• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Hubungan Tingkat Pendidikan Pasien Dengan Kanker Payudara Stadium Dini di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Analisis Hubungan Tingkat Pendidikan Pasien Dengan Kanker Payudara Stadium Dini di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Hubungan Tingkat Pendidikan Pasien Dengan Kanker

Payudara Stadium Dini di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit

Ciptomangunkusumo Jakarta Tahun 2012

Silvia Sagita

Pembimbing : Dr. Pandu Riono, MPH, Ph.D Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan tingkat pendidikan pasien dengan kanker payudara stadium dini di instalasi rawat inap Rumah Sakit Ciptomangunkusumo Jakarta tahun 2012 dengan menggunakan desain studi cross sectional. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data rekam medik Rumah Sakit Ciptomangunkusumo. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pendidikan pasien memiliki hubungan dengan stadium dini kanker payudara (OR 2,25) dan risiko meningkat (7,69) setelah dikontrol oleh status pekerjaan, penggunaan alat kontrasepsi hormonal, serta keikutsertaan jaminan kesehatan.

Kata Kunci : stadium dini, kanker payudara, tingkat pendidikan

Pendahuluan

Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang telah menyebabkan kematian tertinggi di Indonesia. Insidens kanker payudara sejak tahun 2002 tercatat 26 kasus tiap 100.000 perempuan (IARC, 2002). Pada tahun 2007, SIRS (2007) mencatat insidens kanker payudara cenderung stagnan yaitu 26 kasus tiap 100.000 perempuan, namun angka ini kemudian meningkat pada tahun 2008 dimana SIRS (2008) mencatat insidens kanker payudara di Indonesia yaitu sebesar 38 kasus tiap 100.000 perempuan.

Di Jakarta, Rumah Sakit Kanker Dharmais sebagai rumah sakit rujukan kanker nasional di Jakarta mencatat sejak tahun 2004 hingga 2007 kasus kanker payudara terus meningkat. Pada tahun 2004 tercatat 279 kasus kanker payudara, yang kemudian meningkat di tahun 2005 menjadi 334 kasus. Kemudian pada tahun 2006 angka ini meningkat lagi menjadi 439

(2)

kasus, dan cenderung menetap menjadi 437 kasus pada tahun 2007 (Astuti, 2010). Kemudian pada tahun 2010, kanker payudara masih tercatat sebagai kasus baru kanker tertinggi dalam 10 kasus kanker tersering (kasus baru) di Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD, 2010). International Agencies for Research on Cancer (2005) mencatat setiap 100.000 perempuan di Indonesia, terdapat 26 kasus baru kanker payudara dimana lebih dari 50% ditemukan sudah pada stadium lanjut. Padahal kemampuan bertahan hidup (survival rate) seorang penderita kanker payudara bergantung pada stadium pertama kali kanker payudara ditemukan. Menurut PERABOI (2003) dalam Kemenkes (2011), mereka yang terdiagnosis stadium 0 kanker payudara 98% dapat bertahan hidup hingga 10 tahun. Pada stadium 1, survival rate dalam 5 tahun menurun menjadi sebesar 85%, dan pada stadium 2, survival rate dalam 5 tahun sebesar 60%-70%. Namun apabila kanker payudara ditemukan pada stadium 3, hanya 30%-50% penderita kanker payudara yang dapat bertahan hidup hingga 5 tahun. Dan pada stadium 4, hanya 15% penderita kanker payudara yang dapat bertahan hidup hingga 4-5 tahun. Hal ini menunjukkan, akan semakin baik bagi wanita apabila kanker payudara ditemukan pada stadium dini, yaitu stadium 0 hingga stadium 2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hoffman, et al (2000) diketahui ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan stadium kanker payudara. Wanita yang berpendidikan tinggi, cenderung terdiagnosis stadium dini kanker payudara. Sebaliknya, wanita yang berpendidikan rendah cenderung terdiagnosis stadium lanjut kanker payudara. Hal ini sejalan dengan pernyataan Notoatmodjo (2010) yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin mudah untuk orang tersebut menyerap informasi kesehatan. Oleh karena itu, semakin tinggi tingkat pendidikan seorang wanita, maka akan semakin mudah bagi wanita tersebut untuk menyerap informasi mengenai kanker payudara, dampak yang ditimbulkan dari kanker payudara, dan hal-hal apa saja yang dapat dilakukan untuk mendeteksi kanker payudara pada kondisi sedini

(3)

mungkin. Sehingga apabila mengalami kanker payudara, dapat ditemukan pada stadium dini.

Berdasarkan keadaan tersebut, dapat terlihat bahwa kanker payudara menjadi masalah besar di dunia, termasuk di Indonesia. Penemuan penderita kanker payudara pada stadium dini merupakan kunci keberhasilan bagi penderita kanker payudara untuk dapat bertahan hidup. Rumah Sakit Ciptomangunkusumo sebagai rumah sakit rujukan nasional telah menangani banyak kasus kanker payudara dengan kondisi karakteristik pasien yang lebih bervariasi diharapkan dapat memberikan gambaran hasil penelitian yang representatif.

Oleh karena itu, belum diketahuinya hubungan tingkat pendidikan pasien dengan kanker payudara stadium dini di instalasi rawat inap Rumah Sakit Ciptomangunkusumo Jakarta menjadi masalah yang akan diteliti pada penelitian ini.

Tinjauan Teoritis

Upaya deteksi dini merupakan salah satu strategi untuk down staging (Kemenkes, 2011). Bagi wanita yang rutin melakukan deteksi dini, maka apabila mengalami kanker payudara, dapat ditemukan pada stadium dini. Semakin tinggi stadium kanker payudara ketika terdiagnosis, maka kemampuan bertahan hidup penderita juga semakin rendah. Mereka yang terdiagnosis stadium dini kanker payudara (stadium 0 hingga stadium 2),

survival rate-nya dapat mencapai 60%-70%. Sebaliknya, mereka yang

terdiagnosis stadium lanjut, survival rate-nya hanya sebesar 15% (PERABOI, 2003).

Berdasarkan penelitian yang diketahui ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan stadium kanker payudara. Wanita yang berpendidikan tinggi, cenderung terdiagnosis stadium dini kanker payudara. Sebaliknya, wanita yang berpendidikan rendah cenderung terdiagnosis stadium lanjut kanker payudara (Hoffman, 200). Hal ini sejalan dengan teori yang menyatakan semakin tinggi tingkat pendidikan, akan semakin

(4)

mempengaruhi pengetahuan seseorang, dan oleh karena itu mempengaruhi sikap seseorang untuk menerima informasi dan mendorong untuk berperilaku sehat (Notoatmodjo, 2010).

Selain tingkat pendidikan, diketahui bahwa stadium dini kanker payudara dipengaruhi juga oleh keikutsertaan jaminan kesehatan, lokasi tempat tinggal, riwayat kanker payudara keluarga, perilaku periksa payudara sendiri (SADARI), usia, status pernikahan (Hoffman, 2000; Celaya, 2010). Selain itu diketahui pula terdapat pengaruhi beberapa faktor risiko kanker payudara terhadap tingkat keparahan (stadium) kanker payudara. Beberapa faktor risiko tersebut antara lain status pekerjaan, usia melahirkan anak pertama, status menarche, usia menopause, riwayat menyusui, penggunaan alat kontrasepsi hormonal, konsumsi alkohol, riwayat tumor payudara, serta riwayat radiasi pengion (Kemenkes, 2011; ACS, 2011; Astuti, 2010)

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan dilakukan pada bulan Juni 2013 di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo Jakarta. Populasi penelitian adalah seluruh pasien kanker payudara wanita di instalasi rawat inap Rumah Sakit Ciptomangunkusumo Jakarta tahun 2012. Besar sampel penelitian yaitu 143 pasien.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder bersumber dari rekam medik pasien rawat inap. Variabel-variabel yang digunakan antara lain stadium kanker payudara, tingkat pendidikan pasien, usia, status pernikahan, status pekerjaan, lokasi tempat tinggal, usia melahirkan anak pertama, riwayat menyusui, status menopause, penggunaan alat kontrasepsi hormonal, riwayat kanker payudara keluarga, serta keikutsertaan jaminan kesehatan.

Analisis data dilakukan dengan alat bantu analisis data Stata versi 10 lisensi Universitas Indonesia. Proses analisis data dilakukan dengan 3 tahapan antara lain analisis univariat, untuk menjelaskan karakteristik

(5)

masing-masing variabel stadium kanker payudara, tingkat pendidikan pasien, usia, status pernikahan, status pekerjaan, lokasi tempat tinggal, usia melahirkan anak pertama, riwayat menyusui, status menopause, penggunaan alat kontrasepsi hormonal, riwayat kanker payudara keluarga, serta keikutsertaan jaminan kesehatan; analisis bivariat, untuk menjelaskan hubungan antara variabel tingkat pendidikan dengan stadium kanker payudara; serta analisis multivariat dengan model faktor risiko. Hasil

Berdasarkan stadium, sebagian besar pasien kanker payudara yang datang ke RS Ciptomangunkusumo terdiagnosis stadium 3-4 (stadium lanjut).

Distribusi Stadium Kanker Payudara

Variabel %

Stadium

Stadium 3-4 66,43 Stadium 0-2 33,57

Total 100,00

Distribusi pasien menurut karakteristik demografi menunjukkan sebagian besar pasien berstatus telah menikah (90,9%), dengan proporsi pendidikan terbesar yaitu tamat SLTA sebesar 31,5% dan proporsi pendidikan terkecil yaitu tidak sekolah sebesar 0,7%. Menurut status pekerjaan, sebagian besar pasien berstatus tidak bekerja (70,6%), diikuti PNS/pensiunan PNS sebesar 16,8% dan profesi petani/pedagang/buruh pabrik dengan proporsi terkecil yaitu 2.8%. Sedangkan berdasarkan lokasi tempat tinggal (desa/kota), sebagian besar pasien tinggal di perkotaan (91,6%). Berikut tabel karakteristik demografi pasien kanker payudara.

(6)

Distirbusi Karakteristik Demografi Variabel % Status Pernikahan Belum Menikah 9,1 Menikah/Pernah Menikah 90,9 Total 100,0 Tingkat Pendidikan Tidak Sekolah 0,7 Tidak tamat SD 2,8 Tamat SD 21,7 Tamat SLTP 16,8 Tamat SLTA 31,5 D3/S1/PT 26,6 Total 100,0 Status Pekerjaan Tidak Bekerja/IRT 70,6 Petani/Pedagang/Buruh Pabrik 2,8 PNS/Pensiunan PNS 16,8 Karyawan Swasta 9,8 Total 100,0 Tempat Tinggal Desa 8,4 Kota 91,6 Total 100,0

Distribusi pasien berdasarkan usia menunjukkan rata-rata usia pasien yaitu 48 tahun, dengan usia pasien termuda yaitu 22 tahun dan pasien tertua 85 tahun. Selain itu diyakini rentang usia pasien kanker payudara di populasi yaitu sebesar 47 tahun hingga 51 tahun.

Distribusi Usia Pasien

Variabel Median Min-Maks 95% CI Usia 48 22 - 85 47,1 – 50,5

(7)

Box Plot Usia Pasien Kanker Payudara

Distribusi pasien berdasarkan faktor hormonal menunjukkan proporsi pasien yang memiliki riwayat menyusui sebesar 60,1%, sedangkan pasien yang tidak memiliki riwayat menyusui sebesar 21,7%, dan 18,2% pasien tidak diketahui riwayatnya. Selain itu, proporsi status menopause pasien terdistribusi hampir merata dengan proporsi terbesar yaitu pasien yang tidak menopause (51%). Sedangkan berdasarkan penggunaan kontrasepsi hormonal, sebagian besar pasien tidak menggunakan alat kontrasepsi hormonal (60,8%). Berikut tabel distribusi faktor hormonal pasien.

Distribusi Faktor Hormonal

Variabel % Riwayat Menyusui Tidak 21,7 Ya 60,1 Missing 18,2 Total 100,0 Status Menopause Ya 49,0 Tidak 51,0 Total 100,0 Penggunaan Alkon Hormonal Ya 39,2 Tidak 60,8 Total 100,0 20 40 60 80 u si a

(8)

Berdasarkan usia melahirkan anak pertama, rata-rata usia pasien melahirkan anak pertama yaitu 20 tahun, dengan usia melahirkan termuda yaitu 12 tahun dan usia tertua 32 tahun. Berikut tabel distribusi usia melahirkan anak pertama pasien.

Distribusi Usia Melahirkan Anak Pertama Variabel Median Min-Maks 95% CI Usia Melahirkan Anak

Pertama 20 12 - 32 19,6 – 23

Box Plot Usia Melahirkan Anak Pertama Pasien Kanker Payudara

Distribusi pasien berdasarkan riwayat kanker payudara keluarga menunjukkan sebagian besar pasien tidak memiliki riwayat kanker payudara dalam keluarga (75.5%). Sedangkan menurut keikutsertaan jaminan kesehatan, proporsi terbesar yaitu pasien dengan askes (27,3%), dengan proporsi yang sama pada pasien jamkesda dan jamkesmas (14,7%). Selain itu terdapat 18,9% pasien yang tidak memiliki jaminan kesehatan. Berikut tabel riwayat kanker payudara keluarga dan jaminan kesehatan pasien. 10 15 20 25 30 usi a me la hi rka n an ak

(9)

Riwayat Kanker Payudara dalam Keluarga dan Jaminan Kesehatan Pasien Kanker Payudara

Variabel %

Riwayat Kanker

Payudara Keluarga Tidak ada riwayat 75,5

Ada riwayat 24,5 Total 100,0 Jaminan Kesehatan Umum 18,9 Askes 27,3 Jamkesda 14,7 Jamkesmas 14,7 SKTM 13,3 Gakin 8,4 JPKM 2,1 Swasta 0,7 Total 100,0

Karakteristik demografi pasien berdasarkan pendidikan dikelompokkan menjadi dua, pendidikan rendah untuk pendidikan ≤ PT, dan pendidikan tinggi untuk > PT. Stadium kanker payudara pada pasien rawat inap di RS Ciptomangunkusumo tahun 2012 digambarkan berdasarkan karakteristik demografi pasien. Proporsi pasien pasien stadium dini yang telah menikah yaitu 34,6%. Selain itu, pasien berpendidikan tinggi (≥ PT) dan bekerja yang terdiagnosis stadium dini proporsinya jauh lebih besar dibandingkan pada pasien yang terdiagnosis stadium lanjut. Proporsi pasien stadium dini yang berpendidikan tinggi sebesar 47,4% dan yang bekerja sebesar 47,6%. Berikut tabel distribusi stadium kanker payudara berdasarkan karakteristik demografi pasien.

(10)

Stadium Kanker Payudara Menurut Karakteristik Demografi Pasien Variabel Stadium 3-4 Stadium 0-2

Status Pernikahan Belum Menikah 76,9 23,1 Menikah 65,4 34,6 Pendidikan < PT 71,4 28,6 ≥ PT 52,6 47,4 Status Pekerjaan Tidak Bekerja 72,3 27,7 Bekerja 52,4 47,6 Tempat Tinggal Desa 58,3 41,7 Kota 67,2 32,8

Berdasarkan usia, rata-rata usia pasien stadium dini tidak jauh berbeda dengan pasien yang terdiagnosis stadium lanjut. Pasien yang terdiagnosis stadium dini rata-rata berusia 48 tahun.

Stadium Kanker Payudara Menurut Usia Pasien Variabel Stadium 3-4 Stadium 0-2

Mean sd Mean sd

Usia 49,1 13,7 48,3 9,5

Karakteristik demografi pasien berdasarkan keikutsertaan jaminan kesehatan dikelompokkan menjadi dua, tidak untuk pasien yang tidak memiliki jaminan kesehatan, dan ya untuk pasien yang menggunakan jaminan kesehatan jenis apapun. Berdasarkan riwayat menyusui, proporsi pasien stadium dini yang memiliki riwayat menyusui sebesar 36%.Sedangkan proporsi pasien yang telah menopause lebih kecil dibandingkan pasien yang belum menopause, baik itu yang terdiagnosis staidum dini maupun stadium lanjut. Sedangkan pasien stadium dini yang memiliki riwayat kanker payudara pada keluarga yaitu sebesar 34,3%. Berdasarkan penggunaan alat kontrasepsi hormonal, proporsi pasien yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal terbesar yaitu pada pasien stadium lanjut (66,1%). Sedangkan proporsi pasien stadium dini yang

(11)

menggunakan kontrasepsi hormonal sebesar 33,9%. Selain itu, pasien stadium dini yang memiliki jaminan kesehatan proporsinya sebesar 35,3%. Proporsi pasien yang memiliki jaminan kesehatan lebih sedikit pada pasien yang terdiagnosis stadium lanjut. Berikut tabel distribusi stadium kanker payudara menurut faktor hormonal, riwayat kanker payudara dalam keluarga, serta jaminan kesehatan.

Stadium Kanker Payudara Menurut Faktor Hormonal, Riwayat Kanker Payudara dalam Keluarga, serta Jaminan Kesehatan

Variabel Stadium 3-4 Stadium 0-2 Riwayat Menyusui Tidak 64,5 35,5 Ya 64,0 36,0 Status Menopause Ya 65,7 34,3 Tidak 67,1 32,9 Alkon Hormonal Ya 66,1 33,9 Tidak 66,7 33,3

Riwayat Kanker Payudara Keluarga Tidak Ada Riwayat 66,7 33,3 Ada Riwayat 65,7 34,3 Jaminan Kesehatan Tidak 74,1 25,9 Ya 64,7 35,3

Berdasarkan usia melahirkan anak pertama, rata-rata usia melahirkan anak pertama pada pasien stadium dini yaitu 20 tahun. Berikut tabel distribusi stadium kanker payudara menurut usia melahirkan anak pertama.

Stadium Kanker Payudara Menurut Usia Melahirkan Pertama Variabel Stadium 3-4 Stadium 0-2 Mean sd Mean sd Usia Melahirkan Pertama 20,4 4,8 22,8 4,9

(12)

Berdasarkan model akhir hubungan tingkat pendidikan pasien dengan stadium kanker payudara, diperoleh bahwa responden yang berpendidikan tinggi berpeluang 2,25 kali untuk terdiagnosis stadium dini kanker payudara dibandingkan dengan responden yang berpendidikan rendah. Setelah dikontrol oleh variabel status pekerjaan, penggunaan alkon hormonal, serta jaminan kesehatan peluangnya meningkat menjadi 7,69 kali.

Model Akhir Stadium Dini Kanker Payudara Variabel Sebelum di Kontrol Sesudah di Kontrol

OR 95% CI OR 95% CI Pendidikan Tinggi vs Rendah 2,25 1,05 - 4,83 7,69 1,45 - 40,83 Diskusi

Tingkat pendidikan diketahui berpengaruh terhadap pengetahuan dan sikap masyarakat. Kategori pendidikan tinggi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah lulusan perguruan tinggi, baik itu diploma maupun sarjana dan seterusnya. Untuk itu informasi mengenai kanker payudara sebaiknya lebih digencarkan lagi dimasyarakat, khususnya bagi mereka yang berpendidikan kurang dari perguruan tinggi agar mereka dapat mencegah terjadinya kanker payudara, kalaupun mengalami kanker payudara, dapat terdeteksi pada kondisi sedini mungkin.

Salah satu cara untuk mencegah kanker payudara adalah dengan melakukan SADARI. Dengan melakukan pemeriksaan payudara sedini mungkin, salah satunya dengan melakukan SADARI, meningkatkan penemuan kanker payudara pada stadium sedini mungkin dan mempermudah kesembuhan (Kemenkes, 2011). Selain itu, menurut Ramli dkk (2005) dalam Sari (2011), pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dianggap sebagai cara termurah, aman, dan sederhana serta penting dalam mendeteksi kanker payudara karena ternyata 75%-85% benjolan di payudara penderita ditemukan pada saat dilakukan pemeriksaan

(13)

payudara sendiri. Dengan melakukan SADARI secara teratur, benjolan hingga berukuran 1,2cm dapat terdeteksi (Kemenkes, 2011). Namun tidak semua benjolan di payudara dapat dikatakan kanker. Ketika ditemukan benjolan yang tidak wajar di payudara sebaiknya langsung melakukan konfirmasi kepada petugas kesehatan untuk kemudian dilakukan pemeriksaan yang komprehensif.

Informasi seperti ini umumnya masih minim didapat ketika duduk dibangku sekolah. Menurut Maulida (2011), rendahnya pengetahuan diduga merupakan faktor yang menyebabkan wanita tidak melakukan deteksi dini. Oleh karena itu perlu adanya peran kerja pemerintah untuk menggencarkan sosialisasi promosi pentingnya pencegahan kanker payudara sedini mungkin melalui SADARI. Sosialisasi mengenai kanker payudara diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kanker payudara. Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya, baik mata, hidung, telinga, dan sebagainya (Notoatmojo, 2010). Selain itu menurut Schiavo (2007) dalam Sari (2011), kampanye di media massa telah terbukti berhasil meningkatkan kesadaran wanita Hispanic dalam melakukan kegiatan deteksi dini kanker payudara. Oleh karena itu, sosialisasi dapat dilakukan melalui pemanfaatan berbagai media komunikasi massa seperti televisi, radio, dan media-media sosial lainnya untuk dapat menjangkau mereka yang mengenyam pendidikan rendah dan belum cukup informasi mengenai kanker payudara, dan juga bagi ibu-ibu rumah tangga yang memang tidak bekerja dan menghabiskan keseharian waktunya dirumah. Mengingat sebagian besar pasien kanker payudara dalam penelitian ini adalah mereka yang tidak bekerja (70,6%). Selain melalui SADARI, upaya deteksi dini kanker payudara dapat dilakukan dengan mamografi. Menurut Kodim&Modingkey (2004) dalam Maulida (2011), sensitivitas SADARI untuk mendeteksi kanker payudara hanya 26%, dan bila dikombinasikan dengan mammografi, sensitivitas mendeteksi dini menjadi 75%. Selain itu, menurut Kemenkes (2011),

(14)

melakukan mamografi setiap tahun dapat mendeteksi benjolan pada payudara hingga berukuran 0,2cm. Namun pendeteksian dini kanker payudara dengan menggunakan mamografi menjadi suatu masalah baru di masyarakat karena biayanya yang mahal. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar pasien kanker payudara merupakan mereka yang tidak bekerja (70,6%) dan telah menikah (90,9%). Sehingga mereka tentu saja lebih memilih untuk membelanjakan penghasilan keluarga untuk kebutuhan sehari-hari dibandingkan untuk melakukan deteksi dini dengan mamografi yang mahal. Sehingga perlu menjadi perhatian penting bagi pemerintah meninjau kembali pembiayaan kesehatan, dalam hal ini deteksi dini kanker payudara menggunakan mamografi, mengingat efektivitasnya dalam mendeteksi kanker payudara sedini mungkin.

Kesimpulan

Pasien kanker payudara yang datang ke RS Ciptomangunkusumo sebagian besar berstatus telah menikah (90,9%), berpendidikan tamat SLTA (31,5%), tidak bekerja (70,6%), bertempat tinggal di wilayah perkotaan, rata-rata berusia 48 tahun, memiliki riwayat menyusui (60,1%), belum menopause (51%), tidak menggunakan alat kontrasepsi hormonal (60,8%), berusia 20 tahun saat melahirkan anak pertama, tidak memiliki riwayat kanker payudara dalam keluarga (75,5%), serta memiliki jaminan kesehatan (81,1%).

Pasien stadium dini kanker payudara yang datang ke RS Ciptomangunkusumo sebagian besar telah menikah (34,6%), berpendidikan tinggi (47,4%), bekerja (47,6%), tinggal diwilayah pedesaan (41,7%), rata-rata berusia 49 tahun, memiliki riwayat menyusui (36%), sudah menopause (34,3%), menggunakan alat kontrasepsi hormonal (33,9%), memiliki riwayat kanker payudara dalam keluarga (34,3%), memiliki jaminan kesehatan (35,3%), serta rata-rata berusia 20 tahun saat melahirkan anak pertama.

(15)

Tingkat pendidikan berhubungan dengan stadium dini kanker payudara. Pendidikan tinggi berisiko 2,25 kali untuk terdiagnosis stadium dini kanker payudara dibandingkan pendidikan rendah. Risikonya meningkat menjadi 7,69 setelah dikontrol oleh variabel status pekerjaan, penggunaan alat kontrasepsi hormonal, serta keikutsertaan jaminan kesehatan.

Saran

Sosialisasi program SADARI menggunakan berbagai media massa penting untuk dilakukan, agar dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat luas akan kanker payudara. Dengan penggunaan berbagai media massa diharapkan mampu menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat, baik yang berpendidikan rendah maupun yang berpendidikan tinggi. Selain itu, sebaiknya dilakukan kerjasama antara Kementerian Kesehatan dengan BKKBN untuk sosialisasi program pengendalian kehamilan dengan menggunakan alat kontrasepsi non hormonal. Dan yang terakhir, peninjauan kembali sistem pembiayaan deteksi dini kanker payudara dengan mamografi dianggap penting untuk dilakukan, mengingat efektivitasnya dalam mendeteksi kanker payudara sedini mungkin.

Kepustakaan

ACS.2011.Breast Cancer Facts&Figures 2011-2012.diunduh dari

www.cancer.org/acs/groups/content/.../documents/.../acspc-030975.pdf.diakses pada 12 Maret 2013

Astuti, Dewi. 2010. Distribusi Faktor Risiko Kanker Payudara Pada Pasien

Kanker Payudara yang Melakukan Deteksi Dini Kanker Payudara di Rumah Sakit Kanker Dharmais Tahun 2004-2008. Depok

Celaya, M.O., Berke, E.M., Onega, T.L., Gui, J., Riddle, B.L., Cherala, S.S., et al.2010.Breast Cancer Stage At Diagnosis And Geographic

(16)

1998-2004.diunduh dari

www.rrh.org.au/publishedarticles/article_print_1361.pdf

Depkes.2009.Statistik Rumah Sakit di Indonesia;Seri 3:Morbiditas/Mortalitas.Jakarta

Hoffman, M., Pinho,H., Cooper, D., Sayed, R., Dent, M.D., Gudgeon, A., et al.2000. Breast Cancer Incidence and Determinants of Cancer

Stage in The Western Cape.diunduh dari

http://www.researchgate.net/publication/12096552_Breast_cancer_i ncidence_and_determinants_of_cancer_stage_in_the_Western_Ca pe/file/d912f50c9f08ddcd61.pdf

Kemenkes.2011.Pedoman Teknis Pengendalian Kanker Payudara&Kanker Leher Rahim.Jakarta

Maulida, Rizka. 2011. Hubungan Faktor-Faktor Risiko Kanker Payudara

dan Pengetahuan Pengunjung Instalasi Deteksi Dini dengan Perilaku Mamografi di Rumah Sakit Kanker Dharmais 7 Maret – 30 April 2011. Skripsi FKM UI

Notoatmodjo, Sukidjo. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan.Jakarta: Rineka Cipta

RSKD.2010.10 Kanker Tersering Tahun 2010. Diakses dari http://www.dharmais.co.id/index.php/statistic-center.html pada 10 April 2013

Sari, Shinta Normala. 2011. Hubungan Antara Pengetahuan dan Paparan

Informasi Melalui Media Massa Mengenai Kanker Payudara dengan Perilaku Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) Pada Mahasiswi S1 Reguler Angkatan 2008 FKM UI Tahun 2011. Skripsi FKM UI.

SIRS.2008.Morbiditas dan Mortalitas Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit

(17)

SIRS.2009.Morbiditas dan Mortalitas Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit

di Indonesia Tahun 2008.Jakarta

SIRS.2010.Morbiditas dan Mortalitas Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit

Referensi

Dokumen terkait

Kanker payudara adalah suatu penyakit neoplasma ganas yang berasal dari parenkim.. Kanker ini mulai tumbuh di dalam jaringan payudara, mulai

Suatu data yang mengandung makna terhadap problem yang dialami pasien kanker payudara stadium lanjut terutama dengan gangguan depresi yang sangat mempengaruhi kualitas hidup

Hubungan antara persepsi pasien tentang perilaku caring perawat dengan kecemasan pasien kemoterapi pada kanker payudara di RSUD Dr.. Skripsi , Universitas Muhammadiyah

Dalam penelitian ini yang akan dikaji adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi penderita kanker payudara wanita (studi kasus pada penderita kanker payudara

Populasi penelitian ini adalah seluruh data penderita kanker payudara rawat inap di Rumah Sakit Haji Medan Tahun 2014-2015 yang tercatat di dalam kartu status dengan

IDENTIFIKASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PASIEN KANKER PAYUDARA DI INSTALASI RAWAT INAP..

Penelitian yang dilakukan ASCO tahun 2018 faktor resiko usia mengembangkan kanker payudara meningkat seiring bertambahnya usia seorang wanita, dengan sebagian

Gambaran Usia yang mengalami kanker payudara Dari hasil penelitian dan analisa yang terjadi pada pasien yang mengalami kanker payudara di RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2017 terdapat 61