KATA PENGANTAR. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu

20  13  Download (0)

Teks penuh

(1)

v

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian berjudul “Hubungan Aktivitas Menyelam Dengan Kapasitas Vital Paru Pada Penyelam Di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng”

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan proposal penelitian ini. Ucapan terima kasih penulis berikan kepada:

1. Prof.Dr.dr.Putu Astawa, Sp.OT(K),M.Kes, sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

2. Prof.dr.Ketut Tirtayasa, M.S.,AIF, sebagai Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

3. Ns. A.A. Istri Putra Kusumawati, S.Kep., M.Ng, sebagai pembimbing utama yang telah memberikan bantuan dan bimbingan sehingga dapat menyelesaikan proposal penelitian ini tepat waktu.

4. Ns. Ni Ketut Guruprapti, S.Kep., MNS, sebagai pembimbing pendamping yang telah memberikan bantuan dan bimbingan sehingga dapat menyelesaikan proposal penelitian ini tepat waktu.

5. Kepala Desa Les yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melakukan penelitian di Desa Les.

6. Gede Partiana selaku kepala kelompok penyelam di Desa Les, Kecamatan Tejakula yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melakukan penelitian di kelompoknya

(2)

vi

7. Ni Made Senawati selaku pengurus kelompok penyelam yang selalu mendampingi saya selama penelitian.

8. Kedua orang tua saya atas segala bantuan materi dan dukungan, baik moral maupun spiritual.

9. Teman–teman PSIK A 2012 ETACOSTAVERA atas segala dukungan berupa semangat dan doa.

10.Seluruh pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan proposal penelitian ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan Proposal ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis membuka diri menerima segala saran dan masukan yang membangun.

Denpasar, Juni 2016

(3)

vii ABSTRAK

Menyelam adalah salah satu aktivitas bawah air yang telah dinikmati sebagai salah satu cabang olahraga. Apabila penyelam turun makin dalam ke dasar laut, paru akan terpajan oleh peningkatan tekanan parsial oksigen yang menyebabkan penurunan volume paru secara mekanis. Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut terhadap paru, diperlukan adanya pencegahan berupa skrining kapasitas vital paru menggunakan spirometri. Penelitian ini bertujuan menganalisa apakah ada hubungan aktivitas menyelam berupa kedalaman dengan kapasitas vital paru pada penyelam. Desain penelitian ini adalah non-experimental design berupa penelitian korelasional. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan pendekatan cross-sectional, dimana observasi data variabel bebas dan terikat dilakukan satu kali pada suatu saat. Dengan teknik purposive sampling peneliti mendapatkan sampel sebanyak 35 orang. Setelah dilakukan pengukuran dan penghitungan FEV1 dan pemberian angket didapatkan hasil obstruksi sedang sebanyak 15 orang (42,86%), yang mengalami obstruksi ringan sebanyak 11 orang (31,43%), dengan persentase FEV1 normal sebanyak 9 orang (25,71%) dan tidak ada yang mengalami obstruksi berat. Menyelam pada kedalaman <10 meter sebanyak 22 orang (62,86%), pada kedalaman 10 – 30 meter sebanyak 5 orang (14,29%) dan pada kedalaman >30 meter sebanyak 8 orang (22,86%). Berdasarkan uji korelasi Spearman-Rank didapatkan hasil p=0,029 dengan koefisen korelasi -0,368 artinya ada hubungan signifikan antara aktivitas menyelam dengan kapasitas vital paru. Berdasarkan penelitian ini disarankan agar penyelam selalu dengan rutin memeriksakan kesehatannya.

Kata kunci : aktivitas menyelam, kapasitas vital paru, penyelam

(4)

viii ABSTRACT

Diving is one of the underwater activities which are mostly enjoyed as one kind of sports. If diver goes steeply downward, the lung will be exposed by the increase of oxygenpressure. To prevent further lung damage, some preventions need to be performed such as do measuring of lung vital capacity using the tool named spirometry. This study aims to analyze relation between the depth of diving and vital capacity of lungs among divers. This study used non-experimental design in the form of correlational research. Cross-sectional approach was used to this study by measurement or observation of independent data and dependent data was performed once in a while. 35 divers were collected by purposive sampling. The results of this study are 15 people (42,86%) got moderate obstruction, 11 people (31,43%) got mild obstruction, either the percentage of normal FEV1 is 9 people (25.71%) and no one sample have severe obstruction. Diving in the depth about < 10 metres was done by 22 people (62,86%), in the depth of 10 – 30 meters by 5 people (14.29%) and in the depth of > 30 meters by 8 people (22,86%). the results was obtained by Rank Spearman correlation test result is p= 0,029 with correlation coefficient is -0.368. This results means there are significant correlation between diving activities with vital lung capacity. From this research suggested for diver to always checking their health status routinely.

Keywords: diving activity, diver, lung vital capacity

(5)

ix DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN. ... ...ii

PERNYATAAN LEMBAR PERSETUJUAN ... iii

PERNYATAAN LEMBAR PENGESAHAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

DAFTAR SINGKATAN ... xvii

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 5 1.3 Tujuan ... 6 1.3.1 Tujuan Umum ... 6 1.3.2 Tujuan Khusus ... 6 1.4 Manfaat ... 6 1.4.1 Manfaat Teoritis ... 6 1.4.2 Manfaat Praktis ... 7

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Menyelam ... 8

2.1.1 Definisi ... 8

2.1.2 Tipe-Tipe Menyelam ... 8

2.2 Sistem Pernapasan ... 10

(6)

x

2.2.2 Mekanisme Pernapasan ... 10

2.2.3 Pengaturan Fungsi Pernapasan ... 11

2.2.4 Hubungan Antara Tekanan Udara Atmosfer dengan Udara pada Sistem Pernapasan ... 13

2.2.5 Mekanisme Menahan Nafas ... 15

2.3 Ventilasi Paru ... 16

2.3.1 Definisi ... 16

2.3.2 Volume dan Kapasitas Paru ... 16

2.3.3 Forced Expiratory Volume (FEV) ... 18

2.3.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kapasitas Paru ... 18

2.3.5 Gangguan Fungsi Ventilasi ... 23

2.4 Gangguan Pada Penyelam ... 24

2.4.1 Barotrauma ... 24

2.4.2 Penyakit Dekompresi ... 25

2.5 Spirometri ... 26

2.5.1 Definisi ... 26

2.5.2 Mekanisme Kerja ... 26

2.6 Hubungan Menyelam dengan Fungsi Pernapasan ... 27

2.6.1 Hukum Boyle ... 27

2.6.2 Respon Tubuh Terhadap Keadaan Hiperbarik ... 28

BAB 3 KERANGKA KONSEP 3.1 Kerangka Konsep ... 30

3.1.1 Penjelasan Kerangka Konsep ... 31

3.2 Variabel Penelitian ... 31

3.2.1 Variabel Terikat (Dependent) ... 32

3.2.1 Variabel Bebas (Independent) ... 32

3.3 Definisi Operasional... 32

3.4 Hipotesis ... 33

BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian ... 34

(7)

xi

4.2 Kerangka Kerja ... 34

4.3 Tempat dan Waktu Penelitian ... 35

4.3.1 Tempat... 36

4.3.2 Waktu ... 36

4.4 Populasi, Teknik Sampling Penelitian dan Sample ... 36

4.4.1 Populasi ... 36

4.4.2 Teknik Sampling ... 36

4.4.3 Sampel ... 36

4.5 Jenis dan Cara Pengumpulan Data ... 37

4.5.1 Jenis Data yang Dikumpulkan ... 37

4.5.2 Cara Pengumpulan Data ... 37

4.5.3 Instrument Pengumpulan Data ... 38

4.6 Pengolahan dan Analisa Data ... 40

4.6.1 Teknik Pengolahan Data ... 40

4.6.2 Teknik Analisa Data ... 41

4.7 Etika Penelitian ... 43

4.7.1 Prinsip Manfaat ... 43

4.7.2 Prinsip Menghargai Hak Asasi Manusia (Respect Human Dignity) .. 43

4.7.3 Prinsip Keadilan ... 44

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian ... 45

5.1.1 Kondisi Lokasi Penelitian ... 45

5.1.2 Karakteristik Sampel Penelitian ... 47

5.1.3 Hasil Pengamatan terhadap Subyek Penelitian Sesuai Variabel Penelitian ... 49

5.1.4 Hasil Analisa Data... 53

5.2 Pembahasan Hasil Penelitian ... 53

5.2.1 Karakteritik Subyek Penelitian ... 53

5.2.2 Aktivitas Menyelam yaitu Kedalaman dan Metode Penyelaman pada Penyelam di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng ... 55

5.2.3 Kapasitas Vital Paru (FEV1) pada Penyelam di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng ... 56

(8)

xii

5.2.4 Hubungan Aktivitas Menyelam dengan Kapasitas Vital Paru pada

Penyelam di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng ... 57

5.3 Keterbatasan Penelitian ... 60

BAB 6 PENUTUP 6.1 Simpulan ... 61

6.2 Saran ... 61

6.2.1 Bagi Desa Tempat Peneliti Melakukan Penelitian ... 62

6.2.2 Bagi Para Penyelam ... 62

6.2.3 Bagi Perawat ... 62

6.2.4 Bagi Peneliti Selanjutnya ... 62 DAFTAR PUSTAKA

(9)

xiii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Tekanan Parsial Gas Pernapasan ... 15

Tabel 2.2 Volume dan Kapasitas Vital Paru ... 17

Tabel 2.3 Kapasitas Vital Paru pada Berbagai Tingkatan Umur ... 19

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel ... 32

Tabel 4.1 Tabel Interpretasi Koefisien Korelasi ... 43

Tabel 5.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia pada Nelayan di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng Januari 2016 ... 48

Tabel 5.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Metode Penyelaman pada Nelayan di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng Januari 2016 ... 49

Tabel 5.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Metode Penyelaman pada Nelayan di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng Januari 2016... 50

Tabel 5.4 Kedalaman Penyelaman berdasarkan Usia pada Nelayan di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng Januari 2016 ... 50

Tabel 5.5 Kedalaman Penyelaman berdasarkan Metode Penyelaman pada Nelayan di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng Januari 2016 ... 50

Tabel 5.6 Karakteristik Responden Berdasarkan FEV1 pada Nelayan di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng Januari 2016 ... 51

Tabel 5.7 Persentase FEV1 berdasarkan Usia pada Nelayan di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng Januari 2016 ... 52

(10)

xiv

Tabel 5.8 Kedalaman Penyelaman berdasarkan Metode Penyelaman pada Nelayan di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten

Buleleng Januari 2016 ... 52

(11)

xv

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.1 Proses Pengaturan Pernapasan ... 12

Gambar 2.2 Skema Tekanan Parsial Oksigen pada Sistem Pernapasan ... 14

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Hubungan Aktivitas Menyelam

Hubungan Aktivitas Menyelam Dengan Kapasitas Vital Paru Pada Penyelam Di Desa Les, Kecamatan Tejakula,

Kabupaten Buleleng ... 30 Gambar 4.1 Kerangka Kerja Penelitian Hubungan Aktivitas Menyelam

Hubungan Aktivitas Menyelam Dengan Kapasitas Vital

(12)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Jadwal Penelitian Lampiran 2 Penjelasan Penelitian

Lampiran 3 Pernyataan Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 4 Lembar Angket Aktivitas Menyelam

Lampiran 5 Prosedur Tes Kapasitas Vital Paru dan Penggunaan Spirometri Lampiran 6 Realisasi Dana Penelitian

Lampiran 7 Lembar Konsultasi Lampiran 8 Master Tabel Lampiran 9 Hasil Analisa Data

Lampiran 10 Surat Ijin Melakukan Studi Pendahuluan

Lampiran 11 Surat Rekomendasi dari Badan Perizinan dan Penanaman Modal Provinsi Bali

Lampiran 12 Surat Rekomendasi dari Badan Kesbang Pol dan Linmas Kabupaten Buleleng

Lampiran 13 Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian Lampiran 14 Surat Keterangan Lolos Kaji Etik (Ethical Clearance) Lampiran 15 Dokumentasi Penelitian

(13)

xvii

DAFTAR SINGKATAN

AFP : American Family Physician

BMI : Body Mass Index

COPD : Chronic Obstructive Pulmonary Disease

FEV : Force Expiration Volume

FVC : Force Vital Capacity

IMT : Indeks Massa Tubuh

KESBANGPOLINMAS : Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat

KI : Kapasitas Inspirasi

KV : Kapasitas Vital

KVP : Kapasitas Vital Paksa

PPOK : Penyakit Paru Obstruktif Kronik

SCUBA : Self-Contained Underwater Breathing Apparatus

VC : Vital Capacity

VCI : Volume Cadangan Inspirasi

(14)

1

1 BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan merupakan hal vital yang dibutuhkan oleh makhluk hidup. Kesehatan merupakan suatu keadaan yang bukan sekadar ketiadaan suatu penyakit atau kecacatan, tetapi merupakan suatu keadaan baik secara menyeluruh termasuk kondisi fisik, mental dan sosialnya (World Health Organitation, 2010). Sedangkan menurut Undang-Undang no 36 tahun 2009 tentang kesehatan, mendefinisikan kesehatan sebagai suatu keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Salah satu cara menjaga kesehatan adalah dengan berolahraga. Olahraga adalah segala kegiatan yang sistematis untuk mendorong, membina, serta mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial (Undang-Undang No. 3 Tahun 2005). Latihan fisik dengan pembebanan tertentu akan mengubah faal tubuh yang selanjutnya akan mengubah tingkat kesegaran jasmani (Syatria, 2006). Hal tersebut dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yunani, Puspitasari, dan Sulistyawati (2013) yang menyimpulkan bahwa semakin sering melakukan olahraga dalam hal ini olahraga renang, maka kapasitas vital paru akan meningkat.

Menyelam adalah salah satu aktivitas bawah air yang saat ini telah banyak dinikmati sebagai salah satu cabang olahraga. Sebelumnya penyelaman hanya digunakan untuk kepentingan komersiil dan militer (Herman, Yunus, Harahap, & Rasmin, 2011). Teknologi penyelaman saat ini sudah semakin berkembang Seiring dengan kemajuan bidang hiperbarik. Tempat yang tidak mungkin dicapai kini dapat dijelajah. Beberapa faktor dapat mempengaruhi penyelam sehingga berpengaruh terhadap faal dan menyebabkan kerusakan paru dan jalan napas disamping peningkatan kerja otot-otot pernapasan. Apabila penyelam turun makin dalam ke dasar laut, paru akan terpajan oleh peningkatan tekanan PO2 di samping

(15)

2

penyakit lain yang berhubungan dengan penyelaman semakin sering seseorang melakukan penyelaman akan semakin besar risiko kelainan faal paru yang mungkin terjadi (Herman, dkk, 2011).

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penyelam selama penyelaman seperti resiko tenggelam, turunnya suhu dan peningkatan tekanan lingkungan. Hal-hal tersebut akan mempengaruhi perubahan hemodinamik. Perubahan hemodinamik yang dimaksud berupa peningkatan aliran darah dari perifer ke rongga dan juga meningkatkan volume darah intratoraks sekitar 700 ml yang akan menurunkan volume paru secara mekanis sekitar 300 ml dari KV yang mirip dengan pajanan suhu rendah (Herman, Yunus, Harahap, & Rasmin, 2011). Salah satu gangguan paru yang sering terdeteksi adalah obstruksi dan retraksi

yang ditandai dengan penurunan kapasital vital paru.

Paru-paru merupakan bagian sistem respirasi manusia berupa sepasang organ besar berbentuk kantong di rongga dada (thoracic cavity) (Finahari, 2008). Salah satu indikator pemeriksaan fungsi paru adalah pemeriksaan kapasitas paru yang diukur dengan spirometer. Jumlah udara gabungan dari volume cadangan inspirasi, volume tidal, dan volume cadangan ekspirasi yang dapat dikeluarkan maksimal setelah inspirasi maksimal disebut kapasitas vital atau vital capacity

(VC). Force Vital Capacity (FVC) sama dengan VC tetapi dilakukan secara cepat dan paksa. Jumlah udara yang dapat dikeluarkan sebanyak-banyaknya dalam satu detik pertama pada waktu ekspirasi maksimal setelah inspirasi maksimal adalah

Force Expiration Volume (FEV) satu second atau volume ekspirasi paksa detik pertama selanjutnya disebut FEV1 (Nisa, Sidharti, & Adityo, 2015). Hasil

pengukuran FEV1 inilah yang bisa dijadikan salah satu parameter fungsi paru.

Beberapa orang yang memiliki hobi maupun tujuan lain membentuk suatu komunitas menyelam sehingga mereka menyelam secara rutin. Menurut data

American Family Physician (AFP), 90 kematian akibat penyelaman terjadi setiap tahun dan 1000 orang harus menerima terapi recompresi untuk mengatasi masalah kesehatan setelah penyelaman. Di Indonesia, puskesmas daerah Ujung Tanah kota Makasar mencatat, dari tahun 2000 hingga 2006 terdapat 13 orang penyelam

(16)

3

meninggal dunia (Paskarini, Tualeka, Ardianto, & Dwiyanti, 2013). Menurut hasil penelitian yang dilakukan pada penyelam profesional di Manado, dari seluruh sampel 39,2% diantaranya mengalami restriksi ringan, 3,6% mengalami restriksi

sedang dan 3,6% lainnya mengalami restriksi berat. Restriksi sendiri merupakan salah satu gangguan paru berupa penurunan ekspansi paru (Numbery, Joseph, Maramis, & Kawatu, 2012).

Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut terhadap paru, diperlukan adanya tindak pencegahan. Salah satu tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan deteksi dini atau skrining. Menurut Rajab (2009), skrining adalah suatu penerapan uji atau tes terhadap orang yang tidak menunjukkan gejala dengan tujuan mengelompokkan mereka ke dalam kelompok yang mungkin menderita penyakit tertentu. Skrining merupakan deteksi dini penyakit bukan merupakan alat diagnostik. Tujuan skrining atau deteksi dini sendiri adalah untuk menemukan atau mendapakan penyakit dalam keadaan dini untuk memperbaiki prognosis karena pengobatan dilakukan sebelum munculnya manifestasi klinis. Selain itu, tindakan pencegahan dan terapi serta latihan untuk mencegah penyakit muncul juga bisa dilakukan jika saat deteksi dini didapatkan individu beresiko untuk mengalami penyakit tertentu. Salah satu uji deteksi dini untuk mengetahui fungsi paru adalah pemeriksaan kapasitas vital paru dalam hal ini adalah volume ekspirasi paksa atau force expiration volume untuk mengetahui adanya kelainan paru berupa obstruksi atau restriksi. Penyakit paru obstruktif dan penyakit paru

restriktif adalah dua kategori penyakit utama dari penyakit saluran pernapasan bawah. Penyakit obstruksi paru disebabkan krena obstruksi atau penyempitan jalan nafas atau saluran nafas karena meningkatnya tahanan aliran udara ke jaringan paru. Pada penyakit paru restriktif terjadi pengurangan kapasitas paru total yang disebabkan oleh adanya akumulasi cairan atau hilangnya kelenturan paru. Edema pulmonar, fibrosis pulmonar, pneumonitis, tumor paru, kelainan vertebra toraks (skoliosis), dan gangguan yang menyerang otot dinding toraks seperti miastenia grafis adalah tipe dan penyebab dari penyakit pulmonar restriktif (Kee & Hayes, 2007). Menurut Davey (2005), gambaran klinis dari penyakit obstruksi paru adalah adanya gejala batuk dan nafas pendek yang bersifat

(17)

4

progresif dan lambat. Beratnya penyakit ditentukan berdasarkan derajat obstruksi saluran pernapasan (volume ekspirasi 1 detik atau FEV1).

Hasil penelitian juga membuktikan bahwa hasil dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Paskarini, Tualeka, Ardianto, & Dwiyanti (2013) dari hasil uji FEV pada beberapa penyelam didapatkan 11 orang atau 39,2% diantaranya mengalami restriksi ringan, 1 orang atau 3,6% mengalami restriksi sedang dan 1 orang atau 3,6% lainnya mengalami restriksi berat. Sehingga individu terkait bisa diberikan saran untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Menurut WHO, penyakit tidak menular (PTM) merupakan salah satu jenis penyakit yang paling berbahaya. Obstruksi paru dan asma merupakan salah satu dari empat penyakit tidak menular paling mematikan di dunia (RISKESDAS, 2013). Dari beberapa penelitian yang dilakukan di Indonesia menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) yang dilakukan oleh kementrian kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2013 menunjukkan bahwa masalah penyakit tidak menular masih merupakan salah satu penyakit yang pelu diperhitungkan di Indonesia. Salah satu yang tertinggi adalah masalah pada paru meliputi asma, kanker, dan obstruksi paru. Tercatat dari hasil peneltian, terdapat total 508.330 orang dari 1.027.763 sampel mengalami mengalami obstruksi paru. Sebagian besar penderita berumur < 30 tahun. Sedangkan dari seluruh wilayah Indonesia, angka prevalensi gangguan paru cukup merata di berbagai wilayah. Bali sendiri merupakan salah satu wilayah yang penduduknya rentan mengalami gangguan paru. Tercatat prevalensi kejadian PPOK di Bali mencapai 3,5 o/oo, asma 6,2 o/oo, dan persentase kanker 2,0 o/oo (Kementrian Kesehatan, 2013). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali tahun 2012, Buleleng menempati tiga besar tingkat kematian penduduk yang mengalami gangguan paru.

Pada studi pendahuluan yang telah dilakukan kepada para penyelam desa Les dan Penuktukan didapatkan data total anggota komunitas yang terdata sekitar 50 orang yang rutin melakukan penyelaman dan seluruhnya merupakan laki-laki. Dari wawancara yang dilakukan kepada 11 orang penyelam, tiga orang mengeluh nyeri dada dan satu orang diantaranya masih mengeluhkannya hingga saat ini. Empat

(18)

5

orang mengatakan pernah mengeluh sesak dan satu orang pernah diopname di RS Sanglah dengan keluhan sesak yang merupakan gambaran klinis dari. Hampir seluruh penyelam pernah mengalami nyeri telinga serta pilek beberapa hari setelah penyelaman. Metode penyelaman yang biasanya digunakan adalah

thetered diving, breath holding atau free diving, dan SCUBA (Self-Contained Underwater Breathing Apparatus) diving dengan kedalaman berkisar 10 hingga 30 meter. Ketua komunitas penyelam mengatakan bahwa pernah terjadi insiden meninggal karena gangguan paru akibat kesalahan saat menuju permukaan namun hal tersebut belum pernah dipublikasikan atau dilaporkan secara resmi. Sedangkan, para penyelam di Desa Les belum pernah dilakukan pemeriksaan ataupun skrining untuk mengetahui apakah terdapat gangguan paru-paru secara lebih dini.

Berdasarkan hasil uraian di atas, didapatkan bahwa menyelam merupakan salah satu faktor resiko yang dapat menyebabkan gangguan paru. Kejadian gangguan paru merupakan salah satu kejadian dengan tingkat kerentanan yang tinggi di Bali. Prevalensi kejadian gangguan paru di Buleleng masuk ke urutan tiga besar. Oleh karena itu, diperlukan adanya penelitian untuk mengetahui hubungan aktivitas menyelam yaitu kedalaman serta metode yang digunakan dengan menggunakan alat pengumpul data yang peneliti miliki. Mengingat pentingnya manfaat deteksi dini dalam pencegahan penyakit khususnya penyakit paru penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Aktivitas Menyelam dengan Kapasitas Vital Paru Pada Penyelam di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan masalah penelitian sebagai berikut: “Adakah Hubungan Aktivitas Menyelam dengan Kapasitas Vital Paru Pada Penyelam di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng?”

(19)

6

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisa apakah ada Hubungan Aktivitas Menyelam Dengan Kapasitas Vital Paru Pada Penyelam Di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng

1.3.2 Tujuan Khusus

Secara khusus penelitian ini bertujuan:

a. Mengidentifikasi karakteristik penyelam di Desa Les

b. Mengidentifikasi aktivitas menyelam yaitu kedalaman dan metode penyelaman pada penyelam di Desa Les

c. Mengidentifikasi kapasitas vital paru pada penyelam di desa Les

d. Menganalis hubungan aktivitas menyelam dengan kapasitas vital paru pada penyelam.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

a. Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan untuk meningkatkan pengetahuan dalam bidang keperawatan medikal bedah mengenai hubungan menyelam dengan kapasitas vital paru sehingga dapat dijadikan acuan untuk menjaga kesehatan paru-paru.

b. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar atau acuan bagi peneliti selanjutnya dalam mencari hubungan atau pengaruh penatalaksanaan terapi lain terhadap kapasitas vital paru pada penyelam ataupun pada populasi yang lain sehingga dapat menjamin tingkat kesehatan yang setinggi-tingginya.

(20)

7

1.4.2 Manfaat Praktis

a. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai deteksi dini atau skrining

penyakit paru-paru khusunya pada penyelam.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan upaya untuk menentukan penatalaksanaan yang tepat untuk menjaga kesehatan paru-paru penyelam. c. Bagi institusi pendidikan, penelitian ini dapat dijadikan pedoman untuk

pendidikan kesehatan paru-paru khususnya para penyelam baik pecinta terumbu karang, nelayan, maupun penyelam rekreasi.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :