• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkuliahan Minggu ke VI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perkuliahan Minggu ke VI"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

JENIS PENELITIAN

BIDANG

KESEHATAN

Secara garis besar dapat digolongkan menjadi

:

A.Penelitian

Intervensional

B.Penelitian

Observasional

Disebut juga sebagai Intervention Study karena peneliti melakukan

(intervensi) terhadap subyek penelitiannya, yaitu

memberikan perlakuan yang

berbeda kepada tiap kelompok subyek selama

periode tertentu, kemudian mengamati hasil dengan

membandingkan kelompok subyek yang tidak diberi perlakuan (subyek kontrol)

Disebut juga dengan

Observation Study, di

mana peneliti

mengamati suatu

fenomena yang telah

atau sedang terjadi dalam suatu waktu tertentu, kemudian

menuliskan hasil apa adanya.

(3)

A. PENELITIAN INTERVENSI

Intervensi untuk mengubah pola perilaku/

aktifitas

UJI

KLINIS

(4)

Mengetahui Disebut juga

Uji Pra-beredar di masyarakat

(5)
(6)

PENELITIAN

INTERVENSI DILIHAT DARI

CARA MEMBANDINGKAN

KELOMPOK SUBYEK

Penelitian Intervensi Paralel, sering digunakan, yaitu dengan membandingkan

antara kelompok perlakuan dengan

kelompok kontrol

Penelitian Intervensi Silang (cross-over), yaitu menukarkan perlakuan yang diberikan pada kelompok perlakuan

(7)

DIAGRAM PENELITIAN INTERVENSI CROSS OVER

PENELITIAN

(8)

Penelitian yang menggunakan desain Cross-over atau menyilang, biasanya diterapkan pada penyakit kronik yang cukup stabil seperti hipertensi, asma atau hiperlipidemia.

Bila melakukan desain penelitian ini, peneliti harus memperhitungkan pengaruh obat yang diberikan dalam Tahap Pertama apakah sudah hilang atau belum, setelah hal itu dapat dipastikan, barulah kedua kelompok bertukar perlakuan.

Oleh karena itu, ada masa jeda antara Penelitian Tahap Pertama dan Tahap Kedua, yang disebut sebagai Wash-out Periode.

PERHATIAN…..!

Dalam melaksanakan Penelitian Intervensi adalah

mengupayakan agar semua variabel dalam kedua kelompok

(9)

agar pada hasil penilitian tidak

menimbulkan perbedaan efek.

Perbedaan efek hanya timbul akibat

perubahan variabel perlakuan.

Kesebandingan variabel

diperoleh dengan

tahapan :

1.

Mengumpulkan subyek yang sesuai

dengan kriteria pemilihan,

2.Melakukan randomisasi, sehingga

terbentuk dua kelompok, yaitu kelompok

perlakuan dan kelompok kontrol.

(10)

B. PENELITIAN OBSERVASIONAL

D

isebut juga dengan Observation Study, di mana

pe

neliti mengamati suatu

fenomena

yang

telah

atau

sedang terjadi

dalam suatu

waktu tertentu

,

kemudian menuliskan hasil apa adanya

?

.

3.Melakukan

Uji x2

(chi kuadrat) untuk variabel

(11)

a.Studi Cross-Sectional

b. Studi Kasus-kontrol

c. Studi Kohort

A.

STUDI

CROSS-SECTIONAL

Untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas (faktor resiko) dengan variabel tergantung (efek), dengan melakukan pengukuran terhadap tiap-tiap subyek sebanyak

(12)

Paling sering dilakukan dalam dunia kedokteran dan

kesehatan untuk mengetahui Rasio Prevalensi, yaitu perbandingan antara prevalensi suatu penyakit dengan faktor resiko yang mungkin menjadi penyebabnya

Oleh karena itu,

studi cross-sectional

disebut juga

studi prevalensi.

FAKTOR RESI KO

EFEK

YA TIDAK JUMLAH

YA a b a + b

TIDAK c d c + d

Jumlah

(13)

Dalam perkembangannya, bukan mustahil bila peneliti

ingin mengetahui pengaruh beberapa faktor resiko

secara bersamaan, atau dari data-data yang

dikumpulkan terdapat beberapa yang diduga sebagai

faktor perancu

(confounding factor)

, sedangkan hal ini

tidak dapat dihindarkan atau dihilangkan begitu saja.

Menghadapi peristiwa tersebut di atas, peneliti dapat

menempuh analisis multivariat dengan menggunakan

regresi multipel

dan

regresi logistik.

Desain penelitian

cross-sectional

juga

(14)

KELEBIHAN

KEKURANGAN

1. Relatif mudah, murah, hasilnya cepat diperoleh.

2. Dapat dipakai untuk meneliti banyak variabel sekaligus.

3. Memungkinkan

penggunaan populasi dari masyarakat umum, tidak hanya pasien saja, sehingga lebih general.

4. Jarang terancam loss to follow-up (drop-out).

5. Dapat dipakai sebagai dasar penelitian selanjutnya yang lebih konklusif

6. Dapat dipakai sebagai dasar penelitian selanjutnya yang lebih konklusif.

1. Sulit untuk menentukan

sebab dan akibat karena pengambilan data resiko dan data efek yang dilakukan bersamaan.

2. Membutuhkan jumlah

subyek yang banyak, terutama bila variabelnya banyak.

3. Studi prevalensi hanya menjaring subyek yang telah mengidap penyakit cukup lama.

4. Tidak menggambarkan perjalanan penyakit,

insidens maupun

(15)

5.Tidak praktis untuk meneliti kasus yang jarang terjadi. Untuk

mengurangi hal ini, dilakukan dengan mengambil sampel dari daerah endemik daripada populasi umum

6. Dapat terjadi bias prevalens atau

(16)

B.

STUDI KASUS KONTROL

Disebut juga Case comparison (compeer) Study, Case-referent Study, atau Retrospective study.

DISEBUT

KASUS –

KONTROL

identifikasi

terhadap penderita penyakit

tertentu/fenomena gangguan

kesehatan

tertentu, sebagai kasus

kelompok tanpa efek atau penyakit

(17)

untuk mengetahui berapa besar peranan faktor resiko dalam menimbulkan penyakit.

Contoh : Mengetahui hubungan perilaku pemakaian jarum suntik secara bergantian dengan penyakit HIV-AIDS pada pengguna narkoba.

Resiko relatif (RO, ratio odds) merupakan hal yang ingin diukur dalam penelitian kasus-kontrol studi. Pemodelannya

juga menggunakan tabel 2 x 2 seperti berikut :

FAKTOR

RESIKO KASUS KONTROL JUMLAH

YA a b a + b

TIDAK c d c + d

(18)

Apabila studi kasus-kontrol dilakukan dengan

matching individual, maka analisis dilakukan

dengan menjadikan

kasus dan

kontrol

sebagai

pasangan-pasangan. Pemodelannya

menjadi :

KASUS

KONTROL

RESIKO +

RESIKO

-RESIKO + a b

RESIKO - c d

RO =

b

(19)

Hasil Perhitungan

RO

dapat dipakai sebagai

indikator

adanya

kemungkinan sebab akibat

antara

faktor resiko

dan

efek.

RO dianggap mendekati resiko relatif bila :

Insidens penyakit

yang diteliti kecil,

tidak

lebih dari 20% dari populasi terpajan.

Kelompok

kontrol merupakan kelompok

representatif

dari

populasi,

dalam hal

peluang untuk terpajan faktor resiko

Kelompok

kasus

harus

representatif

Adapun kelebihan dan kekurangan

(20)

KELEBIHAN KEKURANGAN

3.Sukar untuk meyakinkan bahwa kedua kelompok yang diteliti sebanding dalam berbagai faktor eksternal karena baik

kelompok kasus maupun kontrol dipilih oleh

peneliti.

4.Tidak dapat memberikan incidence rate (rasio insidens)

(21)

C.

STUDI cohort/KOHORT

• Bila pada

studi kasus kontrol

dimulai dengan

mengidentifikasi efek (penyakit)

kemudian

menelusuri (retrospektif) apa faktor

resikonya

,

• Pada

studi kohort

dimulai dengan

mengidentifikasi kausa atau faktor resiko

,

kemudian

secara prospektif

selama periode

tertentu

diikuti

dengan

mencari

ada

atau

tidaknya efek (penyakit

).

Menggunakan studi kohort, peneliti akan dapat menentukan insidens efek atau penyakit yang timbul akibat pajanan faktor resiko. Oleh sebab

(22)

Penelitian Kohort dapat dikembangkan lagi rancangannya menjadi

a. Kohort retrospektif atau kohort historik

b. Kohort berganda (Double Cohort Study)

c. Nested case-control study

a.Kohort retrospektif atau kohort historik

studi kohort prospektif, hanya faktor resiko dan efek telah terjadi pada

waktu lampau.

B. KOHORT BERGANDA (Double Cohort Study)

DATA BERASAL DARI : MEDICAL

RECORD ATAU DATA SEKUNDER LAINNYA

Disebut juga studi kohort dengan pembanding

(23)

Peneliti mengamati kelompok subyek dari populasi yang berbeda, yaitu kelompok dengan faktor resiko DAN kelompok lain tanpa faktor resiko

B

PROSPEKTIF RETROSPEKTIF

C. NESTED CASE –CONTROL STUDY.

Sebenarnya penelitian ini adalah penelitian kasus-kontrol atas data-data dari penelitian kohort yang telah dilakukan.

(24)

Karena ketika melakukan penelitian dengan menggunakan

desain kohort, diperoleh dugaan adanya variabel tententu

sebagai faktor resiko yang berpotensi menimbulkan

penyakit.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN STUDI KOHORT

KELEBIHAN KEKURANGAN

1. Baik untuk menerangkan dinamika hubungan antara faktor resiko dengan efek secara temporal.

2. Merupakan desain terbaik untuk menentukan insidens dan perjalanan penyakit atau efek yang diteliti.

3. Desain terbaik untuk kasus-kasus yang bersifat fatal dan progresif.

4. Dapat dipakai untuk meneliti beberapa efek sekaligus dari suatu faktor resiko tertentu.

5. Karena pengamatan dilakukan secara kontinyu dan waktu yang lama, studi kohort sesuai untuk meneliti berbagai masalah kesehatan yang makin meningkat.

1. Memerlukan waktu yang lama, sarana yang lengkap dan biaya yang mahal.

2. Seringkali rumit, sehingga kurang efisien untuk meneliti aksus yang ajrang terjadi.

3. Adanya ancaman drop-out atau terganggunya analisis hasil akibat perubahan intensitas pajanan atau faktor resiko.

(25)

Untuk lebih memudahkan pemahaman mengenai desain cross-sectional,

case-control dan cohort serta retrospektif maupun prospektif, digambarkan dalam

bagan berikut

CROSS

SECTIONAL SECTIONALCROSS

CASE

Masa lalu Masa Kini Masa datang

Referensi

Dokumen terkait

Pemakaian bahan alami untuk mengobati berbagai penyakit adalah suatu alternatif yang perlu digalakkan, sebab mempunyai harga murah, mudah diperoleh dan mempunyai resiko efek

Memasangkan benda dengan cara memberi tanda x pada gambar indera yang sesuai dengan kegiatan anak. Mengungkapkan sebab akibat jika tidak

Oleh sebab itu, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah efek toksik pada ginjal akibat pajanan kadmium melalui air minum pada masyarakat di sekitar TPA

Mampu menjelaskan etiologi, faktor risiko, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan macam-macam pioderma, epizoonosis dan penyakit akibat serangga Ceramah dan tanya

Pengetahuan memengaruhi penularan dan faktor resiko dengan cara mengetahui gejala penyakit, sebab, dan mengetahui apakah penyakit tersebut dapat menular atau tidak,

Ingatlah firman Tuhan : “kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. Sebab pelayanan kasih

• Menjelaskan etiologi, faktor resiko, patogenesis, manifestasi klinis penyakit Demam tifoid. • Menentukan dan melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang penyakit Demem tifoid

Efek kognitif adalah akibat yang timbul pada diri komunikan yang sifatnya informatif bagi dirinya.7 Melalui penelitian ini berdasarkan efek kognitif maka peneliti ingin mengetahui