Bab 2. Landasan Teori. Pada bab ini penulis akan menjabarkan beberapa teori dari para ahli yang akan

Teks penuh

(1)

Bab 2

Landasan Teori

Pada bab ini penulis akan menjabarkan beberapa teori dari para ahli yang akan menjadi landasan dasar teori yang mendukung analisis pada bab 3.

2.1 Teori Semantik

Semantik merupakan cabang dari linguistik yang mengkaji tentang arti atau makna. Kata semantik dalam bahasa Indonesia (Inggris: semantics) berasal dari bahasa Yunani sema (kata benda yang berarti “tanda” atau “lambang”. Yang dimaksud dengan tanda atau lambang disini adalah tanda linguistik (Prancis: signè linguistique) seperti yang dikemukakan Ferdinand de Saussure, yaitu yang terdiri dari (1) komponen yang mengartikan, yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa dan (2) komponen yang diartikan atau makna dari komponen yang pertama itu. Kedua komponen ini adalah merupakan tanda atau lambang; sedangkan yang ditandai atau dilambanginya adalah sesuatu yang berada di luar bahasa yang lazim disebut referen atau hal yang dirujuk (Chaer, 2009:2)

Parera dalam bukunya mengemukakan bahwa makna sebuah kata terikat pada lingkungan kultural dan ekologis pemakai bahasa tertentu tersebut (2004:47). Hal ini

(2)

8  menegaskan kuatnya hubungan bahasa dengan budaya yang ada di dalam lingkungan dimana bahasa tersebut digunakan.

Hiejima ( 1991: 3 ) menjelaskan tentang masalah pengkajian semantik sebagai berikut. 意味の問題は、確かに物理主義的方法あるいは客観的方法で取り扱うに は余りにも困難な面が多すぎたことは否定できない事実である。意味の 問題は、間違いなく本来客観的であるというよりは、むしろ主観的であ るといえよう。なぜなら、語や文は人間が日常使用するものであり、個 人によってそれらの意味には差異が生ずるものだからである。 Terjemahan :

Masalah dari makna adalah adanya fakta bahwa tidak dapat dipungkirinya kesulitan yang terlalu banyak timbul jika memperlakukan makna dengan cara fisik atau cara objektif. Agar tidak ada kesalahan, lebih baik menggunakan cara subjektif daripada objektif. Hal itu dikarenakan, kata, kalimat, dan satuan bahasa yang lain merupakan sesuatu yang digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari dan dalam penggunaannya oleh masing-masing individu akan selalu ditemukan perbedaan makna yang dilahirkan antara satu dengan yang lainnya.

2.1.1 Teori Makna Denotatif dan Konotatif

Gorys Keraf menyatakan bahwa pada umumnya ada dua jenis makna, yakni makna denotatif dan makna konotatif ( 2004 : 27 ). Makna denotatif adalah makna yang didalamnya mengandung arti sebenarnya dari kata tersebut tanpa ditambahkan nilai apapun, sedangkan makna konotatif adalah makna yang terdapat unsur-unsur perasaan di dalamnya dan mengandung arti tambahan, atau nilai rasa tertentu di samping makna dasar yang umum ( Keraf, 2007 : 27-28 ).

(3)

a. Makna Denotatif

Setiap kata pasti memiliki makna denotatif, namun tidak semua memiliki makna konotatif. Kata-kata yang memiliki makna konotatif, biasanya mendapat pengaruh dari lingkungan yang menjadikan kata-kata tersebut memiliki makna selain makna sebenarnya. Seperti contoh,kata gadis dan perawan, istri dan bini, serta perempuan dan wanita memiliki makna denotatif yang sama. Namun, bila dilihat dari makna konotatifnya kata-kata tersebut memiliki makna yang berbeda. Gadis dan perawan makna denotatifnya adalah ‘wanita yang belum bersuami’ atau ‘belum pernah bersetubuh’. Sedangkan istri dan bini memiiki makna denotatif yang sama yaitu ‘wanita yang sudah bersuami’. Namun antara kata perempuan dan wanita terdapat perbedaan nilai rasa. Makna kata perempuan memiliki nilai rasa lebih rendah dibanding makna kata wanita. Maka dari itu lebih sering digunakan kata wanita pada lembaga atau organisasi tertentu (Chaer, 2009; 65-66).

Dalam bukunya, Gorys Keraf (2007:28) juga menambahkan makna denotatif sebagai berikut :

Makna denotatif disebut juga dengan beberapa istilah lain seperti: makna denotasional, makna kognitif, makna konseptual, makna ideasional, makna referensial, atau makna proposisional. Disebut makna denotasional, referensial, konseptual, atau ideasional, karena makna itu menunjuk (denote) kepada suatu referen, konsep, atau ide tertentu dari suatu referen. Disebut makna kognitif karena makna itu bertalian dengan kesadaran atau pengetahuan stimulus (dari pihak pembicara) dan respons (dari pihak pendengar) menyangkut hal-hal yang dapat dicerap pancaindera (kesadaran) dan rasio manusia. Dan makna ini disebut juga makna proposisional karena ia bertalian dengan informasi-informasi atau pernyataan-pernyataan yang bersifat faktual. Makna ini, yang diacu dengan bermacam-macam nama, adalah makna yang paling dasar pada suatu kata.

(4)

10  b. Makna Konotatif

Makna konotatif adalah makna yang didalamnya mengandung unsur perasaan dan nilai-nilai tertentu dari makna sebenarnya. Wijana dan Rohmadi (2008:23-24) menambahkan bahwa nilai emotif yang berbeda pada makna denotatif dari suatu kata disebut makna konotatif. Contohnya adalah pramuwisma dan babu memiliki makna denotasi yang sama, namun memiliki nilai yang berbeda. Kata pramuwisma memiliki nuansa positif sedangkan kata babu memiliki nuansa yang negatif.

Senada dengan pernyataan Chaer (2009:65) yang menyatakan bahwa setiap kata memiliki makna denotatif, namun tidak semua memiliki makna konotatif, hanya yang mempunyai “nilai rasa” saja baik positif maupun negatif yang memiliki makna konotatif.

Ditambahkan lagi oleh Keraf (2007:29) pengertian mengenai makna konotatif sebagai berikut :

Konotasi atau makna konotatif disebut juga makna konotasional, makna emotif, atau makna evaluatif. Makna konotatif adalah suatu jenis makna di mana stimulus dan respons mengandung nilai-nilai emosional. Makna konotatif sebagian terjadi karena pembicara ingin menimbulkan perasaan setuju - tidak setuju, senang - tidak senang dan sebagainya pada pihak pendengar ; di pihak lain, kata yang dipilih itu memperlihatkan bahwa pembicaranya juga memendam perasaan yang sama.

2.1.2 Teori Medan Makna

Dari analisis makna denotasi dan konotasi, maka untuk menemukan makna yang sesuai digunakan teori analisis medan makna. Teori analisis medan makna adalah

(5)

pengelompokkan makna dalam satu jaringan yang didasarkan pada kesamaan dan berhubungan.

Dalam bukunya J. Trier (Parera, 2004:139) mengungkapkan bahwa perlunya memberikan batasan pada tiap-tiap makna dalam medan-medan yang telah disusun rapi dan dikelompokkan menurut jenisnya. Trier memberi contoh dimana dia menurunkan dua golongan makna dari kata pandai. Seperti yang tertera pada contoh di bawah ini:

Bagan 2.1 Bagan Contoh Medan Makna J. Trier

Sumber: Parera (2004:139)

Pernyataan serupa dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure yang menyatakan bahwa setiap kata memiliki asosiasi dan hubungan antar sesamanya. Sehingga de Saussure mendefinisikan medan makna sebagai satu jaringan asosiasi antar kata yang rumit yang didasarkan pada similaritas atau kesamaan, kontak atau hubungan, dan hubungan-hubungan asosiatif dengan penyebutan satu kata (Parera, 2004:137). De Saussure menjelaskan contoh pada kata enseignement yang menggambarkan hubungan asosiatif maknanya. Ia membedakan ada kesamaan formal dan semantik, similaritas semantik (butir umum), similaritas sufiks-umum biasa, similaritas kebetulan (Parera, 2004:138). Contohnya dapat dilihat pada bagan di bawah ini.

Cerdik   Terpelajar   Terdidik   Berpengalaman   Bijak Cendekiawan   Pandai

(6)

12  Bagan 2.2 Bagan Contoh Medan Makna Ferdinand de Saussure

Sumber: Parera (2004:137)

2.2 Teori Pengkajian Puisi

Lagu memiliki kaitan yang erat dengan puisi. Dikarenakan lirik dari sebuah lagu merupakan sebuah puisi yang diberi irama sehingga menjadi sebuah lagu yang indah. Struktur batin puisi terdiri atas tema, nada, perasaan, dan amanat. Sementara struktur fisik puisi terdiri dari diksi, pengimajian, kata konkret, majas, versifikasi, dan tipografi puisi (Waluyo, 1995:28).

Waluyo (1995:25) juga mengungkapkan definisi puisi sebagai berikut :

Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair serta imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasians truktur fisik dan batinnya.

Pernyataan tersebut didukung oleh pernyataan dari Pradopo (2005:7) yang mengungkapkan bahwa ada 3 unsur yang membentuk puisi. Pertama yaitu pemikiran, ide, atau emosi. Yang kedua adalah bentuk, dan yang ketiga adalah kesannya. Semua itu

Enseignement   Enseigner   Enseignons   Apprentissage  Education Changement   Armement   Element  justement 

(7)

terungkap dalam media bahasa. Jadi, puisi membangkitkan perasaan yang merangsang imajinasi pancadalam susunan yang berirama. Semua itu merupakan sesuatu yang penting, yang direkam dan diekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan memberi kesan. Puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, dan digubah dalam wujud yang mengesankan.

Pengkajian puisi terbagi menjadi dua bagian, yaitu analisis struktur puisi dan analisis sajak satu per satu. Pradopo ( 2007: 15 ) menjelaskan bagian pengkajian yang pertama sebagai berikut.

Analisis struktur puisi berdasarkan lapis-lapis normanya yang merupakan fenomena puisi yang ada. Arti lapis di sini, berupa rangkaian fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat. Rangkaian satuan-satuan arti ini menimbulkan lapis ketiga yang berupa latar, pelaku, objek-objek yang dikemukakan, dan dunia pengarang yang berupa cerita atau lukisan.

Bagian kedua dari pengkajian puisi, Pradopo ( 2007:117 ) menjabarkan sebagai berikut.

Analisis sajak satu per satu yang membicarakan kaitan antar unsur dan sarana-sarana kepuitisan yang menyeluruh. Dalam analisis ini, lapis-lapis norma puisi dilihat hubungan keseluruhannya dalam sebuah sajak yang utuh. Hal ini disebabkan norma-norma puisi itu saling berhubungan erat dan saling berhubungan maknanya.

2.3 Konsep Gambare

Dalam bahasa Jepang terdapat sebuah kata yang memiliki makna cukup dalam bagi seluruh masyarakat Jepang. Kata tersebut dapat menjadi sebuah penyemangat maupun sebagai pendorong untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Kata tersebut adalah Gambaru atau Gambare.

(8)

14  Menurut Rice (1995:46) Gambare adalah sebuah kata yang paling sering digunakan di Jepang, biasanya sering diartikan sebagai “pantang menyerah” atau “lakukan yang terbaik”. Ini juga merupakan ucapan standar atas keberanian seseorang yang terdengar di sekolah, pertandingan olahraga, dan di rapat perusahaan.

Ditambahkan juga oleh Cowie (2001) yang menjelaskan bahwa istilah Gambaru dapat didengar dalam banyak bentuk dan berada dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak sekolah menulis dan menerjemahkannya sebagai “kerja keras”, “lakukan yang terbaik”, “bertarung”, atau “keberanian”. Sarjana sosiologi tersebut mengatakan Gambaru adalah kepercayaan orang untuk dapat menulis status yang tinggi dengan usaha yang terus menerus.

Menurut Amanuma (2001), Gambaru juga merupakan filosofi utama bagi masyarakat Jepang. Dalam Kurniawati (2001), Amanuma menyatakan alasannya, yakni:

「頑張る」は、最後まであきらめるな、手を抜くな、と励まして、思い やる言葉である。「頑張れ」というのはことばにはいい意味のままいき 残ってもらいたい。

Terjemahan :

Kata “Gambaru” didefinisikan dengan ungkapan tidak menyerah sampai akhir, tidak lepas tangan dan semangat. Dalam kata “Gambare” mengandung makna sebenarnya yang positif yaitu ingin bertahan hidup.

Amanuma (2008:11) juga menambahkan pengertian dari kata Gambaru adalah sebagai berikut :

英語やフランス語では、「頑張る」の包含するいみのうち的なニュアン スを表す語なら’persist in’,’insist in’,’insister’,’persister’が近いという意味 が出た。しかし精神意味合いをもって「包含してやり抜く」というニュ アンスの「頑張る」となると該当するごはなく、説明的な言い回しをす

(9)

るほかないとアメリカ人。フランス人の参会者たちは長しドイツ人らも それに同意した。

Terjemahan :

Dalam bahasa Inggris dan Perancis makna (Gambaru) adalah ‘persist in’ (terus menerus), ‘insist in’ (bersikeras), ‘insister’ (pertahanan), ‘persister’ (bertahan). Kosakata ini menunjukkan nuansa yang serupa dengan Gambaru. Dalam ruang lingkup psikologi (Gambaru) menjadi kosakata yang mempunyai nuansa bertahan, tidak hanya pada sekitar orang Amerika orang Perancis juga orang eropa telah setuju bahwa makna Gambaru berarti pertahanan.

Kehancuran yang pernah dialami oleh Jepang pada peristiwa gempa besar yang lebih dikenal dengan peristiwa Kantou Daishinsai tahun 1923, serta keterpurukan dan kekacauan saat kota Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom oleh pasukan sekutu pada tahun 1945 menunjukkan betapa besar semangat Gambare dalam diri masyarakat Jepang. Duke (1989:122) mengatakan salah satu motivasi utama bagi masyarakat Jepang untuk bangkit kembali dari kerusakan hebat yang dialami tersebut diungkapkan dengan sebuah aklamasi Gambare, yakni ketekunan, ketahanan, dan jangan menyerah.

Gambare memberikan inspirasi pada setiap individu agar memberikan kemampuan yang terbaik yang dimiliki untuk mewujudkan tujuan bersama. Artinya bahwa dia tidak sendiri tetapi bagian dari usaha bersama. Dia tidak hanya menguatkan perasaannya untuk bertahan, tetapi juga memperkuat komitmennya sendiri untuk tetap berusaha, seperti yang digambarkan oleh Duke (1989:123).

Singleton dan Finlestein (1991:79) menjelaskan dalam kutipannya Gambare adalah tempat perkumpulan tangisan, sebuah seruan untuk keberanian, dan sebagai perangsang untuk usaha terbaik, Gambare menunjukkan perasaan dari sifat yang mendengarkan kata

(10)

16  hati dan perasaan timbal balik terhadap sebuah kelompok. Semangat Gambaru mempunyai pengaruh yang hebat sekali dan terkadang meletakkan semangat atau tanggung jawab kuat meliputi budaya di lingkup rumah, sekolah dan kerja.

Gambaru juga berperan penting dan bermakna dalam situasi yang berbeda-beda bagi masyarakat Jepang. Dijelaskan oleh Davies dan Ikeno (2002:83-84) sebagai berikut :

Gambaru is a frequently used word in Japan, with the meaning of doing one’s best and hanging on. For examples, students Gambaru (study hard) in order to pass entrance examination. Athletes also Gambaru (practice hard) to win games or medals. Moreover company workers Gambaru (work hard) to raise their company sales. Also when the Japanese make up their minds to begin with something, they tend to think “Gambaru” in initial stages of project. When a young woman from a small town, or leaving for a new job in the city, promises her friends, parents and teacher that she will Gambaru, the implication that she will not dissapoint them. The word is also used by friend as a kind of greeting often in imperative from Gambare or Ganbatte. In this situation the meaning is rather ambigous.

Terjemahan :

Gambaru merupakan kata yang sering digunakan di Jepang, dengan arti berbuat yang terbaik dan terus bertahan. Seperti contoh, para murid Gambaru (belajar sungguh-sungguh) untuk dapat lulus ujian masuk. Atlit juga Gambaru (berlatih keras) untuk memenangkan pertandingan dan mendapatkan medali. Selain itu pegawai perusahaan Gambaru (bekerja keras) untuk menaikkan penjualan perusahaan mereka. Juga, saat orang Jepang telah menetapkan untuk memulai sesuatu, mereka cenderung berpikir Gambaru seperti saat awal pelaksanaan proyek. Ketika wanita muda dari kota kecil pergi untuk mencari pekerjaan baru di kota besar, ia berjanji pada teman, orangtua, dan gurunya bahwa ia akan Gambaru dengan maksud untuk tidak mengecewakan mereka. Kata ini juga digunakan semacam salam kepada teman, biasanya dalam bentuk perintah Gambare atau Ganbatte. Namun, dalam situasi ini cenderung mempunyai makna yang ambigu.

(11)

Menurut Doughlas (2003:152), kunci untuk meraih sukses pribadi adalah kegigihan, dan kegigihan akan memperkuat tujuan yang dinamis, dan akan berhasil. Jika cukup gigih untuk jangka waktu yang lama maka akan menemukan dan bisa mengembangkan tujuan yang luar biasa. Ada delapan hal sebagai prinsip kegigihan untuk dijadikan dasar menuju sukses menurut Sherman dalam Doughlas (2003:171-172 dalam Keshia (2009), diantaranya adalah:

1. Tidak akan berhenti selama saya tahu bahwa saya benar.

2. Yakin bahwa segalanya akan menjadi baik bila saya bertahan sampai akhir.

3. Bersikap berani dan tidak ragu-ragu dalam keadaan yang sulit.

4. Tidak akan memperbolehkan siapapun mengalihkan saya dari tujuan.

5. Akan berjuang mengatasi keterbatasan fisik dan kesulitan-kesulitan.

6. Akan mencoba berulang-ulang sampai saya mencapai apa yang saya inginkan.

7. Akan yakin dan sadar bahwa semua orang akan sukses, laki-laki atau perempuan harus berjuang melawan kekalahan dan tantangan.

8. Tidak akan patah semangat atau putus asa apapun rintangan yang menghadang di depan saya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :