• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Perpektif Tentang Perilaku Kepem

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Perpektif Tentang Perilaku Kepem"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

Bagi para manajer yang efektif, perilaku yang berorientasi tugas tidak terjadi dengan mengorbankan perhatian terhadap hubungan antarmanusia. Para manajer yang efektif lebih penuh perhatian, mendukung dan membantu para bawahan. Perilaku mendukung yang

berkorelasi dengan kepemimpinan yang efektif meliputi memperhatikan kepercayaan dan rasa percaya, bertindak ramah dan perhatian, berusaha memahami permasalah bawahan, membantu mengembangkan bawahan dan memajukan karier mereka, selalu memberi informasi kepada bawahan, memperhatikan apresiasi terhadap ide-ide para bawahan, dan memberiak pengakuan atas kontribusi dan keberhasilan bawahan.

Cara terbaik untuk menemukan hubungan sebab akibat adalah dengan melakukan eksperimen dimana perilaku pemipin dimanipulasi dengan melatih para pemipin untuk meggunakan perilaku tertentu

(2)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 PENELITIAN KEPEMIMPINAN DI OHIO STATE UNIVERSITY

Kuesioner penelitian tentang kepemimpinan yang efektif di pengaruhi oleh penelitian awal Ohio State University. Selama tahun 1950-an, tugas awal para peneliti adalah

mengidentifikasikan kategori-kategori perilaku kepemimpinan yang relevan dan

mengembangkan kuesioner yang menjelaskan perilaku ini. Para peneliti telah menyusun daftar dari sekitar 1.800 contoh perilaku kepemimpinan, kemudian mengurangi daftar tersebut sehingga 150 hal yang kelihatan menjadi contoh yang baik mengenai fungsi kepemimpinan yang penting. Kuesioner awal yang terdiri dari hal-hal ini digunakan dengan sampel personalia militer dan sipil untuk menjelaskan perilaku para penyelia mereka (Fleihsman, 1953 & Winer, 1957; Hemphil & Coons, 1957)

a. Kategori perilaku kepemimpinan

Analisis faktor terhadap respons-respons kuesioner menunjukan bahwa para bawahan memandang perilaku penyelia mereka terutama berdasarkan dua kategori yang terdefinisi secara luas, yang satu hubungan dengan tujuan tugas yang lainnya berhubungan dengan hubungan antar peribadi.

1. Pertimbangan. Pemimpin bertindak dalam cara yang bersahabat dan mendukung,

memperlihatkan perhatian terhadap bawahan, dan memperhatikan kesejahteraan mereka. Contohnya meliputi melakukan kebaikan kepada bawahan, meluangkan waktu untuk mendengarkan permasalahn bawahan, medukung atau berjuang bagi bawahan, berkonsultasi dengan bawahan mengenai hal penting sebelum dilaksanakan, bersedia menerima saran dari bawahan, dan memperlakukan bawahan sebagai sesamanya.

2. Struktur memprakarsai (initiating structure). Pemimpin menentukan dan membuat strukutur perannya sendiri dan peran para bawahan ke arah pencapaian tujuan formal. Contohnya meliputi, mengkritik pekerjaan yang buruk, menekankan pentingnya memenuhi tenggat waktu, menugaskan bawahan, mempertahnkan standar kinerja tertentu, meminta bawahan untuk mengikuti prosedur standar, dan menawarkan pendekatan pendekatan baru terhadap masalah, dan mengkoordinasikan aktivitas para bawahan yang berbeda-beda.

(3)

Berdasarkan hasil studi-studi awal, dua buah kuesioner yang direvisi dan dipersingkat telah dibuat untuk mengukur pertimbangan dan struktur memperkarsai : Leader Behaviour Description Quesionnaire (LBDQ) dan Supervisory Behaviour Description (SBD atau SBDQ). Walaupun kedua kuesioner ini sering di perlakukan sama, isi skala perilaku bagi kedua versi kuesioner tersebut tidaklah sama (Schriesheim & stogill 1975), kuesioner ketiga, yang disebut “Leader Openion Quesionnare” (LOQ), oleh beberapa peneliti telah di anggap sebagai ukuran mengenai perilaku, namun ia lebih cocok untuk dipandang sebagai ukuran tentang sikap daripada perilaku.

 STUDI-STUDI KEPEMIMPINAN DARI MICHIGAN

Proses penelitian utama kedua mengenai perialaku kepemimpinan telah dilakukan oleh para peneliti dari University of Michigan pada waktu yang kira-kira sama dengan studi

kepemimpinan dari Ohio State University. Fokus penelitian Michigan adalah identifikasi hubungan di antara perilaku pemimpin, proses kelompok, dan ukuran mengenai kinerja

kelompok. Penelitian awal adalah sejumlah studi lapangan dengan berbagai macam pemimpin, termasuk para manajer bagian dalam sebuah perusahaan asuransi (Katz, Maccoby dan

Morse1950), para penyelia di dalam sebuah perusahaan pabrikasi yang besar (Katz dan Kahn 1952), dan para penyelia dari kelompok bagian kereta api (Katz, Maccoby, Gurin dan Floor 1951), informasi tentang perilaku manajerialdi kumpulkan dengan cara wawancara dan kuesioner. Ukuran ojektif mengenai produktifitaskelompok di gunakan untuk menggolongkan para menejer sebagai relatif efektif atau tidak efktif. Perbandingan anatara para manajer, yang efektif dan tidak efktif telah mengungkapkan beberapa perbedaan yang menarik dalam perilaku manajerial, yang diringkaskan oleh Likert (1961-1967).

a. Perilaku kepemimpinan efektif

Penelitian menemukan bahwa tiga jenis perilaku kepemimpinan dapat dibedakan antara para manajer yang efektif dan manajer tidak efektif. Setiap jenis perilaku dijelaskan secara singkat.

(4)

pekerjaan, mengkoordinasikan kegiatan para bawahan, dan menyediakan keperluan, peralatan dan bantuan teknis yang dibutuhkan.

2. Perilaku yang berorientasi hubungan. Bagi para manajer yang efektif, perilaku yang berorientasi tugas tidak terjadi dengan mengorbankan perhatian terhadap hubungan antarmanusia. Para manajer yang efektif lebih penuh perhatian,

mendukung dan membantu para bawahan. Perilaku mendukung yang berkorelasi dengan kepemimpinan yang efektif meliputi memperhatikan kepercayaan dan rasa percaya, bertindak ramah dan perhatian, berusaha memahami permasalah

bawahan, membantu mengembangkan bawahan dan memajukan karier mereka, selalu memberi informasi kepada bawahan, memperhatikan apresiasi terhadap ide-ide para bawahan, dan memberiak pengakuan atas kontribusi dan keberhasilan bawahan.

3. Kepemimpinan partisipatif. Para manajer yang efektif menggunakan lebih banyak supervisi kelompok daripada mengendalikan setiap bawahan sendiri-sendiri. Pertemuan kelompok memudahkan partisipasi bawahan dalam pengambilan keputusan, memperbaiki komunikasi, mendorong kerja sama, dan memudahkan pemecahan konflik. Peran manajer dalam pertemuan kelompok yang utama adalah harus memandu diskusi dan membuatnya mendukung konstruktif, dan berorientasi pada pemecahan masalah.

b. Kepemimpinan rekan sejawat

Bower dan Seashore (1966) memperluas penelitian tentang perilaku kepemimpinan dengan berpendapat bahwa kebanyakan fungsi kepemimpinan dapat dilakukan oleh orang lain selain pemimpin kelompok yang telah ditunjuk. Menurut Bowers dan Seashore (1966 hal 249) terdapat pikiran sehat dan juga alasan teoritis untuk meyakini bahwa seorang pemimpin yang diakui secara ormal melalui perialaku kepemimpinan penyelianya tersebut menentukan pola kepemimpinan bersama yang diberikan oleh masing-masing bawahan.

Bowers dan Seashore adalah peneliti pertama yang menyusun kuesioner untuk

(5)

 KETERBATASAN DARI PENELITIAN SURVEI

Penelitian yang menggunakan kuesioner sejauh ini menggunakan metode umum yang digunakan untuk mempelajari hubungan antara perilaku kepemmpinan yang bersifat

mendasarinya (misalnya, ciri-ciri kepemimpinan, sikap) atau hasil dari perilaku ini (misalnya, kepuasan dan kinerja bawahan). Namun, sering sulit diterjemahkan makna dari hasil studi survei ini. Dua sumber kesalahan meliputi keterbatasana kuesioner dan permasalahan dalam

menentukan hubungan sebab akibat (causality). 1. Bias dalam Kuesioner Deskripsi Perilaku

Kuesioner deskripsi perilaku rentan terhadap beberapa jenis bias dan kesalaan (Luthans dan Lockwood,1984; Schriesheim dan Kerr 1977; Uleman, 1991). Sebuah sumber kesalah adalah penggunaan hah-hal ambigu (samar-samar).yang dapat diterjemahkan dalam beberapa cara berbeda oleh beberapa responden berbeda. Kebanyakan kuesioner kepemimpinan memiliki format respon tetap yang meminta responden memikirkan kembali selama periode beberapa bulan atau tahun dan menunjukan beberapa sering atau berapa banyak seorang pemimpin menggunakan perilaku yang dijelaskan dalam item tertentu.

Sumber kesalah lain item-item kuesioner adalah bias respons. Misalnya beberapa responden menjawab setiap item dengan cara hampir sama meskipun terdapat perbedaan nyata dalam perilaku pemimpin itu, karena responden menyukai (atau tidak menyukai) pemimpin tersebut (Schriesheim, Kinicki dan Schriesheim, 1979).

2. Menerjemahkan hubungan sebab akibat dalam studi survey

Sebagian besar penelitian mengenai dampak perilaku kepemimpinan telah mengukur perilaku dengan kuesioner yang diisi oleh para bawahan, dan nilai-nilai perilaku yang dihasilkan telah dokorelasikan dengan ukuran kriteria yang diperoleh pada titik waktu yang sama.

 PENELITIAN PERILAKU TUGAS DAN HUBUNGAN MELALUI EKSPERIMEN

Cara terbaik untuk menemukan hubungan sebab akibat adalah dengan melakukan eksperimen dimana perilaku pemipin dimanipulasi dengan melatih para pemipin untuk

(6)

1984).penelitian ini memperlihatkan bahwa hubungan sebab akibat beroperasi dalam dua arah, mdengan perilaku kehasil, dan sebaliknya.

Keterbatasan dan kebanyakan eksperimen laboratorium mengenai kepemimpinan adalah bahwa eksperimen itu sangant tidak realistis, sehingga sulit menggeneralisasi hasilnya kepara karyawan dalam organisasi sebenarnya. Dalam usaha untuk menanggulangi keterbatasan tersebut, dua buah studi telah dilakukan dengan memperkerjakan para mahasiswa untuk sementara waktu, bekerja paruh waktu, untuk seorang penyelia yang sebenarnya adalah salah satu peneliti.

Eksperimen lapangan sulit dilakukan pada organisasi yang sebenarnya dan hanya sedikit dari eksperimen itu digunakan untuk meneliti dampak dari perilaku kepemimpinan. Dalam

eksperimen lapangan ini, perialku telah dimanupulasi dengan program latihan. Dalam studi selama 18 bulan terhadap para manajer sebuah pabrik saja, para manajer yang menerima pelatihan menghsilkan pertimbangan lebih yang banyak dan memerima peringkat kerja yanglebih tinggi dibanding para Manajer pada kelompok kendali (hand & slocum, 1972). Hasilnya tidak pasti untuk perilaku yang berorientasi pada tugas. Pada studi mengenai para penyelia sebuah rumah sakit, pelatihan meningkatkan perilaku pertimbangan dan menghasilkan kepuasan dan kehadiran lebih tinggi, diukur dua bulan setelah pelatihan (wexley & Nemeroff, 1975). Dalam studi terhadap para penyelia lini pertama, pelatihan meningkatkan penggunaan beberapa perilaku yang berorientasi pada hubungan (misalnya, mendengarkan secara aktif, memberi pujian), dan terdapat peningkatan signifikan atas peringkat kinerja yang dibuat satu tahun setelah pelatihan oleh atasan dari masing-masing penyelia (latham & Saari, 1979). Pada studi terhadap penyelia, pelatihan hubungan antar manusia menghasilkan lebih banyak

penggunaan beberapa perilaku yang berorientasi pada hubungan (misalnya mendengarkan secara aktif, memberi pujian, konsultasi) dan peningkatan signifikan sebanyak 17 persen atas

(7)

Ringkasnya, penelitian eksperimental dalam laboraturium dan suasana lapangan menemukan bahwa peningkatan perilaku kepemimpinan yang berorientasi pada hubungan biasanya menghasilkan kepuasan dan produktivitas yang lebih tinggi pada para bawahan. Perilaku yang berorientasi pada tugas tidak dimanipulasi pada banyak studi eksperimental, dan jika dimanupulasi hasilnya campur aduk dan tidak bisa disimpulkan.

2.2 PENELITIAN PERILAKU MENGGUNAKAN PERISTIWA KRITIS

Dalam kebanyakan studi tentang peristiwa kritis, peristiwa tersebut dikelompokan bersama atas dasar isi perilaku yang sama, oleh para peneliti atau oleh panel atasa responden. Kategori perilaku yang dihasilkan berbeda besar dari satu studi dengan studi lainya. Pembeda tersebut sebagian disebabkan oleh keragaman pemimpin yang telah dipelajari, termasuk misalnya penyelia produksi (Gellerman, 1976; Heizer, 1972), para menejer toko kelontong (Anderson &Nilson, 1964) serta para menejer departemen pada toko-toko enceran (Campell, Dunette, Arvey & Hellervik, 1973), dan para penyelia karyawan perkayuan (Latham & Wexley, 1977)perbedaan kategori perilaku juga disebabkan oleh sifat proses klaifikasi yang sembarang (arbitrary) dan subyektif. Meski demikian, penilaian yang mendalam atas hasil-hassil studi itu memperlihatkan bahwa adanya tinggkat kesamaan diantara studi terseut. Jenis perilaku pemimpin berikut ini ada dalam seagian besar studi :

1. Merencanakan, mengkoordinasikan operasi

2. Mengawasi bawahan (mengarahkan, memberi instrukssi, memantau kinerja) 3. Menetapkan dan mempertahankan hubungan yang baik dengan para bawahan 4. Menetapkan dan mempertahankan hubungan yang baik dengan para atasan, rekan

sejawat, dan pihak luar.

5. Menerima tanggung jawab untuk mengawasi kebijakan organisatoriss, melaksanakan tugas yang sibutuhkan, dan membuat keputusan yang diperlukan.

 Keterbatasan Penelitian Peristiwa Kritis

Metode peristiwa kritis mempunyai sejumlah keterbatasan. Metode ini mengasumsikan bahwa sebagian esar responden mengetahui perilaku apa yang penting dan relevean bagi

(8)

melaporkan peristiwa yang konsisten dengan stereotipe mereka atau dengan teori implisit tentang pemimpin yang efektif. Para peneliti jarang sekali melakukan tindakan lanjut atas studi peristiwa kritis dengan penelitian tambahan untuk memverifikasi bahwa perilaku terseebut mampu

menbedakan antara para pemimpin yang efektif dan tidak efektif yang yang dipilih berdasarka kriteria yang bebas, misalnya kinerja kelomppok. Pendekatan tindak lanjut tersebut telah digunakan dengan sukses pada sebuah studi yang dilakukan oleh Latham dan Wexley (1977) terhadap penyelia dari para pekerja dalam usaha perkayuan.

Banyak dari kategori perilaku yang ditemukan pada penelitian peristiwa kritis didefenisikan berdasar istilah yang menghubungkan perilaku tersebut dengan persyaratan spesifik atas pekerjaan dari jeni pemimpin yang dipelajari. Mendefenisikan kategori perilaku yang tingkat kekhususan ini memudahkan tujuan, seperti pengembangan alat penilaian kinerja atau penentuan kebutuhan akan pelatihan, namun sulit ntuk membandingkan kategori tersebut antar studi terhadap berbagai jenis pemimpin. Keterbatasan tersebut dapat ditanggulangi dengan melakukan kodifikasi peristiwa tersebut dalam kategori perilaku yang ditentukan lebih dulu yang dapat diunkan secara luas, seperti yang telah dilakukan oleh Yukl dan Fleet (1982). Penggunaan kategori perilaku yang spesifik dan ssituasional dan yang lebih generik memmungkinkan untuk digunakan pada penelitian peristiwa kritis untuk mencapai beragam tujuan.

 PENELITIAN TERHADAP PEMIMPIN YANG HIGH-HIGH

Dalam sebagian besar studi atas perilaku kepemimpinan, para peneliti telah menggunakan ukuran dan analisis yang mengasumsikan model aditif. Para peneliti ayng dilakukan di negara-negara barat, hasil model aditif tidak bisa disimpulkan. Perilaku tugas dan hubungan cenderung terkorelasi secra positif dengan kinerja bawahan, tetapi kolrelasi itu

biasanya lemah (Fisher & Edwards, 1988). Hanya sedeikit studi yang benar-benar telah menguji interaksi antara perilaku yang berorientasi pada tugas dan yang terorientasi pada orang, dan hasilnya tidak konsisten (misalnya, Evans, 1970; Fleishmen & Harris, 1962; Larson, Hunt & Osborn, 1976). Dalam survei dan studi quasi ekserimental telah memberikan dukunag yang lebih konsisten (Misumi, 1985), tetapi model multi plikatif tidak diuji.

(9)

deskriptif dari peristiwa kritis dan wawancara sangat menyarankan agar para pemimpin yang efektif itu memandu dan memudahkan pekerjaan untuk mencapai tujuan tugas sambil

memelihara hubungan koopreatif dan kerja tim.

 EVALUASI DARI PENELITIAN MENGENAI MODEL

Penelitian survei atas konsekuensin dari perilaku pemimpin tidak memberikan ujian yang memadai mengenai model tinggi-tinggi. Beberapa studi telah secara langsung menyelidiki apakah kedua jenis perilaku pemimpin itu berinteraksi dalam cara yang saling memudahkan. Bahkan jika sebagian besar studi telah menyimpulkan analisis demikian, terdapat beberapa keraguan bahwa kuesioner yang digunakan dalam kebanyakan studdi menjadi dasra yang memadai untuk mengevaluasi teori itu. Studi survei tidak mempertimbangakan kemungkinan bahwa para pemimpin yang efektif menggunakan sebentuk perilaku yang berorientasi tuagas maupun hubungan (Blake & Mouton, 1982;Sashkin & Fulmer,1988; Yukl, 1989). menurut Blake & mouton, pemimpin efektif bukanlah seseorang yang secara simultan memperlihatkan dua jenis perilaku yang berbeda, atau seseorang yang berganti-ganti perilaku, tetapi lebih sebagai

seseorang yang memilih bentuk perilaku tertentu yang secara simultan mencerminkan perhatian baik terhadap tugas maupun orang.

Sebuah contoh akan membantu memperjelas perbedaan ini. Pemimpin yang tinggi-tinggi (high-high) mendorong para bawahan untuk menetapkan sasaran yang menantang tetapi realistis mengenai kualitas produk yang luarbiasa bagusnya dan berkonsultasi dengan mereka tentang cara-cara untuk meningkatkan kualitas. Pemimpin yang tinggi tugas dan rendah hubungan menetapkan sasaran kualitas yang sulit dan menekan para bawahan utuk meningkatkan kualitas. Pemimpin yang rendah tugass dan tinggi hubungan mengabaikan masalah kualitas tetapi

perhatian terhadap bawahan dan berkonsultasi dengan mereka tentang cara-cara membuat lingkungan kerja menjadi lebih menyenangkan. Pemimpin yang renda-rendah mengabaikan masalh kualitas dan tidak acuh terhadap kebutuhan dan pilihan para bawahan.

Interdependensi biasa menjadi amat kompleks dan tidak selalu mungkin untuk

(10)

pengorbanan, meninggalkan tunjangan pribadi, da memderita kesulitan berat yang tidak akan mereka sukai. Lebih kagi, kebanyakan jenis perilaku memiliki hasil yang makin berkurang, dan tingkat optimalnya cara merupakan jumlah maksimum dari setiap perilaku. Sebagai contoh, biasanya menguntungkan bagi pemimpin bila memperjelas persyaratan peran para bawahan, tetapi pengarahan (“mikromanaging”) yang berlebihan menyebabkan penolakan, menghalangi inisiatif, dan merendahkan motivasi intrinssik. Biasanya menguntungkan bagi pemimpin jika memberikan dukungan dan dorongan kepada para bawahan, tetapi sejumlah besar perilaku mendukung (“menjadi terlalu melindungi”) yang berlebihan mendorong ketergantungan, membatasi perkembangan, dan pada akhirnya dapat menyebabkan penolakan. Model tersebut dan sebagian besar penelitian mengenai hal tersebut tidak mengakui kebutuhan untuk

menyeimbangkan nilai-nilai yang saling bersaing dan tidak menemukan setingkat perilaku yang optimal.

 REKONSILASI PENDEKATAN UNIVERSAL dan SITUASIONAL

Cara perilaku pemimpin dikonseptualisasikan dan diukur juga mempunyai implikasi terhadap kontroversi mengenai model universal situasional tentang efektifitas kepemimpinan. Model universal mendalilkan bahwa atribut kepemimpinan tertentu adalah optimal dalam semua situasi, sedangkan model situasional menyebutkan atribut berbeda berlaku dalam situasi berbeda. Saat Blake n Mouton (1982) menekankan pada aspek kualitatif yang membedakan perilaku tinggi-tinggi dari kombinasi lainnya, mereka dengan jelas mengakui perlunya para pemimpin memilih bentuk perilaku yang spesifik yang cocok bagi waktu atau situasi tertentu. Para manajer yang efektif mempunyai perhatian tinggi baik terhadap tugas maupun orang, namun cara

perhatian tersebut diterjemahkan menjadi perilaku berfariasi menurut situasi dan dari satu bawahan dengan bawahan lainnya. Jadi, sebuah teori kepemimpinan mungkin saja memiliki kedua aspek universal dan situasioanal. Bentuk universal dari teori mereka adalah orientasi nilai yang digunakan oleh manajer yang tinggi-tingi untuk memilih perilaku yang cocok, bukan pola tertentu dari perilaku tinggi-tinggi yang diterapkan secara otomatis pada semua situasi. Aspek situasional dari teori mereka adalah pemikiran bahwa perilaku tersebut harus relevan dengan situasi agar dapat menjadi efektif. Namun Blake & Mouton sebenarnya tidak pernah

mengembanngkan usulan yang spesifik mengenai perilaku yang cocok bagi situasi yang berbeda.

(11)

Sebuah masalah besar dalam penelitian mengenai kandungan dari perilaku kepemimpinan adalah identifikasi kategori perilaku yang relevan dan berarti bagi semua

pemimpin. Dalam penelitian atas aktivitas manajerial dalm bab 2, kita melihat bahwa setiap studi menghasilkan sekempulan kategori perilaku yang agak berbeda yang menyulitkan untuk

membandingkan dan mengintegrasikan hail lintas studi. Kondisi yang sama juga terjadi pada penelitian deskriptif yang ditinjau dalam bab ini. Konsekuensinya empat dekade terakhir ini telah menyaksikan timbulnya berbagai konsep perilaku yang membingungkan menyangkut para manajer dan pemimpin (lihat Bass,1990; Fleishman et al.,1991). Terkadang digunakan istilah berbeda untuk menunjukan ke jenis perillaku yang sama. Pada saat lainnya, istilah yang sama tersebut telah didefenisikan secara berbeda oleh eragai ahli teori. Apa yang diperlakukan sebagai kategori perilaku yang umum oleh seorang ahli teori, dipandang sebagai dua atau tiga kategori berbeda oleh ahli teori lainnya. Taksonomi yang berbeda telah timbuldari disiplin penelitian yang berbeda, dan sulit sekali untuk menerjemahkan sejumlah koinsep ke konssep lainnya.

2.4 PERILAKU HUBUNGHAN KHUSUS

Bagian ini menjelaskan tiga jenis khusus perilaku yang berorientasi hubungan yang sangat relevan bagi kepemimpinan efektif. Perilaku itu meliputi:

1. Memberikan Dukungan

Memberikan dukungan meliputi beragam luas perilaku yang memperlihatkan

pertimbangna, penerimaan, dan perhatian akan kebutuan dan perasaan orang-orang lain. Memberi dukungan merupakan komponen inti dari pertimbangan, seperti yang

didefenisikan oleh Fleishman (1953) dan Stogdill (1974), dan ini juga merupakan komponen inti dari kepemimpinan supertif, sepeti yang didefinisikan oleh Bowers dan Seashor (1966) dan Hause dan Mitchell (1974).

2. Mengembangkan

Mengembangkan meliputi beberapa praktek manjerial yang digunakan untuk meningkatkan ketrampilan seseorang dan memudahkan penyesuaian pekerjaan dan kemajuan karier. Perilaku konsumen melakukan pelatihan (coaching), memberikan nasehat (mentoring), dan konseling karier.

3. Memberikan pengakuan

(12)

penting bagi organisasi. Walaupun paling umum memberikan pengakuan sebagai sesuatu yang diberikan oleh manajer kepada bawahan, praktik manajerial ini juga digunakan terhadap rekan sejawat, atasan dan orang-orang diluar unit kerja. Tujuan utama pengakuan, khususnya saat digunakan kepada bawahan adalah untuk memperkuat perilaku yang diinginkan dan komitmen kepada tugas. Bentuk utama pengakuan yaitu :  Pujian

Pujian terdiri dari komentar lisan,ekspresi,atau bahasa tubuh yang mengakui keberhasilan dan konstribusi seseorang. Ini merupakan bentuk pengakuan yang paling mudah

digunakan. Kebanyakan pujian diberikan secara pribadi, tetapi dapat digunakan dalam acara ritual atau upacara public.

 Penghargaan

Penghargaan meliputi hal-hal seperti sertifikat keberhasilan,surat penghargaan, plakat, tropi, medali, atau pita penghargaan. Memberikan penghargaan formal merupakan tindakan simbolis yang menyampaikan nilaidan prioritas manajer kepada orang-orang dalam organisasi. Jadi adalah agar penghargaan didasarkan pada kriteria bukannya sifat pilih kasih atau penilaian sembarangan. Penghargaan yang sangat terlihatmemungkinkan orang lain untukikutsertadalam proses mengharga isi menerima dan memperlihatkan apresiasi bagi konstribusinya organisasi.

 Upacara Pengakuan

Upacara pengakuan memastikan bahwa keberhasilan seseorang diakui bukan hanya oleh manajer tetapi anggota organisasi itu. Upacara pengakuan dapat digunakan untuk

merayakan keberhasilan unit kerja atau tim serta keberhasilan seseorang . kebiasaan atau upacara khusus untuk menghormati karyawan atau tim tertentu dapat memiliki nilai simbois yang kuat saat dihadiri oleh manajemen puncak, karena merekam emperlihatkan perhatian mereka atas apek perilaku atau kinerja yang diberikan pengakuan.

Selama 50 tahun terakhir, penelitian mengenai hubungan antara perilaku dan efektivitas kepemimpianan telah didominasi oleh perspektif tingkat mikro da focus atas proses

dyadic. Penelitian awal sebagian besar mengabaikan cara para pemimpin mempengaruhi orang dengan menarik nilai-nilai ideology, membantu menerjemahkan makna peristiwa, dan

memudahkan adaptasi dan perubahan lingkungan yang bergolak. Aspek-aspek kepemimpinan tersebut saa ini ditekankan pada teori kepemimpinan transformasional, karismatik,

(13)

Taksonomi perilaku merupakan bantuan deskriptif yang dapat membantu kita

menganalisis peristiwa rumit dan memberikan pengertian yang lebih baik mengenai hal tersebut. Namun ,sangat penting untuk diingat bahwa semua taksonomi perilaku adalah sembarangan (arbitary), dan tidak mempunyai keabsahan dalam arti kata absolut. Sayangnya, telah terlalu banyak keasyikan dalam mendapatkan dan menggunakan kategori perilaku yang “benar” dalam banyak studi lapanagan mengenai perilaku manajerial, hanya sedikit perilaku yang “benar” yang diukur, yang mengakibatkan banyaknya peluang yang dilewatkan untuk mengumpulkan

informasi yang kaya dan bersifat deskriptif mengenai pola umum perilaku kepemimpinan. Baik pada penelitian koesioner maupun observasi ,sangatlah penting untuk bertindak fleksibel terhadap konsepsi perilaku yang digunakan untuk menganalisis pola-pola perilaku

kepemimpinan, bukannya mengansumsikan bahwa kita telah mengetahui lebih dulu konsep siapa yang paling berguna.

Berapa taksonomi telah diuasulkan untuk menjelaskan jenis perilaku yang

khusus.Perbedaan anta taksonomi dapat dijelaskan sebagi sebuah hasil dari perbedaan dalam tujuan.,tingkat abstraksi, dan metode pengembangan. Namun, perbedaan dalam label kategori cenderung untuk mengaburkan sejumlah pemusatan pandangan dalam kandungan prilaku.

Perencanaan ,melakukan penjelasan dan pengawasan merupakan perilaku penting yang berorientasi tugas yang secara bersama-sama mempengaruhi kinerja bawahan. Perencanaan melibatkan membuat keputusan tentang tujuan, prioritas, strategi, alokasi sumber daya,

pemberian tanggung jaawab, pembuatan jadwal aktivitas, dan alokasi waktu manajer itu sendiri. Membuat penjelasan meliputi memberikan tugas, menjelaskan tanggung jawab pekerjaan, menjelaskan peraturan dan prosedur, mengkomunikasikan prioritas, menetapkan sasaran kinerja khusus dan tenggat waku, dan memberikan instruksi tentang bagaimana melakukan sebuah pekerjaan. Pengawasan melibatkan mendapatkan informasi yang dibutuhkan untuk mengevaluasi operasi dari unit kerja dan kinerja dari masing-masing bawahan.

(14)

Mengembangkan meliputi perilaku yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan yang berhubungan dengan pekerjaan dan memudahkan penyesuaian pekerjaan dan kemajuan karir seseorang. Contohnya meliputi pelatihan, pemberian nasihat, dan konseling karir. Memberikan pengakuan melibatkan memberikan pujian dan memperlihatkan apresiasi terhadap orang lain atas kinerja yang efektif, keberhasilan yang signifikan, dan konstribusi penting kepada orgnisasi. Memberikan pengakuan membantu untuk menguatkan perilaku yang diinginkan, meningkatkan hubungan antar pribadi, dan menigkatkan kepuasaan kerja.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Memberikan dukungan, mengembangkan dan memberikan pengakuan merupakan perilaku penting yang berorientasi pada hubungan. Memberikan dukungan meliputih saran luas prilaku dimana seorang manajer rmemperlihatkan pertimbangan, penerimaan, dan perhatian kepada kebutuhan dan perasaan seseorang. seorang manajer yang perhatian dan bersahabat terhadap orang-orang mungkin memenangkan persahabatan dan kesetiaan mereka.

(15)

berhubungan dengan pekerjaan dan memudahkan penyesuaian pekerjaan dan kemajuan karir seseorang.

DAFTAR PUSTAKA

http://anthoposthink02.blogspot.co.id/2014/02/makalah-perpektif-tentang-perilaku.html

Referensi

Dokumen terkait

Adapun dalam pelaksanaan teknis SHK tesebut pengambilan sampel harus dilakukan oleh tenaga kesehatan, Hal ini di tergaskan dalam Pasal 5 (ayat 3) Peraturan

Berdasarkan ketiga post hoc test setiap minggu, diperoleh hasil bahwa ketiga perlakuan dapat menurunkan kadar gula darah secara signifikan dibandingkan kelompok

meningkatnya putaran turbin angin. 6arena modul ini merupakan PL/0 dengan penambaan spro)ket rantai roda gigi dengan rasio 5: maka putaran generator  merupakan tiga

Pada umumnya, guru menyatakan bahwa idealnya sebuah pembelajaran IPA Terpadu adalah sebelum disampaikan, hendaknya memilih materi yang nantinya akan dikaitkan satu

Bagian ini agar dibuat dalam format paragraf dengan pencantuman secara jelas kepada pihak yang terkait langsung dengan penelitian pada naskah. Pencantuman nama atau institusi

Interaksi antara tingkat energi dan protein dalam ran- sum terhadap konsumsi ransum berpengaruh nyata (P < 0.01). Untuk jelasnya dapat dilihat pada Tabel 7.. Hal

3bstacle limitation dilakukan untuk men"amin keamanan dengan mengurangi resiko kecelakaan dengan cara menempatkan suatu ruang maya di sekitar  aerodrome yang

Seiring berjalannya waktu, ia sering diminta menjadi narasumber dalam beberapa acara yang berkaitan dengan persoalan arah kiblat, penentuan awal bulan Kamariah, dan