• Tidak ada hasil yang ditemukan

MIXED USE BUILDING AKADEMI DESAIN GRAFIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MIXED USE BUILDING AKADEMI DESAIN GRAFIS"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

ͣ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1

MIXED USE BUILDING

AKADEMI DESAIN GRAFIS, GALERI DAN RETAIL OUTLET

SARANA EDUKASI, HIBURAN DAN BISNIS KREATIF

DI SURAKARTA

I.

DESKRIPSI TUGAS SPA 4

Dalam tugas perancangan kali ini akan merancang sebuah bangunan umum yang memiliki dua atau lebih fungsi berbeda di dalamnya (mixed use building) dengan kriteria tambahan lainnya adalah bangunan tersebut memiliki enam sampai sepuluh lantai.

Dalam perancangan kali ini, fungsi utama bangunan disebut dengan F1 (Fungsi 1). Bangunan pendukung disebut dengan F2 (Fungsi 2), kedudukan F2 dalam bangunan mixed use ini bukan sebagai bangunan pelengkap saja, kedudukannya sama kuatnya dengan F1. Dengan keadaan tersebut maka muncullah sebuah fungsi ketiga yang disebut dengan Fi (Fungsi Interaksi), yaitu fungsi yang dapat menghubungkan F1 dengan F2.

A.

F1

F1 merupakan sebuah fungsi utama dari tugas perancangan, F1 sudah ditentukan oleh Dosen mata kuliah SPA 4. F1 dalam perancangan kali ini adalah bangunan publik yang bergerak di bidang pendidikan menengah mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, da doktor ya g disele ggaraka oleh pergurua ti ggi .

b. Tugas

 Secara khusus tugas perguruan tinggi dapat kita lihat dalam PP No. 30 tahun 1990 tentang Perguruan Tinggi. Dalam ketentuan umum, Pasal 1 ayat 2 :

Pergurua ti ggi adalah satua pe didika ya g menyelenggarakan pendidikan ti ggi .

 Selanjutnya dalam mukadimah Keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor 603/O/2001 dinyatakan tugas perguruan tinggi adalah :

…… erpera aktif dala per aika da pe ge a ga kualitas kehidupa da kebudayaan, pengembangan ilmu pengetahuan, dan pengembangan pengertian dan kerjasama internasional untuk mencapai kedamaian dunia dan kesejahteraa lahir ati u at a usia erkela juta … .

Di situ dijelaskan bahwa selain diberi tugas untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi, perguruan tinggi juga mengemban tugas pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia, pengembangan kerjasama internasional, kedamaian dunia dan kesejahteraan lahir batin umat manusia.

c. Fungsi

(2)

ͤ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1

norma sesuai sistem yang berlaku sehingga mewujudkan totalitas manusia yang utuh dan mandiri sesuai tata cara hidup bangsa.

d. Jenis

 Universitas

Universitas merupakan Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam berbagai rumpun Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi dan jika memenuhi syarat, universitas dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Contoh : UNS, UNY, UGM, UNDIP, dan sebagainya.

(sumber: http://dikti.go.id/id/profil-dikti/sistem-pendidikan-tinggi/)

Sebuah universitas memiliki kelebihan salah satunya adalah kelengkapan program studi yang dimilikinya, namun cakupan sebuah universitas yang luas tersebut membuat perancangannya membutuhkan sebuah lahan yang besar. Perancangan universitas tersebut bukan hanya perancangan beberapa bangunan, melainkan perancangan sebuah kawasan terpadu.

Gambar 1. Contoh penataan kawasan pada Universitas (atas kiri: UNS, atas kanan: UGM, bawah: UNDIP)

Sumber: iniblograafi.blogspot.com; mediaetosjogja.blogspot.com; keperawatan.undip.ac.id  Institut

Institut merupakan Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah rumpun Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi tertentu dan jika memenuhi syarat, institut dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Contoh: ITB, ITS, IKIP, IPB, ISI, dan sebagainya.

(sumber: http://dikti.go.id/id/profil-dikti/sistem-pendidikan-tinggi/)

(3)

ͥ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1

universitas. Hal tersebut juga membuat perancangan sebuah institut juga sama dengan universitas, yaitu perancangan sebuah kawasan.

Gambar 2. Penataan kawasan pada institute (kiri: ITB, kanan: ITS) Sumber: ecocampus.itb.ac.id; archive.kaskus.co.id  Sekolah Tinggi

Sekolah Tinggi merupakan Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu rumpun Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi tertentu dan jika memenuhi syarat, sekolah tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Contoh; STIE, STIES, STTD, STAN, dan sebagainya.

(sumber: http://dikti.go.id/id/profil-dikti/sistem-pendidikan-tinggi/)

Pada sebuah sekolah tinggi fokus ilmu yang dipelajari semakin khusus. Kuota peserta didik yang ditampung juga tidak banyak. Jumlah jurusan dan jumlah peserta didik yang tidak terlalu banyak membuat sebuah sekolah tinggi hanya terdiri dari beberapa massa bangunan yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan universitas atau institute. Sekolah tinggi kebanyakan menerapkan sistem pondok untuk peserta didiknya (menetap), hal tersebut membuat perlu dibuatnya sebuah asrama di area kampus.

Gambar 3. Sekolah tinggi dan asrama (STIP Jakarta) Sumber: www.porosnews.com  Politeknik

Politeknik merupakan Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam berbagai rumpun Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi dan jika memenuhi syarat, politeknik dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Contoh: PIP, POLTEKES, dan sebagainya.

(sumber: http://dikti.go.id/id/profil-dikti/sistem-pendidikan-tinggi/)

(4)

ͦ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1

PIP (Politeknik Ilmu Pelayaran) Semarang. Beberapa diantara politeknik memiliki pola pembangunan sebuah kawasan.

Gambar 4. Kawasan kampus PIP, Semarang Sumber: www.skyscrapercity.com  Akademi

Akademi merupakan Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu atau beberapa cabang Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi tertentu. Contoh: AKPOL, AKMIL, AKY, dan sebagainya.

(sumber: http://dikti.go.id/id/profil-dikti/sistem-pendidikan-tinggi/)

Sebuah akademi lebih focus untuk menciptakan lulusan yang memiliki sebuah keahlian tertentu. Gelar yang akan diperoleh merupakan gelar ahli madya. Dari segi pendidikan, akademi dapat saja mirip dengan sekolah tinggi (satu rumpun ilmu) atau politeknik (banyak rumpun ilmu). Beberapa sekolah akademi juga menerapkan sistem pondok/ asrama.

Gambar 5. Akademi Pelayaran Surabaya Sumber: www.panoramio.com 2. Pemilihan Jenis Perguruan Tinggi

Semakin hari jumlah lapangan pekerjaan semakin sedikit, persaingan untuk mendapatkannya juga semakin sengit. Untuk mengatasi hal tersebut maka dibutuhkan lulusan perguruan tinggi yang berkualitas dan siap bekerja, atau bahkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru. Hal tersebut dapat diperoleh dari para ahli madya yang sering melakukan praktek, sehingga lebih siap masuk dunia kerja atau dapat mengembangkan keahliannya tersebut sehingga dapat menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

(5)

ͧ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1 3. Deskripsi Khusus

Terdapat banyak akademi di Kota Surakarta, ada yang focus dalam hal perhotelan, otomotif, kesehatan dan lain- lain. Namun penulis memilih jenis akademi untuk perancangan kali ini adalah Akademi Desain Grafis.

a. Latar Belakang Pemilihan Akademi Desain Grafis

KOTA SOLO, akhir-akhir ini nama Kota Solo semakin ramai dibicarakan, hal tersebut berkaitan dengan diusulkannya Kota Solo ke UNESCO sebagai Kota Kreatif. Solo di usulkan menjadi kota kreatif yang berbasis desain. Dari adanya wacana tersebut, pemerintah Kota Surakarta semakin giat untuk mewujudkan hal tersebut. Kota kreatif akan benar terwujud jika kota Surakarta memiliki industri kreatif yang maju serta banyak terdapatnya individu- individu yang kreatif juga.

Dengan keadaan tersebut maka jenis perguruan tinggi yang dipilih adalah akademi. Pemilihan tersebut dilatar belakangi oleh penjelasan diatas bahwa sebuah akademi hanya melayani pendidikan dengan jenjang ahli madya/ D3, dengan hal tersebut maka akademi tersebut akan dapat menghasilkan lulusan yang memiliki keahlian tertentu. Selain itu keahlian, kekreatifitasan yang dihasilkan oleh individu tersebut harus dapat

mendorong cita- cita kota Surakarta untuk menjadi kota kreatif. Akademi Desain Grafis, dirasa cocok untuk menjawab keinginan tersebut. Desain grafis diharapkan mampu memperkaya jenis kreatifitas, karena desain grafis meliputi desain dengan model 2D atau 3D, atau dapat berupa kata-kata, gambar, angka, grafik, foto dan ilustrasi.

Selain hal tersebut, pemilihan Akademi Desain Grafis juga dilatar belakangi oleh jumlah pendidikan tingkat tinggi di kota Surakarta. Jumlah pendidikan tinggi yang berbentuk akademi berjumlah 28, namun jumlah akademi yang berbasis desian hanya terdapat satu. Maka dari itu perancangan kali ini memilih Akademi Desain Grafis, agar memperkaya jenis perguruan tinggi berbentuk akademi desain di Kota Surakarta.

b. Definisi Akademi Desain Grafis

Desain Grafis berasal dari 2 buah kata yaitu Desain dan Grafis, kata desain berarti proses atau perbuatan dengan mengatur segala sesuatu sebelum bertindak atau merancang. Sedangkan grafis adalah titik atau garis yang berhubungan dengan cetak mencetak. Jadi dengan demikian desain grafis adalah kombinasi kompleks antara kata-kata, gambar, angka, grafik, foto dan ilustrasi yang membutuhkan pemikiran khusus dari seorang individu yang bisa menggabungkan elemen-elemen ini, sehingga mereka dapat menghasilkan sesuatu yang khusus atau sangat berguna dalam bidang gambar. Ilmu desain grafis mencakup seni visual, tipografi, tata letak dan desain interaksi.

Akademi Desain Grafis adalah sebuah institusi pendidikan tingkat tinggi yang memfokuskan jurusannya hanya pada jurusan desain grafis. Dibawah jurusan tersebut terdapat beberapa program studi yang masing- masing memiliki kategori tertentu, yaitu:

1. Printing yang memuat desain buku, majalah, poster, booklet, leaflet, flyer, pamflet, periklanan, desain grafis automotive dan publikasi lain yang sejenis. 2. Web Desain: desain untuk halaman web.

(6)

ͨ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1

4. Identifikasi (Logo), EGD (Environmental Graphic Design) : merupakan desain professional yang mencakup desain grafis, desain arsitek, desain industri, dan arsitek taman.

5. Desain Produk, Pemaketan dan sejenisnya.

Gambar 6. Produk desain grafis

Sumber: miamiprintonline.com

c. Pelaku

1. Direktur Akademi 2. Sekertaris Direktur 3. Pembantu Direktur 4. Staff Pengajar/ Dosen 5. Mahasiswa

6. Staff Administrasi 7. Staff Akademis

8. Petugas Keamanan& Parkir 9. Staff Kemahasiswaan 10. Petugas Kebersihan 11. Pengelola Perpustakaan 12. Petugas Kantin

13. Petugas Laboraturium 14. Staff Percetakan d. Aktivitas

Pada dasarnya aktivitas pelaku yang terdapat di dalam bangunan ini sama, yaitu datang- parkir- melakukan pekerjannya- ibadah (sholat)- metabolisme- pulang.

Karena fungsi utama bangunan ini adalah sebagai kampus, maka yang menjadi perhatian khusus adalah aktivitas peserta didiknya atau mahasiswa.

Aktifitas mahasiswa: datang- parkir- kuliah (belajar)- mencari referensi- mengerjakan tugas- praktek- bersosialisasi dengan teman- ibadah- metabolisme- pulang.

e. Peruangan

1. Ruang Kerja Direktur Utama 2. Ruang Tamu

3. Ruang Sekertaris

4. Ruang Pembantu Direktur 5. Ruang Pengajar

(7)

ͩ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1 7. Hall

8. Studio

9. Lab. Computer Grafis 10. Lab. Web Desain 11. Lab. Multimedia

12. Ruang Produksi Produk 3D 13. Perpustakaan Terpadu 14. Ruang Percetakan 15. Kantin

16. Ruang Administrasi 17. Lavatory

18. Ruang UKM 19. Mushola/ Masjid f. Preseden Bangunan Sejenis

Gambar 7. Durham College Graphic Design, Canada(kiri) STDI Bandung (kanan)

Sumber: homad.wordpress.com; www.interstudi.edu

Gambar 8. Cuyamaca College Graphic Design (kiri) School of the Museum of Fine Arts (kanan)

Sumber: http://www.cuyamaca.edu/gd/, http://commons.wikimedia.org/

B.

F2

(8)

ͪ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1 1. Deskripsi Umum Galeri

a. Definisi

Galeri adalah sebuah bangunan atau ruang yang digunakan untuk memamerkan hasil kreativitas/ karya seni seseorang atau kelompok.

b. Fungsi

Selain untuk memamerkan karya seni, dalam sebuah galeri juga terdapat fungsi lainnya yaitu pelayanan dalam bidang seni baik konsultasi maupun pengadaan workshop untuk menumbuhkan jiwa seni masyarakat.

c. Jenis

Pembagian jenis galeri ini berdasarkan pendekatan bentuk, sifat dan isinya (barang yang dipamerkan) yang menonjol, karena belum ada klasifikasi macam galeri secara jelas.

 Galeri Seni Berdasarkan Bentuk

Tradisional art gallery yaitu suatu galeri yang aktivitasnya diselenggarakan pada selasar- selasar atau lorong- lorong panjang. Walaupun bentuk galeri ini tradisional, namun belum tentu barang yang dipamerkan juga barang- barang kuno.

Modern art galleryyaitu suatu galeri dengan perencanaan ruang secara modern atau merupakan kompleks bangunan. Kompleks bangunan ini biasanya terdiri dari beberaparuang pameran. Karya yang dipamerkan pada modern art gallery biasanya adalah sebuah karya seni yang modern atau kontemporer.

Gambar 9. Gambar lorong panjang pada galeri Palacio Nacional Guatemala (kiri) Penataan massa pada jenis modern art gallery, Galeri Nasional Indonesia (kanan)

Sumber: tripwow.tripadvisor.com, indonesiaartnews.or.id  Galeri Berdasarkan Sifat Kepemilikan

Privat art gallery merupakan galeri yang merupakan milik perseorangan atau sekelompok orang, namun masyarakat dapat mengaksesnya dengan mudah. Pada galeri ini barang yang dipamerkan biasanya hasil karya pemiliknya. Galeri ini biasanya di miliki oleh seorang seniman yang terkenal. Contohnya adalah Museum Affandi, Yogyakarta.

(9)

ͫ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1

Public art gallery yaitu suatu galeri yang merupakan milik pemerintah dan terbuka untuk umum. Karya yang dipamerkan dalam galeri ini bermacam- Gambar 11. Berbagai jenis karya seni yang di pamerkan di GNI, Jakarta

Sumber: outoftheboxindonesia.wordpress.com  Galeri Berdasar Isi Atau Materi Karya Seni

Gallery of primitive art yaitu suatu galeru yang menampilkan karya seni berupa barang seni primitive. Bentuk kesenian yang diangkat adalah kesenian yang masih natural dan belum terjamah dari luar saat budaya tersebut ada.

Contoh Museum Radya Pustaka, Surakarta.

Gambar 12. Barang antic yang ada di dalam Museum Radya Pustaka

Sumber: princemanoharun.wordpress.com

Gallery of classiciant art yaitu galeri yang menyelenggarakan aktifitas di bidang seni klasik. Seni klasik ini menampilkan karya seni modern. Karya seni modern akan banyak mengandung maksud serta kritik tertentu baik dalam hal sosial, politik atu budaya suatu bangsa.

(10)

ͣ͢ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1 2. Pemilihan Jenis Galeri

Jenis galeri yang akan dipilih dalam perancangan kali ini adalah galeri yang bersifat public, namun pengelola galeri ini adalah yayasan dari Akademi Desain Grafis sehingga disebut sebagai private art gallery terdiri dari satu massa bangunan saja (traditional art gallery), serta menampilkan materi yang modern (gallery of modern art).

Galeri ini akan bebas dikunjungi oleh masyarakat dan dikelola sendiri oleh yayasan Akademi Desain Grafis. Bentuknya akan banyak lorong di dalamnya untuk memamerkan karya seni. Materi yang di pamerkan berupa hasil produk mahasiswa di Akademi Desain Grafis, sehingga akan bersifat kekinian/ modern sesuai dengan perkembangan zaman. Akan banyak produk yang bersifat kritik.

3. Deskripsi Khusus

Terdapat jenis galeri yang ada, mulai dari galeri yang menampilkan sejarah, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Dalam perancangan kali ini galeri yang dipilih adalah

Galeri Desain Grafis.

a. Latar Belakang Pemilihan Galeri Desain Grafis

Pemilihan Galeri Desain Grafis dilatar belakangi oleh fungsi utama bangunan yaitu Akademi Desain Grafis, diharapkan akan muncul timbal balik yang terjadi antara aktivitas di kedua bangunan tersebut. Dengan keadaan tersebut diharapkan siswa lebih aktif dan giat membuat kreatifitas untuk ditampilkan di galeri.

Selain hal tersebut, keadaan Kota Solo saat ini sudah menjadi tujuan pariwisata sehingga perlu dibuat sebuah bangunan public yang bersifat sebagai bangunan entertain sehingga dapat dijadikan tempat wisata untuk para pelancong. Di Kota Solo ini sudah ada beberapa tempat wisata yang berbentuk galeri atau museum. Diantaranya adalah Museum Radya Pustaka, Galeri Seni Rupa Taman Budaya Jawa Tengah, Galeri Pusaka dan Seni ''Putri Bengawan'' Semanggi dan museum yang ada di Kraton Surakarta. Jenis galeri yang ada merupakan galeri yang konsen dalam hal budaya dan sejarah. Dengan hal tersebut maka muncullah ide untuk membuat Galeri Desain Grafis, model galeri yang menampilkan materi berbeda dengan galeri yang sudah ada. Hal tersebut dapat menjadi nilai tambah tersendiri yaitu dengan memperkaya jenis materi yang ditampilkan dalam galeri yang ada di Kota Solo. Jenis galeri ini juga masih sangat jarang ada di Indonesia.

Secara garis besar latar belakang pemilihan galeri ini adalah: pertimbangan hubungan timbal balik dengan F1, Solo menjadi kota pariwisata membutuhkan tempat hiburan, dan belum terdapatnya galeri desain grafis di Kota Solo.

b. Definisi Galeri Desain Grafis

Galeri Desain Grafis adalah sebuah tempat untuk memamerkan hasil kreatifitas dalam bentuk kombinasi kompleks antara kata-kata, gambar, angka, grafik, foto dan ilustrasi yang peuh dengan kebebasan serta terdapat pesan dalam karya tersebut. Pesan tersebut dapat bersifat kritik atau promosi.

c. Fungsi Galeri Desain Grafis

(11)

ͣͣ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1

sedang ramai. Jenis barang yang di pamerkan contohnya adalah poster, desain grafis, mobil (cat hasil desain grafis), desain pruduk furniture dan lain sebagainya.

Gambar 15. Komoditas yang dipamerkan dalam Galeri Desain Grafis Sumber: Berbagai sumber

Selain itu galeri ini dapat menjadi tempat wisata baru yang ada di Kota Solo selain Kraton, Pasar Klewer atau bahkan Mall.

d. Pelaku 1. Kepala

2. Sub Bagian Tata Usaha 3. Seksi Pemeran Dan Kemitraan 4. Seksi Pengumpulan Dan Perawatan

5. Kelompok Jabatan Fungsionalis (Mahasiswa) 6. Receptionis

7. Staff Keamanan 8. Staff Kebersihan 9. Pengunjung e. Aktivitas

Pengelola: datang- parkir- bekerja- ibadah- metabolisme- pulang

Pengunjung: datang- parkir- melihat produk- transaksi- ibadah- metabolisme- pulang f. Peruangan

1. Ruang kepala dan staff 2. Ruang pameran 3. Ruang receptionis 4. Ruang transaksi 5. Lavatory

(12)

ͣͤ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1 g. Preseden Bangunan Sejenis

Gambar 16. Graphic Design senior show at NESAD Gallery (kiri) Graphic Design at Tokyo (kanan)

Sumber: suffolkjournal.net, tdctokyo.org

Gambar 17. Exhibition showing the work of James Joyce at Kemistry Gallery, London Sumber: faqonespionage.wordpress.com

C.

Fi

Fi merupakan bangunan yang berfungsi sebagai bangunan interaksi yang menghubungkan F1 dengan F2. Fi dapat berupa bangunan sendiri atau berupa ruangan yang terdapat pada F1 atau F2. Dalam perancangan kali ini Fi akan direncanakan sebagai sebuah retail outlet.

1. Deskripsi Umum Retail Outlet a. Definisi

Sebuah toko yang menjual produk barang atau jasa tertentu kepada masyarakat umum dan dengan jumlah skala yang kecil. Bisnis dengan cara menggunakan retail outlet ini akan memasok barang atau jasanya langsung dari produsennya, sehingg harga yang ditawarkan akan lebih murah disbanding harga pasar pada umumnya.

b. Fungsi

Fungsi retail outlet pada proyek kaliini adalah sebagai tempat untuk memasarkan hasil karya mahasiswa atau jasa mahasiswa untuk membuatkan sebuah pesanan yang diinginkan oleh konsumen. Dengan adanya retail outlet ini, mahasiswa akan merasakan kerja lapangan karena akan bertemu langsung dengan konsumen. Retail outlet juga dapat dijadikan sebuah workshop bagi para mahasiswa.

c. Jenis

Retail store dapat dibagi jenisnya menjadi:  Food Retailer

(13)

ͣͥ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1

Supermarket, adalah toko yang menyediakan makanan seperti sayur mayur, daging, dan produk yang tidak berupa makanan seperti alat kecantikan, obat-obatan namun dengan jumlah yang terbatas. Contohnya adalah HERO

Supercenter, adalah toko yang besar (150.000 – 220.000 m2) yang mengkombinasikan supermarket dengan toko diskon. Contohnya adalah Hari-Hari

Warehouse Club, adalah retailer yang memberikan jenis makanan, barang kebutuhan sehari-hari, yang terbatas namun dengan harga yang murah. Biasanya diperuntukan untuk dijual kembali. Contohnya adalah MAKRO.

Convenience Store, adalah toko yang menyediakan jenis barang dagangan yang terbatas yang dibangun diatas lahan yang luasnya hanya 2000-3000 m2. Contohnya adalah minimarket seperti Alfa.

 General Merchandise Retailer Terbagi menjadi:

Department Store, adalah retailer yang memiliki banyak jenis dan kategori dari barang dagangannya, menyediakan pelayanan konsumen, dan mengatur toko mereka menjadi berbagai macam departemen yang memperlihatkan masing-masing barangnya. Contohnya adalah Metro, Sogo, dan Debenhams.

Full-Line Discount Store, adalah retailer yang menyediakan berbagai jenis barang dengan harga murah namun terbatas jumlahnya. Barang yang dijual tidak terlalu mengikuti fashion, tidak seperti di department store.

Specialty Store, adalah toko yang fokus pada barang yang memiliki kategori terbatas, toko ini juga menyediakan pelayanan yang sangat baik. Contoh dari spe ialty store adalah Vi toria‟s “e ret, The Gap, Tiffa y & Co. da Ma go.

Drugstores, adalah toko yang hanya berkonsentrasi pada penjualan obat dan alat kesehatan untuk pribadi. Barang di toko obat dapat di beli dengan bebas namun ada yang memerlukan resep dokter untuk membelinya. Contoh dari toko ini adalah apotik, century.

Category Specialist, adalah toko yang menjual barang dengan kategori tertentu a u sa gat a yak je is ya. Co toh ya adalah Toy „R‟ Us di a a ha ya menjual mainan namun jenisnya sangat banyak sekali.

Extreme Value Retailer, adalah toko kecil yang menjual jenis barang yang terbatas namun dengan harga murah. Contoh yang pernah ada yaitu Valu$ yang pernah menetapkan harga di tokonya untuk semua barang hanya Rp.5000.

Off-Price Retailer, adalah toko yang menawarkan barang dengan harga murah namun harga barang tersebut dapat berubah-ubah. Contoh dari jenis toko ini adalah factory outlet yang sekarang menjamur di Bandung dan Jakarta.

 Nonstore Retailer

Nonstore retailer adalah retailer yang tidak memiliki toko, terbagi menjadi:

(14)

ͣͦ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1

prosess pembayaran melalui jasa internet. Contoh dari tipe retailer ini adalah E-Bay dan Amazon.com.

Catalog and Direct-Mail Retailer, yaitu format retail yang tidak memiliki toko, dimana penjual berkomunikasi ke konsumen melalui catalog, surat, atau brosur.

Direct Selling, yaitu format penjualan dimana tenaga penjual menghubungi langsung calon konsumen dan bertemu di kantor atau di rumah calon pembeli. Mendemonstrasikan kelebihan produk yang akan dijual, menerima pesanan, dan mengirimkan produk yang dipesan. Contoh dari tipe ini adalah Amway dan Tiansi.

Television Home Selling, yaitu penjualan yang dilakukan oleh retailer melalui media televisi. Contoh yang tepat untuk retailer tipe ini adalah DRTV yang mempromosikan produknya melalui media televisi yang dapat dipesan langsung melalui telepon.

Vending machine Retailing, adalah konsep retail yang menggunakan mesin untuk menjual produknya. Pembeli hanya perlu memasukkan sejumlah uang ke dalam mesin sesuai harga barang yang ingin dibeli. Selanjutnya mesin akan mengeluarkan barang tersebut. Biasanya jenis barang yang memakai vending machine adalah minuman dan makanan ringan.

 Service Retailing

Tipe retail ini adalah toko yang menyediakan jasa kepada konsumen, contohnya adalah dokter, cukur rambut, tempat les, sekolah, dan tempat fitness. Namun bukan berarti jenis tipe retail seperti ini hanya khusus jasa saja, mereka juga menawarkan barang juga walaupun dengan jumlah sedikit. Kita ambil contoh seperti perusahaan penerbangan, mereka menjual jasa dalam pelayanannya agar konsumen sampai ditujuan dengan selamat dan puas. Namun mereka juga menjual merchandise dalam perjalanan, seperti miniatur pesawat, permainan anak, bahkan kaos.

2. Pemilihan Jenis Retail Outlet

Jenis retail outlet yang dipilih dalam perancangan kali ini adalah Service Retailing. Dalam service retailing ini akan ditawakan berbagai macam jasa pembuatan poster, cover buku, web design, model furniture, atau pendesainnan cat mobil, dan lain sebagainya sesuai dengan pemesanan konsumen yang berkaitan dengan desain grafis.

Model service retailing yang digunakan akan berbentuk stand stand sesuai dengan focus jurusannya masing-masing. Sehingga pemesanan serta workshop setiap detail produk akan berbeda satu dengan lainnya, namun tetap berada di satu area.

3. Deskripsi Khusus Service Retailing

(15)

ͣͧ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1

Ada banyak jenis barang atau jasa yang dipasarkan dalam service retailing, namun dalam perancangan kali ini barang dan jasa yang di pasarkan adalah barang dan jasa desain grafis.

a. Latar Belakang Pemilihan Service Retailing Graphic Design

Ada berbagai jenis retail outlet yang ada, namun service retailing dirasa paling cocok untuk perancangan kali ini karena toko in langsung berhubungan dengan fungsi bangunan 1 dan 2 (F1 dan F2) dimana kedua bangunan ini yang memasok barang dan jasa ke service retailing graphic design. F1 akan memasok jasa, sedangkan F2 memasok barang ke dalam Fi.

Sebenarnya di Kota Solo sudah banyak terdapat toko yang menawarkan jasa dibidang tersebut, namun keadaannya kurang terpadu dan terpencar- pencar. Contohnya saja dalam satu toko hanya melayani pembuatan cover atau poster, sedangkan permaketan dan furniture berada di daerah lain sehingga menyulitkan para konsumen. Salah satu kelebihan dari service retailing graphic design ini adalah contoh desain yang ada dan dipamerkan lebih banyak, selain itu SDM untuk mengerjakan proyek tersebut juga lebih baik karena mereka memiliki ilmu dan ketrampilan yag di dapat dari Akademi Desain Grafis.

b. Definisi

Service Retailing Graphic Design adalah sebuah toko yang menjual barang atau jasa yang bergerak di bidang desai grafis, berkaitan dengan tulisan, ruang, maupun gambar. c. Fungsi

Fungsi dari Service Retailing Graphic Design adalah memasarkan produk yang dihasilkan oleh mahasiswa di Akademi Desain Grafis, serta menawarkan jasa yang berkaitan dengan desain grafis.

d. Pelaku

1. Pengelola Service Retailing • Eksternal (pegawai) • Internal (mahasiswa) 2. Pengunjung/ client

e. Aktivitas

Pengelola: datang- parkir- bekerja- ibadah- metabolisme- pulang

Pengunjung: datang- parkir- melihat produk- transaksi- ibadah- metabolisme- pulang f. Peruangan

Ruang untuk stand Service Retailing g. Preseden Service Retailing Sejenis

(16)

ͣͨ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1

II.

MODEL INTERAKSI F1, F2, dan Fi

Model interaksi yang dipilih untuk menyatukan F1, F2, dan Fi adalah interaksi irisan.

F1: Akademi Desain Grafis F2: Galeri Desain Grafis

Fi: Service Retailing Outlet (Graphic Design)

a. Latar Belakang Pemilihan Model Interaksi

Model interaksi yang berbentuk irisan ini merupakan model interaksi yang cocok untuk F1 dan F2 yang memiliki kesamaan aktivitas dan produk, sehingga antar keduanya masih dapat disatukan dengan Fi yang mengakomodasi kesamaan tersebut. Ineteraksi yang muncul di Fi merupakan interaksi langsung antara F1 dengan F2.

Interaksi antara F1, F2, dan Fi tersebut karena adannya kesamaan kegiatan dan produk yang berhubungan dengan ruangan tersebut.

b. Deskripsi Model Interaksi

Interaksi antara akademi desain garfis dengan galeri adalah terdapat kesamaan produk yang dihasilkan di F1 dengan produk yang di display di F2, yaitu produk desain grafis. Para mahasiswa akan membuat sebuah desain untuk tugasnya, desain itu juga yang nantinya akan di display di galeri sehingga produk pameran di galeri akan sering berganti modelnya. Hal tersebut akan membuat para wisatawan tidak akan merasa bosan saat memasuki galeri karena sitiap kali mereka masuk (dalam kurun waktu yang berbeda atara 2-4 minggu) koleksi yang mereka liat tidak akan sama dengan koleksi saat mereka pertama kali masuk galeri.

Sedangkan Fi memiliki kesamaan aktivitas dengan F1 dan F2. Kesamaan aktivitas dengan F1 yaitu aktivitas mahasiswa yang melakukan kerja praktek/ langsung. Dengan adanya Fi sebagai service retailing outlet maka mahasiswa dapat melakukan workshop di area tersebut. Sedangkan kesamaan produk dengan F2 adalah Fi akan menjual barang yang di display di galeri. Sebenarnya dalam sebuah galeri konvensional ruang transaksi tersebut ada, namun keberadaannya tidak mudah dijangkau untuk masyarakat. Ruang transaksi tersebut hanya dapat diakses oleh orang yang berkepentigan khusus seperti kolektor barang atau seniman. Dengan adanya service retailing outlet ini maka transaksi barang dan jasa dibuat transparan, sehingga siapa saja dapat mengakses dan menikmati kegunaannya.

c. Konsekwensi dari interaksi langsung F1 dengan F2

Konsekweksi ini dapat bernilai posistif jika saling menguntungkan, dan negative jika diantara keduanya dapat menimbulkan sebuah kekacauan atau kurang sinergis.

 (+)

Dengan adanya model interaksi tersebut maka hubungan F1, F2 dan Fi akan dapat memaksimalkannya dengan menghasilkan sebuah interaksi dengan tema Edukasi, Hiburan, dan Bisnis Kreatif, yang kegiatan di dalamnya akan saling mendukung satu

(17)

ͣͩ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1

dengan lainnya. Hubungan langsung tersebut juga memberikan nilai positif yaitu kemudahan dalam hal pencapaian.

 (-)

Zona kampus F1 yang digunakan sebagai tempat belajar akan sedikit terganggu oleh kegiatan di F2 atau Fi yang merupakan area hiburan umun dan area bisnis, sehingga memerlukan sebuah penanganan membuat F1 lebih nyaman.

Salah satu cara/ stategi desain yang dapat digunakan untuk mengatasi hal ini adalah dengan membedakan pintu masuk F1, F2 dan Fi. Dengan catatan pengguna F1 tetap mudah mengakses F2 maupun Fi, tapi dari F2 dan Fi tidak dapat masuk area F1 dengan mudah. Serta F2 dan Fi dapat saling berhubungan dengan mudah.

III.

FOKUS PERANCANGAN

PERANCANGAN DARI MASSA BANGUNAN

a. Definisi Massa

Massa merupakan volume fisik atau limpahan sebuah tubuh yang padat (Ching, 2007). Massa terbentuk sebuah kombinasi panjang, lebar dan tinggi. Bentuk arsitektural terjadi pada titik pertemuan antara massa dan ruang. Dalam membuat dan membaca gambar desain, harus diperhatikan baik bentuk massa yang menampung volume ruang maupun e tuk dari volu e spasial itu se diri. Pera a ga assa dapat e pe garuhi rasa pada ruang. Pengolahan massa yang berbeda akan menghasilkan pengalaman visual yang berbeda pula.

b. Latar Belakang Pemilihan Massa Sebagai Fokus

Suatu produk arsitektur yang pertama akan di lihat adalah bagaimana bentuk bangunannya, atau dengan kata lain kulit/ eksteriornya. Dilatar belakangi oleh hal tersebutlah, maka suatu perancangan dapat dimulai dari bentuk massa bangunannya. Di dalam gubahan massa terdapat makna yang terkandung di dalam bangunan, selain itu melalui gubahan massa pula sebuah pencitraan terhadap bangunan dan penghuninya akan muncul. Lalu langkah selanjutnya adalah bagaimana usaha perancang untuk dapat menciptakan bentuk/massa bangunan yang sesuai dengan fungsi dan pemakainya.

Perancangan yang dimulai dengan membentuk gubahan massa diharapkan akan dapat menciptakan suatu bentuk bangunan yang tidak monoton dan spektakuler. Seperti hal yang banyak dilakukan oleh arsitek zaman dulu yang selalu menciptakan bangunan dimulai dari bentuk bangunan, bangunan yang dihasilkan akan terlihat sangat spektakuler. Rasanya akhir- akhir ini sudah terlalu banyak bangunan dengan wujud yang hampir seragam sehingga tidak muncul sebuah karakter yang dibawa oleh perancangnya. Hal tersebutlah yang melatar belakangi perancangan di mulai dari gubahan massanya.

c. Deskripsi Massa Sebagai Fokus

(18)

ͣͪ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1

memperhatikan keadaan alam sekitar bagaimana arah anginnya, keadaan vegetasi alami yang ada di site serta factor lainnya sehingga massa bangunan tidak akan menghambat perancangan.

Dalam perancangan kali ini bentuk dasar geometri yang dipilih adalah segi empat dan bentuk curve. Segi empat merupakan bentuk yang feksibel dan mudah direkayasa untuk dikembangkan. Terdapat berbagai cara yang dapat digunakan untuk mengolah bentuk ini, yaitu dengan cara displacement, intersection, solid with voided intersection, rotation, displacement between silid and void, trace and frame definition, imprinting solids, imprinting through surface. Cara tersebut merupakan cara yang digunakan Peter Eisenman dalam merancang Guardiola House.

Gambar 19. Proses perancangan Guardiola House Sumber: http://www.pinterest.com

Contoh arsitek yang banyak merancang dari menentukan gubahan massanya adalah Peter Eisenmen. Seperti salah satu karnyanya yaitu Gurdiola House yang dirancang dengan cara- cara unik dan sederhana, sehingga dapat merubah bentuk kubus menjadi berbeda dan lebih menarik. Selain Guardiola House, Eisenman juga merancang X- House dimulai dari gubahan massanya. Hal tersebut berhasil membuat sebuah rumah tinggal dengan bentuk yang tidak biasa dan menarik.

(19)

ͣͫ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1

Bentuk curve atau lengkung dan bentuk zigzag akan diterapkan pada bangunan galeri. Bentuk ini dipilih karena bentuk ini akan menimbulkan kesan luwes. Selain itu bentuk ini sangat cocok untuk menempelkan atau mendisplay produk, dengan bentuk curve yang dipadukan dengan sorotan lighting yang baik akan menimbulkan kesan mewah. Bentuk curve ini akan memantulkan sinar lampu dengan baik, dengan begitu desain yang di display akan terlihat makin cantik. Bentuk zigzag akan digunakan untuk mendisplay barang 3D.

Gambar 21. Contoh denah berbentuk curva Sumber: www.klatmagazine.com

Gambar 21. Roca London Gallery Design by Zaha Hadid Bentuk galeri yang melengkung

Sumber: www.archiii.com

Gambar 22. Contoh denah berbentuk zigzag Sumber: www.archdaily.com

(20)

ͤ͢ Nida Ariba/ i0212058/ Metode Perencanaan dan Perancangan Lanjut/ UKD 1

Penataan massa yang akan di gunakan dalam perancangan kali ini adalah massa F1 akan di buat tinggi (akan dikembangkan secara vetikal), hal ini di sesuaikan dengan tor tugas bahwa massa bangunan utama harus tetap eye- catching dan tidak boleh kalah dengan massa pendukungnya. selain itu kebutuhan akan ruangan pada akademi tersebut cukup banyak, sehingga bentuk pengembangan yang paling cocok adalah ke atas.

Gambar

Gambar 3. Sekolah tinggi dan asrama (STIP Jakarta)
Gambar 4. Kawasan kampus PIP, Semarang
Gambar 6. Produk desain grafis
Gambar 7. Durham College Graphic Design, Canada(kiri)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini mengenai kemampuan guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, serta peningkatan aktivitas belajar peserta didik dengan

Melalui proses pengkaderan inilah Hidayah Centre Foundation memainkan peranan sebagai sebuah organisasi yang mempunyai visi dan misi yang jelas akan kebenaran yaitu

- Auditee adalah penghasil produk mebel dari kayu yang hasil produknya bila melakukan penjualan ekspor tidak wajib diverifikasi teknis, tidak terdapat dokumen hasil

3 Dengan dasar bahwa kehidupan perempuan serta peran perempuan pada hampir semua masyarakat tentu berbeda dengan kehidupan serta peran laki-laki sehingga, jika yang

Gambar 4.2 ini menjelaskan activity pada proses order menu, dimana diawali dengan memilih menu makanan dan jumlah makanan yang dipesan kemudian pesanan akan masuk ke

HUBUNGAN ASUPAN GIZI DENGAN KEBUGARAN JASMANI PADA SISWA YANG MENGIKUTI EKSTRAKURIKULER OLAHRAGA DI SMA NEGERI 1 SUKAGUMIWANG INDRAMAYU.. Unipersitas Pendidikan Indonesia

PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE CONCEPT SENTENCE UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN NARASI. BAGI SISWA KELAS IV

Menentukan strategi komunikasi yang efektif, empatik, dan santun, baik secara lisan maupun tulisan bagi peserta didik sekolah dasar kelas awal2. 5