• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ripitabilitas dan MPPA Sapi Perah FH di BBPTU HPT Baturraden...Deriany Novienara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Ripitabilitas dan MPPA Sapi Perah FH di BBPTU HPT Baturraden...Deriany Novienara"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 1

RIPITABILITAS DAN MPPA PRODUKSI SUSU 305 HARI SAPI PERAH

FRIESIAN HOLSTEIN (FH) YANG DIHASILKAN DARI

KETURUNAN PEJANTAN IMPOR DI BBPTU HPT BATURRADEN

REPEATABILITY AND MPPA 305 DAYS MILK YIELD ON CATTLE

FRIESIAN HOLSTEIN (FH) COWS RESULTED FROM

IMPORTED SIRES IN BBPTU HPT BATURRADEN

Deriany Novienara*, Asep Anang**, dan Heni Indrijani**

Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran

*Alumni Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Tahun 2015 **Staff Pengajar Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran

Email : [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan di Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul Hijauan Pakan Ternak Baturraden, Purwokerto pada tanggal 10 – 24 Mei 2015. Penelitian bertujuan mengetahui nilai ripitabilitas dan MPPA produksi susu 305 hari periode laktasi satu sampai tiga yang dihasilkan dari keturunan pejantan impor. Bahan penelitian ini adalah catatan produksi susu pagi, malam, dan total dari 20 ekor sapi laktasi periode laktasi satu sampai tiga yang diperoleh dari tahun 2008 hingga tahun 2015. Nilai ripitabilitas diduga dengan menggunakan analisis ragam. Hasil analisis menunjukan bahwa dugaan nilai ripitabilitas untuk produksi susu pagi adalah 0,38, untuk produksi susu malam adalah 0,39, dan untuk produksi susu total adalah 0,40. Nilai tersebut termasuk ke dalam kategori sedang. Dugaan nilai MPPA untuk produksi susu pagi adalah -928,5 hingga +959,36, untuk produksi malam adalah -809,37 hingga +838,21, dan untuk produksi susu total adalah -1783,03 hingga +1844,14. Nilai korelasi nilai MPPA pada produksi susu pagi, malam dan total cukup tinggi yaitu 0,97 untuk produksi susu pagi dengan produksi susu malam, 0,99 untuk produksi susu pagi dengan produksi susu total, dan 0,99 untuk produksi susu malam dengan produksi susu total.

Kata kunci : Sapi Perah Friesian Holstein, Ripitabilitas, MPPA, Produksi Susu

ABSTRACT

This research was conducted in BBPTU HPT Baturraden, Purwokerto from May 10th to 24th 2015. This study was aimed to estimate repeatability and MPPA of 305 day milk yield at first to third lactation resulted from imported sires at BBPTU HPT Baturraden. The data were collected from morning, evening, and the total of 20 lactating from 2008 until 2015. Repeatability was estimated using by using analisis of variance. The results showed that the estimates of repeatability were 0,38; 0,39; and 0,40 for in the morning, evening, and total milk yields, respectively. These values were categorised of moderate. MPPA values ranged from -928,5 to +959,36; -809,37 to +838,21; and -1783,03 to +1844,14 for morning, evening, and total yield, respectively. Correlations of MPPA among morning, night and total milk yield were

(2)

Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 2 considerably high, which were 0,97 for morning with night milk yield, 0,99 for morning with total milk yield, and 0,99 for night with total milk yield.

Keywords : Friesian Holstein, Repeatbility, MPPA, Milk Yield

PENDAHULUAN

Produksi susu di Indonesia masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat. Hal ini dapat disebabkan oleh rendahnya produksi susu sapi perah di Indonesia. Kemampuan sapi untuk memproduksi susu dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan faktor genetik. Faktor lingkungan antara lain musim, iklim dan cuaca, suhu, kelembaban, manajemen pakan, dan manajemen pemeliharaan. Sedangkan faktor genetik berasal dari sifat yang dimiliki oleh induk yang diwariskan kepada turunannya.

Indonesia masih perlu mengimpor pejantan FH unggul sebagai sumber materi perbaikan genetik, untuk dipakai semen bekunya pada perkawinan inseminasi buatan (IB). Hal ini dilakukan untuk meningkatkan produksi susu sapi perah di dalam negeri. Evaluasi produksi susu diperlukan untuk mengetahui keefektifitasan penggunaan pejantan impor. Evaluasi produksi susu didasarkan dengan parameter genetik diantaranya yaitu ripitabilitas dan daya produksi susu (Most Probable Producing Ability/MPPA).

Indonesia masih perlu mengimpor pejantan FH unggul dari berbagai negara dalam bentuk semen beku yang digunakan untuk IB. Hal ini bertujuan sebagai sumber materi perbaikan genetik untuk meningkatkan produksi susu sapi perah di dalam negeri. Sapi jantan tidak dapat mengekspresikan produksi susu secara langsung. Perlu adanya uji lanjut untuk mengetahui potensi genetiknya, yaitu melalui estimasi uji progeni dengan membandingkan rataan produksi susu keturunannya terhadap sapi betina keturunan pejantan lain. Kajian evaluasi produksi susu diperlukan untuk mengetahui sejauh mana efektivitas penggunaan pejantan FH impor. Evaluasi produksi susu didasarkan dengan parameter genetik, diantaranya yaitu ripitabilitas dan MPPA.

Setiap hasil pengamatan pada produksi merupakan gabungan antara faktor genetik dan lingkungan. Pengamatan yang dilakukan secara berulang akan menghasilkan perbedaan, seperti pengamatan pertama akan berbeda dengan hasil pengamatan kedua begitu pun yang ketiga dan seterusnya. Ripitabilitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara produksi pertama dengan berikutnya pada satu individu. Ripitabilitas merupakan bagian ragam total suatu populasi yang disebabkan oleh perbedaan-perbedaan antar individu yang bersifat permanen. Ripitabilitas meliputi semua pengaruh genetik ditambah pengaruh lingkungan yang bersifat permanen. Lingkungan yang bersifat permanen adalah semua pengaruh faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi performa individu dalam waktu yang relatif lama.

Nilai ripitabilitas adalah 0-1, semakin mendekati angka 1 semakin menunjukkan bahwa ternak tersebut akan mengulangi prestasi produksinya saat ini, di masa yang akan datang. Ripitabilitas digunakan untuk mempelajari bagian ragam total suatu sifat pada suatu populasi yang disebabkan oleh keragaman antar individu yang bersifat permanen pada periode produksi

(3)

Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 3 yang berbeda. Berdasarkan hasil dari beberapa penelitian, besarnya nilai ripitabilitas produksi susu untuk sapi perah tidaklah sama, biasanya berkisar antara 0,4-0,6 (Kurnianto, 2010; Hardjosubroto, 1994). Nilai ripitabilitas dapat digunakan untuk mengestimasi nilai MPPA.

MPPA (Most Probable Producing Ability) merupakan suatu pendugaan kemampuan berproduksinya seekor hewan betina yang diperhitungkan atas dasar data performa tiap-tiap individu. Nilai MPPA digunakan untuk menyeleksi ternak betina berdasarkan urutan yang ada, sehingga pemilihan ternak untuk bibit merupakan ternak yang secara individu memiliki nilai yang paling baik.

Nilai MPPA sering digunakan dalam seleksi sapi perah. Hal ini disebabkan status laktasi dari sekelompok sapi perah yang akan di seleksi biasanya tidak seragam, sehingga perlu dikoreksi berdasarkan jumlah data yang ada (Hardjosubroto, 1994).

BAHAN DAN METODE 1. Objek Penelitian

Objek penelitan ini menggunakan catatan produksi susu 305 hari dari ternak sapi perah yang terdapat di BBPTU HPT Baturraden. Sapi yang digunakan pada penelitian ini adalah sapi betina keturunan pejantan impor yang memiliki catatan produksi susu lengkap dari laktasi 1-3 dari tahun 2008 – 2015 dengan masing-masing catatan per laktasi adalah 20 catatan yang berasal dari 20 ekor sapi.

2. Alat Penelitian

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis, Software Ms.Excel dan SAS 9.0

3. Metode Penelitian (1) Pengumpulan Data

Data yang diambil adalah data produksi susu harian yang terdapat di BBPTU HPT Baturraden pada tahun 2008-2015.

(2) Tabulasi Data

Data ditabulasi dalam bentuk tabel yang terdiri dari nomor identitas ternak, tanggal lahir, tanggal melahirkan, tanggal kering, catatan produksi susu harian, lama laktasi, dan total produksi susu

(3) Screening Data

Data yang telah dikumpulkan kemudian disortir sehingga diperoleh data produksi susu 305 hari. Data yang tidak diikutsertakan dalam analisis adalah catatan produksi susu yang tidak lengkap dari laktasi 1 hingga 3, panjang laktasi kurang dari 60 hari dan lebih dari 365 hari, serta silsilah ternak yang bukan dari semen impor.

(4)

Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 4 Deksripsi data terhadap nilai minimum, maksimum, rata – rata, standar deviasi dan koefisien variasi produksi susu.

(5) Analisis Data

Analisis data yang telah dilakukan adalah menghitung nilai ripitabilitas dan daya produksi susu atau Most Probable Producing Ability (MPPA).

4. Analisis Statistik

Pengolahan data dilakukan dengan menganalisis data menggunakan analisis statistika deskriptif terhadapevaluasi produksi susu harian adalah sebagai berikut :

(1) Standardisasi Produksi Susu 305 Hari (Produksi Susu Terkoreksi)

Standarisasi produksi susu 305 hari dihitung dengan menggunakan faktor koreksi dari persamaan regresi dengan model Vapor Pressure:

𝑦 = 𝑒

𝑎+ 𝑏𝑥+𝑐 ln 𝑥

Keterangan:

y : Faktor koreksi

a,b,c : Koefisien persamaan Vapor Pressure x : Lama laktasi

e : Bilangan eksponen 2,718

Koefisien persamaan regreasi Vapor Pressure untuk menduga faktor koreksi dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 1. Koefisien pada Persamaan Vapor Pressure, Se (standar error), dan r (korelasi) pada Berbagai Periode Laktasi.

Laktasi Koefisien A B C Se R 1 2 3 3,489 3,229 3,653 27,055 29,892 22,605 -0,626 -0,582 -0,652 0,00377 0,00397 0,00314 0,99998 0,99998 0,99998 Sumber : Anang dan Indrijani, (2012).

Kemudian dilakukan pengkoreksian dengan rumus sebagai berikut: Produksi susu terkoreksi = Produksi susu total x Faktor Koreksi

(5)

Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 5 𝑥̅ =∑ 𝑋𝑖 𝑁 𝑖=1 𝑛 Keterangan : 𝑥̅ = Rata-rata ∑𝑁𝑖=1𝑋𝑖 = Jumlah data x ke i n = Jumlah data (3) Minimal

Nilai terendah dari peubah yang diamati (4) Maksimal

Nilai tertinggi dari peubah yang diamati (5) Simpangan Baku atau Standar Deviasi

Simpangan baku adalah akar dari ragam. Ragam merupakan jumlah kuadrat semua deviasi nilai-nilai individu terhadap rata-rata populasi, rumusnya adalah :

𝑠 = √∑ (𝑋𝑖 − 𝑥̅) 𝑁 𝑖=1 𝑛 − 1 Keterangan : s = Simpangan baku ∑𝑁𝑖=1𝑋𝑖 = Jumlah data x ke i 𝑥̅ = Rata-rata n = Jumlah data (6) Koefisien Variasi 𝐾𝑉 = 𝑠 𝑥̅ 𝑥 100% Keterangan : KV = Koefisien Variasi Ss = Standar deviasi 𝑥̅ = Rata-rata (7) Ripitabilitas

Data produksi susu sapi di BBPTU HPT Baturraden memiliki lebih dari dua catatan, oleh karena itu analisis yang digunakan adalah korelasi dalam kelas (intraclass correlation) dengan model statistik sebagai berikut :

(6)

Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 6 Keterangan :

Yij = nilai pengukuran ke-i individu ke-j μ = rata-rata populasi

αi = pengaruh individu ke-j

εij = pengaruh lingkungan yang tidak terkontrol Tabel 2. Daftar Sidik Ragam

Sumber Ragam Db JK KT Komponen KT

Antar-individu N – 1 JKW KTW 𝜎𝐸2 + 𝑘 𝜎𝑤2

Antar-pengukuran m - N JKE KTE 𝜎𝐸2

Keterangan:

N = banyaknya individu

m = banyaknya total pengukuran k = 1

𝑚−1(𝑚 − ∑ 𝑚𝑘2

𝑚 )

𝜎𝑤2 = komponen ragam antar individu

𝜎𝐸2 = komponen ragam pengukuran dalam individu Perhitungan ripitabilitas (r) diduga sebagai berikut :

𝑟 = 𝜎𝑤 2 𝜎𝑤2 + 𝜎

𝐸2 Keterangan :

𝜎𝑤2 = komponen ragam antar individu

𝜎𝐸2 = komponen ragam pengukuran dalam individu

Standar error dari ripitabilitas diduga dengan menggunakan rumus :

𝑆𝑒(𝑟) = √2(1 − 𝑟)

2[1 + (𝑘 − 1)𝑟] 𝑘(𝑘 − 1)(𝑛 − 1) (8) Most Probable Producing Ability (MPPA)

𝑀𝑃𝑃𝐴 = 𝑛𝑟

1 + (𝑛 − 1)𝑟 (𝑃 − 𝑃̅) Keterangan :

MPPA : Daya Produksi Susu n : jumlah catatan r : nilai ripitabilitas

P : rata-rata produksi individu sapi yang diukur 𝑃̅ : rata-rata produksi populasi

(7)

Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 7 HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Keadaan Umum BBPTU HPT Baturraden

Penelitian ini dilaksanakan di Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul Hijauan Pakan Ternak (BBPTU HPT) Baturraden. BBPTU HPT Baturraden merupakan pusat pembibitan dan penyediaan hijauan pakan ternak sapi perah di bawah Direktorat Jenderal Peternakan yang bergerak dalam bidang pemeliharaan, produksi, pengembangan, penyebaran, dan pemasaran ternak unggul serta produksi dan distribusi benih dan bibit hijauan pakan ternak berdasarkan SK Mentan RI No. 55/Permentan/OT.140/5/2013.

BBPTU HPT Baturraden pertama kali diresmikan pada tanggal 22 Juli 1953 oleh wakil presiden Mohamad Hatta dengan nama Induk Taman Ternak Baturraden. BBPTU HPT Baturraden terletak di lereng Gunung Slamet sekitar 15 kilometer dari pusat kota Purwokerto, Jawa Tengah, dengan ketinggian 600-800 meter di atas permukaan laut. Temperatur berkisar antara 18-30oC dengan kelembaban berkisar antara 70-80% dan curah hujan berkisar antara 3000-3500 milimeter per tahun. Kondisi tersebut masih cocok untuk produksi susu, karena sapi masih berada di tahap stress ringan, bila melebihi suhu dan atau kelembaban tersebut, ternak akan melakukan penyesuaian secara fisiologis dan secara tingkah laku (A. Yani dan B.P. Purwanto, 2005). Jumlah populasi di BBPTU HPT Baturraden adalah 1204 ekor dengan jumlah sapi betina produktif sebanyak 590 ekor, pejantan 3 ekor, sapi betina muda 407 ekor, dan pejantan muda 204 ekor BBPTU HPT Baturraden memiliki lahan seluas 241,6 hektar yang terbagi 4 lokasi, yaitu Farm Tegalsari seluas 34,18 hektar, Farm Limpakuwus seluas 96,79 hektar, Farm Manggala seluas 100 hektar, dan Farm Munggangsari seluas 10,00 hektar.

2. Produksi Susu

Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari data produksi susu sapi perah FH pagi, malam, dan total periode laktasi 1, 2, dan 3 dari tahun 2008-2015. Data yang dikumpulkan meliputi data identitas ternak, tanggal beranak, tanggal pencatatan produksi, periode laktasi, panjang laktasi dan jumlah produksi susu. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 20 ekor. Hal ini dikarenakan populasi terbanyak di BBPTU HPT Baturraden adalah sapi perah yang memiliki periode laktasi kurang dari 3, sapi yang sedang kering kandang, sapi dara, dan pedet. Data yang didapatkan tersebut kemudian dianalisis untuk mendapatkan deskripsi data. Deskripsi data pemerahan pagi, malam, dan total pada periode laktasi 1, 2, dan 3 dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Deskripsi Data Produksi Susu Periode Laktasi ke-1 hingga ke-3 pada Pemerahan Pagi, Malam, dan Total.

Laktasi Jumlah Sapi

(ekor) Waktu Pemerahan

Rata-rata (kg) KV (%) 1 20 Pagi 2028,3 16,5 Malam 1771,4 14,6

(8)

Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 8 Total 3799,7 14,9 2 20 Pagi 2336,8 28,2 Malam 1947,5 28,5 Total 4284,3 28,0 3 20 Pagi 2182,0 32,6 Malam 1737,2 30,9 Total 3919,3 31,8

Berdasarkan Tabel 3, dapat dilihat bahwa rata-rata produksi susu total pada laktasi 1 adalah 3799,7 liter, sedangkan pada laktasi 2 adalah 4284,3 liter, dan pada laktasi 3 adalah 3919,3 liter. Hal ini menunjukan adanya peningkatan produksi susu dari laktasi 1 ke laktasi 2 dan kemudian menurun pada laktasi 3. Nilai koefisien variasi cukup besar, hal ini menandakan bahwa dalam populasi tersebut variasinya cukup tinggi sehingga efektif untuk dilakukan seleksi.

Nilai rataan produksi susu total di BBPTU HPT Baturraden lebih tinggi apabila dibandingkan dengan nilai rataan produksi susu di PT. Cijanggel, Cisarua yaitu 3810 kg pada laktasi 1, 3703 kg pada laktasi 2, dan 3861 kg pada laktasi 3 (Nanik Rahmani, dkk., 2000). Nilai rataan produksi susu total di BBPTU HPT Baturraden juga lebih tinggi bila dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan di Kabupaten Bandung yaitu 2919,04 kg pada laktasi 1, 2934,29 kg pada laktasi 2, dan 2969,83 kg pada laktasi 3 (Suherman, 2007). Hal ini menunjukkan bahwa manajemen pakan dan pemeliharaan sapi perah di BBPTU HPT lebih baik dibandingkan dengan perusahaan tersebut. Namun, angka ini lebih rendah apabila dibandingkan dengan hasil penelitian Atabany, dkk (2011) yang menyatakan bahwa rataan produksi susu di BBPTU HPT Baturraden pada tahun 2009 sebesar 4718,53 kg pada laktasi 1; 4891,84 kg pada laktasi 2; dan 4661,79 kg pada laktasi 3. Perbedaan angka ini dapat terjadi karena banyak faktor yang mempengaruhi, misalnya manajemen pemeliharaan dan atau manajemen pakan yang dilakukan tidak sama karena pada waktu penelitian yang berbeda.

3. Ripitabilitas

Pendugaan ragam antar individu dan ragam pengukuran dalam individu dianalisis

menggunakan software SAS 9.0. Setelah dilakukan perhitungan maka diperoleh nilai ripitabilitas seperti yang disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Dugaan Nilai Ripitabilitas Produksi Susu Pagi, Malam, dan Total di BBPTU HPT Baturraden.

Catatan produksi susu Ripitabilitas ± standar error

Pagi 0,38 ± 0,01

Malam 0,39 ± 0,01

(9)

Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 9 Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bahwa dugaan nilai ripitabilitas produksi pagi adalah 0,38, sedangkan pada produksi malam adalah 0,39 dan pada produksi total adalah 0,40. Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa dugaan nilai ripitabilitas BBPTU HPT Baturraden termasuk ke dalam kategori sedang. Sesuai dengan pernyataan Noor (2010), bahwa dugaan nilai ripitabilitas terbagi ke dalam 3 kategori, yaitu : 0,0-0,2 (rendah); 0,2-0,4 (sedang); dan > 0,4 (tinggi). Angka ini lebih tinggi apabila dibandingkan dengan penelitian Feby Aditya, dkk (2014), yaitu 0,29. Peningkatan nilai ripitabilitas diduga disebabkan oleh tingginya keragaman genetik dan keragaman lingkungan permanen sehingga menutupi keragaman lingkungan temporer (Feby Aditya dkk, 2015). Nilai ripitabilitas yang tinggi menunjukkan bahwa kemampuan ternak untuk dapat mengulangi sifat produksi susu pada periode laktasi selanjutnya juga akan tinggi. Sebaliknya, nilai ripitabilitas yang rendah menunjukkan bahwa kemampuan ternak untuk dapat mengulangi sifat produksi susu pada periode selanjutnya juga akan rendah. Dengan kata lain, apabila suatu ternak memiliki produksi susu rendah namun nilai ripitabilitasnya tinggi, maka dapat diperkirakan bahwa sapi perah tersebut akan berproduksi susu rendah di masa produksi yang akan datang.

4. Pendugaan Daya Produksi Susu (MPPA)

Pendugaan daya produksi susu (MPPA) dapat dilakukan setelah menghitung nilai ripitabilitas. Perhitungan MPPA dilakukan menggunakan Microsoft Office Excel. Tabel hasil pendugaan nilai MPPA dapat dilihat di Tabel 5.

Tabel 5. Hasil Pendugaan Nilai MPPA pada Produksi Susu Pagi, Malam, dan Total

No Pagi Malam Total

ID MPPA ID MPPA ID MPPA

1 0412-08 959,36 0412-08 838,21 0412-08 1844,14 2 0402-08 764,23 0402-08 602,60 0402-08 1403,00 3 0420-08 583,58 1773-06 491,46 0513-09 997,05 4 0509-09 553,55 0513-09 432,20 0509-09 971,23 5 0513-09 539,19 0509-09 392,08 0420-08 878,29 6 0517-09 386,57 0420-08 269,85 1773-06 820,95 7 1773-06 311,21 0294-07 210,98 0517-09 566,82 8 0294-07 213,15 0277-07 209,30 0294-07 434,87 9 0329-07 114,38 0517-09 163,95 0277-07 323,50 10 0277-07 107,34 0329-07 64,32 0329-07 183,77 11 0404-08 -4,34 0404-08 -62,79 0404-08 -68,17 12 0390-08 -184,09 0390-08 -169,33 0390-08 -362,46 13 0544-09 -345,11 0319-07 -263,16 0319-07 -668,19 14 0319-07 -387,33 0411-08 -292,05 0411-08 -733,06 15 0411-08 -421,61 0274-07 -350,65 0544-09 -762,11 16 0502-09 -479,38 0396-08 -392,61 0274-07 -884,61

(10)

Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 10 17 0274-07 -510,57 0544-09 -398,80 0502-09 -975,82

18 0396-08 -623,21 0344-07 -463,84 0396-08 -1043,91 19 0344-07 -648,43 0502-09 -472,35 0344-07 -1142,26 20 1936-09 -928,50 1936-09 -809,37 1936-09 -1783,03

Hasil analisis nilai MPPA menunjukkan hasil bahwa daya produksi susu antar indidu bervariasi satu sama lain dengan kisaran -928,5 hingga +959,36 pada produksi susu pagi, -809,37 hingga +838,21 pada produksi susu malam, dan -1783,03 hingga +1844,14 pada produksi susu total. Apabila seekor ternak memiliki nilai MPPA (-) artinya ternak tersebut memiliki kemampuan berproduksi lebih rendah dibandingkan dengan rataan produksi populasi. Sebaliknya, apabila nilai MPPA (+) artinya ternak tersebut memiliki kemampuan berproduksi lebih tinggi dibandingkan dengan rataan produksi populasi. Contohnya, apabila seekor sapi perah betina memiliki nilai MPPA produksi susu sebesar -1783,03 maka hal ini berarti produksi susu sapi tersebut lebih rendah 1783,03 kg dari rata-rata produksi susu populasi. Sebaliknya, apabila seekor sapi perah betina memiliki nilai MPPA produksi susu sebesar +1844,14 maka hal ini berarti produksi susu sapi tersebut lebih tinggi 1844,14 kg dari rata-rata produksi susu populasi. Sepuluh ekor sapi yang memiliki nilai MPPA tertinggi disajikan dalam Tabel 6.

Tabel 6. Sepuluh Ekor Sapi Perah yang Mempunyai Daya Produksi Susu Tertinggi pada Produksi Susu Pagi, Malam, dan Total di BBPTU HPT Baturraden

No. Pagi Malam Total

ID MPPA ID MPPA ID MPPA

1 0412-08 959,36 0412-08 838,21 0412-08 1844,14 2 0402-08 764,23 0402-08 602,60 0402-08 1403,00 3 0420-08 583,58 1773-06 491,46 0513-09 997,05 4 0509-09 553,55 0513-09 432,20 0509-09 971,23 5 0513-09 539,19 0509-09 392,08 0420-08 878,29 6 0517-09 386,57 0420-08 269,85 1773-06 820,95 7 1773-06 311,21 0294-07 210,98 0517-09 566,82 8 0294-07 213,15 0277-07 209,30 0294-07 434,87 9 0329-07 114,38 0517-09 163,95 0277-07 323,50 10 0277-07 107,34 0329-07 64,32 0329-07 183,77

Berdasarkan hasil pada Tabel 6, dapat dilihat bahwa ada 2 ekor sapi perah dengan ID 0412-08 dan 0402-08 yang tetap menjadi 2 peringkat teratas pada produksi susu pagi, malam dan total. Selain itu ada juga sapi perah yang nilai MPPA-nya meningkat dari produksi susu pagi, malam, hingga total seperti sapi perah yang memiliki ID 0513-09.

(11)

Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 11 Korelasi nilai MPPA pada produksi susu pagi, malam dan total cukup tinggi yaitu 0,97 untuk produksi susu pagi dengan produksi susu malam, 0,99 untuk produksi susu pagi dengan produksi susu total, dan 0,99 untuk produksi susu malam dengan produksi susu total. Tingginya nilai korelasi dipengaruhi oleh manajemen pemeliharaan, pemerahan, dan pemberian pakan yang sama pada waktu pemerahan pagi dan malam hari. Tabel korelasi nilai MPPA dapat dilihat di Tabel 7.

Tabel 7. Korelasi Nilai MPPA Produksi Susu Pagi, Malam, dan Total

Pagi Malam Total

Pagi 1

Malam 0,97 1

Total 0,99 0,99 1

Nilai MPPA dipengaruhi oleh nilai ripitabilitas, rata-rata produksi susu per individu dan rata-rata produksi susu populasi. Pendugaan nilai MPPA ini dapat digunakan sebagai salah satu kriteria dalam melaksanakan program pemuliaan, karena peringkat MPPA digunakan untuk seleksi terhadap induk yang akan di jadikan bibit di BBPTU HPT Baturraden.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut :

(1) Dugaan nilai ripitabilitas produksi susu 305 hari periode laktasi 1-3 di BBPTU HPT Baturraden pada produksi susu pagi, malam, dan total berturut-turut adalah 0,38 ± 0,01; 0,39 ± 0,01; dan 0,40 ± 0,01.

(2) Kisaran nilai MPPA produksi susu 305 hari periode 1-3 di BBPTU HPT Baturraden pada produksi susu pagi, malam, dan total berturut-turut adalah -928,5 hingga +959,36; -809,37 hingga +838,21; dan -1783,03 hingga +1844,14.

2. Saran

(1) Penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif metode seleksi di BBPTU HPT Baturraden khususnya dan dapat diterapkan pada peternakan lain secara umumnya sehingga hanya induk yang memiliki potensi genetik tinggi yang dapat dijadikan bibit.

(12)

Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 12 (2) Perlu dilakukan perbaikan dan pengawasan dalam sistem pencatatan khususnya produksi susu agar evaluasi mutu genetik lebih efektif dan dapat dipertanggungjawabkan

DAFTAR PUSTAKA

Aditya, F., Sulastri, dan Novirzal. 2015. Perbandingan Nilai MPPA Produksi Susu Antara Sapi Perah Friesian Holstein dan Peranakan Friesian Holstein diBalai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Baturraden Purwokerto. Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 3(1): 93-97, Feb 2015.

Anang, A. dan H. Indrijani. 2012. Faktor Koreksi Lama Laktasi Produksi Susu 305 hari pada Sapi Frisian Holstein di BBPTU SP Baturraden. Procceding Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-3 Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Sumedang. Hal 39-47. Atabany A., B.P Purwanto, T. Toharmat, dan A. Anggraeni. 2011. Hubungan Masa Kosong

dengan Produktivitas pada Sapi Perah Friesian Holstein di Baturraden, Indonesia. Media Peternakan, Agustus 2011, hlm. 77 – 82.

Badan Standardisasi Nasional. 2009. Pakan Konsentrat – Bagian 1 : Sapi Perah. SNI 3148. 1 : 2009.

Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. Grasindo. Jakarta. Kamayanti, Y., A. Anggraeni, dan Pallawarukka. 2006. Pemeriksaan Interaksi Genetik dan Lingkungan dari Daya Pewarisan Produksi Susu Pejantan Friesian-Holstein Impor yang Dipakai Sebagai Sumber Bibit pada Perkawinan IB. Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia.

Kurnianto, E. 2010. Ilmu Pemuliaan Ternak. Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Unversitas Diponegoro. Semarang.

Noor, R. R. 2010. Genetika Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta.

Rahmani, N., Pallawarukka, dan A. Anggraeni. 2000. Evaluasi Genetik Produksi Susu Sapi Fries Holland di PT Cijanggel – Lembang. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner 2000. Suherman, D. 2007. Korelasi Genetik dan Fenotipik Produksi Susu Laktasi Pertama dengan

Daya Produksi Susu Sapi Fries Holland. Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol. 2, No. 1, Januari – Juni 2007.

Yani, A., dan B.P Purwanto. 2005. Pengaruh Iklim Mikro terhadap Respons Fisiologis Sapi Peranakan Fries Holland dan Modifikasi Lingkungan untuk Meningkatkan Produktivitasnya (ULASAN). Media Peternakan, April 2006, hlm. 35-46.

Referensi

Dokumen terkait

MODEL KURVA PRODUKSI LEMAK DAN PROTEIN SUSU SAPI PERAH FRIES HOLLAND (FH) PADA PERIODE LAKTASI SATU DAN DUA DI.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kurva produksi susu pagi, siang, dan malam periode laktasi I, serta mencari nilai korelasi produksi susu

STUDI PERFORMANS PRODUKSI SUSU SAPI PERAH LAKTASI SATU SAMPAI LAKTASI EMPAT DI BALAI BESAR PEMBIBITAN TERNAK UNGGUL SAPI.. PERAH

Rataan produksi susu real dan produksi susu yang telah distandardisasi ke dalam lama laktasi 305 hari dan umur setara dewasa dari sapi Friesian Holstein betina

FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 9 Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara produksi susu sapi perah FH impor dengan

Terdapatnya perbedaan nilai ripitabilitas yang didapatkan pada kadar lemak susu sapi perah FH dari hasil penelitian ini dengan nilai ripitabilitas hasil penelitian lain

mendasarkan perhitungan dengan cara membandingkan rataan produksi susu laktasi I anak betina pejantan yang diuji terhadap produksi susu laktasi I anak betina

Warwick dan Legates (1979) menyatakan bahwa produksi susu maksimum akan dicapai pada waktu sapi berumur 6 sampai 8 tahun yaitu dimana pada saat sapi perah