• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ringkasan Artikel tentang Kode Etik Inte

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Ringkasan Artikel tentang Kode Etik Inte"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Analisa Kode Etik Akuntansi Internasional

Curtis Clements, John D. Neill, O. Scott Stovall

Journal of Business Ethics (2009) 87:173–183 DOI 10.1007/s10551-008-9811-3

IFAC baru-baru ini mengeluarkan revisi atas Kode Etik Akuntan Profesional (IFAC Code).

Syarat keanggotaan di IFAC, sebuah organisasi akuntan nasional harus menggunakan IFAC Code atau mengadopsi IFAC Code dengan persyaratan tidak boleh “kurang ketat”. Penelitian dilakukan pada 158 organisasi akuntan nasional, sejauh mana organisasi – organisasi tersebut telah mengadopsi Kode Etik IFAC bagi mereka. Hasil penelitian menunjukkan 80 organisasi

sampel telah mengadopsi IFAC Code (dengan sedikit modifikaasi), sedangkan 78 organisasi

tidak memanfaatkan model IFAC Code.

Sebagian besar negara-negara memiliki standar pelaporan keuangan sendiri dan organisasi

profesi akuntannya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Dewan Standar Akuntansi

Internasional berupaya untuk mengharmonisasikan standar pelaporan keuangan di seluruh dunia.

Selain itu IFAC mengeluarkan revisi IFAC Code. IFAC Code ini berpotensi dijadikan dasar bagi

berbagai kode etik nasional. Akan tetapi ada faktor-faktor lain seperti budaya, kelembagaan,

filosofis dan nasionalis yang berpengaruh pada tujuan, pendekatan dan konten yang terkandung

dalam masing-masing kode etik disiplin akuntansi di seluruh dunia.

Tujuan Penelitian

- Menilai sejauh mana kode etik berbagai organisasi akuntansi nasional diselaraskan

dengan (mengadopsi) revisi IFAC Code.

- Menguji apakah organisasi akuntan nasional dalam memilih untuk mengadopsi IFAC

Code dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi.

Penelitian Sebelumnya

1. Farrel dan Cobbin (2000) melakukan analisa isi kode etik 57 asosiasi akuntansi nasional.

Hasil penelitian: 96% kode etik yang dianalisa dibuat berdasarkan aturan secara alami.

Namun meskipun kode etik 57 sampel tersebut adalah rule based, banyak juga yang

memasukkan komponen inspirasional yang memberikan nilai/prinsip-prinsip penting

yang harus dipatuhi oleh akuntan professional.

Kesimpulan penelitian: IFAC Code digunakan sebagai model kode etik untuk

harmonisasi standar perilaku akuntan professional di seluruh dunia.

2. Jakubowski dkk (2002) melakukan penelitian sejauh mana persamaan dan perbedaan

kode etik akuntan professional bersertifikat di negara: AS, Taiwan, Korea Selatan,

(2)

Hasil penelitian: Ada persamaan dan perbedaan aturan etika pada negara-negara tersebut. Beberapa aturan etika adalah “tanpa pengaruh budaya” dan tidak berbeda pada 8 negara, sedangkan pada negara lain bervariasi yang menerapkan spesifisitas aturan etika tertentu,

yang disebabkan oleh pengaruh ekonomi, budaya dan hukum di masing-masing negara.

Menurut Cohen (1992), terdapat faktor budaya dan sosial ekonomi yang dapat menghambat

penerimaan dan pelaksanaan kode etik profesi internasional. Keputusan apakah mengadopsi

Kode IFAC atau tidak, dapat dipengaruhi oleh faktor budaya dan faktor sosial ekonomi. tidak .

Cohen berpendapat bahwa organisasi akuntansi nasional di negara kurang berkembang akan

menolak mengadopsi Kode IFAC karena kode itu sebagian besar dibuat oleh dan berguna untuk

akuntan di negara maju. Wallace (1990) mengidentifikasi kurangnya kesesuaian standar

internasional untuk negara-negara berkembang sebagai masalah utama yang dihadapi dalam

harmonisasi standar akuntansi.

IFAC Code

The International Federation of Accountants saat ini memiliki 134 anggota dan 24 anggota

organisasi asosiasi. Anggota IFAC adalah nasional organisasi akuntansi dari akuntan profesional

individu atau perusahaan akuntansi. Tiga organisasi anggota IFAC di AS adalah American

Institute Akuntan Publik (AICPA), Institut Akuntan Manajemen (IMA), dan Asosiasi Nasional

Dewan Negara Akuntansi.

Menurut IFAC Code, misi Federasi Internasional Akuntan adalah ''pembangunan di seluruh

dunia dan peningkatan profesi akuntansi dengan standar harmonis yang mampu memberikan layanan berkualitas tinggi secara konsisten demi kepentingan umum” (IFAC, 2005, hal. 2). Tujuan utama dari IFAC adalah harmonisasi internasional standar akuntansi nasional, termasuk

standar etika, Berdasarkan tujuan tersebut, IFAC menerbitkan revisi Kode Etik Profesional

Akuntan pada Juni 2005. Kode IFAC sebagai kode etik model bagi asosiasi akuntansi nasional.

Adopsi Kode IFAC bukan merupakan prasyarat untuk keanggotaan di IFAC. Namun, menurut Kode IFAC, “anggota IFAC atau perusahaan mungkin tidak menerapkan standar yang sama/lebih ketat daripada yang tercantum dalam Kode Etik ini”. Anggota organisasi IFAC karena itu mungkin mengadopsi kode etik mereka sendiri bagi anggotanya. Namun, kode apapun yang diadopsi oleh anggota IFAC tidak boleh “kurang ketat” daripada IFAC Code.

Pengumpulan Data

- Data diperoleh secara langsung melalui situs IFAC tentang apakah organisasi anggota

IFAC dan asosiasi telah mengadopsi IFAC Code. Data dikumpulkan dari 158 organisasi

angggota IFAC. Setiap anggota organisasi IFAC harus menyelesaikan survei sebagai

(3)

survey terdiri dari dua bagian. Dalam Bagian 1, anggota IFAC harus memberikan

informasi mengenai penetapan standar negara mereka dan kerangka peraturan bekerja.

Bagian 2 menggambarkan upaya organisasi mereka untuk mengatasi kebutuhan anggota

IFAC itu. Sebagian dari Bagian 2 dalam pertanyaan survei khusus membahas apakah

anggota organisasi telah mengadopsi model Kode etik IFAC.

- Data tentang status sosial ekonomi negara masing-masing anggota IFAC dari Bank Dunia

(2007). Bank Dunia mengklasifikasikan ekonomi ke dalam kelompok pendapatan

berdasarkan pendapatan nasional bruto per kapita. Berbagai kelompok pendapatan diberi

label berpenghasilan rendah, pendapatan menengah ke bawah pendapatan menengah ke

atas, dan berpenghasilan tinggi. Data sosial ekonomi berhasil diperoleh untuk 153 dari

158 anggota IFAC. Sehingga, tes empiris penelitian ini tentang hubungan antara status

sosial ekonomi dan keputusan adopsi IFAC Code didasarkan pada 153 organisasi.

Hasil Empiris – anggota IFAC yang mengadopsi IFAC Code

Tabel I : ada 42 Anggota organisasi IFAC yang mengadopsi IFAC Code tanpa modifikasi

sebagai kode etik organisasinya. Sebagian besar organisasi tersebut berasal dari negara dengan

kelompok pendapatan per kapita di level bawah.

Tabel II : ada 38 Anggota organisasi IFAC yang mengadopsi IFAC Code dengan modifikasi

sebagai kode etik organisasinya. Modifikasi dilakukan sangat kecil yaitu dalam persyaratan

mengenai iklan dengan akuntan professional.

Tabel III : ada 34 anggota organisasi IFAC yang memiliki persyaratan etika sendiri dengan

proses untuk menghilangkan perbedaan antara ketentuan etika mereka dengan IFAC Code.

Mereka merespon baik dalam rencana penyelarasan standar etika dengan IFAC Code dan

kemungkinan akan mengganti kode mereka sendiri dengan IFAC Code di kemudian hari.

Tabel IV : ada 17 anggota organisasi IFAC yang mengembangkan kode etiknya sendiri dengan

menggunakan pendekatan lain untuk menggabungkannya dengan IFAC Code (memasukkan

banyak ketentuan IFAC Code ke dalam kode etiknya). IAI termasuk pada Tabel IV.

Tabel V : ada 27 anggota organisasi IFAC yang tidak mengadopsi IFAC dan tidak

menggabungkan dengan IFAC Code. Mereka juga tidak memiliki rencana untuk mengadopsinya

(4)

Hasil Empiris – Apakah keputusan adopsi IFAC Code dipengaruhi oleh Faktor Sosial

Ekonomi?

Tabel VI

Tabel VI memberikan hasil yang menguji apakah keputusan untuk mengadopsi IFAC Code

dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi. Ini secara khusus menguji hipotesis bahwa akuntansi

organisasi di negara berpenghasilan rendah akan cenderung untuk mengadopsi Kode IFAC

dibandingkan negara-negara maju. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang

signifikan antara keputusan adopsi IFAC Code dengan status sosial ekonomi.

Implikasi Penelitian

- Hasil penelitian menunjukkan bahwa IFAC telah cukup berhasil dalam usaha mereka untuk

menyelaraskan/harmonisasi standar etika akuntan profesional di seluruh dunia. Sedikit lebih

dari 50 % dari anggota IFAC telah mengadopsi Kode IFAC (kadang-kadang dengan minor

modifikasi ) sebagai kode etik mereka sendiri. Selain itu, ditemukan juga bahwa banyak

organisasi akuntansi yang tidak mengadopsi IFAC Code berusaha untuk meminimalkan

perbedaan antara kode etiknya dengan IFAC Kode dan yang lain berencana mengadopsi

IFAC Code di kemudian hari.

- Hipotesis bahwa organisasi akuntansi di negara berpenghasilan rendah akan lebih kecil

kemungkinannya untuk mengadopsi IFAC CODE tidak terbukti. Alasan potensial kurangnya

dukungan untuk hipotesis tersebut adalah bahwa organisasi akuntansi di negara

berpenghasilan rendah mungkin tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk

mengembangkan kode etik yang efektif pada mereka sendiri. Organisasi-organisasi ini

karena itu akan menemukan biaya menguntungkan untuk hanya mengadopsi model IFAC

Code.

- Terdapat potensi perbedaan antara organisasi akuntansi yang mengadopsi kode etik dan

organisasi yang mampu menegakkan kode etik tersebut pada anggotanya. Dengan kata lain,

mungkin relatif mudah (yaitu, biaya rendah) untuk sebuah organisasi dalam ekonomi

berpenghasilan rendah untuk mengadopsi IFAC Code, sedangkan kondisi di negara tersebut,

termasuk faktor budaya dan sosial ekonomi, bisa membuat sangat sulit bagi organisasi untuk

menegakkan kode etik. Sangat sulit bagi organisasi dengan dana rendah pada negara

berpenghasilan rendah untuk menilai sejauh mana anggotanya mematuhi kode etik yang

diterapkan, apalagi untuk membawanya ke ranah hukum bagi anggota yang ditemukan Income Level Mengadopsi IFAC Code Tidak Mengadopsi Total

Low income 19 8 27

Lower middle income 18 17 35

Upper middle income 16 17 33

(5)

terdapat dugaan ketidakpatuhan . Oleh karena itu, saran Cohen et al.(1992) bahwa ekonomi

mungkin juga dapat mempengaruhi kode etik akuntansi internasional jika kita memeriksa

kepatuhan dan penegakan daripada sekedar adopsi kode etik.

Saran untuk Penelitian di Masa Depan

- Penelitian masa depan dapat menguji apakah berbagai faktor budaya, termasuk yang

dijelaskan oleh Cohen et al. (1992), mempengaruhi keputusan adopsi IFAC Code. Sebagai

contoh, lakukan sejauh mana suatu negara (1) menikmati aturan yang ditetapkan hukum

termasuk hak milik, (2) adalah konsumen ayat masyarakat yang berorientasi peraturan, atau

(3) menunjukkan individualistis ayat kecenderungan komunal antara yang terpadat

mempengaruhi kemungkinan bahwa organisasi akuntansi profesional mereka akan

mengadopsi universal (internasional) kode etik?

- Setiap nonadopter IFAC Code wajib memiliki kode etik yang tidak kurang ketat daripada

IFAC Code. Dapat dilakukan penelitian mengenai kode etik yang diadopsi oleh

non-adopters IFAC Code apakah seketat IFAC Code.

Globalisasi yang terus terjadi dalam budaya, teknologi, dan bisnis, maka profesi akuntansi harus

juga terus mengikuti dan menilai kembali perannya dalam ekonomi dunia dan masyarakat secara

keseluruhan. Studi ini merupakan salah satu upaya, di antara banyak yang harus mengikuti,

untuk menilai bagaimana masyarakat akuntansi internasional mungkin atau mungkin tidak

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan dengan tujun untuk mengetahui persepsi akuntan publik, akuntan pendidik, dan mahasiswa akuntansi terhadap prinsip-prinsip etika dalam kode etik Ikatan

Gambar 2 Kerangka Teoritis Penelitian.... Persepsi Akuntan Pendidik Dan Mahasiswa Akuntansi Terhadap Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia PTS di Kota Surakarta. Fakultas

Hasil penelitian tentang penyelesaian pelanggaran Kode Etik Kepolisian berpotensi Pidana ... Upaya pengawasan Kode Etik

Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui persepsi akuntan perusahaan perhotelan di Provinsi Bali terhadap kepatuhan akuntan publik atas kode

Diskusi kode etik tidak berpengaruh memperkuat pengaruh positif social consensus terhadap pertimbangan etis akuntan publik, mengandung makna bahwa kode etik

Sesuai dengan judul penelitian “Pengaruh Pemahaman Kode Etik Profesi Akuntan terhadap Perilaku Etis Calon Akuntan Pendidikan Profesi Akuntan Universitas Gadjah Mada”, maka

dingkan kesesuaian kode etik akuntan publik kompartemen akuntan publik Ikatan Akuntan Indonesia yang berupa aturan etika Kompar- temen Akuntan Publik dengan

Penelitian ini menganalisis kode etik akuntan publik serta pelanggaran pelaporan audit pada PT Garuda Indonesia