• Tidak ada hasil yang ditemukan

Budaya Kerja Masyarakat Melayu dalam Men

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Budaya Kerja Masyarakat Melayu dalam Men"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

BUDAYA KERJA MASYARAKAT MELAYU DALAM

MENGHADAPI ERA GLOBALISASI DI MEDAN LABUHAN

Tim Penulis :

Rusdi Suf

Irini Dewi Wanti

Agus Budi Wibowo

Gustanto

Kaharuddin Lubis

(2)

PENDAHULUAN

.A Latar Belakang Masalah

Disaat era globalisasi melanda dunia, negara-negara saling berlomba berkompetisi untuk meningkatkan ekonomi, industri maupun kemampuan militer supaya tidak ketinggalan dengan negara lain. Begitu pula dengan negara Indonesia tetap siap menghadapi era globalisasi dengan cara meningkatkan sumber daya manusianya. Sumber daya manusia Indonesia berasal dari berbagai suku bangsa, hal ini berarti pemerintah harus menggalakkan pembangunan di daerah-daerah yang didiami oleh berbagai suku bangsa. Usaha yang dilakukan pemerintah tercermin dalam GBHN, yaitu pembangunan jangka panjang dan pembangunan jangka pendek. Sektor-sektor yang diutamakan pemerintah dalam peningkatan sumber daya manusia tersebut adalah sektor pendidikan, budaya dan ekonomi. Sektor-sektor tersebut pada prinsipnya dapat diterima oleh berbagai suku bangsa di Indonesia, walaupun pada kenyataannya masih banyak suku bangsa yang masih memikirkan bahkan ada yang menentangnya. Keadaan tersebut tentu berakibat pada terciptanya perbedaan tingkat kemajuan yang diperoleh satu suku bangsa dengan suku bangsa lainnya.

(3)

ketinggalan dari masyarakat lain yang berada di Sumatera Timur khususnya dan dis eluruh Indonesia pada umumnya, dalam menyongsong era globalisasi. Secara perlahan-lahan mereka mulai merombak kebudayaannya dan makin banyaknya tokoh-tokoh Melayu Labuhan yang duduk dalam pemerintahan baik di Sumatera Utara maupun di Jakarta. Untuk mengetahui bagaimana budaya kerja masyarakat Melayu Labuhan dalam menyongsong era globalisasi, penelitian ini akan dilakukan terhadap masyarakat Melayu Labuhan dengan didukung referensi yang relevan. Hal ini dimaksudkan dengan penelitian ini akan diperoleh paparan yang lebih jelas dan mendetail tentang masyarakat Melayu Labuhan.

.B Rumusan Masalah

Pengertian orang mengenai Melayu selama ini selalu keliru. Hal ini dikarenakan pengertian Melayu hanya diambil dari segi bahasa, pengertian ras, dan ada juga karena pengertian etnis, sedangkan pengertian harfiah kata Melayu diambil dari segi agama Islam. Menurut sejarah, orang Melayu mendiami beberapa wilayah yang antara lain Thailand Selatan, Malaysia Barat dan Timur, Singapura, Brunai, Kalimantan Barat, Aceh Timur, Pesisir Timur, Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Pesisir Palembang.

Adapun mengenai pengertian Melayu ada beberapa pendapat yang antara lain;

a. Melayu itu berasal dari dua perkataan yaitu mala dan yu. Mala artinya mula, dan yu artinya negeri.

b. Melayu atau Melayer mempunyai arti tanah dalam bahasa Tamil, sedangkan dalam bahasa Sansekerta terdapat perkataan malay yang artinya nama pohon yang harum gaharu sebagai pujian yang menerangkan bahwa Malaya dahulu adalah negeri Gaharu yang terkenal.

c. Melayu dalam bahasa Jawa berarti deras atau lari.

d. Melayu berasal dari perkataan pemelayu, seperti Palembang dari pada lembang.

e. Adalagi yu bermakna telur, jadi Melayu berarti mula telur atau telur yang mula-mula.

Secara umum orang-orang Melayu yang mendiami daerah Pantai Timur pulau Sumatera, Semenanjung Melayu, pulau-pulau yang terletak antara Sumatera dan Kalimantan, serta pantai-pantai pinggiran, menunjukkan banyak persamaan. Pemukiman suku Melayu di pantai Timur Sumatera adalah daerah yang menjalur dari daratan Pantai Barat sampai ke daratan yang berbukit-bukit, mulai dari daerah Aceh Timur, Langkat, Deli Serdang, Asahan, sampai daerah Labuhan Batu. Pengertian ini sangat berkaitan dengan pekerjaan sebagai nelayan dan perdagangan.

(4)

dan dalam gerak persebarannya bercampur dengan berbagai suku bangsa lainnya. Misalnya orang Melayu yang berdiam di daerah Deli disebut juga Melayu Deli, yang berdiam di daerah Langkat disebut Melayu Langkat, yang berdiam di daerah Asahan disebut Melayu Asahan dan yang berdiam di daerah Labuhan Batu disebut Melayu Labuhan Batu. Secara Umum kebudayan dari suku bangsa Melayu tersebut memiliki persamaan dan perbedaan. Perbedaan yang paling dominan ada dalam bidang bahasa, yaitu dalam cara pengucapannya (dialek). Perbedaan dialek ini dikarenakan adanya percampuran dengan bahasa-bahasa dari suku bangsa lain, akan tetapi makna dari pengucapannya tidak membedakan arti yang prinsipil.

Kepribadian sistem sosial budaya Melayu secara umum adalah sebagai berikut;

a. Orang Melayu adalah penganut agama Islam karena semua kegiatan yang bersifat rutin (baik bidang pendidikan/kebudayaan) selalu berhubungan dengan Islam.

b. Mereka bersih dengan berketurunan baik, sangat gemar akan musik, dan hidup dengan kasih sayang.

Pada umumnya orang Melayu menganut agama Islam. Hal ini membuka peluang bagi siapa saja untuk menjadikan Melayu sebagai tempat penyiaran agama Islam. Orang Melayu adalah orang-orang yang sopan dan tenang, dalam tindakannya bahkan sebagai pedagang mereka lebih jujur apabila dibandingkan dengan orang Cina. Selalu menghormati para pembesarnya. Adat Melayu adalat adat bersendikan hukum syarak, sedangkan syarak bersendikan kitabullah, jadi dapat disimpulkan bahwa orang Melayu adalah suku bangsa secara cultur (budaya) dan bukan suku bangsa secara genelogis (persamaan daerah turunan). Di dalam hukum kekeluargaan, orang Melayu menganut sistem parental (menarik garis keturunan berdasarkan garis ibu dan garis ayah). Pengertian Melayu adalah merupakan suatu wadah orang Islam menghadapi golongan non Islam. Raja mempunyai daulat selaku penguasa pemerintah, penguasa Islam di kerajaan dan selaku kepala adat rakyat Melayu. Bagi siapa yang memberontak kepada raja dianggap durhaka.

Musyawarah merupakan salah satu ciri rakyat Melayu, misalnya dalam perkawinan, kematian, kenduri, mendirikan rumah, membuka ladang, dan juga dalam pemerintahan tidak luput dari sikap musyawarah. Di dalam perkawinan disebut juga jamu sukut, sedangkan dalam bidang pemerintahan atau yang membicarakan perihal orang banyak disebut kerapatan.

(5)

mereka di wilayah kekuasaan Melayu di daerah Sumatera Timur. Orang Melayu Labuhan tidak mengadakan perlawanan dan tidak menggarap tanah mereka sendiri, melainkan meminta pajak tanahnya. Di samping itu mereka juga tidak mau bekerja pada perkebunan-perkebunan Belanda, hal ini disebabkan rasa gengsi terhadap sesamanya, yang menurut prinsipnya mereka adalah orang Bumiputera yang memiliki kekuatan pada saat itu. Tetapi alasan itu bukanlah satu-satunya melainkan karena keadaan mereka yang masih terikat oleh tradisi yang telah lama dilaksanakan dan telah menjadi kebiasaan bagi mereka, yaitu orang Melayu bekerja hanyalah sebagai pedagang dan nelayan yang telah dikerjakan selama bertahun-tahun. Maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat Melayu Labuhan masih mempertahankan kehidupannya dan belum mempunyai niat untuk menjalani kehidupan lain selain sebagai nelayan dan pedagang. Masyarakat Melayu masih terikat oleh prinsip hidup yang turun temurun, dan bagi mereka Tuhan adalah satu-satunya pengatur hidup manusia.

Dalam menyongsong abad ke-21 seharusnya masyarakat Melayu Labuhan mengubah beberapa nilai-nilai yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, tentu saja jangan sampai mengubah jati diri aslinya. Sudah selayaknya mereka mempunyai prinsip ‘hari esok lebih baik dari hari ini”. Perasaan rendah diri dan rasa bergantung kepada orang lain masih membelenggu, dan apabila hal tersebut dibiarkan kemungkinan dapat membunuh keyakinan, kreativitas, dan motifasi mereka sendiri. Apabila masyarakat Melayu Labuhan masih bersikap negatif dan pasif tanpa mempunyai rasa bersaing dan hanya bertindak tidak lebih dari penonton serta masih meletakkan nasib diri pada orang lain, maka tidak mustahil masyarakat Melayu Labuhan tetap berjalan di tempat (terbelakang).

Sudah selayaknya sejarah dikaji kembali, karena sejarah bukan untuk disalahkan tetapi sebagai pencetus reaksi dan penyaluran ke arah yanng lebih baik. Konsep persaingan dalam hal ini bukanlah mengalahkan atau memusuhi lawan, akan tetapi konsep memperbaiki dan mengembangkan diri sendiri. Pada dasarnya masyarakat Melayu Labuhan menyadari bahwa pada diri mereka terdapat unsur positif dan progresif, tetapi karena kekurangan motivasi dan kreatifitas menyebabkan unsur-unsur positif dan progresif tersebut tidak dapat ditingkatkan. Misalnya nelayan dan petani Melayu Labuhan yang bekerja dari subuh sampai senja hari, tetapi hasil yang diperolehnya sangat minim diakibatkan kurangnya bimbingan dan pengetahuan yang lebih modern. Demikian juga dengan sistem pendidikan, masyarakat Melayu Labuhan lebih bersifat konsumtif dari pada mempunyai rasa cipta kepada sesuatu yang baru. Jadi masyarakat Melayu umumnya dan masyarakat Melayu Labuhan khususnya, harus mempunyai falsafah dan konsep hidup yang mempunyai identitas dan aktivitas yang tinggi, menjadi pemimpin atau pemikir ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan kemanan, serta menjadikan Islam sebagai aspeknya.

(6)

Labuhan lebih kuat dalam mempertahankan tradisi nelayan daripada berdagang, apalagi hal itu bersangkutan dengan pendidikan. Sehingga orang-orang Melayu Labuhan lebih serinng berkomunikasi dengan padagang Gujarat, Persia, maupun Arab.

Munculnya kerajaan-kerajaan Melayu di Sumatera Timur membawa pengaruh terhadap kebudayaan masyarakat Melayu. Kerajaan-kerajaan Melayu, seperti kerajaan Deli, Serdang, dan Asahan berpendapat bahwa seluruh tanah yang ada di Sumatera Timur merupakan hak milik mereka. Dengan alasan inilah yang menyebabkan ornag Melayu tidak mau jadi penggarap tanah, seperti pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda membuka perkebunan di wilayah Sumatera Timur, para imigran yang terdiri dari orang Batak Toba, Karo, Mandailing maupun yang berasal dari Jawa merasa tertuntut supaya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan orang Melayu, hal ini menyebabkan penduduk asli semakin terdesak . Untuk memperkuat kembali persatuan antara sesama kebudayaan Melayu, kerajaan Serdang mengusulkan dibentuknya suatu badan perwakilan yang disebut Tajuk Muluk yang berpusat di Labuhan. Tetapi penduduk Melayu merasa tidak tertarik dengan badan perwakilan yang dibentuk, dengan alasan bahwa badan tersebut hanya menguntungkan Kerajaan Deli saja yang menjadi boneka Kolonial Belanda, dan di samping itu mereka lebih tertarik dengan pekerjaan sebagai nelayan. Apabila praktek yang dijalankan badan perwakilan berhubungan dengan pendidikan, maka Melayu Labuhan lebih menyukai yang berhubungan dengan agama Islam sehingga gedung yang dididikan di daerah Labuhan pada umumnya hanya dijadikan sebagai tempat pengajian.

.C Tinjauan Pustaka

Dalam buku Tengku Luckman Sinar yang berjudul Jati Diri Melayu dapat disimpulkan bahwa suku Melayu Labuhan sangat tergantung pada agama Islam, sehingga dalam kehidupan sehari-hari mereka lebih pasrah dan yakin rezeki itu akan datang sendiri. Selanjutnya Tengku Luckman Sinar dalam bukunya Sinar Sejarah Serdang menyatakan bahwa keengganan masyarakt Melayu Labuhan untuk merubah mata pencaharian mereka sebagai nelayan ke mata pencaharian lain didasari atas pengaruh warisan nenek moyang mereka yang secara turun-temurun hidup sebagai nelayan.

Selanjutnya, Mohammad Taib Usman dalam bukunya yang berjudul Kebudayaan Melayu Dalam Beberapa Persoalan menyatakan bahwa suku bangsa Melayu begitu kuat memegang kebiasaan lama dan suku bangsa Melayu adalah suku bangsa penakluk dan mereka tersebar di seluruh Asia Tenggara. Pada saat Islam masuk ke Indonesia, orang-orang Melayu lebih mudah terpengaruh sehingga agama Islam sangat kental dalam kehidupan mereka. Akibatnya dalam bekerja orang Melayu sangat ketinggalan karena mempunyai prinsip hidup yang tradisional.

(7)

masyarakat Melayu memang sangat kental di seluruh Sumatera Timur. Para imigran yang berdatangan dan menetap di Sumatera Timur harus menyesuaikan budayanya dengan budaya masyarakat Melayu, sehingga tidak ada budaya Batak Toba, budaya Karo, budaya Mandailing, budaya Simalungun, budaya Jawa, budaya Minang dan sebagainya. Berarti kebudayaan masyarakat Melayu memang sudah maju karena menjadi filter bagi budaya suku-suku bangsa lain yang menetap di Sumatera Timur.

Dari keempat pendapat ahli tersebut dapat dapat disimpulkan bahwa masyarakat Melayu pada zaman dahulu merupakan suku bangsa penakluk di Sumatera Timur dan Semenanjung Malaya. Mereka mempunyai kebudayaan yang sudah lama berkembang dan merupakan warisan nenek moyangnya, sehingga seluruh suku bangsa yang menetap di Sumatera Timur harus mengakui bahwa budaya Melayu merupakan budaya mereka juga. Sehingga belum dapat dikatakan bahwa pada zaman era globallisasi ini, masyarakat Melayu jauh ketinggalan. .D Tujuan dan Manfaat Penelitian

.1 Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada masyarakat Melayu Labuhan untuk mengetahui bagaimana budaya masyarakat Melayu Labuhan dalam menyongsong era globalisasi. Sehingga dapat diungkapkan apakah memang benar orang-orang Melayu Labuhan masih ketinggalan karena terpengaruh budaya dan agama Islam yang kental.

.2 Manfaat Penelitian

Penelitian ini bermanfaat bagi tujuan-tujuan praktis terutama dalam hal program perencanaan pemerintah untuk meningkatkan sumber daya manusia yang sangat diperlukan dalam pembangunan. Selain itu penelitian ini juga berfungsi sebagai suatu sumbangan pikiran dalam meningkatkan pengenalan dan pemahaman pada budaya masyarakat Melayu Labuhan.

.E Ruang Lingkup

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Rengas Pulau, Kecamatan Medan Labuhan, Kotamadia Daerah Tingkat II Medan. Lokasi ini dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa :

1. Letak kelurahan tersebut berada di Kotamadia Dati II Medan dengan komposisi suku bangsa Melayu dan budaya Melayu yang melekat dalam kehidupan masyarakatnya.

2. Lokasi penelitian nantinya merupakan Kawasan Industri Medan (KIM). 3. Dalam unit analisis komposisi jumlah informan diperkirakan seimbang antara

(8)

.F Metodelogi Penelitian

Dalam penelitian yang berjudul Budaya Kerja Masyarakat Melayu Dalam Menghadapi Era Globalisasi di Kelurahan Rengas Pulau Kecamatan Medan Labuhan, digunakan metode historis yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historigrafi (penulisan).

Berkaitan dengan hal tersebut M.H. Gilbert J. Garraghan menyatakan bahwa “metode sejarah adalah seperangkat aturan-aturan dan prinsip-prinsip yang sistematik untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara efektif, mulai secara kritis dan menyajikan sintesis dari hasil yang dicapai dalam bentuk tertulis”.

Adapun tahapan pertama dalam heuistik yang merupakan pengumpulan dan himpunan sumber informasi /bukti sejarah yang harus diolah. Sumber ini didapati dari dokumen mengunjungi situs sejarah, mewawancarai saksi sejarah, menggunakan metode studi pustaka dan lain-lain. Di dalam penelitian ini digunakan metode studi pustaka atau library research sebagai pengumpulan sumber sejarah. Sumber-sumber yang digunakan dalam penulisan penelitian ini adalah dari buku-buku, dan karya tulis lain yang berhubungan dengan budaya kerja masyarakat Melayu Labuhan dalam menghadapi era globalisasi. Jadi di sini sumber sekunder, yaitu sumber yang diperoleh secara tidak langsung dari kejadian yang dipermasalahkan. Sumber-sumber ini diperoleh dari Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Perpustakaan Daerah Sumatera Utara, Pusat Kajian Malaysia, Pusat Kajian Brunai dan beberapa perpustkaan lain. Setelah sumber terkumpul, baru diadakan seleksi sesuai dengan kebutuhan obyek penelitian. Kemudian data yang telah didapat dikenakan kritik, baik ekstern maupun intern. Kritik ekstern yaitu penelitian bahan yang dipakai, jenis tulisan, gaya bahasa dan sebagainya, sedangkan dalam kritik intern yang dipermasalahkan adalah mengenai keabsahan isi dari bahan-bahan sejarah tersebut. Langkah selanjutnya adalah memberikan interpretasi terhadap data sehingga mempunyai makna dan akhir sekali adalah pengungkapan secara lengkap dalam bentuk tulisan (historiografi).

(9)

IDENTIFIKASI DAERAH PENELITIAN

.A Letak Geografis

Kelurahan Rengas Pulau merupakan salah satu kelurahan yang berada di wilayah Kecamatan Medan Labuhan Kotamadia Medan, Provinsi Sumatera Utara. Wilayah kelurahan Rengas Pulau berada di sekitar daerah industri Medan-Belawan. Jarak kelurahan tersebut dengan ibukota kecamatan, yaitu Simpang Kantor kurang lebih 5 Km, dan dengan Kotamadia Medan kurang lebih 12 Km dan dengan Ibukota Belawan kurang lebih 13 Km.

Seperti di kelurahan lainnya, kelurahan Rengas Pulau memiliki iklim sedang. Musim hujan biasanya berlangsung antara bulan Agustus sampai dengan bulan Januari, dan musim kemarau antara bulan Februari sampai dengan bulan Juli. Pergantian musim tersebut sebagai hukum alam secara tradisional diikuti oleh masyarakat dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya terutama dalam bidang pertanian.

Secara administratif pemerintahan, Kelurahan Rengas Pulau mempunyai batas-batas wilayah dengan kelurahan-kelurahan tetangga maupun dengan kecamatan tetangga. Batas-batas kelurahan ini adalah :

- Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Pulo Sicanang - Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Tanah Enam Ratus - Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Terjun

- Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Labuhan Deli.

Kelurahan Rengas Pulau dapat ditempuh dengan segala jenis kendaraan darat, sehingga arus keluar masuk dari kota ke kelurahan ini menjadi lancar dan tidak terbatas. Seperti dari Pulo Brayan Kota melalui areal PTP IX Helvetia dan dari jalan Medan-Belawan melalui Titi Papan dan Simpang Kantor.

Kelurahan Rengas Pulau merupakan daerah dataran rendah dan sebagian besar terdiri atas tanah vulkanik sedang. Di Kelurahan Rengas Pulau terdapat 2 (dua) buah sungai, yaitu Sungai Pinang dan Sungai Kuruk. Kedua sungai ini adalah anak Sungai Deli yang besar manfaatnya bagi penduduk, karena berfungsi sebagai sumber pengairan bagi lahan-lahan pertanian penduduk yang berada di belahan Utara kelurahan ini. Di samping Sungai Deli sebagai pembatas wilayah juga terdapat Sungai Terjun yang membatasi wilayah Kelurahan Rengas Pulau dengan Kelurahan Terjun. Begitu pula halnya dengan sumber pengairan sawah penduduk, selain bersumber dari kedua anak Sungai Deli tersebut juga terdapat lima (5) buah paluh. Kelima paluh tersebut adalah Paluh Belatjang, Paluh Dua Selundjur, Paluh Gayor, Paluh Djafar, dan Paluh Hantu.1

(10)

Luas wilayah Kelurahan Rengas Pulau seluruhnya kurang lebih 2.550 ha, yang terdiri dari areal pemukiman, areal pertanian, areal pekuburan dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 1

Tata Guna Tanah di Kelurahan Rengas Pulau

No. Tata Guna Tanah Luas Tanah (Ha) %

1. Perkebunan Rakyat 1.550 60,78

2. Ladang/Tegalan 120 4,71

3. Sawah Tadah Hujan 330 12,94

4. Sawah Pasang Surut 335 13,14

5. Perumahan dan Pekarangan 96 3,76

6 Kuburan 3 0,12

7 Lapangan Olah Raga 2 0,08

8 Sarana Jalan Lorong 62 2,43

9 Sungai/Parit 39 1,53

10 Rawa-Rawa 13 0,51

Jumlah 2.550 100

Sumber : Kantor Kelurahan Rengas Pulau, 1997.

Apabila dilihat Tabel 1, maka terlihat bahwa fungsi tanah yang paling luas adalah untuk areal pertanian, yaitu perkebunan rakyat, ladang tegalan, sawah tadah hujan dan sawah pasang surut, keseluruhannya mencapai 2.35 ha atau 91,57%. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penduduk Kelurahan Rengas Pulau sebagian besar mata pencahariannya sebagai petani.

Penggunaan tanah pertanian oleh penduduk kelurahan ini yang kebanyakan dengan usaha perkebunan rakyat dan ladang tegalan seperti terlihat pada tabel 1, tidak jauh berbeda dengan profil desa yang terdapat di daerah-daerah sekitar perkebunan-perkebunan yang ada di Sumatera Utara. Pengusahaan areal tanah seperti perkebunan rakyat dan ladang tegalan berada di daerah pedalaman wilayah Kelurahan Rengas Pulau yaitu di belahan ujung Selatan, bagian Barat dan Timur yang dahulunya merupakan areal perkebunan Maryland yang oleh penduduk setempat lebih populer dengan sebutan Marelan.2 Areal

persawahan penduduk di belahan Utara merupakan sawah di daerah sekitar aliran sungai dan paluh, sedangkan areal persawahan yang berada di belahan Timur merupakan sawah yang pengelolaannya tergantung kepada curah hujan atau sawah tadah hujan.

Di sepanjang belahan ujung Utara sampai di belahan ujung Timur wilayahnya terdapat rawa-rawa yang luasnya mencapai 13 ha atau 0,5 %. Daerah rawa-rawa ini terletak di sekitar daerah pinggiran Sungai terjun.

(11)

.B Keadaan Demografi

Penduduk adalah merupakan motor penggerak pembangunan suatu daerah yang menentukan cepat lambatnya gerak kehidupan yang berlangsung di dalam masyarakat itu sendiri. Apabila ditinjau dari jumlah penduduk dan kualitasnya, maka akan tampak bidang apa yang akan mendominasi perkembangan daerah tersebut. Potensi ini biasanya berbeda pada setiap daerah atau suatu wilayah dan mungkin dapat menjadi penentu ciri khas daerah-daerah yang bersangkutan.

Jumlah penduduk Kelurahan Rengas Pulau adalah 20.290 jiwa yang terdiri atas 4.610 KK. Jika dibandingkan dengan luas wilayah kelurahan ini yaitu sekitar 2.550 ha, maka tingkat kepadatan penduduknya mencapai 8 jiwa/ha. Keseluruhan penduduk Kelurahan Rengas Pulau bertempat tinggal dalam 45 wilayah lingkungan yang terbagi-bagi pula dalam 81 RT dan 8 RW. Untuk lebih jelasnya tentang komposisi penduduk menurut umur dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2

Komposisi Penduduk Kelurahan Rengas Pulau Menurut Kelompok Umur No. Kelompok Umur Laki-Laki Perempuan Jumlah %

1. 0-5 1.200 1.279 2.479 12,22

2. 6-16 1.850 1.890 3.740 18,43

3. 13-24 2.413 2.493 4.906 24,18

4. 25-55 2.724 2.990 5.714 28,16

5. 56- Ke atas 1.700 1.751 3.451 17,01

Jumlah 9.887 10.403 20.290 100

Sumber : Kantor Kelurahan Rengas Pulau, 1997.

Tabel di atas menunjukkan perbandingan antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang seimbang. Di samping itu apabila dilihat dari jumlah penduduk yang produktif, maka berdasarkan tabel 2 terlihat dengan jelas di Kelurahan Rengas Pulau terdapat tenaga kerja produktif yang relatif tinggi yaitu 5.714 jiwa atau 28,16 %.

Penduduk Kelurahan Rengas Pulau mayoritasnya dalah suku bangsa Jawa. Suku bangsa jawa ini sebagian besar bertempat tinggal di lingkungan-lingkungan yang dahulunya bekas areal perkebunan Maryland. Akan tetapi, walaupun mayoritas penduduk Kelurahan Rengas Pulau suku bangsa jawa, namun penduduk aslinya adalah suku bangsa Melayu. masyarakat suku bangsa Melayu ini kebanyakan bertempat tinggal di pinggiran Sungai Deli.

(12)

T abel 3

Komposisi Penduduk Kelurahan Rengas Pulau Menurut Kelompok Suku Bangsa

No. Kelompok Suku Bangsa Laki-Laki Perempuan Jumlah

1. Melayu 2.741 3.054 5.795

2. Jawa 6.204 6.214 12.418

3. Minang 87 92 179

4. Batak Mandailing 64 79 143

5. Batak Toba 32 43 75

6. Batak Karo 16 17 33

Jumlah 9.144 9.499 18.643

Sumber : Kantor Kelurahan Rengas Pulau, 1997.

Meskipun sebagian besar penduduk Kelurahan Rengas Pulau dalam bertempat tinggal dapat dikatakan secara terkonsentrasi sesama mereka, akan tetapi antara suku bangsa-suku bangsa tersebut dalam kesehariannya sudah berbaur. Demikian pula halnya antara penduduk suku bangsa Melayu dengan suku bangsa Jawa. Akibat sudah membaurnya kedua suku bangsa ii melalui perkawinan, maka sulit membedakan di antara mereka mana yang asli dan mana yang keturunan. Ikatan perkawinan tersebut oleh suku bangsa Melayu kemudian mengistilahkannya dengan adat serebok monggi atau hubungan kaitan keluarga.3

Berdasarkan itu warga masyarakat suku bangsa Melayu tidak merasa terdesak akibat dari mayoritasnya suku bangsa Jawa di Kelurahan Rengas Pulau, begitu juga dengan masyarakat suku bangsa lainnya.

Di Kelurahan Rengas Pulau selain suku bangsa-suku bangsa seperti tersebut di atas juga terdapat warga keturunan asing dan warga asing yang tinggal menetap. Pada tabel berikut ini dapat dilihat komposisi penduduk menurut kewarganegaraan :

Tabel 4

Komposisi Penduduk Menurut Kewarganegaraan

No. Warganegara Laki-Laki Perempuan Jumlah %

1. WNI Pribumi 9.144 9.499 18.643 91,88

2. WNI Keturunan 774 798 1.572 7,75

3. Warganegara Asing 39 36 75 0,37

Jumlah 9.957 10.343 20.290 100

Sumber : Kantor Kelurahan Rengas Pulau, 1997.

Penduduk keturunan asing di Kelurahan Rengas Pulau berasal atau pindahan dari daerah lain akibat dari perkembangan kelurahan ini. Mereka terdiri dari orang Cina dan India. Keturunan Cina merupakan warga yang menonjol di antara warga keturunan asing lainnya maupun dari keseluruhan penduduk

(13)

Kelurahan Pulau Rengas. Hal ini dikarenakan kemampuan orang Cina lebih tinggi dalam kehidupan ekonominya. Orang Cina umumnya hidup dengan beternak ayam untuk dipasarkan, membuka usaha panglong, serta berdagang dengan membuka rumah toko dan bidang usaha jasa lainnya.

Walaupun orang-orang Cina sukses atau lebih tinggi tingkat kemampuan ekonominya, namun mereka tetap hidup bermasyarakat dengan warga lainnya. Hal inilah yang menyebabkan jarangnya muncul kecemburuan sosial maupun sentimen warga lainnya terhadap mereka. Begitu pula halnya dengan penduduk lainnya, jarang ditemukan permasalahan yang menimbulkan ancaman pada keamanan dan ketertiban di Kelurahan Rengas Pulau yang berasal dari rasa sentimen atau tepatnya pada permasalahan suku, agama, ras dan antar golongan.

Dari segi kepercayaan, mayoritas penduduk Kelurahan Rengas Pulau menganut agama Islam. Penganut agama Islam yang mayoritas ini dimaklumi karena penduduk pribuminya sebahagian besar suku bangsa Melayu dan Jawa. Di antara kedua suku bangsa tersebut, yang lebih menonjol tingkat pemahaman agama Islam adalah suku bangsa Melayu. Komposisi penduduk Kelurahan Rengas Pulau menurut pemeluk agama lebih jelasnya terlihat pada Tabel di bawah ini

Tabel 5

Komposisi Penduduk Menurut Agama

No. Agama Laki-Laki Perempuan Jumlah %

1. Islam 8.926 9.007 11.933 88,38

2. Katholik 34 32 66 0,33

3. Protestan 40 44 84 0,41

4. Hindu 18 15 33 0,16

5. Budha 1.082 1.092 2.174 10,72

Jumlah 10.193 10.193 20.290 100

Sumber : Kantor Kelurahan Rengas Pulau, 1997.

Berdasarkan tabel 5 terlihat bahwa pemeluk agama Budha lebih banyak apabila dibandingkan dengan pemeluk agama Katholik, Protestan dan Hindu. Namun demikian, hal tersebut tidak menimbulkan SARA dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan terciptanya sikap saling menghargai dan hormat menghormati dalam kehidupan beragama di Kelurahan Rengas Pulau.

.C Latar Belakang Historis

(14)

dari kata pohan rengas. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Bapak Firmansyah (59 tahun) seorang informan;

“Kelurahan Rengas Pulau namanya menurut cerita orang-orang tuaa dahulu ada satu jenis pohon kayu yang namanya pohon rengas yang tumbuh di tengah-tengah Sungai Deli sebanyak sepuluh pohon yang membentuk sebuah pulau. Pulau itu kemudian menjadi sebuah perkampungan yang disebut Pulau Rengas Sepuluh. Kemudian dalam perkembangannya terjadi penyederhanaan istilah, namanya berubah menjadi Pulau Rengas”.

Berdasarkan studi pustaka maupun hasil wawancara tidak diperoleh keterangan yang pasti tentang siapa yang pertama sekali membuka wilayah Kelurahan Rengas Pulau. Walaupun tidak diketahui secara pasti kapan dibukanya Kelurahan Rengas Pulau, akan tetapi berdasarkan data-data keterangan melalui hasil wawancara sudah ada perkampungan orang Melayu , sebelum dibukanya areal perkebunan Maryland. namun sejauh ini tidak diperoleh keterangan yang pasti kapan dimulai dibukanya perkebunan Maryland tersebut.

Menurut penjelasan yang diperoleh bahwa status dari Kelurahan Rengas Pulau mengalami tiga kali perubahan. Pertama sekali statusnya adalah sebagai Kepenghuluan Rengas Pulau, kemudian berubah menajdi Kampung Rengas Pulau, berubah lagi menjadi Desa Rengas Pulau, dan yang terakhir statusnya adalah Kelurahan Rengas Pulau hingga sekarang ini. Sejak kapan menjadi status Kepenghuluan tidak diperoleh keterangan secara pasti. Perubahan status dari kepenghuluan menajdi kampung yaitu pada tahun 1957. Kemudian perubahan status dari kampung menajdi desa yaitu pada tahun 1965. Peralihan dari desa menjadi Kelurahan Rengas Pulau yaitu pada tanggal 23 April 1973, tetapi baru terlaksana secara operasional pada tanggal 18 Pebruari 1974.

Adapun jabatan kepala penghulu yang pertama dipegang oleh Mohammad Noh, sejak tahun 1929 sampai tahun 1936. Dengan demikian berarti kelurahan ini sudah berstatus sebagai desa sejak tahun 1929 yakni dilihat secara administratif, meskipun diketahui bahwa tentu sebelum tahun 1929 itu sendiri desa ini telah dihuni oleh manusia. Pada masa kekuasaan Mohammad Noh, penduduknya sudah terdiri dari berbagai suku bangsa, di antaranya suku bangsa Melayu yang bertempat tinggal terutama sekali di lingkungan : 1, 2, 3, 4, 5, 37, 39, 40 dan 41 yaitu wilayah yang berada di sekitar daerah pinggiran Sungai Deli. Masyarakat suku bangsa Jawa dan yanng lainnya kebanyakan tinggal di daerah perkebunan Marelan. Mohammad Noh kemudian digantikan oleh O.K. Ebol, dari tahun 1936 sampai tahun 1942. Kemudian E.K. Ebol digantikan oleh anaknya yang bernama Anwar, yang menjabat kepala kepengnhuluan sejak tahun 1942 sampai dengan tahun 1945.

(15)

dan menetapnya bekas kuli kontrak yang meluas dan bergabung, sehingga kemudian menjadi bagian dari wilayah kepenghuluan Rengas Pulau. Perkembangan selanjutnya, sejak tahun 1952 sekitar areal perkebunan Marelan tidak mencerminkan lagi seperti suasana kehidupan perkebunan masa penjajahan kolonial Belanda. Setelah keadaan menjadi stabil kembali dari berakhirnya suasana perang kemerdekaan, maka pelaksanaan administrasi pemerintahan berjalan kembali. Kekuasaan administrasi pemerintahan sudah beralih, yaitu dipegang oleh H. Usman Ali, selama lebih kurang 32 tahun yaitu sejak tanggal 1 Agustus 1952 sampai 17 Juli 1984. Selama periode ini keadaan wilayah kekuasaannya banyak mengalami perubahan suasana baik pertumbuhan maupun perkembangannya.

Usman Ali memegang jabatan kekuasaan administrasi pemerintahan, telah mengalami tiga kali perubahan istilah jabatan yang dipegangnya. Perubahan sebutan istilah jabatan itu merupakan pencerminan dari perubahan status wilayah kekuasaannya. Perubahan sebutan jabatan pertama sekali terjadi pada tanggal 20 Juli 1957 dari sebutan kepala penghulu menjadi kepala kampung. Sejak tanggal 23 April 1965 berubah menjadi sebutan kepala desa hingga pada tanggal 1 Januari 1981, kemudian sejak itu sampai tanggal 17 juli 1984 memegang jabatan sebagai lurah.

Selain permasalahan istilah sebutan jabatan, pemegang kekuasaan administrasi, masa kekuasaan H. Usman Ali mengalami dua peristiwa yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat dari perkembangan wilayah kekuasaannya.

Peristiwa pertama yaitu peralihan dari pemerintahan Orde Lama kepada pemerintahan Orde Baru yang merupakan rentetan akibat terjadinya pengkhianatan G.30.S/PKI. Peristiwa kedua adalah peralihan kekuasaan administrasi pemerintahan Daerah Tingkat II, yaitu dari kekuasaan administrasi Pemerintahan daerah Tingkat II Kabupaten deli Serdang menjadi di bawah kekukasaan administrasi Pemerintahan Kotamadia Medan. Peralihan kekuasaan administrasi Pemerintahan Tingkat II tersebut berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri mengenai perencanaan perluasan wilayah Kotamadia Medan. Akibat dari peralihan kekuasaan administrasi tersebut, maka terjadi perubahan statsu dari desa menjadi kelurahan. Dengan demikian status Desa Rengas Pulau yang sebelumnya berada di wilayah Kecamatan Labuhan Deli menjadi Kelurahan Rengas Pulau yang berada di wilayah Kecamatan Medan Labuhan. Namun demikian, peralihan status tersebut secara operasionalnya baru dimulai pada tanggal 28 Pebruari 1974, sedangkan perubahan struktur dan sistem kerja pemerintahannya dimulai pada tanggal 1 Januari 1981 berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No.5 tahun 1979 tentang peemerintahan desa.

(16)

Rengas Pulau dapat teratasi serta memberikan gambaran keadaan perkembangan pembangunan masyarakat desa dalam upaya membenahi kehidupan desa. Keadaan itu tercermin dari telah berhasilnya desa Rengas Pulau menjadi salah satu desa Swakarya. Keberhasilan yang telah dicapai oleh desa Rengas Pulau tidak terlepas dari dukungan dan dedikasi masyarakat dan aparat pemerintahan desa yang berfungsi dengan baik.

KONDISI SOSIAL MASYARAKAT MELAYU

.A Struktur Kemasyarakatan Suku Bangsa Melayu

Masyarakat Melayu di Kelurahan Rengas Pulau, Kecamatan Medan Labuhan, memandang hubungan sesama manusia sebagai sesuatu yang amat mulia. Gambaran masyarakat Melayu adalah mempunyai sifat sedrhana, merendah, namun mereka tidak menyenangi orang lain merendahkannya. Seperti kata pantun Melayu :

“Kalau tak dapat rumput dihela Eloklah pandan jadi mengkuang Kalau tak dapat menuntut bela Eloklah badan mati terbuang.”

Mereka terlihat berperangai sangat lemah lembut, tidak suka bertindak berlebih-lebihan dan senang dalam suasana hidup yang tenang. Mereka jarang mau menonjolkan diri untuk sesuatu keahliannya. Santun dalam pergaulan dan lemah lembut dalam tutur bahasanya. Mereka tidak senang apabila orang lain menyakitinya, dan akan dibalasnya walaupun dengan cara halus dan menunggu waktu lama. Mereka setia dalam berteman, dapat dipercaya dan menerima uluran tangan oranng lain serta ingin membalas kebaikan yang diberikan kepadanya. Sifat-sifat seperti ini juga dijumpai pada masyarakat Melayu yang ada di Kelurahan Rengas Pulau, Medan Labuhan.

(17)

berdasarkan stratifikasi sosial. Walaupun secara harfiah mereka mengakui adanya gelar atau yang dalam istilah Kolonial Belanda disebut dengan title, yaitu sebutan untuk menyebutkan atau menunjukkan martabat seseorang di dalam golongannya.

“Berdasarkan pelajaran sosial masyarakat Melayu di Pesisir Sumatera Timur, terbagi dalam dua golongan. Golongan bangsawan dan golongan rakyat (orang kebanyakan), untuk membedakan seorang turunan bangsawan dengan rakyat biasa, diketahui berdasarkan gelar yang dimiliki seseorang di depan namanya. Pada masyarakat kebanyakan tidak terdapat gelar tersebut, sehingga semua golongan ini sama rata. Akan tetapi pada golongan bangsawan masih terdapat tingkatan gelar tersebut, di mana setiap gelar menonjolkan martabat seseorang di mana statusnya.4

Gelar bangsawan yang banyak dimiliki oleh suku bangsa melayu yang ada di Kelurahan Rengas Pulau, Medan Labuhan adalah tengku, wan dan orang kaya (OK). Gelar tengku adalah gelar yang diberikan bagi keturunan Sultan atau kerabatnya atau bagi keturunan dari kakek mereka yang dahulunya memiliki daerah kekuasaan tersendiri. Gelar wan disrtikan seorang anak wanita keturunan tengku kawin dengan anak laki-laki dari bangsawan lain. Sedangkan gelar orang kaya (OK) berasal dari gelar yang diberikan Sultan karena jasa-jasa seseorang terhadap kerajaan atau kepada sultan. Kemudian sultan memberikan kekuasaan di daerah berupa tanah dan gelar, maka keturunan mereka diberi gelar orang kaya. Ada yang berpendapat bahwa gelar orang kaya hanya sebagai penghormatan atau sopan santun dalam masyaraka karena status ekonomi yang dimilikinya.5

.1 Pola Kekeluargaan Suku Bangsa Melayu

Dalam masyarakat Melayu, pola kekeluargaan didasarkan kepada garis keturunan seseorang dan mereka memegang teguh pola kekeluargaan tersebut. Sistem kekrabatan masyarakat Melayu adalah sistem bilateral, di mana garis keturunan tidak mengenal perbedaan dalam derajat seorang laki-laki dan perempuan. Kedudukan ayah dan ibu di dalam keluarga adalah sama, demikian juga dengan kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan.

Ada kecenderungan pada masyarakat Melayu bahwa dalam kehidupan berkeluarga, semua anggota keluarga mempunyai peran masing-masing. Seorang ayah melakukan tugas dan tanggung jawabnya terhadap anggota keluarganya sebagai kepala keluarga. Sedangkan seorang ibu di samping mengurus rumah tangga juga mengajari anak-anaknya bersikap sopan santun dan mengajarkan kerajinan tangan yang dapat menambah pendapatan ekonomi keluarga.

Masyarakat Melayu dalam lingkaran hidup mereka sehari-hari sebagai suatu kesatuan warga masyarakat sangat memegang teguh ajaran-ajaran Islam.

4 T.H.M. Lah Husni, Lintasan Sejarah Peradaban dan Budaya Penduduk Melayu

Pesisir Sumatera Timur 1632-1950, Medan : B.P Husni, 1975, hal.23

(18)

Budaya kerja dalam setiap keluarga sudah menajdi suatu keharusan atau kewajiban bagi setiap anggota keluarga. Bukti konkrit perihal budaya kerja, bagi seorang ayah dan ibu terlihat dengan jelas sesuai dengan profesinya, yang sedapat mungkin bekerja secara giat dalam mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Secara khusus mencari nafkah adalah tugas laki-laki atau sang ayah sebagai kepala keluarga. Namun demikian tidak berarti bahwa perempuan atau seorang ibu tidak turut serta mencari nafkah. Khusus bagi anak-anak dalam keluarga dikaitkan dengan budaya kerja, hal semacam ini juga terlihat dalam pola kekeluargaan masyarakat Melayu tersebut. Anggota keluarga terlihat jelas saling bantu membantu antara anak dan orang tua dalam kegiatan rutin yang ada di dalam rumah.

Dalam masyarakat Melayu Labuhan yang sebagian besar hidup dengan mata pencaharian sebagai petani dan nelayan, budaya kerja yang tertanam adalah saling tolong menolong dan gotong royong yang mereka sebut dengan seraya. Pada dasarnya kegiatan tolong menolong itu tidak saja terbatas pada bidang pertanain, tetapi juga mencakup dalam segala aspek kehidupan keseharian mereka (aspek kehidupan yang mengutamakan solidaritas, kemufakatan, dan gotong royong). Hal ini tercermin dalam peribahasa Melayu berikut ini:

“Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Kebukit sama mendaki, ke lurah sama menurun. Hati Tungau sama dicecah, hati gajah sama dilapah.

Hidup jelang menjelang, sakit jenguk menjenguk. Lapang sama berlegar, sempit sama berhimpit. Kuat lidi karena diikat, kuat hati karena mufakat. Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat.

Kalau lebih beri memberi, kalau kurang isi mengisi.” Selanjutnya:

“Kalau berjalan beriringan Yang dahulu jangan menunjang

Yang tengah jangan membelok Yang di belakang jangan menumit

Yang lupa diingatkan Yang bengkok diluruskan

Yang tidur dijagakan Yang salah ditegur-menegur Yang rendah angkat-mengangkat Yang tinggi junjung-menjunjung

Yang tua memberi wasiat yang alim memberi amanat

Yang berani memberi kuat Yang kuasa memberi daulat”.6

6 H. Muchtar Lutfi. Nilai-nilai Edukatif Budaya Melayu dan Peranannya

(19)

Berdasarkan peribahasa tadi jelas tergambar bahwa pola kekeluargaan masyarakat Melayu sangat mengutamakan kerja sama yang ahrmonis.

Masyarakat Melayu Labuhan dalam pergaulan sehari-hari sangat menghormati orang lain dan berusaha untuk menghindari konflik. Mereka menghormati seseorang bukan hanya karena pangkat, jabatan, serta kekayaan. Konsekuensinya karena mereka mempunyai rasa keprihatinan pengetahuan dan keahlian yang dimiliki seorang individu tersebut. Masyarakat Melayyu juga sangat menghormati orang yang lebih tua atau orang-orang yang dituakan. Keadaan seperti ini terlihat dari sikap yang selalu mendahulukan orang-orang tua dalam berbagai aspek kehidupan. Hal ini tidak terlepas dari kebiasaan mereka yang sudah membudaya, yaitu masyarakat Melayu mengutamakan sekali budi dan bahasa yang menunjukkan sopan santun dan tingginya peradaban Melayu. Seperti yang sering diucapkan oleh orang melayu berikut ini :

“Usul menunjukkan asal, bahasa menunjukkan bangsa.”

“Taat pada petuah, setia pada sumpah, mati pada janji, melarat pada budi.”

“Biar orang bertanam buluh ,kita bertanam padi Biar orang bertanam musuh, kita bertanam budi.”

“Kalau kita bertanam padi, senanglah makan adik beradik Kalau kita bertanam budi, orang yang jahat menjadi baik.”

“Baik-baik makan keladi, keladi itu ada mianngnya Baik-baik termakan budi, budi itu ada utangnya.”

“Kalau keladi sudah ditanam, janganlah lagi meminta talas Kalau budi sudah ditanam, jangan lagi meminta balas.” “Kalau makan keladi munyang, jangan lupa pada bungkalnya

Kalau termakan ke budi orang, jangan lupa pada asalnya.”

“Janganlah suka mencabut padi, kalau dicabut hilang buahnya Jangan suka menyebut budi, kalau disebut hilang tuahnya.” “Apalah tanda batang padi, tumbuh di ladang lebat buahnya Apalah tanda orang berbudi, Elok dipandang baik bahasanya.”

“Mati kayu karena benalu, patahnya layu dahannya mati Mati Melayu karena malu, kalah Melayu karena termakan budi.”

“Biar orang mencabut cendawan, kita cabut pada akan mati Biar orang berebut hartawan, kita berebut budi pekerti.”

(20)

“Apalah tanda batang keladi, batang keladi di tanah isinya Apalah tanda orang berbudi, orang berbudi rendah hatinya.”

“Hidup dalam pekerti, mati dalam budi.”

“Tahu budi ada hutangnya, Tahu hidup ada bebannya.”7

Masyarakat Melayu juga sangat menghargai serta menghormati orang lain yang mempunyai kepandaian atau keahlian dalam kehidupan. Seorang tukang akan dihormati dan diteladani jika profesi tersebut benar-benar merupakan keahliannya. Sebaliknya orang yang bersikap malas atau bekerja serabutan dan asal jadi akan sangat tidak dihargai. Dalam ungkapan masyarakat Melayu hal semacam ini diungkapkan dalam pepatah berat tulang ringanlah perut, yang artinya bahwa orang yang malas bekerja hidupnya akan melarat. Sebaliknya ringan ringan tulang beratlah perut , yang artinya siapa yang tekun bekerja dan giat maka hidupnya akan tenang dan berkecukupan.

.2 Sistem Kekerabatan Suku Bangsa Melayu

Orang Melayu adalah golongan bangsa yang menyatukan dirinya dalam pembauran ikatan perkawinan antar suku bangsa serta memakai adat resan (aturan-aturan adat yanng menjadi kebiasaa) dan bahasa Melayu secara sadar dan berkelanjutan.8

Penduduk Melayu Sumatera Timur merupakan percampuran dari berbagai suku bangsa. Ketika pada abad ke-13 Kerajaan Haru masih berdiri, terjadi proses peng-Islaman ke daerah-daerah pedalaman yaitu Karo, Simalungun, Padang Lawas, sehingga sering disebut memeluk agama Islam sama dengan masuk Melayu. Pada umumnya amsyarakat Melayu bermata pencaharian sebagai nelayan, tetapi ada juga yang bermata pencaharian lain seperti berburu, berladang, beternak, dan bermacam-macam kerajinan tangan.

Setiap pendukung kebudayaan Melayu walau berada di mana pun, selalu memakai adat resan. Adat resan ini tercermin di dalam setiap gerak kehidupan orang Melayu. Secara umum masyarakat Melayu mempunyai falsafah di dalam hidupnya berlandaskan lima dasar, yaitu ;

1. Melayu itu Islam, yang sifatnya universal dan demokratis serta bermusyawarah.

2. Melayu itu berbudaya, yang sifatnya nasional dalam bahasa, sastra, tari, pakaian, tersusun dalam tingkah laku dan lain-lain.

3. Melayu itu beradat, yang sifatnya regional alam Bhineka Tunggal Ika dengan tepung tawar, balai, pulut kuning dan sebagainya yang mengikat tua dan muda.

7 T.Luckman Sinar. Jati Diri Melayu, Medan : Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Seni Budaya Melayu, 1994, hal. 26-27.

(21)

4. Melayu itu berjurai, yaitu tersusun dalam masyarakat yang rukun tertib, mengutamakan ketentraman dan kerukunan, hidup berdampingan dengan harga-menghargai secara timbal-balik.

5. Melayu itu berilmu yang artinya pribadi itu diarahkan kepada ilmu pengetahuan dan ilmu kebathinan.9

Masyarakat Melayu pada umumnya menganut agama Islam, sehingga sering disebut masuk Islam berarti masuk Melayu. Faktor keturunan sering merupakan penentu dalam mengetahui posisi seseorang dalam masyarakat. Pada hampir semua masyarakat dikenal adanya upacara-upacara pada masa krisis dalam tingkah hidup seseorang. Demikian juga halnya dengan masyarakat Melayu, dikenal upacara-upacara pada masa kehamilan, masa kelahiran, upacara khitanan, perkawinan dan kematian.

Sistem kekerabatan masyarakat Melayu menganut garis keturunan yang berdasarkan patrilineal. Keluarga batih merupakan kelompok sosial yang terkecil dan berdiri sendiri. Dikenal juga keluarga luas yang uxorilokal yaitu suatu keluarga batih senior ditambah dengan keluarga-keluarga anak-anak perempuannya.

Stratifikasi sosial didasarkan kepada faktor keturunan, pangkat, jabatan, agama dan pendidikan. Golongan teratas dalam strata masyarakat adalah kelompok bangsawan seperti raja, sultan, datuk, tengku, wan dan keturunannya. Pada saat sekarang ini faktor keturunan sebagai faktor penentu strata sosial dalam masyarakat tidak lagi menentukan, melainkan faktor pendidikan. Pentingnya pendidikan bagi masyarakat Melayu Labuhan tercermin dalam ungkapan-ungkapan berikut ini ;

“Menuntut ilmu janganlah segan, ilmu yang benar yang jangan bukan, yaitu ilmu yang kebajikan, isi kitab ini sudah disebutkan.”

“Segala perbuatan dengan berilmu, maka kebajikan boleh bertemu, jangan sembarang barang diramu, akhirnya engkau jatuh tersemu.”

“Demikian lagi dengar olehmu, tanda berakal kasihkan ilmu, suka menelaah tiada jemu, mencari kepuasan jangan tersemu.”

“Ilmu itu besar faedahnya, membedakan hak dengan batilnya, mengetahui orang banyak benar salahnya, supaya dihukumkan dengan adilnya.”

“Aku hendak bertutur akan gurindam yang beratur, persimpangan yang indah-indah, yaitu ilmu yang memberi faedah, jika hendak mengenal orang berilmu, bertanya dan belajar tiadalah jemu.” (gurindam Raja Ali Haji).

“Bekal ilmu mencelikkan, bekal iman menyelamatkan.”

(22)

“Kalau duduk disuruh berguru, kalau tegak suruh bertanya.”

“Disingkapkan tabir akalnya, dibukakan pintu ilmunya, dibentangkan alam seluasnya.”10

Kemudian dapat pula kita perhatikan dalam pantun-pantun Melayu berikut ini :

“Pucuk dedap selara dedap, sudah bertangkai setapak jari Duduklah anak membaca kitab, sesudah pandai tegak berdiri.”

“Dalam duduk, duduk berguru, dalam tegak, tegak bertanya Dalam merantau mencari guru, dalam berdagang mencari ilmu.”

“Ingat akan tunjuk dengan ajar, ingat akan amanah dengan petuah Pandai menganut langkah yang lalu, pandai membaca jejak yang lampau pandai mencontoh pada yang sudah, bijak membaca yang belum tiba.”

“Kalau hendak pergi meramu, carilah kayu berbuah lebat kalau mau menuntut ilmu, carilah ilmu yang bermanfaat.”

“Untuk apa meramu semak, kalau tidak dengan pangkalnya Untuk apa berilmu banyak, kalau tidak dengan amalnya.”

“Banyak orang pandai berkitab, sedikit saja pandai bersyair Banyak orang pandai bercakap, sedikit saja pandai berfikir.”

“Apalah tanda batang tebu, batang tebu halus uratnya Apalah tanda orang berilmu, orang berilmu halus sifatnya.”

“Semakin banyak tebu dicabut, makin terasa tumbuhnya semak Semakin banyak ilmu dituntut, makin terasa bodohnya awak.”11

Rakyat kecil merupakan lapisan terbawah dalam sistem pelapisan masyarakat Melayu Labuhan.

Masyarakat Melayu Labuhan sangat patuh terhadap adat-istiadat yang diperoleh secara turun temurun. Banyak sekali pepatah Melayu yang berguna untuk mempertahankan kelestarian adat itu sendiri.

“Orang hidup dikandung adat, orang mati dikandung tanah” “Mati anak gumpar serumah, mati adat gumpar sebangsa” “Biar mati anak daripada mati adat”

10 T. Luckman Sinar. Op.cit., hal. 27-28

(23)

“Adat itu jika tidur menjadi tilam, jika berjalan menajai payung, jika di laut menjadi perahu, jika di tanah menjadi pustaka.”

atau dalam bentuk pantun :

“Apalah tanda batang putat, batang putat bersegi buahnya Apalah tanda orang beradat, orang beradat tinggi marwahnya.”

“Kalau tak ada di dalam pukat, coba beri dalam tengkalak Kalau tak ada dalam adat, cobalah cari dalam syarak.”12

Mempertahankan adat budaya dianggap mempertahankan norma kerukunan hidup suatu lembaga dan bangsa, karena adat telah teruji perannya beratus tahun lamanya. Keadaan ini bukanlah berarti adat -istiadat tersebut tidak berubah menurut perubahan zaman. Hal ini tercermin dalam pepatah orang Melayu,”sesekali air bah, sesekali tepian berubah. Itu berarti adat-istiadat dapat berubah sesuai dengan kehendak zaman. Pelanggaran adat yang dilakukan oleh orang Melayu , apabila didiamkan oleh opini umum, sering dimaafkan. Umumnya orang Melayu bersifat pemaaf, agama Islam juga mengajarkan demikian, selain itu pepatah orang Melayu sendiri mengatakan, “salah makan dimuntahkan, salah jalan, kembali ke pangkalan jalan”. Pepatah tersebut mengandung makna yang besar artinya di mana setiap orang diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.

pandangan masyarakat melayu Labuhan dalam menjalankan tradisi hidup beragama bukan hanya merupakakn ibadah dalam Islam saja. banyak adat resan yang berkaitan dengan hal keagamaan seperti makanan ketupat, lemang, rendang, yang merupakan seolah-olah makanan ritual pada waktu hari raya Idul Fitri, menziarahi kuburan nenek moyang dan sanak keluarga yang telah meninggal dunia pada hari sebelum ramadhan, kunjung-mengunjungi dan bermaaf-maafan, tepung tawar dan berzanzi menunjukkkan bahwa kebudayaan (adat-istiadat) itu juga telah menajdi bagian dari ibadah.13

.3 Lembaga-Lembaga Kemasyarakatan

Masyarakat Melayu Labuhan pada masa sekarang ini masih memegang teguh adat resan. dalam kehidupan bermasyarakat, masyarakat Melayu Labuhan membaurkan diri dengan masyarakat yang ada dis ekitarnya seperti suku bangsa Jawa, Batak Toba, mandailing, Minangkabau, dan sebagainya. Dalam setiap daerah di mana pun tetap mempunyai Serikat Tolong Menolong (STM), demikian juga dengan daerah Labuhan. Masyarakat Melayu Labuhan tetap fleksibel dalam

12 Tengku Usman, Tokoh Adat, Wawancara, l 9 Juni 1998, di Kelurahan Rengas Pulau.

(24)

memandang masyarakat yang majemuk, walaupun masyarakat Melayu identik dengan Islam.

Masyarakat Melayu umumnya masih memegang teguh adat nenek moyang , hal ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Selain hukum Islam, hukum perdata dan pidana yang diterapkan pemerintah Kolonial Belanda pada masa dahulu, masyarakat Melayu pesisir Sumatera Timur telah berlaku hukum adat aslinya. Hukum adat ini banyak yang sengaja tidak dituliskan, tetapi walaupun demikian, umumnya masyaralat Melayu mengetahuinya karena menyangkut kehidupan sehari-hari.

Tidak semua hukum adat dituliskan, karena dengan demikian fleksibilitasnya akan berkurang. Bagi masyarakat Melayu bukan yang tertulis itu yang penting, tetapi tujuan, niat, dan perasaan yang paling utama. Seperti yang diungkapkan dalam pepatah, “yang dibaca, ialah yang ditulis, yang dipahami, ialah yang tersirat, yang dirasa, ialah yang terdengar.”

Masyarakat Melayu sangat mementingkan penegakan hukum (law enforcement) untuk keamanan, ketertiban dan kedisiplinan dalam masyarakat, sehingga tercipta kehidupan masyarakat yang seimbang. Hal ini seperti terungkap dalam pepatah adat:

“Adat di atas tumbuhnya, mufakat dia atas di buatnya.” “Biar mati anak daripada mati adat”.

“Mati anak gumpar sekampung, mati adat gumpar sebangsa”.

“Adat itu jika tidur menjadi tilam, jika berjalan menjadi payung, jika di laut menjadi perahu, jika di tanah menajdi pusaka”.

“Bulat lengkong menjadi lembaga, bulat tembaga menajdi undang-undang, bulat undang-undang menjadi keadilan”.

“Orang hidup dikandung adat, orang mati dikandung tanah”.

“Salah makan dimuntahkan, salah patut dikeletakkan, salah jalan berbalik ke pangkal jalan, sumbing di titik, patah ditupang”.

“Raja mufakat dengan menteri, seperti kebun berpagarkan duri, hukum adil atas masyarakat, tanda raja beroleh inayat”.14

Musyawarah dan mufakat merupakan sendi kehidupan sosial masyarakat Melayu. Di dalam segala hal seperti perkawinan, kematian, kenduri, mendirikan rumah, mebuka ladang atau usaha, di dalam bidang pemerintahan dan lain-lain, masyarakat Melayu harus bermusyawarah dan mufakat terlebih dahulu dengan

(25)

kerabat dan handai-taulan.15 Musyawarah dalam perkawinan disebut dengan jumu

sukut dan di dalam gotong royong disebut siraya, sedangkan dalam tata pemerintahan atau perihal kehidupan orang banyak disebut kerapatan. Hal ini seperti terlihat dalam ungkapan berikut :

“Kalau ranting sudah bertangkai, jangan dililit-lilit juga Kalau berunding sudah selesai jangan diungkit-ungkit juga.”

“Putus gading karena dikerat, belum jatuh sudahlah retak Putus runding karena mufakat, hukum jatuh benar terletak.”

“Kalau banyak bertanam puding, dimana busut di sana seminai Kalau bijak dalam berunding, di mana kusut di sana selesai.”

“Kalau dindidng julai-berjulai, banyak semut yang menyeragai Kalau berunding berlalai-lalai, banyaklah kusut yang tak selesai.”

“Seluk berseluk daunnya terap, terap diampai menajdi benang Elok-eloklah dalam bercakap, cakap sampai maksud terang.” “Kalau sampai ke laut gading, belokkan perahu mencari selat Kalau bertikai dalam berunding, eloklah balik kepada adat.”

“Kalau tanduk menjadi gading, ambillah sirih agak segagang Kalau duduk dalam berunding, pikiran jernih dadapun lapang.”

Berdasarkan ungkapan di atas, dapat diketahui bahwa dalam masyarakat Melayu, lembaga-lembaga kemasyarakatan sudah tertata rapi di dalam adat resan. .B Gambaran Suku Bangsa Melayu Berdasarkan Golongan Sosial

Dalam setiap masyarakat atau suku bangsa yang ada di Indonesia, terdapat kelompok tertentu yang disebut dengan kelompok elite. Begitu juga dengan masyarakat Melayu yang ada di Medan Labuhan. Walaupun pengelompokan dalam masyarakat pada masa sekarang tidak terlalu diperhatikan, akan tetapi warisan adat istiadat yang diwariskan secara turun temurun tidak dapat dihilangkan. Hal ini misalnya adanya kelompok elite di dalam masyarakat berdasarkan keturunan atau ekonomi yang mapan.

Pada masyarakat Melayu Medan Labuhan hal ini juga terjadi, di mana keturunan bangsawan sangat dihormati karena mereka turut menentukan arah dan pola hidup masyarakat di mana mereka berada. Kelompok elite dapat dikatakan sebagai pengelompokan dalam tingkat kehidupan masyarakat akrena kelompok masyarakat terdiri dari kaum berkuasa dan rakyat kebanyakan. Sedangkan di dalam kelompok penguasa tersebut terdapat pula kelompok yang

(26)

disebut dengan kaum elite. Kekuasaan kaum elite biasanya sama dengan kekuasaan kaum penguasa, walau mereka terkadang tidak secara langsung menjadi penguasa.16

Suku bangsa Melayu di Sumatera Utara pada umumnya merupakan salah satu suku bangsa yang pada masa lalu sampai sekarang memiliki kaum elite. Sejarah mempelihatkan bahwa suku bangsa Melayu merupakan suku bangsa yang paling besar di Sumatera. Untuk mengatur kehidupan masyarakat Melayu pada masa dahulu, kaum bangsawan menerapkan sistem kekuasaan raja, di mana segala sesuatunya didasarkan atas titah raja dan keluarganya. Shingga dengan sendirinya keluarga bangsawan memiliki andil dalam pelaksanaan kekuasaan pada masyarakt melayu. Kondisi ini berjalan terus dalam waktu yang lama, sampai tibanya penjajahan di Indonesia. Sedikit banyaknya sistem kekuasaan raja menjadi sistem kekuasaan pemerintah kolonial. namun kaum bangsawan tersebut tetap diberikan kekuasaan yang sifatnya terbatas, di mana pada akhirnya menghilang sama sekali setelah kemerdekaan Indonesia.

Setelah kemerdekaan, seluruh sistem kekeluargaan dialih-fungsikan menjadi sentralisasi kekuasaan dalam arti adanya satu kekuasaan ditingkat pusat, dengan dibantu oleh pemegang kekuasaan di tingkat daerah. Dengan adanya pengalih-fungsikan kekuasan tersebut, maka dengan sendirinya sistem kekuasaan kerajaan di seluruh Indonesia kemudian dihapus. Namun demikian, ada daerah yang diberikan otonomi kekuasaan karena memiliki kekuasaan pada sistem pemerintahannya. Pengalih-fungsian kekuasaan tersebut oleh pemerintah termasuk pada kerajaan-kerajaan Melayu yang ada di Sumatera Utara.

Bergesernya fungsi-fungsi kekuasaan pada kerajaan Melayu, dengan sendirinya menajdikan sistem yang selama ini dipakai akhirnya hilang. kehidupan pada bekas kerajaan-kerajaan yang ada kemudian dipelihara sebagai bagian dari budaya adat Melayu yang sistem kekerabatannya tetap memakai sistem yang sudah ada secara turun-temurun. namun pergeseran tersebut tidak menghilangkan identitas budaya Melayu yang selama ini terkandung di dalamnya. Kehidupan adat dan budaya Melayu justru masih tetap lestari sejalan dengan perkembangan masyarakat Melayu. Budaya yang telah melekat di dalam kehidupan masyarakt melayu menjadikan sistem yang ada tetap lestari.

Pergeseran fungsi kekuasaan kerajaan Melayu, ke dalam sistem adat dan budaya Melayu, dapat dilihat pada upacara kebesaran yang dilakukan oleh masyarakat Melayu. Dengan adanya latar belakang belakang kekuasaan, masyarakat Melayu juga mengenal adanya budaya elite dan masyarakat biasa. Dengan demikian yang dimaksud dengan budaya elite adalah bagian budaya yang berlaku bagi bekas bangsawan Melayu yang masih dianggap mempunyai kharisma di kalangan masyarakat Melayu kebanyakan. Perbedaan in pulalah yang menajdi adat kebiasaan, untuk mengutamakan elite Melayu yanga da sebagian bagian dari pemilik kekuasaan di masa lalu. Sampai sekarang, budaya elite tersebut masih dapat dilihat dalam kehidupan masyarakat Melayu yang ada.

(27)

Perbedaan kehidupan antara kaum elite Melayu dan masyarakat Melayu kebanyakan, pada masa sekarang ini hanya bersifat seremonial semata, karena dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Melayu tidak lagi memandang status berdasarkan kedudukan sebagai elite atau tidak tetapi lebih dari itu merupakan kedudukan berdasarkan apa yang diperolehnya dari pekerjaan dan pendidikan.17

Namun secara seremonial adat dan budaya Melayu yanga da, tetap akan menempatkan para elite Melayu pada kedudukan yang lebih tinggi di dalam masyarakat.

Perolehan status antara elite Melayu dengan masyarakat kebanyakan dalam kehidupan sehari-hari ditentukan oleh kedudukan atau pekerjaan serta tingkat pendidikan. Dengan demikian kesempatan untuk memperoleh status yang ada, akhirnya akan menempatkan masyarakat kebanyakan pada status yang lebih baik. namun tidak berarti elite Melayu akan merasa tersaing oleh perolehan status tersebut. Karena bagi elite Melayu pun, mereka akan berpacu pula dalam mencapai status dalam kehidupan masyarakat melalui pekerjaan ataupun pendidikan yang baik yang dimiliki, maka akan semakin memperkokoh kedudukan yang diperolehnya selama ini.

Fungsi kaum elite Melayu dalam suatu masyarakat hanya akan terlihat apabila mereka melibatkan diri dalam proses kehidupan sebagai panutan masyarakat. Keikutsertaan elite Melayu dalam proses pengambilan keputusan di lingkungan tempat tinggalnya, dapat mengembalikan porsi kekuasaan dalam arti sempit sebagai bagian dari masyarakat. Latar belakang kehidupan mereka, dengan sendirinya dapat mengembalikan situs masa lalu atas prose pengambilan keputusan pada masa mereka menjadi penguasa.

Keberadaan elite Melayu dalam suatu masyarakat pada saat sekarang ini, pada kenyataannya merupakan bagian dari stratifikasi sosial yang dipertahankan keberadaannya guna memperlihatkan eksistensi elite Melayu atas kekuasaan yang pernah ada pada mereka. Kekuasaan atas pengambilan keputusan diupayakan melalui keikutsertaan kaum elite dalam setiap program yang ada pada masyarakat Melayu. Tradisi tersebut secara langsung dipertahankan dan diperlihatkan dalam berbagai usaha kemasyarakatan yang dijalankan oleh masyarakata Melayu. Adanya pergeseran sistem kekuasaan, di mana pada saat ini elite Melayu tidak lagi secaar langsung memegang kekuasaan terhadap masyarakat, tetapi masih berperan dalam pengambilan keputusan dalam masyarakat sebagai pemuka adat.

Peranan elite Melayu dalam pengambilan keputusan pada hakikatnya mencerminkan upaya elite Melayu untuk tetap mempertahankan eksistensinya, di mana mereka masih berperan dalam menjalankan kebijaksanaan di dalam suatu masyarakat. Keberadaan elite Melayu pada masa sekarang ini tidak lagi hanya sekedar sebagai status yang dipertahankan, tetapi lebih dari pada itu merupakan cerminan dari keikutsertaan mereka sebagai anggota masyarakat. Adanya nilai tambah pada elite Melayu dibandingkan dengan masyarakat Melayu kebanyakan,

(28)

menunjukkan bahwa elite Melayu masih diperlukan keberadaannya, terutama dalam menyampaikan aturan-aturan adat-istiadat kepada masyarakat Melayu pada umumnya. Nilai tambah yang diemban oleh elite Melau tersebut dengan sendirinya akan membantu mereka menyampaikan aturan-aturan yang berlaku menurut adat kebiasaan, supaya apa yang dikehendaki dapat disampaikan kepada masyarakat. Kedudukan ini yang sebenarnya menjadikan posisi kaum elite Melayu dalam masyarakat Melayu sekarang tetap eksis sebagai pengayom dan panutan bagi masyarakat Melayu.

Sejalan dengan perkembangan zaman, keberadaan kaum elite Melayu dalam masyarakat Melayu Labuhan tidak hanya terbatas sebagai golongan yang mempunyai posisi sosial yang baik dari masa ke masa. Pada masa sekarang posisi kaum elite masyarakat Melayu semakin diperkuat lagi oleh kedudukan yang diperoleh karena tingkat pendidikan yang tinggi. Dalam arti posisi sosial yang diperoleh saat ini sudah meluas sebagai posisi yang diperoleh bukan warisan turun-temurun. Pergeseran status dari ascribe status menjadi achiece status dengan sendirinya memperkuat posisi mereka yanga ada selama ini. Dengan demikian, elite Melayu tidak lagi dipandang sebagai bangsawan yang eksis dari status turun-temurun, tetapi justru telah diperkuat olh status perolehan yang ada. Keadaan inilah yang akhirnya menempatkan kaum elite Melayu tidak lagi sebatas elite yang muncul karena status bawaan, tetapi sudah diperhitungkan sebagai elite yang lebih kuat kedudukannya karena status perolehannya.

Secara sadar atau tidak, status ganda yang diemban kaum elite Melayu pada saat sekarang dengan sendirinya akan semakin memperkokoh posisi mereka di masyarakat. hal ini membuktikan bahwa kaum elite yanga da tidak lagi dapat dipandang dari status bawaan yang turn-temurun, tetapi harus dilihat dari peran yang dimainkan karena status yang diperolehnya, karena secara mandiri kaum elite yanng ada sudah diperhitungkan sebagai golongan masyarakat yang memiliki kekhususan.

Sejalan dengan perkembangan masyarakat yang semakin dinamis, maka terjadi pergeseran fungsi dan nilai sosial elite Melayu dalam kelompok masyarakat. Dewasa ini peranan elite Melayu sangat terbatas dalam kehidupan kelompok. Namun seballiknya keberadaan elite Melayu sendiri merupakan warna tersendiri dalam kehidupan amsyarakat Melayu Labuhan pada umumnya. Hal ini disebabkan karena elite Melayu tidak lagi terbats dalam posisi tertentu saja, tetapi lebih dari mereka sudah menentukan pola pengambilan keputusan dalam suatu masyarakat.

(29)

Keberadaan elite Melayu pada masa sekarang ini pada masyarakat Melayu Labuhan, tidak lagi dipengaruhi oleh latar belakang kultural semata, tetapi juga ditentukan oleh kualitas hidup yang dialaminya. Hal ini menyebabkan keberadaan elite Melayu sudah meluas ke berbagai aspek kehidupan yang terdapat di dalam masyarakat, sehingga lebih memberikan keleluasaan bagi elite Melayu dalam turut berpartisipasi dalam berbagai bidang kegiatan yang terdapat dalam masyarakat. Di samping itu mereka dengan sendirinya dapat dianggap kelompok yang memiliki pola pemikiran yang lebih maju dibandingkan dengan masyarakat kebanyakan. Elite Melayu sebagai golongan masyarakat yang pernah memiliki khasrisma di masa lalu, wajar kalau masyarakat terutama masyarakat Melayu masih menajdikannya sebagai panutan. Demikian juga halnya masyarakat umum menganggap elite Melayu merupakan bagian dari tokoh masyarakat ang memiliki pengaruh dan status sosial yang lebih baik.

Peranan elite Melayu pada saat ini sudah terbatas, namun demikian masih menentukan kebijakan yang diambil dalam menjalankan program yang ada adlam masyarakat. Peranan elite Melayu dalam pengambilan keputusan menempatkan mereka sebagai salah satu bagian masyarakat yang berpengaruh. Peranan yang berpengaruh tersebut, secara kualitas masih besar, mengingat latar belakang status sosial telah menentukan corak tersendiri di antara masyarakat. Walau bagaimana pun pengaruh yang pernah ada masih tertanam pada genarasi masa lalu. Sosialisasi yang dilakukan oleh generasi pendahulu setidaknya menanamkan niali atas budaya yang berlaku di kalangan suku bangsa Melayu.

Sosialisasi nilai budaya yang diturunkan dapat dilihat pada upacara-upacara dan kepentingan lainnya yang berkaitan dengan suku bangsa Melayu. Upacara-upacara adat yang dilakukan mengingatkan suku bangsa Melayu pernah memiliki kejayan yang tetap diwariskan antar generasi. bagi masyarakat Melayu kebanyakan apa yang diperolehnya melalui upacara-upacara adat yang dilakukan oleh elite Melayu, seperti perkawinan menunjukkan bahwa pada masyarakat Melayu pernah tumbuh suatu adat-istiadat yang mengikutsertakan seluruh masyarakat Melayu yang ada.

Pelaksanaan upacara adat-istiadat Melayu pada saat ini telah digeser oleh upacara yang bersifat keagamaan. Namun bagi kaum elite Melayu upacara atau pelaksanaan adat-istiadat dilakukan dengan mengikutsertakan unsur agama Islam sebagai agama masyarakat Melayu. namun bukan menajdi keharusan bagi masyarakat Melayu untuk melakukan suatu upacara adat Melayu, karena dengan mengikuti upacara adat yang dialkukan oleh elite Melayu sudah menjadi suatu kebangggaan tersendiri untuk ikut ambil bagian di dalamnya, karena dengan demikian mereka tetap menganggap aeabgai bagian dari suku bangsa Melayu.

(30)

masuknya penjajahan di Asia, secara keseluruhan juga mempengaruhi pola pemikiran masyarakat. Sehingga dengan sendirinya posisi kaum elite sudah dianggap sebagai bagian dari masyarakat pada umumnya.

Perubahan yang terjadi akibat penjajahan di Indonesia turut mempengaruhi pola kehidupan elite Melayu. Di samping perubahan sistem pemerintahan daerah yang selama ini dipakai dirubah sesuai dengan sistem pemerintahan penjajah, sehingga ruang gerak sistem pemerintahan kerajaan Melayu semakin sempit. Lambat-laun pemerintahan kerajaan dihapuskan dan dipulihkan sebagai bagian dari rakyat biasa. Walau secara kepemimpinan elite Melayu bukan lagi sebagai kelompok penguasa, namun kharisma yang selama ini disandang tetap menjadi panutan bagi budaya Melayu, sehingga tidak hilang sebagaimana kekuasaan yang diambil keum penjajah. Adat-istiadat masyarakat Melayu sejak dahulu tetap dipakai masyarakat Melayu sekarang secara turun-temurun.

Sebagai golongan yang memiliki kharisma tersendiri di masyarakatnya, keberadaan suku bangsa Melayu diharapkan dapat membantu kehidupan masyarakat Melayu itu sendiri. Sedangkan bagi masyarakat Melayu, keberadaan elite melayu dalam masyarakat tetap dianggap sebagai bagian dari budaya masa lallu yang tetap lestari.

Perubahan yang terjadi secara terus menerus dengan sendirinya memaksa masyarakat untuk bersiakp dinamis. Demikian juga di kalangan masyarakat Melayu, perubahan yang terjadi harus diarahkan kepada tindakan yang positif dan membangun, suapya mereka dapat mengikuti pola perkembangan pembangun, karena perubahan yang terjadi merupakan dampak terjadinya pembangunan itu sendiri.

Peranan elite Melayu sangat besar dalam mengarahkan kesiapan masyarakat melayu yang ada untuk mengikuti perubahan tersebut, sehingga mereka tidak akan tertinggal dengan masyarakat lainnya di Indonesia. Kedudukan elite Melayu sebagai panutan di masyarakat baik sebagai kaum bangsawan secara adat istiadat maupun sebagai pemuka atau tokoh masyarakat, akan mampu mengarahkan masyarakat Melayu untuk tetap berperilaku sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Sehingga elite melayu dalam masyarakat Melayu merupakan bagian yang sangat penting untuk memotivator suku bangsa Melayu supaya melakukan perubahan ke arah kemajuan yanng diinginkan.

Gambar

Tabel 1Tata Guna Tanah di Kelurahan Rengas Pulau
Tabel 2Komposisi Penduduk Kelurahan Rengas Pulau  Menurut Kelompok Umur
Tabel 4Komposisi Penduduk Menurut Kewarganegaraan

Referensi

Dokumen terkait

Pelaksanaan upacara adat larung sesaji sudah bukan merupakan tradisi yang sakral lagi karena masyarakat hanya mengaanggap sebagai warisan budaya para leluhur yang

Tindak Tutur Pada Upacara Adat Perkawinan Masyarakat Melayu di Desa Pantai Cermin Kanan Kecamatan Pantai Cermin.. (Skripsi Sarjana) :

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan mengenai perspektif mahasiswa PGSD terhadap matakuliah adat melayu dalam melestarikan budaya melayu Jambi tersebut

tindakan yang dilakukan oleh masyarakat Melayu Deli pesisir melalui gerakan filantropi budaya yang dilakukan oleh Forum Adat Melayu Deli FORMAD dengan aktifitas sosial kebudayaan

Pada penelitian ini juga digunakan teori eufemisme yang dikemukakan oleh Allan dan Burridge, untuk menemukan tipe eufemisme dalam upacara adat perkawinan masyarakat Melayu

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan bahwa dalam upacara adat perkawinan masyarakat Melayu Desa Pekaka, Kecamatan Lingga Timur, Kabupaten Lingga, tradisi

Busana Upacara Resmi Deskripsi dari indikator busana upacara resmi pada tingkat pengetahuan Busana Melayu Riau di Lingkungan Adat Riau berdasarkan angket dari responden dalam

Sebelum berlakunya pandemik Covid-19, pelaksanaan majlis perkahwinan orang Melayu pada masa kini bukan sahaja dilakukan untuk memenuhi tuntutan agama dan adat semata-mata tetapi pada