• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP ILMU PEMERINTAHAN DAN NEGARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KONSEP ILMU PEMERINTAHAN DAN NEGARA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEP ILMU PEMERINTAHAN DAN NEGARA

DR. H. DADANG SUFIANTO, MM

Negara adalah suatu wilayah dipermukan bumi yang kekuasaannya, abik politik, militer, social, maupun budayanya diatur oleh pemerintahan yang berada pada diwilayah tersebut. Negara juga merupakan suatu wilayah yang memiliki suatu system atau aturan yang berlaku bagi semua individu diwilayah tersebut dan berdiri secara independent. Syarat primer sebuah Negara adalah memiliki rakyat, wilayah, dan pemerintahan yang berdaulat. Adapun syarat sekundernya adalah mendapat pengakuan dari Negara lain. Kedaulatan, yaitu bahwa Negara diakui oleh warganya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas diri mereka pada wilayah tempat Negara itu berada.

Keberadaan Negara, seperti organisasi secara umum adalah untuk memudahkan anggotanya (rakyat) mencapai tujuan bersama atau cita-citanya. Keinginan bersama ini dirumuskan dalam dokumen yang disebut sebagai konstitusi, termasuk didalamnya nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh rakyat sebagai anggota Negara. Sebagai dokumen yang mencantumkan cita-cita bersama, konstitusi merupakan dokumen hokum tertinggi pada suatu Negara karena konstitusi mengatur cara Negara dikelola. Di Indonesia, konstitusi disebut sebagai Undang Undang Dasar. Pengambilan keputusan dalam pembentukan Undang-Undang harus dilakukan secara demokratis, yaitu menghormati hak setiap orang untuk terlibat dalam pembuatan keputusan yang akan mengikat mereka. Seperti juga dalam organisasi biasa, aka nada orang yang mengurus kepentngan rakyat banyak. Dalam suatu Negara modern, orang-orang yang mengurus kehidupan rakyat banyak dipilih secara demokratis pula.

Dalam bentuk modern, Negara berkaitan dengan keinginan rakyat untuk mencapai kesejahteraan bersama dengan cara-cara yang demokratis, bentuk paling kongkret pertemuan Negara denga rakyat adalah pelayanan public, yaitu pelayanan yang diberikan Negara pada rakyat, terutama cara Negara memberikan pelayanan kepada rakyat secara keseluruhan. Fungsi pelayanan paling dasar adalah pemberian rasa aman. Negara dianggap mampu menjalankan fungsi pelayanan keamanan bagi seluruh rakyat apabila semua rakyat merasa bahwa tidak ada ancaman dalam kehidupanya. Dalam perkembanganya banyak Negara memiliki layanan yang berbeda bagi warganya.

A. KONSEP NEGARA

1. Definisi Negara

Beberapa definisi Negara menurut para ahli, sebagaimana dikutip dan dijelaskan oleh Inu Kencana (2007) adalah sebagai berikut :1

a. Benedictus de Spinoza : Negara adalah susunan masyarakat yang integral (kesatuan) antara semua golongan dan bagian dari seluruh anggota masyarakat (persatuan masyarakat organis);

b. R.M. MacIver: Negara adalah asosiasi yang menyelenggarakan penertiban di dalam suatu masyarakat di suatu wilayah berdasarkan sistem hukum yang diselenggarakan oleh suatu pemerintah yang untuk maksud tersebut diberi kekuasaan memaksa

c. Max Weber: Negara adalah suatu masyarakat yang memonopoli penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam suatu wilayah.

(2)

d. Prof. Miriam Budiardjo: Negara adalah suatu daerah teritorial yang rakyatnya diperintah oleh sejumlah pejabat dan yang berhasil menuntut dari warga negaranya ketaatan pada peraturan perundang-undangannya melalui penguasaan (kontrol) monopolistis dari kekuasaan yang sah.

Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa Negara merupakan suatu organisasi kekuasaan yang teratur, kekuasaanya bersifat memaksa dan monopoli, suatu organisasi yang bertugas mengurus kepentingan bersama dalam masyarakat dan persekutuan yang memilikiwilayah tertentu dan dilengkapai alat perlengkapan Negara.

Negara merupakan integrasi kekuasaan politik, organisasi pokok kekuatan politik, agensi (alat) masyarakat yang memegang kekuasaan mengatur hubungan antar manusia dalam masyarakat dan menertibkan gejala kekuasaan didalamnya. Dengan demikian, Negara mengintegrasikan dan membimbing berbagai kegiatan social penduduknya kearah tujuan berama.

2. Esensi Negara

Negara merupakan suatu organisasi dalam satu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi yang ditaati oleh rakyatnya. Negara memiliki sifat memaksa, monopoli, dan mencakup semua.

Istilah Negara telah digunakan sejak zaman dahulu, misalnya pada zaman Yunani Kuno. Aristoteles (384-322 SM) dalam buku Politica merumuskan pengertian Negara. Saat itulah istilah polis diartikan sebagai Negara kota (City State) yang berfungsi sebagai tempat tinggal bersama warga Negara dengan pemerintah dan benteng untuk menjaga keamanan dari serangan musuh. Plato (guru Aristoteles) melihat bahwa Negara timbul karena adanya keinginan dan kebutuhan manusia yang beragam dan mendorong mereka untuk bekerja dalam memenuhi kebutuhan. Contoh bentuk polis adalah Sparta dan Athena yang pada saat itu telah mengenal pemerintahan dengan system demokrasi langsung.

Secara etimologi, istilah “Negara” berasla dari terjemahan bahasa asing, yaitu Staat (Belanda dan Jerman) dan State (Inggris). Kata Staat ataupun State berasal dari bahasa latin, yaitu Status dan Statum yang artinya menempatkan dalam keadaan berdiri, membuat bersiri, atau menempatkan. Kata Status juga dapat diartikan sebagai keadaan tegak dan tetap. Nicholo Machiavelli memperkenalkan istilah La Stato dalam buku II Prancipe. Ia mengartikan Negara sebagai kekuasaan yang mengajarkan cara raja memerintah dengan sebaik-baiknya.

Kata “Negara” yang lazim digunakan di Indonesia berasal dari bahasa Sangsekerta, yaitu Nagari atau Nagara yang berarti wilayah, kota, atau penguasa.

(3)

3. Teori Negara Hukum Rechtstaat

Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 menyebutkan “Negara Indonesia Negara hokum.” Negara hokum dimkasud adalah Negara yang menegakkan supremasi hokum untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dan tidak ada kekuasaan yang tidak dipertanggungjawabkan.2

Secara umum, dalam setiap Negara yang menganut paham Negara hokum, selalu berlaku tiga prinsip dasar, yaitu supremasi hokum (supremacy of law), kesetaraan dihadapan hokum (equality before the law), dan penegakan hokum dengan cara tidak bertentangan dengan hokum (due process of law).

Prinsip penting dalam Negara hokum adalah perlindungan yang sama (equal protection) atau persamaan dalam hokum (equality before the law). Perbedaan perlakuan hokum hanya boleh jika ada alasan yang khusus, misalnya anak-anak dibawah umur 17 tahun mempunyai hak yang berbeda dengan anak-anak yang diatas 17 tahun. Perbedaan ini memiliki alasan yang rasional. Akan tetapi, perbedaan perlakuan tidak dibolehkan jika tanpa alasan yang logis, misalnya karena perbedaan warna kulit, gender, agama dan kepercayaan, sekte tertentu dalam agama, atau perbedaan status, seperti tuan tanah dan petani miskin. Meskipun demikian, perbedaan perlakuan tanpa alasan yang logis seperti ini hingga saat ini masih banyak terjaadi diberbagai Negara, termasuk dinegara yang hukumnya sudah maju.3

Menurut Dicey, berlakunya konsep kesetaraan dihadapan hokum (equality before the law) adalah semua orang harus tunduk pada hokum dan tidak seorangpun berada diatas hokum (above the law).4

B. ASAL USUL NEGARA

1. Asal Usul Negara

Beberapa abad sebelum masehi, para Filsuf Yunani, seperti Socrates, Palto, dan Aristoteles telah mengajarkan beberapa teori tentang Negara. Telaah mereka tentang ilmu Negara dan hokum masih berpengaruh hingga saat ini sekalipun pengertian mereka tentang Negara pada saat itu hanya meliputi lingkungan kecil, yaitu lingkungan kota atau Negara yang disebut Polis.

Plato menamakan bukunya Politeia (soal-soal Negara kota) dan bukunya yang lain Politicos (ahli polis, ahli Negara kota). Aristoteles menamakan bukunya Politica (ilmu tentang Negara kota). Dari kata terebutlah asal kata “politik” yang berarti hal-ihwal dan seluk beluk Negara.

2 Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik IndonesiaI Panduan Pemasyarakatan

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (sesuai dengan urutan Bab, Pasal, dan Ayat),

Jakarta: Sekretaris Jenderal MPR RII 2010I Hlm. 46.

3Op. Cit.,Hlm. 154.

4 Munir FuadyI Teori Negara Hukum Modern (Reschtstaat). Bandung : Refka ditamaI 2009I

(4)

2. Mulai Dikenalnya Istilah Negara

Istilah Negara mulai dikenal pada masa renaisans di Eropa pada abad ke-51 melalui Niccolo Machiavelli yang mengenal istilah Lo Stato dalam bukunya II Principe. Semula istilah tersebut digunakan untuk menyebut sebagaian dari jabatan Negara, kemudian diartikan juga sebagai aparat Negara, dan “orang-orang yang memegang tampuk pemerintahan beserta staf-stafnya” ataupun “susunan tata pemerintahan atas suatu masyarakat diwilayah tertentu.”5

Lo Stato pada masa itu juga digunakan untuk menyebut pihak yang diperintah (dependent). Namun, pada masa pemerintahan absolute raja-raja, state (Negara) diartikan sebagai pemerintah. Istilah ini kemudian disepadankan dengan L’Etat (Prancis), The State (Inggris), Det Staat (Jerman), De Staat (belanda), dan Negara (Indonesia).

3. Teori Asal Mula Terjadinya Negara

Asal mula terjadinya Negara dilihat berdasarkan pendekatan teoretis ada beberapa macam, yaitu sebagai berikut :6

a. Teori Ketuhanan

Timbulnya negara itu adalah atas kehendak Tuhan. Segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa kehendak-Nya. Friederich Julius Stahl (1802-1861) menyatakan bahwa negara tumbuh secara berangsur-angsur melalui proses evolusi, mulai dari keluarga, menjadi bangsa dan kemudian menjadi negara. “Negara bukan tumbuh disebabkan berkumpulnya kekuatan dari luar, melainkan karena perkembangan dari dalam. Ia tidak tumbuh disebabkan kehendak manusia, melainkan kehendak Tuhan,” katanya.

Demikian pada umumnya negara mengakui bahwa selain merupakan hasil perjuangan atau revolusi, terbentuknya negara adalah karunia atau kehendak Tuhan. Ciri negara yang menganut teori Ketuhanan dapat dilihat pada UUD berbagai negara yang antara lain mencantumkan frasa: “Berkat rahmat Tuhan …” atau “By the grace of God”. Doktrin tentang raja yang bertahta atas kehendak Tuhan (divine right of king) bertahan hingga abad XVII.

b. Teori Perjanjian

Teori ini disusun berdasarkan anggapan bahwa sebelum ada negara, manusia hidup sendiri-sendiri dan berpindah-pindah. Pada waktu itu belum ada masyarakat dan peraturan yang mengaturnya sehingga kekacauan mudah terjadi di mana pun dan kapan pun. Tanpa peraturan, kehidupan manusia tidak berbeda dengan cara hidup

5Loc. Cit., Miriam BudiardjoI Hlm. 13.

(5)

binatang buas, sebagaimana dilukiskan oleh Thomas Hobbes: Homo homini lupus dan Bellum omnium contra omnes. Teori Perjanjian Masyarakat diungkapkannya dalam buku Leviathan. Ketakutan akan kehidupan berciri survival of the fittest itulah yang menyadarkan manusia akan kebutuhannya: negara yang diperintah oleh seorang raja yang dapat menghapus rasa takut.

Demikianlah akal sehat manusia telah membimbing dambaan suatu kehidupan yang tertib dan tenteram. Maka, dibuatlah perjanjian masyarakat (contract social). Perjanjian antarkelompok manusia yang melahirkan negara dan perjanjian itu sendiri disebut pactum unionis. Bersamaan dengan itu terjadi pula perjanjian yang disebut pactum subiectionis, yaitu perjanjian antarkelompok manusia dengan penguasa yang diangkat dalam pactum unionis. Isi pactum subiectionis adalah pernyataan penyerahan hak-hak alami kepada penguasa dan berjanji akan taat kepadanya.

Penganut teori Perjanjian Masyarakat antara lain: Grotius (1583-1645), John Locke (1632-1704), Immanuel Kant (1724-1804), Thomas Hobbes (1588-1679), J.J. Rousseau (1712-1778).

Ketika menyusun teorinya itu, Thomas Hobbes berpihak kepada Raja Charles I yang sedang berseteru dengan Parlemen. Teorinya itu kemudian digunakan untuk memperkuat kedudukan raja. Maka ia hanya mengakui pactum subiectionis, yaitu pactum yang menyatakan penyerahan seluruh haknya kepada penguasa dan hak yang sudah diserahkan itu tak dapat diminta kembali. Sehubungan dengan itulah Thomas Hobbes menegaskan idealnya bahwa negara seharusnya berbentuk kerajaan mutlak/ absolut.

John Locke menyusun teori Perjanjian Masyarakat dalam bukunya Two Treaties on Civil Government bersamaan dengan tumbuh kembangnya kaum borjuis (golongan menengah) yang menghendaki perlindungan penguasa atas diri dan kepentingannya. Maka John Locke mendalilkan bahwa dalam pactum subiectionis tidak semua hak manusia diserahkan kepada raja. Seharusnya ada beberapa hak tertentu (yang diberikan alam) tetap melekat padanya. Hak yang tidak diserahkan itu adalah hak azasi manusia yang terdiri: hak hidup, hak kebebasan dan hak milik. Hak-hak itu harus dijamin raja dalam UUD negara. Menurut John Locke, negara sebaiknya berbentuk kerajaan yang berundang-undang dasar atau monarki konstitusional.

(6)

Mengenai kebenaran tentang terbentuknya negara oleh Perjanjian Masyarakat itu, para penyusun teorinya sendiri berbeda pendapat. Grotius menganggap bahwa Perjanjian Masyarakat adalah kenyataan sejarah, sedangkan Hobbes, Locke, Kant, dan Rousseau menganggapnya sekadar khayalan logis.

c. Teori Kekuasaan

Teori Kekuasaan menyatakan bahwa negara terbentuk berdasarkan kekuasaan. Orang kuatlah yang pertama-tama mendirikan negara, karena dengan kekuatannya itu ia berkuasa memaksakan kehendaknya terhadap orang lain sebagaimana disindir oleh Kallikles dan Voltaire: “Raja yang pertama adalah prajurit yang berhasil”.

Karl Marx berpandangan bahwa negara timbul karena kekuasaan. Menurutnya,

sebelum negara ada di dunia ini telah terdapat masyarakat komunis purba. Buktinya pada masa itu belum dikenal hak milik pribadi. Semua alat produksi menjadi milik seluruh masyarakat. Adanya hak milik pribadi memecah masyarakat menjadi dua kelas yang bertentangan, yaitu kelas masyarakat pemilik alat-alat produksi dan yang bukan pemilik. Kelas yang pertama tidak merasa aman dengan kelebihan yang dimilikinya dalam bidang ekonomi. Mereka memerlukan organisasi paksa yang disebut negara, untuk mempertahankan pola produksi yang telah memberikan posisi istimewa kepada mereka dan untuk melanggengkan pemilikan atas alat-alat produksi tersebut.

H.J. Laski berpendapat bahwa negara berkewenangan mengatur tingkah laku manusia. Negara menyusun sejumlah peraturan untuk memaksakan ketaatan kepada negara.

Leon Duguit menyatakan bahwa seseorang dapat memaksakan kehendaknya terhadap orang lain karena ia memiliki kelebihan atau keistimewaan dalam bentuk lahiriah (fisik), kecerdasan, ekonomi dan agama.

d. Teori Perjanjian

Menurut teori ini, terjadinya Negara karena adanya perjanjian sekelompok manusia (masyarakat) yang semula hidup sendiri-sendiri. Penganjur teori ini adalah Thomas Hubbes, Jhon Locke, J.J. Rousseau, Plato, dan Aristoteles.

Ketika menghendaki kondisi alam sehingga timbul kekerasan. Jika tidak mengubah cara-caranya, manusia akan musnah, untuk itu manusiapun bersatu untuk mengatasi tantangan dan menggunakan persatuan dalam gerak tunggal untuk kebutuhan bersama.

(7)

Para penganut teori hukum alam menganggap adanya hukum yang berlaku abadi dan universal (tidak berubah, berlaku di setiap waktu dan tempat). Hukum alam bukan buatan negara, melainkan hukum yang berlaku menurut kehendak alam.

C. TEORI KEDAULATAN NEGARA

a. Teori Kedaulatan Tuhan

Adalah kedaulatan dimana kekuasaan tertinggi suatu negara berasal dari tuhan (agama yang dianut suatu negara). Teori ini berkembang pada abad pertengahan, antara abad V sampai abad XV. Tokoh-tokoh nya antara lain Agustinus, Thomas Aquinas, dan Marsilius. Teori ini terjadi di negara-negara otoriter.

Saat itu raja dianggap sebagai wakil Tuhan. Tapi, karena merasa mewakili Tuhan dalam melaksanakan kekuasaan, raja sering merasa berkuasa dan berbuat semaunya, tanpa memikirkan rakyat. Keadaan ini mendorong timbulnya pandangan atau teori baru mengenai kedaulatan, yaitu kedaulatan negara.

b. Teori Kedaulatan Hukum

Menurut teori ini, kedaulatan yang memiliki atau bahkan memegang kekuasaan tertinggi didalam suatu negara adalah hukum. Oleh sebab itu baik raja, rakyat, bahkan negara harus runduk kepada hukum. Tokoh teori ini antara lain adalah Krabbe.

Menurut teori ini, hokum adalah pernyataan penilaian yang terbit dari kesadaran hokum manusia dan hokum merupakan sumber kedaulatan.

c. Teori Kedaulatan Rakyat

Adalah suatu kedaulatan dimana kekuasaan tertinggi ada ditangan rakyat. Teori ini berdasarkan pada anggapan bahwa kedaulatan yang dipegang raja atau penguasa itu berasal dari rakyat. Oleh sebab itu raja atau penguasa, harus bertanggung jawab kepada rakyat. Tokoh teori ini antara lain Jean Jacques Rousseau. Teori ini terjadi dinegara demokrasi yang sudah stabil.

Dengan demikian, dapat disimpulkan kedaulatan rakyat mempunyai makna sebagai berikut:

- Kekuasaan tertinggi berada ditangan rakyat;

- Kekuasaan pemerintah atau penguasa berasal dari rakyat;

- Pemerintah atau pengusa bertanggung jawab kepada rakyat dan bekerja untuk kesejahteraan rakyat.

d. Teori Kedaulatan Negara

(8)

Menurut Jean Bodin, perlu diperhatikan bahwa pada hakekatnya teori kedaulatan negara iru atau Staats-souvereiniteit, hanya menyatakan bahwa kekuasaan tertinggi itu ada pada negara, entah kekuasaan itu bersifat absolut, entah sifatnya terbatas, dan ini harus dibedakan dengan pengertian ajaran Staats-absolutisme. Karena dalam ajaran Staats-souvereiniteit itu pada prinsipnya hanya dikatakan bahwa kekuasaan tertinggi ini mungkinbersifat absolut, tetapi mungkin juga bersifat terbatas. Sedang dalam ajaran Staats-absolutisme dikatakan bahwa kekuasaan negara itu bersifat absolut, jadi berarti tidak mungkin bersifat terbatas, dalam arti baahwa negara itu kekuasaannya meliputi segala segi kehidupan masyarakat, sehingga mengakibatkan para warga negara itu tidak lagi mempunyai kepribadian.

Menurut George Jellinek mengatakan bahwa hukum itu adalah merupakan penjelmaan daripada kehendak atau kemauan negara. Jadi juga negaralah yang menciptakan hukum, maka negara dianggap satu-satunya sumber hukum, dan negaralah yang memiliki kekuasaan tertinggi atau kedaulatan. Di luar negara tidak ada satu organpun yang berwenang menetapkan hukum.

e. Teori Kedaulatan Elite

Teori Elit adalah suatu kedaulatan yang ada di tangan para penentu politik yang merupakan beberapa orang elit politik. Kedaulatan ini berada ditengah antara kedaulatan negara dan kedaulatan rakyat.

suatu negara, memiliki kedaulatan berarti berhak atas ketiga poin berikut:

1.

Menjadi negara yang berdiri sejajar dengan negara-negar merdeka lain;

2. Memiliki kekuasaan atau hak untuk mengatur dan mengurus negaranya sendiri tanpa campur tangan negara lain;

3.

menjadi negara yang meimiliki kekuasaan atau hak untuk berinteraksi dan bekerjasama dengan negara lain.

D. SYARAT NEGARA DAN PEMERINTAHAN UMUM 1. Syarat Negara

Victor Situmorang dalam bukunya, Intisari Ilmu Negara (1987), menyatakan bahwa berdirinya sebuah Negara ditandai dengan terpenuhinya syara-syarat sebagai Negara. Sebuah Negara dikatakan eksis apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :7

a. Mempunyai Wilayah/Daerah Tertentu

Untuk mendirikan suatu negara dengan kedaulatan penuh diperlukan wilayah yang terdiri atas darat, laut dan udara sebagai satu kesatuan. Untuk wilayah yang jauh dari laut tidak memerlukan wilayah lautan. Di wilayah negara itulah rakyat akan menjalani kehidupannya sebagai warga negara dan pemerintah akan melaksanakan fungsinya.

(9)

Wilayah suatu Negara tidak dipengaruhi batas ukuranya. Walaupun pernah terjadi Negara yang wilayah negaranya kecil tidak dapat menjadi anggota PBB, sejak tahun 1990, Negara seperti Andora, Liechtenstein, Monaco, San Marino, dan Tuvalu telah bergabung menjadi anggota PBB.

b. Adanya Rakyat

bahwa di dalam daerah/wilayah tersebut terdapat masyarakat yang mempunyai cita-cita untuk bersatu. Diperlukan adanya kumpulan orang-orang yang tinggal di negara tersebut dan dipersatukan oleh suatu perasaan. Tanpa adanya orang sebagai rakyat pada suatu ngara maka pemerintahan tidak akan berjalan. Rakyat juga berfungsi sebagai sumber daya manusia untuk menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari.

c. Adanya Pemerintahan

Adanya pemerintahan, yaitu pemerintah yang berdaulat atas daerah dan rakyatnya. Pemerintahan yang baik terdiri atas susunan penyelengara negara seperti lembaga yudikatif, lembaga legislatif, lembaga eksekutif, dan lain sebagainya untuk menyelengarakan kegiatan pemerintahan yang berkedaulatan.

Suatu Negara harus memiliki pemerintah, baik seorang maupun beberapa orang yang mewakili warganya sebagai badan politik serta hokum dinegaranya, dan dipertahankan wilayah negaranya. Pemerintah dengan kedaulatan yang dimilikinya merupakan penjamin stabilitas internal dalam negaranya, disamping merupakan penjamin kemampuan memenuhi kewajiban dalam pergaulan internasional. Pemerintah inilah yang mengeluarkan kebijakan dalam rangka mencapai kepentingan nasional negaranya, baik dalam negaranya dalam rangka mempertahankan integritas negaranya maupun diluar negaranya melaksanakan politik luar negeri untuk tujuan tersebut.

d. Adanya Pengakuan

Adanya Pengakuan negara dari negara-negara lain. Untuk dapat disebut sebagai negara yang sah membutuhkan pengakuan negara lain baik secara de facto (nyata) maupun secara de yure. Sekelompok orang bisa saja mengakui suatu wilayah yang terdiri atas orang-orang dengan sistem pemerintahan, namun tidak akan disetujui dunia internasional jika didirikan di atas negara yang sudah ada.

(10)

Pengakuan ada dua jenis, yaitu pengakuan terhadap negara baru serta pengakuan terhadap pemerintahan baru. Institut Hukum Internasional (the Institute of International Law) mendefinisikan pengakuan terhadap suatu negara baru sebagai suatu tindakan satu atau lebih negara untuk mengakui suatu kesatuan masyarakat yang terorganisir yang mendiami wilayah tertentu, bebas dari negara lain serta mampu menaati kewajiban-kewajiban hukum internaisonal dan menganggapnya sebagai anggota masyarakat internasional.

Dalam masalah pengakuan terhadap suatu negara terdapat dua teori, yaitu teori konstitutif dan deklaratif. Teori konstitutif berpendapat bahwa suatu negara dapat diterima sebagai anggota masyarakat internasional dan memperoleh statusnya sebagai subjek hukum internasional hanya melalui pengakuan. Sedangkan teori deklaratif lahir sebagai reaksi dari teori konstitutif yang menyebutkan bahwa pengakuan hanyalah merupakan penerimaan suatu negara oleh negara-negara lainnya. Jika mengacu pada instrument hukum internasional mengenai hak-hak dan kewajiban negara yang terdapat dalam Konvensi Montevidio 1933, maka pengakuan terhadap suatu negara bersifat deklaratif yang menyebutkan “…The political existance of the state is independent of recognition by other states. Even before recognition of a state has the right to defend its integrity and independence to provide for it conservation and prosperity, and consequently, to organize itself as it sees fit, to legislate upon its interest, administer its services, and to define the jurisdiction and competence of its courts” (Pasal 3 Konvensi Montevidio 1933.). Pada intinya bahwa hukum internasional menganggap bahwa kedaulatan suatu negara baru tidak dipengaruhi oleh pengakuan negara lain.

Keberadaan negara baru tersebut tidak harus diikuti oleh pengakuan negara-negara di dunia. Tanpa pengakuan dari negara-negara lain, suatu negara-negara tetap memiliki hak untuk mempertahankan kesatuan dan kemerdekaan negaranya demi mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bagi negaranya. Serta untuk menegakkan kekuasaan dan kewenangan pengadilan di negaranya. Faktanya banyak negara yang lahir di dunia tanpa adanya pernyataan pengakuan, tetapi bukan berarti bahwa kelahiran negara baru itu ditolak oleh negara-negara lain. Contohnya Negara Israel yang lahir tanggal 14 Mei 1948 sampai sekarang masih tetap tidak diakui oleh negara-negara Arab kecuali Mesir dan Yordania, yang telah membuat perjanjian perdamaian dengan negara tersebut. Namun ada pengecualian bahwa kelahiran suatu negara ditentang oleh dunia internasional dan yang menjadi dasar pertimbangannya mengacu pada sikap PBB, yaitu melalui resolusi-resolusi yang dikeluarkan.

(11)

1. Pemerintahan yang permanent. Artinya adalah apakah pemerintahan yang baru tersebut dapat mempertahankan kekuasaannya dalam jangka waktu yang lama (reasonable prospect of permanence),

2. Pemerintah yang ditaati oleh rakyatnya. Artinya apakah dengan adanya pemerintah yang berkuasa tersebut, rakyat di negara tersebut mematuhinya (obedience of the people),

3. Penguasaan wilayah secara efektif. Artinya apakah pemerintah baru tersebut menguasai secara efektif sebagian besar wilayah negaranya,

4. Pemerintah tersebut juga harus stabil,

5. Pemerintah tersebut harus mampu dan bersedia memenuhi kewajiban-kewajiban internasionalnya.

6. Kesanggupan dan kemauan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban internasional.

Pada dasarnya pengakuan terhadap negara baru dan pemerintahan baru berakibat hukum bagi negara yang diakui dan negara yang mengakui (diplomatik). Akan tetapi pengakuan juga berakibat hukum pada tindakan-tindakan negara yang diakui diberlakukan sah dan keabsahannya itu tidak dapat diuji (Huala Adolf, Op. cit. hal 105.).

Tindakan-tindakan negara yang dimaksud juga harus berdasarkan hukum internasional.

e. Adanya Tujuan Negara

Tujuan bersama dalam suatu negara menentukan setiap gerak dan tingkah laku, seperti lazimnya sebuah organisasi yang mempunyai tujuan tertentu. Sebagai suatu organisasi kekuasaan, ketentuan mengenai tujuan negara menjadi penting karena pada hakekatnya tujuan negara menentukan bagaimana cara mengatur dan menyusun negara yang bersangkutan.

Memperhatikan unsur-unsur tersebut di atas, maka negara dapat dikategorikan sebagai sebuah organisasi atau persekutuan bangsa/kekuasaan atau rakyat/hukum yang mempunyai tiga paham yaitu :

1. Cita-cita untuk bersatu yang hidup (ada atau menetap) dalam suatu daerah/ wilayah tertentu untuk waktu yang tidak terbatas;

2. Dipimpin oleh (tunduk pada) suatu pemerintah (kekuasaan) yang sama dan yang berdaulat/tertinggi yang dapat mengaturhidup bersama serta ;

3. Demi melaksanakan kebahagiaan umum agar dapat mencapai tujuan bersama

2. Hakikat Pemerintahan Umum

(12)

tanggung jawab Pemerintah Pusat, termasuk di dalamnya urusan pemerintahan Daerah.8

Dalam UU 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah pemerintahan umum mencakup urusan pemerintahan setelah dikurangi dengan urusan Daerah dan dikurangi pula dengan instansi vertikal (urusan pemerintahan umum yang dilaksanakan oleh Instansi Vertikal).

Ruang Lingkup pemerintahan umum meliputi kegiatan petugas Pamong Praja yang dalam jabatan kepala pemerintahan daerah administrasi negara adalah wakil Pemerintah Pusat yang memegang kekuasaan sipil di daerah dan pada dasarnya bertanggung jawab sebagai kepala territorial dan sebagai wali rakyat dengan tidak mengurangi kewenangan pejabat-pejabat dinas teknis, spesialistis baik militer maupun sipil.

Pemerintahan Umum mencakup tugas-tugas sebagai berikut (Gubernur, Residen): 1. Mewakili kekuasaan dan menegakkan kewibawaan Pemerintah Pusat; 2. Menjamin keamanan dan ketertibang umum;

3. Melaksanakan kebijakan politik pemerintah pusat;

4. Menguasai lingkungan daerah hukumnya dan kekayaan alam milik Negara; 5. Memegang kendali atas penduduk;

6. Memelihara dan memajukan kemakmuran dan kesejahteraan daerah.

Ruang Lingkup Pemerintahan Umum Menurut UU No. 5 Tahun 1974 sebagaimana dijelaskan bahwa Urusan Pemerintahan Umum adalah Urusan pemerintahan yang meliputi bidang-bidang:

a. Ketentraman dan Ketertiban; b. Politik;

c. Koordinasi; d. Pengawasan;

e. Urusan Pemerintahan Lainnya yang tidak termasuk dalam tugas suatu Instansi dan tidak termasuk urusan rumah tangga Daerah.

Urusan tersebut tanggung jawab Kepala Wilayah yang merupakan Wakil Pemerintah Pusat yaitu Gubernur, Bupati/Walikota dan Camat.

Kepala Wilayah Mempunyai Wewenang:

1. Membina Ketentraman dan Ketertiban sesuai Kebijakan Pemerintah;

2. Melaksanakan segala usaha dan kegiatan dibidang Pembinaan Ideologi Negara dan Politik;

3. Koordinasi dengan instansi vertikal, Dinas-dinas Daerah dalam perencanaan dan pelaksanaan;

4. Membimbing dan mengawasi penyelenggaraan pemerintahan Daerah;

5. Mengusahakan secara terus menerus agar Perpu dan Perda dijalankan oleh Instansi-instansi Pemerintah dan Pemerintah Daerah serta pejabat-pejabat yang ditugaskan

8 Bayu Surya NingratI Organisasi Pemerintahan Wilayah atau Daerah, Jakarta : ksara BaruI

(13)

untuk itu serta mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan pemerintahan;

6. Melaksanakan segala tugas pemerintahan yang dengan atau berdasarkan peraturan perundang-undangan diberikan kepadanya;

7. Melaksanakan segala tugas pemerintahan yang tidak termasuk dalam tugas sesuatu Instansi lainnya.

Sedangkan pelaksanaan Urusan Pemerintahan Menurut UU Nomor 32 Tahun 2004 adalah berdasarkan perintah pasal 14 ayat (3) telah dikeluarkan PP Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.

Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan meliputi kewenangan pusat dan kewenangan daerah. Kewenangan Pusat meliputi:

a. Politik Luar Negeri b. Pertahanan

c. Keamanan d. Yustisi

e. Moneter dan Fiskal Nasional f. Agama

Sementara itu Kewenangan Daerah meliputi urusan wajib yakni yang terkait dengan Penyelenggaraan Pelayanan Dasar, seperti Pendidikan, dan Kesehatan serta urusan pilihan yang terkait dengan potensi unggulan seperti, Pertambangan, Perikanan, Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Pariwisata. (PP Nomor 38 Tahun 2007,

Referensi

Dokumen terkait

Tabel 4.2 Tabel hasil Uji Normalitas Kadar Protein pada Ikan Tongkol ( Euthynnus affinis ) Berdasarkan Metode Pengasapan

Kebun Raya merupakan tempat yang sangat sesuai untuk melakukan kegiatan magang dalam bidang pengelolaan lanskap.. Jika ditinjau dari segi tujuan, kegiatan magang ini

Tenggorokan, sirip dada, sirip perut, sirip ekor dan ujung sirip punggung dengan warna merah atau kemerahan (atau dada, sirip perut, sirip ekor dan ujung sirip punggung dengan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi perawat tentang pelaksanaan asuhan keperawatan dalam

Pulau Samosir merupakan salah satu objek wisata di Provinsi Sumatera Utara dengan kunjungan wisatawan tertinggi dan keseluruhan memiliki unsur daya tarik wisata

Konflik di tempat kerja,pemberian kerja yang terlalu berlebihan terhadap karyawan dapat menimbulkan stress yang berkepanjangan, yaitu kondisi atau keadaan yang tidak

XI/MPR/1998 Tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas korupsi, kolusi dan nepotisme, merupakan salah satu ketetapan MPR/S yang masih berlaku dalam

Berdasarkan tabel 12 dapat diketahui bahwa F hitung yang dihasilkan dari uji hipotesis secara simultan atau uji F untuk pengaruh variabel komunikasi, budaya organisasi