Referat Ilmu Penyakit Dalam Hal Hal yang

18 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Referat Ilmu Penyakit Dalam

Hal-Hal yang Perlu di Perhatikan pada Penyakit Campak

Nama : Laurensius Raven Kojansow

Periode 23 November 2015 – 30 Januari 2016

Dokter Pembimbing : dr. Lisa Kurnia Sari SpPD

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Campak merupakan salah satu penyakit yang pernah menjadi perhatian dunia pada dekade lalu. Tingkat penularan campak yang sangat tinggi dengan transmisi melalui udara, kontak langsung maupun melalui droplet dari penderita saat gejala yang ada minimal bahkan tidak bergejala. Penderita masih dapat menularkan penyakitnya mulai hari ke-7 setelah terpajan hingga 5 hari setelah ruam muncul. Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak hingga orang dewasa yang tidak diimunisasi.

Campak menjadi perhatian dunia dikarenakan tingkat penularannya yang tinggi sehingga dapat menimbulkan outbreak dan komplikasi mengerikan seperti pnemonia dan ensefalitis yang dapat meningkatkan angka mortalitas

Pada tahun 2000 WHO menyatakan penyakit ini sudah tereradikasi. Tetapi akhir-akhir ini penyakit ini mulai muncul kembali pada tahun 2015 di Disneyland dan di Indonesia yang merenggut nyawa seorang dokter internship.

Pada tahun 1964 telah ditemukan vaksin campak. Penemuan vaksin ini berhasil menekan insiden dari penyakit yang sangat menular. Tetapi pada perjalanannya, ada beberapa pihak yang tidak menyetujui pemberian vaksin ini dikarenakan efek samping dari vaksin seperti dapat membuat autis , terkena penyakit tersebut , haram dan lain-lain yang membuat terjadinya peningkatan insiden dari penyakit ini beberapa waktu yang lalu. Oleh karena itu perlu perjuangan public health untuk dapat memberi dan mengajak masyarakat dunia untuk mengerti dan paham dari pentingnya vaksin ini.

(3)

(bercak Koplik), dan (3) Stadium erupsi yang ditandai dengan keluarnya ruam makulopapular yang didahului dengan meningkatnya suhu badan..

(4)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian

Campak berasal dari paramyxovirus, genus morbillivirus memiliki diameter120-250 nm dan dua protein membran yang penting dalam patogenesis. Protein F (fusi) protein,yang bertanggung jawab untuk fusi virus dan sel inang membran, penetrasi virus, dan hemolisis, dan H (hemagglutinin) protein, yang bertanggung jawab untuk adsorpsi infromasi virus ke sel. Hanya ada satu jenis antigen virus campak. Meskipun penelitian telah mendokumentasikan perubahan dalam glikoprotein H,perubahan ini tidak tampak epidemiologis penting.Virus campak cepat mati oleh panas, sinar matahari, asam pH, eter, dan tripsin. Memiliki waktu hidup yang singkat (kurang dari 2 jam) di udara atau pada objek dan permukaan.1

2.2 Etiologi

Lesi pada campak terutama terdapat pada kulit, membran mukosa nasofaring, bronkus, saluran pencernaan, dan konjungtiva. Di sekitar kapiler terdapat eksudat serosa dan proliferasi dari sel mononuklear dan beberapa sel polimorfonuklear. Karakteristik patologi dari Campak ialah terdapatnya distribusi yang luas dari sel raksasa berinti banyak yang merupakan hasil dari penggabungan sel. Dua tipe utama dari sel raksasa yang muncul adalah (1) sel Warthin-Findkeley yang ditemukan pada sistem retikuloendotel (adenoid, tonsil, appendiks, limpa dan timus) dan (2) sel epitel raksasa yang muncul terutama pada epitel saluran nafas. Lesi di daerah kulit terutama terdapat di sekitar kelenjar sebasea dan folikel rambut. Terdapat reaksi radang umum pada daerah bukal dan mukosa faring yang meluas hingga ke jaringan limfoid dan membran mukosa trakeibronkial. Pneumonitis intersisial karena virus campak menyebabkan terbentuknya sel raksasa dari Hecht. Bronkopneumonia yang terjadi mungkin disebabkan infeksi sekunder oleh bakteri 1

(5)

2.3. Patogenesis

Campak merupakan infeksi virus yang sangat menular, dengan sedikit virus yang infeksius sudah dapat menimbulkan infeksi pada seseorang. Lokasi utama infeksi virus campak adalah epitel saluran nafas nasofaring. Infeksi virus pertama pada saluran nafas sangat minimal. Kejadian yang lebih penting adalah penyebaran pertama virus campak ke jaringan limfatik regional yang menyebabkan terjadinya viremia primer. Setelah viremia primer, terjadi multiplikasi ekstensif dari virus campak yang terjadi pada jaringan limfatik regional maupun jaringan limfatik yang lebih jauh. Multiplikasi virus campak juga terjadi di lokasi pertama infeksi.1

Selama lima hingga tujuh hari infeksi terjadi viremia sekunder yang ekstensif dan menyebabkan terjadinya infeksi campak secara umum. Kulit, konjungtiva, dan saluran nafas adalah tempat yang jelas terkena infeksi, tetapi organ lainnya dapat terinfeksi pula. Dari hari ke-11 hingga 14 infeksi, kandungan virus dalam darah, saluran nafas, dan organ lain mencapai puncaknya dan kemudian jumlahnya menurun secara cepat dalam waktu 2 hingga 3 hari. Selama infeksi virus campak akan bereplikasi di dalam sel endotel, sel epitel, monosit, dan makrofag. 1

Daerah epitel yang nekrotik di nasofaring dan saluran pernafasan memberikan kesempatan serangan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia, otitis media, dan lainnya. Dalam keadaan tertentu, adenovirus dan herpes virus pneumonia dapat terjadi pada kasus campak .1

Hari Manifestasi

0 Virus campak dalam droplet kontak dengan permukaan epitel nasofaring atau kemungkinan konjungtiva

Infeksi pada sel epitel dan multiplikasi virus

1-2 Penyebaran infeksi ke jaringan limfatik regional

2-3 Viremia primer

3-5 Multiplikasi virus campak pada epitel saluran nafas di tempat infeksi pertama, dan pada RES regional maupun daerah yang jauh

(6)

7-11 Manifestasi pada kulit dan tempat lain yang bervirus, termasuk saluran nafas

11-14 Virus pada darah, saluran nafas dan organ lain

15-17 Viremia berkurang lalu hilang, virus pada organ menghilang

Tabel 1. Patogenesis infeksi campak tanpa penyulit

Sumber :Feigin et al.2004.Textbook of Pediatric Infectious Diseases5th edition

2.4 Manifestasi Klinik

Masa inkubasi 10-20 hari dan kemudian timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium, yaitu:1

1. Stadium kataral (prodormal).

Stadium ini berlangsung selama 4-5 hari disertai gambaran klinis seperti demam, malaise, batuk, fotopobia, konjungtivitis, dan coryza. Menjelang akhir dari stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantem, terdapat bercak koplik berwarna putih kelabu sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema. Lokasinya di mukosa bukal yang berhadapan dengan molar bawah..

Gambar 1. Koplik spot

Sumber : Sumber :Feigin et al.2004.Textbook of Pediatric Infectious Diseases5th edition

2. Stadium erupsi

(7)

timbul dibelakang telinga, bagian atas lateral tengkuk sepanjang rambut dan bagian belakang bawah. Kadang-kadang terdapat perdarahan ringan pada kulit. Rasa gatal, muka bengkak. Ruam mencapai anggota bawah pada hari ke 3, dan menghilang sesuai urutan terjadinya.

Terdapat pembesaran kelenjar getah bening di sudut mandibula dan di daerah leher belakang. Sedikit terdapat splenomegali, tidak jarang disertai diare dan muntah.

Variasi yang biasa terjadi adalah Black Measless, yaitu morbili yang disertai dengan perdarahan di kulit, mulut, hidung, dan traktus digestivus.

Gambar 2. Bercak merah makulopapuler

Sumber :Feigin et al.2004.Textbook of Pediatric Infectious Diseases5th edition

3. Stadium konvalesensi

Erupsi berkurang menimbulkan bekas yang berwarna lebih tua atau hiperpigmentasi (gejala patognomonik) yang lama kelamaan akan hilang sendiri. Selain itu ditemukan pula kelainan kulit bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala patognomonik untuk morbilli. Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema atau eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai normal kecuali bila ada komplikasi.

2.5. Diagnosis

(8)

pemeriksaan Hemagglutination-inhibition (HI), complement fixation (CF), neutralization, immune precipitation, hemolysin inhibition, ELISA, serologi IgM-IgG, dan fluorescent antibody (FA). Pemeriksaan HI dilakukan dengan menggunakan dua sampel yaitu serum akut pada masa prodromal dan serum sekunder pada 7 – 10 hari setelah pengambilan sampel serum akut. Hasil dikatakan positif bila terdapat peningkatan titer sebanyak 4x atau lebih. Serum IgM merupakan tes yang berguna pada saat munculnya ruam. Serum IgM akan menurun dalam waktu sekitar 9 minggu, sedangkan serum IgG akan menetap kadarnya seumur hidup. Pada pemeriksaan darah tepi, jumlah sel darah putih cenderung menurun. Pungsi lumbal dilakukan bila terdapat penyulit encephalitis dan didapatkan peningkatan protein, peningkatan ringan jumlah limfosit sedangkan kadar glukosa normal 1, 2

2.6. Diagnosis Banding

Diagnosis banding measles pada orang dewasa berbeda dengan anak-anak berdasarkan epidemiology dari penyakit yang menyerupai measles. Beberapa diagnosis banding pada penyakit measles pada orang dewasa.1,2

1. Rubella

Tanda yang paling khas pada rubella adalah limfadenopati pada retroauricular dan cervical posterior dan post oksipital. 20% dari penderita rubella mungkin akan terdapat Forcheimer spot dimana terdapat bintik-bintik merah di palatum mole yang muncul sebelum bercak di kulit muncul.Bercak merah muncul mulai dari kepala ke kaki secara cepat ±24 jam dan pada hari ke-2 bercak merah mulai mengecil menjadi titik-titik dan pada hari ke-3 bercak merah sudah mulai menghilang tanpa bekas.

2. Varicella

Karakteristik dari varisela adalah masa prodromal 1 hari kemudian diikuti bercak merah dengan vesikel-vesikel yang tersebar umumnya dari badan ke kepala dan jarang di ekstrimitas. Vesikel menyebabkan gatal terlokalisasi. Vesikel biasanya pecah menjadi ulkus , krusta dan sembuh.

(9)

Didapatkan riwayat paparan benda, obat , makanan dan lain-lain yang tidak lama sebelum ruam muncul dan biasanya tidak disertai gejala prodromal. Biasanya bercak tergeneralisasi di seluruh badan.

4. Dengue

Pada Dengue Fever didapatkan demam ±3 hari , menggigil , nyeri retro orbital, nyeri sendi , mual/muntah dan nyeri perut. Bercak merah di muka dan ekstremitas dapat muncul pada awal demam tetapi tidak semua dengue fever terdapat bercak merah. Pada dengue fever dapat dibantu dengan pemeriksaan darah untuk melihat trombosit, hemoglobin, leukosit dan antigen NS1.

5. Campak atipikal

Campak atipikal terjadi pada orang yang telah tervaksinasi pada tahun 1963-1967 , yang kemudian kontak dengan virus tipe ganas. Campak atipikal ditandai dengan sakit kepala berat , sakit perut yang parah , sering dengan muntah , mialgia , pnemonia, radang paru-paru dengan efusi pleura , dan bercak yang sangat berbeda dari khas campak ruam . Bercak merah pada campak atipikal biasanya muncul di telapak tangan , pergelangan tangan , telapak kaki, dan pergelangan kaki , dan berkembang dalam arah sentripetal . Lesi awalnya makulopapular tetapi menjadi vesikular dan kemudian dapat menjadi purpura atau hemoragik . Koplik spot jarang muncul pada pasien dengan campak atipikal

2.7. Komplikasi

Campak menjadi berat pada pasien dengan gizi buruk dan anak berumur lebih kecil. Kebanyakan penyulit campak terjadi bila ada infeksi sekunder oleh bakteri. Beberapa penyulit campak adalah :3

a) Bronkopneumonia

(10)

Streptococcus, Staphylococcus, dan Haemophyllus influenza). Ditandai dengan adanya ronki basah halus, batuk, dan meningkatnya frekuensi nafas. Pada saat suhu menurun, gejala pneumonia karena virus campak akan menghilang kecuali batuk yang masih akan bertahan selama beberapa lama. Bila gejala tidak berkurang, perlu dicurigai adanya infeksi sekunder oleh bakteri yang menginvasi mukosa saluran nafas yang telah dirusak oleh virus campak. Penanganan dengan antibiotik diperlukan agar tidak muncul akibat yang fatal.

b) Ensefalitis

Komplikasi neurologis tidak jarang terjadi pada infeksi campak. Gejala encephalitis biasanya timbul pada stadium erupsi dan dalam 8 hari setelah onset penyakit. Biasanya gejala komplikasi neurologis dari infeksi campak akan timbul pada stadium prodromal. Tanda dari encephalitis yang dapat muncul adalah : kejang, letargi, koma, nyeri kepala, kelainan frekuensi nafas, twitching dan disorientasi. Dugaan penyebab timbulnya komplikasi ini antara lain adalah adanya proses autoimun maupun akibat virus campak tersebut.

c) Subacute Slcerosing Panencephalitis (SSPE)

SSPE yang disebabkan oleh infeksi persisten virus campak dari sistem saraf pusat. SSPE

ditandai dengan perubahan tingkah laku, tidak bisa konsentrasi dan sering lupa. Pada keadaan ini tidak ada keluhan seperti demam, fotofobia atau gejala ensefalitis lainnya melainkan keluhan sakit kepala berat yang lama-lama dapat diikuti kejang mioklonik dan demensia. Onset terjadinya SSPE beriksar 7-12 tahun dari orang yang terkena campak sebelumnya.Anak yang belum mendapat vaksinansi memiliki risiko 10x lebih tinggi untuk terkena SSPE dibandingkan dengan anak yang telah mendapat vaksinasi

d) Otitis Media

Gendang telinga biasanya hiperemi pada fase prodromal dan stadium erupsi.

e) Diare

Diare dapat terjadi akibat invasi virus campak ke mukosa saluran cerna sehingga mengganggu fungsi normalnya maupun sebagai akibat menurunnya daya tahan penderita campak

(11)

Merupakan bentuk berat dan sering berakibat fatal dari infeksi campak yang ditandai dengan ruam kulit konfluen yang bersifat hemoragik. Penderita menunjukkan gejala ensefalitis atau encephalopati dan pneumonia. Terjadi perdarahan ekstensif dari mulut, hidung dan usus. Dapat pula terjadi koagulasi intravaskuler diseminata

2.8. Epidemiology

Insiden campak terjadi di seluruh dunia. Namun eradikasi campak telah dicapai di Amerika Serikat dan bagian lain dari belahan bumi barat.Tetapi akhir-akhir ini dikejutkan dengan outbreak kasus campak yang terjadi di Disneyland,Mexico dan beberapa negara US.Reservoir campak adalah manusia saja, tidak ada hewan yang diketahui sebagai reservoid dan carrier asimtomatik belum didokumentasikan. 4

Transmisi campak terutama orang ke orang melalui droplet pernapasan. Penularan melalui udara melalui aerosol droplet nuklei telah didokumentasikan di daerah tertutup (misalnya, kantor ruang pemeriksaan) hingga 2 jam setelah seseorang dengan campak memasuki daerah tersebut. Campak dapat ditularkan dari 4 hari sebelum sampai 4 hari setelah ruam serangan. Penularan maksimal terjadi dari awal prodromal melalui 3-4 hari pertama ruam.4

2.9. Imunisasi

Vaksinasi campak dapat menimbulkan gejala ringan atau tanpa gejala. Antibodi campak berkembang di sekitar 95% dari anak divaksinasi pada 12 bulan usia dan 98% dari anak-anak divaksinasi pada usia 15 bulan. Nilai serokonversi antigen vaksin, MMR, dan MMRV tidak memiliki perbedaan yang bermakna. 5

Sekitar 2% -5% dari anak-anak yang hanya menerima satu dosis vaksin MMR gagal untuk mendapatkan imunitas (primary vaccine failure). Kegagalan dapat terjadi karena antibodi pasif merusak antigen vaksin, vaksin yang sediaannya rusak, catatan yang tidak benar, atau alasan mungkin lainnya. Kebanyakan orang yang gagal untuk merespon untuk dosis pertama akan berhasil di dosis kedua. Studi menunjukkan bahwa lebih dari 99% dari orang yang menerima dua dosis vaksin campak akan mendapatkan imunitas campak 5

(12)

jangka panjang dan mungkin seumur hidup di sebagian besar orang. Orang yang divaksinasi yang tampil kehilangan antibodi menunjukkan respon imun setelah vaksinasi ulang, menunjukkan bahwa mereka mungkin masih imun. Meskipun vaksinasi ulang dapat meningkatkan antibodi titer di beberapa orang, data yang tersedia menunjukkan bahwa peningkatan titer mungkin tidak berlangsung lama. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kegagalan vaksin sekunder (memudarnya imunitas) dapat terjadi setelah vaksinasi, tapi ini jarang terjadi dan hanya memainkan peran kecil dalam transmisi campak dan wabah.5

2.10. Jadwal dan penggunaan vaksin

Dua dosis vaksin campak baik sebagai kombinasi MMR atau sendiri, dipisahkan setidaknya 4 minggu. Vaksin direkomendasikan untuk semua anak usia 12 bulan atau lebih. Semua orang yang lahir pada atau setelah 1957 harus memiliki riwayat imunisasi atau setidaknya satu dosis MMR atau bukti lain dari kekebalan campak. Dosis pertama MMR harus diberikan setelah ulang tahun pertama. Setiap vaksin campak yang diberikan sebelum usia 12 bulan tidak boleh dihitung sebagai bagian vaksinasi. Anak-anak divaksinasi dengan campak mengandung vaksin sebelum usia 12 bulan harus divaksinasi dengan dua dosis vaksin MMR, yang pertama harus diberikan ketika anak setidaknya 12 bulan. 3,4

(13)

MMRV disetujui oleh Food and Drug Administration untuk anak-anak 12 bulan hingga 12 tahun (yaitu, sampai ulang tahun ke-13). MMRV sebaiknya tidak diberikan kepada orang-orang 13 tahun atau lebih tua. Untuk dosis pertama MMR dan vaksin varicella pada usia 12 sampai 47 bulan, baik vaksin MMR dan varicella vaksin atau vaksin MMRV dapat digunakan. Penyedia yang mempertimbangkan pemberian vaksin MMRV harus mendiskusikan manfaat dan risiko dari pilihan kedua vaksinasi dengan orang tua atau pengasuh. Kecuali orang tua atau pengasuh mengungkapkan preferensi untuk vaksin MMRV, CDC merekomendasikan bahwa vaksin MMR dan vaksin varicella harus diberikan secara terpisah untuk dosis pertama di usia kelompok ini. Untuk dosis kedua MMR dan vaksin varicella pada usia berapa pun (15 bulan hingga 12 tahun) dan untuk dosis pertama pada 48 bulan atau lebih tua, penggunaan vaksin MMRV umumnya lebih disukai.4,5

Orang dewasa yang lahir pada tahun 1957 atau setelah yang tidak memiliki kontraindikasi medis harus menerima setidaknya satu dosis MMR vaksin kecuali mereka memiliki dokumentasi vaksinasi dengan setidaknya satu dosis campak, mumps- dan rubella mengandung vaksin atau bukti lain yang diterima imunitas untuk tiga penyakit tersebut. Dengan pengecualian wanita yang mungkin hamil dan orang-orang yang bekerja di fasilitas medis, kelahiran sebelum 1957 umumnya dapat dianggap bukti diterima kekebalan terhadap campak, gondok, dan rubella.Golongan seperti yang akan melanjutkan perguruan tinggi dan lainnya, orang bekerja di fasilitas medis, dan wisatawan internasional harus mendapatkan vaksin MMR.5

2.11. Revaksinasi

Vaksinasi ulang direkomendasikan untuk orang-orang tertentu. Kelompok tersebut seperti orang yang divaksinasi sebelum ulang tahun pertama(dibawah 12 bulan), divaksinasi dengan Killed Measles Vaccine (KMV),divaksinasi dari 1963 melalui tahun 1967 dengan jenis vaksin yang tidak diketahui.3,4,5

2.12. Posting Profilaksis Exposure

(14)

memberikan perlindungan sementara jika diberikan dalam waktu 6 hari dari paparan.Dosisnya adalah 0,5 mL / kg berat badan, dengan maksimum 15 mL intramuskuler dan dosis yang dianjurkan dari immunoglobulin yang diberikan secara intravena adalah 400mg / kg. IG dapat terutama diindikasikan untuk kelompok/rumah tangga yang memiliki anggota yang terkena campak. IG tidak boleh digunakan untuk kendali campak wabah.5

2.13 Kontraindikasi

Kontraindikasi untuk MMR dan vaksin MMRV adalah riwayat reaksi anafilaksis terhadap neomisin, riwayat reaksi alergi yang parah terhadap komponen vaksin, kehamilan, dan imunosupresi di masa lalu.Namun, data menunjukkan bahwa reaksi anafilaksis untuk campak dan gondok tidak berhubungan dengan hipersensitivitas terhadap antigen telur tetapi untuk komponen lain dari vaksin (seperti gelatin). Vaksin MMR tidak mengandung penisilin Riwayat alergi penisilin bukan merupakan kontraindikasi untuk vaksinasi dengan MMR atau vaksin lain.5

Wanita diketahui hamil seharusnya tidak menerima vaksin MMR. Kehamilan harus dihindari selama 4 minggu setelah pemberian vaksin MMR. Kontak dekat dengan wanita hamil bukan merupakan kontraindikasi untuk vaksinasi MMRMenyusui bukan kontraindikasi untuk vaksinasi.3,4

Data yang tersedia menunjukkan bahwa vaksinasi MMR belum ada hubungan dengan berat atau tidaknya efek samping pada orang yang terinfeksi HIV tetapi penyakit campak dapat memperburuk orang dengan HIV infeksi.3

Orang dengan penyakit akut sedang atau berat tidak boleh divaksinasi sampai pasien telah membaik. Tindakan pencegahan ini dimaksudkan untuk mencegah komplikasi penyakit dengan potensi reaksi yang merugikan dari vaksin MMR, seperti demam.4

Penerimaan produk darah antibodi (misalnya,globulin imun, seluruh darah atau dikemas sel darah merah) dapat mengganggu serokonversi vaksin campak. Lamanya waktu antibodi tergantung pada konsentrasi dan kuantitas produk darah yang diterima. Contohnya, dianjurkan bahwa vaksinasi ditunda selama 3 bulan diterimanya berikut immune globulin untuk profilaksis hepatitis A.5

(15)

Arthralgia dan gejala sendi lainnya dilaporkan sampai 25% wanita dewasa yang diberikan vaksin MMR. Reaksi alergi termasuk ruam, pruritus, dan purpura sementara berhubungan dengan vaksinasi gondok, tetapi ini tidak umum dan biasanya ringan dan singkat.3

Sampai saat ini tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa vaksin menyebabkan gangguan autisme atau autis spectrum disease. Kecurigaan tentang hubungan yang mungkin antara vaksin MMR dan autisme diperhatikan oleh beberapa orang tua. Gejala autisme sering diperhatikan oleh orang tua selama tahun kedua kehidupan anaknya yang mendapati vaksin MMR. Dua organisasi non pemerintah Institute of Medicine (IOM) dan Amerika Academy of Pediatrics (AAP), telah meninjau bukti mengenai hubungan potensial antara autisme dan MMR vaksin. Kedua kelompok ini menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang mendukung antara hubungan pemberian vaksin MMR dan autism.Penelitian tambahan tentang penyebab autisme yang dibutuhkan.3

2.15 Reaksi yang tidak diharapkan (Adverse Reaction)

Efek samping vaksin campak (kecuali alergi Reaksi) dapat disebabkan oleh replikasi vaksin campak virus dengan penyakit ringan berikutnya Demam adalah reaksi merugikan yang paling umum dari MMR vaksinasi. Meskipun campak, gondok, rubella dan vaksin dapat menyebabkan demam setelah vaksinasi, komponen campak dari vaksin MMR yang paling sering dikaitkan dengan demam. Vaksin MMR jarang dapat menyebabkan trombositopenia dalam 2 bulan setelah vaksinasi. Reaksi alergi setelah pemberian MMR Sebagian besar reaksi terdiri dari papul dan kemerahan atau urtikaria di tempat suntikan. Anafilaksis reaksi terhadap MMR sangat langka terjadi.4

2.14 Penatalaksanaan

(16)

Indikasi rawat inap bila hiperpireksia (suhu >39,5˚C), dehidrasi, kejang, asupan oral sulit atau adanya penyulit. Pengobatan dengan penyulit disesuaikan dengan penyulit yang timbul.1

(17)

KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Campak merupakan penyakit sangat menular dan tersebar diseluruh dunia baik dewasa maupun anak-anak. Komplikasi dan penyebaran dari penyakit ini membuat perhatian dunia untuk mencegah dan memberantas penyakit ini Penyakit ini sudah lama ditemukan dan menjadi perhatian dunia. Dalam penelitian terkini, tidak ditemukan adanya evolusi ataupun perubahan serotype dari virus maupun patofisiologinya. Pengetahuan masyarakat akan pentingnya vaksinasi penyakit ini diperlukan untuk mencegah outbreak dan memberantas insiden penyakit campak.

3.2 Saran

Perlu adanya kebijakan dari pemerintah khusus untuk mengendalikan kasus penyakit ini seperti kebijakan imunisasi MMR pada setiap anak berusia diatas 12 bulan dan untuk individu yang berinteraksi dengan sejumlah kelompok agar tidak terjadi outbreak dan peningkatan penderita dari penyakit ini.

(18)

1. Cherry J.D. 2004. Measles Virus. In: Feigin, Cherry, Demmler, Kaplan (eds) Textbook of Pediatrics Infectious Disease. 5th edition. Vol 3. Philadelphia. Saunders. p.2283 – 2298

2. CDC, April 2015 , Measles Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases diunduh dari http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/meas.pdf tanggal 3 Januari 2016

3. Phillips C.S. 2011. Measles. In: Behrman R.E., Vaughan V.C. (eds) Nelson Textbook of Pediatrics. 20th edition. New York : Mc Graw Hill. p.743-44

4. Seward Jane, Februari 2015. Measles 2015 : Situational Update, Clinical Guidance and Vaccination Recommendations. Clinician Outreach and Communication Activity diunduh dari http://emergency.cdc.gov/coca/ppt/2015/2_19_15_measles_final.pdf tanggal 3 Januari 2016

Figur

Gambar 1. Koplik spot
Gambar 1 Koplik spot. View in document p.6
Gambar 2. Bercak merah makulopapuler
Gambar 2 Bercak merah makulopapuler. View in document p.7

Referensi

Memperbarui...