A. Pendahuluan
Yang menjadi salah satu hal utama dan mendasar dalam perkembangan suatu bangsa adalah kualitas pendidikanya. Dengan adanya pendidikan yang berkualitas dan maju, maka kualitas kehidupan bangsa tersebut akan meningkat. Keberhasilan pendidikan bukan hanya dapat diketahui dari kualitas individu, melainkan juga keterkaitan erat dengan kualitas masyarakat, berbangsa dan bernegara 1. Secara umum,
hal tersebut dapat dilihat dari maju dan tingginya kualitas pendidikan di negara-negara maju di dunia, seperti dikutip dari Education for All Global Monitoring Report 2011, UNESCO, Selasa (23/10/2012) 2; dimana negara dengan tingkat pendidikan
tertinggi adalah Jepang, inggris dan Norwegia. Sedangkan Indonesia masuk pada taraf medium atau menengah.
Untuk memajukan pendidikan, maka diperlukan adanya peran pemerintah dalam mengembangkan regulasi yang dapat memberikan ruang dalam pengembangan pendidikan, baik berupa peningkatan anggaran maupun dalam pengembangan program pendidikan kedepanya. Selain itu juga diperlukan peran aktif dari sekolah yang meruapakan pelaksana kegiatan pendidikan dalam mengaplilkasikan berbagai program pendidikan yang telah diberikan oleh pemerintah.
Oleh karena itulah, peran pranata sosial atau lembaga sosial, yang menurut Momon Sudarmo dapat dimaknai sebagai organisasi, asosiasi atau kelompok sosial 3 sangat mempengaruhi
tingkat pendidikan di suatu negara. Dengan adanya pranata
1 Abdullah Idi, Sosilogi Pendidikan Individu, Masyarakat, dan Pendidikan. Cetakan Ke-3. Jakarta : Raja Grafindo Persada,2011, hlm. 168.
2 http://esqsmartplus.com/20-negara-dengan-tingkat-pendidikan-tertinggi-di-dunia/diakses tanggal 10, 11 205 pukul 04. wib17
sosial yang berkualitas, maka akan terbentuk sistem pendidikan yang berkualitas dan maju.
Sebuah pranata atau lembaga merupakan sebuah bangunan, bukan sekelompok orang dan bukan juga sebuah organisasi. Pranata atau lembaga adalah suatu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat dipandang penting atau secara formal, sekumpulan kebiasaan dan tata kelakuan yang berkisar pada suatu kegiatan pokok manusia.4 Pranata adalah proses terstruktur untuk
melaksanakan berbagai kegiatan tertentu.5
Sehingga sangat penting untuk memahami secara jelas mengenai hubungan dan keterkaitan antara pendidikan dan pranata sosial, sehingga dapat diketahui secara jelas, bagaimana pranata sosial dalam kaitanya dengan pendidikan, dapat membentuk sistem pendidikan yang berkualitas di Indonesia.
B. Pembahasan 1. Pendidikan
4 ] Ishomuddin,. Sosiologi Persfektif Islam. Universitas Negeri Malang.
Malang,2005, Hal. 274
Pendidikan menurut Herman H. Horne, yaitu “ proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian lebih tinggi, bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada Tuhan, seperti termanifestadi dalam alam sekitar intelektual, emosial dan kemanusiaan dari manusia”.6 Definisi lain dari Drs. A.D Mirimba,
yaitu “ pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama”.7
Untuk memahami makna dari pendidikan, maka kita perlu mengetahui tentang hakikat dari pendidikan itu sendiri. Menurut Purwanto, terdapat dua istilah yang mengarahkan pada pemahaman hakikat pendidikan,yaitu kata pedagogie dan pedagogiek. Pedagogie bermakna pendidikan, sedangkan pedagogiek berarti ilmu pendidikan.8 Menurut Muis Saad Imam,
apa yang dipraktikan dalam pendidikan selama ini adalah konspe pedagogi, yang secara harfiah adalah seni mengajar atau seni mendidik anak-anak.9
Pedagogik sebagai ilmu pendidikan baru berkembang di kontingen Eropa pada Abad 20, sedangkan di Indonesia, baik praktis maupun teoritis dimulai pada era Ki Hajar Dewantara dan kawan-kawan pasca pembuangan ke Eropa (1913/1914) yang mengenalkanya dengan tokoh progresivisme pendidikan dan pengajaran, seperti Jan Lighart dan Maria Montessori. Pada giliranya, rintisan taman Siswa (1922), gerakan kebangsaan dan
6 . Soekarno & Ahmad Supardi. Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam. Cetakan ke-2. Bandung : Angkasa. 1990, hlm. 6-7.
7 Ibid., hlm 7.
8 Sukardjo & Ukim Komarudin, Landasan Pendidikan Konsep dan Aplikasinya. 2010. Cetakan 3. Jakarta : Raja Grafindo Persada, hlm. 7.
kemerdekaan Ri serta perkembangan ilmu mendidik di Netherland membantu penyebaran ilmu pedagogik.10
Pedagogi modern membagi fungsi pembelajaran menjadi tiga area, yakni apa yang dimaksud dengan Taksonomi Bloom11,
dimana menurutnya, pengajaran terbagi atas :
1. Bidang kognitif (berkenaan dengan aktifitas mental, seperti ingatan, pemahaman, penerapan anlisis, evaluasi dan mencipta). Contohnya, yaitu dalam proses mengingat pelajaran dan menganalisis materi pelajaran.
2. Bidang afektif (berkenaan dengan sikap dan rahasia diri), contohnya, yaitu sikap yang tidak terlihat yang dimiliki oleh masing-masing orang.
3. Bidang psikomotori (berkenaan dengan aktivitas fisik seperti keterampilan hidup dan pertukangan). Contohnya yaitu kemampuan membuat alat (mesin) dan kreasi lainya.
Pendidikan merupakan kebutuhan mutlak bagi kehidupan manusia yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan mustahil manusia dapat berkembang secara baik. Pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.
Dalam pendidikan terdat kunci, yang menjadi cara dalam melaksanakan pendidikan, yaitu mendidik. Mendidik, menurut Langeveld adalah mempengaruhi dan membimbing anak dalam usahanya mencapai kedewasaan. Sendangkan menuru Ki Hajar Dewantara, mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai
anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.12
Bagian dari mendidik adalah mengajar, yang dimaknai sebagai menyajikan bahan ajar tertentu, berupa seperangkat pengetahuan, nilai atau deskripsi keterampilan kepada seseorang atau sekumpulan orang dengan maksud agar pengetahuan yang diperlukanya sekarang atau untuk pekerjaan yang akan dijalaninya tumbuh, sehingga ia dapat mengembangkan atau meningkatkan intelegensinya secara intelektual.13
Sebagai sebuah sistem, pendidikan tidak terlepas dari komponen-komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Menurut Zuhairini, komponen-komponen dalam pendidikan itu meliputi: tujuan pendidikan, pendidik, peserta didik, alat/media pendidikan dan lingkungan pendidikan.14
a. Tujuan Pendidikan
Sebagai suatu kegiatan yang terencana, pendidikan harus memiliki kejelasan tujuan yang ingin dicapai. Ahmad D. Marimba, menyebutkan ada empat fungsi tujuan pendidikan.15
1) Tujuan berfungsi mengakhiri usaha. Sesuatu usaha yang tidak mempunyai tujuan tidaklah mempunyai arti apa-apa.
2) Tujuan berfungsi mengarahkan usaha, tanpa adanya antisipasi (pandangan kedepan) kepada tujuan,
12 Ibid.
13 Ibid.
14 Zuhairini, Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, tt.), hlm.28
penyelewengan akan banyak terjadi dan kegiatan yang dilakukantidak akan berjalan secara efesien.
3) Tujuan berfungsi sebagai titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain, yaitu tujuan-tujuan baru maupun tujuan-tujuan lanjutan dari tujuan pertama.
4) Fungsi dari tujuan adalah memberi nilai (sifat) pada usaha itu. Ada usaha-usaha yang tujuannya lebih luhur, lebih mulia, lebih luas dari usaha-usaha lainnya. Hal ini menunjukan bahwa dalam rumusan setiap tujuan selalu disertai dengan nilai-nilai yang hendak diusahakan perwujudannya.
Selain itu, menurut Dewey, tujuan pendidikan ialah mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh peserta didik sehingga dapat berfungsi secara individual dan berfunsi sebagai anggota masyarakat melalui penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran yang bersifat aktif, ilmiah dan memasyarakat serta berdasarkan kehidupan nyata yang dapat mengembangkan jiwa, pengetahuan, rasa tanggung jawab, ketersmpilan, kemauan dan kehalusan budi pekerti. 16
b. Pendidik
Secara etimologi pendidik adalah orang yang melakukan bimbingan. Pengertian ini memberi kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam pendidikan.
c. Peserta Didik
Dilihat dari segi kedudukannya, anak didik adalah makhluk yang sedang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing. Mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsinsten menuju ke arah titik optimal kemampuan fitrahnya. Dalam pandangan yang lebih modern, anak didik tidak hanya dianggap
sebagai obyek atau sasaran pendidikan sebagaimana disebutkan diatas, melainkan juga harus diperlakukan sebagai subyek pendidikan. Hal ini antara lain dilakukan dengan cara melibatkan mereka dalam memecahkan masalah dalam proses belajar mengajar.
d. Alat/Media Pendidikan
Dari beberapa literatur tidak terdapat perbedaan pengertian alat dan media pendidikan, Zakiah Daradjat17
menyebutkan pengertian alat pendidikan sama dengan media pendidikan, sarana pendidikan. Sedangkan dalam kepustakaan asing sementara ahli menggunakan istilah audio visual aids (AVA), teaching material, intructional material.
Gegne mengemukakan pengertian media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Senada dengan pendapat Gagne adalah pendapat Briggs, yang mendifinisikan segala bentuk alat fisik yang dapat menyajikan pesan yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Dari dua definisi ini tampak pengertian media mengacu pada penggunaan alat yang berupa benda untuk membantu proses penyampaian pesan.
e. Lingkungan Pendidikan
Zakiah Darajat menyatakan bahwa lingkungan adalah segala sesuatu yang tampak dan terdapat dalam alam kehidupan yang senantiasa berkembang. Lingkungan merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pembentukan pribadi anak selain dari faktor hereditas. Adapun lingkungan pendidikan secara umum dapat dibagi kepada tiga bagian sesuai dengan institusi yang ada dalam pendidikan itu sendiri yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Zakiah Darajat
17 Budi. Pranata sosial dan pendidikan. Diakses pada
mengungkapkan bahwa lingkungan dalam pendidikan terbagi kedalam tiga bagian18:
1) Lingkungan keluarga merupakan masyarakat alamiah yang pergaulannya diantara anggotanya bersifat khas. Dan keluarga adalah terbentuk karena adanya ikatan perkawinan yang kemudian mengahasilkan keturunan dan keturunannya itulah anak harus dibina dan dididik agar semua potensi yang dimilikinya berkembang kearah yang dicita-citakan oleh Islam.
2) Lingkungan sekolah adalah tempat dimana seorang anak dapat belajar dan bermain dibawah kontrol gurunya. Disekolah anak-anak dapat bermain dan belajar dengan teman-temannya. Suasana sekolah berbeda dengan suasana keluarga, karena keluarga sebagai institusi pendidikan informal merupakan tempat dimana anak dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan anggota keluarganya terutama dengan orang tua. Interaksi dalam keluarga ini berlangsung dalam waktu yang lama, sedangkan disekolah waktunya terbatas.
3) Lingkungan masyarakat merupakan kumpulan orang-orang yang menempati suatu daerah tertentu. Lingkungan masyarakat adalah tempat untuk berkomunikasi dan berinteraksi bagi anak dan dengan orang lain disekitarnya. Untuk menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai religius anak diperlukan lingkungan masyarakat kondusif dan referesentatif.19
2. Pranata Sosial
18 Ibid.
Pranata sosial berasal dari bahasa asing social institutions. Istilah tersebut dipakai oleh Soerjono Soekanto sebagai lembaga sosial yang menunjuk pada adanya unsur-unsur yang mengatur perilaku warga masyarakat.20 Koentjaraningrat
menyebutkan bahwa pranata sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat21.
Dijelaskan oleh Koentjoroningrat, bahwa berdasarkan fungsinya, setiap pranata ikut memberikan dampak dalam pembentukan kepribadian warganya. Kepribadian sebagai ciri watak yang diperlihatkanya secara lahir, konsisten, dan konsekuen sebagai individu yang memiliki identitas tertentu yang berbeda dari individu-individu lainya. Oleh karena itu, agak sulit bagi setiap ilmuwan untuk melepaskan diri, atau sama sekali ke luar dari pengaruh norma-norma yang telah terbentuk oleh pranta-pranata di masyarakat. 22
Dalam bahasa sehari-hari istilah institution sering dikacaukan dengan istilah institute. Dalam bahasa Indonesia pertukaran arti itu juga terjadi. Istilah indonesia untuk institute adalah “lembaga”, maka sesuai dengan itu dalam bahasa surat kabar dan bahasa populer di Indonesia sering kita baca istilah “dilembagakan”. Padahal antara “pranata” dan “lembaga” harus diadakan pembedaan secara tajam. Pranata adalah sistem norma atau aturan-aturan yang mengenai suatu aktivitas masyarakat yang khusus, sedangkan lembaga atau
20 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1995, cet.ke-21, hlm.217
21 Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, Jakarta: Penerbit Universitas, 1964, hlm.113
institut adalah badan atau organisasi yang melaksanakan aktivitas itu[4]. Tabel Perbedaan antara lembaga dan pranata23
Lembaga, institute Pranata, institution
Institut Teknologi Bandung Institut Agama Islam
Lembaga Ekonomi dan
Kemasyarakatan Nasional
Penerbit Kompas, Yayasan Bentara Rakyat
Secara umum, tujuan utama diciptakanya pranata sosial, selain untuk mengatur agar kebutuhan manusia dapat terpenuhi secara memadai, sekaligus untuk mengatur agar kehidupan tentang bagaiman bertingkah laku atau bersikap dalam usahauntuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya.
23 Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1996, hlm.165
24 J. Dwi Narwoko. Sosiologi : Teks Pengantar dan terapan.2004.Jakarta : Kencana. Hlm 197.
2. Menjaga keutuhan masyarakat dari ancaman perpecahan atau disintegrasi masyarakat.
3. Memberikan pegangan dalam mengadakan sistem pengendalian sosial.
b. Tipe-Tipe Pranata Sosial
Beragamnya aktivitas manusia dalam hidup bermasyarakat membawa konsekuensi terhadap beragamnya bentuk dan jenis pranatanya sosial yang mengaturnya. Menurut Gillin dan Gillin26 pranata sosial dapat diklasifikasikan menjadi lima
kelompok, yaitu:
1. Crescive institutions dan enacted institutions
Crescive institutions dan enacted institutions, merupakan klasifikasi pranata sosial berdasarkan perkembangannya. Crescive institutions disebut juga pranata sosial primer, merupakan lembaga yang secara tak disengaja tumbuh dari adat istiadat masyarakat. Contohnya: hak milik, perkawinan, agama, dan seterusnya.
Sedangkan enacted institutions adalah pranata sosial yang dengan segaja dibentuk untuk memenuhi tujuan tertentu.
Misalnya: lembaga utang piutang, lembaga perdagangan, dan lembaga-lembaga pendidikan, yang kesemuanya berakar pada kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat. Pengalaman melaksanakan kebiasaan-kebiasaan tersebut kemudian disistematisasi dan diatur untuk kemudian dituangkan ke dalam lembaga-lembaga yang disahkan oleh
26 Soekanto Soerjono. Beberapa Teori Tentang Struktur Masyarakat.
negara.
2. Basic institutions dan subsidiary institutions.
Pranata sosial tipe ini merupakan pengklasifikasian berdasarkan nilai-nilai yang diterima masyarakat. Lahirnya pranata sosial ini (Basic institutions) karena dipandang sebagai lembaga sosial yang sangat penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertib dalam masyarakat. Di dalam masyarakat Indonesia, keluarga, sekolah-sekolah, negara dan lain sebagainya dianggap sebagai basic institutions yang pokok.
Sebaliknya subsidiary institutins dipandang relatif kurang penting dan lahir sebagai pranata sosial untuk melengkapi aktivitas kebutuhan pokok. Misalnya: Kegiatan-kegiatan untuk rekreasi.
3. Hubungan Pendidikan dan Pranata Sosial
Pendidikan dan pranata sosial adalah sesuatu yang bertalian satu sama lain. Beberapa kebutuhan manusia, seperti kebutuhan pendidikan, akan diperoleh lebih terstruktur dengan adanya lembaga sosial atau paranta sosial. Pranata sosial akan ada jika ada kebutuhan individu yang digabungkan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhanya. Pranata sosial melibatkan bukan saja pola aktivitas yang lahir dari segi sosial untuk memenuhi kebutuhan manusia, tapi juga pola organisasi untuk melaksanakanya.27
Pendidikan sebagai pranata sosial tidak terpisah dengan pranata sosial lainya, baik ekonomi, politik, budaya dan agama, maka tingkat efektivitas dan keakuratan suatu program penguatan pendidikan sebagai pranata sosial tersebut, sangat
bergantung pada peran dan fungsi satu pranata dengan pranata lainya. 28
Pendidikan sebagai pranata sosial sesungguhnya sebagai salah satu upaya dan strategi dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional yang mengaharapkan terciptanya generasi masa depan yang berilmu pengetahuan-berteknologi dan beriman-bertakwa dapat terwujud dengan efektif. Tujuan pembangunan nasional tersebut akan terwujud apabila pendidikan sebagai pranata sosial dapat berfungsi normal dan efektif dalam menciptakan SDM yang berkualitas, ilmu pengetahuan yang relevan dengan zamanya dan mampu hidup pada era globaliasasi dengan menjaga identitas tertentu yang melakat pada diri sebagai pribadi, agama dan bangsa seperti yang diharpkan oleh tujuan pembangunan pendidikan nasional.29
Dari pembahasan diatas dapat diketahui bahwa pendidikan dan pranta sosial memiliki ketrkaitan yang erat, dimana pendidikan membutuhkan suatu pranata sosial dalam menjalankan aktivitasnya. Dimana, dengan adanya pranata sosial, maka proses pendidikan akan lebih terstruktur dan sistematis, sehingga dapat berajalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dan kualitas dari pelaksanaan pendidikan tersebutpun akan dapat tercapai secara maksimal apabila didukung oleh pranata sosial yang memilki komptensi serta memilki hubungan yang baik dengan pranata sosial lainya, sehingga semua aktivitas pendidikan dapat berjalan secara terstruktur dan sistematis.
4. Pendidikan dan pranata sosial ditinjau dari Agama Islam
Dalam Islam pendidik bukanlah hanya bertanggung jawab dalam pembentukan pengetahuan. Tetapi juga hendaknya memberikan teladan bagi murid-muridnya. Contoh yang diberikan bukan juga hanya dalam bentuk mata pelajaran, tetapi seharusnya yakni menanamkan keimanan dan ahklaq sesuai dengan ajaran dalam Islam.30 Pendidikan Islam, adalah
pendidikan yang berdasarkan ajaran atau tuntunan agama islam dalam usaha membina dan membentuk pribadi-pribadi muslim yang taqwa kepada Allah SWT, cinta dan kasih kepada kedua orang tua, dan sesama hidupnya, serta cinta kepada tanah airnya sebagai karunia yang diberikan oleh Allah Swt.31 Menurut Yusuf
Al-Qardhawi, yang dikuti
Sedangkan menurut UU no. 20 tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.32
Dari definisi pendidikan dalam islam, maupun dalam Undang-undang sistem pendidikan nasional tersebut, dapat dilihat kesamaan mengenai hasil yang ingin dicapai dari pendidikan yaitu dalam konteks akhlak dan kekuatan spiritual keagamaan. Sehingga, dapat diketahui bahwa pendidikan islam meruapakan sistem pendidikan yang sudah sesuai dengan sistem yang dibangun oleh pemerintah.
Sehingga, sistem pendidikan islam merupakan menjadi sistem yang sangat cocok diaplikasikan dalam sistem pendidikan
30 Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : PT. Bumi Perkasa, 2004, hlm. 72-73.
31 loc. cit.
di Indonesia, karena selain memiliki kesesuaian yang jelas dengan tujuan sistem pendidikan nasional, sistem pendidikan islam juga dapat membentuk pola pendidikan yang lebih baik dan jelas. Karena wahyu pertama dalam Al-Qur’an berkaitan erat dengan proses pendidikan, yaitu yang terdapat dalam surat Al-Alaq ayat 1-5, dimana dalam ayat tersebut, memerintahkan manusia untuk membaca dan mencari pengetahuan, selain itu juga dalam hadis diwajibkan untuk mencari ilmu sebagai proses pnedidikan.
Berikut hadis dari Rosullulah SAW :
Dari Anas bin Malik : Rosulullah SAW bersabda : “ carilah ilmu walau di negeri cina. Sesungguhnya mencari ilmu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya bagi pencari ilmu karena ridho dengan apa yang dicari”. (HR. Ibn-al Barr).33
Riwayat lainnya : “ mencari ilmu wajib terhadap semua orang islam. Sesungguhnya pencari ilmu dimohonkan pengampunan kepadanya oleh segala sesuatu sehingga ikan di dalam lautan”. (HR. Ibn-al Barr dari Anas hadis shahih).34
Dari sini dapat disimpulkan bahwa, dalam islam sudah terdapat pranata atau unsur-unsur yang mengatur perilaku muslim untuk menjadikan pendidikan sebagai hal yang utama, bahkan kewajiban sehingga dapat memaksimalkan pelaksanaan pendidikan itu sendiri.
5. Madrasah Sebagai Pranata Pendidikan Islam
Madrasah adalah lembaga pendidikan yang menggunakan kata Madrasah, yang berasal dari kata darasa (belajar). Jadi
33 Abdul Majid Khon,. Hadis tarbawi Hadis-hadis Pendidikan. Cet.2.Jakarta Kencana. 2014, hlm 140.
madrasah berarti tempat belajar.35 Madrasah merupakan
perkembangan dari masjid. Akibat besarnya semangat belajar umat Islam, membuat masjid-masjid penuh dengan halaqah-halaqah. Dari tiap-tiap halaqah terdengar suara guru-guru yang menjelaskan pelajaran atau suara perdebatan dalam proses belajar mengajar, sehingga menimbulkan kebisingan yang mengganggu orang ibadah, semakin banyak umat Islam yang tertarik menuntut ilmu, semakin membuat masjid penuh sesak dan tidak mampu lagi untuk menampung murid-murid untuk belajar. Keadaan ini mendorong perlunya lembaga pendidikan baru diluar masjid yang disebut madrasah.36
Dengan sifat dan karakternya yang demikian itu, para ahli mengategorikan madrasah sebagai lembaga pendidikan formal. Sedangkan yang lainnya, seperti rumah, masjid, majelis ta’lim, surau, langgar, dan lainnya disebut lembaga pendidikan non formal. Jadi madrasah adalah tempat belajar yang sudah menjadi lembaga pendidikan formal dengan berbagai komponen didalamnya yang ditentukan batasan-batasan, ukuran, dan standar, yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda dengan lembaga pendidikan yang lainnya.
Gambaran kondisi madrasah saat ini dapat dilihat dari aspek isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan. Dari seluruh standar tersebut, pada saat ini ternyata belum semua madrasah dapat memenuhinya. Selain itu, sebagian madrasah dan lembaga pendidikan Islam lainnya banyak yang belum sesuai dengan standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Hal ini 35 Zakiah Drajat, H.A Sadali, Islam untuk disiplin ilmu pendidikan, cet- 1 (Jakarta; Bulan Bintang, 1987), hal. 203
mengakibatkan, pada saat madrasah dan lembaga pendidikan Islam dinilai oleh pihak luar, banyak yang mendapatkan nilai rendah, baik kinerja madrasah maupun mutu lulusannya.(Depag RI, 2005: 8-9).
Madrasah sebagai salah satu pranata pendidikan yang juga turut membantu pemerintah dalam membangun bangsa memerlukan sistem pendidikan yang sesuai dengan standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Sehingga madrasah juga mampu setara dengan lembaga pendidikan lainya seperti halnya sekolah negeri maupun sekolah swasta lainya.
6. Pesantren Sebagai Pranata Pendidikan Islam
tempat santri. Santri atau murid mempelajari agama dari seorang Kyai atau syeikh di pondok pesantren.37
Ridwan Nasir mendefinisikan Pesantren sebagai “lembaga keagamaan yang memberikan pendidikan dan pengajaran serta mengembangkan dan menyebarkan ilmu agama Islam”. 38
Pondok pesantren juga berarti suatu lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang ada umumnya pendidikan dan pengajaran tersebut diberikan secara non-formal, yaitu dengan sistem bandongan dan sorogan. Dimana Kyai mengajar santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang tertulis dalam bahasa arab oleh ulama-ulama besar sejak abad pertengahan, sedang para santri biasanya tinggal dalam pondok atau asrama dalam pesantren tersebut.39
Ada juga yang mengartikan pesantren sebagai suatu lembaga pendidikan Islam Indonesia yang bersifat tradisional untuk mendalami ilmu agama Islam dan mengamalkannya sebagai pedoman hidup keseharian.40
Pada dataran praktis, pesantern memiliki fungsi sebagai : (1). Lembaga pendidikan yang melakukan transfer dan transformasi ilmu-ilmu agama (tafaqquh fial-din) dan nilai-nilai islam ; (2). Lembaga keagmaan yang melakukan kontrol sosial; (3) lembaga keagamaan yang melakukan rekayasa sosial. Relevan dengan peran pesantren dalam zamanya, fungsi pesantren dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu sebagai
37 Ridwan, Nasir. 2005. Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal, Pondok Pesantren di engah Arus Perubahan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hlm. 80.
38Ibid.
39 Ibid., hlm.81.
lembaga pendidikan, lembaga sosial dan lembaga penyiar agama.41
Sejalan dengan fungsinya, tujuan utama pendiidkan pesantren adalah mencetak kyai (tafaqquh fial-din)(Wahid 1988 hlm 3). Untuk mencapai tujuan tesebut disusunlah materi pelajaran yang terdiri atas ilmu-ilmu agama islam. Kajian mereka menurut Karel A, Steenbrink, berkisar pada dua persoalan pokok, yakni pengkajian Al-Qur’an dan penajian kitab sebagai lanjutan ( Steenbrink 1994, hlm 10-12). 42
Arah perkembangan pesantren dititikberatkan pada :
1. Peningkatan tujuan institusional pondok pesantren dalam kerangka pendidikan nasional dalam pengembangan potensi-potensi sebagai lembaga sosial pedesaan.
2. Peningkatan kurikulum dengan metode pendidikan agar memiliki efisiensi dan efektivitas dalam mengembangkan pondok pesantren modern.
3. Mengalakkan pendidikan keterampilan di lingkungan pondok pesantren guna mengembangkan potensi bidang peranan sosial dan taraf hidup masyarakat.
4. Menyempurnakan bentuk pesantren dengan madrasah berdasarkan SKB tiga menteri tentang peningkatan mutu pendidikan pada madrasah (Hasbullah, 1995, hlm. 155-158).43
Peran pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan memiliki andil besar dalam proses pendidikan dan pengajaran serta pengembangan dan penyebarluasan ilmu agama Islam di Indonesia. Selain itu juga pesantren telah banyak mencetak
41 Hendra Zainuddin Dan Muhammad Tuwah (Editor) Paradigma Baru Pesantren Masa Depan. Palembang : Aulia Cendikia Press.2012.hlm.6-7.
generasi Qur’ani dan para da’i dan da’iyah yang dapat membimbing umat ke jalan yang lurus. Karena itulah pesantren sebagai satu-satunya pranata pendidikan islami yang konsekuen dalam pengajaran agama Islam harus selalu mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikanya.
7. Konsep Pranata Pendidikan dalam Falsafaf Pancasila
Pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan, serta harkat martabat bangsa, mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, mandiri, sehingga mampu membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya, serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.44
Dengan demikian penyelenggaraan pendidikan nasional harus mampu meningkatkan, memperluas, dan memantapkan usaha penghayatan dan pengamalan pancasila, serta membudayakan nilai-nilai pancasila agar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari di segenap lapisan.45
Pancasila dan Pembukaan Undang-undang 1945 adalah rumusan pokok-pokok pikiran objektif rasional, atas dorongan nurani luhur, yang dijiwai akhlakul karimah, yang diilhami oleh ajaran islam, dirumuskan atas dasar pertimbangan objektif terhadap percaturan politik intrernasional, serta suasana gejolak
44 H.A.H Widjaja, Penerapan Nilai-Nilai Pancasila Dan Hak Asasi Manusia Di Indonesia, Jakarta : Rineka Cipta, 2000, hlm.23.
kemerdekaan yang membara di kalngan bangsa Indonesia yang majemuk.46
Dengan menelusuri asal-usul terbentuknya Pancasila dan Pembukaan Undang-undang 1945, tidak ada orang yang dapat menyangkal bahwa Pancasila itu adalah sikap politik yang luhur yang diprakarsai oleh pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia yang berjuang mengerakkan kemrdekaan bangsa ini, demi mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam mencapai cita-cita luhur tersebut.47
Apa yang tesrirat dalam Pancasila tersebut masih meresap dan melekat dalam kalbu para pemimpin bangsa terutama oleh oleh angkatan pendobrak yang kini masih sempat mengendalikan negara ini, mereka masih gigih berupaya agar nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya dapat dihayati dan dilestarikan serta diamalkan oleh generasi penerus yang akan menggantikan tongkat estafet kepemimpinan negara selanjutnya.48
Mengamalkan serta menghayati ajaran islam dengan baik dan benar serta berkesinambungan berarti kita telah mengamalkan dan menghayati Pancasila dalam arti yang utuh.49
Benar apa yang diucapkan oleh bapak Alamsyah Ratu Prawira Negara, sewaktu beliau menjabat Menteri Agama Republik Indonesia, bahwa Pancasila adalah karya besar umat islam yang dipersembahkan kepada rakyat dan bangsa Indonesia, untuk menggalang persatuan dan kesatuan dalam
46 M Thahier Dali, Islam Dan Pancasila, Cet 1,Semarang : Toha Putra,1985, hlm. 106.
menuju masyarakat yang adil dan makmur lahir dan batin, guna menuju perdamaian dunia yang abadi.50
Karena itulah, kita sebagai bangsa Indonesia, dan khususnya umat Islam harus selalu menjunjung tinggi falsafah Pancasila, karena Pancasila dihasilkan oleh pemikiran umat Islam yang memiliki orientasi yang tidak hanya tertuju pada dunia, tetapi juga akhirat, dimana hal ini tertuang dalam pengamalan Pancasila sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Dari sinilah dapat terlihat kesesuain tujuan antara Pancasila dan agama Islam, karena inti ajaran Islam adalah mengajarkan ketuhidan, yaitu kepercayaan kepada Tuhan yang satu, yaitu Allah SWT.
C. Kesimpulan
Pendidikan dan pranata sosial memilki keterkaitan yang erat, dimana dengan adanya pranata sosial, maka proses pendidikan akan lebih terstruktur dan sistematis, sehingga dapat berajalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Selain itu juga pendidikan sebagai pranata sosial tidak terpisah dengan pranata sosial lainya, baik ekonomi, politik, budaya dan agama, karena program penguatan pendidikan sebagai pranata sosial tersebut, sangat bergantung pada peran dan fungsi satu pranata dengan pranata lainya.
Pendidikan dalam islam merupakan suatu hal yang sangat penting dan mendasar, dimana dalam Al-Qur’an dan Al-hadis secara jelas telah menjadikan pendidikan sebagai suatu keutamaan dan kewajiban bagi umat islam. Selain itu juga
terdapat keterkaitan antara tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan islam dan sistem pendidikan nasional, yaitu dalam meningkatkan akhlak dan spiritual. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem pendidikan islam merupakan sistem yang relevan dan sangat sesuai untuk diaplikasikan dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia.
Madrasah dan pesantren sebagai lembaga pendidikan islam, merupakan salah satu pranata sosial yang menanungi masalah pendidikan Islam di Indonesia. Keduanya memiliki peran penting dalam mencerdaskan bangsa, baik dari segi akademik maupun spiritualnya.
Falsafah pancasila sebagai ideologi bangsa, tidak hanya memiliki orientasi dunia, tetapi juga akhirat, hal ini tercermin dalam pengamalan Pancasila, sila pertama. Karena itulah, Pancasila memiliki nilai materil dan nilai luhur yang berlandaskan agama Islam, karena inti pokok dari ajaran Islam adalah Ketauhidan yang tercermin dalam sila Pertama Pancasila tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Budi. Pranata sosial dan pendidikan. Diakses pada :http:// budizia2009. blogspot.co.id /2011/10/ pranata-sosial-dan-pendidikan.html, tanggal; 7 November 2015 pukul 10.00.
http://esqsmartplus.com/20-negara-dengan-tingkat-pendidikan-tertinggi-di-dunia/diakses tanggal 10, 11 205
pukul 04. wib17
Drajat, Zakiah, H.A Sadali, Islam untuk disiplin ilmu pendidikan, cet- 1.Jakarta; Bulan Bintang, 1987.
Ishomuddin. Sosiologi Persfektif Islam. Universitas Negeri Malang. 2005.
Jallaludin.2013.Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Peradaban. Depok : Raja Grafindo Persada.
J. Dwi Narwoko. Sosiologi : Teks Pengantar dan terapan.2004.Jakarta : Kencana.
Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1996)
Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, (Jakarta: Penerbit Universitas, 1964)
Khon, Abdul Majid. Hadis tarbawi Hadis-hadis Pendidikan. Cet.2.Jakarta Kencana. 2014.
M Thahier Dali. Islam Dan Pancasila, Cet 1,Semarang : Toha Putra.1985.
Syalabi,A . Tarikh al Tarbiyah al-Islamiyah, Mesir : Kasyasyaf lin Nasyr wa al-Thiba’ah wa al-Tauzi’, 1954.
Ridwan, Nasir. Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal, Pondok Pesantren di tengah Arus Perubahan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2005.
Sudarma, Momon. 2003.Sosiologi untuk kesehatan, Jakarta : Salemba Medika.
Soekarno & Drs Ahmad Supardi. 1990.Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam. Cetakan ke-2. Bandung : Angkasa.
Sukardjo & Ukim Komarudin, M.Pd. Landasan Pendidikan Konsep dan Aplikasinya. 2010.Cetakan 3. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Wacana Ilmu, 2001.
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1995.
Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab i pasal 1 ayat 1.
Zainuddin, Hendra Dan Muhammad Tuwah (Editor).Paradigma Baru Pesantren Masa Depan. Palembang : Aulia Cendikia Press.2012.