• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL KETERAMPILAN BERARGUMENTASI SISWA SMP: PERBANDINGAN PADA DUA MODEL PEMBELAJARAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROFIL KETERAMPILAN BERARGUMENTASI SISWA SMP: PERBANDINGAN PADA DUA MODEL PEMBELAJARAN"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PROFIL KETERAMPILAN BERARGUMENTASI SISWA SMP:

PERBANDINGAN PADA DUA MODEL PEMBELAJARAN

A. Defianti

1,2

, P. Sinaga

1

1 Program Magister Pendidikan IPA, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia

2 [email protected]

ABSTRAK

Salah satu keterampilan berpikir yang penting untuk dikembangkan adalah keterampilan berargumentasi. Keterampilan berargumentasi merupakan kemampuan mengkontekstualisasikan pengetahuan untuk membenarkan suatu keputusan. Melalui keterampilan berargumentasi, siswa mampu mengelaborasi dan merekonstruksi pengetahuan yang dimilikinya untuk membuat argumentasi dengan landasan ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai profil keterampilan berargumentasi siswa SMP yang memperoleh penerapan model pembelajaran pembangkit argumen menggunakan multiple

external representation dan model pembelajaran langsung menggunakan multiple external representation. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen semu dengan desain the Matching Only Pretest-Postest Control Group Design. Penelitian ini dilakukan di salah satu SMP di Kota

Bandung. Adapun profil keterampilan berargumentasi yang dianalisis berupa profil peningkatan skor secara keseluruhan dan profil berdasarkan struktur argumentasi Toulmin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil keterampilan berargumentasi siswa kelas eksperimen lebih baik daripada siswa kelas kontrol. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran pembangkit argumen menggunakan multiple external representation menghasilkan profil keterampilan berargumentasi yang lebih baik dibandingkan model pembelajaran langsung menggunakan multiple external representation.

Kata kunci: model pembelajaran pembangkit argumen, model pembelajaran langsung, multiple

external representation, keterampilan berargumentasi, struktur argumentasi Toulmin

PENDAHULUAN

Argumentasi merupakan komponen penting dalam komunikasi sosial sehari-hari terutama untuk meyakinkan orang lain agar menerima pendapat yang disampaikan. Dewasa ini, masyarakat semakin cerdas, argumentasi yang berisikan landasan ilmiah akan lebih mudah diterima. Sebagai bagian dari kaum terpelajar, siswa harus mampu menyampaikan argumentasi yang ilmiah. Siswa membutuhkan keterampilan berargumentasi untuk menyatakan pendapatnya mengenai suatu permasalahan dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pengetahuan yang diperolehnya selama mengikuti proses pembelajaran di sekolah.

Keterampilan berargumentasi merupakan kemampuan mengkontekstualisasi pengetahuan untuk

membenarkan suatu keputusan. Keterampilan

berargumentasi ditunjukan dengan kemampuan untuk menganalisis informasi, mengevaluasi bukti, dan menghasilkan serta menyajikan argumen dalam membuat keputusan (Foong dan Daniel, 2013). Melalui keterampilan berargumentasi, siswa dapat berperan secara aktif dalam diskusi dan mampu berbicara mengenai permasalahan yang mereka pahami. Siswa yang mampu berpikir kritis dan memberikan argumentasi dengan bahasa yang logis dan baik secara lisan maupun

tertulis, lebih mungkin untuk berperan aktif dalam pembahasan isu-isu ilmiah di masyarakat.

Saat ini, keterampilan berargumentasi telah dipandang sebagai tujuan pembelajaran IPA (Bricker dan Bell, 2008). Pembelajaran IPA harus menekankan keterampilan berargumentasi siswa. Siswa diharapkan dapat merumuskan pendapat mereka secara independen, kritis, rasional dan etis berdasarkan pengetahuan IPA yang mereka miliki (Christenson, Rundgren, dan Hoglund, 2012). Keterlibatan dalam berargumentasi merupakan bagian penting dalam pembelajaran IPA. Siswa harus belajar bagaimana menganalisis secara kritis informasi berbasis IPA. Gagasan pentingnya keterampilan berargumentasi siswa dilandasi oleh beberapa hal yakni (1) bahwa pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan siswa pada semua ranah (pengetahuan, sikap, dan keterampilan), (2) pendidikan juga bertujuan memfasilitasi siswa to achieve

understanding yang dapat diungkapkan secara verbal,

numerikal, kerangka pikir positivistik, kerangka pikir kehidupan berkelompok, dan kerangka kontemplasi spiritual (Muslim dan Suhandi, 2012), (3) melalui keterampilan berargumentasi, siswa mengkonstruksi pengetahuannya dengan membuat dan mengevaluasi

(2)

argumen berdasarkan aspek konsep, pengetahuan kognitif, epistemologi, dan sosial.

Kendati keterampilan berargumentasi penting bagi siswa, Kuhn (dalam Christenson, Rundgren, dan Zeidler, 2014) memberikan sebuah gagasan bahwa keterampilan berargumentasi telah dimiliki siswa secara alami, namun tidak dikembangkan pada kurikulum sekolah. Sekolah harusnya memastikan siswa memiliki kemampuan dalam merumuskan pendapat secara independen, empiris, rasional, dan kritis (Christenson, Rundgren, Hoglund, 2012; Venville dan Dawson, 2010a). Oleh karena itu, pembelajaran IPA di sekolah harus mengajarkan dan melatihkan keterampilan berargumentasi siswa.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai profil keterampilan berargumentasi siswa, baik sebelum pembelajaran maupun setelah pembelajaran. Profil keterampilan berargumentasi yang diteliti berupa profil peningkatan skor keseluruhan dan level argumentasi yang mampu dicapai oleh siswa SMP. Penelitian ini membandingkan profil keterampilan berargumentasi yang memperoleh model pembelajaran pembangkit argumen menggunakan multiple external

representation dan model pembelajaran langsung

menggunakan multple external representation. Kedua model pembelajaran tersebut dimodifikasi sedemikian rupa agar dapat membelajarkan keterampilan berargumentasi kepada siswa.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu dengan desain the Matching Only Pretest-Postest

Control Group Design (Fraenkel, Wallen, dan Hyun,

2012). Penelitian ini menggunakan dua kelas, kelas ekperimen diberi perlakuan berupa pembelajaran pembangkit argumen menggunakan multiple external

representation, sedangkan kelas kontrol diberi perlakuan

berupa pembelajaran langsung menggunakan multiple

external representation. Penelitian ini dilaksanakan di

salah satu SMP Negeri di Kota Bandung pada siswa kelas VIII, materi Sistem Gerak pada Manusia.

Data profil keterampilan berargumentasi yang dibahas dalam penelitian ini diambil dari tes keterampilan berargumentasi. Data tersebut terdiri dari peningkatan skor secara skor keseluruhan dan tiap level. Teknik analisis untuk data yang diperoleh dari hasil penelitian

guna mengetahui peningkatan keterampilan

berargumentasi secara skor keseluruhan adalah menggunakan rumus N-Gain yang dikemukakan oleh Hake (1999). Untuk menganalis profil keterampilan berargumentasi berdasarkan level argumentasi, digunakan strukur argumentasi Toulmin (Toulmin, 2003) dengan batas tiga kategori, yaitu claims (pernyataan),

data, dan warrants (pembenaran). Berdasarkan tiga

kategori tersebut, berikut pembagian level argumentasi.

Tabel 1. Level Argumentasi Berdasarkan Struktur

Argumentasi

Level Argumentasi Struktur Argumentasi

1 Adanya pernyataan

2 Adanya pernyataan dan data atau pernyataan dan pembenaran

3 Adanya pernyataan, data, dan

pembenaran

Jika dilihat dari Tabel 1, maka semakin kompleks struktur argumentasi yang dapat dibuat siswa, semakin tinggil level argumentasinya.

HASIL

Pembelajaran yang diterapkan pada kelas eksperimen adalah model pembelajaran pembangkit argumen menggunakan multiple external representation

(MER). Pembelajaran yang diterapkan pada kelas kontrol

adalah pembelajaran langsung menggunakan multiple

external representation. Pada kelas eksperimen, siswa

diajarkan keterampilan berargumentasi pada tahap membelajarkan konsep, keterampilan berargumentasi, dan identifikasi masalah, serta dilatihkan keterampilan berargumentasi pada tahap membuat argumen. Sedangkan pada kelas kontrol, siswa diajarkan

keterampilan berargumentasi pada tahap

mendemonstrasikan pengetahuan konsep dan

keterampilan berargumentasi.

Untuk mengetahui data awal keterampilan berargumentasi siswa, siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol diberikan tes awal menggunakan instrumen tes keterampilan berargumentasi yang terdiri dari 5 soal uraian. Sedangkan untuk data akhir keterampilan berargumentasi, siswa diberikan soal tes serupa setelah pembelajaran. Kemudian, berdasarkan data awal dan akhir, dilakukan perhitungan terhadap besar peningkatan keterampilan berargumentasi yang dapat dicapai siswa. Penilaian keterampilan berargumentasi dilakukan berdasarkan rubrik yang telah dibuat. Berikut diagram rata-rata skor tes awal, tes akhir, dan N Gain keterampilan berargumentasi.

Tabel 2. Profil Keterampilan Berargumentasi

Berdasarkan Perolehan Skor

Data Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

Tes Awal 0,08 0,06

Tes Akhir 0,48 0,24

N-Gain 0,44 0,19

Pada Tabel 2, dapat dilihat bahwa rata-rata skor tes awal dan tes akhir siswa kelas kontrol berturut-turut, 0,06 dan 0,24. Sedangkan rata-rata skor tes awal dan tes akhir siswa kelas eksperimen masing 0,08 dan 0,48. Nilai tersebut diperoleh dari rata-rata skor perolehan

(3)

berbanding skor maksimal. Adapun rata-rata peningkatan keterampilan berargumentasi (N-Gain) siswa kelas eksperimen sebesar 0,44 dan kelas kontrol sebesar 0,19. Nilai rata-rata peningkatan keterampilan berargumentasi kelas eksperimen terlihat hampir 3 kali lipat lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata peningkatan keterampilan berargumentasi kelas kontrol.

Berdasarkan hasil uji normalitas dan uji homogenitas, data peningkatan keterampilan berargumentasi siswa kelas kontrol berdistribusi normal, sedangkan kelas eksperimen tidak berdistribusi normal. Untuk itu, dapat dilakukan uji statistik non-parametrik perbedaan rata-rata dengan menggunakan uji

Mann-Whitney U untuk dua sampel yang independen. Dari

hasil uji tersebut, terdapat perbedaan yang signifikan antara peningkatan keterampilan berargumentasi siswa kelas eksperimen dengan siswa kelas kontrol.

Selain itu, jika dilihat dari interpretasi nilai N-Gain, peningkatan keterampilan berargumentasi siswa kelas eksperimen berkategori sedang. Sedangkan peningkatan keterampilan berargumentasi siswa kelas kontrol berkategori rendah. Interpretasi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan keterampilan berargumentasi siswa kelas eksperimen lebih baik daripada peningkatan keterampilan berargumentasi siswa kelas kontrol. Tidak hanya berbeda dalam peningkatan secara skor keseluruhan, profil keterampilan berargumentasi siswa kedua kelas juga berbeda berdasarkan level argumentasinya. Berikut tabel perbandingan jumlah siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol yang memiliki keterampilan berargumentasi level 1, 2, dan 3 berdasarkan tes akhir.

Tabel 3. Perbandingan Level Argumentasi Siswa

Data Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

Level 1 Level 2 Level 3 Level 1 Level 2 Level 3

Tes

Awal 28,18% 5,45% 0% 24,54% 0% 0%

Tes

Akhir 35,45% 38,18% 25,45% 45,45% 19,09% 5,45% Berdasarkan tabel tersebut, terlihat bahwa pada tes awal sekitar 28,18% siswa kelas eksperimen dan 24,54% siswa kelas kontrol telah memiliki keterampilan berargumentasi level 1, yakni mampu membuat pernyataan. Tidak hanya itu, ada 5,45% siswa kelas eksperimen yang telah mampu membuat pernyataan dan data atau pembenaran, keterampilan berargumentasi level 2. Pada tabel 3 juga terlihat bahwa setelah dilakukan pembelajaran untuk masing-masing kelas, level argumentasi siswa meningkat. Sekitar 45,45% siswa kelas kontrol memiliki keterampilan berargumentasi level 1, sedangkan kelas eskperimen memiliki sekitar 35,45% siswa dengan keterampilan berargumentasi level 1. Hal

ini dikarenakan siswa kelas eksperimen lebih banyak yang memiliki keterampilan berargumentasi level 2 dan level 3, yakni 38,18% dan 25,45%. Sedangkan level 2 dan 3 pada kelas kontrol hanya sekitar 19,09% dan 5,45%. Siswa dikatakan memiliki keterampilan berargumentasi level 2 dan 3 apabila siswa mampu membuat data dan pembenaran yang relevan (ilmiah) dalam upaya menjelaskan pernyataan yang telah dibuat. Data dan pembenaran yang relevan mendapatkan skor maksimal 3 dan minimal 1. Sedangkan data dan pembenaran yang tidak relevan mendapatkan skor 0. Berdasarkan hasil tes akhir tersebut, dapat disimpulkan bahwa jumlah siswa kelas eksperimen yang mampu membuat lebih dari dua struktur argumentasi, yakni pernyataan dan data (level 2), pernyataan dan pembenaran (level 2), serta pernyataan, data, dan pembenaran (level 3) lebih banyak daripada siswa kelas kontrol.

PEMBAHASAN

Pada bagian hasil peneltitian, telah dipaparkan profil keterampilan berargumentasi siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berdasarkan hasil uji statistik perbedaan rata-rata, profil awal keterampilan berargumentasi siswa yang diperoleh dari tes awal, menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan di antara kedua kelas. Baik pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol, terdapat siswa yang telah memiliki keterampilan berargumentasi level 1. Hal ini sesuai dengan pendapat Kuhn (dalam Christenson, Rundgren, dan Zeidler, 2014) bahwa siswa secara alami telah memiliki keterampilan berargumentasi, akan tetapi tidak dikembangkan dalam kurikulum sekolah. Venville dan Dawson (2010a) juga menyatakan bahwa kegiatan pembelajaran IPA sebagian besar didominasi oleh guru (teacher centered) dan guru tidak memiliki keterampilan dalam mengajarkan siswa untuk berargumentasi.

Penelitian Driver, dkk. tahun 2000 sebagaimana yang dirangkum oleh Venville dan Dawson (2010b), penelitian tersebut membuktikan bahwa komponen utama pembelajaran IPA yang akan membantu siswa membuat keputusan untuk saat ini dan masa depan adalah proses argumentasi. Sekolah perlu mempersiapkan generasi muda dengan pemahaman, keterampilan dan nilai-nilai yang dibutuhkan untuk menghadapi masalah

sosial-ilmiah. Generasi muda harus mampu

mempertimbangkan risiko dan manfaat dari solusi alternatif yang ditawarkan, mengajukan pertanyaan, mengevaluasi dan mengkonter bukti sehingga mampu membuat keputusan dengan baik. Oleh karena itu, pembelajaran IPA perlu mengembangkan keterampilan berargumentasi siswa.

(4)

Pada penelitian ini, pembelajaran IPA yang diteliti adalah pembelajaran dengan model pembangkit argumen menggunakan multiple external representation pada kelas eksperimen dan model langsung menggunakan multiple

external representation pada kelas kontrol. Penggunaan multiple external representation berbasis komputer

membantu siswa memahami konsep-konsep yang abstrak dengan lebih baik, dengan cara memberi representasi yang mirip kondisi objek sebenarnya. Multiple external

representation berbasis komputer juga dapat menyajikan

suatu permasalahan untuk diselesaikan oleh siswa yang disertai dengan lembar kerja siswa (LKS) sebagai pedoman pengerjaan.

Berdasarkan hasil penelitian yang terlihat pada tabel 2 dan tabel 3 serta uji statistik perbedaan rata-rata data akhir dan data peningkatan keterampilan berargumentasi, disimpulkan bahwa terdapat perbedaan profil keterampilan berargumentasi yang diperoleh siswa kelas eksperimen dan siswa kelas kontrol. Siswa kelas eksperimen memiliki profil keterampilan berargumentasi yang lebih baik daripada siswa kelas kontrol. Profil keterampilan berargumentasi siswa kelas eksperimen menunjukkan hasil yang lebih baik karena adanya pelatihan keterampilan berargumentasi pada kelas tersebut. Siswa kelas eksperimen melakukan kegiatan kelompok dengan menjawab soal-soal keterampilan berargumentasi sesuai dengan multiple external representation yang digunakan untuk menyajikan suatu

permasalahan. Siswa diberi kesempatan untuk berdiskusi kelompok dan menampilkan argumentasinya di depan kelas sebagai bahan diskusi dan contoh bagi siswa lain. Siswa juga menuliskan kembali argumentasi mengenai permasalahan secara individu. Sedangkan siswa kelas kontrol hanya diajarkan keterampilan berargumentasi, namun tidak dilatihkan. Siswa diberikan contoh-contoh yang ditampilkan menggunakan multiple external

representation dalam bentuk Microsoft Power Point.

Oleh karena itu, siswa kelas eksperimen menjadi lebih terampil dalam membuat argumentasi daripada siswa kelas kontrol.

Menurut Zohar dan Nemet (2002), pembelajaran yang melatihkan keterampilan berargumentasi secara khusus dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan keterampilan berargumentasi siswa. Dengan melatih siswa untuk terampil berargumentasi, guru secara tidak langsung turut meningkatkan kemampuan kognitif siswa. Hal tersebut dikarenakan untuk membuat alasan-alasan ilmiah yang mendukung pernyataan yang dibuat, siswa menggunakan kemampuan kognitifnya untuk mengingat,

memahami, menerapkan, dan menganalisis

permasalahan. Semakin baik kemampuan kognitif siswa, siswa dapat membuat argumentasi dengan struktur yang lebih kompleks sehingga skor dan level argumentasi

menjadi lebih tinggi. Oleh sebab itu, Sampson dan

Grooms (2010) berpendapat untuk dapat

mengembangkan keterampilan berargumentasi siswa, perlu dikembangkan model pembelajaran yang tepat. Venville dan Dawson (2010) juga menyatakan hal serupa, yakni guru harus mampu mengembangkan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan berargumentasi siswa. Pembelajaran pembangkit argumen menggunakan multiple external

representation merupakan salah satu model pembelajaran

yang dapat diterapkan guru untuk mengajarkan dan melatihkan keterampilan berargumentasi siswa.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa profil keterampilan berargumentasi berupa peningkatan skor secara keseluruhan dan level argumentasi siswa pada model pembelajaran pembangkit argumen menggunakan

multiple external representation lebih baik daripada

model pembelajaran langsung dengan menggunakan

multiple external representation. Adapun saran yang

dapat diberikan adalah siswa perlu diajarkan dan dilatih lebih intens tentang bagaimana berargumentasi, membuat pernyataan, data yang mendukung pernyataan, dan pembenaran yang menghubungkan pernyataan dan data berdasarkan pengetahuan ilmiah yang dimilikinya, dikarenakan dalam penelitian ini masih ada siswa yang memberikan data dan pembenaran yang tidak relevan (tidak ilmiah) untuk menjelaskan pernyataannya

DAFTAR PUSTAKA

Bricker, L.A. dan P. Bell. (2008). Conceptualizations of argumentation from science studies and the learning sciences and their implications for the practices of science education. Science Education, 92, hlm.473-498.

Christenson, N., Rundgren, S.N.C., dan Höglund, H.O. (2012). Using the see-sep model to analyze upper secondary students’ use of supporting reason in arguing sosioscientific issues. Journal Science

Education Technology, 21, hlm. 342-352.

Christenson, N., Rundgren, S.N.C., dan Zeidler, D.L. (2014). The relationship of discipline backgorund to upper secondary student’s argumentation on socioscientific issues. Research in Science Education, Published online.

Fraenkel, J.R., Wallen, N.E., dan Hyun, H.H. 2012. How

to Design and Evaluate Research in Educa\tion.

New York : MCGraw-Hill.

Foong, C.C., dan Daniel, Ester G.S. (2013). Student’s argumentation skills across two socio-scientific issues in a confucian classroom: is transfer

(5)

possible?. International Journal of Science Education, 35 (14), hlm. 2331-2355.

Hake, R.R. (1999). Interactive-engagement vs traditional methods: A six thousand student survey of mechanic test data for introductory physics courses.

American Journal of Physics, 66 (1), hlm. 64-74.

Muslim dan A.Suhandi. (2012). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Fisika Sekolah untuk

Meningkatkan Pemahaman Konsep dan

Keterampilan Berargumentasi Calon Guru Fisika.

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 8,

hlm.174-183.

Sampson, V. dan Grooms, J. (2010). Promoting and supporting scientific argumentation outside the lab : Generate an argument instructional model. The

Science Teacher, hlm. 32-37.

Toulmin, S. (2003). The Uses of Argument. New York: Cambridge University Press.

Venville, G.J dan Dawson, V.M. (2010a). The impact of classroom intervention on grade 10 students’ argumentation skills, informal reasoning, and conceptual understanding of science. Journal of

Research in Science Teaching, 47.(8), hlm.

952-977.

Venville, G.J dan Dawson, V.M. (2010b). Teaching Strategies for Developing Students’ Argumentation Skills About Socio-scientific Issues in High School Genetics. Research in Science Education, vol. 42, pp. 133-148.

Zohar, A., dan Nemet, F. (2002). Fostering students’ knowledge and argumentation skills through dilemmas in human genetics. Journal of Research in

Gambar

Tabel 1.  Level  Argumentasi  Berdasarkan  Struktur  Argumentasi
Tabel 3.  Perbandingan Level Argumentasi Siswa

Referensi

Dokumen terkait

• Mengetahui & memahami konsep PowerPoint • Mengetahui & memahami konsep Tata Letak. • Memahami & mengaplikasikan Background [ DESIGN ] • Memahami &

a) Kegiatan pendahuluan dimulai guru dengan mengondisikan kesiapan belajar siswa, melakukan kegiatan rutin, seperti berdoa bersama, absensi, menanyakan kondisi

Sahabat MQ/ Kinerja Komisi Pemilihan Umum yang dinilai semrawut dalam penyelenggaraan Pileg dan Pilpres 2009/ mendorong sejumlah partai politik untuk mempercepat masa

Penerapan Model Sains Teknologi Masyarakat Untuk Mengembangkan Kreativitas Siswa Pada Pembelajaran.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Sahabat MQ/ Majelis Mujahidin meminta polisi tidak asal mencurigai orang/ bercadar/ berjenggot/ bersorban atau bercelana komprang// Sebab hal tersebut/ justru akan

The research of uranium sorption by zeolite Alumino Silico Phosphate (ASP) and selected of best waste loading for immobilisation of saturated zeolite uranium used resin epoxy

nen, die Zwischenprüfung nach der Studien- und Prüfungsordnung vom 29. 41/2008) bestanden haben, und an der Rechtswissenschaftlichen Fakultät zu Köln noch nicht zum

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT INTELEGENSI DENGAN KEMAMPUAN BELAJAR GERAK SISWA DI SMP HANDAYANI