• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

Berikut ini adalah uraian mengenai teori implementasi konseling individu Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT) dalam meningkatkan konsep diri positif pada atlet PORDA 2018 cabang olahraga pencak silat Kota Cirebon.

A. Implementasi

Implementasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu penerapan atau pelaksanaan. Pengertian secara umum implementasi merupakan tindakan atau pelaksanaan yang terencana dan telah disusun secara cermat dan terperinci.

Menurut Nurdin Usman dalam bukunya yang berjudul “Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum” yang dimaksud Implementasi adalah bukan sekedar aktivitas, tindakan tetapi suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh- sungguh berdasarkan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan (Usman, 2002: 70).

Menurut M. Joko Susilo, implementasi merupakan suatu penerapan ide, kebijakan, konsep atau inovasi dalam melakukan suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap. Dalam Oxford Advance Learner Dictionary dikemukakan bahwa implementasi adalah “put something into effect”, yang artinya penerapan sesuatu yang dapat memberikan efek dan dampak (M. Joko Susilo, 2007: 174).

Menurut Guntur Setiawan (2004: 39), implementasi atau pelaksanaan yaitu perluasaan suatu aktivitas yang saling menyesuaikan dan adanya proses interaksi antara tujuan serta tindakan untuk mencapai serta memerlukan jaringan pelaksanaan yang efektif.

Dari beberapa pengertian mengenai implementasi, dapat disimpulkan bahwa implementasi yaitu bukan hanya sekedar aktivitas, tetapi adanya suatu kegiatan yang terencana yang dilakukan secara nyata dengan bersungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu dalam mencapai tujuan kegiatan. Selain itu implementasi tidak hanya berdiri sendiri, namun dipengaruhi oleh objek berikutnya.

(2)

B. Konseling

1. Pengertian Konseling

Secara etimologi, konseling berasal dari bahasa latin “consilium” yang artinya “dengan” atau “bersama” yang dapat dirangkai dengan “menerima”

atau “memahami”. Sedangkan dalam Bahasa Anglo Saxon istilah konseling berasal dari kata “sellan” yang artinya “menyerahkan” atau “menyampaikan”.

Konseling merupakan inti dari kegiatan bimbingan secara keseluruhan yang berkenaan dengan pengentasan masalah dan memfasilitasi perkembangan individu. Berikut ini ada beberapa pendapat dari beberapa ahli mengenai pengertian konseling, sebagai berikut :

Menurut Rogers dalam bukunya Hendrarno (2003: 24), yang dimaksud dengan konseling yaitu rangkaian-rangkaian kontak atau hubungan secara langsung dengan individu yang bertujuan untuk memberikan bantuan dalam merubah sikap dan tingkah lakunya.

Gibson (1985) menyatakan yang dimaksud dengan konseling yaitu hubungan bantuan antara konselor dank lien yang difokuskan pada pertumbuhan pribadi dan penyesuaian diri serta pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.

Winkell (2005: 34) menjelaskan bahwasannya yang dimaksud dengan konseling yaitu serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli secara tatap muka langsung yang bertujuan agar konseli dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai permasalahan yang dihadapinya dan dapat mengatasinya.

Konseling meliputi pemahaman dan hubungan antara individu yang bertujuan untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan, motivasi dan potensi- potensi yang unik dari diri individu tersebut serta membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasikan dari ketiga hal tersebut. (Berdnard &

Fullmer, 1969).

Menurut Division of Conseling Psychologi yang dimaksud dengan konseling yaitu suatu proses untuk membantu individu dalam mengatasi hambatan-hambatan dalam perkembangan dirinya dan selain itu juga konseling

(3)

dapat membantu dalam pencapaian perkembangan kemampuan ataupun potensi yang dimiliki oleh individu secara optimal, dan proses tersebut dapat terjadi setiap waktunya.

Menurut Saefudin dan Abdul Bari (2002), yang dimaksud dengan konseling yaitu proses pemberian informasi secara objektif dan lengkap, dan dilakukan secara sistematik dengan panduan komunikasi interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan yang bertujuan untuk membantu seseorang dalam mengenali kondisinya saat ini, permasalahan yang sedang dihadapi dan cara mengatasi permasalahannya.

Menurut Prayitno dan Erman Amti (2004: 105), yang dimaksud konseling yaitu proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara oleh seorang ahli yang disebut sebagai konselor kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah yang disebut konseli, yang bertujuan untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi konseli.

Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa konseling merupakan suatu proses bantuan yang diberikan oleh seorang konselor yang sudah terlatih dalam mengatasi permasalahan konseli (bisa satu atau lebih), secara langsung bertatap muka yang bertujuan agar individu tersebut dapat mengambil keputusan secara mandiri atas permasalahan yang sedang dihadapinya, permasalahan tersebut meliputi masalah sosial, psikologis, dan lainnya serta dengan adanya proses ini harapannya konselor dan konseli dapat bekerjasama dalam memecahkan permasalahan, konselor dapat mengarahkan, dan membantu konseli untuk memahami dirinya sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya sehingga tercapai penyesuain diri dengan lingkungannya. Dalam kegiatan konseling harus memiliki keterampilan yang tinggi karena proses konseling dapat bersifat pribadi dan melibatkan emosional dan intelektual untuk memiliki pengendalian perilaku yang cermat, kepekaan terhadap manusia dan permasalahan yang dihadapi serta keterampilan yang dimiliki yang dapat dikembangkan secara optimal.

(4)

2. Tujuan Konseling dan Harapan Klien

Ada beberapa pernyataan mengenai tujuan konseling, yang dikemukakan oleh Shertzer dan Stone (1981) yaitu sebagai berikut :

a. Perubahan tingkah laku b. Kesehatan mental positif c. Pemecahan masalah d. Kefektifan pribadi e. Pembuatan keputusan

Menurut Rao (1984) dalam Mappiare (2002: 44) dijelaskan bahwa konselor mempunyai tujuan untuk memahami tingkah laku, motivasi, dan perasaan klien. Adapun tujuan sesaat/ tujuan jangka pendek (immediate goals) yaitu agar klien mendapat kelegaan, sedangkan tujuan jangka panjang (long- term goals) yaitu agar klien menjadi pribadi yang lebih bermakna.

Adapun tujuan klien yang datang menemui konselor bersumber dari harapan klien mengenai permasalahan yang sedang dihadapinya. Terkadang klien tidak memiliki tujuan-tujuan untuk masa mendatang yang tidak dirumuskan secara jelas. Maka dari itu tugas konselor disini untuk membantu klien untuk menegaskan mengenai tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh klien sebagai suatu hasil dari hubungan konseling yang terjadi antara konselor dan klien.

3. Prinsip-Prinsip Konseling

Prinsip konseling yaitu acuan yang digunakan dalam melaksanakan konseling. Prinsip konseling juga akan mendasarkan pada proses, tanggung jawab serta tujuan dari konseling.

Dan akan dijelaskan mengenai prinsip konseling, sebagai berikut :

a. Konseling merupakan kegiatan yang sangat penting dalam keseluruhan program bimbingan.

b. Program konseling harus fleksibel, disesuaikan dengan kondisi lembaga, kebutuhan individu dan masyarakat.

(5)

c. Dalam konseling terdiri dari konselor dan klien yang memproses penyelesaian permasalahan melalui serangkaian proses, interviev.

d. Konseling lebih menekankan pada masalah sikap dari pada tindakan.

e. Konseling merupakan proses belajar yang mengarah kepada suatu perubahan, terutama perubahan pada sikap dan tindakan dalam diri klien.

f. Konseling lebih menekankan pada penghayatan emosional dari pada intelektual.

g. Konseling berlangsung pada situasi pertemuan dan jalinan hubungan yang khas.

h. Konseling melayani semua individu tanpa memandang umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, status sosial ekonomi.

i. Konseling sebagai kegiatan yang professional, dilakukan oleh tenaga ahli yang professional, yang telah memperoleh pendidikan dan latihan khusus dalam bidang bimbingan dan konseling.

j. Konseling pada umumnya dibatasi hanya untuk hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental dan fisik individu terhadap penyesuaian dirinya dirumah, lingkungan, serta yang berkaitan dengan kontak sosial dan pekerjaan.

k. Dalam konseling perbedaan individu harus dipahami dan dipertimbangkan dalam upaya untuk memberikan bantuan atau konseling pada individu tertentu.

l. Permasalahan khusus yang dialami oleh klien harus ditangani atau dialihtangankan kepada tenaga ahli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan khusus tersebut.

m. Dalam proses konseling keputusan yang diambil yang akan dilakukan oleh klien hendaklah atas kemauan klien sendiri, bukan karena kemauan atau paksaan dari konselor.

n. Tujuan akhir dari konseling yaitu kemandirian dari setiap individu, maka dari itu layanan konseling harus diarahkan untuk mengembangkan klien agar mampu mengarahkan dirinya dalam menghadapi kesulitan yang dihadapinya.

(6)

4. Teknik-Teknik Dasar Komunikasi Konseling

Dalam berkomunikasi dengan klien, konselor seharusnya menggunakan respon-respon yang fasilitatif bagi pencapaian tujuan konseling. Secara umum, respon-respon tersebut dapat dikelompokkan ke dalam teknik-teknik dasar komunikasi konseling. Berikut penjelasan mengenai teknik-teknik dasar dalam komunikasi konseling, sebagai berikut :

a. Teknik Attending (Perhatian)

Attending merupakan keterampilan yang digunakan konselor untuk memusatkan perhatiannya kepada klien agar klien merasa dihargai, klien bebas dalam mengekspresikan tentang apa saja yang ada didalam pikirannya, perasaan ataupun tingkah lakunya.

Keterampilan attending meliputi :

1) Posisi badan (termasuk gerak isyarat dan ekspresi muka)

Posisi badan yang baik dalam attending mencakup : duduk dengan badan menghadap klien, tangan diatas pangkuan atau berpegang bebas atau kadang-kadang digunakan untuk mewujudkan gerak isyarat yang sedang dikomunikasikan secara verbal, responsif dengan menggunakan bagian wajah, badan tegak lurus tidak kaku dan sesekali condong kearah klien untuk menunjukkan kebersamaan dengan klien.

Selain itu ada posisi badan yang tidak baik mencakup : duduk dengan badan dan kepala membungkuk menghadap klien, duduk dengan sangat kaku, gelisah/resah, mempergunakan tangan/kertas/kuku tangan, sama sekali tanpa gerak isyarat pada tangan, selalu memukul-mukul/menggerakan tangan/lengan, wajah tidak menunjukkan perasaan, terlalu banyak senyum/kerutan dahi/anggukan kepala yang tidak mempunyai arti.

2) Kontak mata

Kontak mata yang baik dengan cara melihat klien pada waktu dia berbicara kepada konselor dan sebaliknya, selain itu kontak mata

(7)

harus dipertahankan dengan menggunakan pandangan spontan yang mengekspresikan minat dan keinginan mendengarkan serta merespon klien.

Selain itu ada kontak mata yang tidak baik, yaitu dengan tidak pernah melihat klien, menatap klien untuk secara tetap dan tidak memberi kesempatan klien untuk membalas tatapan, dan mengalihkan pandangan dari klien sesudah klien melihat kepada konselor.

3) Mendengarkan

Cara mendengarkan yang baik meliputi : memelihara perhatian penuh dengan terpusat kepada klien, mendengarkan segala sesuatu yang dikatakan oleh klien, mendengarkan keseluruhan pribadi klien dengan memperhatikan kata-kata/perasaan/perilakunya dengan kata lain mampu memahami pesan baik verbal maupun non verbal dari diri klien, mengarakan apa yang konselor katakana terhadap apa yang telah dikatakan oleh klien.

b. Teknik Opening (Pembukaan)

Opening merupakan keterampilan untuk membuka atau memulai komunikasi konseling. Adapun hal-hal yang perlu dilakukan oleh konselor dalam menggunakan teknik opening, sebagai berikut :

1) Penyambutan kehadiran klien

Secara verbal, konselor memberi atau menjawab salam, menyebut nama klien, mempersilahkan duduk, dan sebagainya.

Secara non verbal, konselor segera membuka pintu ruangan konseling, berjabat tangan, senyum dengan ceria, mendampingi klien saat menuju tempat duduk, menempatkan atau mempersilahkan klien untuk duduk, duduk setelah kliennya duduk, dan sebagainya.

2) Pembicaraan topik netral

Pembicaraan topik netral yaitu bahan pembicaraan yang sifatnya umum dan tidak menyinggung perasaan dari klien. Adapun

(8)

bahan topik netral antara lain kejadian-kejadian hangat dilingkungan klien, hobi klien, gambar-gambar yang ada diruangan konseling, potensi lingkungan asal klien, dan sebagainya.

3) Pemindahan topik netral ke permulaan konseling

Cara pemindahan topik netral ke permulaan konseling dengan menggunakan kalimat “jembatan”, misalnya : “setelah kita membicarakan….. (isi topik netral), barangkali ada sesuatu hal yang perlu kita bicarakan bersama dalam pertemuan ini.

Selain itu mengembangkan sebagian isi topik netral, misalnya :

“itu tadi hobimu di bidang musik, lalu bagaimana dengan prestasimu dalam perkuliahan”.

c. Teknik Acceptance (Penerimaan)

Acceptance merupakan keterampilan yang digunakan konselor untuk menunjukan minat dan pemahaman terhadap hal-hal yang dikemukakan klien. Ada beberapa bentuk dalam teknik acceptance yaitu sebagai berikut:

1) Verbal

Bentuk verbal meliputi dua bentuk yaitu bentuk pendek, misalnya teruskan/terus, oh… ya, lalu/kemudian, ya…ya, hem…

hem, dan sebagainya. Dan bentuk panjang, misalnya saya memahami…, saya menghayati…, saya dapat mengerti…, saya dapat merasakan…, dan sebagainya.

2) Non verbal

Bentuk non verbal, misalnya anggukan kepala, memelihara kontak mata, perubahan mimik, posisi duduk condong ke depan, dan sebagainya.

d. Teknik Paraprashing

Paraprashing merupakan kata-kata yang digunakan konselor untuk menyatakan kembali esensi dari ucapan-ucapan klien. Yang harus diingat dan diperhatikan dari teknik paraprashing yaitu : paraprase bukan upaya

(9)

membaca apa yang terlintas di benak klien (interprestasi) atau pemikiran mengenai konselor terhadap ucapan klien, paraphrase biasanya diikuti dengan “pernyataan mengundang pembicaraan terbuka”, paraphrase hanya menyatakan kembali secara lebih esensial, serta bantuan untuk memperoleh klarifikasi tambahan yang cermat.

Adapun cara paraphrase yaitu, sebagai berikut :

1) Dengarkan pesan utama dari kata-kata yang diucapkan oleh klien.

2) Menyatakan kembali pesan utama secara sederhana dan singkat.

3) Meminta respon dari klien mengenai kecermatan konselor.

Paraphrase yang efektif akan sering diikuti dengan kata-kata “benar”

atau “iya”, diucapkan secara spontan oleh klien. Dan paraphrase dikatakan efektif jika meliputi beberapa hal sebagai berikut :

1) Konselor lebih mengarahkan pembicaraan klien berikutnya.

2) Dapat mengecek kecermatan pembimbing/konselor dalam menangani klien.

3) Klien menjadi merasakan kebersamaan dengan pembimbing/konselor.

e. Teknik Restatement (Pengulangan)

Restatement merupakan teknik yang digunakan oleh konselor untuk mengulang kembali pernyataan klien baik itu sebagian ataupun keseluruhan dan itu dianggap penting. Selain itu ada beberapa cara yang dilakukan dalam teknik restatement sebagai berikut :

1) Intonasi yang dilakukan konselor hendaknya variatif dan dengan memperhatikan pernyataan yang disampaikan oleh klien.

2) Pengulangan yang dilakukan harus persis sama dengan pernyataan klien, tidak boleh menambah ataupun menguranginya.

(10)

f. Teknik Reflection Of Feeling (Pemantulan Perasaan)

Reflection of feeling merupakan teknik yang digunakan oleh konselor untuk memantulkan perasaan ataupun sikap yang terkandung dibalik pernyataan klien. Dalam teknik reflection of feeling, respon konselor perlu diperhatikan, selain itu respon konselor harus didahului oleh kata-kata pendahuluan, seperti tampaknya, kedengarannya, rupa- rupanya dan sebagainya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan teknik reflection of feeling sebagai berikut :

1) Hindari stereotip.

2) Memilih waktu yang tepat untuk merespon pernyataan klien.

3) Menggunakan kata-kata perasaan yang melambangkan perasaan/sikap klien secara tepat.

4) Sesuaikan bahasa yang digunakan dengan kondisi klien.

g. Teknik Clarification (Klarifikasi)

Clarification merupakan teknik yang digunakan untuk mengungkapkan kembali isi pernyataan klien dengan kata-kata yang baru.

Respon konselor didahului oleh kata-kata pendahuluan, seperti pada dasarnya, pada intinya, singkat kata, kata lain, pada pokoknya, dan sebagainya.

h. Teknik Structuring (Pembatasan)

Structuring merupakan teknik yang digunakan oleh konselor untuk memberikan batasan-batasan agar proses konseling berjalan sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dalam konseling.

Jenis-jenis structuring sebagai berikut : 1) Time limit (pembatasan waktu)

Ada dua macam time limit, yang pertama Time Limit dari Klien. Misalnya, “Pak, sebetulnya saya sudah seminggu yang lalu ingin menemui Bapak, tetapi baru kali ini saya dapat berjumpa

(11)

dengan Bapak. Dan hari ini saya dapat menghadap Bapak dari jam 08.00 sampai dengan 08.30 WIB, dikarenakan pada jam 08.30 nanti saya ada acara pembekalan PPL di Laboratorium”.

Kedua, Time Limit dari Konselor. Misalnya, “bagus, anda kemari untuk membahas masalah anda dengan saya, namun perlu diketahui bahwa pada ja, 10.00 nanti saya diundang oleh dekan untuk menghadiri rapat dan kita hanya memiliki waktu selama 45 menit. Oleh karena itu marilah kita gunakan waktu ini dengan sebaik-baiknya.

2) Role Limit (pembatasan peran)

Role limit, misalnya “Anda meminta nasehat dari saya? Perlu anda ketahui bahwa saya tidak dapat memberikan nasihat sebagaimana yang anda minta, tetapi marilah kita bicarakan bersama masalah anda itu kemudian kita cari jalan keluarnya”.

3) Problem Limit (pembatasan masalah)

Problem limit, misalnya “Dalam masalah yang anda kemukakan tadi setidaknya ada tiga masalah yaitu masalah berkonsentrasi belajar, masalah bergaul dengan lawan jenis, dan masalah penyesuian diri. Nah, dari ketiga masalah tersebut mana yang mendesak untuk kita bicarakan terlebih dahulu?”.

4) Action Limit (pembatasan tindakan)

Action limit, misalnya “Tenang-tenang, anda boleh mengutarakan apa saja disini, tetapi satu hal yang tidak boleh anda lakukan disini yaitu mengotori ruangan ini”.

i. Teknik Lead (Pengarahan)

Lead merupakan teknik yang digunakan oleh konselor untuk mengarahkan pembicaraan klien dari satu hal ke hal yang lainnya secara langsung. Keterampilan ini sering disebut keterampilan bertanya, karena dalam penggunaannya hanya menggunakan kalimat-kalimat tanya. Tujuan

(12)

dari teknik lead yaitu untuk mendorong klien untuk merespon pembicaraan terutama pada awal-awal pertemuan.

Secara umum, ada dua jenis teknik lead sebagai berikut : 1) Lead Umum

Lead umum merupakan teknik pengarahan yang memberikan kesempatan kepada klien untuk bebas mengeksplorasi atau memberikan reaksi/jawaban dari berbagai kemungkinan sesuai dengan keinginan klien. Misalnya, “Coba kamu ceritakan kepada saya bagaimana suasana waktu kamu mengikuti lomba tersebut?”.

2) Lead Khusus

Lead khusus merupakan teknik pengarahan yang digunakan klien untuk memberikan suatu reaksi/jawaban yang spesifik.

Misalnya, “Pak, saya merasa kesal dengan Ian karena dia malas diajak untuk belajar kelompok padahal ada tugas yang harus dikerjakan dengan dia”.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan teknik lead, sebagai berikut :

1) Pada awal pertemuan, konselor hendaknya lebih banyak menggunakan lead umum dibandingkan dengan lead khusus, karena hal ini sangat berguna untuk memberi suasana kebebasan bagi klien.

2) Konselor hendaknya menggunakan variasi dalam komunikasi dan tidak terlalu terpaku dengan teknik lead dalam pertemuan konseling, dengan demikian konselor dapat menghindari warna pertemuan seperti pertemuan tanya jawab atau interogasi.

j. Teknik Silence (Diam)

Silence merupakan suasana hening, tidak ada interaksi verbal antara konselor dan klien dalam proses konseling. Silence digunakan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan kepada klien untuk istirahat atau merefresh pikiran dan perasaannya serta memikirkan kalimat apa yang

(13)

akan dikemukakan selanjutnya. Selain itu tujuan silence untuk mendorong klien ataupun memotivasi klien untuk mencapai tujuan dalam konseling.

Ada beberapa jenis dalam penggunaan teknik silence, sebagai berikut :

1) Silence dari konselor

Jenis silence ini terjadi pada saat pusat komunikasi berada pada konselor. Pada waktu-waktu tertentu, konselor merespon dengan silence.

Konselor merasa dirinya terlalu aktif dan memutuskan untuk mengurangi keaktifannya dengan memberikan kesempatan kepada klien untuk lebih banyak aktif dan bertanggung jawab dengan menggunakan teknik silence. Dan konselor menyadari adanya suatu momentum pada diri klien yang dapat mengarahkan kesadaran, komitmen klien. Dalam hal ini konselor memberikan kesempatan dengan menggunakan teknik silence agar tidak mengganggu momentum psikologis klien tersebut.

2) Silence dari klien

Jenis silence ini terjadi pada saat pusat komunikasi berada di klien, saat klien bercakap-cakap, dan setelah itu klien berhenti berbicara beberapa saat. Silence digunakan karena klien ingin beristirahat sejenak setelah mengungkapkan perasaan-perasaan dan konflik yang dirasakannya, memadukan pengalaman-pengalaman baru kedalam dirinya, menyusun kalimat yang akan dikemukakan selanjutnya, atau mungkin penolakan terhadap proses konseling.

k. Teknik Reassurance (Penguatan/Dukungan)

Reassurance merupakan teknik yang digunakan oleh konselor untuk memberikan penguatan/dukungan terhadap pernyataan positif klien agar menjadi lebih yakin dan percaya diri. Dalam teknik reassurance ini juga dapat digunakan untuk mendorong diri klien agar dirinya lebih bisa menghadapi situasi atau hal-hal yang tidak menyenangkan bagi dirinya.

(14)

Resassurance terdiri dari tiga jenis yaitu pertama, Predication reassurance (penguatan prediksi) merupakan penguatan yang dilakukan oleh konselor terhadap pernyataan positif yang akan dilaksanakan oleh klien.

Kedua, posdiction reassurance (penguatan postdiksi) merupakan penguatan konselor terhadap tingkah laku positif yang telah dilakukan klien dan hasil yang diperoleh dari apa yang dilakukan oleh klien tersebut.

Ketiga, factual reassurance (penguatan factual) merupakan penguatan yang digunakan oleh konselor untuk mengurangi beban penderitaan secara psikis klien dengan cara mengumpulkan bukti- bukti/fakta bahwa kejadian yang tidak diharapkan yang menimpa klien bila dialami oleh orang lain akan memberi dampak yang sama atau relatif sama dengan apa yang dialami oleh klien.

l. Teknik Rejection (Penolakan)

Rejection merupakan teknik yang digunakan oleh konselor untuk melarang klien melakukan rencana yang akan merugikan dirinya atau orang lain.

Secara umum ada dua jenis rejection yaitu penolakan yang dilakukan secara halus dan penolakan yang dilakukan secara terang-terangan atau secara langsung.

m. Teknik Advice (Saran/Nasehat)

Advice merupakan teknik yang digunakan oleh konselor untuk memberikan nasehat atau saran kepada klien, agar klien lebih jelas mengenai apa yang akan dikerjakan.

Ada tiga jenis advice yaitu yang pertama, Advice langsung merupakan saran yang diberikan langsung kepada klien berupa fakta jika klien tidak mempunyai informasi mengenai fakta yang sedang dihadapinya. Kedua, Advice persuasive merupakan saran yang diberikan konselor jika klien telah mengemukakan mengenai alasan-alasan yang

(15)

logis dan dapat diterima dari rencana yang akan dilakukan. Ketiga, Advice alternative merupakan saran yang diberikan konsleor setelah klien mengetahui kelebihan dan kelemahan setiap alternatif.

n. Teknik Confrontation (Pertentangan)

Confrontation merupakan teknik yang digunakan oleh konselor untuk menunjukkan adanya kesenjangan dalam diri klien dan kemudian konselor mengumpanbalikkan kepada klien.

Adanya kesenjangan itu terjadi karena pertama, antara dua pernyataan, “klien mengatakan di satu pihak dia sangat memperhatikan pacarnya tapi dalam pernyataan lainnya dia malas untuk menghubunginya”. Kedua, antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan, “klien mengatakan bahwa dia sangat berminat untuk mengikuti uji seleksi tapi dia tidak datang ke tempat tes tersebut”. Ketiga, antara pernyataan dan tingkah laku nonverbal, “klien mengatakan bahwa dia sangat senang bertemu pacarnya tetapi saat klien bercerita menunjukan dengan raut wajah sedih”. Keempat, antara dua tingkah laku nonverbal,

“kaki gemetar namun bibirnya tersenyum”.

Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan Confrontation yaitu confrontation dapat dilakukan jika hubungan klien dengan konselor sudah mencapai kepercayaan, jika tidak maka terjadi resistensi (mempertahankan diri) pada diri klien. Selain itu, konselor harus dengan yakin tentang apa yang ditunjukkan sebagai pertentangan dan tidak boleh berbicara dengan nada mengadili, menuduh, atau memamerkan ketajaman dalam pengamatannya.

o. Teknik Interpretation (Penafsiran)

Interpretation merupakan teknik yang digunakan oleh konselor untuk menggali arti dan makna yang terdapat di belakang kata-kata klien atau dibelakang perbuatan/tindakan yang telah diceritakannya.

(16)

Tujuan dari interpretation yaitu membantu klien untuk lebih memahami diri sendiri jika klien bersedia mempertimbangkan dengan pikiran terbuka. Selain itu ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam interpretation yaitu sebaiknya konselor mengemukakan lebih dahulu kata- kata atau tindakan klien yang melandasi pemberian interpretation, setelah itu konselor menawarkan interpretation sebagai kemungkinan dengan disertai permintaan umpan balik, sehingga klien dengan bebas untuk menerima ataupun menolaknya.

p. Teknik Summary (Ringkasan/Kesimpulan)

Summary merupakan teknik yang digunakan konselor untuk menyimpulkan mengenai apa yang telah dikemukakan klien pada proses komunikasi konseling.

Summary terdiri dari dua jenis yaitu pertama, Summary Bagian yaitu kesimpulan yang dibuat setiap saat dari percakapan klien dan konselor yang dipandang penting. Dan untuk kesimpulan ini didahului kata-kata pendahuluan, seperti: untuk sementara ini…, sampai saat ini…, sejauh ini…, selama ini…, dan sebagainya.

Kedua, Summary Keseluruhan yaitu kesimpulan yang dibuat pada akhir komunikasi konseling sebagai kesimpulan keseluruhan pembicaraan.

Bentuk kesimpulan akhir tersebut didahului oleh kata-kata pendahuluan, seperti: sebagai kesimpulan akhir…, sebagai puncak pembicaraan kita…, sebagai penutup pembicaraan kita…, dari awal hingga akhir pembicaraan kita…, dan sebagainya.

q. Teknik Termination (Pengakhiran)

Termination merupakan teknik yang digunakan oleh konselor untuk mengakhiri komunikasi konseling, baik mengakhiri untuk dilanjutkan pada pertemuan berikutnya ataupun mengakhiri karena komunikasi konseling telah selesai dilakukan.

(17)

Cara pengakhiran ini dapat dilakukan dengan syarat misalnya konselor merapikan kembali alat-alat yang telah digunakan, membuat kesimpulan akhir, membicarakan tugas-tugas, yang hendak dilakukan sebelum pertemuan yang akan datang, dan dapat dilakukan secara langsung dengan konselor menunjukkan pembatasan waktu (time limit) konseling yang telah disepakati pada awal pertemuan.

5. Etika Dalam Konseling

Setiap pekerjaan yang sifatnya professional tentu memiliki aturan-aturan yang mengatur arah dan gerak dari pekerjaan profesi tersebut, hal ini berkaitan dengan etika. Etika merupakan standar tingkah laku individu atau sekelompok orang yang berdasarkan atas nilai-nilai yang telah disepakati.

Ada beberapa aspek dalam etika konseling, aspek-aspeknya akan dijelaskan sebagai berikut :

a. Aspek Kesukarelaan

Pada aspek kesukarelaan, konselor perlu mengetahui apakah klien datang secara sukarela atau tidak. Hal ini sangat penting karena kaitannya dengan hubungan konseling antara konselor dan klien tersebut.

Keterlibatan diri klien secara lebih efektif dalam proses konseling akan terwujud, dan keterbukaan diri dari klien akan memberikan kesan positif dalam hubungan terapeutik, antara konselor dan klien.

b. Aspek Kerahasiaan

Pada aspek kerahasiaan, perlu diketahui mengenai hal-hal yang dibicarakan dalam konseling yaitu sifatnya rahasia atau tidak. Kerahasiaan dalam proses konseling terkadang kaitannya dengan kata Privacy atau Privasi. Privasi yaitu sesuatu hal yang sifatnya pribadi, tidak perlu diketahui serta tanpa adanya campur tangan orang lain.

Sementara kerahasiaan kaitannya lebih kepada pengendalian informasi yang diterima dari seseorang, dan sebuah informasi dikatakan rahasia jika dianggap tidak perlu dan tidak seharusnya disampaikan ke pihak lain.

(18)

Berkaitan dengan konseling dapat dijelaskan bahwa informasi yang dibicarakan oleh klien yang menyangkut diri klien bersifat rahasia dan tidak dapat disampaikan secara terbuka oleh konselor kepada siapapun.

c. Aspek Keputusan Oleh Klien Sendiri

Pada aspek keputusan, tentu sangat penting artinya bagi klien.

Menurut Corey (2005), bahwa tujuan dari konseling yaitu tidak sekedar untuk memperoleh kepuasaan klien, tetapi dengan konseling dapat mengajarkan pada klien untuk membuat dan menghasilkan keputusan yang sifatnya jangka panjang (long-term goals). Maka dari itu konselor memberikan dorongan kepada klien untuk berani membuat keputusan yang sesuai dengan resiko yang sudah dipertimbangkan sebelumnya.

d. Aspek Sosial Budaya

Pada aspek sosial budaya, mungkin klien memiliki pengalaman- pengalaman sosial dan nilai-nilai budaya yang sangat berlainan dengan konselor. Dengan kata lain konselor hendaknya mempelajari karakteristik, nilai-nilai budaya, kebiasaan klien. Hal ini dangat penting karena jika layanan konseling tanpa adanya pemahaman budaya dan nilai-nilai ditempat klien maka konselor belum memenuhi apa yang disebut etika profesi konselor.

C. Konseling Individu

1. Pengertian Konseling Individu

Prayitno, Erman Amti (1994: 105) yang dimaksud dengan konseling individual yaitu proses pemberian bantuan melalui wawancara secara face to face yang dilakukan oleh seseorang yang ahli (konselor) kepada individu yang sedang mengalami permasalahan (konseli), proses tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk membantu dalam penyelesaian permasalahan konseli.

Hellen dalam bukunya Bimbingan dan Konseling (2005: 84) mengatakan bahwasannya yang dimaksud dengan konseling yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkin konseli untuk mendapatkan layanan langsung

(19)

secara tatap muka (perorangan) dengan konselor dalam pembahasan penyelesaian masalah pribadi yang di derita oleh konseli.

Holipah (Journal Counseling, 2011) mengatakan konseling individual yaitu kunci dari semua kegiatan yang dilakukan dalam proses bimbingan dan konseling. Penguasaan teknik dalam proses konseling individual sangat mempermudah dalam menjalankan proses konseling yang lainnya. Proses konseling individu berpengaruh besar terhadap peningkatan konseli karena konselor berusaha meningkatkan sikap konseli dengan cara berinteraksi secara tatap muka dalam jangka waktu tertentu untuk menghasilkan peningkatkan pada diri konseli baik dari cara berpikir, sikap, perasaan dan sebagainya.

2. Tujuan dan Fungsi Layanan Konseling Individu

Menurut Gibson, Mitchell dan Basile (Hibana S Rahman, 2003: 85), menjelaskan ada Sembilan tujuan dari konseling perorangan yaitu sebagai berikut :

a. Tujuan perkembangan

Tujuan perkembangan yaitu klien dibantu dalam proses pertumbuhan dan perkembangan serta membantu dalam mengantasipasi hal-hal yang akan terjadi pada proses tersebut. Misalnya, perkembangan kehidupan pribadi, sosial, emosional, fisik, kognitif dan sebagainya.

b. Tujuan pencegahan

Tujuan dari pencegahan yaitu konselor membantu klien dalam menghindari dari hasil-hasil yang tidak diinginkan.

c. Tujuan peningkatan

Tujuan peningkatan yaitu klien dibantu oleh konselor untuk mengembangkan keterampilan dan kemampuan yang dimilikinya.

d. Tujuan perbaikan

Tujuan perbaikan yaitu konseli dibantu dalam mengatasi permasalahannya dan dibantu dalam menghilangkan perkembangan yang tidak diinginkan.

(20)

e. Tujuan penyelidikan

Tujuan dari penyelidikan yaitu menguji kelayakan, tujuan dari menguji kelayakan ini untuk memeriksa pilihan-pilihan, pengetesan keterampilan yang dimiliki, mencoba aktivitas yang baru dan sebagainya.

f. Tujuan penguatan

Tujuan adanya penguatan yaitu membantu konseli untuk menyadari mengenai apa yang dilakukan, dirasakan dan difikirkannya sudah baik.

g. Tujuan kognitif

Tujuan kognitif yaitu untuk menghasilkan fondasi dasar dari pembelajaran dan keterampilan kognitif.

h. Tujuan fisiologis

Tujuan fosiologis yaitu untuk menghasilkan pemahaman dasar dan kebiasaan untuk menjalani hidup sehat.

i. Tujuan psikologis

Tujuan psikologis yaitu untuk membantu mengembangkan keterampilan sosial yang baik, selain itu belajar untuk mengontrol emosi, mengembangkan konsep diri positif pada dirinya dan sebagainya.

Prayitno (2004: 4) menyatakan bahwa tujuan umum dari layanan konseling perorangan adalah pengentasan permasalahan klien dan hal ini berkaitan mengenai fungsi pengentasan. Dan prayitno menjelaskan lebih lanjut mengenai tujuan khusus konseling ke dalam 5 hal yaitu sebagai berikut :

a. Fungsi pemahaman

Fungsi pemahaman diperoleh ketika klien memahami mengenai permasalahan yang dialaminya secara mendalam dan komprehensif, serta secara positif dan dinamis.

b. Fungsi pengentasan

Fungsi pengentasan yaitu mengarahkan klien dalam pengembangan sikap, persepsi, demi tertuntaskannya permasalahan klien berdasarkan pemahaman yang diperoleh oleh klien.

(21)

c. Fungsi pengembangan/pemeliharaan

Fungsi pengembangan/pemeliharaan merupakan latar belakang dari pemahaman dan pengentasan permasalahan klien.

d. Fungsi pencegahan

Fungsi pencegahan yaitu untuk mencegah melebarnya permasalahan yang sedang dialami oleh klien dan mencegah untuk kemungkinan permasalahan-permasalahan baru muncul.

e. Fungsi advokasi

Fungsi advokasi yaitu untuk menangani sasaran yang sifatnya advokasi, jika klien mengalami pelanggaran hak-hak.

3. Tahapan Proses Konseling Individu

Menurut Brammer (1979), yang dimaksud proses konseling yaitu peristiwa yang berlangsung dan memberikan makna bagi peserta konseling, yang disebut peserta konseling disini yaitu konselor dan klien.

Dalam proses konseling dapat digambarkan sebagai suatu keberlanjutan interaksi antara konselor dan klien. Proses tersebut dimulai pada waktu persetujuan atau kontrak awal antara konselor dan klien untuk memasuki sesi hubungan konseling.

Sesi hubungan konseling terjadi dari beberapa tahapan yang dilalui dalam proses konseling. Secara garis besar menurut Capuzzi dan Gross, ada beberapa tahapan dalam proses konseling yaitu sebagai berikut :

a. Tahap 1 : Pengembangan/pembinaan hubungan

Pada tahap 1, adanya inisiatif untuk mempertemukan antara konselor dan klien, membangun hubungan yang baik antara konselor dan klien, mengumpulkan informasi mengenai klien, dan menentukan tujuan yang akan dicapai dalam konseling.

b. Tahap 2 : Memperdalam penggalian

Pada tahap 2, pondasi yang dibangun pada tahap 1 kemudian memilih pendekatan dan strategi secara teoritis yang sesuai. Selanjutnya menggali kedalaman emosi dinamika kognitif klien, merumuskan masalah,

(22)

mencari alternatif pemecahan masalah, kemampuan dalam pengambilan keputusan dan mengevaluasi ulang penentuan tujuan dari tahap 1.

c. Tahap 3 : Menetapkan dan memecahkan masalah

Pada tahap 3, melanjuti dari kedua tahap sebelumnya, konselor berupaya untuk memfasilitasi, mengajarkan, menyediakan lingkungkan yang nyaman dan aman dalam pengembangan perubahan. Aktivitas klien difokuskan pada pengevaluasian emosional dan dinamika kognitif, mencoba tingkah laku baru baik didalam sesi maupun diluar sesi konseling, dan menghilangkan perilaku yang tidak sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam proses konseling.

d. Tahap 4 : Pengakhiran dan tindak lanjut

Pada tahap 4, merupakan tahapan penutup sesi konseling selanjutnya pada tahap 4 ini adanya penentuan prioritas yang akan ditindak lanjuti sesuai dengan metode dan prosedurnya.

D. Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT) 1. Pengertian REBT

Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT) merupakan aliran psikoterapi yang berlandasakan atas asumsi bahwasannya manusia dilahirkan memiliki potensi, potensi tersebut baik untuk berpikir jujur dan rasional ataupun untuk berpikir jahat dan irasional.

Menurut TRE (Terapi Rasional Emotif) Albert Ellis mengatakan bahwamanusia dilahirkan untuk pemenuhan hasrat, keinginan, kebutuhan, dan tuntutan dalam kehidupannya. Jika itu semua tidak segera tercapai segala keinginannya, manusia tersebut akan bereaksi emosional menyalahkan dirinya sendiri ataupun orang lain.

Dikatakan oleh Albert Ellis (2005: 238), “Ketika mereka beremosi, mereka juga akan berpikir dan bertindak. Ketika mereka bertindak, mereka juga akan berpikir dan emosi. Dan ketika mereka berpikir, mereka juga akan emosi dan bertindak”. Jadi, jarang sekali manusia yang beremosi tanpa tidak berpikir

(23)

ataupun tanpa bertindak. Manusia yang beremosi pasti akan memiliki pikiran atau bertindak untuk selalu menyalahkan diri sendiri atau orang lain.

Konseling Individu dengan menggunakan pendekatan Rasional Emotive Behaviour Therapy (REBT) merupakan cara mengajak seorang konseli untuk berpikir rasional.Jadi, dalam konseling individu REBT, terdapat proses konseling yang akan diberikan kepada konseli untuk merubah keyakinan yang irasional menjadi rasional.

2. Tujuan REBT

Dalam bukunya Sofyan Willis (2004: 76) salah satu tujuan dari konseling individu Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT), yaitu untuk merubah sikap, memperbaiki cara berpikir, keyakinan, dan cara pandang konseli yang irasional menjadi rasional agar konseli dapat mengembangkan diri dan mencapai realisasi diri yang optimal.

Berpikir irasional merupakan gangguan emosional yang dapat merusak diri, seperti rasa bersalah, benci, cemas, marah dan sebagainya, maka dari dengan adanya tujuan konseling individu REBT dapat melatih dan mendidik konseli untuk bisa menghadapi kenyataan hidup dengan cara berpikir rasional, seperti membangkitkan kepercayaan diri, kemampuan diri, dan sebagainya.

3. Teori REBT

Teori A-B-C mengenai kepribadian yang sangat penting bagi teori dan praktek REBT. Albert Ellis mengatakan bahwasannya ada tiga hal yang berkaitan mengenai tingkah laku seseorang sebagai berikut :

Pertama, A adalah Activating experienes atau menggerakan atau pengalaman-pengalaman pemicu seperti hal-hal yang dianggap sebagai penyebab sumber ketidakbahagiaan seperti trauma pada masa keil, permasalahan keluarga dan sebagainya. Kedua, B adalah Beliefs atau keyakinan yang bersifat irasional yang merupakan sumber ketidakbahagiaan dan merusak diri sendiri. Ketiga, C adalah Consequence atau konsekuensi atau akibat yang

(24)

berupa gejala neurotik yang bereaksi menimbulkan reaksi emosional negatif seperti amarah, depresi, dendam dan sebagainya (Corey Gerald, 2005: 242).

Seorang tokoh bernama Nandang Rusma mengatakan bahwasannya untuk menambah rumus pada teori A-B-C, Albert Ellis menambahkan teori D dan E, yang dimaksud dengan D adalah Dispute dan E adalah Effets. Jadi, seseorang harus bisa melawan atau membantah (D) keyakinan irasional agar seorang konseli bisa menikmati dampak (E), dampak psikologis dari keyakinan yang rasional (Sofyan Willis, 2004: 68).

Manusia sagat bertanggungjawab atas penciptaan reaksi-reaksi emosional dan gangguan-gangguan pada dirinya sendiri. Gangguan emosional itu dipertahankan oleh putusan yang tidak logis yang terjadi secara terus menerus dan dilakukan secara berulang-ulang oleh individu tersebut, seperti “aku merasa kesepian”, “segala apa yang aku lakukan selalu salah”. Meskipun Albert Ellis peraya bahwasannya gangguan emosional bisa diperbaiki ataupun dihilangkan dengan cara menangani perasaan-perasaan irasionalnya secara langsung. (Corey Gerald, 2005: 243).

Jadi, seorang konselor harus bisa membantu seseorang dalam mengubah respon emosionalnya dan mendorong seseorang tersebut untuk melihat, merasakan apa yang ia katakan pada dirinya sendiri pada (B) keyakinannya, apa yang ia rasakan berdasarkan (A) pengalaman serta mengajarkannya untuk dapat secara tegas melawan atau membantah (D) keyakinan irasionalnya yang ia rasakan sendiri.

4. Teknik-Teknik REBT

Teknik yang berkaitan mengenai konseling individu Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT) kebanyakan merupakan aliran behavioural therapy.

Dalam bukunya Hamzanwadi Selong (108) disebutkan ada beberapa teknik dan teknik tersebut merupupakan usaha untuk menghilangkan gangguan emosional yang dapat merusak diri berdasarkan emotive experiential,dan teknik yang dimaksud sebagai berikut :

(25)

a. Teknik Sosiodrama, yaitu teknik dengan cara sandiwara pendek mengenai masalah yang berkaitan dengan kehidupan sosial.

b. Teknik Assertive Training, yaitu teknik dengan cara melatih dan membiasakan konseli untuk menyesuaikan diri terus menerus dengan perilaku tertentu yang diinginkan.

c. Teknik Social Modeling, yaitu teknik dengan membentuk perilaku baru melalui model sosial, seperti observasi, imitasi/meniru.

d. Teknik Self Modeling, yaitu teknik dengan cara untuk menghilangkan perilaku tertentu, dalam teknik ini konselor sebagai model dan konseli berjanji untuk mengikuti.

e. Teknik Desensitisasi Sistematik, yaitu teknik dengan cara mengajarkan kepada konseli untuk bersikap santai, dan menghubungkan keadaan santainya dengan membayangkan pengalaman yang mencemaskan, mengecewakan, dan dipasangkan dengan keadaan relaksasi sehingga hubungan antara perangsang dengan respon terhadap kecemasannya dapat dieliminasi.

f. Teknik Reinforcement, yaitu teknik dengan cara memberikan reward/penghargaan terhadap perilaku rasional atau memperkuat ((reinforce).

g. Teknik Self-control, yaitu teknik dengan cara mengontrol diri.

h. Teknik Relaksasi, i. Teknik Diskusi,

j. Teknik Simulasi, yaitu teknik dengan bermain peran antara seorang konselor dengan konseli.

k. Teknik Homework Assignment, yaitu teknik dengan pemberian tugas.

l. Teknik Bibliografi, yaitu teknik dengan memberikan bahan bacaan.

(26)

5. Tahapan-Tahapan REBT

Menurut Albert Ellis dalam penelitiannya Rohkyani, Esty (2009), proses konseling dengan pendekatan Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT) terdapat beberapa tahapan konseling yang harus dikerjakan oleh seorang konselor dan konseli, sebagai berikut :

a. Tahapan Pembinaan Hubungan atau Relation Building

Dalam tahapan ini untuk dapat menciptkan hubungan yang baik, konselor perlu menerapkan sikap dasar, menciptakan suasana pendukung, membuka sesi awal melakukan perbincangan.

b. Tahapan Kognitif atau pengelolaan pemikiran dan pandangan Dalam tahapan ini, peran konselor yaitu :

1) Mengidentifikasi, menunjukkan, menerangkan masalah menurut teori A-B-C, yang dihadapi oleh konseli dengan mengggunakan keyakinan irasionalnya.

2) Mengajar dan memberikan informasi menurut teori A-B-C.

3) Mendiskusikan mengenai masalah, (arah perubahan dari pemikiran irrasional menjadi pemikiran yang rasional yang hendak dicapai dalam proses konseling).

4) Menerapkan berbagai teknik debate dan dispute.

c. Tahapan Pengelolaan Emotif dan Afektif

Konselor memusatkan perhatiannya pada tingkat emosi atau afeksi, dan konseli sebagai kondisi pendukung kemantapan perubahan pemikiran irrasional ke pada pemikiran rasional.Dalam tahapan ini, konselor melakukan :

1) Konselor meminta kesepakatan penuh terhadap konseli atas perubahan-perubahan kecil yang terjadi pada konseli.

2) Memelihara suasana dalam proses konseling dengan menggunakan teknik humor.

3) Melaksanakan teknik relaksasi.

(27)

d. Tahapan Pengelolaan Tingkah Laku atau Behaviour

Dalam tahapan ini jika konseli telah memberikan isyarat, seperti : 1) Sepakat atas arah perubahan.

2) Ada pernyataan, bahwa adanya sejumlah perubahan (kognitif maupun afektif) sekalipun itu kecil.

3) Sikap emosional dihadapkan pada perubahan perilaku, maka konselor siap masuk pada tahap pengelolaan perilaku yang tampak pada konseli.

E. Konsep Diri Positif

1. Pengertian Konsep Diri

Konsep diri merupakan pemahaman mengenai diri sendiri yang timbul akibat adanya interaksi dengan orang lain. Menurut William D Brooks dalam Jalaludin Rakhmat (2015: 98), konsep diri merupakan pandangan dan perasaan tentang dirinya sendiri. Persepsi mengenai dirinya ini bisa bersifat sosial, psikologis, dan fisis.

Menurut Hurlock (2005: 237) konsep diri merupakan konsep seseorang dari siapa dan apa dia itu. Konsep merupakan bayangan cermin, ditentukan sebagian besar oleh peran dan hubungannya dengan orang lain, dengan reaksi orang terhadapnya. Konsep diri yang ideal yaitu gambaran mengenai penampilan dan kepribadian yang didambakannya.

Konsep diri menurut Rogers yaitu bagian inti dari pengalaman individu yang secara perlahan-lahan dibedakan sebagai bayangan tentang diri yang mengatakan “apa dan siapa aku sebenarnya” dan “apa sebenarnya yang harus aku diperbuat”. Selain itu menurut Alex Sobur (2003: 507) yang dimaksud dengan konsep diri merupakan kesadaran batin mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku.

Shavelson dkk mengatakan bahwa konsep diri merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri, dan persepsi tersebut muncul melalui pengalaman seseorang dan interpretasi terhadap lingkungan serta dipengaruhi

(28)

secara khusus oleh penguat penilaian dari orang-orang yang penting bagi seseorang tersebut dan sangat berpengaruh terhadap tingkah lakunya sendiri.

(Zulfan Saam dan Sri Wahyuni, 2012: 86).

Dalam bukunya Herri Zan Pieter, berjudul Pengantar Komunikasi dan Konseling, Burns menjelaskan mengenai konsep diri yaitu suatu gambaran campuran dari apa yang dipikirkan oleh seorang individu, dan orang lain berpendapat mengenai diri seseorang dan seperti apa seseorang tersebut.

Konsep diri menggambarkan mengenai pandangan seseorang mengenai dirinya dan semua itu bisa diperoleh melalui informasi yang diberikan orang lain pada diri seseorang. Sementara itu Cawagas menjelaskan bahwa konsep diri mencakup seluruh pandangan mengenai individu dan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, bentuk motivasinya, kelebihan dan kekurangannya, kegagalan, kecakapannya dan lain sebagainya.

Melalui beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud konsep diri yaitu bagaimana seorang individu memandang dirinya, dan memberikan penilaian baik secara fisik, sosial, maupun psikologisnya.

2. Jenis-Jenis Konsep Diri

Jenis-jenis konsep diri menurut Acocela dan Calhoun, dibagi menjadi konsep diri positif dan konsep diri negatif.

Konsep diri positif merupakan penghargaan terhadap diri sendiri secara positif, perasaan harga diri yang positif, dan penerimaan diri yang positif.

Sedangkan konsep diri negatif merupakan tidak ada perasaan untuk menghargai pribadi, rendah diri, dan rasa membenci. Menurut banner (1985), konsep diri yang positif akan memungkinkan seseorang secara bertahap dalam menghadapi masalah yang mungkin saja muncul, selain itu akan memberikan dampak yang posiitf juga bagi orang lain yang ada disekitarnya. Sebaliknya, konsep diri negatif akan sangat berpengaruh bagi hubungan interpersonal ataupun fungsi mental lainnya. (Rahmat J, 2007: 103)

Penjelasan mengenai konsep diri positif dan konsep diri negatif dalam bukunya Rahmat J (2007: 104), sebagai berikut :

(29)

a. Konsep Diri Positif

Konsep diri positif merupakan pemahaman mengenai dirinya sendiri dan menerima sejumlah fakta yang bermacam-macam tentang dirinya sendiri, adanya evaluasi terhadap dirinya sendiri serta dapat menerima keberadaan orang lain. Konsep diri positif bersifat stabil dan bervariasi.

Menurut Hamachek, ada sebelas karakteristik orang yang mempunyai konsep diri positif, yaitu :

1) Peka terhadap kebutuhan orang lain, ia merasa bahwa ia tidak bisa bersenang-senang da mengorbankan orang lain.

2) Mampu menikmati dirinya secara utuh dalam berbagai kegiatan, dalam bentuk sosialnya.

3) Meyakini terhadap nilai dan prinsip-prinsip tertentu dan mempertahankan apa yang telah menjadi prinsipnya, meski menghadapi pendapat kelompok yang kuat.

4) Tidak pernah menghabiskan waktu untuk mencemaskan hal yang tidak perlu untuk dicemaskan tapi harus dijalankan, seperti mencemaskan apa yang terjadi esok.

5) Mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa bersalah yang berlebihan, ataupun menyesali tindakannya jika orang lain tidak menyetujui tindakannya.

6) Merasa sama dengan orang lain, walaupun setiap manusia diciptakan berbeda beda namun sebagai manusia ia tidak merasa tinggi atau rendah.

7) Memiliki keyakinan terhadap kemampuan yang dimilikinya. Seperti, dalam mengatasi persoalan, bahkan ketika ia sedang mengalami kegagalan.

8) Dapat menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati dan menerima penghargaan tanpa rasa bersalah.

9) Sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain, serta orang yang sangat bearti dalam hidupnya.

10) Cenderung menolak usaha orang lain untuk mendominasikannya.

(30)

11) Sanggup mengaku pada orang lain bahwa dia mampu merasakan berbagai dorangan dan keinginan.

b. Konsep Diri Negatif

Konsep diri negatif merupakan kebalikan dari konsep diri positif.

Konsep diri negatif yaitu evaluasi terhadap diri sendiri yang negatif, mempunyai perasaan rendah diri, membenci diri, tidak menghargai pribadi.

Menurut Brooks dan Emmert (Rahmat J, 2007: 104), ada lima tanda orang yang memiliki konsep diri negatif, yaitu :

1) Responsif terhadap pujian

Orang yang responsif terhadap pujian, orang yang sangat senang dengan pujian, karena ia menganggap segala yang menunjang harga dirinya menjadi pusat perhatiannya.

2) Sikap hiperkritis

Bersikap hiperkritis terhadap orang lain, dan ia selalu mengeluh, meremehkan siapapun, tidak bisa mengakui atas kelebihan yang dimiliki oleh orang lain.

3) Peka dan kritik

Peka terhadap kritik namun berbeda jika dirasakan oleh seseorang yang mempunyai konsep diri yang negatif, ia tidak akan tahan dengan adanya kritikan yang diajukan oleh orang lain dan lebih mudah marah, karena ia beranggapan bahwa kritikan terhadap dirinya sebagai usaha untuk menjatuhkan harga diri.

4) Bersifat Pesimis terhadap kompetisi

Tidak ingin bersaing dengan orang lain dalam hal prestasi, dan selalu menganggap dirinya kurang pantas untuk melawan persaingan yang dapat merugikan dirinya.

5) Cenderung merasa tidak disenangi orang lain

Selalu merasa tidak diperhatikan oleh orang lain, karena ia selalu menganggap orang lain sebagai musuhnya dan tidak pernah

(31)

akrab dengan orang lain. Ia tidak pernah menyalahkan dirinya sendiri justru selalu menganggap dirinya sebagai korban dari lingkungan sosial yang tidak keras.

3. Faktor Yang Mempengaruhi Konsep Diri

Dalam bukunya Hurlock (1980: 238) menjelaskan bahwa kondisi yang mempengaruhi konsep diri remaja, sebagai berikut :

a. Usia kematangan

Usia remaja yang matang lebih awal, akan diperlakukan seperti orang yang hampir dewasa da dapat mengembangkan konsep diri yang menyenangkan sehingga dapat menyesuaikan diri dengan baik.

b. Penampilan diri

Penampilan diri identik mengenai daya tarik dari segi fisik yang dapat menimbulkan penilaian yang menyenangkan tentang ciri kepribadian dan menambah dukungan sosial. Penampilan diri yang berbeda akan membuat remaja merasa rendah diri, walapun perbedaan itu dapat menambah daya tarik fisik.

c. Hubungan keluarga

Seorang remaja yang mempunyai hubungan yang erat dengan salah satu anggota keluarga akan mengidentifikasikan ciri dengan orang tersebut dan ada keinginan untuk mengembangkan pola kepribadian yang sama.

d. Nama dan julukan

Remaja itu sangat peka dan malu bila adan teman-teman sekelompoknya menilai bahwa namanya jelek atau bila mereka memberikan julukan yang sifatnya menghina/mengejek.

e. Kepatutan seks

Kepatutan seks dalam penampilan diri, perilaku, minat, bakat dapat membantu remaja dalam mencapai konsep diri yang baik.

f. Teman-teman sebaya

(32)

Teman-teman sebaya sangat mempengaruhi pola kepribadian remaja, karena dilingkungan teman sebaya, ia berada dalam tekanan untuk mengembangkan ciri-ciri kepribadian yang diakui oleh kelompok.

g. Cita-cita

Remaja yang mempunyai cita-cita realisitik mengenai kemampuan yang dimilikinya, akan lebih banyak mengalami keberhasilan dibandingkan dengan kegagalan. Namun, sebaliknya jika remaja mempunyai cita-cita yang tidak realisitk maka akan mengalamai kegagalan karena kurang percaya diri dan timbul perasaan bahwa ia tidak mampu dan menyalahkan orang lain atas kegagalannya. Jadi, keberhasilan dan kegagalan tergantung pada rasa yang timbul dalam diri remaja, jika rasa percaya diri dan kepuasaan dirinya lebih besar maka akan menghasilkan konsep diri yang baik begitu sebaliknya.

h. Kreativitas

Remaja yang dalam masa kanak-kanaknya didorong agar kreatif dan aktif dalam bermain (non akademik), dan mengerjakan tugas (akademik), mengembangkan peran individualitas dan identitas yang akan memberikan pengaruh yang baik pada konsep dirinya.

4. Komponen Konsep Diri Positif

Dalam bukunya, Rakhmat (2007: 105), menjelaskan bahwa ada dua komponen konsep diri, sebagai berikut :

a. Komponen kognitif (self image), merupakan pengetahuan individu mengenai dirinya yang mencakup pengetahuan “siapa saya”, dan dari hal tersebut akan memberikan gambaran sebagai pencitraan diri. Komponen kognitif merupakan data yang bersifat objektif.

b. Komponen afektif (self esteem), merupakan penilaian individu terhadap dirinya yang akan membentuk bagaimana cara penerimaan diri dan harga diri individu yang bersangkutan. Komponen afektif merupakan data yang bersifat subyektif.

(33)

5. Terbentuknya Konsep Diri

Sobur (2003: 503) mengatakan bahwa konsep diri pada dasarnya tersusun dari beberapa tahapan. Yang paling mendasar adalah konsep diri primer, yang dimaksud konsep diri primer yaitu konsep yang terbentuk atas dasar pengalamannya dalam lingkungan terdekatnya seperti lingkungan rumahnya sendiri. Adanya pengalaman yang berbeda yang diterima dilingkungan rumahnya bermula dari perbandingan antara dirinya dan saudara-saudaranya.

Selain itu adapun konsep diri sekunder. Konsep diri sekunder merupakan pengembangan dari konsep diri primer. Hubungan yang luas yang diterima orang lain diluar lingkungan rumahnya akan menimbulkan konsep diri yang baru dan berbeda dari apa yang sudah terbentuk di dalam lingkungan rumahnya, dan ini menghasilkan konsep diri sekunder.

Menurut Lindgre (1973), dalam bukunya Sobur (2003: 504) konsep diri terbentuk karena adanya interaksi individu dengan orang yang ada disekitarnya.

Apa yang menjadi pemikiran individu mengenai individu lainnya. Struktur, peran dan status sosial merupakan gejala yang dapat dihasilkan dari adanya interaksi individu yang satu dengan individu yang lainnya, antara individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok.

F. Atlet Cabang Olahraga Pencak Silat 1. Pengertian Atlet

Atlet berasal dari bahasa Yunani yaitu athlos yang artinya kontes. Istilah lain atlet yaitu atlilete yang artinya seseorang yang telah terlatih untuk ditandingkan kekuatannya agar mencapai prestasi. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 tentang system keolahragaan nasional, olahragawan adalah pengolahraga yang mengikuti pelatihan secara teratur dan mengikuti kejuaraan dengan penuh dedikasi untuk mencapai suatu prestasi.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, olahragawan atau atlet yaitu seseorang yang mengikuti pertandingan atau perlombaan dalam beradu kecepatan, ketangkasan, kekuatan dan keterampilan.

(34)

Pendapat para ahli, menurut Poerwardarminta yang dimaksud atlet yaitu seseorang yang bersungguh-sungguh menyukai bidang olahraga terutama mengenai kekuatan badan, kecepatan, ketangkasan, dan lainnya. Menurut Sondakh (2009) yang dimaksud atlet yaitu pelaku olahraga yang berbakat, dan berprestasi baik dalam tingkat daerah, nasional ataupun internasional. Dan atlet adalah orang yang melakukan latihan agar mendapatkan kecepatan, kekuatan badan, daya tahan, keseimbangan, kelincahan, dan kelenturan dalam mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari sebelum pertandingan dimulai.

Dapat disimpulkan dari beberapa pendapat mengenai atlet, jadi yang dimaksud atlet yaitu individu yang berbakat dalam suatu aktivitas dalam bidang olahraga. Dalam bidang olahraga sangat dibutuhkan keterampilan, motivasi, hal tersebut diperlukan untuk pengembangan dalam pencapaian suatu prestasi yang setinggi-tingginya dan dikumpulkan dalam satu program pelatihan yang lebih intensif sesuai dengan cabang olahraganya masing-masing yang ditekuni.

2. Jenis-Jenis Olahraga

Menurut Kuntaraf (1992), dapat dijelaskan mengenai pembagian jenis olahraga sesuai dengan kontraksi otot dan manfaat dari gerak badan yang terbagi dalam lima macam program, sebagai berikut :

a. Isometrik : Isometrik yaitu gerak badan dimana otot dikontraksikan namun persendian kaki dan tangan tidak digerakkan.

b. Isotonik (isofasik) : Isotonik (isofasik) yaitu gerakan yang terjadi akibat adanya kontraksi dari suatu otot dan persendian kaki dan tangan atau keduanya dalam proses kontraksi.

c. Isokinetik : Isokinetik yaitu kategori latihan baru yang melibatkan angkat besi dengan pergerakan kekuatan secara keseluruhan.

d. Anaerobik : Anaerobik yaitu penggunaan oksigen yang minimal atau tanpa oksigen saat anda bernafas. Misalnya, lomba lari jarak pendek yang terbatas dan hanya dalam waktu dua sampai tiga menit.

e. Aerobik : Aerobik yaitu kegiatan atau gerak badan atau olahraga yang menuntut lebih banyak oksigen untuk memperpanjang waktu atau

(35)

memaksa tubuh untuk memperbaiki sistemnya dan memperbanyak oksigen.

Olahraga berdasarkan resiko terjadinya trauma dapat dibagi menjadi tiga bagian, sebagai berikut :

a. Contact Sport

Dalam contact sport, terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok collision sport dan kelompok contact sport. Kelompok collision sport, yaitu olahraga yang dapat memberikan resiko cidera yang lebih besar, atlet dengan sengaja memukul atau saling bertabrakan dengan lawan ataupun benda mati (termasuk lapangan) dengan tenaga yang kuat, misalnya : tinju, hoki es, lacrosse dan rodeo. Selain itu, yang dimaksud kelompok contact sport yaitu atlet yang sering melakukan kontak badan satu sama lain atau dengan benda mati, biasanya dilakukan dengan kekuatan yang lebih sedikit dibandingkan dengan atlet collision sport, misalnya : basket, bela diri, dan sepak bola.

b. Limited Contact Sport

Limited contact sport yaitu adanya kontak dengan atlet lain atau dengan benda mati dengan tidak sengaja atau tidak terlalu sering, misalnya : softball dan voli. Namun ada beberapa yang termasuk kedalam limited contact sport dapat memiliki resiko cidera yang sama dengan collision atau contact sport.

c. Noncontact Sport

Noncontact sport yaitu adanya kontak dengan atlet lain namun sangat jarang terjadi tetapi dapat mengakibatkan cidera serius dan kapan saja bisa terjadi, misalnya : angkat besi.

(36)

3. Sejarah Pencak Silat

Istilah Silat dikenal secara luas di Asia Tenggara, akan tetapi khusus di Indonesia istilah yang digunakan adalah Pencak Silat. Istilah pencak silat digunakan sejak tahun 1948 bertujuan untuk mempersatukan berbagai aliran seni bela diri tradisional yang berkembang di Indonesia.

Nama Pencak digunakan di Jawa, sedangkan Silat digunakan di Sumatera, semenanjung Malaya dan Kalimantan. Selama perkembangannya kini isitilah Pencak lebih mengedepankan unsur seni dan penampilan keindahan suatu gerakan, sedangkan Silat yaitu inti dari ajaran bela diri dalam pertarungan.

Pencak silat atau silat yaitu suatu seni bela diri tradisional yang berasal dari kepulauan nusantara. Pengertian lain, pencak silat yaitu olahraga bela diri yang memerlukan banyak konsentrasi. Dalam pencak silat ada pengaruh budaya Cina, agama Hindu, Budha, dan Islam. Setiap daerah di Indonesia mempunyai aliran pencak silat yang khas, dengan banyaknya aliran-aliran dalam pencak silat ini menunjukkan kekayaan budaya masyarakat yang ada di Indonesia dengan nilai-nilai yang ada didalamnya. Selain itu diluar Indonesia juga ada banyak penggemar pencak silat seperti di Australia, Belanda, Jerman dan Amerika.

Menurut Notosoejitno (1999: 4-6) dijelaskan mengenai perkembangan sejarah pencak silat dan dapat dibagi menjadi dua zaman, yaitu zaman pra sejarah dan zaman sejarah. Pada zaman pra sejarah belum ada istilah mengenai pencak silat, namun pada zaman pra sejarah manusia purba sudah mengenal pembelaan diri dalam arti untuk mempertahankan hidup. Hal ini sangat dibutuhkan karena pada zaman pra sejarah manusia dapat bertahan hidup dengan cara mengatasi rintangan-rintangan, kehidupan di hutan belantara dan selalu berhadapan dengan binatang besar yang buas. Ganasnya alam yang menantang, yang akhirnya memaksakan manusia pada zaman pra sejarah untuk membela diri dengan tangan kosong dan peralatan yang sederhana. Selain itu pada zaman sejarah dapat dibagi menjadi lima yaitu zaman kerajaan-kerajaan,

(37)

zaman kerajaan islam, zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang dan zaman Kemerdekaan.

Pencak silat telah berkembang pesat selama abad ke-20 dan telah menjadi bagian dari olahraga kompetensi dibawah penguasaan dan peraturan Persilat (Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa, atau The International Pencak Silat Federation). Saat ini pencak silat sedang dipromosikan oleh Persilat dibeberapa negara diseluruh 5 benua, hal itu bertujuan untuk membuat pencak silat menjadi olahraga olimpiade yaitu kompetisi olahraga internasional.

Beberapa federasi pencak silat nasional Eropa bersama dengan Persilat telah mendirikan Federasi Pencak Silat Eropa. Dan pada tahun 1986 dalam Kejuaraan Dunia Pencak Silat pertama di luar Asia bertempat di Wina, Austria.

Pencak silat pertama kali diperkenalkan dan dipertandingan dalam Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEA Games) ke-14 pada tahun 1987 bertempat di Jakarta. Dan pada tahun 2002 pencak silat diperkenalkan sebagai bagian program pertunjukan di Asian Games di Busana, Korea Selatan untuk pertama kalinya. Selain itu setiap empat tahun di Indonesia ada pertandingan pencak silat tingkat nasional dalam Pekan Olahraga Nasional.

Ditingkat Nasional dalam permainan dan olahraga, pencak silat menjadi salah satu alat pemersatu nusantara. Bahkan untuk mengharumkan nama bangsa dan menjadi identitas bangsa.

4. Aspek Utama Dalam Pencak Silat

Terdapat empat aspek utama dalam pencak silat, sebagai berikut : a. Aspek Mental Spiritual

Aspek mental spiritual sangat penting kaitannya dengan pencak silat, karena melalui pencak silat dapat membangun dan mengembangkan kepribadian dan karakter mulia seseorang. Pada zaman dahulu maha guru ataupun para pendekar pencak silat seringkali harus melewati tahapan semadi, aspek kebatinan untuk mencapai tingkat tertinggi dalam keilmuannya.

(38)

b. Aspek Seni Budaya

Aspek budaya dan permainan seni dalam pencak silat menjadi salah satu aspek yang sangat penting. Istilah pencak pada umumnya menggambarkan bentuk seni tarian, pencak silat, dengan music dan busana tradisional.

c. Aspek Bela Diri

Aspek bela diri kaitannya dengan kepercayaan dan ketekunan diri dan itu sangat penting dalam menguasai ilmu bela diri dalam pencak silat.

Istilah silat, kaitannya dengan aspek kemampuan teknik bela diri pencak silat.

d. Aspek Olah Raga

Aspek olah raga kaitannya dengan fisik dan itu sangat penting dalam bentuk pertahanan dalam pencak silat. Pesilat mencoba menyesuaikan pikiran dengan olah tubuh. Selain itu aspek olahraga juga berkaitan dengan pertandingan, demonstrasi bentuk-bentuk jurus baik dalam bentuk jurus tunggal, ganda, atau regu.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan wacana adalah suatu kesatuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam

Berdasarkan berberapa pendapat ahli diatas maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa pengertian bimbingan adalah proses pemberian bantuan dari konselor kepada konseli yang

32 Fariz Ramanda Putra dkk, Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja (Studi Pada Karyawan PT.. Dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan

Dari pendapat dua ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian arsip pada hakikatnya adalah warkat atau file yang telah disimpan sebagai bukti kegiatan yang

Dari uraian definisi yang telah disebutkan diatas dapat disimpulkan bahwa konseling adalah suatu proses layanan bantuan konselor untuk membantu klien/konseli memecahkan masalahnya

Jadi dapat disimpulkan bahwa mandiri merupakan kepribadian seseorang yang mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi tanpa campur tangan atau bantuan

Dari semua pendapat para ahli diatas disimpulkan bahwa, pelanggan adalah individu yang melakukan pembelian kebutuhan yang bisa membuat puas dengan membandingkan beberapa aspel

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa konformitas adalah suatu sikap seseorang yang mengalami tekanan dari kelompoknya untuk