• Tidak ada hasil yang ditemukan

kel 7 8 9 TEORI BELAJAR DAN penerapannya (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "kel 7 8 9 TEORI BELAJAR DAN penerapannya (1)"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

TEORI BELAJAR DAN

PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN RESUME

Diajukan untuk memenuhi Tugas pada mata kuliah Psikologi Pendidikan

OLEH:

Jelita 16002015

Hikmah Putri B. 16002075

Murwaldi 16002049

Ridha Nabila 16002095

Sri Rahmadhani 16002099

Utari Octaviani 16002103

Vany Rahmasari 16002104

Yoga Hardika 16002107

Zulkifli Gusti A. 16061042

Ana yulia 16003004

Erlina AS 15002117

Dosen Pembimbing Niken Hartati, S.Psi, M.A

JURUSAN ADMINISTRASI ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

(2)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan rahmat dan hidayah-Nya

penulis dapat menyusun resume an ini yang berjudul “Teori Belajar dan Penerapannya dalam

Pembelajaran ”. Shalawat serta salam penulis sanjung agungkan kepada junjungan kita Nabi

besar, yakni Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman kegelapan sampai

zaman terang benderang seperti saat ini. Resume an ini dibuat untuk memberi wawasan bagi

pembaca serta penulisnya khususnya.

Penulis menyadari tugas ini jauh dari kata kesempurnaan. Maka dari itu penulis

mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun bagi penulis agar menjadi pelajaran

yang berharga khususnya bagi penulis dan pembaca.

Padang, 7 Februari2017

Penulis

(3)

ii

1. Pengertian Belajar Menurut Teori Behavioristik...3

2. Prinsip-Prinsip dalam Teori Behavioristik...4

3. Penerapan Teori Belajar Behavioristik dalam Pembelajaran...5

B. Teori Belajar Kognitif...8

1. Pengertian Belajar Menurut Teori Kognitif...8

2. Prinsip-prinsip belajar menurut teori belajar kognitif...8

3. Penerapan Teori Belajar Kognitif Dalam Pembelajaran...10

C. Teori Belajar Sosial...11

1. Pengertian Teori Belajar Sosial...11

2. Prinsip Teori Belajar Sosial...11

3. Penerapan Teori Belajar Sosial Dalam Pembelajaran...11

D. Teori Belajar Humanistik...12

1. Pengertian Teori Belajar Humanistik...12

2. Prinsip Teori Humanistik...13

3. Penerapan Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran...13

BAB III PENUTUP...14

A. Kesimpulan...14

B. Saran...14

DAFTAR PUSTAKA...15

(4)

iii

(5)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia peserta didik dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Belajar adalah key term, istilah kunci yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya pendidikan.

Belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang agar memiliki kompetensi berupa keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan. Belajar juga dapat dipandang sebagai sebuah proses elaborasi dalam upaya pencarian makna yang dilakukan oleh individu. Proses belajar pada dasarnya dilakukan untuk meningkatkan kemampuan atau kompetensi personal. (Benny A. Pribadi, 2009:6)

Pembelajaran adalah proses yang sengaja dirancang untuk menciptakan terjadinya aktifitas belajar dalam diri individu. Dengan kata lain, pembelajaran merupakan suatu hal yang bersifat eksternal dan sengaja dirancang untuk mendukung terjadinya proses belajar internal dalam diri individu.

Teori adalah seperangkat azaz tentang kejadian-kejadian yang didalamnnya memuat ide, konsep, prosedur dan prinsip yang dapat dipelajari, dianalisis dan diuji kebenarannya. Teori belajar adalah suatu teori yang didalamnya terdapat tata cara pengaplikasian kegiatan belajar mengajar antara guru dan siswa, perancangan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas maupun di luar kelas

B. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas, makalah ini menjabarkan beberapa pokok permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:

1. Apa pengertian, prinsip-prinsip,penerapan teori dalam pembelajaran menurut teori

Behavioristik?

(6)

2

2. Apa pengertian, prinsip-prinsip,penerapan teori dalam pembelajaran menurut teori

Kognitif?

3. Apa pengertian, prinsip-prinsip,penerapan teori dalam pembelajaran menurut teori

Sosial?

4. Apa pengertian, prinsip-prinsip, penerapan teori dalam pembelajaran menurut teori

Humanistik?

C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui pengertian, prinsip-prinsip, penerapan teori dalam pembelajaran

menurut teori Behavioristik

2. Untuk mengetahui pengertian, prinsip-prinsip, penerapan teori dalam pembelajaran

menurut teori Kognitif

3. Untuk mengetahui pengertian, prinsip-prinsip, penerapan teori dalam pembelajaran

menurut teori Sosial

4. Untuk mengetahuipengertian, prinsip-prinsip, penerapan teori dalam pembelajaran

(7)
(8)

BAB II PEMBAHASAN

A. Teori Belajar Behavioristik

1. Pengertian Belajar Menurut Teori Behavioristik

Teori behavioristik adalah perubahan tingkah laku yang terjadi terhadap siswa akibat adanya interaksi antara stimulasi dan respond.Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yamg berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 200 : 143).

Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.

Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pembelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pembelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur.

Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.

(9)

Contoh : dalam pelajaran perhitungan, perkalian dan pembagian. Apabila seorang siswa mampu memahami materi yang di berikan gurunya dan ia mampu menerapkan dalam perhitungan, maka siswa tersebut telah belajar menurut teori ini.

2. Prinsip-Prinsip dalam Teori Behavioristik

Menurut Watson teori belajar behavioristik ini memiliki beberapa prinsip diantaranya :

a. Reinforcement and Punishment. Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak.

b. Contigency Managenet Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.

c. Primary and Secondary Reinforcement Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.

d. Schedules of Reinforcemen Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu

psikologi.

e. The Elimination of Response Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu

psikologi.

f. Stimulus Control in Operant Learning Banyak ahli membagi behaviorisme ke dalam dua periode, yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan.

Prinsip-prinsip teori behavioristik yang banyak diterapkan dalam dunia pendidikan meliputi:

1) Perubahan perilaku seseorang, yaitu lebih di tekankan pada pengaruh

lingkungan.

(10)

2) Menggunakan prinsip penguatan bertujuan untuk mengidentifikasi apa saja yang

paling diperlukan dalam pembelajaran sehingga peserta didik dapat mencapai

peningkatan yang diharapkan.

3) Mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan peserta didik guna untuk mencapai

tujuan pembelajaran.

4) Lebih memfokuskan pada hasil belajar peserta didik tersebut dibandingkan pada

proses pembelajaran .

3. Penerapan Teori Belajar Behavioristik dalam Pembelajaran

Aliran psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respons atau perilaku tertentu dapat dibentuk karena dikondisi dengan cara tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement, dan akan menghilang bila dikenai huhukuman.

Istilah-istilah seperti hubungan stimulus-respon, individu atau siswa pasif, perilaku sebagai hasil belajar yang tampak, pembentukan perilaku (shaping) dengan penataan kondisi secara ketat, reinforcement dan hukuman, ini semua merupakan unsur-unsur yang sangat penting dalam teori behavioristik. Teori ini hingga sekarang masih merajai praktek pembelajaran di Indonesia. Hal ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti Kelompok bermain, Taman Kanak-kanak, Sekolah-Dasar, Sekolah Menengah, bahkan sampai di Perguruan Tinggi, pembentukan perilaku dengan cara drill (pembiasaan) disertai dengan reinforcement atau hukuman masih sering dilakukan

Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti; tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan

(11)

dilaksanakan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau siswa. Siswa diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.

Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut.

Karena teori behavioristik memandang bahwa sebagai sesuatu yang ada di dunia nyata telah tersetruktur rapi dan teratur, maka siswa atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan lebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa atau peserta didik adalah obyek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri siswa.

Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas “mimetic”, yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampilan yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke k

eseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan

(12)

penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.

Evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut satu jawaban benar. Maksudnya, bila siswa menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagai bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan siswa secara individual.

Secara umum, langkah-langkah pembelajaran yang berpijak pada teori behavioristik yang dikemukakan oleh Siciati dan Prasetya Irawan (2001) dapat digunakan dalam merancang pembelajaran Langkah-langkah tersebut meliputi: a. Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran.

b. Menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk

mengidentifikasi pengetahuan awal (entry behavior) siswa.

c. Menentukan materi pelajaran.

d. Memecah materi pelajaran menjadi bagian kecil-kecil, meliputi pokok

bahasan, sub pokok bahasan, topik, dsb.

e. Menyajikan materi pelajaran.

f. Memberikan stimulus, dapat berupa: pertanyaan baik lisan maupun

tertulis, tes/kuis, latihan, atau tugas-tugas.

g. Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan siswa.

h. Memberikan penguatan/reinforcement (mungkin penguatan positif

ataupun penguatan negatif), ataupun hukuman.

i. Memberikan

j. stimulus baru.

k. Mengamati dan mengkaji respons yang yang diberikan siswa.

(13)

l. Memberikan penguatan lanjutan atau hukuman.

m. Demikian seterusnya.

n. Evaluasi hasil belajar.

B. Teori Belajar Kognitif

1. Pengertian Belajar Menurut Teori Kognitif

Teori belajar kognitif menjelaskan belajar dengan memfokuskan pada perubahan proses mental dan struktur yang terjadi sebagai hasil dari upaya untuk memahami dunia. Teori belajar kognitif digunakan untuk menjelaskan tugas-tugas yang sederhana seperti mengingat nomor telepon dan masalah yang kompleks seperti pemecahan masalah yang tidak jelas.

2. Prinsip-prinsip belajar menurut teori belajar kognitif Teori belajar kognitif didasarkan pada empat prinsip yaitu :

a. Pembelajaran aktif dalam upaya untuk memahami pengalaman

Teori belajar kognitif didasarkan pada keyakinan bahwa peserta didik harus aktif dalam upaya memahami bagaimana dunia bekerja. Kepercayaan ini konsisten dengan pendapat Piaget dan Vygotsky tentang pandangannya terhadap pengembangan pelajar, dimana pelajar melakukan lebih dari sekedar menanggapi. Mereka mencari informasi untuk menjawab pertanyaan yang mereka dapatkan atau mereka mencari materi belajar sendiri sesuai dengan silabus yang telah diberikan oleh guru, seperti yang terdapat pada penerapan kurikulum 2013 sekarang. Mereka memodifikasi pemahaman mereka berdasarkan pengetahuan baru yang mereka dapatkan dan perubahan sikap mereka dalam menanggapi peningkatan pemahaman. Teori belajar kognitif berpandangan bahwa manusia sebagai “agen goal-direted” yang aktif dalam mencari informasi.

b. Pemahaman bahwa peserta didik mengembangkan pemahamannya tergantung pada apa yang telah mereka ketahui.

Dalam usaha untuk memahami bagaimana dunia bekerja, peserta didik menafsirkan pengalaman baru berdasarkan apa yang telah mereka ketahui dan mereka percaya. Contohnya, anak-anak mempercayai bahwa setiap benda

(14)

yang jatuh dari tempat yang tinggi pasti jatuhnya ke tanah atau kebawah, bahkan setela guru mereka menjelaskan apabila kita berada diluar angkasa ketika kita menjatuhkan suatu benda pasti akan melayang, karena gravitasi dibumi berbeda dengan gravitasi yang ada diluar angkasa. Beberapa anak kemudian mencoba menjatuhkan sebuah benda dan jatuhnya ke bawah atau ke lantai. Mereka beralasan mana mungkin setiap benda yang jatuh akan melayang dan ide dari benda yang jatuh itu akan melayang anak-anak mengetahui dan memahami ide untuk membantu mereka menjelaskan bagaimana benda yang jatuh dari luar angkasa dapat melayang. Contoh ini membantu kita melihat mengapa menjelaskan sering tidak efektif untuk mengubah pemahaman peserta didik.

c. Belajar membangun pemahaman dari pada catatan

Pelajar atau peserta didik tidak berprilaku seperti alat perekam yang dapat merekam dalam ingatan mereka sesuai dengan apa yang guru mereka jelaskan dan apa yang telah mereka baca. Sebaliknya, mereka menggunakan apa yang mereka ketahui untuk membangun pemahaman tentang apa yang mereka dengar atau mereka baca yang logis menurut mereka. Dalam upaya mereka untuk membuat informasi baru yang mereka mengerti, mereka secara dramatis dapat memodifikasi itu. Kebanyakan peneliti sekarang bahwa siswa membangun pemahaman mereka sendiri.

d. Belajar adalah perubahan dalam struktur mental seseorang

Dari perspektif kognitif, belajar adalah perubahan dalam struktur mental seseorang yang atas kapasitasnya untuk menunjukan prilaku yang berbeda. Belajar dapat terjadi tanpa ada perubahan langsung dalam prilaku, tetapi bukti perubahan dalam struktur mental dapat terjadi dalam beberapa waktu kemudian. Contohnya, dalam pelajaran kewarganegaraan guru Reno menjelaskan tentang hak dan kewajiban sebagai seorang warga negara yang baik. Setela mendengarkan penjelasan dari gurunya reno tidak langsung merubah prilakunya yang melenceng dari hak dan kewajiabannya sebagai warga negara yang baik, mungkin prilakunya akan berubah beberapa kemudian setelah ia mengerti dan memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara.

(15)

3. Penerapan Teori Belajar Kognitif Dalam Pembelajaran

Kegiatan belajar kognitif ini sudah banyak digunakan. Keaktifan dan keterlibatann siswa dalam proses belajar sangat diperhatikan, agar belajar lebih bermanfaat bagi siswa. Sedangkan kegiatan pembelajarannya mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut :

a. Siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah proses berfikirnya. Tetapi

mereka harus melalui beberapa tahap dalam perkembangannya,

b. Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat memahami dengan

baik apabila mendengarkan benda-benda kongrit melalui penjelasan.

c. Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar sangat dipentingkan, karena kalau

siswa itu aktif proses asimilasi pengetahuan dapat terjadi dengan baik.

d. Untuk menarik minat siswa, guru perlu mengkaitkan pengalaman atau informasi

baru dengan materi pembelajaran.

e. Pemahaman siswa akan meningkat jika materi pelajaran disusun dengan

menggunakan logika tertentu, dari sederhana ke kompleks.

f. Belajar memahami lebih bermakna daripada belajar mneghafal.

g. Adanya perbedaan individual pada diri siswa pelu diperhatikan karena faktor ini

sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Perbedaan tersebut misalnya

pada motivasi, persepsi, kemampuan berpikir, pengetahuan awal dan

sebagainya.

Contoh Penerapan:

a) Misalnya pada pelajaran IPS, guru menjelaskan bagaimana cara mencari

jarak pada peta. Lalu siswa dituntut untuk bias mencari jarak sebenarnya

b) Dalam berdiskusi, siswa dibimbing supaya lebih aktif.

(16)

c) Guru menjelaskan bagaimana cara melakukan lari estafet, siswa diminta

untuk lebih bias mengembangkan model lari estafet

C. Teori Belajar Sosial

1. Pengertian Teori Belajar Sosial

Teori belajar sosial adalah teori belajar dengan menggunakan keberadaan lingkungan sosial individu sebagai media pembelajarannya dengan cara mengamati, meniru dan mengembangkan perilaku sosial dan moral suatu model/contoh dilingkungan sosial. Albert Bandura mengemukakan bahwa seorang individu belajar banyak tentang perilaku melalui peniruan/modeling, bahkan tanpa adanya penguat (reinforcement) sekalipun yang diterimanya. Proses belajar ini disebut “observational learning” atau pembelajaran melalui pengamatan.

Teori belajar sosial juga menekankan bahwa lingkungan-lingkungan yang dihadapkan pada seseorang secara kebetulan, lingkungan-lingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah oleh orang itu melalui perilakunya sendiri. Menurut Bandura bahwa “sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain” inti dari pembelajaran teori sosial ini adalah modelling dan modelling itu sendiri merupakan salah satu langkah yang paling penting dalam pembelajaran terpadu.

2. Prinsip Teori Belajar Sosial

a. Kemampuan untuk membuat atau memahami simbol/tanda/lambang

b. Kemampuan berfikir kedepan

c. Kemampuan untuk seolah-olah mengalami apa yang dialami orang lain

d. Kemampuan mengatur diri sendiri

e. Kemampuan untuk berefleksi

3. Penerapan Teori Belajar Sosial Dalam Pembelajaran

a) Pelajaran atau hal yang menarik perhatian pengamat, yaitu model yang bervariasi

dalam menimbulkan kekuatan pengamat karena pengamat lebih suka terhadap

(17)

model apabila jelas, menonjol, kompleks, dan / atau apabila kejadian ceritanya

bersifat umum (commom)

b) Penguatan dan motivasi. Apabila model, baik dalam hal responya sesuai dengan

nilai pengamat, pengamat akan mengalami penguata dan karenannya termotivasi

untuk berperilaku. Contohnya apabila pengamat memperkirakan bahwa responya

akan langsung menmbulkan penguatan atau hadiah, maka pengamat akan

termotivasi untuk berbuat.

c) Dengan cara menggunakan alat atau media visual seperti gambar, grafis, peta

globe, bagan dan lain sebagainya. Media audio seperti telepon, radio, lagu dan

lain sebagainya. Serta media audio visual seperti televisi, film, dan yang lainnya.

Siswa dapat menirunya apa yang menurutnya baik dan menyenangkan.

D. Teori Belajar Humanistik

1. Pengertian Teori Belajar Humanistik

Menurut teori humanisik proses belajar dimulai dan ditunjukkan untuk

kepentingan memanusiakan manusia. Teori ini bersifat abstrak dan lebih mendekati

kajian filsafat. Teori ini sangat mementingkan isi yang dipelajari dari pada proses

belajar nya serta lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk

menciptakan manusia yang dicita-citakan.

Dalam teori ini, belajar di anggap berhasil jika si pelajar memahami

lingkungannya dan dirinya sendiri. Teori ini juga berusaha memahami perilaku

belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Jadi

teori humanistik ini adalah suatu teori pembelajaran yangmengedepankan bagaimana

memanusiakan manusia sertapeserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya.

(18)

1. Prinsip Teori Humanistik

a. Manusia memiliki kemampuan alami untuk belajar

b. Belajar menjadi signifikan apabila apa yang di pelajari memiliki relevansi yang dengan keperluan mereka.

c. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya.

d. Tugas belajar dapat lebih di terima dan diasimilasikan apabila ancaman luar itu semakin kecil

e. Bila ancaman itu rendah terdapat pengalaman siswa dalam memperoleh cara, f. Belajar yang bermakna di peroleh jika siswa melakukannya,

g. Belajar lancar jika siswa di libatkan dalam proses belajar

h. Belajar yang melibatkan siswa seutuhnya dapat memberi hasil yang mendalam. i. Kepercayaan pada diri siswa di tumbuhkan dengan membiasakan untuk mawas

diri,

j. Belajar sosial adalah belajar mengenai proses belajar.

2. Penerapan Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran

a) Guru sebagai fasilitator, yaitu di mana guru memberikan kemudahan belajar untuk mecapai tujuan belajar siswa.

b) Guru memiliki sifat ramah, bersahabat, dan membuat siswa ingin seu memiliki sifat ramah, bersahabat, dan membuat siswa ingin selalu berkembang

c) Guru harus memperlakukan siswa-siswinya secara sama tanpa memperdulikan watak-watak individual siswa. Kecuali siswa atau siswi tersebut memiliki keterbelakangan khusus dan harus diberi pelayanan yang khusus juga.

d) Guru bisa memahami kebutuhan siswa, seperti apa yang dibutuhkan dan membuatnya nyaman atau senang.

e) Guru memberikan kebebasan kepada siswa utuk memberikan pendapatn kepada

siswa utuk memberikan pendapatnya sebagai suatu ungkapan.

f) Selalu mendukung potensi siswa, agar ia bisa belajar menyenangi dirinya.

g) Aktif dalam belajar, agar siswa terus melatih dirinya untuk percaya diri.

(19)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan masalah yang kita bahas, dapat diambil kesimpulan:

1. Teori behavioristik merupakan teori belajar yang lebih menekankan pada perubahan tingkah laku serta sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon

2. Menurut teori belajar behavioristik, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar apabila ia bisa menunjukkan perubahan tingkah lakunya. 3. Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa

hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia.

4. Teori belajar kognitif menjelaskan belajar dengan memfokuskan pada perubahan proses mental dan struktur yang terjadi sebagai hasil dari upaya untuk memahami dunia

5. Teori belajar sosial adalah teori belajar dengan menggunakan keberadaan lingkungan sosial individu sebagai media pembelajarannya dengan cara mengamati, meniru dan mengembangkan perilaku sosial dan moral

6. Menurut teori humanisik proses belajar dimulai dan ditunjukkan untuk kepentingan memanusiakan manusia.

B. Saran

Kita sebagai calon guru harusnya mampu mendidik para peserta didik kita dengan baik, dengan metode serta teori yang tepat sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan baik. Oleh karena itu pelajarilah teori-teori pembelajaran yang ada agar kita mampu menemukan kecocokan dalam metode mengajar yang tepat.

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi, Haji. 2013. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Nikychoy,Synyster. 2012. Prinsip-prinsip teori belajar kognitif

Walgito, Bimo. 2011. Teori-teori Psikologi Sosial. Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET

http://sastranikychoysynster.blogspot.com/2012/06/Prinsip-prinsip-teori-belajar -

kognitif.html diambil 03 Februari 2017, 16:45 WIB.

(21)

Referensi

Dokumen terkait

Memahami sifat-sifat bilangan berpangkat dan bentuk akar serta penggunaannya dalam pemecahan masalah sederhana. 5.1 Mengiden tifikasi sifat-sifat bilangan berpangkat dan

Mengemukakan pikiran, perasaan, dan informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler perse- tujuan, sanggahan, dan penolakan pendapat dalam diskusi disertai de-

Mengakomodir Masyarakat di sekitar industri untuk dapat bekerja pada unit-unit kerja yang ada di lingkungan Perusahaan baik sebagai buruh harian tetap maupun borongan

(=2,01) untuk hasil hitungan dua arah, maka Ho diterima dan Ha ditolak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pada tingkat kepercayaan 95% metode blanded learning

[r]

1) Memberikan pengetahuan kepada peserta didik tentang dunia tempat hidup dan bagaimana bersikap. 2) Menanamkan sikap hidup ilmiah. 3) Memberikan keterampilan untuk

Model pembelajaran kolaboratif tipe POE akan lebih memudahkan siswa dalam memahami materi yang diajarkan oleh guru, dengan model ini siswa diharapkan aktif,

Pendapat tersebut sama dengan pendapat dari Kesuma (2012: 17) kerja keras adalah istilah yang melingkupi suatu upaya yang terus dilakukan (tidak pernah menyerah)