GOLPUT, EMBRIO OPOSISI RAKYAT?
Pada Pemilu 1955 belum muncul istilah golput. Artinya pada waktu diselenggarakan Pemilu yang paling demokratis dan merupakan pemilu sungguhan itu apa yang namanya golput belum manifes, belum menggejala, bahkan belum terpikirkan oleh rakyat. Pada Pemilu 1955 rakyat yang mendatangi kotak suara dan mencoblos sebanyak 91,41%.
Pada Pemilu di era Orde Baru yang sebagian orang menyebutnya sebagai Pemilu ‘jadi-jadian’ angka yang memilih, dalam arti tidak golput, meningkat lagi. Akan tetapi dari pemilu ke pemilu mereka yang tidak ikut memilih terus bertambah prosentasenya. Meski mobilisasi rakyat yang dilakukan oleh rezim penguasa dilakukan, tetapi rakyat makin lama makin berani bersikap tegas dan mandiri. Mereka berani memilih golput. Sebab makin lama rakyat makin sadar bahwa memilih dalam Pemilu adalah hak, bukan kewajiban yang
dipaksakan.
Kita dapat melihat bagaimana Pemilu 1971 dikuti 96,62% pemilih, tahun 1977 diikuti 96,52% pemilih, 1982 diikuti 96,47% pemilih, 1987 diikuti 96,43%, pemilu tahun 1992 diikuti 95,06% pemilih, 1997 diikuti 93,55% pemilih, pemilu di tahun 1999 diikuti 92,74%, tetapi pemilu yang berlangsung pada 5 April 2004 hanya diikuti 84,07% dan Pilpres 5 Juli lalu diikuti 86,53%.
Ini jelas menunjukkan kalau rakyat makin cerdas dalam menentukan pilihannya. Jika dari calon wakil rakyat atau dari calon presiden mereka nilai tidak layak untuk dipilih maka rakyat memiliki keberanian untuk bersikap tegas, memilih untuk tidak memilih. Mereka berani dan secara rasional berani berkata tidak, kepada semua calon yang ada.
Ini sungguh merupakan kemajuan demokrasi yang cukup berarti. Golput menjadi makin eksis dan diakui keberadaannya sebagai bagian dari demokrasi di Indonesia. Toh di Amerika Serikat yang katanya sebagai jago demokrasi saja yang golput alias tidak memilih dalam Pemilihan Presiden kabarnya mencapai sekitar 60%, dan rakyat AS yang mau mendatangi kotak suara hanya sekitar 40%. Juga, banyak ahli ilmu politik berpendapat golput itu sehat-sehat saja, malah banyak manfaatnya.
Bangkit dan meningkatnya suara Golput dalam Pemilu 2004 sampai lebih dari 20%, dan diperkirakan akan melejit menyentuh lebih angka 40% dalam putaran kedua Pemilihan Presiden nanti memang menunjukkan kalau rakyat yang sadar dan pintar memiliki
keberanian untuk menghukum kekuatan dan elemen sipil-militer Orde Baru yang juga mau bangkit dan berkuasa kembali.
Gejala bangkit dan akan berkuasanya kembali elemen sipil-milite Orde Baru yang dengan cerdik memanfaatkan pintu demokrasi memang makin terasa. Memang ada kabar akan adanya perubahan. Tetapi rakyat tetap khawatir kalau perubahan itu justru bermakna degradasi demokrasi, yaitu perubahan bukan menuju ke kebebasan dan pembebasan rakyat dari kemiskinan dan hutang luar negeri, tetapi justru perubahan menuju ke arah terbentuknya rezim status quo baru (neo status quo). Dikhawatirkan, momentum kebebasan dan
pembebasan rakyat dari penindasan negara yang dilakukan lewat pintu reformasi akan hilang. Yang muncul justru rezim neo status quo yang telah memiliki plan jangka panjang, misalnya lebih dari 20 tahun, seperti umur Orde Baru dulu.
sosial. Bukan sekadar kemakmuran bagi segelintir konglomerat, orang asing, dan segelimtir pejabat saja seperti selama ini terjadi.
Masalahnya, apakah golput benar-benar mengandung manfaat, atau madlorot? Apakah golput yang solid dapat menjadi embrio oposisi rakyat? Lantas bagaimana pendapat intelektual muda soal gejala golput? Benarkah mereka setuju golput, atau justru menolaknya? (Bahan-bahan dan tulisan: sum)
Sumber: