• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Persoalan Ekonomi Kota Pola Gun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Persoalan Ekonomi Kota Pola Gun"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun “Analisis Persoalan Ekonomi Kota : Pola Guna Lahan dan Nilai Lahan” untuk pemenuhan tugas mata kuliah Ekonomi Kota ini dengan baik dan tepat pada waktunya.

Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Eko Budi Santoso, Lic.rer.reg. dan Ibu Vely Kukinul Siswanto, ST. MT. MSc. beserta tim dosen atas bimbingannya selaku dosen mata kuliah Ekonomi Kota. Juga kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah membantu dan memberikan masukan-masukan kepada kami dalam menyelesaikan tugas ini.

Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini bermanfaat bagi para pembaca, terutama kami sebagai mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota.

Surabaya, Maret 2016

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan ... 3

1.3 Sistematika Penulisan ... 4

BAB II REVIEW LITERATUR ... 5

4.1 Pengertian Lahan ... 5

4.2 Kebutuhan Lahan di Perkotaan ... 6

4.3 Pola Guna Lahan ... 7

4.4 Hubungan Pola Guna Lahan dengan Ekonomi Kota ... 7

4.5 Nilai Lahan, Tanah dan Struktur Kota ... 8

4.6 Keseimbangan Penggunaan Lahan ... 11

4.7 Dampak Pembangunan Jaringan Jalan Terhadap Ekonomi ... 13

BAB III IDENTIFIKASI PERSOALAN EKONOMI KOTA ... 15

BAB IV GAMBARAN UMUM PERSOALAN EKONOMI KOTA ... 17

(4)

5.1 Analisis Korelasi Harga Lahan ... 19

5.2 Analisis Korelasi Penggunaan Lahan ... 22

5.3 Keterkaitan antara Harga Lahan dan Penggunaan Lahan ... 24

5.4 Dampak Pembangunan JLS terhadap Ekonomi Kota ... 26

5.4.1 Dampak Positif ... 26

5.4.2 Dampak Negatif ... 28

5.4.3 Dampak yang Diperoleh dengan Analisis SWOT ... 29

BAB VI KONSEP PENANGANAN PERSOALAN EKONOMI KOTA ... 31

6.1 Konsep Penanganan di Indonesia ... 31

6.1.1 Program Insentif dan Disentif dari Pemerintah Indonesia. ... 31

6.2 Konsep Penangan di Luar Negeri ... 32

BAB VII KESIMPULAN ... 34

7.1 Kesimpulan ... 34

7.2 Lesson Learned ... 34

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Lahan merupakan sumber daya alam utama dalam menompang setiap aktivitas kehidupan manusia baik sebagai sumber daya yang dapat diolah maupun sebagai tempat tinggal terutama karena sifatnya yang permanen, tidak dapat dipindahkan serta unik. Karena itulah maka tidak mengherankan jika kemudian lahan menjadi tumpuan harapan dari berbagai kepentingan. Namun ketika sebidang lahan dapat digunakan untuk bermacam-macam keperluan, dan ketersediaannya yang terbatas, seringkali terjadi konflik diantara berbagai alternatif penggunaan maupun peruntukan dalam pemanfaatannya.

Teori nilai lahan perkotaan dan model penggunaan lahan menunjukan berbagai faktor yang mempengaruhi formasi harga lahan yaitu makro ekonomi dan kecenderungan sosial ekonomi yang mempengaruhi peningkatan harga lahan secara umum, serta karakteristik lahan yang mempengaruhi harga lahan disuatu lokasi. Beberapa teori berkaitan dengan pola pertumbuhan kota, menjelaskan gejala besar yang mempengaruhi nilai lahan perkotaan sebagai fungsi guna lahan. Secara umum gejala yang mempengaruhi meningkatnya kebutuhan akan lahan adalah bertambahnya tingkat kebutuhan penduduk akan ruang, meningkatnya fungsi kota terhadap daerah sekitarnya, kelangkaan lahan diperkotaan, yang memberikan arti ekonomi dan strategi serta meningkatnya pembangunan infrastruktur.

(6)

Penentuan pola guna lahan didasarkan pada prinsip optimalisasi untuk menciptakan pola perencanaan wilayah perkotaan secara baik dan efisien. Daya guna lahan dan biaya adalaha faktor yang sangat penting dalam kehidupan ekonomi, untuk itu diperlukan pengaturan tempat pendidikan, kawasan permukiman tempat rekreasi dan lain-lain. Sehingga dengan pengaruh aglomerasi suatu kota dapat meningkatkan pendapatannya.

Dan hubungan pola guna lahan dengan ekonomi perkotaan itu sendiri adalah untuk membuat pertumbuhan ekonomi di kota menjadi merata dengan adanya tata guna lahan yang mengatur peruntukan kawasan perumukiman, perdagangan dan jasa, kawasan industri dan lain-lain sesuai dengan lahannya. Sehingga apabila kawasan-kawasan tersebut dapat di tempatkan dengan tepat maka akan meningkatkan dari ekonomi kota tersebut. Contohnya apabila kawasan industri ditempatkan atau di aglomerasikan sebagai kawasan industri maka keuntungan yang di dapat seperti aksesibilitas, dan pengurangan biaya transportasi akan diperoleh.

Kota Salatiga merupakan salah satu kota yang berada dalam hinterland Kota Semarang yang berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Semarang. Dalam konteks regional Jawa Tengah, Salatiga terletak diantara Kota Semarang dan Surakarta yang dilalui oleh jalan arteri dengan kepadatan lalu-lintas yang tinggi. Posisi tersebut membuat perkembangan Kota Salatiga cukup pesat, baik dari segi aktivitas ekonomi maupun perkembangan fisik kota. Hal tersebut kemudian menimbulkan potensi dampak berupa kemacetan lalu-lintas dan polusi. Untuk mengantisipasi permasalahan yang mungkin timbul serta meningkatkan pelayanan bagi pengguna jalan, mendukung peningkatan pemekaran atau pengembangan wilayah, menambah sistem jaringan jalan nasional, meningkatkan kelancaran lalu-lintas, barang dan jasa serta dan guna mendukung peningkatan laju pertumbuhan ekonomi maka dibangunlah Jalan Lingkar Salatiga. Keberadaan Jalan Lingkar Salatiga telah menimbulkan peningkatan arus transportasi dan perbaikan aksesibilitas di sekitar wilayah yang dilaluinya. Peningkatan aksesibilitas pada akhirnya berdampak pada peningkatan harga lahan. Peningkatan harga lahan ini disertai dengan konversi lahan dari lahan pertanian ke lahan terbangun seperti perdagangan jasa dimana hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan fisik kota.

(7)

1.2

Tujuan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui dampak dari adanya pembangunan Jalan Lingkar Salatiga (JLS) terhadap harga lahan maupun pola penggunaan lahan di wilayah jalan tersebut.

2. Mengaplikasikan teori yang mendasar kedalam studi kasus dalam pembahasan yang lebih rinci. 3. Menggunakan metode analisis korelasi untuk mengidentifikasi permasalahan pembangunan Jalan

(8)

1.3

Sistematika Penulisan

Adapun penulisan sistematika dari makalah ini sebagai berikut :

Bab I Pendahuluan, berisi Latar Belakang pemilihan permalahan ekonomi yang akan dibahas, Tujuan merupakan hal yang dicapai penulis untuk memahami lebih dalam mengenai permasalahan ekonomi kota, dan Sistematika Penulisan menjelaskan isi dari setiap bab yang bersistematika dalam penulisan laporan.

Bab II Menjelaskan mengenai Identifikasi persoalan ekonomi, dimana identifikasi permasalahan ekonomi menitik beratkan terhadap permasalahan ketersediaan lahan yang semakin menipis sehingga mengubah pola guna lahan dan nilai lahan.

Bab III Menjelaskan mengenai Gambaran Umum dari permasalahan ekonomi yang berhubungan dengan persoalan ekonomi yang ingin dibahas lebih lanjut.

Bab IV Menjelaskan mengenai Kajian Teori atau review literatur berisi mengenai pedoman yang digunakan oleh penulis untuk menjelaskan permasalahan ekonomi kota yang berlangsung.

Bab V Menjelaskan mengenai Analisis Persoalan Ekonomi, analisis ini digunakan untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana dampak yang diakibatkan oleh persoalan ekonomi yang terjadi baik langsung maupun tidak langsung

Bab VI Menjelaskan mengenai Konsep Penanganan , konsep ini merupakan konsep yang dibuat untuk mencegah adanya dampak negatif maupun memepertahankan dampak negatif yang ditimbulkan dari permasalahan kota.

(9)

BAB II

REVIEW LITERATUR

4.1

Pengertian Lahan

Pengertian Lahan Purwowidodo (1983) mengungkapkan bahwa pengertian lahan adalah suatu lingkungan fisik yang mencakup iklim, relief tanah, hidrologi, dan tumbuhan yang sampai pada batas tertentu akan mempengaruhi kemampuan penggunaan lahan Sedangkan Penggunaan lahan (Land Use), menurut Vink (1975), merupakan bentuk campur tangan (intervensi) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik material maupun spiritual. Berdasarkan pendapat Manuwoto (1991) lahan dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) jenis penggunaan lahan secara umum, sebagai berikut : B. Penggunaan Lahan Non Pertanian

- Lahan perkotaan - Lahan pedesaan - Industri

- Rekreasi

- Pertambangan - Dsb.

(10)

1. Permanen, artinya lahan tidak dapat diubah-ubah maupun berubah-ubah yakni bersifat tetap dan tidak bisa diperbaharui. Maksudnya disini adalah lahan tidak dapat dipindahkan, diperbesar atau diperkecil sesuai kemauan manusianya.

2. Supply , arti kata supply adalah ketersediaan. Maksudnya adalah ketersediaan lahan yang ada di permukaan bumi ini begitu terbatas dan langka akibat dari ciri pertama.

3. Menjadi tumpuan harapan dari berbagai kepentingan para stakeholders. Artinya adalah lahan menjadi kebutuhan bagi para pengguna lahan atau yang memiliki lahan tersebut demi kelangsungan hidupnya.

4.2

Kebutuhan Lahan di Perkotaan

Kebutuhan Lahan di Perkotaan Kebutuhan akan lahan merupakan isu yang tidak akan pernah selesai dibahas sebabnya lahan merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Permukaan bumi ini hanya sekitar 25 % daratan yang dapat dihuni atau dimanfaatkan kegunaannya oleh manusia sebanyak 6 milyar jiwa diseluruh dunia, karena sisanya hanya lah permukaan samudra. Usaha – usaha untuk memaksimalkan penggunaan lahan terus dilakukan oleh manusia, fenomena ini terjadi dapat terjadi ketika terdapat ketersediaan lahan perkotaan. Ketersediaan lahan perkotaan yang di maksudkan adalah kesiapan lahan untuk digunakan dan/atau dioperasikan oleh manusia sebagai tempat berkativitas. Aktivitas penggunaan lahan dalam struktur ruang kota, menurut pemikiran Chapin dan Kaiser (1979. dalam Priandono,2001) terbagi menjadi 3 (tiga) sistem yang ada antara lain :

a. Sistem Kegiatan , manusia dan kelembagaannya untuk memenuhi kebutuhan yang berinteraksi dalam waktu dan ruang.

b. Sistem Pengembangan Lahan, yang berfokus untuk kebutuhan manusia dalam aktifitas kehidupan.

c. Sistem Lingkungan, berkaitan dengan kondisi biotik dan abiotik dengan air, udara dan material

(11)

reklamasi namun penggunaan cara ini masih menimbulkan banyak kontraversi di masyarakat khususnya pemerhati ekologi atau lingkungan.

4.3

Pola Guna Lahan

Pola guna lahan adalah susunan tata guna lahan dalam suatu ruang.

Diagram 4.3.1 Diagram pola penggunaan lahan

“Pola guna lahan menggambarkan suatu sistem aktivitas” chanin et al (1995 : 197-198)

Dimana terdapat hubungan dekat antara tanah dengan dengan kegiatan manusia, dan analisis penggunaan lahan dibutuhkan di daerah dimana perubahan yang diharapkan. Apabila manusia tidak memiliki keinginan untuk mengembangkan suatu daerah, maka tidak ada kebutuhan analisis penggunaan lahan ,Wang and Hofe (2007).

4.4

Hubungan Pola Guna Lahan dengan Ekonomi Kota

Penentuan pola guna lahan didasarkan pada prinsip optimalisasi untuk menciptakan pola perencanaan wilayah perkotaan secara baik dan efisien. Daya guna lahan dan biaya adalaha faktor yang sangat penting dalam kehidupan ekonomi, untuk itu diperlukan pengaturan tempat pendidikan, kawasan permukiman tempat rekreasi dan lain-lain. Sehingga dengan pengaruh aglomerasi suatu kota dapat meningkatkan pendapatannya.

Hubungan pola guna lahan dengan ekonomi perkotaan itu sendiri adalah untuk membuat pertumbuhan ekonomi di kota menjadi merata dengan adanya tata guna lahan yang mengatur peruntukan kawasan perumukiman, perdagangan dan jasa, kawasan industri dan lain-lain sesuai dengan lahannya. Sehingga apabila kawasan-kawasan tersebut dapat di tempatkan dengan tepat

aktivitas

(12)

maka akan meningkatkan dari ekonomi kota tersebut. Contohnya apabila kawasan industri ditempatkan atau di aglomerasikan sebagai kawasan industri maka keuntungan yang di dapat seperti aksesibilitas, dan pengurangan biaya transportasi akan diperoleh.

4.5

Nilai Lahan, Tanah dan Struktur Kota

Menurut Sujarto (1985), Nilai lahan adalah kemampuan lahan sehubungan dengan penggunaan dan pemanfaatannya. Sedangkan, menurut Drabkin (1977), Nilai lahan ialah penilaian lahan berdasarkan pada kemampuan lahan secara ekonomis dalam hubungannya dengan produktivitas dan strategis ekonomisnya. Nilai lahan atau Nilai Tanah ( land value ), ialah pengukuran yang didasarkan kepada kemampuan lahan secara ekonomis dalam hubungannya dengan produktivitas dan strategi ekonomis. Atau, dapat diartikan juga sebagai kualitas suatu lahan yang dilihat dari segi sumber daya alam yang berada diatasnya, kualitas dari tanahnya sendiri, serta aksestabilitasnya. Nilai lahan juga dapat dipengaruhi oleh tingkat ketersediaan dan tingkat kebutuhan. Bahkan, suatu nilai lahan juga dapat dipengaruhi dengan bentuk fisik dan karakteristik sumber daya alam yang ada diatasnya. Contohnya, apabila suatu lahan memiliki sumber daya minyak bumi, maka nilai lahan akan semakin meningkat.

Harga lahan didefinisikan sebagai penilaian atas lahan yang diukur berdasarkan harga nominal dalam satuan uang untuk satu satuan luas tertentu. Harga lahan sangat dipengaruhi oleh nilai lahan. Kaitan harga lahan dengan perekonomian kota adalah, meningkatnya PDRB suatu kota yang berasal dari pajak terhadap bangunan, dan apabila suatu lahan yang disesuaikan terhadap profit kegunaannya yang sesuai dengan struktur kota (CBD, Industrial, dan Perumahan) maka mobilitas perekonomian kota tersebut akan meningkat. Pihak pemerintah juga menggunakan prinsip land rent (sewa lahan) dan bid rent (kemampuan membayar sewa) dalam hal peningkatan kualitas ekonomi suatu perkotaan.

Land Rent (sewa lahan) didefinisikan sebagai kegiatan balas jasa terhadap penggunaan

(13)

Gambar 4.5.1 Teori Bid Rent William Alonso

Teori yang dikemukakan oleh Wiliam Alonso (1964) adalah keterkaitan antara prinsip land rent (sewa lahan) dan bid rent (kemampuan membayar sewa) yang menjelaskan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi suatu harga sewa lahan, yaitu jarak dalam hal aksestabilitas. Apabila suatu lahan memiliki jarak yang dekat dengan pusat aktivitas perekonomian (CBD) maka harga lahan akan semakin meningkat. Dan apabila jarak suatu lahan semakin menjauhi pusat kegiatan perekonomian (CBD) maka harga suatu lahan tersebut akan semakin menurun. Selain faktor jarak yang dikemukakan oleh Wiliam Alonso, terdapat juga berbagai jenis faktor yang mempengaruhi suatu harga lahan.

Berikut merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi suatu harga lahan, diantaranya: 1. jarak pencapaian (aksesibilitas) ke lahan tersebut dari tempat kerja

2. jarak terhadap pusat kota (CBD)

3. jarak terhadap pusat perbelanjaan lokal di kawasan tersebut 4. jarak terhadap terminal lalu lintas yang terdekat

5. jarak relatif terhadap aktivitas lain yang mendukung 6. kualitas lingkungan di sekitarnya

Selain harga lahan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, Nilai lahan pun juga demikian. Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi suatu nilai lahan:

 Atribut Fisik (Physical Attributes) suatu lahan berkaitan dengan kualitas lokasi; kenyamanan

(14)

jangkauan; serta pola penggunaan lahan, frontage, kedalaman, topografi, jalan-jalan, serta indeks-indeks pengukuran lainnya

 Hukum dari Pemerintah (Legal or Govermental Forces) yang meliputi jenis dan biaya pajak,

kebijakan zonasi dan pembangunan, serta kebijakan dan rencana.

 Faktor Sosial (Social Factors) yang berkaitan dengan pertumbuhan dan penurunan jumlah

penduduk, usia, sikap terhadap tata tertib dan hukum, perubahan tingkat kepala keluarga, dan tingkat pendidikan.

 Faktor Ekonomi (Economical Factors) yang berkaitan dengan tingkatan dan jumlah pendapatan, perkembangan pemanfaatan ketersediaan lahan dan lahan kosong.

Struktu Kota adalah susunan suatu kota yang terdiri atas lahan terbangun dan kawasan nonterbangun atau kawasan budidaya dan kawasan lindung. Dalam suatu kota terdapat struktur kota yang juga dapat mendukung mobilitas perekonomian suatu perkotaan diantaranya:

- Pusat wilayah perdagangan (CBD)

Pusat wilayah perdagangan (CBD) mempunyai nila tahah tertinggi dibanding wilayah lain. Wilayah tempat pusat kerja, perkotaan terletak disekeliling perbatasan pusat kota mempunyai nilai tanah tertinggi setelah CBD.

- Kawasan industri

Pusat-pusat pengelompokan industri dan perdagangan yang menyebar mempunyai nilai tanah tinggi dibanding dengan sekelilingnya, biasanya kawasan ini dikelilingi perumahan.

- Kawasan perumahan

Makin jauh keluar keliling kawasan tersebut diatas terdapat kawasan perumahan dengan nilai tahah makin jauh dari pusat kota makin berkurang.

(15)

Gambar 4.5.1 Teori Von Thunen

Diagram diatas menunjukkan bahwa harga sewa lahan berbanding terbalik dengan transport cost ( biaya transportasi dari lahan menuju lokasi pasar/pusat kegiatan ekonomi. Dalam hal ini kelompok kami berdasar pada teori sewa lahan ( land rent ) Von Thunen yang mengacu pada pro fit cost (keuntungan) dari suatu lahan terhadap jarak. Dikarenakan, apabila suatu lahan dekat dengan pasar/pusat aktivitas perekonomian maka tingkat profit dari suatu lahan akan meningkat karena hampir tidak dipengaruhi oleh transport cost dan juga sebaliknya

4.6

Keseimbangan Penggunaan Lahan

Dalam analisis ilmu ekonomi, keseimbangan penggunaan lahan akan terjadi pada saat kondisi equilibrium yaitu suatu kondisi dimana ada keseimbangan pada penggunaan lahan untuk berbagai kegiatan baik ekonomi maupun sosial yang umumnya terdapat di daerah perkotaan sesuai dengan permintaan dan penawaran terhadap lahan perkotaan. Kegiatan-kegiatan perkotaan yang merupakan fungsi lahan tersebut, berdasarkan pendapat Yates dan Garner (dalam Ina, 2001) terbagi menjadi 6 (enam) fungsi lahan dengan jenis kegiatan yang berbeda sebagai berikut :

1. Digunakan sebagai pemukiman. 2. Digunakan sebagai kegiatan industri. 3. Berfungsi sebagai kegiatan komersial. 4. Digunakan untuk jaringan jalan.

(16)

Gambar 4.5.1 Teori Von Thunen

Keseimbangan penggunaan lahan juga dapat di analisis melalui teori Von Thunen untuk penetuan lokasi optimal kegiatan secara deduktif dengan struktur ruang yang bersifat “ MonoConcentric Zone” (wilayah dengan satu pusat). Masing-masing wilayah didefinisikan sebagai wilayah spesialisasi suatu kegiatan masyarakat yang lokasinya ditentukan berdasarkan jarak dari pusat kota (Central Bisnis District, CBD). Secara teoritis penentuan lokasi optimal dilakukan pada kegiatan pertanian, dalam bentuk lingkaran yang dikenal sebagai “cincin Von Thunen “ (Von Thunen Ring). Sedangkan variabel utama yang menentukan lokasi optimal kegiatan pertanian tersebut adalah perbandingan nilai bid - rent (kemampuan membayar sewa tanah) dengan sewa tanah yang diminta oleh pemilik lahan yang lazim disebut dengan Land - rent .

(17)

sebagai lahan perdagangan dan jasa. Jenis penggunaan lahan ini cenderung lebih menguntungkan daripada hanya sekedar di gunakan sebagai permukiman, melihat harga sewa lahan yang mahal pula

4.7

Dampak Pembangunan Jaringan Jalan Terhadap Ekonomi

Ekonomi adalah usaha-usaha mempertahankan dan memacu perkembangan dan pertumbuhan ekonomi yang memadai untuk mempertahankan kesenambungan dan perbaikan kondisi-kondisi ekonomis yang baik bagi kehidupan dan memungkinkan pertumbuhan ke arah yang lebih baik (Mulyanto, 2008;2). Dalam konteks ekonomi, berdasarkan cakupan atau lingkupnya, dampak pembangunan dapat dibedakan menjadai dampak secara makro dan mikro. Dampak pembangunan terhadap ekonomi secara makro dirasakan dalam jangka waktu panjang melalui indikator-indikator seperti PDRB, tingkat pengangguran, serta indeks harga yang menunjukkan performa ekonomi suatu wilayah. Sedangkan dampak terhadap ekonomi mikro dirasakan secara langsung oleh penduduk khususnya yang beraktivitas di sekitar lokasi pembangunan jalan.

Pembangunan jaringan jalan baru merupakan salah satu kontributor utama dalam pembangunan wilayah serta perkembangan ekonomi. Beberapa pihak menyatakan bahwa pembangunan jaringan jalan baru mampu memperluas batas dari pasar tenaga kerja yang dapat berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan akibat dari meluasnya kesempatan konsumen dan produsen untuk berinteraksi (Leck, et. al, 2008).

Weisbrod (1997) menyatakan bahwa dampak pembangunan jaringan jalan baru terhadap ekonomi dapat dilihat dari dua hal yaitu dampak langsung dan dampak tidak langsung. Hal ini sejalan dengan pendapat Cervero (2007) yang membedakan dampak pembangunan jalan ke dalam dampak langsung dan tak langsung berdasarkan waktu, cakupan wilayah, probabilitas, dan kausalitas. Jika Cervero lebih menekankan pada dampak pembangunan jalan secara umum, Weisbrod lebih detail menjelaskan dampak langsung dan tak langsung dari pembangunan jalan terhadap ekonomi

Dampak Langsung, terdiri atas:

 Investasi dan pembangunan, yaitu dampak terhadap perubahan aktivitas ekonomi seperti

munculnya aktivitas bisnis baru karena adanya perubahan aliran penghasilan ke bisnis lokal sebagai akibat dari pembangunan jalan baru tersebut.

 Perubahan biaya (cost shift), yaitu dampak terhadap perubahan biaya hidup serta biaya

operasional usaha pada kawasan tertentu

(18)

Dampak Tak Langsung, terdiri atas :

 Dampak tak langsung akibat tumbuhnya bisnis baru, misalnya meningkatnya tingkat penjualan

dari supllier untuk bisnis di sekitar kawasan yang terdampak. Menurut Kanaroglou (1998) salah satu bisnis yang terpengaruh akibat adanya pembangunan jalan raya ialah bisnis yang tergantung pada keberadaan jalan raya (highway dependent). Bisnis highway dependent merupakan aktivitas ekonomi yang muncul karena adanya aktivitas transportasi yang bertujuan sebagai penunjuang aktivitas transportasi. Bisnis-bisnis yang mudah terstimulasi akibat adanya pembangunan jalan raya ini diantaranya ialah hotel, motel, pengisian bahan bakar, restoran, serta berbagai macam aktivitas retail.

 Dampak ikutan akibat adanya usaha yang muncul berupa pengeluaran untuk makanan, pakaian,

tempat tinggal, serta barang dan jasa lainnya sebagai akibat dari perubahan jumlah penduduk maupun pekerja di sekitar bisnis yang berlokasi pada kawasan yang terkena dampak pembangunan jalan. Dua dampak pertama ini merupakan rangkaian proses multiplier effect yang timbul akibat adanya bisnis baru yang berkembang di kawasan yang terkena dampak pembangunan jalan.

 Dampak perekonomian dinamis, maksudnya ialah dampak jangka panjang yang lebih luas sebagai

akibat dari semakin meningkatnya jumlah penduduk serta aktivita bisnis yang meningkat.

Berdasarkan penelitian Rives dan Heaney (1995), perkembangan ekonomi dapat diukur dari beberapa variabel yaitu variabel penghasilan (income), tenaga kerja, jumlah penduduk, serta kesejahteraan penduduk

Menurut Nasution (2008;4-5), transportasi menentukan biaya dan memperbesar kuantitas keanekaragaman barang, sehingga terbuka kemungkinan adanya perbaikan dalam perumahan, sandang dan pangan, serta rekreasi. Manfaat ekonomi dari kegiatan transportasi dapat disebutkan, yaitu

(1) memperluas pasar (daerah pemasaran) yang berdampak pada peningkatan pendapatan dan keuntungan bagi produsen

(2) mengurangi perbedaan harga antar daerah menjadi sekecil mungkin, sehingga barang-barang menjadi stabil,

(19)

BAB III

IDENTIFIKASI PERSOALAN EKONOMI KOTA

Menurut Purwowidodo (1983), Lahan ialah suatu lingkungan fisik yang mencakup iklim, relief tanah, hidrologi, dan tumbuhan yang sampai pada batas tertentu akan mempengaruhi kemampuan penggunaan lahan. Sementara Land Use menurut Vink (1975) ialah, Bentuk campur tangan (intervensi) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik material maupun spiritual. Sementara nilai lahan yaitu pengukuran nilai lahan yang didasarkan kepada kemampuan lahan secara ekonomis dalam hubungannya dengan produktivitas dan strategi ekonomis. Dan adapun pengertian harga lahan yaitu, penilaian atas lahan yang diukur berdasarkan harga nominal dalam satuan uang untuk satu satuan luas tertentu.

Lahan merupakan hal penting bagi kehidupan manusia. Diatas lahan manusia mencari nafkah. Diatas lahan pula manusia membangun rumah sebagai tempat bernaung dan membangun berbagai bangunan lainnya untuk perkantoran dan sebagainya. lahan juga mengandung berbagai macam kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan manusia. Secara hakiki, makna dan posisi strategis lahan dalam kehidupan masyarakat Indonesia, tidak saja mengandung aspek fisik, tetapi juga aspek sosial, ekonomi, budaya, politik, pertahanan keamanan dan aspek hukum. Lahan bagi masyarakat memiliki makna multidimensional. Dari sisi ekonomi, lahan merupakan sarana produksi yang dapat mendatangkan kesejahteraan. Secara politis lahan dapat menentukan posisi seseorang dalam pengambilan keputusan masyarakat dan sebagai budaya yang dapat menentukan tinggi rendahnya status sosial pemiliknya. Aspek tersebut merupakan isu sentral yang terkait sebagai satu kesatuan yang terintegrasi dalam pengambilan proses kebijakan hukum pertanahan yang dilakukan pemerintah.

Kebutuhan dan harga lahan di perkotaan semakin meningkat setiap harinya. Hal tersebut ditenggarai oleh pertumbuhan penduduk yang terus meningkat sehingga kebutuhan lahan meningkat dan menyebabkan ketersediaan lahan perkotaan menjadi terbatas. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah agar dapat menyediakan lahan untuk kebutuhan masyarakat.

(20)
(21)

BAB IV

GAMBARAN UMUM PERSOALAN EKONOMI KOTA

Kota Salatiga merupakan salah satu kota yang berada dalam hinterland Kota Semarang yang berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Semarang. Dalam konteks regional Jawa Tengah, Salatiga terletak diantara Kota Semarang dan Surakarta yang dilalui oleh jalan arteri dengan kepadatan lalu-lintas yang tinggi. Posisi tersebut membuat perkembangan Kota Salatiga cukup pesat, baik dari segi aktivitas ekonomi maupun perkembangan fisik kota. Hal tersebut kemudian menimbulkan potensi dampak berupa kemacetan lalu-lintas dan polusi. Untuk mengantisipasi permasalahan yang mungkin timbul serta meningkatkan pelayanan bagi pengguna jalan, mendukung peningkatan pemekaran atau pengembangan wilayah, menambah sistem jaringan jalan nasional, meningkatkan kelancaran lalu-lintas, barang dan jasa serta dan guna mendukung peningkatan laju pertumbuhan ekonomi maka dibangunlah Jalan Lingkar Salatiga (JLS).

(22)

Gambar 3.1.1 Peta Administrasi Kota Salatiga

(23)

BAB V

ANALISIS PERSOALAN EKONOMI KOTA

5.1

Analisis Korelasi Harga Lahan

Sejak dibangunnya JLS harga lahan disekitar kawasan tersebut meningkat pesat. Harga NJOP yang telah ditetapkan oleh pemerintah berkisar antara Rp 20.000 – Rp 537.000 per meter, namun nyatanya harga lahan di kawasan tersebut naik 762% dengan harga lahan mencapai kisaran Rp 200.000 – Rp 2.000.000 per meternya. Harga lahan yang paling tinggi terletak pada tempat-tempat dengan intensitas kegiatan yang tinggi seperti pada pertemuan antara JLS dengan jalan arteri, persimpangan dengan jalan kolektor, serta lokasi pada topografi rata. Analisis harga lahan ini dilakukan dengan pembagian lahan kedalam beberapa zona lahan yang didasarkan pada range harga lahan yang ditawarkan oleh pemilik tanah di kawasan tersebut seperti dilihat dari data tabel dibawah ini.

Tabel 5.1.1 Klasifikasi Harga Lahan di sekitar Kawasan Jalan Lingkar Salatiga (JLS)

(24)

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi harga lahan di kawasan JLS. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan analisa korelasi, ditemukan 8 (delapan) variabel yang terbukti secara signifikan mempengaruhi harga lahan variabel tersebut secara urut tingkatan pengaruhnya antara lain :

1. Faktor jarak : jarak lahan-lahan terhadap JLS dimana semakin dekat dengan JLS harga lahan semakin tinggi. Karena pada kondisi eksistingnya disebabkan semakin dekat jarak suatu lokasi terhadap JLS maka aksesibilitasnya akan semakin meningkat, semakin mudah orang-orang untuk melakukan usaha sehingga nilai lahannya menjadi lebih tinggi akibatnya harga lahan juga menjadi lebih tinggi.

2. Faktor elevasi : artinya tinggi rendahnya lahan dari permukaan jalan akan mempengaruhi harga lahan. Harga lahan akan lebih tinggi apabila tidak terletak terlalu tinggi dari permukaan jalan. Dalam pembahasan ini disebabkan oleh dimana faktanya saat ini lokasi yang terletak lebih tinggi dari permukaan jalan akan lebih sulit diolah atau dikembangkan sehingga nilainya pun tidak meningkat signifikan, begitu pula pada harga lahannya.

3. Faktor jarak dengan pusat kegiatan : Terdapat 3 (tiga) tempat yang terindikasikan sebagai pusat kegiatan yaitu persimpangan JLS dengan jalan arteri Soekarno-Hatta di kelurahan Cebongan, ruas JLS antara perempatan jalan Imam Bonjol sampai dengan perempatan Pulutan di perbatasan antar Kelurahan Kecandran dengan Kelurahan Pulutan dan pusat kegiatan ketiga adalah persimpangan JLS dengan jalan arteri Fatmawati di kelurahan Blotongan. Beberapa lahan yang berada di dekat kawasan tersebut cenderung memiliki harga lahan yang lebih tingga ketimbang lahan yang berjarak cukup jauh dengan pusat kegiatan.

4. Faktor zonasi : Faktor ini ditentukan langsung oleh pemerintah, dimana ketetapan pemerintah terkait dengan tata ruang juga mempengaruhi harga lahan di sepanjang jalan lingkar. Karena apabila zonasi lahan yang ditentukan adalah kawasan lindung maka harga lahan dikawasan tersebut cenderung rendah. 5. Faktor waktu tempuh : secara umum di sepanjang jalan lingkar tersebut rata-rata waktu tempuh ke pusat kota adalah 6-12 menit. Semakin singkat waktu tempuh yang dibutuhkan untuk kepusat kota maka semakin tinggi harga lahannya.

6. Faktor topografi : topografi yang rata dan landai cenderung memiliki harga lahan yang lebih tinggi karena mudah aksesnya serta membangunnya tidak membutuhkan biaya yang lebih.

7. Faktor luas lahan : semakin luas lahan dan bangunan maka semakin besar pula nilai jualnya. Namun dalam konteks lahan untuk bangunan per meter persegi, harga lahan rumah berkurang sejalan dengan peningkatan luas lahan, semakin luas ukuran lahan rumah, harga lahan per meter persegi semakin kecil (Wolverton, 1997).

(25)

Berdasarkan hasil penelitian (Hazmi,2015) yang meneliti perubahan aspek sosial ekonomi yang terjadi pada daerah sekitar JLS menggunakan masyarakat yang bertempat tinggal dikawasan tersebut sebagai responden dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner. Pada salah satu pertanyaan kuesioner tersebut terdapat pertanyaan terhadap harga lahan sebagi berikut :

1. Berapa harga tanah yang berada disekitar JLS sebelum jalan lingkar ini dibangun ? a. Rp 1.000.000 – Rp 2.000.000

b. Rp500.000 – Rp1.000.000 c. Rp 150.000 – Rp 500.000 d. Rp 80.000 – Rp 150.000

2. Berapa haraga tanah yang berada disekitar JLS setelah jalan lingkar ini dibangun ? a. Rp 1.000.000 – Rp 2.000.000

b. Rp500.000 – Rp1.000.000 c. Rp 150.000 – Rp 500.000 d. Rp 80.000 – Rp 150.000

Dari 100 responden yang menjawab pada penelitian tersebut diambil sampling 10 responden yang telah dianggap dapat merepresentasikan hasil dari penelitian ini mengenai perubahan harga lahan dimana hasilnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini .

Responden Harga Lahan Sebelum

(1998-Tabel 5.1.1 Hasil kuesioner perubahan harga lahan di sekiar JLS

(26)

pertumbuhan harga lahan sebelum dan sesudah tersebut dapat dikorelasikan antara kondisi eksisting dengan sebelum di bangunnya JLS. Dimana harga lahan meningkat signifikan setelah dibangunnya JLS. Selain itu pada penelitian ini variabel atau faktor yang dianggap paling berpengaruh adalah variabel aksesibilitas dimana faktor ini mempengaruhi salah satunya nilai lahan. Pembangunan maupun perbaikan sarana transportasi di suatu wilayah mengakibatkan aksesibilitas yang baik pula. Aksesibilitas akan mempengaruhi nilai lahan atau harga lahan di sekitar wilayah yang dekat dengan jalan. Berbagai aktivitas seperti bekerja, sekolah, belanja dan sebagainya yang berlangsung di atas sebidang tanah merupakan tata guna lahan.

5.2

Analisis Korelasi Penggunaan Lahan

Intensitas perubahan penggunaan lahan di sekitar kawasan JLS termasuk tinggi yaitu dari peruntukan lahan pertanian non terbangun menjadi lahan non pertanian terbangun. Menurut RTRW Kota Salatiga tahun 2010-2031 lahan diwilayah sekitar JLS merupakan kawasan tanaman pangan lahan basah dan lahan kering dengan fungsi utama pertanian pangan holtikultura dengan fungsi utama pertanian tanaman tahunan dan musiman. Sedangkan berdasarkan data dari BAPPEDA Salatiga tahun 2011 lahan pertanian di kawasan tersebut berkurang, pada tahun 2005 ada 2.545 Ha lahan pertanian namun pada tahun 2010 lahan pertanian hanya tinggal 1.950 Ha. Dengan adanya JLS, penggunaan lahan disekitarnya akan berubah fungsinya atau berubah penggunaan lahannya, disebut konversi lahan.

Konversi lahan ini terjadi karena masyarakat akan cenderung mengubah penggunaan lahan tersebut untuk meningkatkan perekonomian mereka. Yang artinya penggunaan lahan non pertanian lebih menguntungkan secara ekonomi dari pada non pertanian. Sehingga konversi lahan ini semakin banyak terjadi khususnya pada wilayah lahan yang berdekatan dengan JLS secara langsung. Semakin jauh dari JLS konversi lahan menurun. Tingkatan konversi lahan baik penurunan maupun kenaikan dipengaruhi oleh 2 (dua) faktor utama berdasarkan hasil analisa korelasi, sebagai berikut:

1. Faktor aksesibilitas : Perubahan penggunaan lahan paling banyak terjadi pada jarak yang sangat dekat dengan jalan lingkar. Uji statistik menunjukkan hubungan yang sangat tinggi antara jumlah perubahan penggunaan lahan yang terjadi dengan jarak lahan terhadap JLS. Jarak yang ada mempengaruhi aksesibilitas lahan terhadap JLS yang tentunya semakin tinggi aksesibilitasnya maka konversi lahan semakin banyak terjadi. Karena keuntungan untuk mendapatkan akses ke pusat kegiatan atau akses kebutuhan sehari-hari semakin dekat. Sehingga penduduk cenderung membangun lahan mereka untuk hal produktif yang mampu meningkatkan perekonomian mereka.

(27)

penggunaan ke usaha jasa terjadi hampir disemua tingkatan harga lahan. Namun ada kenderungan bahwa pada harga yang berkisar dari Rp 560.000 ke atas perubahan ke usaha dan jasa lebih potensial terjadi. Untuk rumah, kantor, tegalan dan lain-lain, cenderung terjadi pada lahan dengan harga sangat rendah ke rendah dengan kisaran harga Rp 200.000 hingga Rp 920.000 per meternya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.2.1 dibawah ini.

Tabel 5.2.1 Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Lahan

(28)

Gambar 5.1.2 Siklus tata guna lahan trasportasi (Adismita, 2011;67 dalam Hazmi,2015)

Konsep yang mendasari hubungan nilai lahan, tata guna lahan, dan transportasi adalah aksesibilitas. Dalam konteks yang paling luas, aksesibilitas berarti kemudahan melakukan pergerakan di antara dua tempat. Asesibilitas meningkat-dari dari sisi waktu atau uang-ketika pergerakan menjadi lebih lancar dan murah. Selain itu kecenderungan untuk berinteraksi juga akan meningkat apabila biaya pergerakan menurun (Adisasmita, 2011;70). Potensi tata guna lahan adalah satu ukuran dari skala aktivitas sosial ekonomi yang terjadi pada suatu lahan tertentu. Aktivitas pada suatu lahan akan cenderung menigkat beriringan dengan meningkatnya aksesibilitas serta nilai lahannya yang meningkat pula.

5.3

Keterkaitan antara Harga Lahan dan Penggunaan Lahan

(29)

Tabel 5.3.1 Jenis Penggunaan Lahan dengan Harga Lahan

Tabel 5.3.2 Jenis Penggunaan Lahan dengan Harga Lahan

(30)

Tabel 5.3.3 Perkembangan Lahan Terbangun dan Luas Lahan Terbangun disekitar JLS

5.4

Dampak Pembangunan JLS terhadap Ekonomi Kota

5.4.1

Dampak Positif

Dalam kasus ini, pembangunan jalan berpengaruh terhadap perubahan karakteristik sosial ekonomi penduduk yang semula memiliki karakteristik kehidupan pedesaan dengan aktivitas utama di bidang pertanian kemudian setelah adanya pembangunan jalan berubah menjadi kawasan dengan aktivitas perdagangan dan jasa, karena semakin meningkatnya aksesibilitas masyarakat sehingga dapat melakukan perpindahan barang maupun jasa dengan lebih mudah dan lebih menguntungkan. Hal ini menunjukkan kecenderungan bahwa pembangunan jalan berdampak positif terhadap peningkatan produktivitas kegiatan ekonomi masyarakat sekitar. Sebagai contoh terjadi peningkatan produktivitas ini terjadi pada kegiatan pertanian. Pada kasus ini petani memperoleh kemudahan dalam distribusi hasil pertanian. Selain itu, pembangunan jalan baru juga berpengaruh terhadap terbukanya akses menuju lahan-lahan yang kurang produktif. Dalam hal ini, karakteristik lahan dan jenis komoditas pertanian menentukan peningkatan produktivitas lahan yang berpengaruh terhadap pemanfaatan lahan. Namun kecendurang ini dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya kepemilikan lahan sehingga peningkatkan produktivitas pertanian ini cenderung merupakan lahan

PDRB Kota

Meningkat

Kegiatan

Ekonomi

Lancar

Aksesibiltas

(31)

pertanian yang memang memiliki tingkat atau nilai tinggi komoditasnya seperti salak yang masih dipertahankan hingga kini, namun sayangnya lahan pertanian yang dinilai kurang menguntungkan hasil komiditasnya cenderung memilih menjual lahan pertaniannya apalagi pembangunan JLS ini sebenarnya dapat mengurangi lahan produktif karena lokasi yang semakin tergeser kearah pinggir dan luar.

Berdasarkan pemaparan diatas dampak postif yang dirasakan adalah adanya perkembangan kegiatan yang berubah dari pertanian menjadi perdagangan dan jasa dimana dianggap menjadi lebih menguntungkan oleh warga yang memilihan lahan pertanian yang sempit dan komoditas hasil taninya bernilai rendah. Selain itu, bagi petani yang memiliki luas lahan pertanian luas dan komoditas hasilnya bernilai tinggi maka keberadaan JLS akan semakin mempermudah mereka untuk memasarkan hasil pertanian dimana proses distribusi barang mengeluarkan biaya yang tidak cukup banyak seperti biasanya. Hal ini berdampak langsung terhadap perekonomian Kota Salatiga dimana pendapatan kota meningkat berdasarkan PDRB Kota Salatiga sebagai berikut

Tabel 5.4.1 PDRB Kota Salatiga

(32)

Selain pada contoh pertanian, JLS juga memicu adanya kegiatan-kegiatan perdagangan dan jasa yang baru. Dimana kegiatan baru ini diharapkan dapat meningkatkan luasan lapangan kerja bagi penduduk sekitar. Hal ini telah terbuktikan dengan adanya penelitian yang mewawancarai Camat Sidorejo, Sidomukti, dan Argomulyo. Para Camat ini menyatakan bahwa keadaan ekonomi masyarakat yang berada di sekitar JLS mengalami peningkatan. Beberapa warga yang tinggal di sekitar JLS mendirikan berbagai tempat usaha seperti bengkel, warung klontong, jasa pijat, toko bangunan, dll. Selain warga asli, juga terdapat warga luar/investor untuk mendirikan usaha seperti Hotel, restoran, membangun beberapa industri. Semakin meningkatnya berbagai macam jenis kegiatan ekonomi inilah yang memicu peningkatan perekonomian Kota Salatiga.

5.4.2

Dampak Negatif

Harga Lahan Tidak Dapat Dikendalikan

Daya tarik dari JLS mengakibatkan kecenderungan terjadinya perubahan pola ruang disekitarnya. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan harga lahan yang tinggi pada tempat-tempat tertentu seperti di wilayah kelurahan Kecandran, Pulutan dan Blotongan. Peristiwa ini memicu terciptanya pusat kegiatan baru ( urban sprawl ) yang diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk yang pesat. Tingkat pertumbuhan lahan terbangun pada kawasan tersebut yang cukup signifikan sehingga perlu diantisipasi terutama dalam hal penyediaan fasilitas dan prasarana yang memadai di samping legalitas kebijakan penataan ruang yang telah ada. Dalam Rencana Tata Ruang Kota Salatiga sudah diatur secara jelas zonasi peruntukan lahan di sekitar JLS. Meskipun begitu perkembangan harga pasar lahan yang terjadi tetap tidak bisa dikontrol dengan peraturan yang ada, baik dalam hal penetapan harga NJOP maupaun harga dasar tanah (HDT). Daripada itu, dampak negatifnya berupa tercipatanya kesulitan pemerintah untuk mempertahankan lahan pertanian dan melakukan pembebasan lahan demi meningkatkan sarana dan prasarana yang ada dikawasan tersebut dikarenakan harga lahan yang ditawarkan oleh masyarakat cukup tinggi berkali-kali lipat dari NJOP yang telah ditentukan oleh pemerintah sehingga muncul proses negosiasi yang dalam kurun waktu yang tidak sebentar untuk mendapatkan titik temu dari perjanjian tersebut

(33)

prasarana kota seperti taman kota juga akan mengalami kesulitan dimana proses pembebasan lahan akan berlangsung lama dikarenakan harga lahan yang ada begitu mahal dan tidak sesuai dengan prediksi pemerintah sebelumnya. Selain itu hal yang paling dapat diprediksikan bahwa akan ada kecenderungan penduduk untuk bertempat tinggal didaerah dengan harga lahan yang murah sehingga ditakutkan muncul kawasan permukiman kumuh bagian daerah paling luar dari kawasan JLS, karena harga lahan yang meningkat tak terkendali. Apabila terdapat kawasan kumuh maka juga akan berpengaruh terhadap perekonomian kota dimana akan menghasilkan nilai yang tidak cukup baik. Kawasan kumuh akan menurunkan perekonomian kota karena kondisi lingkungannya yang tidak kondusif dan sesuai dengan kriteria tempat tinggal yang baik.

Resiko Kecelakaan Lalu Lintas dan Banjir

Selain itu keberadaan JLS juga cenderung akan meningkatkan resiko kecelakaan dan menigkatkan polusi udara disekitar kawasan JLS. Maka dampak negatif ini berpengaruh terhadap perekonomian kota karena secara tidak langsung akan mengurangi produktivas masyarakat dimana polusi udara akan berperan besar mengurangi kesehatan warga sekitar sehingga akan menimbulkan penyakit dan produktivitas mereka menurun akibat daya tahan tubuh yang rendah. Sehingga kegiatan ekonomipun menurun. Resiko terjadi banjir juga telah dirasakan oleh masyarakat sekitar JLS dimana sebagai contoh di Perumahan Salatiga Permai yang sebelumnya tidak pernah mengalami banjir saat ini ketika musim penghujan tiba, banjirpun terjadi. Peristiwa ini dipicu oleh perubahan penggunaan lahan yang aslinya berupa lahan pertanian yang dapat menyerap lebih banyak air hujan ketimbang jalan beraspal yang digunakan sebagai penyusun JLS. Kondisi banjir ini juga mengakibatkan terhambatnya beberapa kegiatan ekonomi karena akses untuk distribusi barang dan jasa terganggu. Dengan adanya fenomena ini dapat diketahui bahwa JLS dapat membawa dampak negatif terhadap lingkungan sekitarnya, meskipun awalnya diciptakan untuk membantu masyarakat sekitar.

5.4.3

Dampak yang Diperoleh dengan Analisis SWOT

Analisis ini terdiri atas Strength, Weakness, Oportunities, dan Threats:

 Strength

 Adanya Kemudahan akses akibat dari pembangunan jalan alternatif.

 Lebih mudah melakuakan perjalanan jauh menggunakan kendaraan pribadi.

 Memberikan aksestabilitas terhadap lokasi perjas dengan produsen dan konsumen

(34)

 Sering terjadinya kemacetan akibat dari semakin besarnya volume kendaraan yang lewat

namun kurang didugung oleh kapasitas jalannnya.

 Terjadinya kecelakaan akibat jalan alternatif tergolong mudah diakses oleh banyak

kendaraan namun volume jalan tidak mencukupi.

 Membawa pengendara melewati Kota Salatiga tanpa melintas di pusat kotanya.

 Oportunities

 Lahan-lahan pertanian disekitar jalan lingkar salatiga memperoleh memperoleh

kemudahan melakukan distribusi akibat dekat dengan lokasi aksestabilitas.

 Semakin banyak perjas yang terbangun di lokasi jalan lingkar salatiga akibat dari ramainya

pengendara yang lalu-lalang dan berpandangan akan mendapatkan keuntungan.

 Meningkatnya PDRB Kota Salatiga.

 Threats

 Terjadinya bencana yang dapat mengakibatkan kerusakan terhadap badan jalan

 Terjadinya kemacetan besar-besaran akibat dari banyaknya kendaraan yang perkir di lokasi

perjas yang berada di pinggir jalan.

 Terjadinya peningkatan harga lahan disekitar jalan lingkar salatiga akibat

(35)

BAB VI

KONSEP PENANGANAN PERSOALAN EKONOMI KOTA

6.1

Konsep Penanganan di Indonesia

5.4.4

Program

Insentif

dan

Disentif

dari

Pemerintah

Indonesia.

Salah satu faktor pengendalian perubahan pemanfaatan lahan pertanian tanaman pangan di Kota Salatiga adalah dengan mempertahankan potensi hasil pertanian tanaman yaitu dengan melakukan pemberian insentif kepada petani yang tetap mempertahankan lahannya sebagai lahna pertanian tanaman pangan.

Penerapan mekanisme insentif yang diberikan mulai dari pemerintah pusat hingga ke masyarakat (petani tanaman pangan). Dalam hal ini, masyarakat petani tanaman pangan merupakan petani yang masih mempertahankan lahan pertaniannya :

1. Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah, diantaranya dalam bentuk :

 Penghargaan kepada pemerintah yang serius dalam mengendalikan perubahan

pemanfaatan lahan pertanian tanaman pangan

 Penambahan dana alokasi khusus

 Penyediaan sarana dan prasarana di daerah tersebut.

2. Pemerintah Daerah ke Mayarakat (Petani Tanaman Pangan)

 Kompensasi imbalan bagi petani yang tetap mempertahankan lahan pertanian tanaman

pangan

 Kemudahan kredit untuk usaha tani

 Penyuluhan pertanian, terutama tentang akibat perubahan pemanfaatan lahan pertanian

bagi ketahanan pangan nasional.

(36)

1. Penerapan denda administratif

2. Pemulihan fungsi lahan pertanian tanaman pangan melalui penggantian lahan yang dikonversi di tempat lain (dengan penghitungan luas dan produksi yang setara)

3. Mekanisme disinsentif, antara lain pengenaan retribusi terhadap lahan yang telah dialih fungsikan, yang dananya digunakan untuk insentif terhadap petani pemilik lahan pertanian tanaman pangan yang masih dipertahankan.

4. Mempersulit perizinan dengan memperketat persyaratan nya, seperti pelengkapan izin lokasi kegiatan, izin penggunaan pemanfaatan tanah, izin perubahan penggunaan tanah (IPPT) dan izin mendirikan bangunan.

Selain menggunakan program insentif dan distentatif dari pemerintah untuk mempertahankan lahan pertanian, cara seperti ini juga bisa digunakan untuk mempertahankan lahan-lahan yang penggunaannya harus disesuaikan dengan aturan rencana tata ruang wilayah Kota Salatiga. Dimana nantinya penggunaan lahan ini dapt digunakan untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana masyarakat yang meningkat dari sebelumnya sehingga diperlukan jumlah yang lebih. Misalnya dibutuhkan sarana kesehatan yang memadai kebutuhan, dimana resiko kecelakaan dikawasan tersebut menjadi lebih besar sehingga dibutuhkan lokasi penyelamatan darurat terdekat untuk mengantisipasi kecelakaan-kecelakaan tersebut.

6.2

Konsep Penangan di Luar Negeri

Konsep penangan yang dapat dilakukan ini berasal dari salah satu permasalahan yang terjadi di Sao, Paulo Brazil dimana kawasan permukiman di kota tersebut semakin tergeser keluar diakibatkan karena adanya perubahan penggunaan lahan yang meningkat pesat. Perubahan penggunaan lahan ini mengakibatkan harga lahan dikawasan tersebut tidak dapat dijangkau harganya oleh sebagian orang. Hal ini akan mempengaruhi pola kebutuhan sarana dan prasarana. Kebutuhan akan sarana dan prasana ini akan meningkat dan menggeser individu-individu yang tidak memiliki kemampuan untuk membayar harga lahan ke lokasi-lokasi pingiran terluar Kota. Namun perubahan ini mengakibatkan tercipatanya permukiman kumuh yang ada di bagian pinggiran kota tanpa adanya antisipasi dan kesadaran dari pemerintah setempat.

(37)
(38)

BAB VII

KESIMPULAN

7.1

Kesimpulan

Lahan merupakan sumber daya alam utama dalam menompang setiap aktivitas kehidupan manusia baik sebagai sumber daya yang dapat diolah maupun sebagai tempat tinggal terutama karena sifatnya yang permanen, tidak dapat dipindahkan serta unik. Pembangunan JLS di Kota Salatiga merupakan upaya untuk mengatasi masalah kemacetan di Kota tersebut, namun ternyata pembangunan sarana ini menimbulkan efek lainnya terhadap pola guna lahan dan nilai lahan. Dimana penggunaan lahan berubah dari lahan pertanian sebagian besar menjadi lahan non pertanian yang didominasi oleh perdagangan dan jasa serta permukiman. Selain itu nilai lahan di kawasan sekitar JLS juga meningkat dari sebelum dibangun JLS tersebut. Hal ini menyebabkan harga lahan yang ada berbeda tergantung tingkat aksesibiltas atau jarak suatu lokasi terhadap JLS yang menjadi faktor utama adanya perbedaan harga lahan tersebut.

Permasalahan ini menimbulkan dampak negatif maupun positif, yang perlu ditangani oleh pemerintah setempat untuk mengelola penataan ruang yang ada sehingga adanya JLS ini tidak merugikan masyarakat sekitar melainkan menambah dan mempermudah kegiatan ekonomi masyarakat sehingga perekonomian Kota Salatiga dapat meningkat pula.

7.2

Lesson Learned

 Suatu kegiatan pembangunan dapat mempengaruhi pola guna lahan dimana terjadi perubahan

penggunaan lahan dari yang seharusnya ada.

 Perubahan penggunaan lahan ini memicu adanya peningkatan maupun penurunan nilai suatu

lahan, dimana peningkatan nilai lahan akan meningkatkan pula harga lahan begitu juga sebaliknya. Perubahan ini menimbulkan beberapa permasalahan kota

 Perubahan yang terjadi disebabkan oleh beberapa faktor pemicu yang mempengaruhi nilai dari kegunaan dan harga suatu lahan.

 Perubahan penggunaan lahan dan perbedaan harga lahan yang terjadi pada suatu kawasan akan

(39)
(40)

DAFTAR PUSTAKA

Hazmi, A. (2015). PERUBAHAN SPASIAL AKIBAT PEMBANGUNAN JALAN LINGKAR SELATAN KOTA SALATIGA TAHUN 2006-2014 . Semarang: Univesitas Negeri Semarang.

Herianto, M. .. (2012). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga dan Penggunaan Lahan di Sekitar Jalan Lingkar Salatiga. Among Makarti, Vol 5 No.09.

JLS Akibatkan Perum Salatiga Permai Banjir. (2011, januari 04). Diambil kembali dari Matatajam:

http://bpbdjateng.info/banjir-dan-longsor/821-jls-akibatkan-perum-salatiga-permai-banjir.html

matatajam. (2016, maret 15). Kecelakaan Salatiga: Truk Vs Sepeda Motor di Perempatan JLS Salib Putih, Dua Pemotor Warga Getasan Tewas. Diambil kembali dari Matarajam.com: http://matatajam.com/2016/03/kecelakaan-salatiga-truk-vs-sepeda-motor-di-perempatan-jls-salib-putih-dua-pemotor-warga-getasan-tewas-2/

redaksi. (2006, Juni 15). Pemilik Tanah Tetap Minta Harga Lahan. Diambil kembali dari Suara Merdeka: http://www.suaramerdeka.com/harian/0606/15/kot27.htm

redaksi. (2008, Januari 20). Dari Redaksi: Proses Ganti Rugi JLSS Terhambat Bukti. Diambil kembali dari beriman-hati: http://beriman-hati.blogspot.co.id/2008/01/proses-ganti-rugi-jlss-terhambat-bukti.html

Rusdi, M. (2013). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga dan Penggunaan Lahan di Sekitar Jalan Lingkar Salatiga. Jurnal Pembangunan WIlayah dan Kota, Volume 9 (3) : 317-329.

Rusono, N. d. (2015). Evaluasi Implementasi Kebijakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Jakarta: Direktorat Pangan dan Pertanian.

(41)

Gambar

Gambar 4.5.1 Teori Bid Rent William Alonso
Gambar 4.5.1 Teori Von Thunen
Gambar 4.5.1 Teori Von Thunen
Gambar 3.1.1 Peta Administrasi Kota Salatiga
+7

Referensi

Dokumen terkait

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “ Pengaruh Konversi Lahan Pertanian Terhadap Tingkat Kesejahteraan

Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi penduduk terhadap profesi petani pasca alih fungsi lahan pertanian menjadi pertambangan batubara di Desa Ulak Pandan

Dari gambar peta tutupan lahan, dapat diketahui bahwa konversi lahan yang dulunya merupakan lahan pertanian menjadi lahan terbangun pada tahun 1994 ke tahun 2001 terjadi

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak pembangunan jalan ke Bandara Kuala Namo terhadap aksesibilitas penduduk, harga lahan, alih fungsi lahan di

Pemanfaatan potensi pertanian belum optimal dan pertambahan penduduk serta konversi lahan pada pengembangan kota/jalan raya untuk perumahan, maka perlu dilakukan analisis daya

Sedangkan variabel yang tidak berpengaruh nyata terhadap konversi lahan sawah irigasi teknis adalah laju pertumbuhan penduduk, harga Gabah Kering Panen (GKP), dan Nilai

Konversi lahan pertanian adalah suatu fenomena yang tidak dapat dihindari sebagai konsekuensi logis dari sebuah pembangunan. Tuntutan akan kebutuhan lahan dari sektor nonpertanian

Tindakan pengendalian pada jenis konversi penggunaan lahan sawah menjadi lahan terbangun di kawasan pertanian dengan status unregistered adalah meningkatkan