BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Studi Literatur
Studi literatur adalah mencari referensi teori yang relevan dengan kasus atau permasalahan yang ditemukan. Literatur tersebut berisi tentang judul literatur, masalah, metodologi penelitian, dan hasil penelitian. Studi literatur dalam sebuah penelitian untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh tentang apa yang sudah dikerjakan orang lain dan bagaimana orang mengerjakannya, kemudian seberapa berbeda penelitian yang akan dilakukan.serta untuk memperkuat permasalahan serta sebagai dasar teori dalam melakukan studi dan juga menjadi dasar untuk melakukan sebuah penelitian.
Dalam penelitian ini, jurnal yang menjadi referensi kemudian dibuat kesimpulan dari hasil tulisan peneliti-peneliti sebelumnya sehingga dapat membuat pembaharuan dalam penelitian agar memiliki hasil akhir yang berbeda dari penelitian-penelitian yang pernah dilakukan serta memperkuat teori dasar. Kedua jurnal tersebut selanjutnya dibandingkan dengan penelitian yang akan dilakukan untuk menemukan relefansi dan dasar penelitian.
2.1.1 Literatur Pertama
Judul Penelitian : “Solusi Menekan Interferensi Co-Channel dan Adjacent
Channel pada Sistem Seluler WCDMA Multi Operator”[9]
adanya sinyal dari BTS lain yang mempunyai frekuensi sama (co-channel) dan juga akibat dari daya sinyal dari pengganggu yang cukup besar serta biasanya terjadi dengan alokasi kanal yang berdekatan (adjacent channel) adapula
intersystem interferensi yang terjadi akibat sistem komunikasi radio lain yang
menggunakan frekuensi sama dalam satu area yang sama. Interferensi yang timbul karena ketidak sempurnaan power amplifier pada pemancar ataupun pada proses filtering di sisi penerima. Ketika filter yang digunakan pada sisi penerima tidak sesuai maka akan terjadi interferensi.
Gambar 2.1 Adjacent Channel Interference
Penelitian dilakukan di site Mastrip Jln, Mastrip Surabaya pada operator Axis. Pada saat pengecekan di lapangan dilakukan pengukuran dengan alat Site Master dan juga bantuan software LMT NodeB Huawei. Pengukuran menggunakan Site Master dilakukan dengan mengacu pada standart yang ada pada KPI. Penanganan interferensi dilakukan dengan pemasangan filter tambahan pada BTS yang mengalami interferensi. Pada simulasi menggunakan band pass
filter untuk meredam frekuensi diluar frekuensi yang diperbolehkan. Konfigurasi
filter menggunakan kombinasi antara high pass filter dan low pass filter. High
pass filter digunakan untuk melewatkan frekuensi diatas 1,920 Ghz dan low pass filter digunakan untuk melewatkan frekuensi dibawah 1,980 Ghz.
Gambar 2.2 Bandpass filter two half section
Dari hasil simulasi menunjukkan pada kasus interferensi yang terjadi digunakan filter jenis Butterworth band pass filter two half-section yang merupakan double BPF yang akan menghasilkan respon filter yang meruncing seperti Gambar 2.2. Pengaplikasian Filter ini dapat mengurangi interferensi adjacent channel yang terjadi pada dunia telekomunikasi. Untuk pemasangan filter tersebut diperoleh hasil yang sangat signifikan dari kondisi sebelumnya. Dari mulai VSWR, DTF dan Return Loss menghasilkan keluaran yang bagus. Dari hasil simulasi menunjukkan hasil yang memuaskan, dengan respon filter sinyal dalam domain frekuensi. Kedua sinyal diblok pada 1,983 GHz dan banyak noise secara signifikan dilemahkan/diredam. Perbaikan Gain mencapai 40 dB setelah pemasangan filter, sehingga dapat mengatasi masalah penurunan kualitas sinyal pada sistem seluler dalam hal ini operator axis.
2.1.2 Literatur Kedua
Judul Penelitian : “Analisa Pengaruh Interferensi terhadap Kapasitas Sel Pada Sistem WCDMA”[2]
Analisa yang dilakukan antara lain Analisis Interferensi Pada Picocell, Microcell dan Macrocell WCDMA & Perhitungan Interferensi vs User Pada Picocell, MicroCell, MacroCell WCDMA.
Dua jenis interferensi yang cukup berpengaruh besar pada sistem selular adalah Cochannel Interference dan non-co-channel interference. Non-co-channel
interference terdiri dari Adjacent Channel Interference (ACI) dan Intermodulation Interference. Namun yang akan dibahas pada penelitian ini hanyalah mengenai cochannel interference. Sel atau area yang memiliki frekuensi yang sama itu
disebut co-channel cell. Interferensi yang terjadi antara sinyal yang berasal dari sel – sel tersebut adalah co-channel interference. Co-channel interference tidak dapat diatasi dengan hanya memperbesar daya sinyal pembawa atau carrier dari transmitter. Jika daya sinyal yang dipancarkan diperbesar maka interferensi yang terjadi pada sel co-channel yang lain akan semakin meningkat. Co-channel
interference dapat direduksi dengan memisahkan secara fisik dan mengatur
cochannel cell pada jarak minimum tertentu untuk menyediakan isolasi yang cukup. Co-channel interference akan mempengaruhi kualitas dari sinyal yang diterima dan juga besarnya kapasitas dari sistem komunikasi selular.
Perhitungan interferensi terhadap jumlah user untuk menjalankan simulasi yang pertama dilakukan dengan memilih jenis sel yang digunakan yang berkaitan dengan kecepatan transmisi (bit rate), dimana menurut IMT2000 kecepatan transmisi data yang tinggi, yaitu:
a) 2 Mbps untuk di dalam ruangan atau mobilitas yang rendah (picocell) b) 384 kbps untuk kecepatan yang agak lambat (microcell)
Kemudian memilih faktor aktifitas pengguna, dimana ada dua jenis faktor aktifitas pengguna, ada 2 macam faktor aktifitas pengguna,yaitu: Dengan aktifitas suara : 2,5 & Tanpa aktifitas suara : 1
Lalu memilih korelasi kontrol yang berkisar antara 50% - 100% (0,5 – 1). Dan di plot data tersebut dalam grafik sehingga terlihat hasil output pada grafiksimulasi. Langkah selanjutnya yaitu memvariasikan input dari jenis sel, korelasi kontrol dan faktor aktifitas pengguna, dan tiap-tiap variasi di plot dalam grafik sehingga terlihat variasi output dari hasil simulasi grafik perubahan pengaruh interferensi terhadap kapasitas sel dalam hal ini dalam satuan jumlah user. Dan dibandingkan dengan ouput sebelumnya. Untuk selanjutnya dilakukan analisis data hasil simulasi grafik yang dihasilkan. Program simulasi dibuat dalam bentuk GUI (Graphical User Interface) dengan menggunakan software MATLAB. WCDMA chiprate yang dipakai adalah 3,84 Mbps
Hasil dari analisa tersebut yaitu :Interferensi sangat berpengaruh pada kapasitas sel dan membatasi jumlah user dalam sel, dimana apabila jumlah user naik akan mengakibatkan naiknya interferensi. Faktor aktifitas pengguna pun akan menaikkan interferensi, dimana faktor aktifitas pengguna yang digunakan untuk aktifitas suara adalah 2.5 , sedangkan tanpa aktifitas suara adalah 1. Dalam Korelasi kontrol daya yang berkisar antara 60% - 70% apabila dinaikkan akan menurunkan interferensi. Berdasarkan hasil simulasi dan perhitungan, nilai interference margin yang dihasilkan berkisar antara -0,05 sampai dengan -0,4. Nilai interference margin yang dihasikan sudah memenuhi limit interference margin yaitu -3dB pada korelasi kontrol daya 60%-70 %.
Tabel 2.1 Perbandingan Resume Literatur Jurnal dengan Tugas Akhir No Jurnal Masalah Metodologi penelitian Hasil
Penelitian 1 Bagaimana pengaruh masalah interferensi kanal bersebelahan (adjacent channel interference) pada site axis.
Pada perencanaan pembuatan filter, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain dengan mengetahui terlebih dahulu kondisi dari gangguan itu sendiri dalam hal ini
interferensi. Setelah mengetahui jenis gangguan, selanjutnya menentukan spesifikasi dari filter yang tepat. Pada saat pengecekan di lapangan dilakukan pengukuran dengan alat Site Master dan juga software NodeB Huawei. Pengukuran menggunakan Site Master dilakukan dengan mengacu pada standart yang ada pada KPI.
Dari hasil simulasi menunjukkan pada kasus interferensi yang terjadi digunakanlah filter jenis Butterworth band pass
filter two half-section.
Kedua sinyal diblok pada 1,983 GHz dan banyak noise secara signifikan dilemahkan /diredam Dari hasil simulasi
menunjukkan hasil yang memuaskan, dengan respon filter sinyal dalam domain frekuensi. Perbaikan Gain mencapai 40 dB setelah pemasangan filter, sehingga dapat mengatasi masalah penurunan kualitas sinyal pada sistem seluler dalam hal ini operator axis. Solusi Menekan Interferensi Co-Channel dan Adjacent Channel pada Sistem Seluler WCDMA Multi Operator Penelitian 2 Analisa Pengaruh Interferensi terhadap Kapasitas Sel Pada Sistem WCDMA Bagaimana pengaruh akibat interferensi yang terjadi pada sistem
WCDMA terhadap kapasitas sel dengan menganalisa simulasi grafik dan perhitungan yang dibuat berdasarkan formula kapasitas sel. Perhitungan interferensi terhadap jumlah user untuk menjalankan simulasi yang pertama dilakukan dengan memilih jenis sel yang digunakan yang berkaitan dengan kecepatan transmisi (bit rate), memilih faktor aktifitas pengguna, Lalu memilih korelasi kontrol yang berkisar antara 50% - 100% (0,5 – 1). Untuk selanjutnya dilakukan analisis data hasil simulasi grafik yang dihasilkan. Program simulasi dibuat dalam bentuk GUI (Graphical User Interface) dengan menggunakan software MATLAB.
Hasil dari analisa tersebut yaitu Interferensi sangat berpengaruh pada kapasitas sel dan membatasi jumlah user dalam sel,. Faktor aktifitas pengguna pun akan menaikkan interferensi, dimana faktor aktifitas pengguna yang digunakan untuk aktifitas suara adalah 2.5 , sedangkan tanpa aktifitas suara adalah 1. Dalam Korelasi kontrol daya yang berkisar antara 60% - 70% apabila dinaikkan akan
menurunkan interferensi. Berdasarkan hasil simulasi dan perhitungan, nilai interference margin yang dihasilkan berkisar antara -0,05 sampai dengan -0,4. Nilai interference margin yang dihasikan sudah memenuhi limit
interference margin yaitu -3dB pada korelasi kontrol
Tugas Akhir Analisa Performansi RTWP Terhadap Kualitas Performansi Jaringan Pada Jaringan WCDMA IBC Telkomsel Bagaimana mengetahui parameter RTWP serta mengindikasikan terjadinya interferensi uplink pada suatu site dan menganalisa pengaruh RTWP terhadap performansi kualitas pada jaringan WCDMA
Metode yang digunakan adalah mengumpulkan Data RTWP melalui LMT iManager U2000, Pada saat pengecekan di lapangan dilakukan pengukuran dengan alat Site Master dan juga software LMT iManager U2000 Huawei menggunakan web browser untuk menganalisa real RTWP. Pengukuran
menggunakan Site Master dilakukan dengan mengacu pada standart yang ada pada KPI serta dummy load digunakan untuk alat pensimulasi.
Hasil dari penelitian ini adalah setelah perbaikan performansi RTWP, High
RTWP menyebabkan
penurunan performansi pada site tersebut hal ini terlihat dari adanya beberapa parameter KPI yang mengalami penurunan performansi diantaranya KPI
Accessibility, Retainibility dan Mobility Setelah dilakukan penanganan internal interferensi,
terjadi peningkatan kinerja jaringan yaitu kinerja
Accessibility, Retainibility dan Mobility. Nilai KPI Accessibility mengalami
perbaikan yang awalnya hanya 92,5% menjadi 99%. Nilai KPI
Retainibility mengalami
perbaikan yang awalnya hanya 96% menjadi 99,6%. Nilai KPI
Retainibility mengalami
perbaikan yang awalnya hanya 81% menjadi 97,5%. Sehingga sudah mencapai target yang diinginkan Telkomsel.
2.2 Wideband Code Division Multiple Access (WCDMA)
Wideband Code Division Multiple Access merupakan teknik multiple access
yang berdasarkan spektral tersebar, dimana sinyal informasi disebar pada pita frekuensi yang lebih besar daripada lebar pita sinyal aslinya (informasi). Alokasi spectrum frekuensi sistem WCDMA dibagi menjadi 2 yaitu: Frequency Division
Duplex (FDD) dan Time Division Duplex (TDD) [13]. Pada mode FDD,
frekuensi-frekuensi carrier dipisah 5 MHz untuk penggunaan uplink dan downlink masing-masing, sedangkan pada mode TDD hanya satu frekuensi 5 MHz dengan
uplink sebagai koneksi dari mobile user ke arah base station, dan downlink
sebagai koneksi dari base station ke arah mobile. Dari Gambar 2.1 terlihat bahwa arsitektur jaringan UMTS terdiri dari perangkat-perangkat yang saling mendukung, yaitu User Equipment (UE), UMTS Terresterial Radio Access
Network (UTRAN) dan Core Network (CN) [13].
a. UE (User Equipment)
User Equipment merupakan perangkat yang digunakan oleh pelanggan
untuk dapat memperoleh layanan komunikasi bergerak. UE dilengkapi dengan
smart card yang dikenal dengan nama USIM (UMTS Subscriber Identity Module)
yang berisi nomor identitas pelanggan dan juga algoritma security untuk keamanan seperti authentication algorithm dan algoritma enkripsi. Selain terdapat USIM, UE juga dilengkapi dengan ME (Mobile Equipment) yang berfungsi sebagai terminal radio yang digunakan untuk komunikasi lewat radio.
b. UTRAN (UMTS Terrestrial Radio Access Network)
Terdiri atas Base Station Controller dan Base Transceiver Station. Dimana fungsi dari BSS adalah mengontrol tiap – tiap BTS yang terhubung kepada nya. Sedangkan fungsi dari BTS adalah untuk berhubungan langsung dengan MS dan juga berfungsi sebagai pengirim dan penerima sinyal.
Di dalam UTRAN terdapat beberapa elemen jaringan yang baru dibandingkan dengan teknologi 2G yang ada saat ini, di antaranya adalah RNC (Radio Network Controller) dan node B.
c. RNC (Radio Network Controller)
RNC bertanggung jawab mengontrol radio resources pada UTRAN yang membawahi beberapa Node B, menghubungkan CN (Core Network) dengan user dan merupakan tempat berakhirnya protokol RRC (Radio Resource Control) yang mendefinisikan pesan dan prosedur antara mobile user dengan UTRAN.
d. Node B
Node B sama dengan base station di dalam jaringan GSM. Node B merupakan perangkat pemancar dan penerima yang memberikan pelayanan radio kepada UE. Fungsi utama node B adalah melakukan proses pada layer 1 antara lain: channel coding, interleaving, spreading, de-spreading, modulasi, demodulasi dan lain-lain. Node B juga melakukan beberapa operasi RRM (Radio
Resouce Management), seperti handover dan power control.
e. CN (Core Network)
Core Network berfungsi sebagai switching pada jaringan UMTS,
(Mobile Switching Center), VLR (Visitor Location Register), HLR (Home
Location Register), SGSN (Serving GPRS Support Node), GGSN (Gateway GPRS Support Node).
2.2.1 Tipe Kanal WCDMA
Tipe kanal pada WCDMA terdiri atas kanal transport, kanal fisik dan kanal logika. [13]
A. Kanal Logika WCDMA
Kanal logika berfungsi untuk mentrasmisikan cell system information, informasi paging dan data user. Kanal logika digunakan oleh layer MAC (Medium Access Control) sebagai data service transfer. Kanal logika digunakan antara UE dan RNC (Radio Network Controller). Pada dasarnya terdapat dua jenis kanal logika yaitu control channel dan traffic channel. 1. Control Channel (CCH)
a. BCCH (Broadcast Control Channel), merupakan kanal yang digunakan pada saat downlink untuk mentrasmisikan informasi system. Seperti (PLMN) informasi list neighbourhood, parameter yang terukur dll. b. PCCH (Paging Control Channel), merupakan kanal yang diberikan ke
MS apabila terdapat panggilan melaui satu atau lebih sel.
c. CCCH (Common Control Channel), merupakan kanal yang digunakan pada saat uplink oleh terminal yang belum memiliki koneksi sama sekali dengan jaringan. CCCH dapat digunakan pada saat downlink untuk merespon percobaan panggilan oleh terminal.
d. DCCH (Dedicated Control Channel), merupakan kanal control point to
point dua arah antara MS dan jaringan untuk mengirimkan informasi
control.
2. Traffic Channel (TCH)
a. DTCH (Dedicated Traffic Channel), merupakan kanal point to point yang diperuntukkan bagi satu MS untuk mentransfer data pelanggan b. CTCH (Common Traffic Channel), merupakan kanal undireksional
point to multipoint yang digunakan pada saat downlink untuk mentransfer data pelanggan untuk satu atau beberapa MS.
B. Kanal Transport WCDMA
MAC (Medium Access Control) menggunakan kanal transport untuk dapat mengorganisasikan kanal logika ke kanal terbawah yaitu kanal fisik. MAC bertanggung jawab untuk mengorganisasikan kanal logika ke kanal transport. Proses ini dinamakan dengan mapping. Dalam hal ini layer MAC juga bertanggung jawab format transport apa yang harus digunakan. Kanal transport juga digunakan antara UE dan RNC.
Secara umum terdapat dua jenis kanal transport, yaitu CTCH (Common
Transport Channel) dan DTCH (Dedicated Transport Channel). CTCH ditujukan
baik kepada semua pelanggan atau pelanggan tertentu. Jenis CTCH antara lain: 1) Common Transport Channels (CTCH)
a. RACH (Random Access Channel), kanal yang digunakan pada saat uplink ketika pelanggan ingin mengakses jaringan atau sebagai signaling dari pelanggan.
b. BCH (Broadcast Channel), kanal yang digunakan pada saat downlink untuk mengirimkan informasi system termasuk FCCH ke seluruh cakupan area pada sel. Contoh broadcast informasi BCCH.
c. PCH (Paging Channel), kanal yang digunakan pada saat downlink untuk memanggil pelanggan ketika jaringan ingin memulai komunikasi dengan pelanggan.
d. FACH (Forward Access Channel), kanal yang digunakan untuk mengirimkan informasi control downlink ke satu atau lebih pelanggan dalam sel.
e. CPCH (Common Packet Channel), kanal yang digunakan pada saat
uplink hamper sama dengan RACH tetapi dapat menangani beberapa frame. Berguna pada saat transmisi data.
f. DSCH (Downlink Shared Channel), kanal yang digunakan untuk membawa dedicated user data atau kontorl signaling keadaan satu atau lebih pelanggan dalam sel.
2) Dedicated Transport Channel (DCH)
a. DCH (Dedicated Channel), merupakan awal point to point baik secara uplink maupun downlink yang diperuntukan bagi MS untuk mentrasfer data pelanggan.
C. Kanal Fisik WCDMA
Kanal fisik adalah layer terbawah untuk transport data-data dari layer diatasnya. Saat mentransmisikan data antara RNC dan UE, medium fisiknya berubah. Antara RNC dan NodeB, kita berbicara antarmuka Iub, informasi transport secara fisik diorganisasikan dalam frame. Antara NodeB dan UE,
atau yang disebut sebagai antarmuka radio Uu, informasi transport secara fisik diorganisasikan dalam kanal fisik ini. Kanal fisik direpresentasikan ke dalam bentuk UARFCN, kode scrambling dan channelization code.
Kanal fisik meliputi:
a. SCH (Synchronization Channel), kanal yang berfungsi untuk sinkronisasi antara UE dengan BS. Terdiri dari Primary SCH berguna untuk timeslot
synchronization dan secondary SCH berguna untuk frame synchronization.
b. CPICH (Common Plot Channel), kanal yang selalu dikirimkan oleh base station dan di-scramble menggunakan scrambling code dengan factor
spreading.
c. Primary CCPCH (Primary Common Control Physical Channel), kanal yang digunakan pada saat downlink untuk membawa kanal transport BCH. Berguna pada saat penyampaian cell information ke user.
d. Secondary CCPCH (Secondary Common Control Physical Channel), kanal yang digunakan pada saat downlink untuk membawa dua kanal transport secara bersamaan, FACH dan PCH, berguna saat paging.
e. PRACH (Physical Random Access Channel), kanal yang digunakan pada saat uplink untuk membawa kanal transport RACH.
f. PCPCH (Physical Common Packet Channel), kanal yang digunakan pada saat uplink untuk membawa kanal transport CPCH.
g. PDSCH (Physical Downlink Shared Channel), kanal yang digunakan pada saat downlink untuk membawa kanal transport DSCH.
h. PICH (Paging Indicator Channel), kanal yang digunakan pelanggan ketika akan registrasi ke jaringan. Kanal indicator ini terdiri dari AICH (Acquisition Indicator Channel), AP-AICH, dan CD/CA-ICH.
i. DCH (Dedicated Channel), kanal yang terdiri dari dua kanal fisik DPDCH dan DPCCH, DPCCH berfungsi membawa data pelanggan yang actual sedangkan DPCCH berfungsi membawa informasi control. Pada komunikasi uplink kedua kanal ini terpisah tetapi pada komunikasi downlink kedua kanal menjadi satu dengan frame yang berbeda.
2.2.2 Karakteristik Sistem WCDMA
Salah satu karakteristik yang terpenting dari WCDMA adalah kenyataan bahwa power merupakan resource yang dishare secara bersama-sama. Hal ini menjadikan sistem WCDMA sangat fleksibel dalam menyediakan panduan layanan dan layanan yang membutuhkan variable bit rate. Radio Resource
Management dilakukan dengan mengalokasikan power untuk setiap user (call),
dan untuk menjamin bahwa kualitas sinyal tidak melampaui batas maksimum interference yang telah ditentukan. Tidak ada alokasi kode maupun time slot yang dibutuhkan ketika terjadi perubahan bit rate. Hal ini berarti bahwa alokasi
physical channel tidak terpengaruh pada saat terjadi perubahan bit rate. Sistem
WCDMA tidak membutuhkan perencanaan frekuensi, dikarenakan setiap cell menggunakan frekuensi yang sama. Fleksibilitas dimiliki oleh system WCDMA, dikarenakan sistem ini menggunakan kode OVSF (Orthogonal Variable
Spreading Codes) untuk channelization dari user yang berbeda. Kode ini memiliki
dialokasikan untuk satu user) meskipun user tersebut menggunakan bit rate yang berbeda. Sebuah physical resource dapat membawa beberapa layanan dengan bit rate yang berbeda. Dengan berubahnya bit rate,maka alokasi power untuk
physical resource tersebut juga akan berubah sehingga QoS dijamin pada setiap
komunikasi. Setiap radio frame memiliki periode sebesar 10 ms yang dibagi ke dalam 15 slot, yang menggambarkan satu periode power control. Power control yang digunakan didasarkan pada SIR (Signal to Interference Ratio), dimana fast closed loop disesuaikan dengan SIR dan perubahan SIR target dilakukan oleh outer loop.
Beberapa hal pokok mengenai karakteristik WCDMA yaitu :
a. WCDMA merupakan sistem Wideband Direct Sequence Code Division
Multiple Access (DSCDMA), dimana bit informasi pengguna disebar
sampai melebihi bandwidth dengan mengalikan data pengguna dengan bit quasi random (chip) dari kode spreading CDMA.
b. Chip rate sebesar 3,84 Mbps dapat memastikan membawa data dengan
bandwidth sebesar 5 MHz.
c. WCDMA mendukung penggunaan data rate pengguna yang bervariasi dengan kata lain mendukung konsep untuk menghasilkan Bandwidth on
Demand (BOD).
d. WCDMA mendukung mode dasar operasi pentransmisian, yaitu:
Frequency Division Duplex (FDD) dan Time Division Duplex (TDD).
Dalam mode pentransmisian FDD, bandwidth pembawa sebesar 5 MHz dipisahkan oleh pita frekuensi antara uplink dan downlink, sedangkan
dalam mode pentransmisian TDD, bandwidth pembawa 5 MHz terbagi ke dalam interval waktu antara uplink dan downlink.
2.3 In-Buiding Coverage (IBC)
Jaringan Multi Operator In-Building Coverage yaitu suatu sistem dengan perangkat pemancar dan penerima (transceiver) dari beberapa operator seluler yang dipasang didalam gedung yang kemudian frekuensi dari masing-masing operator baik untuk frekuensi GSM, CDMA, UMTS/WCDMA dan LTE dikombinasikan menggunakan multiband combiner. Pada umumnya sebuah gedung perkantoran, mal atau hotel mempunyai ketebalan dinding yang berbeda beda. Semakin tebal dinding, maka komunikasi yang diharapkan andal akan mengalami gangguan, karena cakupan tidak dapat dijangkau oleh jaringan outdoor. Propagasi indoor berbeda dengan propagasi outdoor yang memliki beberapa faktor untuk mendapatkan kualitas sinyal yang diharapkan antara lain ketebalan dari dinding suatu gedung, bentuk-bentuk ruang, difraksi, pantulan. Pada dasarnya alasan utama dari adanya pembangunan IBC adalah kurangnya RX level (sinyal) yang berada di dalam gedung. Seperti yang terlihat dari Gambar 2.2 dibawah ini.
Dari Gambar 2.4, gedung yang diberi warna kuning akan memiliki RX-level (Sinyal) yang rendah/kecil. Sehingga perlu dibangun suatu jaringan baru yang dinamakan IBC. Gambaran untuk pemasangan IBC dapat dilihat seperti Gambar 2.5.
Gambar 2.5 Distribusi Antena Sistem (DAS) jaringan IBC pada sebuah gedung Pada satu gedung terdapat Radio Base Station (RBS) yang dihubungkan pada coupler-coupler di setiap lantai pada gedung tersebut. Dari coupler kemudian ditarik antena omni untuk di pasang pada setiap lantainya agar sinyal dapat diterima secara baik di setiap lantai. Jadi IBC hanya akan dipasang/diimplementasi jika area gedung tersebut memiliki kualitas sinyal yang rendah, hal ini menyebabkan terjadinya drop call dan blank spot. IBC multioperator sendiri bertujuan membangun jaringan telekomunikasi indoor untuk banyak operator, bisa dua atau lebih sehingga proses implementasi indoor dapat lebih efektif dan efisien. Jenis jaringan sel yang digunakan adalah jaringan pico sel yang memiliki radius coverage maksimal 50 meter. Sistem ini bertujuan untuk melayani kebutuhan telekomunikasi dalam gedung baik dalam hal kualitas sinyal,
2.3.1 Prinsip Kerja dari In-Building Coverage (Indoor System)
IBC yaitu suatu sistem dengan perangkat pemancar dan penerima (transceiver) yang dipasang didalam gedung yang bertujuan untuk melayani kebutuhan akan telekomunikasi dalam gedung tersebut baik kualitas sinyal, cakupan (coverage) maupun kapasitas trafficnya. Sebenarnya sistem ini memiliki prinsip yang sama BTS dengan sel standar, dengan perangkat pemancar dan penerima (transceiver), dengan menggunakan frekuensi 890 - 945 MHz dan menggunakan sel mikro. Basis kapasitas trafik biasanya digunakan untuk:
1. Public Access area (mall, bandara, stadion hotel, rumah sakit dan lain lain). Merupakan tempat-tempat umum yang sering dikunjungi tiap harinya.
2. Business/Offices area (daerah perkantoran, pusat perbisnisan ) Dituntut adanya indoor cell yang memungkinkan tingkat telekomunikasi yang tinggi.
Berikut ini adalah bagian utama yang menyusun Jaringan Multi Operator
In-Building Coverage.
1. Sumber Sinyal
Perangkat yang dijadikan sumber sinyal diantaranya yaitu: a. Base Transceiver Station (BTS)
BTS menangani interface radio dengan MS. BTS merupakan perangkat radio (transceiver dan antena) yang diperlukan untuk melayani sel dalam jaringan. Beberapa BTS dikontrol oleh sebuah BSC. BTS juga biasa disebut dengan nama RBS, RBS termasuk semua
radio dan hubungan transmisi perangkat yang dibutuhkan pada site untuk menghasilkan transmisi radio pada satu atau beberapa sel.
2. Distributed Antenna System (DAS)
Distributed Antenna System (DAS) adalah jaringan antena yang
didistribusikan ke seluruh gedung untuk menyediakan sinyal dalam area gedung. Sistem DAS dapat berupa pasif atau aktif. DAS pasif terdiri dari sebuah jaringan kabel koaksial, coupler dan power splitters yang berfungsi mendistribusikan sinyal RF menuju antena yang ditempatkan di seluruh bangunan. Sedangkan untuk DAS aktif menggunakan optik distribusi, sinyal RF dari RBS dikonversi menjadi sinyal optik oleh local interface unit. Sinyal optik didistribusikan ke gedung melalui kabel optik ke beberapa remote unit yang kemudian diubah kembali menjadi sinyal RF. Antena atau jaringan distribusi coaxial kecil terhubung ke setiap remote unit untuk menyediakan cakupan ke setiap lantai.
Ada banyak keuntungan DAS pasif dibandingkan DAS aktif. Misalnya, menawarkan biaya awal yang rendah dan kehandalanyang tinggi, jaringan distribusi coaxial kecil terhubung ke setiap remote unit untuk menyediakan cakupan di setiap lantai. DAS pasif juga ideal untuk multioperator dan multi layanan sistem, termasuk semua jenis layanan berbasis radio, trunked radio, sistem-sistem seluler dan (WLAN) hingga 2,5 GHz. Mayoritas saat instalasi
inbuilding sistem yang pasif DAS solusi. DAS mempermudah operator untuk
mengendalikan dan membatasi cakupan dalam sebuah bangunan dan untuk mengurangi interferensi ke dan dari jaringan makro, yang dapat meningkatkan keseluruhan kapasitas jaringan. Distribution Antenna mempunyai
komponen-a. Komponen Pasif
Komponen pasif adalah komponen yang berfungsi hanya sebagai penyalur sinyal dan tidak membangkitkan sinyal.
Power Splitter
Digunakan untuk membagi jaringan penghubung sinyal antenna menjadi beberapa keluaran. Dimana power sinyal dibagi sama rata untuk semua port keluaran.
Gambar 2.6 Power Spliter Coupler
Coupler pada prinsipnya sama saja dengan splitter yaitu sebagai
pembagi sinyal dari jaringan penghubung sinyal menjadi beberapa keluaran, namun yang membedakan adalah pembagian power sinyal tidak sama rata pada masing-masing port keluaran.
Feeder
Sebagai penghubung antara perangkat yang satu dengan yang lainnya.
Gambar 2.8 Jenis-jenis feeder
Multiband/Hybrid Combiner
Multiband/Hybrid Combiner merupakan perangkat yang
berfungsi untuk mengkombinasikan beberapa band frekuensi sehingga dapat disalurkan hanya melalui satu output.
Antena Omnidirectional
Antena omnidirectional adalah antena yang daya pancarnya yang sama dengan pola radiasi mengelilingi antena.
Gambar 2.10 Antena Omnidirectional
b. Komponen aktif 1. Amplifier 2. Repeater.
Keuntungan dari In-Building Coverege (Indoor System) antara lain :
meningkatkan coverage area dan meningkatkan layanan ke pelanggan
menyediakan konektivitas wireless ke pelanggan
meningkatkan kualitas suara
merupakan solusi alternatif lain dari jaringan fixed telekomunikasi.
Pada kasus site IBC (In-Building Coverage) nilai RTWP yang muncul masih buruk walau telah mencapai tahap pengujian combiner, maka perlu dilakukan analisis lebih lanjut berkaitan interferensi internal & eksternal. Interferensi internal yaitu Interferensi berasal dari satu tempat yang sama atau berbeda tempat
perangkat hardware BTS rusak, konektor atau jumper rusak dan instalasi sistem DAS yang kurang baik. Interferensi eksternal biasanya muncul karena pengaruh operator lain pada site tersebut dan adanya pemasangan repeater illegal.
Faktor pengaruh dari operator lain. Kemungkinan yang terjadi adalah interferensi yang muncul akibat penggunaan bersama multi-sharing ceiling mount
omnidirectional antennas. Dan bisa juga dipengaruhi oleh penggunaan sistem
yang bersama seperti Hybrid Combiner.
Gambar 2.11 Ceiling Mount Omnidirectional Antennas
Ceiling Mount Omnidirectional Antennas atau lebih dikenal antena
direksional seperti ditujunjukkan Gambar 2.11 adalah antena dengan disain tertentu yang dipasang menempel pada langit-langit ruangan yang terlihat seperti lampu. Antena direksional memiliki pola radiasi yang rendah pada vertikal
beamwidth, namun menyediakan 3,5 dB pada penguatan horizontal. Ini artinya
antena dapat menjangkau cakupan ruangan yang lebih baik pada suatu lantai. Solusi untuk menangani masalah dengan operator lain adalah dengan berkoordinasi dengan operator terkait mengenai pemecahan masalah serta langkah bersama yang harus diambil.
2.4 Interferensi
Menurut definisi secara fisika, interferensi merupakan suatu efek yang terjadi akibat superposisi dari dua atau lebih sistem gelombang atau sinyal yang dapat saling mempengaruhi sehingga menghasilkan pola sinyal baru yang berbeda [3]. Pada sistem komunikasi, umumnya interferensi diartikan sebagai sinyal lain yang tidak diinginkan yang mempengaruhi atau mengganggu sinyal informasi yang ditransmisikan kepada rangkaian penerima (receiver). Gangguan dapat berupa sinyal lain yang memancarkan daya atau energi pada pita frekuensi yang sama dengan suatu sinyal informasi sebenarnya [14]. Interferensi merupakan noise yang timbul karena operasional dari sitem komunikasi yang lain [3].
Interferensi akan mempengaruhi besar daya sinyal yang diterima pada suatu receiver. Besarnya suatu tingkat interferensi akan bergantung pada jarak antara sistem penerima dan sistem pengirim (transmitter) dibandingkan dengan faktor lainnya. Jika semua sinyal ditransmisikan dengan besar daya yang sama maka tingkat interferensi hanya akan tergantung pada konstelasi geometris dari setiap transmitter [14].
Interferensi merupakan suatu faktor pembatas yang berpengaruh dalam unjuk kerja sistem komunikasi selular. Selain bergantung pada faktor pathloss dan
noise, besarnya jangkauan suatu sistem komunikasi selular ataupun komunikasi
nirkabel juga sangat bergantung pada tingkat interferensi yang terjadi [1]. Dua sistem komunikasi selular yang berada pada frekuensi yang sama dapat beroperasi secara efisien jika kedua sistem tersebut dipisahkan oleh jarak tertentu sehingga meminimalkan terjadinya redaman yang terjadi pada sinyal. Jarak antara kedua sistem yang semakin berkurang akan menyebabkan penurunan pada kualitas
sinyal yang diterima pada receiver. Pada sistem komunikasi selular, kualitas sinyal yang diterima dapat dilihat melalui berbagai nilai perbandingan sepertiS/N (Signal-Noise), C/I (Carrier-Interference), ataupun S/I (Signal
to-Interference). Semakin kecil nilai interferensi atau noise yang terjadi maka unjuk
kerja sistem komunikasi selular akan semakin baik dan begitu juga sebaliknya. Dalam implementasinya, tidak ada sistem komunikasi yang sempurna. Transmitter dan receiver yang tidak ideal dapat menjadi sumber interferensi. Pada sistem komunikasi selular, sumber interferensi antara lain dapat berasal dari suatu
Mobile Station (MS) lain yang terdapat pada sel yang sama, sebuah proses
panggilan (progress call) yang terdapat pada sel tetangga, Base Station (BS) lain yang beroperasi pada pita frekuensi yang sama, atau energi bocor berasal dari sistem nonselular yang mempengaruhi pita frekuensi sistem selular [10]. Pada kanal suara, interferensi dapat menyebabkan cross talk, sehingga pelanggan mendengar interferensi sinyal lain yang disebabkan oleh proses transmisi yang tidak ideal. Pada kanal kontrol, interferensi menyebabkan suatu panggilan terputus dan terhenti karena terjadi kesalahan dalam digital signalling. Interferensi dapat juga disebabkan oleh transmitter yang berasal dari sistem selular lain. Hal tersebut terjadi karena operator selular yang lain sering menempatkan BS dekat dengan BS operator lainnya dalam rangka mendapatkan jangkauan yang lebih luas bagi pelanggan. Interferensi sangat mempengaruhi kapasitas dari suatu sistem komunikasi selular dan dapat menyebabkan degradasi unjuk kerja pada sistem.
Dua jenis interferensi yang cukup berpengaruh besar pada sistem selular adalah Cochannel Interference dan Non-co-channel interference. Non-co-channel
Interference. Namun yang akan dibahas pada bab ini hanyalah mengenai
Intermodulasi Interferensi.
2.4.1 Intermodulasi Frekuensi
Intermodulasi frekuensi adalah bentuk distorsi intermodulasi yang terjadi pada komponen yang biasanya dianggap linear, seperti kabel, konektor dan antena. Namun, ketika pada kekuatan sinyal RF tinggi yang biasanya ditemukan dalam sistem seluler, perangkat ini dapat menghasilkan intermodulasi sinyal pada -80 dBm atau lebih tinggi. Intermodulasi frekuensi merupakan masalah yang berkembang bagi operator jaringan seluler. Intermodulasi frekuensi dapat terjadi akibat usia peralatan yang ada, ketika adanya operator baru pada suatu lokasi atau ketika ada pemasangan peralatan baru.
Intermodulasi frekuensi dapat menciptakan interferensi yang akan mengurangi sensitivitas penerimaan suatu sel atau bahkan memblokir panggilan. Gangguan ini dapat mempengaruhi baik sel yang sumber, maupun receiver terdekat lainnya. Intermodulasi frekuensi menurunkan keandalan, kapasitas dan kecepatan data dari sistem selular. Karena intermodulasi frekuensi dapat membatasi sensitivitas penerimaan antena. Di masa lalu, insinyur RF bisa memilih frekuensi saluran yang tidak akan menghasilkan intermodulasi frekuensi dalam menerima band yang diinginkan. Namun, sejalan dengan pertumbuhan penggunaan seluler, spektrum berlisensi telah menjadi ramai. Insinyur harus memilih frekuensi carrier RF yang kurang diinginkan dan menerima potensi masalah intermodulasi frekuensi, ditambah lagi sistem antena yang ada dan
penuaan infrastruktur membuat PIM (Passive Internodulation) yang terjadi semakin kuat.
Masalah intermodulasi frekuensi termasuk noise floor yang tinggi. Tanda lainnya termasuk durasi yang lebih singkat rata-rata panggilan, penurunan trafik panggilan lebih tinggi, kecepatan data yang lebih rendah, dan volume panggilan yang lebih rendah.
2.4.1.1 Komponen dari Intermodulasi Frekuensi
Ketika satu frekuensi (f1) diumpankan melalui perangkat yang outputnya bukan merupakan fungsi linier dari input, menghasilkan harmonik dari f1, yaitu 2f1 , 3f1 , 4f1 , 5f1, dll (tidak ada perangkat yang sempurna dan perangkat menghasilkan harmonik bahkan pada level rendah).
Secara bersamaan dalam sebuah perangkat non - linear , penjumlah dan perbedaan frekuensi juga dihasilkan sebagai hasil sampingan dari harmonik tadi. Hal ini dapat ditunjukkan secara matematis sebagai hasil dari proses perkalian antara dua frekuensi asli dan karenanya dua frekuensi baru disebut produk. Jika dua frekuensi asli adalah f1 , f2 dan frekuensi tertinggi adalah f2 , maka kita bisa mengharapkan dua komponen lainnya (atau produk) dari ( f1 + f2 ) dan ( f2 - f1 ). Namun, tidak berhenti di situ karena ada harmonik dari f1 dan f2 , maka akan ada penjumlahan produk antara semua harmonik dan sinyal asli atau percampuran di keduanya. Ini adalah produk intermodulasi yang merupakan komponen frekuensi yang berbeda dari komponen harmonik yang dibahas sebelumnya.
frekuensi mendekati tak terhingga dan semakin menurun dalam amplitudo dengan meningkatnya frekuensi. Demikian juga, produk intermodulasi juga dapat dianggap tak terbatas jumlahnya. Hal ini dapat ditunjukkan secara matematis, bahwa ketika harmonik, terjadi perpanjangan frekuensi ke atas mendekati tak terhingga, amplitudo semakin menurun dengan meningkatnya frekuensi. Demikian juga produk intermodulasi juga dapat dianggap tak terbatas jumlahnya
Tabel 2.2 Hasil Intermodulasi
Pada Tabel 2.2 dapat dilihat bahwa hanya produk intermodulasi urutan ganjil yang dekat dengan dua frekuensi fundamental f1 dan f2. Salah satu produk urutan ketiga (2f1 - f2) adalah 1 kHz lebih rendah daripada frekuensi f1 dan lainnya (2f2 - f1) I) adalah 1 kHz di atas f2 . Salah satu produk urutan kelima ( 3f1 - 2f2 ) adalah 2 kHz bawah f1 dan lainnya ( 3f2 - 2f1 ) adalah 2 kHz diatas f2 . Bahkan itu adalah produk orde ganjil yang paling dekat dengan frekuensi fundamental f1 dan f2.
Rangkaian produk ganjil dapat dilihat untuk penurunan dan kenaikan secara progresif dengan penambahan sebesar 1 kHz dari dua dasar frekuensi f1 dan f2 masing-masing. Sebuah spektrum khas yang dihasilkan dapat digambarkan seperti terlihat pada grafik dari Gambar 2.12.
Gambar 2.12 Spektrum dari Komponen Intermodulasi
2.4.1.2 Pengaruh dari Komponen Intermodulasi
Komponen ganjil menyebar di kedua sisi komponen fundamental dalam perkembangannya secara bertahap amplitudo menurun. Efeknya adalah untuk memperluas sinyal yang diradiasikan dan dalam hal menerima sinyal, ini menyebabkan interferensi kanal lain.
Komponen intermodulasi menjadi perhatian yang cukup besar dalam tahap
mixer penerima superheterodyne. Receiver disetel untuk sinyal pada 1000 kHz
tetapi ada juga dua sinyal yang kuat, f1 pada 1020 kHz dan f2 pada 1040 kHz. Terdekat dari ( f1 ) adalah 20 kHz dan frekuensi filter ( IF ) dari bandwidth 2,5 kHz yang mampu menolak sinyal ini. Namun, pada tahapan RF sebelum mixer tidak begitu selektif dan dua sinyal f1 dan f2 pada input mixer bebas untuk memproduksi komponen intermodulasi. Intermodulation komponen urutan ketiga ( 2f1 - f2 ) dan kita mendapatkan ( 2x 1020-1040 ) = 1000 kHz , tepat di frekuensi sinyal. Ini hanyalah satu contoh bagaimana komponen intermodulasi atau outof
2.5 Sumber dan Jenis Interferensi
Interferensi berdasarkan sumbernya dibagi atas dua jenis, yaitu interferensi internal dan interferensi eksternal.
a. Interferensi Internal
Interferensi internal yaitu Interferensi berasal dari satu tempat yang sama atau berbeda tempat dalam satu sistem radio.
Jenis Interferensi Internal adalah:
Inter Symbol Interference (ISI)
ISI merupakan interferensi yang disebabkan oleh superposisi atau
overlapping data simbol dalam bit-stream yang sama yang disebabkan oleh multipath propagation [4].
Intracell interference
Intracell interference atau disebut juga sebagai Own cell interference
merupakan interferensi yang disebabkan oleh pengguna (user) lain yang berada pada sel yang sama
Intercell interference
Intercell interference atau disebut juga sebagai other cell interference
merupakan interferensi yang berasal dari pengguna yang berada pada sel yang lain namun masih dalam satu sistem yang sama. Pada uplink, intercell
interference berasal dari MS yang berada pada sel yang lain, sedangkan pada downlink, intercell interference berasal dari BS yang berada pada sel yang
Gambar 2.13 Berbagai Jenis Interferensi b. Interferensi Eksternal
Interferensi erksternal adalah Sumber interferensi yang disebabkan oleh operator atau sistem selular lain yang mentransmisikan sinyal pada pita frekuensi yang saling berdekatan.
Sumber Interferensi Eksternal diantaranya:
Interferensi akibat disain frekuensi yang tidak selektif serta ketidaktepatan konfigurasi repeater dan penguatan mengakibatkan noise menginterferensi MS.
Jenis interferensi akibat transmisi microwave adalah interferensi bi-directional (dua-arah), interferensi pada skala yang luas dan interferensi yang tetap dalam jangka panjang.
Komponen non-linier pada Medan Elektromagnetik yang besar.
Interferensi dari radar yang terjadi pada saat-saat tertentu.
Interferensi dari handset yang terjadi pada waktu tertentu atau pada waktu yang berkelanjutan, seperti hanya pada saat rapat di siang hari. Interferensi dari handset bisa juga akibat pengaruh yang berasal dari pemerintah, militer, rumah sakit, atau SPBU.
2.6 RTWP (Received Total Wideband Power)
RTWP pada NodeB adalah total daya terima uplink atau salah satu kriteria pengukuran kualitas uplink channel. Daya terima pada wideband mencakup noise yang dihasilkan dari penerima pada bandwidth yang ditentukan oleh pulsa pembentuk filter. Titik referensi untuk pengukuran adalah konektor antena RX. Ketika bagian sel-sel telah ditetapkan, total daya terima pada wideband dapat diukur pada bagian sel-sel tersebut. Berikut adalah gambar mengenai problem umum RTWP yang terjadi dan penyebabnya.
Gambar 2.14 Problem Umum RTWP and Penyebabnya
2.6.1 Akurasi dan Kesalahan RTWP
Akurasi relatif didefinisikan sebagai total daya terima wideband yang terukur pada suatu frekuensi yang dibandingkan dengan total daya terima
wideband yang terukur pada frekuensi yang sama di waktu yang berbeda.
Tabel 2.3 mencantumkan persyaratan-persyaratan agar performa NodeB menjadi lebih baik.
Akurasi relatif pada Tabel 2.4 didefinisikan sebagai total daya terima
wideband yang terukur pada suatu frekuensi yang dibandingkan dengan total daya
terima wideband yang terukur pada frekuensi yang sama di waktu yang berbeda. Tabel 2.4 Persyaratan Akurasi Relatif [6]
Range total daya terima wideband (RTWP) adalah dari -112 dBm sampai dengan -50 dBm. Pada Tabel 2.5 di bawah ini ditetapkan pemetaan untuk jumlah yang diukur. Range pada pengsinyalan bisa jadi lebih besar daripada akurasi range yang telah dijamin.
Tabel 2.5 Pemetaan Total Daya Terima Wideband yang Terukur
2.6.2 Pengaruh RTWP
menggunakan RTWP sebagai algoritma admisi kontrol, sehingga NodeB harus melakukan penyesuaian untuk memenuhi persyaratan akurasi pada admisi kontrol. RTWP dipengaruhi oleh akurasi penguat kanal RF maupun interferensi eksternal.
RTWP menetukan suatu NodeB dipengaruhi oleh interferensi dan lokasi yang dipengaruhinya. Berikut ini standar nilai RTWP dari seri NodeB Huawei dengan atau tanpa TMA (Tower Mounted Amplifier) :
a. Jika semua NodeB tidak menggunakann TMA, antena match terhadap NodeB, sistem sudah di-setting dengan baik, dan tidak ada sinyal penginterferensi, nilai RTWP sekitar 105,5 dBm. Jika RTWP diatas -105,5 dBm ± 2 dB, penyebabnya bisa jadi adalah:
Pengaturan sistem bermasalah, sehingga set penguatan sistem berbeda dari penguatan yang sebenarnya
Kesalahan pada koneksi antena dan feeder.
Sinyal eksternal/internal menginterferensi sistem.
b. Jika semua NodeB menggunakan TMA, antena match dengan NodeB, sistem sudah di-setting dengan baik, dan tidak ada sinyal eksternal penginterferensi, nilai RTWP sekitar 105,5 dBm. Jika RTWP diatas -105,5 dBm ± 2 dB, penyebabnya bisa jadi adalah:
Pengaturan sistem bermasalah, sehingga set penguatan sistem berbeda dari penguatan yang sebenarnya.
Kesalahan pada koneksi antena dan feeder.
Sinyal eksternal/internal menginterferensi sistem.
TMA (Tower Mounted Amplifier) atau Mass Head Amplifier merupakan sebuah LNA (Low Noise Amplifier) yang dipasang sedekat mungkin dengan antena-antena BTS. Sebuah TMA mengurangi Noise Figure (NF) BTS dan karenanya meningkatkan keseluruhan sensitivitas, dengan kata lain antena BTS dapat menerima sinyal lemah. Gambar 2.15 menunjukkan TMA yang terletak di belakang antena sektoral (kotak kecil berwarna putih) pada sebuah BTS.
Gambar 2.15 TMA pada sebuah BTS
Dalam sistem komunikasi dua arah, ada kalanya dimana satu arah atau satu link lebih lemah daripada yang lain. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan link. Hal ini dapat diperbaiki dengan membuat transmitter pada link tersebut lebih kuat atau pada penerima agar lebih sensitif terhadap sinyal lemah. TMA pada jaringan bergerak digunakan untuk meningkatkan sensitivitas uplink pada BTS.
2.7 Performansi Jaringan (KPI)
KPI merupakan ukuran yang digunakan untuk menggambarkan faktor kritis keberhasilan jaringan. Ini membantu jaringan untuk mengukur perkembangan dalam rangka pencapaian tujuannya. Indikator kinerja harus merefleksikan tujuan
sehingga indikator kinerja sangat tergantung tujuan yang ingin dicapai. Tipe KPI dibagi menjadi tiga macam, yaitu :
1. Ratio, yaitu KPI yang dihasilkan untuk merefleksikan persentase kasus spesifik yang terjadi terhadap semua kasus.
2. Mean, yaitu KPI yang dihasilkan untuk merefleksikan rata-rata nilai berdasarkan banyaknya data
3. Sum, yaitu KPI yang dihasilkan untuk merefleksikan penjumlahan yang selalu bertambah.
Menurut rekomendasi ITU (International Telecommunication Union) terdapat 3 kategori pengklasifikasian Key Performance Indicator (KPI) untuk evaluasi sebuah jaringan yaitu Accessibility, Retainability, dan Mobility. Parameter KPI yang digunakan pada perancangan dan optimalisasi cell dan
RNC terdiri dari :
Tabel 2.6 KPI Target Quality of Service by ITU-T Satisfactory Network and Service Parameter
Values
Service availability 0.97 Service accessibility 0.95 Service retainability 0.95
Network coverage 0.95
Unsatisfactory Network and Service Parameter Values
Service availability 0.75 Service accessibility 0.78 Service retainability 0.78
Tabel 2.7 Tabel Target KPI Telkomsel
2.7.1 Accessibility
Accessibility adalah kemampuan user untuk memperoleh servis sesuai
dengan layanan yang disediakan oleh pihak penyedia jaringan. Parameter ini didapat dari nilai faktor yang ada pada sitedan dikalkulasikan di RNC menjadi nilai parameter – parameter yang ada pada accessibility. Parameter yang termasuk dalam kategori accessibility adalah Radio Research Control Success Rate (RRC
SR). Call Setup Success Rate Circuit Switch (CSSR CS), Call Setup Success Rate Packet Switch (CSSR PS), Call Setup Success Rate High Speed Downlink Packet Access (CSSR HSDPA).
Radio Resource Control Success Rate (RRC SR)
Parameter ini dapat digunakan untuk mengevaluasi nilai keberhasilan signaling yang dilakukan user. RRC Success Rate didapatkan dari keberhasilan
user melakukan signaling dibagi dengan seluruh signaling yang ada pada waktu
tersebut dikalikan 100%, seperti pada persamaan 2.1 di bawah ini :
(2.1) No Indicator Unit Target
1 CSSR HSDPA Retainability % ≥ 98% 2 CSSR CS % ≥ 98% 3 CSSR PS % ≥ 98% 4 CCSR HSDPA % ≥ 98% 5 CCSR Voice % ≥ 98% 6 CCSR PS % ≥ 98% 7 SHO % ≥ 90% 8 ISHO % ≥ 95%
Parameter ini digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan user dalam menduduki kanal untuk layanan circuit switch hingga user melakukan pembicaraan. CSSR CS didapatkan dari panggilan yang berhasil dibagi dengan semua percobaan panggilan dikali 100%, seperti pada persamaan 2.2.
(2.2)
Call Setup Success Rate Packet Switch (CSSR PS)
Parameter ini digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan user dalam menduduki kanal untuk layanan packet switch hingga user melakukan panggilan. CSSR PS didapatkan dari panggilan untuk data yang berhasil dibagi dengan semua percobaan panggilan untuk data dikali 100%, seperti pada persamaan 2.3.
(2.3)
Call Setup Success Rate High Speed Downlink Access (CSSR HSDPA)
Parameter ini digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan user dalam menduduki kanal dengan layanan HSDPA hingga user melakukan panggilan pada layanan yang digunakan. CSSR HSDPA didapatkan dari panggilan yang berhasil dibagi dengan semua percobaan panggilan dikali 100% digunakan pada layanan HSDPA, seperti pada persamaan 2.4
(2.4)
2.7.2 Retainability
Retainability adalah kemampuan user untuk mempertahankan layanan
setelah layanan tersebut berhasil diperoleh sampai batas waktu layanan tersebut dihentikan oleh user. Parameter ini didapat dari nilai faktor yang ada pada sitedan
dikalkulasikan di RNC menjadi nilai parameter – parameter yang ada pada
retainability. Parameter yang termasuk dalam kategori retainability adalah Call Completion Success Rate Circuit Switch (CCSR CS), CCSR Packet Switch (CCSR PS), CCSR HSDPA.
Call Completion Success Rate Circuit Switch (CCSR CS)
Parameter ini digunakan untuk mengevaluasi panggilan yang berhasil pada layanan circuit switch yang sedang berlangsung sampai user mengakhiri sambungan. Persamaan CSSR CS seperti pada persamaan 2.5.
(2.5)
Call Completion Success Rate Packet Switch (CCSR PS)
Parameter ini dapat digunakan untuk mengevaluasi rasio panggilan yang berhasil yang ada di layanan packet switch yang sedang berlangsung sampai user mengakhiri sambungan. Persamaan CSSR PS seperti pada persamaan 2.6
(2.6)
Call Completion Success Rate HSDPA (CSSR HSDPA)
Parameter ini dapat digunakan untuk mengevaluasi rasio panggilan yang gagal yang ada di layanan HSDPA yang sedang berlangsung sebelum
user mengakhiri sambungan. Persamaan HSDPA Retainability atau CCSR HSDPA seperti pada persamaan 2.7
2.7.3 Mobility
Mobility adalah derajat pengukuran saat layanan berhasil diperoleh
walaupun user dalam keadaan bergerak. Beberapa parameter yang masuk dalam kategori Mobility adalah Soft Handover Success Rate (SHO SR), Inter System
Handover Circuit Switch (ISHO CS), Inter System Handover Packet Switch
(ISHO PS).
SHO Success Rate
Parameter KPI ini dapat digunakan untuk mengevaluasi laju keberhasilan Soft Handover dalam suatu site yang berbeda, termasuk softer handover. Nilai SHO SR didapatkan dari nilai keberhasilan SHO dibagi dengan percobaan SHO yang ada dikalikan 100%, seperti pada persamaan (2.8)
(2.8)
ISHO CS
Parameter KPI ini dapat digunakan untuk mengevaluasi laju keberhasilan handover layanan circuit switch (CS) untuk 2 teknologi yang berbeda. Pada persamaan 2.9, keberhasilan inter system handover CS dibagi dengan percobaan inter system handover layanan CS dikalikan 100%.
(2.9)
ISHO PS
Parameter KPI ini dapat digunakan untuk mengevaluasi laju keberhasilan handover layanan packet switch (PS) untuk 2 teknologi
percobaan inter system handover layanan PS dikalikan 100%, seperti pada persamaan (2.10)