AKTIVITAS NOKTURNAL GAJAH SUMATERA (Elephas maximus sumatranus) DI KANDANG SOSIALISASI KAWASAN
HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS (KHDTK) AEK NAULI, SIMALUNGUN, SUMATERA UTARA
SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains
SELLA NANCY 140805021
PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
PENGESAHAN SKRIPSI
Judul : Aktivitas Nokturnal Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) Di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli, Simalungun, Sumatera Utara
Kategori : Skripsi
Nama : Sella Nancy
Nomor Induk Mahasiswa : 140805021 Program studi : Biologi
Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Disetujui di Medan, Juli 2019
Komisi Pembimbing
Pembimbing 2 Pembimbing 1
Wanda Kuswanda, S. Hut, M.Sc NIP. 197708062001121002
Dr. Kaniwa Berliani, M.Si NIP. 197408082008122002
Ketua Program Studi
Dr.Saleha Hannum
NIP. 197108312000122001
AKTIVITAS NOKTURNAL GAJAH SUMATERA (Elephas maximus sumatranus) DI KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS (KHDTK) AEK NAULI,
SIMALUNGUN, SUMATERA UTARA
Abstrak
Aktivitas nokturnal merupakan kegiatan (perbuatan/tindakan) pada individu gajah yang dilakukan secara berulang-ulang setiap malamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas nokturnal, durasi dan frekuensi pada gajah di KHDTK Aek Nauli, Simalungun, Sumatera Utara. Objek utama pada penelitin ini yaitu seekor gajah jantan (Figo) dan seekor gajah betina (Vini). Metode yang digunakan yaitu metode focal animal sampling dan dikombinasi dengan continues sampling.
Pengamatan dilakukan didalam kandang sosialisasi pada saat malam hari.
Pengamatan selama 140 jam memproleh titik sampel sebanyak 9172 dengan total durasi 8400 menit. Perilaku yang terjadi pada aktivitas nokturnal gajah di KHDTK yaitu makan, grooming, istirahat, move, main, defekasi, minum, vokalisasi, kawin dan urinasi. Perilaku yang paling sering terlihat yaitu perilaku makan 27,86% pada gajah Figo dan 31,69% pada gajah Vini. Akan tetapi, perilaku urinasi yang jarang dilakukan kedua gajah yaitu 1,23% pada gajah Figo dan 0,92% pada gajah Vini.
Penelitian aktivitas nokturnal gajah sumatera diharapkan menjadi data dasar untuk manajemen konservasi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) secara eksitu di KHDTK Aek Nauli.
Kata kunci : Aktivitas Nokturnal, Perilaku, Gajah Sumatera
NOCTURNAL ACTIVITY OF SUMATRAN ELEPHANT (Elephas maximus sumatranus) IN KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS (KHDTK)
AEK NAULI, SIMALUNGUN, NORTH SUMATERA
Abstract
Nocturnal activity is a repetitive action (act/behaviour) of Sumatran elephant conducted. This research aimed to observe the nocturnal activity, duration and frequency of Sumatran elephant in forest area for specific purpose in Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli, Simalungun, North Sumatera. The main object in this research is male elephant and female elephant. Method used was focal animal sampling combined with continuous sampling of data record.
Observation was conducted inside socializaiton cage every night. Total observation of 140 hours obtained 9,172 sampling points with duration of 8,400 minutes. Behaviors occur in nocturnal elephant activity in KHDTK eating, grooming, resting, moving, playing, defecating, drinking, vocalization, mating and urination. The most frequently behaviour was feeding by the male with percentage of 27.86% and the female with 31,69%. The less frequently behaviour was urinating with percentage of 1,23% and 0,92% to male and female. The research on nocturnal activity of Sumatran elephant is expected to become a baseline data in ex situ conservation management in KHDTK Aek Nauli.
Keywords: Nocturnal activity, Behaviour, Sumatran elephant
PENGHARGAAN
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul Aktivitas Nokturnal Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus) di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli, Simalungun, Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada kedua orangtua yaitu bapak Sukardi dan ibu Nuryanti yang tak henti-hentinya memberikan nasehat, semangat, dan juga doa. Selanjutnya, ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada ibu Dr. Saleha Hannum, M.Si sebagai kepala departemen Biologi dan bapak Dr. Riyanto Sinaga M.Si sebagai sekretaris Departemen Biologi, FMIPA USU.
Selanjutnya, penulis juga menyampaikan terima kasih kepada ibu Dr. Kaniwa Berliani, M.Si dan Bapak Wanda Kuswanda, S.Hut, M.Sc selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, motivasi dan meluangkan waktu hingga penyempurnaan naskah skripsi ini. Penulis ucapkan terima kasih kepada bapak Drs.
Arlen Hanel Jhon, M.Si dan bapak Dr. T. Alief Aththorik, M.Si sebagai penguji.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada bang sulis, bang sabirin, bang yopi, bang kopjon, bang ilham, bang madun, bang bayu dan bang idil sebagai mahout di KHDTK Aek Nauli yang telah membantu menyelesaikan penelitian dalam skripsi ini, serta kepada pihak keluarga dan teman-teman yang tak henti-hentinya memberikan semangat dan doa sehingga penulis mampu menyelesaikan naskah skripsi ini.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-NYA atas segala kebaikan dan kemurahan hati mereka.
Penulis sangat mengharapkan naskah skripsi ini mudah dipahami oleh pembacanya. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan naskah seminar hasil ini. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan naskah skripsi ini. Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, atas perhatiannya penulis ucapkan banyak terima kasih.
Medan, 20 Mei 2019
Sella Nancy
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
ABSTRAK iii
ABSTRACT iv
PENGHARGAAN v
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR GAMBAR viii
DAFTAR LAMPIRAN ix
BAB 1. PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 2
1.3 Tujuan Penelitian 3
1.4 Manfaat Penelitian 3
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 4
2.1 Klasifikasi Gajah Sumatera 4
2.2 Morfologi dan Bioekologi Gajah 4
2.3 Perilaku Gajah Sumatera 7
2.4 Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli
11
BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN 12
3.1 Waktu dan Tempat 13
3.2 Objek Penelitian 13
3.3 Alat 13
3.4 Metode Penelitian 13
3.5 Pengambilan Data 14
3.6 Analisa Data 14
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 15
4.1 Pola Aktivitas Nokturnal Gajah Sumatera 15 4.2 Deskripsi Perilaku Nokturnal Gajah Sumatera 24
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN 30
5.1 Kesimpulan 30
5.2 Saran 30
DAFTAR PUSTAKA 31
LAMPIRAN 34
DAFTAR TABEL
Nomor Tabel
Keterangan Halaman
4.1 Aktivitas nokturnal gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus)
15 4.2 Temperatur dan kelembaban di kandang sosialisasi
KHDTK Aek Nauli
21
DAFTAR GAMBAR
Nomor Gambar
Judul Halaman
3.1 Kandang sosialisasi gajah 12
4.1 Frekuensi aktivitas nokturnal gajah jantan (Figo) 18 4.2 Frekuensi aktivitas nokturnal gajah betina (Vini) 18
4.3 Aktivitas makan yang dilakukan Figo 24
4.4 Aktivitas grooming dengan cara melemparkan tanah ketubuh
25 4.5 Aktivitas istirahat yang dilakukan Figo dan Vini 26 4.6 Aktivitas move secara bersamaan yang dilakukan Figo
dan Vini
27
4.7 Aktivitas main dengan cara merebut pakan 28
4.8 Aktivitas vokalisasi yang dilakukan Figo 28
4.9 Aktivitas kawin yang dilakukan Figo dan Vini 29
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Lampiran
Judul Halaman
1. Peta lokasi penelitian 34
2. Alat penelitian aktivitas nokturnal 35
3. Foto kerja 36
4. Data pengamatan gajah jantan (Figo) 37
5. Data pengamatan gajah betina (Vini) 38
6. Frekuensi aktivitas nokturnal gajah jantan (Figo) 39 7. Frekuensi aktivitas nokturnal gajah betina (Vini) 40 8. Tabel Data (Tally sheet) penelitian aktivitas nokturnal 41
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan mamalia darat terbesar yang keberadaannya hanya terdapat di Pulau Sumatera. Sejak tahun 1950, Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora (CITES), yaitu konvensi tentang perdagangan internasional satwa dan tumbuhan telah mengategorikan gajah sumatera dalam Appendix I. Konvensi ini, berisikan mengenai jenis satwa yang diperdagangkan dan persebarannya diatur dengan sangat ketat. Hal yang sama tertera pada Undang-Undang No. 5 tahun 1990 mengenai konservasi sumber daya alam hayati. Selain itu, lembaga konservasi dunia International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) telah menetapkan status gajah sumatera dalam kondisi kritis karena populasi gajah sumatera yang semakin berkurang dihabitat alaminya (IUCN, 2011).
Aktivitas gajah merupakan kegiatan yang dilakukan gajah secara individu maupun berkelompok. Pada saat aktivitas berlangsung, gajah menampakkan beberapa perilakunya untuk setiap kegiatan. Menurut Leger (1992), semua pergerakan atau gaya yang dilakukan pada gajah dipengaruhi oleh hubungan gajah dengan lingkungannya. Selain itu, pengaruh morfologi dan fisiologi gajah juga menyebabkan perilaku yang berbeda-beda.
Gajah merupakan satwa yang aktif pada saat malam (nokturnal). Sesuai Hariyanto (2009), bahwa gajah sumatera merupakan mamalia teresterial yang aktif pada malam hari, yaitu dari 2 jam sebelum petang sampai 2 jam setelah fajar. Pada saat waktu tersebut, secara alami gajah melakukan aktivitas menjelajah, kawin, mengasuh anak, makan, minum, tidur dan lain-lain. Hewan nokturnal ini memiliki kemampuan pendengaran dan penciuman, serta mempunyai adaptasi khusus untuk dapat melakukan aktivitas pada kondisi yang kurang cahaya. Pada saat siang, gajah
tidak terlalu aktif melakukan aktivitasnya karena morfologi dibagian mata gajah yang berada disisi samping bagian kepala dan rambut yang jarang dibagian mata menyebabkan keterbatasan penglihatan. Menurut Miller (2008), ketika istirahat pada siang hari gajah akan sering terbangun untuk makan dan berbaring untuk tidur kembali.
Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli merupakan kawasan hutan lindung yang dimanfaatkan sebagai kawasan penelitian, pengembangan, pendidikan, pelatihan, ekowisata, religi dan budaya dengan tidak mengubah fungsi pokok kawasan hutan tersebut (Dephutbun, 1999). Aek Nauli memiliki kawasan hutan dengan suatu program lingkungan untuk tujuan konservasi terhadap tumbuhan dan hewan yang telah diresmikan pada tanggal 07 Februari 2005.
KHDTK ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 39/Menhut sampai II/2005 dengan luas wilayah sekitar 1.900 Ha. Kawasan tersebut berada di ketinggian 1.100 sampai 1.600 meter diatas permukaan laut sebagai daerah pegunungan (Kuswanda, 2017).
Gajah aktif pada malam hari, namun menurut Berliani (2017), terkadang aktivitas gajah dapat dipengaruhi kegiatan manusia sehingga perilaku aktif gajah menjadi berubah seperti mencari makan sambil berjalan pada siang hari. Aktivitas gajah pada saat malam merupakan salah satu informasi penting untuk mendukung manajemen konservasi gajah di KHDTK Aek Nauli, Simalungun, Sumatera Utara.
Oleh sebab itu, penelitian mengenai aktivitas gajah pada malam hari perlu dilakukan.
Selanjutnya, informasi tersebut dapat digunakan sebagai data dasar untuk manajemen konservasi gajah secara eksitu sesuai dengan panduan strategi konservasi gajah.
1. 2 Rumusan Masalah
Gajah melakukan aktivitas pada malam hari seperti makan, minum, istirahat, berjalan, berkomunikasi, kawin, grooming, dan lain-lain. Hal ini disebabkan gajah aktif pada malam hari. Gajah di KHDTK Aek Nauli diduga sudah mengalami perubahan perilaku aktif gajah karena pada siang hari, gajah dimanfaatkan sebagai objek untuk pendidikan dan ekowisata. Oleh sebab itu, gajah sedikit melakukan
aktivitas pada malam hari. Penelitian aktivitas nokturnal gajah masih sangat terbatas sehingga perlu diketahui bagaimanakah perubahan aktivitas nokturnal pada gajah di kandang sosialisasi KHDTK Aek Nauli. Berdasarkan hal tersebut, penelitian mengenai aktivitas nokturnal gajah perlu dilakukan dan hasil penelitian dapat dipergunakan untuk managemen konservasi gajah sumatera.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola aktivitas nokturnal dan mendeskripsikan aktivitas nokturnal gajah di kandang sosialisasi KHDTK Aek Nauli, Simalungun, Sumatera Utara.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini yaitu:
a. Memberikan informasi tentang aktivitas nokturnal gajah sumatera kepada instansi terkait yaitu BALITBANG Aek Nauli, BBKSDA Sumatera Utara, Lingkungan Hidup Kehutanan, PEMDA, sebagai pertimbangan dalam manajemen konservasi gajah dan ekowisata.
b. Menambah pengetahuan kepada peneliti dan masyarakat di bidang etologi dan konservasi gajah sumatera.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Gajah Sumatera
Gajah asia tersebar ke dalam tiga kelompok besar, yaitu (1) India (meliputi India, Nepal, Bhutan Dan Bangladesh), (2) Asia Tenggara (meliputi Cina, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, dan Malaysia), (3) Asia Kepulauan yang termasuk kedalam kepulauan Andaman (Srilangka, Sumatera (Indonesia), Borneo (meliputi Malaysia dan Indonesia) (Soehartono et al., 2007). Gajah asia (Elephas maximus) yang terdapat di Indonesia hanya ditemukan di Sumatera dan Kalimantan bagian timur. Gajah asia memiliki empat subspesies, yaitu Elephas maximus maximus, Elephas maximus indicus, Elephas maximus sumatranus, dan Elephas maximus borneensis (Shoshani et al., 1982). Elephas maximus sumatranus merupakan gajah sumatera yang hanya terdapat di Pulau Sumatera. Menurut Ciszek (1999), sistematika gajah sumatera yaitu;
Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Class : Mamalia Ordo : Proboscidae Family : Elephantidae Genus : Elephas
Species : Elephas maximus
Subspecies : Elephas maximus sumatranus.
2.2 Morfologi dan Bioekologi Gajah
Gajah sumatera memiliki tubuh yang besar. Berat tubuh gajah berkisar antara 3000 hingga 4000 kg. Secara umum, tinggi gajah pada waktu lahir berkisar 90 sampai 95 cm dan meningkat hingga 130 cm setelah berusia dua tahun. Pada usia tiga tahun
tingginya sekitar 150 sampai 160 cm, pada umur empat tahun sekitar 175 sampai 190 cm, dan pada umur enam tahun tingginya bervariasi mencapai antara 180 sampai 200 cm. Tinggi gajah dewasa dapat mencapai 1,7 sampai 2,6 meter (WWF, 2005;
Maryanto et al, 2008). Selain itu, Maryanto et al (2008), juga menyatakan bahwa gajah jantan dewasa memiliki tinggi tubuh 1,7 sampai 2,6 meter dan gajah betina dewasa memiliki tinggi tubuh 1,5 sampai 2,2 meter.
Gajah memiliki kulit berwarna abu-abu bercampur dengan warna coklat. Kulit gajah sangat tebal dan kering, terdapat rambut-rambut halus di seluruh tubuhnya (Ciszek, 1999). Selain itu, pada kulit gajah juga terdapat banyak benjolan-benjolan, bergelombang dan sangat elastis. Pada kulit gajah tidak terdapat kelenjar keringat, tetapi terdapat kelenjar susu dan dua buah kelenjar temporal pada setiap bagian samping kepala (PKBSI, 1983).
Gajah sumatera memiliki telinga yang lebar untuk menutupi bagian bahunya.
Ukuran telinga gajah sumatera relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan gajah afrika. Daun telinga gajah berupa tulang rawan yang diselubungi kulit tipis. Telinga pada gajah berfungsi dalam pengaturan suhu tubuh dan alat berkomunikasi (Ciszek, 1999).
Belalai gajah sumatera memiliki satu bibir di ujungnya berbeda dengan gajah afrika yang memiliki dua bibir pada ujung belalainya (Ciszek, 1999). Belalai pada gajah berfungsi sebagai tangan, alat bernapas, sebagai senjata, dan alat berkomunikasi. Selain itu, fungsi belalai pada gajah untuk bernapas, mencium bau, menyentuh, menggapai dan menghasilkan suara (Shoshani, 2005). Belalai juga dimanfaatkan gajah untuk menggapai makanannya dengan cara digerakkan memanjang, melingkar atau menggulung (Abdullah et al, 2005).
Gading pada gajah sumatera hanya dimiliki oleh gajah jantan tetapi pada gajah afrika gading dimiliki oleh gajah jantan maupun betina. Gajah sumatera jantan sebagian besar mempunyai gading. Ukuran panjang sebuah gading 0,5 sampai 1,7 meter dan bobot 25 sampai 30 kg. Sebaliknya, betina tidak memiliki atau sangat pendek gadingnya dan tersebunyi di balik bibir atas yang disebut caling. Gading gajah merupakan perkembangan dari gigi serinya yang menunjukkan perkembangan
menuju kedewasaan (Eltringham, 1982 ). Pada gajah jantan, sepasang gigi seri yang memanjang akan bertambah 17 cm per tahun hingga menjadi gading (Ciszek, 1999).
Gajah memiliki kaki yang besar dan terdiri dari jari kaki dan kuku kaki. Tapak kaki gajah sumatera bagian depan berbentuk bulat dengan lima kuku dan telapak kaki belakang berbentuk bulat telur dengan empat buah kuku. Hal ini berbeda dengan gajah afrika yang memiliki empat jari kaki depan dan tiga jari kaki belakang (Ciszek, 1999). Gajah menggunakan kakinya untuk berjalan dan membantu pergerakannya untuk berdiri, berbaring dan makan. Selain itu, gajah menggunakan kaki depannya untuk membantu menghancurkan, memotong atau memecah makanan yang terlalu besar (Hutchinson, 2006).
Bioekologi gajah merupakan ilmu yang mempelajari tentang hubungan interaksi yang terjadi antara gajah dengan lingkungan hidupnya. Kondisi lingkungan hidup gajah sumatera atau habitatnya terdapat di Pulau Sumatera dari Provinsi Lampung sampai Aceh (DEPHUT, 2007). Pada umumnya, habitat gajah terdapat di daerah sungai, rawa, gambut, padang rumput, semak berduri, hutan basah berlembah, hutan payau di dekat pantai, dataran rendah dan kawasan hutan hujan tropik (WWF, 2005). Selain itu, gajah dapat bertahan hidup di lingkungan yang memiliki adanya naungan untuk berteduh, ketersediaan makanan, kebutuhan air, garam mineral, wilayah jelajah dan keamanan serta kenyamanan.
Populasi gajah sumatera mengalami penurunan, sehingga gajah dikategorikan sebagai hewan yang memiliki status kritis. Penurunan populasi gajah sebesar 70%
dalam kurun waktu 20 sampai 30 tahun terakhir (Sukumar, 2003). Pada tahun 1980an, populasi gajah di pulau sumatera diperkirakan berjumlah 2.800 sampai 4.800 ekor (Blouch, 1985). Selengkapnya, pada tahun 2014 populasi gajah mengalami penurunan dengan jumlah 1.800 ekor (Dephut, 2007). Pada tahun 2007, dilakukan pendataan populasi gajah dengan estimasi sebanyak 2.400 sampai 2.800 ekor, kemudian populasi gajah yang tersisa pada tahun 2013 dilaporkan sebanyak 1.970 ekor. Seterusnya, pada tahun 2012 sampai 2016 jumlahnya semakin berkurang sebanyak 150 ekor gajah mati akibat konflik dan perburuan (Wahyudi, 2016).
2.3 Perilaku Gajah Sumatera
Perilaku gajah merupakan cara-cara tindakan atau perbuatan yang khas pada gajah yang dilakukannya secara berulang-ulang setiap harinya dengan batasan waktu tertentu sehingga membentuk pola (Tanjung, 2019). Perilaku gajah terdiri dari perilaku individu dan sosial/kelompok. Perilaku individu yaitu perilaku seekor gajah yang dilakukan yang dilakukan setiap hari dan berulang-ulang. Akan tetapi, perilaku sosial/kelompok yaitu perilaku yang terjadi karena adanya interaksi antara gajah dengan kelompoknya, atau sebaliknya.
Gajah membutuhkan pakan sebanyak 396 kg per hari (Abdullah et al., 2005).
Pakan yang dikonsumsi gajah seperti ranting pohon, kulit kayu, rerumputan dan lain- lain. Aktivitas makan pada gajah menunjukkan beberapa perilaku seperti perilaku mengamati pakan, memeriksa pakan, mengolah pakan, mengunyah pakan, menelan pakan, dan mengambil pakan (Berliani et al., 2017).
Gajah minum dengan cara menghisap atau menyedot air menggunakan belalainya dan memasukkannya ke dalam mulut (Yudarini et al., 2013). Seekor gajah sumatera membutuhkan air minum sebanyak 20 sampai 50 liter per hari. Selain itu menurut Veasey (2006), gajah dapat minum sebanyak 160 liter perhari. Ketika sumber-sumber air mengalami kekeringan, gajah dapat melakukan penggalian air sedalam 50 sampai 100 cm di dasar-dasar sungai yang kering dengan menggunakan kaki depan dan belalainya (WWF, 2005). Gajah dapat minum dengan mulutnya pada saat berendam di sungai. Akan tetapi, pada waktu di sungai yang dangkal atau di rawa gajah minum dengan cara menghisap dengan belalainya (Mahanani, 2012).
Gajah termasuk satwa yang sangat bergantung pada air sehingga pada sore hari biasanya gajah mencari sumber air untuk minum, mandi, dan berkubang setelah melakukan aktivitasnya. Akibat ketergantungannya terhadap air, gajah sumatera di sebut sebagai water dependent species (Larisha et al., 2016).
Gajah sering tidur dengan merebahkan diri kesamping tubuhnya, memakai alas yang terbuat dari tumpukan rumput dan kalau sudah sangat lelah terdengar pula bunyi dengkur yang keras. Selain itu, gajah tidur sambil berdiri di bawah pohon yang rindang (Mahanani, 2012). Perbedaan perilaku ini berkaitan dengan kondisi
keamanan lingkungan, apabila kondisinya kurang aman maka gajah akan memilih tidur sambil berdiri, untuk menyiapkan diri jika terjadi gangguan.
Gajah membutuhkan garam-garam mineral seperti kalsium, magnesium, dan kalium untuk pertumbuhan gigi, gading, tulang dan lain-lain. Kalsium, magnesim, dan kalium diperoleh dari kulit pohon yang mengandung garam-garam mineral (Abdullah, 2013). Selain itu, garam-garam mineral diperoleh dari gumpalan tanah yang mengandung garam, air kolam, kulit dan darah gajah itu sendiri. Gajah mencari sumber garam dengan cara menjilat-jilat benda atau apapun yang mengandung garam dengan belalainya. Gajah juga sering melukai bagian tubuhnya agar dapat menjilat darahnya sendiri yang mengandung garam (Riba’i et al., 2012).
Perilaku grooming dilakukan gajah dengan cara mengibaskan ekor ke punggungnya, mengibaskan telinganya, menggosokkan punggungnya ke kayu atau batu besar dan melemparkan gumpalan tanah ke atas kepalanya. Selain itu, gajah akan menggelengkan kepalanya jika ektoparasit berada disekitaran mata. Perilaku tersebut dilakukan gajah untuk melindungi kulitnya dari gigitan serangga ektoparasit (Shoshani, 1982).
Perilaku berkubang pada gajah dilakukan dengan cara merendamkan tubuhnya kedalam lumpur pada saat siang atau sore hari sambil mencari minum (Mahanani, 2012). Selain itu, perilaku berkubang juga dapat dilakukan gajah di padang rumput dengan cara merebahkan tubuhnya ke padang rumput tersebut dan bergerak kearah samping kanan atau kesamping kiri tubuhnya. Menurut Shoshani et al (1982), perilaku berkubang dilakukan oleh gajah untuk mendinginkan suhu tubuhnya.
Perilaku mandi dilakukan gajah dengan cara mamasukkan tubuhnya kedalam sungai. Selanjutnya, gajah akan menggoyangkan tubuhnya dan dilanjutkan memasukkan keseluruhan tubuhnya kedalam sungai yang dalam untuk menjatuhkan kotoran yang masih menempel di tubuh. Hal ini, dilakukan gajah untuk membersihkan tubuhnya dari kotoran dan ektoparasit. Menurut WWF (2005), bahwa gajah melindungi dirinya dari gigitan ektoparasit. Perilaku mandi biasanya dilakukan gajah pada pagi dan sore hari sebelum dan setelah melakukan aktivitasnya.
Gajah betina mampu bereproduksi dimulai pada usia 8 sampai 10 tahun.
Aktivitas gajah betina pada saat ingin dikawinkan yaitu selalu mendekati gajah jantan dengan mengarahkan bagian bokongnya ke arah depan gajah jantan untuk dapat disentuh gajah jantan. Selanjutnya, masa kehamilan pada gajah betina selama 23 bulan. Menurut Sukumar (2003), kemampuan gajah bereproduksi secara alami rendah, karena masa kehamilan yang cukup lama berkisar antara 18 sampai 23 bulan dan jarak antar kehamilan gajah betina sekitar empat tahun. Pada umumnya, gajah betina hanya mampu melahirkan satu ekor anak gajah. Anak gajah yang baru dilahirkan memiliki bobot tubuh sebesar 90 kg (Mahanani, 2012).
Perilaku berkelompok merupakan salah satu perilaku yang sangat penting bagi keamanan dalam anggota kelompok. Besarnya anggota kelompok sangat bervariasi tergantung pada musim dan kondisi sumber daya habitatnya terutama pada makanan dan luas wilayah jelajah yang tersedia. Jumlah anggota satu kelompok gajah sumatera berkisar 20 sampai 35 ekor, atau berkisar 3 sampai 23 ekor (Mahanani, 2012). Setiap kelompok dipimpin oleh induk betina yang paling besar dan gajah betina muda menjadi anggota kelompok dan bertindak sebagai bibi pengasuh pada kelompok anak-anak.
Gajah jantan dewasa hanya tinggal pada periode tertentu pada kelompok betina untuk kawin dengan beberapa betina pada kelompok tersebut. Selain itu, gajah jantan muda dan sudah beranjak dewasa dipaksa meninggalkan kelompoknya dengan menjelajah sendirian (Sukumar, 1989). Gajah jantan yang berkeliling tanpa kawanan tetapi hanya sendirian atau sesekali bersama-sama dengan kawan yang berjenis kelamin sama disebut gajah soliter (Berliani, 2017).
Gajah melakukan penjelajahan dengan berkelompoknya mengikuti jalur tertentu yang tetap dalam satu tahun penjelajahan yang dilakukan pada saat malam (nokturnal). Gajah memiliki wilayah jelajah (home range) yang tetap dihabitatnya (Rood et al., 2008). Jarak jelajah gajah bisa mencapai lebih kurang 7 km per malam, bahkan pada musim kering atau musim buah-buahan di hutan mampu menjelajah sampai 15 km per malam (Mahanani, 2012).
Gajah sumatera termasuk hewan berdarah panas sehingga jika kondisi cuaca panas mereka akan bergerak mencari naungan (thermal cover) untuk menyesuaikan suhu tubuh dengan lingkungannya. Tempat yang sering dipakai sebagai naungan dan istirahat pada siang hari yaitu vegetasi hutan yang lebat seperti hutan primer. Selain itu, pada saat siang gajah akan berada dibawah pohon yang rimbun untul berlindung dari terik matahari. Hutan primer dimanfaatkan gajah sebagai tempat beristirahat, berlindung dari matahari, dan predator (Abdullah, 2013). Hal ini, karena gajah menghindari teriknya panas matahari untuk mencukupi kebutuhan makanannya (Soeriadmadja et al., 1982).
Gajah jantan siap bereproduksi dimulai pada usia 12 sampai 15 tahun. Gajah jantan tidak terikat dengan seekor gajah betina yang telah dikawininya. Selanjutnya, Gajah tidak memiliki musim kawin yang tetap dan bisa melakukan kawin sepanjang tahun. Namun, perilaku kawin biasanya terjadi pada masa musim hujan di daerah tersebut. Perilaku kawin yang ditunjukkan pada gajah jantan disebut musht. Perilaku tersebut menampakkan kondisi gajah seperti mengamuk atau kegilaan sambil mengeluarkan kelenjar temporal dibagian pipi, antara mata dan telinga, dengan warna hitam dan berbau merangsang disebut musht (WWF, 2005). Perilaku gajah jantan sebelum mengawini gajah betina dengan cara mencium kelamin betina dengan menggunakan belalainya. Selanjutnya, gajah jantan akan menyentuh bagian kelamin betinanya dan dilanjutkan menaikki gajah betina. Selanjutnya, gajah jantan akan memasukkan alat kelaminnya (penis) kedalam alat kelamin betina (vagina) dan dilanjutkan dengan perilaku maju atau mundur untuk memastikan penis benar-benar masuk secara benar kedalam vagina.
Seekor gajah berkomunikasi dengan gajah lain menggunakan getaran, suara, dan bau. Menurut WWF (2005), gajah berkomunikasi dengan menggunakan soft sound yang dihasilkan dari getaran pangkal belalai. Getaran suara (subsonik) yang dihasilkan pada gajah jantan mencapai jarak 5 km. Hal ini terjadi pada saat gajah melakukan penjelajahan untuk menjaga keutuhan dan keamanan kelompoknya. Selain itu, gajah dapat berkomunikasi dengan bau yaitu dengan cara seekor gajah mencium bagian kelamin gajah lain sebelum terjadinya perkawinan.
2.4 Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli
Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) adalah kawasan hutan yang dapat berupa hutan konservasi, hutan lindung atau hutan produksi yang ditunjuk secara khusus oleh menteri untuk keperluan penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan, serta untuk kepentingan sosial, religi dan budaya dengan tidak mengubah fungsi pokok kawasan hutan (Kuswanda et al., 2018). Menurut peraturan Menteri LHK Nomor P.15/Menlhk/Setjen/kom.1/5/2018 tentang Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus menyatakan bahwa pemanfaatan hutan. Pemanfaatan KHDTK berasal dari hutan lindung yang dapat dikembangkan dalam pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam, serta pemungutan hasil hutan bukan kayu.
Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli merupakan salah satu KHDTK yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.
39/Menhut sampai II/2005, tanggal 7 Pebruari 2005 dengan luas 1.900 Ha. Secara geografis KHDTK Aek Nauli terletak diantara 2˚41” LU sampai 2˚44” LU dan 98˚57” BT sampai 98˚58” BT. Pada administratif pemerintahan, kawasan ini termasuk dalam Desa Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan sejarah fungsi hutan, KHDTK Aek Nauli berasal dari Hutan Lindung Sibatuloteng. KHDTK Aek Nauli berfungsi sebagai wilayah tangkapan air bagi kawasan di bawahnya termasuk kawasan wisata Danau Toba. Wilayah ini merupakan habitat dari berbagai jenis tumbuhan dan satwaliar yang dilindungi, dan sekaligus sebagai kawasan ekowisata (Kuswanda, 2017).
Kawasan KHDTK Aek Nauli memiliki curah hujan bulanan rata-rata sebesar 206,5 mm dan curah hujan tahunan rata-rata sebesar 2452 mm dengan jumlah hari hujan sekitar 151 hari/tahun. Suhu maksimum bulanan berkisar antara 21,1˚C sampai 25˚C dengan kisaran suhu minimum antara 15,8 ˚C sampai 17,8˚C. Kelembaban relatif maksimum dan minimum bulanan rata-rata berkisar antara 67,5% sampai 85,6% dan 49,6% sampai 73,9% (Butar-butar dan Harbagung, 1996).
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini sudah dilakukan pada bulan Desember 2018 sampai Januari 2019. Lokasi penelitian dilakukan di kandang sosialisasi Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara (Lokasi penelitian dapat dilihat lampiran 1).
Secara keseluruhan, KHDTK Aek Nauli memiliki luas area 1.900 Ha.
Kawasan tersebut dibagi menjadi kawasan konservasi gajah dan ekowisata. Kawasan konservasi gajah memiliki luas area 300 Ha, dari luasan tersebut 30 sampai 40 Ha digunakan untuk habitat gajah, sisanya dimanfaatkan untuk wilayah budidaya pakan gajah dan pakan alami gajah. Pada kawasan KHDTK yang dimanfaatkan untuk habitat gajah terdapat kandang sosialisasi yang digunakan sebagai tempat sosialisasi gajah pada malam hari.
Gambar 3.1 Kandang sosialisasi gajah
Kandang sosialisasi gajah merupakan suatu tempat yang dimanfaatkan gajah untuk bersosialisasi antara gajah satu dengan yang lainnya atau antara gajah dengan kelompoknya. Pada Gambar 3.1 merupakan kandang sosialisasi yang memiliki luas lebih kurang 20 x 30 meter dengan keadaan kandang dikelilingi pagar listrik. Pada bagian dalam kandang memiliki lantai tanah yang tidak rata. Selanjutnya, terdapat kolam kecil yang berfungsi sebagai tempat minum gajah. Kolam tersebut didesain dengan pinggirannya terdapat susunan batu yang di semen dan ditengah kolam terdapat batu besar.
3.2 Objek Penelitian
Objek pada penelitian ini yaitu dua ekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang berada di KHDTK Aek Nauli, terdiri dari seekor gajah betina yaitu Vini (30 tahun) dengan berat badan 2.000 kg dan seekor gajah jantan yaitu Figo (13 tahun) dengan berat badan 1.800 kg.
3.3 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu papan kerja, alat tulis, stopwatch, camera digital, Close Circuid Television (CCTV), Hygrometer dan tally sheet (Lampiran 2).
3.4 Metode Penelitian
Metode penelitian tentang aktivitas gajah pada malam hari menggunakan metode focal animal sampling dan dikombinasi dengan continuous sampling. Metode focal animal sampling yaitu metode pengambilan data pengamatan perilaku yang menggunakan satu ekor individu satwa sebagai obyek pengamatan dan menggunakan teknik pencatatan tingkah laku satwa tersebut pada interval waktu tertentu (Martin et al., 1993). Selanjutnya, metode continuous sampling digunakan untuk mengetahui pola yang terjadi pada aktivitas nokturnal gajah.
x 100%
% Frekuensi Aktivitas = 3.5 Pengambilan Data
Pengambilan data dilakukan pada gajah dengan tidak membatasi aktivitas yang terjadi. Data aktivitas nokturnal gajah dilakukan pada saat gajah berada di dalam kandang sesuai dengan manajemen pada KHDTK Aek Nauli. Data pengamatan aktivitas nokturnal gajah meliputi perilaku makan, minum, istirahat, vokalisasi, move, grooming, urinasi, defekasi, kawin dan bermain. Aktivitas ini dicatat dengan interval waktu yang sudah di tentukan. Pengambilan data ini dimulai pada pukul 20.00 sampai pukul 00.00 WIB dengan pengamatan secara langsung dan dilanjutkan pada pukul 00.00 sampai pukul 06.00 WIB menggunakan cctv. Pengamatan aktivitas untuk seekor gajah dilakukan setiap 5 menit selama 10 jam permalam dengan total waktu pengamatan 70 jam.
3.6 Analisis Data
Data tentang aktivitas nokturnal gajah sumatera diolah dengan analisis deskripsi sehingga memberikan gambaran terhadap pola aktivitas nokturnal gajah sumatera menggunakan rumus.
Frekuensi aktivitas Total Frekuensi aktivitas
Hasil data kuantitatif dapat disajikan menggunakan tabel, gambar dan diagram.
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pola Aktivitas Nokturnal Gajah Sumatera
Pengamatan aktivitas nokturnal gajah sumatera di kandang sosialisasi KHDTK Aek Nauli selama 70 jam diperoleh 4623 banyaknya aktivitas nokturnal pada gajah jantan dan 4549 pada gajah betina dengan total durasi 8400 menit.
Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.1 bahwa tiga pola tertinggi aktivitas nokturnal kedua gajah sumatera secara berurutan yaitu aktivitas makan, grooming, dan istirahat.
Tabel 4.1 Aktivitas nokturnal gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus)
No. Perilaku
Figo Vini
Durasi (menit)
Frekuensi Aktivitas
Durasi (menit)
Frekuensi Aktivitas
1. Defekasi (BA) 54 63 37 44
2. Grooming (GR) 1055,33 1117 1348,50 1414
3. Istirahat (IS) 912,50 921 535 537
4. Kawin (KW) 30 36 30 36
5. Main (MN) 345,67 441 408,33 477
6. Makan (MK) 1173,50 1288 1352,83 1442
7. Minum (MU) 49 57 36,50 42
8. Move (MV) 503 614 409,33 507
9. Vocalisasi (VC) 48 54 23 29
10. Urinasi (BI) 29 32 19,50 23
11. Jumlah 4200 4623 4200 4551
Berdasarkan pengamatan pada kedua ekor gajah di malam hari, durasi yang digunakan gajah untuk melakukan aktivitas makan yaitu 1173,50 menit pada gajah Figo dan 1352,83 menit pada gajah Vini. Selanjutnya, kedua gajah melakukan
aktivitas makan dengan frekuensi 27,86% pada gajah Figo dan 31,69% pada gajah Vini (dapat dilihat pada Gambar 4.1 dan Gambar 4.2). Gajah memiliki feeding rate yang tinggi untuk mencukupi kebutuhan energi sesuai dengan ukuran tubuh, umur dan jenis kelamin (Berliani, 2018). Oleh sebab itu, aktivitas makan menghabiskan waktu paling lama, baik pada malam hari maupun siang hari. Disamping itu, menurut Poole (1996) bahwa hewan ini bersifat browser (pemakan semak), folivora (pemakan daun), frungivora (pemakan buah), pemakan biji dan pemakan bagian lain dari tumbuhan untuk memenuhi mineral tubuhnya. Di alam, gajah juga diperkirakan akan mengkonsumsi lebih dari 400 spesies tumbuhan yang berbeda tergantung pada daerah dan ekosistemnya (Fowler et al., 2006).
Berdasarkan Tabel 4.1 durasi yang paling lama digunakan gajah yaitu aktivitas makan. Hal ini karena pencernaannya yang kurang sempurna, bila dibandingkan dengan herbivora lain karena tidak memamahbiak, memiliki lambung tunggal dan rata-rata waktu mencerna yang rendah (Lekagul dan McNeely, 1977;
WWF, 2005), sehingga gajah membutuhkan pakan dalam jumlah yang banyak.
Menurut Shoshani et al (1982), gajah memiliki pencernaan yang kurang sempurna, sehingga satwa ini membutuhkan pakan yang sangat banyak yaitu 200 sampai 300 kg biomassa perhari untuk setiap ekor gajah dewasa atau 5 sampai 10% dari berat badannya. Selain itu menurut Lekagul (1975), gajah dewasa yang memiliki bobot tubuh 3000 sampai 4000 kg membutuhkan pakan sekitar 250 kg, sedangkan menurut Abdullah (2005), gajah membutuhkan pakan sebanyak 396 kg per hari. Menurut Berliani et al (2016), alasan inilah yang menyebabkan gajah menampakkan perilaku makan yang terus menerus.
Aktivitas makan pada hewan memperlihatkan perilaku yang berbeda sesuai dengan anatomi dan morfologi yang dimiliki hewan tersebut. Ketika gajah makan, gajah memperlihatkan perilaku makan dengan menggunakan belalainya. Sebelum gajah memakan pakannya, gajah terlebih dahulu memperlihatkan perilaku memilih pakan yang akan dimakannya. Sesuai dengan Berliani et al (2018) bahwa gajah akan memilih bagian tanaman yang disediakan sebagai pakan. Setelah proses memilih, gajah menampakkan kesukaanya terhadap jenis pakan berdasarkan banyaknya jumlah
pakan yang dikonsumsi saat dihadapkan pada beberapa jenis pakan secara bersamaan.
Pada penelitian ini terlihat gajah memilih bagian tanaman yang diberikan oleh manajemen KHDTK Aek Nauli sebagai pakan gajah pada malam hari. Hal ini sesuai dengan Berliani et al (2016), bahwa aktivitas makan pada kedua gajah ini diawali dengan mendekati pakan, kemudian memperhatikan pakan. Setelah itu, gajah menunjukkan perilaku memeriksa pakan yaitu mencium dan menyentuh pakan menggunakan belalainya. Selanjutnya, gajah melakukan pemilihan jenis maupun bagian tanaman yang akan dikonsumsi.
Berdasarkan hasil pengamatan setelah memilih pakan, kedua gajah (Figo dan Vini) memperlihatkan perilaku mengolah pakannya dengan melepaskan daun-daun pelepah kelapa. Kemudian mematahkannya dengan menginjak menggunakan kakinya dibantu belalai. Sesuai dengan penelitian Berliani (2017), bahwa sebelum pakan masuk kedalam mulut maka gajah memperlihatkan perilaku mengolah pakan yaitu perilaku gajah membersihkan kotoran pada pakan, mengupas pakan yang berkulit keras, membuang bagian tanaman yang tidak palatable atau mematahkan dan membelah pakan menjadi lebih kecil dengan menggunakan belalai, salah satu kaki depan dan gading. Pada penelitian ini gajah juga memperlihatkan perilaku mengolah pakan (Gambar 4.3) yaitu gajah Figo memperlihatkan perilaku menggigit, mengunyah, menelan dan terkadang terlihat perilaku membuang pakan. Perilaku membuang pakan dilakukan gajah karena tidak semua pakan dapat ditelan oleh gajah, sebagian pakan yang tidak dapat di hancurkan setelah dikunyah akan dibuang dari dalam mulutnya. Hal ini, sesuai dengan Berliani (2017), gajah akan menyeleksi pakan sebelum dimasukkan kedalam mulut. Jadi, gajah akan memakan habis jenis pakan yang disukai dan tidak akan memakan pakan yang tidak disukai. Menurut Sukumar (2003), gajah akan menghindari pakan pada jenis tanaman tertentu.
Pada aktivitas nokturnal, gajah juga menampakkan perilaku grooming (Gambar 4.4). Ketika pengamatan malam hari, terlihat banyaknya serangga yang terbang diarea mata menyebabkan mata gajah menjadi gatal sehingga gajah terlihat sering melakukan perilaku grooming. Perilaku grooming pada gajah Figo menggunakan durasi sebanyak 1055,33 menit dan gajah Vini sebanyak 1348,50
menit. Gambar 4.1 dan 4.2 menampakkan frekuensi grooming kedua gajah yaitu gajah Figo sebanyak 24,16% dan gajah Vini 31,07%. Perilaku grooming merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seperti menggaruk, mengibaskan telinga atau ekor, dan melemparkan gumpalan tanah ke atas kepalanya. Perilaku ini dilakukan untuk menghindari dan mengurangi rasa gatal akibat gigitan ektoparasit. Perilaku tersebut sesuai dengan Shoshani (1982), gajah mengibaskan telinga dan melemparkan tanah keatas kepalanya untuk melindungi kulitnya agar terhindar dari ektoparasit dan untuk mendinginkan tubuhnya.
Gambar 4.1 Frekuensi aktivitas nokturnal gajah jantan (Figo)
Gambar 4.2 Frekuensi aktivitas nokturnal gajah betina (Vini)
1,36 24,16
19,92
0,78 9,54
27,86
1,23 13,28
1,17 0,69 0
5 10 15 20 25 30
Persentase (%) Frekuensi
Aktivitas Nokturnal
0,97
31,07
11,80
0,79
10,48 31,69
0,92
11,14
0,64 0,51 0
5 10 15 20 25 30 35
Persentase (%) Frekusensi
Aktivitas Nokturnal
Aktivitas istirahat pada gajah Figo memiliki durasi 912,50 menit dan 535 menit pada gajah Vini. Pada Gambar 4.1 menampakkan frekuensi aktivitas istirahat 19,92% pada gajah Figo dan Gambar 4.2 menampakkan frekuensi 11,80% pada gajah Vini. Hal ini, karena gajah merasa nyaman dan aman berada di habitatnya sehingga perilaku istirahat memiliki durasi yang tinggi. Sesuai, Shoshani et al (1982), gajah membutuhkan waktu yang lama untuk istirahat jika dirinya merasa nyaman. Akan tetapi, menurut penelitian Abdullah (2009), aktivitas istirahat pada gajah sedikit (6,77%) di alam karena gajah termasuk hewan yang sedikit sekali menggunakan waktunya untuk beristirahat. Perilaku istirahat merupakan keadaan tanpa melakukan kegiatan atau diam. Gajah melakukan istirahat dengan posisi berdiri dan posisi berbaring. Selanjutnya, pada saat gajah istirahat dengan posisi berdiri, gajah akan menyendiri dan mata dalam keadaan terbuka. Keadaan istirahat seperti ini hanya berlangsung sebentar sekitar 2 sampai 5 menit. Hal tersebut terlihat pada Gambar 4.5 perilaku istirahat yang dilakukan gajah Figo. Selain itu, Gambar 4.5 gajah Vini memperlihatkan istirahat dengan posisi berbaring dan gajah akan mendekat dengan kelompoknya, kemudian mata akan ditutup dan kepala disandarkan pada alas sebagai bantalan. Berdasarkan hasil penelitian gajah beristirahat sekitar 2 sampai 4 jam.
Menurut Mahanani (2012), gajah sering tidur dengan merebahkan diri kesamping tubuhnya, memakai bantalan yang terbuat dari tumpukan rumput dan jika gajah sudah sangat lelah terdengar bunyi dengkur yang keras.
Aktivitas istirahat yang dilakukan gajah Figo dan gajah Vini memiliki nilai yang lebih tinggi dari pada aktivitas move dapat dilihat pada Gambar 4.1 dan 4.2.
Hal ini, menunjukkan bahwa beberapa perilaku yang dilakukan gajah di KHDTK Aek Nauli mengalami beberapa perubahan perilaku. Adaptasi menjadi salah satu penyebab perubahan perilaku yang dilakukan gajah tersebut, karena ukuran kandang di KHDTK Aek Nauli yang tidak luas menyebabkan gajah melakukan adaptasi dengan istirahat. Yudarini et al (2013), menjelaskan bahwa luas area yang tidak sesuai dengan habitat alaminya menyebabkan pergerakan menjelajah tidak dapat lagi dilakukan oleh gajah sumatera sehingga gajah melakukan adaptasi dengan istirahat.
Selain itu, pengelolaan manajemen menjadi salah satu faktor adaptasi karena gajah di
KHDTK Aek Nauli dijadikan sebagai objek ekowisata dengan melakukan pertunjukan aksi gajah pada siang hari. Oleh sebab itu, aktivitas yang tinggi pada siang hari menyebabkan gajah membutuhkan waktu istirahat yang banyak pada saat malam hari walaupun gajah merupakan hewan nokturnal. Hal ini, menunjukkan adanya campur tangan manusia dalam perubahan aktivitas yang dilakukan pada gajah (Berliani, 2017).
Perilaku move gajah pada penelitian ini menunjukkan durasi dan frekuensi 503 menit; 13,28% pada gajah Figo (Gambar 4.1) dan 409,33 menit; 11,14% pada gajah Vini (Gambar 4.2). Ketika malam hari, kedua gajah memperlihatkan perilaku move sebelum melakukan perilaku lainnya. Hal ini karena secara alamiah gajah melakukan perilaku menjelajah di malam hari sehingga gajah membutuhkan durasi yang lama untuk melakukan perilaku move. Menurut Mahanani (2012), secara alamiah gajah melakukan penjelajahan dengan jarak mencapai 7 sampai 15 km per malam. Pada Gambar 4.6 terlihat perilaku move gajah Figo dan gajahVini di dalam kandang pada malam hari. Perilaku tersebut menampakkan gerakkan melangkahkan kakinya secara perlahan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Gajah dapat berpindah 2 sampai 5 langkah dari tempatnya dengan durasi yang sebentar sekitar 2 sampai 5 menit dan gajah dapat melakukan lebih dari 5 langkah dengan durasi lebih dari 5 menit.
Secara alami, gajah merupakan hewan yang berkelompok sehingga walaupun mereka berada pada kandang sosialisasi, masih menampakkan interaksi sosial antara anggota dalam kelompoknya. Salah satu interaksi sosial yang terjadi yaitu aktivitas bermain. Pada penelitian ini tercatat durasi aktivitas bermain untuk gajah Figo selama 345,67 menit dan gajah Vini selama 408,33 menit. Frekuensi yang tercatat pada kedua gajah yaitu 9,54% pada gajah Figo dan 10,48% gajah Vini (Gambar 4.1 dan Gambar 4.2). Menurut Sukumar (2003), bahwa aktivitas bermain pada gajah paling sering dilakukan ketika gajah berumur anakan dan durasi bermain akan berkurang sesuai bertambahnya usia gajah sampai umur dewasa. Selain itu, menurut Spinka et al (2001), bahwa bermain pada hewan merupakan hal yang sederhana untuk didefenisikan, akan tetapi fungsi bermain itu mungkin merupakan persiapan individu
dalam menghadapi hal yang tidak terduga atau keadaan stres yang mungkin terjadi.
Selain itu, perilaku bermain ketika gajah berumur anakan akan membentuk tiga fungsi utama yaitu pengenalan terhadap objek (benda), ketika bermain melatih semua alat gerak dan membangun keadaan sosial yang baik dikelompoknya. Pada Gambar 4.7 terlihat perilaku main dengan cara merebut pakan. Perilaku main biasanya dilakukan pada saat makan, berjalan dan istirahat. Selanjutnya, perilaku main yang biasanya dilakukan juga terlihat pada gajah Figo mengganggu gajah Vini dengan cara mendorong pada saat makan. Selain itu, gajah Figo mengganggu dengan belalai, mengambil pakan gajah Vini yang ada dimulut gajah tersebut dan terkadang terlihat mendorong gajah Vini yang sedang beristirahat.
Tabel 4.2 Temperatur dan kelembaban di kandang sosialisasi KHDTK Aek Nauli Hari ke- Tanggal Temperatur (OC) Kelembaban (%)
1. 21 Desember 2018 19 98
2. 22 Desember 2018 19 98
3. 23 Desember 2018 19 97
4. 24 Desember 2018 20 96
5. 25 Desember 2018 19 95
6. 26 Desember 2018 19 93
7. 27 Desember 2018 18 94
8. 28 Desember 2018 19 97
9. 29 Desember 2018 19 97
10. 30 Desember 2018 19 98
11. 31 Desember 2018 18 93
12. 01 Januari 2019 19 94
13. 02 Januari 2019 19 93
14. 03 Januari 2019 18 94
Pada malam hari, gajah terlihat melakukan aktivitas minum walaupun menggunakan durasi yang singkat. Selama penelitian, gajah Figo melakukan aktivitas minum selama 49 menit dan gajah Vini menggunakan 36,50 menit Selanjutnya, frekuensi aktivitas minum pada gajah Figo 1,23% dan pada gajah Vini 0,92%.
Aktivitas minum yang rendah disebabkan kondisi lingkungan di KHDTK Aek Nauli dikategorikan dingin dengan suhu 19oC (Tabel 4.2), sehingga pada malam hari gajah jarang memperlihatkan perilaku minum. Menurut Sitompul (2011), faktor lingkungan mempengaruhi perilaku gajah. Ketika suhu meningkat gajah membutuhkan air minum dan menggerak-gerakkan telinganya, sebaliknya bila suhu rendah gajah sedikit mengkonsumsi air. Selanjutnya, pada saat gajah minum memperlihatkan beberapa perilaku seperti mengambil air dengan belalai dan memasukkan air kedalam mulut untuk menelannya. Hal ini sesuai dengan penelitian Yudarini et al (2013), bahwa gajah mengambil air dengan menggunakan belalainya dan memasukkan air tersebut kedalam mulut. Namun, pada saat gajah berada didalam sungai maka gajah akan minum melalui mulutnya (Mahanani, 2012).
Durasi urinasi yang digunakan kedua gajah yaitu 29 menit pada gajah Figo dan 19,50 menit pada Vini. Selanjutnya, pada Gambar 4.1 terlihat frekuensi yang digunakan aktivitas urinasi 0,51% pada Figo dan Gambar 4.2 memperlihatkan frekuensi aktivitas urinasi 0,69% pada gajah Vini. Aktivitas urinasi yang rendah disebabkan dengan aktivitas minum yang juga rendah. Oleh sebab itu, aktivitas urinasi berbanding lurus dengan aktivitas minum. Perilaku urinasi merupakan tindakan mengeluarkan cairan hasil sisa metabolisme tubuh (urine) melalui saluran pembuangan pada kantung kemih (uretra).
Aktivitas defekasi pada kedua gajah memiliki durasi 54 menit yang dilakukan pada Figo dan 37 menit pada Vini. Gambar 4.1 dan Gambar 4.2 menampakkan frekuensi kedua gajah yaitu 1,36% pada Figo dan 0,97% pada Vini. Aktivitas defekasi merupakan suatu kegiatan mengeluarkan sisa pakan yang tidak dapat dicerna oleh sistem pencernaan dari dalam tubuh melalui saluran pembuangan tubuh (anus) berupa feses. Menurut Kuswanda et al (2018), gajah membuang sisa pencernaan melalui anus pada saluran defekasi.
Aktivitas vokalisasi merupakan kegiatan yang dilakukan gajah dengan cara membuka mulutnya untuk menghasilkan suara yang berasal dari rongga mulut.
Selanjutnya, gajah terkadang menampakkan beberapa perilaku vokalisasi seperti pada Gambar 4.7 gajah Figo yang mengangkat belalai keatas kepala dan kepala sedikit dinaikkan keatas. Perilaku vokalisasi ini dilakukan sebagai salah satu cara untuk berinteraksi dengan gajah lain.
Gajah yang berada dikandang sosialisasi jarang melakukan aktivitas vokalisasi karena kondisi kandang yang terdapat pagar listrik. Oleh sebab itu, gajah merasa tidak terancam dengan adanya pemangsa sehingga tidak membutuhkan banyak vokalisasi pada malam hari. Akan tetapi, vokalisasi gajah terdengar hanya untuk berinteraksi dengan gajah lainnya. Pada penelitian ini, durasi yang digunakan gajah Figo untuk melakukan aktivitas vokalisasi 48 menit dan gajah Vini membutuhkan waktu 23 menit. Selanjutnya, berdasarkan hasil penelitian yang terdapat pada Gambar 4.1 dan Gambar 4.2, menampakkan hasil frekuensi kedua gajah yaitu 1,17% pada gajah Figo dan 0,64% pada gajah Vini. Gajah menghasilkan suaranya tidak hanya dengan vokalisasi, tetapi juga mengeluarkan suaranya melalui rongga mulut dan gajah juga melakukan komunikasi dengan getaran belalainya. Hal ini sesuai dengan WWF (2005), bahwa gajah juga melakukan aktivitas vokalisasi dengan menggunakan soft sound yang dihasilkan dari getaran pangkal belalai yang digunakan untuk komunikasi dengan kelompoknya.
Pada Tabel 4.1 menunjukkan adanya aktivitas kawin yang dilakukan kedua gajah pada malam hari. Gajah Figo dan gajah Vini menggunakan durasi aktivitas kawin selama 30 menit. Selanjutnya, kedua gajah menggunakan frekuensi aktivitas nokturnal sebanyak 0,78%. Gajah Figo berumur 13 tahun dan ukuran tubuhnya lebih kecil dari gajah Vini yang berumur 30 tahun. Pada saat pengamatan, gajah Figo menunjukkan perilaku kawin dengan mencoba untuk menaiki tubuh gajah Vini.
Selanjutnya, alat kelamin gajah Figo belum mampu mencapai alat kelamin gajah Vini. Perilaku tersebut terus dilakukan oleh gajah Figo, namun belum mencapai tahap akhir perilaku kawin. Hal ini di sebabkan karena ukuran tubuh gajah Vini yang lebih tinggi, sehingga gajah Figo sulit untuk menaiki tubuh gajah Vini. Perilaku kawin ini,
sesuai dengan Yudarini et al (2003), bahwa faktor yang mempengaruhi kesuksesan aktivitas kawin yaitu berat badan dan umur gajah. Jadi, durasi untuk aktivitas kawin yang digunakan gajah rendah karena faktor umur, berat tubuh, dan ukuran tubuh kedua gajah tersebut kurang mendukung untuk melakukan proses perkawinan. Untuk lebih jelas, aktivitas kawin gajah gajah Figo dan gajah Vini dapat dilihat pada Gambar 4.9.
Berdasarkan aktivitas nokturnal pada kedua gajah, gajah Figo berkelamin jantan dan gajah Vini berkelamin betina tidak menunjukkan pola frekuensi aktivitas yang berbeda. Gambar 4.1 dan 4.2 menampakkan pola aktivitas kawin yang sama pada malam hari. Hal ini disebabkan karena kedua gajah tersebut berada pada kandang sosialisasi yang diberikan perlakuan yang sama oleh manajemen KHDTK Aek Nauli.
4.2 Deskripsi Perilaku Nokturnal Gajah Sumatera
Aktivitas makan merupakan sesuatu yang dimasukkan kedalam mulut dalam bentuk padat, kemudian dikunyah dan ditelan. Sebelum memakan pakan, gajah terlebih dahulu memilih pakan yang akan dimakannya.
Gambar 4.3 Aktivitas makan yang dilakukan Figo
Selanjutnya, gajah akan mematahkan pakan dengan belalai ataupun kakinya sebelum masuk kedalam mulut (Gambar 4.3). Setelah dimasukkan kedalam mulut, gajah akan mengunyah dan menelannya, namun tidak semua pakan dapat ditelan karena ada sebagaian pakan yang tidak dapat di hancurkan setelah dikunyah maka gajah akan membuangnya pakan tersebut.
Aktivitas minum merupakan sesuatu yang dimasukkan kedalam mulut dalam bentuk cair, kemudian ditelan. Gajah mengambil air minumnya dengan menggunakan belalai. Selanjutnya, gajah akan memasukkan air tersebut kedalam mulut. Namun, pada saat gajah berada didalam sungai maka gajah akan minum melalui mulutnya (Mahanani, 2012).
Gambar 4.4 Perilaku grooming dengan cara melemparkan tanah ketubuh Aktivitas Grooming merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seperti menggaruk, mengibaskan telinga dan ekor, dan melemparkan gumpalan tanah ke atas kepalanya. Pada Gambar 4.4, kedua ekor gajah melakukan perilaku melemparkan tanah keatas tubuhnya. Hal ini bertujuan untuk terhindar dari ektoparasit dan mengurangi rasa gatal akibat gigitan ektoparasit. Menurut Shoshani et al (1982), gajah mengibaskan telinga dan melemparkan tanah keatas kepalanya untuk
melindungi kulitnya agar terhindar dari ektoparasit dan untuk mendinginkan tubuhnya.
Gambar 4.5 Aktivitas istirahat yang dilakukan Figo dan Vini
Aktivitas istirahat merupakan sesuatu tanpa melakukan kegiatan (diam).
Gajah melakukan istirahat dengan posisi berdiri dan posisi berbaring. Pada Gambar 4.5 menampakkan perilaku istirahat oleh kedua gajah. Perilaku istirahat gajah dengan posisi berdiri, dilakukan dengan cara mata dalam keadaan setengah terbuka. Namun, pada saat posisi berbaring maka gajah akan menutup matanya dan sesekali menggunakan alas sebagai bantalan.
Aktivitas urinasi merupakan tindakan mengeluarkan cairan hasil sisa metabolisme tubuh (urine) melalui saluran pembuangan pada kantung kemih (uretra).
Sesuai Kuswanda et al (2018), urin dikeluarkan melalui saluran urin yang berhubungan dengan saluran uretra dan kantung kemih. Pada saat gajah akan melakukan aktivitas urinasi, gajah menampakkan perilakunya yaitu ekor yang sedikit naik dan tegang. Selanjutnya, gajah akan membuka kedua kaki belakangnya. Gajah Vini memperlihatkan kaki belakang yang menekuk sebelum mengeluarkan urine.
Akan tetapi, berbeda dengan gajah Figo tidak memperlihatkan hal yang sama. Gajah Figo mengeluarkan penisnya sebagai saluran akhir pembuangan urine. Setelah itu,
gajah Figo akan mengeluarkan urine dan berpindah untuk menghindari urinenya sendiri.
Aktivitas move merupakan suatu kegiatan individu dengan cara melangkahkan kakinya secara perlahan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Penelitian aktivitas nokturnal dapat dilihat pada Gambar 4.6, kedua gajah melakukan perilaku move secara bersama-sama.
Gambar 4.6 Perilaku move secara bersama-sama yang dilakukan Figo dan Vini Aktivitas bermain merupakan suatu kegiatan interaksi yang terjadi antara seekor gajah dengan gajah lain atau seekor gajah dengan kelompoknya. Perilaku main biasanya dilakukan pada saat makan, berjalan dan istirahat. Hal ini karena gajah sebagai hewan yang berkelompok, sehingga interaksi antara seekor gajah dengan kelompoknya sering terjadi. Perilaku bermain yang biasanya dilakukan seekor gajah dengan gajah lain itu mengganggunya dengan cara mendorong pada saat makan, mengganggu dengan belalai, mengambil makanan gajah lain dan mendorong gajah lain yang sedang beristirahat. Pada saat pengamatan penelitian aktivitas nokturnal, terlihat Gambar 4.7 menampakkan perilaku main yang dilakukan kedua gajah dengan cara merebut pakan. Perilaku merebut pakan dilakukan oleh gajah Vini dengan cara menggunakan belalainya. Selanjutnya, belalai gajah Vini mengambil pakan yang ada di mulut gajah Figo dan pakan tersebut dimakan oleh gajah Vini sendiri.
Gambar 4.7 Perilaku main dengan cara merebut pakan
Aktivitas vokalisasi merupakan kegiatan yang dilakukan dengan membuka mulut dan menghasilkan suara yang berasal dari rongga mulut. Terkadang, gajah menaikkan belalalainya sambil mengeluarkan suara (Gambar 4.8). Hal ini, dilakukan gajah sebagai salah satu cara untuk berinteraksi dengan gajah lainnya yang berada di dalam kandang sosialisasi.
Gambar 4.8 Aktivitas vokalisasi yang dilakukan gajah Figo
Aktivitas kawin merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh kedua ekor gajah yaitu gajah jantan dan gajah betina. Sebelum aktivitas kawin terjadi, gajah jantan akan mencium dan menyentuh alat kelamin betinanya dengan menggunakan belalainya. Gajah jantan melakukan aktivitas ini dengan cara menaiki punggung gajah betinanya (Gambar 4.9). Setelah itu, gajah jantan akan memasukkan alat kelaminnya kedalam alat kelamin gajah betina. Selanjutnya, gajah jantan akan melakukan perilaku seperti pergerakan kearah depan dan belakang untuk memastikan bahwa alat kelamin jantan masuk kedalam alat kelamin betina, walaupun belum mencapai tahap akhir perilaku kawin.
Gambar 4.9 Aktivitas kawin yang dilakukan Figo dan Vini
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan pada penelitian ini yaitu:
1. Perilaku yang terjadi pada aktivitas nokturnal gajah di KHDTK Aek Nauli, Simalungun, Sumatera Utara memiliki beberapa perilaku yaitu makan, grooming, istirahat, move, main, defekasi, minum, vokalisasi, kawin dan urinasi.
2. Pola aktivitas gajah pada malam hari di KHDTK Aek Nauli, Simalungun, Sumatera Utara. Pada gajah jantan (Figo) terdapat pola aktivitas nokturnal tertinggi yaitu pada perilaku makan (1173,50 menit; 27,86 %) dan terendah pada perilaku urinasi (29 menit; 0,69 %). Begitu juga pada gajah betina (Vini) terdapat pola aktivitas nokturnal tertinggi yaitu pada perilaku makan (1352,83 menit; 31,69 %) dan terendah terdapat pada perilaku urinasi (19,50 menit;
0,51 %).
5.2 Saran
1. Sebaiknya pihak managemen menambah jumlah pakan gajah pada malam hari karena aktivitas makan pada gajah yang tinggi.
2. sebaiknya pihak managemen memperluas kandang sosialisasi agar gajah lebih aktif melakukan pergerakan seperti berjalan di malam hari.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah DN, Choesin A, Sjarmidi. 2005. Estimasi Daya Dukung Pakan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus Temmick) di Kawasan Hutan Tessonilo. Bandung. Prov Riau. Jurnal Ekologi dan Biodiversitas ITB. Vol.
4, no. 2, p. 37-41.
Abdullah, Asiah, dan Japisa T. 2009. Karakteristik habitat gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di kawasan ekosistem Seulawah Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Biologi, Biologi Edukasi. Vol. 4, no. 1, p.
41-45.
Abdullah. 2013. Karakter Habitat Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus Temmick) Pada Habitat Terganggu Di Ekosistem Hutan Seulawah. Jurnal Edu Bio Tropika. Vol 1, no. 1.
Balai Litbang LHK Aek Nauli. 2017. Rencana pengelolaan kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) Aek Nauli dengan konsep edutainment. Balai Litbang LHK Aek Nauli. Sumatera Utara.
Berliani K, Alikodra HS, Masy’ud B, Kusrini MD. 2016. Aktivitas Makan Pada Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) Terhadap Kerentanan Budidaya Pertanian Di Provinsi Aceh. Prosiding Seminar Nasional Biologi.
Universitas Sumatera Utara.
Berliani K. 2017. Strategi Pengendalian Konflik Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) Di Provinsi Aceh. [Disertasi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor, Sekolah Pascasarjana.
Berliani K, Alikodra HS, Masy’ud B, Kusrini MD. 2017. Bioekologi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) Pada Konflik Gajah-Manusia Di Provinsi aceh. Prosiding Seminar Nasional Biotik.
Berliani K, Alikodra HS, Masy’ud B, Kusrini MD. 2018. Food Preference Of Sumatran Elephant (Elephas maximus sumatranus) To Commodity Crop In Human Elephant Conflict Area Of Aceh, Indonesia. Journal of Physics. Iop Publishing Ltd.
Blouch RA, Simbolon K. 1985. Elephants In Nothern Sumatra. Bogor: Unpublishing.
Butar-butar T, Harbagung. 1996. Studi Hubungan Sifat-Sifat Tanah Untuk Tanaman Eucalyptus urophilla di Sumatera Utara. Buletin Penelitian Kehutanan. Vol 12, no. 1.
Ciszek D. 1999. Elephas maximus. Animal Diversity.
http://animaldiversity.ummz.edu/site/account/information/elephas_maximus.
html. Diakses pada 5 juli 2018.
[CITES] Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora, 2012. Elephas maximus sumatranus. (online), (http://www.cites.org/eng/results.php?cites=Elephas+maximus+sumatranus), diakses 8 juli 2018.
[DEPHUT] Departemen Kehutanan. 2007. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan 2007-2017. Dirjen PHKA. Jakarta.
[DEPHUTBUN] Departemen Kehutanan dan Perkebunan. 1999. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Dephutbun RI. Jakarta.
Eltringham SK. 1982. Elephant. Blanford Press. Poole-Dorset.
Fowler ME, Mikota SK. 2006. Biology, Medicine, and Surgery of Elephants.Iowa (US):Blackwell publishing professionalUSA.
Hariyanto. 2009. Gajah sumatera. Juli 2009. Diakses pada 22 Mei 2018.
http://blogmhariyanto.blogspot.com/2009/07/gajah-sumatera.html.
Hutchinson JR, Schwerda, D, Famini, DJ, Dale RH, Fischer MS, Kram R. 2006. The Locomotor Kinematics of Asian and African Elephants: Changes With Speed And Size. Journal of Experimental Biology. 209 (19): 3812–27.
[IUCN] International Union for Conservation of Nature. 2011. World Conservation Union-Red List of Threatened Species. Wold Wibe Web http://www.iucnredlist.org/document (22 April 2018).
Kuswanda W, Pratiara. 2017. Study Kelayakan KHDTK Aek Nauli Sebagai Sarana Litbang dan Wisata Ilmiah. Balitbang. Sumatera Utara.
Kuswanda W, Situmorang ROP, Berliani K, Barus SP, Silalahi J. 2018. Konservasi dan Ekowisata Gajah. IPB Press. Bogor.
Larisha C, Herdiana I, Gunaryadi D, Elfidasari D. 2016. Perilaku dan Pola Asuh Induk (Parental Care) Terhadap Anak Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) Di Taman Margasatwa Ragunan. Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Sains dan Teknologi. Vol. 3, no. 4.
Leger DW. 1992. Biological Foundation of Behaviour, An Introducing Guide Edition 2. Cambridge University Press. Cambridge.
Lekagul, B dan J.A. McNeely. 1975. Mammals of Thailand. The Association for the Conservation of Wildlife. Bangkok.
Mahanani AI, 2012. Strategi Konservasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus Temminck) Di Suaka Margasatwa Padang Sugihan Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Daya Dukung Habitat. [Tesis]. Semarang:
Universitas Diponegoro, Program Pascasarjana.
Martin P, Bateson P. 1993. Measuring Behaviour, An introducing guide. 2nd Ed.
Cambridge University Press. Cambridge.
Maryanto I, Achmadi AS, Kartono AP. 2008. Mamalia Dilindungi Perundang- undangan Indonesia. LIPI Press. Bogor.
Miller M. 2008. Nervous System: Biology, Medicine and Surgery. Blackwell Publishing. New Jersey.
[PKBSI] Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia. 1983. Asal Muasal Gajah. Biro Humas Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia. Jakarta.
PooleJH. 1996. Coming of Age with Elephants. New york (US): Hyperion Press.
Ribai A, Setiawan, A Darmawan. 2012. Perilaku Menggaram Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) Di Pusat Konservasi Gajah Taman Nasional Way Kambas. Jurnal Tengkawang, Vol. 2, no.1, pp. 1-9.
Rood J, Singh R. 2008. Asian Elephant (Elephas maximus) in the Rajaji National Park. The Journal of Amerika Science.Vol. 4. p. 34-48.