Modul 1 Ejaan Dan Tanda Baca

15  74 

Teks penuh

(1)

PEMAKAIAN TANDA BACA

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

Bahasa Indonesia

Dosen Pembimbing: Dra. Tati Sri Uswati, M.Pd

Disusun oleh:

Aprilia Wulandari

P2.06.24.2.17.003

Arifa Laura Pertiwi

P2.06.24.2.17.004

Hanny Nur Aysah

P2.06.24.2.17.013

Ika Rahmawati

P2.06.24.2.17.015

Siti Zulviati Rahma

P2.06.24.2.17.036

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN CIREBON

POLTEKKES KEMENKES TASIKMALAYA

Jl. Pemuda No.38 Kota Cirebon

(2)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...ii

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...2

1.3 Tujuan...2

BAB II PEMBAHASAN...3

2.1 Pengertia Tanda Baca...3

2.2 Tanda Titik (.)...3

2.3 Tanda Koma (,)...3

2.4 Tanda Titik Koma (;)...6

BAB III PENUTUPAN...

3.1 Kesimpulan...15

3.2 Saran...15

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Bahasa Indonesia yang berjudul “Pemakaian Tanda Baca”. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia sebagai pembelajaran mata kuliah Bahasa Indonesia.

Kami juga tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen mata kuliah Bahasa Indonesia yang telah memberikan tugas ini kepada kami dan membantu kami sebagai penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Dan tidak lupa kami juga mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini dan bekerja sama menyelesaikan makalah ini.

Akhirnya sebagai penulis kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik meskipun sebagai manusia biasa yang tidak terhindar dari kekeliruan penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Semoga makalah ini bermanfaat dan bisa menjadi bahan evaluasi dan tolak ukur dalam makalah-makalah lainnya khususnya bagi mata kuliah Bahasa Indonesia di masa yang akan datang. Segala saran dan kritikan yang membangun yang datang dari pembaca sangat penulis butuhkan sebagai bahan masukan untuk perbaikan di masa-masa mendatang.

Cirebon, 20 September 2017

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.2 Latar Belakang

Tanda baca adalah tanda yang dipakai dalam sistem ejaan (seperti titik, koma, titik koma).Tanda baca berguna bagi pembaca untuk membantu memahami setiap bacaan. Tanpa tanda baca, pembaca akan sulit mengerti maksud dari penulis melalui bacaan itu. Bayangkan saja apabila tidak ada tanda baca, misalnya saja tanda titik (.), tentu para pembaca kebingungan menentukan antarhubungan kalimat dan maksud dari kalimat itu karena semuanya tersambung tanpa jeda.

Sering kali kita mendengar orang-orang Indonesia yang menggunakan bahasa yang tidak baku dalam kegiatan-kegiatan resmi atau menggunakan kata serapan yang salah, bahkan dalam penulisanpun masih terjadi kesalahan penggunaan tanda baca, sehingga mengakibatkan kesalahan makna, padahal Pemerintah Indonesia telah membuat aturan-aturan resmi tentang tata bahasa baik itu kata serapan maupun penggunaan tanda baca. Pelajaran Bahasa Indonesia sebenarnya sudah diajarkan sejak dari Sekolah Dasar (SD) sampai ke perguruan tinggi. Tapi kesalahan ini masih sering terjadi, bahkan berulang-ulang kali. Ketidak fahaman terhadap tata bahasa yang mengkhawatirkan ialah ketika aturan ini terlalu sering diacuhkan oleh masyarakat Indonesia, karena salah satu dampak negatifnya ialah hal ini akan dianggap lazim oleh masyarakat Indonesia terlebih lagi oleh anak-cucu yang akan menjadi penerus negeri ini, karena akan mempersulit masyarakat dalam berkomunikasi.

Maka dari itu dalam makalah ini, penulis akan memaparkan bagaimana tata bahasa yang benar tentang tanda-tanda baca, sehingga kita memahami dan dapat menerapkan aturan berbahasa yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari terlebih dalam acara-acara resmi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan tanda baca? 2. Apa saja jenis-jenis dari tanda baca?

3. Bagaimana contoh-contoh penggunaan tanda?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui dan memahami pengertian dari tanda baca.

(5)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tanda Baca

Tanda baca adalah suatu bentuk simbol yang berguna untuk membuat susuna kalimat menjadi beraturan dan untuk memberikan tekanan atau nada atau intonasi pada suatu kalimat.

Menurut Wikipedia Indonesia, tanda baca adalah simbol yang tidak berhubungan dengan fonem (suara) atau kata dan frasa pada suatu bahasa, melainkan berperan untuk menunjukkan struktur dan organisasi suatu tulisan, dan juga intonasi serta jeda yang dapat diamati sewaktu pembacaan. Aturan tanda baca berbeda antara bahasa, lokasi, waktu, dan terus berkembang. Beberapa aspek tanda-tanda baca adalah suatu gaya spesifik yang karenanya tergantung pada pilihan penulis.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dari halaman 597. Tanda baca adalah tanda yang dipakai dalam sistem ejaan.

2.2 Tanda Titik (.)

1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Misalnya:

 Ayahku tingal di Solo.

 Biarlah mereka duduk di sana.

 Dia menanyakan siapa yang akan datang. 2. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat pernyataan.

Misalnya:

 Mereka duduk di sana.

 Dia akan datang pada pertemuan itu.

3. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar. Misalnya:

 I. Kondisi Kebahasaan di Indonesia A. Bahasa Indonesia

1. Kedudukan 2. Fungsi

(6)

1. Kedudukan

(1) Tanda titik tidak dipakai pada angka atau huruf yang sudah bertanda kurung dalam suatu perincian.

Misalnya:

Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai 1) bahasa nasional yang berfungsi, antara lain, a) lambang kebanggaan nasional,

b) identitas nasional, dan c) alat pemersatu bangsa; 2) bahasa negara ....

(2) Tanda titik tidak dipakai pada akhir penomoran digital yang lebih dari satu angka (seperti pada Misalnya III.A.2.b).

(3) Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau angka terakhir dalam penomoran deret digital yang lebih dari satu angka dalam judul tabel, bagan, grafik, atau gambar.

Misalnya:

 Tabel 1 Kondisi Kebahasaan di Indonesia  Tabel 1.1 Kondisi Bahasa Daerah di Indonesia  Bagan 2 Struktur Organisasi

(7)

 Grafik 4 Sikap Masyarakat Perkotaan terhadap Bahasa Indonesia  Grafik 4.1 Sikap Masyarakat Berdasarkan Usia

 Gambar 1 Gedung Cakrawala  Gambar 1.1 Ruang Rapat

4. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu atau jangka waktu.

Misalnya:

 pukul 01.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik atau pukul 1, 35 menit, 20 detik)  01.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)

 00.20.30 jam (20 menit, 30 detik)  00.00.30 jam (30 detik)

5. Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul tulisan (yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru), dan tempat terbit.

Misalnya:

 Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Peta Bahasa di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta.

 Moeliono, Anton M. 1989. Kembara Bahasa. Jakarta: Gramedia.

6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang

menunjukkan jumlah. Misalnya:

 Indonesia memiliki lebih dari 13.000 pulau.  Penduduk kota itu lebih dari 7.000.000 orang.

 Anggaran lembaga itu mencapai Rp225.000.000.000,00. Catatan:

(8)

Misalnya:

 Dia lahir pada tahun 1956 di Bandung.

 Kata sila terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa halaman 1305.

 Nomor rekening panitia seminar adalah 0015645678.

(2) Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, ilustrasi, atau tabel.

Misalnya:

 Acara Kunjungan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD 1945)

 Gambar 3 Alat Ucap Manusia

 Tabel 5 Sikap Bahasa Generasi Muda Berdasarkan Pendidikan

(3) Tanda titik tidak dipakai di belakang (a) alamat penerima dan pengirim surat serta (b) tanggal surat.

Misalnya:

 Yth. Direktur Taman Ismail Marzuki Jalan Cikini Raya No. 73

Menteng Jakarta 10330

 Yth. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jalan Daksinapati Barat IV

Rawamangun Jakarta Timur  Indrawati, M.Hum.

Jalan Cempaka II No. 9 Jakarta Timur

 21 April 2013

(9)

2.3 Tanda Koma (,)

1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan. Misalnya:

 Telepon seluler, komputer, atau internet bukan barang asing lagi.  Buku, majalah, dan jurnal termasuk sumber kepustakaan.

 Satu, dua, ... tiga!

2. Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara).

Misalnya:

 Saya ingin membeli kamera, tetapi uang saya belum cukup.  Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya.

 Dia membaca cerita pendek, sedangkan adiknya melukis panorama.  Semua mahasiswa harus hadir, kecuali yang tinggal di luar kota.

3. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya.

Misalnya:

Kalau diundang, saya akan datang.

Karena baik hati, dia mempunyai banyak teman.

Agar memiliki wawasan yang luas, kita harus banyak membaca buku. Catatan: Tanda koma tidak dipakai jika induk kalimat mendahului anak kalimat.

Misalnya:

 Saya akan datang kalau diundang.

 Dia mempunyai banyak teman karena baik hati.

(10)

4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat, seperti

oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun demikian.

Misalnya:

 Mahasiswa itu rajin dan pandai. Oleh karena itu, dia memperoleh beasiswa belajar di luar negeri.

 Anak itu memang rajin membaca sejak kecil. Jadi, wajar kalau dia menjadi bintang pelajar

 Orang tuanya kurang mampu. Meskipun demikian, anak-anaknya berhasil menjadi sarjana.

Catatan: Ungakapan penghubung antarkalimat, seperti oleh kerena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun demikian, tidak dipakai pada awal paragraf.

5. Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak.

Misalnya:  O, begitu?

Wah, bukan main!

 Hati-hati, ya, jalannya licin!  Nak, kapan selesai kuliahmu?  Siapa namamu, Dik?

 Dia baik sekali, Bu.

6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. Misalnya:

 Kata nenek saya, "Kita harus berbagi dalam hidup ini."

(11)

Catatan: Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung yang berupa kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru dari bagian lain yang mengikutinya.

Misalnya:

 "Di mana Saudara tinggal?" tanya Pak Lurah.  "Masuk ke dalam kelas sekarang!" perintahnya.  "Wow, indahnya pantai ini!" seru wisatawan itu.

7. Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan. Misalnya:

 Sdr. Abdullah, Jalan Kayumanis III/18, Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Matraman, Jakarta 13130

 Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Salemba Raya 6, Jakarta  Surabaya, 10 Mei 1960

 Tokyo, Jepang

8. Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Misalnya:

 Gunawan, Ilham. 1984. Kamus Politik Internasional. Jakarta: Restu Agung.  Halim, Amran (Ed.) 1976. Politik Bahasa Nasional. Jilid 1. Jakarta: Pusat Bahasa.  Tulalessy, D. dkk. 2005. Pengembangan Potensi Wisata Bahari di Wilayah Indonesia

Timur. Ambon: Mutiara Beta.

9. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir. Misalnya:

(12)

 Hadikusuma Hilman, Ensiklopedi Hukum Adat dan Adat Budaya Indonesia (Bandung: Alumni, 1977), hlm. 12.

 W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Jogjakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.

10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan singkatan gelar akademis yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga. Misalnya:

 B. Ratulangi, S.E.  Ny. Khadijah, M.A.  Bambang Irawan, M.Hum.  Siti Aminah, S.H., M.H.

Catatan: Bandingkan Siti Khadijah, M.A. dengan Siti Khadijah M.A. (Siti Khadijah Mas Agung).

11. Tanda koma dipakai sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Misalnya:

12,5 m 27,3 kg Rp500,50 Rp750,00

12. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi. Misalnya:

 Di daerah kami, misalnya, masih banyak bahan tambang yang belum diolah.  Semua siswa, baik laki-laki maupun perempuan, harus mengikuti latihan paduan

suara.

 Soekarno, Presiden I RI, merupakan salah seorang pendiri Gerakan Nonblok.  Pejabat yang bertanggung jawab, sebagaimana dimaksud pada ayat (3), wajib

menindaklanjuti laporan dalam waktu paling lama tujuh hari.

(13)

 Siswa yang lulus dengan nilai tinggi akan diterima di perguruan tinggi itu tanpa melalui tes.

13. Tanda koma dapat dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat untuk menghindari salah baca/salah pengertian.

Misalnya:

Dalam pengembangan bahasa, kita dapat memanfaatkan bahasa daerah.  Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.

Bandingkan dengan:

Dalam pengembangan bahasa kita dapat memanfaatkan bahasa daerah.  Atas perhatian Saudara kami ucapkan terima kasih.

2.4 Tanda Titik Koma (;)

1. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang lain di dalam kalimat majemuk. Misalnya:

 Hari sudah malam; anak-anak masih membaca buku.

 Ayah menyelesaikan pekerjaan; Ibu menulis makalah; Adik membaca cerita pendek; saya sendiri asyik memetik gitar menyanyikan puisi-puisi penyair kesayanganku. 2. Tanda titik koma dipakai pada akhir perincian yang berupa klausa. Dalam hubungan itu,

sebelum perincian terakhir tidak perlu digunakan kata dan. Misalnya:

Syarat penerimaan pegawai di lembaga ini adalah: (1) berkewarganegaraan Indonesia;

(2) berijazah sarjana S-1; (3) berbadan sehat; dan

(4) bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 3. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan bagian-bagian pemerincian dalam kalimat

(14)

 Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaus; pisang, apel, dan jeruk.  Agenda rapat ini meliputi

a. pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara;

b. penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan program kerja; dan c. pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organisasi.

BAB III

PENUTUPAN

3.1 Kesimpulan

Kini masyarakat cenderung enggan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari. Kaum urban lebih senang memakai bahasa sendiri yang diciptakan sendiri dengan tujuan supaya tidak terkesan “jadul” dan ketinggalan zaman. Masyarakat lebih senang memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar hanya ketika berada di lingkungan formal saja, dengan alasannya masing-masing. Sehingga berdampak pada berkurangnya pemakai kata-kata baku.

Kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar diantaranya dalam tanda baca. Tanda baca atau pungtuasi merupakan salah satu kaidah yang sangat penting. Tanda baca merupakan simbol dalam suatu bacaan untuk dapat dipahami dengan mudah oleh pembacanya. Tanpa tanda baca kita akan sulit memahami maksud yang terkandung dalam suatu bacaan. Oleh karena itu, tanda baca sangat penting untuk dipelajari agar kita tahu maksud dari suatu bacaan, dan mampu membuat tulisan dengan benar dan baik.

3.2 Saran

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Murtiani, Anjar S.S dkk. 2016. Pedoman Umum EBI. Yogyakarta: Araska

Mulyadi, Yadi. 2017. EBI + Ejaan Bahasa Indonesia. Bandung: YRAMA

WIDYA

http://id.wikipedia.org/wiki/Tanda_baca

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...