah kerangka analisis yang setidaknya memiliki kapasitas untuk penegasan, akomodasi, moderasi, adaptasi dan sintesis. Ini memiliki kapasitas untuk menampung pluralisme dalam masyarakat kita sendiri dan dalam komunitas global.

(2)

Paradigma organik ekologi juga dapat membawa beberapa koherensi filsafat moral dan politik dan harus dipertimbangkan kembali.

Posisi Paradigma Organic Paradigm Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

Adapun kedudukan organic paradigm dalam pradigma ilmu sosial yaitu terletak pada kubu paradigma klasik dimana merasa harus menempatkan diri sebagai value free researcher, yang harus senantiasa membuat pemisahan antara nilai-nilai subjektif yang dimilikinya dengan fakta objektif yang diteliti.

2. PARADIGMA KONFLIK

a. Asumsi Ontologi

Realitas yang kontradiksi dan fenomena fakta sosial yang sering muncul dalam sebab akibat akan direfleksikan oleh teori konflik melalui logika dialektik dan endingnya adalah terciptanya dunia lebih baik. . Paradigma ini memandang manusia sebagai mahluk yang obyektif yang hidup dalam realitas sosial , maka filsafat materialisme merupakan dasar dari ilmu pengetahuan manusia. Dalam hal ini manusia sebagai objek ilmunya yang akan dikaji dalam kajian paradigma konflik dari berbagai paham realis.

b. Asumsi Epistemologi

Menurut paradigma konflik manusia pada dasarnya memiliki sifat kerjasama karena manusia sebagai mahluk sosial, dimana perilakunya diasumsikan rasional. Dalam ciri demikian, manusia diyakini memiliki potensi untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya melalui berbagai cara yaitu pengalaman, pemikiran dan pendidikan.

Selanjutnya, masyarakat dipandang sebagai realitas struktural. Struktur ini merupakan suatu kondisi yang muncul dalam perjalanan sejarahnya. Setiap kelompok masyarakat cenderung memunculkan sifat-sifat manusiawinya jika struktur sosialnya mendukung untuk menuju arah tersebut. Masyarakat akan timpang jika eksis perbedaan yang mencolok antar warga dalam hal materi, power dan status.

(3)

dipelajari terpisah secara sendiri-sendiri, namun mesti secara holistik. Holistik dan historis merupakan dua kata kunci pokok dalam pengembangan ilmu-ilmu sosiologi di bawah paradigma konflik.

c. Asumsi Metodologi

Karl Marx diposisikan Purdue sebagai tokoh yang memberi pengaruh besar dalam terbentuk dan berkembangnya paradigma konflik ini. Sumbangan penting yang diberikan Marx adalah penerapan dialektika sebagai metode. Kontradiksi yang pokok pada masyarakat kapitalisme adalah yang terjadi antara kelompok pemilik pabrik (borjuis) dengan buruh (proletar) yang selalu menimbulkan konflik.

Marx membangun konsep dan teorinya dari filsafat Hegel dan Feuerbach. Marx mengambil dialektika gagasan dari Hegel yang lalu dipadu dengan material religius dari Feuerbach, sehingga menghasilkan dialektika materialistis (Ritzer: 2008). Dialektika Marx adalah hubungan timbal balik antara materi dan pikiran. Materi diubah oleh proses-proses pikiran sementara pada saat yang sama pikiran diubah oleh perwujudannya dalam benda-benda material (Campbell: 1994).

d. Asumsi Aksiologi

Dahrendorf mengatakan bahwa masyarakat mempunyai dua wajah yaitu konflik dan consensus, hal inilah yang mendorong adanya pemisahan antara konflik dan consensus. Dalam kerangka pikir dalam bukunya The Functions of Social Conflict, Coser mengatakan bahwa “suatu konflik dikatakan fungsional selama tidak menyentuh atau tidak berkaitan dengan inti suatu system. Dan suatu konflik yang terjadi kemudian meronrong eksistensi inti suatu system, maka konflik itu sifatnya disfungsional. Coser mengemukakan beberapa fungsi konflik. Pertama, konflik dapat menciptakan integrasi dalam in group. Pada dasarnya konflik memiliki kekuatan integratif maksudnya dapat mengintegrasikan anggota yang sebelumnya terjadi konflik dengan out group, kohesi social atau integrasi social sangat lemah. Namun pada saat terjadi konflik dengan pihak luar, maka secara spontan anggota kelompok memperkuat integrasi social untuk menghadapi lawan dari luar (out group).

Posisi Paradigma Conflict Paradigm Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

(4)

merupakan peletak dasar metode berpikir dialektis. Kritik didefinisikan sebagai refleksi diri atas tekanan dan kontradiksi yang menghambat proses pembentukan diri-rasio dalam sejarah manusia.

Menurut Marx, yang berdialektika bukan fikiran, tapi kekuatan-kekuatan material dalam masyarakat. Pikiran hanya refleksi dari kekuatan material (modal produksi masyarakat). Sehingga teori kritis bagi Marx sebagai usaha mengemansipasi diri dari penindasan dan elienasi yang dihasilkan oleh penguasa di dalam masyarakat. Kritik dalam pengertian Marxian berarti usaha untuk mengemansipasi diri dari alienasi atau keterasingan yang dihasilkan oleh hubungan kekuasaan dalam masyarakat.

3. SOSIAL BEHAVIORIST

Perilaku sosial adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku umum yang ditunjukkan oleh individu dalam masyarakat. Hal ini pada dasarnya dalam menanggapi apa yang dianggap dapat diterima oleh kelompok sebaya seseorang atau melibatkan menghindari perilaku yang ditandai sebagai tidak dapat diterima. Jenis perilaku manusia terutama menentukan bagaimana individu berinteraksi satu sama lain dalam suatu kelompok atau masyarakat. Sementara perilaku sosial sering dimodelkan untuk menciptakan lingkungan sosial yang nyaman, perilaku anti-sosial, seperti agresi, kambing hitam dan kelompok bullying, juga dapat didefinisikan sebagai perilaku sosial yang negatif, terutama dalam kasus di mana orang lain dalam kelompok sebaya semua berperilaku sesuai.

Hanya interaksi positif antara individu-individu dalam masyarakat bantuan menciptakan lingkungan bagi warga menyenangkan, kegiatan yang ditetapkan oleh kelompok sebaya dapat diterima, bahkan jika berbahaya untuk memilih individu atau sub kelompok dalam masyarakat, juga merupakan bagian dari perilaku sosial. Studi pelanggaran HAM besar-besaran telah membantu menggambarkan sejauh mana perilaku berbahaya, tetapi dapat diterima secara sosial, telah bertahan dalam beberapa masyarakat. Contoh penerimaan yang luas dari perilaku negatif dalam kelompok sebaya termasuk insiden sejarah genosida massa dan perbudakan manusia.

Posisi social Behaviorism Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

(5)

4. STRUCTURE FUNCTIONALISM

Teori fungsionalisme struktural adalah suatu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad sekarang. Tokoh-tokoh yang pertama kali mencetuskan fungsional yaitu August Comte, Emile Durkheim dan Herbet Spencer. Pemikiran structural fungsionalsangat dipengaruhi oleh pemikiran biologis yaitu menganggap masyarakat sebagai organisme biologis yaitu terdiri dari organ-organ yang saling ketergantungan, ketergantungan tersebut merupakan hasil atau konsekuensi agar organisme tersebut tetap dapat bertahan hidup. Sama halnya dengan pendekatan lainnya pendekatan structural fungsional ini juga bertujuan untuk mencapai keteraturan sosial.

Teori struktural fungsional ini awalnya berangkat dari pemikiran Emile Durkheim, dimana pemikiran Durkheim ini dipengaruhi oleh Auguste Comte dan Herbert Spencer. Comte dengan pemikirannya mengenai analogi organismik kemudian dikembangkan lagi oleh Herbert Spencer dengan membandingkan dan mencari kesamaan antara masyarakat dengan organisme, hingga akhirnya berkembang menjadi apa yang disebut dengan requisite functionalism, dimana ini menjadi panduan bagi analisa substantif Spencer dan penggerak analisa fungsional. Dipengaruhi oleh kedua orang ini, studi Durkheim tertanam kuat terminology organismik tersebut. Durkheim mengungkapkan bahwa masyarakat adalah sebuah kesatuan dimana didalamnya terdapat bagian bagian yang dibedakan.

Posisi Structure Functionalist Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

Dari uraian di atas, maka kedudukan structure functionanlism dalam paradigm ilmu social berada pada paradigm karena masyarakat senantiasa berada dalam keadaan berubah secara berangsur-angsur dengan tetap memelihara keseimbangan. Setiap peristiwa dan setiap struktur fungsional bagi sistem sosial itu. Demikian pula semua institusi yang ada, diperlukan oleh sosial itu, bahkan kemiskinan serta kepincangan sosial sekalipun. Masyarakat dilihat dalam kondisi: dinamika dalam keseimbangan.

5. TEORI KONFLIK MODERN

(6)

Menurut teori konflik, masyarakat disatukan dengan “paksaan”. Maksudnya, keteraturan yang terjadi di masyarakat sebenarnya karena adanya paksaan (koersi). Oleh karena itu, teori konflik lekat hubungannya dengan dominasi, koersi, dan power. Terdapat dua tokoh sosiologi modern yang berorientasi serta menjadi dasar pemikiran pada teori konflik, yaitu Lewis A. Coser dan Ralf Dahrendorf.

A. Asumsi Ontologi Teori Konflik Modern

Asumsi dasar teori Teori konflik ialah bahwa semua elemen atau unsur kehidupan masyarakat harus berfungsi atau fungsional sehingga masyarakat secara keseluruhan bisa menjalankan fungsinya dengan b a i k . Namun demikian, teori ini mempunyai akar dalam karya KarlMarx di dalam teori sosiologi klasik dan dikembangkan oleh beberapa pemikir sosial yang berasal dari masa-masa kemudian. Teori konflik adalah satu perspektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu sistem sosial yang terdiri dari bagian-bagian atau komponen-komponen yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda dimana komponen yang satu berusaha untuk menaklukkan komponen yang lain guna memenuhi kepentingannya atau memperoleh kepentingan sebesar-besarnya.

B. Asumsi Epistemologi Teori Konflik Modern

P a d a d a s a r n y a p a n d a n g a n t e o r i k o n f l i k t e n t a n g m a s y a r a k a t sebetulnya tidak banyak berbeda dari pandangan teori funsionalisme s t r u c t u r a l k a r e n a k e d u a n y a s a m a - s a m a m e m a n d a n g m a s y a r a k a t sebagai satu sistem yang tediri dari bagian-bagian. Perbedaan antara keduanya terletak dalam asumsi mereka yang berbeda-beda tentang elemen-elemen pembentuk masyarakat itu. Menurut teori fungsionalisme struktural, elemen-elemen itu fungsional sehingga masyarakat secara keseluruhan bisa berjalan secara normal. Sedangkan teori konflik, elemen-elemen itu mempunyai kepentingan yang berbeda-beda sehingga mereka berjuang untuksaling mengalahkan satu sama lain guna memperoleh kepentingan sebesar-besarnya.

C. Asumsi Metodologi Teori Konflik Modern

Teori konflik merupakan sebuah pendekatan umum terhadap keseluruhan lahan sosiologi dan merupakan teori dalam paradigm fakta sosial., karena Teori konflik juga mengatakan bahwa konflik itu perlu agar terciptanya perubahan sosial didalam masyarakat itu sendiri.

D. Asumsi Aksiologi Teori Konflik Modern

Pada dimensi ini mengunakan Pendekatan subyektif, karena Teori konflik melihat bahwa di dalam masyarakat tidak akan selamanya berada pada keteraturan. Buktinya dalam masyarakat manapun pasti pernah mengalami konflik-konflik atau ketegangan-ketegangan.

(7)

Pada Teori konflik modern berada dalam perspektif paradigma kritis karena merupakan proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial. Konflik dapat menempatkan dan menjaga garis batas antara dua atau lebih kelompok. Konflik dengan kelompok lain dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan melindunginya agar tidak lebur ke dalam dunia sosial sekelilingnya.

6. SOSIAL-PSYCHOLOGICAL PARADIGM

Tingkah laku merupakan hasil interaksi individu dan masyarakat yang disebabkan adanya proses sosialisasi (individu-individu saling berinteraksi dalam masyarakat) dan negosiasi (individu-individu yang tidakj komform dengan standar masyarakat menciptakan standar baru yang dapat diterima masyarakat. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya karena manusia memiliki akal dan perasaan. Dalam rangka pengembangan masyarakat, Psikologi Sosial memandang manusia sebagai makhluk yang tingkah lakunya dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan sosialnya.

Psikologi Sosial adalah ilmu pengetahuan yang mana memiliki nilai-nilai dan metode-metode yang digunakan oleh bidang ilmu pengetahuan lain. Nilai-nilai dasar yang harus dipenuhi semua bidang agar dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan:

 Akurasi: teliti, tepat, bebas dari kesalahan.

 Obyektivitas: bebas dari bias

 Skeptisme: menerima hanya bila telah diverifikasi.

 Berpikiran terbuka: mengubah pandangan bila terbukti tidak benar.

(8)

Posisi Social-Psychological Paradigm Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

Adapun kedudukan social-psychological paradigm dalam paradigm ilmu sosial yaitu ada pada paradigm konstruktivis yang merupakan penelitian yang refleksif, yang ingin merefleksikan suatu realitas sosial sesuai dengan penghayatan subjek-subjek yang terkait dalam realitas itu sendiri.

7. PARADIGMA HUMANIS RADIKAL

Para penganut paradigma humanis radikal berminat mengembangkan sosiologi perubahan radikal dari pandangan subyektifis. Pendekatan terhadap ilmu sosial sama dengan kaum interpretatif yaitu nominalis, anti-positivis, volunteris dan ideografis. Arahnya berbeda, yaitu cenderung menekankan perlunya menghilangkan atau mengatasi berbagai pembatasan tatanan sosial yang ada.

Pandangan dasarnya yang penting adalah bahwa kesadaran manusia telah dikuasai atau dibelenggu oleh suprastruktur ideologis yang ada di luar dirinya yang menciptakan pemisah antara dirinya dengan kesadarannya yang murni (aliensi), atau membuatnya dalam kesadaran palsu (false consciousness) yang menghalanginya mencapai pemenuhan dirinya sebagai manusia sejati. Karena itu agenda utamanya adalah memahami kesulitan manusia dalam membebaskan dirinya dari semua bentuk tatanan sosial yang menghambat perkembangan manusia sebagai manusia. Penganutnya mengecam kemapanan habis-habisan. Proses-proses sosial dilihat sebagai tidak manusiawi. Untuk itu mereka ingin memecahkan masalah bagaiman manusia bisa memutuskan belenggu-belenggu yang mengikat mereka dalam pola-pola sosial yang mapan utnuk mencapai harkat kemanusiaannya. Meskipun demikian masalah-masalah pertentangan struktural belum menjadi perhatian mereka.

Posisi Paradigma Humanis Radikal Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

(9)

8. PARADIGMA STRUKTURALIS RADIKAL

Penganutnya juga memeperjuangkan sosiologi perubahan radikal tetapi dari sudut pandang obyektifitas. Pendekatan ilmiahnya memeiliki beberapa persamaan dengan kaum fungsionalis, namun mempunyai tujuan akhir yang saling berlawanan. Analisanya lebih menekankan pada pertentangan struktural, bentuk-bentuk penguasaan dan pemerosotan harkat kemanusiaan. Karenanya pendekatannya cendserung realis, positivis, determinis dan nomotetis.

Kesadaran manusia dianggap tidak penting. Hal yang lebih penting adalah hubungan-hubungan struktural yang terdapat dalam kenyataan sosial yang nyata. Mereka menekuni dasar-dasar hubungan sosial dalam rangka menciptakan tatanan sosial baru secara menyeluruh. Penganut paradigma ini terpecah dalam dua perhatian, pertama lebih tertarik untuk menjelaskan bahwa kekuatan sosial yang berbeda-beda serta hubungan antar kekuatan sosial merupakan kunci untuk menjelaskan perubahan sosial. Sebagian mereka lebihbtertarik padaa keadaan penuh pertentangan dalam suatu masyarakat. Paradigma ini diilhami oleh pemikiran Marx tua setelah terjadinya perpecahan epistemologi dalam sejarah pemikiran Marx, selain pengaruh Weber. Paradigma inilah yang menjadi bibit lahirnya teori sosiologi radikal. Penganutnya antara lain Althusser, Polantzas, Colletti, dan beberapa penganut kelompok kiri baru.

Posisi Paradigma Strukturalis Radikal Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

Adapun kedudukan paradigm strukturalis radikal dalam paradigm ilmu social yaitu terletak pada paradigma kritis karena melihat bahwa realitas sosial yang mereka amati merupakan penampakan realitas semu dimana Kesadaran manusia dianggap tidak penting

9. PARADIGMA INTERPRETATIF

(10)

menyelami jauh ke dalam kesadaran dan subjektivitas pribadi manusia untuk menemukan pengertian apa yang ada di balik kehidupan sosial. Sungguhpun demikian, anggapan-anggapan dasar mereka masih tetap didasarkan pada pan dangan bahwa manusia hidup serba tertib, terpadu dan rapat, kemapanan, kesepakatan, kesetiakawan. Pertentangan, penguasan, benturan sama sekali tidak menjadi agenda kerja mereka. Mereka terpengaruh lansung oleh pemikiran sosial kaum idealis Jerman yang berasal dari pemikiran Kant yang lebih menekan kan sifat hakikat rohaniah daripada kenyataan sosial. Perumus teori ini yakni mereka yang penganut filsafat fenomenologi antara lain Dilttey, Weber, Husserl, dan Schutz.

Posisi Paradigma Interpretative Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

Kedudukan paradigma interpretative dalam paradigm ilmu social yaitu terletak pada paradigma klasik karena paradigma interpretative berangkat dari asumsi ada suatu realitas sosial yang objektif, karena itu suatu penelitian juga haris objektif, yakni untuk memeroleh pengetahuan tentang suatu objek atau realitas sosial sebagaimana adanya.

10. FUCSIONALIST PARADIGM

Sebagaimana di ketahui bahwa pada Functionalist paradigm merupakan salah satu paradigma yang memandang atau menyatakan bahwa realitas berada dalam kenyataan dan berjalan sesuai dengan hukum alam atau sesuai dengan kenyataan, dengan pendekatan secara objektif.

functionalist paradigm ini berakar pada sociology of regulation dengan menggunakan sudut pandang objektif. Functionalist menekankan pada generalisasi untuk memberikan kekuatan akumulasi pengetahuan atas fenomena sebab akibat. Serta penjelasan keilmuannya selalu berdasarkan pada angka yang mengandung kepastian sehingga tidak bisa ditolak.

 Dimensi Ontologis

Secara umum diketahui bahwa dimensi ontologis, peneliti berada dalam pendekatan objektif dan akan melihat kenyataan sebagai objek. Artinya, objek adalah sesuatu yang berada di luar peneliti dan yang bebas dari penelitinya (value free) dan dapat diukur secara objektif dengan menggunakan instrument. Sedangkan dalam pendekatan subyektif, kenyataan adalah sesuatu yang ada dan dilibatkan oleh peneliti dalam penelitiannya dan peneliti juga ikut andil dalam penelitian tersebut (not value free). Pada dimensi ontologis dalam paradigma Functionalist kebenaran realitas sosial tergantung dari pelaku atau peneliti.

(11)

Pada dimensi ini penelitiannya untuk pendekatan objektif sehingga lebih bersifat relatif, karena dalam penelitian sosialnya bergantung bagaimana hubungan anatara peneliti dengan objek yang diteliti. Pendekatan objektif atau positivistic lebih menuntut penyusunan kerangka teori dalam membuktikan suatu teori untuk dijadikan suatu konsep baru.

 Dimensi Aksiologis

Pendekatan objektif nilai-nilai dengan nilai yang nyata, dimana pada dimeni ini yang dianut peneliti tidak boleh mempengaruhi penelitiannya dengan menghindari pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan nilai dalam hasil penelitian dengan menggunakan bahasa yang impersonal. Dalam penelitian pada paradigma ini kandungan nilai, moral harus ada dalam penelitian yang tidak terpisahkan dari si peneliti yang bertidak sebagai pengamat subjektivitas dari pelaku sosial.

 Dimensi Metodologis

Pada dimensi ini menngunakan Pendekatan objektif yang lebih menekankan pada logika deduktif dan teoritis dan pengembangan hipotesis dilakukan untuk menguji hubungan sebab akibat dan hasilnya cenderung statis dan untuk mengetahui hal tersebut di uji secara dealektis dengan metode kuantitatif

Posisi Functionalist Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

Pada functionalist paradigm posisi dalam paradigma ilmu sosial terdapat pada paradigma Kontruktivisme karena sebagaimana diketahui bahwa functionalist berakar pada sociology of regulation dengan menggunakan sudut pandang objektif. Ciri khasnya adalah perhatian yang besar pada penjelasan-penjelasan mengenai status quo, keteraturan sosial, konsensus, integrasi sosial, soliadritas, pemenuhan kebutuhan dan aktualisasi, yang memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis yang mengadakan pengamatan langsung.

11. PARADIGMA POSITIVISME

(12)

Paradigma positivist/fungsionalis ini telah ratusan tahun menjadi pedoman bagi ilmuwan dalam mengungkapkan kebenaran realitas. Kebenaran tersebut tidak merupakan kebenaran yang mutlak karena harus diuji terlebih dahulu berdasarkan beberapa factor empiris untuk menjustifikasi kebenaran realitas yang ada pada saati tu. Dalam paradigma ini obyek ilmu pengetahuan dan pernyataan pengetahuan harus memenuhi beberapa syarat yaitu harus dapat diamati (observable), dapat diulang (repeatable), dapat diukur (measurable), dapat diuji (testable) dan dapat diramalkan (predictable) (Kerlinger,1973).

Paradigma ini memiliki pendekatan yang berusaha untuk menjelaskan hubungan sosial dengan pemikiran yang rasional, dengan orientasi yang pragmatic berkaitan dengan pengetahuan tepat guna dan mengedepankan regulasi yang efektif serta pengendalian hubungan sosial. Pendekatan ini cenderung mengartikulasikan dunia sebagai dunia artefek empiris dan hubungan yang ada dapat diidentifikasi dan diukur dengan ilmu natural seperti biologi dan mekanik. Paradigma ini didasarkan pada norma rasionalitas purposive (Burrel & Morgan,1979).

Berlandaskan fakta social dan uraian diatas, maka dapat dikatakan bahwa paradigm positivist/fungsionalis melihat teori dalam penelitian sebagai dogma atau doktrin Karena itu dalam mengembangkan penelitiannya selalu didasarkan pada logika deduktif, aksioma, standart dan hukum, selain dari itu bukanlah sebuah teori dan menempatkan hipotesis sebagai fakta atau hukum. Peran dari akal menurut positivist/fungsionalis adalah semua yang ada didasarkan pada akal.

Posisi Paradigma Positivisme Dalam Perspektif / Paradigma Ilmu Sosial

Adapun kedudukan paradigma positifisme dalam paradigma ilmu social terdapat pada paradigma konstruktivis karena paradigma positivism selalu menekankan pada generalisasi untuk memberikan kekuatan akumulasi pengetahuan atas fenomena sebab akibat. Serta penjelasan keilmuannya selalu berdasarkan pada angka yang mengandung kepastian sehingga tidak bias ditolak. Bagi pendukung paradigm ini penjelasan dan deskripsi adalah hubungan antara logika, data dan hokum atau mungkin standart yang diperoleh. penelitian yang refleksif, yang ingin merefleksikan suatu realitas sosial sesuai dengan penghayatan subjek-subjek yang terkait dalam realitas itu sendiri.

12. INTERPRETATIV

(13)

paradigma interpretivisme adalah paradigma yang memusatkan pada penyelidikan tentang cara manusia memaknai kehidupan sosial mereka serta bagaimana manusia mengekspresikan pengalaman mereka melalui bahasa, suara, perumpamaan, gaya pribadi maupun ritual sosial.

 Dimensi Ontologis

Pandangan ontologis paradigma ini yaitu “Realitas sosial hadir dalam beragam bentuk konstruksi mental, berdasarkan pada situasi sosial dan pengalamannya, bersifat lokal dan spesifik, kemudian bentuk dan formatnya bergantung pada orang yang menjalaninya.”(Guba.1900a:27). Interpretivisme menuntut pendekatan holistic, menyeluruh yaitu mengamati objek secara keseluruhan, tidak diparsialkan, tidak dieliminasi dalam variable-variabel guna mendapat pemahaman lengkap apa adanya, karena objek tidak mekanistis melainkan humanistis.

 Dimensi Epistemologis

Realitas itu diciptakan secara sosial maka para interpretivis ini percaya bahwa pemahaman hanya bisa dicapai dari pandangan pelaku realitas tersebut. Dan para pakar interpretif mencoba untuk mengurangi jarak antar subjek yang mengetahui (the knower) dan objek pengetahuan (the known), dan temuan yang dihasilkan penelitian adalah sesuatu yang timbul dari interaksi antara peneliti dan komunitas. Teori diciptakan secara induktif, melalui interaksi antara peneliti dan kolektif (kelompok) sosial. Interpretivisme menuntut menyatunya subjek dengan objek penilitiannya serta subjek pendukungnya seperti observasi.

 Dimensi Aksiologis

Konsep ini menyatakan bahwa para pakar interpretivis harus mempercoba memperkecil pengaruh nilai-nilai dalam proses penelitian. Penilaian seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor luar tetapi juga oleh faktor dalam dirinya.

 Dimensi Metodologis

Teori tumbuh karena adanya fakta di lapangan yang sudah diamati dengan melihat interaksi tersebut, sehingga teori atau hipotesis tidak perlu dibuat sebelumnya seperti pada paradigma fungsionalis/positivist. Pengumpulan data dilakukan melalui proses dialog dengan aktor sosial untuk memaknai realitas sosial yang ada.

Posisi Interpretivism Paradigm Dalam Perspektif / Paradigma Ilmu Sosial

(14)

yang direfleksikan melalui pengalaman mereka (aktor atau pelaku) yang terlibat secara langsung dalam interaksi sosial. Oleh sebab itu, tujuan sosiologi interpretive adalah menemukan makna tersembunyi yang ada di balik tindakan-tindakan sosial sebagaimana dipahami oleh para pelaku (aktor yang diteliti) melalui suatu upaya pemahaman yang baik.

13. CRITICAL INQUIRY

14. FEMINISM

Feminisme merupakan pandangan yang menitikberatkan pada permasalahan-permasalahan perempuan. Feminisme sangat berbeda dengan teori atau aliran lain dalam hubungan internasional, teori ini memperkenalkan gender sebagai kategori empiris yang relevan dan alat analisis untuk memahami hubungan kekuasaan global serta posisi normatif untuk membangun alternativeworld orders. Feminisme menawarkan apa yang di sebut dengan “lensa feminis” sebagai alternatif untuk melihat dunia karena konsep-konsep hubungan internasional mengenai dunia yang ada saat ini dirasakan penuh akan ekspektasi dan pengalaman gender tertentu yakni maskulinitas.

Dimensi epistimologis sebagai alat untuk membangun ilmu pengetahuan, dianggap sebagai sebuah metodologi yang universal. Jika perempuan ditambahkan dalam khazanah itu, apakah mungkin metodologi yang telah ada digunakan untuk menganalisis dan membangun pengetahuan yang baru, sebab secara empiris kita ketahui bahwa biopsikososial laki-laki dan perempuan itu berbeda. perbedaan itu tentu efek pengalaman hidup karena keduanya dibesarkan dan dibentuk secara kontekstual oleh masyarakat disekitarnya sesuai dengan aturan, norma, dan harapan-harapan yang didasarkan pada jenis kelamin mereka. Ini semua membuat laki-laki dan perempuan memiliki pola pikir, perasaan, dan perilaku yang berbeda. Untuk mengembangkan metodologi feminis sebetulnya adalah bagaimana perspektif feminisnya nanti mewarnai penggunaan metode-metode penelitian yang telah ada. Paradigma metodologi feminis adalah epistimologi. Kita harus memakai pengalaman hidup, pemikiran, refleksi interpretasi, dan formula pengalaman perempuan sebagai titik tolak pijakan riset kita.

Dimensi ontologi adalah bagaimana kita memandang realitas kehidupan. Feminis adalah subjektivitas, memprioritaskan women’s ways of knowing dan menggunakan berbagai macam metode untuk mengakses isu yang sensitif bagi perempuan yang mengkini-kan pengalaman perempuan. Selain itu keberagaman di muka bumi diakui tidak ada kebenaran yang universal.

(15)

feminis juga terbuka setiap saat untuk berubah jika hal tersebut diperlukan saat peneliti berada dilapangan. Fleksibilitas perubahan berdasarkan kebutuhan dilapangan ini disebut emergent design.

Dimensi aksiologi adalah bagaimana nilai-nilai yang kitamiliki mempengaruhi penelitian kita. Dalam metodologi feminis, ilmu pengetahuan dipandang sebagai aktivitas yang tertanam dalam konteks sosiohistoris dan dibentuk oleh kepedulian dan komitmen personal, sehingga bias peneliti tidak dapat dihindari. Pre-understanding tidak mungkin dihindari tetapi harus diminimalisir.

Posisi Feminism Dalam Perspektif / Paradigma Ilmu Sosial

Feminsim Pada paradigma posisi dalam paradigma ilmu sosial terdapat pada paradigma kritis karena sebagaimana kita ketahui bahwa feminisme berakar pada gender yang menyetarakan persamaan kedudukan dengan pria dalam apek sosial politik, hukum dan pendidikan dimana wanita diharapkan lebih berperan dalam arsitektur (include) daripada hanya di eksploitasi keindahan tubuhnya dijadikan patokan dalam represi makna ruang interior (exclude).

15. POST MODERN

Paradigma ini muncul karena adanya kelemahan dari paradigm positivist, Interpretif dan kritisme serta teknologi yang sangat canggih. Menurut Roslender (1995) dalam Indriantoro (1999) menjelaskan bahwa post modern menolak pendapatmodernismeyang meyakinibahwamanusia mempunyai kapasitasuntuk maju, untuk memperbaiki dirinya sendiri dan berpikir secara rasional. Bagi seorang post modernis tidak ada keadaan yang lebih baik, tidak ada dunia yang lebih baik, tidak ada yang disebut kemajuan atau pengendalian alam. Post modern membuang metode dan teori yang dominan mengenai modernitas dan mengantikannya dengan metode poststructuralist.

(16)

Paradigma ini berusaha untuk menggantikan uniformitas universalitas dengan pluralitas yang bersifat local dengan mengikut sertakan modernisme tetapi tanpa keistimewaan yang spesifik. Apa saja yang dulunya ditolak oleh modernitas karena tidak terjelaskan oleh akal seperti emosi, intuisi, imajinasi berusaha dirangkul kembali oleh paradigma ini dan diberi tempat yang layak dalam kehidupan manusia.

Post modernisme memunculkan suatu kritik terhadap modernitas yang cenderung bersifat reduksionisme sehingga membuka peluang untuk menunjukkan realitas baik yang inferior maupu yang superior. Karena dalam modernitas, realitas cenderung direduksi supaya bias dikuasai. Pusat perhatian post modernis adalah proses yang artinya bahwa ada yang sedang terjadi dan perlu diinvestigasi dengan cara yang relevan. Suatu aspek yang mendasar dari paradigm post modern adalah bangkitnya suatu fakta bahwa kosmologi kita, pandangan dunia kita (worldview) secara pasti menentukan etika dan cara hidup kita.

Ciri sosial post modernisme adalah menekankan pada hubungan internal, organisme dan kreativitas yang menyatakan bahwa pemikiran itu akan berusaha untuk mengatasi mekanisme atau menjadikan manusia seperti mesin, sehingga manusia lebih bersifat partisipatif dan emansipatoris. Paradigma ini menolak materialism yang mendasari segala bentuk kebijakan

 Aspek ontologis

memandang realitas secara subyektif dan beragama yang dapat dilihat oleh partisipan pada suatu penelitian.

 Aspek epistemology

paradigma ini melihat peneliti berinteraksi dengan apa yang diteliti.

 Aspek metodologi

paradigm post modern lebih menekankan pada keakuratan dan reliabilitas melalui verifikasi dan logical discourse.

(17)

paradigma ini lebih menekankan pada peran nilai (roleofvalue) dalam riset artiny apeneliti membawa nilai-nilai social yang diletakkan untuk menjustifikasi fenomena yang diinvestigasi.

Posisi Post Modern Dalam Perspektif / Paradigma Ilmu Sosial

Kedudukan post modern dalam paradigma ilmu social yaitu terletak pada paradigma kritis karena paradigma tersebut memiliki tujuan untuk untuk memeroleh temuan yang memiliki signifikansi sosial

16. CRITICAL THEORY ( TEORI KRITIS )

Teori kritis menolak skeptitisme dengan tetap mengaitkan antara nalar dan kehidupan sosial yang bersifat empiris dan interpretatif dengan klaim – klaim normatif tentang kebenaran, moralitas dan keadilan.Teori kritis tidak hanya mau menjelaskan, mempertimbangkan,merefleksikan dan menata realitas sosial tetapi juga bahwa teori tersebut mau mengubah. Pada dasarnya Teori kritis mau jadi praktis.

 Aspek Ontologis Paradigma Teori Kritis

Historical realism: relitas yang teramati (virtual reality ) merupakan realitas “ semu “ yang telah terbentuk oleh proses sejarah dan kekuatan - kekuatan sosial, budaya, dan ekonomi politik.

 Aspek Epistemologik Paradigma Teori Kritik

Transaksionalis / Subjektive: hubungan antara peneliti dan yang diteliti selain di jembatani oleh nilai nilai tertentu. pemahaman tentang suatu realitas merupakan value mediated findings

 Aspek Metodologis Paradigma Teori Kritis

Participative : mengutamakan analisis komprehensif, kontekstual dan multilevel analysis yang bisa dilakukan melalui penempatan diri sebagai aktiifis / partisipan dalam proses transaksi sosial. Kriteria kualitas penelitian : historical situatedness, sejauh mana penelitian memperhatikan konteks historis, sosial,budaya,ekonomi dan politik.

(18)

Nilai, etika dan pilihan moral me rupakan bagian yang tak terpisahkan dari suatu penelitian. Peneliti menempatkan diri sebagai transformative intellectual, advokat dan aktivis.Tujuan penelitian : kritk sosial, transformasi, emansipasi,dan social empowerment.

Posisi Critical Theory Dalam Perspektif/Paradifma Ilmu Sosial

Pada Critical Theory ( Teori Kritis ) posisi dalam paradigma ilmu sosial terdapat pada paradigma Kritis karena sebagaimana diketahui bahwa pada paradigma ini Mendefinisikan ilmu sosial sebagai suatu proses yang secara kritis berusaha mengungkap : the real stuctures” di balik ilusi, false needs, yang dinampakkan dunia materi, dengan tujuan membantu membentuk kesadaran sosial agar memperbaiki dan mengubah kondisi kehidupan manusia. Begitupun yang diketahui pada Teori kritis menolak skeptitisme dengan tetap mengaitkan antara nalar dan kehidupan sosial yang bersifat empiris dan interpretatif dengan klaim – klaim normatif tentang kebenaran, moralitas dan keadilan.Teori kritis tidak hanya mau menjelaskan, mempertimbangkan,merefleksikan dan menata realitas sosial tetapi juga bahwa teori tersebut mau mengubah. Pada dasarnya Teori kritis mau jadi praktis. Serta ini dapat diketahui dari beberapa ciri atau karasteristik yang ada pada teori ini.

17. CONTRUKTIVISM

Dalam paradigma atau faham yang guba deskripsikan dalam penelitian ilmu sosial salah satunya adalah Contruktivism, faham ini melihat realitas empiris besifat konstruktif, sehingga berbeda dengan faham positivisme dan postpositivisme. Selain itu Contruktivism berpendapat bahwa semua aktivitas manusia dalah praktek sosial kontigen yang maknanya dikontruksi dalam pasang surut interaksi sosial. Pada faham ini memberikan ruang terbuka bagi kajian gender, kajian postkolonial, kajian etnitasan, kajian seni, kajian bahasa dan kajian budaya lokal (multikultural).

 Dimensi Ontologis

Secara Ontologis faham ini bersifat Relativitastis, dan menykini bahwa realitas itu ada dalam bentuk berbagai macam konstruksi mental berdasarkan pengalaman sosial, bersifat lokal dan spesifik dan tergantung pada orang yang melakukanya sehingga tidak bisa digeneralisir. Oleh sebab itu tidak ada realitas yang bisa diungkapkan secara tuntas oleh ilmu pengetahuan. Faham ini menganut

prinsip relativitas dalam memandang suatu fenomena alam atau sosial sebagai satu kesatuan.

(19)

Pada Contruktivism penelitian dan realitas/fenomena yang diteliti menyatu sebagai satu entitas. Temuan peneliti merupakan hasil interaksi antara peneliti yang diteliti. Pemahaman tentang suatu realitas, atau temuan penelitian merupakan produk interaksi antar peneliti dengan yang diteliti.

 Dimensi Aksiologis

Konstruktivisme menempatkan nilai, etika dan pilihan moral merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari suatu penelitian. Peneliti berperan sebagai passiorate participant, fasilitator yang menjembatani subjektivitas pelaku sosial, karena faham ini memiliki tujuan peneltian untuk rekonstruksi realitas sosial secara dialektik antara peneliti dengan aktor sosial yang diteliti.

 Dimensi Metodologis

Metodologi Paradigma Konstruktivisme sama dengan Teori Kritik yan tetap bersifat Hermeneutical dan Dialektical, bahwa peneliti harus keluar dari laboratorium, pergi ke alam bebas untuk menangkap fenomena alam sewajarnya, apa adanya dan secara menyeluruh tanpa campur tangan dan manipulasi pengamat/pihak peneliti. Dengan setting natural, maka metode yang lebih sering di gunakan adalah metode kualitatif dibanding dengan kuantitatif. Teori muncul berdasarkan data yang ada, dan pengumpulan data dilakukan dengan proses hermeneutik dan dialektik yang difokuskan pada konstruksi, rekonstruksi dan elaborasi suatu proses sosial.

Posisi Contruktivism Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

Guba dan Lincoln sendiri mengkategorisasikan 4 (empat) paradigma yaitu positivism, post-positivism, Critical Theory, dan Construtivism. Mengutip dari karya Dedy N. Hidayat ”Penelitain proposal Penelitian untuk Pengembangan Ilmu.” Di kategorikan dalaam paradigma kontruktivisme dimana, Constructivism paradigm, Memandang ilmu sosial sebagai analisis sitematis terhadap socially meaning full action melalui pengamatan langsung dan rinci terhadap pelaku sosial dalam setting keseharian alamiah, agar mampu memahami dan menafsirkan bagaimana para pelaku sosial yang bersangkutan menciptakan dan memelihara/mengelola dunia sosial mereka.

18. POST POSITIVISM

(20)

kenyataan dan hukum alam tapi mustahil realitas tersebut dapat dilihat secara benar oleh peneliti. Secara epistomologis: Modified dualist/objectivist, hubungan peneliti dengan realitas yang diteliti tidak bisa dipisahkan tapi harus interaktif dengan subjektivitas seminimal mungkin. Secara metodologis adalahmodified experimental/ manipulatif.

Postpositivisme adalah aliran yang ingin memperbaiki kelemahan pada Positivisme. Satu sisi Postpositivisme sependapat dengan Positivisme bahwa realitas itu memang nyata ada sesuai hukum alam. Tetapi pada sisi lain Postpositivisme berpendapat manusia tidak mungkin mendapatkan kebenaran dari realitas apabila peneliti membuat jarak dengan realitas atau tidak terlibat secara langsung dengan realitas. Hubungan antara peneliti dengan realitas harus bersifat interaktif, untuk itu perlu menggunakanprinsip trianggulasi yaitu penggunaan bermacam-macam metode, sumber data, data, dan lain-lain.

Selanjutnya menurut Guba (1990:23) sistem keyakinan dasar pada peneliti Postpositivisme adalah sebagai berikut:

1. Asumsi ontologi: “Critical realist – reality exist but can never be fully apprehended. It is driven by natural laws that can be only incompletely understood.” Yang artinya “Realis kritis – artinya realitas itu memang ada, tetapi tidak akan pernah dapat dipahami sepenuhnya. Realitas diatur oleh hukum-hukum alam yang tidak dipahami secara sempurna.

2. Asumsi epistomologi: “Modified objectivist – objectivity remains a regulatory ideal, but it can only be approximated with special emphasis placed on external guardians such as the critical tradition and critical community.”yang artinya “Objektivis modifikasi - artinya objektivitas tetap merupakan pengaturan (regulator) yang ideal, namun objektivitas hanya dapat diperkirakan dengan penekanan khusus pada penjaga eksternal, seperti tradisi dan komunitas yang kritis.”

(21)

dengan melakukan penelitian dalam latar yang alamiah, yang lebih banyak menggunakan metode-metode kualitatif, lebih tergantung pada teori-grounded (grounded-theory) dan memperlihatkan upaya (reintroducing) penemuan dalam proses penelitian.”

Posisi Post Positivism Dalam Perspektif/Paradigma Ilmu Sosial

Adapun kedudukan Post Positivism dalam paradigma ilmu social yaitu terletak pada paradigma kritis karena penelitian selalu melibatkan value judgment dan keberpihakan pada nilai-nilai tertentu karena paradigma Postpositivisme berpendapat bahwa manusia tidak mungkin mendapatkan kebenaran dari realitas apabila peneliti membuat jarak dengan realitas atau tidak terlibat secara langsung dengan realitas.

19. JENIS-JENIS PARADIGMA DALAM ILMU SOSIAL

A. Pengertian Setiap Paradigma

Paradigma menurut Guba (1990, hal.17) mempunyai definisi sebagai serangkaian keyakinan dasar yang membimbing tindakan. Paradigma pada dasarnya merupakan sudut pandang peneliti dalam melihat penelitiannya.

Paradigma dibedakan menjadi tiga:

 Paradigma Klasik

Paradigma yang menganalogikan Ilmu Sosial sebagai Ilmu Alam. Paradigma yang menempatkan ilmu pengetahuan menyelidiki sebab akibat fenomena. Sebagai metode yang terorganisir untuk mengkombinasikan logika deduktif dengan pengamatan empiris, guna secara probabilistik menemukan atau memperoleh konfirmasi tentang hukum sebab akibat yang bisa dipergunakan untuk memprediksi pola-pola umum gejala sosial tertentu.

 Paradigma Konstruktif

Paradigma yang memandang Ilmu Sosial sebagai analisis sistematis terhadap pelaku sosial, yang dilakukan melalui pengamatan langsung dan rinci terhadap pelaku sosial. Paradigma yang memandang ilmu pengetahuan sebagai analisis sistematis yang disertai dengan pengamatan langsung dan rinci terhadap pelaku sosial dalam setting keseharian yang alamiah, agar mampu memahami dan menafsirkan bagaimana para pelaku sosial yang bersangkutan menciptakan dan memelihara/mengelola dunia sosial mereka.

 Paradigma Kritis

(22)

pengetahuan yang berciri historis dan struktural, yang dinilai menurut tingkat keterposisian sejarahnya dan kemampuannya untuk menghasilkan praksis, atau tindakan.

B. Paradigma Ilmu Sosial dalam Asumsi Ontologis, Epistemologis, Metodologis dan Aksiologis

Paradigma Klasik

 Secara Ontologis

Secara ontologis berbicara mengenai hakikat realitas atau kenyataan. Paradigma Klasik percaya bahwa realitas yang ada di luar sudah diatur oleh hukum dan kaidah-kaidah tertentu secara universal.

 Secara Epistemologis

Secara epistemologis berbicara mengenai hubungan peneliti dengan yang diteliti. Paradigma Klasik meyakini bahwa peneliti bersifat objektif, maka peneliti harus menjaga jarak dengan objek yang diteliti.

 Secara Metodologis

Secara Metodologis berbicara mengenai cara yang akan digunakan dalam memperoleh pengetahuan. Cara yang dipakai dalam pardigma ini adalah cara hipotesis dan metode deduktif.

 Secara Aksiologis

Secara Aksiologis berbicara mengenai pertimbangan nilai dari peneliti mengenai objek yang diteliti. Dalam Paradigma Klasik nilai, etika dan moral berada di luar proses penelitian. Peneliti bertindak sebagai pengamat.

Paradigma Konstruktif

 Secara Ontologis

Dalam Paradigma Konstruktif, kebenaran tentang suatu realitas bersifat relatif. Artinya kebenaran realitas sosial tergantung pada individu pelaku sosial.

 Secara Epistemologis

Dalam Paradigma ini, kebenaran atau realitas dunia sosial, merupakan hasil interaksi dari sesama pelaku sosial.

 Secara Metodologis

Dalam paradigma ini, cara yang dipakai untuk mengetahui kebenaran realitas sosial adalah cara dialektis dengan metode-metode seperti metode kualitatif.

 Secara Aksiologis

Dalam paradigma ini nilai, etika dan pilihan moral si peneliti tidak boleh dipisahkan dari proses penelitian. Peneliti bertindak sebagai fasilitator yang menjembatani keragaman subjektivitas pelaku sosial.

Paradigma Kritis

 Secara Ontologis

(23)

 Secara Epistemologis

Dalam paradigma ini, hubungan antara peneliti dengan yang diteliti selalu dijembatani oleh nilai-nilai tertentu. Nilai itu sendiri ditemukan oleh si peneliti itu sendiri.

 Secara Metodologis

Dalam paradigma ini, cara yang dipakai untuk mengetahui kebenaran suatu realitas adalah peneliti bertindak sebagai partisipan atau biasa disebut sebagai aktivis perubahan sosial.

 Secara Aksiologis

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...