Konfounding dan Interaksi
Departemen Biostatistika
FKM UI, 2010
CONFOUNDING
Dari bahasa latin cunfundere (to mix together) Pengertian:
Suatu distorsi (gangguan) dalam menaksir pengaruh paparan
terhadap kejadian penyakit/outcome sebagai akibat tercampurnya pengaruh sebuah atau beberapa variabel luar.
Suatu kondisi bias dalam mengestimasi efek paparan terhadap kejadian penyakit/masalah kesehatan, akibat perbandingan yang tidak seimbang antara kelompok exposed dan non exposed.
Suatu situasi ditemukannya hubungan non‐causal antara exposure/paparan dan outcome yang diteliti akibat adanya pengaruh variabel ketiga (Moyses S. & F. Javier N., 2000) Variabel luar (ketiga) = confounder
Confounder
¾ Berhubungan dengan paparan/faktor resiko yang diteliti (causally or non‐causally associated)
¾ Berhubungan dengan penyakit/outcome (causally associated)
¾ Bukan merupakan konsekuensi dari paparan (tidak terletak diantara E & D / variabel antara)
Exposure Disease
Confounder
Arah Confounding
1. Positif Æ Overestimate (risk value menjauhi ‘Null value’)
2. Negatif Æ Underestimate (risk value mendekati ‘Null value’) kurang beresiko or kurang protektif
3. Cross over Æ asosiasi berubah arah: negatif positif (confounder yang kuat pada asosiasi lemah)
OR/RR
2 1.7
1.3 1
0.5 0.3
0
Null value
CF controlled
CF not controlled CF not controlled
CF controlled
Mengontrol Confounding
Pada tahap Design
1. Restriksi(pada experimental & observational study)
membatasi obyek penelitian pada level confounder yang sama (confounder tidak bervariasi) antara group E – nE dan D – nD
Kelemahan: efek modifikasi tidak dapat dievaluasi, generalizability?
2. Matching (pada experimental & observational study)
Type: a). Full matching, b). partial matching
Method: a). Frequency/marginal matching, b). Individual matching Problem: Over matching
3. Randomisasi (hanya pada experimental study)
subyek penelitian ditempatkan secara random pada group2 yang diperbandingkan (E & nE)
Pada tahap Analisa
1. Stratifikasi
2. Analisa Multivariate
INTERAKSI
Interaksi = Efek modifikasi Pengertian:
Keberagaman/heterogenitas/variasi efek dari suatu faktor resiko terhadap kemunculan penyakit/outcome, pada level yang berbeda dari faktor resiko lain, pada base population
Suatu situasi dimana 2 atau lebih faktor resiko saling memodifikasi (besar dan/atau arah) efek nya terhadap kejadian/outcome yang diteliti (Moyses S. & F. Javier N., 2000)
¾ Efek modifikasi menunjukkan seberapa jauh efek faktor resiko utama terhadap munculnya penyakit/outcome, dimodifikasi oleh faktor resiko lain (modifier)
Macam Interaksi
Interaksi Aditif
• Keberadaannya dinilai dengan memakai ukuran asosiasi berupa risk/rate difference (AR).
• Bermanfaat untuk kepentingan program kesmas atau intervensi pencegahan penyakit
Interaksi multiplikatif
• Keberadaannya diukur dengan memakai ukuran asosiasi berupa risk/rate ratio (RR/OR).
• Penting untuk menjelaskan hubungan kausalitas.
Efek Modifikasi Efek Konfounding
Tidak berhubungan dg design study
Menambah/memodifikasi efek E
OR1 = OR2 = OR3 = OR4 = ORn
Bukan bias
Quantitative measure of association (not a validity issue)
Berhubungan dengan design study
Mengganggu efek E yang diteliti
OR1 = OR2
OR crude OR adjusted
Bias sistematik
Qualitative measure of association (affect validity)
Variabel Ke3 ORC ORA OR1 OR2 OR3
Menjadi CF dan EM 1.2 3.5 2.5 3.0 4.2
Bukan CF maupun EM 1.2 1.2 1.2 1.2 1.2
Merupakan CF tetapi bukan EM 1.2 3.0 3.0 3.0 3.0
EM kuat, CF menjadi kurang penting 1.2 3.5 0.4 2.8 9.2
Deteksi Konfounding & Interaksi
Regresi Linier Ganda
9
Adanya
Konfounderakan menyebabkan
a)
Perubahan R Square
b)
Perubahan (unstandardized) coefisien B (OR) sebesar >
10%
9
Adanya
Interaksiantar 2 variabel independent ditunjukan dengan nilai Sig. < 0.05
Analisa Regresi Linier/Logistik Ganda
Variabel Masih Lengkap ‘umur’ keluar dari model
Perubahan Coefficien B
Sex 4.7 5.0 6.3 %
Lemak persen 7.1 6.2 11.3%
Lemak kulit -232 -236 1.8%
tchol 2.8 2.5 4%
Model Summary
.926a .858 .845 1.5061
Model 1
R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Predictors: (Constant), sex, umur, lemakkulit, lemakpersen
a.
Model Summaryb
.943a .889 .876 1.3491 1.840
Model 1
R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Durbin- Watson
Predictors: (Constant), lemakKt_prpr, umur, sex, lemakpersen, lemakkulit
a.
Dependent Variable: imt b.
R square regresi linier ganda dengan konfounder masuk pada model
R square regresi linier ganda dengan konfounder tidak
masuk pada model
Umur merupakan konfounder karena menyebabkan OR ‘lemak persen’ berubah >10%
Imt = 17.074 – 0.126 umur + 0.08 lemakkulit + 0.204 lemakpersen + 3.074 sex
¾ Dilakukan pada variabel‐variabel yang diduga secara substansi berinteraksi.
Model Persamaan Regresi linier ganda
1). variable ‘lemak kulit’ dan ‘lemak persen’ secara substansi diduga berinteraksi
Coefficientsa
22.651 3.151 7.188 .000
-.133 .041 -.176 -3.220 .002 .863 1.158
-.063 .043 -.437 -1.461 .151 .029 34.599
.082 .048 .238 1.713 .094 .134 7.451
2.436 .693 .268 3.513 .001 .444 2.254
.003 .001 1.251 3.440 .001 .020 51.140
(Constant) umur lemakkulit lemakpersen sex
lemakKt_prpr Model
1
B Std. Error Unstandardized
Coefficients
Beta Standardized
Coefficients
t Sig. Tolerance VIF
Collinearity Statistics
Dependent Variable: imt a.
Uji Interaksi
Imt = 22.651 – 0.133 umur - 0.063 lemakkulit + 0.082 lemakpersen + 2.436 sex + 0.003 lemakkt_prpr
Coefficientsa
-2.875 11.880 -.242 .810
.189 .187 .251 1.011 .317 .050 19.908
.078 .014 .534 5.683 .000 .350 2.861
.729 .305 2.111 2.391 .021 .004 252.645
2.724 .757 .300 3.598 .001 .444 2.253
-.008 .005 -1.494 -1.734 .090 .004 240.709
(Constant) umur lemakkulit lemakpersen sex
umur_lemakpr Model
1
B Std. Error Unstandardized
Coefficients
Beta Standardized
Coefficients
t Sig. Tolerance VIF
Collinearity Statistics
Dependent Variable: imt a.
2). secara substansi umur akan mempengaruhi lemak persen,
Sehingga persamaan regresi linier akhir untuk memprediksi nilai ‘imt’
adalah:
Regresi Logistik Ganda
9 Adanya Konfounder akan menyebabkan perubahan nilai Exp(B) /OR sebesar > 10%
Exp(B) Crude - Exp(B) Adjusted * 100% Î >10% Æ konfounder Exp(B) Adjusted
dari
variabel independent utama (faktor resiko) dalam pemodelan faktor resiko, atau
variabel independent lain dalam pemodelan prediksi
9 Adanya Interaksi antar 2 variabel independent ditunjukan dengan nilai Sig. < 0.05
Variables in the Equation
8,265 2 ,016
1,872 ,858 4,764 1 ,029 6,503 1,211 34,940
2,711 ,946 8,206 1 ,004 15,045 2,354 96,155
,921 ,541 2,899 1 ,089 2,511 ,870 7,245
-2,727 ,882 9,563 1 ,002 ,065
IMT3 IMT3(1) IMT3(2) SEX Constant Step
1a
B S.E. Wald df Sig. Exp(B) Lower Upper
95,0% C.I.for EXP(B)
Variable(s) entered on step 1: IMT3, SEX.
a.
Apakah ‘SEX’ adalah Konfounder terhadap IMT31 dan IMT32 ? Lihat perubahan nilai Exp(B) :
• ‘SEX’ masuk dalam pemodelan, nilai Exp(B) Æ 6,503 dan 15,045
• ‘SEX’ tidak masuk dalam pemodelan, nilai Exp(B)Æ 4,388 dan 9,149
• Besar perubahan:
Dari hasil perhitungan ratio = 32,52% (> 10%)
maka ‘sex’ merupakan variable konfounder.
Confounding
Confounding = bias estimasi efek pajanan terhadap penyakit akibat perbandingan tidak seimbang antara kelompok terpajan dengan kelompok tidak terpajan
Terjadi akibat adanya perbedaan risiko
terjadinya penyakit pada kelompok terpajan dengan kelompok tidak terpajan
Risiko terjadinya penyakit berbeda meskipun
pajanan dihilangkan pada kelompok terpajan
Syarat Confounding
C merupakan faktor risiko D
C memiliki asosiasi dengan E
E D
C
Contoh Confounding
Ibu Anemia BBLR
St.Gizi Ibu
Contoh confounding
Kelompok gizi kurang dan gizi baik
BBLR+ BBLR- Jumlah
Anemia + 24 36 60
Anemia - 36 24 60
Jumlah 60 60 120
OR = (24*24)/(36*36)=0,44
Hubungan anemia dg BBLR
Simpulan: Anemia faktor pencegah terjadinya BBLR ??
Ibu Anemia BBLR
Contoh confounding
Kelompok gizi baik
BBLR+ BBLR- Jumlah
Anemia + 18 34 52
Anemia - 2 6 8
Jumlah 20 40 60
OR = (18*6)/(34*2) = 1,58 Kelompok gizi kurang
BBLR+ BBLR- Jumlah
Anemia + 6 2 8
Anemia - 34 18 52
Jumlah 40 20 60
OR = (6*18)/(2*34) = 1,58
Hubungan anemia dg BBLR (Dipisah menurut status Gizi)
Simpulan:
Anemia adalah faktor risiko
terjadinya BBLR (baik pd gizi baik maupun pd gizi kurang)
Contoh confounding
Hubungan status gizi dengan BBLR
BBLR+ BBLR- Jumlah
Gizi kurang 40 20 60
Gizi baik 20 40 60
Jumlah 60 60 120
OR = (40*40)/(20*20) = 4,00
Status gizi kurang merupakan faktor risiko BBLR
St.Gizi ibu
BBLR
Contoh confounding
Distibusi status gizi menurut anemia
Gizi kurang Gizi baik Jumlah
Anemia + 8 52 60
Anemia - 52 8 60
Jumlah 60 60 120
Distribusi status gizi tidak seimbang pada ibu anemia dan ibu non anemia
Ibu Anemia
St.Gizi Ibu
Contoh confounding
Pada contoh, status gizi merupakan confounder karena
Status gizi kurang merupakan faktor risiko BBLR ?
Distribusi status gizi tidak seimbang pada ibu anemia dan ibu non anemia
Hasil analisis menunjukkan status gizi merupakan faktor
risiko BBLR ?
Pengontrolan Confounding
Pada Desain
Restriksi
Matching
Pada Pengumpulan Data
Confounding harus diukur
Pada Analisis
Analisis multivariat