• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh Siti Andriyani Salesi NIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI. Oleh Siti Andriyani Salesi NIM"

Copied!
125
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL PARTISIPATIF (PARTICIPATIVE TEACHING AND LEARNING) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS

KARANGAN NARASI PADA SISWA KELAS V SDN 01 BONEPUTE KECAMATAN LAROMPONG SELATAN KABUPATEN LUWU

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makssar

Oleh

Siti Andriyani Salesi NIM 10540 1104 317

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

AGUSTUS, 2021

(2)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Siti Andriyani Salesi Nim : 105 40 11043 17

Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Judul Skripsi : Penerapan Model Partisipatif (participative teaching and learning) untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Karangan Narasi pada Siswa Kelas V SDN 01 Bonepute Kecamatan Larompong Selatan Kabupaten Luwu

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya saya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun.

Demikian pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, Agustus 2021 Yang Membuat Pernyataan

Siti Andriyani Salesi

iv

(3)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

SURAT PERJANJIAN Saya yang bertanda tangan di bahwa ini:

Nama : Siti Andriyani Salesi

Nim : 10540 11043 17

Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultass : Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).

2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pemimpin fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi.

4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti butir 1, 2, dan 3, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.

Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar, Agustus 2021 Yang Membuat Perjanjian

Siti Andriyani Salesi 10540 11043 17

v

(4)

MOTTO DAN PEMBAHASAN

“Belajar adalah hal yang mudah bagi orang-orang yang mau berusaha belajar, belajar akan terasa sulit bagi orang-orang yang tidak mau berusaha. teruslah belajar jangan pernah menyerah untuk mengejar kesuksesan, karena tidak ada

kata terlambat untuk belajar.”

Kupersembahkan karya ini buat:

Kedua orang tua saya yang bernama Bahtar Salesi dan Nyakim Tihio yang saya sangat cintai. Kakakku yang saya sayangi Keempat adikku yang saya banggakan. Sahabat- sahabat saya yang saya sayangi. Atas keikhlasan dan doanya dalam mendukung penulis mewujudkan harapan dan kenyataan penulis.

vi

(5)

ABSTRAK

Siti Andriyani Salesi. 2021. Penerapan Model Partisipatif (Participative Teaching And Learning ) untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Karangan Narasi Pada Siswa Kelas V SDN 01 Bonepute Kecamatan Larompong Selatan Kabupaten Luwu.

Skripsi. Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Tarman A. Arief, dan pembimbing II Abdan Syakur.

Penerapan Model Partisipatif (Participative Teaching And Learning ) untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Karangan Narasi Pada Siswa Kelas V SDN 01 Bonepute Kecamatan Larompong Selatan Kabupaten Luwu. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi dengan penerapan model partisipatif (participative teaching and learning) pada siswa kelas V SDN 01 Bonepute Kecamatan Larompong Selatan Kabupaten Luwu.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Class Action Reaserch) yang terdiri dari dua siklus dimana setiap siklus dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan. Prosedur penelitian meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 01 Bonepute Kecamatan Larompong Selatan Kabupataen Luwu yang berjumlah 20 siswa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus pertama yang tuntas secara individual dari 20 murid hanya 8 siswa atau 40% yang memenuhi ketuntasan minimal (KKM) atau berada pada kategori sangat rendah. Secara klasikal belum terpenuhi karena nilai rata-rata diperoleh sebesar 66.5. Sedangkanpada siklus II dari 20 murid terdapat 18 siswa atau 90% telah memenuhi ketuntasan minimal (KKM) dan secara klasikal sudah terpenuhi yaitu nilai rata-rata yang diperoleh sebesar 79,0 atau berada dalam kategori sangat tinggi. Rekomendasi

Kata kunci: keterampilan menulis, karangan narasi, partisipatif (participative teaching and learning)

vii

(6)

KATA PENGANTAR

Allah Maha Penyayang dan Pengasih, demikian kata untuk mewakili atas segala karunia dan nikmat-Nya. Jiwa ini takkan henti bertahmid atas anugerah pada detik waktu, denyut jantung, gerak langkah, serta rasa dan raiso pada-Mu, sang Khalik. Skripsi ini adalah setitik dari sederetan berkah-Mu.

Setiap orang dalam berkarya selalu mencari kesempurnaan, tetapi terkadang kesempurnaan terasa jauh dari kehudupan seseorang. Kesempurnaan bagaikan fatamorgana yang semakin dikejar semakin menghilang dari pandangan, bagi pelangi yang terlihat indah dari kejahuan, tetapi menghilang jika didekati. Demikianjuga tulisan ini, kehendak hati ingin mencapai kesempurnaan, tetapi kapasitas penulis dalam keterbatasan. Segala daya dan upaya telah penulis kerahkan untuk membuat tulisan ini selesai dengan baik dan bermanfaat dalam dunia pendidikan, khususnya dalam ruang lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pndidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar.

Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam perampungan tulisan ini. Segala rasa hormat, penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua Bahtar Salesi dan Nyakim Thio yang telah berjuang, berdoa, mengasuh, membersarkan, mendidik, dan membiyai penulis dalam proses pencarian ilmu.

Demikian pula penulis mengucapkan kepada para keluarga yang tak hentinya memberikan motivasi dan selalu menemaniku dengan candanya, kepada bapak Dr.

Tarman A. Arief, S.Pd,. M.Pd. dan bapak Abdan Syakur S.Pd,. M.Pd. selaku

viii

(7)

pembimbing I dan pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan, arahan serta motivasi sejak awal penyusunan proposal hingga selesainya skripsi ini.

Tidak lupa juga penulis mengucapkan terimakasih kepada; Bapak Prof. Dr.

H. Ambo Asse, M.Ag. selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar. Bapak Erwin Akib, S.Pd, M.Pd, Ph.D, selaku Dekan FKIP Universitas Muhmmadiyah Makassar. Aliem Bahri, S.Pd., M.Pd. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Muhmmadiyah Makassar yang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis.

Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya juga penulis ucapkan kepada kepala sekolah, guru, staf SDN 01 Bonepute, yang telah memberikan izin dan bantuan untuk melakukan penelitian. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada sahabat seperjungan yang selalu menemaniku dalam suka dan duka, serta teman- teman seperjuangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar angkkatan 2017 atas segala kebersamaan, motivasi, saran dan bantuannya kepada penulis yang telah memberi pelangi dalam hidupku.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini terdapat banyak kekurangan untuk itu dengan senang hati penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan proposal ini dikemudian hari. Akhir kata penulis berharap agar proposal ini dapat menjadi masukan yang bermanfaat, khususnya bagi penulis dan pembaca pada umumnya. Semoga segala jerih payah kita bernilai ibadah di sisi ALLAH SWT. Amin.

Makassar, 4 Mei 2021 Siti Andriyani Salesi

ix

(8)

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL

LEMBAR PENGESAHAN ...ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ...iii

SURAT PERNYATAAN ...iv

SURAT PERJANJIAN...v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...vi

ABSTRAK ...vii

KATA PENGANTAR...viii

DAFTAR ISI ...x

DAFTAR TABEL ...xii

DAFTAR GAMBAR ...xiii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...1

B. Rumusan Masalah ...4

C. Tujuan Penelitian...4

D. Manfaat Penelitian...4

BAB II. KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori ...6

1. Hasil Penelitian yang Relevan ...6

2. Pengartian Belajar dan Pembelajaran ...7

3. Kaitan Proses Belajar dan Pembelajaran ...9

4. Pengertian Model Partisipatif (Participatife Teacing and Learning)...9

x

(9)

5. Kemampuan Menulis ...11

6. Pengertian Karangan Narasi...20

B. Kerangka Pikir ...26

C. Hipotesis Penelitian...27

BAB III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian...28

B. Desain Penelitian...29

C. Subjek dan Objek Penelitian ...31

D. Instrumen Penelitian ...32

E. Teknik Pengumpulan Data ...36

F. Teknik Analisis Data...37

G. Indikator Keberhasilan ...39

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ...40

1. Kondisi Awal...40

2. Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas Siklus I ...42

3. Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas Siklus II ...51

B. Pembahasan ...59

1. Hasil Tindakan Siklus I...59

2. Hasil Tindakan Siklus II ...60

3. Keberhasilan proses peningkatan keterampilan menulis karangan narasidengan menggunakan model partisipatif (participative teaching and learning) ...62

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ...64

B. Saran ...64

DAFRAT PUSTAKA ...66

xi

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Kisi-Kisi Penilaian Karangan Narasi...33 Tabel 1.2 Kriteria Rubrik Penilaian Karangan Narasi ...33 Tabel 1.3 Lembar Observasi Selama Proses Pembelajaran Menulis

Karangan Narasi ...35 Tabel 1.4 Kategori Keberhasilan ...38 Tabel 1.5 Nilai Menulis Karangan Narasi Kelas V SDN 01 Bonepute

Bentuk pada Kondisi Awal atau Pratindakan ...41 Tabel 1.6 Nilai Siklus I Siswa Kelas V SDN 01 Bonepute ...47 Tabel 1.7 Perbandingan Nilai yang Diperoleh Pada Kondisi Awal Dengan

Siklus I ...47 Tabel 1.8 Nilai Siklus II Siswa Kelas V SDN 01 Bonepute ...55 Tabel 1.9 Perbandingan Nilai yang Diperoleh pada Siklus I dan Siklus II. 56

xii

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Kerangka Pikir ...26 Gambar 1.2 Model Kammi dan Taggart ...30 Gambar 1.3 Peningkatan Nilai Rata-rata pada Kondisi Awal dan Siklus I..48 Gambar 1.4 Peningkatan Presentase Pencapaian Kriteria Ketuntasan pada

Kondisi Awal dan Siklus I ...49 Gambar 1.5 Peningkatan Nilai Rata-rata pada Kondisi Awal, Siklus I dan

Siklus II ...57 Gambar 1.6 Peningkatan Presentase Pencapaian Kriteria Ketuntasan pada

Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II ...58

xiii

(12)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pembelajaran bahasa Indonesia di SD merupakan bagian utama dari sistem pemajuan instruktif yang direncanakan untuk menjadikan SDM yang memiliki kemampuan bahasa yang ideal. Selain itu, pembelajaran bahasa Indonesia pada saat ini sedang mengembangkan kemampuan siswa untuk memberikan bahasa Indonesia sebagai cara benar dan akurat, baik secara lisan maupun tertulis pada bentuk apresiasi, serta menumbuhkan semangat membuat karya tulis manusia Indonesia (Depdiknas, 2006:13).

Pembelajaran bahasa Indonesia dipelajari bagi siswa disekolah, sebab pengajaran bahasa akan menjadi penemuan bahwa berusaha memperoleh kemampuan berbicara baik secara lisan maupun terekam dalam bentuk. Hal ini cenderung terlihat bahwa pembelajaran bahasa Indonesia mengandung upaya-upaya yang dapat lebih mengembangkan kemampuan berbahasa. Berbakat dalam bahasa menyiratkan bahwa peserta didik cukup diberkahi dalam sejumlah sudut yang terdapat pada pengajaran bahasa Indonesia, lebih tepatnya, kemampuan mendengarkan. “listening skill”, kemampuan berbicara “speaking skill”, kemampuan membaca “reading skill” dan kemampuan menulis “writing skill”. Tahap-tahap kemampuan tersebut iayalah tahap yang saling mengait satu dan yang lain.

Pengajaran bahasa Indonesia memiliki sejumlah kemampuan yang lebih persuasif terhadap kemajuan peserta didik, satu diantaranya iyalah dalam bahasa Indonesia berguna sebagai perangkat berinteraksi, yang dapat saja memengaruhi

1

(13)

peningkatan siswa sejauh informasi dan kemampuan bahasa, sehingga siswa dapat berinteraksi dan menyesuaikan diri. efektif untuk iklim sosial mereka. Kemampuan berbahasa ada empat tahap, yakni “keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis”. Menyimak dan membaca adalah tahap reseptif, selagi berbicara dan menulis adalah tahap produktif. Dalam aktivitas berbicara, si pengirim pesan mengirimkan pesan dengan memakai perkataan lisan. Selagi meperhatikan si penerima pesan upaya menyampaiakan arti terhadap perkataan lisan yang disampaikan sipenyampainya.

Kemampuan perkataan bermakana dalam melakukan percakapan korespondensi di mata publik. Banyak yang melanjutkan dalam kegiatan publik yang prestasinya tergantung, selain hal-hal lain, kemampuan yang adil dan merata, misalnya sebagai menajar, jaksa, instruktur, penyiar, kolumnis dan lain-lain. (Yeti Mulyati, 1.8)

Keahlian menulis sangat mungkin merupakan kemampuan bahasa utama yang diajarkan kepada siswa. Dengan cara ini, kemampuan mengarang harus diterapkan sejak awal. Keahlian mengarang adalah suatu kemampuan percakapan yang dapat dimanfaatkan agar menyampaikan dengan tidak langsung. Kemampuan mengarang dapat diartikan sebagai keahlian yang susah dari keempat kemampuan bahasa lainnya, karena untuk situasi ini dibutuhkan kemampuan dalam perspektif.

Kemampuan mengarang cerita sudah dihadirkan sejak siswa duduk di bangku

sekolah dasar. Penguasaan kemampuan menyusun makalah cerita tidak secara efektif

didapatkan oleh siswa. Menguasai kemampuan menyusun kertas akun membutuhkan

banyak pelatihan dan eksperimen. Sesuai dengan ini, mengarang harus dibarengi

(14)

dengan praktik yang akan "menyeluruh" dalam mencapai otoritas kemampuan ini (Zainurrahman, 2011:2).

Penelitian pendahuluan atau hasil observasi awal yang dilakukan pada tanggal 17 Februari 2021 terhadap guru kelas V SD Negeri 01 Bonepute dalam meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi. Dilacak bahwa kemampuan menulis siswa masih rendah dengan skor normal kulminasi masih di bawah langkah-langkah yang ditentukan, khususnya 75. Siswa tergolong rendah dari aspek keterampilan menulis isi gagasa, organisasi isi, struktur tatabahasa, diksi, ejaan dan tanda baca. Hal ini disebabkan guru tidak melibatkan siswa untuk berpartisipasi secara langsung, bahkan guru mengajar menulis karangan narasi dengan memberikan tema, pokok bahasan, atau poin tertentu, seperti cetak biru yang harus disusun. Pengajar tidak memberikan kesempatan muridnya berpikir untuk mencari topik sendiri, bahkan ada beberapa pendidik yang mengarahkan siswa untuk mengarang dengan mengarang tanpa hambatan. Dengan ketuntasan nilai rata-rata 75 sedangkan hasil belajar menulis normal 60. Itu karena siswa tidak terbiasa dengan itu dan tidak diberikan kesempatan oleh guru untuk berpartisipasi dan berpikir tentang meteri yang dipelajarai.

Salah satu penyelesaian yang tepat agar mengatasi permasalahan ini iayalah

dengan menetukan model pembelajaran yang tepat, model pembelajaran yang tepat

dapat mencapai tujuan pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang

diujucobakan adalah model partisipatif (participative teaching and learning) adalah

model pembelajaran yang mengikutsertakan siswa secara efektif dalam menyusun,

melaksanakan, dan menilai pembelajaran. Dengan pembelajaran semacam ini, siswa

akan lebih dikuatkan untuk berpikir dan memahami arti penting penalaran.

(15)

B. Rumusan Masalah

Mengingat, perincian masalah maka penyelidikan ini adalah. “Bagaimanakah penerapan model partisipatif (participative teaching and learning) untuk menigkatkan keterampilan menulis karangan narsi pada siswa kelas V SDN 01 Bonepute?”

C. Tujuan Penelitian

Mengingat rencana masalah, penelitian ini bermaksud agar meningkatkan kemampuan mengarang narasi dengan menggunakan model partisipatif “participative teaching and learning” pada siswa kelas V SDN 01 Bonepute.

D. Manfaat Penelitian

Eksplorasi dalam menyusun karangan narasi diandalkan memiliki keuntungan teoritis dan layak, sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasana pengembangan pengetahuan khususnya dalam hal pembelajaran menulis karangan narasi ditingkat SD selain itu, dapat menjadi acuan baru dalam pembelajaran guna memenuhi pengusaan kemampuan mencatat karangan narasi dengan menggunakan model partisipatif.

2. Manfaat Praktis

Untuk semua maksud dan tujuan keuntungan yang akan didapat dari pencarian ini

dipisahkan menjadi beberapa bagian, lebih spesifiknya:

(16)

a. Manfaat untuk pengajar

Melalui penelitian ini, dapat memberikan alternative pemilihan model pemebelajaran dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan narasi.

b. Manfaat untuk peserta didik

Bagi peserta didik, penjelajahan ini dapat dimanfaatkan sebagai cara untuk mempermudah peserta didik dalam menyusun karangan narasi dan memberikan pengalaman baru serta dapat menumbuhkan minat belajar siswa.

c. Manfaat untuk peneliti

Agar meningkatkan dan menambah pemahaman tentang kemajuan

keterampilam membuat karangan narasi dengan menggunakan model

partisipatif.

(17)

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori

1. Penelitian yang Relevan

Penelitian mengenai keterampilan menulis karangan narasi dan mmodel partisipatif (participative teaching and learning) telah banyak dilakukan. Banyak sekali contoh penelitian terdahulu yang dapat peneliti jadikan sebagai contoh ataupun sebagai acuan untuk menyelesaikan proposal ini. Berikut ini adalah hasil penelitian yang relevan yang peneliti gunakan sebagai acuan:

a. Vida Savira dalam skripsinya yang berjudul “Peningkatan Keterampilan Menulis Narasi Melalui Model Pembeajaran Picture and Picture pada Siswa Kelas III SDN Mangkang Kulon 02”.

b. Yuliana Dwi Astuti dalam skripsinya yang berjudul “Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan Narasi Menggunakan Model Experiental Learning pada Siswa Kelas Iv Sdn Bangunjiwo Bantul”.

Peneliti menggunakan kedua skripsi tersebut sebagai acuan, untuk mendapat gambaran mengenai keterampilan menulis narasi. Peneliti melihat gambaran mengenai materi keterampilan menulis narasi, skripsi tersebut kemudian dijadikan sebagai acuan pada peneliti. Adapun persamaan dari judul penelitian ini dengan judul peneliti adalah sama-sama membahas mengenai keterampilan menulis narasi.

Perbedaan dari penelitian terdahulu atau penelitian relevan terletak pada menggunaan model, peneliti sediri menggunakan model partisipatif

6

(18)

(participative teaching and learning) untuk diterapkan pada siswa kelas V SDN 01 Bonepute. Dan peneliti tidak menemukan kesamaan sehingga perlu landasan penelitian yang relevan atau penelitian terdahuli.

2. Pengertian Belajar dan Pembelajaran

Sebagai aturan, belajar adalah pekerjaan yang diharapkan untuk mendominasi atau mengumpulkan berbagai informasi. Informasi ini diperoleh dari seseorang yang lebih tahu atau yang sekarang dikenal sebagai pengajar atau sumber lain karena pendidik bukanlah sumber belajar tunggal. Dalam pembelajaran, informasi ini dikumpulkan secara bertahap hingga menjadi satu ton. Sesuai penelitian otak, belajar adalah penyesuaian perilaku pada individu yang cukup tahan lama karena sebuah pertemuan (Hayati, 2017:1).

Menurut Edward Walter belajar adalah perubahan tingkah laku akibat pengelaman dan latihan. Belajar adalah suatu proses yang terus menerus, agar terjadi perubahan perilaku. Proses ini bersifat aktif dan diharapkan menjadi bekal yang permanen. Respon dari belajar merupakan alat untuk mengukur kemampuan keberhasilan sesorang.

Sedangkan menurut Morgan, belajar merupakan perubahan tingkah laku karena hasil pengalaman, sehingga memungkinkan sesorang menghadapi situasi selanjutnya dengan cara yang berbeda-beda.

Belajar pada hakikatnya merupakan proses kognitif yang mendapat

dukungan dari fungsi rana pisikomotor. Fungsi pisikomotor dalam hal ini

meliputi: mendengar, melihat, mengucapkan. Apapun manifestasi belajar yang

dilakukan siswa (Kurniawan, 2014:4).

(19)

Dari pengertian belajara maka penulis menyipulkan bahwa belajar merupakan kegiatan yang dilakukan secara sehingga terjadinya perubahan tingkah laku karena hasil pengalaman sehingga seseorang dapat berubah dengan cara yang berbeda-beda.

Secara bahasa pembelajaran merupakan terjemahan dari kata instruction (Inggris). Kata pembelajaran itu sendiri memiliki variasai pemaknaan. Meskipun demikian, dari variasi pemaknaan kata pembelajaran kebanyakan menunjuk pada upaya untuk membelajarkan siswa.

Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses interaksi antara guru dengan siswa, baik interaksi secara langsun seperti kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu dengan menggunakan berbagai media pembelajaran. Didasari oleh adanya perbedaan interaksi tersebut, maka kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai pola pembelajaran.

Pembelajaran atau instruktion merupakan interaksi belajar, khususnya

sistem pembelajaran yang ditunjukkan dengan rencana. Komponen kesengajaan

dari pihak di luar orang yang melakukan sistem pembelajaran merupakan atribut

fundamental dari ide bimbingan. Sistem tayangan ini bersifat objektif terfokus

atau suatu ukuran tayangan terkoordinasi objektif yang dari berbagai sudut

pandang dapat diatur sebelumnya. Karena konsep siklus, sistem pembelajaran

yang terjadi adalah proses perubahan perilaku dalam menghadapi, yang sebagian

besar direncanakan. (Hayati, 2017:2).

(20)

3. Kaitan Proses Belajar dan Pembelajaran

Karena pembelajaran dan belajar ibarat dua sisi dari satu mata uang (Sukmadinata, 2000), maka upaya pembelajaran tidak bisa dilepaskan dari prinsip belajar individu itu sendiri. Artinya proses pembelajaran yang dilakukan atau dirancang oleh seseorang (guru atau pengembangan program pembelajaran) harus sejalan dengan bagaimana belajar itu terjadi.

Tentu, ada beberapa teori belajar yang menjelaskan tentang bagaimana belajar itu terjadi. Namun tidak banyak yang menjelaskan bagaimana proses pembelajaran semestinya disesuaikan dengan bagaimana proses belajar. Upaya mengkonsistenkan antara upaya pembelajaran dengan teori belajar telah dilakukan oleh Gagne.

4. Pengertian Model Partisipatif (Participative Teaching and Learning) Model pembelajaran menurut Trianto (2010:51), mengemukakan bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajran di kelas atau pembelajaran tutorial.

Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.

Model pembelajaran partisipatif (participative teaching and learning)

merupakan model pembelajaran yang efektif mengikutsertakan siswa dalam

menyusun, melaksanakan, dan menilai pembelajaran. Pembelajaran partisipatif

dapat diartikan sebagai suatu cara atau cara bagi guru untuk mengikutsertakan

siswa dalam latihan-latihan pembelajaran yang meliputi tiga tahap, yaitu tahap

(21)

penyusunan, pelaksanaan program dan penilaian program.Pembelajaran partisipatif adalah upaya pendidik untuk mengikut sertakan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran partisipatif mengandung arti ikitsertaan peserta didik di dalam program pembelajaran, yang diwujudkan dalam tahapan kegiatan pembelajaran, yaitu perencanaan program (program planing) pelaksanaan program (program implementation) dan penilaian (evaluation) kegiatan pembelajaran.

Dari konsep pembelajaran, model pembelajaran dapat didefinisikan sebagai prosedur atau pola sistematis yang digunakan sebagai pedoman untuk mencapai tujuan pembelajaran di dalamnya terdapat strategi, teknik, metode, bahan, media dan alat penilaian pembelajaran. Ketiga tahap-tahap dapat diperjelas sebagai berikut:

a. Tahap Penyusunan (Perencanaan Program)

Keterlibatan peserta didik dalam kegiatan mengidentifikasi kebutuhan belajar, permasalahan, sumber-sumber atau potensi yang tersedia dan kemungkinan hambatan dalam pembelajaran.

b. Tahap Implementasi Program (Program Implementasi)

Keterlibatan peserta didik dalam menciptakan iklim yang kondusif untuk belajar. Di mana salah satu iklim yang kondusif untuk kegiatan belajar adalah pembinaan hubungan antara peserta didik, dengan pendidik, sehingga tercipta hubungan kemanusiaan yang terbuka, akrab, terarah, saling menghargai, saling membantu dan saling belajar.

c. Tahap Evaluasi Program (Program Evaluation)

(22)

Perkumpulan peserta didik dalam pelaksanaan pembelajaran dan untuk program pembelajaran. evaluasi pelaksanaan pembelajaran diidentikkan dengan siklus, hasil dan pengaruh pembelajaran.

Model pembelajaran partisipatif menekankan pada proses pembelajaran, di mana kegiatan belajar dalam pelatihan dibagun atas dasar partisipasi aktif peserta didik dalam semua aspek kegiatan, melalui dari kegiatan merencanakan, melaksanakan, sampai pada saat menilai kegiatan pembelajaran.

5. Keterampilan Menulis

Istilah kemampuan memiliki banyak makna. Kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan. Charles E, Jhonson, Broke dan Stone menjelaskan bahwa kemampuan merupakan gambaran hakekat kualitatif dan suatu perilaku tenaga pendidikan, kemampuan merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan (Syukur Hak. 2019:58).

Munirah (2015:153) mengemukakan keterampilan menulis memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sering digunakan dalam menyatakan gagasan atau pikirannya dengan tulisan atau karangan.

Kemampuan mengarang pada dasarnya bukan sekedar kemampuan untuk

menyusun gambar-gambar realistik sebagai kata-kata, dan kata-kata dapat disusun

menjadi kalimat-kalimat yang ditunjukkan oleh pedoman-pedoman tertentu,

namun kemampuan mengarang adalah kemampuan untuk mengosongkan

pertimbangan-pertimbangan ke dalam bahasa yang tersusun melalui kalimat-

(23)

kalimat yang terkumpul secara total, lengkap, dan cara yang jelas. sehingga pemikiran dapat disampaikan kepada pengguna secara efektif.

Pada kurikulum 2013, pembelajaran bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan menalar. Paradigma pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 diorientasikan pada pembelajaran berbasis teks. Pada pemebelajaran berbasis teks ini, siswa dituntut agar mampu mengesperikan didrinya melalui menulis.

Dalam kurikulum 2013, menulis termasuk pada rana keterampilan.

Keterampilan menulis memiliki fungsi dan peranan dalam mengembangkan aspek kongnitif siswa yang berhubungan dengan daya kreasi, analisis dan imajinasi. Hal tersebut relevan dengan visi pemerintah.

a. Hakikat Menulis

Seorang penulis harus mempunyai pengetahuan, wawasan, agama, serba- serbi kehidupan dan kecakapan menulis yang akan disungguhkan kepada khalayak pembaca. Dengan demikian, pembaca dapat menemukan kebutuhan wawasan yang dapat membantu kelancaran dalam kehidupannya secara nyaman dan enak didengar (Munirah, 2015:01).

Menulis atau membuat adalah memilah-milah pikiran ke dalam

pengaturan yang masuk akal. Menulis juga dapat diartikan sebagai

demonstrasi melakukan renungan dan perasaan. Sementara itu, Tarigan, yang

mengacu pada perspektif Lado, mengungkapkan bahwa mengarang adalah

menyusun gambar-gambar realistis yang menggambarkan suatu bahasa yang

dilihat oleh seseorang sehingga orang lain dapat menggunakan gambar-

(24)

gambar realistis tersebut.Menulis juga dapat diartikan sebagai salah satu keterampilan berbahasa yang dipergunakan dalam komunikasi secara tidak langsung. Keterampilan menulis tidak didapat secara alamiah, tetapi harus melalui proses belajardan berlatih. Berdasarkan sifatnya, menulis juga merupakan keterampilan berbahasa yang produktif.

Menulis adalah kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan.

Dapat juga diartikan bahwa menulis adalah berkomunikasi mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendak kepada orang lain secara tertulis, (Suriamiharja, 1996:2).

Komponen yang direkam sebagai dasarnya sampai pada empat sudut pandang, khususnya 1) rencana untuk disampaikan sebagai tema masalah, 2) menyusun perspektif sebagai jenis artikel, sebagai gaya bagaimana menyusun makalah akun, penggambaran, pertentangan, pengaruh atau bekerja agar pembaca dapat memproses komposisi mereka, 3) bagian menggabungkan antar bagian dengan tujuan agar percakapan tidak tercakup, dan 4) bagian memilih ekspresi dan gaya bahasa yang tepat (Munirah, 2015:01).

Dicatat sebagai kegiatan mencatat, penulis harus berbakat dalam memanfaatkan grafologi, jargon, struktur kalimat, kemajuan bagian dan bahasa (Wagiran dan Doyin, 2005:2). Intisari menyusun cerita dapat digambarkan sebagai berikut:

1) Arti Menulis

Menurut Jago Taringan (1995:117) menulis berarti mengekspresikan

secara tertulis gagasa, ide, pendapat atau pikiran dan perasaan. Sarana

(25)

mewujudkan hal itu adalah bahasa. Isi ekspresi melalui bahasa itu akan dimengerti orang lain atau pembaca bila dituangkan dalam bahasa yang teratur, sistematis, sederhana, dan mudah dimengerti (Elina, 2009:5).

2) Tahapan Menulis

Tindakan mengarang adalah gerakan soliter dalam hal apa yang dikomposisikan adalah kertas pendek yang lugas dan bahannya disiapkan di kepala. Padahal, mengarang adalah sebuah siklus, khususnya siklus kreatif. Seperti yang dikemukakan oleh (Kristiantari, 2011:104) ada beberapa tahapan dalam mengarang, antara lain:

a) Tahap pengaturan

Pada tahap ini siswa memilih topik, mengumpulkan pemikiran, memilih struktur yang sesuai, sehingga mereka tahu apa yang harus ditulis dan bagaimana rasanya.

b) Tahap Induk

Pada tahap ini siswa mulai mempertimbangkan secara matang pemikiran yang muncul, disingkirkan, dan peluang yang tepat untuk merekamnya. Ketika kesempatan untuk menyusun pikiran atau pikiran muncul, maka pada saat itu semua itu akan mengalir begitu cepat dan mudah.

c) Tahap Motivasi

Pada tahap ini siswa dipersiapkan untuk memunculkan pemikiran atau

pemikiran dan ada dorongan yang kuat untuk mengarang dengan cepat

agar tidak bisa ditunda lagi.Tahap Penulisan

(26)

Pada tahap ini siswa telah menuangkan gagasan atau ide dalam bentuk tulisan sesuai dengan yang direncanakan.

d) Tahap Revisi

Pada tahap ini, siswa memperbaiki komposisi yang kasar dengan menghilangkan dan menambahkan yang ditunjukkan dengan apresiasi dan informasi dari komentar yang diberikan oleh teman dan instruktur.

Siswa merevisi komposisi mereka dengan baik, dan mendistribusikan tulisan mereka dalam struktur yang tepat dan menawarkannya dengan teman sekolah mereka. Pada tahap ini penyusunan terakhir dipandang mendekati struktur optimalnya.

b. Tujuan Menulis

Hugo Hartig (Hipple, 1973: 309-311) mengemukakan alasan menulis sebagai berikut:

1) Alasan Tugas (“assigment purpose”)

Penulis tidak memiliki alasan untuk apa yang dia tulis. Dia tenang karena dia mendapat tugas tidak sendiri.

2) Tujuan Altruistik “altruistic purpose”

Penulis bermaksud menggunakan pengguna melalui komposisinya.

3) Tujuan Persuasif “persuasive purpose”

Penulis bermaksud untuk mempengaruhi pembaca sehingga pembaca akan menjadi kenyataan dari pemikiran atau pemikiran penulis.

4) Tujuan Informasi “informational purpose creative purpose”

(27)

Penulis mengomunikasikan pemikiran atau pemikiran yang sepenuhnya bermaksud memberikan data atau data kepada pengguna.

5) Tujuan Ekspresi Diri (Self-Statement Goals)

Penulis mencoba untuk memperkenalkan atau mengungkap dirinya dengan teliti.

6) Sasaran Kreatif “creative purpose”

Penulis menunjuk agar pembaca dapat memiliki kualitas kreatif atau imajinatif dengan membaca komposisi penulis.

7) Tujuan Pemecahan Masalah “problem solving purpose”

Pencipta mencoba untuk mengatasi masalah saat ini (Khaltsum, 2019:78-79).

c. Teknik Pembelajaran Menulis

Kejernihan paling penting untuk hampir semua eksposisi, terutama artikel nyata. Setiap pembaca akademis menyukai eksposisi yang digunakan dan diklarifikasi dengan jelas. Sebuah artikel kabur, berbelit-belit, dan redup yang dimaksudkan untuk melelahkan pembaca dan melatih jiwanya. Berikutnya adalah atribut dari artikel yang tidak salah lagi.

1) Mudah; jelas dan mudah dipahami oleh pengguna. Setiap individu yang menyukai eksposisi yang dapat dijangkau dengan mudah.

2) Sederhana; karangan yang jelas tidak berusaha terlalu keras dengan kalimat dan kata-kata. Semakin tidak sulit, semakin eksposisi dapat menggambarkan sesuatu yang jelas di otak pengguna.

3) Langsung; karangan langsung ketika menyampaikan perhatian utama.

(28)

4) Benar; sebuah karangan yang tidak salah lagi dapat dengan tepat menggambarkan pemikiran yang terdapat dalam pikiran penulis (Elina Syarif, 2009:9).

Kemampuan menulis memang membutuhkan banyak perspektif, namun kemampuan ini bagaimanapun harus diberikan di kelas dasar.

Kemampuan menulis harus dikuasai, karena kemampuan ini merupakan bagian penting dari pembelajaran bahasa dan akan bermanfaat bagi siswa.

Sesuai (Sharif, 2009:6) latihan kemampuan yang tersusun sebagian besar dapat dipisahkan menjadi empat fase, untuk lebih spesifiknya:

1) Salin “Copying”

Kegiatan menyalintulisan merupakan kegiatan menulis yang biasanya dilakukan pada kelas rendah yaitu kelas 1 yang baru belajar menulis kalimat. Kegiatan ini dapat berupa kegiatan siswa menyalin langsung sebuah kalimat yang sudah disediakan oleh guru.

2) Penulisan Terpandu “Guided Writing”

Teknik menulis secara terbimbing dapat berupa wacana atau dialog pendek dengan bebrapakata yang sengaja dihilangkan. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara mendektekan sebagai kalimat, dan siswa diminta untuk melengkapi dengan kata-kata mereka sendiri.

3) Menyusun Kalimat “Subsititution Writing”

Dapat berupa menulis kalimat atau berbicara sekali lagi, namun ada

beberapa bagian yang digantikan dengan hal-hal serupa tergantung pada

keadaan sebenarnya.

(29)

4) Menulis Bebas “Free Writing”

Tindakan ini merupakan tindakan yang membutuhkan dominasi kata dan bahasa yang memadai. Pendidik dapat memberikan model yang tersusun atau penggambaran suatu tema yang mungkin menjadi objek penting bagi siswa.

5) Manfaat Menyusun

Menulis bermanfaat dalam memudahkan siswa untuk berpikir, membantu kita dengan intuisi secara mendasar, membuatnya lebih mudah bagi kita untuk merasakan dan menghargai koneksi, memperluas daya tanggap atau wawasan kita, menangani masalah yang kita hadapi dan merancang pengaturan untuk pertemuan dan dapat membantu kita dengan klarifikasi perenungan. kami. Sedangkan menurut Santosa (2008:6.14) penyusunan dilakukan untuk menyampaikan sebuah artikel.

Menurut penilaian di atas, cenderung beralasan bahwa manfaat

mengarang adalah memudahkan kita untuk berpikir secara mendasar,

mengembangkan daya tanggap atau ketajaman kita, membantu

memperjelas substansi perenungan kita dan dapat menyelidiki informasi

dan pengalaman sehingga kita dapat memperluas sudut pandang kita

seperti berikut:Lebih mengenali kemampuan dan potensi diri yang ada

dalam masing- masing individu. Mampu mengembangkan berbagai

gagasan secara tertulis.

(30)

1) Memaksa kita untuk mencerna lebih banyak, mencari dan mendapatkan data yang sesuai dengan poin yang disusun. Dapat mengatur pikiran dengan sengaja dan mengekspresikannya dengan tegas.

2) Bersedia untuk mensurvei dan mengevaluasi dengan lebih hati-hati akan membantu menangani masalah, lebih tepatnya dengan membedah secara tegas, dalam pengaturan yang lebih substansial.

3) Tugas menguraikan suatu hal yang mendorong kita untuk beradaptasi secara efektif dalam menemukan dan menangani masalah.

4) Latihan menulis yang terencana akan membuat kita berpikir dan berbicara dengan sengaja. Kegiatan menulis dapat memperluas daya cipta, sepanjang garis ini, selama waktu yang dihabiskan kemampuan menulis, beberapa bagian dari evaluasi sedang berlangsung.

6) Bentuk-bentuk Menulis

Berdasarkan sifat dan teknik penyajiannya, dikenal empat jenis menulis yaitu:

a) Eksposisi (Paparan)

Syafi’ie (1990:160) menyatakan bahwa eksposisi adalah wacana berusaha atau menjelaskan pokok pikiran yang dapat memperluas pengetahuan pembaca.

b) Deskripsi atau Lukisan

(31)

Sebagaimana dikemukakan oleh Syafi'ie (1990:156), khususnya karangan yang menggambarkan sesuatu sesuai kenyataan, sehingga pengguna dapat melihat, mendengar, mencium, dan merasakan) apa yang digubah sesuai dengan gambaran penciptanya.

c) Argumen atau Dalihan

Supriyadi (1992:244) menyatakan bahwa pertikaian adalah sejenis pembicaraan atau karangan yang memberikan model dan bukti yang kokoh serta berdampak pada sudut pandang, pemikiran, mentalitas, dan keyakinan pengguna dan pencipta, sehingga mereka akan bertindak sesuai keinginan pencipta.

d) Narasi atau Cerita

Supriyadi (1992: 242) menyatakan bahwa account talk adalah perkembangan ekspresi yang menceritakan atau menyajikan suatu peristiwa melalui karakter atau penghibur dengan informasi yang luas, anggota audiens atau pengguna.

6. Pengertian Karangan Narasi

Selama ini, jika akan mengarang biasanya yang pertama kali harus

ditentukan adalah tema. Tema dianggap sebagai sesuatu yang yang paling sentral

dalam urusan karang mengarang, sedangkan topik umumnya dibicarakan

kemudian. (Mohamad Yunus dkk 2007:5.1). Jika seseorang akan mengarang, ia

terlebih dahulu harus memilih dan menetapkan topik karangannya (Mohamad

Yunus dkk 2007:5.3).

(32)

Karangan yang disebut narasi disebut dalam menyajikan kesempatan.

Eksposisi ini berusaha untuk menarik suatu peristiwa yang ditunjukkan dengan permintaan peristiwa (sequential), bertekad untuk menawarkan signifikansi pada suatu peristiwa. Sehingga pengguna dapat mengambil kelihaian dari cerita tersebut (Suparno dan Yunus, 2009:4.31).

Dalam istilah sederhana, narasi dikenal sebagai cerita. Dalam cerita terdapat peristiwa-peristiwa atau peristiwa-peristiwa dalam suatu susunan waktu.

Dalam kejadian itu ada juga tokoh-tokoh yang menghadapi pertikaian. Yang ketiga bukan karena peristiwa, karakter, dan bentrokan adalah komponen utama dari sebuah cerita. Jika ketiganya tidak disatukan, yang ketiga tidak dikenal sebagai plot atau plot. Menurut garis ini, akun adalah cerita yang diceritakan tergantung pada plot atau plot.

Cerita adalah jenis diskusi atau karangan yang bertujuan untuk menyampaikan atau menceritakan peristiwa atau pertemuan manusia yang bergantung pada kemajuan sesekali (Semi, 2003: 29). Cerita adalah jenis pembicaraan yang tampak menggambarkan sejelas yang dapat dibayangkan oleh pengguna tentang suatu peristiwa yang telah terjadi (Keraf, 2000: 136). Dari dua implikasi menurut Atarsemi dan Keraf. Kita dapat menyadari bahwa cerita tersebut mencoba menjawab siklus yang terjadi tentang pengalaman atau peristiwa manusia dan dijelaskan secara mendalam tergantung pada perbaikan dalam jangka panjang.

Narasi adalah sebuah artikel yang umumnya dihubungkan dengan sebuah

cerita. Dengan cara ini, eksposisi cerita atau bagian akun harus ditemukan dalam

(33)

buku. Kisah singkat atau petualangan (Zaenal Arifin dan Amran Tasai, 2002:

130). Akun adalah cerita yang menggambarkan peristiwa suatu peristiwa, baik peristiwa asli maupun peristiwa anekdot (Rusyana, 1982: 2).

Seperti yang ditunjukkan oleh Keraf (2010:136) artikel akun adalah jenis pembicaraan yang tujuan utamanya adalah tidak ada tanduk yang dijalin dan dikumpulkan menjadi suatu peristiwa yang terjadi dalam satu kesatuan waktu.

Eksposisi akun adalah artikel yang mencoba menceritakan peristiwa berdasarkan pengelompokan peristiwa.

Dari pendapat-pendapat di atas, dapat diketahui ada beberapa hal yang berkaitan dengan narasi. Hal tersebut meliputi: 1) berbentuk cerita atau kisahan, 2) meninjolkan pelaku, 3) menurut perkembangan dari waktu-kewaktu, 4) disusun secara sistematis.

Pesan cerita adalah sebuah karya tulis yang menyajikan peristiwa dan disusun secara berurutan sesuai dengan permintaan waktu. Peristiwa itu bisa benar-benar terjadi, tapi bisa juga hanya mimpi. Secara garis besar, eksposisi atau teks cerita dibuat sepenuhnya dengan maksud untuk melibatkan pengguna dengan perjumpaan yang penuh cita rasa melalui cerita dan cerita, baik fiksi maupun nyata (Rusmilawati, 2020: 4).

Contoh teks cerita adalah cerita pendek, buku, dan cerita bermanfaat.

Cerita motivasi adalah teks yang berisi perjuangan hidup seseorang untuk mempengaruhi orang lain, sehingga mereka mengikutiny

a. Langkah-langkah Menulis Karangan Narasi

(34)

1) Temukan dan putuskan sebelumnya subjek dan pesan yang perlu Anda sampaikan.

2) Menentukan kelompok kepentingan yang dituju.

3) Buat pengaturan sehubungan dengan headliners sebagai aliran seperti yang ditunjukkan oleh rencana yang ingin Anda tampilkan.

4) Susunlah pengelompokan peristiwa menjadi beberapa bagian: prinsip pembukaan pergantian peristiwa dan akhir cerita.

5) Buatlah seluk-beluk dan klarifikasi dari headliners secara mendalam untuk diisi sebagai bantuan untuk cerita.

6) Rencana skema karakter, karakter, plot, setting dan perspektif.

7) Memahami banyak cara menggunakan setiap kalimat dalam cerita.

b. Kualitas Penulisan Narasi

Kualitas karya tulis cerita adalah sebagai cerita yang menggambarkan seseorang atau peristiwa sehingga dapat membingkai plot yang ada, seperti yang ditunjukkan oleh (Keraf, 2000:136) ciri-ciri cerita adalah sebagai berikut:

1) Menyoroti kegiatan atau kegiatan, diatur dalam permintaan waktu.

2) Mencoba menanggapi pertanyaan, apa yang terjadi.

3) Ada pengaturan. Akun dikerjakan dengan alur cerita. Plot ini tidak akan dibayangkan jika tidak ada konfigurasi. Terlepas dari alur cerita, desain dalam permintaan kronologis, ciri-ciri narasi lebih lengkapa lagi diungkapkan oleh (Semi, 2003:31) sebagai berikut:

a) Dalam jenis cerita tentang peristiwa atau pertemuan pencipta.

(35)

b) Peristiwa atau peristiwa yang disampaikan sebagai peristiwa yang nyata, dapat berupa pikiran kreatif yang sederhana atau campuran keduanya.

c) Berdasarkan konfik, karena tanpa konfik biasanya akun tersebut bukan fantasi.

d) Memiliki nilai gaya.

e) Menekan permintaan secara berurutan.

Kualitas yang dibuat oleh Keraf memiliki kemiripan dengan Atar Semi, yaitu akun tersebut memiliki atribut berisi cerita, setting waktu dan memiliki konfiks. Yang penting, Keraf cenderung ke atribut yang menampilkan pelakunya.

c. Tujuan Penulisan Karangan Narasi Dasar

Alasan mengarang pada hakikatnya adalah sebuah karya untuk memberikan data yang tepat yang diidentikkan dengan sebuah jalan cerita, sebagaimana (Keraf, 2010:136) motivasi di balik pembuatan sebuah akun dapat digambarkan sebagai berikut:

1) Untuk memberikan data atau pemahaman dan informasi, untuk memberikan pengalaman yang bergaya kepada pengguna.

2) Langkah-langkah membuat karangan narasi.

3) Menentukan topik dan pesan yang akan disampaikan kepada

pembaca tujuan kita, merencanakan headliners yang akan

ditampilkan sebagai plot konspirasi untuk headliners menjadi awal,

perbaikan, dan akhir cerita.

(36)

d. Jenis-Jenis Penulisan Narasi

Eksposisi akun adalah jenis cerita tentang suatu masalah. Macam- macam eksposisi cerita seperti yang ditunjukkan oleh (Suparno dan Muhammad Yunus, 2007:111) dapat digambarkan secara lengkap sebagai berikut:

1) Narasi Ekopositori (Narasi Teknis). Penjelasan adalah cerita yang memiliki tujuan untuk menyampaikan data yang tepat tentang suatu peristiwa yang sepenuhnya bertujuan untuk memperluas informasi tentang cerita seseorang. Dalam cerita penjelasan, penulis esai menceritakan suatu peristiwa tergantung pada informasi asli.

Pelakunya yang ditampilkan biasanya satu individu. Pelaku yang diinformasikan mulai dari masa remaja sampai saat ini atau sampai menjelang akhir hayatnya. Artikel akun ini diperkenalkan oleh sepotong, sehingga pengaturan komposisi, pengaturan karya tambahan berlaku untuk komposisi cerita informatif. Pengaturan ini diidentikkan dengan penggunaan bahasa yang diperhitungkan, mengingat realitas saat ini, tidak termasuk komponen yang menarik atau target.

2) Narasi Sugestif. Cerita yang menarik adalah akun yang mencoba

memberikan alasan tertentu, menyampaikan pesan rahasia kepada

pengguna atau anggota audiens sehingga mungkin mereka

melihatnya.

(37)

B. Kerangka Pikir

Kemampuan menulis merupakan kegiatan menggali sebuah ide, gagasan

serta pikiran atau perasaan secara untuh, dengan memperhatikan tahap-tahap yang

dituangkan dalam bentuk tulisan yang lengkap dan jelas sehingga dapat

dikomunikasikan kepada pembaca dengan baik. Agar keterampilan dapat

berkembang, maka diperlukan ada suatu model pembelajaran yang dapat membantu

siswa dalam meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi.Dalam persepsi

yang dapat dibuat oleh para ilmuwan, struktur intuisi dalam eksplorasi kegiatan wali

kelas ini dapat digambarkan melalui grafik berikut:

(38)

C. Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya harus uji secara empiris (Dodiet Aditya Setyawan, 2014:2). Hipotesis tindakan ini dirumuskan sebagai berikut: “Jika, diterapkan model partisipatif

“participative teaching and learning” dapat menumbuhkan kemampuan menulis

karangan narasi pada sisiwa kelas V SDN 01 Bonepu.

(39)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Penelitian adalah suatu penyelidikan terorganisasi, atau penyelidikan yang waspada dan kritis dalam mencari fakta untuk menentukan sesuatu (Sandu Siyoto, 2015:1). mencari adalah interpretasi dari eksplorasi bahasa Inggris. Pemeriksaan berasal dari kata re, yang bermaksud mengembalikan dan mencari yang bermaksud mencari. Selanjutnya, pentingnya eksplorasi yang sebenarnya adalah melihat sekali lagi, melihat berulang-ulang (Mahmud, 2008:19).

Jenis penelitian yang dugunakan adalah penelitian tindakan kelas (clasroom action research). Dari namanya sudah menunjukkan isi yang terkandung didalamnya, yaitu sebuah kegiatan penelitian yang dilakukan di kelas. Pengertian penelitian tindakan adalah penelitian yang bertujuan untuk mengambarkan terampilan- keterampilan baru, stra tegi baru atau pendekatan baru untuk memcahkan suatu masalah dengan penerapan langsung di dunia kerja atau dunia actual yang lain (Suryabrata, 1983).

Penelitian kegiatan kelas berencana untuk mempengaruhi semua anggota dan mengubah keadaan di mana penelitian diarahkan untuk mencapai peningkatan pelatihan tanpa henti. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (2006: 3), penelitian kegiatan ruang belajar adalah persepsi latihan-latihan pembelajaran sebagai suatu kegiatan, yang sengaja dimunculkan dan dimunculkan di dalam kelas bersama-sama.

Ada dua perhatian utama dalam eksplorasi dan komitmen aktivitas restoratif.

Ini akan mengoordinasikan target investigasi kegiatan ke tiga wilayah: 1) untuk lebih

28

(40)

mengembangkan praktik; 2) untuk perkembangan profesional dalam pengertian memperluas pemahaman para peneliti yang dilaksanakannya; 3) untuk memajukan kondisi atau keadaan di mana pelatihan dilakukan.

Manfaat penelitian tindakan kelas ataupun (clasroom action research) adalah untuk meningkatkan dan memperbaiki praktik pembelajaran yang dilakukan seorang guru. Adapun manfaat utama di balik penelitian tindakan kelas adalah untuk mengatasi masalah tindakan yang terjadi di ruang kelas serta untuk menemukan jawaban logis tentang mengapa hal itu dapat menyelesaikan tindakan yang akan dilakukan. Secara lebih rinci, tujuan PTK antara lain:

a. Menambahkan pada sifat isi, info, interaksi, dan konsekuensi dari instruksi dan pembelajaran di sekolah.

b. Membantu para pendidik dan tenaga kependidikan lainnya dalam mengelola pembelajaran dan masalah- masalah instruktif di dalam dan di luar ruang belajar.

c. Menambahkan disposisi ahli instruktur dan staf sekolah.

d. Mewujudkan budaya keilmuan di lingkungan sekolah dalam rangka mewujudkan sikap proaktif dalam menggarap sifat pengajaran/pembelajaran pada premis yang berkesinambungan (Muhammad Djajadi, 2019:4).

B. Desain Penelitian

Untuk mencapai penelitian sesuai dengan yang diharapkan, maka desain

dalam penelitian ini menggunakan model spiral Kammi dan Taggar (Arikonto,

2006:93) seperti yang tampak pada gambar dibawa ini:

(41)

Sketsa.1.2. Model Kemmi dan McTaggart

Penelitian ini dilakasanakan dalam bentuk siklus, setiap siklus terdiri dari perencanaan, tindakan dan observasi.

1. Perencanaan

Tahap penerapan dimulai dari penemuan masalah kemudian merancang tindakan yang akan dilakukan. Secara lebih rinci langkah-langkanya adalah sebagai berikut.

a. Desain melihat kondisi siswa pada waktu observasi, peneliti menentukan

masalah penelitian dan tindakan untuk mengatasi masalah tersebut. Masalah

yang dipilih adalah meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi siswa

kelas V. tindakan yang dilakukan adalah menggunakan model partisipatif

(participtife teacing and learning) pada pembelajaran menulis karangan narasi

siswa kelas V.

(42)

b. Peneliti menyiapkan instrumen penilaian, mulai dari rencana pelaksanaan tindakan (RPP), partisipatif (participtife teacing and learning), lembar observasi, alat dokumentasi dan lembar penilaian karangan narasi.

2. Pelaksanaan Tindakan dan Observasi

Pada tahap ini peneliti melaksanakan tindakan yang sidah direncanakan sebelumnya. Namun dalam pelaksanaan nanti bisa jadi tidak sepenuhnya terlaksana sesuai dengan perencanaan. Jadi, tindakan bersifat dinamis dan fleksibel dengan segala perubahan yang mungkin terjadi didalam kelas.

Persepsi atau persepsi adalah kegiatan persepsi persepsi. Persepsi terhadap jalannya kegiatan yang sedang dilaksanakan untuk mendokumentasikan dampak dari kegiatan yang diterapkan di kemudian hari dan memberikan premis untuk latihan refleksi yang lebih mendasar. Observasi dapat diartikan sebagai suatu tindakan terhadap suatu siklus atau artikel yang ditentukan untuk merasakan dan memahami informasi tentang suatu keajaiban yang bergantung pada informasi yang baru diketahui dan pemikiran untuk memperoleh data yang diharapkan untuk dilanjutkan dengan suatu eksplorasi.

3. Refleksi

Refleksi bertujuan untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dan menjadi bahan pertimbangan untuk melakukan siklus berikutnya C. Subjek dan Objek Penelitian

1. Subjek Penelitian

Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 01 Bonepute Kecamatan

Larompong Selatan Kabupaten Luwu, dengan masalah yang harus dicari adalah

(43)

keahlian menulis cerita atau karangan narasi. Jumlah mutlak siswa yang dijadikan subjek dalam penelitian ini adalah 20 siswa, yang terdiri dari 10 putera dan 10 puteri.

2. Objek Penelitian

Mengambil objek penelitian ini termasuk cara paling umum untuk belajar bagaimana menulis dan mendapatkan manfaat dari menulis karangan narasi menggunakan model partisipatif (participatife teacing and learning) pada siswa kelas V SDN 01 Bonepute Kecamatan Larompong Selatan Kabupaten Luwu.

D. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian instruktif, metode yang terlibat dengan pengumpulan informasi adalah sesuatu yang penting. Informasi yang dikumpulkan secara tegas diidentifikasikan dengan fenomena, yang merupakan titik fokus eksplorasi. Informasi ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan, sesuai dengan tujuan penelitian dan untuk menguji spekulasi yang telah dibuat dirumuskan (Wiersma, 1986).

Instrumrn eksplorasi yang digunakan dalam ujian ini adalah uji coba penyusunan karangan narasi peserta didik. Soal tes digunakan untuk mengukur kemampuan menulis karangan narasi. Instrument ini dipilih karena penelitian pemeriksaan ini dipilih dengan alasan bahwa penyelidikan ini berpusat pada hasil setelah kegiatan, khususnya peningkatan kemampuan menulis karangan narasi dengan menggunakan model partisipatif (participatife teacing and learning).

Arman Halim (Burhan Nurgiantoro, 2001:306) mengungkapkan Komponen

yang dinilai dalam karangan adalah isi (substansi pemikiran yang dikemukakan),

struktur (asosiasi isi), tanda baca (desain sintaksis dan kalimat), (gaya: keputusan

(44)

struktur kosakata), dan mekanik (ejaan).Aspek-aspek penilaian dalam mencatat karangan oleh Ahmad Rofi’udin dan Darmiyati Zuhdi (1998/1999: 273) adalah dibawa ini.

Tabel 1.1: Kisi-kisi Penilaian Karangan Narasi

No. Aspek yang dinilai Skor Maksimal

1. Isi gagasan yang dikemukakan 30

2. Organisasi isi 25

3. Struktur tatabahasa 20

4. Gaya: pilihan struktur dan diksi 15

5. Ejaan dan tanda baca 10

Jumlah 100

Berdasarkan aspek penilaian pada tabel 1 tersebut di atas, maka rubrik penilaian karangan deskripsi pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

Tabel 1.2: Kriteria Rubrik Penilaian Karangan Narasi

Aspek Kriteria Rentang Skor

Isi gagasan

Sangat baik: pada informasi, substansif, pengembangan tesis tuntas, relevan dengan permasalahan tuntas

27-30 Cukup baik: informasi cukup, substansi cukup,

pengembangan tesis terbatas, relevan dengan masalah tapi tidak lengkap

22-26 Sedang: informasi terbatas, substansi kurang,

pengembangan tesis tidak cukup, permasalahan tidak cukup

17-21 Kurang: tidak berisi, tidak ada substansi, tidak

ada pengembangan tesis, tdak ada permasalahan 13-16 Organisasi

Isi

Sangat baik: ekspresi lancar, gagasan diungkapkan dengan jelas, padat, tertata dengan baik, urutan logis, kohesif

18-20

(45)

Cukup baik: kurang lancar, kurang terorganisir tetapi ide utama terlihat, bean pendukung terbatas,urutan logis tetapi tidak lengkap

14-17 Sedang: tidak lancar, gagasan kacau, terpotong-

potong,urutan dan pengembangan tidak logis 10-13 Sangat kurang, tidak komunikatif, tidak

terorganisir, tidak layak nilai 7-9

Struktur tata bahasa

Sangat Baik: pemanfaatan potensi kata baik, pilihan kata dan ungkapan tepat, mengeuasai pembentukan kata.

18-20 Cukup Baik: pemanfaatan potensi kata cukup,

pilihan kata dan ungkapan kata kadan kurang tepat tapi tidak terlalu menganggu.

14-17 Sedang: pemanfaatan potensi kata terbatas,

serung terjadi kesalahan penggunaan kosakata dan dapat merusak makna.

10-13 Sangat kurang: pemanfaatan potensi kata asal-

asalan, pengetahuan tentang kosakata rendah, dan tidak layak nilai.

7-9

Gaya:

piliahan struktur dan

diksi

Sangat baik: konstruksi kompleks dan efektif, hanya sedikit terjadi kesalahan penggunaan bentuk kebahasaan.

22-25 Cukup baik: kontruksi sederhana tetapi masih

efektif, kesalahan kecil pada konstruki kompleks, terjadi sejumlah kesalahan kebahasaan tetapi makna tidak kabur.

18-21

Sedang: terjadi kesalahan serius dalam konstruksi kalimat, makan membingungkan atau kabur.

11-17 Kurang: tidak menetahui aturan sintaksis,

terdapat banyak kesalahan bahasa, tidak komunikatif dan tidak layak nilai.

5-10

Ejaan dan tanda baca

Sangat baik: menguasai aturan penulisan, hanya

terdapat beberapa kesalahan ejaan. 5 Cukup: kadang-kadang terjadi kesalahan ejaan

tetapi tidak mengaburkan makna. 4

Sedang: sering terjadi kesalahan ejaan, dan

makna membingungkan atau kabur. 3

(46)

Kurang: tidak mengetahui aturan penulisan, terdapat banyak kesalahan ejaan, tulisan tidak terbaca, dan tidak layak nilai.

2

Jumlah Total 35-100

Ringkasan instrument lembar latihan yang dugunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 1.3: Lembar Latihan Selama Proses Pembelajaran Menulis Karangan Narasi

Indikator Komponen yang diamati Data

Ya Tidak

Partisipasi belajar siswa

dalam pembelajaran

1. Perhatian peserta didik pada saat guru menjelaskan.

2. Peserta didik mengajukan pertanyaan jika belum jelas.

3. Jawab pertanyaan yang diajukan oleh pendidik.

4. Mengerjakan tugas tentang menulis karangan narasi secara tuntas.

5. Ikut serta dalam diskuksi kelas.

6. Siswa mampu bekerjasama dengan teman sekelompoknya dengan baik.

7. Siswa mampu menyelesaikan soal avaluasi yang diberikan guru.

8. Menyimpulkan materi pembelajaran.

Tabel 1.3 merupakan tabel lembar obsevasi yang digunakan sebagai tujuan

untuk melihat latihan peserta didik selama sistem pembelajaran untuk menulis

karangan narasi. Selain peserta didik, analis juga memperhatikan latihan instruktur

selama sistem pembelajaran menulis karangan narasi. Spesialis memperhatikan

latihan peserta didik dan instruktur selama eksplorasi, mulai dari siklus utama hingga

akhir kegiatan, khususnya siklus berikutnya. Ia berencana untuk menemukan dan

menggambarkan keadaan penemuan yang terjadi sekitar saat itu. Tabel berikut

menunjukkan lembar persepsi tindakan instruktur selama sistem pembelajaran.

(47)

E. Teknik Pengumpulan Data

Dalam suatu penelitian, pengumpulan informasi adalah pergerakan yang signifikan, karena tanpa informasi itu tidak akan berhasil. Metode pengumpulan informasi yang dilakukan oleh pendidik seperti pada saat kegiatan interaksi.

Informasi dikumpulkan dengan menggunakan metode yang berbeda, khususnya observasi, wawancara, jajak pendapat, jurnal, akun, dan lain-lain (Muhammad Djajadi, 2019:41).

Data dalam penelitian ini dikumpulkan oleh peneliti melalui obsevasi dokumentasi dan penilaian karangan.

1. Tes

Tes merupakan alat penduga informasi penting dalam suatu pemeriksaan. Tes adalah alat untuk mengumpulkan informasi prestasi siswa. Tes menulis bertujuan untuk mengukur sejauh mana kemampuan siswa menulis karangan. Arikunto (2007:129) menyatakan bahwa tes adalah cara yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa, salah satunya adalah tes tertulis. Tes tertulis menjadi tolak ukut keberhasilan tindakan yang dilakukan peneliti.

2. Obsevasi

Dalam mengatur penelitian instruktur harus merancang latihan persepsi.

Persepsi merupakan gerakan persepsi saat melakukan latihan PTK. Teknik persepsi dilakukan dengan cara ilmuwan memperhatikan setiap tindakan yang terjadi dan mencatat pada lembar persepsi untuk memperhatikan latihan yang dilakukan pendidik dan siswa selama pelaksanaan kegiatan.

3. Dokumentasi

(48)

Dokumentasi merupakan informasi yang penting bagi peneliti. Dokumentasi yang dimaksudkan adalah semua catatan harian siswa, guru, kepala sekolah yang berhubungan dengan penelitian. Dokumentasi untuk dipakai dalam penelitian dadalah foto-foto siswa pada saat aktivitas tidakan.

F. Teknik Analisis Data

Teknik Penyelidikan informasi yang digunakan dalam penelitian ini tidak diragukan lagi baik secara kuantitatif maupun subjektif. Penyelidikan subjektif digunakan untuk memecah efek samping dari informasi observasional. Investigasi informasi kuantitatif digunakan untuk memecah informasi hasil tes untuk pekerjaan siswa. Ujian ini digunakan untuk mempertimbangkan nilai siswa selama siklus tersebut jika ada peningkatan. Informasi tes tentang jumlah pameran dikumpulkan untuk memastikan setiap skor dan distribusikan ke dalam tabel pencapaian nilai yang signifikan.

Informasi tes presentasi yang telah dikumpulkan kemudian ditentukan skor dari setiap siswa. Skor adalah skor pemain pengganti. Setelah memperoleh nilai siswa, tahap selanjutnya adalah menentukan kelas normal. Resep biasa adalah sebagai berikut.

∑ Data:

X = Rata-rata (mean)

∑x = Jumlah skor

N = Jumlah siswa

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan gambaran penyakit malaria pada penderita rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Bitung periode Januari 2008 sampai

mahasiswa dari berbagai universitas di sekitar Surakarta. Mereka sangat prihatin dengan kondisi jalanan yang penuh anak jalanan yang seharusnya mereka pergi ke sekolah

Depot Utama Kupang mendapat 100% pasokan premium, kerosene, solar dari Kilang Balikpapan, supply ini cukup memenuhi demand yang dibutuhkan oleh wilayah sub area Kupang yang

Lampiran 15 Lokasi penangkapan, parameter oseanografi, dan hasil tangkapan ikan di DPI II Peralihan Musim Barat Timur (PMBT).. Lokasi Penangkapan

Air terikat primer ini merupakan bagian dari padatan karena air ini diabsorpsi pada sisi aktif bagian polar padatan (Al Muhtaseb dkk., 2002).Menurut Furmaniak dkk., (2009), model

Penelitian menunjukkan bahwa mangga bacang ( Mangifera foetida L. ) dan lidah buaya ( Aloe vera L.) merupakan tanaman yang mengandung metabolit sekunder bersifat

Di samping Pancasila sebagai dasar filsafat Negara, yang berdasarkan tinjauan material, Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat juga berfungsi sebagai filsafat hidup

IPTEK perikanan tangkap Wilayah perairan Indonesia yang teridentifikasi potensi produksi, karakteristik, kebutuhan konservasi SDI nya serta jumlah inovasi teknologi dan