1 A. Latar Belakang Masalah
Anak merupakan investasi yang sangat penting bagi penyiapan sumber daya manusia (SDM) di masa depan, dalam rangka mempersiapkan s u m b e r d a ya m a n u s i a yang berkualitas untuk masa depan, pendidikan merupakan salah satu hal yang penting untuk diberikan sejak usia dini. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antar keluarga, sekolah dan masyarakat, bahkan menjadi tanggung jawab seluruh bangsa Indonesia.
Keluarga merupakan komunitas terkecil dalam masyarakat.1 Ia merupakan lingkungan (milleu) pertama bagi individu dalam berinteraksi.2 Sehingga keluarga memiliki peranan yang sangat besar dalam pembangunan masyarakat. Pada lingkungan ini, pembentukan kepribadian anak mulai dibangun. Selain itu, keluarga adalah sebagai proses pendidikan orang tua untuk penanaman nilai-nilai moral.
Pendidikan pertama-tama diberikan oleh orang tua kepada anaknya dan ini terjadi dilingkungan keluarga. Keluarga adalah kelompok kecil yang memiliki
1Thohari Masnamar, Dasar-Dasar konseptual Bimbingan Dan Konseling Islami, (Yogyakarta:
UII PRESS,1992), h. 55
2Hasan Langgulung, Manusia Dan Pendidikan; Suatu Analisa Dan Psikologis, Filsafat Dan Pendidikan, (Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru, 2004), h. 348
pemimpin dan anggota, mempunyai pembagian tugas dan kerja, serta hak dan kewajiban bagi masing-masing anggotanya. Keluarga adalah tempat pertama dan yang utama di mana anak-anak belajar. Dari keluarga, mereka mempelajari sifat- keyakinan, sifat-sifat mulia, komunikasi dan interaksi sosial, serta keterampilan hidup.3
Keluarga sebagai lingkungan pendidikan yang pertama sangat berpengaruh dalam membentuk pola kepribadian anak. Didalam keluarga anak pertama kali berkenalan dengan nilai dan norma. Pendidikan keluarga memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar , agama dan kepercayaan (spritual), nilai-nilai moral, norma sosial dan pandangan hidup yang diperlukan anak.
Pendidikan merupakan investasi masa depan yang diyakini dapat memperbaiki kehidupan suatu bangsa. Memberikan perhatian yang lebih kepada anak usia dini untuk mendapatkan pendidikan, merupakan salah satu langkah yang tepat untuk menyiapkan generasi unggul yang akan meneruskan perjuangan bangsa.
Tugas manusia tidak selalu meningkatkan kecerdasan, melainkan juga mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia, oleh karena itu, pendidikan marupakan sarana utama mengembangkan kepribadian setiap manusia, terlebih lagi pendidikan agama yang tentunya mempunyai pengaruh yang sangat besar dari pada pendidikan lain pada umumnya. Sebagaimana firman Allah dala Q.S Al-Mujaadilah ayat 11 sebagai berikut:
3Helmawati, Pendidikan Keluarga, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2016), h. 42-43.
4
Berdasarkan ayat diatas bahwa menuntut ilmu itu baik untuk anak-anak yang masih usia dini, menuntut ilmu agama islam wajib bagi umat, baik laki-laki maupun perempuan, kerana pendidikan berusaha membentuk pribadi yang berkualitas, baik jasmani maupun rohani. Setiap makhluk Allah yang dilengkapi dengan akal wajib untuk menuntut ilmu apa saja. Yang pada intinya semua ilmu itu adalah baik. semua itu tergantung dari manusia itu sendiri dalam mempergunakannya apakah untuk hal kebaikan atau sebaliknya.
Sejalan dengan perkembangan zaman, banyak budaya asing yang masuk dalam masyarakat Islam. Budaya tersebut membawa dampak yang cukup signifikan dalam dunia Islam. Hal ini menyebabkan bergesernya nilai-nilai dan norma-norma agama. Banyak umat muslim, khususnya para remaja terpengaruh budaya tersebut.
Remaja yang kondisinya masih sangat rentan terpengaruh hal-hal baru yang mereka temukan, akan kesulitan menyaring dan memfilter mana yang baik dan yang buruk untuk dirinya.5
4 Departemen Agama R.I., Al-Qur’an Terjemahan, (Jakarta: Pelita III, 1980), h. 421
5Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental ,(Jakarta:Gunung Agung, 1993), h. 101
Keluarga memiliki peran sebagai media sosialisasi pertama bagi anak. Peran inilah yang membuat orang tua memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan fisik dan mental seorang anak. Di keluargalah anak mulai dikenalkan terhadap ajaran- ajaran yang sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku dalam agama maupun masyarakat. Semua aktivitas anak dari mulai prilaku dan bahasa tidak terlepas dari perhatian dan binaan orang tua.
Memberikan pola asuh yang baik perlu dilakukan, terutama pada anak usia dini khususnya yang berada antara usia 3-6 tahun, karena pada masa ini panca indranya masih dalam masa peka. Pada masa ini pula muncul gejala kenakalan. Anak sering menentang kehendak orangtua, kadang-kadang menggunakan kata-kata kasar, dengan sengaja melanggar apa yang dilarang dan tidak melakukan apa yang harus dilakukan. Maka, orangtua hendaknya benar-benar memberikan pola asuh yang tepat pada masa ini, karena masa ini adalah masa pembentukan bagi anak dan juga dikatakan sebagai masa “golden age” (usia keemasan) yaitu usia yang sangat berharga dibandingkan usia-usia selanjutnya.6
Orangtua hendaknya tidak hanya memerintah anak untuk melakukan hal-hal yang baik melalui ucapan, akan tetapi orangtua juga harus mampu menjadi contoh yang baik bagi anak serta selalu berperilaku baik, karena segala yang dilakukan orangtua akan dicontoh oleh anak-anaknya. Dalam proses pembentukan sikap atau karakter yang lebih baik untuk setiap anak bangsa memang harus didik sejak lahir,
6 Hastuti, Psikologi Perkembangan Anak, (Jakarta: Tugu Publisher, 2012), h. 117
permasalahan mengenai karakter setiap orang memang merupakan hubungannya dengan fitrah ilahi, namun untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan suatu pendukung yaitu lingkungan. Lingkungan yang baik maka sangatlah mungkin untuk menciptakan setiap individu yang baik pula.
Pengaruh pola asuh orangtua dengan membentuk karakter anak dimaksudkan sebagai upaya orangtua dalam meletakkan dasar- dasar karakter pada diri anak.
Pendidikan dari orangtua dalam keluarga sangat berpengaruh untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, anak yang ditanamkan karakter sejak dini akan memiliki keteraturan diri berdasarkan nilai agama, nilai budaya, aturan-aturan pergaulan, pandangan hidup, dan sikap hidup yang bermakna bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa, dan negara
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, pekataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya dan adat istiadat. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada anak yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.7 Sedangkan proses pembentukkannya karakter anak merupakan usaha atau
7Abdul Majid, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), h. 11
suatu proses yang terencana yang dilakukan untuk menanamkan hal positif pada anak baik dalam lingkup pendidikan, keluarga dan lingkungan atau masyarakat yang bertujuan untuk membentuk karakter yang sesuai dengan norma dan kaidah moral.
Indikator pembentukkan karakter anak yaitu 1) faktor pendidikan (sekolah); 2) lingkungan keluarga; 3) lingkungan masyarakat.
Status sosial merupakan kedudukan seseorang di dalam lingkungan masyarakat. Status sosial dapat menentukan hak dan kewajiban seseorang, sehingga membentuk pembagian kelas sosial di masyarakat. Pembagian tersebut didasarkan pada pendidikan, pekerjaan, pendapatan, jabatan, dan lain-lain. Hal ini kemudian yang ingin penulis ketahui, seberapa besar pengaruh status sosial yang dimiliki orang tua terhadap pengambilan keputusan seorang anak dalam menentukan karir.
Prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh status orang tua, orang tua yang memiliki penghasilan tinggi siswa cenderung memiliki gaya hidup yang tinggi pula dan orang tua yang memiliki penghasilan rendah maka siswa cenderung memiliki gaya hidup sederhana. Orang tua yang berstatus sosial ekonomi tinggi seringkali memberi uang berlebih pada anaknya dengan tujuan untuk membeli barang-barang kebutuhan yang berkaitan dengan pendidikan, tetapi oleh siswa seringkali disalahgunakan, sehingga mereka sering tidak rasional dalam berkonsumsi.
Dikatakan bahwa orang tua yang berstatus sosial ekonomi tinggi, tidaklah banyak mengalami kesulitan dalam proses pendidikan anaknya. Sebaliknya, bagi orang tua yang berstatus sosial ekonomi rendah maka akan banyak mengalami kesulitan dalam proses pendidikan anaknya. Dalam proses pembelajaran diperlukan
sarana penunjang yang terkadang mahal. Akibatnya bagi orang tua yang tidak mampu memenuhi sarana penunjang tersebut, maka anak akan terhambat dalam proses pembelajaran. Keluarga mempunyai pengaruh terhadap proses perkembangan anak karena keluarga adalah lembaga sosial pertama dalam hidup manusia. Didalam keluarga, orang tua memiliki tugas dan kewajiban dalam memenuhi seluruh kebutuhan pendidikan anak, terutama dalam hal finansial.
Selain pendidikan keluarga, status sosial orang tua maka lingkungan tempat tinggal juga menjadi faktor yang mempengaruhi tingkat relegius dan moral seseorang karena lingkungan tempat tinggal juga memiliki peran dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak, termasuk potensi kerelegiusannya. Lingkungan adalah suatu media dimana makhluk hidup tinggal, mencari penghidupan, dan memiliki karakter serta fungsi yang khas yang mana terkait secara timbal balik dengan keberadaan makhluk hidup yang menempatinya, terutama manusia yang memiliki peranan yang lebih kompleks dan riil.8 Lingkungan juga dapat diartikan menjadi segala sesuatu yang ada disekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia.9
Berdasarkan hasil survei sementara yang dilaksanakan di kecamatan panyipatan terdapat 10 Desa: yaitu Batakan, Tanjung Dewa, Kandangan Lama, Batu Tungku, Kuringkit, Bumi Asih, Batu Mulya, Suka Ramah, Panyipatan, dan Kandangan Baru, dari seluruh desa tersebut terdapat 7. 951 Rumah tangga dalam satu
8Elly M. Setiadi, dkk, Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar, (Jakarta: Kencana, 2006), h. 173
9Syukri Albani Nasution, Muhammad, dkk, Ilmu Sosial Budaya Dasar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2015), h. 219
kecamatan. Penulis melakukan penelitian di desa Panyipatan dan Tanjung Dewa, untuk desa Panyipatan ada 780 kepala keluarga. Dari hasil wawancara dengan beberapa orang tua memiliki beragam pola yang mereka terapkan dalam keluarga mereka masing-masing demi terciptanya anak yang berkarakter baik sesuai dengan yang mereka inginkan. Banyaknya anak yang sering berbohong merupakan tanda penurunan karakter seorang anak dapat dilihat jika anak sedang bercerita dengan teman sebayanya banyak mengatakan hal yang tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi, saat anak melakukan kesalahan dan di tanyakan jawabannya anak sering berbohong untuk membela diri untuk menguatkan alasannya, banyak alasan mungkin seorang anak melakukan hal tersebut, namun tetap saja hal tersebut bukan merupakan tujuan dan harapan setiap orang tua.
Relita yang ada, setelah penulis mengobservasi lokasi penelitian ternyata terdapat kesenjangan antara pola asuh yang diberikan orangtua terhadap karakter atau perilaku yang anak lakukan. Karakter anak belum semuanya baik. Desa Tanjung Dewa ada 873 Kepala Keluarga di desa tersebut ada beberapa kepala keluarganya bekerja sebagai nelayan dan dalam jangka waktu yang lumayan lama keterikatan antara orang tua dan anak itu kurang terjalin secara lancar disebabkan kurangnya sosok tersebut dalam beberapa waktu sehingga penerapan pola asuhnya juga kurang berjalan sebagaimana mestinya. Begitu pula dengan status sosial, ada beberapa anak yang status sosial orang tuanya dilihat dari kekayaan orang tuanya rendah namun sopan dalam bertingkah laku terhadap orang yang tua kurang. Berkaitan juga dengan status sosial mengacu kepada kedudukan khusus seseorang dalam masyarakatnya
berhubungan dengan orang lain dalam lingkungan yang disertai, martabat yang diperolehnya dan hak serta tugas yang dimilikinya. Status sosial bukanlah tidak hanya terbatas pada statusnya dalam kelompok-kelompok lain dan sesungguhnya status sosial pribadinya mungkin mempunyai pengaruh terhadap statusnya dalam kelompok-kelompok lain di luar kelompoknya. Sedangkan di lingkungan sekitar menurut para orang tua sebagian besar dari anak mereka banyak menghabiskan waktu di luar rumah di lingkungan masyarakat, terlebih dengan ada nya pandemi sekarang yang membuat anak-anak banyak menghabiskan waktu di lingkungan sekitar tempat tinggal, karena proses belajar mengajar di laksanakan secara daring. Lingkungan sekarang yang sudah mulai tidak kondusif lagi di karena kan banyaknya orang tua yang terdampak dan untuk sementara tidak bekerja dan menghabiskan waktu di rumah.
Apabila masalah tersebut dibiarkan, kemudian jika anak tidak diberikan pola asuh yang benar, terlebih jika orangtua tetap menjadikan anak sebagai raja kecil yang dituruti segala kehendaknya, 10 atau 20 tahun mendatang dampaknya akan terasa ketika anak sudah tumbuh remaja atau dewasa. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak berkarakter. Tentu saja hal ini tidak diinginkan oleh siapapun terutama oleh orangtua. Hal inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian untuk membantu orangtua dalam membina dan mendidik anak agar mampu menjadi insan yang berkarakter dalam menjalani kehidupan dalam masyarakat.
Berpijak dari keadaan ini penulis merasa tertarik untuk mengetahui lebih jauh dan lebih mendetail lagi tentang bagaimana pola asuh orangtua dalam membentuk karakter anak perlu dibahas dengan mengadakan penelitian yang berjudul:
“Pengaruh Pola Asuh, Status Sosial Orang Tua dan Lingkungan Sekitar Terhadap Pembentukan Karakter Anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut”
B. Rumusan Masalah
Dari pembatasan masalah di atas, maka masalah yang akan diteliti, secara operasional dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana distribusi tingkat pola asuh, status sosial orang tua dan lingkungan sekitar terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut?
2. Apakah ada pengaruh positif yang signifikan pada pola asuh orang tua terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut?
3. Apakah ada pengaruh positif yang signifikan pada status sosial orang tua terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut?
4. Apakah ada pengaruh positif yang signifikan pada lingkungan sekitar terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut?
5. Apakah ada pengaruh positif yang signifikan antara pola asuh, status sosial orang tua dan lingkungan sekitar terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut?
C. Tujuan Penelitian
Sebagai konsekuensi dari sebuah penelitian, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut:
1. Mengetahui distribusi tingkat pola asuh, status sosial orang tua dan lingkungan sekitar terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut.
2. Mengetahui pengaruh positif yang signifikan pada pola asuh orang tua terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut.
3. Mengetahui pengaruh positif yang signifikan pada status sosial orang tua terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut.
4. Mengetahui pengaruh positif yang signifikan pada lingkungan sekitar terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut.
5. Mengetahui pengaruh positif yang signifikan antara pola asuh, status sosial orang tua dan lingkungan sekitar terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut.
D. Kegunaan Penelitian 1. Secara Teoritis
Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah :
a. Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan kajian teoritis tentang pengaruh pola asuh, status sosial orang tua dan lingkungan sekitar terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut. Berdasarkan teori Baumrid dalam buku Radiyah mengatakan mendidik anak agar menyesuaikan diri sesuai dengan lingkungannya yaitu pola authoritative, permisif dan authoritarian.10
b. Hasil penelitian ini dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang pengaruh pola asuh, status sosial orang tua dan lingkungan sekitar terhadap pembentukan karakter anak pada keluarga dalam mencegah perilaku menyimpang dan bisa dijadikan acuan pada bidang penelitian sejenis.
2. Secara Praktis
Penelitian in diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut.
a. Orang tua. Sebagai ujung tombak pendidikan pada anak-anaknya, orang tua dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai bahan acuan dalam melaksanakan pembentukan karakter anak pada keluarga terutama pada anak-anak mereka sejak dini maupun yang sudah berusia remaja dan
10 Radiyah Nur, Hubungan Pola Asuh Orang tua terhadap Intensitas Temper Tantrum Pola Anak Autis Di SLB Bhakti Luhur Malang, (Malang: Skripsi Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), h. 14
menambah pengetahuan mereka tentang pembentukan karakter anak pada keluarga dalam upaya mencegah perilaku menyimpang.
b. Masyarakat. Sebagai mitra keluarga dan sekolah dalam pendidikan, masyarakat dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai salah satu referensi pelaksanaan pengaruh pola asuh, status sosial, orang tua dan lingkungan sekitar terhadap pembentukan karakter anak. Kepala Desa, khususnya kepala desa Panyipatan dan Tanjung Dewa sebagai masukan bahwa pentingnya pola asuh untuk orang tua dalam peningkatan karakter anak.
c. Ilmuan. Sebagai ahli dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai tambahan wawasan, referensi terkini dalam pengembangan keilmuan kuhusnya dalam pelaksanaan pengaruh pola asuh, status sosial, orang tua dan lingkungan sekitar terhadap pembentukan karakter anak.
E. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah penelitian, kajian teoritik dan kerangka pemikiran, maka perlu adanya hipotesis yang merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian, hingga terbukti melalui data yang terkumpul. Menurut Nurastuti dalam Tukiran, hipotesis terdiri dari 2 kata yaitu kata “hypo” yang berarti sebelum dan “thesis” yang berarti dalil. Jadi Hipotesis berarti dalil; yang dianggap belum menjadi dalil yang sebenarnnya, karena perlu pembuktian terhadap pembenerannya. Hal ini dipendapat Ali yang mengatakan hepotesis diartikan sebagai
rumusan jawaban sementara yang harus di uji melalui kegiatan peneliatan.11 Hipotesis diajukan dalam bentuk pertanyaan sementara terhadap hasil penelitian, adapun rumusan hipotesis terhadap hasil penelitian ini dinyatakan sebagai berikut:
Ha1 : Adanya distribusi tingkat pola asuh, status sosial orang tua dan lingkungan sekitar terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut.
Ha2 : adanya pengaruh positif yang signifikan pada pola asuh orang tua terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut.
Ha3 : adanya pengaruh positif yang signifikan pada status sosial orang tua terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut.
Ha4 : adanya pengaruh positif yang signifikan pada lingkungan sekitar terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut.
Ha5 : Adanya pengaruh positif yang signifikan antara pola asuh, status sosial orang tua dan lingkungan sekitar terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut.
11 Tukiran Taniredja dan Hidayati Mustafidah , Penelitian Kuantitatif ( sebuah pengantar), (Bandung :Alfabeta, 2014), h. 24
F. Asumsi Penelitian
Asumsi penelitian biasa disebut sebagai anggapan dasar atau postulat, yaitu sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh peneliti. Anggapan dasar harus dirumuskan secara jelas sebelum peneliti melangkah mengumpulkan data.12 Berdasarkan pengertian asumsi di atas, maka untuk mempermudah penelitian, penulis menentukan asumsi sebagai berikut:
1. Distribusi tingkat pola asuh, status sosial orang tua dan lingkungan sekitar terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut
2. Pola asuh orang tua berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut.
3. Status sosial orang tua berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut.
4. lingkungan sekitar berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut.
5. Pola asuh, status sosial orang tua dan lingkungan sekitar berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut.
12 STAIN Jember Press, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember: STAIN Jember Press,2012), h. 37
G. Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahpahaman terhadap judul penelitian di atas, peneliti perlu membatasi istilah-istilah yang terdapat dalam judul tersebut sebagai berikut:
1. Pengaruh yaitu daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perubahan seseorang.13 Jadi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah perubahan orang tua dalam membimbing dan membentuk watak anaknya menjadi anak yang bermoral serta berkarakter sejak dini agar mudah tertanam dalam memorinya sehingga menjadi kebiasaan.
2. Pola Asuh yaitu cara-cara orangtua dalam mengasuh anaknya untuk menolong dan membimbing supaya anak hidup mandiri.14 Jadi pola asuh orang tua yaitu cara orang tua membimbing, mengontrol, mendampingi anak-anaknya dengan tujuan agar berpengetahuan, nilai moral, standar prilaku yang harus dimiliki anak dan untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangannya menuju pada proses pendewasaan.
3. Status Sosial yaitu berbagai kepentingan manusia dalam kehidupan seperti status pekerjaan, status jabatan, dan status agama yang dianut.15 Jadi status sosial merupakan kedudukan sosial orang tua baik pendidikannya atau kekayaannya.
13 Depdiknas, Kamus Besar Indonesian ( Jakarta : Balai Pustaka, 2000) h. 849
14 Rahmad Rosyadi, Pendidikan Islam dalam Membentuk Karakter Anak Usia Dini (Konsep dan Paktik PAUD Islami), (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 25
15 Abdul Syani, Sosialogi Sistematika, Teori, dan Terapan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), h.
93
4. Orang Tua merupakan orang pertama yang sangat besar peranannya dalam membina kehidupan anak.16 Jadi orangtu yaitu ayah, ibu atau orang yang mengasuh yang mempunyai hubungan biologis atau sosial yang bertanggung jawab terhadap moral anak.
5. Lingkungan Sekitar meruapakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya.17 Jadi lingkungan disini yaitu manusia yang bertempat tinggal dalam satu wilayah tertentu dengan batas-batas yang jelas yaitu pada Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut.
6. Pembentukan karakter anak yaitu watak, sifat, dan tabiat seseorang dapat memperkirakan reaksi-reaksi dirinya terhadap berbagai fenomena yang muncul atau nilai dasar yang membangun pribadi seseorang.Jadi pembentukkan karakter anak tahapan untuk membetuk sifat seseorang menjadi lebih baik proses tersebut tidak bisa dilakukan secara langsung, melainkan harus bertahap dan harus dilakukan sejak dini agar mudah tertanam dalam memorinya sehingga menjadi kebiasaan. Pembentukan karakter bukan hanya kewajiban keluarga melainkan juga masyarakat harus berperan aktif sebagai kontrol sosial.
7. Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut merupakan desa yang akan diteliti yaitu desa Panyipatan dan Tanjung Dewa kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan.
16 Dindin Jamaluddin, Paradigma Pendidikan Anak Dalam Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2013), h. 136
17 Rita Mariyana, dkk, Pengelolaan Lingkungan Belajar ( Jakarta : Kencana Preneda Media Group, 2010 ), h. 16
H. Penelitian Terdahulu
Dari literatur dan penelitian yang terdahulu mengenai judul seperti ini yaitu:
1. Tesis yang berjudul “Pengaruh pola Asuh Orang Tua terhadap Pembentukan Akhlak Anak Usia 1-12 tahun di Ketapang Tanggerang”oleh Winarti. Fokus penelitian pada tesis ini yaitu pola asuh yang di berikan oleh orang tua kepada nak dalam bentuk perlakuan fisik maupun fsikis yang tercermin dalm tutur kata, sikap, perilaku, dan tindakan . pada dasarnya terdapat kesamaan dengan penelitian ini yaitu sama-sama mengekplorasi pola asuh orang tua dalam pembentukan karakter anak. Berdasarkan hasil penelitian dan hasil uji-t (parsial )menunjukkan pola asuh orang tua berpengaruh positif terhadap pembentukan akhlak.
Sedangkan kontribusi variabel pola asuh orang tua terhadap pembentukan akhlak di tujukan oleh koefisen determinalisasi yang sudah sesuai sebesar 0,365 artinya bahwa pola asuh orang berpengaruh terhadap pembentukan akhlak sebesar 38,5%
seadangkan sisanya sebesar 61,5 % di pengaruhin oleh variabel lain di luar model yang di telitinoleh penulis. Dari hasil penelitian ini mendapatkan R = 0,621 menunjukkan R hampir mendekati angka 1, artinya hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antara variabel pola asuh orang tua (demoktratis, fermisif, otoriter, dan penelantar) pempunyai pengaruh dalam pembentukan akhlak.
Persamaan pada tesis ini adalah sama-sama menggunakan pola asuh orang tua terhadap pembentukkan akhlak anak yang berpengaruh terhadap sikap anak.
Sedangkan perbedaannya tesis ini hanya satu pola asuh orang tua dalam
pembentukkan akhlak anak yang ditentukan umurnya yaitu usia 1-12 tahun sedangkan penelitian saya di tambah status sosial orang tua, lingkungan sekitar yang mempengaruhi karakter anak.
2. Tesis dari Misbahu Khairani, Pembentukan karakter peserta didik melalui pola asuh orang tua di SDIT Nurul Ilmi Tenggarong Kabupaten kutai Kartanegara.’
Tesis tersebut membahas tentang stategi orang tua dalam membentuk karakter anak- anaknya yaitu dengan strategi demokratsi, permisif , dan otoriter. Strategi demokratis cendrung membawa anak yang hasilnya yang berkarakter baik sedangkan otoriter menjadikan anak penakut, sedangkan dengan strategi permisif anak kurang dapat menyesuaikan dengan lingkungan di luar. Adapun faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua yaitu agama, pendidikan ,ekonomi, serta gaya hidup menjadi pendukung, sedangkan kurangnya perhatian orang tua, tayangan TV, lingkungan dan berita tidak mendidik menjadi penghambat pembentukan karakter. Persamaan pada tesis ini adalah sama-sama menggunakan pola asuh orang tua terhadap pembentukkan karakter peserta didik yang strategi demokratis.
Sedangkan perbedaannya tesis ini hanya satu pola asuh orang tua dalam pembentukkan karakter peserta didik, penelitian ini kualitatif sedangkan penelitian saya kuantitatif dan tambah status sosial orang tua, lingkungan sekitar yang mempengaruhi karakter anak.
3. Jurnal Lilis Nur Chotimah yang berjudul pengaruh status sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa, Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa ada pengaruh status sosial ekonomi orang tua
terhadap prestasi belajar siswa secara signifikan. NilaiF = 268,491 >F = 3.112 dengan tingkat signifikansi F= 0,000 <ɑ = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa variabel status sosial ekonomi orang tua memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Jember Kabupaten Jember tahun ajaran 2016/2017.Analisis varian garis regresi nilai koefisien korelasi sebesar bahwa nilai koefisien korelasi sebesar 0,897 berarti bahwa status sosial ekonomi orang tua (X) memiliki hubungan yang nyata/signifikan dengan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Jember Kabupaten Jember tahun ajaran 2016/2017 (Y). Tingkat hubungan tersebut dapat dikategorikan sebagai hubungan yang sangat kuat. Analisis efektifitas garis regresi sebesar 77,3 yang termasuk kategori tinggi. Hal ini dikarenakan dengan adanya status sosial ekonomi orang tua tersebut (meliputi: pekerjaan, pendidikan, pendapatan) dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Jember Kabupaten Jember tahun ajaran 2016/2017. Keluarga merupakan kelompok sosial, yang didalamnya akan terjadi tidakan sosial. Kehidupan sosial ekonomi keluarga yang layak akan terciptasuasana yang baik, nyaman, aman dan damai dan boleh dikatakan makmur, dimungkinan akan membawa dampak dalam proses belajar bagi anak-anak. Persamaan pada jurnal adalah sama-sama menggunakan pola asuh orang tua terhadap pembentukkan akhlak anak yang berpengaruh terhadap sikap anak. Sedangkan perbedaannya tesis ini hanya satu status sosial orang tua dan peneltiannya kuantitatif terhadap prestasi belajar siswa sedangkan penelitian
saya pembentukan karakter anak melalui pola asuh orang tua status sosial orang tua dan lingkungan sekitar.
4. Jurnal, Lela siti Nurlaela, Herdianti Wahyu Pratomo, Nuruddin Araniri (2020), berjudul: Pengaruh Pola Asuh Orang tua terhadap Pembentukan Karakter Anak pada Siswa Kelas III Mandrasah IbtidaiyahTahfizhul Qur’an Asasul Huda Ranjikulon, membahas tentang adanya perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anak-anak di sekolah diantaranya: 1) Kurangnya sikap- sikap religious yang ditanamkan dalam diri anak-anak seperti berbicara kasar;
2) Saling mengejek antar sesama teman, bahkan sampai kepada perkelahian.Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif verifikatif yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variable atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel lain. Populasi dalam penelitian ini siswa kelas III MI Tahfizhul Qur‟an Asasul Huda Ranjikulon Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka yang berjumlah 22 siswa.
Lingkungan keluarga memiliki kaitan yang sangat erat dalam membentuk karakter seorang anak. Oleh karena itu, hendaknya orang tua lebih berhati- hati lagi dalam mendidik seorang anak, agar anak memiliki karakter yang baik.
Persamaannya yaitu penggunaan pola asuh orang tua dalam pembentukan karakter anak dan penelitian ini menggunakan kuantitatif sedangkan perbedaannya yaitu pelaksanaanya di sekolah dan hanya mengukur pola asuh
orang tua saja, sedangkan penelitian saya ada status sosial orang tua, lingkungan sekitar dan dilaksanakan di desa.
5. Jurnal Ani Siti Anisah, (2011) berjudul: “Pola Asuh Orang Tua Dan Implikasinya Terhadap Pembentukan Karakter Anak” membahas tentang betapa pentingnya asuhan orang tua sehingga berdampak pada perkembangan kepribadian anak sehingga dapat membentuk karakter anak dimasa dewasa. “Kullu mauludin yuuladu ‘alal fithrah”, bahwa anak terlahir dalam keadaan fitrah yang netral dan
orang tuanyalah yang akan membentuk agamanya, seperti yang diisyaratkan oleh hadis Nabi. Hal ini dapat dibuktikan bahwa anak berwatak buruk karena belajar dari keburukan perilaku lingkungan tempat tinggalnya serta cara-cara bergaul dengan lingkungan itu, dan juga dengan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di lingkungan itu. Begitu juga halnya tubuh anak yang waktu lahir dalam keadaan kurang sempurna kemudian menjadi sempurna dan kuat melalui pertumbuhan dan pendidikan serta makanannya dan pendidikan keluarga, mulai dari membangun keluarga, interaksi antara ayah dan ibu, bagaimana pola asuh dijalankan dengan melihat dua karakter yang berbeda yaitu orang tua dan anak Persamaannya yaitu sama pola asuh orang tua terhadap karakter anak, sedangkan perbedaanya penelitian saya ada status sosial orang tua, lingkungan sekitar dan dilaksanakan di desa.
I. Sistematika Penelitian
Sistematika dalam rangka mempermudah memahami pembahasan ini, maka penulis membuat sistematika pembahasan sebagai berikut:
Bab I : pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, signifikansi penelitian, hipotesis penelitian, definisi oparasional, penelitian terdahulu dan sistematika penulisan.
Bab II : kajian teori yang berisi pengertian pola asuh orang tua, macam- macam pola asuh, faktor yang mempengaruhi pola asuh oang tua, pengertian status sosial orang tua, pengertian lingkungan sekitar, pembentukan karakter anak, peran orang tua dalam pembentukan karakter anak, tahapan pendidikan karakter dalam islam, dan pengaruh pola asuh orang tua, status sosial orang tua dan lingkungan sekitar terhadap pembentukkan karakter anak.
Bab III : metode penelitian yang berisi pendekatan dan jenis penelitian, rancangan penelitian, populasi dan sampel, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, desain pengukuran, dan teknik analisis data.
Bab IV : paparan data penelitian dan pengujian hipotesis.
Bab V : penutup yang berisi simpulan dan saran.