Ilmu Pengetahuan Alam.docx

22 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Makalah

Ilmu Pengetahuan Alam

(IPA)

DI S U S U N OLEH :

MILASARI (111030021)

YUSRINA (111030017)

CUT AISYAH (111030022)

IIS TAWARI (111030015)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH

(2)

2014

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis Dapat menyusun makalah ini tepatpada waktunya. Makalah ini membahas tentang “Ilmu Pengetahuan Alam

Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian.

Banda Aceh, Maret 2014

(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan Penulisan ... 1

BAB II PEMBAHASAN ... 2

A. Lahirnya Ilmu Pengetahuan ... 2

1. Asia... 2

2. Yunani... 3

3. Timur Tengah... 5

4. Eropa... 8

B. IPA Klasik dan IPA Modern... 10

1. IPA Klasik ... 10

2. IPA Modern... 11

C. Metode Ilmiah ... 12

1. Kriteria Metode Ilmiah ... 13

2. Hipotesis ... 14

3. Operasionalisasi Metode Ilmiah... 14

BAB III PENUTUP ... 16

A. Kesimpulan ... 16

(5)
(6)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia adalah rnakhluk yang serba ingin tahu, karena itu manusia disebut juga sebagai binatang yang rasional (rational animal). Dengan daya pikir rasional diburunya segala sesuatu untuk diketahui (know how), kemudian diangkatkan bagaimana masalahnya (know why), akhirnya apakah kegunaan sesuatu dalam kehidupan (know use). Dalam tahap-tahap awal manusia masih percaya pada mitos yang sekarang hanya dinilai sebagai pengetahuan semu (pseudoscience) karena akhirnya tidak memuaskan, maka dikejarnya suatu kebenarannya sebagai pengetahuan sejati (pure science).

Setelah makin sulit memenuhi kebutuhannya dengan cara foodgathering maka dengan akalnya manusia mampu mengadakan foodproducing. Cara hidupnya tidak lagi nomaden, melainkan sudah sedenter. Ekonomi masyarakat manusia bukan hanya soal menghasilkan makanan, melainkan juga meliputi perdagangan industri guna memenuhi kehidupannya.

Peningkatan keadaan ekonomi mendorong manusia mengadakan tempat pemusatan haru dengan terbentuknya kota-kota, sehingga terjadilah revolusi kota (urban revolution). Cara hidup menetap dengan ekonomi mantap memberi kesempatan berpikir lebih banyak. Objek utamanya yang dipikirkan manusia ialah alam. Manusia dapat belajar dari alam dan akhirnya lahirlah pengetahuan alam (natural science).

B. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk mengetahui : 1. Lahirnya Ilmu Pengetahuan

(7)

BAB II PEMBAHASAN

A. Lahirnya Ilmu Pengetahuan

Pada Mulanya ilmu pengetahuan timbul di Asia, meluas ke Yunani, kembali ke Asia Timur Tengah, baru kemudian ke Eropa

1. Asia

Dan tanah liat yang dibakar (terra cotta) di lembah sungai Indus diketahui bahwa manusia telah mampu membuat gambaran binatang dan di dekatnya ada tulisan yang sampai sekarang belum diketahui maknanya. Di duga tulisarr tersehut sama maknanya dengan gambar, sehingga disebut Pictograph. Bangsa Cina menggambar alam dengan lambang khusus, kemudian menjadi tulisan. Misalnya pohon dan hutan, huruf ini disebut Cien Gip atau jau Co (Hongji bahasa jepang). Di Timur Tengah orang membuat buku juga dari tanah liat, ditulisi dengan huruf yang berbentuk paku, sehingga disebut huruf paku (hieroglif). Penyusunannya menjadi abjad merupakan kemampuan manusia dalam berabstraksi. Kini huruf sudah merupakan lambang bunyi bukan lagi gambar benda. Penciptaan huruf kemudian menghasilkan buku yang mempunyai arti penting bagi perkembangan pengetahuan dan secara vertikal dapat diturunkan kepada generasi berikutnya.

Kemampuan berabstraksi lebih nyata dalam hitungan. Untuk menunjukkan jumlah 1 masih mudah, tetapi bila sudah 10, 100, 1000 memerlukan daya abstraksi yang tinggi. Berikut ini adalah gambaran dalam proses hitungan.

(8)

Di duga negara Babylon telah memanfaatkan hitungan dalam penyelidikan bintang. Hitungan perenam puluhan telah digunakan, seperti satu jam = 60 menit, satu menit = 60 detik.

Penciptaan angka rncmpunyai arti penting bagi manusia. Selain sebagai wujud kemampuan berabstraksi, ia juga untuk melukiskan jumlah abstrak secara singkat, praktis, dan tepat sehingga berkembang menjadi ilinu pengetahuan, seperti matematika yang ternyata merupakan tolak ukur pengetahuan.

Manusia adalah makhluk pembuat alat, maka disebut homo faber; Penciptaan alat dimaksudkan untuk membantu khidupan manusia yang semakin lama semakin beragam kegiatannya. Pada awalnya alat dibuat sederhana, semakin lama semakin sempurna, akhirnya semakin canggih. Semula alat dibuat dari bahan yang mudah diperoleh dan dibentuk, seperti kayu dan bambu (tidak ada peninggalan karena hancur oleh umur); kemudian batu, dan kasar, setengah kasar, dan halus (merupakan ciri zaman paleolitikum, moseleokum, dan neolitikum); selanjutnya dengan logam yang memerlukan pengetahuan dan pengalaman serta berlangsung lebih lama sarnpai saat ini.

Api merupakan temuan yang sangat penting yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia, terutama dalam pembuatan peralatan, cara memasak, dan melindungi diri dari gangguan lingkungan, meskipun banyak pula bahayanya.

2. Yunani

Yumani merupakan wilayah Eropa yang berbatasan dengan Asia Barat, maka dengan cepat menimba pengetahuan dari Timur. Ilmu pengetahuan yang sudah cukup tinggi tersebut disempurnakan dan ditingkatkan melalui penyelidikan (Inquiring). Inilah dasar lahirnya para penemu pengetahuan bangsa Barat.

(9)

menimbulkan usaha untuk memikirkannya terus meneru selama belum memperoleh jawaban yang memuaskan. Terjadinya pemikiran-pemikiran itu merupakan tanda belum sempurnanya perkembangan ilmu itu sendiri (defelopment process). Berdasarkan pengetahuan yang diperolehnya dan Timur, Thales sudah dapat meramalkan terjadinya gerhana bulan.

Phytagoras (580-500 SM) menemukan, antara lain dalil Phytagoras, yakni a2 + b2 = c2 yang berlaku bagi segitiga siku-siku dengan jumlah sudutnya 180°. Masih banyak penemuan-penemuannya yang lain tentang matematika. Phytagoras juga menunjukkan hubungan antara nada dengan dawai (senar, bila panjangnya dawai dua kali, maka nadanya turun satu oktaf. La juga menyelidiki susunan benda yang terdiri atas segitiga, segi empat, dan segi lima yang sisi masing-masiug sama.

Dari segitiga yang semua sisinya sama, dapat disusun tetrahedron, dari segi empat dapat dibuat kubus, dan segi lima dapat dibuat dodecahedron yang memiliki 12 permukaan. Phytagoras telah berpendapat bahwa bumi itu bundar dan tidak datar serta bergerak mengelilingi matahari. Ia juga membentuk suatu lembaga pendidikan dan menghimpun para muridnya serta sarjana lain dalam Pythagoras Society yang kegiatannya dalam dunia pengetahuan.

Socrates (470-399 SM) dinilai sebagai tonggak ilmu pengetahuan Yunani. Sebelumnya orang mengadakan penyelidikan hal-hal yang menyangkut alam (zaman pra-Socrates), sedangkan semenjak dia banyak penyelidikan dilakukan terhadap pengetahuan yang menyangkut kehidupan manusia (zaman post Socrates). Walaupun ia tidak meninggalkan karya-karya tertulis, tetãpi pemikirannya dihimpun oléh Plato, seorang murid Socrates yang setia. Di antarariya tentang logika yang dapat banyak mengajak manusia berpikir, yaitu adanya major premise, minor premise, dan conclusion (dibandingkan dengan dalam metode sekarang adanya induksi, deduksi, dan kesimpulan).

(10)

dibgi lagi (sekarang dapat dilakukan). Bentuk atom bermacam.macam yang selalu bergerak tanpa ketentuan, sehingga terjadi benturan-benturan satu dengan yang lain dan menimbulkan pusaran. Bergantung pada banyaknya dan pusaran atom, maka terjadilah beraneka ragam benda, di luar benda-benda hanya ada kehampaan (void).

Aristoteles (384-322 SM) adalah pemikir setelah Socrates. Ia banyak memikirkan masalah pengetahuan sosial (society science), seperti logika dan metafisika (filsafat), tetapi juga berjasa untuk ilmu pengetahuan alam. Sebagai penganut aliran naturalis, ia juga mengadakan penyelidikan dan pemikiran tentang embriologi. Karena keterbatasan indera manusia, terdapat anggapan pada saat itu bahwa alam dengan sendirinya ada di alam ini spontanea. Sedangkan untuk ayam telah diketahui perkembangannya sejak telur sampai ayam.

Archimedes (287-212 SM) sudah meningkat pemikirannya dibandingkan dengan para pakar sebelumnya karena sudah mempergunakan cara empiris yang didasarkan pada pengalaman atau percobaan. Sebagai ahli matematika, fisika, dan mekanika, ia menemukan hukum-hukum, antara lain hukum yang terkenal bahwa benda yang terapung di air akan kehilangan berat sesuai dengan air yang terdesak.

3. Timur Tengah

Hellenisme berkembang di Timur Tengah dalarn ahad pertengahan yang di prakarsai oleh bangsa Arab. Banyak karya ilmiah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada masa kejayaan Baghdad (Irak) dan Kordoba (Spanyol yang pada saat itu di bawah kekuasaan Arab).

(11)

belakang koma, dan tidak dapat dipakai dalam penjumlahan dari atas ke bawah. Dan sistem Kwarizmi yang berasal dan bahasa Arab inilah bangsa Barat menyebutkannya sebagai angka Arab, walaupun penulisannya sudah lain.

Niraizi (wafat 922 M) telah membuat planetarium dengan ketepatan yang diakui oleh para ahli. Ia mengkritik pendapat Ptolomeus yang berfaham geosentris dan menulis sejumlah buku yang memuat pengetahuan tentang cuaca dan iklim serta pengetahuan tentang bintang. Ia membuat alat bantu ilmu bintang untuk menggambarkan gerak benda-benda langit dan untuk mengukur jaraknya. Tokoh lain di bidang astronomi yaitu Tsabit ibn Qurrah (wafat 901 M), membahas waktu matahari (samsiah) yang lamanya setahun 365 hari, 5 jam, 49 menit, 1 detik.

Ar-Razi (866-909 M), orang barat menyebutnya Razes, adalah tokoh kedokteran dan kimia. Merupakan orang pertama yang mendiagnosis penyakit cacar dengan membedakan atas cacar air (variola) dan cacar merah (rougella) Ia juga berhasil melaksanakan pengobatan dengan pemanasan saraf, pengobatan penyakit kepala, mendiagnosis tekanan darah tinggi, menggunakan kayu pengikat untuk patah tulang (spalk. Sebagai ahli kimia ia menemukan air raksa (mercury).

Ibnu Sina (980-1037 M, yang dikenal oleh orang Barat sebagai Avacena adalah tokoh kedokteran. Dialah yang pertama kali menunjukkan bahwa udara merupakan penyalur penyakit dan merinitis pengobatan penyakit saraf (neurasthenia). karyanya yang berjudul Al-Qanun Fi’ith Thibb atau Pedoman Kedokteran merupakan buku terluas yang dipergunakan di dunia Islam maupun Barat. Aslinya ditulis dalam bahasa Arab dan diterbitkan di Roma (1593). Seluruh karyanya berjumlah 170 buah yang sebagian besar telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin.

(12)

Az-Zahrawi (wafat 1013 M) adalah perintis ilmu pengetahuan penyakit

(diagnostic) dan cara penyembuhan (therapeutic) penyakit telinga. Selain perintis

-pembedahan telinga, ia juga pelopor penyakit kulit (dermatology). Karya-karyanya

telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan dicetak berulang kali di Eropa, seperti

di Genua (1497), Basel (1541), dan Oxford (1778).

Ibn Baithar (wafat 1248 M), di Barat dikenal sebagai Alpetragius, yaitu ahli

tumbuhan. Ia banyak melakukan terapannya sebagai applied science untuk keperluan

obat-obatan. Sebagian ilmunya memang berasal dan Yunani, tetapi dan 1.400 ramuan

obat yang dikemukakannya sebanyak 300 buah merupakan temuannya sendiri, di

antaranya 200 merupakan ramuan dan tumbuhan. Karyanya AlAdw yati’l Bashithah,

artinya Ramuan-Ramuan Sederhana, dicetak dalam bahasa Latin di Cremona dengan

judul Simplicia (1758).

Al-Ashma’I (740-828 M) adalah sarjana ilmu hewan. Dalam karyanya

Al-Hayawan, artinya hewan, dipaparkan tentang singa, harimau, gajah, dan unggas.

Ia meneliti binatang-binatang tersebut dalam alamnya senta perpindahannya

berhubung dengan musim. Pengetahuannya didukung oleh kegemarannya sebagai

pemburu.

Dari Universitas Cordoba serta dan buku-huku karya pakarnya, bangsa

Barat memperoleh banyak pengetahuan dalam zaman renaisans, suatu zaman di mana

bangsa Barat ingin kembali ke zaman Yunani dan Romawi Kuno. Karena dalam abad

pertengahan di Eropa, bangsa Barat terlalu mengutamakan kehidupan beragama

Katolik yang dipenuhi dengan dogmatisme yang bersifat surgawi. Dalam aman

renaisans yang terjadi pada bagian akhir abad pertengahan bangsa Barat kembali

menginginkan kehidupan duniawi, termasuk keinginan untuk mengetahui rahasia

alam. Pemikiran yang makin bebas menyebabkan ilmu pengetahuan berkembang,

baik sehingga zaman renaisans merupakan bunga peradaban Barat yang kemudian

(13)

4. Eropa

Dari Cordoba, bangsa Barat memperoleh pengetahuan dan bangsa Arab, kemudian di negerinya dikembangkan dengan wadah-wadah lembaga pengetahuan, di antaranya di London didirikan Royal Society for Improving Natural Knowledge (1662), di Paris Academis des Sciencies (1966), di Berlin Academic der Wissenschffeen (1 700). di Saint Petersburg (Lenningrad sekanangi Akademic Sint Petersburg (1662), di Philadelphia (Amerika) didirikan The Amecican Philosophical Society of Philadelphia (1743), dan diJakarta, Hindia Belanda, didirikan Bataviaasch Genootschap van Kiesten en Welenschappen (1770). Di samping itu, banyak diterjemahkan buku-buku pengetahuan dari Timur; mula-mula dalam bahasa Latin, kemudian Inggris, Prancis, atau jerman. Semboyan yang terkenal ialah Nature, Reason, and Progress. Nature merupakan alam di luar manusia (external world) yang dijadikan objek untuk diselidiki. Nature memiliki hukum alam (natural law) yang disadari dan diperhitungkan kekuatannya oleh manusia. Dengan reason manusia berpikir dengan akalnya yang panjang dan disusun objeknya dalam ilmu pengetahuan. Progress merupakan proses ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia (enlightenment). Suatu kondisi yang memudahkan para cendikiawan mengembangkan din adalah adanya kebebasan dalarn mengadakan penyelidikan lan pencobaan, sehingga diperoleh penemuan.

(14)

Dalam bidang fisika, yang terkenal, antara lain adalah Evangelista Torriceli (1588-1647), seorang ahli fisika dan ilmu pasti yang berhasil menemukan thermometer sebagai alat pengukur suhu udara sekaligus dapat memperkirakan tekanan udara pada suatu tempat. Bila seseorang naik ke tempat yang lebih tinggi maka temperatur maupun tekanan udara akan lebih rendah dari tempat semula. Tokoh lain adalah Blaise Pascal (1623-1662) yang pada usia 18 tahun telah menemukan pemikiran prinsip komputer.

Di bidang kimia pelopornya adalah Antonio Laurent Lavoisier (1743-1749) yang telah menggunakan pencobaan-percobaan. Dengan pembakaran ditemukan hubungan zat asam dan udara. Ia menemukan pula sifat asam dan basa dalam suatu zat. Tokoh lain John Dalton (1766-1844), meletakkan dasar teori atom dan menemukan multiple properties. Karyanya, antara lain Meteorogical Observations and Essay (1793) A. New System of Chemical Philosophy (1827). Ia juga menemukan tentang buta warna pada penglihatan manusia. Karena banyak jasanya, Dalton diangkat menjadi anggota Royal Sociey sebagai penghormatan tertinggi di waktu itu.

Dalam bidang biologi, pelopor yang dikenal yaitu Antonie van Leuwenhoek (1632-1723), yang mempergunakan mikroskop hasil karyanya sehingga dapat melihat bakteri dengan pembesaran 270 kali saat itu. Ia menemukan spermatozoa anjing, kelinci, ikan, manusia, dan sejumlah binatang Iainnya. Dengan mikroskop ia dapat mengetahui sel tubuh dan perkembangan bakteri. lajuga terpilih sebagai anggota Society dan koresponden Academic des Sciencies. Teman Leuwenhoek adalah Malphighio Malpighi (1628-1694) yang menemukan anatomi tubuh dengan percobaan, mula-mula pada katak, kernudian menemukan struktur binatang maupun tumbuh-tumbuhan.

(15)

Biotechnology dikembangkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sedangkan elektronika saat ini juga maju pesat.

B. IPA Klasik dan IPA Modern

Banyak pendapat tentang pengertian IPA Klasik dan IPA Modern yang dicetuskan oleb para pakar. Pendapat tersebut masing-masing berbeda karena pada umumnya berlandaskan atas disiplin ilmu yang mereka tekuni. Pakar fisika misalnya mendefinisikan bahwa yang dimaksud IPA Klasik adalah perkembangan ilmu fisika sebelum abad XX, sedangkan IPA Modern adalah perkembangan fisika setelah abad XX. Fisika Modern dimulai sejak saat munculnya teori Relativitas dan Einstein (1905), diikuti teori radiasi oleh Max Planck (1910), sinar X oleh Rontgen (1923). Sedangkan IPA Klasik mulai sejak awal sampai batas munculnya teori relativitas tersebut. Pakar biologi tentu lain pandangannya terhadap IPA Klasik dan IPA Modern. Demikian pula dipandang dan disiplin ilmu yang lain.

Secara umum, pengertian IPA bukan halnya ditinjau dan satu disiplin ilmu saja, namun IPA dapat dirinci lebih lanjut meliputi berbagai disiplin ilmu.

1. IPA Klasik

Bila ditinjau dari pengertian klasik sendiri, maka dapat diartikan bahwa yang klasik umumnya bersifat tradisional berdasarkan pengalaman, kebisaan, atau naluri semata. Meskipun ada kreasi, namun merupakan tiruan dari keadaan alam sekitar.

Pakar fisika (dalam bahasa Yunani = alam) membedakan antara Fisika Klasik dan Fisika Modern. Fisika Klasik atau fisika terbatas mempelajari komponen materi dan interaksi antara komponen dengan perkembangan pengamatan.

a. Dinikmati langsung gerakan benda dalam mekanika. b. Penglihatan dengan teori cahaya.

(16)

Dari sini berkembang pengetahuan tentang penjumlahan vektor yang dipakai dalam computed tomografi (CT) atau penampang lintang tubuh dengan sinar X, magnetic resonance imaging (MRI) untuk mendeteksi tumor. Di samping itu,juga teori monetum linear (p = my) yang selanjutnya dikembangkan dalam sistem terisolasi, muncul hukum kekekalan momentum maupun kekekalan energi. Listrik rnaupun magnet ditemukan dan berkembang dengan adanya medan potensial dan energi potensial serta gaya gerak listnik induksi.

IPA Klasik secara umum, sebagai contoh digambarkan pembuatan ragi tempe dan juga ragi tapai, meskipun hanya berdasarkan pengalaman petani, namun tanpa disadari petani tersebut telah berkecimpung dalam bidang mikrobiologi, mikologi, dan tentu saja tidak lepas dari ilmu fisika yang mendasarinya. Contoh lain, pembuatan gula kelapa merupakan proses fisika bersama-sama kimia yang telah tinggi tingkatannya, juga pembuatan terasi, ikan asin, rendang, dan telor asin adalah merupakan hasil kanya IPA Klasik. Petani pembuat/pengrajin sama sekali tidak mengetahui proses yang terjadi dalam mewujudkan hasil karyanya. Demikian pula segala kegiatan yang merupakan larangan berdasarkan kepercayaan. Dengan kata lain, diangap tabu atau pamali atau angker adalah merupakan usaha untuk mempertahankan keseimbangan lingkungan, sebagai contoh tokek tidak boleh dibunuh, ikan di suatu tempat angker tidak boleh dimakan. Mereka tidak melakukan penelitian dan pengujian, namun hanya berdasarkan pengalaman dari nenek moyangnya.

2. IPA Modern

IPA Modern muncul berdasarkan penelitian maupun pengujian dan telah diadakan pembaharuan yang dikaitkan dengan berbagai disiplin ilmu yang ada. Proses canning, pengalengan ikan, buah-buahan, dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan fisika, kimia, biologi, biokimia, dan sebagainya merupakan hasil perkembangan IPA yang telah dinikmati oleh manusia.

(17)

merupakan teknologi modern yang dimanfaatkan dalam bidang kedokteran, transportasi, angkutan bersenjata, dan berbagai bidang penelitian yang berkaitan dengan disiplin ilmu yang lain.

C. Metode Ilmiah

Metode ilmiah adalah prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi, ilmu adalah pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Menurut Senn, metode adalah suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Metodologi adalah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut.Jadi, metodologi ilmiah adalah pengkajian dan peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode. Metode Ilmiah juga bisa dikatakan sebagai suatu pengajaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis, menurut (Almack, 1939) metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan, dan penjelasan kebenaran.

Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan dapat disebut ilmu atau dikatakan ilmiah adalah sebagai berikut.

a. Objektif, artinya pengetahuan itu sesuai dengan objeknya atau didukung metodik fakta empiris.

b. Metodik, artinya pengetahuan itu diperoleh dengan menggunakan cara-cara tertentu yang teratur dan terkontrol.

c. Sistematik, artinya pengetahuan itu disusun dalam suatu sistem di mana satu sama lain saling berkaitan dan saling menjelaskan, sehingga seluruhnya merupakan satu kesatuan yang utuh.

(18)

Pengetahuan yang didapat melalui metode ilmiah diharapkan mempunyai karakteristik tertentu, yakni sifat rasional dan teruji, sehingga memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusun merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. Dalam hal ini metode ilmiah menggabungkan cara berpikir deduktif dan cara berpikir induktif dalam membangun tubuh dan pengetahuannya.

1. Kriteria Metode Ilmiah

Supaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode ilmiah, maka metode tersebut harus mempunyai kriteria sebagai berikut. Berdasarkan fakta, bebas dari prasangka (bisa), menggunakan prinsip-prmnsip analisis, menggunakan hipotesis, menggunakan ukuran objektil dan menggunakan teknik kuantitatif.

a. Berdasarkan Fakta

Keterangan-keterangan yang ingin diperoleh dari penelitian, baik yang akan dikumpulkan dan yang dianalisis haruslah berdasarkan fakta-fakta yang nyata. Janganlah penemuan atau pembuktian didasarkan pada daya khayal, kira-kira, legenda-legenda, atau kegiatan sejenis.

b. Bebas dari Prasangka

Metode ilmiah harus mempunyai sifat bebas prasangka, bersih, dan jauh dari pertimbangan subjektif. Menggunakan suatu fakta haruslah dengan alasan dan bukti yang lengkap serta dengan pembuktian yang objektif.

c. Menggunakan Hipotesis

Dalam memahami sera memberi arti terhadap fenomena yang kompleks, harus menggunakan prinsip analisis. Semua masalah harus dicari sebab musabab serta pemecahannya dengan menggunakan analisis yang logis. Fakta yang mendukung tidaklah dibiarkan sebagaimana adanya atau hanya dibuat deskripsinya saja. Akan tetapi, semua kejadian harus dicari sebab akibat dengan rnenggunakan analisis yang tajam.

d. Menggunakan Ukuran Objektf

(19)

serta memadu jalan pikiran ke arah tujuan yang ingin dicapai, sehingga hasil yang ingin diperoleh akan mengenai sasaran dengan tepat. Hipotesis merupakan pegangan yang khas dalam menuntun jalan pikiran peneliti. e. Menggunakan Teknik Kuantitatif

Yang lazim harus digunakan, kecuali untuk atribut-atribut yang dapat dikuantifikasikan. Ukuran seperti ton, mm, per detik, ohm, kilogram, dan sebagainya harus selalu digunakan. Jauhi ukuran-ukuran seperti sejauh mata memandang, sehitam aspal, sejauh sebatang rokok, dan sebagainya sebagai ukuran kuantitatif. Kuantiatif yang termudah adalah dengan menggunakan ukuran nominal, ranking, dan rating

2. Hipotesis

Hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang sedang kita hadapi yang kebenarannya harus masih diuji secara empiris. Hipotesis pada dasarnya disusun secara deduktif dengan mengambil premis-premis dan pengetahuan ilmiah yang sudah diketahui sebelumnya. Penyusunan seperti ini memungkinkan terjadinya konsistensi dalam mengembangkan ilmu secara keseluruhan dan menimbulkan pula efek kumulatif dalam kemajuan ilmu.

Secara teoretis, sebenarnya kita dapat mengajukan hipotesis sebanyak-banyaknya sesuai dengan hakikat rasionalisme yang bersifat pluralistik. Dari sekian hipotesis yang diajukan, hanya satu yang diterima berdasarkan kriteria kebenaran korespondensi, yakni hipotesis yang didukung oleh fakta-fakta empiris.

3. Operasionalisasi Metode Ilmiah

(20)

a. Perumusan Masalah

Yang dimaksud dengan masalah di sini merupakan pertanyaan apa, mengapa, atau bagaimana tentang objek yang diteliti yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasi factor-faktor yang terkait di dalamnya. b. Penyusunan Kerangka Berpikir dalam Pengajuan Hipotesis

Merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin tendapat antara berbagai faktor yang saling terkait dan membentuk konstelasi permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun sccara rasional bendasarkan premis-premis ilmiah yaang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan c. Perumusan Hipotesis

Merupakan jawaban sementara atau dugaan jawaban pertanvaan yang diajukan materinya.Juga merupakan kesimpulan dan kerangka berpikir yang dikembangkan.

d. Pengujian Hipotesis

Merupakan langkah pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperhatikan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak.

e. Penarikan Kesimpulan

(21)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada Mulanya ilmu pengetahuan timbul di Asia, meluas ke Yunani, kembali ke Asia Timur Tengah, baru kemudian ke Eropa

1. Asia

Dan tanah liat yang dibakar (terra cotta) di lembah sungai Indus diketahui bahwa manusia telah mampu membuat gambaran binatang dan di dekatnya ada tulisan yang sampai sekarang belum diketahui maknanya. Di duga tulisarr tersehut sama maknanya dengan gambar, sehingga disebut Pictograph. Bangsa Cina menggambar alam dengan lambang khusus, kemudian menjadi tulisan. Misalnya pohon dan hutan, huruf ini disebut Cien Gip atau jau Co (Hongji bahasa jepang). Di Timur Tengah orang membuat buku juga dari tanah liat, ditulisi dengan huruf yang berbentuk paku, sehingga disebut huruf paku (hieroglif).

2. Yunani

Yumani merupakan wilayah Eropa yang berbatasan dengan Asia Barat, maka dengan cepat menimba pengetahuan dari Timur. Ilmu pengetahuan yang sudah cukup tinggi tersebut disempurnakan dan ditingkatkan melalui penyelidikan (Inquiring).

B. Saran

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...