POLA BERFIKIR DALAM METODE ILMIAH SECARA SISTEMATIS DAN PRAGMATIS
ILLIA SELDON MAGFIROH KULIAH X
METODE ILMIAH
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS, UNIVERSITAS JEMBER 2017
Kriteria berpikir secara nalar
• 1. Ada unsur logis di dalamnya • Tiap bentuk berpikir mempunyai logikanya sendiri. • Berpikir secara logis mempunyai konotasi jamak (orang lain dapat
menggunakan logikanya, menurut asumsi/persepsi yang lain)
• 2. Ada unsur analitis • Kegiatan berpikir itu sendiri
merupakan kegiatan analisis • Sifat analitis merupakan konsekuensi dari adanya pola berpikir tertentu
•
Berpikir secara ilmiah / berpikir ilmiah, berarti
• 1. Melakukan kegiatan analisis dalam menggunakan logika secara ilmiah.
• 2. Merupakan gabungan antara penalaran secara deduktif
dan induktif.
Hubungan Ilmu dan penelitian • Almack (1960) Hubungan ilmu dan
penelitian adalah seperti hasil dan proses.
• PROSES HASIL
PENELITIAN ILMU
• Whitney (1960)
• PROSES PROSES HASIL
PENELITIAN ILMU KEBENARAN
Kebenaran Ilmiah dapat diterima jika :
• Adanya Koheren Suatu pernyataan dianggap benar jika konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
Ex: Si Badu akan mati, adalah pernyataan benar, karena penryataan sebelumnya adalah semua manusia akan mati.
• Adanya koresponden Suatu pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang terkandung dalam pernyataan tersebut berhubungan atau mempunyai hubungan (koresponden) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut.
Ex: Bandung dalah ibukota prov. Jawa Barat, adalah benar karena
terkandung hubungan atau berkorespondensi dengan objek yang dituju.
• Adanya sifat pragmatis Pernyataan tersebut dianggap benar apabila mempunyai sifat fungsional dalam kehidupan praktis.
Kebenaran dapat diperoleh melalui mekanisme sebagai berikut
Masalah : Apa, bgmn, mengapa, dsb
Ilmiah
Tidak Ilmiah
Kebenaran diperoleh melalui
penyelidikan ilmiah.
Dengan ciri:
• Objektif
• Cermat • Sistematik
• Berdasarkan Ilmu Pengetahuan
PENELITIAN
Kebenaran diperoleh melalui :
• Trial and error
• Kebetulan/spekulatif
• Otoritas/wewenang/jabatan
• Intuisi
Dua Kriteria utama
pengetahuan Ilmiah
• Ada konsistensi dengan pengetahuan berikutnya.
• Ada kesesuaian antara pengetahuan yang dikembangkan
dengan fakta di lapangan.
METODE ILMIAH
Penyelidikan yang sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis terhadap fenomena alam yang dipandu dengan teori dan hipotesis tentang dugaan
hubungan antara variabel-variabel (fenomena).
Prosedur atau cara tertentu yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan yang disebut ilmu
(pengetahuan ilmiah)
Metode Ilmiah
Metode Ilmiah
Kriteria Langkah-langkah
1. Berdasarkan Fakta.
2. Bebas dari Prasangka
3. Menggunakan prinsip analisa 4. Menggunakan ukuran objektif 5. Menggunakan teknik Kuantifikasi
a. Memilih dan mendefinisikan masalah b. Survei thd data yg tersedia
c. Memformulasikan hipotesa
d. Membangun kerangka analisa serta alat-2 dlm menguji hipotesa.
e. Mengumpulkan data primer.
f. Mengolah, menganalisa serta membuat interpretasi.
g. Membuat generalisasi dan kesimpulan.
h. Membuat laporan
Karakteristik Metode Ilmiah
Kritis dan analitis, mendorong suatu
kepastian dan proses penyelidikan untuk
mengidentifikasi masalah dan metode untuk mendapatkan solusi.
Logis, merujuk pada metode dan argumentasi
ilmiah. Kesimpulan secara rasional diturunkan
dari bukti-bukti yang ada
Karakteristik Metode Ilmiah
Obyektif, mengandung makna bahwa hasil yang
diperoleh ilmuwan yang lain akan sama apabila studi yang sama dilakukan pada kondisi yang sama
Konseptual dan teoritis, mengandung arti
pengembangan struktur konsep dan teoritis untuk menuntun dan mengarahkan upaya penelitian
Sistematis, mengandung arti suatu prosedur yang
cermat dan mengikuti aturan tertentu yang baku
Karakteristik Metode Ilmiah :
Bersifat kritis, analistis, artinya metode menunjukkan adanya proses yang tepat untuk mengidentifikasi masalah dan
menentukan metode untuk pemecahan masalah.
Bersifat logis, artinya dapat memberikan argumentasi ilmiah.
Kesimpulan yang dibuat secara rasional berdasarkan bukti-bukti yang tersedia
Bersifat obyektif, artinya dapat dicontoh oleh ilmuwan lain dalam studi yang sama dengan kondisi yang sama pula.
Bersifat konseptual, artinya proses penelitian dijalankan
dengan pengembangan konsep dan teori agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
Bersifat empiris, artinya metode yang dipakai didasarkan
pada fakta di lapangan.
by: David Sukardi Kodrat
Hubungan Ilmu, Penelitian dan Kebenaran
“.... terdapat kesamaan yang tinggi derajatnya antara konsep ilmu dan penelitian. Keduanya adalah sama- sama proses”
Whitney
Penelitian Ilmu Kebenaran
Proses Proses Hasil
Penelitian
PROPOSISI
> Proposisi adalah pernyataan tentang hubungan antara dua atau lebih konstruk yang dapat diuji kebenarannya (Effendi dan Singarimbun)
Contoh: pengangguran terjadi karena investasi turun
> Benarkah investasi turun menyebabkan pengangguran meningkat, maka secara empiris proposisi diuji
Jika proposisi sudah dirumuskan sedemikian rupa dan sementara diterima untuk diuji kebenarannya maka dinamakan hipotesis.
> Hipotesis adalah proposisi yang dirumuskan untuk
pengujian empiris atau pernyataan dugaan (conjectural)
tentang hubungan antara dua atau lebih variabel
PROPOSISI
Untuk menguji proposisi di atas, dirumuskan hipotesis
“tingkat pengeluaran investasi berpengaruh negatif terhadap tingkat pengangguran”
Tingkat pengeluaran dan tingkat pengangguran adalah variabel.
Variabel adalah konstruk yang diberi angka
atau variasi nilai.
DALIL
Proposisi yang sudah mempunyai jangkauan cukup luas dan telah
didukung oleh data empiris
dinamakan dalil (scientific law) atau singkatan dari suatu pengetahuan
tentang hubungan sifat-sifat tertentu yang bentuknya lebih umum jika
dibandingkan dengan penemuan-
penemuan empiris yang dari mana
dalil tersebut didasarkan.
Teori
> Teori adalah abstraksi dari pengertian atau hubungan dari proposisi atau dalil.
> Teori adalah seperangkat konsep atau construct, definisi dan proposisi yang menyajikan suatu pandangan sistematis tentang fenomena dengan merinci hubungan-hubungan antara variabel, dengan tujuan menjelaskan dan memprediksi fenomena itu
(Kerlinger)
> Teori menjelaskan hubungan antarvariabel atau antar konstruk sehingga pandangan yang sistematis dari fenomena-fenomena yang diterangkan oleh variabel dengan jelas kelihatan
> Teori menerangkan fenomena dengan cara menspesifikasikan
variabel-variabel mana yang berhubungan dengan variabel
mana.
Konstruk
Istilah yang digunakan peneliti untuk mendefinisikan secara abstrak fenomena-fenomena yang sama dalam disiplin ilmu tertentu.
Contoh:
Inflasi adalah konstruk yang digunakan para ekonom
dan peneliti makroekonomi untuk mendeskripsikan
fenomena naiknya harga-harga secara umum dan
terus-menerus.
Fakta
Fakta adalah pengamatan yang telah diverifikasikan secara empiris.
Fakta yang dikumpulkan secara sistematis dengan
beberapa sistem serta beberapa pokok pengurutan dapat menghasilkan ilmu
Fakta tanpa teori tidak akan menghasilkan apa-apa
Fakta dapat menjadi ilmu dan dapat juga tidak. Jika fakta hanya diperoleh saja secara random, fakta tidak dapat
menjadi ilmu. Sebaliknya jika dikumpulan secara
sistematis dengan beberapa sistem serta beberapa
pokok-pokok pengurutan, maka fakta tersebut dapat
menghasilkan ilmu. Fakta ilmiah adalah produk dari
pengamatan yang bukan random dan mempunyai arti.
Metode Berpikir Kritis
Proses berpikir adalah refleksi yang hati- hati dan teratur
Untuk berpikir kritis menggunakan silogisma
Silogisma yaitu membuat kesimpulan berdasarkan premis yang ada
Silogisma dibedakan menjadi pola
berpikir deduktif dan induktif
P E N A L A R A N
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera
(pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian.
Didasari sejumlah proposisi
(pernyataan/fakta) yang diketahui atau dianggap benar (pengamatan),
Proses seorang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui disebut menalar.
pengertian
P E N A L A R A N
Menurut Tim Balai Pustaka (dalam Shofiah, 2007 :14), istilah penalaran mengandung tiga pengertian, diantaranya :
1.Cara → menggunakan nalar, pemikiran atau cara berfikir logis.
2.Hal → mengembangkan atau
mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dengan perasaan atau pengalaman.
3.Proses → proses mental dalam
mengembangkan atau mengendalikan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip
pengertian
Dua bagian dalam penalaran, yaitu : proposisi yang dijadikan dasar
penyimpulan disebut dengan premis (antesedens)
hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).
Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi
Penalaran dikelompokkan menjadi dua yaitu penalaran induktif dan deduktif
P E N A L A R A N
pengertian
P E N A L A R A N
Penalaran induktif adalah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang
bersifat khusus.
Contoh:
Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai.
Jika dipanaskan, platina memuai.
∴ Jika dipanaskan, logam memuai.
PENALARAN INDUKTIF
P E N A L A R A N
3 (tiga) macam PENALARAN INDUKTIF
1. Generalisasi adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomenal individual untuk menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang mencakup semua fenomena.
peristiwa-peristiwa khusus untuk mengambil kesimpulan secara umum.
dari segi bentuknya dibedakan
menjadi 2 (dua), yaitu : loncatan
induktif dan yang bukan loncatan
induktif. (Gorys Keraf, 1994 : 44-45).
P E N A L A R A N
2 (dua) macam generalisasi
1. Generalisasi Tanpa Loncatan Induktif (Generalisasi tidak sempurna) adalah sebuah generalisasi bila fakta-fakta yang diberikan cukup banyak dan menyakinkan, sehingga tidak terdapat peluang untuk menyerang kembali.
2. Generalisasi dengan Loncatan Induktif
(Generalisasi sempurna) adalah
sebuah generalisasi bila fakta-fakta
yang digunakan tersebut dianggap
sudah mewakili seluruh persoalan
yang diajukan
P E N A L A R A N
3 (tiga) macam PENALARAN INDUKTIF
2. Analogi yaitu proses membandingkan dari dua hal yang berlainan berdasarkan
kesamaannya kemudian berdasarkan
kesamaannya itu ditarik suatu kesimpulan.
Kesimpulan yang diambil dengan
analogi, yaitu kesimpulan dari pendapat khusus dengan beberapa pendapat
khusus yang lain, dengan cara membandingkan kondisinya.
Tujuan analogi adalah meramalkan
kesamaan, menyingkap kekeliruan dan
menyusun sebuah klasifikasi.
P E N A L A R A N
3 (tiga) macam PENALARAN INDUKTIF
3. Kausal
adalah paragraph yang dimulai dengan mengemukakan fakta khusus yang
menjadi sebab, dan sampai pada simpulan yang menjadi akibat.
Setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak
memerlukan sanggahan.
Hubungan kausal yang berlangsung
dalam tiga pola, yaitu : sebab akibat,
akibat-sebab, akibat-akibat.
P E N A L A R A N
PENALARAN deduktif
Penalaran deduktif adalah suatu
penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan
berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus.
Metode ini diawali dari pebentukan
teori, hipotesis, definisi operasional,
instrumen dan operasionalisasi.
P E N A L A R A N
PENALARAN deduktif
Jenis penalaran deduktif yaitu:
1. Silogisme Kategorial = Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.
2. Silogisme Hipotesis = Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi
konditional hipotesis.
3. Silogisme Akternatif = Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi
alternatif.
4. Entimen = Silogisme ini jarang ditemukan
dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam
tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan
hanya premis minor dan simpulan.
P E N A L A R A N
PENALARAN deduktif
Penarikan kesimpulan deduktif dibagi menjadi dua, yaitu penarikan langsung dan tidak langsung.
Simpulan secara langsung adalah
penarikan simpulan yang ditarik dari satu premis
simpulan secara adalah penarikan
simpulan dari dua premis Premis yang
pertama adalah premis yang bersifat
umum dan premis yang kedua adalah
premis yang bersifat khusus.
Deduksi
• Deducere (de berarti ‘dari’ dan ducere berarti
‘menghantar’, ‘memimpin’)
• Merupakan suatu proses berpikir (penalaran) yang bertolak dari sesuatu proposisi yang
sudah ada menuju kepada suatu proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan
• Corak berpikir deduktif: silogisme kategorial, silogisme hipotetis, silogisme disjungtif atau silogisme alternatif, entinem, rantai deduksi.
33
Silogisme
• Silogisme adalah suatu bentuk proses
penalaran yang berusaha menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan suatu kesimpulan atau inferensi yang merupakan proposisi ketiga.
34
1. Silogisme Kategorial
• Argumen deduktif yang mengandung suatu
rangkaian yang terdiri dari tiga (dan hanya tiga) proposisi kategorial, yang disusun sedemikian rupa sehingga ada tiga term yang muncul dalam rangkaian pernyataan itu.
• Tiap term hanya boleh muncul dalam dua pernyataan, misalnya:
(1) Semua buruh adalah manusia pekerja (2) Semua tukang batu adalah buruh
(3) Jadi, semua tukang batu adalah manusia pekerja.
35
Proposisi Silogisme
• Dalam seluruh silogisme hanya ada 3 term:
term mayor, term minor, dan term tengah
• Tiap silogisme terdapat 3 proposisi: dua proposisi yang disebut premis, dan satu proposisi yang disebut konklusi
• Proposisi diberi nama sesuai dengan term yang dikandungnya: premis mayor, premis minor, dan konklusi (kesimpulan).
36
Proposisi Silogisme (2)
• Premis mayor:
– premis yang mengandung term mayor
– Proposisi yang dianggap benar bagi semua anggota kelas tertentu
– Contoh: “Semua buruh adalah manusia pekerja” adalah premis mayor karena akan muncul sebagai predikat dalam konklusi
• Premis minor:
– Premis yang mengandung term minor
– Proposisi yang mengidentifikasi sebuah peristiwa yang khusus sebagai anggota dari kelas tertentu
• Kesimpulan:
– Proposisi yang mengatakan bahwa apa yang benar tentang seluruh kelas, juga akan berlaku bagi anggota tertentu.
37
Kesahihan dan Kebenaran
• Nilai sebuah silogisme:
– Kesahihan (validitas; keabsahan), tergantung pada bentuk logisnya
– Kebenaran (truth), tergantung dari fakta yang mendukung sebuah pernyataan
• Bentuk logis sebuah silogisme:
(1) Bentuk logis dari pernyataan kategorial dalam
silogisme (premis mayor harus disebut lebih dahulu, kemudian premis minor, lalu konklusinya)
(2) Cara penyusunan term dalam masing-masing pernyataan (proposisi) dalam silogisme.
38
Kaidah Silogisme Kategorial
(1) Sebuah silogisme harus terdiri dari tiga proposisi:
premis mayor, premis minor, dan konklusi. Misalnya:
Premis Mayor: Semua petani desa itu adalah orang-orang jujur.
Premis Minor: Halim adalah seorang petani desa it.
Konklusi: Sebab itu, Halim adalah seorang jujur.
Kalau salah satu premis tidak ada, maka sulit untuk menerima konklusi
(2) Dalam ketiga proposisi itu harus ada tiga term, yaitu term mayor (term predikat dari konklusi), term minor (term subyek dari konklusi), dan term tengah
(menghubungkan premis mayor dan premis minor).
39
Kaidah Silogisme Kategorial (2)
(3) Setiap term yang terdapat dalam kesimpulan harus tersebar atau sudah tersebut dalam premis-premisnya.
Premis Mayor: Manusia adalah mahluk yang berakal budi Premis Minor: Adi adalah seorang manusia
Konklusi: Sebab it, Adi adalah mahluk berakal budi.
Bila dalam kesimpulan terdapat term yang tidak pernah disebut dalam premis-premisnya, maka konklusi yang diturunkan akan tidak logis.
Premis Mayor: Manusia adalah mahluk yang berakal budi Premis Minor: Adi adalah seorang manusia
Konklusi: Sebab it, Anita adalah mahluk berakal budi, atau
Sebab it, Adi adalah mahluk yang tidak berakal budi.
40
Kaidah Silogisme Kategorial (3)
(4) Bila salah satu premis bersifat universal dan yang lain bersifat partikular, maka konklusinya harus bersifat partikular.
Lihat contoh kaidah (1) dan (3).
Kalau konklusi bersifat universal, maka silogisme akan ditolak karena tidak logis. Misalnya:
Premis Mayor: Semua mahasiswa adalah orang yang rajin Premis Minor: Tommy adalah seorang mahasiswa
Konklusi: Sebab itu, semua anak bimbingan saya adalah orang yang rajin.
41
Kaidah Silogisme Kategorial (4)
(5) Dari dua pr emis yang bersifat universal, konklusi yang diturunkan juga harus bersifat universal.
Premis Mayor: Semua buruh adalah orang yang suka bekerja Premis Minor: Semua tukang batu adalah buruh
Konklusi: Sebab itu, semua tukang batu adalah orang yang suka bekerja.
Bila konklusi bersifat partikular maka silogisme it tidak logis.
Premis Mayor: Semua buruh adalah orang yang suka bekerja Premis Minor: Semua tukang batu adalah buruh
Konklusi: Sebab itu, Ali adalah orang yang suka bekerja.
Selain melanggar kaidah (5) silogisme di atas melanggar kaidah (3).
42
Kaidah Silogisme Kategorial (5)
(6) Jika sebuah silogisme mengandung sebuah premis yang positif dan sebuah premis yang negatif, maka konklusinya harus negatif.
Premis mayornya negatif:
Premis Mayor: Semua calon mahasiswa yang berusia di atas 30 tahun tidak mengikuti perploncoan.
Premis Minor: Nina adalah calon mahasiswa yang berusia di atas 30 tahun Konklusi: Sebab itu, Nina tidak mengikuti perploncoan.
Premis minornya negatif:
Premis Mayor: Semua calon mahasiswa yang berusia di bawah 30 tahun harus mengikuti perploncoan.
Premis Minor: Nina adalah calon mahasiswa yang tidak berusia di bawah 30 tahun
Konklusi: Sebab itu, Nina tidak mengikuti perploncoan.
43
Kaidah Silogisme Kategorial (6)
(7) Dari dua premis yang negatif tidak dapat ditarik kesimpulan. Sebab it silogisme berikut tidak sahih dan tidak logis.
Premis Mayor: Semua koruptor bukan warga negara yang baik.
Premis Minor: Ia bukan seorang warga negara yang baik.
Konklusi: Sebab itu, ia seorang koruptor.
(8) Dari dua premis yang bersifat partikular, tidak dapat ditarik kesimpulan yang sahih.
Premis Mayor: Chris John adalah seorang petinju
Premis Minor: Chris John adalah warga negara Indonesia Konklusi: Sebab itu, petinju adalah warga negara Indonesia.
44
2. Silogisme Hipotetis
Silogisme hipotetis atau silogisme pengandaian adalah semacam pola penalaran deduktif yang mengandung hipotese.
Premis mayornya mengandung pernyataan yang bersifat hipotetis.
Rumus proposisi mayor dari silogisme:
Jika P, maka Q
45
Contoh:
Premis Mayor: Jika tidak turun hujan, maka panen akan gagal Premis Minor: Hujan tidak turun
Konklusi: Sebab itu panen akan gagal.
Atau
Premis Mayor: Jika tidak turun hujan, maka panen akan gagal Premis Minor: Hujan turun
Konklusi: Sebab itu panen tidak gagal.
Pada contoh premis mayor mengandung dua pernyataan kategorial, yaitu hujan tidak turun dan panen akan gagal.
Bagian pertama disebut antiseden, sedangkan bagian kedua disebut akibat.
Terdapat asumsi: kebenaran antiseden akan mempengaruhi kebenaran akibat.
46
3. Silogisme Alternatif
• Silogisme alternatif atau silogisme disjungtif:
– proporsi mayornya merupakan sebuah proposisi alternatif, yaitu proposisi yang mengandung kemungkinan atau pilihan.
– Proposisi minornya adalah proposisi kategorial yang menerima atau menolak salah satu alternatifnya.
– Konklusi tergantung dari premis minornya.
• Contoh:
Premis Mayor: Ayah ada di kantor atau di rumah Premis Minor: Ayah ada di kantor
Konklusi: Sebab it, ayah tidak ada di rumah.
Atau
Premis Mayor: Ayah ada di kantor atau di rumah Premis Minor: Ayah ada di kantor
Konklusi: Sebab it, ayah tidak ada di rumah.
47
4. Entimem
• Enthymeme, enthymema (Yunani) berasal dari kata kerja enthymeisthai yang berarti ‘simpan dalam ingatan’
• Silogisme muncul hanya dengan dua proposisi.
• Contoh: Silogisme aslinya berbunyi:
Premis Mayor: Siapa saja yang dipilih mengikuti pertandingan Thomas Cup adalah seorang pemain kawakan.
Premis Minor: Taufik Hidayat terpilih mengikuti pertandingan Thomas Cup.
Konklusi: Sebab it Taufik Hidayat adalah seorang pemain (bulu tangkis kawakan).
Penulis dapat menyatakan dalam bentuk entimem:
“Taufik Hidayat adalah seorang pemain bulu tangkis
kawakan, karena terpilih mengikuti pertandingan Thomas Cup.”
48
5. Rantai Deduksi
• Penalaran yang deduktif dapat berlangsung lebih informal dari entimem. Orang tidak berhenti pada sebuah silogisme saja, tetapi dapat pula berupa merangkaikan beberapa bentuk silogisme yang tertuang dalam bentuk yang informal.
Semua buah belimbing masam rasanya. (hasil generalisasi) Kali ini saya diberi lagi buah belimbing.
Sebab it, buah belimbing ini juga pasti masam rasanya. (deduksi)
Saya tidak suka akan buah-buahan yang masam rasanya. (induksi: generalisasi) Ini adalah buah belimbing masam.
Sebab it, saya tidak suka buah belimbing ini (deduksi)
Saya tidak suka makan apa saja, yang tidak saya senangi (induksi: generalisasi) Saya tidak suka buah ini.
Sebab it saya tidak akan memakannya. (deduksi)
49
Kesimpulan : Pola Pikir dalam Metode Ilmiah
• Induktif
Pengambilan kesimpulan dari kasus yang bersifat khusus menjadi kesimpulan yang bersifat umum
• Deduktif
Pengambilan kesimpulan dari hal yang bersifat
umum menjadi kasus yang bersifat khusus
Contoh sederhana
Induktif :
Fakta : Tumbuhan akan mati (khusus) Hewan akan mati (khusus) Manusia akan mati (khusus)
Kesimpulan : Semua makhluk hidup akan mati (umum)
Deduktif :
Fakta : Semua manusia akan mati (umum)
Taka adalah manusia (khusus)
Kesimpulan : Taka akan mati (khusus)
Perbedaan Pendekatan Ilmiah dan Non Ilmiah :
Pendekatan Ilmiah :
Perumusan masalah jelas dan spesifik
Masalah merupakan hal yang dapat diamati dan diukur
secara empiris
Jawaban permasalahan didasarkan pada data
Proses pengumpulan dan analisis data, serta
pengambilan keputusan
berdasarkan logika yang benar
Kesimpulan yang didapat siap/terbuka untuk diuji oleh orang lain
Pendekatan Non Ilmiah :
Perumusan masalah yang kabur atau abstrak
Masalah tidak selalu diukur secara empiris dan dapat
bersifat supranatural/dogmatis
Jawaban tidak diperoleh dari hasil pengamatan data di lapangan
Keputusan tidak didasarkan pada hasil pengumpulan data dan analisis data secara logis
Kesimpulan tidak dibuat untuk diuji ulang oleh orang lain
Contoh :
“Taka sakit perut selama seminggu”