Tugas Individu Matakuliah International Relations Jurusan Diplomasi Pertahanan
Universitas Pertahanan
Analisis Teori Pilihan Rasional Diplomasi Pertahanan
Indonesia dalam Rezim Internasional
Mine Ban treaty
Oleh: Budi Hartono
Pendahuluan
Pada era Perang Dingin, Amerika Serikat maupun Uni Soviet merupakan produsen utama persenjataan bagi negara-negara sekutunya. Terdapat beberapa kategori senjata utama (major weapons) yang dikirim ke negara sekutunya antara lain tank, mobil lapis baja, artileri, pesawat tempur, helikopter serang, kapal perang, landmine, dan misil.1 Bahkan
Amerika Serikat pada tahun 1950-1994, menyediakan senjata dan amunisi bernilai U$55.2 triliun melalui Program Bantuan Militer (MAP), ditambah perlengkapan militer sebesar U$6.5 triliun.2
Situasi Perang Dingin membuat negara produsen senjata konvensional menggunakan dan mentransfer senjata konvensional secara besar-besaran. Penggunaan dan penyebaran tersebut membuat
1 Denik Iswardani Witarti, (2010), Ancaman Pengedaran Haram Senjata Kecil dan Ringan (SKR) di
Indonesia: Analisis Keselamatan Nasional, Disertasi (tidak diterbitkan), Kuala Lumpur: Universiti Kebangsaan Malaysia, hlm. 2.
2 Michael T. Klare, (1998), Light Weapons Diffusion and Global Violence in the Post-Cold War Era. Dalam
senjata konvensional masih tetap ada di wilayah paska perang. Adapun senjata konvensional tersebut berjenis ranjau darat (landmine) yang masih tersebar di Vietnam, Kamboja, dan Afghanistan. Menurut laporan Pemerintah Vietnam, terdapat 35 juta ranjau darat tertanam di wilayahnya.3
Di Afghanistan, penggunaan dan penyebaran ranjau darat terjadi pada saat Perang Afghanistan. Paska perang tersebut, terdapat sekitar 5,000 ranjau darat yang masih tersebar di wilayah Afghanistan.4
Landmine
yang masih berada di wilayah pasca perang, menimbulkan korban jiwa. Korban dari senjata konvensional landmine, khususnya yang berada di wilayah paska perang seperti Vietnam, Kamboja, dan Afghanistan diperkirakan telah melukai 26.000 orang yang terdiri dari 90 persen warga sipil dan 10 persen personil militer.5
Dampak negatif dari minimnya pengontrolan akan penggunaan dan penyebaran senjata konvensional yang berakibat terjadinya krisis kemanusiaan membuat individu, negara, dan entitas di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membentuk aturan rezim internasional dalam rangka melakukan kontrol dari penggunaan dan penyebaran senjata konvensional. Terdapat beberapa definisi mengenai rezim internasional. Menurut Stephen D. Krasner, rezim internasional adalah tatanan yang berisi kumpulan prinsip, norma, aturan, proses pembuatan keputusan yang memuat kepentingan aktor dalam hubungan internasional.6 John
Ruggie juga memberikan pengertian yang hampir sama mengenai rezim internasional yaitu sekumpulan ekspektasi atau pengharapan bersama, peraturan, rencana, komitmen organisasi dan finansial yang telah
3 Embassy of the Socialist Republic of Vietnam in the United States of America, (11 Maret 2014),
“The US Veterans Help Land Mine Removal in Vietnam,”
http://vietnamembassy-usa.org/relations/us-veterans-help-land-mine-removal-vietnam dikutip 11 Maret 2014.
4 Waslat Hasrat-Nazimi , (4 April 2013), “Hidden Enemies: Afghanistan Combats Landmine,”
http://www.dw.de/hidden-enemies-afghanistan-combats-landmines/a-16716914 dikutip 11 Maret 2014
5 AM Fachir, (27 Juni, 2011), “Perkembangan Konvensi Anti Personnel Mines.”
http://www.balitbang.kemnhan.go.id/?q=content/perkembangan-konvensi-anti-personnel-mines dikutip 7 Maret 2014.
6 Stephen D. Krasner, 1983, International Regimes, Itacha, New York: Cornell University, hal. 7.
diterima dan disepakati oleh sekelompok negara.7Sedangkan Keohane
dan Joseph S. Nye mendefinisikan rezim internasional sebagai serangkaian rencana yang didalamnya terdapat aturan, norma, dan prosedur-prosedur yang mengatur tingkah laku dan mengontrol efek yang ditimbulkan oleh rezim itu sendiri.8 Dari ketiga definisi tersebut
rezim internasional dapat diartikan sebagai suatu tatanan berisi prinsip, norma, aturan, yang di dalamnya memuat kepentingan aktor dan pada akhirnya diterima dan disepakati oleh mereka. Adapun rezim internasional yang mengatur landmine adalah Mine Ban treaty.
Pembentukan Mine Ban Treaty dimulai pada tahun 1996. Proses pembentukan hingga pengadopsian dari Mine Ban Treaty terbilang cukup singkat yaitu hanya berkisar 1 tahun yaitu dari tahun 1996 hingga 1997. Indonesia merupakan salah satu negara yang turut aktif dalam proses pembentukan Mine Ban Treaty. Setelah itu, Indonesia turut menandatangi dan meratifikasi konvensi ini. Dari penjabaran di atas, maka pertanyaan dalam tulisan ini adalah apa cost dan benefit dari ratifikasi Indonesia terhadap Mine Ban Treaty?
Pembahasan
Rezim Internasional Mine Ban Treaty
Convention on the Prohibition of the Use, Stockpilling, Production and Transfer of Anti-Personnel Mines and on their Destruction (RDAP), Mine Ban Treaty atau yang dikenal dengan Konvensi Ottawa merupakan perjanjian internasional yang mengatur mengenai ranjau anti-personil (anti-personnel mines). Perjanjian ini melarang penggunaan, produksi, penimbunan ranjau anti-personil, dan mengharuskan setiap negara menghancurkan persediaan yang ada.9 Tujuan dari pembentukan perjanjian ini adalah
untuk mengakhiri penderitaan dari korban jiwa yang disebabkan oleh
7Ibid.
8 Robert O. Keohane and Joseph S. Nye, 1977, Power and Interdependence: World Politics in Transition,
Boston: Little Brown Company, hlm. 19.
9Themonitor, (2009, 24 September), “Landmine and Cluster Munition Monitor Factshests:
Antipersonnel Landmine Stockpiles and Their Destruction.”
penggunaan ranjau anti-personil melalui pelarangan penggunaan dan pemusnahan timbunan ranjau anti-personil.10 Untuk mencapai tujuan
tersebut, negara-negara yang menandatangani dan meratifikasi perjanjian ini memiliki beberapa kewajiban. Kewajiban dari setiap negara antara lain:
“Melaporkan jumlah ranjau darat anti-personil yang dimiliki di gudang munisi (stockpile) dan jumlah/luas ladang ranjau, menyatakan jumlah ranjau yang ingin disimpan atau dipertahankan untuk tujuan pendidikan dan pelatihan, menghancurkan stockpile, membuat legislasi nasional untuk melarang penggunaan, penyimpanan, produksi, atau transfer ranjau anti-personil yang dilengkapi sanksi kriminal.”11
Pada penjelasan di atas terdapat beberapa kewajiban negara di dalam Mine Ban Treaty. Kewajiban tersebut seperti setiap negara wajib melaporkan jumlah ranjau anti-personil yang dimiliki, ranjau anti-personil yang disimpan hanya untuk tujuan latihan, dan membuat legislasi nasional untuk mengontrol penggunaan, penyimpanan, produksi, atau transfer. Perlu ditekankan bahwa pada Mine Ban Treaty, pengaturan mengenai ranjau personil hanya spesifik terhadap ranjau anti-personil, dan tidak termasuk dengan ranjau anti-tank, claymore, dan booby-traps.
Sebelum tahun 1996, norma hukum internasional yang mengatur penggunaan ranjau anti-personil adalah Convention on Prohibitions, or Restrictions on the Use of Certain Conventional Weapons Which May Be Deemed to be Excessively Injurious or to Have Indiscriminate Effects atau Konvensi Tentang Senjata Konvensional Tertentu (CCW) yang berlaku sejak tahun 1983. Konvensi CCW merupakan suatu “umbrella treaty” yang meliputi lima protokol yaitu, Protokol I, melarang penggunaan senjata yang dirancang untuk melukai yang diakibatkan oleh pecahan yang tidak dapat dideteksi dalam tubuh manusia dengan sinar-X.12
Protokol II,
10 Geneva: Anti Personnel Mine Ban Convention, (2012), Twelfth Meeting of the states Parties, 3-7
Desember, hlm. 2.
11Kemlu, (2010, 7 Juli), “Konvensi Pelarangan Menyeluruh Ranjau Darat Anti-Personil.”
http://www.kemlu.go.id/Pages/IIssueDisplay.aspx?IDP=22&l=id diakses 8 Maret 2014.
12 United Nations Information Centre, (14 November, 2011), “Konvensi Tentang Senjata
mengatur pembatasan ranjau darat anti-personil. Protokol III, melarang penggunaan senjata yang dapat menyulut kebakaran atau menyebabkan luka bakar. Protokol IV, melarang penggunaan senjata yang dirancang membutakan. Protokol V, mencegah dan meminimalkan dampak dari bom yang tidak meledak dan senjata peledak yang ditinggalkan terhadap manusia.13
Terkait dengan permasalahan pengaturan ranjau darat, terdapat perundingan di dalam Konvensi CCW pada tahun 1996. Pada perundingan Peninjauan Ulang (Review Conference) Konvensi CCW, 70 lembaga internasional non pemerintah antara lain Palang Merah Internasional (ICRC) dan International Campaign to Ban Landmines (ICBL) mendesak perubahan pada provisi dan tujuan Konvensi CCW.14 Akan
tetapi perundingan tersebut hanya menyepakati suatu provisi baru yaitu penggunaan ranjau darat dikategorikan ke dalam “smart mines”. Hasil perundingan tersebut dianggap gagal oleh sebagian negara pihak Konvensi CCW, seperti Kanada dan beberapa negara Eropa.
Kegagalan tersebut membuat Kanada dan lembaga-lembaga internasional non-pemerintah mengajukan norma hukum internasional baru dengan tujuan menghapuskan ranjau anti-personil secara menyeluruh. Proses pembentukan Mine Ban Treaty dimulai pada tahun 1996. Kanada menjadi negara yang melakukan launching terhadap proses pembentukan Mine Ban Treaty. Pembahasan mengenai pelarangan ranjau anti-personil dilakukan melalui pertemuan negara-negara yang memiliki pandangan yang sama yaitu melakukan gerakan anti-ranjau. Pertemuan pertama pada tahun 1996 bernama “International strategy conference: Towards a global ban on anti-personnel mines”, dilaksanakan pada tanggal 3 - 5 Oktober 1996.
Proses pembentukan Mine Ban Treaty dikenal dengan istilah “Ottawa Process”. Pada pertemuan tersebut terdapat 50 negara yang
www.unic-jakarta.org dikutip 8 Maret 2014.
13Ibid.
14 AM Fachir, (27 Juni, 2011), “Perkembangan Konvensi Anti Personnel Mines.”
menyatakan setuju atas pengaturan secara universal mengenai ranjau anti-personil.15 Setelah proses Ottawa, pada bulan Desember 1996 terdapat
Sidang Majelis Umum terkait pembahasan mengenai pengaturan ranjau anti-personil. Sidang Majelis Umum mengadopsi Resolusi 51/45S yang menjelaskan setiap negara didorong untuk melanjutkan pembentukan pengaturan yang mengikat secara hukum mengenai pelarangan penggunaan, penimbunan, produksi, dan transfer ranjau anti-personil.16
Pada sidang ini terdapat 157 negara yang setuju, 10 negara abstain, dan tidak ada negara yang menolak. Pada bulan September 1997 diselenggarakan Konferensi Diplomatik terkait dengan pembahasan pengadopsian Mine Ban Treaty. Setelah konferensi tersebut terjadi kesepakatan mengenai pengadopsian Mine Ban Treaty. Pengadopsian Mine Ban Treaty dilakukan pada tanggal 18 September 1997. Sesuai dengan pasal 15, Konvensi ini mulai dibuka untuk ditandatangani di Ottawa, Kanada pada 3 Desember 1997. Pada 3 - Desember 1997 terdapat 123 negara yang menandatangani dan pada 1 Maret 1999 Mine Ban Treaty
mulai berlaku.
Sejak penandatangan Konvensi Ottawa pada 3 - 4 Desember 1997, mayoritas negara – negara di dunia turut berpartisipasi aktif dalam setiap pertemuan Konferensi Negara-negara Pihak di Konvensi Ottawa. Pada bulan November - Desember 2005 dilakukan Pertemuan Keenam Negara-negara Anggota di Zagreb, Kroasia terkait pembahasan mengenai implementasi Mine Ban Treaty. Selain itu, mayoritas negara berpartisipasi pada pertemuan antar sesi Panitia Pengawas bulan Juni 2005 dan Mei 2006. Kedua pertemuan itu bertujuan untuk membahas mengenai rincian proses ratifikasi dari Mine Ban Treaty. Pada tahun 2007 negara yang meratifikasi perjanjian ini adalah 155 negara.17 Setelah itu, pada bulan
Januari 2008 Mayoritas negara menyerahkan laporan pertama (initial
15Icrc, (1998, 31 Desember), “An International Ban on Anti-Personnel Mines: History and
Negotiation of the Ottawa Treaty.”
http://www.icrc.org/eng/resources/documents/misc/57jpjn.htm diakses 8 Maret 2014
16Ibid
.
17 ICRC, (15 Agustus 2007), “Overview of the Convention on the Prohibition of Anti-Personnel
Mines,”
report) implementasi Konvensi Ottawa. Pada laporan tersebut setiap negara memberikan informasi mengenai hal-hal yang terkait dengan ranjau anti-personil. Berdasarkan Mine Ban Treaty, tenggat waktu yang wajib dilakukan oleh setiap negara dalam menghancurkan cadangan ranjau anti-personil adalah 4 tahun sejak Konvensi mulai berlaku.
Indonesia dalam Rezim Internasional Mine Ban Treaty
Indonesia menjadi salah satu negara yang menandatangi Mine Ban Treaty pada tanggal 4 Desember 1997. Setelah menandatangani pada tahun 1997, Indonesia mulai melakukan proses ratifikasi terhadap Mine Ban Treaty. Pada tanggal 12 Oktober 2005, Presiden Indonesia Megawati Soekarno Putri menyatakan persetujuan dimulainya proses ratifikasi dari
Mine Ban Treaty. Setelah persetujuan Presiden pada tanggal 9 Maret 2006, perwakilan Departemen Luar Negeri, Departemen Pertahanan, dan Tentara Nasional Republik Indonesia bertemu dan menyetujui rancangan ratifikasi.18 Setelah pertemuan tersebut, rancangan perundangan diberikan
kepada Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia pada tanggal 23 Maret 2006 untuk dilakukan revisi akhir. Setelah dilakukan revisi rancangan tersebut diberikan kepada Presiden untuk disetujui, kemudian diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Pada tanggal 29 Desember 2006, Melalui Undang-Undang No. 20 Tahun 2006 pada akhirnya Indonesia meratifikasi Konvensi Ottawa. Isi UU No. 20 Tahun 2006 tersebut menyatakan bahwa:
“Indonesia mendukung upaya pembersihan ranjau darat dan rehabilitasi para korban ranjau darat di wilayah tertentu. Sejak menjadi penanda tangan Konvensi Ottawa, Indonesia telah ikut serta berperan aktif dalam setiap pertemuan Konferensi Negara-Negara Pihak pada Konvensi Ottawa.”19
18Themonitor, (2005, 1 Mei), “Indonesia.”
http://www.the-monitor.org/index.php/publications/display?url=lm/2006/indonesia.in.html diakses 27 November 2013.
19 Indonesia, (2006), Pengesahan Convention on the Prohibition of the Use, Stockpiling, Production and
Indonesia berpartisipasi aktif dalam proses pembentukan Mine Ban Treaty. Meskipun ratifikasi yang dilakukan Indonesia terhadap Mine Ban treaty cukup lama yaitu tahun 2006, tetapi Indonesia berpartisipasi aktif dalam proses Ottawa. Indonesia selalu memilih untuk menyetujui semua resolusi Sidang Umum PBB sejak 1996 yang mendukung larangan penggunaan ranjau darat, termasuk Resolusi 60/80 tanggal 2005 yang meminta implementasi total atas Perjanjian Anti Ranjau Darat.20
Sejak penandatangan Konvensi Ottawa pada 4 Desember 1997, Indonesia turut berpartisipasi aktif dalam setiap pertemuan Konferensi Negara-negara Pihak di Konvensi Ottawa. Pada bulan November - Desember 2005, Indonesia berpartisipasi sebagai pengamat dalam Pertemuan Keenam Negara-negara Anggota di Zagreb, Kroasia terkait pembahasan mengenai implementasi Mine Ban Treaty. Selain itu, Indonesia turut berpartisipasi pada pertemuan antar sesi Panitia Pengawas bulan Juni 2005 dan Mei 2006. Kedua pertemuan tersebut bertujuan untuk membahas mengenai rincian proses ratifikasi dari Mine Ban Treaty. Pada pertemuan tersebut Indonesia menyatakan akan menyiapkan Laporan Transparansi tahun 2007 sesuai ayat ke 7 dari Mine Ban Treaty.21Hal tersebut dilakukan meskipun pada saat itu Indonesia belum meratifikasi Mine Ban Treaty.
Indonesia menyerahkan laporan pertama (initial report) implementasi Konvensi Ottawa pada bulan Januari 2008. Pada laporan tersebut Indonesia memberikan informasi mengenai hal-hal yang terkait dengan ranjau anti-personil milik Indonesia. Berdasarkan Mine Ban Treaty, tenggat waktu Indonesia dalam menghancurkan cadangan ranjau anti-personil adalah tanggal 1 Agustus 2011 atau 4 tahun sejak Konvensi mulai berlaku bagi Indonesia. Akan tetapi pada akhir tahun 2008, tiga tahun lebih cepat dari tenggat waktu yang diberikan, Indonesia telah melaksanakan kewajiban dengan menghancurkan simpanan ranjau anti-personil dalam tiga tahap sebanyak 11.603.22
20Ibid. 21Ibid.
Analisis Teori Pilihan Rasional Diplomasi Pertahanan Indonesia di
Mine Ban treaty
Diplomasi pertahanan merupakan upaya negara dalam
mengamankan kepentingan nasional di bidang pertahanan dalam kerangka hubungan internasional yang meliputi lobi pembelian alutsista, pengamanan keamanan wilayah, perundingan dalam konteks bilateral, regional, dan multilateral mengenai proliferasi nuklir, senjata kimia, dan
landmine. 23 Indonesia menggunakan diplomasi pertahanan untuk
mencapai kepentingan nasional terkait pengontrolan penggunaan ranjau anti-personil. Adapun diplomasi pertahanan yang dilakukan melalui perundingan multilateral yaitu Proses Ottawa.
Selanjutnya, untuk mengetahui cost dan benefit dari ratifikasi yang dilakukan Indonesia, maka tulisan ini akan menggunakan teori pilihan rasional. Rational choice theory atau teori pilihan rasional dalam ilmu Hubungan Internasional terbentuk di awal 1960-an. Teori pilihan rasional diartikan sebagai instrumen mengenai maksud-tujuan atau pilihan dari tujuan-terarah suatu aktor.24 Untuk memutuskan pilihan apa yang akan
diambil oleh aktor, teori pilihan rasional berupaya untuk memberikan penjelasan mengenai pilihan optimal bagi para pembuat keputusan.25
Teori pilihan rasional merupakan teori yang digunakan untuk menjawab mengenai apa keputusan terbaik untuk mencapai kepentingan dari aktor di lingkungan internasional. Penjelasan lebih rinci mengenai teori pilihan rasional dinyatakan oleh Stephen M. Waltz dalam jurnalnya yang berjudul Rigor or Rigor Mortis? Rational Choice and Security Studies. Pada jurnalnya, Waltz menyatakan bahwa:
“1. Rational choice theory is individualistic: social and political outcomes are viewed as the collective product of individual choices (or as the product of choices made by unitary actors).
http://www.kemlu.go.id/Pages/IIssueDisplay.aspx?IDP=22&l=id diakses 28 November 2013
23 Yanyan Mochamad Yani, 2014, Diplomasi Pertahanan, Power Point Mata Kuliah: Foreign Policy
Analyses.
24 Robert Jackson & Geor Sorensen, 2009, Pengantar Studi Hubungan Internasional, Yogyakarta:
Pustaka Belajar, hlm. 297.
2. Rational choice theory assumes that each actor seeks to maximize its “subjective expected utility.” Given a particular set of preferences and a fixed array of possible choices, actors will select the outcome that brings the greatest expected benefits.
3. The specification of actors’ preferences is subject to certain constraints: (a) an actor’s preferences must be complete (meaning we can rank order their preference for different outcomes); and (b) preferences must be transitive (if A is preferred to B and B to C, then A is preferred to C).”26
Pada penjelasan di atas terdapat tiga poin yang dijelaskan oleh Waltz mengenai teori pilihan rasional. Pertama, teori pilihan rasional bersifat individu yaitu hasil-hasil sosial dan politik dipandang sebagai produk kolektif atas pilihan individu (atau sebagai produk dari pilihan yang dibuat oleh aktor kesatuan). Dapat dikatakan Waltz menambahkan mengenai aktor kesatuan (negara) pada aktor teori pilihan rasional, yang sebelumnya dijelaskan oleh Latsis yaitu individu. Kedua, Waltz mengasumsikan bahwa aktor berusaha memaksimalkan kepentingannya, hal tersebut dilakukan oleh aktor dengan mengambil suatu pilihan yang akan membawa hasil maksimal terhadap pencapaian kepentingannya.
Ketiga, teori pilihan rasional menspesifikasikan preferensi dari aktor terhadap kendala tertentu, misalkan aktor memiliki beberapa pilihan (artinya peneliti dapat membentuk urutan peringkat dari preferensi untuk hasil yang berbeda). Selain itu, pilihan harus bersifat transitif (jika pilihan A lebih dinilai penting dibanding dengan pilihan B dan C, maka aktor akan memilih A). Waltz pada intinya menyatakan bahwa teori pilihan rasional merupakan alat untuk membuat kesimpulan logis tentang bagaimana manusia (atau negara) membuat keputusan.27
Dari penjelasan mengenai teori pilihan rasional dapat disimpulkan bahwa teori pilihan rasional merupakan instrumen mengenai maksud dan tujuan atau pilihan terarah dari negara untuk mencapai kepentingannya di lingkungan internasional. Melalui teori pilihan rasional, akan diketahui
26 Stephen M Waltz, (1999), “Rigor or Rigor Mortis? Rational Choice and Security Studies,” MIT
Press Journals, Spring.
http://mitpress.mit.edu/journals diakses 7 Desember 2013.
apa kepentingan, cost, dan benefit Indonesia dalam rezim internasional
Mine Ban Treaty.
Secara normatif keputusan Indonesia untuk menandatangani konvensi ini adalah pencerminan Indonesia terhadap tujuan pokok konvensi yaitu untuk mengakhiri penderitaan dan korban, terutama rakyat sipil yang tidak berdosa. Dari segi cost, konvensi Mine Ban Treaty
mengikat Indonesia untuk dilarang melakukan produksi, transfer, dan penggunaan ranjau anti-personil. Namun, hal ini tidak menjadi permasalahan penting untuk Indonesia karena jumlah ranjau anti-personil yang dimiliki Indonesia terbilang sedikit. Data yang dimiliki oleh TNI AD (satuan zipur) dan TNI AL (satuan zeni marinir) jumlah ranjau anti-personil yang dimiliki Indonesia tersebut tidak mampu membekali sepertiga bekal pokok untuk satuan batalion zeni. 28 Jadi, dapat
disimpulkan bahwa cost dari Indonesia terkait ratifikasi di Mine Ban Treaty
tidak berdampak signifikan.
Sementara itu, terdapat beberapa benefit yang diterima Indonesia atas ratifikasi yang dilakukannya dalam konvensi ini. Pertama,
peningkatan citra Indonesia sebagai salah satu negara yang mendukung perlindungan nilai-nilai kemanusiaan. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai strategi soft power Indonesia di dalam lingkungan internasional, sehingga suara Indonesia dapat didengar oleh aktor lain dan Indonesia tidak terasingkan dalam forum internasional khususnya forum yang membahas mengenai isu keamanan khususnya perlucutan senjata. Dampak dari strategi ini terlihat ketika Indonesia diwakilkan oleh Duta Besar Desra Percaya pada 2012 terpilih menjadi Ketua Komite 1 Majelis Umum PBB atas perannya dalam kontribusi Indonesia terhadap isu perlucutan senjata dan keamanan internasional.29Kedua, memperkuat
sistem hukum nasional Indonesia mengenai hukuman bagi individu
28
AM Fachir, (27 Juni, 2011), “Perkembangan Konvensi Anti Personnel Mines.”
http://www.balitbang.kemhan.go.id/?q=content/perkembangan-konvensi-anti-personnel-mines dikutip 9 Desember 2013.
29Republika Online (7 September, 2012)
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/09/07/m9yciy-ri-terpilih-sebagai-ketua-komite-perlucutan-senjata-pbb dikutip 24 Oktober 2014.
maupun kelompok yang terlibat dalam kegiatan yang sesuai dengan ketentuan Konvensi Ottawa.
Kesimpulan
Pada era Perang Dingin AS dan Soviet saling menyuplai senjata konvensional ke negara-negara proxynya. Pasca Perang Dingin, senjata seperti land mine masih berada di wilayah seperti Vietnam, Kamboja, dan Afghanistan – yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Hal tersebut membuat entitas internasional membentuk aturan mengenai land mine
yaitu Mine Ban Treaty. Indonesia menjadi salah satu negara yang mendukung dan meratifikasi konvensi ini.
Apabila dibandingkan cost dan benefit dapat disimpulkan bahwa
benefit yang diterima Indonesia lebih besar dibandingkan cost. Beberapa
benefit yang diperoleh Indonesia seperti pelarangan penggunaan ranjau anti-personil tidak menjadi masalah serius karena Indonesia tidak menggunakan ranjau anti-personil sebagai senjata primer, citra positif Indonesia di lingkungan internasional sebagai negara yang berkontribusi dalam isu perlucutan senjata dan keamanan internasional. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ratifikasi yang dilakukan Indonesia di Mine Ban Treaty merupakan pilihan yang rasional.
Daftar Pustaka Buku dan Jurnal
Melissa Gillis, (2009), Disarmament: A Basic Guide, New York: United Nations.
Denik Iswardani Witarti, (2010), Ancaman Pengedaran Haram Senjata Kecil dan Ringan (SKR) di Indonesia: Analisis Keselamatan Nasional, Disertasi (tidak diterbitkan), Kuala Lumpur: Universiti Kebangsaan Malaysia.
Melissa Gillis,( 2009), Disarmament: A Basic Guide, New York: United Nations.
Denik Iswardani Witarti, (2010), Ancaman Pengedaran Haram Senjata Kecil dan Ringan (SKR) di Indonesia: Analisis Keselamatan Nasional, Disertasi (tidak diterbitkan), Kuala Lumpur: Universiti Kebangsaan Malaysia.
Indonesia, (2006), Pengesahan Convention on the Prohibition of the Use, Stockpiling, Production and Transfer of Anti-Personnel Mines and on Their Destruction (Konvensi Tentang Pelarangan Penggunaan, Penimbunan, Produksi dan Transfer Ranjau Darat Anti Personel dan Pemusnahannya) Tahun 2006.
Website
Republika Online (7 September, 2012)
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/09/07/m9yciy-ri-terpilih-sebagai-ketua-komite-perlucutan-senjata-pbb dikutip 24
Oktober 2014.
Embassy of the Socialist Republic of Vietnam in the United States of America, (11 Maret 2014), “The US Veterans Help Land Mine Removal in Vietnam,”
http://vietnamembassy-usa.org/relations/us-veterans-help-land-mine-removal-vietnam dikutip 11 Maret 2014.
Waslat Hasrat-Nazimi , (4 April 2013), “Hidden Enemies: Afghanistan Combats Landmine,”
http://www.dw.de/hidden-enemies-afghanistan-combats-landmines/a-16716914 dikutip 11 Maret 2014
Cluster Munition Coalition, (11 Maret 2014), “Timeline of Cluster Bomb Use,”
http://www.stopclustermunitions.org/the-problem/history-harm/ dikutip 12 Maret 2014.
Small Arms Survey, 11 Maret 2014, “Small Arms Transfer Control Measures and the Arms Trade Treaty,”
http://www.smallarmssurvey.org/about-us/highlights/highlight-att-review.html dikutip 11 Maret 2014.
Oxfaminternational, (2 Juni, 2013), “Government Sign Historic Global Treaty to Regulate the $85bn Arms Trade,”
Small Arms Survey, 11 Maret 2014, “Small Arms Transfer Control Measures and the Arms Trade Treaty,”
http://www.smallarmssurvey.org/about-us/highlights/highlight-att-review.html dikutip 11 Maret 2014.
AM Fachir, (27 Juni, 2011), “Perkembangan Konvensi Anti Personnel Mines.”
http://www.balitbang.kemnhan.go.id/?q=content/perkembangan-konvensi-anti-personnel-mines dikutip 7 Maret 2014.
Damir Sagoli, (2008), “Cluster Munition Victim: What is Known and What is Needed?.”
http://www.icrc.org/eng/assets/files/other/cluster-munition-victims-factsheet-2010.pdf diakses 7 Maret 2014.
Themonitor, (2009, 24 September), “Landmine and Cluster Munition Monitor Factshests: Antipersonnel Landmine Stockpiles and Their Destruction.”
http://www.the-monitor.org/index.php/content/view/full/18719 diakses 8 Maret 2014.
Geneva: Anti Personnel Mine Ban Convention, (2012), Twelfth Meeting of the states Parties, 3-7 Desember, hlm. 2.
Kemlu, (2010, 7 Juli), “Konvensi Pelarangan Menyeluruh Ranjau Darat Anti-Personil.”
http://www.kemlu.go.id/Pages/IIssueDisplay.aspx?IDP=22&l=id diakses 8 Maret 2014.
United Nations Information Centre, (14 November, 2011), “Konvensi Tentang Senjata Konvensional Tertentu (CCW).”
www.unic-jakarta.org dikutip 8 Maret 2014.
AM Fachir, (27 Juni, 2011), “Perkembangan Konvensi Anti Personnel Mines.”
http://www.balitbang.kemhan.go.id/?q=content/perkembangan-konvensi-anti-personnel-mines dikutip 8 Maret 2014 .
Icrc, (1998, 31 Desember), “An International Ban on Anti-Personnel Mines: History and Negotiation of the Ottawa Treaty.”
http://www.icrc.org/eng/resources/documents/misc/57jpjn.htm diakses 8 Maret 2014
http://www.the-monitor.org/index.php/publications/display?url=lm/2006/indonesia.in. html diakses 27 November 2013.
Kemlu, (2010, 7 Juli), “Konvensi Pelarangan Menyeluruh Ranjau Darat Anti-Personil.”
http://www.kemlu.go.id/Pages/IIssueDisplay.aspx?IDP=22&l=id diakses 28 November 2013
AM Fachir, (27 Juni, 2011), “Perkembangan Konvensi Anti Personnel Mines.”