• Tidak ada hasil yang ditemukan

NIRWANA FAZRI HARAHAP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "NIRWANA FAZRI HARAHAP"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

130

The Diversity And Abundance Of Leafaud Planthopper (Auchenorrhyncha: Hemiptera) Along With Weeds In Rice Field Ecosystem In South Rantau

Of Labuhan Batu Regency

NIRWANA FAZRI HARAHAP

Department Biology, FMIPA, State University of Medan *[email protected]

ABSTRACT

The aim of this research is to find out the diversity, abundance, and dominance of leafaud planthopper (Auchenorrhyncha: Hemiptera) along with the types of weeds grow in rice field ecosystem in South Rantau of Labuhan Batu regency. This research was conducted by using purposive random sampling by using insect net. The collection of hopper was done by swinging the insect net for 50 times that took place in north, south, middle, east and south so that the amount of the sampling was 250 swings. The result of this research showed that there were 6 types of rice pests in vegetation period until stublade field in south Rantau of Labuhan Batu regency. They were : Nilaparvata lugens, Nephotettix sp, Cofana spectra, Recilia dorsalis, Thaia sp, Cicadulina bipunctata. The highest abundance was found in Nilaparvata lugens with 407 individuals, Nephotettix sp with 32 individuals, Cofana spectra with 38 individuals, Recilia dorsalis with 26 individuals, Thaia sp with 19 individuals, and Cicadulina bipunctata with only 1 individual, with low diversity index, it was 0,1075. While the weeds found in south Rantau of Labuhan Batu regency were 5 types, they were Cyperus iria ,Cyperus rotundus,Papalum distichum, Alternanthera philoxeroides, Cyperus pilosus. The highest density was found in Cyperus iria weed, with total 25%, whilw the lowest density was found in Papalum distichum with total only 10%. The highest presence frequency was found in Cyperus iria, Cyperus rotundus, Papalum distichum, Alternanthera philoxeroides with total 20%, while the lowest presence frequency was found in Cyperus pilosus with total 16%. The highest dominance was found in Cyperus rotundus with total 23.34%, while the lowest dominance was found in Cyperus pilosus with total 15.83%, and the highest important value index was found in Cyperus rotundus with total 64.24%, while the lowest important value index was found in Papalum distichum with total 52.69%.

Keywords : Diversity, abundance, dominance, leafaud planthopper

PENDAHULUAN

Sebagai Negara agraris, Indonesia sangat bergantung kepada tanaman pangan. Dan menurut Swastika (2007), padi merupakan komoditas tanaman pangan yang sangat penting di Indonesia karena sebanyak Sembilan puluh lima persen penduduk Indonesia mengonsumsi bahan makanan ini dan menjadikan beras sebagai makanan pokok . Sehingga, seiring bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan akan padi senantiasa meningkat (Siregar, 2007).

Hama merupakan binatang yang banyak merusak tanaman dari golongan insekta (serangga) dan perusak tanaman pada akar, batang, daun, atau bagian lainnya sehingga tanaman tidak dapat tumbuh dengan sempurna atau mati. Peranan serangga dapat bersifat menguntungkan karena bias menjadi sahabat yang memberikan kesejahteraan bagi manusia, di sisi lain memberikan dampak yang buruk atau merugikan bagi manusia (Manurung, 2015).

Organisme pengganggu tanaman (OPT) merupakan faktor yang mempengaruhi hasil

produksi tanaman di Indonesia. Gulma sebagai organism pengganggu tanaman (OPT) termasuk kendala penting yang harus diatasi dalam peningkatan produksi padi di Indonesia. Penurunan hasil padi akibat gulma berkisar 35 persen samapai 80 persen. (Soelin, 2010).

Gulma menimbulkan persaingan antara gulma itu sendiri dengan tanaman disekitarnya. Persaingan terjadi apabila bahan faktor tumbuh yang diperlakukan tidak lagi mencukupi kebutuhan oleh tanaman-tanaman tersebut, karena gulma sama dengan tanaman lainnya yang membutuhkan faktor tumbuh. Dimana faktor tumbuh yang diperlakukan adalah energy cahaya, H2O, CO2, O2 dan ruang. Semakin dekat suatu gulma tumbuh dengan tanaman sekitarnya maka akan semakin sulit untuk mengendalikan persaingannya (Suparyono, 1997).

Harian Sinar Indonesia Baru 2014 memberitahukan bahwa telah terjadi serangan hama wereng terhadap tanaman padi yang terdapat dikawasan Rantau Selatan, Kabupaten Labuhan Batu. Hama wereng merusak padi yang

(2)

131 siap panen, yang umurnya 85-90 hari, hal ini menyebabkan petani terancam gagal panen. Sebagian petani padi di kawasan jalan baru itu terpaksa mempercepat panen dalam upaya menghindari gagal panen.

Berdasarkan latar belakang diatas, suatu penelitian yang mengkaji keanekaragaman dan kelimpahan wereng Auchenorrhyncha: Hemiptera serta gulma yang terdapat pada ekosistem sawah di Rantau selatan kabupaten Labuhan Batu telah dilaksanakan.

Homoptera berasal dari kata homo (sama) dan pteron (sayap), serangga ini biasanya bersayap sama seperti membran. Sebagian dari serangga ini mempunyai dua bentuk, yaitu yang bersayap dan tidak bersayap (Tjahjadi,1989). Anggota ordo Homoptera memiliki morfologi yang mirip dengan ordo Hemiptera. Perbedaan pokok antara keduanya antara lain terletak pada morfologi sayap depan dan tempat pemunculan rostumnya. Ordo ini mengandung satu kelompok serangga yang besar dan beragam yang erat kaitannya dengan hemiptera (Donald, dkk, 1992). Adapun morfologi hemiptera yaitu : tergolonrg arthopoda, yang terdiri dari ruas yang membangun tubuhnya, kepala (caput), dada (toraks), dan perut (abdomen). Sesungguhnya, tubuh serangga tidak kurang dari 20 ruas. Enam ruas membentuk kepala, tiga ruas membentuk toraks, dan 11 ruas membentuk abdomen. Tubuh serangga ditopang oleh sklerotisasi yang berfungsi sebagai kerangka luar. Dinding tubuhnya yaitu intergumen yang terdiri dari satu lapis epidermis, selaput dasar dan kutikula (Jumar, 2000). Rostrum biasanya pendek dan berpangkal pada bagian belakang dari bagian bawah kepala. Pada banyak spesies, rostrum tampak seolah-olah berpangkal di antara koksa tungkai depan. Antena serangga bervariasi, kadang-kadang seperti benang atau pendek kaku seperti rambut. Jenis alat mulutnya menusuk-mengisap. Serangga betina kadang-kadang memiliki ovipositor yang berkembang baik (Jumar, 2000).

Padi merupakan tanaman pangan berupa rumput berumpun. Tanaman pertanian kuno berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropics. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zheijiang (Cina) sudah dimulai pada 3.000 tahun SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah. Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, dan Vietnam (Anonim, 2006). Padi merupakan makanan pokok bagi rakyat Indonesia. Sebagian dari masyarakat kita sumber makanannya berasal dari jagung, sorgum, dan

sagu Namun, padi lebih popular meskipun sekarang harga beras mencapai harga yang sangat tinggi (6000/kg atau 7000/kg) (Siregar, 2007).

Hama, penyakit tanaman merupakan factor pembatas dalam usaha produksi pertanian. Agar usaha produksi pertanian memberikan hasil yang memuaskan maka tanaman harus bebas dari serangan hama dan penyakit. Oleh sebab itu apabila hidup tanaman terganggu oleh serangan hama dan penyakit perlu dilakukan tindakan pemberantasan, hal ini untuk menjamin agar tidak terjadi kerusakan yang mengakibatkan kerugian. Pemberantasan hama, penyakit tanaman adalah usaha untuk membatasi kerugian karena hilangnya hasil tanaman baik kwantitatif di lapangan dan setelah hasil dipungut. Amat banyak jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman pertanian khususnya tanaman pangan. Maing-masing jenis hama dan penyakit mempunyai ciri-ciri yang khusus baik cara hidup, cara menyerang dan akibat serangannya. Karena ciri-ciri yang khusus tadi maka usaha-usaha menanggulanginya juga memerlukan cara-cara yang khusus pula.

Faktor fisika merupakan salah satu faktor luar atau factor lingkungan yang sangat mempengaruhi kelangsungan hidup serangga, khususnya wereng. Faktor ini lebih banyak berpengaruh terhadap serangga dibandingkan dengan hewan lain, faktor yang mempengaruhi antara lain suhu dan kisaran suhu, kelembaban dan curah hujan, cahaya dan kecepatan angin (Jumar, 2000).

Bahan dan Metode

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di areal persawahan padi di Kabupaten Labuhan Batu, Propinsi Sumatera Utara yaitu Kecamatan Rantau Selatan di Desa Ujung Bandar, terletak pada koordinat 10 260 – 20 1100 LU dan 910 010 – 950 5300 BT.

Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2015 – Maret 2015. Dimana sampel wereng diambil menggunakan jala serangga.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh populasi wereng yang terdapat pada areal persawahan. Sementara itu adapun sampel dari penelitian ini adalah wereng yang berhasil ditangkap dengan menggunakan jala serangga (insecting net) pada areal persawahan yang berada di Desa ujung Bandar Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu.

(3)

132 Tekhnik purposive sampling yakni melakukan cuplikan sengaja pada garis transek pada plot pengamatan yang telah ditetapkan di areal persawahan.

Tekhnik Pengumpulan Data Metode dan Desain Penelitian

Metode pengumpulan wereng yang digunakan pada penelitian ini adalah metode purposive sampling. Alat yang digunakan adalah jala serangga, dimana metode didasarkan pada pengambilan sampel dari wereng yang tertangkap jala dengan menetapkan 5 jalur transek pada areal persawahan (Gambar 3.1). Penangkapan wereng dilakukan dengan melakukan pengayunan jala serangga sebanyak 50 kali menyentuh bagian atas padi. Hal tersebut dilakukan pada bagian utara. Selatan, kiri, tengah dan kanan sehingga setiap sampling didapatkan serangga dari 250 kali ayunan. Dalam pengayunan jala dilakukan secara cepat untuk menghindari wereng yang telah tertangkap terlepas kembali. Metode pengambilan serangga tersebut akan dilakukan pada areal persawahan yang terdapat di Kabupaten Labuhan Batu. Desain penelitian lebih lanjut tampak pada Gambar 3.1 berikut ini :

Gambar 3.1.

Desain penelitian komunitas wereng Keterangan : Terdiri dari 5 jalur transek yaitu :

A = Utara B = Barat C = Tengah D = Timur E = Selatan Pelaksanaan Penelitian Alat dan Bahan

Alat dan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah thermometer, botol sampel, mikroskop stereo, jala serangga, hygrometer, anemometer, loup, pinset, kertas label, cawan petri, kuas kecil, kantong plastik transparan, kapas, plot (50x50) cm2, Alkohol 80 %, kloroform

Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan dalam penelitian ini adalah :

1. Memilih lokasi pengambilan sampel, yaitu sawah padi pada areal persawahan di Kabupaten Labuhan Batu.

2. Menentukan dan menetapkan lima jalur transek dan melakukan 50 kali

ayunan jala serangga pada setiap sampling di tiap areal persawahan.

3. Melakukan penangkapan wereng dari setiap transek dengan mengayunkan jala serangga menyentuh singgang-singgang padi sebanyak 50 kali ayunan pada setiap transek.

4. Pengambilan sampel pada tiap lokasi yang sama dilakukan sebanyak empat kali pengulangan, dimana jarak antara sampling adalah satu minggu.

5. Wereng yang tertangkap selanjutnya dibawa ke laboratorium FMIPA Unimed. Di laboratorium ini wereng disortir dan kemudian diidentifikasi serta dihitung kelimpahan wereng dan diawetkan dalam alkohol 80%. Untuk mengidentifikasi wereng yang diperoleh digunakan referensi menurut Wilson & Claridge (1991). Parameter yang dilihat yaitu bentuk kepala, bentuk moncong, bintik yang terdapat pada tubuh, panjang sayap, ukuran tubuh, warna sayap, warna tubuh dan bentuk aedagus. 6. Pengambilan gulma pada padi dilakukan

secara langsung dengan mengamati dan mengambil gulma yang ada pada padi dengan menggunakan plot (50x50), lalu di bawa ke laboratorium FMIPA Unimed. Di Laboratorium ini gulma disortir dan kemudian diidentifikasi menggunakan referensi menurut IRRI (1983). Paremeter yang digunakan yaitu morfologi berupa bentuk dan warna akar, batang dan warna daun serta bagian generatife dari gulma yaitu bentuk dan warna bunga, biji, dan buah.

Pengukuran Faktor Fisika Lingkungan

Dilokasi penelitian telah dilakukan pengukuran suhu udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin.

Analisis Data

Data penelitian yang diperoleh selanjutnya dianalisa untuk menghitung :

Indeks Keanekaragaman

Untuk menghitung indeks

keanekaragaman wereng digunakan rumus A

C D

E B

(4)

133 Shannon Wiener dalam Manurung (2012) sebagai berikut :

Dimana :

H’ = Indeks keanekaragaman Shanon Wiener S = jumlah spesies

Ni = jumlah individu satu jenis N = jumlah individu semua jenis Ln = logaritma natural

Pi = proporsi jumlah individu ke I terhadap jumlah total individu dari keseluruhan spesies

Indeks Dominasi

Besarnya indeks dominasi dari setiap kelompok wereng dihitung dengan menggunakan rumus dari Simpson :

Dimana :

C = indeks dominan

Ni = jumlah individu satu jenis N = jumlah individu semua jenis

Indeks Kemerataan Jenis

Dimana :

J = indeks kemerataan jenis H1 = indeks keanekaragaman jenis s = jumlah jenis

Analisis Vegetasi Gulma

a. Kerapatan atau density suatu jenis K(i)

K(i) =

b. Kerapatan relatif suatu jenis KR (i)

KR(i) = × 100%

c. Frekuensi suatu jenis F(i)

F(i) = d. Frekuensi relatif suatu jenis FR(i)

FR(i) = × 100% e. Dominasi suatu jenis D(i)

D(i) = f. Dominan relatif suatu jenis DR (i)

DR(i) = × 100%

g. Nilai Penting (NP) dari masing – masing jenis NP (i)

NP(i) = KR(i) + FR(i) + DR(i)

Dimana: KR = Keanekaragaman relatif FR = Frekuensi relatif

DR = Dominasi relative

Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian

Keanekaragaman dan Kelimpahan Wereng Auchenorrhyncha: Hemiptera

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Kelurahan Ujung Bandar Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu keanekaragaman wereng yang diperoleh ada 6 jenis wereng yang ditemukan yaitu Nilaparvata lugens, Nephotettix sp, Cofana spectra, Recilia dorsalis, Thaia sp, Cicadulina bipunctata. Dengan kelimpahan dari masing-masing wereng tersebut disajikan dalam table 4.1 berikut ini :

Tabel 4.1 Keanekaragaman dan Kelimpahan Wereng Auchenorrhyncha : Hemiptera

N

o Nama Spesies

Masa Vegetasi Masa Singgang-singgang

Total U l a n g a n 1 2 3 4 5 6 1 Nilaparvata lugens 66 74 78 49 68 72 407 2 Nephotettix sp 5 6 3 4 6 8 32 3 Cofana spectra 7 8 7 5 6 5 38 4 Recilia dorsalis 4 5 1 2 8 6 26 5 Thaia sp 2 1 1 3 5 7 19 6 Cicadulina bipunctata - 1 - - - - 1 Jumlah Spesies 5 6 5 5 5 5 6 Kelimpahan 84 95 90 63 93 98 523 Indeks 0,0645 0,0080 0,0092 0,0062 0,0192 0,0004 0,1075

(5)

134 Keanekaragaman (H1)

Indeks Kemerataan

(J1) 0,040 0,004 0,005 0,004 0,011 0,0002 0,064

4.1.2. Indeks Dominansi

Berdasarkan pengumpulan data yang telah dilakukan dengan menggunakan metode insecting net dan diperoleh Nilaparvata lugens sebanyak 407 individu , Nephotettix sp 32 individu, Cofana

spectra 38 individu, Recilia dorsalis 26 individu, Thaia sp 19 individu, Cicadulina bipunctata 1 individu. Indeks dominansi wereng Homoptera disajikan pada Tabel 4.2 :

Tabel 4.2. Indeks Dominansi Wereng Auchenorrhyncha: Hemiptera

No Nama Spesies U l a n g a n Dominansi Total

1 2 3 4 5 6 1 Nilaparvata lugens 0,617 0,606 0,751 0,604 0,534 0,539 3,651 2 Nephotettix sp 0,003 0,003 0,001 0,004 0,004 0,006 0,021 3 Cofana spectra 0,006 0,007 0,006 0,006 0,004 0,002 0,031 4 Recilia dorsalis 0,002 0,002 0,000 0,001 0,007 0,003 0,015 5 Thaia sp 0,001 0,000 0,000 0,002 0,003 0,005 0,011 6 Cicadulina bipunctata 0 0,000 0 0 0 0 0,000

Dari data diatas dapat dilihat bahwa wereng yang paling mendominansi dari setiap ulangan adalah wereng Nilaparvata lugens dan yang paling rendah tingkat dominansinya adalah Cicadulina bipunctata. Hal ini dikarenakan kondisi abiotik (iklim dan cuaca) dan ketersediaan sumber daya pakan wereng tersebut di lokasi penelitian dalam keadaan baik dalam perkembangan. Selain dari aspek ekologisnya terlihat bahwa luas areal persawahan sangat mempengaruhi migrasi wereng.

4.1.3. Jenis Gulma yang Menjadi Habitat Wereng Auchenorrhyncha :

Hemiptera

Adapun jenis gulma yang telah didapatkan pada, areal pesawahan di Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu disajikan pada Tabel 4.3 dibawah ini :

Tabel 4.3 Jenis Gulma yang Menjadi Habitat Wereng Auchenorrhyncha : Hemiptera Nama Gulma KR % FR % DR % INP Cyperus iria 25 20 18,39 63,39 Cyperus rotundus 21 20 23,24 64,24 Papalum distichum 10 20 22,69 52,69 Alternanthera philoxeroides 15 20 19,85 54,85 Cyperus pilosus 24 16 15,83 55,83 Total 95 96 100 291

Dari data diatas maka dapat dilihat, kerapatan gulma tertinggi Cyperus iria dengan kerapatan 25% dan kerapatan terendah ada pada gulma Papalum distichum dengan kerapatan relatif 10%, sedangkan frekuensi gulma tertinggi adalah Cyperus iria, Cyperus rotundus, Papalum distichum, Alternanthera philoxeroides, dengan frekunsi relatif 20% dan terendah ada pada gulma Cyperus pilosus dengan frekuensi relative 16%, dan dominasi gulma tertinggi adalah Cyperus rotundus dengan dominasi relatif 23,24% dan terendah ada pada gulma Cyperus pilosus dengan dominansi relatif 15,83. Indeks nilai penting tertinggi adalah Cyperus rotundus dengan nilai indeks penting sebesar 64,24 dan indeks nilai penting terendah adalah Papalum distichum dengan indeks nilai penting sebesar 52,69.

(6)

135

4.2.1. Keanekaragaman Wereng

Auchenorrhyncha: Hemiptera

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan metode insecting net, jenis wereng Auchenorrhyncha: Hemiptera yang terdapat pada hasil penelitian pada masa vegetasi hingga singgang-singgang ditemukan 6 jenis wereng yakni Nilaparvata lugens, Nephotettix sp, Cofana spectra, Recilia dorsalis, Thaia sp dan Cicadulina bipunctata. Berdasarkan data yang diperoleh maka dapat diketahui bahwa keanekaragman pada penelitian yang telah dilakukan di Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu termasuk kedalam keanekaragaman rendah.

4.2.2. Kelimpahan Wereng

Auchenorrhyncha: Hemiptera

Dari data yang telah diperoleh pada Tabel 4.1 maka dapat dilihat bahwa kelimpahan wereng pada jenis Nilaparvata lugens sebanyak 407 individu, Nephotettix sp 32 individu, Cofana spectra 38 individu, Recilia dorsalis 26 individu, Thaia sp 19 individu, Cicadulina bipunctata 1 individu.

Kesimpulan Kesimpulan

Berdasarkan hasil dari pembahasan penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 6 jenis wereng yakni Nilaparvata lugens, Nephotettix sp, Cofana spectra, Recilia dorsalis, Thaia sp, Cicadulina bipunctata. 2. Berdasarkan hasil penelitian kelimpahan

wereng Auchenorrhyncha: Hemiptera yaitu Nilaparvata lugens 407 individu, Nephotettix sp 32 individu, Cofana spectra 38 individu, Recilia dorsalis 26 individu, Thaia sp 19 individu, Cicadulina bipunctata 1 individu.

3. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan ditemukan 5 jenis gulma Cyperus iria, Cyperus rotundus, Papalum distichum, Alternanthera philoxeroides, Cyperus pilosus. Kerapatan terbesar yaitu pada gulma Cyperus iria dengan total 25 %, Frekuensi terbesar yaitu pada gulma Cyperus iria, Cyperus rotundus, Papalum distichum, Alternanthera philoxeroides yaitu 20 %, Dominansi terbesar terdapat pada gulma Cyperus rotundus yaitu dengan total 23,24% dan Indeks Nilai Penting terbesar terdapat pada gulma Cyperus rotundus.

4. Berdasarkan pengukuran kondisi fisika lingkungan penelitian dapat diketahui bahwa suhu udara pada setiap kecamatannya berkisar antara 280C- 310C, dengan kelembapan udara 76% - 87%, Kecepatan angin 7 km/jam – 5 km/jam. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa kondisi lingkungan pada areal persawahan di Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu merupakan kondisi yang efektif dalam perkembangan wereng, namun bukan merupakan kondisi yang optimum bagi perkembangan wereng.

Saran

1. Perlu dilakukan penelitian dengan metode yang berbeda pada daerah yang sama, ataupun dilakukan perbandingan di beberapa sawah pada setiap kecamatan.

Daftar Pustaka

Affandi, Ahmad, (1977), Padi, Palawijaya dan Sayur-sayuran, Departemen Pertanian satuan Pengendali BIMAS : Jakarta

AKK, (1990), Budidaya Tanaman Padi, Kanisius, Yogyakarta

Anonimus, (2008),

http://problempadi.blogspot.com/20 08/04/wereng-coklat.html (diakses tanggal 2 Nopember 2014)

Anonimus, (2014), Tanaman Padi di Rantauprapat Diserang Wereng Petani Terancam Gagal Panen, SIB, 06 September 2014

Anonimus, (2007),http://sempaja.blog..co.uk/20 07/06/29/gulma_pada_tanamanpan gan_2539931/

Bangun, P. dan M. Syam (1989), Pengendalian Gulma pada Tanaman Padi, Balai Penelitian Tanaman Pangan Bogor, Bogor

Baehaki. 1992, Berbagi Hama Serangga Tanaman Padi. Bandung: Angkasa Bintang, A.H., (2011), Struktur Komunitas

Serangga Homoptera (Wereng) Batang dan Daun pada Singgang-singgang Padi di Enam Kecamatan Kabupaten Deli Serdang, Skripsi FMIPA UNIMED : Medan

Borror, D.J., Triplehon, C.A. & N.F. Johnson. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga. Terjemahan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

(7)

136 Djatmika, (2008), Petunjuk Teknis Usaha Tani

Padi-Ikan-Itik Di Sawah, PT Intermedia, Jakarta Timur

IRRI, (1983), Gulma : Permasalahan Lapangan Tentang Padi di Daerah Tropika, Pustaka Desa. Jakarta

Jumar, (2000), Entomologi Pertanian, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta

Kartasapoetra, A.G., 1987, Hama Tanaman Pangan dan Perkebunan, Radar Jaya Offset: Jakarta

Karindah, S., Purwaningsi, A., Agustin, A., dan Astuti, L., (2010), Ketertarikan Anaxipha Longipennis Servile (Orthopetra: Grylidae) Terhadap Beberapa Jenis Gulma di Sawah sebagai Tempat Bertelur, Jurnal Entomologi Indonesia April 2011. Vol 8 No.1:27-35

Lestari, D.F.N., (2012), Gulma di Per]tanaman Padi (Oryza sativa L) Konvensional, Transisi, dan Organik, Jurnal

Manullang, A., (2013). Kajian Ekologi Wereng (Hemiptera : AUCHENORRHYNCHA) Pada Gulma Padi Sawah Pasca Panen di Kabupaten Deli Serdang, Skripsi FMIPA UNIMED: Medan

Manurung, B., (2015), Entomologi, FMIPA Unimed Pres, Medan

Manurung, B., (2002), Ekologi Hewan, FMIPA Unimed Pres, Medan

Manurung, B dan Sihombing, L., (2011), Ekologi Serangga Wereng (Hemiptera: Auchenorrhyncha) pada Singgang-Singgang Tanaman Padi di Kabupaten Deli Serdang-Sumatera Utara, Prosiding Seminar Nasional Biologi:”Meningkatkan Peran Biologi dalam Mewujudkan National Achievement with Global Reach” Hal. 405-414

Noor, M., (1996), Padi Lahan Marjinal, Penebar Swadaya Anggota IKAPI, Jakarta

Pracaya, (1992). Hama dan Penaykit Tanaman, Penebar Swadaya Anggota IKAPI, Jakarta

Prasetiyo, Y., (2002), Budidaya Padi Sawah TOT (Tanpa Olah Tanah), Kanisius, Yogyakarta.

Siregar,A., (2007). Hama-Hama Tanaman Padi, USU Repository, hal 1-5.

Soelin, S., Syam, Z., Daud, M., (2010). Keanekaragaman Jenis Gulma Padi Sawah di Desa Rambah Baru

Kecamatan Rambah Samo

Kabupaten Rokan Hulu, Prosiding Seminar Nasional Biologi : Meningkatkan Peranan Biologi dalam Mewujudkan National Achievement with Global Reach: Hal 130-137. Suparyono, A.Setyono, 1997. Mengatasi

Permasalahan Budidaya Padi. Penebar Swadaya: Jakarta

Swastika, D.K.S, J. Wargiono, B. Sayaka, A. Agustian, dan V. Darwis, (2007), Kinerja dan Masa Depan Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan, Prosiding Kinerja dan Prospek Pembangunan Pertanian. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, hal 1-22

Tjahjadi, N. (1989). Hama dan Penyakit Tanaman. Yogjakarta: Kanisius Widiarta, I.N. (2005), Wereng Hijau (Nephotettix

virescens Distant) Dinamika Populasi dan Strategi Pengendaliannya sebagai Vektor Penyakit Tungro, Jurnal Litbag Pertanian, 24(3) Balai Penelitian Tanaman Padi.

Wilson, M.R. & Claridge, M.F. 1991. Handbook for the Identification of Leafhoppers and Planthoppers of rice. Wallingford-Oxon: CAB International

Gambar

Tabel 4.2. Indeks Dominansi Wereng Auchenorrhyncha: Hemiptera

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan manajemen peningkatan kualitas pembelajaran di SMA Negeri 2 Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhan Batu yang

SMK Negeri 2 Rantau prapat merupakan salah satu Sekolah Menengah Kejuruan di Kabupaten Labuhan Batu Induk. Sekolah tersebut terletak di Kota Rantau prapat

Penelitian ini menganalisis tentang dampak pengusahaan sarang burung walet terhadap lingkungan di Kecamatan Rantau Utara, Rantauprapat, Kabupaten Labuhan Batu.. Kegiatan

baik. SMK Negri 1 Rantau Prapat merupakan salah satu Sekolah yg terletak di kabupatan Labuhan Batu. Sekolah tersebut terletak di antara tengah tengah kota Rantau Prapat Kabupaten

Faktor-faktor Yang Memengaruhi Kemandirian Lanjut Usia di Wilayah Kerja Puskesmas Rantau Utara Kabupaten Labuhan Batu Tahun 2012.. Universitas

Dari hasil penelitian profesionalisme aparatur sipil Negara yang telah dilaksanakan di kantor Samsat Rantau Prapat Kabupaten Labuhan Batu sudah maksimal dilaksanakan dan

PELAKSANAAN PEMBINA.AN PEGA\IJAI NEGERI SiPIL DALAM MENINGKATKAN DISiPLIN KERJA PEGAWAI DI KANTOR LURAH SILANDORUNG KECAMATAN RANTAU UTARA KABUPATEN DAERAH TINGKAT II LABUHAN BATU

Evaluasi Data Dalam penelitian ini terdapat faktor- faktor yang mempengaruhi peningkatan ekonomi keluarga di Kelurahan Labuhan Bilik Kecamatan Panai Tengah Kabupaten Labuhan Batu