EDISI 440
10 NovemberGRATIS (Untuk K alangan Sendiri)
Editorial
“Mengikut YESUS Dengan Kerendahan Hati”
Tema di atas mengingatkan kita dengan ayat yang terdapat dalam Matius 11: 29, “...Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan…”
Yesus mengajar agar kita berguru kepada-Nya untuk belajar lemah lembut dan rendah hati.
Di bawah ini redaksi menyuguhkan sebuah tulisan seorang hamba Tuhan, Pdt. Venty Nalle- S.S.Th. tentang kerendahan hati:
a. Kerendahan hati mengarahkan kita untuk menyadari bahwa kita tidak berarti apa-apa tanpa Tuhan. Jika kita masih dapat menikmati hidup sampai saat ini, apa yang kita miliki/banggakan dalam hidup kita semua bersumber dari Tuhan, berarti:
orang yang rendah hati adalah orang yang tahu bersyukur dalam keadaan apa pun.
orang yang rendah hati adalah orang yang mempertaruhkan hidup dan masa de- pannya dalam kuasa dan kehendak Tuhan.
orang yang rendah hati adalah orang yang mengandalkan Tuhan serta hidup takut dan hormat kepada-Nya.
orang yang rendah hati selalu menaruh pengharapannya dalam rencana Tuhan yang baik.
b. Dalam menjalankan setiap karya atau pekerjaan pribadi, orang yang memiliki sikap rendah hati selalu merasa bahwa ia tidak dapat hidup dan berkarya sendiri tanpa keha- diran orang lain, berarti:
Orang yang rendah hati dapat membangun dan menjaga relasi hidup bersama dengan orang lain.
Orang yang rendah hati adalah orang yang tidak merasa paling baik, paling bisa, paling tahu, paling pintar dll. Kerendahan hati tidak meremehkan orang lain. Ia me- nyadari dirinya mempunyai banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan. Ia mampu melihat, mengakui dan menghargai orang lain dalam berbagai kelebihan dan keku- rangannya. Orang yang rendah hati menempatkan orang lain lebih utama daripada dirinya.
Orang yang rendah hati tidak munafik tetapi melakukan semua karya atas dasar kebenaran dan keadilan yang pada akhirnya memberi dampak kebaikan bagi banyak orang.
Saat berkarya, orang yang rendah hati tidak melihat siapa yang akan mendapat pujian tetapi hanya bekerja sungguh-sungguh dengan penuh tanggung jawab serta mempersembahkannya untuk kemuliaan Tuhan.
Semoga tulisan ini menjadi berkat bagi Anda semua. (Red.)
Shalom,
Hanya di dalam Yesus kita beroleh kekuatan, penghiburan bahkan kehidupan; sebaliknya, tanpa -Nya kita tetap tanah liat tak berharga yang tidak akan pernah mengalami proses penyucian hingga kesempurnaan. Untuk itu kita patut bersyukur diberi akal budi dan hati untuk dapat menerima Firman Tuhan yang sangat kita butuhkan terlebih pada hari-hari yang makin tidak menentu ini.
Nasihat Firman Tuhan apa yang memberi kita kekuatan pada hari ini? Kita diminta untuk mengikut Yesus dengan kerendahan hati seperti tertulis dalam Lukas 9:43-50, “Maka takjub- lah semua orang itu karena kebesaran Allah. Ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak mengerti perkataan itu sebab artinya tersembunyi bagi mereka sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya. Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus ten- tang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka.
Karena itu ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya dan berkata kepada mereka: “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” Yohanes berkata: “Guru, kami lihat se- orang mengusir setan demi nama-Mu lalu kami cegah orang itu karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”
Dari ayat-ayat di atas ada tiga hal yang Yesus ingin murid-murid-Nya (juga kita) ketahui untuk menjadi pengikut-Nya, yaitu:
Anak Manusia (= Yesus) akan diserahkan ke dalam tangan manusia.
Situasi ketakjuban akan kebesaran Allah dan keheranan masih meliputi orang banyak yang menyaksikan mukjizat yang diperbuat oleh Yesus tetapi Ia tidak terpengaruh dengan kehe- bohan khalayak ramai. Ia lebih fokus kepada murid-murid-Nya. Ada perbedaan antara Pdt. Paulus Budiono, Lemah Putro, Minggu 25 Juli 2021
MENGIKUT YESUS,
DENGAN
KERENDAHAN HATI
Lukas 9:43-50
orang banyak dan para murid di sini! Ia ingin para murid-Nya tidak berhenti hanya pada kekaguman akan mukjizat tetapi meningkat pengenalan mereka akan Dia. Ia pernah bertanya kepada mereka siapa Dia sebenarnya tetapi hanya Petrus yang dapat menjawab dengan benar; ini pun karena Allah menyatakan kepadanya (Mat. 16:16-17). Lebih lanjut Yesus mengatakan bahwa Ia akan menderita bahkan dbunuh tetapi pada hari ketiga bangkit, Petrus langsung menolak berita salib (ay. 21-22). Untuk kedua kalinya Yesus me- negaskan kepada mereka bahwa Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.
Apa respons mereka? Mereka tidak mengerti namun tidak berani bertanya kepada Guru mereka. Akibatnya? Timbul pertengkaran di antara mereka siapa yang paling besar! Pada- hal Yesus ingin mereka mengestafetkan pengajaran-Nya untuk menjadikan orang-orang lain juga murid-murid sesuai dengan mandat-Nya (Mat. 28:19).
Introspeksi: apakah pengikutan kita kepada Yesus seperti kebanyakan orang yang takjub dengan mukjizat-mukjizat yang diperbuat-Nya sehingga kita suka mencari KKR mukjizat dan kesembuhan? Wajar kita ingin sembuh dari penyakit, pulih dari kondisi ekonomi yang merosot, beroleh ketenangan di tengah kecemasan dll. yang dibutuhkan oleh tubuh fana ini tetapi apakah pengikutan kita hanya sebatas itu? Atau kita memosisikan diri sebagai domba yang mengenal suara Yesus, Gembala, dan mengikuti-Nya? Atau sebagai murid yang mengerti akan ajaran Yesus, Guru besar kita?
Timbulnya pertengkaran di antara para murid membuktikan bahwa mereka masih terpaku dengan mukjizat-mukjizat Yesus yang membuat-Nya dikenal banyak orang. Bahkan mereka diberi kuasa oleh-Nya untuk mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan segala penyakit (Luk. 9:1-6). Tentu mereka juga ingin kecipratan terkenal seperti Guru mereka. Akibatnya timbul persaingan di antara mereka tentang siapa yang paling besar dan berakhir dengan pertengkaran. Ternyata mereka belum siap dan tidak mengerti bahwa Guru mereka harus memasuki penderitaan salib demi keselamatan manusia berdosa.
Faktanya banyak gereja bertengkar satu sama lain karena mereka saingan siapa yang lebih besar kuasa mukjizatnya dan lebih terkenal namanya. Mereka sibuk dengan pelayanan mukjizat (kemakmuran, kesuksesan) serta kesembuhan (jasmani) bukan memberitakan In- jil salib Kristus. Waspada, jika kita hanya mengikut agama dan organisasi gereja atau mela- yani Tuhan ditandai persaingan, cepat atau lambat akan terjadi pertengkaran bahkan per- pecahan bila timbul kepentingan-kepentingan duniawi di dalamnya. Juga jangan mempri- oritaskan mukjizat-mukjizat karena tanpa sadar kita mengagungkan pendeta yang mem- punyai karunia mukjizat itu, menyebabkan terjadinya pemberhalaan.
Yesus mengetahui pikiran mereka dan berusaha membenahi pandangan mereka yang ke- liru tentang pengikutan kepada-Nya. Apa yang dilakukan-Nya?
Memiliki sifat rendah hati.
Apakah penampilan luar dengan postur suka menunduk-nunduk, bicara sopan dan sering minta maaf menunjukkan sseorang itu rendah hati? Apa kriteria rendah hati itu? Filosofi dunia dari pelbagai negara, bangsa dan suku bangsa mempunyai definisi rendah hati me- nurut budaya masing-masing yang belum tentu berlaku secara universal.
Yesus memaparkan sifat rendah hati yang tidak teoritis dengan kata-kata panjang tetapi praktis dan sederhana sehingga mudah dimengerti. Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkan di samping-Nya lalu mengatakan, “siapa menyambut anak ini dalam nama- Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang meng- utus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” Dan ingat, anak kecil inilah yang empunya Kerajaan Allah (Mrk. 10:14).
Contoh kerendahan hati yang dijelaskan oleh Yesus – Firman Allah – berkaitan dengan ke- manusiaan kita yang dapat dimengerti dengan sederhana bukan teori yang perlu dise- minarkan. Anak kecil menjadi contoh dalam kerendahan hati karena mereka polos, lugu, tidak neko-neko, apa adanya dan berkelakuan bersih serta jujur (bnd. Ams.
20:11); beda dengan orang dewasa yang fasih bersilat lidah. Yesus juga mengatakan Ia lemah lembut dan rendah hati (Mat. 11:29).
Introspeksi: sudahkah kita berkelakuan jujur dan bersih serta mencontoh Yesus yang ren- dah hati? Bagaimana dengan anak-anak kita zaman ini, apakah mereka masih polos dan suka mendengarkan Firman Allah atau menghabiskan waktu dengan nonton video dan main game hingga lupa makan dan marah kalau disuruh tidur?
Benarkah Yesus menjadi teladan baik dalam kerendahan hati yang patut kita tiru? Sejak bayi Ia telah menunjukkan karakter yang baik, contoh: setelah diserahkan pada umur 40 hari ke Bait Allah di Yerusalem, Ia bertambah besar dan kuat penuh hikmat dan kasih karunia Allah ada pada-Nya (Luk. 2:40). Allah senantiasa menyertai-Nya. Di usia 12 tahun Ia makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya, dikasihi Allah dan manusia (ay. 52).
Ia suka berdialog tentang Firman Tuhan di rumah Allah (ay. 46). Di umur 30 tahun saat Ia dibaptis, perhatian Allah makin besar dan mengakui-Nya sebagai Anak yang dikasihi-Nya (Luk. 3:21-22). Pengakuan ini diulangi lagi ketika Ia berada di atas gunung (Luk. 9:35, 28- 36).
Yesus bukan sok sombong ketika mengatakan diri-Nya rendah hati tetapi Ia menjanjikan ketenangan dan kelegaan bila kita mau belajar teladan rendah hati dari-Nya (Mat. 11:28- 29). Bahkan sebagai Guru teladan, Ia tidak segan-segan membasuh kaki murid-murid-Nya dan menyeka dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya (Yoh. 13:5, 12-17).
Sesungguhnya seluruh Alkitab menunjukkan kerendahan hati Allah, Sang Pencipta, bahkan Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal, Yesus, datang ke dunia yang dirusak oleh manusia untuk menebus dosa mereka. Allah yang adalah Firman (Yoh. 1:1) telah menjadi Manusia (Yesus) dan rela mengosongkan diri hingga mati disalib (Flp. 2:7-8).
Kita tidak perlu kecil hati atau memaksakan diri untuk rendah hati sebab Alkitab mengajar kita bagaimana memiliki sifat rendah hati, yakni:
- Sehati dan sepikir dalam hidup bersama, tidak memikirkan perkara-perkara yang tinggi tetapi mengarahkan kepada perkara-perkara yang sederhana serta tidak mengang- gap diri pandai (Rm. 12:16).
- Membuang segala kejahatan dan kemunafikan serta menjadi sama seperti bayi baru lahir yang merindukan air susu murni dan rohani (1 Ptr. 2:1-2).
Bersambung ke hal. 9...
Perubahan. Apakah ada yang lebih misterius?
Begitu banyak dari kita menginginkan apa yang tidak kita miliki. Seandainya aku lebih tua… aku sehat… aku masih kuliah… aku mempunyai pe- kerjaan yang lebih baik… aku sudah menikah…
aku mempunyai rumah sendiri… dst.
Namun kita takut akan perubahan – kegagalan atau kekecewaan yang mungkin terjadi. Kerin- duan kita akan sesuatu yang berbeda sering berbenturan dengan ketakutan akan perubahan.
Kita tidak akan dapat mengalami pembaruan tanpa melalui beberapa jenis perubahan.
Ada tokoh Alkitab yang hidupnya tampak ditentukan oleh perubahan dramatis dan menjadi teladan bagaimana menghadapinya. Selain Kristus sendiri, tokoh ini paling banyak dikutip dan dibahas dalam Perjanjian Baru. Walau nama dan suratnya cukup terkenal, kita sering meng- abaikan kisahnya. Dia adalah Rasul Paulus.
Wajar jika nama Paulus banyak diperbincangkan di antara para pengikut Kristus sebab dia ter- masuk orang yang luar biasa. Misi dan perjalanannya luar biasa, pikirannya dihargai, dan tulisannya memenuhi sebagian besar Perjanjian Baru. Bagaimanapun juga, namanya menya- darkan kita pada realitas tantangan perubahan.
Pembicaraan kita tentang Paulus biasanya berkisar mengenai salah satu suratnya: pernyataan teologinya atau beberapa petunjuk yang dia berikan untuk kita terapkan. Namun bagaimana dengan orang ini sendiri? Jauh dari sosok kehidupan yang terukir di marmer, Paulus mene- mukan perubahan yang dia tolak dengan keras justru malah menarik dia kepada Tuhan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan. Perubahannya begitu drastis bahkan nama- nya pun ikut berubah (Kis. 13:9). Pertukaran huruf P (Paulus) untuk huruf S (Saulus) sekilas tampak hanya mengubah permukaan padahal telah mengubah dia secara fundamental. Kita akan memeriksa bagaimana Tuhan mengubah hati seseorang yang nantinya menjungkir- balikkan dunia. Jadi, siapa Saulus/Paulus ini? Mari kita perhatikan kisahnya.
BERTAHAN UNTUK TIDAK BERUBAH
Melihat peristiwa yang mengubah atau mengarahkan kembali perjalanan sejarah dapat meng- hasilkan berbagai tanggapan. Terkadang peristiwa ini membuat kita ngeri (genosida Rwanda atau serangan teroris 11 September 2001), menginspirasi kita (pesawat ruang angkasa pertama berawak yang mendarat di bulan), menantang kita untuk bertindak (gerakan hak sipil Amerika
A R T I K E L
MENGUNGKAP MISTERI (1)
tahun 1960an atau akhir apartheid di Afrika Selatan). Peristiwa-peristiwa yang dikumpulkan dari kehidupan kita membentuk kita; mereka menyalakan gairah kita yang memicu perkembangan dan pertumbuhan kita.
Sejarah Paulus sendiri menjadi sukacita sekaligus beban baginya. Sifatnya yang penuh gairah pernah memaksanya membenci pengikut Kristus dan percaya apa yang dilakukannya itu mulia.
Untuk memahami Rasul Paulus, kita harus kembali ke masa ketika dia dikenal sebagai Saulus ke sistem nilai etnis dan agama yang mendorong hidupnya.
WARISAN KEBANGGAAN
“Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian ter- hadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebe- naran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.” (Flp. 3:4-6)
Warisan keyahudian Paulus merupakan benih dari gairahnya. Penulis dapat memahaminya ka- rena dia sendiri tumbuh di Amerika Serikat bagian selatan, hal-hal tertentu telah ditanamkan ke dalam sistem nilainya – keramahan, kebaikan dan kecepatan hidup yang terukur. Nilai-nilai ini tertanam kuat sehingga menjadi bagian dari dirinya. Hal yang sama berlaku bagi Saulus muda dari Tarsus. Dia adalah produk dari tempat dan waktunya sendiri.
Warisan pribadi Saulus – kebanggaan lahiriah/daging – tumbuh dari akar keyahudiannya. Dia begitu bangga menjadi pemelihara hukum Abraham. Dia membanggakan ritual sunatnya juga berasal dari suku Benyamin, suku yang memberikan Israel raja pertama (ironisnya juga ber- nama Saul). Meskipun Paulus seorang Ibrani, latar belakangnya tidak hanya ditentukan oleh etnisnya. Dia berakar kuat pada hukum Musa yang menjadi kekuatan pendorong hidupnya.
Sentralitas hukum dalam kehidupan Saulus diekspresikan dalam tiga arah:
Gairah ke atas
Orang Farisi adalah pemimpin agama yang berkomitmen mematuhi hukum dengan cermat dan pantang menyerah. Mereka bahkan melampaui hukum Musa dan menetapkan persyaratan tam- bahan sebagai ekspresi pengabdian mereka kepada Allah Abraham, Ishak dan Yakub.
Serangan luar
Saulus begitu mengabdi pada hukum Taurat sehingga dia menganggap gereja baru pengikut Yesus tidak hanya menolak hukum Taurat tetapi juga menjadi ancaman langsung. Itu sebabnya dia sangat kejam menganiaya gereja. Dalam pikirannya, pemenjaraan bahkan pembunuhan da- pat dibenarkan untuk menjaga warisan, tradisi, dan prioritas hukum Musa (Kis. 9:1-2).
Perfeksionisme batiniah
Saulus dari Tarsus mempraktikkan apa yang dia khotbahkan – dia menjalankan apa yang dika- takannya. Begitu ketatnya dia menjalankan tradisi agamanya sehingga dia menggambarkan
Bersambung ke hal. 9...
Sambungan dari hal 5: “Mengikut...”
- Menjadi anak-anak dalam kejahatan tetapi orang dewasa dalam pemikiran (1 Kor.
14:20).
- Tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar tetapi menenangkan jiwa seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya (Mzm. 131:1-3).
Oleh sebab ketidakpengertian akan makna salib, Yohanes menegur orang yang mengusir setan dengan Nama Yesus. Apa reaksi Gurunya?
Kuasa Nama Yesus tidak dimonopoli hanya oleh sekelompok orang.
Sejak dahulu benih persaingan sudah ada, buktinya murid-murid Yohanes Pembaptis lapor kepada guru mereka bahwa banyak orang dibaptis oleh Yesus (Yoh. 3:25-26).
Sesungguhnya Firman Allah itu hidup dan bertujuan bukan untuk menjelekkan seseorang tetapi menolong melepaskan dari tujuan yang salah.
Introspeksi: apakah kita tidak suka hati melihat kelompok-kelompok yang tidak bernaung dalam satu organisasi dan sinode kita melakukan mukjizat dengan Nama Yesus? Juga berita apa yang disampaikan, apakah tentang Injil Kristus disalib atau Injil kemakmuran?
Masihkah kita berkutat dengan blok-blokan padahal Nama Yesus harus disebarkan ke selu- ruh bumi?
Kita patut bersyukur diarahkan oleh Firman Tuhan untuk mengikut Dia dengan benar agar tidak terjadi pertengkaran dengan pengikut-pengikut Tuhan lainnya oleh sebab kita tidak mengerti apa tujuan Yesus datang ke dunia, tidak memiliki sifat rendah hati serta merasa gereja kita lebih benar dan murni daripada gereja-gereja lain. Biarlah Roh Kudus menolong kita semua agar satu kali kelak kita berkumpul bersama dengan Yesus, Mempelai Pria Surga, di dalam Yerusalem baru selamanya. Amin.
dirinya “tidak bercacat” atau “sempurna”. Jika ada orang yang unggul dalam ketaatan terhadap hukum, Sauluslah orangnya.
Ini adalah warisan yang diturunkan kepada Saulus dari Tarsus dan dia memegangnya erat-erat.
Nilai-nilai ini menghasilkan kehidupan setara dengan orang-orang terpelajar dan aktivis. Saulus dari Tarsus adalah sarjana yang mendalami hukum Musa, nabi-nabi Perjanjian Lama dan masih banyak lagi. Dia juga berpengalaman dan memerhatikan para rabi terkemuka di eranya juga tentang ajaran lisan Talmud dan Mishnah. Kerasnya studi mengembangkan sistem nilai yang tertanam di hati Saulus sejak awal – sistem yang lahir dari kehadiran di sinagoge ditambah de- ngan pelatihan di rumah yang diberikan kepada anak laki-laki Yahudi pada zamannya. Ini penting karena melalui proses pelatihan ini Saulus memperoleh lebih dari sekadar informasi. Dia dibentuk dalam hati dan pikirannya dengan semangat Yudaisme dan ini mengarah pada aspek lain dari kehidupan yang tertanam dengan nilai-nilai ini – aktivisme.
DUNIA YANG BERGERAK Sambungan dari hal 7: “Mengungkap...”
Kegiatan Saulus adalah hasil alami dari pelatihannya. Dia diajari bahwa nilai-nilai ini lebih dari sekadar prinsip panduan atau saran yang membantu; nilai-nilai ini mutlak penting untuk menghormati Tuhan.
Tidak ada pengganti, tidak ada pilihan dan tidak ada variasi. Kehidupan yang dihidupi untuk Tuhan – kehidupan yang memiliki tujuan dan makna – ditambatkan oleh kominten yang kuat terhadap ajaran-ajaran ini dan praktiknya yang cermat. Ini adalah panggilan mulia tetapi bagi tahun-tahun awal Saulus, ini merupakan kehidupan di bawah serangan.
Pertama, Yudaisme merasakan tekanan politik dan militer dari kependudukan Roma dan keha- diran mereka sering bertentangan dengan nilai-nilai yang dipuja oleh Yudaisme. Pemandangan tentara-tentara Romawi di jalan-jalan di Yerusalem sangat menyinggung sekaligus menakutkan bagi orang Yahudi. Spanduk-spanduk mereka mengibarkan gambar kaisar (tindakan yang dila- rang dalam hukum Musa; Kel. 20:4-5) dan diarak di jalan-jalan mengakibatkan kekacauan bahkan memicu kerusuhan.
Dengan cara yang lebih menjengkelkan, Yudaisme di bawah ancaman yang jauh lebih sulit untuk dilawan. Gerakan Kristen yang berkembang – orang-orang di jalan Tuhan (Kis. 9:2) – masuk ke sinagoge dan yang lebih penting ke dalam hati orang-orang Yahudi. Banyak dari mereka berpindah ke iman kepada Kristus, menciptakan ancaman bagi Yudaisme sendiri.
Bagi Saulus muda, ancaman ini melampaui praktik Yudaisme. Dalam pikirannya, orang-orang Kristen yang berusaha meyakinkan orang Yahudi untuk mengikuti Yesus, rabi orang Nazaret, tidak hanya menarik mereka dari Yudaisme tetapi ancaman bagi kesejahteraan kekal mereka.
Saulus tidak hanya berusaha melindungi Yudaisme dari keyakinan yang bersaing; dia mencoba menyelamatkan orang-orang Yahudi yang setia dari mereka yang dia lihat bagaikan serigala berbulu domba.
Ini merupakan kekuatan yang bekerja dalam keseharian Saulus, kekuatan yang membentuk dirinya sebuah keyakinan yang jauh dari pasif. Dia secara aktif terlibat dalam praktik Yudaisme dan berkomitmen penuh untuk pertahanan fisik. Namun terlepas dari komitmennya terhadap hukum, Saulus akan menemukan bahwa hal yang paling dia takuti sebenarnya justru meru- pakan hal yang sangat dia butuhkan. Inti dari pandangan Saulus akan mengalami perubahan drastis – perubahan yang dimulai dari jalan berdebu menuju kota Damsyik.
KEHIDUPAN YANG JAUH LEBIH BAIK
Saulus dari Tarsus begitu berapi-api mengejar apa yang menurutnya paling penting karena menurutnya hukum Musa adalah sumber kehidupan.
Pengejaran dengan penuh semangat itu membawanya ke perjalanan Damsyik dan bertemu dengan Kristus yang tidak hanya akan mengubahnya tetapi juga akan mengubah dunia.
Misi penuh terror (Kis. 9:1-2)
“Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap imam besar dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa
kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik supaya jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.”
Kecintaan Saulus terhadap hukum Musa mendorongnya untuk menganiaya pengikut Kristus.
Kita pertama kali melihat ini ketika dia berpartisipasi dalam pembunuhan Stefanus, seorang pengikut Kristus, yang berani memberitakan tentang Yesus.
Dalam memperluas jangkauan penganiayaan, Saulus bergerak melampaui ketaatannya ter- hadap hukum dan memulai kampanye pembunuhan terhadap gereja muda (Kis. 7:58 – 8:3).
Juga dalam memberantas pengaruh Yesus dari Nazaret, Saulus pergi ke luar Yerusalem untuk mengejar pengikut-pengikut Yesus. Pemberhentian pertama ialah Damsyik.
(bersambung)
Disadur dari: CHANGE; Following God Through Life’s Crossroads by Bill Crowder