1.
RUANG LINGKUP PEKERJAAN
Ruang lingkup pada pekerjaan ini meliputi : 1. Pengukuran Hidrograf
Pengamatan pasut dilakukan untuk memperoleh data tinggi muka air laut di suatu lokasi. Berdasarkan hasiI pengamatan tersebut dapat ditetapkan datum vertikal tertentu yang sesuai untuk keperluan-keperluan tertentu pula. Pengamatan pasut dilakukan dengan mencatat atau merekam data tinggi muka air laut pada setiap interval waktu tertentu. Rentang pengamatan pasut sebaiknya dilakukan selama selang waktu keseluruhan periodisasi benda-benda langit yang mempengaruhi terjadinya pasut telah kembali pada posisinya 'semula'. Rentang waktu pengamatan pasut yang lazim dilakukan untuk keperluan praktis adalah 15 atau 29 piantan (1 piantan = 25 jam). Interval waktu pencatatan atau perkaman tinggi muka laut biasanya adalah 15, 30 atau 60 menit.
Cara yang paling sederhana untuk mengamati pasut dilakukan dengan palem atau rambu pengamat pasut. Tinggi muka air setiap jam diamati secara manual oleh operator (pencatat) dan dicatat pada suatu formulir pengamatan pasut. Pada palem dilukis tanda-tanda skala bacaan dalam satuan desimeter. Pencatat akan menuliskan kedudukan tinggi muka air laut relatif terhadap palem pada jam-jam tertentu sesuai dengan skala bacaan yang tertulis pada palem. Muka air laut yang relatif tidak tenang membatasi kemampuan pencatatan dalam
-1-menaksir bacaan skala. Walaupun demikian, cara ini cukup efektif untuk memperoleh data pasut dengan ketelitian hingga sekitar 2.5 cm. Tinggi palem disesuaikan dengan karakter tunggang air pada wilayah perairan yang diamati pola pasutnya, yang biasanya sekitar 2 hingga 3 meter.
Beberapa persyaratan untuk penempatan lokasi stasiun pasut yang harus dipenuhi antara lain adalah:
Lokasi stasiun pasut harus menggambarkan karakteristik pasang surut di daerah sekitarnya.
Tanah di daerah lokasi stasiun pasut harus keras (tidak berlumpur).
Lokasi stasiun pasut sebaiknya jauh dari muara sungai, untuk menghindari pengaruh aliran serta endapan dan sampah yang terbawa menuju ke laut.
Perairan di lokasi stasiun pasut diupayakan bersih dan jernih serta tidak terganggu oleh tetumbuhan laut yang ada di sekitarnya.
Lokasi dicari sedemikian rupa agar memudahkan pengawasan dan pemeliharaan stasiun pasut.
Terlindung dari pengaruh ombak dan gelombang serta pengaruh lainnya secara langsung.
2.1.2 Tipe Pasang Surut
Tipe pasang surut di berbagai daerah tidak sama, di suatu daerah dalam satu hari dapat terjadi satu kali atau dua kali pasang surut. Secara umum tipe pasang surut di berbagai daerah dapat dibedakan menjadi empat tipe yaitu pasang surut harian tunggal (diurnal tide), pasang surut harian ganda (semidiurnal tide), pasang surut campuran condong ke harian ganda (mixed tide prevailing semidiurnal), dan pasang surut campuran condong ke harian tunggal (mixed tide prevailing diurnal).
Dengan didapatkannya nilai amplitudo dari komponen pasang surut, dapat ditentukan tipe pasang surut yang terjadi pada lokasi, yaitu dengan melakukan perhitungan Formzall (F) dengan persamaan sebagai berikut:
AO = amplitudo komponen O1
AK1 = amplitudo komponen K1
AS2 = amplitudo komponen S2
Penjelasan untuk masing-masing tipe pasang surut dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.
Tabel 1 Tipe Pasang Surut.
Bilangan
Formzall (F) Tipe Pasang Surut Keterangan
F < 0.25 Pasang harian ganda (semi
diurnal)
Dalam 1 hari terjadi 2 kali air pasang dan 2 kali air surut dengan ketinggian yang hampir sama
dan terjadi berurutan secara teratur
0.25 < F < 1.5 Campuran, condong ke semi
diurnal
Dalam 1 hari terjadi 2 kali air pasang dan 2 kali air surut dengan ketinggian dan periode yang
berbeda
1.5 < F < 3.0 Campuran, condong ke diurnal
Dalam 1 hari terjadi 1 kali air pasang dan 1 kali air surut dengan ketinggian dan periode yang
berbeda
F > 3.0 Pasang harian tunggal
(diurnal)
Dalam 1 hari terjadi 1 kali air pasang dan 1 kali air surut
2.1.3 Analisis Harmonik Admiralty
Analisis harmonic admiralty merupakan salah satu metode peramalan pasut untuk kondisi pasut pada saat mendatang. Dengan adanya data pasut hasil pengukuran yang terbatas, maka kita dapat meramalkan kondisi pasut yang akan datang, yaitu dengan mengekstrak komponen pasut utama hasil pengukuran. Untuk mengekstrak komponen utama pasut tersebut yaitu dengan menggunakan table admiralty, dimana kita memasukan data pasut hasil pengukuran ke dalam table dengan perhitungan sedemikian rupa sehingga kita dapat komponen utama pasut tersebut.
2.1.4 Peramalan Pasang Surut
Setelah kesembilan komponen pasut berikut amplitudo dan fasanya diketahui, maka perubahan elevasi muka air akibat pasang surut dihitung untuk jangka waktu tertentu.
Berdasarkan peramalan pasang surut, didapatkan data fluktuasi elevasi muka air laut selama jangka waktu tertentu. Untuk keperluan perencanaan, ditetapkan elevasi-elevasi yang digunakan sebagai elevasi acuan dengan cara menganalisa data ramalan pasang surut tersebut. Analisa dilakukan dengan metode statistika.
Elevasi-elevasi pasang surut yang biasa digunakan adalah sebagai berikut:
HHWL (Highest High Water Level) : Tinggi muka air maksimum dalam rentang waktu
yang ditinjau.
MHWS (Mean High Water Spring) : Rata-rata dari tinggi muka air maksimum tiap
spring dalam rentang waktu yang ditinjau
-3-MHWL (Mean High Water Level) : Rata-rata dari tinggi muka air maksimum tiap kali pasang dalam rentang waktu yang ditinjau
MSL (Mean Sea Level) : Rata-rata muka air dalam rentang muka air yang
ditinjau
MLWL (Mean Low Water Level) : Rata-rata dari tinggi muka air minimum tiap kali
surut dalam rentang waktu yang ditinjau
MLWS (Mean Low Water Spring) : Rata-rata dari tinggi muka air minimum pada saat
spring dalam rentang waktu yang ditinjau
LLWL (Lowest Low Water Level) : Tinggi muka air terendah dalam rentang waktu yang ditinjau.
2.1.5 Lokasi Survey
Pengamatan pasut yang telah dilakukan pada pekerjaan ini, dilakukan pada 1(satu) stasiun pasut dengan durasi pengukuran selama 15 hari, dengan interval pembacaan setiap 1 jam.
Alat utama yang digunakan dalam pengamatan pasut ini adalah peralatan pengukur dengan dengan menggunakan tide log A-OTT dan rambu pasut buat pengecekan bacaan.
Untuk lebih jelasnya mengenai pengamatan pasut dapat dilihat pada penjelasan berikut ini : 1. Lokasi stasiun pasut berada di sekitar garis pantai, seperti diperlihatkan Gambar 1
berikut.
2. Pengamatan pasut dilakukan selama 15 hari dengan interval waktu pengamatan setiap 1 jam mulai dari tanggal 18 Desember 2010 sampai tanggal 01 Januari 2011.
-5-2.1.6 Data Pasut
Dari hasil pengamatan pasut yang dilakukan selama 15 hari dengan interval waktu pengamatan pasut setiap 1 jam mulai dari tanggal 18 Desember 2010 sampai tanggal 01 Januari 2011 diperoleh data seperti pada tabel berikut ini :
Tabel 2 Data pasut
J am/Tgl 18-12-10 19-12-10 20-12-10 21-12-10 22-12-10 23-12-10 24-12-10 25-12-10 26-12-10 27-12-10 28-12-10 29-12-10 30-12-10 31-12-10 1/1/2011
0:00:00 288.0 277.0 269.0 274.0 275.0 283.0 295.0 292.0 310.0 330.0 307.0 308.0 310.0 297.0 294.0
1:00:00 283.0 275.0 262.0 266.0 268.0 270.0 277.0 277.0 283.0 298.0 286.0 278.0 272.0 286.0 279.0
2:00:00 270.0 273.0 264.0 262.0 263.0 263.0 261.0 268.0 281.0 272.0 269.0 275.0 270.0 270.0 270.0
3:00:00 275.0 272.0 266.0 262.0 262.0 258.0 250.0 262.0 280.0 279.0 265.0 260.0 270.0 278.0 260.0
4:00:00 271.0 272.0 271.0 270.0 274.0 258.0 262.0 260.0 274.0 267.0 273.0 253.0 256.0 254.0 257.0
5:00:00 268.0 270.0 273.0 284.0 275.0 266.0 267.0 278.0 270.0 264.0 264.0 250.0 249.0 248.0 242.0
6:00:00 261.0 269.0 274.0 275.0 278.0 276.0 280.0 275.0 287.0 281.0 276.0 299.0 252.0 254.0 256.0
7:00:00 250.0 265.0 272.0 275.0 277.0 278.0 284.0 289.0 294.0 295.0 290.0 280.0 273.0 259.0 261.0
8:00:00 250.0 258.0 260.0 268.0 274.0 280.0 290.0 298.0 298.0 302.0 303.0 298.0 297.0 270.0 268.0
9:00:00 250.0 258.0 254.0 254.0 264.0 265.0 273.0 286.0 302.0 311.0 317.0 313.0 298.0 285.0 270.0
10:00:00 270.0 260.0 250.0 248.0 240.0 252.0 260.0 276.0 285.0 304.0 320.0 315.0 315.0 299.0 279.0
11:00:00 270.0 270.0 255.0 248.0 240.0 233.0 245.0 254.0 288.0 302.0 318.0 325.0 325.0 308.0 299.0
12:00:00 295.0 285.0 264.0 253.0 245.0 233.0 238.0 244.0 263.0 290.0 299.0 322.0 326.0 315.0 324.0
13:00:00 310.0 305.0 288.0 269.0 254.0 242.0 247.0 240.0 250.0 278.0 296.0 320.0 325.0 325.0 324.0
14:00:00 328.0 320.0 315.0 290.0 275.0 256.0 253.0 243.0 254.0 271.0 292.0 303.0 325.0 333.0 330.0
15:00:00 344.0 345.0 354.0 321.0 317.0 286.0 267.0 258.0 259.0 277.0 285.0 303.0 328.0 342.0 355.0
16:00:00 348.0 356.0 375.0 350.0 332.0 308.0 302.0 280.0 276.0 282.0 280.0 300.0 323.0 345.0 333.0
17:00:00 348.0 362.0 376.0 378.0 371.0 345.0 323.0 304.0 299.0 299.0 298.0 304.0 326.0 332.0 372.0
18:00:00 344.0 354.0 369.0 386.0 388.0 371.0 322.0 343.0 314.0 315.0 310.0 309.0 319.0 327.0 356.0
19:00:00 334.0 347.0 350.0 384.0 389.0 370.0 365.0 360.0 338.0 330.0 320.0 312.0 317.0 322.0 355.0
20:00:00 323.0 331.0 330.0 374.0 382.0 382.0 375.0 370.0 348.0 338.0 327.0 315.0 315.0 320.0 329.0
21:00:00 304.0 315.0 309.0 353.0 367.0 370.0 352.0 267.0 355.0 340.0 322.0 320.0 315.0 319.0 325.0
22:00:00 298.0 296.0 290.0 316.0 342.0 352.0 349.0 352.0 342.0 336.0 329.0 320.0 312.0 305.0 307.0
23:00:00 288.0 280.0 278.0 300.0 313.0 324.0 331.0 331.0 334.0 319.0 305.0 312.0 310.0 295.0 298.0
Ket: Satuan dalam CentiMeter
Gambar 2 Grafk Pasang Surut
2.1.7 Pengolahan Data Pasut
Pada pekerjaan ini pengolahan data pasut dilakukan dengan menggunakan metode Admiralty dan hasilnya dapat dilihat berikut ini :
1. Monaural Konstituen Pasut
S0 M2 S2 N2 K1 O1 M4 MS4 K2 P1
Amplitudo 296.3 24.4 20.3 2.8 5.5 24 14.8 7.9 0.3 1
Beda Fase 0 28.5 227.9 351.2 227.9 278.3 162.5 278.3 17.4 250.7
2. Menentukan Tipe Pasang Surut
Berdasarkan bilangan formzal, yaitu perbandingan komponen diurnal dengan komponen semidiurnal dimana perumusannya diformulasikan pada persamaan berikut.
F =
2 AS 2 AM
1 AK 1 AO
=
0.660
Maka tipe pasut Biluhu Timur termasuk pada tipe pasut campuran condong ke semi
diurnal, artinya pada umumnya dalam 1 hari terjadi 2 kali air pasang dan 2 kali air surut
dengan ketinggian dan periode yang berbeda akan tetapi pada waktu neap terjadi satu kali pasang sehari.
-7-3. Menghitung Elevasi Muka Air
Elevasi pasang surut (muka air penting) yang diperoleh pada pengamatan pasut di lokasi Sekitar Muara Cikaso ini adalah sebagai berikut:
Highest Water Spring (HWS) = 388.4 cm = 3.884 m
4. Elevasi Muka Air Acuan Referensi LWS
Adapun elevasi pasang surut dengan acuan referensi LWS adalah sebagai berikut:
Highest Water Spring (HWS) = 161.2 cm = 1.612 m lapangan. Data-data tersebut merupakan data-data yang memvisualisasikan kondisi perairan secara horisontal dan vertikal. Dengan demikian berarti bahwa untuk setiap titik yang berada di dasar laut dapat diketahui berapa kedalaman dan dimana letaknya pada satu sistem koordinat tertentu.
PANTAI
JALUR SOUNDING
Laut
Darat
spektrum kegiatan surta laut sangat luas diantaranya menyangkut survei geologi, geodesi, geofsika dan oseanograf.
Dalam bidang geodesi pekerjaan paling utama dalam surta laut adalah survei bathymetri. Kegiatan dalam survei bathymetri meliputi kegiatan-kegiatan seperti pengukuran kedalaman, pengamatan pasut, penentuan posisi horisontal fx perum, pengukuran titik kerangka dasar dan lain-lain.
Survei bathymetri atau sering disebut dengan pemeruman adalah proses dan aktivitas yang ditujukan untuk memperoleh gambaran (model) bentuk permukaan (topograf) dasar perairan (seabed surface). Proses penggambaran dasar perairan tersebut (sejak pengukuran, pengolahan hingga visualisasinya) disebut sebagai survei bathymetri.
2.2.1 Penentuan lajur survey
Pemeruman dilakukan dengan membuat profl (potongan) pengukuran kedalaman. Lajur perum dapat berbentuk garis-garis lurus, lingkaran-lingkara konsentrik, atau lainya sesuai metode yang digunakan untuk penentuan posisi titik fks perumnya. Lajur-lajur perum didesain sedemikian rupa sehingga memungkinkan pendeteksian perubahan kedalaman yang lebih eksterm. Untuk itu, desain lajur-lajur perum harus memperhatikan kecenderungan bentuk dan topograf pantai sekitar perairan yang akan di survei. Agar mampu mendeteksi perubahan kedalaman yang lebih ekstrem lajur perum dipilih dengan arah yang tegak lurus terhadap kecenderungan arah garis pantai.
-9-ANTENA
SATELIT
READER
ANTENA
TAMPAK BELAKANG TAMPAK SAMPING
Permukaan Air Laut
Gambar 3 Pergerakan perahu dalam menyusuri jalur sounding
2.2.2 Jenis peralatan dan penerapan
Pengukuran kedalaman dilakukan dengan metode akustik. Metode ini memanfaatkan pantulan gelombang bunyi yang dibangkitkan oleh alat perum gema (echosounder). Jenis echosounder yang diperkenankan untuk digunakan dalam pemeruman pada umumnya memiliki frekuensi antara 12 hingga 7000 khz. Echosounder yang lazim digunakan adalah echosounder dengan frekuensi 150 – 500 khz dengan ketelitian kedalaman maksimum adalah 1 desimeter atau 10 cm.
Gambar 5 Penempatan GPSMap (tranduser, antena, reader) di perahu
2.2.3 Garis Pantai
Garis pantai merupakan garis pertemuan antara pantai (daratan) dan air (lautan). Walaupun secara periodik permukaan air aut selalu berubah, suatu tinggi muka air tertentu yang tetap harus dipilih untuk menjelaskan posisi garis pantai. Pada peta laut biasanya digunakan garis air tinggi (high water line) sebagai garis pantai. Sedangkan untuk acuan nol kedalaman dan kedalaman biasanya digunakan garis air rendah(low water line). Garis pantai dan garis nol kedalaman harus digambarkan di peta batimetri/topograf yang dibuat.
Sebelum kegiatan pengukuran garis pantai dilakukan, sebaiknya terlebih dahulu harus dilakukan survei pendahuluan untuk mengenal karakteristik pantai yang akan ditemui. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memeriksa peta-peta lama yang tersedia. Kegiatan ini dapat dianggap sebagai bagian dari kegiatan perencanaan sebelum survei lapangan diaksanakan. Berdasarkan informasi awal ini, dapat ditentukan metode dan peralatan apa yang akan digunakan untuk penentuan garis pantai.
2.2.4 Kalibrasi dan Pemeriksaan Sonar
Cara yang efektif untuk menjaga ketelitian pemeruman adalah dengan melakukan kalibrasi menggunakan cakra tera (barcheck). Kalibrasi ini sangat membantu untuk mendapatkan ukuran kedalaman yang benar akibat beberapa sumber kesalahan sekaligus.
Barcheck terbuat dari lempeng logam berbentuk lingkaran atau segiempat yang digantungkan pada tali atau rantai berskala dan diletakkan dibawah transduser.
Tali atau rantai berskala dipakai sebagai pembanding hasil pengukuran dengan alat perum gema. Pembandingan pengukuran kedalaman dilakukan untuk setiap perubahan kedalaman, mulai dari kedalaman 0 hingga kedalaman maksimum yang akan diperum dengan interval 1 m.
Kalibrasi dengan barcheck dilakukan setelah pengesetan pulsa awal 0 dilakukan (goresan saat pena stilus mendapatkan arus listrik dari gelombang pancar ditepatkan pada skala 0) dan dimulai dari kedalaman tali skala barcheck 1 meter. Setelah itu , kedudukan barcheck
-11-diturunkan dengan selang satu meter hingga kedalaman maksimum daerah yang akan diperum. Selanjutnya, dari kedalaman maksimum, tali barcheck ditarik dengan selang 1 meter hingga kembali pada kedudukan 1 meter.
2.2.5 Syarat Kartograf
Teknik yang paling sederhana untuk menarik garis kontur adalah dengan teknik triangulasi menggunakan interpolasi linier. Grid dengan interval yang seragam dibangun diatas sebaran titik-titk tersebut. Nilai kedalaman disetiap titik-titik grid dihitung berdasarkan tiga titik kedalaman terdekat dengan pembobotan menururt jarak. Dari angka-angka kedalaman di setiap titik-titik grid, dapat dihubungkan dari titik-titik yang mempunyai nilai kedalaman yang sama.
IHO telah merekomendasikan setidaknya enam aspek kartograf yang ditampilkan dalam peta laut, yaitu: datum vertikal, datum horizontal, sistem proyeksi, sistem satuan, ketelitian (skala), simbol dan warna (Tabel 3.2.5). Aspek kartograf ini telah diadopsi dalam peta laut Dishidros AL
Konsultan diperkenankan membuat simbolisasi dan warna yang berbeda untuk item-item yang belum tercantum dalam ketentuan IHO.
ASPEK KETENTUAN
Datum vertikal Lokal dengan chart datum , disebutkan kedudukan muka surutannya terhadap duduk tengah
Datum horisontal
Titik kontrol horisontal pad elipsoida referensi WGS ' 84 dalam sistem gratikul (jaring garis proyeksi lintang dan bujur) pada interval 10-20 cm di peta dengan graduation frame (skala pembagi gratikul) di tepi-tepi batas muka petanya
Sistem proyeksi Mercator untuk 75° LU - 75° LS
Polar Stereografs untuk 75° - 90° LU dan 75° - 90° LS
Sistem satuan Metrik, dalam meter atau mil laut
Ketelitian 1 : 10.000 untuk bandar, pelabuhan, alur pelayaran dan perairan wajib pandu
1 : 20.000 untuk alur pendekatan pelabuhan dan perairan lain yang digunakan teratur untuk pelayaran 1 : 50.000 untuk daerah pantai sampai kedalaman rata-rata
sekurang-kurangnya 30 m
1 : 50.000 - 1 : 100.000 untuk daerah dengan kedalaman 30 m sampai 200 m
Simbol dan
warna
Peta konvensional : mengikuti Peta Laut Dishidros dan Bakosurtanal
2.2.6 Prosedur Pemeruman
Echosounder yang digunakan harus sesuai dengan syarat pada sub bab sebelumnya. Echosounder harus dapat beroperasi setidaknya 6 jam non stop per hari dengan menggunakan catu daya listrik yang ringkas dan dapat dioperasikan di atas kapal bermotor tunggal.
Data posisi dari GPS yang digunakan harus dapat terintegrasi dengan data echosounder baik dengan metode manual (fx perum line) atau dengan metode digital (terintegrasi dalam komputer).
Wahana apung yang digunakan untuk melakukan pemeruman harus aman, seimbang dan dapat berjalan pada kecepatan yang relatif tetap dan lamban (3-7 knot). Hal ini untuk menjaga konsistensi pemeruman agar berada sesuai jalur yang direncanakan. Kapal yang digunakan juga harus mudah bermanuver dan dapat menjangkau perairan yang dangkal. Kalibrasi alat echosounder dilakukan dengan metode barcheck dan dilakukan tepat sebelum pemeruman berlangsung. Pengukuran kedalaman dilakukan secara simultan dengan pengukuran posisi di laut dan pengamatan pasang surut air laut. Data-data ini diolah untuk mendapatkan informasi kedalaman pengukuran, posisi horizontal, waktu, reduksi pasut dan koreksi barcheck di setiap titik fx perum.
2.2.7 Rumusan Kedalaman Sebenarnya
Setiap pengukuran kedalaman yang dilakukan menggunakan wahana apung memiliki ketergantungan pada waktu pengukuran, tinggi muka air terhadap nol ketinggian, kondisi fsis perairan (suhu, salinitas dan berat jenis air laut). Dengan demikian data kedalaman yang diperoleh perlu direduksi untuk mengetahui kedalaman sebenarnya sebelum dilakukan penandaan titik fx perum di atas peta.
Kedalaman sebenarnya diperoleh dengan mengkoreksi kedalaman pengukuran terhadap beberapa parameter, yaitu reduksi pasut, koreksi barcheck dan waktu pengukuran. Adapun penelitian pengaruh suhu air, salinitas dan berat jenis ari terhadap penjalaran gelombang akustik dapat dianggap terkoreksi bersamaan dengan koreksi barcheck. Pengaruh ini biasanya sangat kecil dan kurang dari 0.5 dm.
-13-2.3 Pengukuran Arus
2.3.1 Umum
Lokasi pengukuran dilakukan di satu stasiun dimana posisi stasiun pengamatan arus tersebut mewakili kondisi arus di area survey.
Pengukuran arus dilakukan selama 25 jam atau satu siklus pasut yaitu dari saat surut sampai dengan saat surut berikutnya atau pada saat pasang ke saat pasang berikutnya dengan interval waktu pengukuran satu jam. Pengukuran arus dilakukan pada tiga lapisan kedalaman, yaitu 0.2 d, 0.6 d dan 0.8 d pada saat kondisi pasang purnama (spring tide) dan pasang perbani (neap tide).
2.3.2 Metoda Pengukuran
Instrumen yang digunakan untuk pengukuran arus pada survei ini adalah Current Meter, yang merupakan instrumen pengukur arus mekanik. Alat pengukuran arus ini seperti diperlihatkan pada gambar berikut ini.
a. Peralatan Pengukuran Arus b. Current Meter
Gambar 6 Kegiatan Pengukuran Arus
2.3.3 Hasil Pengolahan Data
dan arah arus di area survei.
Pola distribusi sebaran kecepatan arus yang ada dan arah asal arus ditunjukkan pada gambar berikut :
Kecepatan (m/dtk)
< 0.1 0.1 - 0.2 0.2 - 0.3 > 0.3
Utara 1.0 0.0 0.0 0.0 1.0 Timur Laut 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 Timur 1.0 1.0 0.0 0.0 2.0 Tenggara 3.0 0.0 0.0 0.0 3.0 Selatan 6.0 0.0 0.0 0.0 6.0 Barat Daya 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 Barat 2.0 1.0 0.0 0.0 3.0 Barat Laut 10.0 0.0 0.0 0.0 10.0
Prosentase Kejadian 25.0 Prosentase Data Tidak Tercatat 0.0
Prosentase Kejadian Total 25.0 Jumlah Arah
Distribusi Kecepatan dan Arah Arus Dominan
Lokasi : Palipi Majene Sulbar
J enis tongkat menunjukkan kecepatan arus. Panjang tongkat menunjukkan persentase kejadian.
Gambar 7 Distribusi Prosentasi Kejadian Arus Dominan Dan Arahnya
-15-2.4 Survey Topograf
2.4.1 Pembuatan Bench Mark (BM)
Pada kegiatan ini dilakukan pembuatan BM dan pemasangannya dilakukan tersebar merata di lokasi pekerjaan dengan memperhatikan berbagai macam aspek sehingga BM tersebut mudah diakses serta kestabilan dan keamanannya terjaga. Untuk pengukuran posisi horisontal BM dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran Poligon dimana arah atau Azimut atau sudut jurusan awal didapatkan dengan cara melakukan pengamatan matahari. Adapun pengukuran posisi horisontal ini dilakukan dengan menggunakan peralatan Theodolit untuk mendapatkan ukuran sudut dan alat ukur EDM (Electronic
Distance Meter) untuk mendapatkan ukuran jarak.
2.4.2 Pengukuran Kerangka Dasar Horisontal
2.4.2.1 Umum
Untuk pengukuran kerangka dasar horisontal (KDH) alat yang digunakan yaitu Peralatan Theodolit TS (Total Station) untuk mendapatkan ukuran Sudut dan alat ukur EDM (Electronic
Distance Meter) untuk mendapatkan ukuran Jarak.
Pengukuran KDH dimaksudkan untuk mendapatkan posisi dari setiap BM atau titik poligon dengan mengacu kepada titik-titik BM baru yang telah dipasang yang dijadikan sebagai titik referensi.
2.4.2.2 Metoda Pengukuran
Pengukuran kerangka dasar horisontal (KDH) dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran poligon dengan menggunakan alat Theodolit TS dan EDM. Metode poligon yang digunakan yaitu metode poligon terikat. Pada metode ini awal dan akhir pengukuran terikat pada BM yang sudah diketahui koordinatnya.
2.4.2.3 Korordinat BM Hasil Pengukuran Poligon
Dari hasil pengukuran poligon dan pengolahan data dengan menggunakan Metoda Bowditch diperoleh koordinat Benchmark dalam sistem UTM seperti diuraikan dalam tabel berikut.
Tabel 4 Koordinat BM dalam Sistem Koordinat UTM
BENCMARK X Y
BM 02DKP 706285.846 9633775.705
Untuk pengukuran kerangka dasar vertikal (KDV) alat yang digunakan yaitu waterpass (WP) WILD NAK2. Karakteristik alat yang digunakan yaitu :
Alat sipat datar optik
Konstruksi rambu : lipat
Interval pembacaan rambu 10 mm
Konstruksi tripod : kaku
Pengukuran KDV dimaksudkan untuk mendapatkan nilai ketinggian dari setiap BM dengan acuan tingginya yaitu muka laut terendah dari hasil pengamatan pasut selama 15 hari yaitu sebesar 0,006 m dari nol rambu pasut.
2.4.3.2 Hasil Pengukuran Sipat Datar
Dari hasil pengukuran sipat datar dan hitungan Tinggi/Elevasi menggunakan Metode Perataan Kuadrat Terkecil diperoleh nilai elevasi berdasarkan datum referensi dari LWS sebagai berikut.
Tabel 5 Elevasi BM terhadap LWS
CP 04DKP 2.949 satuan dalam meter
2.4.4 Pengukuran Situasi
2.4.4.1 Umum
Pengukuran situasi dilakukan untuk mengambil data rinci lapangan, baik objek alam maupun bangunan-bangunan, jembatan, jalan dan sebagainya. Objek-objek yang diukur kemudian dihitung posisi horisontal dan vertikalnya (x,y,z). Untuk selanjutnya garis kontur untuk masing-masing ketinggian dapat ditentukan dengan cara interpolasi.
2.4.4.2 Metoda Pengukuran
Pengukuran rinci/situasi dilaksanakan memakai metoda tachymetri dengan cara mengukur besar sudut dari poligon (titik pengamatan situasi) kearah titik rinci yang diperlukan terhadap arah titik poligon terdekat lainnya, dan juga mengukur jarak optis dari titik pengamatan situasi. Pada metoda tachymetri ini didapatkan hasil ukuran jarak dan beda tinggi antara stasiun alat dan target yang diamati.
Dari sebaran titik-titik detil situasi yang diambil melalui pengukuran tachymetri dapat diperoleh posisi titik-titik dilapangan yang nantinya akan digunakan untuk melakukan interpolasi untuk mendapatkan kontur ketinggian yang mewakili keadaan sebenarnya dilapangan.