• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLA BERFIKIR DALAM METODE ILMIAH SECARA SISTEMATIS DAN PRAGMATIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "POLA BERFIKIR DALAM METODE ILMIAH SECARA SISTEMATIS DAN PRAGMATIS"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

POLA BERFIKIR DALAM METODE ILMIAH SECARA SISTEMATIS DAN PRAGMATIS

ILLIA SELDON MAGFIROH KULIAH X

METODE ILMIAH

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS, UNIVERSITAS JEMBER 2017

(2)

Kriteria berpikir secara nalar

• 1. Ada unsur logis di dalamnya • Tiap bentuk berpikir mempunyai logikanya sendiri. • Berpikir secara logis mempunyai konotasi jamak (orang lain dapat

menggunakan logikanya, menurut asumsi/persepsi yang lain)

• 2. Ada unsur analitis • Kegiatan berpikir itu sendiri

merupakan kegiatan analisis • Sifat analitis merupakan konsekuensi dari adanya pola berpikir tertentu

(3)

Berpikir secara ilmiah / berpikir ilmiah, berarti

• 1. Melakukan kegiatan analisis dalam menggunakan logika secara ilmiah.

• 2. Merupakan gabungan antara penalaran secara deduktif

dan induktif.

(4)

Hubungan Ilmu dan penelitian • Almack (1960) Hubungan ilmu dan

penelitian adalah seperti hasil dan proses.

• PROSES HASIL

PENELITIAN ILMU

(5)

• Whitney (1960)

• PROSES PROSES HASIL

PENELITIAN ILMU KEBENARAN

(6)

Kebenaran Ilmiah dapat diterima jika :

Adanya Koheren Suatu pernyataan dianggap benar jika konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.

Ex: Si Badu akan mati, adalah pernyataan benar, karena penryataan sebelumnya adalah semua manusia akan mati.

• Adanya koresponden Suatu pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang terkandung dalam pernyataan tersebut berhubungan atau mempunyai hubungan (koresponden) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut.

Ex: Bandung dalah ibukota prov. Jawa Barat, adalah benar karena

terkandung hubungan atau berkorespondensi dengan objek yang dituju.

• Adanya sifat pragmatis Pernyataan tersebut dianggap benar apabila mempunyai sifat fungsional dalam kehidupan praktis.

(7)

Kebenaran dapat diperoleh melalui mekanisme sebagai berikut

Masalah : Apa, bgmn, mengapa, dsb

Ilmiah

Tidak Ilmiah

Kebenaran diperoleh melalui

penyelidikan ilmiah.

Dengan ciri:

• Objektif

• Cermat • Sistematik

• Berdasarkan Ilmu Pengetahuan

PENELITIAN

Kebenaran diperoleh melalui :

• Trial and error

• Kebetulan/spekulatif

• Otoritas/wewenang/jabatan

• Intuisi

(8)

Dua Kriteria utama

pengetahuan Ilmiah

• Ada konsistensi dengan pengetahuan berikutnya.

• Ada kesesuaian antara pengetahuan yang dikembangkan

dengan fakta di lapangan.

(9)

METODE ILMIAH

Penyelidikan yang sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis terhadap fenomena alam yang dipandu dengan teori dan hipotesis tentang dugaan

hubungan antara variabel-variabel (fenomena).

Prosedur atau cara tertentu yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan yang disebut ilmu

(pengetahuan ilmiah)

(10)

Metode Ilmiah

Metode Ilmiah

Kriteria Langkah-langkah

1. Berdasarkan Fakta.

2. Bebas dari Prasangka

3. Menggunakan prinsip analisa 4. Menggunakan ukuran objektif 5. Menggunakan teknik Kuantifikasi

a. Memilih dan mendefinisikan masalah b. Survei thd data yg tersedia

c. Memformulasikan hipotesa

d. Membangun kerangka analisa serta alat-2 dlm menguji hipotesa.

e. Mengumpulkan data primer.

f. Mengolah, menganalisa serta membuat interpretasi.

g. Membuat generalisasi dan kesimpulan.

h. Membuat laporan

(11)

Karakteristik Metode Ilmiah

Kritis dan analitis, mendorong suatu

kepastian dan proses penyelidikan untuk

mengidentifikasi masalah dan metode untuk mendapatkan solusi.

Logis, merujuk pada metode dan argumentasi

ilmiah. Kesimpulan secara rasional diturunkan

dari bukti-bukti yang ada

(12)

Karakteristik Metode Ilmiah

Obyektif, mengandung makna bahwa hasil yang

diperoleh ilmuwan yang lain akan sama apabila studi yang sama dilakukan pada kondisi yang sama

Konseptual dan teoritis, mengandung arti

pengembangan struktur konsep dan teoritis untuk menuntun dan mengarahkan upaya penelitian

Sistematis, mengandung arti suatu prosedur yang

cermat dan mengikuti aturan tertentu yang baku

(13)

Karakteristik Metode Ilmiah :

Bersifat kritis, analistis, artinya metode menunjukkan adanya proses yang tepat untuk mengidentifikasi masalah dan

menentukan metode untuk pemecahan masalah.

Bersifat logis, artinya dapat memberikan argumentasi ilmiah.

Kesimpulan yang dibuat secara rasional berdasarkan bukti-bukti yang tersedia

Bersifat obyektif, artinya dapat dicontoh oleh ilmuwan lain dalam studi yang sama dengan kondisi yang sama pula.

Bersifat konseptual, artinya proses penelitian dijalankan

dengan pengembangan konsep dan teori agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

Bersifat empiris, artinya metode yang dipakai didasarkan

pada fakta di lapangan.

(14)

by: David Sukardi Kodrat

Hubungan Ilmu, Penelitian dan Kebenaran

“.... terdapat kesamaan yang tinggi derajatnya antara konsep ilmu dan penelitian. Keduanya adalah sama- sama proses”

Whitney

Penelitian Ilmu Kebenaran

Proses Proses Hasil

Penelitian

(15)

PROPOSISI

> Proposisi adalah pernyataan tentang hubungan antara dua atau lebih konstruk yang dapat diuji kebenarannya (Effendi dan Singarimbun)

Contoh: pengangguran terjadi karena investasi turun

> Benarkah investasi turun menyebabkan pengangguran meningkat, maka secara empiris proposisi diuji

Jika proposisi sudah dirumuskan sedemikian rupa dan sementara diterima untuk diuji kebenarannya maka dinamakan hipotesis.

> Hipotesis adalah proposisi yang dirumuskan untuk

pengujian empiris atau pernyataan dugaan (conjectural)

tentang hubungan antara dua atau lebih variabel

(16)

PROPOSISI

Untuk menguji proposisi di atas, dirumuskan hipotesis

“tingkat pengeluaran investasi berpengaruh negatif terhadap tingkat pengangguran”

Tingkat pengeluaran dan tingkat pengangguran adalah variabel.

Variabel adalah konstruk yang diberi angka

atau variasi nilai.

(17)

DALIL

Proposisi yang sudah mempunyai jangkauan cukup luas dan telah

didukung oleh data empiris

dinamakan dalil (scientific law) atau singkatan dari suatu pengetahuan

tentang hubungan sifat-sifat tertentu yang bentuknya lebih umum jika

dibandingkan dengan penemuan-

penemuan empiris yang dari mana

dalil tersebut didasarkan.

(18)

Teori

> Teori adalah abstraksi dari pengertian atau hubungan dari proposisi atau dalil.

> Teori adalah seperangkat konsep atau construct, definisi dan proposisi yang menyajikan suatu pandangan sistematis tentang fenomena dengan merinci hubungan-hubungan antara variabel, dengan tujuan menjelaskan dan memprediksi fenomena itu

(Kerlinger)

> Teori menjelaskan hubungan antarvariabel atau antar konstruk sehingga pandangan yang sistematis dari fenomena-fenomena yang diterangkan oleh variabel dengan jelas kelihatan

> Teori menerangkan fenomena dengan cara menspesifikasikan

variabel-variabel mana yang berhubungan dengan variabel

mana.

(19)

Konstruk

Istilah yang digunakan peneliti untuk mendefinisikan secara abstrak fenomena-fenomena yang sama dalam disiplin ilmu tertentu.

Contoh:

Inflasi adalah konstruk yang digunakan para ekonom

dan peneliti makroekonomi untuk mendeskripsikan

fenomena naiknya harga-harga secara umum dan

terus-menerus.

(20)

Fakta

Fakta adalah pengamatan yang telah diverifikasikan secara empiris.

Fakta yang dikumpulkan secara sistematis dengan

beberapa sistem serta beberapa pokok pengurutan dapat menghasilkan ilmu

Fakta tanpa teori tidak akan menghasilkan apa-apa

Fakta dapat menjadi ilmu dan dapat juga tidak. Jika fakta hanya diperoleh saja secara random, fakta tidak dapat

menjadi ilmu. Sebaliknya jika dikumpulan secara

sistematis dengan beberapa sistem serta beberapa

pokok-pokok pengurutan, maka fakta tersebut dapat

menghasilkan ilmu. Fakta ilmiah adalah produk dari

pengamatan yang bukan random dan mempunyai arti.

(21)

Metode Berpikir Kritis

Proses berpikir adalah refleksi yang hati- hati dan teratur

Untuk berpikir kritis menggunakan silogisma

Silogisma yaitu membuat kesimpulan berdasarkan premis yang ada

Silogisma dibedakan menjadi pola

berpikir deduktif dan induktif

(22)

P E N A L A R A N

 Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera

(pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian.

 Didasari sejumlah proposisi

(pernyataan/fakta) yang diketahui atau dianggap benar (pengamatan),

 Proses seorang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui disebut menalar.

pengertian

(23)

P E N A L A R A N

Menurut Tim Balai Pustaka (dalam Shofiah, 2007 :14), istilah penalaran mengandung tiga pengertian, diantaranya :

1.Cara → menggunakan nalar, pemikiran atau cara berfikir logis.

2.Hal → mengembangkan atau

mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dengan perasaan atau pengalaman.

3.Proses → proses mental dalam

mengembangkan atau mengendalikan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip

pengertian

(24)

 Dua bagian dalam penalaran, yaitu : proposisi yang dijadikan dasar

penyimpulan disebut dengan premis (antesedens)

hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).

 Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi

 Penalaran dikelompokkan menjadi dua yaitu penalaran induktif dan deduktif

P E N A L A R A N

pengertian

(25)

P E N A L A R A N

Penalaran induktif adalah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang

bersifat khusus.

Contoh:

Jika dipanaskan, besi memuai.

Jika dipanaskan, tembaga memuai.

Jika dipanaskan, emas memuai.

Jika dipanaskan, platina memuai.

∴ Jika dipanaskan, logam memuai.

PENALARAN INDUKTIF

(26)

P E N A L A R A N

3 (tiga) macam PENALARAN INDUKTIF

1. Generalisasi adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomenal individual untuk menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang mencakup semua fenomena.

peristiwa-peristiwa khusus untuk mengambil kesimpulan secara umum.

dari segi bentuknya dibedakan

menjadi 2 (dua), yaitu : loncatan

induktif dan yang bukan loncatan

induktif. (Gorys Keraf, 1994 : 44-45).

(27)

P E N A L A R A N

2 (dua) macam generalisasi

1. Generalisasi Tanpa Loncatan Induktif (Generalisasi tidak sempurna) adalah sebuah generalisasi bila fakta-fakta yang diberikan cukup banyak dan menyakinkan, sehingga tidak terdapat peluang untuk menyerang kembali.

2. Generalisasi dengan Loncatan Induktif

(Generalisasi sempurna) adalah

sebuah generalisasi bila fakta-fakta

yang digunakan tersebut dianggap

sudah mewakili seluruh persoalan

yang diajukan

(28)

P E N A L A R A N

3 (tiga) macam PENALARAN INDUKTIF

2. Analogi yaitu proses membandingkan dari dua hal yang berlainan berdasarkan

kesamaannya kemudian berdasarkan

kesamaannya itu ditarik suatu kesimpulan.

Kesimpulan yang diambil dengan

analogi, yaitu kesimpulan dari pendapat khusus dengan beberapa pendapat

khusus yang lain, dengan cara membandingkan kondisinya.

Tujuan analogi adalah meramalkan

kesamaan, menyingkap kekeliruan dan

menyusun sebuah klasifikasi.

(29)

P E N A L A R A N

3 (tiga) macam PENALARAN INDUKTIF

3. Kausal

 adalah paragraph yang dimulai dengan mengemukakan fakta khusus yang

menjadi sebab, dan sampai pada simpulan yang menjadi akibat.

 Setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak

memerlukan sanggahan.

 Hubungan kausal yang berlangsung

dalam tiga pola, yaitu : sebab akibat,

akibat-sebab, akibat-akibat.

(30)

P E N A L A R A N

PENALARAN deduktif

 Penalaran deduktif adalah suatu

penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan

berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus.

 Metode ini diawali dari pebentukan

teori, hipotesis, definisi operasional,

instrumen dan operasionalisasi.

(31)

P E N A L A R A N

PENALARAN deduktif

Jenis penalaran deduktif yaitu:

1. Silogisme Kategorial = Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.

2. Silogisme Hipotesis = Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi

konditional hipotesis.

3. Silogisme Akternatif = Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi

alternatif.

4. Entimen = Silogisme ini jarang ditemukan

dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam

tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan

hanya premis minor dan simpulan.

(32)

P E N A L A R A N

PENALARAN deduktif

 Penarikan kesimpulan deduktif dibagi menjadi dua, yaitu penarikan langsung dan tidak langsung.

 Simpulan secara langsung adalah

penarikan simpulan yang ditarik dari satu premis

 simpulan secara adalah penarikan

simpulan dari dua premis Premis yang

pertama adalah premis yang bersifat

umum dan premis yang kedua adalah

premis yang bersifat khusus.

(33)

Deduksi

• Deducere (de berarti ‘dari’ dan ducere berarti

‘menghantar’, ‘memimpin’)

• Merupakan suatu proses berpikir (penalaran) yang bertolak dari sesuatu proposisi yang

sudah ada menuju kepada suatu proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan

• Corak berpikir deduktif: silogisme kategorial, silogisme hipotetis, silogisme disjungtif atau silogisme alternatif, entinem, rantai deduksi.

33

(34)

Silogisme

• Silogisme adalah suatu bentuk proses

penalaran yang berusaha menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan suatu kesimpulan atau inferensi yang merupakan proposisi ketiga.

34

(35)

1. Silogisme Kategorial

• Argumen deduktif yang mengandung suatu

rangkaian yang terdiri dari tiga (dan hanya tiga) proposisi kategorial, yang disusun sedemikian rupa sehingga ada tiga term yang muncul dalam rangkaian pernyataan itu.

• Tiap term hanya boleh muncul dalam dua pernyataan, misalnya:

(1) Semua buruh adalah manusia pekerja (2) Semua tukang batu adalah buruh

(3) Jadi, semua tukang batu adalah manusia pekerja.

35

(36)

Proposisi Silogisme

• Dalam seluruh silogisme hanya ada 3 term:

term mayor, term minor, dan term tengah

• Tiap silogisme terdapat 3 proposisi: dua proposisi yang disebut premis, dan satu proposisi yang disebut konklusi

• Proposisi diberi nama sesuai dengan term yang dikandungnya: premis mayor, premis minor, dan konklusi (kesimpulan).

36

(37)

Proposisi Silogisme (2)

• Premis mayor:

– premis yang mengandung term mayor

– Proposisi yang dianggap benar bagi semua anggota kelas tertentu

– Contoh: “Semua buruh adalah manusia pekerja” adalah premis mayor karena akan muncul sebagai predikat dalam konklusi

• Premis minor:

– Premis yang mengandung term minor

– Proposisi yang mengidentifikasi sebuah peristiwa yang khusus sebagai anggota dari kelas tertentu

• Kesimpulan:

– Proposisi yang mengatakan bahwa apa yang benar tentang seluruh kelas, juga akan berlaku bagi anggota tertentu.

37

(38)

Kesahihan dan Kebenaran

• Nilai sebuah silogisme:

– Kesahihan (validitas; keabsahan), tergantung pada bentuk logisnya

– Kebenaran (truth), tergantung dari fakta yang mendukung sebuah pernyataan

• Bentuk logis sebuah silogisme:

(1) Bentuk logis dari pernyataan kategorial dalam

silogisme (premis mayor harus disebut lebih dahulu, kemudian premis minor, lalu konklusinya)

(2) Cara penyusunan term dalam masing-masing pernyataan (proposisi) dalam silogisme.

38

(39)

Kaidah Silogisme Kategorial

(1) Sebuah silogisme harus terdiri dari tiga proposisi:

premis mayor, premis minor, dan konklusi. Misalnya:

Premis Mayor: Semua petani desa itu adalah orang-orang jujur.

Premis Minor: Halim adalah seorang petani desa it.

Konklusi: Sebab itu, Halim adalah seorang jujur.

Kalau salah satu premis tidak ada, maka sulit untuk menerima konklusi

(2) Dalam ketiga proposisi itu harus ada tiga term, yaitu term mayor (term predikat dari konklusi), term minor (term subyek dari konklusi), dan term tengah

(menghubungkan premis mayor dan premis minor).

39

(40)

Kaidah Silogisme Kategorial (2)

(3) Setiap term yang terdapat dalam kesimpulan harus tersebar atau sudah tersebut dalam premis-premisnya.

Premis Mayor: Manusia adalah mahluk yang berakal budi Premis Minor: Adi adalah seorang manusia

Konklusi: Sebab it, Adi adalah mahluk berakal budi.

Bila dalam kesimpulan terdapat term yang tidak pernah disebut dalam premis-premisnya, maka konklusi yang diturunkan akan tidak logis.

Premis Mayor: Manusia adalah mahluk yang berakal budi Premis Minor: Adi adalah seorang manusia

Konklusi: Sebab it, Anita adalah mahluk berakal budi, atau

Sebab it, Adi adalah mahluk yang tidak berakal budi.

40

(41)

Kaidah Silogisme Kategorial (3)

(4) Bila salah satu premis bersifat universal dan yang lain bersifat partikular, maka konklusinya harus bersifat partikular.

Lihat contoh kaidah (1) dan (3).

Kalau konklusi bersifat universal, maka silogisme akan ditolak karena tidak logis. Misalnya:

Premis Mayor: Semua mahasiswa adalah orang yang rajin Premis Minor: Tommy adalah seorang mahasiswa

Konklusi: Sebab itu, semua anak bimbingan saya adalah orang yang rajin.

41

(42)

Kaidah Silogisme Kategorial (4)

(5) Dari dua pr emis yang bersifat universal, konklusi yang diturunkan juga harus bersifat universal.

Premis Mayor: Semua buruh adalah orang yang suka bekerja Premis Minor: Semua tukang batu adalah buruh

Konklusi: Sebab itu, semua tukang batu adalah orang yang suka bekerja.

Bila konklusi bersifat partikular maka silogisme it tidak logis.

Premis Mayor: Semua buruh adalah orang yang suka bekerja Premis Minor: Semua tukang batu adalah buruh

Konklusi: Sebab itu, Ali adalah orang yang suka bekerja.

Selain melanggar kaidah (5) silogisme di atas melanggar kaidah (3).

42

(43)

Kaidah Silogisme Kategorial (5)

(6) Jika sebuah silogisme mengandung sebuah premis yang positif dan sebuah premis yang negatif, maka konklusinya harus negatif.

Premis mayornya negatif:

Premis Mayor: Semua calon mahasiswa yang berusia di atas 30 tahun tidak mengikuti perploncoan.

Premis Minor: Nina adalah calon mahasiswa yang berusia di atas 30 tahun Konklusi: Sebab itu, Nina tidak mengikuti perploncoan.

Premis minornya negatif:

Premis Mayor: Semua calon mahasiswa yang berusia di bawah 30 tahun harus mengikuti perploncoan.

Premis Minor: Nina adalah calon mahasiswa yang tidak berusia di bawah 30 tahun

Konklusi: Sebab itu, Nina tidak mengikuti perploncoan.

43

(44)

Kaidah Silogisme Kategorial (6)

(7) Dari dua premis yang negatif tidak dapat ditarik kesimpulan. Sebab it silogisme berikut tidak sahih dan tidak logis.

Premis Mayor: Semua koruptor bukan warga negara yang baik.

Premis Minor: Ia bukan seorang warga negara yang baik.

Konklusi: Sebab itu, ia seorang koruptor.

(8) Dari dua premis yang bersifat partikular, tidak dapat ditarik kesimpulan yang sahih.

Premis Mayor: Chris John adalah seorang petinju

Premis Minor: Chris John adalah warga negara Indonesia Konklusi: Sebab itu, petinju adalah warga negara Indonesia.

44

(45)

2. Silogisme Hipotetis

Silogisme hipotetis atau silogisme pengandaian adalah semacam pola penalaran deduktif yang mengandung hipotese.

Premis mayornya mengandung pernyataan yang bersifat hipotetis.

Rumus proposisi mayor dari silogisme:

Jika P, maka Q

45

(46)

Contoh:

Premis Mayor: Jika tidak turun hujan, maka panen akan gagal Premis Minor: Hujan tidak turun

Konklusi: Sebab itu panen akan gagal.

Atau

Premis Mayor: Jika tidak turun hujan, maka panen akan gagal Premis Minor: Hujan turun

Konklusi: Sebab itu panen tidak gagal.

Pada contoh premis mayor mengandung dua pernyataan kategorial, yaitu hujan tidak turun dan panen akan gagal.

Bagian pertama disebut antiseden, sedangkan bagian kedua disebut akibat.

Terdapat asumsi: kebenaran antiseden akan mempengaruhi kebenaran akibat.

46

(47)

3. Silogisme Alternatif

• Silogisme alternatif atau silogisme disjungtif:

– proporsi mayornya merupakan sebuah proposisi alternatif, yaitu proposisi yang mengandung kemungkinan atau pilihan.

– Proposisi minornya adalah proposisi kategorial yang menerima atau menolak salah satu alternatifnya.

– Konklusi tergantung dari premis minornya.

• Contoh:

Premis Mayor: Ayah ada di kantor atau di rumah Premis Minor: Ayah ada di kantor

Konklusi: Sebab it, ayah tidak ada di rumah.

Atau

Premis Mayor: Ayah ada di kantor atau di rumah Premis Minor: Ayah ada di kantor

Konklusi: Sebab it, ayah tidak ada di rumah.

47

(48)

4. Entimem

• Enthymeme, enthymema (Yunani) berasal dari kata kerja enthymeisthai yang berarti ‘simpan dalam ingatan’

• Silogisme muncul hanya dengan dua proposisi.

• Contoh: Silogisme aslinya berbunyi:

Premis Mayor: Siapa saja yang dipilih mengikuti pertandingan Thomas Cup adalah seorang pemain kawakan.

Premis Minor: Taufik Hidayat terpilih mengikuti pertandingan Thomas Cup.

Konklusi: Sebab it Taufik Hidayat adalah seorang pemain (bulu tangkis kawakan).

Penulis dapat menyatakan dalam bentuk entimem:

“Taufik Hidayat adalah seorang pemain bulu tangkis

kawakan, karena terpilih mengikuti pertandingan Thomas Cup.”

48

(49)

5. Rantai Deduksi

• Penalaran yang deduktif dapat berlangsung lebih informal dari entimem. Orang tidak berhenti pada sebuah silogisme saja, tetapi dapat pula berupa merangkaikan beberapa bentuk silogisme yang tertuang dalam bentuk yang informal.

Semua buah belimbing masam rasanya. (hasil generalisasi) Kali ini saya diberi lagi buah belimbing.

Sebab it, buah belimbing ini juga pasti masam rasanya. (deduksi)

Saya tidak suka akan buah-buahan yang masam rasanya. (induksi: generalisasi) Ini adalah buah belimbing masam.

Sebab it, saya tidak suka buah belimbing ini (deduksi)

Saya tidak suka makan apa saja, yang tidak saya senangi (induksi: generalisasi) Saya tidak suka buah ini.

Sebab it saya tidak akan memakannya. (deduksi)

49

(50)

Kesimpulan : Pola Pikir dalam Metode Ilmiah

Induktif

Pengambilan kesimpulan dari kasus yang bersifat khusus menjadi kesimpulan yang bersifat umum

Deduktif

Pengambilan kesimpulan dari hal yang bersifat

umum menjadi kasus yang bersifat khusus

(51)

Contoh sederhana

Induktif :

Fakta : Tumbuhan akan mati (khusus) Hewan akan mati (khusus) Manusia akan mati (khusus)

Kesimpulan : Semua makhluk hidup akan mati (umum)

Deduktif :

Fakta : Semua manusia akan mati (umum)

Taka adalah manusia (khusus)

Kesimpulan : Taka akan mati (khusus)

(52)

Perbedaan Pendekatan Ilmiah dan Non Ilmiah :

Pendekatan Ilmiah :

Perumusan masalah jelas dan spesifik

Masalah merupakan hal yang dapat diamati dan diukur

secara empiris

Jawaban permasalahan didasarkan pada data

Proses pengumpulan dan analisis data, serta

pengambilan keputusan

berdasarkan logika yang benar

Kesimpulan yang didapat siap/terbuka untuk diuji oleh orang lain

Pendekatan Non Ilmiah :

Perumusan masalah yang kabur atau abstrak

Masalah tidak selalu diukur secara empiris dan dapat

bersifat supranatural/dogmatis

Jawaban tidak diperoleh dari hasil pengamatan data di lapangan

Keputusan tidak didasarkan pada hasil pengumpulan data dan analisis data secara logis

Kesimpulan tidak dibuat untuk diuji ulang oleh orang lain

(53)

Contoh :

“Taka sakit perut selama seminggu”

Pendekatan Ilmiah :

• Cari data di lapangan Taka makan apa ?

• Periksa ke dokter

• Tes laboratorium

• Pengobatan

• Kesimpulan :

Taka Keracunan

Pendekatan Non Ilmiah :

• Pergi ke dukun

• Penyembuhan

• Kesimpulan :

Taka terkena guna- guna dari

teman/musuhnya

Referensi

Dokumen terkait

[r]

13 Dimana tekanan operasi sprinkler (Ha) untuk perencanaan dapat diketahui dari spesifikasinya, tinggi kecepatan (Hv) nilainya jarang melebihi 0,3 m/detik dan dapat

Prosentase angka kematian ternak 5% 7,6% 6% - 5.2.21 Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak... 5.2.22.22 Pengembangan budidaya ternak kambing/domba

Hasilnya adalah Konsep Tematik (mikro) Kawasan yang dibagi dalam lima segmen, dan Konsep Penataan Kawasan yang terdiri dari : Konsep Pengembangan Kawasan Sebalo

Berdasarkan hasil perancangan baik dari segi perangkat keras prototype VLC transceiver dan perangkat lunak antarmuka serta hasil pengujian pengiriman teks, dapat

/elet /eletakan t akan termim ermimeter eter di ket di ketiak t iak tangan k angan kanan at anan atau tan au tangan kir gan kirii dengan (osisi ujung termometer diba0a' kemudian

KEMATIAN BALITA AKIBAT GIZI BURUK Kurang penyuluhan Pengetahuan tentang kesehatan Pendidikan rendah Sosial ekonomi rendah Asupan Gizi Kurang PHBS Karena penyakit imunisasi Pemberian

melakukan Pemutakhiran Data Pemilih, Para Teradu berpedoman pada Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pemutakhiran Data dan Daftar Pemilih