• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Penelitian (Teknik Sampling)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Metode Penelitian (Teknik Sampling)"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Metode Penelitian

(

Teknik Sampling)

Kuliah ke-7

(2)

Populasi dan Sampel

Sampel adalah sebagian populasi yang digunakan

sebagai dasar penarikan kesimpulan penelitian.

Peneliti menggunakan sampel sebagai cara utama

guna menaksir perilaku di dalam suatu populasi.

Patut dipertimbangkan secara serius pengambilan

(3)

Sensus dan sampling

 Sensus adalah perhitungan seluruh elemen populasi dan

digunakan untuk menggambarkan karakteristik populasi.

 Sampling adalah pemilihan elemen (anggota atau unit) dari

suatu populasi, yang digunakan untuk membuat pernyataan yang mengatasnamakan populasi.

 Sampel ideal adalah sampel yang mewakili populasi secara

sempurna, dengan seluruh ciri populasi termaktub di dalam sampel tersebut. Sampel ideal jarang terdapat dalam

(4)

Probability Sample

dan

Nonprobability Sample

Probability Sample

memberi kesempatan

kepada semua elemen populasi untuk menjadi sampel.

Nonprobability Sample

tidak memberi setiap

(5)

Jumlah Sampel

 Tidak ada jumlah akurat berapa sampel harus dipakai. Semua

bergantung pada tujuan dan metode penelitian yang digunakan peneliti. Sekadar acuan penentuan jumlah sampel, Cohen memberikan secara jelas dan mudah dipahami.

 Misalnya, Penelitian Korelasional butuh sampel minimal 30 responden.

Penelitian Eksperimental, Kausal-Komparatif, butuh minimal 15 responden/obyek. Penelitian Survey (masuk kategori Penelitian

(6)

Sampel Acak (Random

Sampling),

 Dalam konteks Sample Acak (Random Sampling), sampel dapat

ditentukan dengan dua cara.

1. Cara pertimbangan jujur peneliti bahwa sampel mewakili

populasi dengan menetapkan jumlah sampel minimal.

2. Menggunakan tabel yang dibuat dengan rumus matematika

yang menghasilkan jumlah sampel yang mencukupi bagi jumlalh populasi tertentu. Contoh seperti dikembangkan Krejcie and

(7)

Metode Sampling terdiri dari 2 bagian besar

1.

Probability Sampling

Probability Sampling kerap dikaitkan dengan penelitian “Kuantitatif”.

2.

Nonprobability Sampling.

Nonprobability Sampling seringhkali dikaitkan dengan

penelitian “Kualitatif”. Namun, penelitian kuantitatif banyak pula yang menggunakan Nonprobability Sampling untuk

(8)

1. Probability Sampling

terdiri dari

a.

Simple Random Sampling;

b.

Systematic Sampling;

c.

Stratified Sampling; dan

(9)

a. Simple Random Sampling

 Simple Random Sampling merupakan sampiling paling mudah

dipahami dan paling banyak dimodelkan. Dalam Simple

Random Sampling, peneliti mengembangkan Sampling Frame yang akurat, memilih elemen-elemen dari Sampling Frame menurut prosedur acak matematika, lalu memilih siapa atau apa yang dijadikan sampel.

 Dalam Simple Random Sampling, setiap unit di dalam populasi

(10)

Contoh

 Dalam wilayah pemungutan suara terdapat 1000 pemilih.

Peneliti hendak memilih 100 diantaranya untuk jajak

pendapat. Peneliti memasukkan ke-1000 nama di sebuah kotak dan mengeluarkan 100 nama, sehingga 1000 orang tersebut punya kesempatan sama untuk menjadi sampel.

 Dengan demikian, sampel yang digunakan adalah 10% dari

populasi. Syarat utama Simple Random Sampling adalah

membuat Sampling Frame. Sampel diturunkan dari Sampling Frame ini.

 Dalam memilih sampel dengan teknik Simple Random

(11)

b. Stratifed Random Sampling

 Stratified Random Sampling adalah variasi dari Simple Random Sampling. Peneliti tidak memilih responden langsung dari populasi. Pertama-tama peneliti membagi populasi ke dalam 2 atau lebih strata. Stratum adalah bagian dari populasi yang saling berbagi karakteristik khusus tertentu.

(12)

c. Cluster Sampling

Cluster Sampling dipilih sebagai metode penarikan

sampel jika terdapat dua masalah;

1.

Tidak punya Sampling Frame yang baik bagi populasi

yang tersebar.

2.

Biaya untuk mengambil sampel tinggi (mahal,

(13)

Contoh Cluster

Sampling

 Terdapat daftar nama montir di wilayah Kota Bekasi. Bahkan, jika

peneliti punya Sampling Frame yang akurat, proses penyebaran kuesioner memakan biaya mahal karena para montir tersebar di kawasan yang luas dan macet serta berpolusi. Resiko kesehatan jiwa pun mengancam. Jadi, ketimbang memakai satu Sampling Frame, peneliti mengguna desain sampel yang meliputi Multiple Stages dan Cluster.

 Cluster adalah pengelompokan responden. Dalam kasus montir di

Kota Bekasi, para montir kelompokkan. Pengelompokkan biasanya berdasarkan wilayah geografis. Dalam kasus montir di Kota

(14)

d. Systematic Sampling

 Systematic Sampling adalah Simple Random Sampling

dengan jalan pintas menuju pilihan acak.

 Langkah pertama memberi nomor tiap elemen di dalam

Sampling Frame. Berikutnya menggunakan Tabel Random Number, peneliti menghitung Sampling Interval, dan interval itu menjadi metode semi acak dari si peneliti. Sampling

Interval (misalnya 1 dalam k, di mana k ada suatu angka) memberitahu peneliti bagaimana memilih elemen dari

(15)

Contoh Systematic Sampling

Mahasiswa FKIP UNMUH Jember ada 500 orang dan Amat seorang mahasiswa peneliti, hendak mengambil sampel (n) sebanyak 100 menggunakan Systematic Sampling. Amat harus mendaftar ke-500 mahasiswa secara urut. Sampling Fraction-nya menjadi f = 500/100 = 20%. Dalam kasus tersebut, ukuran

Interval k sama dengan N/n = 500/100 = 5. Selanjutnya Amat tinggal memilih bilangan acak dari 1 hingga 5. Misalnya Amat memilih bilangan 2. Untuk memilih sampel Amat mulai dengan nomor 2 dan mengambil tiap k (yaitu 5, karena k = 5). Sampel Amat yaitu jatuh pada nomor 2, 7, 12, 17 dan terus begitu

(16)

2. Non Probability Sampling terdiri dari

a.

Convenience Sampling;

b.

Quota Sampling;

c.

Purposive Sampling;

d.

Snowball Sampling;

(17)

a. Convenience Sampling.

 Convenience Sampling disebut juga Haphazard atau

Accidental Sampling. Convenience Sampling sebagai metode sampling bisa berakibat pada sampel yang tidak efektif (tidak menggambarkan populasi) dan tidak direkomendasikan.

 Convenience Sampling adalah sampel yang dipilih secara

(18)

Contoh

 Sebuah surat kabar bertanya pada pembaca lewat kolom

kuesioner di surat kabar tersebut. Tidak semua orang yang baca koran punya minat pada masalah di dalam kuesioner, atau punya waktu buat menggunting kuesioner dan mengirimkannya lewat pos kendati gratis.

 Andai saja ada 5000 orang yang mengembalikan, tetapi kendati

(19)

b. Quota Sampling.

 Dalam Quota Sampling, peneliti awalnya mengidentifikasi

kategori-kategori yang relevan dari sejumlah orang (misalnya laki – prempuan atau < 30 tahun, 30 – 60 tahun, > 60 tahun), lalu memutuskan seberapa

banyak dibutuhkan dari setiap kategori untuk dijadikan sampel.

 Quota Sampling merupakan “perbaikan” Convenience Sampling karena

peneliti dapat memastikan sejumlah perbedaan di dalam sampelnya.

 Dalam Convenience Sampling, orang yang diwawancara atau mengisi

(20)

Contoh

Misalnya, peneliti memutuskan memilih 5 laki dan

5 prempuan di bawah umur 30 tahun, 10 laki dan

10 prempuan antara 30 – 60 tahun, dan 5 laki dan

5 prempuan di atas umur 60 tahun dalam

(21)

c. Purposive Sampling

 Purposive Sampling juga disebut Judgmental Sampling.

 Purposive Sampling digunakan dalam situasi dimana seorang

ahli menggunakan penilaiannya dalam memilih responden dengan tujuan tertentu di dalam benaknya.

 Dengan Purposive Sampling, peneliti tidak pernah tahu

apakah responden yang dipilih mewakili populasi.

 Metode Purposive Sampling kerap digunakan dalam

(22)

Purposive Sampling digunakan dalam 3 situasi.

1) Peneliti menggunakan guna memilih responden unik yang

akan memberi informasi penting.

2) Peneliti menggunakan Purposive Sampling untuk memilih

responden yang sulit dicapai, yaitu suatu populasi khusus semisal kaum Gay atau Lesbian.

3) Tatkala peneliti ingin mengidentifikasi jenis responden tertentu

untuk diadakan wawancara mendalam. Tujuan penelitian

bukan hendak melakukan generalisasi atas populasi yang lebih besar, tetapi lebih pada kehendak untuk memperoleh

(23)

d. Snowball Sampling.

 Snowball Sampling juga disebut Network Sampling, Chain

Referral Sampling atau Reputational Sampling.

 Snowball Sampling adalah metode guna mengidentifikasi dan

mengambil sampel lewat suatu jaringan yang didasarkan

pada analogi bola salju. Dimulai dari ukuran kecil, dan seiring proses, jumlahnya semakin membesar. Snowball Sampling adalah teknik multi tahap.

 Snowball Sampling dapat dilakukan dengan membuat

(24)

e. Deviant Case Sampling

 Deviant Case Sampling juga disebut Extreme Case Sampling.

Deviant Case Sampling digunakan kala peneliti mencari responden yang berbeda dari pola-pola dominan yang

berkembang. Sama dengan Purposive Sampling, Deviant Case Sampling digunakan saat peneliti menggunakan teknik yang beragam untuk menempatkan responden dengan karakteristik tertentu. Deviant Case Sampling beda dengan Purposive

(25)

Sequential Sampling.

 Sequential Sampling mirip dengan Purposive Sampling dengan

satu perbedaan. Dalam Purposive Sampling, peneliti coba

menemukan sebanyak mungkin responden yang relevan dengan masalah penelitian, hingga suatu saat uang, tenaga, dan jiwa peneliti mulai “menjerit.”

 Dalam Sequential Sampling, peneliti terus mengumpulkan

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian, peneliti menggunakan teknik purposive sampling karena peneliti hanya akan mengambil data yang mengandung interferensi gramatika bahasa Jawa ke dalam

Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik penarikan sampel dengan metode Purposive sampling, yaitu teknik pengambilan data dengan pertimbangan

Menurut Sugiyono (Sugiyono, 2016) purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Yang menjadi dasar pertimbangan

Untuk menentukan alternatif prioritas kebijakan peningkatan partisipasi masyarakat, diambil sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan memilih responden yang dianggap

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu yang

Penentuan subjek melalui Teknik purposive sampling purposif, mencakup orang-orang yang diseleksi atas dasar kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan

5 Salah satu alasan peneliti menggunakan teknik pengambilan sampel probability sampling dengan jenis pengambilan sampel purposive sampling karena guru matematika

Peneliti mencari sampel individu yang memiliki perbedaan dalam hal karakteristik atau sifat yang dimiliki sehingga mendapatkan beragam perspektif yang akan memperkaya hasil fenomena