• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. suku Melayu di Indonesia menurut sensus tahun 2000 terdiri dari: Melayu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. suku Melayu di Indonesia menurut sensus tahun 2000 terdiri dari: Melayu"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka dari penjajahan bangsa Belanda dan Jepang. Pulau Sumatera sejak tahun 1945 sampai tahun 1957 terbagi ke dalam 3 provinsi yaitu: Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Sumatera Tengah, dan Provinsi Sumatera Selatan. Suku bangsa Melayu tersebar di dunia ini. Adapun suku Melayu di Indonesia menurut sensus tahun 2000 terdiri dari: Melayu Tamiang, Melayu Jambi, Melayu Riau, Melayu Bengkulu, namun di Sumatera Utara ada etnis melayu yang asli, yakni Melayu Langkat, Melayu Deli Serdang, Melayu Asahan dan Melayu Labuhan Batu.

Melayu Riau adalah salah satu dari banyak rumpun Melayu yang ada di nusantara. Wilayah kediaman mereka yang utama adalah di Riau kepulauan, sebagian besar di Bengkalis, Indragiri Hulu, Kampar, dan wilayah Pekanbaru yang merupakan kekuatan kerajaan Riau di masa lampau.

Riau merupakan sebuah keresidenan yang disebut Residen Riau, di bawah Provinsi Sumatera Tengah yang terdiri dari 4 Kabupaten, yaitu Kabupaten Kepulauan Riau, Kabupaten Kampar, Kabupaten Indragiri, dan Kabupaten Bengkalis. Pada saat itu, Pekanbaru merupakan Kotapraja setingkat Kewedanaan.

Riau merupakan sebuah provinsi yang lahir pada tanggal 9 Agustus 1957, terpisah dengan Provinsi Sumatera Tengah. Penduduk yang mendiami Provinsi Riau, awalnya adalah mayoritas suku Melayu mempunyai adat resam dan tradisi yang turun-temurun. Namun pada masa sekarang suku-suku lain juga telah bermukim di Riau, seperti etnik: Minangkabau, Jawa, Batak, Aceh, dan lainnya.

(2)

Agama Islam merupakan agama yang dianut oleh masyarakatnya, sehingga adat dan budaya Melayu Riau adalah adat bersendikan syarak dan

kitabullah 1

Menolong orang tiada mengupat

. Dengan demikian, maka kehidupan masyarakat Melayu Riau berakar

dari nilai-nilai agama Islam.

Masyarakat Melayu Riau adalah masyarakat terbuka semenjak dari zaman Kerajaan Melayu yang memerintah negeri ini. Wilayah Riau secara geografis terletak dipersimpangan antara Timur dan Barat di Selat Melaka dan Laut Cina Selatan. Pengaruh inilah yang menyebabkan masyarakat Melayu menghargai orang-orang yang datang dan berkunjung ke negeri Riau.

Mereka yang datang dan berkunjung ke negeri Riau sejak dari zaman dahulu sampai sekarang ini sangat disanjung dan di hormati serta diterima dengan hati yang lapang. Untuk menggambarkan hal ini maka dalam ungkapan Melayu dikatakan:

Apa tanda Melayu sejati, Ikhlasnya tidak terbelah bagi, Relanya tidak dapat dibeli. Apa tanda Melayu terbilang, Hati ikhlas muka belakang, Apa tanda Melayu beradat, Ikhlas bergaul sesama umat, Berkorban pantang diingat-ingat,

1

Filosofi adat melayu bersendikan hukum syara’ , hukum Syara’ bersendikan kitabullah secara harafiah dapat diartikan bahwa adat Melayu bersendikan hukum agama dan hukum agama bersendikan Alquran. Dengan demikian, hukum adat secara tidak langsung seharusnya juga bersumber kepada Alqur’an. (Iswara NR/ensi/18/12-2009, dalam Luckman Sinar, Tanpa Tahun. Bangun dan runtuhnya kerajaan Melayu di Sumatera Timur. Medan: Tanpa nama penerbit).

(3)

(Jamil, 2009:9).

Sama dengan suku-suku yang lain yang ada di Indonesia, masyarakat Melayu Riau juga memiliki beberapa bidang kesenian. Hal ini menjadi identitas tersendiri terhadap suku ini. Suku Melayu Riau memiliki seni tari, seni musik dan seni rupa. Letak geografis dan kebiasaan pola hidup sangat mempengaruhi kesenian mereka. Salah satu contohnya adalah Tari Makan Sirih. Tarian ini terdapat di berbagai tempat di dalam kebudayaan Melayu, seperti di Tamiang Aceh, Langkat, Deli, Serdang, Asahan, Kotapinang, Kualuh, Panai, dan juga di Riau sendiri. Namun demikian di berbagai tempat itu terdapat variasi-variasi gerak dari Tari Makan Sirih.

Menurut pendapat para informan, nama Tari Makan Sirih bisa juga disebut dengan nama Tari Persembahan. Ada pula yang mengatakan TariPersembahan adalah sebagai bentuk pengembangan dari Tari Makan Sirih.

Di kawasan Riau, berdasarkan pemikiran bagaimana sebaiknya menghormati tamu yang berkunjung, yang harus disambut dengan hati yang tulus, maka O.K. Nizami Jamil bersama Johan Syariffudin mengubah sebuah tari untuk dipersembahkan pada penyambutan tamu yang dihormati dengan diberi nama Tari

Persembahan. Tari Persembahan yang berawal mula dari Tari Makan Sirih yang

telah diciptakan pada tahun 1957, didasari adat budaya Melayu Riau yang selalu menghormati dan memuliakan para tetamu yang datang berkunjung.

Tarian ini merupakan tarian adat yang khusus ditarikan pada acara penyambutan tetamu yang dihormati atau diagungkan dengan mempersembahkan tepak sirih berisi sirih pinang yang lengkap, dan bagi tetamu yang disuguhkan tepak sirih tersebut haruslah mengambil dan memakan sirih sebagai tanda ikhlas datang ke negeri atau ke tempat yang dikunjungi.

(4)

Sudah menjadi adat kebiasaan masyarakat Melayu Riau selalu memuliakan tamu yang datang berkunjung, baik dalam rumah tangga maupun dalam suatu acara pertemuan adat. Tepak sirih yang menjadi perlambang Adat Melayu juga digunakan sebagai alat properti Tari Persembahan dalam rangka penyambutan tamu yang dihormati. Isi dari tepak sirih yang harus dilengkapi adalah: 1. Daun sirih secukupnya, 2. Kapur sirih, 3. Gambir, 4. Pinang, 5. Tembakau dan 6. Sebuah kacip.

Untuk membina adanya keseragaman, baik gerak, tata cara maupun busana serta aksesoris tarian ini, maka menurut penjelasan dari pengubahnya yaitu O.K. Nizami Jamil dan Johan Syariffudin sudah sewajarnya dilakukan pembakuan. Adapun beberapa hal yang dibakukan adalah gerak tari, pola lantai, busana, tata rias dan tata cara menyuguhkan tepak sirih. Selain itu hal-hal yang menyebabkan pembakuan tari persembahan adalah agar tetap sesuai dengan pakem adat Melayu Riau untuk menghindari gerak yang sudah terlalu jauh dengan pakem dan rasa kesatuan tinggi yang ingin ditunjukkan oleh masyarakat Melayu Riau. Apalagi hal ini didukung oleh masyarakat, pemerintah, dan Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR). Tari Persembahan yang ditetapkan Lembaga Adat Melayu akan menjadi acuan di seluruh Kepulauan Riau terbukti dengan tersebarnya video

compact player di sekolah-sekolahdan sanggar-sanggar. Tari Persembahan ini

juga sudah diaplikasikan di kehidupan sosial dan budaya.

Sejak awal tarian ini diciptakan telah banyak mengalami penyesuaian yang dilakukan para seniman tari bersama-sama dengan pencipta, sehingga terbentuk sebagaimana yang disaksikan saat ini. Tari persembahan itu dirangkai dengan gerak lenggang Melayu Patah Sembilan dan mempergunakan rentak langgam Melayu dengan Lagu Makan Sirih. Sehubungan dalam kehidupan orang Melayudi

(5)

kenal sebagai sebuah tradisi yang disebut dengan berkapur sirih, yaitu tradisi makan sirih yang diramu dengan kapur dan pinang. Tradisi makan sirih merupakan warisan budaya yang sudah lebih dari 300 tahun yang lampau hingga saat ini.Seperti bait lagu Makan Sirih berbunyi demikian:

Makanlah sirih ujung-ujungan aduhai lah sayang, Kuranglah kapur tambahlah ludah,

Hidupkan ini untunglah untungan aduhailah sayang, Seharilah senang seharilah susah.

Busana yang dipakai oleh penari tari persembahan adalah baju kebaya

laboh cekak musangmemiliki kerah yang berdiri. Bahan baju sebaiknya dari bahan

tenunan Siak yang bermotif tradisional. Mengenai baju kebaya wanita Melayu bagian dalamnya harus jatuh sedikit ke bawah lutut dan kain sedikit di bawah mata kaki (Luckman Sinar, 1984:20). Busana yang dipakai pun tidak boleh sempit dan tidak boleh transparan.

Tari persembahan ditarikan oleh tujuh orang perempuan dan tidak membatasi umur. Penari terpilih sebagai penari utama yang membawa dan menyuguhkan tepak sirih didampingi oleh dua gading-gading2

Tari ini di awali dengan masuknya empat orang dayang-dayang yang mengawali tarian dan membuat gerakan sembah setelah mengambil posisi. Setelah itu empat dayang-dayang menyambut kedatangan penari lainnya yaitu satu orang pembawa tepak dan dua orang gading-gading. Setelah itu penari melakukan ragam dua sampai ragam delapan belas. Setelah selesai Tari

di sebelah kanan dan kiri, diikuti oleh penari lainnya dua di kanan dan dua di kiri.

2

Gading-gading adalah seorang perempuan muda berusia sekitar 10-15 tahun, yang dalam konteks upacara perkawinan selalu menjadi pengiring atau pendamping pengantin perempuan.

(6)

Persembahan dilanjutkan dengan menyuguhkan tepak sirih kehadapan tamu yang

paling dihormati karena memiliki kedudukan yan lebih tinggi atau yang diagungkan pada saat itu. Jika tamu tersebut bersama dengan istrinya, maka tepak sirih juga harus disuguhkan kepada istrinya. Tepak sirih tidak dapat diberikan kepada penyelenggara acara. Hal ini dikarenakan penyelenggara acara adalah sebagai tuan rumah. Diiringi dengan rentak mak inang sampai dengan selesai.

Tari Persembahan diubah oleh O.K. Nizami Jamil dengan Johan

Syarifuddin pada tahun 1957 dalam rangka menyambut Kongres Pemuda Pelajar Mahasiswa Masyarakat Riau yang dilaksanakan di Pekanbaru pada tahun 1957. Tari persembahan pada saat itu merupakan tari adat penyambutan tamu-tamu yang dihormati dan tanda terima kasih kepada tamu yang datang karena telah menghadiri acara pembukaan Kongres Pemuda Pelajar Mahasiswa.

Dengan ditulisnya tari persembahan yang sudah dibakukan saat ini tulisan ini dapat menjadi buku petunjuk atau pegangan bagi penari untuk tampil pada acara apa saja yang akan dilaksanakan oleh masyarakat Riau khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Selain itu untuk menghindari terjadinya kesimpang siuran dalam pergelaran tari persembahan tersebut.

Maka dari itu, untuk kebutuhan penelitian dan penulis maka penulis hendak membuat tulisan ini dengan judul “Studi Deskriptif Pembakuan Tari Persembahan oleh Sanggar Singgasana dalam Konteks Kebudayaan Melayu Riau.”

1.2 Pokok Permasalahan

Untuk membatasi pembahasan agar topik pembahasan menjadi terfokus, dan menjaga agar pembahasan nantinya tidak menjadi melebar maka di sini

(7)

penulis merasa perlu membuat pembatasan masalah dalam bentuk pokok permasalahan.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis menetukan hal - hal yang menjadi pokok permasalahannya yaitu:

1. Bagaimana bentuk penyajian tari persembahan yang sudah dibakukan oleh Lembaga Adat Melayu Riau.

2. Bagaimana fungsi tari persembahan yang terdapat pada masyarakat Riau Melayu.

3. Bagaimana struktur musik pengiring Tari Persembahan.

1.3 Tujuan dan Manfaat 1.3.1 Tujuan

Adapun tujuan penulisan tentang tari persembahan yang terdapat pada masyarakat Melayu Riau adalah:

1. Tari Persembahan merupakan ciri khas dari masyarakat Melayu Riau yang harus dipelajari agar dapat direalisasikan untuk kepentingan masyarakat Melayu itu sendiri.

2. Untuk mengetahui bagaimana deskripsi tari persembahan yang sudah dibakukan oleh Lembaga Adat Melayu Riau. 3. Untuk mengetahui makna dan fungsi tari persembahan yang

terdapat pada masyarakat Melayu Riau.

1.3.2 Manfaat

Sudah menjadi tanggung jawab kita untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan yang merupakan kebanggaan bagi kita. Berdasarkan hal tersebut

(8)

maka adapunyang diharapkan menjadi manfaat dari penulisan tari persembahan ini adalah :

1. Sebagai salah satu bahan informasi untuk melihat keberadaan tari persembahan pada masyarakat Melayu Riau.

2. Selain sebagai dokumentasi penelitian ini dapat digunakan sebagai perbendaharaan

3. Sebagai bahan referensi untuk mengkaji lebih lanjut bagi peneliti- peneliti lainnya yang hendak meneliti kesenian Melayu Riau khususnya seni tari.

4. Tulisan ini dapat bermanfaat bagi generasi - generasi muda saat ini, mengingat tulisan - tulisan yang berkaitan dengan seni dan budaya sudah jarang sekali ditemukan.

5. Tulisan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Melayu Riau karena ada sebagian masyarakat belum mengetahui mengenai pembakuan tari persembahan ini.

6. Sebagai salah satu persyaratan untuk lulus di Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara.

1.4 Konsep dan Teori 1.4.1 Konsep

Koentjaraningrat (1991:21), mengemukakan konsep sebenarnya adalah definisi secara singkat dari sekelompok fakta atau gejala. Konsep merupakan definisi dari apa yang akan kita amati, konsep menentukan antara variabel - variabel mana yang kita inginkan untuk menentukan hubungan empiris (Tan,

(9)

1990:120). Sehubungandengan penulisan ini, akan diuraikan beberapa konsep yang dibutuhkan, yaitu :

Deskripsi, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (1985:34) adalah menggambarkan apa adanya. Asal kata deskriptif, dari bahasa Inggris yaitu

descriptive, yang berarti bersifat menyatakan sesuatu dengan memberikan

gambaran melalui kata - kata atau tulisan. Seeger (1958:184) menyebutkan, penyampaian objek dengan menerangkan terhadap pembaca secara tulisan maupun lisan dengan sedetail-detailnya. Dengan demikian deskripsi yang penulis maksudkan adalah menyampaikan dengan menggambarkan melalui tulisan secara jelas mengenai tari persembahan dan musik pengiringnya yang telah dibakukan oleh Lembaga Adat Melayu Riau. Dalam hal ini struktur dan pola sangat penting, yakni bagaimanabagian-bagian dari gerakan tari saling berhubungan sehingga disatukan dan adanya bentuk atau model (suatu set peraturan) yang bisa dipakai untuk membuat atau untuk menghasilkan suatu tari.

Untuk memahami fungsi tari persembahan dan sekilas fungsi musik pengiringnya, penulis akan mengacu pada pendapat dari Alan. P. Merriam (1964: 210) mengenai penggunaan dan fungsi musik. Dimana diartikan bahwa use (penggunaan) yang menitik beratkan pada masalah situasi atau cara yang bagaimana musik itu digunakan, sedangkan function (fungsi) menitik beratkan kepada alasan penggunaan atau tujuan pemakaian musik, terutama maksud yang lebih luas, sampai sejauh mana musik itu mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Melayu itu sendiri.

Menurut BPH Suryodiningrat, “tari adalah gerakan-gerakan dari seluruh bagian tubuh manusia yang disusun selaras dengan irama musik serta mempunyai maksud tertentu (Rahayu, 2002:3). Dalam tulisan ini yang penulis maksud dengan

(10)

tarian persembahan adalah tarian yang ditampilkan pada saat perhelatan - perhelatan besar seperti acara (tujuh belas agustus dan festival tari), dan dalam acara resmi pemerintahan seperti acara (penyambutan Bupati, penyambutan kunjungan kerja, upacara pernikahan dan lain-lain), tari ini selalu ditarikan di awal acara.

Tarian ini menggunakan media tepak sirih sebagai perlengkapan dalam petunjukan tari persembahan. Dalam hal ini tepak sirih merupakan suatu sarana penghormatan. Tepak sirih berbentuk empat persegi panjang ± 25 cm, lebar 15 cm, dan tingginya 10 cm (Sembiring, 2010:94-95). Berbagai bentuk tepak sirih, yaitu bentuk trapesium dari bahan kayu (triplek) diukir atau dilapis beludru disebut tepak pelambang. Tepak Sirih dibawa oleh penari utama.

Penulis akan menjelaskan tentang alat-alat musik tradisional Melayu yang menjadi pengiring tarian ini. Tarian ini diiringi oleh alat musik tradisional (seperti gendang panjang dan gong) dan vokal.

1.4.2 Teori

Teori adalah salah satu acuan yang digunakan untuk menjawab masalah-masalah yang timbul dalam tulisan ini. Dengan pengetahuan yang diperoleh dari buku-buku, dokumen-dokumen serta pengalaman kita sendiri merupakan landasan dari pemikiran untuk memperoleh suatu teori-teori.

Untuk menggambarkan makna yang terkandung pada pertunjukan tari persembahan, penulis menggunakan pendekatan yang dikatakan Soedarsono (1972:81-98) yang mengatakan bahwa tari adalah seni yang memiliki substansi dasar yaitu gerak yang telah diberi bentuk ekspresif dimana gerakan ini memiliki hal-hal yang indah dan menggetarkan perasaan manusia, yang di dalamnya

(11)

mengandung maksud tertentu dan juga mengandung maksud simbolis yang sukar untuk dimengerti.

Dalam tulisan ini penulis akan menggunakan lambang - lambang umum, pola lantai dan sederhana yang dapat mewakilkan pola gerak tari persembahan dengan teori kineosiologi. Teori kenesiologi adalah ilmu yang mempelajari gerak. Fokus dari teori kinesiologi ini adalah membahas fungsi dan gerak tubuh.

Dalam meneliti gerak tari ini, penulis akan mendeskripsikan bagaimana struktur dan pola gerakan-gerakan yang terdapat dalam tari persembahan yang nantinya juga penulis akan menggunakan lambang-lambang umum dan sederhana yang penulis buat sendiri yang dapat mewakili pola gerak tari persembahan.

Penyusunan gerak dalam seni tari, gerak dari masing-masing penari maupun dari kelompok penari bersama, ditambah dengan penyesuaiannya dengan ruang, sinar, warna, dan seni sastranya, kesemuanya merupakan suatu pengorganisasian seni tari yang disebut koreografi (Djelantik, 1990:23).

Hubungan musik dan tari adalah suatu fenomena yang berbeda tetapi dapat juga digabungkan dengan aspek yang mendukung. Musik merupakan rangkaian ritme dan nada sedangkan tarian adalah rangkaian gerak, ritme dan ruang, dimana fenomena keduanya merupakan suatu yang berlawanan, yang mana musik merupakan fenomena yang terdengar tapi tidak terlihat dan tarian merupakan fenomena yang terlihat tapi tidak terdengar (Wimbrayardi 1999:9-10).

Untuk melakukan analisis musikal terhadap tari penulis menggunakan teori yang diungkapkan Nettl (1964:145) dalam menganalisis bunyi musikal hal - hal yang terpenting dilakukan adalah melihat aspek ritem, melodi dan musik. Kemudian Malm (1977:15), menyebutkan bahwa beberapa bagian penting yang harus diperhatikan dalam menganalisis melodi adalah : 1. Tangga nada 2. Nada

(12)

pusat 3. Wilayah nada 4. Jumlah nada 5. Penggunaan interval 6. Pola kadensa 7. Formula melodi 8. Kantur.

Untuk menotasi musik, penulis akan berpedoman pada tulisan Seeger (1971:24-34) yang mengemukakan bahwa ada dua jenis notasi, yang dibedakan menurut tujuan notasi tersebut. Pertama adalah notasi perskriptif yaitu notasi yang bertujuan untuk seorang penyaji (bagaiman ia harus menyajikan sebuah komposisi dari musik), selanjutnya disebutkan bahwa notasi ini merupakan suatu alat untuk membantu mengingat. Kedua adalah notasi deskriptif yakni, notasi yang bertujuan untuk menyampaikan kepada pembaca ciri-ciri dan detail-detail dari komposisi musik yang memang belum diketahui oleh pembaca.

Menurut penulis teori-teori dengan pendekatan para ahli tersebut di atas sangat relevan dengan topik permasalahan dalam tulisan ini, oleh karena itu penulis akan menggunakannya sebagai landasan kerangka berfikir untuk pembahasan selanjutnya.

1.5 Metode Penelitian

Metode penelitian yang penulis gunakan dalam menulis kesenian tari persembahan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian yang bersifat deskriptif, bertujuan menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala, kelompok tertentu, untuk menentukan frekuensi penyebaran suatu gejala atau frekuensi adanya hubungan tertentu antara suatu gejala dan gejala lain dalam masyarakat. Dalam hal ini tergantung dari sedikit banyaknya pengetahuan tentang masalah yang bersangkutan (Koentjaraningrat, 1991:29), sedangkan menurut R.M Soedarsono (1999:46) penelitian kualitatif data-data hasil penelitian harus dicermati dengan cermat dan di analisa.

(13)

Dalam KBBI (1985:7), metode penelitian diartikan sebagai cara mencari kebenaran dan azas-azas alam, masyarakat atau kemanusiaan yang bersangkutan. Dalam kaitan ini Hasan (1985:7) mengatakan metode merupakan cara atau sistematika kerja untuk memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.

Bahan ataupun data penelitian dapat diperoleh dari tulisan-tulisan atau ceramah yang terekam dalam konteks yang berbeda-beda, bisa dari observasi, berita surat kabar dan sebagainya. Salah satu sifat dari data kualitatif adalah data ini merupakan data yang memiliki kandungan yang kaya, yang multi dimensional dan kompleks. Penelitian ini tidak dipersoalkan sampel dan populasi sebagaimana dalam penelitian kuantitatif.

Untuk melakukan penelitian tentang tari persembahan beserta musik pengiringnya, penulis mengacu pada pendapat Nettl (1964:62). Ada dua cara yaitu kerja lapangan (field work) dan kerja laboratorium (desk work). Dalam penelitian lapangan penulis langsung berinteraksi dengan masyarakat pendukung yang menjadi pelaku/penyaji kesenian tari persembahan.

1.5.1 Studi Kepustakaan

Untuk mencari tulisan-tulisan pendukung, sebagai kerangka landasan berfikir dalam tulisan ini, adapun yang dilakukan adalah studi kepustakaan. Menurut M.Nazir dalam bukunya yang berjudul ‘Metode Penelitian’ mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan :“Studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku,

(14)

litertur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan.” (Nazir,1988:111).Studi Kepustakaan yaitu mengadakan penelitian dengan cara mempelajari dan membaca literatur-literatur yang ada hubungannya dengan permasalahan yang menjadi obyek penelitian.Sumber bacaan atau literatur itu dapat berasal dari penelitian yang sudah pernah dilakukan sebelumnya dalam bentuk buku, skripsi dan berbagai jurnal.

Pentingnya studi kepustakaan ini dilakukan adalah sebagai pedoman untuk menuntun penulis dalam mengumpulkan data-data maupun dalam melakukan pembahasan mengenai objek yang akan diteliti.

1.5.2 Penelitian Lapangan

Penelitian lapangan penulis lakukan dengan turun secara langsung ke lapangan untuk melakukan penelitian. Dalam kerja lapangan penulis melakukan pengamatan, wawancara dan perekaman/pencatatan data. Selain itu penulis juga melaksanakan interaksi dengan para informan, masyarakat setempat dan seniman setempat yang mendukung mudahnya pelaksanaan penelitian. Sehingga dalam pengamatan, penulis dapat dikategorikan melakukan pengamatan terlibat, dimana berinteraksi langsung dengan objek penelitian. Namun tetap menjaga etika sebagai seorang peneliti dan bertindak sebagai outsider terhadap objek penelitian.Sebagai acuan dalam mengumpulkan data di lapangan, penulis berpedoman kepada tulisan Harja W. Bachtiar dan Koentjaraningrat dalam buku

Metode-metodepenelitian masyarakat. Dalam buku ini tersebut dikatakan, bahwa

pengumpulan datadilakukan melalui kerja lapangan (field work) dengan menggunakan:

(15)

1. Observasi atau pengamatan, dapat berarti setiap kegiatan untuk melakukan pengukuran dengan menggunakan indera penglihatan, yang juga berarti tidak melakukan pertanyaan-pertanyaan. Dalam mengumpulkan data salah satu tekhnik yang cukup baik untuk diterapkan adalah pengamatan secara langsung/observasi terhadap subjek yang akan diteliti.Dalam hal ini penulis mengadakan observasi/pengamatan secara langung tari persembahan untuk menyambut Bupati Siak saat disajikan pada acara Lomba Syair berpasangan dalam rangkaian festival siak bermadah ke XII tahun 2015 pada hari Sabtu, 7 Maret yang bertempat di panggung Siak Bermadah diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga.

2. Wawancara. Salah satu teknik pengumpulan data dalam penelitian adalah teknik wawancara, yaitu mendapatkan informasi dengan bertanya secara langsung kepada subjek penelitian. Sebagai modal awal penulis berpedoman pada pendapat Koentjaraningrat (1981:136) yang mengatakan: “Kegiatan wawancara secara umum dapat dibagi tiga kelompok yaitu: persiapan wawancara, tekhnik bertanya dan pencatatan data hasil wawancara.”Koentjaraningrat (1981:139) juga menemukakan bahwa wawancara itu sendiri terdiri dari beberapa bagian yaitu:Wawancara terfokus, bebas dan sambil lalu. Dalam wawancara berfokus diskusi berpusat pada pokok permasalahan. Dalam wawancara bebas diskusi berlangsung dari satu masalah kemasalah lain tetapi tetap menyangkut pada pokok permasalahan.

(16)

Wawancara sambil lalu adalah diskusi - diskusi yang dilakukan untuk menambah/melengkapi data yang sudah terkumpul.

Sesuai dengan pendapat dari Koentjaraningrat mengenai kegiatan wawancara maka sebelum wawancara penulis telah mempersiapkan hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan wawancara demi kelancarannya seperti alat tulis daftar pertanyaan dan handphone untuk merekam. Tekhnik bertanya penulis kemukakan berdasarkan daftar pertanyaan. Pencatatan hasil wawancara penulis lakukan begitu mendapat jawaban dan yang tidak sempat dicatat masih bisa didengarkan dari hasil rekaman. Wawancara penulis lakukan dengan beberapa orang yang menjadi populasi penelitian yaitu:1. Wawancara dengan Puan Dra. Hj. Tengku Rahimah, beliau adalah sebagai instruktur tari persembahan yang telah dibakukan. Hal ini juga bertujuan untuk mendapatkan informasi dan data mengenai tari persembahan.2. Wawancara dengan Ayi sebagai salah satu pelatih dan pemain musik Melayu yang bertujuan untuk memberikan informasi dan data mengenai tari persembahan. 3. Wawancara dengan Mimi sebagai penari sekaligus pelatih.Pada saat proses wawancara berlangsung penulis menerapkan metode wawancara bebas. Dimana pertanyaan-pertanyaan yang penulis ajukan kepada informan berlangsung dari satu masalah ke masalah yang lain tetapi tidak keluar dari topik permasalahan. Data-data dari hasil wawancara tersebut penulis rekam dengan handpone.

3. Perekaman, dalam hal ini penulis melakukan perekaman dengan 2 cara, yaitu: (a) perekaman yang penulis lakukan yaitu perekaman audio

(17)

dengan menggunakanhandphone Sony Xperia J. Perekaman ini sebagai bahan analisis tekstual dan musikal. (b) Untuk mendapatkan dokumentasi dalam bentuk gambar digunakan kamera digital merk Samsung. Pengambilan gambar dilakukansetelah terlebih dahulu mendapat izin dari pihak pelaksana dan pihak yang bersangkutan.

1.5.3 Kerja Laboratorium

Semua data yang telah diperoleh dari penelitian lapangan dan studi kepustakaan akan dianalisis. Untuk selanjutnya akan diadakan penyeleksian agar menghasilkan suatu tulisan yang baik dalam melakukan penelitian. Ketika penulis terbentur pada masalah kekurangan data-data, maka untuk mengatasi hal tersebut penulis mengadakan evaluasi ulang dan terkadang penulis juga melakukan wawancara dengan pengamatan ulang untuk memperoleh data yang lebih akurat.Dalam kerja laboratorium, hasil rekaman juga didengarkan secara berulang-ulang, kemudian dicatat untuk selanjutnya diklasifikasikan.

1.6 Pemilihan Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian berada di dua tempat yaitu Kota Pekanbaru dan Siak. Adapun alasan penulis memilih daerah tersebut karena informan yang menjadi sumber informasi penting karena informan adalah salah satu yang menyusun tari persembahan yang dibakukan. Sedangkan di Siak penulis langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung tari persembahan yang di sajikan secara langsung oleh sebuah sanggar.

Referensi

Dokumen terkait

Mengingat luasnya pembahasan tentang pembangunan ekonomi daerah dan Provinsi Nusa Tenggara Barat terdiri dari 2 pulau besar yaitu Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok serta

Masa Kemerdekaan dan Perjuangan untuk Mempertahankan Kemerdekaan dimulai dari tahun 1945-1949, diwarnai dengan pengisian perlengkapan sebagai negara merdeka dan

a) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. b) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran. c) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan

Secara umum kewenangan Presiden berdasarkan UUD 1945 terbagi atas beberapa kewenangan seperti: (a) kewenangan yang bersifat eksekutif atau kewenangan dalam

Seperti yang telah dijabarkan sebelumnya bahwa ketika masa penjajahan Belanda dan pada masa Orde Baru, pondok pesantren dilarang untuk berhubungan dengan politik maka

Naskah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 dan diberlakukan kembali dengan Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli

Naskah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 dan diberlakukan kembali dengan Dekrit Presiden pada

Perempuan middle-age yang berolahraga dikarenakan factor yang berasal dari luar dirinya yaitu motivasi ekstrinsik yang didasarkan oleh outcomes, ketika mereka merasa