UNIVERSITAS INDONESIA
KELUARGA JEPANG DALAM NOVEL
KIFUJIN A NO SOSEI
,
HAKASE NO AISHITA SUUSHIKI
DAN
MIINA NO KOUSHIN
KARYA OGAWA YOKO
DISERTASI
(Ringkasan)
RIMA DEVI
NPM: 1106045752
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
PROGRAM STUDI ILMU SUSASTRA
UNIVERSITAS INDONESIA
KELUARGA JEPANG DALAM NOVEL
KIFUJIN A NO SOSEI
,
HAKASE NO AISHITA SUUSHIKI
DAN
MIINA NO KOUSHIN
KARYA OGAWA YOKO
DISERTASI
(Ringkasan)
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor
RIMA DEVI
NPM 1106045752
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
PROGRAM STUDI ILMU SUSASTRA
Kemauan dan harapan tidak cukup kuat untuk menembus batas kemalasan. Keberanian untuk melawan diri sendirilah yang membawa ke tujuan.
(dari Sang Petualang di dunia mimpi)
iii Disertasi ini diajukan oleh:
Nama : RIMA DEVI
NPM : 1106045752
Program Studi : Ilmu Susastra
Judul Disertasi : Keluarga Jepang Dalam Novel Kifujin A No Sosei, Hakase No Aishita Suushiki dan Miina No
Koushin Karya Ogawa Yoko
DEWAN PENGUJI
Promotor : Prof. Dr. Bambang Wibawarta, M. A.
Kopromotor : Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono
Tim Penguji : Dr. Fauzan Muslim
: Nandang Rahmat, M.A., Ph. D.
: Lily Tjahjandari, Ph. D
: Dr. M. Yoesoef
: Tommy Christomy, Ph. D
Ditetapkan di : Depok
iv
UCAPAN TERIMA KASIH
Alhamdulillahirabbilaalamin. Puji Syukur penulis haturkan ke hadirat Allah
SWT, karena atas berkat dan rahmatNya yang tiada putus-putusnya akhirnya
penulis dapat menyelesaikan disertasi ini. Penyusunan disertasi ini dilakukan
dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Doktor pada
Program Studi Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas
Indonesia.
Penulis menyadari bahwa tanpa bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak,
baik dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan disertasi ini sangatlah tidak
mungkin bagi penulis untuk menyelesaikan disertasi ini. Untuk itu penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Bambang Wibawarta, M.A. sebagai promotor yang telah
memberikan semangat yang menggelegar, arahan yang langsung ke sasaran,
dan bimbingan dalam menyusun disertasi ini, serta menetapkan skedul yang
jelas dalam tahapan ujian setelah mengetahui penelitian sudah layak uji.
2. Bapak Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono sebagai kopromotor yang telah
menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan penulis dalam
menyusun disertasi ini tanpa menuntut sesuatu yang sempurna dan
membiarkan proses penelitian mengalir apa adanya dalam kesederhanaan
pemikiran penulis.
3. Bapak Dr. Fauzan Muslim sebagai Ketua Program Studi Ilmu Susastra FIB
Universitas Indonesia beserta jajarannya Ibu Lisda Mitranda dan Mbak Rita
yang telah membantu pengurusan administrasi yang berkaitan dengan proses
penyelesaian disertasi ini.
4. Ibu Lily Tjahjandari, Ph.D, Bapak Nandang Rahmat, M.A., Ph. D, Bapak
Tommy Christomy, Ph. D, dan Bapak Dr. M. Yoesoef sebagai dewan penguji
pada ujian seminar hasil dan prapromosi yang telah banyak memberikan
masukan dan saran perbaikan yang sangat berharga dalam penulisan disertasi
v
disebut dengan penelitian sastra yang selama ini menjadi tanda tanya besar dalam pikiran penulis.
5. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia khususnya Ibu Mina Elfira, M.A., Ph. D yang telah mengajar, membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan studi dan penulisan disertasi.
6. Rektor Universitas Andalas, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Ketua Jurusan Sastra Jepang FIB Universitas Andalas dan rekan-rekan sejawat di Universitas Andalas, yang telah memberi izin dan memudahkan pengurusan administrasi sehingga penulis dapat menempuh studi di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia hingga melewati tahap disertasi ini.
7. Mama Muryati dan Papa Amir Chatib dt. Garang (alm.) yang selalu memberikan dukungan untuk kemajuan karir penulis dan yang selalu mendoakan untuk kebaikan penulis, Ananda Ibnu Naufal pembangkit semangat dan motivasi, Kakanda Mira Dewi, Adinda Amri Chatib dt. Panduko dan Adinda Imra Chatib yang memberikan dukungan finansial sepenuh hati, dan Adinda Irma Amir yang setia mendengar curhat, serta duo anak pisang lucu Malika Syauqina dan M. Bariq Chatib yang menemani penulis di saat jenuh dengan tangisan dan gelak tawanya di Dahlia 3 Depok I. 8. Teman-teman FIB UI angkatan 2011 yang telah sama-sama berjuang
menjalani studi dan saling memberi semangat untuk penyelesaian disertasi ini, terutama Tia, Andam, Mbak Pris, Pak Amri, Pak Surjadi, Pak Anas, Pak Sul, Pak Arif, dan lain-lain. Pada akhir penulisan Pak Amri sangat membantu dengan menerjemahkan abstrak ke dalam bahasa Inggris dengan bahasa yang jauh lebih bagus dari terjemahan penulis.
9. Ustad Andy Bangkit Setiawan yang banyak memberikan pandangan tentang Jepang, membantu merumuskan kata dalam bahasa Jepang mengenai inti dari disertasi, dan membantu mencarikan literatur di Jepang.
vi
11.Teman-teman di grup ODOJ 2326 yang setia menyemangati untuk khatam satu juz perhari.
12.Berbagai pihak yang telah banyak membantu dan tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan saudara-saudara semua. Penulis menyadari bahwa sebagai manusia yang tidak sempurna tentu disertasi ini juga tidak sempurna. Oleh karena itu penulis dengan senang hati akan selalu menerima kritikan dan saran untuk disertasi ini. Semoga disertasi ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Amin.
Depok, 25 Juli 2015
vii
Nama : RIMA DEVI
Program studi : Ilmu Susastra
Judul : Keluarga Jepang dalam Novel Kifujin A No Sosei,
Hakase No Aishita Suushiki, dan Miina No Koushin Karya Ogawa Yoko
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap struktur keluarga Jepang yang dibangun oleh Ogawa Yoko dalam tiga novelnya yaitu Kifujin A No Sosei, Hakase no Aishita Suushiki, dan Miina No Koushin. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode kajian kepustakaan dengan analisis menggunakan konsep ruang sosial yang dikemukakan oleh Bourdieu dan konsep keluarga tradisional Jepang yaitu sistem ie. Dari penelitian diketahui bahwa Ogawa Yoko menangkap perubahan struktur keluarga yang terjadi dalam masyarakatnya dan menuangkan ke dalam novel. Struktur keluarga yang dibangun oleh Ogawa Yoko tidak sama dengan struktur keluarga tradisional Jepang, dan berbeda dengan struktur keluarga modern sehingga keluarga yang dibangun oleh Ogawa Yoko dapat disebut dengan hubungan keluarga interdependen atau interdependent family relantionship atau (sougoizonteki kazokukankei).
Kata kunci :
Keluarga Jepang, Struktur Keluarga, Sistem Ie, Ogawa Yoko, Ranah
ABSTRACT
Name : RIMA DEVI
Study Program : Literature
Title : Japanese Family in Ogawa Yoko’s Kifujin A No Sosei, Hakase No Aishita Suushiki, and Miina No Koushin
This research aims at uncovering the structure of Japanese family set up by Ogawa Yoko in her three novels, i.e. Kifujin A No Sosei, Hakase No Aishita Suushiki, and Miina No Koushin. It is a qualitative research using library research as its method. Social field proposed by Bourdieu and ie system of Japanese traditional family have been chosen to analyse the issue. This research has found out that Ogawa Yoko had caught the change of the family structure taking place in her society and has expressed it in her three novels. The family structure Ogawa Yoko has developed differs from both the structure of Japanese traditional family and modern family. Thus, Ogawa Yoko has developed interdependent family relationship / (sougoizonteki kazokukankei).
Keywords :
Universitas Indonesia
Ringkasan Disertasi
1. Latar Belakang
Menurut Morioka, yang disebut dengan keluarga adalah satu kelompok yang didasari oleh hubungan suami istri, dengan tujuan mencari kesejahteraan yang didukung oleh jalinan rasa kasih sayang sesama anggotanya yang terdiri dari orang tua dan anak-anak, saudara kandung dan beberapa kerabat dekat (Morioka, 1993, p.1). Struktur keluarga yang tergambar dari definisi yang dikemukakan oleh Morioka berbeda dengan struktur keluarga Jepang saat ini yang pada umumnya adalah keluarga batih yaitu keluarga yang anggotanya terdiri dari suami, istri dan anak-anak yang belum menikah.
Pada keluarga batih di Jepang suami dan istri mempunyai hak yang sama di dalam rumah tangga dan anak-anak mempunyai kebebasan untuk berpendapat. Kesamaan hak di dalam keluarga membuat istri juga mempunyai hak untuk bekerja, menentukan apakah akan mengandung dan melahirkan anak atau tidak. Anak-anak yang belum menikah tetapi sudah mempunyai penghasilan sendiri juga berhak menentukan apakah akan tetap tinggal serumah dengan orang tuanya atau hidup sendiri terpisah dari orang tua.
Kebebasan yang dimiliki oleh masing-masing anggota keluarga di Jepang membuat setiap anggotanya bebas menentukan hidup mereka sehingga tak jarang ditemui orang yang tidak menikah seumur hidup, pasangan yang bercerai karena berbagai alasan dan orang tua tunggal yang merawat dan membesarkan anaknya seorang diri tanpa istri bagi laki-laki dan tanpa suami bagi perempuan. Kebebasan setiap individu di Jepang dalam menentukan pilihan hidup mereka membawa pengaruh kepada susunan anggota keluarga di Jepang. Jumlah anggota keluarga menjadi bervariasi yaitu keluarga yang anggotanya terdiri dari suami, istri dan anak-anak yang belum menikah, suami dan istri saja, ayah dengan anak saja, ibu dengan anak saja, dan satu keluarga terdiri dari satu orang saja. (Rebick, 2006).
Universitas Indonesia mengubah undang-undang dasarnya dan menghapuskan sistem kekeluargaan yang berlaku di Jepang.
Sistem kekeluargaan yang dihapuskan tersebut adalah sistem keluarga Jepang tradisional yang dikenal dengan sistem ie. Struktur keluarga yang ada di dalam sistem ie adalah struktur keluarga besar atau extended family yaitu di dalam satu rumah tinggal tiga generasi atau lebih yang anggotanya terdiri dari suami, istri, anak-anak, orang tua, kerabat yang memiliki hubungan darah maupun yang tidak. Sistem ie ini yang merupakan bagian dari adat istiadat atau kebiasaan bangsa Jepang tidak hilang begitu saja dari kehidupan masyarakat Jepang walaupun sudah dihapuskan dari undang-undang dasar negara Jepang. Mengenai hal ini sudah dijelaskan oleh banyak ahli yang meneliti mengenai keluarga Jepang seperti Aruga Kizaemon, Fukutake Tadashi, Morioka Kiyomi, dan Ochiai Emiko bahwa dalam kehidupan masyarakat Jepang saat ini masih terlihat penerapan konsep-konsep sistem ie seperti masih disebutkannya kata chounan sebagai pewaris, oyome sebagai sebutan bagi pengantin wanita yang akan tinggal di rumah keluarga suaminya, uchi no mago yaitu cucu dari anak laki-laki sendiri atau soto no mago yaitu cucu dari anak perempuan yang tinggal di rumah suaminya dan berbagai istilah lainnya.
Sejak dihapuskannya sistem kekeluargaan tradisional Jepang, dalam kurun waktu relatif singkat telah mengubah tatanan kehidupan masyarakat Jepang terutama dari struktur keluarga dari keluarga besar menjadi keluarga batih. Perubahan struktur keluarga ini tidak serta merta terjadi dalam masyarakat. Hal pertama yang sangat terlihat dalam masyarakat Jepang atas perubahan ini menurut Aruga (1980, p. 189-190) adalah melemahnya otoritas kepala keluarga atau kachou, adanya kesetaraan antara suami dan istri dalam rumah tangga, dan harta warisan dibagikan kepada setiap anak tanpa kecuali.
Universitas Indonesia sebagainya, dan kategori D adalah tipe keluarga batih modern yang menjalankan ideologi keluarga modern.
Sementara itu menurut Bourdieu (1996) keluarga adalah konstruksi dasar dari kenyataan sosial sehingga kata keluarga sudah terinternalisasi secara kolektif di dalam diri individu. Bourdieu menganggap keluarga adalah produk dari institusionalisasi yang bertujuan membuat setiap anggotanya merasa bagian dari satu unit yang eksis dan kokoh. Bourdieu menambahkan tujuan keluarga adalah untuk mewujudkan kesatuan entitas yang terintegrasi, stabil, konstan, dan tidak memikirkan fluktuasi dari perasaan individu yang menjadi bagian dari satu keluarga.
Dari pernyataan ini terlihat Bourdieu tidak mengkategorikan keluarga sebagai keluarga batih atau keluarga besar dan tidak mempermasalahkan apakah keluarga tersebut dibangun atas dasar hubungan suami istri atau tidak. Bourdieu malah menyatakan bahwa keluarga cendrung berfungsi sebagai ranah yang di dalamnya terdapat hubungan fisik, ekonomi, kasih sayang, perhatian, simbol kekuasaan, dan lain-lain, sehingga di dalam keluarga terdapat volume dari struktur modal yang dimiliki oleh setiap anggotanya. Bourdieu juga menambahkan bahwa di dalam keluarga juga terjadi perjuangan untuk mendapatkan posisi yang dominan.
Berkenaan dengan pernyataan Bourdieu (1996) di atas bahwa di dalam keluarga terjadi perjuangan untuk mendapatkan posisi dominan. Anggota keluarga yang menempati posisi dominan akan memiliki otoritas untuk mengatur anggota keluarga yang menempati posisi terdominasi. Pengaturan anggota keluarga ini merupakan hak yang dimiliki oleh kepala keluarga dalam keluarga batih dan kachou pada keluarga tradisional. Oleh karena itu dari pendapat Bourdieu ini dapat dikatakan bahwa keluarga adalah ruang sosial bagi para anggotanya.
Ogawa Yoko sebagai seorang pengarang yang orang Jepang, bertempat tinggal di Jepang, dan melihat kondisi masyarakat terutama keluarga Jepang saat ini, tidak akan mungkin dapat melepaskan diri dari pengaruh lingkungannya dalam menuangkan ide-idenya ke dalam novel. Sebagaimana dikemukakan oleh para ahli sastra (Damono, 2013) bahwa pengarang adalah anggota masyarakat yang terikat pada kelompok sosial tertentu baik dalam hal pendidikan, agama, adat istiadat, dan lembaga sosial yang ada disekitarnya. Peristiwa-peristiwa yang dituliskan oleh pengarang dalam karyanya merupakan pantulan dari hubungan pengarang dengan masyarakatnya.
Universitas Indonesia Suushiki 8?HLE(Rumus yang Dicintai Sang Profesor) cetakan
tahun 2003 (disingkat dengan HAS), dan Miina no Koushin ),(bg (Parade Miina) cetakan tahun 2006 (disingkat dengan MNK). Mengenai pemilihan karya Ogawa Yoko pada penelitian ini berdasarkan atas tema keluarga yang dimunculkan oleh Ogawa. Pada novel MNK secara jelas disebutkan pada ulasan mengenai novel ini di amazon.co.jp. bahwa novel MNK adalah novel yang menceritakan tentang keluarga. Sementara novel HAS adalah novel best seller yang banyak mendapatkan penghargaan hingga dibuatkan filmnya dan telah diteliti oleh Devi (2010) dengan kesimpulan bahwa novel ini mengisahkan tentang keluarga alternif yang ditawarkan Ogawa Yoko kepada masyarakat pembaca novelnya. Sedangkan novel KAS memiliki kemiripan dengan novel HAS dalam penggambaran bentuk keluarga. Selain itu ketiga novel ini memiliki tahun terbit yang hampir bersamaan mulai dari novel KAS tahun 2002, novel HAS tahun 2003 dan novel MNK tahun 2006 sehingga penggambaran keluarga Jepang dalam ketiga novel ini berada pada kisaran waktu yang berdekatan yaitu antara tahun 2003-2006. Tambahan lagi dari sekian banyak karya Ogawa Yoko, novel KAS, HAS, dan MNK adalah tiga karya yang paling dominan berbicara tentang keluarga mulai dari awal penceritaan hingga tamat sehingga ketiga novel ini dapat menjadi wakil dari penggambaran keluarga Jepang yang dituangkan oleh Ogawa Yoko ke dalam novel.
Selain struktur keluarga di dalam ketiga novel yang memiliki struktur tersendiri juga menggambarkan adanya pemimpin atau kepala keluarga dari setiap keluarga. Penentuan siapa yang menjadi kepala keluarga atau kachou di dalam keluarga yang dibangun dalam ketiga novel ini dan bagaimana perjuangan tokoh-tokohnya untuk mendapatkan posisi di dalam ruang sosial juga menjadi bahasan dalam penelitian ini.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan struktur keluarga yang dibangun oleh Ogawa Yoko dalam tiga novelnya yaitu KAS, HAS, dan MNK. Kemudian untuk mengetahui penentuan kepala keluarga atau kachou serta perjuangan tokoh-tokohnya di dalam ruang sosial mereka.
2. Kerangka Teori
Universitas Indonesia 2.1 Konsep Ie
Konsep ie adalah satu konsep mengenai keluarga tradisional Jepang yang dipopulerkan oleh Aruga Kizaeman. Konsep ie ini merupakan satu sistem yang disebut dengan sistem ie yang dikukuhkan dalam undang-undang dasar negara Jepang semasa pemerintahan Meiji (1868-1911). Menurut Aruga (1959, p.6) tidak mudah untuk menentukan siapa yang pertama kali membuat ie dan atas dasar apa sebuah ie dibentuk. Ie yang ada dalam masyarakat Jepang diterima secara turun temurun, dijalankan oleh pewaris untuk kemudian diteruskan pada generasi setelahnya. Menurut Aruga (dalam Torigoe, 1988, p. 8) yang disebut dengan ie adalah,
Ie adalah adat istiadat khusus yang terdapat dalam masyarakat Jepang, yang maknanya berbeda dengan keluarga pada umumnya. … Ie adalah satu kelompok yang menjalankan usaha dari harta milik keluarga (kasan) dan merupakan usaha keluarga (kagyou). Melalui pemahaman mengenai hal ini maka sebagai satu unit di dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, maka tujuannya adalah kesinambungan dari ie dan setiap anggotanya baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia secara turun-temurun.
Aruga menganggap ie adalah satu adat kebiasaan yang terdapat dalam masyarakat Jepang dan memiliki ciri khas sendiri. Walaupun sepertinya ie terlihat sebagai sebuah keluarga, ie berbeda dengan pengertian keluarga pada umumnya sebagaimana pengertian keluarga yang berlaku pada masyarakat Barat. Ciri khas ie dan perbedaan ie dengan keluarga terletak pada sistem yang berjalan pada ie tersebut.
Universitas Indonesia Pengelolaan harta ie dipimpin oleh seorang kepala keluarga yang disebut dengan kachou yang memiliki kekuasaan penuh atas kekayaan dan bisnis keluarga, demikian juga terhadap anggota yang tergabung di dalamnya. Kekuasaan yang dimiliki kachou terhadap ie-nya tidak membuat kachou dapat bertindak sewenang-wenang atas harta maupun anggota ie-nya karena ada aturan sendiri di dalam ie yang harus dipatuhi oleh kachou. Aturan tersebut terdapat dalam hak dan kewajiban kachou atau lebih dikenal dengan kachouken.
Kachou dibantu oleh istrinya yang disebut dengan shufu dalam pengelolaan ie. Kachou dan shufu sebagai inti atau dasar pembentuk dari ie memimpin kelompok yang disebut dengan seikatsu shudan yaitu kelompok yang bersama-sama menjalani kehidupan dan seikatsu kyoudoutai yaitu kelompok yang saling bekerja sama dalam menjalani kehidupan tersebut. Anggota yang tergabung dalam ie terdiri atas anggota yang memiliki hubungan darah dan kekerabatan dengan kachou, yaitu ayah dan ibu kachou, anak-anak dan cucu-cucu kachou serta saudara-saudara kachou beserta anak-anaknya, dan ada pula anggota yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah dan kekerabatan dengan kachou. Anggota keluarga yang tidak memiliki hubungan darah dan hubungan kekerabatan disebut dengan houkounin atau orang yang mengikut pada ie. Walaupun setiap anggota ie mendapatkan hak dan kewajiban yang sama sesuai dengan peraturan yang berlaku di dalam ie, kedudukan houkounin lebih rendah bila dibandingkan dengan anggota yang memiliki hubungan darah dan kekerabatan dengan kachou.
Bila seorang kachou sudah merasa tidak mampu lagi memimpin ie-nya atau meninggal dunia maka yang berhak menjadi pengganti kachou adalah anak laki-lakinya yang sulung. Bila kachou tidak mempunyai anak laki-laki, maka ie tersebut dapat mengangkat anak atau youshi untuk dijadikan calon kachou, dan tidak ditentukan apakah yang dicalonkan menjadi pengganti kachou tersebut memiliki hubungan darah atau tidak dengannya. Kachou juga dapat mengangkat menantu laki-lakinya untuk menjadi penggantinya yang dikenal dengan istilah mukoyoushi. Dengan berjalannya sistem pewarisan di dalam ie, maka akan terjamin kesinambungan dari ie. Hal ini sesuai dengan yang disebutkan oleh Aruga bahwa tujuan ie adalah menjaga kesinambungan ie dan anggotanya yang sudah meninggal dunia, yang masih hidup, dan yang akan lahir.
2.2 Konsep Ruang Sosial
Universitas Indonesia sebenarnya yang di dalamnya berlaku hukum-hukum tertentu yang merupakan bentuk pengejawantahan dari kapital dan hubungan kekuatan yang menyertainya (Bourdieu, 1993, p. 215). Mengenai penentuan posisi para pelaku sosial di dalam ruang sosialnya, oleh Bourdieu sendiri diujicobakan terlebih dahulu pada karya sastra yaitu novel yang berjudul Sentimental Education karya Gustave Flaubert. Bourdieu menganalisisnya dengan menggunakan model struktur imanen yaitu menganalisis ruang sosial dalam karya sastra secara tekstual. Analisis yang dilakukan oleh Bourdieu sangat berhasil dan membawa pencerahan dalam pembacaan sebuah karya sastra.
Teori yang dirumuskan oleh Bourdieu disebutnya bukan sebagai teori melainkan sebuah metode untuk menganalisis praktik sosial. Pemikiran Bourdieu unik dan berbeda dengan pemikiran para ahli sebelumnya. Pemikiran Bourdieu didasarkan pada pemikiran pendahulunya yang memperdebatkan dualisme yang saling bertentangan, yaitu subjektivisme dan objektivisme, strukturalisme dan kulturalisme, struktur dan agensi, kesadaran dan ketidaksadaran, material dan simbolik, dan lain sebagainya.
Subjektivisme adalah cara pandang yang terlalu menekankan kebebasan individu (subjek atau agen) dan mengabaikan peran struktur objektif (norma dan aturan). Ilmu yang tercipta berdasarkan subjektivisme hanya bertumpu pada pengalaman hidup subjek dan hak-hak subjektivitas. Individu diberi kebebasan dalam memberikan persepsi tentang dunia sosial berdasarkan ego, rasionalitas dan kerangka ideologis yang dimilikinya.
Sedangkan objektivisme adalah cara pandang yang terlalu menekankan struktur objektif dan mematikan peran subjek yang dapat merasa, menerangkan, dan membangun struktur. Pada objektivisme struktur objektif adalah prioritas utama dan meniadakan tindakan dan pengalaman individu sehingga terdapat pemisahan antara pengamat dengan yang diamati. Pemisahan ini mengakibatkan juga terjadinya pemisahan antara pengetahuan teoritis dengan praktis sehingga struktur objektif lepas dari kesadaran dan keinginan individu. Bila individu merepresentasikan perasaan dan kesadarannya maka dinilai sebagai sesuatu yang tidak objektif. Pada objektivisme, sesuatu yang dapat terukur dan bersifat ajeg, universal, dan stabil dari satu tatanan objektif menjadi titik tolak dalam memahami realitas sosial.
Universitas Indonesia merumuskan pemikirannya sendiri yang melibatkan kedua aspek tersebut dalam konsep antara lain habitus, field, modal, kekerasan simbolik, dan strategi.
3. Keluarga dalam Ketiga Novel
Ketiga novel KAS, HAS, dan MNK setelah dianalisis menggunakan teori ruang sosial yang dikemukakan oleh Bourdieu dan konsep keluarga Jepang tradisional diketahui bahwa novel-novel ini memiliki beberapa persamaan. Persamaan yang menjadi dasar dari penelitian ini adalah ketiga-tiganya sama-sama membicarakan masalah keluarga. Hal menarik yang ditemukan dari penelitian ini adalah adanya kesamaan-kesamaan dari ketiga novel yang merupakan bagian dari keluarga tersebut.
Kesamaan yang ditemukan dalam ketiga novel Ogawa, yang menjadi bahasan utama dari penelitian ini adalah Ogawa mengumpulkan para tokohnya dalam satu ruang yang disebut dengan keluarga. Struktur keluarga yang dibangun oleh Ogawa Yoko masih mengandung unsur-unsur yang terdapat di dalam sistem ie seperti kachou, shufu, chounan, youshi, houkounin, kasan, kagyou, dan kafu. Kesamaan lain yang ditemukan, yang berkaitan dengan sistem ie adalah setiap keluarga yang terbentuk tidak menyelenggarakan pemujaan arwah leluhur atau sosen suuhai, tidak ada penentuan calon pewaris, kagyou atau bisnis keluarga tidak dikelola bersama anggota keluarga lainnya, dan semua kasan atau aset keluarga dijual setelah kachou meninggal dunia atau pensiun.
Mengenai unsur-unsur ie yang masih terdapat di dalam ketiga novel ini menunjukkan bahwa konsep ie masih ada di dalam masyarakat Jepang walaupun sistem ie sendiri secara hukum sudah dihapuskan dari undang-undang dasar negara Jepang. Pernyataan dari para ahli tentang keluarga Jepang seperti Aruga Kizaemon, Fukutake Tadashi, Morioka Kiyomi, Ochiai Emiko dan banyak ahli sosiologi keluarga Jepang lainnya bahwa konsep ie masih terdapat dalam masyarakat Jepang adalah benar adanya.
Universitas Indonesia disebut juga dengan orang yang sudah meninggal dunia. Komoto Mitsugu menjelas pengertian sosen atau leluhur adalah orang yang mendirikan ie pertama kali. Keberadaannya adalah sebagai simbol yang dapat memperkuat kesinambungan ie secara turun temurun. Sosen adalah semua anggota ie yang telah meninggal dunia. Mereka dihormati oleh semua anggota ie dan tradisi sosen suuhai ini dilaksanakan oleh kachou. (Tobing, 2005, p. 100).
Sosen suuhai ini biasanya dilakukan di kuil-kuil dan dipimpin oleh kachou yang pada saat acara pemujaan tersebut bergelar sebagai katoku. Selain melakukan ritual pemujaan arwah leluhur, di dalam rumah-rumah keluarga Jepang juga terdapat altar kecil yang disebut kamidana tempat pemujaan. Pada altar ini selain terdapat nama leluhur mereka juga diletakkan foto dari anggota keluarga yang sudah meninggal dunia. Pemasangan altar di rumah-rumah keluarga Jepang mengikuti ajaran agama Budha. (Henry, 1995).
Hilangnya unsur pemujaan arwah leluhur dalam keluarga Jepang yang dibangun oleh Ogawa Yoko tidak terlepas dari ideologi yang dianut oleh pengarangnya. Dari wawancara yang dilakukan oleh Watanabe (2011) kepada Ogawa Yoko diketahui bahwa Ogawa Yoko adalah penganut satu sekte agama di Jepang bernama Konkoukyou (j4K). Dalam sekte ini tidak dibenarkan adanya altar pemujaan di rumah-rumah maupun tempat ibadah mereka. Larangan ini diberlakukan sejak tahun 1873. Para penganutnya dilarang berdoa menghadap altar tertentu dan tidak diperbolehkan memajang foto atau menuliskan nama leluhur mereka di depan altar. Altar sekte ini hanya terdapat di dalam rumah ibadah atau disebut juga dengan kyoukai atau gereja, dan di altar ini hanya boleh dituliskan nama Tuhan mereka yaitu Tenchi Kane No Kami@>j-^(The Principle Parent of Universe) atau Tuhan semesta alam. Jadi tidak mengherankan bila dalam karya Ogawa Yoko tidak disebutkan sama sekali mengenai sosen suuhai ini.
Berkaitan dengan tidak adanya pemujaan arwah leluhur maka tidak akan terdapat pula penentuan calon pewaris ie. Bila calon pewaris ie sudah ditentukan, maka ie tersebut akan terus ada dan calon pewaris ini kelak akan menjadi kachou yang mempunyai kewajiban melakukan ritual sosen suuhai atau pemujaan arwah leluhur. Demikian juga dengan menjaga harta kekayaan ie atau kasan. Bila kasan masih ada, penanggung jawab kasan tersebut yaitu kachou akan terus ada dan akan menentukan calon pewarisnya pula. Pemaparan di atas memperlihatkan bahwa Ogawa Yoko meniadakan unsur-unsur penting bagi kesinambungan ie. Unsur penting lain yang berkaitan dengan kesinambungan ie adalah kagyou yang dikelola bersama-sama oleh anggota ie.
Universitas Indonesia ditemui perusahaan besar milik Jepang berdiri lebih dari seratus tahun dan masih bertahan sampai sekarang. Perusahaan tersebut pada umumnya adalah perusahaan milik keluarga yang dikelola secara turun-temurun. Misalnya perusahaan otomotif Toyota dan Honda, perusahaan yang banyak mempunyai usaha atau sougou shousha seperti Mitsubishi dan Sumitomo, dan lain sebagainya. Di dalam perusahaan-perusahaan di Jepang pada umumnya pekerja-pekerjanya diperlakukan seperti keluarga dan mereka merasa sebagai bagian dari satu keluarga besar. Pada perusahaan Jepang terdapat kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan kesejahteraan karyawan sebagaimana terdapat dalam ie, seperti adanya tunjangan keluarga, tunjangan kesehatan, tunjangan perumahan, dana pensiun, dan lain sebagainya. (Henry, 1995, p. 39). Melihat berbagai tunjangan yang diperoleh karyawan satu perusahaan memperlihatkan bahwa pemilik perusahaan bersikap seperti seorang kachou yang memperhatikan kesejahteraan anggota keluarganya.
Penggambaran perusahaan yang dijual sehingga tidak bertahan lama menunjukkan bahwa Ogawa tidak mengikuti kebiasaan yang umumnya dilakukan oleh keluarga Jepang dalam mengelola perusahaan. Di sini dapat dipahami bahwa Ogawa Yoko menggambarkan kagyou yang tidak berkesinambungan dan tidak ada pewaris merupakan langkah Ogawa untuk memutuskan ie. Ogawa tidak menjaga kesinambungan ie karena Ogawa memiliki ajaran sendiri dalam sekte Konkoukyou yang disingkat juga dengan sekte Konko bahwa manusia adalah anak Kami atau Tuhan yang memberi kehidupan, tidak ada yang lebih berharga dari kehidupan itu sendiri dan tidak ada perbedaan nilai dari kehidupan satu dengan lainnya. Saling membantu sesama merupakan satu bentuk amalan baik kepada Kami sebagai bentuk ungkapan syukur atas kehidupan yang telah diberikan kepada manusia. Kami menyuruh manusia untuk saling menolong dan membantu agar tercipta kehidupan dan bahagia dan damai di dunia ini. (Konkokyou, 2015).
Saling membantu sesama dalam ajaran Sekte Konko juga berkaitan dengan masalah ekonomi. Bila ingin menjadi menganut sekte ini tidak dituntut untuk membayar uang sama sekali. Malah orang yang berkekurangan akan dibantu oleh orang yang mempunyai kelebihan sehingga dapat terjalin kehidupan yang harmonis. Ogawa Yoko menggambarkan ekonomi yang stabil dari setiap kepala keluarga dalam ketiga novel sehingga dapat membantu anggota keluarga yang berkekurangan dalam hal ekonomi, fisik, mental dan lain-lain. Jadi wajar saja bila ketidakmampuan para pewaris mengelola perusahaan bukanlah satu persoalan bagi Ogawa Yoko, karena setelah itu setiap anggota keluarga masih dapat melanjutkan kehidupan mereka dengan saling membantu seperti yang terdapat dalam ajaran sekte Konko.
Universitas Indonesia pada novel MNK. Ketiga perempuan ini berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah dan ketiga-tiganya diceritakan telah kehilangan ayah karena kematian pada tokoh Gadis dan Tomoko, dan karena ayahnya tidak bisa menikah dengan ibunya pada tokoh Kaseifu. Penggambaran tokoh yang menjadi narator sama-sama memiliki modal yang sedikit terutama modal ekonomi. Dari penjelasan mengenai latar belakang ekonomi para narator di atas diketahui bahwa mereka memiliki sedikit modal ekonomi yang sedikit sehingga tergambar pada ruang sosialnya masing-masing sebagai yang terdominasi.
Ogawa juga menggambarkan tokoh-tokoh perempuan dari novel ini tidak lagi mempunyai ayah atau suami yang akan menjaga dan melindungi mereka. Ketiadaan tokoh ayah atau suami ini mengindikasikan bahwa peran mereka sudah tidak terlihat lagi dalam masyarakat. Mengenai hal ini dijelaskan oleh Aruga (1980, p.189-190) bahwa sejak dihapuskannya sistem ie berakibat melemahnya otoritas kepala keluarga atau kachou, dan adanya kesetaraan gender.
Pada ketiga novel ini, ketiadaan ayah atau suami pada umumnya karena sang ayah atau suami meninggal akibat menderita sakit yang serius yaitu penyumbatan pembuluh jantung, pendarahan otak, hepatitis dan, kanker lambung. Selain menggambarkan para tokoh yang kehilangan anggota keluarganya karena sakit, Ogawa juga pada setiap novel menggambarkan tokoh yang mengalami sakit fisik atau mental. Ogawa Yoko mengatakan bahwa sengaja memunculkan tokoh-tokoh yang sakit agar dapat menggambarkan bagaimana orang-orang di sekeliling tokoh yang sakit tersebut merawat dan menjaganya. Ogawa ingin menggambarkan hubungan yang halus dan lembut, yang bersifat kejiwaan di antara para tokoh. Ogawa menghindari penggambaran hubungan manusia laki-laki dan perempuan berupa hubungan fisik yaitu hubungan seksual karena bagi Ogawa hal tersebut adalah hal yang alami yang terjadi pada manusia, sangat mudah ditebak, dan siapapun sudah memahami hubungan tersebut (Ogawa, 1993, p. 122-123).
Penggambaran tokoh yang sakit dan bagaimana orang-orang di sekeliling penderita sakit merawat, menjaga dan memperhatikan tokoh yang sakit merupakan salah satu bentuk ajaran sekte Konko yang digambarkan oleh Ogawa di dalam novel ini. Dalam website sekte Konko (2015) dijelaskan bahwa sesama manusia perlu saling membantu karena sesama manusia saling bergantung satu sama lain dalam menjalani kehidupan ini untuk mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan hidup di dunia.
Universitas Indonesia Rosa di Jepang sebelum terjadi perang dunia kedua yaitu tahun 1916. Nenek Rosa mempunyai saudara kembar bernama Irma. Mereka sering berkirim surat dan menceritakan kabar masing-masing sampai tahun 1938 sebelum semua keluarga Nenek Rosa meninggal dunia di kamp konsetrasi yang dibangun tentara Nazi. Mengenai kemunculan tokoh dari bangsa lain ini berkaitan dengan perhatian Ogawa akan kejadian yang terjadi di sekitarnya. Ogawa menyatakan bahwa sangat sedih dan tersentuh hatinya dengan peristiwa pembantaian masal. Ogawa menyayangkan mengapa manusia yang seharusnya tidak mati dalam keadaan yang mengenaskan harus mengalami proses kematian dengan cara yang tragis. Ogawa ingin menjadi perantara korban-korban yang meninggal dunia karena pembantaian tersebut dan menyuarakan penderitaan mereka melalui novel-novelnya. (Watanabe, 2011, p. 73-74). Pada peristiwa yang dialami Putri Anastasia diketahui bahwa keluarganya dibantai oleh tentara pada revolusi Rusia. Sementara mengenai Nenek Rosa dilatarbelakangi oleh kejadian pembantaian orang Yahudi pada perang dunia kedua yang dikenal dengan peristiwa holocaust. Bila melihat latar waktu penerbitan ketiga novel ini, novel KAS terbit pada tahun 2002, novel HAS terbit pada tahun 2003, dan novel MNK terbit pada tahun 2006. Maka bila latar waktu tahun terbitnya novel yaitu tahun 2000-an dijadikan acuan sebagai titik tolak untuk melihat keluarga Jepang yang sebenarnya untuk dibandingkan dengan keluarga Jepang yang dibangun oleh Ogawa Yoko di dalam ketiga novelnya dapat dikatakan bahwa hal ini tidak tepat. Mengapa dikatakan tidak tepat? Karena pada setiap novel Ogawa Yoko menggambarkan latar waktu penceritaan dengan jelas.
Universitas Indonesia yang mempunyai san shu no shinki mo_^<natau tiga jenis benda keramat. Benda-benda ini dijadikan sebagai simbol dari kemakmuran ekonomi dalam satu keluarga. Benda-benda tersebut adalah mesin cuci listrik, kulkas listrik dan televisi. (Hasegawa, 2007, p. 494).
Puncak dari pertumbuhan ekonomi Jepang atau economic bubble adalah pada tahun 80-an. Hal ini ditandai dengan simbol kemakmuran masyarakat Jepang yang dapat dilihat pada keluarga Jepang yaitu 3C yaitu Caraa terebi, Curuma, Cuuraa atau televisi berwarna, mobil dan AC. (Hasegawa, 2007). Kemakmuran yang diperoleh Jepang, tidak semuanya berdampak baik bagi masyarakatnya. Hal ini diketahui dari kisah yang dituliskan oleh Ogawa dalam novelnya dapat dikatakan sebagai kritikan Ogawa Yoko terhadap kondisi masyarakat Jepang dewasa ini melalui karya-karya populernya. Seperti yang diungkapkan oleh Shizumi (2004, p.138) bahwa Ogawa dan dua novelis Jepang lainnya yaitu Haruki Murakami dan Takahashi Genichiro, sama-sama memimpikan dunia yang lain atau masyarakat yang berbeda dengan masyarakat Jepang sekarang. Ketiga novelis ini sama-sama mengalami hidup sebelum dan sesudah economic bubble yang terjadi di Jepang pada awal tahun 80-an. Pada masa kemakmuran ekonomi tersebut masyarakat Jepang bisa membeli dan mendapatkan benda apa saja dengan mudah. Tetapi kemakmuran tersebut membawa perilaku yang belum ada sebelumnya dalam masyakat Jepang seperti tergambar dalam novel Ogawa berjudul Shugaa Taimu &+%, '$*(Waktu Gula) (1991) yang mengisahkan seorang tokoh wanita yang gemar sekali makan terutama makanan yang manis. Kegemaran akan makan ini dimaknai oleh Shizumi sebagai gambaran masyarakat Jepang yang konsumtif.
Shizumi melanjutkan, bagi Ogawa kemakmuran yang dicapai Jepang pada awal tahun 80-an berdampak kurang baik bagi masyarakat sehingga dia menginginkan dampak itu diatasi atau dihentikan. Hal ini terbaca melalui karya-karyanya seperti keinginan menghentikan berjalannya waktu, keinginan untuk kembali ke masa lalu, dan merindukan masa kanak-kanak yang murni dan polos. Sementara kehidupan terus berjalan sehingga Ogawa menyimpan kerinduan akan masa lalu itu dalam bentuk binatang yang diawetkan atau spesimen, memori, museum dan lain sebagainya. Pilihan Ogawa Yoko akan bentuk novel populer sebagai media untuk mengkritik masyarakat Jepang tak terlepas dari sifat karya populer itu sendiri. Budaya populer menurut Sugimoto (1997, p.220) mewakili cara hidup masyarakat kebanyakan dan cara masyarakat kebanyakan itu menikmati dan menjalani hidupnya.
Universitas Indonesia pendeta dalam sekte yang dianutnya. (Watanabe, 2011). Salah satu kumpulan esai yang ditulis oleh Ogawa Yoko yang terbit tahun 1999 berjudul Fukaki Kokoro No Soko Yori VFD (Dari Lubuk Hati yang Terdalam), menurut pendeta sekte Konko pada websitenya bahwa pada kumpulan esai tersebut sangat jelas menggambarkan ajaran-ajaran yang terdapat dalam sekte Konko.
Konkokyou yang disebut juga dengan sekte Konko, Konko Religious, atau Konko Faith adalah salah satu sekte yang berkembang di Jepang. Sekte ini pertama kali dikembangkan oleh pendirinya yang disebut dengan Konko Daijin pada tahun 1859. Pendiri sekte ini adalah seorang petani yang semasa kecilnya sering diajak ayahnya berkeliling ke kuil-kuil di Jepang. Pada suatu hari pendiri sekte ini yang seorang petani dan memiliki nama lahir Genshichi mengalami musibah kematian dua anaknya berturut-turut kemudian menderita sakit maag akut yang membuatnya sangat menderita. Dalam proses penyembuhannya, Genshichi yang berganti nama menjadi Bunji mendapat wahyu dari Tuhan untuk menjadi mediator antara manusia dan Kami atau Tuhan. Bunji kemudian menuliskannya ajaran dari Kami ke dalam buku yang diberi nama dengan j4K K5 (Konkoukyou Kyouten) atau Kitab Sekte Konko dan memberi nama ajarannya dengan j4K (Konkoukyou) atau Sekte Konkou. Sementara kata j 4 (konkou) itu sendiri bermakna golden light yaitu cahaya penerang yang diharapkan bersinar menerangi manusia dengan tuntunan semesta (Konkoukyou, 2015).
Universitas Indonesia bersama dengan hubungan saling bergantung yang disebut dengan (aiyo kakeyo) atau interdependent.
Kata aiyo kakeyo sendiri adalah kata yang tidak lazim digunakan dalam kehidupan masyarakat Jepang sehari-hari karena kata ini adalah kata khusus yang digunakan dalam ajaran sekte Konko. Seperti kata lebaran dalam bahasa Indonesia, akan dipahami bahwa kata tersebut adalah kata khusus yang digunakan oleh orang untuk menyebutkan hari perayaan dalam agama Islam. Begitu juga dengan kata kebaktian, akan dipahami oleh orang Indonesia sebagai satu ritual keagamaan yang dilakukan oleh penganut agama Kristen.
Sekte Konko juga mengajarkan bahwa ini Kami mendengarkan doa dan keluh kesah umatnya. Untuk menyampaikan doa dan keluh kesah, para penganut sekte ini menemui pendetanya. Pendeta akan mendengarkan doa dan keluhan orang yang datang ke rumah ibadahnya kemudian pendeta sebagai toritsugi atau mediator akan menyampaikan doa dan keluh kesah itu kepada Kami. (Konkoukyou Kyoukai Imari, 2005). Penyampaian doa dan keluh kesah ini mirip dengan pengakuan dosa yang ada pada agama Kristen Khatolik. Mengenai tempat ibadahnya pun, mereka menyebutnya dengan kyoukai atau gereja.
Sekte ini berkembang tidak hanya di Jepang saja. Sudah banyak penganut agama ini di luar Jepang seperti Korea, Philipina, Kamboja, Thailand, Malaysia hingga ke Amerika Utara, Hawaii, dan Brazil. Hal yang tidak dilupakan oleh pendeta sekte ini dalam menyebarkan ajarannya bahwa tidak perlu sungkan untuk datang ke gereja Konko, walaupun menganut ajaran agama lain. Dan yang terpenting tidak diperlukan uang sama sekali untuk menjadi penganut ajaran agama ini dan para pendeta akan selalu siap sedia menjadi toritsugi bagi para penganut yang ingin berdoa kepada Kami (Konkoukyou, 2015).
Universitas Indonesia Sekte Konko tidak mempercayai adanya perpindahan jiwa ataupun reinkarnasi (Konkokyou, 2015).
Seperti sudah dijelaskan sebelumnya bahwa sekte Konko ini adalah sekte yang dianut oleh keluarga besar Ogawa. Ogawa Yoko dibesarkan di lingkungan gereja Konko tempat di mana kakek dan ayahnya adalah pendeta dari sekte ini. Daerah kelahiran Ogawa Yoko yaitu Okayama adalah pusat sekte Konko di Jepang dan memiliki gereja yang paling besar. Sejak kecil Ogawa Yoko sudah terbiasa menyaksikan ritual dari sekte ini yang dilakukan oleh kakek dan ayahnya. Jadi wajar saja bila ajaran ini meresap dalam diri Ogawa dan ajaran ini tertuang pula dalam karya-karyanya.
Satu ajaran sekte Konko yang terlihat dari penelitian ini adalah struktur keluarga yang dibangun Ogawa Yoko adalah struktur keluarga yang anggotanya tidak sama dengan keluarga modern ataupun tradisional Jepang. Ogawa Yoko membangun struktur keluarga yang anggotanya satu sama lain saling bergantung dan saling membutuhkan seperti ajaran aiyo kakeyo yaitu hubungan yang saling membutuhkan atau interdependen. Mengenai keluarga yang anggotanya saling membutuhkan ini tergambar jelas dalam novel KAS, HAS, dan MNK. Masing-masing anggota keluarga dengan kelebihan dan kekurangannya saling membantu dan saling menolong sehingga terjalin kehidupan yang bahagia sebagaimana yang diajarkan dalam sekte Konko. Anggota keluarga yang kekurangan secara ekonomi dibantu oleh anggota yang memiliki kelebihan uang. Individu yang tidak mempunyai kepala keluarga atau pelindung mendapatkan nauangan dari kepala keluarga yang kuat secara ekonomi, walaupun sebelumnya diantara anggota keluarga tersebut tidak terdapat hubungan darah ataupun hubungan kekerabatan Habitus Ogawa Yoko menyelipkan ajaran-ajaran dalam sekte yang dianutnya ke dalam novel tidak terlepas dari perjuangannya untuk mendapatkan posisi di dalam ruang sosialnya. Hal ini terlihat dari penganut sekte ini terdiri dari berbagai kalangan masyarakat dan tokoh terkenal seperti komentator sepak bola Matsuki Yasutaro, pemain kabuki Nakamura Hashinosuke, komikus Sato Sanpei, novelis science fiction Kanbe Musashi, jurnalis, profesor, peneliti, pemuka masyarakat, dan lain-lain. Terdapatnya ajaran-ajaran sekte Konko dalam novel-novel Ogawa Yoko menempatkan dirinya dalam posisi yang tinggi di dalam ruang sosialnya karena modal sosial dan modal budayanya sebagai pengarang bertambah. Hal ini terlihat dari banyaknya penghargaan bergengsi di Jepang yang diperolehnya.
4. Kesimpulan
Universitas Indonesia landasan dasar pembentuk keluarga yaitu ikatan suami istri. Pada novel KAS dan HAS tidak terdapat ikatan suami istri namun interaksi diantara tokoh-tokoh yang muncul menunjukkan bahwa telah terjalin satu ikatan seperti sebuah keluarga. Keluarga yang terbentuk memang tidak seperti keluarga batih ataupun keluarga besar.
Pada novel MNK yang berperan sebagai kepala keluarga adalah Erich yang telah mendapatkan posisi tersebut secara otomatis. Sementara pada novel KAS dan HAS, yang berperan sebagai kepala keluarga adalah Bibi Yuli dan Mibojin. Ketiga kepala keluarga dalam ketiga novel ini sama-sama berada pada posisi dominan di dalam ruang sosialnya dan ketiga-tiganya sama-sama memiliki modal yang paling banyak di dalam ruang sosial masing-masing. Ketiga kepala keluarga di dalam novel digambarkan pula oleh Ogawa Yoko memiliki modal ekonomi yang stabil walaupun terdapat fluktuasi dari jumlah modal ekonomi yang dimiliki, tidak tergambar adanya permasalahan yang muncul akibat perubahan jumlah modal ekonomi tersebut. Di sini dapat dikatakan bahwa Ogawa Yoko memiliki habitus membangun tokoh yang menduduki posisi dominan dalam hal ini adalah kepala keluarga atau kachou dengan modal ekonomi yang stabil sehingga dapat kachou dapat menunjang kehidupannya beserta anggota keluarganya tanpa menghadapi kesulitan ekonomi sama sekali.
Berdasarkan pemaparan tiga novel Ogawa Yoko yang dikaitkan dengan sistem ie, bahwa dalam ketiga novel ini masih terdapat penerapan konsep-konsep dari sistem ie yaitu adanya kachou, shufu, chounan, houkounin, kafu, kasan, dan kagyou. Sistem pewarisan pun mengikuti konsep yang ada pada ie yaitu harta warisan jatuh kepada chounan dan kepada istri yang tidak mempunyai anak Konsep dalam sistem ie yang tidak terdapat pada ketiga novel adalah tidak adanya pemujaan arwah leluhur atau sosen suuhai, tidak ditetapkannya calon pewaris, tidak dilaksanakannya mengelolaan bisnis keluarga atau kagyou secara bersama-sama, dan tidak adanya kesinambungan ie. Unsur-unsur di dalam sistem ie yang tidak terdapat di dalam novel adalah unsur-unsur yang berkaitan dengan pemujaan arwah leluhur maka kesinambungan ie secara otomatis akan terputus. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Ogawa Yoko mematikan, menghilangkan atau meniadakan unsur-unsur yang menunjang kesinambungan ie.
Universitas Indonesia struktur keluarga bermuara ke berbagai bentuk dan salah satu perubahan struktur keluarga Jepang tersebut ditangkap oleh Ogawa Yoko dan dituangkan ke dalam novel-novelnya.
Struktur keluarga yang dibangun pada awalnya menggambarkan konsep yang terdapat dalam sistem ie, yaitu pewarisan harta pada istri yang telah ditinggal suami karena kematian. Namun pada pertengahan cerita, pewaris ini membentuk keluarga lagi. Struktur keluarga yang dibentuk bukan berdasarkan sistem ie dan bukan pula berdasarkan struktur keluarga modern. Mereka para tokoh cerita merasa sebagai satu keluarga walaupun tidak ada ikatan kekerabatan secara langsung diantara mereka.
Struktur keluarga yang dibangun oleh Ogawa Yoko di dalam ketiga novel yang menjadi sumber data primer dari penelitian ini adalah struktur keluarga yang berdasarkan ikatan kasih sayang diantara anggotanya. Anggota keluarga yang dibangun oleh Ogawa Yoko dapat terdiri dari anggota yang saling memiliki hubungan darah, hubungan kekerabatan karena pernikahan, maupun anggota yang tidak memiliki hubungan darah ataupun kekerabatan. Ogawa Yoko tidak membangun struktur keluarga seperti keluarga tradisional Jepang dan tidak pula membangun struktur keluarga modern atau keluarga batih. Sementara penentuan siapa yang menjadi kepala keluarga dari keluarga yang dibangun oleh Ogawa Yoko, ditentukan berdasarkan posisi dominan dari anggota keluarga. Penentuan posisi dominan ini dilihat dari anggota keluarga yang memiliki jumlah modal yang paling banyak.
Ogawa Yoko selaku penulis novel berkebangsaan Jepang dan tinggal di Jepang belum melepaskan diri sepenuhnya dari budaya nenek moyangnya dalam hal ikatan yang terjalin dalam keluarga yaitu ikatan keluarga tradisional. Ogawa juga belum menerima sepenuhnya budaya asing terutama dalam hal struktur keluarga batih. Ogawa yang menggambarkan keluarga alternatif dalam novel KAS dan HAS seolah memutuskan hubungan dengan struktur keluarga tradisional karena Ogawa membuat tokoh yang berposisi sebagai kachou atau pewaris menjual aset keluarga sehingga hubungan ie-nya terputus.
Universitas Indonesia
interdependen. Struktur keluarga yang dibangun oleh Ogawa Yoko adalah keluarga yang saling membutuhkan sehingga bentuk keluarga ini dapat disebut dengan istilah “Hubungan kekeluargaan Interdependen” atau “Interdependent Family Relantionship” yang bila dialihkan bahasakan ke bahasa Jepang menjadi “\.2BZCNk3 (Sougoizonteki Kazokukankei)”.
Setelah mengetahui struktur keluarga yang dibangun oleh Ogawa Yoko dalam tiga novelnya, permasalahan lain yang menarik untuk diungkapkan melalui novel Ogawa Yoko ini adalah permasalahan yang masih berkaitan dengan keluarga Jepang dewasa ini. Hal ini terlihat dari cara Ogawa Yoko memunculkan tokoh-tokohnya yang berada pada keluarga yang tidak lengkap anggota keluarganya dan kehilangan anggota keluarga tersebut pada umumnya karena kematian.
Ogawa menghilangkan tokoh ayah atau suami yang seharusnya menjadi kepala keluarga seperti Bibi Yuli yang kehilangan suami dan Gadis yang kehilangan ayahnya pada novel KAS, Kaseifu yang tidak bersuami dan Ruto yang tidak mempunyai ayah serta Mibojin yang kehilangan suami pada novel HAS, dan Nenek Rosa yang kehilangan suami dan Tomoko yang kehilangan ayah pada Novel MNK. Melihat gambaran ketiadaan kepala keluarga dalam ketiga novel ini menimbulkan pertanyaan bagaimanakah ayah dan suami dalam keluarga Jepang dewasa ini. Sesuai dengan pernyataan Aruga Kizaemon bahwa penghapusan sistem ie melemahkan otoritas kepala keluarga, maka ketiadaan ayah atau suami adalah salah satu gambaran melemahnya otoritas tersebut.
Universitas Indonesia DAFTAR REFERENSI
I. BUKU
Arichi, Tooru & Ueki, Tomiko. (2009). Nihon No Kazoku. (2nd ed.). Fukuoka: Kaichosha.
Aruga, Kizaemon. (1959). Nihon Ni Okeru Senzo No Gainen: Ie No Keifu To Ie No Honmi No Keifu To dalam Kitano, Seiichi & Okada, Yuzuru (ed.). Ie Sono Kouzo Bunseki. Tokyo: Sobunsha.
Aruga, Kizaemon. (1971). Aruga Kizaemon Chosakushuu XI: Ie No Rekishi Sono Ta. Tokyo: Miraisha.
Aruga, Kizaemon. (1980). Aruga Kizaemon Chosakushuu IX: Kazoku To Oyabun Kobun. (3rd. ed.). Tokyo: Miraisha.
Aruga, Kizaemon. (1981). Ie : Nihon No Kazoku (Edisi Revisi). Tokyo: Shibundo.
Aruga, Kizaemon. (1986). Kazoku To Ie dalam Dentou Kazoku. Tokyo: Tokyo Daigaku Shuppansha.
Aruga, Kizaemon. (1986). Dozoku to Shinzoku dalam Dentou Kazoku. Tokyo: Tokyo Daigaku Shuppansha.
Ashby, Janet. (Ed.). (2008). Read Real Japanese: Contemporary Writings by Popular Authors. TokyoNew YorkLondon: Kondansha International.
Bourdieu, Pierre & Wacquant, Loïc J.D. (1992). An Invitation to Reflexive Sociology, Chicago: The Chicago of University Press.
Bourdieu, Pierre. (1993). The field of Cultural Production: Essay on Art and Literature. ( Randal Johnson, Ed.). Columbia: Columbia University Press.
Bourdieu, Pierre. (1995). The Rule of Art: Genesis and Structure of the Literary Field. (Susan Emanuel, Penerjemah). California: Stanford University Press.
Bourdieu, Pierre. (2007). Language and Symbolic Power. (9th ed.). (Gino Raymond & Matthew Adamson, Penerjemah). Malden & Cambridge: Polity Press.
Universitas Indonesia Dore, R.P. (1971). City Life in Japan: A Study of a Tokyo Ward. (3rd ed.). Berkeley, Los Angeles, London: University of California Press.
Faruk (2012). Pengantar Sosiologi Sastra dari Strukturalisme Genetik Sampai Post-Modernisme. (2nd ed.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Fukutake, Tadashi. (1967). Japanese Rural Society. (R.P. Dore, Penerjemah), London, New York: Oxford University Press.
Fukutake, Tadashi. (1989). The Japanese Social Structure Its Evolution in the Modern Century. (2nd ed.). (Ronald P. Dore, Penerjemah), Tokyo: University of Tokyo Press.
Goode, William. (2007). Sosiologi Keluarga. (7th ed.). (Dra. Lailahanoum Hasyim, Penerjemah.). Jakarta: Bumi Aksara.
Grenfell, Michael.(ed.). (2010). Pierre Bourdieu Key Concepts. (3rd ed.).Durham: Acumen Publishing Limited.
Harker, Richard. et al. (2009). (Habitus x Modal) + Ranah = Praktik – Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu. (Pipit Maizier, Trans.) Bandung: Jalasutra
Hasegawa, K. & Hama, H. (2007). Sociology: Modernity, Self and Reflexivity. Japan: Yuhikaku
Henry, Joy. (1995). Understanding Japanese Society. (2nd ed.). New York: Routledge.
Henry, Joy. (ed.). (2003). Interpreting Japanese Society. Anthropological Approaches. (2nd ed.). London and New York: Routledge.
Ihromi. (1999). (ed.). Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Ishii, Youjiro. (2007). Bungaku no Shikou: Sainte Beuve kara Bourdieu made. Tokyo: Tokyo Daigaku Shuppankai.
Kitano, Seiichi & Okada, Yuzuru (ed.). (1959). Ie Sono Kouzo Bunseki. Tokyo: Sobunsha.
Kitano, Seiichi & Okada, Yuzuru. (1959). Shakaigaku Ni Okeru Ie No Kenkyu: Aruga Hakase No Gyouseki Wo Chuushin Toshite dalam Ie Sono Kouzo Bunseki. Tokyo: Sobunsha.
Lubis, Akhyar Yusuf. (2014). Postmodernisme Teori dan Metode. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Universitas Indonesia Ogawa, Yoko. (1993). Yousei Ga Maioriru Yoru. Tokyo: Kakugawa Bunko.
Ogawa, Yoko. (2002). Kifunjin A no Sosei. Tokyo: Asahi Shinbunsha.
Ogawa, Yoko. (2003). Hakase No Aishita Suushiki . Tokyo: Shinkosha.
Ogawa, Yoko. (2006). Miina no Koushin. Tokyo: Chuokoron-Shinsha.
Ogawa, Yoko. (2009). Inu No Shippo O Nadenagara. Tokyo: Shueisha.
Ochiai, Emiko. (1997). The Japanese Family System in Transition. Japan: LTCB International Library Foundation.
Rebick, Marcus & Takenaka, Ayumi. (ed.). (2006). The Changing Japanese Family. London and New York: Routledge
Rimer, Thomas & Gessel, C. Van. (Ed.). (2011). The Columbia Anthology of Modern Japanese Literature. Columbia: Columbia University Press.
Senda, Yuki. (2013). Nihongata Kindai Kazoku; Doko Kara Kite Doko E Iku No Ka. (5th ed). Tokyo: Keisoshobo.
Schierbeck, Sachiko & Edelstein , Marlene R. (1994). Japanese Women Novelists in the 20th Century: 104 biographies, 1900-1993. Denmark: Museum
Tusculanum Press.
Shibata, Motoyuki & Numano, Mitsuyoshi & Nozaki, Kan (Ed.). (2008). Bungaku no Tanoshimi (Kenikmatan Mengapresiasi Sastra). Tokyo: Housou Daigaku Kyouiku Shinkou Kai.
Sugimoto, Yoshio (1997). An Introduction to Japanese Society. Hongkong: Cambridge University Press.
Thompson, John B. (2007). Editor’s Introduction. Language and Symbolic Power. (9th ed.). (Gino Raymond & Matthew Adamson, Trans.). Malden & Cambridge: Polity Press. p.1-34.
Tobing, Ekayani. (2006). Keluarga Tradisional Jepang dalam Perspektif Sejarah dan Perubahan Sosial. Depok: Iluni KWJ.
Torigoe, Hiroyuki. (1988). Ie to Mura no Shakaigaku. (5th ed.). Tokyo: Tokyo Daigaku Shuppansha.
Universitas Indonesia
Vogel, Ezra F. (1971). Kinship Structure, Migration to the City and
Modernization dalam Aspects of Social Change in Modern Japan (R. P. Dore, Editor). Princeton New Jersey: Princeton University Press.
Watanabe, Naoki. (2011). Watashi To Shuukyou: Takamura Kaoru, Kobayashi Yoshinori, Ogawa Yoko, Tachibana Takashi, Araki Nobuyoshi, Takahashi Keiko, Tatsumura Jin, Hosoe Eikou, Souda Kazuhiro. Mizuki Shigeru. Tokyo: Heibonsha Shinsho.
Wellek, Rene, & Warren, Austin. (1993). Teori Kesusastraan. (3th ed.) (Melani Budianta, Penerjemah.). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
II. SERIAL
Devi, Rima. (2012). Keluarga Alternatif dalam Masyarakat Jepang Abad Milenium pada Novel Hakase no Aishita Suushiki Karya Ogawa Yoko.
Journal of Japanese Studies Vol. 01 No. 01 June 2012. Center for Japanese Studies Universitas Indonesia.
Devi, Rima. (2014). Keluarga Jepang Kontemporer dalam Tiga Novel Karya Ogawa Yoko. Lingua Cultura Jurnal Bahasa dan Budaya Vol. 8 No. 2 November 2014. Universitas Bina Nusantara.
Hasebe, Namie. (2004, Februari). Ogawa Yoko No [Hakase]teki Jiritsu. Yuriika Shi To Hihyou, Tokushuu Ogawa Yoko, p.67-71.
Hiraoka, Tokuyoshi. (2004, Februari). Kakusareta Kami No Techou: Ogawa Yoko No Musousuru Mono. Yuriika Shi To Hihyou, Tokushuu Ogawa Yoko, p. 60-66.
Ito, Ujitaka. (2004, Februari). Sonzai To Hisonzai no Aida No Tamerai: Ogawa Yoko No Aishita Suushiki. Yuriika Shi To Hihyou, Tokushuu Ogawa Yoko, p.72-83.
Itsuji, Akemi. (2004, Februari). [Okina Monogatari] no Kaibon: Ogawa Yoko no Bibunpou to Fantajii no Sekibunpou. Yuriika Shi To Hihyou, Tokushuu Ogawa Yoko, p.148-157.
Maeda, Rui. (2004, Februari). Uso O Tsuku Otoko Soshite Aruiwa Tasha To [shiteno] Boukyaku. Yuriika Shi To Hihyou, Tokushuu Ogawa Yoko, 84-94.
Ogawa, Yoko. (2004, Februari). Kakareta Mono, Kakarenakatta Mono. Yuriika Shi To Hihyou, Tokushuu Ogawa Yoko, p.44-54.
Universitas Indonesia Shizumi, Yoshinori. (2004, Februari). Himerareta Kyouwaguni. Yuriika Shi To
Hihyou, Tokushuu Ogawa Yoko, p.135-141.
Suga, Hidemi. (2004, Februari). Takusan” kara Zero he no Fetishizumuteki Tenkai. Yuriika Shi To Hihyou, Tokushuu Ogawa Yoko, p.95-98
Takahara, Eiri. (2004, Februari). Ogawa Yoko no Kioku. Yuriika Shi To Hihyou, Tokushuu Ogawa Yoko, p.99-104.
Yuriika Shi To Hihyou. (2004, Februari). Tokushuu Ogawa Yoko.
III. TESIS DAN DISERTASI
Devi, Rima. (2010). Perjuangan Simbolik Seorang Ilmuwan Sebagai Ayah Alternatif pada Novel Hakase no Aishita Shuushiki Karya Ogawa Yoko. Depok: Kajian Wilayah Jepang Pascasarjana Universitas Indonesia. (Tesis)
Tobing, Ekayani, (1999). Konsep Keluarga Jepang Dewasa Ini: Suatu Kajian Tentang Pelestarian dan Perubahan dalam Sistem Keluarga Jepang. Depok: Kajian Wilayah Jepang Pascasarjana Universitas Indonesia. (Disertasi)
IV. PUBLIKASI ELEKTRONIK
Aruga, Kizaemon. (1960). Kazoku To Ie. Keio University. Philosophy No. 38, p. 79-110. Diakses 11 Maret 2015. http://ci.nii.ac.jp/naid/110007353255/en.
Bourdieu, Pierre. (1989). Social Space and Symbolic Power. Sociological Theory,
Vol.7, No. 1. (Spring, 1989), p. 14-25. Diakses, 21 Desember 2009. http://www.jstor.org/stable/202060.
Bourdieu, Pierre. (1996). On the Family as a Realized Category. Theory Culture Society, 1996 13:19. Diakses 18 Februari 2013.
http://tcs.sagepub.com/content/13/3/19
Bowen-Struyk , Heather. (2004). Revolutionizing the Japanese Family: Miyamoto Yuriko’s “The Family of Koiwai”. East Asia Cultures Critique Vol.12.Number 2 Fall 2004, pp. 479-507. Diakses 16 Januari 2012
http://muse.jhu.edu/journals/pos/summary/v012/12.2bowen-struyck.html
Haruo, Matsubara. (1969). The Family and Japanese Society After World War II. The Journal of the Institute of Developing Economies, Tokyo, Japan, Vol. 7. 1969, 4, p. 499-526. Diakses 18 Maret 2015.
Universitas Indonesia Hirano, Toshimasa. (1980). Aruga Kizaemon: The Household, the Ancestors, and the Tutelary Deities. Japanese Journal of Religious Studies, Vol. 7, No. 2/3 (Jun. - Sep., 1980), pp. 144-166!. Diakses 3 Maret 2015.
http://www.jstor.org/stable/30233241!.
Ito, Ken. K (2000). The Family and the Nation in Tokutomi Roka's Hototogisu. Harvard Journal of Asiatic Studies, Vol. 60, No. 2 (Dec.2000), pp. 489-536 Diakses 6 Mei 2012. http://www.jstor.org/stable/2652633
Nagayoshi, Masao. (2010). The Critical Year for Miina and Tomoko to Embark on the Life: Essay on "Miina no koshin" (-) by Yoko Ogawa. Otemon Daigakuin Daigaku Kokusai Kyouyou Gakubu Kiyou 4, 70-82. April 10, 2012. http://ci.nii.ac.jp/naid/110008674231
Takanezawa, Noriko. (2003). On Ogawa Yoko “Pregnancy Calender”. Bulletin of Faculty of Management Information Sciences, Jobu University, number 26, Desember 2003, p.148-162. Februari, 3, 2011.
http://ci.nii.ac.jp/naid/110002963146.
Wada, Tsutomu. (2008). Ogawa Yoko Ron. Kyushu Sangyo Daigaku Kokusai Bunkabukiyo, No. 39, p. 1-12. Diakses 3 Februari 2011.
http://ci.nii.ac.jp/els/110007025831
V. SUMBER INTERNET
Anastasia. (2015). The Biography.com website. Diakses 06:12, 5 Maret 2015, From http://www.biography.com/people/anastasia-9184008.
Konkoukyou (1994).
http://homepage3.nifty.com/y-maki/db/konkou.html. Diakses, 5 Juli 2015.
Konkoukyou (2012).
http://www.konkokyo.or.jp/eng/bri/index.html. Diakses, 6 Juli 2015.
Konkoukyou Imari Kyoukai. (2005).
http://www.hachigamenet.ne.jp/~konkokyo/frame_konkoukyotoha.htm
Konkoukyou Izuo Kyoukai. (2015).
http://www.relnet.co.jp/izuo/index.htm. Diakses 4 Juli 2015
Konkoukyou Tamamizu Kyoukai. (2015).
Universitas Indonesia Ogawayouko.blog.shinobi.jp. Diakses Januari 2009.
http://ogawayouko.blog.shinobi.jp/
Senda, Yuki. (2013). The Japanese Family on the Brink of Change? Nippon.com. Diakses 3 November 2014.
Universitas Indonesia
SINOPSIS
Sinopsis Novel Kifujin A no Sosei (KAS)
Tokoh aku atau sebut saja Gadis yang ditinggal mati ayahnya mendapat tugas
menjaga Bibi Yuli istri pamannya. Paman Gadis lebih dahulu meninggal dunia
dua bulan sebelum kepergian ayah Gadis. Paman Gadis adalah seorang pengusaha
kaya yang mempunyai pabrik plastik, mempunyai banyak koleksi binatang yang
diawetkan, dan mempunyai rumah yang besar dan mewah berikut para pembantu
yang mengurus dan menjaga koleksinya. Paman Sang Gadis menikah dengan
seorang perempuan Rusia yang merupakan pelarian dan mendapat suaka tinggal
di Jepang. Usia istri Paman Gadis atau Bibi Yuli saat menikah adalah 69 tahun,
sementara Paman Gadis berusia 51 tahun. Semua orang berpraduga bahwa
perkawinan mereka tidak akan berjalan lama dengan anggapan Bibi Yuli hanya
mengharapkan harta saja. Kiranya perkawinana mereka berjalan mulus selama
sepuluh tahun lebih, dan kematian Paman Gadis yang memisahkan mereka.
Sepeninggal ayahnya, ibu Gadis dan adiknya yang tidak punya tempat
bergantung akhirnya pulang ke rumah orang tuanya untuk mencari penghidupan
baru. Sementara Gadis yang setahun lagi akan menyelesaikan kuliahnya mendapat
tugas menjaga dan merawat Bibi Yuli di rumahnya yang besar dengan imbalan
biaya kuliah Gadis ditanggung dari warisan pamannya. Gadis merawat dan
menjaga Bibi Yuli dengan baik dan tidak membuatnya berubah pikiran, walaupun
kemudian Gadis mengetahui bahwa harta pamannya yang tersisa hanyalah rumah
dan koleksinya saja.
Gadis mempunyai pacar bernama Niko yang sering berkunjung ke rumah Bibi
Yuli dan membantu segala sesuatu yang terkait dengan urusan rumah yang tidak
bisa diselesaikan sendiri oleh Gadis. Bibi Yulipun dengan senang hati menerima
kehadiran Niko di rumah mereka walaupun Niko memiliki kelainan psikologis
yaitu OCD (Obsessive Compulsive Disorder). Baik Gadis maupun Bibi Yuli,
keduanya memikirkan bagaimana cara untuk membantu menyembuhkan penyakit
Universitas Indonesia Sang Gadis tidak menyadari bahwa bola mata biru bibinya dan kulitnya yang
putih menarik perhatian seorang wartawan majalah pencinta binatang yang
diawetkan bernama Ohara. Ohara melihat Bibi Yuli mirip dengan Putri Anastasia,
putri ke empat dari Raja Nicholas II yang digulingkan di Rusia. Ohara kemudian
mempublikasikan keberaadaan Bibi Yuli sebagai orang yang diduga mirip dengan
Putri Anastasia di majalah yang dikelolanya. Sejak itu banyak tamu berdatangan
ke rumah untuk bertemu dengan Bibi Yuli dan meminta tanda tangan. Ohara tanpa
berbasa basi telah mendaulat dirinya sebagai manajer Bibi Yuli dan mengatur
pertemuan Bibi Yuli dengan tamu-tamu. Ohara juga mendatangkan ahli sejarah
untuk mewawancarai Bibi Yuli dan untuk membuktikan apakah Bibi Yuli
benar-benar Putri Anastasia.
Bibi Yuli sendiri sangat senang dengan kedatangan para tamu yang
menganggap dirinya adalah Putri Anastasia. Bibi Yuli terkadang menyempatkan
diri bermain sulap di depan tamu-tamunya, sebuah permainan yang sangat mahir
dilakukannya. Bibi yang diwawancarai oleh para tamu sering bercerita mengenai
kehidupannya semasa tinggal di istana di Rusia dan kehidupannya setelah tiba di
Jepang. Gadis dan pacarnya Niko tidak percaya bahwa Bibi Yuli adalah Putri
Anastasia, terlebih setelah mereka melihat Bibi Yuli pergi ke toko barang antik,
mengumpulkan barang-barang yang kira-kira terkait dengan Rusia dan melihat
Bibi membuka-buka album berisi foto-foto keluarga kerajaan Rusia.
Ohara memberitahukan bahwa akan diadakan wawancara antara Bibi Yuli
dengan para ahli untuk direkam dengan maksud akan ditayangkan di TV. Gadis
dan Niko yang semula tidak begitu peduli dengan anggapan bahwa Bibi Yuli
adalah Putri Anastasia, akhirnya ikut membantu Bibi Yuli menyiapkan diri agar
ketika diwawancarai bisa menjawab pertanyaan yang terkait dengan Putri
Anastasia dengan mempelajari silsilah keluarga kerajaan Rusia yang terakhir dan
menyuruh Bibi Yuli menghafalkannya. Dari wawancara yang dilakukan untuk TV,
ahli sejarah menyatakan kemungkinan Bibi Yuli adalah Putri Anastasia adalah
90% yang disimpulkan berdasarkan bukti fisik tampak luar dan dari foto ronsen
rangka kepala dan susunan giginya. Sangat disayangkan beberapa hari setelah
diwawancarai dan rekaman wawancara belum sempat di tayangkan di TV, Bibi
Universitas Indonesia Sinopsis Novel Hakase no Aishita Suushiki (HAS)
Novel ini mengisahkan tentang seorang tokoh, sebut saja1 Kaseifu2 yang
bekerja sebagai pengurus rumah tangga, di rumah Hakase3 yang sudah lansia dan
tidak menikah. Kaseifu yang terlahir dari seorang ibu yang berambisi tinggi,
terpaksa meninggalkan rumah ibunya sebab dirinya hamil di luar nikah. Kaseifu
kemudian tinggal di panti ibu dan anak setelah melahirkan anak laki-lakinya.
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya Kaseifu memilih bekerja sebagai pengurus
rumah tangga karena mengurus rumah sudah dilakukannya sedari kecil sehingga
hanya pekerjaan tersebut yang dirasa sesuai dengan dirinya. Dan benar saja,
Kaseifu memperlihatkan hasil kerja yang baik pada setiap rumah majikan tempat
dia ditugaskan.
Satu ketika Kaseifu mendapat tugas bekerja di rumah seorang mantan profesor
matematika bernama Hakase. Hakase semasa mudanya mendapat kecelakaan
mobil yang mengakibatkan otaknya mengalami kerusakan dan hanya mampu
mengingat segala sesuatu secara kontinyu selama 80 menit saja. Lewat dari waktu
tersebut Hakase lupa apa yang telah terjadi. Untuk membantunya mengingat
peristiwa sebelumnya, Hakase menempelkan memo-memo pada jas yang
dipakainya. Satu memo yang selalu terselip adalah, “memoriku hanya 80 menit
saja”.
Biaya hidup Hakase ditanggung oleh Mibojin4 yang merupakan kakak ipar
perempuan Hakase. Sedangkan kakak kandung Hakase sendiri sudah lama
meninggal dunia. Biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup Hakase dan Mibojin
diperoleh dari hasil sewa apartemen yang dibangun dari sisa warisan kakak
1 Ogawa Yoko tidak menyebutkan nama dari setiap tokoh yang muncul dalam novel HAS ini. Oleh karena itu nama dari setiap tokoh diambil dari profesi atau julukan yang diberikan pada tokoh tersebut.
2
Kaseifu dalam bahasa Jepang berarti pengurus rumah tangga yang bekerja di rumah seseorang dari pagi hingga sore hari untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah dan lain sebagainya. Bila pekerjaannya sudah selesai dan waktu bekerjanya sudah habis, kaseifu akan pulang ke rumahnya. Yang membayarkan gaji kaseifu adalah yayasan yang mengirimnya bekerja ke rumah-rumah.
3
Hakase dalam bahasa Jepang berarti seseorang yang sudah menamatkan pendidikan hingga jenjang S3 dan disebut juga dengan doktor. Hakase juga bermakna profesor bila ybs. berprofesi sebagai dosen pada satu universitas.