• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sulawesi Tenggara menyajikan kajian mengenai perkembangan ekonomi Sulawesi Tenggara yang meliputi perkembangan ekonomi makro, perkembangan inflasi daerah, perkembangan perbankan dan sistem pembayaran, informasi tentang keuangan daerah serta prospek perekonomian daerah Sulawesi Tenggara.

Kajian ini disusun secara triwulanan oleh Kantor Bank Indonesia Kendari baik dengan menggunakan data internal maupun data yang diperoleh dari instansi terkait di luar Bank Indonesia. Untuk itu, tanggung jawab penulisan laporan ini sepenuhnya berada pada Kantor Bank Indonesia Kendari.

Kami berharap kajian ini dapat terus ditingkatkan mutu, isi dan cara penyajiannya sehingga dapat bermanfaat bagi para pihak yang membutuhkannya. Untuk itu, saran dan masukan guna perbaikan dan penyempurnaan buku kajian ini sungguh akan kami hargai.

Akhirnya, kami menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang memungkinkan tersusunnya buku kajian ini dan kiranya kerja sama, saling tukar menukar informasi dan data dapat terus berkelanjutan.

Kendari, Agustus 2009

BANK INDONESIA KENDARI

Lawang M. Siagian Pemimpin

(2)
(3)

iii KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARIKANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR GRAFIK ... v

DAFTAR TABEL ... vii

RINGKASAN EKSEKUTIF ... 1

PERKEMBANGAN EKONOMI... 1

INFLASI ... 1

PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN ... 2

KEUANGAN DAERAH ... 5

KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN ... 6

PROSPEK EKONOMI ... 6

BAB I. ASESMEN MAKROEKONOMI... 9

1.1 Kondisi Umum... 9

1.2 PDRB Menurut Penggunaan... 10

1.3 PDRB Menurut Lapangan Usaha ... 18

Boks 1Dilema Infrastruktur Jalan Provinsi Sulawesi Tenggara ...28

BAB II. ASESMEN INFLASI 31

2.1 Kondisi Umum ... 31

2.2 Perkembangan Inflasi Bulanan di Provinsi Sulawesi Tenggara ... 32

2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Inflasi ... 38

2.4 Inflasi Tahun Berjalan dan Inflasi Tahunan ... 39

2.4 Inflasi/Deflasi Terbesar per-Sub Kelompok ... 40

Boks 2 Infrastruktur Buruk Penyebab Tingginya Inflasi Kota Kendari...41

BAB III. ASESMEN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN ... 43

3.1 Kondisi Umum ... 43

3.2 Perkembangan Bank Umum ... 45

3.2.1. Perkembangan Aset ... 45

3.2.2. Perkembangan Dana Pihak Ketiga ... 46

3.2.3. Perkembangan Kredit ... 49

3.2.4. Perkembangan Kredit UMKM... 52

(4)

iv KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARIKANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI

3.2.7. Profitabilitas Usaha ... 57

3.2.8. Efisiensi Usaha ... 58

3.3. Perkembangan Bank Perkreditan Rakyat ... 58

3.4. Perkembangan Perbankan Per Wilayah ... 61

3.4.1. Perkembangan Aset ... 61

3.4.2. Perkembangan Penghimpunan DPK...62

3.4.3. Perkembangan Penyaluran Kredit ... 62

3.4.4. Perkembangan Loan to Deposit Ratio (LDR) ... 63

3.4.5. Perkembangan Non Performing Loans (NPLs) ... 63

BAB IV. KEUANGAN DAERAH ... 65

4.1 Realisasi APBD TA 2008 ... 65

4.2. Realisasi Berdasarkan Surat Perintah Pembayaran Dana ... 67

4.3. Stimulus Infrastruktur ... 68

BAB V. PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN ... 71

5.1 Perkenbangan Alat Pembayaran Tunai ... 71

5.2 Perkembangan Alat Pembayaran Non Tunai ... 74

BAB VI. KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN...77

6.1. Ketenagakerjaan Daerah ... 77

6.2 Kesejahteraan ... 80

BAB VII. PROSPEK EKONOMI DAN INFLASI DAERAH... 85

7.1 Prospek Ekonomi Makro ... 85

7. 2 Perkiraan Inflasi ... 87

7.3 Prospek Perbankan Dan Sistem Pembayaran ... 89

(5)
(6)

vi KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARIKANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI

DAFTAR

DAFTAR

DAFTAR

DAFTAR GRAFIK

GRAFIK

GRAFIK

GRAFIK

Nama Grafik Nama Grafik Nama Grafik

Nama Grafik ... Nomor HalamanNomor HalamanNomor HalamanNomor Halaman

Grafik. 1.1. . . . Perekonomian Sulawesi Tenggara ... 10

Grafik. 1.2. Ekspektasi Inflasi ... 12

Grafik. 1.3. Konsumsi Bahan Bakar ... 13

Grafik. 1.4. Konsumsi Air ... 13

Grafik. 1.5. Realisasi Kredit Konsumsi ... 13

Grafik. 1.6. Realisasi Kredit Investasi ... 14

Grafik. 1.7. Realisasi Kredit Modal Kerja dan Investasi...15

Grafik. 1.8.Ekspor Sulawesi Tenggara ... 16

Grafik. 1.9. Arus Bongkar ... 17

Grafik. 1.10. Impor Sulawesi Tenggara ... 18

Grafik. 1.11 Arus Muat ... 18

Grafik. 1.12 Share setiap sektor terhadap pembentukan PDRB ... 19

Grafik. 1.13 Ekspor Bijih Nikel ... 21

Grafik. 1.14.Arus Bongkar Muat Di PelabuhanKendari dan Bau-Bau (Ton/M3 ) ... 23

Grafik.1.15. Realisasi Pengadaan Semen di Sulawesi Tenggara ... 24

Grafik. 1.16.Jumlah Arus Penumpang di Bandara Wolter Monginsidi Kendari ... 25

Grafik. 1.17. NTB Perbankan Di Sulawesi Tenggara ... 26

Grafik. 2.1. Perkembangan Inflasi Bulanan (m.t.m) Nasional dan Kendari ... 31

Grafik. 2.2. Inflasi Tahunan Kota Kendari ... 39

Grafik. 3.1. Perkembangan Pangsa Aktiva Produktif ... 45

Grafik. 3.2. Perkembangan Pangsa Aset Bank Umum Berdasarkan Kelompok Bank ... 46

Grafik. 3.3. Pangsa DPK Bank Umum Berdasarkan Jenis Simpanan Triwulan II-2009 ... 47

Grafik. 3.4. Perkembangan DPK Bank Umum di Sulawesi Tenggara Menurut Golongan Pemilik ... 48

Grafik. 3.5. Pertumbuhan Kredit (y.t.d) Berdasarkan Penggunaan... 49

Grafik. 3.6. Pangsa Penyaluran Kredit Berdasarkan Penggunaan ... 50

Grafik. 3.7. Pertumbuhan Kredit (y-t-d) Berdasarkan Kelompok Bank ... 50

Grafik. 3.8. Pangsa Penyaluran Kredit Berdasarkan sektor Ekonomi ... 51

Grafik. 3.9. Realisasi Kredit Baru ... 51

Grafik. 3.10. Pangsa Kredit UMKM Berdasarkan Sektor Ekonomi ... 54

Grafik. 3.11. PangsaKomponen Pendapatan Operasional ... 57

(7)

vii KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARIKANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI

Grafik. 5.1. Perkembangan Aliran Uang Masuk/Keluar Ke/Dari KBI Kendari ... 72

Grafik. 5.2. Perbandingan Inflow dan PTTB ... 74

Grafik. 5.3. Perkembangan Transaksi SKN melalui BI ... 74

Grafik. 5.4. Perkembangan Transaksi RTGS melalui BI ... 75

Grafik. 7.1. Pangsa Luas Sawah Per Kabupaten ... 86

(8)

viii KANTOR BANK INDONESIA KENDARI

KANTOR BANK INDONESIA KENDARIKANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI

DAFTAR TABEL

DAFTAR TABEL

DAFTAR TABEL

DAFTAR TABEL

Nama Tabel ... Nomor Halaman

Tabel. 1.1. Tabel. 1.1. Tabel. 1.1.

Tabel. 1.1. PDRB Penggunaan... 11 Tabel. 1.2.

Tabel. 1.2. Tabel. 1.2.

Tabel. 1.2. Indeks Keyakinan ... 12 Tabel. 1.3.

Tabel. 1.3. Tabel. 1.3.

Tabel. 1.3. Volume Ekspor Per Komoditas Propinsi Sulawesi Tenggara ... 16 Tabel. 1.4.

Tabel. 1.4. Tabel. 1.4.

Tabel. 1.4. Pertumbuhan Tiap Sektor (dalam persen) ... 19 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 1.51.51.51.5. . . . Aram Produksi Tabama Prov.Sultra 2009 ... 20 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 1.1.1.1.6666. . . . Produksi Kakao Prov.Sultra 2009 ... 21 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 1.1.1.1.7777. . . . Perkembangan Kredit Perumahan/Ruko ... 24 Tabel. 2.

Tabel. 2. Tabel. 2.

Tabel. 2.1111. . . . Perkembangan Inflasi Provinsi Sulawesi Tenggara ... 32 Tabel. 2.

Tabel. 2. Tabel. 2.

Tabel. 2.2222. . . . Perkembangan Inflasi Bulanan ... 32 Tabel. 2.

Tabel. 2. Tabel. 2.

Tabel. 2.3333. . . . Komoditi Penyumbang Inflasi/Deflasi Kelompok Bahan Makanan ... 33 Tabel. 2.

Tabel. 2. Tabel. 2.

Tabel. 2.4444. . . . Komoditi Penyumbang Inflasi/Deflasi Kelompok Makanan Jadi, Minuman, rokok dan Tembakau ... 34 Tabel. 2.

Tabel. 2. Tabel. 2.

Tabel. 2.5555. . . . Komoditi Penyumbang Inflasi/Deflasi Kelompok Perumahan, Air, Listrik & Bahan Bakar 35 Tabel. 2.

Tabel. 2. Tabel. 2.

Tabel. 2.6666. . . . Komoditi Penyumbang Deflasi Kelompok Sandang ... 36 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 2.72.72.72.7. . . . Komoditi Penyumbang Inflasi Kelompok Kesehatan ... 37 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 2.82.82.82.8 Komoditi Penyumbang Inflasi Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga ... 37 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 2.92.92.92.9. . . . Komoditi Penyumbang Inflasi Kelompok Transportasi dan Komunikasi ... 38 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 2.102.102.102.10. . . . Bebrapa Faktor Yang Mempengaruhi Inflasi/Deflasi Di Kota Kendari ... 38 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 2.112.112.112.11. . . . Inflasi (Deflasi) Terbesar Per Sub Kelompok Secara Bulanan ... 40 Tabel. 3.

Tabel. 3. Tabel. 3.

Tabel. 3.1111. . . . Perkembangan Indikator Perbankan Sulawesi Tenggara ... 45 Tabel. 3.

Tabel. 3. Tabel. 3.

Tabel. 3.2222. . . . Pergerakan Suku Bunga Deposito Rata-rata Bank Umum Sulawesi Tenggara... 48 Tabel. 3.

Tabel. 3. Tabel. 3.

Tabel. 3.3333. . . . Perkembangan UMKM Perbankan Sulawesi Tenggara... 53 Tabel. 3.

Tabel. 3. Tabel. 3.

Tabel. 3.4444. . . . Perkembangan UMKM Menurut Jumlah Rekeningn ... 53

Tabel. 3.5. Tabel. 3.5. Tabel. 3.5.

Tabel. 3.5. Penyaluran Kredit Berdasarkan Lokasi Proyek ... 55 Tabel. 3.6.

Tabel. 3.6. Tabel. 3.6.

Tabel. 3.6. Perkembangan NPLs Gross (%) Per Sektor Ekonomi ... 56 Tabel. 3.7.

Tabel. 3.7. Tabel. 3.7.

Tabel. 3.7. Perkembangan NPLs Gross (%) Berdasarkan Penggunaan ... 56 Tabel. 3

Tabel. 3 Tabel. 3

Tabel. 3.8.8.8.8. . . . Perkembangan ROA dan NIM ... 57 Tabel. 3.

Tabel. 3. Tabel. 3.

Tabel. 3.9999. . . . Perkembangan Pendapatan Dan Beban Operasional ... 58 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 3.3.3.3.10101010. . . . Perkembangan Indikator BPR Sulawesi Tenggara ... 58 Tabel. 3.

Tabel. 3. Tabel. 3.

(9)

ix KANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARIKANTOR BANK INDONESIA KENDARI KANTOR BANK INDONESIA KENDARI Tabel. 3.14.

Tabel. 3.14. Tabel. 3.14.

Tabel. 3.14. Perkembangan Aset Perbankan Per Wilayah...62 Tabe

Tabe Tabe

Tabel. 3.1l. 3.1l. 3.1l. 3.1555. 5. . . Perkembangan DPK Perbankan per Wilayah ... 62 Tabel. 3.16

Tabel. 3.16 Tabel. 3.16

Tabel. 3.16. . . . Perkembangan Kredit per Wilayah ... 63 Tabel. 3.17

Tabel. 3.17 Tabel. 3.17

Tabel. 3.17. . . . Perkembangan LDR per Wilayah ... 63 Tabel. 3.18.

Tabel. 3.18. Tabel. 3.18.

Tabel. 3.18. Perkembangan NPLs per Wilayah...64 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 4.1. 4.1. 4.1. 4.1. Realisasi APBD TA 2008 Provinsi Sultra ... 65 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 4.2.4.2.4.2.4.2. Realisasi Belanja Pada APBD TA 2008 provinsi Sultra ... 66 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 4.4.4.4.3333.... Realisasi Pendapatan Pada APBD TA 2008 provinsi Sultra ... 67 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 4.4.4.4.4444.... Realisasi Anggaran Dinas-Dinas Yang Mencapai 100% ... 68 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 4.4.4.4.5555.... Stimulus Infrastruktur Tahun 2009 ... 69 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 5555.1. .1. .1. .1. Perkembangan Penukaran Uang Melalu Kas Keliling ... 73 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 6.16.16.16.1. . . . Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Menurut Kegiatan ... 77 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 6.26.26.26.2.... Penduduk Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan ... 78 Tab

Tab Tab

Tabel. 6.el. 6.el. 6.el. 6.3333.... Ketenagakerjaan di Sulampua Februari 2009... . 80 Tabel. 6.

Tabel. 6. Tabel. 6.

Tabel. 6.4444.... Nilai Tukar Petani (NTP)... . 81 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 7777....1 1 1 1 Ekspektasi Dunia Usaha Triwulan I-2009... 85 Tabel.

Tabel. Tabel.

Tabel. 7777....2222.... Indeks Ekspektasi Konsumen... 87

(10)

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

PROVINSI

PROVINSI

PROVINSI

PROVINSI SULAWESI TENGGARA

SULAWESI TENGGARA

SULAWESI TENGGARA

SULAWESI TENGGARA

TRIWULAN

TRIWULAN

TRIWULAN

TRIWULAN II

II

II

II----200

200

200

2009

9

9

9

PERKEMBANGAN EKONOMI

Perekonomian Sulawesi Tenggara pada triwulan II-2009 sebesar 7,78% (y.o.y),

Secara sektoral, yang memberikan kontribusi yang tinggi terhadap pertumbuhan adalah sektor pertanian, perdagangan dan jasa-jasa.

Pada sisi penggunaan, meningkatnya permintaan domestik menjadi penyumbang utama pertumbuhan.

Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara pada triwulan II-2009 menunjukkan

pergerakan yang meningkat dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara yang diukur berdasarkan PDRB

harga konstan pada triwulan II-2009 sebesar 7,78%1 (y.o.y) atau lebih tinggi dibandingkan triwulan II-2008 dimana pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar

6,532% (y.o.y)

Secara sektoral, laju pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2009 terutama

didorong oleh kinerja sektor pertanian, sektor perdagangan, dan sektor

jasa-jasa yang masing-masing memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan

sebesar 1,47%, 1,88%, dan 1,33%. Pada periode ini meski krisis keuangan

global masih berlangsung namun sektor pertambangan menunjukkan

pertumbuhan yang positif.

Sementara itu, Kontribusi terhadap pembentukan PDRB pada triwulan II-2009

masih didominasi oleh sektor pertanian, sektor perdagangan, dan sektor

jasa-jasa yang masing-masing memberikan kontribusi terhadap pembentukan PDRB

sebesar 33,68%, 16,24% dan 13,28% seperti tampak pada Grafik 1.2.

Dari sisi penggunaan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2009 didorong

oleh permintaan domestik yang meningkat dengan tingginya aktivitas

kampanye pemilihan calon presiden. Namun demikian, permintaan domestik

tersebut menunjukkan pergerakan yang melambat dibanding periode

sebelumnya.

INFLASI

Inflasi Sulawesi Tenggara triwulan

Perkembangan harga yang diukur dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada

triwulan II-2009 mengalami inflasi sebesar 6,81% (y.o.y) atau lebih rendah

(11)

2

II - 2009 tercatat sebesar 6,81% (y.o.y)

Deflasi terjadi pada bulan Mei dan bulan Juni 2009 yang dipengaruhi oleh deflasi pada kelompok bahan makanan.

dibandingkan triwulan II-2008 yang mengalami inflasi sebesar 15,86% (y.o.y).

Laju inflasi di Sulawesi Tenggara tersebut juga tercatat masih lebih tinggi dari

inflasi nasional sebesar 3,65% (y.o.y). Berdasarkan kelompoknya, inflasi

tertinggi di Sulawesi Tenggara terjadi pada kelompok bahan makanan serta

kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau.

Perkembangan IHK di Kota Kendari pada periode April 2009-Juni 2009 ditandai

dengan terjadinya deflasi bulanan yang terjadi selama dua bulan berturut-turut

yaitu bulan Mei 2009 dan bulan Juni 2009 masing-masing sebesar -0,39%

(m.t.m) dan -0,87% (m.t.m). Secara umum, deflasi yang terjadi pada dua bulan

tersebut dipengaruhi oleh deflasi yang terjadi pada kelompok bahan makanan

seiring dengan harga beras, daging, dan sayur mayur yang cenderung

mengalami penurunan. Deflasi yang terjadi selama dua bulan tersebut

berdampak positif terhadap laju inflasi tahun berjalan sampai dengan bulan

Juni 2009 yang relatif rendah yaitu sebesar 2,64% (y.t.d).

Berdasarkan sub kelompoknya, deflasi terbesar terjadi pada sub kelompok

sayur mayur, ikan diawetkan dan ikan segar masing-masing sebesar -6,77%

(m.t.m), -5,51% (m.t.m), dan -3,38% (m.t.m). Selain itu, kelompok

padi-padian juga tercatat mengalami deflasi sebesar -0,42 yang antara lain

dipengaruhi oleh turunnya harga beras seiring dengan adanya panen di

beberapa daerah di Sulawesi Tenggara sehingga pasokan beras di Sulawesi

Tenggara cukup terjaga.

Secara umum, inflasi di Kota Kendari dipangaruhi oleh faktor pasokan

mengingat sebagian besar komoditi yang diperdagangkan di Kota Kendari

dipasok dari luar provinsi sehingga perubahan harga di daerah asal akan sangat

berpengaruh terhadap pergerakan harga di Kota Kendari.

PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN

Kinerja perbankan Sultra hingga triwulan-II 2009 menunjukkan kinerja yang cukup baik.

Sejalan dengan optimisme pemerintah dimana pertumbuhan ekonomi nasional

pada triwulan II-2009 diperkirakan masih akan tumbuh positif, roda

perekonomian Sulawesi Tenggara secara tahunan pada triwulan II-2009

diperkirakan juga tumbuh positif dengan laju pertumbuhan sebesar 7,76%3.

Tumbuhnya kegiatan perekonomian ini tidak terlepas dari peran lembaga

(12)

3

Total aset tumbuh 13,29% (y.t.d) yang didorong peningkatan DPK dan pembukaan kantor cabang bank umum baru

DPK tumbuh 11,54% (y.t.d) yang terutama terjadi pada giro dan deposito.

Berdasarkan penggunaan, peningkatan kredit terjadi pada semua jenis.

16,60% pembiayaan proyek-proyek di Sulawesi Tenggara berasal dari perbankan lain di luar Sulawesi Tenggara

pembiyaan yang ada di Sulawesi Tenggara terutama lembaga perbankan,

dimana hingga akhir triwulan II-2009 masih menunjukkan kinerja yang cukup

baik sebagaimana terlihat pada beberapa indikator seperti total aset,

penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), penyaluran kredit/pembiayaan,

efisiensi dan laba usaha.

Total aset pada triwulan II-2009, tercatat sebesar Rp6.692,99 miliar,

meningkat 13,29% dibandingkan posisi triwulan IV-2008 yang sebesar

Rp5.907,92 miliar (y-t-d). Pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dari

pertumbuhan pada periode yang sama tahun 2008 yang sebesar 7,41%.

Peningkatan aset terutama didorong oleh meningkatnya dana pihak ketiga

(DPK) dan adanya pembukaan satu kantor cabang bank umum baru di Kota

Kendari yakni PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional (BTPN) yang berkantor

pusat di Bandung.

DPK yang dihimpun tercatat sebesar Rp5.141,82 miliar, meningkat 11,54%

dibandingkan posisi Desember 2008 (y-t-d), sementara pada periode yang

sama tahun sebelumnya hanya meningkat 7,87%. Peningkataan DPK terutama

terjadi pada giro dan deposito dengan laju peningkatan masing-masing sebesar

57,86% dan 11,38%, sedangkan tabungan mengalami sedikit penurunan

yakni sebesar 3,73%.

Berdasarkan penggunaan, peningkatan kredit terjadi pada semua jenis kredit

baik modal kerja, investasi maupun konsumsi, dengan laju pertumbuhan yang

relatif sama yakni masing-masing sebesar 12,16%, 10,96% dan 11,66%

(y-t-d).

Kondusifnya iklim usaha dan masih banyaknya sektor usaha di Sulawesi

Tenggara yang memerlukan pembiayaan dari perbankan serta terbatasnya

kewenangan memutus kredit perbankan lokal, telah membuka peluang kepada

perbankan di luar Sulawesi Tenggara untuk menyalurkan pembiayaannya pada

proyek-proyek yang berlokasi di wilayah ini. Hal ini terlihat pada kredit

berdasarkan lokasi proyek, yakni kredit yang disalurkan perbankan di Indonesia

untuk membiayai proyek-proyek yang berlokasi di Sulawesi Tenggara dimana

pada triwulan II-2009 mencapai Rp4.864,14 miliar. Dari jumlah tersebut

sebesar Rp4.056,71 miliar disalurkan oleh perbankan di Sulawesi Tenggara,

dengan demikian terdapat Rp807,42 miliar (16,60%) kredit yang disalurkan

(13)

4

Sektor lain-lain dan sektor PHR menjadi sektor yang mendominasi penyaluran kredit.

Berdasarkan sektor ekonomi, sektor lain-lain yang umumnya dipergunakan

untuk kegiatan konsumsi masih mendominasi penyaluran kredit di wilayah ini

dengan pangsa sebesar 54,61%, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan

restoran (PHR), sektor konstruksi dan sektor jasa dunia usaha dengan pangsa

masing-masing sebesar 31,85%, 5,12% dan 3,77%. Sementara sektor-sektor

yang lainnya terutama sektor pertanian yang kontribusinya terhadap

pembentuk PDRB rata-rata pertahun mencapai 40,00%, pangsa penyerapan

kreditnya masih relatif kecil yakni hanya sebesar 2,12%.

Posisi kredit kepada UMKM meningkat 11,92% (y.t.d)

Transaksi tunai pada triwulan II-2009 meningkat dibandingkan triwulan I-2009

Pada triwulan II-2009 terjadi net outflow sebesar Rp161,78 milliar.

Posisi kredit/pembiayaan bank umum kepada UMKM4 pada triwulan II-2009

telah mencapai Rp4.005,16 miliar, meningkat 11,92% dibandingkan posisi

triwulan IV-2008 yang sebesar Rp3.578,69 miliar (q-t-q). Jumlah kredit UMKM

tersebut mencapai 94,74% dari total kredit yang disalurkan oleh bank umum

di Sulawesi Tenggara yang sebesar Rp4.227,71 miliar (tabel 3.3). Pertumbuhan

kredit untuk sektor UMKM tersebut tentunya akan semakin mendorong

peningkatan kegiatan perekonomian sektor riil di Sulawesi Tenggara.

Aktivitas transaksi melalui pembayaran tunai di Sulawesi Tenggara yang

dilakukan melalui Kantor Bank Indonesia Kendari pada triwulan II-2009

mengalami peningkatan dibandingkan triwulan I-2009. Peningkatan ini

diperkirakan karena meningkatnya kebutuhan akan uang tunai selama

berlangsungnya masa kampanye pemilihan presiden. Selain itu, dimulainya

masa ajaran baru juga meningkatkan kebutuhan masyarakat akan uang tunai

untuk transaksi selama masa liburan dan pembelian peralatan dan

perlengkapan sekolah.

Peningkatan transaksi pembayaran tunai ini tergambar pada peningkatan

jumlah uang kartal yang dikeluarkan Bank Indonesia Kendari pada triwulan

II-2009. Pada periode tersebut jumlah uang kartal yang dikeluarkan Kantor Bank

Indonesia Kendari mengalami peningkatan sebesar 384,44% dibanding

triwulan sebelumnya yaitu dari Rp109,98 milliar menjadi Rp493,19 milliar.

Sementara itu, aliran uang kartal yang masuk dari perbankan dan masyarakat

ke Kantor Bank Indonesia Kendari pada triwulan II-2009 tercatat hanya sebesar

Rp331,42 milliar. Aliran uang masuk tersebut mengalami penurunan -33,79%

yang menandakan banyaknya uang kartal yang beredar pada masyarakat.

(14)

5

Transaksi non tunai melalui kliring sebesar Rp788,253 miliar sedangkan melalui RTGS tercatat sebesar Rp4.616,33 miliar

Realisasi APBD TA 2008 dibawah target APBD TA 2008 yang ditetapkan

Realisasi Pendapatan Daerah tahun 2008 sebesar 93,85%

Dengan demikian telah terjadi net ouflow sebesar Rp161,78 milliar.

Pada triwulan II-2009 jumlah transaksi pembayaran non tunai melalui Sistem

Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) mengalami peningkatan dibanding

triwulan sebelumnya, baik disisi volume maupun nominal. Volume kliring

tercatat sebanyak sebanyak 42.109 transaksi, meningkat sebesar 8,2%

dibandingkan triwulan I-2009 yang tercatat sebanyak 37.102 transaksi.

Sementara nominal kliring mencapai Rp788,253 milliar atau rata-rata

Rp.262,75 perbulan, meningkat 21,54% dibandingkan triwulan III-2008 yang

tercatat sebesar Rp648,53 miliar atau rata-rata Rp216,17 miliar per bulan.

Transaksi pembayaran non tunai yang diakukan melalui sistem BI-RTGS yang

umumnya masih lebih banyak dilakukan oleh perbankan dan pemerintah juga

menunjukan peningkatan, hal ini terlihat dari rata-rata nominal dan volume

transaksi. Pada triwulan II-2009 nominal transaksi perbulan rata-rata tercatat

sebesar Rp4.616,33 milliar meningkat 41,39% dibandingkan triwulan I-2009

yang rata-rata sebesar Rp3.265,00 milliar . Demikian halnya dengan volume

transaksi yang juga mengalami peningkatan sebesar 81,91% , dari 10.521

transaksi perbulan menjadi 19.138 transaksi.

KEUANGAN DAERAH

Berdasarkan data Realisasi APBD TA 2008, diketahui secara umum bahwa

Realisasi APBD TA 2008 mengalami penurunan dibandingkan dengan APBD TA

2008 yang ditetapkan. Pendapatan daerah yang dicapai pada tahun 2008

sebesar 93,85% dari pendapatan yang ditargetkan. Sementara belanja daerah

hanya mencapai 83,42% dari belanja yang direncanakan.

Pencapaian target belanja daerah pada tahun 2008 sebesar 83,42% dari

perencanaan. Tidak terpenuhinya target pencapaian belanja tersebut terutama

disebabkan oleh tidak terpenuhinya target belanja langsung yang mencapai

75,01% dari target belanja langsung. Sementara belanja tidak langsung juga

tidak memenuhi target pencapaian yaitu sebesar 94,07%.

Komponen dari Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara antara lain

adalah Pendapatan Asli Daerah(PAD), Dana Perimbangan, dan Lain-lain

Pendapatan yang Sah. Realisasi pendapatan daerah pada tahun 2008

mencapai 93,85%. Realisasi pendapatan asli daerah mencapai 86,13% dari

target pendapatan awal yang didorong oleh menurunnya pendapatan yang

(15)

6 asli daerah yang masing-masing sebesar 83,5%, 85,9% dan 87,5%.

Jumlah angkatan kerja Agustus 2008 sebanyak 986.096 orang

NTP Sulawesi Tenggara bulan Mei 2009 mengalami penurunan sebesar -0,07% dibanding NTP bulan April 2009.

Perekonomian Sulawesi Tenggara pada triwulan III -2009, diperkirakan tumbuh pada kisaran 7% + 1%(y.o.y) .

KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN

Pada bulan Februari 2009, jumlah angkatan kerja di Sulawesi Tenggara tercatat

sebesar 986.096 orang atau meningkat 2,36% dibandingkan bulan Februari

2008 dimana jumlah angkatan kerja tercatat sebanyak 963.338 orang. Dari

jumlah angkatan kerja bulan Februari 2009 tersebut, jumlah penduduk usia 15

tahun keatas yang bekerja tercatat sebesar 933.029 orang atau mengalami

peningkatan sebesar 3,09% dibandingkan bulan Februari 2008 sebanyak

205.085 orang , sedangkan jumlah pengangguran terbuka pada bulan Februari

2009 tercatat sebanyak 53.067 orang atau mengalami penurunan sebesar

-8,90% dibandingkan bulan Februari 2008 sebayak 58.253 orang. Sementara

itu, jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang tergolong sebagai bukan

angkatan kerja mengalami sedikit peningkatan dari 413.714.

Tingkat Partisipasi Aktif Angkatan Kerja (TPAK) mengalami kenaikan dari

69,96% pada bulan Februari 2008 menjadi 70,25% pada bulan Februari 2009.

Kondisi ini menunjukkan keterlibatan penduduk dalam pasar kerja, baik untuk

mencari pekerjaan maupun bekerja cukup besar.

Pada bulan Mei 2009, NTP Sulawesi Tenggara tercatat sebesar 106,45. Nilai ini

mengalami penurunan sebesar -0,07% dibandingkan NTP bulan April 2009

yang tercatat sebesar 106,52. Penurunan ini dipengaruhi oleh penurunan

indeks harga pada sub sektor Perkebunan Rakyat dan Perikanan.

Berdasarkan sub sektornya, terdapat tiga sub sektor yang mengalami kenaikan

indeks nilai tukar yaitu indeks nilai tukar tanaman pangan, indeks nilai tukar

hortikultura, indeks nilai tukar peternakan. Pada sisi lain, terdapat dua sub

sektor yang mengalami penurunan indeks nilai tukar yaitu indeks nilai tukar

tanaman perkebunan rakyat dan indeks nilai tukar perikanan

PROSPEK EKONOMI

Pada triwulan III-2009 perekonomian Sulawesi Tenggara diperkirakan masih

tumbuh cukup baik dan berada pada kisaran 7% + 1%(y.o.y). Beberapa sektor

yang diperkirakan menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi pada

triwulan III-2009 adalah sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel &

restoran, serta sektor angkutan. Pada sisi penggunaan pertumbuhan ekonomi

(16)

7 permintaan dalam negeri/domestik terutama konsumsi baik konsumsi rumah

tangga maupun pemerintah. Peningkatan konsumsi rumah tangga antara lain

didorong oleh adanya faktor musiman berupa tahun ajaran baru, Bulan Suci

Ramadhan, serta hari raya Idul Fitri sedangkan konsumsi pemerintah

dipengaruhi oleh adanya realisasi proyek-proyek pemerintah.

Inflasi pada triwulan III-2009 diperkirakan

akan meningkat

Kinerja perbankan masih cukup baik pada triwulan III-2009

Setelah diwarnai dengan deflasi selama dua bulan berturut pada bulan April

2009 dan Juni 2009, pada triwulan III-2009 pergerakan harga-harga di Kota

Kendari diperkirakan cenderung mengalami kenaikan. Kecenderungan

kenaikan harga-harga tersebut diperkirakan terjadi sejak bulan Juli 2009 dan

akan terus berlangsung sampai dengan bulan September 2009 sebagaimana

tercermin pada ekspektasi masyarakat terhadap pergerakan harga-harga di

Kota Kendari (grafik 7.2). Secara umum, inflasi di Kota Kendari pada triwulan

III-2009 dipengaruhi oleh suppy shock. Sementara dari sisi permintaan,

peningkatan permintaan diperkirakan akan terjadi pada akhir bulan Agustus

2009 sampai dengan bulan September 2009.

Meskipun krisis keuangan global pada triwulan II-2009 belum akan berakhir,

namun sebagaimana periode sebelumnya kondisi ini tidak begitu berpengaruh

signifikan terhadap kinerja perbankan Sulawesi Tenggara. Dana pihak ketiga

yang dihimpun diperkirakan masih akan tumbuh positif, terutama didorong

oleh dana-dana milik pemerintah daerah. Sementara, kredit yang disalurkan

akan mengalami peningkatan, seiring dengan trend penurunan suku bunga

acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang biasanya akan direspon oleh perbankan

dengan menurunkan suku bunga baik, suku bunga dana maupun kredit. Selain

itu, pertumbuhan kredit juga akan dipicu oleh meningkatnya penyaluran kredit

program seperti kredit usaha rakyat. Namun demikian, perbankan diperkirakan

masih akan tetap selektif dalam menyalurkan pembiyaannya seiring dengan

meningkatnya rasio kredit bermasalah dan adanya sektor-sektor yang terkena

(17)
(18)

Asesmen Makroekonomi

Asesmen Makroekonomi

Asesmen Makroekonomi

Asesmen Makroekonomi

1.1KONDISI UMUM

Perekonomian Sulawesi Tenggara pada triwulan II-2009 berkembang cukup baik

seiring dengan mulai pulihnya perekonomian Indonesia dan perekonomian dunia dari krisis

keuangan global. Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara pada triwulan II-2009 tumbuh

7,76%1

(y.o.y). Pertumbuhan ini mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama

tahun sebelumnya.

Dari sisi penggunaan konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor utama

pertumbuhan tersebut. Faktor pendorong peningkatan konsumsi antara lain dimulainya

ajaran baru yang meningkatkan konsumsi masyarakat baik untuk hiburan maupun pembelian

peralatan dan perlengkapan sekolah. Selain itu peningkatan daya beli masyarakat yang

didorong oleh pemberian gaji ke-13 kepada pegawai negeri oleh pemerintah serta

berlangsungnya panen raya Padi dan Kakao juga turut meningkatkan perilaku konsumsi

masyarakat. Peningkatan konsumsi ini juga sesuai dengan ekspektasi masyarakat yang

optimis akan membaiknya perekonomian saat ini dan yang akan datang sehingga menjadi

dasar perilaku konsumsi masyarakat. Sementara itu, investasi juga mengalami pertumbuhan

namun pertumbuhan ini sedikit melambat dibandingkan dengan periode sebelumnya yaitu

9,89% (y.o.y), hal ini diperkirakan karena perilaku investor yang masih menahan investasinya

dalam mengantisipasi kondisi keamanan, sosial dan politik yang belum pasti dengan

berlangsungnya pemilihan presiden. Komponen ekspor pada periode ini mengalami kontraksi

yang mengikuti tren pada periode sebelumnya yang diperkirakan masih dipengaruhi oleh

menurunnya permintaan dunia terhadap komoditas ekspor Sulawesi Tenggara yang

didominasi oleh sektor pertambangan. Sementara itu, impor Sulawesi Tenggara menunjukkan

pertumbuhan sebesar 7,8% (y.oy), yang didorong oleh meningkatnya arus perdagangan

antar pulau dengan komoditas utama merupakan komoditas peralatan dan perlengakapan

rumah tangga yang diimpor dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur. Namun pertumbuhan ini

mengalami perlambatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, hal ini

1

(19)

10 disebabkan tidak terdapatnya impor luar negeri yang terjadi selama bulan April hingga Mei

2009.

Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi masih didorong oleh sektor pertanian dan

sektor perdagangan. Sektor ini mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 4,21%

(y.o.y) dan 12,02% (y.o.y). Peningkatan sektor pertanian didorong oleh masa panen kakao

yang mencapai puncaknya pada bulan April hingga Juli serta masa panen raya padi di

beberapa daerah, meski tanaman bahan makanan lain seperti ubi dan kacang kedelai

mengalami penurunan produksi. Sementara peningkatan sektor perdagangan, hotel dan

restauran didorong oleh event yang banyak dilakasanakan di Sulawesi Tenggara antara lain

yaitu Pekan Pameran Sultra, Ulang Tahun kota Kendari, Festival Pulau Makassar, PERKEMPIS

serta lomba dayung yang dilaksanakan di Raha.

Sektor lain yang mengalami pertumbuhan cukup agresif adalah sektor angkutan dan

telekomunikasi serta sektor keuangan. Pertumbuhan sektor angkutan terutama didorong oleh

tingginya mobilitas masyarakat terutama dengan berlangsungnya liburan sekolah serta

diadakannya event-event yang sudah disebutkan sebelumnya.

Grafik 1.1. Perekonomian Sulawesi Tenggara

-500,000.00 1,000,000.00 1,500,000.00 2,000,000.00 2,500,000.00 3,000,000.00

0.00% 2.00% 4.00% 6.00% 8.00% 10.00%

Q

1

Q

2

Q

3

Q

4

Q

1

Q

2

Q

3

Q

4

Q

1

Q

2

*

*

2007 2008 2009

PDRB Growth PDRB

Sumber: data BPS diolah

**)Proyeksi Bank Indonesia

1.2PDRB MENURUT PENGGUNAAN

Pada sisi penggunaan, penyumbang tertinggi pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi

(20)

11

Sumber : BPS Sultra

*) Proyeksi Bank Indonesia Kendari

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2

Konsumsi ( 2 + 3 ) 2.4% 5.3% 3.5% 4.4% 4.2% 3.6% 7.8% 9.6% 14.7% 11.8%

Rumah Tangga 1.8% 5.9% 3.8% 5.0% 5.0% 3.5% 7.7% 8.4% 8.6% 6.2%

Pemerintah 4.1% 3.6% 2.8% 3.0% 2.0% 3.8% 8.0% 12.9% 32.5% 27.6%

Investasi ( 5 + 6 ) 17.4% 7.7% 38.7% 21.3% 21.2% 25.3% 19.3% 9.8% 11.9% 9.9%

Ekspor barang dan jasa 23.5% 13.7% -10.7% 2.6% 8.6% 12.8% -3.1% -19.0% -8.5% -3.7%

Impor Barang Jasa 14.1% 2.5% 0.9% 2.1% 11.2% 21.2% 4.4% -10.4% 12.0% 7.8%

PRODUK DOMESTIK BRUTO 8.1% 9.2% 6.2% 8.5% 7.6% 6.5% 8.5% 6.8% 7.6% 7.8%

2007 2008 2009

Penggunaan

pemerintah. Secara lebih lengkap komponen PDRB sisi penggunaan akan dijabarkan pada

penjelasan berikut.

Tabel 1.2 PDRB Penggunaan

1.2.1 KONSUMSI

Aktivitas konsumsi pada triwulan II-2009 diperkirakan tumbuh 11,77% (y.o.y).

Konsumsi pada periode ini masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Sulawesi

Tenggara dengan kontribusi sebesar 8,62%. Komponen utama dari sektor konsumsi adalah

konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah yang masing-masing mengalami

pertumbuhan sebesar 6,2% (y.o.y) dan 27,6% (y.o.y). Pertumbuhan konsumsi rumah tangga

pada periode tersebut mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 3,36%, sementara

pertumbuhan konsumsi pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 5,26%.

Peningkatan konsumsi rumah tangga juga dikonfirmasi oleh Indeks Keyakinan

Konsumen (tabel 1.2) berdasarkan hasil Survei Konsumen yang dilakukan oleh Bank

Indonesia Kendari yang menunjukkan angka optimis sebesar 136,93 menandakan bahwa

masyarakat masih optimis terhadap kondisi perekonomian saat ini dan yang akan datang

sehingga mendorong perilaku konsumsi masyarakat. Optimisme masyarakat juga terlihat

pada indeks peningkatan penghasilan saat ini dan enam bulan (grafik 1.2) yang turut

mendorong masyarakat untuk meningkatkan konsumsi mereka.

Indikator lain yang menunjukkan peningkatan konsumsi rumah tangga yaitu

meningkatnya konsumsi bahan bakar minyak yang tumbuh 50,86% y.o.y dan 10,03% m.t.m

(Grafik 1.3), pertumbuhan ini juga didorong oleh meningkatnya jumlah kendaraan bermotor

di kota Kendari yang terindikasi dari bertambahnya jumlah SPBU yang beroperasi di kota

(21)

12 Tabel 1.2 Indeks Keyakinan

0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 160.00 180.00 Ju li A g u st u s S e p te m b e r O k to b e r N o v e m b e r D e se m b e r Ja n u a ri F e b ru a ri M a re t A p ri l M e i Ju n i 2008 2009

Penghasilan saat ini dibandingkan 6 bln yang lalu

Ekspektasi penghasilan 6 bulan yad

1 Indeks Keyakinan Konsumen 131.92 136.58 136.93 2 Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini 122.33 120.30 123.82 3 Indeks Ekspektasi Konsumen 141.51 152.86 150.03

Perhitungan indeks hasil survei

4 5 6

2009

peningkatan ini didorong oleh bertambahnya pelanggan air pada PDAM serta meningkatnya

rata-rata pemakaian air oleh rumah tangga sebesar 54 M3

.

Grafik 1.2. Ekspektasi Penghasilan

Meningkatnya pembiayaan oleh perbankan terhadap konsumsi rumah tangga juga

menjadi salah satu indikator tumbuhnya konsumsi rumah tangga pada periode berjalan yang

terindikasi dari peningkatan realisasi kredit konsumsi sebesar 13,52% (y.o.y) atau menjadi

sebesar Rp189,77 milyar pada bulan Juni 2009 (grafik 1.4). Kredit konsumsi tersebut

umumnya digunakan untuk pembiayaan otomotif dan peralatan elektronik.

Meningkatnya konsumsi rumah tangga didorong oleh meningkatnya daya beli

masyarakat dengan berlangsungnya masa panen raya Padi dan Kakao serta pemberian gaji

ke-13 kepada pegawai negeri sipil. Selain itu dimulainya ajaran baru juga turut mendorong

peningkatan konsumsi masyarakat baik untuk konsumsi hiburan dan perjalanan dalam

mengisi liburan sekolah serta konsumsi pembelian untuk peralatan dan perlengkapan

sekolah.

Sementara itu, pertumbuhan konsumsi pemerintah yang cukup agresif diperkirakan

didorong oleh cairnya dana perimbangan dan stimulus infrastruktur dari pemerintah pusat

yang turun pada bulan April 20092

, sehingga memperluas ruang gerak pemerintah daerah

untuk melaksanakan realisasi anggaran yang sudah direncanakan baik untuk belanja modal

maupun belanja non modal.

2

Berdasarkan Informasi Departemen Keuangan RI Sumber: Survei Bank Indonesia

(22)

13 Grafik 1.5 Realisasi Kredit Konsumsi

-50% 0% 50% 100% 150% 200% 0 20,000 40,000 60,000 80,000 100,000 120,000 140,000 160,000 180,000 200,000 Ja n u a ri M ar e t M e i Ju li Se p te m b e r N o ve m b e r Ja n u a ri M ar e t M e i Ju li Se p te m b e r N o ve m b e r Ja n u a ri M ar e t M e i

2007 2008 2009

Realisasi Kredit Konsumsi Growth Konsumsi

Ju ta a n 0 2000000 4000000 6000000 8000000 10000000 12000000 14000000 -0.6 -0.4 -0.2 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2

2006 2007 2008 2009

PREMIUM M.SOLAR Growth Premium Growth M.Solar

0 100000 200000 300000 400000 500000 600000 700000 800000 900000 -0.08 -0.06 -0.04 -0.02 0 0.02 0.04 0.06 0.08

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2

2006 2007 2008 2009

Konsumsi Air Rumah Tangga Growth Konsumsi Air Rumah Tangga Grafik 1.3. Konsumsi Bahan Bakar

Grafik 1.4. Konsumsi Air Sumber: Pertamina Kendari

Sumber: PDAM Kendari

(23)

14 -100.00% -50.00% 0.00% 50.00% 100.00% 150.00% 200.00% 250.00% 300.00% 350.00% 0 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 45,000 Ja n u a ri M a re t M e i Ju li S e p te m b e r N o v e m b e r Ja n u a ri M a re t M e i Ju li S e p te m b e r N o v e m b e r Ja n u a ri M a re t M e i

2007 2008 2009

Realisasi Kr edit Investasi Gr owth Investasi

Jutaan

1.2.2 INVESTASI

Investasi pada triwulan II-2009 diperkirakan tumbuh sebesar 9,89% y.o.y.

Pertumbuhan investasi menyumbang pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara sebesar

2,91%. Namun pertumbuhan ini mengalami perlambatan dibandingkan periode yang sama

tahun sebelumnya dan periode sebelumnya.

Pada sektor properti, perlambatan investasi tercermin dari perkembangan penjualan

semen di wilayah Sulawesi Tenggara yang menunjukkan tren penurunan dibandingkan

periode yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar 71,550 ton atau turun -6,5% y.o.y.

Pembiayaan dari perbankan terhadap kredit investasi juga menunjukkan penurunan

sebesar -4,6% y.o.y atau menjadi sebesar Rp72,976 milyar dibanding periode yang sama

tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp87,371 milyar. Lebih lanjut, perlambatan investasi

juga tercermin melalui kontraksi pada realisasi kredit modal kerja menjadi sebesar -4,7% atau

turun menjadi Rp185,903 milyar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang

tercatat sebesar Rp238,6 milyar.

Perlambatan ini diperkirakan dipengaruhi oleh kehati-hatian investor dan pengusaha

dalam menanamkan modal terhadap kondisi keamanan dan politik dengan berlangsungnya

masa kampanye calon legislatif dan calon presiden sehingga menahan ekspansi investasi

inevestor. Selain itu, belum berjalannya realisasi proyek pemerintah yang disebabkan masih

berjalannya proses tender juga turut menyumbang perlambatan pertumbuhan investasi.

Grafik 1.6 Realisasi Kredit Investasi

(24)

15 Grafik 1.7 Realisasi Kredit Modal Kerja dan Investasi

Sumber: Laporan Bank Umum

-50.00% 0.00% 50.00% 100.00% 150.00% 200.00% 250.00% 0 20,000 40,000 60,000 80,000 100,000 120,000 140,000 Ja n u a ri M a re t M e i Ju li S e p te m b e r N o v e m b e r Ja n u a ri M a re t M e i Ju li S e p te m b e r N o v e m b e r Ja n u a ri M a re t M e i

2007 2008 2009

Realisasi Kredit Investasi dan Modal kerja Growth Jutaan

1.2.3 EKSPOR &IMPOR

Perkembangan ekspor pada triwulan II-2009 masih menunjukkan tren kontraksi yang

diperkirakan sebesar -3,67% (y.o.y). Dengan pangsa sebesar 27,74% terhadap pertumbuhan

ekonomi Sulawesi tenggara, kontraksi ekspor ini tentunya menjadi kontribusi yang negatif

terhadap pertumbuhan ekonomi yang menekan pertumbuhan sebear -1,14%.

Kontraksi ekspor tersebut disebabkan oleh penurunan permintaan luar negeri

terhadap komoditas ekspor Sulawesi Tenggara karena belum pulih sepenuhnya krisis

keuangan global yang melanda dunia. Komoditas utama ekspor luar negeri Provinsi Sulawesi

Tenggara meliputi beberapa kelompok komoditas seperti biji besi, ferronikel, ikan, kakao,

mutiara, dan aspal. Namun kinerja ekspor Sulawesi Tenggara masih sangat tergantung dari

hasil pertambangan khususnya biji nikel yang jumlah produksinya sangat dipengaruhi oleh

permintaan dari luar negeri mengingat hasil pertambangan tersebut dikirim langsung ke luar

negeri.

Jika dibandingkan dengan triwulan I-2009, kontraksi pada periode berjalan

mengalami penurunan, yang berarti ekspor mulai menunjukkan peningkatan. Peningkatan

tersebut terindikasi melalui peningkatan volume ekspor sebesar 9,79% atau menjadi

588.450.266 Kg (Tabel 1.3). Peningkatan ekspor ini didorong oleh meningkatnya ekspor biji

nikel dan fero nikel ke Amerika, Cina, Swiss.

Selain dari ekspor luar negeri, komponen ekspor yang tercatat pada PDRB Sulawesi

(25)

16

Sumber: Disperindagkop Prov. Sulawesi Tenggara

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2

Biji Nikel 717,946,414 882,068,000 546,654,000 124,155,000 100,000,000 571,841,492 Ferro Nikel 447,868 32,937,302 14,250,374 9,702,940 12,517,195 16,608,774 Ikan - - - -Mutiara - - - -Biji Kakao 2,000,000 - - - - -Recover Oil - - - -Bambu Laut - - 20,025 - - -Aspal - - -

-Total 720,394,282 915,005,302 560,924,399 133,857,940 112,517,195 588,450,266 2009

Komoditi 2008

0 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1,600 1,800 2,000

0 50,000,000 100,000,000 150,000,000 200,000,000 250,000,000 300,000,000 350,000,000 400,000,000

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009

EKSPOR

Volume Ekspor Nilai Ekspor

J uta Ton

diperdagangkan antar pulau pada periode berjalan yaitu Kakao dan Ikan. Kedua komoditas

ini diperdagangkan ke Sulawesi Selatan dan Jawa Timur terlebih dahulu sebelum pada

akhirnya di ekspor ke luar negeri3

. Pada periode berjalan, perdagangan antar pulau

mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini

terindikasi dari peningkatan arus bongkar barang di pelabuhan Bau-bau dan Kendari yaitu

sebesar 15,3% (y.o.y) atau menjadi 265.773 Ton/M3

(Grafik 1.10).

Tabel 1.3 Volume Ekspor Per Komoditas Provinsi Sulawesi Tenggara

Grafik 1.8 Ekspor Sulawesi Tenggara

3

(26)

17 0

0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9

-50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 300,000

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2

2007 2008 2009

-Bongkar Growth Bongkar

Impor Sulawesi Tenggara pada periode berjalan menunjukkan pertumbuhan sebesar

7,79% (y.o.y). Share dari impor terhadap pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara pada

periode berjalan yaitu sebesar 33,72% yang mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar

2,63%.

Komposisi impor Sulawesi Tenggara terdiri dari ±20% impor luar negeri dan ±80%

perdagangan antar pulau4

. Dengan komposisi tersebut, yang menjadi kontributor utama

pertumbuhan impor adalah peningkatan perdagangan antar pulau. Indikator peningkatan

perdagangan antar pulau yaitu arus muat barang pada pelabuhan Bau-Bau dan Kendari yang

menunjukkan peningkatan cukup tinggi yaitu 19,6% (y.o.y) dibanding periode yang sama

tahun sebelumnya atau menjadi sebesar 608.140 Ton/M3

.

Namun, jika dibandingkan dengan posisi impor pada periode yang sama tahun

sebelumnya, impor periode berjalan mengalami perlambatan pertumbuhan. Hal ini

diperkirakan disebabkan oleh tidak terdapatnya impor luar negeri pada bulan April hingga

Mei 2009. Stagnansi impor luar negeri tersebut disebabkan penurunan ekspor, karena

komoditas impor Sulawesi Tenggara merupakan komoditas barang modal pengolahan

pertambangan yang menjadi komoditas ekspor.

Dengan kontraksi ekspor dan perlambatan pertumbuhan impor, net balance arus

perdagangan Sulawesi Tenggara tercatat negatif yaitu sebesar –Rp158,336 Milyar.

4

Matriks Perdagangan Sulawesi Tenggara tahun 2000 oleh BPS.

Grafik 1.9. Arus Bongkar

(27)

18 0 5 10 15 20 25 30 35 0 100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000 700,000 800,000 900,000 Q 1 Q 3 Q 1 Q 3 Q 1 Q 3 Q 1 Q 3 Q 1 Q 3 Q 1 Q

3 Q1

Q

3 Q1 Q3 Q1 Q3

Ja n '0 9 M rt '0 9 M e i' 0 9

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009

IMPOR

Volume Impor Nilai Impor

Juta Rupiah

Grafik 1.10 Impor Sulawesi Tenggara

Grafik 1.11. Arus Muat

1.3PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA

Berdasarkan proyeksi Bank Indonesia, pada triwulan II-2009 tidak ada sektor yang

mengalami kontraksi. Sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi yaitu sektor keuangan

dan angkutan.

Sumber: DSDM

(28)

19

Sumber: BPS diolah *) Proyeksi Bank Indonesia

Pertanian, 33.68%

Pertambangan, 4.92%

Industri, 9.03% Listrik, Gas dan

Air, 0.71% Bangunan,

8.33% Perdagangan,

16.24% Angkutan ,

8.28% Keuangan,

5.54%

Jasa-jasa, 13.28%

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2**

Pertanian 8.84 4.05 4.86 4.89 5.53 8.62 6.71 0.38 2.61 4.21

Pertambangan -4.06 6.17 2.22 2.69 18.44 -12.33 -22.23 10.67 4.4 5.1

Industri 9.07 2.86 0.72 4.72 2.34 1.61 26.96 -1.44 1.65 1.3

Listrik, Gas dan Air 15.51 6.73 5.81 -0.8 9.06 8.66 5.68 8.06 11.63 8.77

Bangunan 18.27 9.32 5.86 5.76 1.66 10.89 12.39 6.74 10.1 10.48

Perdagangan 9.94 7.77 7.88 11.69 5.02 9.42 12.03 15.02 13.97 12.02

Angkutan 4.28 5.19 -0.7 15.7 14.37 12.75 12.44 15.25 16.66 13.53

Keuangan 3.58 -8.23 1.66 19.5 18.23 4.24 13.75 10.93 9.13 13.99

Jasa-jasa 7.37 6.42 4.86 5.36 2.88 4.97 8.07 12.221 10.72 10.21

PDRB 8.07 9.16 6.22 8.46 7.55 6.52 8.5 6.75 7.55 7.76

Sektor 2007 2008 2009

Tabel 1.4 Pertumbuhan Tiap Sektor (dalam persen)

Tidak berbeda dibandingkan triwulan sebelumnya, pada triwulan ini sektor yang memberikan

kontribusi terbesar terhadap pembentukan PDRB masih didominasi oleh sektor pertanian.

Sektor pertanian memiliki share sebesar 33.68%(Grafik 1.2) dengan kontribusi 1,47%

terhadap pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara. Selain itu, sektor perdagangan dan

jasa-jasa juga memiliki share yang cukup besar terhadap pembentukan PDRB yaitu masing-masing

sebesar 16.24% dan 13.28% dengan kontribusi masing-masing sebesar 1,88% dan 1,33%.

Perkembangan tiap-tiap sektor ekonomi pembentuk PDRB akan dianalisis lebih lanjut dalam

sub bab berikut ini.

1.3.1 Sektor Pertanian

Sektor pertanian pada triwulan II-2009 diperkirakan tumbuh sebesar 4,21% (y.o.y).

Share sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara yaitu sebesar

33,68% yang mendorong pertumbuhan ekonomi 1,47%. Pertumbuhan sektor pertanian Grafik 1.12. Share Setiap Sektor Terhadap Pembentukan PDRB

(29)

20 Sumber: Data BPS Prov. Sulawesi Tenggara

*) ARAM II-2009

Panen (ha) Produksi (ton) Panen (ha) Produksi (ton) Panen (ha) Produksi

Padi 102,520 405,256.00 107,453 418,486 4.81 3.16 Jagung 37,249 93,064 25,675 66,186 (31.07) (28.88) Kacang Tanah 7,781 6,938 6,776 5,329 (12.92) (23.19) Ubi Kayu 12,190 217,727 14,803 220,740 17.50 1.38 Total 159,740 722,985 154,707 710,741 (0.03) (0.02)

Komoditi 2008 2009** Pertumbuhan 2009**

pada triwulan ini lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2009.

Peningkatan sektor pertanian juga terindikasi dari peningkatan pembiayaan dari

perbankan pada periode berjalan yang tercatat tumbuh 39,14% (y.o.y) atau menjadi sebesar

Rp89,441 Milyar.

Perningkatan kinerja sektor pertanian pada periode laporan antara lain disebabkan

oleh meningkatnya kinerja tabama komoditas padi dan ubi kayu meski secara umum kinerja

sub sektor tabama mengalami penurunan. Peningkatan kinerja tanaman padi seiring dengan

berlangsungnya masa panen raya di beberapa daerah antara lain Konawe dan Kolaka yang

memiliki panen seluas ±36.980Ha. Hal ini juga sesuai dengan angka ramalan yang

menyebutkan bahwa pada tahun 2009 luas panen dan produksi padi akan meningkat

masing-masing sebesar 4,81% dan 3,16% (y.o.y). Sementara produksi ubi kayu pada tahun

2009 diperkirakan akan mengalami peningkatan sebesar 1,38% 9y.o.y) pada tahun 2009

yang didukung oleh bertambahnya luas panen sebesar 17,50%.

Komoditas tabama yang mengalami penurunan pada tahun 2009 yaitu jagung yang

menurut angka ramalan diperkirakan akan mengalami penurunan paling besar diantara

komoditas tabama lainnya yaitu sebesar -28,88%. Penurunan produksi ini disebabkan oleh

penurunan luas panen yang berkurang hingga 31,07%. Selain itu, produksi kacang tanah

juga diprediksi akan mengalami penurunan produksi pada tahun 2009 yaitu sebesar 23,19%

yang disebabkan oleh menurunnya luas panen sebesar 12,92% (Tabel 1.5).

Tabel 1.5 Aram Produksi Tabama Prov. Sultra 2009

Peningkatan pertumbuhan sektor pertanian juga didorong oleh meningkatnya hasil

perkebunan Kakao yang seiring dengan berlangsungnya puncak masa panen Kakao sejak

bulan April hingga Juli 2009. Berdasarkan angka ramalan dari departemen pertanian

(30)

21 Tahun Produksi Nasional Produksi Sulawesi Tenggara

2000 421,142 70,291

2001 536,804 80,946

2002 571,155 94,843

2003 698,816 99,471

2004 691,704 100,966

2005 748,828 132,740

2006 769,386 125,279

2007 740,006 135,113

2008 792,761 139,234

2009**) 849,875 146,179

Sumber: Dinas Perkebunan *) ARAM II-2009 7,20%5

. Sementara berdasarkan sumbangsih Sulawesi Tenggara terhadap Kakao nasional

maka diperkirakan pada tahun 2009 produksi Kakao Sulawesi Tenggara akan mengalami

pertumbuhan pada kisaran 4,99% (y.o.y) atau menjadi sebanyak 146.179 Ton.

Tabel 1.6 Produksi Kakao Prov. Sultra 2009

1.3.2 Sektor Pertambangan

Sektor pertambangan Provinsi Sulawesi Tenggara pada triwulan II-2009 mengalami

peningkatan sebesar 5,10% (y.o.y). Sektor pertambangan Sulawesi Tenggara masih

didominasi oleh komoditas biji nikel yang diproduksi oleh PT. Aneka Tambang (Antam)

Pomalaa, PT. Arga Morini Indah, PT. Dharma Rosadi Internasional, dan PT. Dharma Bumi

Kendari.

5

Produksi Kakao, Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian. Grafik 1.13 Ekspor Biji Nikel

(31)

22 Peningkatan ini teriindikasi pada meningkatnya ekspor komoditas pertambangan yaitu

bijih nikel pada triwulan II-2009 menjadi sebesar 571.841.492 Kg dari 100.000.000 Kg pada

triwulan I-2009. Tujuan ekspor bijih nikel terbesar adalah negara Cina, peningkatan ekspor

ini menandakan mulai pulihnya kondisi perekonomian dunia dari krisis keuangan global.

Dari sisi pembiayaan perbankan, alokasi kredit ke sektor pertambangan

1.3.3 Sektor Industri Pengolahan

Pada triwulan II-2009 industri pengolahan mengalami pertumbuhan 1,30% (y.o.y)

dan cenderung melambat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Kinerja industri

pengolahan di Sulawesi Tenggara hingga saat ini masih didominasi oleh produksi PT. Aneka

Tambang (Antam) Pomalaa. Perlambatan ini juga dikonfirmasi dengan informasi dari

PT.Antam bahwa pabrik feronikel III milik PT.Antam sedang dalam perbaikan dan akan mulai

beroperasi Oktober 2009. Selain itu perlambatan ini juga diperkirakan karena belum pulih

sepenuhnya perekonomian global yang melambat sehingga berpengaruh terhadap

berkurangnya permintaan produksi ferronikel.

Indikator lain perlambatan pertumbuhan sektor industri pengolahan yaitu pembiayaan

dari perbankan untuk kredit sektor industri pengolahan yang juga menunjukkan kontraksi

sebesar -7,53% (y.o.y) atau turun menjadi Rp52,140 milyar pada Juni 2006 dibandingkan

kredit periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp56,383 milyar.

1.3.4 Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran

Pada triwulan II-2009 Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) tumbuh 12,02%

(y.o.y). Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang

tercatat sebesar 9,42% (y.o.y). Share sektor perdagangan pada pertumbuhan ekonomi

Sulawesi Tenggara yaitu sebesar 16,24% yang mendorong peningkatan pertumbuhan

ekonomi sebesar 1,88%.

Peningkatan sektor PHR juga terindikasi dari meningkatnya arus bongkar di pelabuhan

Kendari dan Bau-bau yang tumbuh 15,3% (y.o.y). Pada triwulan II-2009 volume bongkar di

pelabuhan Kendari dan Bau-Bau tercatat sebesar 265.773 Ton/M3

. Sementara arus muat juga

menunjukkan pertumbuhan sebesar 19,6% (y.o.y) atau sebesar 608.140 Ton/M3

.

Indikator lain peningkatan sektor PHR yaitu meningkatnya pembiayaan dari perbankan

(32)

23 -1

0 1 2 3 4 5 6 7

-100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000 700,000

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2

2007 2008 2009

-Bongkar -Muat Growth Bongkar Growth Muat

(y.o.y) atau menjadi Rp1.346,61 milyar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya

yang tercatat sebesar Rp1.055,80 milyar.

Pertumbuhan Sektor PHR didorong oleh banyaknya event yang dilaksanakan di

Sulawesi Tenggara antara lain Pekan Pameran Sultra, HUT Kota Kendari, Festival Pulau

Makassar, Lomba Dayung, dan PERKEMPIS sehingga meningkatkan arus kunjungan ke

daerah-daerah pelaksanaan even. Selain itu berlangsungnya masa liburan sekolah juga turut

mendorong pertumbuhan sektor PHR melalui aktivitas wisata dan hiburan masyarakat pada

masa liburan.

Grafik 1.14 Arus Bongkar Muat Di Pelabuhan Kendari dan Bau-Bau (Ton/M3 )

1.3.5 Sektor Bangunan

Pada triwulan II-2009 sektor bangunan tumbuh 10,48% (y.o.y). Share dari sektor

bangunan terhadap pertumbuhan ekonomi yaitu sebesar 8,33% yang mendorong

pertumbuhan ekonomi 0,85%. Pertumbuhan tersebut mengalami perlambatan jika

dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 10,89%

(y.o.y).

Perlambatan pertumbuhan sektor bangunan juga terindikasi melalui kontraksi

pertumbuhan pembelian semen di Sulawesi Tenggara yang turun -6,50% (y.o.y). Realisasi

pengadaan semen pada periode ini tercatat sebesar 71.550 ton menurun dibandingkan

periode sebelumnya yang tercatat sebesar 86.690 ton.

(33)

24 -30%

-20% -10% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60%

0 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000 90,000 100,000

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2

2006 2007 2008 2009

Penjualan Semen Sultra

Pertumbuhan Penjualan Semen

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 q.t.q y.o.y

KPR s/d Type 70 86,459 97,597 116,604 134,097 140,905 164,981 17.09% 69.04% KPR Di atas Type 70 73,939 82,769 93,548 98,730 102,958 114,773 11.48% 38.67% Ruko dan Rukan 60,293 70,836 74,131 71,553 76,657 79,835 4.15% 12.70% Total 220,691 251,202 284,283 304,380 320,520 359,589 12.19% 43.15%

2008

Penggunaan 2009 Growth

Meski mengalami perlambatan, pertumbuhan sektor bangunan masih lebih tinggi

dibanding pertumbuhan pada triwulan sebelumnya hal ini disebabkan pada triwulan ini

pemerintah mulai melaksanakan realisasi proyek pembangunan setelah cairnya dana pada

bulan April 2009 khususnya stimulus infrastruktur dari pemerintah pusat untuk menekan

dampak krisis keuangan global di Sulawesi Tenggara.

Selain itu peningkatan ini juga didorong oleh meningkatnya Kredit Kepemilikan

Rumah (KPR) pada triwulan II-2009 sebesar 12,19% (q.t.q). Peningkatan KPR ini terutama

pada kredit KPR sampai dengan tipe 70, sementara KPR untuk di atas tipe 70 dan ruko/rukan

masing-masing meningkat sebesar 38,67% dan 12,70% (Tabel 1.7).

Peningkatan pembiayaan dari perbangkan terhadap sektor bangunan juga turut

mengkonfirmasi pertumbuhan sektor bangunan. Pertumbuhan kredit sektor bangunan pada

periode berjalan tercatat sebesar 3,04% atau dengan nilai Rp216,57 milyar meningkat

dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp210,184 milyar.

Tabel 1.7 Perkembangan Kredit Perumahan/Ruko

Grafik 1.15 Realisasi Pengadaan Semen di Sulawesi Tenggara

Sumber: Laporan Bank Umum

(34)

25

-10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 2007 2008 2009

TIBA BERANGKAT

1.3.6 Sektor Angkutan dan Komunikasi

Sektor angkutan dan komunikasi mengalami pertumbuhan yang cukup agresif pada

triwulan II-2009 yaitu sebesar 13,53%. Share sektor angkutan terhadap pertumbuhan

ekonomi Sulawesi Tenggara yaitu sebesar 8,23% yang mendorong pertumbuhan sebesar

1,17%.

Peningkatan sektor pengangkutan ditandai dengan meningkatnya jumlah arus

penumpang yang menggunakan alat transportasi udara di bandara Wolter Monginsidi. Pada

periode berjalan jumlah penumpang yang tiba di bandara Wolter Monginsidi tercatat

sebanyak 68.994 orang, sementara jumlah penumpang yang berangkat tercatat sebanyak

70.350 orang.

Dari sisi pembiayaan, peningkatan sektor angkutan juga terkonfirmasi melalui

peningkatan kredit yang disalurkan perbankan Sulawesi Tenggara untuk sektor angkutan dan

komunikasi yang mengalami peningkatan yang cukup besar dibandingkan periode

sebelumnya yaitu sebesar 49,00% (y.o.y) atau menjadi sebesar Rp27,91 milyar dibandingkan

periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp18,73 milyar.

Peningkatan kinerja sektor angkutan antara lain didorong oleh faktor pelaksanaan

pemilu legislatif dan presiden yang didahului oleh kampanye sehingga meningkatkan arus

kunjungan ke Sulawesi Tenggara serta arus mobilisasi antar daerah di Sulawesi Tenggara.

Selain itu faktor liburan sekolah juga mendukung peningkatan kinerja sektor pengangkutan

karena mendorong masyarakat untuk melakukan perjalan dalam menghabiskan masa liburan.

Peningkatan pertumbuahan sektor angkutan ini juga tidak terlepas dari banyaknya

pelaksanaan event baik berskala regional maupun nasional di Sulawesi Tenggara yang

mendorong arus kunjungan ke Sulawesi Tenggara.

Sumber: Bandara Wolter Monginsidi Kendari

(35)

26

-200,000.00 400,000.00 600,000.00 800,000.00 1,000,000.00 1,200,000.00 1,400,000.00

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2

2006 2007 2008 2009

NTB

NTB

Ju

ta

a

n

R

u

p

ia

h

Lebih lanjut, peningkatan kinerja sub sektor komunikasi didukung dengan akses

telekomunikasi (telephone dan hand phone) yang semakin mudah dan relatif murah sehingga

direspons positif oleh masyarakat Sulawesi Tenggara dengan memanfaatkan media

komunikasi tersebut. Penggunaan internet juga mengalami peningkatan khususnya di Kota

Kendari hal ini terindikasi dari penghargaan yang didapatkan oleh Telkom Hot Spot Kota

Kendari sebagai hot spot yang memiliki utilisasi dan trafik paling tinggi di Indonesia.

1.3.7 Sektor Keuangan

Sektor keuangan pada triwulan II-2009 tumbuh 13,99% (y.o.y). Share sektor

keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi yaitu sebesar 5,54% yang mendorong

pertumbuhan sebesar 0,73%. Pertumbuhan ini meningkat dibanding periode yang sama

tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 4,25% (y.o.y).

Peningkatan pertumbuhan sektor keuangan juga tercermin pada peningkatan NTB

perbankan Sulawesi Tenggara yang tercatat sebesar Rp693,150 juta atau meningkat

dibandingkan triwulan I-2009 yang tercatat sebesar Rp262,540 juta.

Peningkatan tersebut juga diindikasikan dari peningkatan pertumbuhan penyaluran

kredit sebesar 25,69%(y.o.y) atau menjadi sebesar Rp4.227,70 milyar dibandingkan periode

yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp3.363,73 milyar.

Grafik 1.17 NTB Perbankan Di Sulawesi Tenggara

(36)

27 1.3.8 Sektor Lainnya

Sementara itu, sektor listrik, gas & air bersih (LGA) serta sektor jasa-jasa masing

masing tumbuh sebesar 8,77% (y.o.y) dan 10,22% (y.o.y). Kedua sektor ini memiliki share

masing-masing sebesar 0,71% dan 13,28% dengan kontribusi terhadap pertumbuhan

ekonomi masing-masing sebesar 0,06% dan 0,94%.

Indikator lain peningkatan pertumbuhan sektor LGA terlihat pada peningkatan

pembiayaan perbankan terhadap sektor tersebut melalui pemberian kredit yang tumbuh

63,64% (y.o.y) atau menjadi sebesar Rp90 milyar dibandingkan periode yang sama tahun

sebelumnya yang tercatat sebesar Rp55 milyar.

Meningkatnya jumlah pelanggan PDAM baik untuk kelompok industri dan rumah

tangga juga menjadi parameter peningkatan sektor LGA, selain itu penggunaan rata-rata

pemakaian air oleh rumah tangga juga meningkat sebesar 54 M3

(Grafik 1.4)

Kinerja sektor listrik, gas, dan air terutama didorong oleh meningkatnya kebutuhan

masyarakat akan fasilitas listrik yang tergambar dari peningkatan pelanggan listrik menjadi

28.959.843 Kwh pada bulan Juni 2009 dari 26.278.145 Kwh pada bulan Maret 2009.

Peningkatan tersebut terutama terjadi pada peningkatan kebutuhan listrik rumah tangga

yang meningkat menjadi 18.337.271 Kwh pada Juni 2009 dari 17.093.571 Kwh pada bulan

Maret 20096

.

6

(37)

Tabel 1 Service Ability Jalan Provinsi

Jenis . Kendaraan Terendah Tertinggi

Passenger Car 3240 6748

Bus/Med Truck 5398 8657

Truck 7406 12871

Passenger Car 2207 2789

Bus/Med Truck 4196 4875

Truck 5765 6671

Passenger Car 1886 2021

Bus/Med Truck 3898 4004

Truck 5364 5510

Passenger Car 1795

Bus/Med Truck 3873

Truck 5315

19.90%

15.40%

6.30%

Service Ability Kondisi (%)

2,5<SA<3 Rusak Ringan

Sedang

Baik 3<SA<3,5

3,5<SA<4

VOC Rp/Km

SA>2,5 Rusak 58.40%

DILEMA INFRASTRUKTUR JALAN PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Sulawesi Tenggara merupakan provinsi yang memiliki potensi alam yang luar biasa mulai dari potensi pertambangan, potensi pertanian, dan potensi perikanan. Dengan berbagai potensi tersebut tentunya menjadi lahan yang subur bagi investor untuk menanamkan dananya. Akan tetapi isu yang menjadi perhatian dan keprihatinan para investor adalah ketersediaan dan jaminan infrastruktur di Sulawesi Tenggara yang masih dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Salah satu infrastruktur yang menjadi akses pertama pengembangan potensi alam tersebut adalah infrastruktur jalan.

Jika ditelaah lebih jauh, kondisi eksisting infrastruktur jalan secara khusus jalan provinsi saat ini di Sulawesi Tenggara yaitu :

a. Kondisi jalan yang baik : 73,00 Km (6,3%) b. Kondisi jalan yang sedang : 182,52 Km (15,4%) c. Kondisi jalan rusak ringan : 236,58 Km (19,9%) d. Kondisi jalan rusak : 694,13 Km. (58,4%)

Keadaan jalan tersebut tentunya menjadi sebuah kendala bagi perkembangan perekonomian di Sulawesi Tenggara. Dengan kondisi jalan yang rusak ringan hingga rusak yang berkisar 78,3% tentunya akan menjadi cost bagi jasa transportasi, baik transportasi barang maupun transportasi penumpang. Kenaikan harga sebagai trade off untuk mencapai daerah-daerah dengan kondisi jalan tersebut sudah menjadi hal yang lumrah, dan salah satu efeknya tentunya akan membuat investor berpikir dalam menginvestasikan modalnya karena

additional cost dari trade off kerusakan jalan.

(38)

29

Tabel 3 Proyeksi 5 Tahun Kebutuhan Biaya Penanganan Jalan Provinsi Tabel 2 Kebutuhan Biaya Penanganan Jalan Provinsi

Jenis Biaya Tahun-1 Tahun-2 Tahun-3 Tahun-4 Tahun-5

Investasi berdasarkan benefit 67.1 67.1 67.1 67.1 67.1

Kebutuhan biaya Pembangunan dan Berkala 152.2 152.2 152.2 152.2 152.2

Kebutuhan biaya Penanganan Rutin 11.7 11.7 11.7 11.7 11.7

Kebutuhan Biaya Perintisan Jalan 9.42 9.42 9.42 9.42 9.42

Jumlah 173.32 173.32 173.32 173.32 173.32

Uraian Panjang (Km) Kebutuhan Biaya

(Juta Rp) Keterangan

Ruas dengan penanganan rutin 14.82 444.6 pertahun

Ruas yang baru dirintis 269.36 47138

Ruas yang telah berfungsi 903.45

1. Pembangunan 449.77 544560

2. Berkala 221.58 213588

3. Rutin 232.1 11266 pertahun

provinsi Sulawesi Tenggara, namun minimnya dana menjadi kendala akselerasi pengembangan tersebut. Berdasarkan proyeksi yang dilakukan oleh Dinas Pemukiman Prasarana

Gambar

Tabel 1.6 Produksi Kakao Prov. Sultra 2009
Tabel 2.2. Perkembangan Inflasi Bulanan (m.t.m)
Tabel 2.11. Inflasi (Deflasi) terbesar per-Sub Kelompok Secara Bulanan
Grafik 3.1.  Pangsa Aktiva Produktif
+7

Referensi

Dokumen terkait

Uang palsu yang ditemukan perbankan Jawa Timur pada triwulan III-2008 tercatat sebanyak 3.778 lembar, lebih tinggi dibandingkan pada triwulan II-2008 yang tercatat sebanyak

Tingkat inflasi di Kota Ternate sebagai representasi tingkat harga di Maluku Utara pada Triwulan III-2009 mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun

Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga tercatat mengalami inflasi sebesar minus 0,01% (q-t-q) pada triwulan I-2010, mengalami peningkatan dibandingkan kondisi triwulan

Sektor ini juga tercatat mengalami peningkatan pertumbuhan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yaitu dari 9,00% (yoy) pada triwulan I-2010 menjadi sebesar 9,67% pada

triwulan laporan, perbankan Sulawesi Tengah pada tahun 2008 diperkirakan masih. tetap stabil dengan beberapa pencapaian antara lain pertumbuhan kredit di

Perekonomian daerah Sulawesi Selatan pada triwulan II-2008 mengalami pertumbuhan sebesar 7,86% (y.o.y), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan triwulan

dan angka triwulanan merupakan perubahan indeks pada akhir triwulan yang bersangkutan dibandingkan dengan indeks pada akhir triwulan sebelumnya 2) Dihitung berdasarkan SBH tahun 1996

 Inflasi Kota Kendari bulan Agustus tahun 2015, tercatat sebesar 0,64 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 117,29 Secara nasional dari 82 kota yang menghitung inflasi, 59