BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Penelitian

Teks penuh

(1)

40 1. Identitas Terdakwa

Dalam perkara ini identitas terdakwa adalah sebagai berikut: Nama lengkap : TERDAKWA.

Tempat lahir : Songan.

Umur/tanggal lahir : 16 Tahun / 12 Desember 1996. Jenis kelamin : Laki-laki.

Kebangsaan : Indonesia. Tempat tinggal : Bangli.

Agama : Hindu.

Pekerjaan : Pelajar. 2. Uraian Singkat Fakta Peristiwa

Peristiwa pertama terjadi pada Hari Kamis, tanggal 09 Mei 2013 sekitar pukul 20.00 WITA terdakwa datang bersama bersama teman-temannya ke warung tempat saksi bekerja untuk belanja. Sekitar pukul 02.00 WITA, ketika saksi akan menutup warung, saksi terkejut melihat terdakwa sedang tertidur sendirian, kemudian saksipun membangunkannya, setelah selesai membayar belanjaannya terdakwa lalu meminta saksi untuk masuk ke ruang fitnes, pada awalnya saksi menolak karena sudah malam namun dengan alasan ada sesuatu yang akan disampaikannya akhirnya saksipun menuruti permintaan terdakwa.

Tanpa disadari oleh saksi pada saat itulah timbul niat Terdakwa untuk menyetubuhi saksi.Setelah berada di dalam ruangan fitnes, tanpa disadari oleh saksi, terdakwa tiba-tiba langsung memeluk saksi dari samping kanan lalu mengajak saksi untuk berhubungan badan.Saat itu saksi hanya diam tidak menjawab permintaan terdakwa, dan kemudian terdakwapun terus mengulangi

(2)

permintaannya dengan kata-kata membentak dan memaksa sehingga saksi ketakutan dan akhirnya mengatakan kata-kata“NAH” yang artinya MAU.

Selanjutnya terdakwa yang sudah tidak dapat menahan nafsunya langsung menarik saksi untuk duduk di lantai lalu membuka celana serta menarik celana panjang dan celana dalam milik saksi hingga saksi telanjang setengah badan (dari pinggang hingga kaki) terdakwa juga membuka sendiri pakaian serta celananya hingga telanjang setengah badan. Selanjutnya karena penis (alat kelamin) Terdakwa sudah mengeras/tegang dan saksi korban yang saat itu tidak melakukan perlawanan, terdakwa kemudian menindih saksi dari atas dan memasukkan alat kelaminnya yang sudah tegang ke vagina saksi selanjutnya menggerakkannya naik turun sekitar 5 (lima) menit hingga akhirnya Terdakwa merasakan nikmat kemudian keluar cairan sperma milik Terdakwa di luar vagina saksi korban.

Peristiwa kedua terjadi pada Hari Kamis, tanggal 06 Juni 2013 bertempat di Pondok milik Wayan Pertama yang terletak di Bangli. Pada awalnya hari Rabu tanggal 05 Juni 2013 sekitar pukul 21.00 WITA, terdakwa datang ke warung saksi untuk membeli minuman Bir bersama teman-temannya, kemudian sekitar pukul 23.30 WITA terdakwa menghubungi saksi yang telah pulang dari tempatnya bekerja lewat handphone dan mengajak saksi untuk keluar. Setelah mendengar kata-kata terdakwa tersebut saksipun menuruti permintaan terdakwa dengan keluar menemui terdakwa selanjutnya terdakwa mengajak saksi korban pergi dengan menggunakan sepeda Motor Merk Suzuki Shogun warna Merah Hitam No. Pol DK 5957 MC menuju pondokan kosong.

Terdakwa yang telah mengetahui bahwa situasi pondok yang sepi dan jauh dari permukiman penduduk dengan leluasa melaksanakan niatnya untuk menyetubuhi saksi dengan cara memeluk saksi lalu membuka pakaiannya hingga saksi telanjang bulat selanjutnya terdakwa juga melakukan hal yang sama dengan membuka sendiri pakaiannya hingga telanjang bulat lalu terdakwa merebahkan tubuh saksi di atas tempat tidur dengan posisi saksi berada dibawah tengadah keatas dan terdakwa berada di atas tubuh saksi

(3)

dengan posisi tengkurap, kemudian terdakwa memasukkan alat kelaminnya yang sudah tegang ke dalam vagina saksi lalu menggerakkannya naik turun hingga akhirnya Terdakwa merasakan nikmat kemudian keluar cairan sperma milik Terdakwa di luar vagina saksi korban.

Sekitar pukul 03.30 WITA terdakwa kembali menyetubuhi saksi korban. Selanjutnya karena saksi I (Saksi korban) tidak pulang kerumah saksi II (selaku ayah saksi korban) yang tidak pernah memberikan ijin untuk menginap, dan ketika mengetahui saksi korban sudah berhubungan badan dengan Terdakwa, membuat saksi II merasa keberatan atas perbuatan Terdakwa kepada saksi korban yang masih tergolong anak-anak, dan kemudian Saksi II melaporkan hal tersebut ke Polres Bangli.

3. Dakwaan Penuntut Umum

Terdakwa diajukan ke Pengadilan Negeri Bangli oleh Jaksa Penuntut Umum atas dakwaan melakukan tindak pidana sebagai berikut:

PERTAMA:

Bahwa berawal pada Hari Kamis, tanggal 09 Mei 2013 sekira pukul 20.00 WITA terdakwa datang bersama bersama temantemannya ke warung tempat saksi bekerja untuk belanja. Sekitar pukul 02.00 WITA, ketika saksi akan menutup warung, saksi terkejut melihat terdakwa sedang tertidur sendirian, kemudian saksipun membangunkannya, setelah selesai membayar belanjaannya terdakwa lalu meminta saksi untuk masuk ke ruang fitnes, pada awalnya saksi menolak karena sudah malam namun dengan alasan ada sesuatu yang akan disampaikannya akhirnya saksipun menuruti permintaan terdakwa. Tanpa disadari oleh saksi pada saat itulah timbul niat Terdakwa untuk menyetubuhi saksi. Setelah berada di dalam ruangan fitnes, tanpa disadari oleh saksi, terdakwa tiba-tiba langsung memeluk saksi dari samping kanan lalu berkata kepada saksi “DE NYAK NGENE artinya MADE MAU BERHUBUNGAN BADAN” saksi saat itu hanya diam tidak menjawab permintaan terdakwa, dan terdakwapun terus mengulangi permintaannya dengan kata-kata membentak dan memaksa saksi “DE NYAK NGENE AJAK

(4)

RAGA ? YAN SING NYAK, RAGE KAL MULIH BE artinya MADE MAU BERHUBUNGAN BADAN DENGAN SAYA KALAU TIDAK MAU SAYA AKAN PULANG” saksi yang ketakutan karena terus menerus di desak oleh terdakwa dengan cara seperti itu akhirnya mengatakan kata-kata“NAH” yang artinya MAUpadahal terdakwa mengetahui bahwa saksi bukanlah istrinya dan masih tergolong anak-anak.

Selanjutnya terdakwa yang sudah tidak dapat menahan nafsunya langsung menarik saksi untuk duduk di lantai lalu membuka celana serta menarik celana panjang dan celana dalam milik saksi hingga saksi telanjang setengah badan (dari pinggang hingga kaki) terdakwa juga membuka sendiri pakaian serta celananya hingga telanjang setengah badan. Selanjutnya karena penis (alat kelamin) Terdakwa sudah mengeras/tegang dan saksi korban yang saat itu tidak melakukan perlawanan, terdakwa kemudian menindih saksi dari atas dan memasukkan alat kelaminnya yang sudah tegang ke vagina saksi selanjutnya menggerakkannya naik turun sekitar 5 (lima) menit hingga akhirnya Terdakwa merasakan nikmat kemudian keluar cairan sperma milik Terdakwa di luar vagina saksi korban.

Bahwa perbuatan tersebut tidak dilakukan Terdakwa sekali saja, akan tetapi diulanginya lagi pada Hari Kamis, tanggal 06 Juni 2013 bertempat di Pondok milik Wayan Pertama, yang terletak di Bangli dimana awalnya pada hari Rabu tanggal 05 Juni 2013 sekitar pukul 21.00 WITA terdakwa datang ke warung saksi untuk membeli minuman Bir bersama teman-temannya, sekitar pukul 23.30 WITA setelah saksi pulang dari tempatnya bekerja, tidak berapa lama kemudian terdakwa kemudian menghubunginya lewat handphone dan menanyakan kepada saksi “DIJE NE” yang artinya “DIMANA NI” dan saksipunmenjawab “JUMAH” artinya “DIRUMAH” terdakwa kemudian mengancam dengan kata-kata “PESU JEP” artinya “KELUAR SEBENTAR” mendengar kata-kata terdakwa seperti itu saksipun menuruti permintaan terdakwa dengan keluar menemui terdakwa selanjutnya terdakwa mengajak saksi korban pergi dengan menggunakan sepeda Motor Merk Suzuki Shogun warna Merah Hitam No. Pol DK 5957 MC menuju pondokan kosong,

(5)

terdakwa yang telah mengetahui bahwa situasi pondok yang sepi dan jauh dari permukiman penduduk dengan leluasa melaksanakan niatnya untuk menyetubuhi saksi dengan cara memeluk saksi lalu membuka pakaiannya hingga saksi telanjang bulat selanjutnya terdakwa juga melakukan hal yang sama dengan membuka sendiri pakaiannya hingga telanjang bulat lalu terdakwa merebahkan tubuh saksi di atas tempat tidur dengan posisi saksi berada dibawah tengadah keatas dan terdakwa berada di atas tubuh saksi dengan posisi tengkurap, kemudian terdakwa memasukkan alat kelaminnya yang sudah tegang ke dalam vagina saksi lalu menggerakkannya naik turun hingga akhirnya Terdakwa merasakan nikmat kemudian keluar cairan sperma milik Terdakwa di luar vagina saksi korban. Sekitar pukul 03.30 WITA terdakwa kembali menyetubuhi saksi korban yang nyatanyata bukanlah istri dari terdakwa. Selanjutnya oleh karena saksi I (Saksi korban) tidak pulang kerumahnya saksi II (selaku ayah saksi korban) yang tidak pernah memberikan ijin untukmenginap, dan ketika mengetahui saksi korban sudah berhubungan badan dengan Terdakwa, membuat saksi II merasa keberatan atas perbuatan Terdakwa kepada saksi korban yang masih tergolong anak-anak, lalu Saksi II melaporkan hal tersebut ke Polres Bangli.

Bahwa akibat perbuatan Terdakwa terhadap saksi I (Saksi korban) yang baru berusia 13 (tiga belas) tahun, berdasarkan Hasil Visum Et Revertum Nomor: No. 445.04/573/PPL/2013 tanggal 18 Juni 2013 yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh dr. Clara Valerian, selaku dokter pada Rumah Sakit Umum Bangli, dengan hasil pemeriksaan dalam sebagai berikut :

a. Pada korban perempuan berumur 13 (tiga belas) tahun ini tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik;

b. Pada korban tidak ditemukan luka-luka pada alat kelamin;

c. Selaput dara tampak tidak utuh dengan tepi tidak teratur, mungkin diakibatkan penetrasi benda tumpul.

(6)

Perbuatan Terdakwa tersebut di atas sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 81 Ayat (1 ) Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 65 Ayat (1) KUHPidana ;

ATAU KEDUA:

Bahwa berawal pada Hari Kamis, tanggal 09 Mei 2013 sekira pukul 20.00 WITA terdakwa datang bersama bersama temantemannya ke warung tempat saksi bekerja untuk belanja. Sekitar pukul 02.00 WITA, ketika saksi akan menutup warung, saksi terkejut melihat terdakwa sedang tertidur sendirian, kemudian saksipun membangunkannya, setelah selesai membayar belanjaannya terdakwa lalu meminta saksi untuk masuk ke ruang fitnes, pada awalnya saksi menolak karena sudah malam namun dengan alasan ada sesuatu yang akan disampaikannya akhirnya saksipun menuruti permintaan terdakwa. Tanpa disadari oleh saksi pada saat itulah timbul niat Terdakwa untuk menyetubuhi saksi. Setelah berada di dalam ruangan fitnes, tanpa disadari oleh saksi, terdakwa tiba-tiba langsung memeluk saksi dari samping kanan lalu berkata kepada saksi “DE NYAK NGENE artinya MADE MAU BERHUBUNGAN BADAN” saksi saat itu hanya diam tidak menjawab permintaan terdakwa, dan terdakwapun terus mengulangi permintaannya dengan kata-kata membentak dan memaksa saksi “DE NYAK NGENE AJAK RAGA ? YAN SING NYAK, RAGE KAL MULIH BE artinya MADE MAU BERHUBUNGAN BADAN DENGAN SAYA KALAU TIDAK MAU SAYA AKAN PULANG” saksi yang ketakutan karena terus menerus di desak oleh terdakwa dengan cara seperti itu akhirnya mengatakan kata-kata“NAH” yang artinya MAUpadahal terdakwa mengetahui bahwa saksi bukanlah istrinya dan masih tergolong anak-anak.

Selanjutnya terdakwa yang sudah tidak dapat menahan nafsunya langsung menarik saksi untuk duduk di lantai lalu membuka celana serta menarik celana panjang dan celana dalam milik saksi hingga saksi telanjang setengah badan

(7)

(dari pinggang hingga kaki) terdakwa juga membuka sendiri pakaian serta celananya hingga telanjang setengah badan. Selanjutnya karena penis (alat kelamin) Terdakwa sudah mengeras/tegang dan saksi korban yang saat itu tidak melakukan perlawanan, terdakwa kemudian menindih saksi dari atas dan memasukkan alat kelaminnya yang sudah tegang ke vagina saksi selanjutnya menggerakkannya naik turun sekitar 5 (lima) menit hingga akhirnya Terdakwa merasakan nikmat kemudian keluar cairan sperma milik Terdakwa di luar vagina saksi korban.

Bahwa perbuatan tersebut tidak dilakukan Terdakwa sekali saja, akan tetapi diulanginya lagi pada Hari Kamis, tanggal 06 Juni 2013 bertempat di Pondok milik Wayan Pertama, yang terletak di Bangli dimana awalnya pada hari Rabu tanggal 05 Juni 2013 sekitar pukul 21.00 WITA terdakwa datang ke warung saksi untuk membeli minuman Bir bersama teman-temannya, sekitar pukul 23.30 WITA setelah saksi pulang dari tempatnya bekerja, tidak berapa lama kemudian terdakwa kemudian menghubunginya lewat handphone dan menanyakan kepada saksi “DIJE NE” yang artinya “DIMANA NI” dan saksipunmenjawab “JUMAH” artinya “DIRUMAH” terdakwa kemudian mengancam dengan kata-kata “PESU JEP” artinya “KELUAR SEBENTAR” mendengar kata-kata terdakwa seperti itu saksipun menuruti permintaan terdakwa dengan keluar menemui terdakwa selanjutnya terdakwa mengajak saksi korban pergi dengan menggunakan sepeda Motor Merk Suzuki Shogun warna Merah Hitam No. Pol DK 5957 MC menuju pondokan kosong, terdakwa yang telah mengetahui bahwa situasi pondok yang sepi dan jauh dari permukiman penduduk dengan leluasa melaksanakan niatnya untuk menyetubuhi saksi dengan cara memeluk saksi lalu membuka pakaiannya hingga saksi telanjang bulat selanjutnya terdakwa juga melakukan hal yang sama dengan membuka sendiri pakaiannya hingga telanjang bulat lalu terdakwa merebahkan tubuh saksi di atas tempat tidur dengan posisi saksi berada dibawah tengadah keatas dan terdakwa berada di atas tubuh saksi dengan posisi tengkurap, kemudian terdakwa memasukkan alat kelaminnya

(8)

yang sudah tegang ke dalam vagina saksi lalu menggerakkannya naik turun hingga akhirnya Terdakwa merasakan nikmat kemudian keluar cairan sperma milik Terdakwa di luar vagina saksi korban. Sekitar pukul 03.30 WITA terdakwa kembali menyetubuhi saksi korban yang nyatanyata bukanlah istri dari terdakwa. Selanjutnya oleh karena saksi I (Saksi korban) tidak pulang kerumahnya saksi II (selaku ayah saksi korban) yang tidak pernah memberikan ijin untukmenginap, dan ketika mengetahui saksi korban sudah berhubungan badan dengan Terdakwa, membuat saksi II merasa keberatan atas perbuatan Terdakwa kepada saksi korban yang masih tergolong anak-anak, lalu Saksi II melaporkan hal tersebut ke Polres Bangli.

Bahwa akibat perbuatan Terdakwa terhadap saksi I (Saksi korban) yang baru berusia 13 (tiga belas) tahun, berdasarkan Hasil Visum Et Revertum Nomor: No. 445.04/573/PPL/2013 tanggal 18 Juni 2013 yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh dr. Clara Valerian, selaku dokter pada Rumah Sakit Umum Bangli, dengan hasil pemeriksaan dalam sebagai berikut :

a. Pada korban perempuan berumur 13 (tiga belas) tahun ini tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik;

b. Pada korban tidak ditemukan luka-luka pada alat kelamin;

c. Selaput dara tampak tidak utuh dengan tepi tidak teratur, mungkin diakibatkan penetrasi benda tumpul.

Perbuatan Terdakwa tersebut di atas sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 81 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 65 Ayat (1) KUHPidana ;

4. Tuntutan Penuntut Umum

Tuntutan Penuntut Umum yang pada pokoknya memohon kepada Majelis Hakim agar menjatuhkan putusan sebagai berikut:

a. Menyatakan Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak yaitu saksi korban (Saksi

(9)

I), yang masih berusia 13 (tiga belas tahun) untuk melakukan persetubuhan dengannya sebagaimana diatur dalam Pasal 81 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Jo. Pasal 65 Ayat (1) KUHP, dalam Dakwaan Alternatif Kedua ;

b. Menghukum Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 4 (EMPAT) tahun dan 6 (enam) bulan dan denda sebesar Rp.60.000.000,-(enam puluh juta rupiah) subsidair selama 3 (tiga) bulan kurungan.

c. Menyatakan barang bukti berupa : 1) 1 (satu) buah baju kaos warna hitam. 2) 1 ( satu ) buah celana jeans warna biru

3) 1 ( satu ) buah Celana boxer warna biru muda 4) 1 ( satu ) buah tikar spons warna biru

5) 1 ( satu ) buah celana panjang warna hitam 6) 1 (satu) buah baju kaos tanpa lengan warna putih 7) 1( satu ) buah baju kaos dalam warna abu-abu 8) 1 (satu) buah celana dalam wanita warna abu-abu (Dirampas untuk dimusnahkan)

9) 1 (satu) unit sepeda Motor Merk Suzuki Shogun warna Merah Hitam No. Pol DK 5957 MC tanpa kunci dan STNK

(Dikembalikan kepada Terdakwa).

d. Menetapkan Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. 2.000,-(dua ribu rupiah ).

5. Amar Putusan Pengadilan Negeri Bangli

1. Menyatakan Terdakwa tersebut di atas, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Dengan Sengaja Membujuk Anak Melakukan Persetubuhan Dengannya” sebagaimana dalam dakwaan alternatif kedua ;

(10)

2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun ;

3. Menetapkan pidana tersebut tidak usah dijalani kecuali jika dikemudian hari ada putusan hakim yang menentukan lain disebabkan karena Terpidana melakukan suatu tindakpidana sebelum masa percobaan selama 2 (dua) tahun berakhir ;

4. Menetapkan barang bukti berupa : a. 1 (satu) buah baju kaos warna hitam. b. 1 ( satu ) buah celana jeans warna biru.

c. 1 ( satu ) buah Celana boxer warna biru muda. d. 1 ( satu ) buah tikar spons warna biru.

e. 1 ( satu ) buah celana panjang warna hitam. f. 1 (satu) buah baju kaos tanpa lengan warna putih. g. 1( satu ) buah baju kaos dalam warna abu-abu. h. 1 (satu) buah celana dalam wanita warna abu-abu. Dimusnahkan;

i. 1 (satu) unit sepeda Motor Merk Suzuki Shogun warna Merah Hitam No. Pol DK 5957 MC tanpa kunci dan STNK.

Dikembalikan kepada terdakwa ;

5. Membebankan Terdakwa membayar biaya perkara sejumlah Rp. 2.000,-(dua ribu rupiah);

Demikian diputuskan pada hari Kamis, tanggal 16 Januari 2014, oleh I MADE ADITYA NUGRAHA, SH., MH., sebagai Hakim pada Pengadilan Negeri Bangli, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari dan tanggal itu juga, dengan dibantu oleh I MADE SUNARPA, Panitera Pengganti pada Pengadilan Negeri Bangli, serta dihadiri oleh NI KADEK JANA WATI, SH., Penuntut Umum, Terdakwa, Orangtua Terdakwa, Penasihat Hukum terdakwa dan Pembimbing Kemasyarakatan.

(11)

B. Pembahasan

1. Kesesuaian Pemberian Keterangan Saksi Tanpa Disumpah Dalam Perkara Pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Anak Dengan Ketentuan KUHAP

Menurut Pasal 1 angka 6 huruf b KUHAP, Penuntut Umum adalah jaksa yang diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim. Penuntut Umum mempunyai wewenang untuk membuat surat dakwaan dan melakukan penuntutan sesuai dengan pasal 14 KUHAP. Bagi Penuntut Umum, maka pembuktian merupakan faktor yang sangat determinan dalam rangka mendukung tugasnya sebagai pihak yang memiliki beban untuk membuktikan kesalahan Terdakwa (Lilik Mulyadi, 2007:49-50)

Upaya membuktikan dakwaan Penuntut Umum harus memperhatikan macam-macam alat-bukti yang sah menurut hukum, sistem yang dianut dalam pembuktian, syarat-syarat dan tata cara mengajukan bukti tersebut serta kewenangan hakim untuk menerima, menolak dan menilai suatu pembuktian (Hari Sasangka dan Lily Rosita, 2003:10). Hal tersebut sesuai dengan prinsip dasar pembuktian sebagaimana yang dijelaskan pada Pasal 66 KUHAP yang menyatakan bahwa pihak yang mendakwakan, maka pihak tersebut yang harus membuktikan dakwaannya (Adami Chazawi, 2006:201).

Berdasarkan hasil penelitian pada putusan Pengadilan Negeri Bangli Nomor : 75/Pid.Sus/2013/PN.Bli. Penuntut Umum dalam perkara ini menyusun dakwaan secara alternatif, yaitu dalam dakwaan pertama terdakwa didakwa melanggar Pasal 81 Ayat (1 ) Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 65 Ayat (1) KUHP dan dalam dalam dakwaan kedua terdakwa didakwa melanggar Pasal 81 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 65 Ayat (1) KUHP, yang dalam tuntutannya sebagaimana diatur dan diancam pidana penjara selama 4 (empat) tahun dan 6 (enam) bulan dan denda sebesar

(12)

Rp.60.000.000,- (enam puluh juta rupiah) subsidair selama 3 (tiga) bulan kurungan.

Penuntut Umum dalam menyusun dakwaan pada perkara ini masih menggunakan Pasal 81 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, karena pada saat perkara ini berlangsung dan diputus Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak belum resmi diundangkan. Dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP menyatakan bahwa suatu berbuatan tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada, sehingga dalam perkara ini Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak tidak dapat diberlakukan.

Berdasarkan uraian kasus di atas terdapat permasalahan mengenai keterangan saksi korban yang berdasarkan kutipan Kartu Keluarga yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kab.Bangli Nomor 5106042408069219 saksi korban masih berusia 13 tahun sehingga dapat dikategorikan sebagai anak. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 1 huruf a Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang menyatakan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Saksi korban yang tergolong sebagai anak memberikan kesaksian tanpa disertai sumpah yang pada pokoknya menerangkan sebagai berikut:

a. Bahwa saksi bekerja di warung tempat fitnes yang bertempat di Bangli;

b. Bahwa saksi bekerja menjaga warung sampai dengan jam 02.00 WITA;

c. Bahwa pada bulan Mei 2013, terdakwa datang kewarung bersama teman-temannya sambil minum bir;

(13)

d. Bahwa pada jam 02.00 WITA saat pengunjung sudah pulang dan saksi hendak menutup warung, saksi berjalan ke belakang warung dan menemukan terdakwa tidur dibelakang;

e. Bahwa saksi membangunkan terdakwa, lalu terdakwa mengajak saksi masuk ke ruangan fitness;

f. Bahwa di ruang fitness, terdakwa berkata “ de nyak ngene” (de mau berhubungan badan);

g. Bahwa awalnya saksi tidak mau tapi karena terdakwa mengajak berulang-ulang, akhirnya saksi bilang mau;

h. Bahwa setelah duduk di ruangan fitness, terdakwa mencium dan memeluk saksi lalu merebahkan saksi dilantai ruang fitness;

i. Bahwa terdakwa membuka celana panjang dan celana dalam saksi sampai lepas, terdakwa melepas celana panjang dan celana dalamnya sampai lutut;

j. Bahwa terdakwa menindih saksi dari atas lalu memasukkan alat kelaminnya ke kelamin saksi, sambil maju mundur dan mengeluarkan air mani di luar kelamin saksi;

k. Bahwa setelah berhubungan badan, terdakwa dan saksi lalu pulang; l. Bahwa pada bulan Juni 2013 jam 21.00 WITA, terdakwa bersama

teman-teman datang ke warung tempat saksi bekerja sampai jam 23.00 WITA;

m. Bahwa saat saksi sudah pulang kerumah dan baru sampai dirumah pada jam 02.00 WITA, terdakwa menelepon saksi;

n. Bahwa terdakwa menanyakan saksi ada dimana dan menyuruh saksi keluar rumah;

o. Bahwa terdakwa menjemput saksi dengan mengendarai sepeda motor lalu mengajak saksi ke pondok kosong di Bangli;

p. Bahwa di dalam pondok, saksi dan terdakwa duduk di atas dipan, lalu terdakwa menciumi dan memeluk saksi;

q. Bahwa terdakwa membuka baju, celana saksi sampai telanjang dan terdakwa membuka baju dan celananya sampai telanjang;

(14)

r. Bahwa terdakwa merebahkan saksi di atas dipan dan terdakwa menindih saksi lalu memasukkan alat kelaminnya ke alat kelamin saksi sambil maju mundur kira-kira lima menit;

s. Bahwa terdakwa mengeluarkan air mani diluar alat kelamin saksi; t. Bahwa setelah istirahat, selang beberapa menit, terdakwa memasukkan

alat kelaminnya kealat kelamin saksi;

u. Bahwa setelah terdakwa mengeluarkan air mani di luar alat kelamin saksi, saksi dan terdakwa sama-sama tidur tanpa pakaian sampai jam 08.00 WITA;

v. Bahwa setelah bangun, saksi dan terdakwa pulang kerumah masing-masing, saksi berjalan kaki dan terdakwa mengendarai sepeda motor; w. Bahwa sampai di rumah saksi bertemu dengan orang tua saksi dan

ditanya dari mana, saksi menjawab pergi dengan terdakwa;

x. Bahwa saksi ketakutan ditanya oleh orang tua saksi dan saksi benar membawa tali plastik;

y. Bahwa saksi kemudian diajak ke Polsek Kintamani oleh orang tua saksi untuk melaporkan terdakwa;

Ketentuan mengenai alat bukti yang sah yang dapat diajukan didepan sidang peradilan terdapat pada Pasal 184 ayat (1),yaitu:

a. Keterangan saksi b. Keterangan ahli c. Surat

d. Petunjuk

e. Keterangan terdakwa

Pengertian mengenai saksi diatur dalam Pasal 1 angka 26 KUHAP, yaitu saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri. Sedangkan keterangan saksi menurut Pasal 1 angka 27 KUHAP adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut

(15)

alasan dan pengetahuannya itu. Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 65/PUU-VII/2010 pengertian keterangan saksi telah diperluas,sehingga definisi saksi dalam Pasal 1 angka 27 KUHAP diubah menjadi orang yang dapat memberikan keterangan dalam rangka penyidikan, penuntutan, dan peradilan suatu tindak pidana yang tidak selalu ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri.

Ketentuan mengenai anak yang menjadi korban tindak pidana dan anak yang menjadi saksi tindak pidana juga diatur dalam Pasal 1 butir 4 dan 5 Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak, yang menerangkan bahwa anak yang menjadi korban tindak pidana yang selanjutnya disebut anak korban adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang disebabkan oleh tindak pidana dan anak yang menjadi saksi tindak pidana yang selanjutnya disebut anak saksi adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan tentang suatu perkara pidana yang didengar, dilihat, dan/atau dialaminya sendiri.

Salah satu syarat sah keterangan saksi menurut Pasal 160 ayat (3) KUHAP yaitu sebelum memberikan keterangan, saksi wajib mengucapkan sumpah atau janji menurut cara agamanya masing-masing, bahwa ia akan memberikan keterangan yang sebenarnya dan tidak lain daripada yang sebenarnya. Terdapat pengecualian mengenai saksi yang dapat diperiksa untuk memberi keterangan tanpa sumpah menurut Pasal 171 huruf a KUHAP yaitu anak yang umurnya belum cukup lima belas tahun dan belum pernah kawin, sehingga saksi anak dalam perkara di Pengadilan Negeri Bangli Nomor : 75/Pid.Sus/2013/PN.Bli yang memberikan keterangan tanpa disumpah dapat dibenarkan.

Berdasarkan aturan pada Pasal 185 ayat (7) KUHAP, Apabila saksi dalam memberikan kesaksiannya tidak mengucapkan sumpah atau janji maka

(16)

keterangan saksi tersebut bukan merupakan alat bukti namun apabila keterangan itu sesuai dengan keterangan dari saksi yang disumpah dapat dipergunakan sebagai tambahan alat bukti sah yang lain. Dalam hasil penelitian karena keterangan saksi korban yang tidak disumpah sesuai dengan keterangan terdakwa dan tiga orang saksi lain yang disumpah, serta dikuatkan dengan bukti surat dalam Visum Et Repertum Nomor: 445.04/573/PPL/2013 tanggal 18 Juni 2013 yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh dr. Clara Valerian, selaku dokter pada Rumah Sakit Umum Bangli maka keterangan saksi korban yang tidak disumpah dipergunakan sebagai tambahan alat bukti sah yang lain.

Berdasarkan uraian di atas, maka pemberian keterangan saksi tanpa disumpah dalam perkara pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Anak telah sesuai dengan ketentuan Pasal 171 huruf a jo Pasal 185 ayat (7) KUHAP. 2. Keterangan Saksi Korban Tanpa Disumpah Dipetimbangkan oleh

Hakim dalam Memutuskan Perkara Pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Anak

Pembuktian adalah ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara yang dibenarkan Undang-Undang membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa.Berkaitan dengan pembuktian perkara pidana, KUHAP menganut sistem pembuktian menurut Undang-Undang secara negatif. Dalam hal pembuktian menurut Undang-Undang-Undang-Undang secara negatif, seorang terdakwa baru dapat dinyatakan bersalah apabila kesalahan yang didakwakan kepadanya dapat dibuktikan dengan cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut Undang-Undang serta sekaligus keterbukaan kesalahan itu dibarengi dengan keyakinan hakim (M. Yahya Harahap, 2006:279). Hal ini terdapat dalam Pasal 183 KUHAP yang berbunyi: “Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya”.

(17)

Pengertian alat bukti adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan suatu perbuatan, dengan alat-alat bukti tersebut, dapat dipergunakan sebagai bahan pembuktian guna menimbulkan keyakinan hakim atas kebenaran adanya suatu tindak pidana yang telah dilakukan terdakwa (Hary Sasangka dan Lily Rosita,2003:11). Alat bukti yang sah menurut Pasal 184 ayat (1) KUHAP adalah: a. Keterangan saksi. b. Keterangan ahli. c. Surat. d. Petunjuk. e. Keterangan terdakwa.

Ketentuan pada Pasal 185 ayat (2) KUHAP menyatakan keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya.Hal ini berarti apabila alat bukti yang dikemukakan penuntut umum hanya terdiri dari seorang saksi saja maka keterangan tersebut dianggap belum memenuhi ketentuan minimum pembuktian.

Supaya keterangan saksi dapat dianggap sah untuk membuktikan kesalahan terdakwa, maka harus dipenuhi sekurang-kurangnya dengan dua alat bukti lainnya.Alat bukti yang dihadirkan oleh penuntut umum dalam pemeriksaan perkara Pengadilan Negeri Bangli Nomor: 75/Pid.Sus/2013/PN.Bli adalah saksi korban yang memberikan keterangan tanpa disumpah dan tiga saksi lain yang tidak mendengar, melihat, ataupun mengalami sendiri peristiwa tersebut. Meskipun dalam perkara ini hanya saksi korban yang memenuhi ketentuan dalam Pasal 1 angka 27 KUHAP yaitu saksi yang medengar, melihat dan mengalami sendiri suatu tindak pidana, namun berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 65/PUU-VII/2010 ketiga saksi lainnya dapat tetap dapat dimintai keterangan walaupun tidak mendengar, melihat dan mengalami tindak pidana tersebut sepanjang keterangan saksi tersebut saling bersesuaian satu sama lain, dengan alat bukti

(18)

lain dan dengan keterangan terdakwa, sehingga Majelis Hakim dapat memperoleh petunjuk sesuai dengan Pasal 188 KUHAP bahwa Terdakwalah yang melakukan tindak pidana seperti yang didakwakan penuntut umum.

Majelis hakim mempertimbangkan berdasarkan alat bukti dan barang bukti yang telah diajukan memperoleh fakta-fakta hukum sebagai berikut:

a. Bahwa pada bulan Mei 2013 terdakwa bersama teman-temannya ke warung tempat Saksi korban (Saksi I) bekerja di Bangli;

b. Bahwa saat warung sudah tutup, Saksi korban (Saksi I) menemukan terdakwa sedang tidur dibelakang warung, lalu membangunkan terdakwa;

c. Bahwa terdakwa mengajak Saksi korban (Saksi I) ke tempat fitness dan mengatakan “De nyak ngene” yang artinya “de mau berhubungan badan”;

d. Bahwa Saksi korban (Saksi I) awalnya tidak mau, terdakwa terus membujuk Saksi korban (Saksi I) dan Saksi korban (Saksi I) mengiyakan ajakan terdakwa;

e. Bahwa terdakwa mengajak Saksi korban (Saksi I) duduk di ruang fitness sambil memeluk dan mencium Saksi korban (Saksi I);

f. Bahwa terdakwa merebahkan Saksi korban (Saksi I) di lantai lalu terdakwa melepaskan celana yang digunakan oleh Saksi korban (Saksi I) dan terdakwa melepaskan celananya sampai lutut;

g. Bahwa terdakwa menindih Saksi korban (Saksi I) sambil memasukkan alat kelaminnya ke dalam alat kelamin Saksi korban (Saksi I) dan bergerak maju mundur sampai mengeluarkan air mani ;

h. Bahwa pada bulan Juni 2013 jam 02.00 WITA terdakwa menelepon Saksi korban (Saksi I) dan menanyakan ada dimana, dan Saksi korban (Saksi I) bilang lagi dirumah;

i. Bahwa terdakwa menyuruh Saksi korban (Saksi I) untuk keluar dan terdakwa menjemput Saksi korban (Saksi I) lalu mengajak pergi dengan menggunakan sepeda motor;

(19)

j. Bahwa terdakwa mengajak Saksi korban (Saksi I) ke Pondok milik I Wayan Pertama;

k. Bahwa didalam pondok, terdakwa dan Saksi korban (Saksi I) duduk di atas dipan, terdakwa memeluk dan mencium Saksi korban (Saksi I) ; l. Bahwa terdakwa melepaskan baju dan celana yang dipakai oleh Saksi

korban (Saksi I) sampai telanjang dan terdakwa melepaskan sendiri baju dan celananya sampai telanjang ;

m. Bahwa terdakwa merebahkan Saksi korban (Saksi I) di atas dipan dan menindih Saksi korban (Saksi I) lalu memasukkan alat kelaminnya ke dalam alat kelamin Saksi korban (Saksi I) sambil menggoyang-goyangkannya sampai terdakwa keluar air mani;

n. Bahwa setelah beberapa menit terdakwa kembali berhubungan badan dengan Saksi korban (Saksi I) sampai keluar air mani;

o. Bahwa terdakwa dan Saksi korban (Saksi I) ketiduran dan baru bangun pada jam 08.30 WITA, lalu pulang kerumah masing-masing;

p. Bahwa bukti surat yang berupa kartu keluarga, Saksi korban (Saksi I) lahir pada tanggal 31 Desember 2000 ;

q. Bahwa hasil visum et repertum pada kesimpulannya menerangkan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik, tidak ditemukan luka-luka pada alat kelamin, selaput dara tidak utuh dengan tepi tidak teratur.

Atas dasar fakta-fakta hukum di atas,hakim menyatakan terdakwa telah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya. Dalam pertimbangan hakim bahwa terdakwa telah didakwa oleh Penuntut Umum dengan dakwaan yang berbentuk alternatif, maka Hakim dengan memperhatikan fakta-fakta hukum tersebut di atas memilih langsung dakwaan alternatif kedua sebagaimana diatur dalam Pasal 81 Ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 65 Ayat (1) KUHP, yang unsur-unsurnya adalah sebagai berikut:

(20)

b. Unsur dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain;

Setiap orang adalah orang selaku subyek hukum yang didakwa melakukan perbuatan pidana, yang dalam perkara ini orang yang didakwa melakukan perbuatan pidana tersebut adalah Terdakwa sebagaimana identitas terdakwa dalam surat dakwaan serta adanya keterangan saksi-saksi,keterangan terdakwa sendiri yang membenarkan identitas terdakwa dalam surat dakwaan tersebut, dengan demikian unsur setiap orang telah terbukti.

Berdasarkan pertimbangan Hakim, terdakwa telah mengetahui akan perbuatan tersebut tidak boleh dilakukannya, akan tetapi terdakwa tetap melakukannya untuk mewujudkan niatnya berhubungan badan dengan Saksi korban (Saksi I), hubungan badan yangdilakukan oleh terdakwa dengan Saksi korban (Saksi I) telah dilakukan sebanyak dua kali dalam rentang waktu yang cukup lama yaitu kurang lebih satu bulan, dan dalam rentang waktu tersebut terdakwa sebenarnya memiliki waktu untuk mengurungkan niatnya melakukan perbuatan tersebut, dengan demikian unsur dengan sengaja membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya telah terbukti.

Karena semua unsur dari yaitu Pasal 81 Ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP telah terpenuhi, maka Terdakwa haruslah dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan alternatif kedua. Didalam persidangan, Hakim tidak menemukan hal-hal yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana, baik sebagai alasan pembenar dan atau alasan pemaaf, sehingga Terdakwa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Hakim yang melihat fakta hukum didalam perkara ini bahwa baik terdakwa maupun korban yaitu saksi I dalam hal ini masih berumur dibawah 18 tahun dan berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang

(21)

Perlindungan Anak dikategorikan sebagai anak, sehingga terdakwa berhak atas perlindungan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 64 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Hakim juga mempertimbangkan bahwa secara lisan dan berdasarkan laporan Penelitian Kemasyarakatan Nomor : 20/Litmas.an/VI/2013, tertanggal 11 Juli 2013, atas nama Terdakwa, pada pokoknya petugas kemasyarakatan yang mendampingi terdakwa merekomendasikan kepada Hakim untuk dapat menjatuhkan Putusan Pidana Percobaan / Pidana Bersyarat agar terdakwa masih bisa bersekolah.

Berdasarkan fakta dipersidangan, telah ada perdamaian antara terdakwa dengan orang tua Saksi korban (Saksi I), terdakwa masih berstatus pelajar, perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa dengan Saksi korban (Saksi I) bukan karena paksaan akan tetapi didasarkanatas perasaan suka sama suka, Saksi korban (Saksi I) telah pernah berhubungan badan dengan lelaki lain selain dengan terdakwa, serta pertimbangan yuridis di atas maka Hakim berpendapat bahwa pidana yang paling tepat dan adil bagi terdakwa adalah pidana percobaan sebagaimana diatur dalam Pasal 14 a sampai dengan Pasal 14 f KUHP.

Hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap diri Terdakwa, maka perlu dipertimbangkan terlebih dahulu keadaan yang memberatkan dan yang meringankan Terdakwa yaitu:

Keadaan yang memberatkan:

a. Perbuatan Terdakwa telah merugikan orang lain dan merusak masa depan Saksi korban (Saksi I);

Keadaan yang meringankan:

a. Terdakwa sopan dalam persidangan.

b. Terdakwa mengakui terus terang perbuatannya.

(22)

d. Terdakwa belum pernah dipidana.

e. Telah ada perdamaian antara terdakwa dengan keluarga korban.

Memperhatikan Pasal 81 Ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP, Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak dan Pasal 183 jo Pasal 188 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan maka Hakim menyatakan Terdakwa tersebut di atas, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Dengan Sengaja Membujuk Anak Melakukan Persetubuhan Dengannya” sebagaimana dalam dakwaan alternatif kedua, menjatuhkan pidana kepada Terdakwa dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun, dan menetapkan pidana tersebut tidak usah dijalani kecuali jika dikemudian hari ada putusan hakim yang menentukan lain disebabkan karena Terpidana melakukan suatu tindak pidana sebelum masa percobaan selama 2 (dua) tahun berakhir.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :