• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

JUDUL

DAFTAR ISI ... BAB I. PENDAHULUAN

1 I.I Latar Belakang ... I.II Masalah ... I.III Tujuan ... I.IV Manfaat ... 2 2 3 3 BAB II. ISI

II.I Tinjauan Pustaka Skabies ... 4 BAB III. MATERI DAN METODE

III.I Materi ... III.II Metode ...

13 13 BAB IV. HASIL KUNJUNGAN RUMAH

IV.I. Hasil Anamnesis dan Pengamatan ... IV.II Resume ...

15 19 BAB V. ANALISIS MASALAH ... 20 BAB VI. PENUTUP

VI.I Kesimpulan ... 22 DAFTAR PUSTAKA ... 23 LAMPIRAN

BAB I

PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang

Puskesmas merupakan unit pelayanan kesehatan yang letaknya berada paling dekat di tengah-tengah masyarakat dan mudah dijangkau dibandingkan dengan unit pelayanan kesehatan lainnya (rumah sakit swasta maupun negeri). Fungsi puskesmas adalah mengembangkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh seiring dengan misinya. Pelayanan kesehatan tersebut harus bersifat menyeluruh atau yang disebut dengan Comprehensive

(2)

Health Care Service yang meliputi aspek promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Prioritas yang harus dikembangkan oleh puskesmas harus diarahkan ke bentuk pelayanan kesehatan dasar (basic health care services) yang lebih mengedepankan upaya promosi dan pencegahan (public health service). Fungsi puskesmas menurut keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.128/MENKES/SK/II/2004, adalah sebagai pusat penggerakan pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat dan keluarga dalam pembangunan kesehatan, serta pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama.

Dalam beberapa kasus yang ada, laporan kasus skabies masih sering ditemukan pada keadaan lingkungan yang padat penduduk, status ekonomi rendah, tingkat pendidikan yang rendah dan kualitas higienis pribadi yang kurang baik atau cenderung jelek. Rasa gatal yang ditimbulkannya terutama waktu malam hari, secara tidak langsung juga ikut mengganggu kelangsungan hidup masyarakat terutama tersitanya waktu untuk istirahat tidur, sehingga kegiatan yang akan dilakukannya disiang hari juga ikut terganggu. Jika hal ini dibiarkan berlangsung lama, maka efisiensi dan efektifitas kerja menjadi menurun yang akhirnya mengakibatkan menurunnya kualitas hidup masyarakat.1

I.II Masalah

Faktor resiko apa saja yang ditemukan pada pasien Evaluasi terapi dalam rangka pengobatan skabies

Bagaimana fungsi keluarga menurut ilmu kedokteran keluarga dalam mendukung penyembuhan pasien

Mengetahui intervensi apa yang dapat dilakukan untuk menangani skabies I.III Tujuan

 Mengetahui penyebab penyakit skabies

 Mengetahui epidemiologi penyait skabies

 Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit skabies

 Mengetahui cara mendiagnosis penyakit skabies

 Mengetahui cara penanganan penyakit skabies I.IV Manfaat

 Mampu mendeteksi dini penyakit skabies

 Mampu mendiagnosa penyakit skabies

 Mampu melakukan penyuluhan tentang penyakit skabies

 Mampu melakukan upaya pencegahan penyakit skabies

 Mampu melakukan pengobatan terhadap penderita skabies

(3)

BAB II

ISI

II.I Tinjauan Pustaka Skabies Definisi

Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabieivarian hominis dan produknya.2

Epidemiologi

Skabies ditemukan disemua negara dengan prevalensi yang bervariasi. Dibeberapa negara yang sedang berkembang prevalensi skabies sekitar 6 % - 27 % populasi umum dan cenderung tinggi pada anak-anak serta remaja.2

Menurut Departemen Kesehatan RI prevalensi skabies di puskesmas seluruh Indonesia pada tahun 1986 adalah 4,6 % - 12,95 % dan skabies menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit tersering. Di bagian Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM pada tahun 1988, dijumpai 704 kasus skabies yang merupakan 5,77 % dari seluruh kasus baru. Pada tahun 1989 dan 1990 prevalensi skabies adalah 6 % dan 3,9 % .1

Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemi skabies. Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain: sosial ekonomi yang rendah, higiene yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas, kesalahan diagnosis, dan perkembangan dermografik serta ekologik. Penyakit ini dapat dimasukkan dalam P.H.S. (Penyakit akibat Hubungan Seksual). 2

(4)

Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthopoda , kelas Arachnida, ordo Ackarina,

superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis. Kecuali itu terdapat S. scabiei yang lainnya pada kambing dan babi.3

Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini transient, berwarna putih kotor, dan tidak bermata. Ukurannya yang betina berkisar antara 330 – 450 mikron x 250 – 350 mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200 – 240 mikron x 150 – 200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki di depan sebagai alat alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat.3

Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam

stratum korneum, dengan kecepatan 2 -3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2

atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50 . Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telurnya akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2 -3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8 – 12 hari.2

Telur menetas menjadi larva dalam waktu 3 – 4 hari, kemudian larva meninggalkan terowongan dan masuk ke dalam folikel rambut. Selanjutnya larva berubah menjadi nimfa yang akan menjadi parasit dewasa. Tungau betina akan mati setelah meninggalkan telur, sedangkan tungau jantan mati setelah kopulasi.2

Sarcoptes scabiei betina dapat hidup diluar pada suhu kamar selama lebih kurang 7 –

14 hari. Yang diserang adalah bagian kulit yang tipis dan lembab, contohnya lipatan kulit pada orang dewasa. Pada bayi, karena seluruh kulitnya masih tipis, maka seluruh badan dapat terserang.3

Patogenesis

Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang kuat, menyebabkan kulit timbul pada pergelangan tangan. Gatal yang

(5)

terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi,

ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas

dari lokasi tungau.2

Cara Penularan

Penyakit scabies dapat ditularkan melalui kontak langsung maupun kontak tak langsung. Yang paling sering adalah kontak langsung dan erat atau dapat pula melalui alat-alat seperti tempat tidur, handuk, dan pakaian. Bahkan penyakit ini dapat pula ditularkan melalui hubungan seksual antara penderita dengan orang yang sehat. Di Amerika Serikat dilaporkan, bahwa scabies dapat ditularkan melalui hubungan seksual meskipun bukan merupakan akibat utama.1

Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kebersihan perseorangan dan lingkungan, atau apabila banyak orang yang tinggal secara bersama-sama di satu tempat yang relatif sempit. Apabila tingkat kesadaran yang dimiliki oleh banyak kalangan masyarakat masih cukup rendah, derajat keterlibatan penduduk dalam melayani kebutuhan akan kesehatan yang masih kurang, kurangnya pemantauan kesehatan oleh pemerintah, faktor lingkungan terutama masalah penyediaan air bersih, serta kegagalan pelaksanaan program kesehatan yang masih sering kita jumpai, akan menambah panjang permasalahan kesehatan lingkungan yang telah ada.1

Penularan scabies terjadi ketika orang-orang tidur bersama di satu tempat tidur yang sama, di lingkungan rumah tangga, sekolah-sekolah yang menyediakan fasilitas asrama dan pemondokan, serta fasiltas-fasilitas kesehatan yang dipakai oleh masyarakat luas. Di Jerman terjadi peningkatan insidensi, sebagai akibat kontak langsung maupun tak langsung seperti tidur bersama. Faktor lainnya fasilitas umum yang dipakai secara bersama-sama di lingkungan padat penduduk. Dibeberapa sekolah didapatkan kasus pruritus selama beberapa bulan yang sebagian dari mereka telah mendapatkan pengobatan skabisid.1

Gejala Klinis

(6)

dibuat dengan menemukan dua dari empat tanda khas tersebut. Gejala khas dari skabies adalah sebagai berikut1

Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas

tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas. 1

 Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok, misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu pula dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut. Dikenal keadaan hiposensitisasi, yang seluruh anggota keluarganya terkena, walaupun mengalami infestasi tungau, tetapi tidak memberikan gejala. Penderita ini bersifat sebagai pembawa (carrier). 1

 Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan ini ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimarf (pustule, ekskoriasi dan lain-lain). Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan,

areola mammae (wanita), umbilicus, bokong, genitalia eksterna (pria) dan perut

bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki. 1

 Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini. 1

Klasifikasi

Terdapat beberapa bentuk skabies atipik yang jarang ditemukan dan sulit dikenal, sehingga dapat menimbulkan kesalahan diagnosis. Beberapa bentuk tersebut antara lain :

Skabies pada orang bersih (scabies of cultivated).

Terdapat pada orang yang tingkat kebersihannya cukup. Biasanya sangat sukar ditemukan terowongan. Kutu biasanya hilang akibat mandi secara teratur. Bentuk ini ditandai dengan lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya sehingga

(7)

sangat sukar ditemukan.5

Skabies incognito.

Bentuk ini timbul pada scabies yang diobati dengan kortikosteroid sehingga gejala dan tanda klinis membaik, tetapi tungau tetap ada dan penularan masih bisa terjadi. Skabies incognito sering juga menunjukkan gejala klinis yang tidak biasa, distribusi atipik, lesi luas dan mirip penyakit lain. 5

Skabies nodular.

Pada bentuk ini lesi berupa nodus coklat kemerahan yang gatal.Nodus biasanya terdapat di daerah tertutup, terutama pada genitalia laki-laki, inguinal dan aksila.Nodus ini timbul sebagai reaksi hipersensetivitas terhadap tungau scabies.Pada nodus yang berumur lebih dari satu bulan tungau jarang ditemukan. Nodus mungkin dapat menetap selama beberapa bulan sampai satu tahun meskipun telah diberi pengobatan anti scabies dan kortikosteroid. 5

 Skabies yang ditularkan melalui hewan.

Pada negara tertentu, ada skabies yang ditularkan dari hewan. Kelainan ini berbeda dengan skabies manusia yaitu tidak terdapat terowongan, tidak menyerang sela jari dan genitalia eksterna. Lesi biasanya terdapat pada daerah dimana orang sering kontak/memeluk binatang kesayangannya yaitu paha, perut, dada dan lengan. Masa inkubasi lebih pendek dan transmisi lebih mudah. Kelainan ini bersifat sementara (4 – 8 minggu) dan dapat sembuh sendiri karena S. scabiei var. binatang tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya pada manusia. 5

 Skabies Norwegia.

Skabies Norwegia atau skabies krustosa ditandai oleh lesi yang luas dengan krusta,

skuama generalisata dan hyperkeratosis yang tebal. Tempat predileksi biasanya kulit

kepala yang berambut, telinga bokong, siku, lutut, telapak tangan dan kaki yang dapat disertai distrofi kuku. Berbeda dengan skabies biasa, rasa gatal pada penderita skabies Norwegia tidak menonjol tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yang menginfestasi sangat banyak (ribuan). Skabies Norwegia terjadi akibat defisiensi

imunologik sehingga sistem imun tubuh gagal membatasi proliferasi tungau dapat

berkembang biak dengan mudah. 5

 Skabies pada bayi dan anak.

Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder berupa impetigo, ektima sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi, lesi di muka. 5

 Skabies karena terbaring di tempat tidur (bed ridden).

Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal ditempat tidur dapat menderita skabies yang lesinya terbatas.5

(8)

Pemeriksaan Penunjang

Teknik pemeriksaan pada scabies

 Kerokan kulit

Papul atau kanalikuli yang utuh ditetesi dengan KOH 10% lalu dilakukan kerokan dengan menggunakan scalpel steril yang bertujuan untuk mengangkat atap papula atau kanalikuli. Bahan pemeriksaan diletakkan di gelas objek dan ditutup dengan kaca penutup lalu diperiksa dibawah mikroskop.5

 Usap (Swab kulit)

 Mengambil tungau dengan jarum

Bila menemukan terowongan, jarum suntik yang runcing ditusukkan kedalam terowongan yang utuh dan digerakkan secara tangensial ke ujung lainnya kemudian dikeluarkan. Bila positif, Tungau terlihat pada ujung jarum sebagai parasit yang sangat kecil dan transparan. Cara ini mudah dilakukan tetapi memerlukan keahlian tinggi. 5

 Kuretasi terowongan (kuret dermal)

 Burrow ink test

Identifikasi terowongan bisa dibantu dengan cara mewarnai daerah lesi dengan tinta hitam. Papul skabies dilapisi dengan tinta cina, dibiarkan selama 20-30 menit. Setelah tinta dibersihkan dengan kapas alkohol, terowongan tersebut akan kelihatan lebih gelap dibandingkan kulit di sekitarnya karena akumulasi tinta didalam terowongan. Tes dinyatakan positif bila terbetuk gambaran kanalikuli yang khas berupa garis menyerupai bentuk zigzag. 5

 Uji tetrasiklin

Pada lesi dioleskan salep tetrasiklin yang akan masuk ke dalam kanalikuli. Setelah dibersihkan, dengan menggunakan sinar ultraviolet dari lampu Wood, tetrasiklin tersebut akan memberikan fluoresensi kuning keemasan pada kanalikuli. 5

 Epidermal shave biopsy

Diagnosis pasti dapat melalui identifikasi tungau, telur secara mikroskopik. Ini dilakukan dengan cara menjepit lesi dengan ibu jari dan telunjuk kemudian dibuat irisan tipis, dan dilakukan irisan superficial secara menggunakan pisau dan berhati-hati dalam melakukannya agar tidak berdarah. Kerokan tersebut diletakkan di atas kaca objek dan ditetesi dengan minyak mineral yang kemudian diperiksa dibawah mikroskop. 5

(9)

 Pemeriksaan histopatologik

 Biopsi irisan dengan pewarnaan HE

 Menyikat

Dengan sikat dilakukan penyikatan pada daerah yang terinfeksi dan ditampung diselembar kertas putih dan dilihat dengan kaca pembesar. 5

Terapi

Obat yang baik dan tepat untuk digunakan pada kasus skabies adalah efektif terhadap semua stadium tungau, kemudian tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik, tidak berbau atau kotor serta tidak merusak atau mewarnai pakaian, dan mudah diperoleh serta harganya murah. Semua keluarga yang berkontak dengan penderita harus diobati. Berikut adalah beberapa medikamentosa yang dapat digunakan.

 Permetrin.

Merupakan obat pilihan untuk saat ini , tingkat keamanannya cukup tinggi, mudah pemakaiannya dan tidak mengiritasi kulit. Dapat digunakan di kepala dan leher anak usia kurang dari 2 tahun. Penggunaannya dengan cara dioleskan pada seluruh tubuh (leher ke bawah) lebih kurang 8 jam kemudian dicuci bersih.2

 Malation.

Malation 0,5 % dengan daasar air digunakan selama 24 jam. Pemberian berikutnya diberikan beberapa hari kemudian.2

 Emulsi Benzil-benzoas (20-25 %).

Efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama tiga hari. Sering terjadi iritasi dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.2

(10)

Dalam bentuk parafin lunak, sulfur 10 % secara umum aman dan efektif digunakan. Dalam konsentrasi 2,5 % dapat digunakan pada bayi. Obat ini digunakan pada malam hari selama 3 malam. 2

 Monosulfiran.

Tersedia dalam bentuk lotion 25 %, yang sebelum digunakan harus ditambah 2 – 3 bagian dari air dan digunakan selam 2 – 3 hari.2

 Gama Benzena Heksa Klorida (gameksan).

Kadarnya 1 % dalam krim atau losio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan dan jarang terjadi iritasi.Tidak dianjurkan pada anak di bawah 6 tahun dan wanita hamil karena toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemberian cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala ulangi seminggu kemudian.2

Krotamiton 10 % dalam krim atau losio, merupakan obat pilihan. Mempunyai 2 efek sebagai

antiskabies dan antigatal.2

Prognosis

Dengan pemilihan dan cara pemakaian obat, serta syarat pengobatan yang tepat juga dengan menghilangkan faktor predisposisi salah satunya higenitas tubuh, maka penyakit ini dapat diberantas dan memberi prognosis yang baik.Penyakit ini tidak mengancam jiwa pada umumnya, sehingga prognosis kehidupan baik. Fungsi tubuh diharapkan dapat kembali dengan sempurna setelah pengobatan yang adekuat, dan kekambuhan diharapkan dapat dicegah sempurna setelah upaya pencegahan dilaksanakan di lingkungan pasien. 1

(11)

BAB III

MATERI DAN METODE

III.I Materi

Data Riwayat Keluarga/Family Folder

Family Folder adalah salah satu teknik pencatatan yang digunakan untuk mengetahui

status kesehatan suatu keluarga dalam masyarakat, dengan menggunakan prinsip dokter keluarga, yaitu seorang pasien merupakan pintu masuk menuju kesehatan keluarganya. Jadi, melalui pengamatan pada seorang pasien, kita juga harus mengetahui status kesehatan pada setiap individu keluarganya.

Pada Family Folder ini kita dapat melihat adanya faktor lingkungan yang sangat berperan pada perkembangan suatu penyakit, keadaan tempat tinggal yang kita amati, lingkungan sekitarnya yang dapat menunjang munculnya agent maupun malah mendukung host sehingga penyakit tidak muncul. Selain dipengaruhi lingkungan, juga dipengaruhi oleh faktor keturunan, mekanisme pertahanan tubuh, umur, jenis kelamin, ras, status perkawinan, macam pekerjaan dan kebiasaan hidup. Oleh karena itu pada Family Folder juga dicantumkan hal tersebut.

Puskemas adalah sarana pelayanan kesehatan strata pertama yang bertanggungjawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Oleh karena itu, pengisian Family Folder dilakukan pada pasien yang datang ke Puskesmas, guna mengetahui secara langsung kesehatan perorangan maupun masyarakat yang berada di sekitar Puskesmas tersebut.

III.I Metode Wawancara Pasien

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara pengumpul data maupun peneliti terhadap nara sumber atau sumber data. Wawancara pada penelitian sampel besar biasanya hanya dilakukan sebagai studi pendahuluan karena tidak mungkin menggunakan wawancara pada 1000 responden, sedangkan pada sampel kecil teknik pengumpul data (umumnya penelitian kualitatif).

Wawancara terbagi atas wawancara terstruktur dan tidak terstruktur. Wawancara terstruktur artinya peneliti telah mengetahui dengan pasti apa informasi yang ingin digali dari informasi yang ingin digali dari responden sehingga daftar pertanyaan sudah dibuat secara sistematis. Peneliti juga dapat menggunakan alat bantu tape recorder, kamera foto, dan

(12)

material lain yang dapat membantu kelancaran wawancara. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara bebas, yaitu peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang akan diajukan secara spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting masalah yang ingin digali dari responden.

BAB IV

HASIL KUNJUNGAN RUMAH

IV.I Hasil Anamnesis dan Pengamatan Puskesmas : Puskesmas Loji Nomor register : -

Data riwayat keluarga: 1. Identitas Pasien

a. Nama : An. M

b. Umur : 15 tahun

c. Jenis kelamin : laki-laki

d. Pekerjaan : tidak bekerja

e. Pendidikan : SMP

f. Alamat : Kampung Munjul 02/06, Desa Cintalaksana

Kecamatan Tegalwaru

g. Telepon :

-2. Riwayat Biologis Keluarga

(13)

b. Kebersihan perorangan : kurang c. Penyakit yang sering diderita : tidak ada

d. Penyakit keturunan : tidak ada

e. Penyakit kronis yang menular : tidak ada f. Kecacatan anggota keluarga : tidak ada

g. Pola makan : cukup teratur

h. Pola istirahat : baik

i. Jumlah anggota keluarga : 4 orang

3. Psikologis Keluarga

a. Kebiasaan buruk : ayah merokok 1 bungkus/hari b. Pengambilan keputusan : ayah

c. Ketergantungan obat : tidak ada d. Tempat mencari pelayanan kesehatan : puskesmas Loji

e. Pola rekreasi : kurang

4. Keadaan rumah/lingkungan

a. Jenis bangunan : permanen

b. Lantai rumah : keramik

c. Luas rumah : 80 m2

d. Penerangan : baik

e. Kebersihan : cukup

f. Ventilasi : baik

g. Dapur : ada

h. Jamban keluarga : ada

i. Sumber air minum : air sumur

j. Sumber pencemaran air : tidak ada k. Pemanfaatan perkarangan : ada l. Sistem pembuangan air limbah : tidak ada m. Tempat pembuangan sampah : ada

n. Sanitasi lingkungan : cukup baik 5. Spiritual Keluarga

a. Ketaatan beribadah : cukup

b. Keyakinan tentang kesehatan : cukup 6. Keadaan Sosial Keluarga

a. Tingkat pendidikan : cukup

b. Hubungan antar anggota keluarga : baik c. Hubungan dengan orang lain : baik d. Kegiatan organisasi sosial : baik

(14)

7. Kultural Keluarga

Adat yang berpengaruh : tidak adat yang berpengaruh 8. Daftar Anggota Keluarga

No Daftar Keluarga Jenis Kelamin Umur Pekerjaan Pokok Tingkat Pendidikan Terakhir Hubungan

1. Tn Budi L 38 th Petani SD Ayah

2. Ny Endah P 36 th Petani SD Ibu

3. An Evi P 12 th Pelajar SD Anak

9. Keluhan utama : Bentol-bentol kemerahan pada sela-sela jari kaki

10. Keluhan tambahan : Rasa gatal terutama malam hari 11. Riwayat penyakit sekarang

Bentol-bentol kemerahan pada sela jari tangan dan kaki sejak ± 2 hari SMRS. Menurut pasien, keluhan bentol disertai rasa gatal yang membuat pasien sering menggaruk-garuk daerah yang berbentol. Pasien sering terbangun malam hari untuk menggaruk daerah tersebut. Keluhan bentol dan gatal di daerah kemaluan disangkal. Keluarga tidak memiliki riwayat memelihara hewan peliharaan di rumah. Pasien juga selalu mandi 2x sehari. Riwayat anggota keluarga lain yang mengalami keluhan serupa disangkal, namun pasien mengatakan ada tetangga dan teman sekolahnya yang mengalami keluhan serupa.

12. Riwayat penyakit dahulu : - tidak ada alergi obat dan makanan

- tidak ada riwayat menderita penyakit kulit sebelumnya

13. Pemeriksaan fisik : - frekuensi nadi 78 x/menit - suhu 36.6 °C

- frekunsi pernapasan 20 x / menit 14. Pemeriksaan penunjang : tidak ada

(15)

15. Diagnosis penyakit : skabies

16. Diagnosis keluarga : menurut keterangan pasien dan orang tuanya keluarga tidak ada yang menderita sakit kulit dan gatal-gatal di rumah

17. Anjuran penatalaksanaan penyakit a. Promotif

Penyuluhan tentang definisi skabies, gejala skabies, faktor-faktor risiko terjadinya skabies dan pencegahan skabies misal dengan penyuluhan tentang kebersihan tempat tidur, kebersihan badan, dan hidup sehat.

b. Preventif

Meyakinkan keluarga pasien untuk mencuci kasur, karpet, pakaian-pakaian pasien dengan air panas dan dijemur seharian dibawah terik matahari. Mencari adanya anggota keluarga lain serta tetangga yang memiliki keluhan serupa untuk dibersihkan pakaian dan tempat tidurnya serta diberikan pengobatan

c. Kuratif

Jika ditemukan kasus, dapat dilakukan pengobatan dini agar penyakit tersebut tidak menjadi parah. Terapi yang dapat diberikan adalah Klofeniramin Maleat 2mg 3x1 dan salep 24. Serta mengedukasi cara pemakaian obat, terutama salep 2-4 untuk tidak mandi selama 3 hari berturut-turut, dan obat dioleskan pada sela jari kaki dan tangan sebanyak 3 kali tiap hari.

d. Rehabilitatif

Pada pasien perlu dilakukan tindakan rehabilitatif yakni melihat dan merawat bekas garukan akibat gatal scabies. Mengedukasi orangtua pasien agar menjaga perilaku anak dari menggaruk-garuk sela jari.

18. Prognosis

a. Penyakit : Jika pasien teratur memakai salep dan kebersihan rumah yang baik maka prognosis penyakit pasien adalah baik (dubia et bonam).

b. Keluarga :Adanya hubungan yang baik antar anggota keluarga serta mendukung kesehatan pasien dapat membuat suasana keluarga yang sehat jasmani dan rohani dan prognosisnya baik untuk pasien juga keluarganya. c. Masyarakat :Untuk masyarakat sekitar pasien tinggal, karena skabies yang

diderita pasen menular, maka prognosisnya dubia ad malam IV.II Resume

(16)

pada sela jari tangan dan kaki di sertai rasa gatal terutama malam hari. Awalnya ibu pasien hanya menduga gatal biasa dan hanya diberikan bedak dan obat gatal, namun kondisi pasien tidak kunjung membaik. Akhirnya ibu pasien membawa anaknya ke Puskesmas Loji akibat sakitnya yang tidak sembuh.

BAB V

ANALISIS MASALAH

1. Analisa Kasus

Seorang pasien anak laki-laki berusia 15 tahun datang ke Puskesmas Loji dengan ibunya. Pada tanggal dilakukan kunjungan rumah untuk melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik berupa pemeriksaan luka garuk dan bagian yang gatal serta melihat kondisi rumah pasien, dan didapatkan keterangan bahwa An. M sudah menderita skabies sejak 2 hari terakhir. Pasien tinggal di pemukiman padat penduduk.

2. Analisa Kunjungan Rumah a. Kondisi pasien

Kondisi pasien dalam keadaan baik. Pasien mengeluhkan gatal dan luka bekas garukan disekitar kaki.

b. Pendidikan

Pasien berada di bangku pendidikan tingkat SMP c. Keadaan rumah

 Lokasi :Jarak antara rumah yang satu dengan yang lain tidak rapat, dipisahkan oleh jalan setapak.

 Kondisi :Jenis bangunan rumah pasien adalah permanen. Rumah terbuat dari batu bata, lantainya terbuat dari keramik, beratap genteng. Rumah tampak bersih dan

(17)

rapi.

 Luas rumah : 80 m2. d. Pembagian rumah

Rumah terdiri dari 1 tingkat, terdiri dari 2 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 dapur, 1 kamar mandi, dan 1 jamban.

e. Ventilasi

Terdapat ventilasi yang baik pada rumah pasien. f. Penerangan

Penerangan cukup karena sinar matahari dapat masuk melewati ventilasi rumah. g. Kebersihan

Kebersihan dalam rumah cukup.Namun didalam rumah masih terdapat debu

h. Sanitasi dasar

Sumber air minum berasal dari air sumur, dan air tersebut digunakan untuk keperluan memasak, mencuci dan mandi. Terdapat satu kamar mandi dan kakus yang digunakan hanya untuk keluarga pasien. Kamar mandi bersebelahan dengan dapur dan dijadikan sebagai tempat untuk mencuci peralatan masak dan pakaian.

3. Analisa Fungsi Keluarga a. Keadaan Biologis

Dalam keluarga pasien saat ini, yang menderita skabies adalah pasien. b. Keadaan Psikologis

Hubungan pasien dengan semua anggota keluarga terjalin dengan baik. Semua keluarga turut bekerja sama dan pasien terlihat bahagia dengan keluarga yang dimilikinya.

c. Keadaan Sosiologis

Pasien suka bermain dengan anggota keluarga dan teman-temanya di sekitar lingkungan rumah.

d. Keadaan Religius

(18)

BAB V

PENUTUP

V.I Kesimpulan dan saran

Berdasarkan data riwayat keluarga diatas kesimpulan yang dapat diambil adalah keadaan kesehatan keluarga pasien sekarang baik, disarankan untuk tindakan pencegahan dan perlindungan terhadap penyakit masih perlu diperhatikan, perlu dilakukan pembenahan baik dari segi keadaan biologis maupun psikologi keluarga, keadaan rumah/lingkungan atau pun sosial keluarga.

Dari data pasien didapatkan pula bahwa pasien tidak mengetahui penyakit yang dideritanya, cara mengobatinya, serta dampaknya bagi kesehatan. Hal ini dibuktikan dengan kurangnya pengetahuan, sikap dan perilaku pasien dan keluarganya untuk membersihkan tempat tidur dan lingkungan rumahnya. Dalam hal ini promosi kesehatan dalam bentuk kegiatan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pasien terhadap penyakitnya perlu dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

1 Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi V, Jakarta : FKUI. 2007.

(19)

Kulit dan Kelamin.Edisi kelima. Catakan ketujuh. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 122-125

3 Tulus S, Erwin S, Faisal Y:Kapita Selekta Kedokteran. Edisi IV Jilid 1. Jakarta : Media Aesculapius FKUI. 2014.

4 Burkhart CN, Burkhart CG. Scabies, Other Mites, and Pediculosis. In: Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller A, Leffel DJ, Wolff K, et al. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 8th Ed. United States of America. The McGraw-Hill Companies, Inc; 2012. p. 3652-56

5 Cordoro KM, James WD. Scabies. Accessed on: 07-06-2015. Available at: http://emedicine.

Referensi

Dokumen terkait

Data riwayat kesehatan dan pengkajian fisik yang didokumentasikan dalam catatan/status kesehatan pasien merupakan sumber informasi yang penting bagi anda dan tenaga

5.5 Sebaran Riwayat Depresi pada Keluarga Pasien Depresi yang menjalani Rawat Jalan di Poli Jiwa RSUD Dr.. 58 5.6 Penyakit Penyerta (Komorbid) Pasien Depresi

jiwa ibu. 3) Tenaga kesehatan terlambat melakukan pencegahan dan/atau mengidentifikasi komplikasi secara dini - yang disebabkan oleh karena kompetensi tenaga

Adapun manfaat yang dihasilkan dari aplikasi sistem informasi elektronik ini nantinya diharapkan akan mempermudah pelaporan dari fasilitas kesehatan yang di Dinas

Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu upaya yang dilakukan perusahaan untuk memberikan

keluarga dalam merawat pasien gangguan jiwa skizofrenia paranoid 2 Hubungan dukungan keluarga terhadap pencegahan kekambuhan pada klien skizofrennia Erwin Chandra

Fungsi perawatan kesehatan keluarga dapat berfungsi dengan baik apabila keluarga dapat melaksanakan tugas keluarga dibidang kesehatan dengan baik dan dibantu oleh tenaga kesehatan yaitu

Oleh sebab itu, penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa ibu hamil dengan mempunyai riwayat status gizi kurang dapat melahirkan bayi berat bayi lahir rendah, faktor tersebut