• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MAHASISWA PROD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENINGKATAN HASIL BELAJAR MAHASISWA PROD"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MAHASISWA PRODI

PENDIDIKAN FISIKA DENGAN MENGGUNAKAN

MODEL PEMBELAJARAN

INQUIRY TRAINING

Halimatus Sakdiah

1

[email protected]

1Dosen STKIP-Muhammadiyah Sungai Penuh Jambi

Abstract

This research is a class action research with research subject of Physics Education Study Program. The purpose of research is to see the improvement of student learning outcomes and student learning activities using the Inquiry Training model. The instruments used in this research are student discussion sheet, observation sheet and written test. The study was conducted with two cycles and each cycle performs planning, execution, observation and reflection. The result of this research is the instructional model of Inquiry Training can improve the average of learning result and the average of student learning activity.

Keyword : Learning Model Inquiry Training Learning Outcomes Physics

PENDAHULUAN

Pendidikan memegang peranan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Peningkatan mutu pendidi-kan yang berkualitas diperlupendidi-kan untuk men-ciptakan kehidupan yang cerdas, damai, ter-buka, demokratis, dan mampu bersaing sehin-gga dapat meningkatkan kesejahteraan semua warga negara. Oleh karena itu, pendidikan he-ndaknya dikelola dengan cara semaksimal mungkin baik secara kualitas maupun kuanti-tasnya.

Bagi konstruktivisme, belajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari pen-didik kepada anak pen-didik, melainkan suatu ke-giatan yang memungkinkan anak didik dalam membangun pengetahuannya. Proses pembe-lajaran berarti anak didik bersama pendidik dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Menurut prinsipnya, pendidik berperan sebagai mediator dan

fasili-tator yang membantu agar proses belajar anak didik berjalan dengan baik.

Dari observasi yang diamati pada prog-ram studi (Prodi) Pendidikan Fisika di ST-KIP-Muhammadiyah Sungai Penuh, terlihat bahwa mahasiswa sering melakukan remedial pada pembelajaran Fisika dasar I. Hal ini me-nunjukan bahwa mahasiswa Prodi Pendidikan Fisika mengalami kesulitan belajar. Kesulitan belajar ini bisa disebabkan oleh banyak fak-tor, salah satunya ketidaktertarikan mahasis-wa dalam pembelajaran, kejenuhan dalam perkuliahan, model pembelajaran yang di-lakukan dosen monoton dan lain sebagainya.

(2)

Inq-ury Training. Model pembelajaran latihan meneliti atau inquiry training memiliki keun-ggulan karena siswa akan melakukan peneli-tian secara berulang ulang dan dengan bombi-ngan yang berkelanjutan.

Inquiry adalah proses pembelajaran dida-sarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sen-diri. Sedangkkan Training sendiri berarti lati-han atau pelatilati-han. Model Inquiri Training Model dikembangkan oleh Richard Suchman (1926) merupakan model pembelajaran yang berguna untuk mengajarkan siswa tentang pr-oses dalam meneliti dan menjelaskan fenome-na asing. Model Suchman ini melibatkan sis-wa dalam berbagai kegiatan prosedur – prose-dur yang digunakan para ahli dalam mengelo-la pengetahuan yang dimilikinya sehingga menghasilkan prinsip - prinsip (Joyce,2009).

Latihan penelitian atau inquiry training bertolak dari kepercayaan bahwa perkemba-ngan seseorang agar mandiri, menuntut meto-de yang dapat member kemudahan bagi para mahasiswa untuk melibatkan diri dalam pene-litian ilmiah. Umumnya mahasiswa memiliki rasa ingin tahu karena itu model latihan pene-litian ini memperkuat dorongan alami untuk melakukan eksplorasi, memberikan arah khu-sus sehingga mereka akan dapat melakukan eksplorasi itu dengan semangat besar dan de-ngan penuh kesungguhan. Mahasiswa akan melakukan penelitian secara mandiri dengan cara yang berdisiplin. Harapannya mahasiswa dapat mengumpulkan data dari suatu peris-tiwa yang terjadi, dan menelitinya dengan ca-ra mengumpulkan dan mengolah data secaca-ra logis (Winataputra, 2005).

Pembelajaran dengan menggunkan model inquiry training memiliki tujuan utama mem-buat siswa menjalani suatu proses tentang ba-gaimana pengetahuan diciptakan. Proses yang

dijalani dihadapkan pada suatu masalah yang misterius, belum diketahui tapi menarik. Mo-del ini sangat penting dalam mengembangkan nilai dan sikap berpikir imliah, seperti (1) ke-terampilan melakukan pengamatan, (2)kema-ndirian belajar, (3)keterampilan mengekspre-sikan sacara verbal, (4) kemampuan berpikir logis, dan (5) kesadaran bahwa ilmu bersifat dinamis dan tentatif ( Uno, 2011)

Berdasarkan penelitian yang telah dilaku-kan oleh Aulia, A (2012) menyimpuldilaku-kan bah-wa keterampilan meneliti mahasisbah-wa dapat di-tingkatkan dengan menerapkan Inquiry Trai-ning pada Matakuliah Praktikum IPA Dasar. Maka diharapkan dengan menerapkan Inquiry Training hasil belajar mahasiswa Prodi Pendi-dikan Fisika khususnya yang semester II akan mengalami peningkatan.

Penelitian kali ini Inquiry Training dila-kukan sesuai dengan fase – fase yang diaju-kan oleh Suchman yang dapat dilihat seperti pada Tebel 1.

Tabel 1 : Fase-Fase Model Pembelajaran

Inquiry Training

Fase II : Pengumpulan

(3)

eksperimenta si

relevan. Menghipotesis ( serta

menguji) hubungan kausal

Fase IV : Mengolah, Memformul

asikan aturan dan penjelasan

 Memformulasi kan aturan dan penjelasan.

Fase V : Analisis proses penelitian

 Menganalisis strategi

penelitian dan mengembangk an yang paling efektip

Berdasarkan uraian di atas, maka pene-liti tertarik untuk melakukan penepene-litian guna menjawab pertanyaan bagaimanakah hasil be-lajar mahasiswa Prodi Pendidikan Fisika den-gan menerapkan Inquiry Training.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di STKIP-Mu-hammadiyah Sungai Penuh dengan menggu-nakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah mahasiswa seme-ster 2 yang mengontrak mata kuliah Fisika Dasar II. Penelitian ini dilaksanakan pada se-mester genap pada tahun ajaran 2016-2017. Prosedur penelitian dilakukan dengan meng-gunakan dua siklus dimana masing-masing si-klus terdiri atas tiga kali pertemuan dengan ri-ncian dua kali (2 x 3 SKS) proses pembelajar-an dpembelajar-an 1 kali (1 x 3 SKS) tes. Setiap siklusnya mengikuti langkah-langkah PTK yang dim-ulai dari: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi yang dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini

Gambar 1. Prosedur PTK Dua Siklus

Model PTK ini sesuai dengan Model Kemmis dan Taggart merupakan pengemba-ngan dari model Kurt Lewin. Model ini bany-ak dipbany-akai karena sederhana dan mudah di-pahami. Rancangan Kemmis dan Taggart da-pat mencakup beberapa siklus, setiap siklus terdiri dari empat tahap, yakni : perencanaan (plan), pelaksanaan dan pengamatan (act & observe), dan refleksi (reflect). Tahapan-taha-pan ini berlangsung secara berulang-ulang, hi-ngga tujuan penelitian dapat dicapai (Suka-yati, 2008).

Untuk mengumpulkan data penelitian ini menggunakan 1) Lembar Diskusi Mahasiswa, yang digunakan mahasiswa sebagai pedoman dan petunjuk dalam proses pembelajaran. 2) Lembar Observasi, yang digunakan dosen se-bagai petunjuk menilai aktivitas mahasiswa selama proses pembelajaran. 3) Tes Tertulis, yang digunakan untuk mengukur hasil belajar mahasiswa.

HASIL DAN PEMBAHASAN Siklus I

(4)

pertemuan ke tiga diberikan tes kepada mahasiswa terkait dengan materi yang telah diberikan selama dua kali pertemuan sebe-lumnya. Adapun hasil dari tes tersebut dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Belajar Pada Siklus I

No Nama

Subyek Nilai Keterangan

1 Mahasiswa 1 55 Tidak Tuntas

2 Mahasiswa 2 65 Tidak Tuntas

3 Mahasiswa 3 60 Tidak Tuntas

4 Mahasiswa 4 75 Tuntas

5 Mahasiswa 5 80 Tuntas

6 Mahasiswa 6 80 Tuntas

7 Mahasiswa 7 75 Tuntas

8 Mahasiswa 8 85 Tuntas

Jumlah 575

Rata - Rata 71.87

% Ketuntasan 62,5 %

Berdasarkan hasil tes pada siklus I yang tertuang pada table 1, kita dapat melihat bah-wa mahasisbah-wa yang belum mencapai kriteria ketuntasan yang telah ditetapkan sebanyak 3 orang sedangkan yang sudah tuntas berjumlah 5 orang. Persentase ketuntasan untuk siklus satu sudah mencapai 62,5 % dengan nilai rata -rata sebesar 71,87.

Melihat nilai rata-rata siklus ini hanya sebesar 71,87 hal ini menunjukkan bahwa rata -rata nilai mahasiswa ini sendiri belum men-capai nilai ketuntasan yang diharapkan. Untuk mengetahui penyebab rendahnya rata-rata nil-ai ini, maka diperhatikan lembar observasi

ya-ng diamati oleh dosen. Dari lembar observasi dosen, kita dapat melihat aktivitas mahasiswa selama proses pembelajaran suklus I. Adapun hasil observasi dosen dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini.

Tabel 2. Rekapitulasi Aktivitas Mahasiswa Pada SIklus I

N

o Aktivitas

Nila i

Nilai Maksimu

m

Dala m %

1 Bertanya pada

dosen 16 32 50,0

2 Mencari informasi mandiri 13 32 40,6

3 Melakukan Percobaan 15 32 46,9

4 Mengumpulkan

data 20 32 62,5

5 Berdiskusi dalam

menganalisis data 13 32 40,6

6

Bertanya jawab selama diskusi kelompok

20 32 62,5

Rata - Rata Aktivitas 50,5

(5)

Refleksi yang didapatkan dari kegiatan sikslus I adalah diduga mahasiswa masih bel-um mengerti dan paham dengan langkah-la-ngkah pembelajaran dan belum berhasil me-nguasai materi pembelajaran yang diberikan. Hal ini ditunjukan dari rata-rata hasil belajar yang rendah dan aktivitas belajar mahasiswa juga rendah.

Untuk mengatasai masalah yang diha-dapi pada siklus I ini, maka selanjutnya dosen memotivasi dan mengawasi mahasiswa lebih ketat lagi agar mau melakukan langkah-lang kah pembelajaran inqury training secara seri-us. Jika langkah-langkah Inqury Training tel-ah dilaksanakan dengan baik, maka aktivi-tas belajar mahasiswa akan meningkat. Seiring dengan peningkatan aktivitas belajar wa, maka diharapkan hasil bvelajar mahasis-wa akan meningkat pula.

Untuk memperbaiki siklus II, dosen sel-anjutnya meminta siswa untuk meresume (meringkas) materi pembelajaran yang akan dilaksanakan di pertemuan berikutnya. Resu-me ini akan digunakan sebagai modal awal bagi mahasiswa dalam melaksanakan proses pembelajaran pada pertemuan selanjutnya di-siklus II. Selain itu guru juga merancang rew-ord (hadiah) dan panismen (hukuman) berupa poin bagi setiap mahasiswa yang mampu menjawab atau tidak menjwab pertanyaan da-lam diskusi kelompok maupun pertanyaan ya-ng dilontarkan dosen.

Siklus II

Setelah melakukan dan menganalisis si-klus I, selanjutnkembali melakukan perenca-naan, pelaksaperenca-naan, observasi dan refleksi unt-uk siklus II. Setelah melakunt-ukan tahapan pem-belajaran Inquity Training pada siklus II sela-ma 2 pertemuan, selanjutnya pada pertemuan ke 3 kembali dilakukan tes untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar mahasiswa. Adapun

hasil tes pada siklus II dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini.

Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Belajar Siklus II

No Nama Subyek Nilai Keterangan 1 Mahasiswa 1 70 Tidak Tuntas 2 Mahasiswa 2 75 Tuntas 3 Mahasiswa 3 75 Tuntas 4 Mahasiswa 4 85 Tuntas 5 Mahasiswa 5 90 Tuntas 6 Mahasiswa 6 90 Tuntas 7 Mahasiswa 7 80 Tuntas 8 Mahasiswa 8 80 Tuntas

Jumlah 645

Rata - Rata 80.62

% Ketuntasan 87,5 %

Berdasarkan tabel 3, dapat dilihat ter-nyata rata-rata hasil belajar mahasiswa men-capai 80,62, artinya nilai rata-rata belajar ma-hasiswa telah mencapai kriteria ketuntasan yang telah ditetapkan. Sedangkan persentase ketuntasan mencapai 87,5 % ini memperlihat-kan persentase ketuntasan yang sangat tinggi mengingat mahasiswa yang tidak tuntas hanya satu orang.

Untuk menunjang hasil belajar ini sela-njutnya dapat dilihat lembar observasi yang diamati oleh dosen. Lembar observasi masih menggunakan indikator yang sama, maka ha-sil observasi aktivitas belajar mahasiswa pada siklus II dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini.

Tabel 4. Rekapitulasi Aktivitas Mahasiswa Pada SIklus I

N

o Aktivitas Nilai MaksimumNilai Dalam%

1 Bertanya pada dosen 21 32 65,6

2 Mencari informasi mandiri 23 32 71,9

(6)

Percobaan

4 Mengumpulkan data 27 32 84,4

5 Berdiskusi dalam menganalisis data 23 32 71,9

6 Bertanya jawab selama diskusi kelompok

25 32 78,1

Rata - Rata Aktivitas 75,5

Dari tabel 4 di atas, kita dapat melihat aktivitas mahasiswa bertanya pada dosen 65-,6%, Mencari informasi mandiri 71,9%, Mela-kukan percobaan 81,3%, Mengumpulkan data 84,4%, berdiskusi dan menganalisis data 71,-9%, Bertanya jawab selama diskusi kelompok 78,1%. Sedangkan rata – rata aktivitas belajar mahasiswa sendiri menjadi 75,5%.

Berdasarkan data yang telah dijabarkan di atas, maka kita dapat melihat hasil belajar mahasiswa meningkat begitu pula dengan ak-tivitas belajar yang dilakukan oleh mahasiswa tersebut. Jika direfleksikan, maka kita dapat mengatakan bahwa hasil dan aktivitas belajar mahasiswa mengalami peningkatan dari sikl-us I ke siklsikl-us II.

Selanjutnya untuk lebih jelasnya berikut adalah perbandingan hasil belajar dan aktivi-tas belajar mahasiswa dari siklus I dan siklus II untuk lebih jelas bisa diamati pada tabel 5.

Tabel 5. Perbandingan Hasil Dan Aktivitas Belajar Mahasiswa Siklus I dan Siklus II

N

o Keterangan Siklus I Siklus II

% Peningkata

n

1 Rata – Rata

Hasil Belajar 71,87 80,62 8,75%

2 Rata – Rata Aktivitas

50,5 % 75,5% 25%

Belajar

Dari tabel 5 di atas, kita dapat melihat pada siklus I rata – rata hasil belajar 71,87 se-dangkan pada siklus II 80,62, artinya rata – rata hasil belajar mahasiswa mengalami peni-ngkatan sebesar 8,75 %. Rata – rata aktivitas belajar mahasiswa pada siklus I 50,5% seda-ngkan pada siklus II menjadi 75,5% artinya aktivitas belajar mahasiswa meningkat seban-yak 25%.

Dari hasil penelitian yang telah dilaku-kan kita dapat mengetahui pada siklus I model pembelajaran Inquiry Training sudah dilaku-kan dengana baik, namun belum memberidilaku-kan hasil maksimum. Hal ini terlihat dari delapan mahasiswa Prodi Pendidikan Fisika ada tiga mahasiswa yang tidak memenuhi kriteria ket-untasan. Jika dilihat dari aktivitas belajar ter-lihat mahasiswa belum mampu melakukan la-ngkah-langkah Inquiry Training. Mahasiswa masih terbiasa dengan sistem pembelajaran konvensional, yaitu metode ceramah dan tan-ya jawab. Sehingga mahasiswa belum mela-kukan aktivitas yang merupakan poin penting dalam model pembelajaran Inquiry Training.

Melihat adanya kekurang maksimal mo-del pembelajaran Inquiry Training pada siklus II, selanjutnya dirancang proses pembelajaran yang akan dilakukan pada siklus II dengan menekankan pada aktivitas belajar mahasis-wa. Selain itu juga meminta mahasiswa untuk membuat resume materi pertemuan berikut-nya, sehingga mahasiswa memiliki pengeta-huan awal dalam melaksanakan pembelajaran berikutnya. Terakhir menjelaskan kepada ma-hasiswa bahwa dalam pertemuan berikutnya dosen akan memberikan hadiah dan hukuman berupa pengurangan poin bagi mahasiswa ya-ng mampu atau tidak mampu menjawab per-tanyaan saat berdsikusi.

(7)

pa-da siklus II terpa-dapat peningkatan rata-rata hasil belajar dan rata-rata aktivitas belajar ma-hasiswa. Dalam proses pembelajaran sendiri terlihat mahasiswa lebih bersemangat dalam melaksanakan setiap langkah-langkah Inquiry Training. Semangat mahasiswa ini bisa dika-renakan mahasiswa telah mengetahui langkah -langkah yang harus dilakukan, selain itu ma-hasiswa juga termotivasi oleh hadiah dan huk-uman yang dilakukan oleh dosen.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dike-tahui bahwa dengan menerapkan model pem-belajaran Inquiry Training dapat meningkat-kan hasil belajar mahasiswa dan aktivitas bel-ajar mahasiswa. Hal ini sesuai dengan tujuan model pembelajaran Inquiry Training yaitu mengembangkan kemampuan berfikir kritis mahasiswa secara logis dan sistematis sehing-ga mahasiswa akan berfikir untuk menemu-kan jawaban dari segala permasalahan. Deng-an memiliki kemampuDeng-an berfikir kritis, maka mahasiswa akan meningkatkan aktivitas bela-jar mahasiswa. Ketika aktivitas belabela-jar maha-siswa meningkat maka hasil belajar mahasis-wa juga akan meningkat.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut:

1. Model pembelajaran Inquiry Training dap-at meningkatkan rata-rata hasil belajar ma-hasiswa Prodi Pendidikan Fisika.

2. Model pembelajaran Inquiry Training dap-at meningkatkan rata – rata aktivitas bela-jar mahasiswa Prodi Pendidikan Fisika.

3. Dalam melakukan proses pembelajaran do-sen harus mampu mengarahkan mahasiswa agar meningkatkan aktivitas belajar sehi-ngga

dapat meningkatkan hasil belajar ma-hasiswa

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimin. 1997. Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan. Bandung: Bina Aksara

Aulia, A. & Parmin. 2012. Inquiry Training Untuk Mengembangkan Ketrampilan Meneliti Mahasiswa. Unnes Science Education Journal.USEJ1(1)(2012). Joyce, B. Weil, Marsha & Calhoun E. 2009.

Models Of Teching Model – Model Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sukayati. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika.

Uno, Hamza B. 2011. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Menga-jar Yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.

Gambar

Tabel 1 : Fase-Fase Model Pembelajaran
Gambar 1. Prosedur PTK Dua Siklus
Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Belajar
Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Belajar
+2

Referensi

Dokumen terkait

Adapun yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini ialah informan yang secara langsung menjatuhkan talak terhadap istrinya karena adanya intervensi dari

Kematangan vokasional adalah kematangan karir kemampuan siswa dalam memilih, memasuki, tahap pendidikan yang dicapai yaitu: kesesuaian antar individu dengan

Demikian pula bilamana terjadi sebaliknya yakni semakin tidak baik gaya kepemimpinan transformasional yang ditampilkan bersamaan dengan tidak kuatnya komitmen

Terima kasih kepada ibu karena telah ikut berpartisipasi dalam penelitian skripsi saya tentang Analisis Pengaruh Karakteristik Sosial Ketenagakerjaan Pada Perempuan

keuangan daerah Se-Provinsi Bengkulu dilihat dari rasio kemandirian keuangan daerah sepuluh tahun terakhir dengan dibuat perbandingan antara tahun 2001- 2006 dengan

Tugas Akhir yang berjudul “Analisis dan Implementasi Klasifikasi Data Menggunakan Soft Decision Tree - ID3 (SDT - ID3)” ini merupakan teknik induksi pohon keputusan

Metode Think Aloud Pair Problem Solving merupakan salah satu metode pembelajaran yang menantang siswa untuk belajar melalui pemecahan masalah yang dilakukan secara berpasangan

a) Ketika pendapatan dari produk atau jasa yang saat ini dimiliki organisasi akan meningkat secara signifikan dengan penambahan produk baru yang tidak terkait. b) Ketika