• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of SEKOLAH SEBAGAI SISTEM SOSIAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "View of SEKOLAH SEBAGAI SISTEM SOSIAL"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

SEKOLAH SEBAGAI SISTEM SOSIAL

Nur’aini *

* Prodi Manajemen Pendidikan Islam STAI Muara Bulian [email protected]

Abstract

Title intent in writing this is to examine that education is the hope of improving the quality of Human Resources (HR). School or educational institution is a mirror of society, because the school or institution that is the place to transfer and receive science education. In this paper explains the sense of the school, the school's main task, the focus of teaching school and the school as a social system.

Judul niat dalam menulis ini adalah untuk menguji pendidikan yang merupakan harapan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Sekolah atau lembaga pendidikan adalah cermin masyarakat, karena sekolah atau lembaga yang adalah tempat untuk mentransfer dan menerima ilmu pendidikan. Dalam makalah ini menjelaskan arti sekolah, tugas utama sekolah, fokus sekolah pengajaran dan sekolah sebagai sistem sosial.

Keywords: Sekolah, Sistem Sosial

Pendahuluan

(2)

cara demikian, pendidikan diharapkan mampu menjadi aneka macam kebutuhan, tuntutan dan permasalahan yang tengah dihadapi masyarakat.

Dunia pendidikan dimasa depan memang dituntut untuk lebih dekat lagi dengan realitas dan permasalahan hidup yang tengah menghimpit masyarakat. Ungkapan school is mirror society (sekolah/lembaga pendidikan adalah cermin masyarakat) seyogyanya benar-benar mewarnai proses pendidikan yang sedang berlangsung. Sebagai konsekuensinya, lembaga pendidikan harus ikut berperan aktif dalam memecahkan problem sosial.1

Komitmen (kesepakatan) dan concern (permufakatan) terhadap pemecahan problem sosial seperti itu seharusnya menjadi bagian dari visi dan misi dunia pendidikan nasional. Bahkan lembaga pendidikan nasional semakin dituntut untuk lebih melipat gandakan komitmen sosiologisnya mengingat kompleksitas permasalahan yang tengah dihadapi bangsa Indonesia.

Seperti kita ketahui, bangsa Indonesia saat ini sepertinya kehilangan karakter yang telah dibangun berabad-abad. Keramahan, tenggang rasa, kesopanan, rendah diri, suka menolong, solidaritas sosial dan sebagainya yang merupakan jati diri bangsa seolah-olah hilang begitu saja.2 Di lain pihak, warga masyarakat belakangan ini juga dicemaskan oleh maraknya kasus penyalahgunaan narkoba. Ironisnya, penyalahgunaan narkoba telah merambah ke lembaga sekolah dan perguruan tinggi dengan melibatan para pelajar dan mahasiswa.

Permasalahan ini tentu saja menuntut kesadaran kolektif dari lembaga pendidikan dibantu orang tua anak didik, aparat keamanan, aparat penegak hukum dan komponen-komponen masyarakat lain untuk mengatasinya.

Selain narkoba, warga masyarakat juga sering dipusingkan dengan kasus tawuran pelajar. Tawuran telah menjadi fenomena musiman bagi para pelajar yang terjadi pada tiap awal tahun ajaran baru, menjelang akhir pembelajaran atau di sela-sela itu. Oleh karena itu perlu pemahaman intensif terhadap akar penyebab munculnya tawuran pelajar sehingga dapat dilakukan penanganan secara tepat.

Fenomena merosotnya kualitas moral bangsa Indonesia tampaknya telah menggugah kesadaran bersama perlunya memperkuat kembali dimensi moralitas bangsa, diantaranya dengan mengoptimalkan pelaksanaan pendidikan ahlaq/budi pekerti secara optimal dibanding sebelumnya, diasumsikan dengan bekal pendidikan ahlaq/budi pekerti yang cukup, peserta didik akan

1

Zubaidi, Pendidikan Berbasis Masyarakat Upaya Menawarkan Solusi Terhadap Problem Sosial, (Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006), hlm. 5.

2

(3)

memiliki daya tahan (resistensi) secara moral dalam menghadapi godaan dan pengaruh negative dari kehidupan modern.

Namun yang perlu diingat, adalah bahwa keberhasilan proses pembelajaran budi pekerti/ahlaq di sekolah mempersyaratkan adanya dukungan dari insitusi di luar sekolah. Dalam hal ini orang tua, lingkungan masyarakat dan media massa harus memberikan ruangan kondusif bagi proses penanaman dan pembentukan budi pekerti. Termasuk juga tayangan televisi harus bermuatan edukatif sehingga dapat memupuk tumbuhnya nilai-nilai budi pekerti/ahlaq di kalangan anak-anak dan remaja.3

Di pihak lain, bangsa Indonesia yang bersifat multi kultur hingga kini masih dibayangi oleh aneka macam konflik yang bernuansa SARA. Untuk mengantisipasinya tentu saja membutuhkan sebuah paradigm pendidikan dengan melembagakan filsafat pluralism. Budaya dalam sistem pendidikan dengan mengedepankan prinsip persamaan, saling menghargai, menerima dan memahami serta adanya komitmen moral terhadap keadilan sosial.4

Selanjutnya sekolah dapat diartikan sebagai tempat menyemaikan bibit intelektual dalam sebuah kawah candradimuka yang mengisi, mendoktrin, membimbing, megnarahkan serta membuka wawasan dari sebuah kegelapan menuju sebuah pencerahan dalam kehidupan, sekolah juga merupakan wadah persemaian profesionalitas, kreatifitas dan kemandirian yang ditumbuhkan melalui nilai-nilai yang mengikat keseluruhan sistem sekolah dan di sosialisasikan melalui proses pembelajaran. Proses persemaian ini melibatkan seluruh komponen pendukung seperti pemerintah, guru, siswa, kepala sekolah, staf dan pengguna (stakeholder) serta pemitra sekolah lainnya.5

Dari uraian mengenai sekolah atau madrasah yang telah dikemukakan, maka dapat diambil pemahaman, bahwa sekolah atau madrasah adalah lembaga pendidikan yang didalamnya terjadi proses pembelajaran antara peserta didik dan pendidik, dengan menggunakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran guna mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Tujuan Utama Sekolah: Pembelajaran dan Pengajaran

Salah satu masalah yang diajukan oleh program efektivitas sekolaha dan banyak program perbaikan sekolah yang dihasilkan

3

Zubaidi, Pendidikan Berbasis Masyarakat, hlm. 7.

4

Zubaidi, Pendidikan Berbasis Masyarakat, hlm.. 8.

5

(4)

adalah bahwa efektivitas sekolah dipertimbangkan berdasarkan pendekatan instrument sempit untuk mengukur belajar siswa, secara singkat berdasarkan tes kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Padahal selain tiga hal tersebut masih banyak cara untuk menjadi penmdidikan sekolah yang baik.6

Koalisi (kerjasama) sekolah teladan telah tumbuh dari kesadaran yang sama bahwa ada beberapa fungsi pokok yang harus dilakukan sekolah, dan yang tidak seharusnya dibelokkan dari sana. Koalisi itu dihasilkan dari temuan A Study of High Schools yang dipimpin oleh Theodore Sizer, mantan dekan Graduate School of Education di Harvard dan kemudian direktur Philips Academy School Principals (NASSP) dan National Association of Independen School (NAIS). Koalisi itu beranggotakan 40 sekolah dengan 10 diantaranya menjadi kelompok inti untuk bekerja dengan DR. Brown University dalam menghasilkan satu piagam pernyataan untuk rekonstruksi (penyusunan kembali) pendidikan menengah. Dalam bentuknya yang paling sederhana, pandangna koalisi yaitu statemen yang “Kurang itu lebih”, bahwa sekolah telah mengambil terlalu banyak tugas dan kesejahteraannya akan dipulihkan bila melepaskan tugas tambahan dan memusatkan diri pada pencapaian misi utama mereka.7

Sebagai akibatnya, koalisi mengembangkan 9 prinsip yang memuat inti fungsi sekolah dan apa yang dapat dijadikan sebagai manifesto (perwujudan) bagi semua sekolah. Kesembilan prinsip tersebut adalah :

1. Sekolah mempunyai fokus intelektual

Sekolah tidak dapat menjadi segalanya bagi semua orang dan pada intinya sekolah itu tidak ada untuk membantu orang mengembangkan pikiran mereka.

2. Tujuan sekolah harus sederhana

Tujuan utama sekolah adalah untuk menjamin bahwa setiap siswa menguasai sejumlah keterampilan pokok atau bidang ilmu pengetahuan. Hal ini menekankan belajar tuntas terhadap silabus yang ditentukan secara jelas.

3. Tujuan sekolah berlaku untuk semua

Tujuan sekolah berlaku untuk semua kelompok siswa, bukan berlaku hanya kepada sebagian saja. Sekolah perlu merancang pelajarannya sehingga setiap siswa memiliki kesempatan untuk belajar dengan baik.

4. Metafora (pemakaian kata-kata bukan arti sebenarnya, melainkan lukisan yang berdasarkan persamaan atau

6

Cyril Poster, Gerakan Menciptakan Sekolah Unggul (Penerbit Lembaga Indonesia Adidaya, Jakarta, 2000), hlm.119.

7

(5)

perbandingan) yang berlaku adalah siswa sebagai pekerja. Aktivitas sekolah didasarkan kepada siswa sebagai pelajar, bukan didasarkan kepada guru sebagai pekerja yang belum didasarkan kepada guru sebagai pekerja yang menyampaikan program pendidikan. Maka sekolah menekankan bahwa siswa sendirilah yang bertanggung jawab atas pelajaran mereka. 5. “Pameran Siswa” itu dituntut

Sekolah menuntut siswa menunjukkan bahwa mereka telah menguasai pelajaran. Maka ijazah, kemampuan atau wisuda berarti tidak lebih dari bahwa siswa dapat menunjukkan bukti bahwa mereka ialah belajar dan tampil dengan baik.

6. Sikap itu penting

Suasana sekolah tergantung kepada sikap yang baik. Dengan demikian sekolah akan mewujudkan nilai-nilai harapan yang menggembirakan, kepercayaan dan kesopanan, dan orang tua akan diperlakukan sebagai mitra kerja utama dalam mengembangkan nilai-nilai ini.

7. Staf : spesialis dalam generalis

Setiap anggota staf diharapkan memiliki komitmen (kesepakatan) kepada sekolah secara keseluruhan dan misinya. Tanggung jawab generalis ini juga meliputi spesialisasi guru untuk pelajaran tertentu dalam kurikulum. 8. Pendidikan adalah belajar secara individual

Baik aktivitas belajar maupun mengajar, perlu untuk dijadikan sebagai kegiatan perseorangan. Karena itu, guru tidak boleh diberikan begitu banyak siswa sehingga tidak dapat lagi mengenali siswanya satu persatu. Seharusnya guru memiliki kurang dari 80 siswa yang berada dibawah pengawasannya, tanpa kecuali, guru harus memiliki tanggung jawab memiliki ilmu pendidikan yang menjamin bahwa setiap siswanya mampu mengambil pelajaran yang sesuai. 9. Anggaran menunjukkan prioritas

Sumber daya sekolah, khususnya anggaran, seharusnya mendapat apa yang menjadi prioritas tertinggi. Sekolah mungkin mesti mengurangi atau menghilangkan beberapa pelayanan dalam rangka memelihara kualitas pelayanan utama.8

Dari pembahasan yang telah dikemukakan, hal ini membawa kita kepada salah satu bangunan dasar untuk menciptakan sekolah yang efektif dan unggul. Tentunya sekolah harus memusatkan diri kepada tugas utamanya, dan seharusnya disusun dalam kerangka mendukung esensi tersebut.

8

(6)

Cukup menarik bahwa masalah ini merupakan salah satu prinsip perencanaan yang diajukan oleh Peters dan Waterman, berdasarkan temuan mereka dari sebuah survey antar perusahaan-perusahaan paling sukses di Amerika. Tetap pada rajutan, mereka sarankan : organisasi yang unggul adalah mereka yang mengetahui apa yang terbaik untuk dilakukan bagi kepentingan mereka sendiri, yang memiliki keterampilan ahli pada bidang tertentu, dan yang mencurahkan perhatian mereka kepada bidang tersebut bukan membiarkan pemborosan atau sikap yang pelit.9

Kesimpulannya, koalisi sekolah teladan telah melaksanakan penerapan pendidikan secara sederhana pada poin ini juga dalam model ceramah. Dan lebih jelasnya, sekolah adalah tempat belajar yang berfokus kepada siswa.

Fokus Pengajaran Sekolah

Sesuatu yang menarik untuk dicatat, betapa seringnya istilah pengajaran muncul dalam literature sekolah efektif. Sebagai contoh, kepala sekolah yang baik tidak mesti pengelola atau manajemen sekolah yang efektif, melainkan pemimpin pengajaran. Guru terbaik adalah mereka yang memiliki harapan pendidikan tinggi terhadap siswanya dan tidak malu tentang pengajaran formal. Sekolah terbaik mendefinisikan tugas pengajaran secara jelas sebagai program pengajaran formal.10

Dari beberapa literature memaparkan bahwa kelas yang paling efektif ditandai dengan waktu yang lebih banyak digunakan untuk tugas dengan jam pelajaran formal dan dengan pendekatan yang teratur dan sistematis terhadap kegiatan belajar dan mengajar.11

Mungkin juga baik bagi sekolah untuk dikaji ulang, dari fungsinya yang berlainan dan kegiatan tak terprogram yang dibebankan kepadanya. Sekolah dengan sendirinya akan terus memperhatikan kesejahteraan sosial siswa, namun dia utamanya menjadi masalah orientasii dan fokus. Sekolah ada untuk mendukung belajar dan tujuan utamanya harus memasukkan semua hal yang ingin dilakukan sekolah.

Sekolah Efektif Menggunakan Penilaian dan Pengajaran Yang Sistematis

Suatu organisasi tidak akan efektif kecuali bila memiliki tujuan yang akan dicapai. Efektifitas berarti pencapaian tujuan, maka tidaklah mengherankan bahwa sekolah yang baik memiliki

9

Cyril Poster, Gerakan Menciptakan Sekolah Unggul, hlm.122.

10

Cyril Poster, Gerakan Menciptakan Sekolah Unggul, hlm.122.

11

(7)

kurikulum yang secara terus-menerus di evaluasi serta kemajuan siswa dijajaki secara teratur.

Shoemaker dan Fraser menulis:

“Keyakinan akan perlunya tujuan pengajaran didefinisikan dengan baik dan sistem evaluasi yang komprehensif menjadi hal yang lazim dan hampir tidak berarti. Meskipun demikian, prestasi siswa terkait dengan pengetahuan siswa dan guru kemana mereka menuju, dan meneliti seberapa jauh mereka telah maju. Dalam sekolah yang mencapai prestasi tinggi, tujuan pengajaran menentukan, dan tes serta evaluasi memperoleh perhatian serius dan cermat.”12

Selanjutnya Shoemaker dan Fraser juga mengatakan bahwa temuan yang paling konsisten dalam kajian efektifitas sekolah adalah hubungan signifikan antara harapan dan kemajuan. Sangat sederhana, siswa dipacu menuju harapan yang ditetapkan oleh sekolah untuk mereka capai. Mereka diharapkan untuk maju, dan mereka benar-benar maju.13

Akan halnya sekolah efektif terdapat harapan bahwa siswa belajar dengan baik, Coleman berpendapat : Bahwa “Pengendalian takdir” sebagai faktor yang kuat dalam menentukan prestasi siswa di sekolah. Istilah ini bermakna tingkat dimana siswa menilai bawa mereka sendirilah yang mengelola kehidupannya. Cukup menarik, salah satu sarana untuk meningkatnya “Pengendalian takdir” adalah dengan cara membuat orang tua terlibat dalam kehidupan, pekerjaan dan program sekolah. Apabila orang tua memperhatikan mereka dapat mengubah status que (seperti patung) dengan tindakan mereka, anak-anak juga akan menjadi yakin terhadap diri mereka sendiri.14

Dalam hal yang sama tentang sekolah efektif terdapat harapan bahwa siswa belajar dengan baik, Carol Lopate mempunyai pandangan sebagai berikut :

“Ketika orang tua terlibat dalam proses pengambilan keputusan pendidikan, anak-anak mereka bekerja lebih baik di sekolah. Prestasi yang meningkat ini mungkin disebabkan oleh pengurangan jarak antara tujuan di rumah dan tujuan di sekolah serta perubahan sikap guru sebagai hasil rasa tanggung jawab yang lebih besar ketika orang tua anak dapat terlihat di sekolah. Hal ini juga dikaitkan dengan meningkatnya kesadaran pengendalian yang dirasakan anak

terhadap “takdir-nya sendiri ketika melihat orang tuanya

12

Cyril Poster, Gerakan Menciptakan Sekolah Unggul, hlm.123.

13

Cyril Poster, Gerakan Menciptakan Sekolah Unggul, hlm.123.

14

(8)

secara aktif terlibat dalam pengambilan keputusan di sekolah.”15

Pelukisan yang menonjol dalam penelitian sekolah efektif, juga dikemukakan oleh Wilbur Brookover pada tahun 1978 mengenai sebuah studi yang ia dan timnya dari Michigan lakukan untuk menelusuri bagaimana suasana sekolah atau subkultur mempengaruhi belajar. Mereka menemukan : Bahwa kesadaran kegagalan akademik siswa jelas berpengaruh lebih dari variable (berubah-ubah) suasana lainnya. Tampaknya yang memperbaiki prestasi siswa adalah komitmen guru terhadap perbaikan, harapan akademik yang tinggi tentang siswa yang terlihat dalam evaluasi konkrit serta dalam informasi kepada siswa tentang apa yang diharapkan dari mereka, dan usaha yang cermat dengan kepala sekolah. Siswa tampaknya perlu diingatkan berulang kali tentang jaminan bahwa mereka dapat belajar dan bahwa siswa dapat dikuasai.16

Dari apa yang telah dikemukakan oleh Brookover beserta timnya dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut :

1. Bahwa guru dalam sekolah dengan prestasi yang lebih tinggi memerlukan proporsi waktu pengajaran yang lebih banyak. 2. Bahwa sekolah dengan prestasi yang lebih rendah cenderung

mengurangi proporsi yang lebih besar bagi siswanya.

3. Bahwa sekolah dengan prestasi yang lebih tinggi cenderung menciptakan aktivitas kompetitif sehingga kelompok-kelompok siswa berlomba sebagai tim bukannya individual. 4. Bahwa guru dalam sekolah dengan prestasi lebih tinggi

segera melakukan koreksi dan menyediakan pengajaran ulang ketika siswa gagal memberikan jawaban yang benar. Penguatan positif diberikan kepada siswa yang memberikan yang benar.

Sekolah Efektif Memiliki Suasana Tertib dan Aman Yang Kondusif Mendorong Belajar Mengajar

Suasana sekolah merupakan masalah yang diberikan perlakuan yang cukup luas dalam literature administrasi pendidikan, sehingga menjadi layak apabila ditanyakan struktur manajemen apa yang cenderung ditemukan dalam sekolah efektif.

Pada tahun 1979 Cecil Miskel melaporkan studi di Kansas yang mendokumentasi beberapa faktor keorganisasian yang membantu sekolah menjadi efektif. Miskel melaporkan bahwa sebuah organisasi efektif ditandai oleh produktivitas, kemampuan beradaptasi, loyalitas dan kepuasan tugas. Paling tidak dapat

15

Cyril Poster, Gerakan Menciptakan Sekolah Unggul... hlm.124.

16

(9)

diperhatikan bahwa guru akan melaksanakan tugas mengajar mereka lebih baik apabila mereka puas dengan pekerjaan mereka, apabila mereka mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan lingkungan dan apabila mereka memili keyakinan dan kepercayaan kepada pemimpin.17

Sekolah Efektif Memiliki Pendidik Yang Kuat Sebagai Kepala Sekolahnya

Kepala sekolah biasanya menonjol dalam ungkapan apapun mengenai sekolah efektif. Akan tetapi, yang menarik adalah bahwa tidak ada potret yang jelas muncul, setidaknya mengenai caranya mengorganisasi sekolah atau mengenai gaya manajerialnya. Jelas bahwa kepala dari sekolah yang efektif itu dapat menjadi kolaboratif (kerja bersama-sama) atau dictatorial (tidak demokratis), ramah atau keras, tetapi satu karakteristik umum yang tampak adalah bahwa kepala sekolah yang efektif haruslah seorang pendidik – orang yang jelas merupakan pemimpin pengajaran.

Dalam masalah ini, perlu kiranya dikemukakan pendapat Hough yang menunjukkan bahwa banyak aspek administrasi sekolah (dan sistem sekolah) tampak terkait secara leluasa dengan tugas utama sekolah, yaitu belajar mengajar dan mungkin menarik untuk melaksanakan semuanya itu. Namun hal ini adalah bidang manajer kebudayaan. Untuk itu Hough mengusulkan bahwa ketika salah satu dari sejumlah pertimbangan, berupa pertanyaan rujukan yang paling penting dalam memutuskan jawaban adalah : Pilihan mana yang paling sesuai untuk mendukung tujuan kurikulum terpilih dari sekolah?. Secara singkat, pemimpin atau kepala sekolah harus memahami kurikulum.18

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sekolah efektif memerlukan seorang figure yang dapat mengorganisasikan seluruh komponen yang ada didalamnya serta memanaje dengan baik serta berkolaborasi dengan pihak-pihak yang ada didalamnya seperti guru, siswa. Staf serta orang tua sebagai pengguna dan aspek lain, yaitu penentuan kurikulum yang akan dipakai. Untuk itu semua sekolah efektif haruslah memiliki seorang pendidik yang kuat sebagai seseorang yang dijadikan pemimpin pengajaran.

Sekolah Sebagai Sistem Sosial

Kata sistem sosial, terdiri dari dua kata, yaitu sistem dan sosial. Kata sistem artinya: 1. Sekelompok bagian-bagian (alat tersebut) yang bekerja bersama-sama untuk melakukan sesuatu maksud; 2. Sekelompok dari pendapat, peristiwa, kepercayaan

17

Cyril Poster, Gerakan Menciptakan Sekolah Unggul.., hlm.125.

18

(10)

tersebut yang disusun dan diatur baik-baik; 3. Cara (metode) yang teratur untuk melakukan sesuatu.19 Sedangkan definisi sistem menurut Shore & Voich ialah suatu keseluruhan yang terdiri dari sejumlah bagian-bagian.20 Adapun Gerald, mendefinisikan sistem ialah tata cara kerja yang saling berkaitan, dan bekerja sama membentuk suatu aktifitas atau mencapai suatu tujuan tertentu.21 Sistem menurut Banghari ialah sekelompok elemen-elemen yang saling berkaitan yang secara bersama-sama diarahkan untuk mencapai tujuan yang ditentukan.22 Murdick & Ross mendefinisikan sistem sebagai seperangkat unsure yang melakukan suatu kegiatan atau membuat skema dalam rangka mencapai tujuan dengan mengolah data dan atau energy serta barang-barang dalam waktu tertentu untuk menghasilkan informasi dan atau energy dan atau benda.23

Dari beberapa definisi yang telah dipaparkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem adalah metode yang teratur untuk melakukan kerja yang saling berkaitan dan bekerja sama membentuk aktivitas untuk mencapai suatu tujuan.

Adapun kata sosial, artinya (segala sesuatu) yang mengenai masyarakat ; kemasyarakatan.24

Apabila dua kata yaitu sistem dan sosial disandingkan menjadi kata sistem sosial, maka artinya adalah, struktur jaringan hubungan masyarakat antara sejumlah orang yang menempati kedudukan atau posisi tertentu. Adanya sistem sosial itu mengakibatkan adanya struktur organisasi sosial di sekolah, baik menurut pola organisasi formasl (maupun informal). Pola organisasi formal terbentuk secara resmi dan biasanya digambarkan dalam suatu bagan organisasi (organogram) dengan menunjukkan garis perintah dan garis konsultasi.

19

W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, hlm. 955.

20

Husaini Usman, Manajemen , Teori Praktek & Riset Pendidikan..,

(Bumi Aksara, Jakarta, 2008), edisi kedua, cet 1, Hal. 38

21

Husaini Usman, Manajemen , Teori Praktek & Riset Pendidika.., hlm. 38.

22

Husaini Usman, Manajemen, Teori Praktek & Riset Pendidikan.., hlm. 38.

23

Husaini Usman, Manajemen , Teori Praktek & Riset Pendidikan.., hlm. 38.

24

(11)

_________ : Garis Perintah --- : Garis Konsultasi

Bagan Sistem Sosial di Sekolah

Menurut Pola Organisasi Formal Menurut Pola Organisasi Informal

Mencakup

Kepala Sekolah Badan Penasehat

(12)

Penghasut : Siswa yang mengambil inisiatif, tetapi puas dengan mendorong siswa. Biasanya bersifat mengacau

Organisator : Siswa yang mengambil inisiatif secara aktif memimpin biasanya bersifat membangun Pola Organisasi Formal : Mengikuti ketentuan yang

diambil oleh mereka yang berwenang

Pola Organisasi Informal : Mengikuti ketentuan yang dibuat oleh orang sendiri, lepas dari ketentuan resmi Dalam keseluruhan sistem sosial di sekolah, terdapat beberapa kedudukan atau posisi yang membawa prestise (kehormatan) tinggi, baik dalam rangka pola organisasi formal maupun informal. Ini berarti, bahwa orang-orang itu mendapat penghargaan dan kehormatan tinggi, berdasarkan peranan yang mereka pegang atau wewenang yang mereka miliki. Misalnya dalam rangka pola organisasi formal, kepala sekolah mendapat kehormatan tertinggi berdasarkan wewenang yang dimilikinya ; maka kedudukan kepala sekolah mendapat prestise tertinggi. Demikian pula kedudukan ketua OSIS, mendapat prestise tinggi dan dipandang sebagai posisi terhormat, baik oleh para guru maupun oleh para siswa. Dalam rangka pola organisasi informal, seorang guru yang sudah lama bertugas di sekolah mendapat penghargaan khusus dan kerap diakui oleh guru-guru lain sebagai seorang pemimpin, meskipun kedudukannya sebagai seorang pemimpin tidak pernah diatur secara resmi. Kedudukan itu membawa prestise tinggi. Demikian pula suatu kelompok siswi yang pandai show off dalam berpakaian atau berhias atau suatu kelompok siswa yang pandai show off dalam keterampilan naik sepeda motor, dapat memperoleh kedudukan istimewa dalam kalangan siswa. Semua siswa kagum akan prestasi teman-teman itu, meskipun bukan prestasi dibidang akademik. Seorang siswa yang terkenal sebagai jago berpacaran, menunjukkan suatu prestasi yang dihargai tinggi oleh siswa-siswa lain. Kedudukan kelompok show off atau jago berpacaran, mendapat prestise tinggi, berdasarkan prestasi yang dikagumi oleh siswa-siswa lain.

(13)

kedudukan itu belum mempunyai prestasi yang patut dihargai. Disuatu sekolah menengah di kota besar sering dapat disaksikan bahwa siswa yang datang ke sekolah dengan naik sepeda motor, oleh teman-temannya dianggap berada “dibawah norma”, yang berlaku sebagai norma ialah harus datang ke sekolah dengan naik sepeda motor, oleh teman-temannya dianggap berada “dibawah norma”. Yang berlaku sebagai norma ialah harus datang ke sekolah dengan naik sepeda “dianggap sebagai posisi kurang terhormat” ; karena kurang terhormat, kedudukan itu membawa prestise rendah.

Tinggi rendahnya prestise yang melekat pada kedudukan tertentu, menunjukkan pada status sosial. Status sosial ialah tinggi atau rendahnya prestise (kehormatan) yang diberikan kepada seseorang warga sekolah, berdasarkan posisi yang dipegangnya dalam keseluruhan sistem sosial yang berlaku di sekolah, baik menurut pola organisasi formal maupun informal.

Dari paparan yang telah dikemukakan di atas, maka yang dimaksud sekolah sebagai sistem sosial adalah lembaga pendidikan yang di dalamnya terjadi proses pembelajaran antara pendidik dan peserta didik, dengan seperangkat rencana serta pengaturan tentang tujuan, isi, bahan pengajaran serta metode yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran guna mencapai tujuan pendidikan dalam struktur jaringan kemasyarakatan.

Penutup

1. Sebagai lembaga pendidikan yang berorientasi pada masyarakat, maka program efektifitas sekolah harus dipertimbangkan secara cermat, agar tercipta pendidikan yang baik.

2. Beberapa prinsip yang harus dipertimbangkan, antara lain : a) Sekolah berfokus intelektual.

b) Tujuan sekolah harus sederhana. c) Tujuan sekolah berlaku untuk semua.

d) Pameran siswa itu perlu, artinya sekolah menuntut siswa menunjukkan bahwa mereka menguasai pelajaran.

e) Sikap itu penting, artinya suasana sekolah tergantung kepada sikap yang baik.

f) Staf : Spesialis dalam generalis, artinya setiap anggota staf harus memiliki komitmen kepada sekolah secara keseluruhan. g) Pendidikan adalah belajar secara individual.

(14)

Bibliografi

Anomin, Peranan Belajar di Sekolah.

Anonim, Pemanajemenan Berbasis Madrasah, Jakarta Depag R.I, 2003.

Cyril Poster, Gerakan Menciptakan Sekolah Unggul, Lembaga Indonesia Adidaya, Jakarta, 2000.

Dasim Budi Mansyah, Model Pembelajaran : Fortofolio. PT.Genesindo, Bandung, 2003.

E. Mulayasah, Kurikulum berbasis kompetensi, PT.Remaja Rosda Karya, Bandung, 2004.

Husdini Usman, Manajemen – Teori Praktek dan Riset Pendidikan, PT. Bumi Angkasa, Jakarta, 2008.

Mochtar Buchori, Transformasi Pendidikan, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1995.

Mohammad Irfan – Masturi H.S, Teori Pendidikan, Friska Agung Insani, Jakarta, 2008.

Muhammad Imarah, Islam dan Keamanan Sosial, Gema Insani, Jakarta, 1999.

Muhammad Yunus, Pendidikan dan Pengajaran, PT. Hida Karya, Jakarta.

W.J.S Poerwadarminta, Kamus Lengkap Inggris – Indonesia Indonesia – Inggris, Hasta, Bandung, 1980.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil Ukur Skala Ukur Peran keluarga dalam pemenuhan kebutuhan interaksi sosial Perilaku oleh keluarga yang diharapkan dari seseorang yang menempati posisi sosial yang diberikan

Kesimpulan yang dapat diberikan adalah: Secara keseluruhan sebagian besar keluarga responden termasuk golongan ekonomi menengah ke bawah, dan status sosial

sekolah sebagai organisasi sosial dalam pengembangan pembelajaran merupakan suatu wadah organisasi yang di dalamnya terdapat unsur-unsur yang mendukung kinerja dalam

Pengabdian kepada Masyarakat yang berjudul Peningkatan Kualitas Konten pada Media Sosial Sekolah sebagai Sarana Promosi dan Branding Sekolah di Surabaya dilaksanakan ada 2- 3

Peneliti : Materi apa saja yang diberikan dalam pembinaan keagamaan bagi remaja Putus Sekolah di Balai Rehabilitasi Sosial “Wira Adhi Karya” Ungaran Informan : Secara

Dan, dengan demikian, Kyai semakin menemukan dirinya menduduki peran sosial baru yang mengandung kemungkinan baik untuk mengamankan dan meningkatkan kekuatan sosial dan prestise, Dan

Hal tersebut merupakan salah satu alasan pentingnya IPS diajarkan di sekolah dasar, sesuai dengan tujuan pendidikan IPS di SD yaitu untuk mempersiapkan peserta didik menjadi warga

SIMPULAN Berdasarkan_hasil_penelitian dilapangan dan pembahasan yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan, bahwa media sosial dapat menjadi alat yang efektif dalam sistem