PENGARUH MODAL KERJA TERHADAP TINGKAT PROFITABILITAS (STUDI KASUS PADA KELOMPOK TERNAK MITRA SALUYU PAGERAGEUNG
TASIKMALAYA)
Asep Saeful Falah
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan tuntuk mengetahui: 1). Modal kerja kelompok ternak mitra saluyu pagerageung-tasikmalaya dari tahun 2006-2015; 2) tingkat profitabilitas kelompok ternak mitra saluyu pagerageung-tasikmalaya dari tahun 2006-2015; dan 3) besarnya pengaruh modal kerja terhadap tingkat profitabilitas kelompok ternak mitra saluyu Pagerageung-Tasikmalaya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriktif korelatif dengan jenis peneitian study kasus. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Alat analisis yang digunakan adalah rasio keuangan yaitu perputaran modal kerja dan rasio profitabilitas. Dan untuk menguji pengaruh digunakan regresi sederhana dan koefisien penentu.
Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1). Perhitungan perputaran modal kerja pada tahun 2006 sebesar 19,688 kali, 2007 sebesar 20,641 kali 2008 sebesar 18,951 kali, 2009 sebesar 19,447 kali, tahun 2010 sebesar 21,657 kali, tahun 2011 sebesar 24,838, tahun 2012 sebesar 23,755, tahun 2013 sebesar 25,95 kali , tahun 2014 sebesar 26,648 kali dan tahun 2015 sebesar 27,648 kali; 2). Pertitungan tingkat profitabilitas (ROA) pada tahun 2004 sebesar 38,517 %, tahun 2005 sebesar 42,517% , tahun 2008 sebesar 43,800% , tahun 2009 sebesar 44,161%, tahun 2010 sebesar 42,619%, tahun 2011 sebesar 45,693%, tahun 2012 sebesar 53,210%, tahun 2013 sebesar 55,501%, tahun 2014 sebesar 48,731%, dan tahun 2105 adalah sebesar 55,514%; 3). Pengaruh modal kerja terhadap tingkat profitabilitas sebesar 65,90 % dan 34,10 % dipengaruhi oleh faktor lain.
Kata kunci : Modal Kerja, Profitabilitas
ABSTRACT
This study aims to determine: 1). Working capital Mitra Saluyu Breeder Community Pagerageung-tasikmalaya from 2006 to 2015; 2) the level of profitability Mitra Saluyu Breeder Community Pagerageung-Tasikmalaya from 2006 to 2015; and 3) the magnitude of the effect of working capital on profitability levels Mitra Saluyu Breeder Community Pagerageung-Tasikmalaya
The method used in this study was the correlative descriptive method with the type of case study. The data used in this study were primary data and secondary data. Analysis tools used financial ratios namely working capital turnover and profitability ratios. And to examine the effect used simple linear regression and koefisien determinasi.
is equal to 55.514%; 3). Effect of working capital on profitability rate of 65.90% and 34.10% influenced by other factors.
Keywords: Working Capital, Profitabilitas
LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam masa pembangunan seperti
saat ini, persaingan di dunia usaha baik di
sektor industri maupun jasa semakin tajam.
Hal ini menyebabkan setiap perusahaan
berupaya untuk dapat mempertahankan
kelangsungan hidup perusahaan. Dalam
menjalankan operasinya setiap perusahaan
selalu diarahkan pada pencapaian tujuan
yang telah ditetapkan. Tujuan utama
perusahaan untuk memaksimalkan profit dari
aktivitas usaha yang dijalankan baik usaha
jangka pendek maupun jangka panjang.
Kelangsungan hidup perusahaan dipengaruhi
oleh banyak hal antara lain profitabilitas perusahaan itu sendiri.
Profitabilitas merupakan hasil akhir dari sejumlah kebijakan dan keputusan yang
dilakukan oleh perusahaan. Pentingnya
profitabilitas dapat dilihat dengan mempertimbangkan dampak yang berasal
dari ketidakmampuan perusahaan dalam
mendapatkan laba yang maksimal untuk
mendukung kegiatan operasionalnya.
Profitabilitas merupakan hasil akhir dari sejumlah kebijakan dan keputusan yang
dilakukan oleh perusahaan. Pentingnya
profitabilitas dapat dilihat dengan mempertimbangkan dampak yang berasal
dari ketidakmampuan perusahaan dalam
mendapatkan laba yang maksimal untuk
mendukung kegiatan operasionalnya.
Modal kerja merupakan masalah
pokok yang sering kali dihadapi oleh
perusahaan, karena hampir semua perhatian
untuk mengelola modal kerja dan aktiva
lancar yang merupakan bagian yang cukup
besar dari aktiva, setiap perusahaan selalu
membutuhkan modal kerja. Salah satu yang
penting yang harus diperhatikan untuk
menunjang aktivitas perusahaan adalah
modal kerja (working capital). Modal kerja
merupakan keseluruhan aktiva lancar yang
bisa dijadikan uang kas yang dimiliki
perusahaan, atau dana yang harus tersedia
untuk membiayai kegiatan operasi
perusahaan sehari-hari, misalnya untuk
membayar gaji pegawai, membeli bahan
baku/barang dagangan, membayar ongkos
angkutan, membayar hutang dan sebagainya.
(Bambang Riyanto, 2008:57)
Identifikasi Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang
tersebut maka masalah yang ada dapat di
identifikasikan sebagai berikut :
1. Bagaimana Modal Kerja yang di miliki
oleh Kelompok Ternak Sapi Perah Mitra
2. Bagaimana Tingkat Profitabilitas pada Kelompok Ternak Sapi Perah Mitra
Saluyu Kecamatan Pagerageung?
3. Bagaimana pengaruh modal kerja
terhadap tingkat profitabilitas Kelompok Ternak Sapi Perah Mitra
Saluyu Kecamatan Pagerageung?
Tujuan Penelitian
2 Tingkat Profitabilitas pada Kelompok Ternak Sapi Perah Mitra Saluyu
Kecamatan Pagerageung.
3 Pengaruh Modal Kerja Terhadap
Tingkat Profitabilitas Kelompok Ternak
Sapi Perah Mitra Saluyu Kecamatan
Pagerageung.
Kerangka Pemikiran
Setiap perusahaan dalam
menjalankan usahanya selalu membutuhkan
modal kerja yang cukup, modal kerja
merupakan hal yang sangat penting bagi
perusahaan karena dibutuhkan untuk
membiayai kegiatan operasional perusahaan.
Modal kerja merupakan suatu
keharusan yang harus ada dan dimiliki oleh
setiap perusahaan guna membiayai kegiatan
operasi perusahaan, dimana modal kerja
tersebut dapat diperoleh dari pemilik
perusahaan maupun dari pihak luar
perusahaan. Modal kerja yang terdapat
dalam perusahaan mencerminkan keadaan
jumlah aktiva lancar dan aktiva tetap pada
saat tertentu serta jumlah sumber modal
jangka pendek dan sumber jangka panjang
yang digunakan untuk membelanjai aktiva
tersebut pada saat tertentu. Besarnya dana
yang digunakan perusahaan, baik itu modal
sendiri, hutang jangka panjang dan hutang
jangka pendek. Maka perusahaan diharapkan
mampu mengelola secara efisien. Karena
sumber-sumber dana tersebut merupakan
sumber dana perusahaan dalam menjalankan
operasinya.
Menurut Agus Sartono (2010:385)
ada dua pengertian modal kerja, yang
pertama gross working capital, adalah keseluruhan aktiva lancar, sementara
pengertian net working capital adalah
kelebihan aktiva lancar diatas utang lancar.
Aktiva lancar yang terdiri dari kas,
piutang dan persediaan atau seluruh aktiva.
Laba yang diperoleh persahaan tergantung
pada aktivitas perputaran modal kerja.
Bambang Riyanto (2001 : 62) menyatakan
bahwa: “periode perputaran modal kerja
dimulai pada saat dimana kas diinvestasikan
dalam komponen-komponen modal kerja
sampai saat dimana kembali lagi menjadi
kas”.
Modal kerja yang cukup tentunya
akan menguntungkan bagi perusahaan
disamping bagi perusahaan untuk beroperasi
lebih optimal dalam menentukan kebutuhan
Konsep modal kerja diantaranya
adalah sebagai berikut:
a. Konsep kuantitatif
Konsep ini menunjukan jumlah dana
yang tersedia untuk tujuan operasi
jangka pendek. Konsep ini menganggap
bahwa modal kerja adalah jumlah aktiva
lancar.
b. Konsep kuantitatif
Menurut konsep ini modal kerja adalah
kelebihan aktiva lancar terhadap utang
lancar.
c. Konsep fungsional
Konsep ini mendasarkan pada fungsi dana
dalam menghasilkan pendapatan.
Modal kerja yang difokuskan dalam
penelitian ini adalah modal kerja kuantitatif
karena merupakan selisih dari jumlah aktiva
lancar dengan kewajiban lancar sehingga
likuiditas perusahaan dapat terjaga.
Utang lancar adalah kewajiban-kewajiban
lancer yang akan diselesaikan
pembayarannya dengan menggunakan
sumber-sumber ekonomi yang
diklasifikasikan sebagai aktiva lancer dengan
menciptakan utang baru.
Pengelolaan modal kerja yang baik pada
perusahaan akan terlihat pada tingkat
profitabilitas yang berguna untuk menetapkan kinerja perusahaan. Untuk
menghasilkan profitabilitas maka diperlukan
adanya penggunaan perputaran modal kerja
yang tinggi sehingga profitabilitas akan meningkat.
Bambang Riyanto (2001 : 35)
menyatakan bahwa :“Profitabilitas suatu perusahaan menunjukan perbandingan antara
laba dengan aktiva atau modal yang
menghasilkan laba tersebut. Dengan kata
lain profitabilitas juga dapat diartikan sebagai kemampuan suatu perusahaan untuk
menghasilkan laba selama periode tertentu.”
Rasio profitabilitas mencerminkan hasil akhir dari seluruh kebijkan keuangan
dan keputusan operasional. Brigham Houston (2010 : 146 ) menyatakan bahwa : Rasio profitabilitas adalah sekelompok rasio
yang menunjukan kombinasi dari pengaruh
likuiditas, manajemen aset, dan utang pada
hasil operasi.
Brigham Houston (2010 : 148) Return On Asset merupakan rasio laba bersih terhadap total aset mengukur pengembaian
atas total aset setelah bunga dan pajak.
Dari pembahasan diatas maka modal
kerja terhadap profitabilitas mempunyai hubungan yang sangat erat dan tidak dapat
dipisahkan, dimana modal kerja merupakan
bagian dari keseluruhan modal yang
menghasilkan laba dan apabila terjadi
perputaran pada modal kerja maka akan
mempengaruhi profitabilitas.
Nurhayati dalam penelitiannya yang
berjudul pengaruh modal kerja terhadap
profitabilitas pada perusahaan sektor industri makanan dan minuman yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia menunjukan
piutang secara simultan berpengaruh
signifikan terhadap profitabilitas. dan secara parsial variabel perputaran
persediaan berpengaruh signifikan
terhadap profitabilitas (ROA).
Eva Larasati, Selmita Paranoan
dalam penelitiannya yang berjudul
pengaruh modal kerja terhadap
profitabilitas studi kasus pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek
indonesia menunjukan Hasil penelitian
menunjukkan semua variabel Independen
dapat berpengaruh terhadap profitabilitas secara simultan. Namun hanya satu
variabel independen yaitu number of days
inventories (jumlah hari persediaan) dapat
mempengaruhi profitabilitas, ketika diuji secara parsial.
Metodelogi Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode deskriktif korelatif
yaitu metode yang menggambarkan
hubungan antara dua variabel atau lebih.
Jenis penelitian yang digunakan adalah
study kasus (cash study). Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi
data primer dan data sekunder. Data
primer adalah data yang diperoleh secara
langsung dari subjek dan objek penelitian.
Data primer diperoleh melalui observasi
dan wawancara. Data sekunder adalah data
yang sudah dikumpulkan oleh pihak lain.
Data sekunder diperoleh melalui studi
dokumentasi dan studi pustaka
.
Tabel 1.2
Operasionalisasi Variabel
Variabel Definisi Indikator Skala
Modal Kerja (X)
Keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan
Kas
Persediaan barang Piutang, Utang lacar
Rasio
Profitabilitas (Y)
Kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva, maupun modal kerja
Laba bersih Total aset
Rasio
Alat Analisis
1. Perhitungan dengan rasio keuangan
erputaran modal kerja enjualan bersih
aba ersih otal ktiva
Dalam penghitungan rumus
penulis menggunakan bantuan
Microcoft excel 2007 bertujuan untuk mempermudah perhitungan.
2. Regresi Sederhana
Ῡ = a + bX
∑ ∑ ∑ ∑ ∑
∑ ∑
Dalam penghitungan rumus
penulis menggunakan bantuan software SPSS (statistical product and service solution) versi 16.0 yang biasa digunakan untuk menganalisis statistika
bertujuan untuk mempermudah
perhitungan.
3. Koefisien penentu
Menurut Riduwan dan Akdon (2013:80)
untuk menghitung r (Nilai Koefisien
Korelasi) bisa menggunkan rumus
sebagai berikut:
∑ ∑ ∑ √ ∑ ∑ ∑ ∑
Dalam penghitungan rumus penulis
menggunakan bantuan software SPSS (statistical product and service solution) versi 16.0 yang biasa digunakan untuk menganalisis statistika
bertujuan untuk mempermudah
perhitungan.
Uji Hipotesis
√
√
TINJAUAN PUSTAKA
Manajemen keuangan
merupakan seluruh aktivitas atau
kegiatan perusahaan yang berhubungan
dengan upaya untuk mendapatkan dana
perusahaan dengan meminimalkan
biaya serta upaya penggunaan dan
pengalokasian dana tersebut secara
efisien dalam memaksimalkan nilai
perusahaan yaitu harga dimana calon
pembeli siap atau bersedia
membayarnya jika suatu perusaahaan
menjualnya.
Setiap perusahaan baik yang
besar maupun yang kecil selalu
membutuhkan modal kerja untuk
membiayai kegiatan operasionalnya,
baik yang bergerak dalam bidang
industri, dagang maupun jasa. Modal
kerja sering kali digunakan dalam
mengevaluasi kemampuan perusahaan
untuk memenuhi utang yang telah jatuh
modal kerja menurut para ahli adalah
sebagai berikut:
Menurut Brigham Houston yang
diterjemahkan oleh Ali Akbar Yulianto
(2011: 258) menyatakan bahwa modal
kerja adalah seluruh aset jangka pendek,
atau asset lancar (kas), efek yang dapat
diperjualbelikan, dan piutang usaha.
Agus Sartono (2010 : 385) ada dua
pengertian modal kerja yaitu:
1. Gross working capital adalah keseluruhan aktiva lancar
2. Net working capital adalah kelebihan aktiva lancar diatas
utang lancar.
Komponen-komponen modal kerja
Adapun komponen-komponen
modal kerja menurut Bambang Riyanto
(2001:130) adalah semua aktiva lancar
yang dalam jangka waktu pendek (satu
tahun) dapat berubah kembali menjadi
uang kas. Komponen modal kerja terdiri
dari aktiva lancar dan hutang lancar
yaitu :
1. Kas
Kas dapat diartikan sebagai nilai
uang kontan yang ada dalam perusahaan
beserta pos-pos yang lain yang dalam
jangka waktu pendek dapat diuangkan
sebagai alat pembayaran kebutuhan
finansial, yang mempunyai sifat paling
tinggi likuiditasnya.
Adapun besar kecilnya piutang
dipengaruhi oleh bebarapa faktor:
a) Volume Penjualan
Makin besar jumlah penjualan
kredit dari keseluruhan penjualan
akan memperbesar jumlah piutang
dan sebaliknya.
b) Syarat Pembayaran Bagi Penjualan
Kredit
Semakin panjang batas waktu
pembayaran kredit berarti semakin
besar jumlah piutang dan
sebaliknya.
c) Ketentuan Tentang Batas Volume
Penjualan Kredit
Apabila batas waktu maksimal
volume penjualan kredit ditetapkan
dalam jumlah yang relatif besar
maka besarnya piutang juga
semakin besar.
d) Kebiasaan Membayar Para
Pelanggan Kredit
Apabila kebiasaan membayar dari
pelanggan dari penjualan kredit
mundur dari waktu. Apabila
kegiatan penagihan piutang dari
perusahaan bersifat aktif dan
penagihan pelanggan melunasinya
maka akan besarnya jumlah piutang
relatif kecil, tetapi apabila kegiatan
penagihan piutang bersifat pasif
maka besarnya jumlah piutang
2. Persediaan (Inventory)
Persediaan (inventory) merupakan
bagian utama dari modal kerja yang
pada setiap saat mengalami perubahan.
Masalah investasi dalam inventory
merupakan masalah pembelajaran aktif
seperti halnya investasi dalam
aktiva-aktiva lainnya. Masalah penentuan
besarnya investasi atau alokasi modal
dalam inventory mempunyai efek yang
langsung terhadap keuntungan.
Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
Sumber Modal Kerja
Untuk memenuhi kebutuhan
modal kerja, perusahaan harus mencari
sumber-sumber permodalan yang sesuai
dengan kebutuhannya.
Menurut Dwi Prastowo
(2008:115) bahwa: “Setiap transaksi
yang menyebabkan naiknya modal kerja
disebut sumber modal kerja. Sebaliknya
transaksi yang menyebabkan penurunan
modal kerja disebut penggunaan modal
kerja.” Sumber-sumber modal kerja yang akan menambah jumlah modal
kerja,
Menurut Dwi Prastowo (2008 :
117) modal kerja dapat berasal dari:
1. Hasil operasi usaha, yaitu jumlah
net income yang tampak dalam
laporan perhitungan laba rugi
ditambah dengan depresiasi.
Jumlah modal kerja yang berasal
dari hasil operasi perusahaan.
2. Keuntungan dari penjualan
surat-surat berharga (investasi jangka
pendek). Surat berharga yang
dimiliki perusahaan utang jangka
pendek. Efek adalah salah satu
elemen aktiva lancar yang segera
dapat dijual dan menimbulkan
keuntungan bagi perusahaan.
Dengan adanya penjualan surat
berharga ini menyebabkan
terjadinya perubahan dalam unsur
modal kerja yaitu bentuk surat
berharga menjadi kas. Keuntungan
yang diperoleh dari penjualan
surat berharga ini merupakan
suatu sumber untuk
bertambahnya modal kerja,
sebaliknya apabila penjualan itu
terjadi kerugian maka akan
menyebabkan kurangnya modal
kerja.
3. Penjualan aktiva tidak lancar,
perubahan dari aktiva ini menjadi
kas dan piutang akan
menyebabkan bertambahnya
modal kerja sebesar hasil
penjualan tersebut.
Sedangkan menurut Irham Fahmi
(2011 : 179) secara garis besar sumber
modal kerja dibedakan menjadi:
1. Simple capital structure, yaitu
menggunakan modal sendiri saja
dalam struktur modalnya.
2. Complex capital structure, yaitu
jika perusahaan tidak hanya
menggunakan modal sendiri
tetapi juga menggunakan modal
pinjaman dalam struktur
modalnya.
Adapun menurut Agnes Sawir
(2005 : 141) sumber-sumber modal
kerja yang akan menambah modal kerja
terdiri dari:
1. Adanya kenaikan sektor modal,
baik yang berasal dari laba
maupun penambahan modal
saham.
2. Adanya pengurangan atau
penurunan aktiva tetap karena
adanya penjualan aktiva tetap
maupun melalui proses
depresiasi.
3. Ada penambahan jangka
panjang, dalam bentuk obligasi
atau utang jangka panjang
lainnya.
Penggunaan Modal Kerja
Adapun
penggunaan-penggunaan modal kerja yang
mengakibatkan turunnya modal kerja
menurut Agnes Sawir (2005 : 142)
adalah:
1. Berkurangnya modal sendiri
karena kerugian maupun
pengembalian privasi oleh
pemilik perusahaan.
2. Pembayaran utang-utang jangka
panjang.
3. Adanya penambahan atau
pembelian aktiva tetap.
Sedangkan
penggunaan-penggunaan modal kerja yang
mengakibatkan turunnya modal kerja
menurut Agnes Sawir (2005 : 142)
adalah:
1. Berkurang modal sendiri karena
kerugian maupun pengembalian
privasi oleh pemilik perusahaan.
2. Pembayaran utang-utang jangka
panjang.
3. Adanya penambahan atau
pembelian aktiva tetap.
4. Penjualan saham atau obligasi,
untuk menambah dana atau
modal kerja yang dibutuhkan.
Perusahaan dapat pula
mengadakan emisi saham baru atau
meminta kepada pemilik perusahaan
untuk menambah modalnya.
Disamping itu perusahaan juga dapat
mengeluarkan obligasi atau bentuk
utang jangka panjang lainnya guna
memenuhi kebutuhan modal kerjanya.
Pemakaian atau penggunaan
modal kerja akan menyebabkan
perubahan bentuk maupun penurunan
jumlah aktiva lancar yang dimiliki
penggunaan aktiva untuk melunasi
atau membayar utang lancar, maka
penggunaan aktiva lancar ini tidak
mengakibatkan penurunan jumlah
modal kerja karena penurunan aktiva
lancar tersebut diikuti atau diimbangi
dengan penurunan utang lancar dalam
jumlah yang sama.
Seperti yang telah disebutkan
di atas, setiap penggunaan modal
kerja dapat menyebabkan pengurangan
aktiva lancar menurut Dwi Prastowo
(2008 : 121) antara lain:
a. Pengeluaran biaya jangka
pendek dan pembayaran
utang-utang jangka pendek
b. Adanya pemakaian prive yang
berasal dari keuntungan.
c. Kerugian usaha atau kerugian
insidentil yang memerlukan
pengeluaran kas.
d. Pembentukan dana untuk
tujuan tertentu seperti dana
pensiunan pegawai,
pembayaran bunga obligasi
yang telah jatuh tempo,
penempatan kembali aktiva
tidak lancar.
e. Pembelian tambahan aktiva
tetap, aktiva tidak berwujud,
dan investasi jangka panjang.
f. Pembayaran utang jangka dan
pembelian kembali saham
perusahaan.
Dari sumber-sumber dan
penggunaan modal kerja di atas dapat
disimpulkan apabila dana didefinisikan
sebagai modal kerja, maka laporan
perubahan posisi keuangan
menjelaskan sumber dan penggunaan
dana untuk menunjukan besar kecilnya
modal kerja pada setiap pos-pos aktiva
lancar dan utang lancar.
Metode Pengukuran Modal Kerja Dalam penelitian ini penulis
menggunakan Agus Sartono (2011 :
393) menyatakan bahwa : “Metode
perputaran modal kerja ini berbeda
dengan metode keterikatan dana, karena
metode ini menggunakan kebutuhan
modal kerja dengan memperhatikan
perputaran elemen pembentuk modal
kerja itu sendiri”.
Modal kerja akan selalu berputar
dalam perusahaan selama perusahaan
yang bersangkutan dalam berjalan.
Pengukuran perputaran modal kerja
menggunakan rumus :
Tujuan didirikannya perusahaan
adalah memperoleh laba (profit), maka
wajar apabila profitabilitas menjadi perhatian utama para analis dan
investor. Tingkat profitabilitas yang konsisten akan menjadi tolok ukur
bagaimana perusahaan tersebut mampu
bertahan dalam bisnisnya dengan
memperoleh return yang memadai
dibanding dengan risikonya.
Pengertian profitabilitas menurut Bambang Riyanto (2008 : 35)
adalah sebagai berikut: “kemampuan
suatu perusahaan untuk menghasilkan
laba selama periode tertentu”.
Sedangkan menurut Agus
Sartono (2010 : 390) bahwa:
“profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam
hubungannya dengan total aktiva
maupun modal sendiri”
Mamduh Hanafi (2012 : 81 )
menyatakan bahwa rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan
menhasilkan keuntungan (profitabilitas)
pada tingkat penjualan, aset, dan modal
saham. Ada tiga rassio yang sering
dibicarakan, yaitu: profit margin, return on total asset (ROA), dan return on
equity (ROE).
PEMBAHASAN
Modal Kerja Kelompok Ternak Mitra Saluyu
Objek penelitian yang
digunakan adalah Kelompok ternak
mitra saluyu selama periode 2004 sd
2013 yang diteliti merupakan semua
aktivitas penjualaan pakan ternak yang
tersedia pada Kelompok Ternak Mitra
Saluyu diantaranya : Hampas, Dedak,
Tabel 1
Tabel Aktiva Lancar Pada Kelompok Ternak Mitra Saluyu
No Tahun Penjualan Bersih (a)
Aktiva
Lancar (b)
Utang
Lancar (c) (d)=(b)-(c)
(e) =
(a)/(d)
1. 2006 641.725.100 42.595.445 10.000.000 32.595.445 19,689
2. 2007 682.326.700 44.056.521 11.000.000 33.056.521 20,641
3. 2008 660.625.400 44.859.157 10.000.000 34.859.157 18,951
4. 2009 691.156.700 44.540.737 9.000.000 35.540.737 19,447
5. 2010 700.044.000 42.324.147 10.000.000 32.324.147 21,657
6. 2011 799.068.050 42.171.105 10.000.000 32.171.105 24,838
7. 2012 770.369.200 43.429.306 11.000.000 32.429.306 23,755
8. 2013 780.973.450 40.095.086 10.000.000 30.095.086 25,950
9. 2014 831.883.250 46.217.458 15.000.000 31.217.458 26,648
10. 2015 854.804.700 40.917.676 10.000.000 30.917.676 27,648
Perhitungan Profitabilitas
Tabel 2
Perhitungan Perputaran Modal Kerja Pada Tahun 2006 - 2015
No Tahun Laba
Bersih Total Aset Roa
Rata-rata
Industri
1. 2006 32.946.594 85.537.039 0,385 100 38,5 9 %
2. 2007 40.719.196 95.770.717 0,425 100 42,5 9 %
3. 2008 42.751.561 97.605.718 0,438 100 43,8 9 %
4. 2009 42.338.967 95.874.704 0,442 100 44,2 9 %
5. 2010 38.859.893 91.179.040 0,426 100 42,6 9 %
6. 2011 43.892.008 96.058.113 0,457 100 45,7 9 %
7. 2012 50.519.992 94.944.298 0,532 100 53,2 9 %
8. 2013 50.003.003 90.093.089 0,555 100 55,5 9 %
9. 2014 48.677.026 99.889.484 0,487 100 48,7 9 %
Pengaruh Perputaran Modal Kerja Terhadap Tingkat Profiabilitas
1. Menunjukan bahwa hubungan (korelasi) antara modal kerja terhadap tingkat
profitabilitas sangat kuat positif, yaitu 0,812. Arti positif adalah hubungan antara variabel X dan Y searah. Maksud searah disini, semakin tinggi modal kerja, maka
semakin meningkat tingkat profitabilitas. Begitu juga sebaliknya, semakin kecil modal
kerja, maka semakin menurun tingkat profiitabilitas.
2. Kontribusi yang disumbangkan modal kerkja (X) terhadap tingkat profitabilitas (Y) = 65,9 %.
3. Membandingkan F tabel dan F hitung serta sig dan α
Ternyata : F hitung = 15,444 > F tabel = 5,32, maka ho ditolak
Ternyata : 0,004 < 0,05 , maka Ho ditolak.
Tabel 4
Coefficients
Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
T Sig.
95% Confidence
Interval for B
B
Std.
Error Beta
Lower
Bound Upper Bound
1 (Constant) 12.985 8.740 1.486 .176 -7.169 33.139
Modalkerj
a 1.485 .378 .812 3.930 .004 .614 2.356
Tabel 3
Model Summary
Model R R Square
Adjuste
d R
Square
Std. Error of
the Estimate
Change Statistics
R Square
Change F Change df1 df2 Sig. F Change
1 .812a .659 .616 3.68045 .659 15.444 1 8 .004
a. Predictors: (Constant), modalkerja
Tabel 4
Coefficients
Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
T Sig.
95% Confidence
Interval for B
B
Std.
Error Beta
Lower
Bound Upper Bound
1 (Constant) 12.985 8.740 1.486 .176 -7.169 33.139
Modalkerj
a 1.485 .378 .812 3.930 .004 .614 2.356
a. Dependent Variable: profitabilitas
Dari tabel diatas Coefficient diatas menunjukan bahwa model persamaan regresi untuk
memperkirakan tingkat profitabilitas yang dipengaruhi modal kerja adalah : Y = 12,985 +
1,485 X.
Kaidah pengujian
Jika, t hitung ≤ t tabel , maka Ho diterima.
Jika, t hitung≥ t tabel, maka Ho ditolak.
Dari tabel coefficients diperoleh nilai t hitung = 3,930.
Nilai t tabel dapat dicari dengan menggunakan tabel t-student
t tabel = t (α/2)(n-2)
= t (0,05-/2)(10-2)
=t (0,025)(8)
= 2,306
Membandingkan t tabel dan t hitung
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka
penulis dapat menarik kesimpulan sebagai
berikut:
1. Modal kerja pada Kelompok
Ternak Mitra Saluyu
Modal kerja pada kelompok ternak mitra
saluyu dihitung dengan perputaran modal
kerja, perputaran modal kerja digunakan
untuk mengukur kemampuan modal kerja
berputar dalam dalam satu periode. Pada
tahun 2004 adalah sebesar 19,679 kali
terjadi kenaikan ada tahun 2005 menjadi
20,642 kali, pada tahun 2006 terjadi
penurunan menjadi 18,943 kali, pada tahun
2007 terjadi kenaikan pada tahun 2008 dan
tahun 2009 dengan rata-rata kenaikan 2,70
kali. Pada tahun 2010 terjadi penurunan
kemnali sebanyak 1,08 kali. Pada tahuh
berikutnya 2011-2013 terjadi kenaikan
dengan rata-rata kenaikan 1,3 kali.
2. Profitabilitas pada Kelompok Ternak Mitra Saluyu
Perhitungan profitabilitas dengan menggunakan ROA terlihat di Kelompok
Ternak Mitra Saluyu pada tahun 2004
sebesar 33,5 %, tahun 2007 sampai tahun
2007 terjadi kenaikan dengan rata-rata
kenaikan 1,4 %. Pada tahun berikutnya
2008-2013 terjadi kenaikan dan penurunan
dengan rata-rata 4 %.
3. Pengaruh modal kerja terhadap
tingkat profitabilitas
Berdasarkan hasil regresi, maka dapat
diketahui bahwa moddal kerja
berpengaruh signifikan terhadap
profitabilitas sebesar 65,90 % dan 34,10 % dipengaruhi oleh faktor lain.
Saran
Berdasarkan pada kesimpulan maka
penulis dapat memberikan saran sebagai
berikut:
1. Kelompok ternak hendaknya terus
melakukan kerja sama dengan
pengusaha ternak dan pihak-pihak lain
untuk mendapatkan tambahan modal
kerja, karena dengan penambahan
modal kerja yang besar
kecenderungan dapat meningkatkan
tinkat profitabilitas kelompok ternak tersebut.
2. Untuk meningkatkan profit pada kelompok ternak sebaiknya diadakan
penambahn anggota kelompok dan
dilakukan penambahan ternak yang
produktif, sehingga susu sapi yang
masuk pada kelompok akan
bertambah dengan demikian penjualan
pakan dan susu sapi akan meningkat
begitu juga dengan keuntungan, salah
satu cara yang bisa di tempuh adalah
dengan kerja sama dengan pihak lain
untuk mendapatkan kreddit sapi perah
3. Selain memperhatikan pengembalian
aset sebaiknya diperhatikan juga net
profit margin sehingga kelompok ternak harus memperhatikan tingkat
keuntungan setelah biaya pajak
dengan cara menambah anggota
kelompok yang memiliki sapi perah
produktif untuk menambah
penghasilan kelompok ternak, selain
itu juga untuk meningkatkan
penjualan kelompok ternak
menyangkut dengan pakan ternak,
untuk menambah sapi perah yang
produktif itu sendiri kelompok ternak
harus mengadakan kerjasama dengan
pengusaha ternak.
DAFTAR PUSTAKA
Akdon dan Ridwan, 2013. Rumus Dan Data Dalam Analisis Statistik Cetakan Ke-5. Bandung: Alfabeta Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur
Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta Brigham and Houston, 2010. Dasar-Dasar
Manajemen. Jakarta: Salemba Empat
Brigham and Houston, 2011. Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta: Salemba Empat
Darmanto, dwi Prastowo dan Rifka Julianti. 2008. Analisis Laporan Keuangan Konsep Dan Aplikasi, Edisi Kedua, Cetakan Kedua. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN.
Fahmi, Irfan. 2011. Analisis Laporan Keuangan. Cetakan Kesatu. Alfabeta. Bandung.
Munawir, 2002. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta : Liberty. Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim.
2012. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: UPP AMP YPKN Nazir,Mohammad.2003. Metode
Penelitian. Jakarta: Galia Indonesia Riyanto, Bambang. 2008. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta : BPFE.
Riyanto, Bambang. 2001. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta : BPFE
Sartono, Agus. 2010. Manajemen Keuangan Teori Dan Aplikasi. Yogyakarta: BPFE
Sartono, Agus. .2011. Manajemen Keuangan Teori Dan Aplikasi. Yogyakarta: BPFE
Sawir, Agnes. 2003. Analisis Kinerja Keuangan Dan Perencanaan Keuangan Perusahaan. Jakarta:PTGramedia Pustaka Utama.
Siregar ,Syofian.2013.Statistik Parametik Untuk Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Bumi Aksara