• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 42 Volum e 3 Nom or 3, Desem ber 2005

RESENSI BUKU

Judul : Keuangan Publik Dalam Perspektif Hukum Teori, Praktik, dan Kritik

Penulis : Prof. Dr. Arifin P. Soeria Atmadja, S.H.

Penerbit : Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta

Tahun terbit : 2005

Oleh : Hilman Tisnaw an, S.H.1

Keuangan negara merupakan urat nadi dalam pembangunan suatu negara dan amat menentukan kelangsungan perekonomian baik sekarang maupun yang akan datang. M engutip Rene Stours, dijelaskan bahw a hakekat atau falsafah APBN adalah:

The constitutional right w hich a nation possesses to authorize public revenue and expenditure does not originates from the fact that the members of t he nation contribute the payments. This right is based in a loftier idea. The idea of a sovereignty.

Jadi hakekat public revenue and expenditure APBN adalah kedaulatan.

Di negara demokrasi seperti Indonesia yang memiliki kedaulatan adalah rakyat, implementasi kedaulatan tersebut dapat terlihat dalam peraturan Dew an Perw akilan Rakyat (DPR), dimana rakyatlah yang

menentukan hidupnya sendiri, karena itu juga cara hidupnya yang tercermin dalam APBN.

Pasal 23 ayat (1) UUD 1945 mencerminkan kedaulatan rakyat tersebut, yang tergambar dari adanya hak begrooting (hak budget-Terjemahan Redaksi) yang dimiliki oleh DPR, dimana dinyatakan bahw a dalam hal menetapkan pendapatan dan belanja, kedudukan DPR lebih kuat dari kedudukan pemerintah. Hal ini tanda kedaulatan rakyat, dan pemerintah baru dapat menjalankan APBN setelah mendapat persetujuan dari DPR dalam bentuk undang-undang.

Sesuai judulnya, dalam buku ini, istilah keuangan publik dimaksudkan selain meliputi keuangan negara dan keuangan daerah juga meliputi keuangan badan hukum lain yang modalnya/ kekayaannya berasal dari kekayaan negara/ daerah yang dipisahkan. Namun sebenarnya buku ini seperti diakui sendiri oleh penulisnya, lebih merupakan opini,

1

(2)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 43 Volum e 3 Nom or 3, Desem ber 2005 argumentasi, dan evaluasi arti

keuangan negara yang tercantum dalam Pasal 23 UUD 1945. M enurut penulis buku ini, rumusan atau definisi yang digunakan oleh peraturan perundang-undangan saat ini belum sesuai dengan konsepsi hukum serta lingkungan kuasa hukum yang berlaku pada umumnya, khususnya setelah dilakukannya amandemen ketiga terhadap UUD 1945 yang mengatur bidang keuangan negara dan hadirnya tiga paket undang-undang yang mengatur keuangan yakni UU No.17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjaw ab Keuangan Negara (lihat Carut M arut UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, hal 71).

Buku ini tampaknya sengaja dibuat hanya dalam dua Bab, Bab I memuat arti Keuangan Negara pra amandemen UUD 1945, sedangkan Bab II memuat arti keuangan negara pasca amandemen UUD 1945. Dengan membagi buku ini ke dalam dua bab, maka pembaca diajak untuk membandingkan arti keuangan negara secara normatif pada satu sisi dan melihat prakteknya pada sisi lainnya.

Dalam Bab pertama diuraikan mengenai arti keuangan negara berdasarkan Pasal 23 UUD 1945 yang didukung dengan beberapa tafsiran dari ahli hukum antara lain

Prof. M . Yamin, Allons, dan Prof. Dr. D. Simons. M enurut tafsiran Prof. M . Yamin seperti yang dikutip oleh penulis buku ini, Keuangan Negara menurut Pasal 23 ayat (4) meliputi segala hal yang berhubungan dengan keadaan dan ketentuan-ketentuan mengenai garis-garis besar kebijaksanaan moneter dan mengenai kedudukan serta tugas-tugas bank ditetapkan dengan undang-undang. Comptabiliteitsw et (Wet 23 April 1864) dan peraturan-peraturan devisa (devisen-ordonantie 1940: K.B.21 Juli 1943 dengan perubahan.

(3)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 44 Volum e 3 Nom or 3, Desem ber 2005 A (1959); Roges Douglas & M elinda

Jones (1996), apabila berbicara mengenai keuangan yang meliputi APBN, APBD dan BUM N serta BUM D, tidaklah tepat apabila menggunakan istilah keuangan negara, yang lebih tepat adalah menggunakan istilah Keuangan Publik. Untuk menambah nilai dari Bab pertama buku ini, penulis dalam aw al pembahasannya juga memuat beberapa artikel yang ditulis oleh kalangan akademisi dan birokrat mengenai keuangan negara yang merupakan kilas balik pengertian keuangan negara sebelum maupun setelah amandemen UUD 1945.

Amandemen keempat UUD 1945, yang melahirkan UU No 17 Tahun 2003 sebagai UU organik dari Pasal 23 C Bab VIII UUD 1945, dianggap sebagai pangkal permasalahan yang mengakibatkan menjadi biasnya arti keuangan negara. Penulis buku ini menilai bahw a landasan filosofi keempat amandemen UUD 1945 tersebut sangat tidak memadai, apalagi rumusan substansi ilmiahnya jauh dari yang semestinya. Hal tersebut mengakibatkan subtansi yang diatur dalam UU No. 17 Tahun 2003 menjadi “ melenceng” karena yang diatur bukan mengenai hal-hal lain keuangan negara, melainkan hal-hal lain yang berada di luar domain hukum keuangan negara. Patut disimak adalah pendapat penulis buku ini yang menyatakan bahw a Pasal 2 UU No. 17 Tahun 2003 yang merumuskan secara

lengkap keuangan negara cenderung menimbulkan kerugian keuangan negara dan membangkrutkan negara. Hal ini khususnya ditujukan pada Pasal 2 huruf i, yang menyatakan bahw a salah satu arti keuangan negara adalah kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang diberikan pemerintah. Dengan rumusan tersebut berarti negara akan turut bertanggung jaw ab terhadap kekayaan pihak sw asta yang memperoleh fasilitas pemerintah.

Seluruh kritik dan kegalauan penulis tersebut di atas dituangkan dalam bab II buku ini, yang diakui oleh penulisnya sebagai pendapat yang tidak dilandasi kepentingan politik maupun kekuasaan tertentu dan

semata-mata didasarkan pemahamannya sebagai birokrat

maupun akademisi.

Status keuangan yang ada pada Perseroan Terbatas (PT) yang sebagian sahamnya dimiliki oleh negara, Perguruan Tinggi sebagai Badan Hukum M ilik Negara (BHM N) serta mengenai transformasi hukum keuangan negara menjadi hukum keuangan daerah juga merupakan hal yang dikaji dalam buku ini.

Pada bagian akhir buku ini dilampirkan artikel penulis mengenai

Konservatisme Pemeriksaan Keuangan Negara. Lampiran artikel

(4)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 45 Volum e 3 Nom or 3, Desem ber 2005 fungsi pemeriksaan BPK melalui

Pasal 23 E ayat 1 UUD 1945, yang semula hanya ditujukan pada tanggung jaw ab keuangan negara, dan kemudian meliputi pengelolaan keuangan negara, dinilai merupakan disorientasi fungsi BPK yang justru melemahkan kedudukannya sebagai lembaga negara. Disorientasi fungsi BPK tersebut hanya akan mendorong ketidakberdayaan BPK dalam menjangkau segi strategis tanggung jaw ab keuangan negara karena berkutat menjelajah segi teknis pengelolaan keuangan negara. Seharusnya sebagai lembaga negara yang memeriksa tanggung jaw ab keuangan negara, BPK merupakan lembaga yang langsung mengaw asi dan memeriksa kebijakan keuangan negara (fiscal policy audit) yang dilakukan pemerintah, yang menempatkan BPK sebagai lembaga

negara yang sejajar dengan lembaga negara lainnya, termasuk pemerintah. Apabila dilihat dari konsep hukum administrasi negara (HAN), disorientasi fungsi tersebut telah mengubah bentuk BPK dari organisasi negara menjadi organisasi administrasi negara. Dengan demikian kedudukannya melemah sebagai bagian dari unsur pemerintah dan bukan merupakan lembaga yang mandiri.

Buku ini layak menjadi bahan kajian, khususnya mereka yang tertarik di bidang keuangan publik, atau bagi mereka yang saat ini berada dalam lingkup legislatif dan institusi keuangan publik. Hal penting yang tidak dimuat dalam buku ini adalah latar belakang dan suasana (milieu) pada saat dilakukannya amandemen UUD 1945 dan penerbitan Paket Undang-undang Keuangan Negara.

Referensi

Dokumen terkait

Dari sudut pandang ini, distorsi makna yang sangat fatal apabila Sumpah Pe- muda dirumuskan oleh pengarang buku teks sebagai “Ikrar satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa”

Dari sudut pandang ini, distorsi makna yang sangat fatal apabila Sumpah Pe- muda dirumuskan oleh pengarang buku teks sebagai “Ikrar satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa”

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dipaparkan di atas, apabila dilihat dari dua sudut pandang yaitu BMT dan nasabah terdapat dua pendapat dimana pendapat pertama

Dari kedua pendapat para ahli tersebut ada sedikit perbedaan karena dilihat dari sudut pandang masing-masing, namun pada dasarnya membaca mempunyai pengertian yang sama

Teori Belajar Ada beberapa pendapat dari para ahli tentang teori belajar yang masing masing mempunyai sudut pandang yang berbeda, antara lain adalah : a Teori Belajar Gestalt Teori