14
BAB II
LANDASAN TEORI
Bagian kedua dalam penelitian ini merupakan ladasan teoritik yang akan dikemukan dan digunakan sebagai pendukung dalam menganalisa data. Teori-teori yang ada akan dikonseptualkan untuk membantu mendeskripsikan dan menganalisa data penelitian.
A. Konseling Multikultural
Dalam dunia konseling ada dua cara merespon multikulturalisme yakni pendekatan konseling yang bersifat monokultural. Pendekatan konseling yang didesain dan digunakan dalam konteks masyarakat Barat. Kemudian tahun 1960 dan 1970-an, konseling hadir dan bereaksi terhadap tekanan politik, legislatif, dan personal yang bersumber dari gerakan persamaan kesempatan dan seputar rasisme serta membangun kesadaran terhadap isu kultur dalam pendidikan dan praksis konseling. Fase ini kemudian melahirkan banyak literatur dalam bidang konseling dan psikoterapi terhadap isu budaya, silang budaya, transkultural, interkultural. Merupakan usaha memasukan dimensi budaya dalam ruang konseling. Respon kedua ini muncul dari kesadaran akan perbedaan kultur dalam konseling yang menempatkan konsep kultur sebagai citra person-nya.1
Konseling berasal dari Bahasa Inggris to counsel yang berarti memberi arahan dan memberi nasehat. Tokoh yang melakukan proses konseling disebut konselor.
1
John Mcleod, Pengantar Konseling: Teori dan Studi Kasus, (Jakarta: Kencana, 2010), 273-290.
15
Dalam pemahaman ini maka dalam proses konseling menempatkan konselor ke dalam relasi bersama dengan konseli. Selanjutnya proses konseling hanya dapat dibangun jika konselor menganggap konseli itu sangat berharga bukan sekedar dikasihani tetapi dicintai. Sehingga dalam proses konseling dimana terciptanya relasi atau hubungan yang harmonis orang dimungkinkan dapat mengalami kedamaian dan kebahagaiaan.2 Kedamaian dan kebahagiaan yang tercipta, akan menumbuhkan rasa saling menghargai terhadap diri sendiri tetapi juga kepada orang lain. Dengan demikian akan terbuka hubungan atau relasi yang luas dan mendalam dengan orang lain yakni dengan menempatkan diri kita pada perasaan orang lain kita dapat mengetahui apa yang sedang digumuli. Dalam proses konseling yang dibangun oleh konselor dan konseli harus berdasarkan kasih agar dapat tercipta komunikasi yang baik dan juga menumbuhkan nilai spiritual.3 Dalam membangun suatu hubungan konseling membutuhkan empati dasar. Kata empati berasal dari bahasa Yunani yakni
em dan pathos yang berarti perasaan yang mendalam untuk memahami dunia orang
lain. Seseorang harus memasuki dunia perasaan orang lain tanpa harus meninggalkan perasaannya. Dalam hal ini seseorang harus masuk ke dalam perasaan orang lain untuk memberikan penilaian dan memahaminya dalam persepsi orang tersebut. Empati memungkinkan orang bukan hanya dapat mengenal, memahami, dan merasakan orang lain dalam masalahnya, serta seperasaan dengan mereka.4
2
J. D. Engel, Konseling suatu Fungsi Pastoral, (Salatiga: Tisara Grafika, 2007), 1.
3
J. D. Engel, Konseling suatu Fungsi Pastoral,2
4
J. D. Engel, Pastoral dan Kebutuhan Dasar Konseling, (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2016), 49-60
16
Pengertian yang lain diungkapkan oleh McLeod mengenai konseling. Konseling merupakan bentuk pertolongan yang terfokus pada kebutuhan dan tujuan seseorang. Defenisi konseling yang dikemukakan oleh Mcleod berorientasi pada pengguna. Mcleod berpendapat bahwa defenisi konseling dapat dipahami dari orientasi sosial dan perspektif yang berpusat pada pengguna. Maksudnya adalah bahwa proses konseling hanya dapat terjadi jika orang yang mencari pertolongan (klien) menginginkannya. Dengan demikian proses konseling akan terjadi oleh karena klien mengundang dan memberikan kebebasan kepada orang lain memasuki hubungan tertentu dengan mereka.5
Mcleod menampilkan beberapa poin penting berkaitan dengan konseling yang berorientasi pada pengguna; pertama, konseling adalah suatu aktivitas yang muncul ketika seseorang yang bermasalah mengundang dan mengizinkan orang lain untuk masuk kedalam hubungan tertentu. Kedua, seseorang mencari hubungan jenis ini jika menemukan masalah atau problem dalm kehidupan yang tidak dapat mereka pecahkan dengan sumber daya keseharian mereka, serta hal tersebut membuat mereka terasing dari aspek kehidupan sosial. Ketiga, seseorang yang membutuhkan konseling mengundang orang lain untuk menyediakan ruang dan waktu untuknya. Proses ini ditandai dengan izin untuk berbicara, menghargai perbedaan, kerahasiaan, dan afirmasi. Keempat, izin untuk berbicara yang dimaksudkan adalah memberikan tempat bagi klien untuk dapat menceritakan kisah mereka, tempat dimana mereka disemangati untuk menyuarakan pengalaman mereka yang dipendam, dalam jangka
5
17
waktu dan cara yang mereka tentukan, termasuk pengeksplorasian perasaan dan emosi.6
Kelima, penghargaan terhadap perbedaan yakni konselor harus menempatkan diri mereka sejauh mungkin dari isu klien, dan juga keinginan mereka agar konselor dapat memfokuskan pemikiran untuk menolong klien sehingga klien dapat mengartikulasikan dan bertindak sesuai dengan nilai yang ada dalam dunia klien. Keenam, kerahasiaan merupakan tugas konselor agar tidak menyampaikan segala yang dibicarakan oleh klien kepada orang lain yang ada dalam dunia klien. Ketujuh, afirmasi yakni konselor melaksanakan hubungan yang mengekspresikan nilai inti seperti kejujuran, integitas, perhatian, keyakinan akan nilai-nilai individual, komitmen untuk berdialog dan kolaborasi, refleksivitas, pribadi yang interdependen, dan perasaan sehat.7
Berdasarkan pemikiran beberapa para ahli mengenai konseling maka dapat disimpulkan bahwa konseling merupakan proses percakapan yang mendalam yang terjadi diantara konselor dan kliennya. Percakapan ini dilakukan berdasarkan kasih agar klien dapat mengalami kedamaian dalam berelasi dengan orang lain maupun dalam memahami dirinya sendiri. Percakapan konseling yang dilakukan terfukus pada kebutuhan, tujuan, dan orientasi sosial klien. Percakapan ini akan berlangsung jika klien memberikan kebebasan kepada konselor agar dapat melakukan proses konseling. Penjelasan ini mengarah kepada proses konseling yang berfokus pada klien. Oleh karena konseling yang berfokus pada klien maka beberapa poin yang
6
John Mcleod, Pengantar Konseling, 16, 17. 7
18
disebutkan di atas mengenai konseling yang berpusat pada klien dapat mempresentasikan dukungan, refleksi, dan pembaharuan dalam masyarakat. Dalam area ini, konselor dan klien bersama-sama menggunakan sumber kultur yang didapat (percakapan, ide, teori, ritual, langkah-langkah yang logis dalam pemecahan masalah, wacana, dan teknologi) untuk mendapatkan pemecahan masalah kehidupan yang mencetuskan keputusan untuk melakukan konseling. Proses konseling yang dapat menolong klien dengan memperhatikan serta memahami klien dari sudut pandang klien tanpa harus meninggalkan sudut pandang konselor agar dapat menemukan langkah pemecahan masalah maka konselor sedang melakukan proses empati dalam proses konseling. Sebab dengan berempati seorang konselor dapat menggunakan unsur kultur yang dalam ada di dunia klien agar dapat menemukan langkah-langkah yang logis dalam pemecahan masalah serta klien dapat dipulihkan dari kondisi yang sebelumnya.
Praktik konseling sangat beragam. Konseling dapat dilakukan dengan bertatap muka, dalam grup, dengan pasangan dan keluarga, lewat telepon, serta melalui materi tertulis seperti buku dan panduan mandiri. Konseling harus memiliki korelasi dengan bidang-bidang yang lain. Menurut Mcleod, konseling bukan hanya proses pembelajaran individual tetapi juga merupakan aktivitas sosial yang memiliki makna sosial. Konseling juga merupakan persetujuan kultur maksudnya adalah cara untuk menumbuhkan kemampuan untuk beradaptasi dengan institusi sosial.8 Mcleod menjelaskan beberapa tujuan konseling. Semua tujuan ini dalam praktiknya tidak dapat melengkapi semua tujuan konseling akan tetapi melengkapi beberapa tujuan
8
19
sesuai dengan tujuan masing-masing konselor. Tujuan konseling yang dijelaskan Mcleod antara lain:9
a. Pemahaman. Mengarah kepada peningkatan kapasitas untuk memilih kontrol rasional dari pada perasaan dan tindakan.
b. Berhubungan dengan orang lain. Menjadi lebih mampu membentuk dan mempertahankan hubungan yang bermakna dan memuaskan dengan orang lain. c. Kesadaran diri. Menjadi lebih peka terhadap pemikiran dan perasaan yang
selama ini ditahan dan ditolak, atau mengembangkan perasaan yang lebih akurat berkenan dengan bagaimana penerimaan orang lain terhadap diri.
d. Penerimaan diri. Pengembangan sikap positif terhadap diri yang ditandai dengan kemapuan menjelaskan pengalaman yang menjadi kritik diri dan penolakan. e. Aktualisasi diri atau individuasi. Pergerakan kearah pemenuhan potensi diri atau
penerimaan integrasi diri yang sebelumnya saling bertentangan.
f. Pencerahan. Membantu klien mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi. g. Pemecahan masalah. Menemukan pemecahan masalah tertentu yang tak bisa
dipecahkan oleh klien seorang diri.
h. Pendidikan psikologi. Membuat klien mampu menangkap ide dan teknik untuk memahami dan mengontrol tingkah laku.
i. Memiliki ketrampilan sosial. Mempelajari dan menguasai ketrampilan sosial dan interpersonal. Seperti mempertahankan kontak mata, tidak menyela pembicaraan, asertif atau pengendalian kemarahan.
9
20
j. Perubahan kognitif. Modifikasi atau mengganti kepercayaan yang tak rasional atau pemikiran yang tidak dapat diadaptasi.
k. Perubahan tingkah laku. Meodifikasi atau mengganti pola tingkah laku yang merusak.
l. Perubahan sistem. Memperkenalkan perubahan dengan cara beroperasinya sistem sosial.
m. Penguatan. Berkaitan dengan keterampilan, kesadaran, dan pengetahuan yang akan membuat klien mengontrol kehidupannya.
n. Restitusi. Membantu klien membuat perubahan kecil terhadap perilaku yang merusak.
o. Reproduksi dan aksi sosial. Menginspirasi dalam diri seseorang hasrat dan kapasitas untuk peduli terhadap orang lain, membagi pengetahuan, dan mengkontribusi kebaikan bersama melalui kesepakatan politik dan kerja komunitas.
Beberapa tujuan yang dikemukan diatas mengarah kepada proses konseling yang berfokus pada klien sebagai individu yakni individu yang memahami dirinya, memiliki kesadaran diri, penerimaan diri, aktualisasi diri, individu yang dapat memecahkan masalahnya, serta individu yang mengontrol tingkah lakunya. Selain itu individu yang merupakan bagian dari kehidupan sosial yakni individu yang memiliki ketrampilan sosial, individu yang memiliki perubahan berpikir serta tindakan, individu yang peduli terhadap orang lain, serta individu yang dapat bekerjasama dengan orang lain atau komunitasnya.
21
Konseling merupakan suatu rangkaian proses yang memiliki hasil akhir. Mcleod menjelaskan ada tiga kategori hasil akhir konseling yakni resolusi, belajar, dan inklusi sosial. Pertama, Resolusi terhadap masalah sumber dalam hidup. Resolusi mencakup pencapaian pemahaman atau perspektif terhadap masalah tersebut, mencapai penerimaan pribadi terhadap permasalahan, dan mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang merupakan sumber permasalahan. Kedua, belajar mengikuti konseling agar mendapat pemahaman, keterampilan, dan strategi baru yang membuat diri mereka dapat menangani masalah serupa dimasa yang akan datang. Ketiga, inklusi sosial konseling memberikan energi dan kapasitas personal sebagai seorang yang dapat memberikan kontribusi terhadap makhluk lain dan kepentingan sosial.10
Pendekatan konseling yang ditawarkan oleh Mcleod merupakan konseling yang dipahami dalam konteks sosial dan kultur. Maksudnya adalah klien dan konselor merupakan peran sosial dan metode yang digunakan dalam proses konseling menjelaskan tujuan serta kerja konseling yang dibentuk oleh kultur di mana mereka hidup.11 Masyarakat pada hakekatnya memiliki identitas kultur yang sangat berperan penting dalam pembentukan pribadi maupun kelompok. Pendekatan multikultural menurut Pedersen, berawal dari posisi yang menyatakan bahwa keanggotaan dari kultur atau beberapa kultur merupakan salah satu pengaruh paling penting terhadap perkembangan identitas seseorang, sehingga masalah emosional dan perilaku yang dibawah oleh seseorang dalam ruang konseling bisa jadi merupakan cerminan bagaimana hubungan, moral, dan pemahaman terhadap “hidup yang nyaman”
10
John Mcleod, Pengantar Konseling, 17,18. 11
22
dipahami dan didefenisikan dalam kultur (atau beberapa kultur) tempat di mana seseorang hidup.12
Pemahaman ini sejajar dengan defenisi multikultural menurut Parekh yang menjelaskan masyarakat multikultural merupakan sebuah masyarakat yang meliputi dua kultur atau lebih komuninat kulturnya. Istilah multikultural mengacu pada kenyataan akan keanekaragaman kultur.13 Multikulturalisme dilihat sebagai sebuah perspektif tentang kehidupan manusia. Pemahaman ini didasarkan pada tiga wawasan yakni pertama, manusia secara kultur diletakan dalam posisi bahwa mereka tumbuh dan hidup dalam dunia yang terstruktur secara kultur, mengorganisasikan kehidupan dan hubungan-hubungan sosial menurut sistem makna, memposisikan nilai yang besar tentang identitas kultur mereka. Kedua, kebudayaan-kebudayaan yang berbeda mencerminkan sistem makna dan pandangan tentang jalan hidup yang baik. Ketiga, semua kebudayaan kecuali yang paling primitif secara internal bersifat majemuk dan mencerminkan sebuah percakapan berkelanjutan antara tradisi dan rangkaian gagasan mereka yang berbeda-beda.14
Pemahaman tentang apa yang dimaksudkan dengan kultur menjadi bagian awal sebelum memahami lebih dalam mengenai konseling multikultural. Kultur dipahami sebagai cara hidup seseorang atau sekelompok orang. Dalam riset antropologi sosial, bersikap adil terhadap kompleksifitas kultur hanya dimungkinkan jika hidup di dalamnya selama waktu tertentu, dan melaksanakan observasi yang
12
Pederson dalam John Mcleod, Pengantar Konseling, 274
13
Bhikhu Parekh, Rethinking Multicuturalism; Keberagaman Budaya dan Teori Politik, ( Yogyakarta: Kanisius, 2008), 17,18.
14
23
sistematis terhadap masyarakat yang hidup di dalam kultur yakni dengan mengenal dunia mereka melalui cara hubungan darah, ritual, mitologi, dan bahasa. Kultur menurut Clifford Geertz, dapat dipahami sebagai:
Pola makna yang tertanam dalam simbol dan ditransmisikan secara historis, sebuah sistem konsepsi turunan yang diekspresikan dalam bentuk simbolik yang digunakan (orang-orang) untuk berkomunikasi, bertahan hidup, dan mengembangakan pengetahuan mereka tentang hidup dan sikap terhadapnya.15
Menurutnya, memahami kultur atau cara hidup sekelompok orang hanya dapat dilakukan dengan mencoba memahami apa yang ada dalam kultur tersebut, makna, konsep turunan yang disimbolkan dalam dan diekspresikan dalam perilaku yang bergerak dari dalam ke luar. Kultur merupakan tempat eksistensi seseorang sehingga sulit dipahami oleh konselor sebab kultur seseorang sangat kompleks. Konseling terjadi dalam dunia konselor. dengan demikian seorang konselor harus peka, dan rendah diri berkenan tingkat kemungkinan memasuki realitas kultur yang dipendam oleh klien. Falicov mengatakan, Inti dari konseling multikultural adalah sensitivitas terhadap berbagai cara yang memungkinkan berbagai fungsi kultur dan interaksi terlebur mejadi kepedulian tentang pengalaman kultur orang lain.16
Pemahaman tentang kultur yang dimasukan dalam ruang konseling memberikan penjelasan bahwa kultur dari seseorang atau kelompok sangat berperan penting dalam menjelaskan relasi seseorang dengan lingkungannya. Dalam hal ini emosi dan perilaku individu dapat dipahami dalam kultur yang membentuknya. Sehingga dalam proses konseling, konselor harus memahami kultur klien yakni
15
Clifford Geertz dalam John Mcleod, Pengantar Konseling, 274
16
24
memahami cara hidup, makna, dan nilai-nilai yang terkandung didalam kultur klien. Agar dapat memahami kultur klien, konselor harus hidup di dalam kultur klien, peka terhadap kultur klien, serta mengamati kultur klien sebab didalam kultur klien terdapat ekspresi emosi, tindakan, cara berkomunikasi, cara bertahan hidup, serta mengetahui nilai-nilai yang terdapat didalam kultur klien.
Karakteristik identitas kultur dalam konseling multikultural yang menjadi asumsi dasar meliputi bagaimana realitas dipahami, konsep diri, konstruksi moral, konsep waktu, dan juga perasaan akan tanah air. Kelima asumsi ini akan menjadi dasar agar dapat memahi klien yang memiliki identitas kultur. Selain itu klien juga dapat diamati secara eksternal dengan memperhatikan dimensi interpersonal dan kehidupan sosial. Dimensi interpersonal itu meliputi prilaku nonverbal, kontak mata, jarak, gerakan tubuh, sentuhan, penggunaan bahasa, pola hubungan darah dan hubungan antar sesama, hubungan gender, ekspresi emosi, serta peran teori penyembuhan. Dalam konseling multikultural, karakteristik identitas kultur dan dimensi interpersonal mempresentasikan dunia klien yang dapat dieksplorasi agar dapat terbangun sebuah dunia klien dan konselor yang bersifat mutual dan saling membantu.
1. Aspek Kultur Dasar dalam Konseling Multikultural 1.1 Konsep Realitas
Memahami orang-orang dari kultur yang berbeda tentu memiliki ide yang berbeda tentang realitas. Realitas yang dipahami misalnya dualistik atau holistik. Dalam kultur Barat, yang memahami realitas bersifat dualistik yang membagi dunia dalam dua tipe entitas: jiwa dan tubuh. Jiwa terdiri dari ide, konsep, dan pikiran.
25
Sedangkan tubuh bersifat nyata, dapat diamati, dan berkembang dalam ruang. Realitas dualisme berdampak pada peningkatan pemisahan antara diri dan objek, atau diri dan yang lain. Diri dikaitkan dengan jiwa dan dirancang di luar serta jauh dari dunia luar. Dunia luar yang dimaksud adalah dunia segala sesuatu atau orang lain. orang-orang selain dunia Barat menganggap dunia sebagai sebuah kesatuan.misalnya Buddhisme, Hinduisme, dan agama dunia lain yang memahami bentuk fisik, mental, dan spiritual sebagai aspek atau sisi dari satu realitas tunggal, bukan sebagai domain yang terpisah.17
Pemahaman seseorang terhadap realitas dapat ditemukan dalam ruang konseling. Berbagai elemen kunci dalam konseling, kata yang digunakan oleh seseorang dalam mengekspresikan dan mendeskripsikan masalah memberikan sudut pandang mendasar, implisit, dan filosofis dari sebuah kultur terhadap apa yang dimilikmi individu. Konsep penyembuhan dengan menggunakan kultur tergantung pada realitas yang dualistik atau holistik. Kultur dualis masyarakat Barat, membicarakan masalah yang ada saja akan memasukkannya ke penanganan mental. Kultur yang terdiri dari kesatuan jiwa, raga, dan roh, praktek penyembuhannya akan menghadapkan seseorang kepada ketiga hal itu misalnya meditasi, latihan, dan diet.18 1.2. Memahami Diri
Memahami diri menjadi seseorang sangat bervariasi dari satu kultur dengan kultur yang lain berbeda. Diri menurut Landrine (1992),19 self adalah inner thing (sisi dalam diri sesuatu) atau daerah pengalaman diri yang berdiri sendiri dan lengkap dari
17
John Mcleod, Pengantar Konseling, 277.
18
John Mcleod, Pengantar Konselin, 277. 19
26
kultur Barat, diyakini sebagai peletak dasar, pembuat, dan pengontrol perilaku. Landrine menabrakan konsep diri kultur Barat dengan pengalaman diri indexical dalm kultur non-Barat:
Diri dalam kultur ini bukanlah entitas yang eksis secara indenpenden dari hubungan dan konteks tempatnya diinterpretasikan. Sang diri diciptakan kembali dalam interaksi dan konteks, dan hanya eksis di dalam dan melalui hal tersebut.
Selain itu dalam konsep memahami diri terdapat pendekatan individualis dan pendekatan kolektif. Kedua pendekatan ini tentunya memiliki perbedaan. Pendekatan individualis yang mendominasi kultur Barat dan juga pendekatan kolektif merupakan bagian dari kultur tradisional. Orang dengan pendekatan kolektif senang menganggap dirinya sebagai anggota dari keluarga, suku, atau kelompok sosial lain dan membuat keputusan berdasarkan kebutuhan, nilai, dan prioritas jaringan sosial ini. kultur individualis menekankan pada perasaan bersalah, merujuk pada pengalaman batin, dan penyalahan diri. Orang dengan kultur kolektif lebih senang berbicara mengenai rasa malu, merujuk pada situasi dimana mereka tertangkap basa oleh orang yang berkuasa. Akan sangat sulit untuk memahami orang lain yang ada dalam dua pendekatan yang berbeda.
1.3 Konstruksi moral
Membuat pilihan moral, memutuskan yang benar dan salah adalah inti kehidupan. Akan tetapi membuat pilihan moral ada dan dipengaruhi oleh kultur. Moralitas Barat yakin dengan pilihan dan tanggung jawab individu dan kemauan untuk dibimbing oleh prinsip moral yang abstrak seperti keadilan atau kejujuran. Sedangkan kultur tradisional isu moral sangat ditentukan oleh takdir misalnya karma.
27
Ajaran dan prinsip moral tertanam dalam cerita bukan diartikulasi dalam konsep abstrak. Perbedaan antara memilih (kultur Barat) dan takdir (kultur tradisional) sangat berpengaruh dalam konseling. Nilai moral dalam kultur individual cendrung menghadirkan nilai seperti pencapaian, otonomi, indenpenden, dan rasionalitas. Sedangkan kultur kolektivis lebih menekankan pada nilai sosiabilitas, pengorbanan, dan kesesuaian.20
1.4 Konsep waktu
Dari perspektif person dan kelompok sosial, waktu adalah salah satu elemen tempat cara hidup dan hubungan terbentuk. Salah satu ciri masyarakat industrial modern adalah berorientasi pada masa depan. Masa lalu dilupakan dan dihancurkan. Cerita yang diterima oleh keluarga atau komunitas di masa lalu, bertahan ditingkat yang paling rendah. Masa lalu diartikan sebagai warisan. Sebaliknya, masyarakat tradisional dan kolektif didominasi oleh orientasi masa lalu. Terdapat kesinambungan antara cerita di masa lalu dan sekarang dengan mengkhayalkan para nenek moyang hadir dan berkomunikasi dengan yang masih hidup. Konsep maju dalam masyarakat modern sangat berperan penting sehingga sesuatu yang berhubungan dengan praktek, gaya hidup oleh generasi sebelum dianggap ketinggalan jaman dan using. Sedangkan kultur tradisional, konsep maju dapat dianggap sebagai satu ancaman. Bentuk komunikasi dan penyimpangan informasi dalam berbagai pengaturan kultur juga berpengaruh terhadap pengalaman menjalani waktu. Konstruksi waktu dalam pengaturan kultur yang berbeda dapat menimbulkan konsekuensi praksis yang dominan maksudnya dalam masyarakat dengan kultur ketepatan waktu, memberikan
20
28
perjanjian dengan menggunakan ketepatan waktu dan durasi adalah hal yang rasional sedangkan bagi kultur yang lain, hal ini tampak tidak rasional klien akan menemui konselor apabila mereka sudah siap untuk tujuan konseling.
1.5 Nilai penting tempat
Dimensi kultur yang paling akhir adalah hubungan antara kultur dengan lingkungan fisik. Dalam masyarakat modern sebagian besar ikatan antara orang dengan tempat telah putus. Mobilisasi sosial dan geografis adalah hal yang umum. Masih ada penghargaan terhadap tempat dalam kultur modern akan tetapi penghargaan itu terpisah dari individu. Konselor akan menghadapi berbagai kultur dengan pemahaman yang berbeda juga tentang makna tempat.21
2. Aspek Kultur Diamati Secara Eksternal22
Salah satu aspek perbedaan kultur yang dapat diamati adalah perilaku non-verbal. Kultur dapat diamati dari sinyal non-verbal seseorang seperti sentuhan, kontak mata, gerak tubuh, dan kedekatan. Misalnya, dalam kultur Barat tatap mata secara langsung dianggap sebagai tanda kejujuran dan keterbukaan. Dalam kultur yang lain, tindakan itu dianggap kasar dan intrusif.
Pola perilaku verbal merupakan perbedaan kultur yang dapat diamati. Orang dari kultur Barat cenderung menyampaikan cerita yang berurutan, logis, dan linear. Sedangkan orang dengan klutur yang lain cenderung menyampaikan cerita yang berputar dan tampak tidak akan sampai pada titik tertentu. Kuncinya adalah cara
21
Mcleod, Pengantar Konseling, 279.
22
29
seseorang menyampaikannya, berbicara, bahasa yang digunakan mengkomunikasikan kultur dan identitas mereka.
Karakteristik yang lain yang dapat diamati adalah pola hubungan darah. Cara yang paling penting untuk menggambarkan perbedaan dalam ikatan darah adalah dengan bertanya, hubungan mana yang paling penting bagi anda? Dalam kultur Barat, jawabannya sering kali berhubungan dengan pasangan atau partner hidup. Sedangkan budaya yang lain hubungan yang paling dekat adalah antara orang tua dan anak. Pengaruh gender dalam pembentukan identitas sangat kuat. Identitas dan peran gender dibentuk dengan cara yang berbeda dalam kultur yang berbeda.
Ekspresi emosi adalah salah satu sisi enkulturasi yang sangat penting dalam konseling. Kultur yang berbeda menghasilkan beragam pemahaman terhadap emosi yang diterima dan ekspresi mana yang diizinkan dilakukan dalam depan publik. Caranya adalah dengan mengamati dan memahami bahasa (verbal dan non-verbal) yang digunakan dalam menyampaikan emosi dan perasaan.
Perbedaan kultur yang dapat diamati juga dalam kultur adalah mengenai sikap dan praktik penyembuhan. Setiap kultur memiliki pemahamannya sendiri terhadap keberadaan, sakit, dan penyembuhan. Prilaku penyembuhan yang didasarkan pada pengetahuan ilmiah dan juga prilaku penyembuhan yang didasari oleh keyakinan supranatural.
Nilai dan model identitas kultur yang dimiliki muncul dari fakta kemustahilan seorang konselor untuk mengetahui segala sesuatu yang ada dalam kultur. Ketika seorang konselor berhadapan dengan klien dengan latar belakang kultur yang berbeda, informasinya dapat diperoleh dari klien, membaca, dari anggota kultur, atau
30
dengan tinggal di dalam kultur itu. Dalam memahami kultur tidak hal yang benar atau salah. Semua kultur dapat dipahami sejauh adanya panduan dan kerangka kerja untuk menawarkan cara dalam memahami kompleksitas identitas kultur. Konseling multikultural bukan saja menuntut kemampuan untuk melihat seseorang dalam kerangka kultur akan tetapi mengaplikasikan pemahaman dalam tugas membantu orang dengan permasalahan mereka. Pemahaman terhadap kultur klien dalam proses konseling mengarahkan konselor kepada kepekaan terhadap klien dengan memahami kulturnya. Konselor dapat mengetahui cara memahami realitas klien yang dualistik maupun holistik, cara memahami diri yang bersifat individual atau kolektif, dan cara mengambil keputusan yang dipengaruhi oleh kultur klien. Selain itu konselor memiliki kepekaan terhadap pola perilaku verbal, ekspresi emosi, pola hubungan darah, serta nilai-nilai kultur yang dapat menyembuhkan klien. Kepekaan konselor dalam memahami kultur klien mengarahkan proses konseling kedalam pemahaman bahwa kultur memiliki nilai-nilai kehidupan yang diberlakukan dalam hidup individu dan kelompok. Kultur akan terus diwariskan agar dapat mengontrol kehidupan manusia sehingga manusia dapat menemukan makna dan nilai-nilai yang dapat menolong manusia menjalani hidup. Konseling berlangsung dalam dunia klien untuk itu klien dapat ditolong dengan cara memahami kulturnya yakni cara berpikir dan bertindak klien, sebab cara berpikir dan bertindak individu atau kelompok sangat dipengaruhi oleh kultur.
31
B. Konseling Perdamaian
Konseling perdamaian merupakan konseling yang bekerja untuk mempromosikan penyembuhan dan membangun perdamaian di wilayah yang terganggu oleh perang. Konseling perdamaian hadir untuk mengatasi konsekuensi dari perang yang terjadi yakni hilangnya nyawa, kurangnya kebutuhan dasar, kehilangan dukungan, gangguan sosial, gangguan edukasi, kekerasan fisik, trauma, tekanan emosional, dll. Penekananan penyembuhannya pada individu dan dukungan komunitas. Konseling perdamaian merupakan upaya untuk mengatasi dan sebagai cara untuk membangun kembali dukungan sosial. Pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa di dalam kondisi yang paling buruk, seseorang dapat bertahan, pulih, dan berkembang. Konseling perdamaian memberikan keterampilan hidup yang diperlukan yaitu keterampilan untuk menghasilkan pendapat dan kemampuan komunikasi, memulihkan hubungan, mendorong tanggung jawab, dan menghadirkan toleransi diantara anggota masyarakat. Konseling perdamaian dapat membawa individu maupun kelompok ke dalam proses pengampunan dan rekonsiliasi sebab perdamaian dimulai dalam kehidupan sehari-hari melalui pikiran, perkataan, dan tindakan. Konseling perdamaian menolong individu atau kelompok agar dapat menghadapi masa lalu dan menemukan pemahaman baru untuk membangun perdamaian. individu atau kelompok yang berkonflik diberdayakan secara sadar untuk mengambil keputusan, bukan untuk bereaksi dan melanjutkan siklus kekerasan yang mereka lakukan. Selain itu tugas konseling perdamaian juga adalah membangun
32
kerja sama dalam bidang ekonomi maupun politik sebab untuk membangun perdamaian konseling saja tidak cukup.23
Teori konseling perdamaian yang dipakai dalam landasan teori sangat terbatas karena itu agar dapat meletakan kerangka berpikir mengenai konseling perdamaian penulis menggunakan teori yang dikemukan oleh Jeannie R. Annan, dkk. Penjelasan mengenai konseling perdamaian di atas, didasari atas pandangan bahwa konflik antar individu atau antar kelompok pada dasarnya berhubungan dengan masalah psikologis yang ada pada masing-masing pihak yang berkonflik. Penyelesaian terhadap masalah konflik dapat dibantu dengan proses konseling, sehingga mereka mencapai perdamaian seperti yang diinginkan oleh mereka yang terlibat dalam konflik. Konsep konseling perdamaian dikembangkan untuk mengembangkan sebuah prosedur konseling yang memungkinkan orang berkonflik dapat menyelesaikan masalah psikologis yang dialami dan masalah-masalah yang menjadi sumber penyebab konflik.
C. Perdamaian dan Rekonsiliasi
Perdamaian berasal dari kata damai yang diartikan sebagai suasana tidak adanya permusuhan dan hubungan yang serasi atau harmonis di antara kedua belah pihak. Oleh karena damai yang menunjuk pada sebuah suasana atau keadaan maka perdamaian merupakan proses atau usaha menuju suasana damai itu.24 Perdamaian
23
Jeannie R. Annan, dkk, “ Counseling For Peace In The Midst Of War:
Counselors From Northern Uganda Share Their Views”, International Journal for
the Advancement of Counselling, Vol. 25, No. 4, December 2003, 235-244. 24
N. A. Weny, Tang Pi’u-Wang Solang, Menyambung yang Terputus, Menambal yang
33
dalam pengertian sesungguhnya merupakan ketiadaan kekerasan dalam bentuk langsung atau tidak langsung. 25
Galtung mengartikan perdamaian dalam dua defenisi yakni pertama, perdamaian adalah tidak adanya atau pengurangan kekerasan dalam bentuk apapun. Kedua, perdamaian merupakan tanpa kekerasan dan kreatif mentransformasi konflik. Kedua definisi ini berlaku kerja perdamaian yakni bekerja untuk mengurangi kekerasan dengan cara damai serta studi perdamaian untuk kondisi kerja perdamaian. Definisi pertama berorientasi pada kekerasan dimana perdamaian menjadi negasinya. Sedangkan definisi kedua berorientasi pada konflik dimana perdamaian merupakan konteks konflik yang terungkap tanpa kekerasan dan kreatif. Untuk mengetahui tentang perdamaian kita harus tahu tentang konflik dan bagaimana konflik bisa diubah, baik tanpa kekerasan dan kreatif.26 Konflik menurut Galtung merupakan perselisihan yang terjadi antara dua orang atau aktor yang mengejar tujuan yang sama atau konflik merupakan dilema seseorang atau actor yang mengejar dua tujuan yang tidak sesuai. Perselisihan tersebut dengan mudah mengarah pada upaya untuk menyakiti atau menyakiti actor atau orang yang menghalangi. Dilema tersebut dapat menyebabkan usaha untuk menyangkal sesuatu dalam diri sendiri, dengan kata lain
Pilihan Berteologi Di Indonesia (Salatiga: Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana, 2016),
229. 25
Izak Lattu, Planting the seed of peace. Agama dan pendidikan perdamaian dalam
masyarakat multikultural. Buku Ajar Agama (Salatiga: satya wacana university Press, 2015), 190.
26
Johan Galtung, Peace by Peaceful Means: Peace and Conflict, Development, and Civilization (London and New Dehli: Sage Publication,1996), 9.
34
untuk menghancurkan diri sendiri. Mungkin juga ada Selfdestruction dalam perselisihan (menolak usaha sendiri untuk mencapai tujuan mengelak.27
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka perdamaian dapat didefenisikan sebagai proses menghadirkan damai tanpa melakukan kekerasan langsung maupun tidak langsung. Proses menghadirkan damai menunjuk pada tindakan kreatif individu agar dapat mentransformasi konflik atau perselisihan yakni dengan cara mengetahui konflik, bagaimana konflik dapat diatasi, diubah secara kreatif tanpa menggunkan kekerasan. Dengan demikian perdamaian berarti tidak adanya kekerasan dalam segala bentuk maupun konflik yang berlangsung dengan cara yang konstruktif. Perdamaian ada di dalam interaksi masyarakat tanpa kekerasan serta dapat mengelola konflik mereka secara positif.
Galtung membagi perdamaian dalam dua tipologi yakni perdamaian negatif dan perdamaian positif. Perdamaian negatif diartikan sebagai tidak adanya kekerasan atau tidak adanya perang.28 Perdamaian negatif memerlukan kontrol pemerintah terhadap konflik yang terjadi yakni dengan melakukan pengamanan dan perlindungan oleh aparat keamanan di wilayah-wilayah perbatasan konflik. Strategi yang dipakai untuk menghadirkan damai negatif adalah dengan memisahkan pihak yang berkonflik, sehingga pihak-pihak yang berkonflik tidak saling bertemu satu dengan yang lain. Dengan menghadirkan damai negatif maka pihak yang sedang berkonflik tidak akan
27
Galtung, Peace by Peaceful Means: Peace and Conflict, Development, and Civilization , 70.
28
Temesgen Tilahun, “Johan Galtung’s Concept of Positive and Negative Peace in the
Contemporary Ethiopia: an Appraisal,” International Journal of Political Sciences and Development. Vol 3 No 6, ISSN: 2360-784X (2015): 251.
35
saling bertemu dan tidak akan tercipta ruang bersama untuk menghasilkan perdamaian yang diinginkan. Integrasi yang diinginkan semua pihak tidak terwujud oleh karena pemisahan yang dilakukan pemerintah dengan menempatkan perlindungan sekuritas.29 Klasifikasi perdamaian negatif adalah pesimistis, kuratif, dan perdamaian tidak selalu dengan cara damai.30 Gagasan perdamaian sebagai tidak adanya kekerasan kolektif terorganisir antara kelompok manusia khususnya negara-negara, antar kelas, antar ras, dan kelompok etnis merujuk pada jenis perdamaian negatif.31
Perdamaian positif menunjuk pada suasana damai di mana terdapat kesejahteraan, keadilan, dan kebebasan. Damai positif menganjurkan interaksi mendalam warga masyarakat demi menghadirkan integrasi sosial. Menghadirkan perdamaian positif diperlukan kerja sama dengan tujuan memperbaiki masa lalu dan membangun kembali masa depan. Kerja sama ini dapat dilakukan dengan memperhatikan masalah-masalah kemanusiaan yang dihadapi serta menjadi tanggung jawab bersama.32
Menurut Galtung Perdamaian positif menghadirkan hal-hal baik dalam masyarakat, khususnya kerja sama dan integrasi antara kelompok yang ada dalam masyarakat. Klasifikasi perdamaian positif adalah integrasi struktural, optimis, preventif, perdamaian dengan cara damai. Perdamaian positif menunjuk pada kondisi sosial di mana kegiatan mengeksploitasi dapat diminimalkan atau dihilangkan dan di
29
Galtung dalam Izak Lattu, Planting the Seed of Peace, 190-191.
30
Galtung dalam Temesgen Tilahun, “Johan Galtung’s Concept,” 252.
31
Galtung dalam Temesgen Tilahun, “Johan Galtung’s Concept,” 252
32
36
mana tak ada kekerasan dalam bentuk apa pun. Kehadiran damai positif untuk memberikan situasi yang merangkul, adil, serta menjaga harmoni ekosistem. Oleh karena itu, terkait dengan perdamaian positif, ada sepuluh nilai-nilai hubungan positif yakni kehadiran kerjasama, kebebasan dari rasa takut, bebas dari keinginan, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, tidak adanya eksploitasi, kesetaraan, keadilan, kebebasan bertindak, pluralisme, dinamisme. Dalam pemaknaannya, individu yang satu tidak mengeksploitasi satu sama lain, tentang individu yang tidak hidup dalam ketakutan dan kecemasan, tentang individu yang memiliki berbagai tindakan terbuka untuk diri mereka sendiri sehingga mereka dapat hidup. Perdamaian positif diisi dengan konten positif seperti pemulihan hubungan, penciptaan sistem sosial yang melayani kebutuhan seluruh penduduk dan resolusi konstruktif konflik.33
Damai yang positif dimaknai dalam pemahaman Galtung mengenai rekonsiliasi. Menurut Galtung, rekonsiliasi adalah bentuk akomodasi dari pihak-pikah yang terlibat dalam koflik destruktif untuk saling menghargai satu sama lain, menyingkirkan rasa sakit, dendam, takut, benci, dan bahaya terhadap pihak lawan. Dari pengertian ini maka dapat dikatakan bahwa rekonsiliasi merupakan bentuk akomodasi dari pihak yang bertikai untuk saling menghargai dan tidak saling membenci terhadap pihak lawan.34 pemahaman ini menyatakan bahwa rekonsiliasi sebagai bagian dari resolusi konflik merupakan tahapan perdamaian yang akan memakan waktu yang cukup panjang untuk menyelesaikan konflik yang terjadi. Sebab rekonsiliasi merupakan proses mengejar suatu perdamaian dengan
33
Galtung dalam Temesgen Tilahun, “Johan Galtung’s Concept,” 252-253.
34
37
menyelesaikan akar permasalahan dan mengampuni, serta dapat memperoleh kondisi yang rukun (kembali rukun).
Mengacu pada makna perdamaian yakni proses menghadirkan damai tanpa kekerasan langsung maupun tidak langsung maka ada dua tipe yang dikemukan yakni perdamaian negatif dan perdamaian positif. Perdamaian negatif yakni situasi di mana tidak ada perang oleh karena intervensi pemerintah melalui pengamanan dan perlindungan aparat keamanan. Sedangkan perdamaian positif merupakan situasi tidak adanya kekerasan baik kekerasan langsung maupun tidak langsung. Perdamaian positif dapat terwujud dalam kerja sama antara masyarakat agar dapat menghadirkan integrasi sosial yakni pemulihan hubungan dalam masyarakat. Perdamaian positif berorientasi pada masa lalu dan masa yang akan datang. Dengan demikian perdamaian positif dapat dipertahankan oleh karena kerja sama setiap anggota masyarakat untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan.
Berkaitan dengan pemikiran mengenai perdamaian positif dan perdamaian negatif maka Galtung menjelaskan tiga pendekatan untuk memperoleh perdamaian yakni peacekeeping, peacemaking, dan peacebuilding. Ketiga pendekatan ini saling berkesinambungan dalam usaha untuk memperoleh perdamaian.
Pertama, peacekeeping merupakan pendekatan klasik yang dipakai oleh pihak yang berkuasa atau pemerintah. Pendekatan ini pada dasarnya disosiatif yakni pihak yang berkonflik dijauhkan satu sama lain di bawah ancaman hukuman yang cukup jika mereka melanggar, terutama jika mereka melanggar ke wilayah masing-masing. Kekuatan yang diusahakan oleh pemerintah disertai dengan langkah-langkah sosial disosiatif lainnya, seperti pemisahan pihak yang berkonflik dan juga pendekatan
38
klasik seperti penggunaan jarak geografi. Jika dua kekuatan sosial disebutkan - tidak cukup untuk menjaga mereka terpisah atau masih ada ancaman perilaku destruktif dan sikap kebencian dan atau penghinaan, maka pihak ketiga yakni pihak militer dapat dipanggil untuk melakukan operasi peackeeping, misalnya berpatroli perbatasan dan penggunaan peralatan teknologi misalnya pagar elektromagnetik, dll. Jadi peacekeeping merupakan proses menghentikan atau mengurangi aksi kekerasan melalui intervensi militer yang menjalankan peran sebagai penjaga perdamaian yang netral.35
Kedua, peacemaking adalah proses yang tujuannya mempertemukan atau merekonsiliasi dan strategi dari pihak yang bertikai melalui mediasi, negosiasi, arbitrasi terutama terutama pada level elit atau pimpinan. Pihak-pihak yang bertikai dipertemukan guna mendapat penyelesaian dengan cara damai. Hal ini dilakukan dengan menghadirkan pihak ketiga sebagai penengah. Akan tetapi pihak ketiga tersebut tidak mempunyai hak untuk menentukan keputusan yang diambil. Pihak ketiga hanya menengahi apabila terjadi suasana yang memanas antara pihak bertikai yang sedang berunding.36
Ketiga, Konsep membangun perdamaian atau peacebuilding didefenisikan sebagai aktifitas yang memiliki ruang gerak luas terutama mencakup rekonsiliasi, transformasi sosial dan peningkatan kapasitas para pemangku kepentingan.
35
Johan Galtung, Peace, war and defense: essays in peace research; Vol. 2, (Ejlers: Copenhagen, 1976), 282. Bisa dilihat juga dalam Yulius Hermawan, Transformasi dalam Studi
Hubungan Internasional: Aktor, Isu, dan Metodologi, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), 93. 36
Johan Galtung, Peace, war and defense: essays in peace research; Vol. 2, (Ejlers: Copenhagen, 1976), 282. Bisa dilihat juga dalam Yulius Hermawan, Transformasi dalam Studi
39 Peacebuilding berjalan setelah aktivitas peacekeeping dan peacemaking dilakukan. Peacebuilding dilakukan dalam waktu yang relatif panjang. Hal ini tidak terlepas dari
beberapa dimensi yang melingkupi peacebuilding yakni personal, relasional, kultur dan stuktural. Struktur berkaitan dengan bagaimana membangun perdamaian melalui transformasi nilai sekaligus peningkatan kapasitas institusi eksekutif, legislatif, yudikatif, serta militer dan kepolisian. Dua institusi terakhir ini memegang peranan penting dalam mengendalikan masyarakat pasca konflik. Sebab kenyataannya pihak yang berkonflik rentan terhadap provokasi dan sangat mendambakan penegakan hukum, struktur juga mengacu pada sistem dan struktur sosial yaitu bagaimana hubungan diorganisasikan, siapa yang mempunyai pawernya, bisa pada tingkat keluarga dan pada tingkat masyarakat yang lebih luas.
Peacebuilding juga merupakan strategi atau upaya yang mencoba
mengembalikan keadaan destruktif akibat kekerasan yang terjadi dalam konflik dengan cara membangun jembatan komunikasi antar pihak yang terlibat konflik. Tujuan peacebuilding sejatinya tidak hanya terbatas pada perhentian konflik dan penjagaan kesepakatan damai. Namun konsep ini mencakup kerja-kerja yang luas dan komprehensif baik pada saat konflik maupun pasca konflik. Selama konflik berlangsung kerja-kerja perdamaian biasanya difokuskan pada intervensi konflikmelalui mediasi atau fasilitas dan rekonsiliasi. Tujuannya untuk mengelola melokalisir konflik sehingga tidak meluas kemana-mana, dan sedapat mungkin diredakan. Jadi peacebuilding merupakan proses implementasi perubahan atau rekonstruksi sosial, politik, dan ekonomi demi terciptanya perdamaian yang
40
langgeng. Melalui proses peacebuilding diharapkan perdamaian negatif berubah menjadi damai positif dimana masyarakat merasakan adanya keadilan sosial dan kesejahteraan yang efektif.37
Dari penjelasan mengenai tiga pendekatan untuk memperoleh perdamaian maka dapat rangkai alurnya seperti berikut: peacekeeping untuk menciptakan keadaan damai negatif terdahulu. Setelah pertikaian bisa dihentikan, namun potensi masih tetap mengancam maka program selanjutnya adalah Peacemaking untuk mencegah pertikaian atau kekerasan pecah kembali. Pada periode tertentu peacekeeping telah dianggap mampu menjaga perdamaian negatif, maka selanjutnya adalah program management konflik, yaitu mengelola konflik tanpa kekerasan melalui proses-proses politik seperti negosiasi dan mediasi untuk memecahkan masalah. Ketika pemecahan masalah telah terbentuk maka kesepakatan harus diimplikasikan dalam bentuk program-program peacebuilding masyarakat pasca konflik.38
Ketiga pendekatan yang digunakan untuk menghadirkan perdamaian dikerjakan secara berkesinambungan. Peacekeeping terjadi karena ada intervensi pemerintah melalui perlindungan aparat keamanan yang bekerja untuk memisahkan pihak yang berkonflik dari tindakan kekerasan antara pihak yang berkonflik.
Peacemaking akan dikerjakan jika peacekeeping tidak dapat menghadirkan
perdamaian. Peacemaking merupakan tindakan mempertemukan pihak yang berkonflik terutama pada level elit yang melakukan mediasi yakni proses intervensi
37
Alekius Jemadu, Analisis konflik Internal dari Perspektif Hubungan Internasional, dalam buku Transformasi dalam studi Hubungan Internasional: Aktor, Isu, dan Metodologi, Yulius Hermawan, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), 93
38
41
pihak ketiga dalam menyelesaikan konflik, negosiasi yakni proses tawar menawar dengan cara berunding agar menemukan kesepakatan bersama, dan arbitrasi yakni pengambilkan keputusan yang berfungsi untuk mengikat pihak yang berkonflik.
Peacebuilding merupakan proses strategi atau pun upaya agar dapat mengubah
perdamaian negative menjadi perdamaian positif dimana keadilan dan kesejahteraan dapat dirasakan semua orang. Peacebuilding tidak hanya terbatas pada kesepatakan untuk menajga kedamaian akan tetapi mencakup kerja yang luas baik pada saat konflik terjadi maupun pasca konflik. Sebab perdamaian bukan hanya terjalin pada saat konflik sudah berakhir akan tetapi perdamaian dipahami sebagai kondisi damai yang terus bertahan.
Rangkuman
1. Konseling merupakan proses percakapan yang mendalam antara konselor dengan kliennya. Proses konseling yang dilakukan terfokus pada kebutuhan, tujuan, dan orientasi sosial klien. Proses konseling seorang konselor membutuhkan rasa empati agar dapat menolong klien menemukan langkah-langkah logis pemecahan masalah serta klien dapat dipulihkkan dari kondisi sebelumnya.
2. Konseling multikultural merupakan salah satu pendekatan konseling berbasis budaya sebab kepekaan terhadap budaya merupakan dasar dalam konseling multikultural.
42
3. Konseling perdamaian merupakan konseling yang bekerja untuk mempromosikan penyembuhan dan membangun perdamaian diwilayah yang terganggu oleh konflik.
4. Konflik merupakan perselisihan yang terjadi antara dua orang atau aktor atau aktor yang mengejar tujuan yang sama. Perselisihan tersebut dengan mudah mengarah pada upaya untuk menyakiti atau menyakiti aktor atau orang yang menghalangi.
5. Perdamaian dapat dipahami dalam dua wajah yakni perdamaian positif dan perdamaian negatif yang dapat dibedakan dalam tiga pendekatan yakni