• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

PROVINSI SUMATERA UTARA

TRIWULAN II-2010

(2)

“Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya (kredibel) secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan stabil”.

Misi Bank Indonesia:

“Mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pemeliharaan kestabilan moneter dan pengembangan stabilitas sistem keuangan untuk pembangunan nasional jangka panjang yang berkesinambungan”.

Nilai-nilai Strategis Organisasi Bank Indonesia:

“Nilai-nilai yang menjadi dasar organisasi, manajemen dan pegawai untuk bertindak dan atau berprilaku yang terdiri atas Kompetensi, Integritas, Transparansi, Akuntabilitas dan Kebersamaan”.

Visi Kantor Bank Indonesia Medan:

“Menjadi Kantor Bank Indonesia yang dapat dipercaya di daerah melalui peningkatan peran dalam menjalankan tugas-tugas Bank Indonesia yang diberikan”.

Misi Kantor Bank Indonesia Medan:

“Berperan aktif dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah melalui peningkatan pelaksanaan tugas bidang ekonomi moneter, sistem pembayaran, pengawasan bank serta memberikan saran kepada pemerintah daerah dan lembaga terkait lainnya”.

Kalender Publikasi

Periode Publikasi Publikasi

KER Triwulan I Pertengahan Mei

KER Triwulan II Pertengahan Agustus

KER Triwulan III Pertengahan November

KER Triwulan IV Pertengahan Februari

Penerbit:

Kantor Bank Indonesia Medan Jl. Balai Kota No.4

MEDAN, 20111 Indonesia

Telp : 061-4150500 psw. 1729, 1770

Fax : 061-4152777 , 061-4534760

Homepage : www.bi.go.id

www.d-bes.net

(3)

Memasuki triwulan II-2010, perekonomian Sumut diperkirakan semakin menunjukkan

peningkatan dengan tumbuh sebesar 6,55% (yoy). Hal ini terutama disebabkan oleh

meningkatnya nilai tambah di sektor perdagangan, hotel dan restoran, khususnya aktivitas perdagangan dan tingkat hunian hotel. Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Sumut ditopang oleh permintaan konsumsi rumah tangga serta maraknya kegiatan ekspor. Begitu pula laju pertumbuhan investasi di Sumut masih tetap terjaga pada level yang cukup tinggi, sejalan dengan membaiknya rating Indonesia sebagai negara tujuan investasi.

Seperti triwulan sebelumnya, perkembangan inflasi di Sumut pada triwulan II-2010 masih mendapatkan tekanan yang cukup besar terutama sebagai dampak kenaikan harga berbagai komoditas pangan dan energi di pasar internasional. Secara khusus, komoditas utama penyumbang inflasi pada triwulan laporan adalah cabe merah, yang mengalami kenaikan harga yang signifikan hingga sempat mencapai Rp60.000/kg. Tingkat inflasi gabungan empat kota di Sumut (meliputi Kota Medan, Pematangsiantar, Padangsidempuan dan Sibolga) selama triwulan II-2010 tercatat sebesar 2,21% (qtq) atau 6,93% (yoy), lebih tinggi daripada inflasi pada triwulan sebelumnya.

Di sisi pembiayaan, terjadi peningkatan fungsi intermediasi perbankan. Hal ini tercermin dari pertumbuhan yang lebih pesat beberapa indikator seperti aset, dana pihak ketiga (DPK) dan kredit selama periode triwulan II-2010. Total aset naik 3,71% (qtq) mencapai posisi

Rp118,87 triliun, atau secara tahunan tumbuh sebesar 8,54% (yoy). Posisi kredit yang

disalurkan meningkat 6,69% (qtq) atau 20,13% (yoy) menjadi Rp80,70 triliun. DPK yang

dihimpun meningkat 2,59% (qtq) atau 9,28% (yoy) menjadi Rp97,87 triliun. Kenaikan

pertumbuhan kredit yang lebih tinggi daripada pertumbuhan DPK mengakibatkan LDR bank umum di Sumut naik dari 79,29% menjadi 82,46% pada triwulan II-2010.

Sejalan dengan membaiknya kinerja perekonomian Sumut, kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan di Sumut menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Tingkat pengangguran terbuka di Sumut mengalami penurunan, yakni dari 8,45% pada Agustus 2009 menjadi 8,01% pada Februari 2010. Sementara itu, angka kemiskinan di Provinsi Sumut menunjukkan penurunan, yaitu dari 1,50 juta jiwa (11,51%) pada posisi Maret 2009, menjadi 1,49 juta jiwa (11,31%) pada bulan Maret 2010.

Demikian sekilas gambaran perkembangan ekonomi Sumatera Utara triwulan II-2010 yang uraiannya secara lengkap dicakup dalam buku Kajian Ekonomi Regional (KER) Provinsi Sumatera Utara Triwulan II-2010.

Akhir kata, kami berharap kiranya buku ini memberikan manfaat bagi para pembaca.

Medan, Agustus 2010

BANK INDONESIA MEDAN

Gatot Sugiono S.

Pemimpin

(4)

Kata Pengantar ... i

Daftar Isi ...ii

Daftar Tabel ...iv

Daftar Grafik ... v

Daftar Lampiran ... vii

Tabel Indikator Ekonomi Terpilih RINGKASAN EKSEKUTIF ... viii

BAB 1 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL ... 1

1.1. Kondisi Umum ... 1

1.2. Sisi Permintaan ... 2

1. Konsumsi ... 3

2. Investasi ... 5

3. Ekspor dan Impor ... 8

1.3. Sisi Penawaran ... 11

1. Sektor Pertanian ... 12

a. Produksi Padi ... 13

b. Produksi Jagung ... 13

c. Produksi Kedelai ... 14

2. Sektor Industri Pengolahan ... 14

3. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran ... 15

4. Sektor Keuangan ... 17

5. Sektor Bangunan ... 18

6. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi ... 19

7. Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih ... 20

8. Sektor Jasa-jasa ... 21

BOKS 1 Upaya Pengendalian Harga Karet Alam Melalui Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) ... 22

BOKS 2 Mitigasi Risiko Fluktuasi Harga CPO Dengan Instrumen Kontrak Berjangka ... 25

BOKS 3 Kinerja UMKM dalam Menghadapi ACFTA ... 27

BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH ... 29

2.1. Kondisi Umum ... 29

2.2. Inflasi Triwulanan ... 31

1. Inflasi Menurut Kelompok Barang dan Jasa ... 32

2. Inflasi Menurut Kota... 37

2.3. Inflasi Tahunan ... 38

1. Inflasi Menurut Kelompok Barang dan Jasa ... 38

2. Inflasi Menurut Kota... 43

2.4. Pemantauan Harga Oleh Bank Indonesia Medan ... 43

BOKS 4

Kenaikan Harga Cabai Merah

... 46
(5)

3.1. Kondisi Umum ... 48

3.2. Intermediasi Perbankan ... 47

1. Penghimpunan Dana Masyarakat ... 49

2. Penyaluran Kredit ... 50

3. Kredit UMKM ... 52

3.3. Stabilitas Sistem Perbankan ... 54

1. Resiko Kredit ... 54

2. Resiko Likuiditas ... 55

3. Resiko Pasar ... 55

3.4. Perbankan Syariah ... 56

3.5. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) ... 55

BOKS 5 Peningkatan LDR di Sumatera Utara ... 59

BAB 4 PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH ... 60

4.1. Rancangan Perubahan APBD (R-PAPBD) Sumut Tahun 2010 ... 60

4.2. Pendapatan Asli Daerah (PAD)... 61

4.3. Dana Alokasi Umum (DAU)... 61

BAB 5 PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN ... 63

5.1. Kegiatan Transaksi BI-RTGS Perbankan Sumatera Utara ... 63

5.2. Transaksi Kliring ... 64

5.3. Perkembangan Aliran Uang Kartal (Inflow dan Outflow) ... 65

5.4. Temuan Uang Palsu ... 66

5.5. Penyediaan Uang Yang Layak Edar ... 67

BAB 6 PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN ... 68

6.1. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah ... 68

6.2. Perkembangan Kesejahteraan ... 71

BAB 7 PERKIRAAN EKONOMI DAN INFLASI DAERAH ... 75

7.1. Perkiraan Ekonomi ... 75

7.2. Perkiraan Inflasi ... 76

LAMPIRAN

(6)

1.1. Pertumbuhan Ekonomi Tahunan Provinsi Sumut dari Sisi Permintaan (%) ... 2

1.2. Nilai Ekspor Triwulan II-2010 ... 9

1.3 Nilai Impor Triwulan II-2010 ... 10

1.4 Pertumbuhan Sektor Ekonomi Tahunan Provinsi Sumut (%) ... 11

1.5. Tingkat Penghunian Kamar Hotel di Sumut (%) ... 16

1.6. Perkembangan Kegiatan Bank ... 17

1.7. Jumlah Penumpang Domestik dan Internasional di Bandara Polonia ... 19

1.8. Jumlah Penumpang Dalam Negeri di Pelabuhan Belawan ... 19

2.1. Inflasi Subkelompok Bahan Makanan Triwulan I-2010 (mtm) ... 30

2.2. Komoditas yang mengalami peningkatan harga tertinggi Juni 2010 ... 31

2.3. Inflasi Triwulanan Sumut menurut Kelompok barang dan jasa (%) ... 33

2.4. Inflasi Triwulanan di Sumut Menurut Kota (%) ... 37

2.5. Inflasi Tahunan Sumut menurut Kelompok barang dan jasa (%) ... 38

2.6. Inflasi Tahunan Empat Kota di Sumut ... 43

3.1. Indikator Utama Perbankan Sumut ... 49

4.1. Rincian Perolehan DAU dan DAK Kabupaten/Kota Tahun 2010 di Sumut ... 62

5.1. Transaksi BI-RTGS Perbankan di Wilayah Sumut ... 63

5.2. Perkembangan Transaksi Kliring dan Cek/BG Kosong ... 64

5.3. Perkembangan Aliran Kas di KBI Medan dan KBI Sibolga ... 66

5.4. Data Temuan Uang Palsu di Kantor Bank Indonesia Medan ... 66

6.1. Penduduk Usia 15 Tahun ke atas menurut Kegiatan Utama ... 68

6.2. Penduduk Usia 15 Tahun ke atas menurut Jenis Kelamin ... 69

6.3. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama (%)... 70

6.4. Angkatan Kerja Sumut menurut Status Pekerjaan Utama (%) ... 71

6.5. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Sumut ... 71

6.6. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Sumut Menurut Daerah ... 72

6.7. Garis Kemiskinan Sumut (Rp/Kapita/Bulan) ... 72

6.8. Indeks kedalaman dan indeks keparahan kemiskinan ... 73

6.9. Indeks Penghasilan dan Indeks Ekspektasi Penghasilan ... 73

6.10. Nilai Tukar Petani ... 74

(7)

1.1. Laju Pertumbuhan Ekonomi Sumut ... 2

1.2. Indeks Keyakinan Konsumen ... 2

1.3. Komponen Indeks Keyakinan Saat Ini ... 3

1.4. Komponen Indeks Ekspektasi ... 4

1.5. Pertumbuhan Penjualan Elektronik ... 4

1.6. Pertumbuhan Penjualan BBM ... 4

1.7. Penjualan Makanan dan Tembakau ... 4

1.8. Penjualan Perlengkapan Rumah Tangga ... 5

1.9. Penjualan Pakaian dan Perlengkapan ... 5

1.10. Posisi Penyaluran Kredit Konsumsi oleh Bank Umum di Sumut ... 5

1.11. Penyaluran Kredit Baru untuk Konsumsi oleh Bank Umum di Sumut ... 5

1.12. Pengadaan Semen di Sumut ... 6

1.13. Penjualan Bahan Konstruksi ... 6

1.14. Posisi Penyaluran Kredit Investasi oleh Bank Umum di Sumut ... 6

1.15. Perkembangan Nilai Ekspor Impor ... 8

1.16. Perkembangan Volume Ekspor Impor ... 8

1.17. Volume Muat Barang di Pelabuhan Belawan ... 9

1.18. Perkembangan Nilai Ekspor Produk Utama ... 9

1.19. Nilai Ekspor Menurut Negara Tujuan ... 11

1.20. Pangsa Ekspor Menurut Negara Tujuan ... 11

1.21. Perkembangan Pertumbuhan Sektor Unggulan ... 12

1.22. Nilai Tukar Petani Sumut ... 12

1.23. Penyaluran Kredit oleh Bank Umum di Sumut ke Sektor Pertanian ... 13

1.24. Nilai dan Volume Ekspor Produk Karet dan Turunannya ... 15

1.25. Nilai dan Volume Ekspor Makanan, Minuman, dan Tembakau ... 15

1.26. Penyaluran Kredit oleh Bank Umum di Sumut ke Sektor Industri Pengolahan ... 15

1.27. Penyaluran Kredit oleh Bank Umum di Sumut ke Sektor PHR ... 16

1.28. Perkembangan Arus Barang di Pelabuhan Belawan (ton) ... 17

1.29. Realisasi Pengadaan Semen Sumut ... 18

1.30. Penyaluran Kredit oleh Bank Umum di Sumut ke Sektor Konstruksi ... 18

1.31. Penyaluran Kredit oleh Bank Umum di Sumut ke Sektor Pengangkutan & Komunikasi ... 20

1.32. Penyaluran Kredit oleh Bank Umum di Sumut ke Sektor Jasa-Jasa ... 21

2.1. Inflasi Bulanan Sumut dan Nasional ... 29

2.2. Inflasi Tahunan Sumut dan Nasional ... 29

2.3. Inflasi Triwulanan Sumut dan Nasional ... 31

2.4. Ekspektasi Pedagang terhadap Nilai Barang dan Jasa ... 32

2.5. Ekspektasi Konsumen terhadap Harga Barang dan Jasa ... 32

2.6. Inflasi Triwulanan Kelompok Bahan Makanan di Sumut ... 33

2.7. Inflasi Triwulanan Kelompok Sandang di Sumut ... 34

2.8. Inflasi Triwulanan Kelompok Makanan Jadi, Minuman, rokok & Tembakau di Sumut ... 34

2.9. Inflasi Triwulanan Kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan di Sumut ... 35

2.10. Inflasi Triwulanan Kelompok Kesehatan ... 35

2.11. Inflasi Triwulanan Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar di Sumut... 36

2.12. Inflasi Triwulanan Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olahraga di Sumut ... 37

2.13. Event Analysis Inflasi Sumut Juni 2009 – Juni 2010 ... 38

2.14. Inflasi Kelompok Bahan Makanan ... 39

2.15. Inflasi Kelompok Makanan Jadi, minuman, rokok & Tembakau di Sumut... 40

2.16. Inflasi Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olahraga di Sumut... 41

(8)

2.20. Inflasi Kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan ... 43

2.21. Pergerakan Tingkat Harga Bulanan sesuai SPH ... 44

3.1. Perkembangan DPK Sumut ... 49

3.2. Struktur DPK Sumut ... 49

3.3. Perkembangan Kredit Sumut ... 50

3.4. Struktur Kredit Sumut ... 51

3.5. Perkembangan Kredit dan pangsanya menurut sektor ekonomi ... 51

3.6. Perkembangan Kredit UMKM ... 52

3.7. Struktur Kredit UMKM ... 52

3.8. Struktur Kredit Mikro, Kecil, Menengah ... 53

3.9. Perkembangan Kredit UMKM menurut sektor ekonomi ... 53

3.10. NPL Gross ... 54

3.11. Cash Ratio ... 55

3.12. Pergerakan Suku Bunga Perbankan 2009 ... 56

3.13. Perkembangan Aset, Pembiayaan, DPK Perbankan Syariah ... 56

3.14. FDR Perbankan Syariah ... 57

3.15. Perkembangan Aset, Kredit, DPK BPR ... 57

3.16. LDR BPR ... 58

4.1. Komposisi Belanja Pemerintah Pusat untuk Sumut ... 59

5.1. Perkembangan Transaksi Kliring ... 64

5.2. Grafik Penolakan Cek/BG kosong ... 65

5.3. Perkembangan Aliran Uang Kartal... 66

5.4. Perkembangan Jumlah PTTB di Sumut ... 67

7.1. Ekspektasi Konsumen 6 bulan yang akan datang ... 75

7.2. Ekspektasi terhadap Harga-harga dalam 3-6 bulan y.a.d (%) ... 77

(9)

A. PDRB Triwulanan Provinsi Sumatera Utara Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut

Lapangan Usaha

B. Pertumbuhan PDRB Triwulanan Provinsi Sumatera Utara Atas Dasar Harga Konstan 2000 (qtq, %)

(10)

Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II

Medan 167,66 109,92 111,25 113,76 112,80 112,61 116,38 116,82 118,05 120,55 Pematangsiantar 161,40 110,11 111,62 113,11 112,88 112,99 116,67 116,19 117,40 120,79 Sibolga 166,68 109,68 113,04 115,55 114,95 114,94 118,91 117,39 118,81 121,90 Padangsidempuan 171,55 112,34 113,77 115,55 115,52 114,28 117,32 117,71 118,16 120,68 Medan 7,01 10,86 10,30 10,63 6,37 2,45 4,61 2,69 4,65 7,05 Pematangsiantar 8,48 11,09 10,27 10,16 6,89 2,62 4,52 2,72 4,00 6,90 Sibolga 8,37 10,10 12,03 12,36 7,88 4,80 5,19 1,59 3,36 6,06 Padangsidempuan 8,71 14,34 12,62 12,34 8,50 1,73 3,12 1,87 2,29 5,60 Pertanian 6.398,93 6.248,74 6.410,88 6.242,09  6.696,00  6.506,00  6.705,82        6.619,32 7.005,79 6.839,12 Pertambangan & Penggalian 314,65 327,82 330,66 331,21      322,00      322,37      334,28        344,64 336,27 340,65 Industri Pengolahan 6.033,65 5.900,70 6.145,05 6.225,82  6.194,00  6.113,00  6.303,77        6.365,86 6.529,85 6.455,52 Listrik, Gas, dan Air Bersih 187,15 190,41 196,03 199,36      200,00      203,37      205,38        206,78 212,39 215,40 Bangunan 1.720,47 1.752,13 1.784,87 1.833,17  1.783,57  1.829,64  1.926,64        2.014,51 1.894,82 1.931,67 Perdagangan, Hotel, dan Restoran 4.818,59 4.718,62 4.960,52 5.017,79  5.079,00  4.976,00  5.207,92        5.312,55 5.410,87 5.327,03 Pengangkutan dan Komunikasi 2.428,92 2.421,32 2.495,44 2.537,56  2.574,99  2.618,00  2.702,59        2.734,66 2.776,19 2.842,77 Keuangan, Persewaan, dan Jasa 1.838,20 1.841,99 1.885,12 1.914,53  1.939,00  1.896,00  2.027,43        2.076,59 2.152,86 2.159,04 Jasa‐Jasa 2.532,72 2.594,71 2.661,07 2.731,46  2.738,00  2.762,00  2.817,10        2.899,56 2.866,63 2.908,42 5,35 5,51 7,73 6,97 4,63 4,74 4,97 5,70 6,02 6,55 2.333,02 2.406,09 2.417,65 1.769,72 1.274,36 1.449,29 1.515,92 2.048,00 1.790,50 1.302,98 2.102,33 1.906,94 2.076,85 2.214,16 1.753,54 1.835,80 1.834,23 2.431,93 1.630,35 1.156,72 635,70 708,26 843,66 666,59 419,43 505,38 570,89 618,93 592,03 453,75 1.346,56 1.358,95 1.371,47 1.086,02 878,93 1.022,86 1.009,14 1.182,56 1.064,28 870,41

Data Indeks Harga Konsumen‐Juni 2010 PDRB Triwulan II‐2010, hasil proyeksi KBI Medan Data Ekspor‐Impor s.d Mei 2010

Laju Inflasi Tahunan (yoy %)

Indeks Harga Konsumen

MAKRO

INDIKATOR

Volume Impor Nonmigas (ribu ton) Nilai Impor Nonmigas (USD juta) Volume Ekspor Nonmigas (ribu ton) Nilai Ekspor Nonmigas (USD juta) Pertumbuhan PDRB (yoy %)

(11)

Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II

90,20

               92,87      97,46    108,08    114,55    109,52     110,58      115,77    114,62    118,87 72,08

               75,72      77,97      84,29 88,82 89,56       90,31        94,88      95,40      97,87

‐ Giro (Rp Triliun) 15,08 16,09 14,87 15,07 16,25 17,04 17,19 16,64 16,80 18,04

‐ Tabungan (Rp Triliun) 27,18 28,73 28,58 30,58 31,08 31,97 33,10 37,12 36,11 37,51

‐ Deposito (Rp Triliun) 29,82 30,90 34,52 38,64 41,49 40,55 40,02 41,13 42,49 42,32

‐ Modal Kerja 30,90 36,69 37,72 36,03 34,49 35,10 36,56 38,32 39,29 40,16

‐ Konsumsi 10,74 11,17 12,16 14,38 16,48 17,14 17,55 18,64 15,67 18,00

‐ Investasi 13,14 14,48 15,99 16,31 14,82 14,94 16,00 16,62 20,68 22,54

‐ LDR 76,01% 82,33% 84,48% 79,03% 73,94% 75,01% 76,86% 77,55% 79,29% 82,46%

0,45 0,43 0,49 0,53 0,51 0,53 0,55 0,57 0,61 0,62

0,33 0,31 0,34 0,35 0,37 0,39 0,41 0,42 0,44 0,45

‐ Tabungan (Rp Triliun) 0,15 0,13 0,14 0,14 0,16 0,17 0,18 0,18 0,19 0,20

‐ Deposito (Rp Triliun) 0,18 0,18 0,20 0,21 0,21 0,22 0,23 0,24 0,25 0,25

0,33 0,33 0,38 0,38 0,39 0,40 0,43 0,44 0,46 0,48

8,67% 7,88% 6,61% 7,26% 7,95% 7,75% 7,21% 7,05% 6,52% 6,25%

100,00% 106,45% 111,76% 108,57% 105,41% 102,56% 104,88% 104,76% 104,55% 106,67% Kredit (Rp Triliun) 

2010

Total Aset (Rp Triliun)

Bank Umum : PERBANKAN

INDIKATOR

DPK (Rp Triliun)

2009

Sumber: Laporan Bulanan Bank  Umum (LBU), KBI Medan

2008

LDR

Total Aset (Rp Triliun) DPK (Rp Triliun)

Kredit (Rp Triliun)  Rasio NPL Gross (%)

(12)
(13)

Perekonomian Sumut

triwulan II-2010 diperkirakan tumbuh 6,55% (yoy).

G

G

viii GAAAMMMBBBAAARRRAAANNNUUUMMMUUUMMM

Perekonomian Sumatera Utara triwulan II-2010 diperkirakan tumbuh sebesar 6,55% (yoy), mengalami peningkatan apabila dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I-2010 yang tercatat sebesar 6,02%. Secara keseluruhan, nilai PDRB Sumut pada triwulan II-2010 atas dasar harga konstan tahun 2000 diperkirakan mencapai Rp29,009 triliun. Secara tahunan peningkatan pertumbuhan dialami oleh hampir seluruh sektor kecuali sektor bangunan dan sektor listrik gas dan air bersih.

Seperti triwulan sebelumnya, perkembangan inflasi di Sumut pada triwulan II-2010 masih mendapatkan tekanan yang cukup besar terutama sebagai dampak kenaikan harga berbagai komoditas pangan dan energi di pasar internasional. Inflasi Sumut pada triwulan II-2010 lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya baik secara triwulanan maupun tahunan. Pada triwulan II-2010 inflasi mencapai 2,21% (qtq), naik dibandingkan dengan inflasi triwulan sebelumnya 1,03%. Secara tahunan (yoy) inflasi pada bulan Juni 2010 sebesar

6,93% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi tahunan

triwulan sebelumnya 4,43% dan berada diatas inflasi nasional sebesar 5,05% (yoy). Bila dilihat secara bulanan, inflasi Sumut pada bulan Juni 2010 sebesar 1,90% (mtm), diatas inflasi nasional sebesar 0,97%.

Sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian di Sumatera Utara, kondisi perbankan di Sumatera Utara pada triwulan II-2010 juga menunjukkan peningkatan kinerja yang terlihat dari peningkatan beberapa indikator kinerja perbankan seperti total aset, penghimpunan dana masyarakat dan penyaluran kredit. Peningkatan kinerja ini mendorong peningkatan fungsi intermediasi perbankan yang juga menunjukkan kenaikan pada triwulan II-2010 sebagaimana terlihat dari peningkatan loan to deposit ratio dari 79,29% menjadi 82,46%. Total aset perbankan Sumatera Utara pada triwulan II-2010 tumbuh sebesar 3,71% (qtq) dan 8,54% (yoy). Posisi kredit yang

disalurkan meningkat 6,69% (qtq) atau 20,13% (yoy) menjadi

Rp80,70 triliun. DPK yang dihimpun meningkat 2,59% (qtq) atau

9,28% (yoy) menjadi Rp97,87 triliun. Kenaikan pertumbuhan kredit yang lebih tinggi daripada pertumbuhan DPK mengakibatkan LDR bank umum di Sumut naik dari 79,29% menjadi 82,46% pada triwulan II-2010.

Sementara itu, perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Sumatera Utara 2010 diproyeksikan naik Rp557,50 miliar menjadi total Rp3,99 triliun dibandingkan dengan APBD murni. Dari sisi pendapatan terjadi kenaikan antara lain Pendapatan Asli Daerah

(14)

(PAD), dari Rp2,23 triliun menjadi Rp2,54 triliun atau naik sekitar Rp314,26 miliar. Dana perimbangan yang semula hanya Rp1,18 triliun meningkat menjadi Rp1,32 triliun atau mengalami kenaikan sekitar Rp144,63 miliar, sedangkan kelompok lainnya pendapatan daerah yang sah juga naik dari Rp32,75 miliar menjadi Rp131,34 miliar atau naik sekitar Rp98,58 miliar.

P

PPEE

ix

ERRRKKKEEEMMMBBBAAANNNGGGAAANNNEEEKKKOOONNNOOOMMMIIIMMMAAAKKKRRROOO

Perekonomian Sumatera Utara triwulan II-2010 diperkirakan tumbuh sebesar 6,55% (yoy), mengalami peningkatan apabila dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I-2010 yang tercatat sebesar 6,02%. Secara keseluruhan, nilai PDRB Sumut pada triwulan II-2010 atas dasar harga konstan tahun 2000 diperkirakan mencapai Rp29,009 triliun. Secara tahunan peningkatan pertumbuhan dialami oleh hampir seluruh sektor kecuali sektor bangunan dan sektor listri, gas dan air bersih.

Di sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor keuangan, persewaan dan jasa serta sektor pengangkutan dan komunikasi. Sementara itu, sektor pertanian sebagai sektor unggulan Sumut juga mencatat peningkatan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya. Kondisi ini juga mengembalikan karakter ekonomi Sumut pada sektor utamanya seperti pertanian, perdagangan dan industri pengolahan, setelah pada triwulan-triwulan sebelumnya pertumbuhan tertinggi selalu terjadi pada sektor non-primer.

Di sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Sumut pada triwulan II-2010 terutama didorong oleh konsumsi, khususnya konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah. Aktivitas konsumsi rumah tangga pada triwulan ini dipengaruhi oleh faktor musiman (masa liburan dan tahun ajaran baru), sebagian besar diantaranya terjadi pada bulan Mei dan Juni 2010 yang didorong oleh kenaikan permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa untuk keperluan pendidikan. Sementara itu, pada triwulan laporan kegiatan investasi mulai menunjukkan geliatnya. Beberapa proyek baru mulai direalisasikan. Hal ini didukung pula oleh prompt indikator seperti peningkatan konsumsi semen, level ekspektasi pelaku usaha terhadap kondisi dunia usaha yang berada di atas 100 serta peningkatan kredit investasi.

Selain konsumsi, kegiatan perdagangan luar negeri juga menunjukkan peningkatan. Nilai ekspor nonmigas yang pada triwulan sebelumnya sempat menurun, pada triwulan II-2010 (data sampai dengan Mei) kembali meningkat. Peningkatan ekspor, baik nilai maupun volumenya, didorong oleh kenaikan permintaan luar negeri terhadap produk-produk dari kelompok barang CPO dan karet. Seiring dengan kenaikan ekspor, volume impor juga meningkat, namun nilainya mengalami penurunan, antara lain pada produk industri makanan dan minuman.

(15)

Tekanan inflasi cukup besar, berasal dari kenaikan harga pangan dan energi

pertumbuhan ekonomi Sumut pada tahun 2010 diproyeksikan masih berada pada kisaran 5±1% (yoy).

P

P

x PEEERRRKKKEEEMMMBBBAAANNNGGGAAANNNIIINNNFFFLLLAAASSSIII

Seperti triwulan sebelumnya, perkembangan inflasi di Sumut pada triwulan II-2010 masih mendapatkan tekanan yang cukup besar terutama sebagai dampak kenaikan harga berbagai komoditas pangan dan energi di pasar internasional. Inflasi Sumut pada triwulan II-2010 lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya baik secara triwulanan maupun tahunan. Pada triwulan II-2010 inflasi mencapai 2,21% (qtq), naik dibandingkan dengan inflasi triwulan sebelumnya 1,03%. Secara tahunan (yoy) inflasi pada bulan Juni 2010 sebesar

6,93% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi tahunan

triwulan sebelumnya 4,43% dan berada diatas inflasi nasional sebesar 5,05% (yoy). Bila dilihat secara bulanan, inflasi Sumut pada bulan Juni 2010 sebesar 1,90% (mtm), diatas inflasi nasional sebesar 0,97%.

Faktor determinan inflasi selama bulan April sampai dengan Juni 2010 adalah volatile food. Kenaikan harga cabe merah yang sangat tinggi di pasaran dari kisaran Rp14.000,00/kg menjadi Rp60.000,00/kg hingga akhir Juni 2010, telah menyebabkan peningkatan inflasi yang cukup tinggi untuk kelompok bahan makanan. Kenaikan harga cabe merah ini telah menyumbang inflasi cukup besar selama triwulan II-2010.

Di samping kenaikan harga cabe merah selama triwulan II-2010, peningkatan laju inflasi di Sumut juga disumbang oleh kenaikan harga bawang, ikan basah dan ayam potong. Kenaikan harga ikan basah di pasaran disebabkan oleh musim laut yang tidak menentu sehingga banyak nelayan tidak melaut. Sementara naiknya harga ayam potong diakibatkan stok yang masuk ke pasar berkurang. Terdapat indikasi beberapa oknum peternak ayam sengaja memperkecil pasokan ke pasar, untuk membuat harganya terdongkrak naik.

Sementara itu bila dilihat berdasarkan empat kota penyumbang inflasi Sumut, maka inflasi tahunan tertinggi berturut-turut adalah Medan (7,05%), Pematangsiantar (6,90%), Sibolga (6,06%) dan Padangsidempuan (5,60%).

Pada triwulan III-2010, inflasi Sumut diperkirakan sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya dengan kisaran antara 6,70±1%

(yoy). Sementara itu, pada 2010, laju inflasi di Sumut diperkirakan mencapai 7±1% (yoy).

P

PPEEERRRKKKEEEMMMBBBAAANNNGGGAAANNN PPPEEERRRBBBAAANNNKKKAAANNN

(16)

Perbankan menunjukkan peningkatan kinerja

Transaksi melalui BI-RTGS meningkat

beberapa indikator kinerja perbankan seperti total aset, penghimpunan dana masyarakat dan penyaluran kredit. Peningkatan kinerja ini mendorong peningkatan fungsi intermediasi perbankan yang juga menunjukkan kenaikan pada triwulan II-2010 sebagaimana terlihat dari peningkatan loan to deposit ratio dari 79,29% menjadi 82,46%.

Total aset perbankan Sumatera Utara pada triwulan II-2010 tumbuh sebesar 3,71% (qtq) dan 8,54% (yoy). Total aset perbankan sebesar Rp118,87 triliun. Dana pihak ketiga yang dihimpun perbankan Sumatera Utara pada triwulan II-2010 tumbuh sebesar 2,59% (qtq)

dan 9,28% (yoy) hingga mencapai jumlah Rp97,87 triliun.

Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan jenis simpanan berupa giro dan tabungan dengan persentase kenaikan masing-masing sebesar 7,38% dan 3,88% (qtq). Sedangkan instrumen deposito mengalami sedikit penurunan 0,40% yang diindikasikan karena pencairan deposito untuk memenuhi kebutuhan konsumsi yang dilakukan khususnya oleh rumah tangga terkait dengan akan masuknya tahun ajaran baru.

Kredit yang disalurkan perbankan Sumatera Utara pada triwulan

II-2010 tumbuh sebesar 6,69% (qtq) dan 20,13% (yoy) hingga

mencapai jumlah Rp80,70 triliun. Pertumbuhan kredit tertinggi di triwulan II-2010 dialami oleh kredit investasi yaitu sebesar 14,87% (qtq).

P

P

xi

PEEERRRKKKEEEMMMBBBAAANNNGGGAAANNNSSSIIISSSTTTEEEMMMPPPEEEMMMBBBAAAYYYAAARRRAAANNN

Nilai transaksi perbankan Sumatera Utara melalui sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) pada triwulan II-2010 mengalami kenaikan sebesar Rp4.835 milyar atau 4,58% menjadi Rp110.352 milyar dari nilai transaksi pada triwulan I-2010 yang tercatat sebesar Rp105.517 milyar, dengan volume transaksi BI-RTGS sebanyak 154.780 transaksi atau turun 16,00% bila dibandingkan triwulan I-2010 yang tercatat sebanyak 184.263 transaksi. Sedangkan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 146.310 transaksi terjadi kenaikan 5,79%.

Nilai transaksi BI-RTGS Sumatera Utara sepanjang triwulan II-2010 didominasi oleh aliran dana yang masuk ke perbankan Sumatera Utara dengan nilai tercatat sebesar Rp60.661 milyar, sementara aliran dana yang keluar dari perbankan Sumatera Utara tercatat sebesar Rp49.691 miliar. Jika dibandingkan dengan triwulan I-2010 dana yang keluar dari perbankan Sumatera Utara naik 4,42%, sementara dana yang masuk tercatat naik 4,78%.

(17)

Perubahan APBD naik Rp557,5 milyar

Terjadi peningkatan jumlah angkatan kerja

dari 1.072.466 transaksi pada triwulan I-2010 menjadi 1.082.136 transaksi.

P

PPEE

xii

ERRRKKKEEEMMMBBBAAANNNGGGAAANNNKKKEEEUUUAAANNNGGGAAANNNDDDAAAEEERRRAAAHHH

Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Sumatera Utara 2010 diproyeksikan naik Rp557,50 miliar menjadi total Rp3,99 triliun dibandingkan dengan APBD murni. Dari sisi pendapatan terjadi kenaikan antara lain Pendapatan Asli Daerah (PAD), dari Rp2,23 triliun menjadi Rp2,54 triliun atau naik sekitar Rp314,26 miliar. Dana perimbangan yang semula hanya Rp1,18 triliun meningkat menjadi Rp1,32 triliun atau mengalami kenaikan sekitar Rp144,63 miliar, sedangkan kelompok lainnya pendapatan daerah yang sah juga naik dari Rp32,75 miliar menjadi Rp131,34 miliar atau naik sekitar Rp98,58 miliar.

Kenaikan PAD bersumber dari pajak daerah sebesar Rp161 miliar, retribusi daerah Rp26 miliar, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan Rp53,82 miliar dan lain-lain PAD yang sah sebesar Rp73,41 miliar lebih. Kenaikan dana perimbangan bersumber dari bagi hasil pajak dan bukan pajak sebesar Rp94,38 miliar lebih, dana alokasi umum (DAU) Rp21,11 miliar dan dana alokasi khusus (DAK) sebesar Rp29,13 miliar.

Sementara itu, kebutuhan belanja berdasarkan R-PAPBD 2010 sebesar Rp4,16 triliun atau naik Rp281,97 miliar (7,36%) dibandingkan APBD induk sebesar Rp3,83 triliun. Belanja daerah menurut APBD 2010 dialokasikan untuk belanja tidak langsung sebesar Rp2,04 triliun (53,17%) dan sisanya Rp1,80 triliun (46,83%) untuk belanja langsung. Dalam R-PAPBD 2010, belanja tidak langsung mencapai Rp2,14 triliun (51,93%) yang berarti naik 98,88 miliar atau 4,90% dibanding belanja tidak langsung dalam APBD induk, sedangkan belanja langsung hanya Rp1,98 triliun (48,07%) atau naik Rp182,08 miliar.

Prioritas dan plafon anggaran berdasarkan urusan wajib menurut R-PAPBD 2010 dialokasikan sebesar Rp3,81 triliun atau 92,59% yang berarti meningkat Rp242,25 miliar dibanding APBD induk. Sementara sisanya untuk urusan pilihan sebesar Rp304,71 miliar atau 7,41% yang berarti meningkat Rp39,72 miliar atau 14,77%. Dari kenaikan anggaran belanja dalam R-PAPBD 2010 sebesar Rp281,97 miliar itu, untuk urusan wajib mencapai 86,12% dan sisanya 13,88% untuk urusan pilihan.

P

PPEEERRRKKKEEEMMMBBBAAANNNGGGAAANNNKKKEEETTTEEENNNAAAGGGAAAKKKEEERRRJJJAAAAAANNNDDDAAANNNKKKEEESSSEEEJJJAAAHHHTTTEEERRRAAAAAANNN

(18)

Pertumbuhan ekonomi triwulan III-2010

diperkirakan

5,05±1%

dibandingkan dengan peningkatan jumlah angkatan kerja perempuan.

Selama satu tahun, yakni dari periode Februari 2009 sampai dengan Februari 2010 jumlah angkatan kerja laki-laki bertambah sebanyak 57.666 orang, sedangkan angkatan kerja perempuan bertambah sebanyak 22.811 orang. Penduduk yang bekerja bertambah sebanyak 89.295 orang dibandingkan keadaan setahun yang lalu, yakni saat Februari 2009. Selama satu tahun tersebut, peningkatan jumlah penduduk yang bekerja didominasi oleh laki-laki. Jumlah penduduk laki-laki yang bekerja naik sebanyak 70.847 orang, sedangkan peningkatan penduduk perempuan yang bekerja sebanyak 18.448 orang.

Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) Sumatera Utara pada Februari 2010 sebesar 69,38% atau menurun sebesar 0,60% dibandingkan TPAK pada Februari 2009 sebesar 69,98%. TPAK penduduk perempuan pada Februari 2010 sebesar 56,59% atau sedikit menurun dibandingkan dengan keadaan Februari 2009 sebesar 57,26%, sedangkan TPAK penduduk laki-laki pada Februari 2010 sebesar 82,53% atau mengalami penurunan sebesar 0,53% dibandingkan keadaan Februari 2009 sebesar 83,06%.

Sejalan dengan penurunan TPAK tersebut, jumlah pengangguran turun sebesar 8.818 orang. Pada Februari 2009, jumlah pengangguran terbuka sebesar 521.643 orang dan pada Februari 2010 turun menjadi 512.825 orang. Dengan demikian, tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun dari 8,25% pada Februari 2009 menjadi 8,01% pada Februari 2010. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) penduduk perempuan pada Februari 2010 sebesar 10.46% dan TPT penduduk laki-laki sebesar 6,29%. Pada Februari 2009, TPT penduduk laki-laki sebesar 6,74% dan TPT penduduk perempuan sebesar 10,38%.

P

PPRR

xiii ROOOSSSPPPEEEKKKPPPEEERRREEEKKKOOONNNOOOMMMIIIAAANNN

Perkiraan Ekonomi

Perekonomian Sumut pada triwulan III-2010 diperkirakan masih akan mengalami tren pertumbuhan yang meningkat. Potensi

penguatan dari sisi penawaran agregat, terutama berasal dari

sektor pertanian, terkait dengan membaiknya harga produk-produk

sub sektor perkebunan seperti sawit dan karet. Sesuai siklus musiman, dalam periode tersebut komoditas kelapa sawit dan karet

juga dalam masa puncak produksi yang lebih baik dibandingkan

(19)

Inflasi akan berada

pada kisaran 6,70±1%

Dari sisi permintaan, konsumsi swasta dan rumah tangga akan

mengalami peningkatan dengan tibanya Bulan Ramadhan dan Idul

Fitri.

Pada triwulan III-2010, pertumbuhan ekonomi Sumut diproyeksikan

akan tumbuh pada kisaran 5,05±1% (yoy). Dengan perkembangan tersebut, laju pertumbuhan ekonomi Sumut pada tahun 2010

diproyeksikan masih berada pada kisaran 5±1% (yoy).

Perkiraan Inflasi Daerah

Pada triwulan III-2010, inflasi Sumut diperkirakan sedikit meningkat dibandingkan triwulan II-2010 dengan kisaran antara 6,70±1% (yoy). Sementara itu, pada 2010, laju inflasi di Sumut diperkirakan

mencapai 7±1% (yoy). Kondisi ini mencerminkan bahwa tekanan

inflasi ke depan masih harus terus diwaspadai. Potensi meningkatnya harga di daerah, masih disebabkan oleh hambatan kelancaran distribusi barang dan masuknya musim penghujan yang dapat mengganggu produksi hasil pertanian. Hambatan distribusi barang terkait erat dengan belum optimalnya pengembangan infrastruktur transportasi di daerah. Terkait dengan upaya perbaikan infrastruktur, pemerintah sedang melakukan upaya peningkatan infrastruktur yang mencakup pengembangan infrastruktur transportasi.

(20)

BAB I

(21)

B

B

B

A

A

A

B

B

B

11

1

P

P

P

E

E

E

R

R

R

K

K

K

E

E

E

M

M

M

B

B

B

A

A

A

N

N

N

G

G

G

A

A

A

N

N

N

E

E

E

K

K

K

O

O

O

N

N

N

O

O

O

M

M

M

I

I

I

M

M

M

A

A

A

K

K

K

R

R

R

O

O

O

R

R

R

E

E

E

G

G

G

I

I

I

O

O

O

N

N

N

A

A

A

L

L

L

“ Perekonomian Sumut semakin menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Pada triwulan

laporan pertumbuhan ekonomi Sumut tercatat sebesar 6,55% (yoy), dengan pertumbuhan

tertinggi terjadi pada sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. “ 

1.1. KONDISI UMUM

Perekonomian Sumatera Utara triwulan II-2010 diperkirakan tumbuh sebesar 6,55% (yoy),

mengalami peningkatan apabila dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I-2010 yang

tercatat sebesar 6,02%. Peningkatan ini antara lain ditunjang oleh kegiatan dunia usaha yang semakin menunjukkan peningkatan aktivitasnya. Secara keseluruhan, nilai PDRB Sumut

pada triwulan II-2010 atas dasar harga konstan tahun 2000 diperkirakan mencapai Rp29,009

triliun. Secara tahunan peningkatan pertumbuhan dialami oleh hampir seluruh sektor kecuali

sektor bangunan dan sektor pengangkutan dan komunikasi.

Di sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor keuangan, persewaan dan jasa,

sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR).

Sementara itu, sektor pertanian sebagai sektor unggulan Sumut juga mencatat peningkatan

pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya. Kondisi ini juga mengembalikan karakter ekonomi Sumut pada sektor utamanya seperti pertanian dan sektor perdagangan, setelah

pada triwulan-triwulan sebelumnya pertumbuhan tertinggi selalu terjadi pada sektor

non-primer.

Di sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Sumut pada triwulan II-2010 terutama didorong oleh konsumsi, khususnya konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah. Aktivitas

konsumsi rumah tangga pada triwulan ini dipengaruhi oleh faktor musiman (masa liburan dan

tahun ajaran baru), sebagian besar diantaranya terjadi pada bulan Mei dan Juni 2010 yang

didorong oleh kenaikan permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa untuk keperluan pendidikan. Sementara, konsumsi pemerintah juga mulai menunjukkan peningkatan terkait

dengan siklus anggaran. Di sisi lain, kegiatan investasi mulai menunjukkan geliatnya.

Beberapa proyek baru mulai direalisasikan. Hal ini didukung pula oleh prompt indikator

seperti peningkatan konsumsi semen, level ekspektasi pelaku usaha terhadap kondisi dunia

usaha yang berada di atas 100 serta peningkatan kredit investasi.

Selain konsumsi, kegiatan perdagangan luar negeri juga menunjukkan peningkatan. Nilai

ekspor nonmigas yang pada triwulan sebelumnya sempat menurun, pada triwulan II-2010

(22)

(data sampai dengan Mei) kembali meningkat. Peningkatan ekspor, baik nilai maupun

volumenya, didorong oleh kenaikan permintaan luar negeri terhadap produk-produk dari

kelompok barang CPO dan karet. Seiring dengan kenaikan ekspor, volume impor juga

meningkat, namun nilainya mengalami penurunan, antara lain pada produk industri makanan dan minuman.

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan ini juga didukung oleh pertumbuhan yang sama pada

sisi pembiayaan khususnya yang berasal dari perbankan. Tingkat pertumbuhan pembiayaan perbankan untuk kegiatan ekonomi di berbagai sektor semakin menunjukkan peningkatan.

Pertumbuhan kredit modal kerja dan investasi juga terus berada dalam tren peningkatan

sejalan dengan meningkatnya ekspektasi masyarakat akan penghasilan ke depan dan aktivitas

investasi swasta di Sumut. Sejalan dengan hal tersebut, kegiatan konsumsi rumah tangga tetap berlangsung dengan pembiayaan konsumsi melalui kredit perbankan, terlihat dari laju

pemberian kredit konsumsi yang terbesar setelah kredit modal kerja.

Grafik 1.1. Laju Pertumbuhan Ekonomi Sumut

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara

1.2. SISI PERMINTAAN

Perekonomian Sumut pada triwulan II-2010 diperkirakan tumbuh 6,55% (yoy), lebih tinggi

dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 6,04% (yoy). Pertumbuhan

ekonomi Sumut masih didorong oleh meningkatnya kegiatan konsumsi, baik pemerintah maupun swasta serta investasi. Konsumsi swasta diperkirakan masih tetap tinggi seiring

dengan perbaikan daya beli masyarakat dan meningkatnya optimisme masyarakat Sumut.

Peningkatan konsumsi tersebut didukung pula oleh semakin meningkatnya penyaluran kredit

(23)

Tabel 1.1. Pertumbuhan Ekonomi Tahunan Provinsi Sumut Dari Sisi Permintaan (%)

 

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara

1. Konsumsi

Konsumsi pada triwulan II-2010 diperkirakan tumbuh 6,97% (yoy), lebih tinggi dibandingkan

triwulan sebelumnya sebesar 6,30%. Sedikit berbeda dengan pola musimannya, konsumsi

awal tahun cenderung lebih tinggi diakibatkan meningkatnya permintaan masyarakat untuk mengkonsumsi barang/produk tertentu. Sebagaimana triwulan-triwulan sebelumnya,

pertumbuhan konsumsi masih didorong oleh kinerja konsumsi swasta. Berbagai indikator

memperlihatkan bahwa konsumsi swasta pada triwulan laporan masih tetap tinggi dan tumbuh signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, stimulus fiskal

terus menunjukkan peningkatan terutama sejak paruh kedua tahun 2009 sehingga

diharapkan dapat merangsang peningkatan konsumsi pemerintah.

Grafik 1.2. Indeks Keyakinan Konsumen Grafik 1.3. Komponen Indeks Keyakinan

Saat Ini

umber : Bank Indonesia Medan

ngga pada triwulan II-2010 diperkirakan tumbuh 6,71% (yoy), lebih tinggi

triwulan sebelumnya berada pada indeks 107,83%.

0 20 40 60 80 100 120 140 160

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2008 2009 2010

Penghasilan saat ini Pembelian brg tahan lama 107.83

109.58

0 20 40 60 80 100 120 140

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6

2008 2009 2010

S

Konsumsi rumah ta

dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 6,05% (yoy). Konsumsi rumah tangga

mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan daya beli, membaiknya ekspektasi

konsumen dan tingginya penyaluran kredit perbankan. Sementara itu, indeks keyakinan

konsumen (IKK) pada triwulan laporan juga meningkat menjadi 109,58% setelah pada

(24)

Grafik 1.5. Komponen Indeks Ekspektasi Grafik 1.6. Pertumbuhan Penjualan Elektronik ‐ 1,000.0  0  0  0  0  2,000. 3,000. 4,000. 5,000. 6,000.0  7,000.0  (40.00) (20.00) ‐ 20.00  40.00  60.00  80. 100.00 

1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 2008 2009 2010

%

00 

Rp juta

Pertumbuhan (yoy) Penjualan BBM

pembelian barang-barang konsumsi

oods pada triwulan II-2010 mengalami peningkatan dibandingkan triwulan yang sama tahun

lalu. Sementara itu, indikator barang konsumsi lainnya seperti konsumsi BBM, penjualan

Sumber : Bank Indonesia Medan

Sumber : Bank Indonesia Medan

Beberapa prompt indikator konsumsi mengindikasikan pengeluaran masyarakat Sumut untuk

masih cukup tinggi. Konsumsi durable dan non durable

g

makanan dan minuman, penjualan perlengkapan rumah tangga, serta penjualan pakaian dan

perlengkapannya mengalami peningkatan di triwulan laporan.

Grafik 1.6. Pertumbuhan Penjualan BBM Grafik 1.7. Penjualan Makanan&Tembakau

0 50 100 150 200 250 300 ‐40 ‐20 0 20 40 60 80 100

9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6

2007 2008 2009 2010

Rp Juta

140%

120

Pertumbuhan (yoy) Penjualan Elektronik

0 50 100 150 200 300

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6

2008 2009 2010

350

Ekspektasi kondisi perekonomian Ekspektasi penghasilan 

250 (60.00) (40.00) (20.00) ‐ 20.00  40.00  60.00  80.00  100.00  120.00  140.00  ‐ 1,000.0  2,000.0  3,000.0  4,000.0  6,000.0 

1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6

2008 2009 2010

%

Rp juta

Penjualan Makanan dan Tembakau Pertumbuhan (yoy)

(25)

Grafik 1.8. Penjualan Perlengkapan RT Grafik 1.9. Penjualan Pakaian&Perlengkapan (50.00) ‐ 50.00  100.00  150.00  200.00  250.00  300.00  350.00  400.00  ‐ 500.0  1,000.0  1,500.0  2,000.0  2,500.0 

1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6

2008 2009 2010

%

Rp Juta

Penjualan Pakaian & Perlengkapannya Pertumbuhan (yoy)

‐ 500.0  1,000.0  1,500.0  2,000.0  2,500.0  3,000.0  3,500.0  ‐ 20  40  60  80  100  120  140  160  180  200 

5

 

Perkembangan Ekonomi Makro Regional | BAB 1 

1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6

2008 2009 2010

Rp Juta %

Pertumbuhan (yoy) Penjualan Perlengkapan RT

Sumber : Bank Indonesia Medan

Pertumbuhan konsumsi masyarakat antara lain juga ditopang oleh penyaluran kredit

konsumsi yang terus mengalami peningkatan. Penyaluran kredit baru untuk jenis penggunaan

konsumsi pada triwulan II-2010 mencapai Rp1,13 triliun. Dengan tambahan penyaluran kredit

baru tersebut, outstanding penyaluran kredit konsumsi bank umum di Sumut mencapai

Rp22,54 triliun.

Grafik 1.10. Posisi Penyaluran Kredit Konsumsi Grafik 1.11. Penyaluran Kredit Baru untuk oleh Bank Umum di Sumut konsumsi oleh Bank Umum di Sumut

0 10 20 30 40 50 0 5 10 15 20 25

I II III IV I II III IV I II III IV I II

2007 2008 2009 2010

%

Rp Triliun

Sumber : Laporan Bank Umum

posisi kredit pertumbuhan (yoy)

0 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 ‐60 ‐40 ‐20 0 20 40 60 80 100 120

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II 2006 2007 2008 2009 2010

% Rp Miliar

Sumber : Laporan Bank Umum

jumlah kredit pertumbuhan (yoy)

2. Investasi

Kegiatan investasi pada triwulan II-2010 diperkirakan tumbuh 3,58% (yoy), lebih tinggi

dibandingkan pertumbuhan periode sebelumnya yang sebesar 2,81% (yoy). Pertumbuhan

investasi terutama didorong oleh meningkatnya kegiatan investasi sektor bangunan yang

masih menunjukkan peningkatan walaupun tidak setinggi periode sebelumnya. Peningkatan

investasi sektor bangunan dikonfirmasi oleh meningkatnya penjualan bahan konstruksi dan

(26)

infrastruktur. Nilai penjualan semen pada triwulan II-2010 mencapai 217,5 ribu ton, tumbuh

sekitar 13,91% (qtq) atau 11,56% (yoy).

Grafik 1.12. Pengadaan Semen di Sumut Grafik 1.13. Penjualan Bahan Konstruksi

0  50  100  150  200  250  300  ‐20 ‐10 0 10 20 30 40

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6

2008 2009 2010

Ribu Ton

%

Sumber : Asosiasi Semen Indonesia

Pengadaan Semen (axis kanan) Pertumbuhan (yoy)

‐ 200.0  400.0  600.0  800.0  1,000.0  1,200.0  (20.00) ‐ 20.00  40.00  60.00  80.00  100.00  120.00 

1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 2008 2009 2010

% Rp Juta

Sumber : Survei Penjualan Eceran, KBI Medan

Pertumbuhan (yoy) Penjualan Bahan Konstruksi

Dari sisi pembiayaan, kredit perbankan untuk tujuan investasi terus menunjukkan tren peningkatan. Pertumbuhan kredit investasi pada Juni 2010 tercatat sebesar 20,48% (yoy)

dengan outstanding kredit mencapai Rp18 triliun. Selain kredit perbankan, sektor riil

diperkirakan juga menggunakan sumber pendanaan investasi lain seperti modal sendiri,

pinjaman, obligasi dan saham, meskipun proporsinya masih relatif kecil. Pilihan pembiayaan

investasi di luar perbankan belum terlalu populer bagi kalangan usaha di Sumut.

Grafik 1.14. Posisi Penyaluran Kredit Investasi oleh Bank Umum di Sumut

0 5 10 15 20 25 30 35 40 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II 2006 2007 2008 2009 2010

% Rp Triliun

Sumber : Laporan Bank Umum

posisi kredit pertumbuhan (yoy)

 

Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Pasar Modal (BKPM), total realisasi

investasi tahun 2009 di Sumut mencapai Rp37,76 triliun untuk periode Januari sampai

(27)

7

 

Perkembangan Ekonomi Makro Regional | BAB 1 

Rp34,14 triliun dan realisasi investasi untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar

Rp3,62 triliun. Berdasarkan sektor usaha, sektor yang paling diminati oleh investor adalah

sektor jasa lainnya. Nilai investasi pada sektor ini selama tahun 2009 adalah sebesar Rp10,87

triliun atau sebesar 28,78% dari total realisasi investasi dan hanya datang dari PMA saja. Secara total seluruh sektor, PMA menyumbangkan investasi sebesar Rp34,14 triliun, atau

90% dari seluruh realisasi investasi di Sumut.

Khusus untuk triwulan I-2010, angka realisasi investasi mengalami pertumbuhan yang positif,

dengan laju pertumbuhan sebesar 41,93% (yoy). Kondisi inilah yang mendorong terjadinya

peningkatan di sisi investasi. Dibandingkan dengan triwulan IV-2009, pertumbuhan triwulan I-2010 juga mengalami peningkatan, dimana angka pertumbuhan realisasi investasi pada

triwulan tersebut mencapai 37,03% (yoy). Sementara itu, jumlah proyek juga mengalami

kenaikan sebesar 31 buah proyek atau 9,54%, serta penyerapan tenaga kerja mengalami

kenaikan 29.764 orang atau 41,14%.

Penyelesaian beberapa proyek infrastruktur di Sumut bervariasi, sebagian proyek dapat berjalan relatif lancar, namun sebagian lainnya relatif lambat, antara lain karena terkendala

permasalahan teknis. Proyek-proyek yang telah selesai antara lain adalah proyek fly over

Amplas. Sementara itu, proyek-proyek yang masih berkutat pada permasalahan teknis, antara

lain adalah beberapa rencana pembangunan proyek jalan tol dan Bandara Kuala Namu.

Pembangunan Bandara Kuala Namu secara keseluruhan baru selesai sekitar 47,23% dengan target selesai yaitu November 2011. Kendala utama pembangunan Bandara Kuala Namu

adalah masalah dana. Saat ini dana yang diharapkan untuk pembangunan bandara ialah dana

yang berasaldari pusat untuk tahun 2010 sebesar Rp600,2 miliar, dana dari PT. Angkasapura

sebesar Rp1,6 triliun yang diperoleh dari pinjaman bank guna membangun fasilitas udara, kargo, terminal penumpang dan lainnya, kompensansi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) tahun

2009 dari Kabupaten Deliserdang sebesar Rp4,3 miliar.

Saat ini pembangunan bandara masih terus menunggu lanjutan kucuran dana dari APBN.

Keseluruhan dana pembangunan Kuala Namu diperkirakan mencapai Rp4,3 triliun. Jika Bandara Kuala Namu selesai, akan mampu menampung 8 juta orang/tahun.

Selanjutnya untuk pengembangan Pelabuhan Belawan, Teluk Nibung dan Bagan Asahan, juga

diperlukan dukungan pemerintah pusat untuk percepatan pengembangannya menuju

pelabuhan internasional. Pengembangan sarana dan prasarana air meliputi pembangunan

(28)

Wampu, pembangunan daerah irigasi Siborna Kecamatan Sosa, serta pembangunan daerah

irigasi di Mombang Boru. Banyaknya rencana pembangunan ini tentunya membutuhkan dana

investasi yang cukup besar pula.

3. Ekspor - Impor

Kegiatan ekspor-impor Sumut masih memberi andil terhadap perekonomian Sumut. Pada

triwulan II-2010 (data sampai Mei 2010), ekspor Sumut terus melanjutkan tren peningkatan.

Pertumbuhan ekspor meningkat seiring dengan membaiknya kinerja ekspor CPO Sumut ke luar negeri yang merupakan komoditi terbesar ekspor. Begitu pula dengan ekspor Sumut ke

daerah/provinsi lain di dalam negeri yang cenderung meningkat dikonfirmasi oleh

peningkatan volume bongkar muat barang melalui Pelabuhan Belawan.

Impor Sumut juga menunjukkan peningkatan pada triwulan II-2010, khususnya impor dari luar negeri/antar negara. Nilai impor Sumut diperkirakan tumbuh sebesar 2,40% pada

triwulan II-2010, lebih rendah dibandingkan periode yang sama triwulan sebelumnya sebesar

3,89%. Aktivitas impor memasuki awal tahun 2010 mulai mengalami peningkatan setelah

mengalami lonjakan untuk mendukung ekspansi pada sisi penawaran (berupa impor barang modal dan bahan baku) dan memenuhi kebutuhan konsumsi langsung masyarakat (berupa

barang konsumsi). Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan kegiatan konsumsi pada

triwulan laporan masih dapat dipenuhi oleh impor yang dilakukan pada triwulan-triwulan

sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi 6,55% pada triwulan laporan diperkirakan dicukupi oleh produksi maupun bahan baku yang berasal dari dalam negeri.

Grafik 1.15. Perkembangan Nilai Ekspor & Impor Grafik 1.16. Perkembangan Volume Ekspor & Impor

0 100,000,000 200,000,000 300,000,000 400,000,000 500,000,000 600,000,000 700,000,000 800,000,000 900,000,000 1,000,000,000

6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5

2007 2008 2009 2010

Kg Volume Ekspor Volume Impor

0 100,000,000 200,000,000 300,000,000 400,000,000 500,000,000 600,000,000 700,000,000 800,000,000 900,000,000 1,000,000,000

5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5

2007 2008 2009 2010

USD

Sumber : BI

(29)

9

 

Perkembangan Ekonomi Makro Regional | BAB 1 

Grafik 1.17. Volume Muat Barang di Pelabuhan Belawan

0 20,000 40,000 60,000 80,000 100,000 120,000

0 100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000 700,000 800,000

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5

2008 2009 2010

Sumber : BPS

Bongkar Muat 

Ekspor masih didominasi oleh produk manufaktur dengan pangsa hingga 72,60% dari total

Grafik 1.18. Perkembangan Nilai Ekspor Tabel 1.2. Nilai Ekspor Triwulan II-2010* Produk Utama

nilai ekspor. Komoditas ekspor produk manufaktur yang utama tetap berupa produk

makanan dan minuman, produk kimia dan bahan kimia serta karet dan produk plastik.

Deskripsi Nilai Ekspor

TOTAL NILAI EKSPOR 520,618,150

Agriculture, Hunting and Fishing 379,514,107

Mining and Quarrying 51,875

Manufacturing

Food products and beverages 518,750,142 Chemicals and chemical products 142,655,743 Basic metals 65,649,178 Rubber and plastics products 57,148,559 Tobacco products 40,165,075

Sumber : BI * data s.d Mei 2010

600,000,000

USD Mnyk hwn,nabati,CPO Karet Alumunium

Kayu  Kopi,Teh,Rempah

0 100,000,000 200,000,000 300,000,000 400,000,000 500,000,000

5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5

2007 2008 2009 2010

Sumber : BI

Ekspor karet alam Sumut sepanjang tahun 2010 diperkirakan meningkat dibanding tahun

2009. Volume ekspor karet tahun 2010 diperkirakan akan mengalami kenaikan mengingat konsumen karet alam seperti China juga termasuk negara yang memiliki daya tahan terhadap

krisis. Ekspor Karet mentah Sumut pada bulan Mei 2010 tercatat sebesar USD144,48 juta,

atau naik 145,10% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang

(30)

ekspor karet karena permintaan yang menguat khususnya dari China dan diperkirakan

meningkat hingga akhir tahun. Meningkatnya volume ekspor karet dipastikan menambah

devisa karena harga jual juga meningkat, mencapai USD370,64/Kg pada Juni 2010 dari

harga sebelumnya di bulan Mei 2010 sebesar USD363,48/Kg.

kan tetapi, meski volume ekspor Sumut naik, bukan berarti produksi karet ikut naik, sebab A

pasokan karet Sumut juga berasal dari daerah lain seperti Riau dan Jambi. Tren produksi karet

Sumut sendiri menurun akibat sebagian tanaman karet petani berusia tua, konversi lahan ke

tanaman sawit dan akibat cuaca yang tidak menentu dengan kecenderungan terjadinya

kemarau yang lebih panjang.

Sementara itu, impor masih didominasi oleh bahan baku untuk mendukung kegiatan

Tabel 1.3. Nilai Impor Triwulan II-2010*

produksi terutama pada industri yang mengandung komponen impor tinggi (high import

content) seperti industri kimia. Selain itu produk dari industri makanan dan minuman juga

mendominasi impor Sumut. Produk dari industri ini kemudian menjadi komoditas ekspor yang

dikirim kembali ke luar negeri, seperti tampak pada produk ekspor utama Sumut.

Produk-produk yang mendominasi impor Sumut pada triwulan II-2010 ini juga sesuai dengan subsektor industri pengolahan yang mengalami pertumbuhan tinggi, yaitu kimia dan bahan

dari karet.

Deskripsi Nilai Impor

TOTAL NILAI IMPOR 453,751,541

Agriculture, Hunting and Fishing 37,010,710

Mining and Quarrying 6,212,373

Manufacturing

Food products and beverages 67,048,042

Chemicals and chemical products 130,627,531

Basic metals 59,049,257

Rubber and plastics products 12,250,053

Paper Products

Sumber : BI * data s.d Mei 2010

Dilihat dari negara tujuan ekspor, nilai ekspor ke Jepang dan India mencatat nilai tertinggi

ekspor Sumut.

pada posisi Mei 2010 sebesar USD103,01 juta dan USD86,73 juta. Sedangkan nilai ekspor

untuk tujuan Eropa mengalami penurunan, sementara ekspor ke negara kawasan lainnya relatif stabil. Dibandingkan dengan Mei 2009, pangsa pasar untuk tujuan Jepang meningkat

dari 10,47% menjadi 15,13%. Sedangkan pangsa pasar untuk tujuan India mengalami

penurunan dari 16,48% pada Mei 2009 menjadi 12,74%. Sementara itu, negara tujuan

(31)

11

 

Perkembangan Ekonomi Makro Regional | BAB 1  0

20,000,000 40,000,000 60,000,000 80,000,000 100,000,000 120,000,000 140,000,000 160,000,000

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5

2009 2010

USD India Japan USA RRC Singapore

lai Ekspor Menurut Negara Tujuan Grafik 1.20. Pangsa Ekspor Menurut Negara Tujuan

Sumber : Bank Indonesia

AN

erkembangan di sisi permintaan, terutama konsumsi direspon oleh beberapa sektor ekonomi

agangan, hotel dan restoran, sektor industri pengolahan, sektor

Grafik 1.19. Ni

4.26%

12.74%

15.13% 7.54%

7.55%

India Japan USA RRC Singapore

1.3. SISI PENAWAR

P

utama, yaitu sektor perd

transportasi dan komunikasi maupun sektor jasa-jasa yang mengalami pertumbuhan cukup

tinggi. Sementara itu, sektor pertanian masih tetap tumbuh seiring musim panen mulai April

2010. Secara keseluruhan perekonomian di triwulan II-2010 tumbuh cukup tinggi namun masih belum mencerminkan kualitas pertumbuhan yang diharapkan karena kurang dipicu

oleh pertumbuhan investasi dan dari sisi sektoral kurang didukung oleh pertumbuhan pada

sektor ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja secara cukup signifikan.

Tabel 1.4. Pertumbuhan Sektor Ekonomi Tahunan Provinsi Sumut (%)

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara

Selama tahun 2009, perekonomian Sumut didorong oleh pertumbuhan dua sektor ekonom

angan dan jasa perusahaan serta sektor pengangkutan dan i

non dominan, yaitu sektor keu

komunikasi. Kedua sektor ini mulai menunjukkan sumbangan yang besar terhadap

pertumbuhan ekonomi Sumut. Namun, pada triwulan laporan, sektor utama Sumut yaitu

(32)

mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang, berbagai persoalan yang membayangi

kinerja sektor-sektor andalan ini perlu mendapat perhatian dan penanganan khusus.

Grafik 1.21. Perkembangan Pertumbuhan Sektor Unggulan

 

Sumber : BPS

Kinerja sektor pertanian pada triwulan II-2010 mengalami perkembangan yang positif dan

,13% (yoy). Perbaikan kinerja tersebut terutama didorong oleh

ngan meningkatnya tingkat esejahteraan petani. Hal ini antara lain tercermin dari peningkatan nilai tukar petani (NTP)

1. Sektor Pertanian

diperkirakan tumbuh 5

pertumbuhan subsektor tanaman pangan. Produksi sektor pertanian pada triwulan ini lebih

baik dibandingkan produksi pada periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan sektor pertanian pada triwulan II-2010 sejalan de k

yang merupakan salah satu indikator kesejahteraan petani. Berdasarkan hasil pemantauan

BPS Sumut terhadap perkembangan harga-harga di kabupaten/kota di Provinsi Sumut, NTP pada bulan Juni 2010 sebesar 102,20, meningkat 0,83 poin dibandingkan angka NTP pada

periode yang sama tahun 2009 yang sebesar 101,37.

Grafik 1.22. Nilai Tukar Petani Sumut

86 88 90 92 94 96 98 100 102 104 106 108

‐6

‐4

‐2 0 2 4 6 8 10 12 14 16

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6

2008 2009 2010

%

Nilai Tukar Petani  Pertumbuhan (yoy)

(33)

13

 

Perkembangan Ekonomi Makro Regional | BAB 1 

Peningkatan pertumbuhan sektor pertanian juga sejalan dengan penyaluran kredit perbankan

ke sektor ini yang meningkat 6,54% (qtq) atau 16,91% (yoy). Nilai kredit ke sektor pertanian

mencapai Rp11,41 triliun, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp10,71

triliun.

Grafik 1.23. Penyaluran Kredit oleh Bank Umum di Sumut ke Sektor Pertanian

0 2 4 6 8

10 30 40 50

10 12

‐20

‐10 0 20 60 70 80 90

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II

2006 2007 2009 2010

Rp Triliun %

Sumber : Laporan Bulanan Bank Um

posisi kredit

2008 um

pertumbuhan (yoy)

a. Produksi Padi

Angka Tetap (ATAP) produksi padi Tahun 2009 di Provinsi Sumatera Utara sebesar 3.527.899

ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat sebesar 187.105 ton dibandingkan angka tetap

(ATAP) produksi Tahun 2008. Peningkatan tersebut disebabkan meningkatnya hasil per hektar sebesar 1,28 kuintal/ha atau 2,87% dan luas panen juga mengalami kenaikan sebesar 19.867

hektar atau 2,65%.

Angka Ramalan II (ARAM II) produksi padi Tahun 2010 diperkirakan sebesar 3.514.928 ton

Gabah Kering Giling (GKG), turun sebesar 12.971 ton dibandingkan pr duksi ATAP Tahun produksi diperkirakan terjadi karena penurunan luas panen sebesar 27.765

ar 67.579 ton dibandingkan produksi Tahun 2008. Peningkatan

uas panen sebesar 23.684 hektar atau 9,56% dan hasil per hektar juga

engalami kenaikan sebesar 2,22 kuintal/ha atau 4,72%.

o 2009. Penurunan

hektar atau 3,61%, sedangkan hasil per hektar mengalami kenaikan sebesar 1,55 kuintal/ha

atau 3,37%.

b. Produksi Jagung

ATAP produksi jagung Tahun 2009 di Provinsi Sumatera Utara sebesar 1.166.548 ton pipilan

kering, meningkat sebes

tersebut disebabkan kenaikan luas panen sebesar 7.369 hektar atau 3,07% dan hasil per

hektar juga mengalami kenaikan sebesar 1,37 kuintal/ha atau 2,99%. ARAM II produksi

jagung Tahun 2010 diperkirakan sebesar 1.338.360 ton pipilan kering, naik sebesar 171.812

ton dibandingkan produksi ATAP Tahun 2009. Kenaikan produksi diperkirakan terjadi karena peningkatan l

(34)

tara sebesar 14.206 ton biji kering,

eningkat sebesar 2.559 ton dibandingkan produksi Tahun 2008. Peningkatan produksi

ksi diperkirakan terjadi karena penurunan luas panen sebesar 1.223 hektar atau 10,64%,

ektar mengalami kenaikan sebesar 0,14 kuintal/ha atau 1,15%.

t juga terus naik atau sudah

ektor industri tumbuh lebih cepat pada triwulan ini dan memberikan sumbangan yang relatif

mnya, kinerja sektor industri pengolahan masih didorong Di Sumut, daerah penghasil jagung terbesar yakni Simalungun, Tanah Karo dan Deli Serdang. Tantangan dalam pengembangan produksi jagung seperti serangan penyakit hawar daun,

tetapi semakin bisa diatasi dengan adanya benih yang tahan dengan serangan penyakit itu.

Dengan semakin banyaknya produksi jagung, diharapkan ketergantungan pabrikan pakan

Sumut dengan jagung impor kian berkurang dan bahkan Sumut diharapkan bisa surplus.

c. Produksi Kedelai

ATAP produksi kedelai Tahun 2009 di Provinsi Sumatera U

m

disebabkan oleh kenaikan luas panen sebesar 1.897 hektar atau 19,77% dan hasil per hektar

juga mengalami kenaikan sebesar 0,22 kuintal/ha atau 1,83%.

ARAM II produksi kedelai pada Tahun 2010 diperkirakan sebesar 12.840 ton biji kering, turun

sebesar 1.366 ton dibandingkan produksi ATAP Tahun 2009. Penurunan produ

sedangkan hasil per h

Produksi kedelai Sumut sendiri ditargetkan bisa mencapai sekitar 18 ribu ton pada tahun

2010. Dinas Pertanian optimistis bisa mencapai target produksi 2010 itu, karena beberapa perusahaan perkebunan khususnya PT. PN tertarik untuk terjun ke bisnis kedelai. Kenaikan

produksi diyakini tercapai karena produktivitas tanaman di Sumu

di kisaran 12,34 kuintal/ha. Penggunaan bibit unggul juga terus meningkat dan pemerintah

sendiri juga memberikan bantuan benih unggul.

2. Sektor Industri Pengolahan

S

stabil terhadap perekonomian Sumut. Pada triwulan II-2010, sektor ini diperkirakan tumbuh

5,44% (yoy) sedikit lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,42% (yoy).

Beberapa faktor yang diduga mempengaruhi relatif meningkatnya pertumbuhan di sektor industri antara lain adalah kenaikan permintaan domestik yang meningkatkan penggunakan

kapasitas yang sudah ada dan di sisi lain aktivitas pasar ekspor mulai bergairah kembali.

Dengan kata lain, insentif pasar mulai meningkat.

Sebagaimana pola periode sebelu

(35)

dan makanan, minuman dan tembakau diperkirakan mengalami penurunan. Terlihat dari nilai

ekspor yang menurun hingga bulan Maret 2010.

Grafik 1.24. Nilai dan Volume Ekspor Grafik 1.25. Nilai dan Volume Ekspor

Plastik, Karet dan Produk Turunannya Makanan, Minuman dan Tembakau

15

 

Perkembangan Ekonomi Makro Regional | BAB 1 

peningkatan pertumbuhan 20,46% (yoy), dan bila

mengalami pertumbuhan sebesar 6,31% (qtq)

mencapai Rp19,37 triliun, lebih tinggi diband triliun.

Grafik 1.26. Penyaluran Kredit

ke Sektor Industri Pengolah

Dari sisi pembiayaan, penyaluran kredit bank umum ke sektor industri pengolahan mengalami

dibandingkan dengan triwulan sebelumnya

. Nilai kredit ke sektor industri pengolahan

ingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp18,22

oleh Bank Umum di Sumut an ‐10 0 0 40 50 20 25

I II III

10 20 30 5 10 15

IV I II III IV I II III IV I II III IV I II

2006 2007 2008 2009 2010

%

Rp Triliun

Sumber : Laporan Bulanan Bank Umum

posisi kredit pertumbuhan (yoy)

3. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran

Sektor perdagangan, hotel dan restoran pada triwulan II-2010 diperkirakan tumbuh sebesar

7,05% (yoy). Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) pada triwulan laporan

diperkirakan mengalami peningkatan seiring mulai berlangsungnya musim liburan sekolah

pada Juni 2010. Peningkatan pertumbuhan yang terjadi di sektor perdagangan diindikasikan

0 1,000,000 2,000,000 3,000,000 4,000,000 5,000,000 6,000,000 7,000,000 8,000,000 0 5,000,000 10,000,000 15,000,000 20,000,000 25,000,000 9,000,000 30,000,000 10,000,000 35,000,000 Kg USD 0 100,000,000 700,000,000 800,000,000 100,000,000 600,000,000 700,000,000

2008 2009 2010

USD Kg

Sumber : BI

Nilai Ekspor (USD) Volume Ekspor (Kg)

200,000,000 300,000,000 400,000,000 500,000,000 600,000,000 200,000,000 300,000,000 400,000,000 500,000,000

Nilai Ekspor (USD) Volume Ekspor (Kg)

0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5

2008 2009 2010

(36)

oleh beberapa prompt indikator seperti peningkatan arus bongkar muat di pelabuhan

Belawan.

Tabel 1.5. Tingkat Penghunian Kamar Hotel di Sumut (%)

Sumber : BPS

or hotel dan restoran antara lain tercermin

ecara agregat, rata-rata lama menginap tamu asing dan tamu domestik pada hotel

berbintang di Sumut pada ara keseluruhan, rata-rata

lama menginap tamu asing pada bulan Mei 20 0 sebesar 1,77 hari, lebih tinggi dibandingkan

tamu domestik yakni 1,46 hari.

Grafik 1.27. Penyaluran Kredit oleh Bank Umum di Sumut ke Sektor PHR

Pertumbuhan yang relatif meningkat di sub sekt

pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan tingkat hunian hotel.

Jumlah wisman yang masuk melalui bandara Polonia juga meningkat, demikian pula jumlah

wisman yang masuk melalui Pelabuhan Belawan. Sementara itu tingkat hunian hotel di wilayah Sumut relatif meningkat. Tingkat penghunian kamar hotel rata-rata bintang di Sumut

pada bulan Mei 2010 mencapai 38,66%, meningkat dibandingkan bulan April 2010 sebesar

38,44%. S

bulan Mei 2010 mencapai 1,49 hari. Sec 1

4 6 8 10 12 14 16 18 20

5 10 15 20 25 30 35 40 45

Rp Triliun

%

posisi kredit pertumbuhan (yoy)

0 2 ‐5

0

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II

2006 2007 2008 2009 2010

Sumber : Laporan Bulanan Bank Umum

Sementara itu, dukungan di sisi pembiayaan pada sektor perdagangan, hotel dan restoran

menunjukkan kecenderungan yang meningkat dan performance kredit yang membaik.

Outstanding kredit lokasi proyek yang disalurkan di sektor ini cukup melesat dibandingkan dengan periode waktu yang sama tahun sebelumnya. Pada akhir Juni 2010, jumlah kredit

(37)

Grafik 1.28. Perkembangan Arus Barang di Pelabuhan Belawan (Ton)

0 20,000 40,000 60,000 80,000 100,000

Gambar

Tabel 1.3. Nilai Impor Triwulan II-2010*
Grafik 2.4.                                                                    Grafik 2.5
Grafik 2.8. Inflasi Triwulanan
Grafik 2.9. Inflasi Triwulanan
+7

Referensi

Dokumen terkait

incoming and return clearing for interbank debit transfers. supported by paper instruments, such as

Pada triwulan III 2010, kinerja perbankan Jakarta terus menunjukkan peningkatan dan risiko kredit tetap terkendali.. Perkembangan kegiatan intermediasi perbankan

triwulan laporan ekspor tercatat mengalami kontraksi sebesar minus 25,61%, sedangkan pada. triwulan sebelumnya kontraksi ekspor tercatat sebesar

Nilai transaksi kliring perbankan di Sumatera Utara yang meliputi wilayah kerja KBI Medan, KBI Pematang Siantar dan KBI Sibolga pada triwulan IV-2009 tercatat sebesar Rp29.158

Pada triwulan II-2009, perkembangan harga secara umum di Sulawesi Tenggara yang digambarkan oleh perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kota Kendari tercatat mengalami

Dari sisi perbankan, secara umum kinerja sektor perbankan di Jawa Tengah (Bank Umum dan BPR) pada triwulan II-2010 (Data posisi Mei 2010) menunjukkan perkembangan

Perlundungan Hukum yang diberikan terhadap penerima bilyet giro kosong saat ini yang dilakukan oleh bank jika terjadinya penolakan bilyet giro kosong bank hanya memberikan

Praktik penolakan bilyet giro kosong oleh Bank BRI Cabang Padang terjadi, karena sebelum pemegang atau penerima bilyet giro memberikan bilyet giro kepada Teller bank untuk