• Tidak ada hasil yang ditemukan

Abstract- With respect to IT governance, it is

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Abstract- With respect to IT governance, it is"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

AUDIT TATA KELOLA TEKNOLOGI INFORMASI DENGAN

MENGGUNAKAN COBIT DAN VAL IT FRAMEWORK (STUDI KASUS :

PT. PRIMASENTA RESOURCES INDONESIA)

Andika Bayu Hasta Yanto1

1Sistem Informasi Akuntansi AMIK BSI Tangerang

[email protected]

Ahmad Fauzi2,

2Komputerisasi Akuntansi AMIK BSI Jakarta [email protected]

Rifky Permana3

3Komputerisasi Akuntansi AMIK BSI Jakarta rifky.rpp @bsi.ac.id

Ricki Sastra4

4Manajemen Informatika

AMIK BSI Pontianak ricki.rkt @bsi.ac.id

Abstract- With respect to IT governance, it is necessary to use a good standard for viewing existing IT management. COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology) as one of the tools in measuring IT governance can be used to view existing IT governance. Domain Plan and Organize (PO) and Aquire and Implement (AI) are very appropriate at this time, because organizations are forming new structures and forms. Maturity level (maturity level) that exist in every IT process contained in the domain of Plan and Organize (PO) and Aquire and Implement (AI) at PT. Primasenta Resources Indonesia averages at the level of 1.753 and is still at level 1 (initial / ad-hoc), although there are 3 (three) IT processes that are in level 2 (repeatable but intuitive). In order to achieve the expected maturity level at level 3 (defined process) then all procedures required in each process must be met. To achieve level 3 (defined process), referring to COBIT standardization, every organization must have clear mechanism and procedures on information technology management process and process management, and communicate and disseminate well in all organizational management.

Keywords: IT governance, COBIT, IT processes, Maturity

Abstraksi-Sehubungan dengan tata kelola TI, perlu digunakan suatu standar yang baik untuk melihat pengelolaan TI yang ada. COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology) sebagai salah satu alat dalam pengukuran tata kelola TI dapat digunakan untuk melihat tata kelola TI yang ada. Domain Plan and Organise (PO) dan Aquire and Implement (AI) sangat tepat dilaksanakan pada saat ini, karena organisasi yang sedang membentuk struktur dan bentuk baru. Tingkat kematangan (maturity level) yang ada pada setiap proses TI yang terdapat dalam domain Plan and Organise (PO) dan Aquire and Implement (AI) pada PT. Primasenta Resources Indonesia rata -rata pada tingkat 1,753

dan masih berada pada level 1 (initial/ad-hoc), walaupun ada 3 (tiga) proses TI yang sudah berada di level 2 (repeatable but intuitive). Untuk dapat mencapai tingkat kematangan yang didinginkan (expected maturity level) di level 3 (defined process) maka semua prosedur yang disyaratkan di tiap proses harus dipenuhi. Untuk mencapai level 3 (defined process), mengacu pada standarisasi COBIT maka setiap organisasi harus memiliki mekanisme dan prosedur yang jelas mengenai tata cara dan manajemen proses investasi teknologi informasi, dan mengkomunikasikan serta mensosialisasikan dengan baik di seluruh jajaran manajemen organisasi.

Kata kunci : Tata kelola TI, COBIT, Proses TI, Maturity

I. PENDAHULUAN

Tata kelola teknologi informasi diharapkan mendapat dukungan dari stakeholder, agar pengembangan dan implementasi sistem on budget, on schedule dengan kualitas yang tinggi. Namun tata kelola teknologi informasi dapat memiliki beberapa masalah yaitu teknologi informasi hanya menjadi perhatian dari tim tekhnikal dan tidak mendapat perhatian dari manajemen puncak, sehingga dapat menimbulkan kerugian keuangan, rusaknya reputasi proyek karena overbudget, overtime dan underspec, penurunan efektifitas karena buruknya kualitas output sistem, buruknya kualitas support yang ditandai dengan sistem yang tidak terintegrasi, tingginya keluhan user mengenai kualitas sistem, dan rendahnya tingkat ketersediaan informasi.

(2)

dikeluarkan oleh perusahaan sebanding dengan tujuan yang akan dicapai perusahaan, sudah tentu perusahaan harus menerapkan Tata Kelola Teknologi Informasi yang baik. Selama ini PT. Primasenta Resource Indonesia memang sudah mengarah untuk penerapan Tata Kelola Teknologi Informasi, tetapi memang penerapan tersebut belum secara legal disahkan oleh manajemen.

Atas dasar tersebut, maka penulis ingin menilai penerapan tata kelola teknologi informasi yang selama ini sudah berjalan pada PT. Primasenta Resources Indonesia dengan menggunakan COBIT Framework. Oleh karena itu, penelitian ini akan membahas dan melaporkan mengenai audit tata kelola teknologi informasi pada perusahaan PT. Primasenta Resource Indonesia dengan cara melakukan auditing melalui beberapa tahapan, yaitu menentukan maturity level atau tingkat kematangan yang kemudian diplotting terhadap COBIT 4.0 dan perhitungan maturity level yang ada akan serta di kombinasikan dengan Val IT untuk menganalisa apakah investasi teknologi informasi tersebut sesuai dengan prosedur dan harapan perusahaan. Val IT menambahkan COBIT dari sisi perspektif bisnis dan finansial sehingga dapat membantu memberikan masukan berdasarkan hasil audit yang telah dilakukan dengan cara analisis sistem informasi dan TI secara langsung pada bagian Teknologi Informasi dan analisis pengembangan TI yang di lakukan perusahaan.

II. METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Penelitian survei merupakan usaha untuk mengamati, mendapatkan informasi yang jelas terhadap suatu masalah tertentu dalam suatu penelitian. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dari responden dengan menggunakan

kuisioner. Penelitian ini dirancang dan

dikembangkan sebagai penelitian yang menyatakan hubungan sebab-akibat (explanatory) dengan menggunakan pendekatan metode hipotesis asosiatif.

Menurut Sekaran, penelitian (research)

adalah satu proses mencari solusi atas permasalahan yang ada melalui satu tahapan studi dan analisis terhadap faktor-faktor atau variabel yang berpengaruh. Sebagai satu proses studi dan analisis, tentu penelitian harus mengikuti kaidah-kaidah penelitian sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah [Sekaran 2000].

B. Metode Pemilihan Sample

Metode penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah tehnik purposive sampling, yaitu sampel yang diambil dengan maksud atau tujuan tertentu. Seseorang atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti

menganggap bahwa seseorang atau sesuatu tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitiannya.

Sampel yang dipilih merupakan sampel yang mengelola sistem informasi yang berasal dari dua entitas asal yaitu karyawan yang sudah lama bekerja . Kedua, sampel yang dipilih merupakan user/pengguna langsung sistem informasi yang juga berasal dari pihak tekait yaitu PT. Primasenta Resources Indonesia. Selain itu juga dipilih sampel yaitu Wakil Staff Operasional yang membidangi Teknologi Informasi .

Dengan mengacu pada metode penarikan sampel tersebut di atas, maka obyek yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah pengelola sistem informasi yaitu administrator dan pengguna yaitu pengguna sistem informasi yaitu karyawan tetap dan karyawan kontrak.

Jumlah responden ada 8 orang, untuk karyawan tetap dan karyawan kontrak yang telah menggunakan sistem ini minimal 6 bulan.

Tabel II.1 Responden Kuisioner

NO RESPONDEN JUMLAH

1 Direktur Manager 1

2 Manager Operasional 1

3 Pengelola/ Administrasi Sistem

Informasi SDM 1

4 Pengelola/ Administrasi Sistem

Informasi BPO 1

5 Pengguna karyawan Sistem

Informasi SDM 2

6 Pengguna karyawan Informasi

BPO 2

Jumlah 8

C. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, dilakuakn

pengumpulan data yang bertujuan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan untuk penelitian. Jenis data yang dikumpulkan terbagi menjadi 2 jenis yaitu :

 Data Primer

Data primer dihimpun langsung dari tempat penelitian. Dalam penelitian ini data primer berupa hasil wawancara dan hasil kuesioner. Data primer ini diperoleh melalui:

a. Observasi, yaitu dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap obyek penelitian, selama periode waktu tertentu.

b. Metode Survei, yaitu dengan menggunakan

kuesioner yang dibagikan

c. kepada responden yang terpilih sebagai

(3)

peneliti akan memperoleh data atau fakta yang bersifat teoritis yang memiliki hubungan dengan permasalahan yang akan dibahas.

d. Wawancara, yaitu dengan melakukan

tanya jawab dengan seseorang untuk mendapatkan keterangan atau pendapatnya akan suatu hal atau masalah.

 Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang digunakan untuk melengkapi data primer yang diperoleh dari responden, data sekunder diperoleh dari beberapa referensi seperti buku-buku peraturan-peraturan, laporan hasil penelitian, dokumen dan arsip yang berkaitan dengan penelitian.

Untuk mendapatkan data sekunder dilakukan berbagai cara yaitu:

a. Studi dokumentasi. Dalam studi

dokumentasi ini pengumpulan data dilakukan dengan cara mencari referensi dari berbagai media, seperti dokumen perusahaan catatan kasus, laporan kerja, dan lain sebagainya yang terdapat di lingkungan ataupun di luar obyek penelitian. Selain itu juga menggunakan buku, jurnal ilmiah, majalah, dan panduan COBIT 4.0.

b. Website, data dikumpulkan dari internet.

D. Instrumen Penelitian

Instrumen Penelitian Cobit

Pernyataan kuesioner dikembangkan berdasarkan jumlah pernyataan atau statement pada tiang tingkat maturity di setiap control objective, pada domain Plan and Organise (PO)

dan domain Aquire and Implement (AI).

Secara lengkap pernyataan dalam kuesioner dapat dilihat pada lampiran 2. Total penyataan pada domain PO adalah 307 pernyataan dan total pernyataan dalam domain AI adalah 193 pernyataan. Sehingga total pernyataan dalam kuesioner adalah 500 pernyataan. Jumlah penyataan dalam domain tersebut dapat dilihat pada tabel II.2 dan tabel II.3 berikut ini.

Tabel II.2 Jumlah pernyataan pada domain Plan and Organise (PO)

DOMAIN Level Maturity Total Perny ataan 0 1 2 3 4 5

PO1 Define a strategic

IT plan 2 5 4 6 6 5 28

PO2 Define the

information architecture 2 4 3 6 9 7 31

PO3 Determine

technological direction 3 5 5 6 11 7 37

PO4 Define the IT

processes, organisations, 1 4 3 9 8 5 30

and relationships PO5 Manage the IT

investment 2 5 5 6 6 7 31

PO6 Communicate

management aims and 2 3 4 7 4 4 24

PO7 Manage IT human

resources 2 4 2 5 5 5 23

PO8 Manage quality 3 3 2 5 9 6 28

PO9 Assess and manage

IT Risk 3 7 3 7 11 7 38

PO10 Manage projects 1 7 6 9 9 5 37

307 Jumlah Pernyataan dalam domain PO

Tabel II.3 Jumlah pernyataan pada domain Aquire and Implement (AI)

Domain

Level Maturity Tot al Per nya taa

n 0 1 2 3 4 5

AI1 Identify automated

solution 2 4 5 4 6 6 27

AI2 Acquire and maintain application

software 2 4 4 5 3 6 24

A13 Acquire and maintain technology

infrastructure 1 4 5 4 4 5 23

A14 Enable operation

and use 2 6 5 9 10 4 36

AI5 Procure IT

Resources 2 4 6 6 7 7 32

AI6 Manage changes 2 4 2 4 9 5 26

AI7 Install and accredit

solutions ang changes 1 3 3 4 8 6 25

Jumlah Pernyataan dalam domain AI 193

Instrumen Penelitian Val IT

Kuisioner Val IT digunakan sebagai alat bantu penelitian untuk mendapatkan data dan opini mengenai pengembangan TI yang di lakukan oleh perusahaan. Dari data dan opini tersebut akan terlihat apakah pengembangan TI sudah selaras dengan tujuan bisnis perusahaan dan apakah pengembangan TI yang dilakukan telah berjalan sesuai prosedur dan memberikan manfaat atau nilai lebih bagi perusahaan.

Kuisioner Val IT dikembangkan dari Val IT Framework yang terdiri dari 3 domain, yaitu :

(4)

b. Portofolio Management (PM), yang bertujuan untuk memastikan bahwa keseluruhan portofolio organisasi dari

investasi TI selaras dan

mengkontribusikan nilai optimal bagi sasaran strategi perusahaan.

c. Investment Management (IM), yang bertujuan untuk memastikan bahwa sebuah program investasi berbasis TI menghasilkan nilai optimal dengan biaya yang terjangkau dengan sebuah tingkat resiko yang dapat diterima.

E. Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan teknik analisis data secara kuantitatif dan deskriptif. Analisis Deskriptif digunakan untuk menjawab rumusan masalah a, yaitu bagaimana tata kelola TI di PT. Primasenta Resources Indonesia saat ini dan c, yaitu Bagaimana solusi yang dapat berikan untuk perbaikan pelaksanaan tata kelola teknologi informasi di PT. Primasenta Resources Indonesia. Solusi perbaikan yang akan diberikan untuk perbaikan pelaksanaan tata kelola teknologi informasi di PT. Primasenta Resources Indonesia mengacu pada detail control objective COBIT 4.0, yang secara lengkap terdapat pada lampiran 5.

Teknik analisis kuantitatif menggunakan spreadsheet Microsoft Excel untuk mengolah, menjawab dan menjelaskan perumusan masalah tingkat kematangan (maturity level) tata kelola teknologi informasi yang dilakukan di PT. Primasenta Resources Indonesia.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Perhitungan Maturity Level Pada

COBIT

Berdasarkan kuisioner yang telah disebarkan dan kembali, dikumpulkan data untuk perhitungan tingkat kematangan organisasi dan analisa mengenai keadaan TI di PT. Primasenta Resources Indonesia dilakukan untuk mengetahui tingkat kematangan tata kelola TI di PT. Primasenta Resources Indonesia. Proses-proses TI yang akan dilakukan penilaian adalah proses-proses TI yang berada pada domain Plan and Organise (PO) dan Aguire ans Implement (AI).

Hasil perhitungan tingkat kematangan

(maturity level) tata kelola TI untuk Sistem Informasi PT. Primasenta Resources Indonesia selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4. Pada tabel III.1 dan tabel III.2 berikut akan disampaikan hasil rekapitulasi tingkat kematangan

(maturity level) untuk domain PO dan AI.

Tabel III.1 Rekapitulasi hasil Perhitungnan Cobit tingkat kematangan TI domain PO

Tabel III.2 Rekapitulasi hasil Perhitungnan Cobit tingkat kematangan TI domain AI

Dari tabel III.1 dan tabel III.2 tingkat kematangan (maturity level) domain Deliver and Support dan Monitor and Evaluate, akan dibuat representasinya dalam grafik radar, seperti yang terlihat pada gambar III.1 dan gambar III.2 sebagai berikut.

DOMA

IN PROSES CurrentMaturit

y

Expec ted Matur

ity

AI1 Identify automated solution 1.642 3

AI2 Acquire and maintain

application software 1.863 3

AI3 Acquire and maintain

technology infrastructure 1.995 3

AI4 Enable operation and use 1.889 3

AI5 Procure IT Resources 1.879 3

AI6 Manage changes 2.048 3

AI7 Install and accredit solutions

ang changes 1.647 3

DOMA

IN PROSES CurrentMaturit

y

Expecte d Maturity

PO1 Define a strategic IT plan 1.921 3

PO2 Define the information

architecture 1.918 3

PO3 Determine technological

direction 1.878 3

PO4 Define the IT processes,

organisations, and relationships

1.837 3

PO5 Manage the IT investment 1,675 3

PO6 Communicate management

aims and direction 1.687 3

PO7 Manage IT human resources 1.396 3

PO8 Manage quality 1.353 3

PO9 Assess and manage IT Risk 1.066 3

(5)

Gambar III.1: Current maturity level

vs Expected maturity level pada domain

Plan and Organise (PO)

Gambar III.2: Current maturity level vs

Expected maturity level pada domain

Aquire and Implement (AI)

Analisis Gap maturity level proses-proses TI dalam penerapan sistem informasi menggunakan COBIT

Dalam pengelolaan TI yang telah dilaksanakan di PT. Primasenta Resources Indonesia, Maturity level yang ditetapkan sebagai acuan dalam model pengelolaan TI (Expected maturity level) adalah pada level 3 (define). Berdasarkan hasil perhitungan maturity level yang telah dilakukan ternyata berada di bawah level yang diharapkan. Dengan demikian perlu dilakukan analisa untuk menutupi gap antara

current maturity dengan expected maturity level tersebut. Tabel III.3 memperlihatkan gap antara kedua maturity level untuk setiap proses COBIT domain PO dan AI yang akan dilakukan dalam

penerapan sistem informasi PT. Primasenta Resources Indonesia.

Tabel III.3 Gap antara Current maturity dan Expected Maturity pada penerapan sistem informasi pada domain PO dan AI Domai

n PROSES Current

Maturit y

Expe cted Mat urity

PO1 Define a strategic IT plan 1.921 3

PO2 Define the information

architecture 1.918 3

PO3 Determine technological

direction 1.878 3

PO4 Define the IT processes,

organisations, and 1.837 3

PO5 Manage the IT investment 1,675 3

PO6 Communicate management

aims and direction 1.687 3

PO7 Manage IT human

resources 1.396 3

PO8 Manage quality 1.353 3

PO9 Assess and manage IT Risk 1.066 3

PO10 Manage projects 1.445 3

AI1 Identify automated solution 1.642 3 AI2 Acquire and maintain

application software 1.863 3

AI3 Acquire and maintain

technology infrastructure 1.995 3

AI4 Enable operation and use 1.889 3

AI5 Procure IT Resources 1.879 3

AI6 Manage changes 2.048 3

AI7 Install and accredit

solutions ang changes 1.647 3

Tabel III.4 Resume Current maturity pada penerapan sistem informasi pada domain

PO dan AI

MATURITY

LEVEL DOMAIN

PO A

I PO & AI

Expected 3 3 3

Rata-rata 1.618 1.852 1.714

Minimal 1.066 1.642 1.066

Maksimal 1.921 2.048 2.048

Dari tabel III.3 dan III.4 dapat dilihat bahwa tingkat kematangan saat ini

(6)

Domain Plan and Organisse

Hampir secara keseluruhan berada dibawah level 2, hal ini menunjukkan bahwa arsitektur informasi sudah ada meskipun masih bersifat intuitif dan non formal, serta individu-individu yang memiliki keahlian karena pengalaman dan aplikasi yang berulang.

Tingkat kematangan yang terendah (current maturity level) saat ini pada domain PO adalah proses PO9 Assess and manage IT Risk, yaitu pada level 1,006. Hal ini terjadi karena proses penyatuan dua entitas dan penyamaan proses dari 2 proses yang ada sehingga kurangnya perkiraan atau penilaian resiko dalam mendukung keputusan manajemen dalam pencapaian tujuan TI .

Domain Aquire and Implement

Pada domain ini tingkat kematangan yang sekarang berjalan (current maturity level) rata-rata berada dibawah 2. Hal ini berarti bahwa pada proses pemilihan, pengadaan, dan penerapan TI yang digunakan, pelaksanaan strategi yang telah ditetapkan dengan solusi-solusi TI yang sesuai, solusi, implementasi dan integrasi ke dalam proses bisnis organisasi sudah ada beberapa inisiatif mekanisme perencanaan, tata kelola, dan pengawasan terhadap sejumlah investasi yang dilakukan, namun sifatnya masih ad-hoc, sporadis, tidak konsisten, belum formal, dan reaktif.

Tingkat kematangan (current maturity level) yang tertinggi saat ini pada domain AI adalah proses AI6 Manage changes pada tingkat 2,048 . Hal ini dikarenakan untuk meminimisasi kemungkinan gangguan, kesalahan (error) dan perubahan yang tidak sah, sudah ada kebiasaan-kebiasaan yang terpola yang dilakukan secara berulang namun timbul secara reaktif sesuai dengan situasi yang terjadi .

B. Hasil Perhitungan Maturity Level Pada Val IT

Berdasarkan hasil perhitungan proses VAL IT,

yang telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya, makan untuk menetapkan dan melakukan perbandingan benchmarking dapat mengacu pada model kematangan (maturity model), setelah melalui proses perhitungan didapatkan maturity level untuk proses-proses pada Val IT. Hasil perhitungan tingkat kematangan (maturity level) tata kelola TI untuk Sistem Informasi PT. Primasenta Resources Indonesia dengan Val IT selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 5. Pada tabel III.5 dan tabel III.6 berikut akan disampaikan hasil rekapitulasi tingkat kematangan (maturity level)

untuk domain VG, PM dan IM.

Tabel III.5 Rekapitulasi hasil Perhitungan

Val IT tingkat kematangan TI domain VG

Do

m Pertany JawabTotal Eksistensi PERFORMA

(7)

%

Tabel III.6 Rekapitulasi hasil Perhitungan Val IT tingkat kematangan TI

domain PM

Do Pert Total Eksist PERFORMA

(8)

P41 0 5 % 0

Tabel III.7 Rekapitulasi hasil Perhitungan Val IT tingkat kematangan TI

domain IM

ensi PERFORMA

(9)
(10)

0 %

P97

0 5

0 %

1 0 0 %

0

% 0% % 0 % 0 0% 0%

P98

0 5

0 %

1 0 0 %

0

% 0% % 0 % 0 0% 0%

P99

0 5

0 %

1 0 0 %

0

% 0% % 0 % 0 0% 0%

P10 0

0 5

0 %

1 0 0 %

0

% 0% % 0 % 0 0% 0%

P10 1

0 5

0 %

1 0 0 %

0

% 0% % 0 % 0 0% 0%

P10 2

0 5

0 %

1 0 0 %

0

% 0% % 0 % 0 0% 0%

Analisis Gap maturity level proses-proses TI dalam penerapan sistem informasi

menggunakan Val IT

Tabel III.8 Resume Current maturity

Val IT pada penerapan sistem informasi

pada domain VG , PM dan IM DOM

AIN PROSES MaturityCurrent ExpectedMaturity

VG Value Governance 1.46 2

PM Portofolio Management 1.43 2

IM Acquire and maintain

technology 0.44 2

Gambar III.2: Current maturity level vs Expected maturity level pada

perhitungan Val IT

Berdasarkan gambar III.2 makan dapat disimpulkan bahwa PT. Primasenta Resources Indonesia berada pada tingkat kematangan 1

(initial/ad hoc) pada domain Value Governance

(VG), Portofolio Management (PM) yang artinya perusahaan telah mengenal isu atau masalah yang ada dan perlu di arahkan. Tidak ada proses standarisasi, tetapi sekurang-kurangnya ada

pendekatan khusus (ad hoc) yang cenderung

diterapkan pada individu-individu atau atas dasar kasus demi kasus. Pendekatan terhadap keseluruhan manajemen tidak terorganisir.

Sedangkan tingkat kematangan pada

domain Investment Management (IM) masih berada

pada level Non-Existent. Hal tersebut disebabkan

karena proses-proses invesment management pada

PT. Primasenta Resources Indonesia belum dikenali secara utuh. Organisasi belum mengenal adanya isu atau permasalahan yang harus diselesaikan dan

masih banyak proses-proses investment management

yang belum dilakukan

IV. KESIMPULAN

1. Tata kelola TI sistem informasi akademik

yang ada di PT. Primasenta Resources Indonesia telah dilakukan walaupun masih belum sampai pada tingkat kematangan yang diharapkan. Proses yang berjalan belum memiliki prosedur yang standar dan baku. 2. Tingkat kematangan (maturity level) yang ada

pada setiap proses TI yang terdapat dalam

domain Plan and Organise (PO) dan

Aquire and Implement (AI) rata-rata pada tingkat 1,753 dan masih berada pada level 1 (initial/ad-hoc), walaupun ada 3 (tiga) proses TI yang sudah berada di level 2 (repeatable but intuitive). Untuk dapat mencapai tingkat kematangan yang didinginkan (expected maturity level) di level 3 (defined process) maka semua prosedur yang disyaratkan di tiap proses harus dipenuhi. Untuk mencapai level 3 (defined process), mengacu pada standarisasi COBIT maka setiap organisasi harus memiliki mekanisme dan prosedur yang jelas mengenai tata cara dan manajemen proses investasi teknologi informasi, dan mengkomunikasikan serta mensosialisasikan dengan baik di seluruh jajaran manajemen organisasi.

3. Berdasarkan analisa gap antara tingkat

(11)

diperioritaskan pada domain PO terutama pada

proses PO3 (Assess and manage IT Risk)

diikuti oleh PO8 (Manage quality), PO7

(Manage IT human resources) dan PO10

(Manage projects) kemudian dilanjutkan dengan domain AI terutama pada proses AI1 Identify automated solution). Tindakan perbaikan mengacu pada dokumen high level control objective yang disediakan oleh COBIT.

V. REFERENSI

Alvin A, A., & K.Loebbecke, J. (2003). Auditing.

Jakarta: Edisi Indonesia.

Indrajit, R. E. (n.d.). Retrieved 01 05, (2017), from http://www.eko-indrajit.com/styled-4/page40/

ISACA. (2009). ISACA. Retrieved from ISACA:

http://www.isaca.org

IT Governance Institute. (2000). Management

Guidelines and Audit Guidelines, Control Objectives, COBIT 3rd. USA: ICASA.

IT Governance Institute. (2003). IT Governance Implementation Guide. USA: ISACA.

IT Governance Institute. (2005). COBIT 4.0. USA: ISACA.

IT Governance Institute. (2008). Enterprise Value : Governance of IT investment, Getting Started With Value Management. USA: ISACA.

IT Governance Institute. (2008). Enterprise Value : Governance of IT investment, The Val IT Framework 2.0 Extract. USA: ISACA.

Lenggana, U. (2007). Perancangan Model Tata

Kelola TI Pada PT. Kereta Api Indonesia berbasis Framework Cobit. Bandung: Database digilibt.

Peterson, R. (2004). Integration Strategies and Tactics for Information Technology Governance Strategies for Information Technology Governance. Spain: Idea Group Inc.

Sekaran, U. (2000). Research Methods for Business, a Skill- Building Approach. USA: John Wiley & Sons Inc.

Suharsono, T. N. (2007). Penggunaan Val IT Framework untuk menilai perencanaan investasi teknologi informasi (Studi Kasus : Universitas Sangga Buana YPKP

Bandung). Database digilibitb ITB Bandung.

Gambar

Tabel II.1 Responden Kuisioner
Tabel II.2  Jumlah
Tabel III.2 Rekapitulasi hasil Perhitungnan Cobit tingkat kematangan TI domain AI
Tabel III.3  Gap  antara  Current  maturity
+4

Referensi

Dokumen terkait

the revision process has focused mainly on five key areas: global health security (epidemic alert and response), public health emergencies of p ), p g international concern,

Setelah itu, kolam bisa digunakan kembali P3 Cara mengendalikan ikan yang terinfeksi penyakit ini adalah dengan memisahkan ikan dari habitatnya, kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,