• Tidak ada hasil yang ditemukan

Recover Together, Recover Stronger:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Recover Together, Recover Stronger:"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR

Recover Together, Recover Stronger:

Kajian Isu-Isu Prioritas untuk

Presidensi G20 Indonesia Tahun 2022

Laporan Akhir ini merupakan hasil kerja sama SDGs Hub Universitas Indonesia dengan Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Multilateral, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan, Kementerian Luar Negeri RI untuk mendukung usulan Isu-Isu Prioritas

Presidensi G20 Indonesia Tahun 2022

Jakarta, Agustus 2021

Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri

2021

(2)

LAPORAN AKHIR

Recover Together, Recover Stronger:

Kajian Isu-Isu Prioritas untuk Presidensi G20 Indonesia Tahun 2022

Laporan Akhir ini merupakan hasil kerja sama SDGs Hub Universitas Indonesia dengan Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Multilateral, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan, Kementerian Luar Negeri RI untuk mendukung usulan Isu-Isu Prioritas Presidensi G20 Indonesia Tahun 2022.

Pengarah dan Penanggungjawab

Siswo Pramono

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan

Penyunting

Rio Budi Rahmanto

Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Multilateral, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan

Disusun oleh

Tim SDGs Hub UI : Nurul Isnaeni, Ph.D., Shofwan Al-Banna Choiruzzad, Ph.D., Asra Virgianita, Ph.D., Dr. Triarko Nurlambang, M.A., Radhe Ayu Dewi Amerta Ratih, S.Sos., Devina Ayona, S.Sos., Lutfi Kurniawan, S.Sos., Fadelia Deby Subandi, S.Psi., Naifah Uzlah Istya Putri

Didukung oleh

Tim Kajian Mandiri Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Multilateral, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan, Kementerian Luar Negeri RI: Rio Budi Rahmanto, Perry Pada, Hardiyono Kurniawan, Dhani Eko Wibowo, Rahmawati Wulandari, Hudzaifah Abdullah, Handayani Lintang Purwaning Ayu

Tata Letak dan Desain oleh

Hanna Khairunnisa

Diterbitkan oleh

Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Jl. Taman Pejambon No.6

Jakarta Pusat 10110

Tel. (021) 384 9810 ext. 7709 Faks. (021) 386 1385

Surel: [email protected]

ISBN : 978-602-51358-9-7

Hak Cipta dilindungi oleh Undang-undang

Pendapat maupun pandangan yang disampaikan dalam tulisan dan presentasi yang ada di dalam

kajian ini tidak mewakili pandangan maupun kebijakan Kementerian Luar Negeri Republik

Indonesia

(3)

KATA PENGANTAR

Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pernah menegaskan bahwa nasionalisme Indonesia itu tumbuh di taman internasionalisme. Artinya, upaya mewujudkan kepentingan nasional Indonesia senantiasa harus selaras dengan upaya menciptakan ketertiban dunia. Sebaliknya, ketertiban dunia akan menghadirkan kondisi yang memungkinkan perwujudan kepentingan nasional. Dalam konteks inilah, Presidensi G20 Indonesia di tahun 2022 mendatang merupakan sebuah kesempatan sekaligus tantangan yang harus dijawab dengan baik. Berbagai permasalahan global yang terus hadir, apalagi dengan munculnya pandemi COVID-19 yang masih terus berlangsung sejauh ini dengan segala implikasinya dalam berbagai sektor kehidupan, menuntut solusi kolektif yang berbasis pada prinsip multilateralisme, inklusivitas, inovasi dan keberkelanjutan. Oleh karena itu, dengan mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger”, Presidensi G20 Indonesia menjadi signifikan dalam upaya menciptakan sebuah tatanan dan kerja sama global yang lebih solid, terutama untuk menjawab tantangan akibat pandemi dan demi tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) 2030.

Suatu kehormatan tersendiri, bahwa sebagai anggota komunitas akademis, Kami dapat turut berpartisipasi dalam sebuah ikhtiar yang dapat memberikan kontribusi penting dalam penunaian cita-cita dan harapan bangsa tersebut. Melalui kajian tentang“Isu-Isu Prioritas Presidensi G20 Indonesia 2022”, diharapkan Indonesia dapat menetapkan key deliverables yang mendukung langkah kepemimpinan global yang transformatif di forum G20. Dengan kesadaran atas makna strategis Presidensi G20 Indonesia ini, dan berkat rahmat Allah SWT Yang Maha Kuasa, kajian ini akhirnya dapat kami tuntaskan di tengah berbagai tantangan di era pandemi ini.

Kajian ini diselenggarakan atas kerja sama antara SDGs Hub UI dan Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Multilateral, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (P3KM BPPK Kemenlu). Kajian yang dilaksanakan selama tiga bulan (Mei - Juli 2021) ini telah melibatkan berbagai pihak dalam proses pelaksanaannya. Dokumen laporan ini beserta dengan empat issue notes tentang sejumlah key deliverables dari isu-isu prioritas yang menjadi tawaran Presidensi G20 Indonesia, adalah hasil akhir dari kajian ini.

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kami ingin menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan kesempatan, kepercayaan, serta berbagai dukungan yang konstruktif sehingga proses penelitian dan penyusunan hasil kajian ini dapat berjalan dengan lancar, dinamis dan menghasilkan output sesuai dengan yang direncanakan. Perkenankan berikut ini secara khusus kami sampaikan ucapan terima kasih kepada:

v Kepala BPPK Kemenlu RI, Dr. Siswo Pramono, L.LM. atas kesempatan dan dukungan yang diberikan.

v Kepala P3K Multilateral BPPK Kemenlu, Rio Budi Rahmanto, Ph.D. serta seluruh mitra kerja yang san- gat koperatif: Bapak Perry Pada, Bapak Hardiyono Kurniawan, Bapak Dhani Eko Wibowo, Ibu Rahmawati Wulandari, Bapak Hudzaifah Abdullah, Ibu Handayani Lintang Purwaning Ayu. Terima kasih atas berbagai fasilitasi dan masukan konstruktifnya.

v Direktur Eksekutif SDGs Hub UI, Dr. Triarko Herlambang, MA., dan Program Manager SDGs Hub UI, Fadelia Deby Subandi, S.Psi., serta seluruh tim kerja dari Sekretariat SDGs Hub UI atas dukungan dan kerja sama yang diberikan.

v Direktur UN G20 sous-Sherpa dan Direktur Pembiayaan Sustainable Development Goals (SDGs) UN DESA,

Mr. Navid Hanif dan seluruh staf ahli UN DESA yang menjadi narasumber dalam Virtual Consultation

Meeting pada 4 Juni dan 11 Juni 2021.

(4)

v Direktur dan Pendiri the G7 Research Group dan the G20 Research Group, Prof. John James Kirton, Ph.D.

dari Munk School of Global Affairs and Public Policy, University of Toronto, Kanada, beserta Anggota Tim Riset, yang telah berbagi gagasan, pandangan dan informasi dalam Virtual Consultation Meeting pada 17 Juni 2021.

v Para narasumber dari kalangan akademisi: Prof. Jatna Supriatna, M.Sc., Ph.D. (FMIPA UI), Mia Siscawati, Ph.D. (SKSG UI), Hendricus Andy Simarmata, S.T., M.Si., Ph.D. (FT UI) dan Yulius Purwadi, Ph.D. (Depar- temen Hubungan Internasional Unversitas Parahyangan), yang telah berbagi gagasan, informasi dan pendapat dalam Virtual Focused Group Discussion pada 12 Juli 2021.

v Para narasumber dari kalangan masyarakat sipil (NGO/LSM): Bapak Sugeng Bahagijo (International NGO Forum on Indonesian Development- INFID), Ibu Diah Saminarsih (Center for Indonesia Strategic Devel- opment Initiatives – CISDI), Bapak Dandi Rafitrandi (Center for Strategic and International Studies – CSIS), yang telah berbagi gagasan, pandangan dan informasi dalam Virtual Focused Group Discussion pada 13 Juli 2021.

v Para narasumber dari kalangan bisnis/pengusaha: Bapak David Makes (Sustainable Management Group) dan Ibu Maria Dian Nurani (Social Responsibility KADIN 2015-2021) yang telah berbagi pemikiran, pan- dangan dan pengalaman dalam Virtual Focused Group Discussion pada 19 Juli 2021.

v Para narasumber dari kalangan kementerian/lembaga: Bapak Iman Santosa (Direktur Hubungan Antar Lembaga, Kemenparekraf RI), Ir. Muhammad Arif Hidayat, M.Eng., MPP. (Kepala Biro Kerja Sama Luar Neg- eri, Kemenaker RI), Bapak M. Zahrul Muttaqin (Kepala Bagian Kerja Sama Multilateral, KLHK RI), Bapak Andreano Erwin dan Bapak Ferdinand (Biro Kerja Sama Luar Negeri, Kemenkes RI), Ibu Wiwien Apriliani (Koordinator Kerja Sama Pendanaan Multilateral PBB dan Global, BAPPENAS), yang telah berbagi pe- mikiran, pandangan dan informasi kebijakan dalam Virtual Focused Group Discussion pada 28 Juli 2021.

v Para anggota Tim Kerja yang kami banggakan: Radhe Ayu Dewi Amerta Ratih, S. Sos., Devina Ayona, S.

Sos., Lutfi Kurniawan, S. Sos., dan Naifah Uzlah Istya Putri. Terima kasih atas segala dukungan riset dan fasilitasi teknisnya yang penuh komitmen dan dedikasi.

Akhir kata, semoga hasil kerja-kerja bersama ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, khususnya untuk mereka yang berkepentingan dalam proses pengambilan kebijakan maupun untuk keperluan riset selanjutnya. Mohon maaf bila terdapat kekurangan ataupun keterbatasan. Sepenuhnya laporan ini menjadi tanggung jawab Tim Penyusun. Selamat membaca!

Depok, Agustus 2021

Tim Riset SDGs HUB UI

(5)

RINGKASAN EKSEKUTIF

Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan dunia yang semakin dinamis, Indonesia mendapatkan peluang untuk memenuhi amanat konstitusi melalui kebijakan luar negeri dan peran aktif dalam kepemimpinan global. Pada tahun 2022, Indonesia dipercaya untuk memegang Presidensi G20, sebuah forum kerja sama multilateral berpengaruh yang beranggotakan 19 negara dan Uni Eropa. Sebagai sebuah forum yang anggotanya menyumbang 90% Produk Domestik Bruto (PDB) dunia, 80% perdagangan dunia, dua pertiga populasi dunia, dan separuh luas lahan yang ada di bumi, G20 merupakan platform strategis bagi Indonesia untuk

“ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”

sebagaimana disebutkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Tentang Kajian Ini

Kajian yang merupakan kerja sama antara SDGs-Hub Universitas Indonesia dan Pusat P2K Multilateral Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi dan memberikan gambaran yang utuh, menyeluruh, dan dapat diandalkan mengenai isu-isu prioritas yang dapat diajukan dalam Presidensi G20 Indonesia. Kajian dilaksanakan melalui empat langkah berikut: (1) Identifikasi dan analisis konteks global yang relevan; (2) telaah dokumen dari agenda G20 pada dua presidensi sebelumnya; (3) eksplorasi data dari berbagai sumber; dan (4) konsultasi dan diskusi dengan berbagai pemangku kepentingan dari kalangan pemerintah, organisasi internasional, akademisi, dan masyarakat sipil serta kelompok bisnis.

Konteks Global: Kekuatan Transformatif

Kajian ini menggunakan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals – SDGs) 2030 sebagai kerangka utama dalam mengidentifikasi berbagai permasalahan dan perkembangan global yang hadir. Selain itu, kajian ini mengidentifikasi empat fenomena global yang perlu diperhatikan sebagai konteks yang membingkai relevansi isu-isu prioritas Indonesia, yaitu (1) pandemi global COVID-19, (2) transformasi digital, (3) urbanisasi global yang cepat, dan (4) tata kelola global. Empat fenomena ini dapat disebut sebagai kekuatan-kekuatan transformatif yang sangat mempengaruhi dinamika pertumbuhan ekonomi global dan pembangunan internasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Peta Permasalahan Global

Berdasarkan analisis terhadap empat kekuatan transformatif tersebut dan keterkaitannya dengan upaya mewujudkan TPB/SDGs, kajian ini kemudian mengidentifikasi tujuh masalah global utama yang harus dipahami secara komprehensif untuk menyusun prioritas dan strategi Indonesia dalam menjalankan Presidensi G20. Ketujuh isu global tersebut adalah:

1. Kesehatan Publik

Beberapa fitur yang penting dari isu ini adalah:(a) pandemi COVID-19 masih menjadi tantangan;

(b) ketimpangan dari produksi dan distribusi vaksin; (c) masalah kesehatan publik dunia

bukan hanya COVID-19. Terdapat cukup banyak penyakit, baik yang bersifat menular,

maupun tidak menular yang masih menjadi ancaman masyarakat dunia, khususnya di

banyak negara berkembang akibat berbagai hambatan dan keterbatasan dari aspek SDM,

infrastruktur dan sistem tata kelola kesehatan. Dunia pun kini menghadapi tantangan baru

dengan potensi perkembangan anti-microbial resistance (AMR) dan kemungkinan terjadinya

pandemi baru di kemudian hari.

(6)

2. Kemiskinan

Terkait isu kemiskinan, dua poin yang penting adalah: (a) sebelum pandemi, angka kemiskinan masih jauh di bawah target pencapaian TPB/SDGs; (b) kemunculan pandemi COVID-19 ikut berdampak peningkatan angka kemiskinan. Secara total, angka kemiskinan ekstrem di tahun 2020 bertambah sebanyak 88 juta-115 juta jiwa dan meningkat sebanyak 150 juta jiwa di tahun 2021. Seiring berjalannya pandemi, proyeksi itu diperkirakan naik hingga 119-124 juta (Lakner et al, 2021).

3. Ketenagakerjaan dan Pendidikan

Mengenai isu ini, tercatat bahwa: (a) sebelum pandemi, angka ketenagakerjaan, khususnya bagi pemuda, sudah menunjukkan tren menurun; (b) kondisi ini menjadi semakin parah seiring pandemi, karena sejumlah sektor penyerap tenaga kerja terkena dampaknya secara signifikan, diantaranya adalah pariwisata dan UMKM.

4. Pangan dan Malnutrisi

Dalam konteks isu global pangan dan malnutrisi, ada tiga tren utama yang patut dicatat sebagai berikut. (a) Ketahanan pangan dunia cenderung memburuk. Terdapat 272 juta orang yang sudah atau berisiko berstatus rawan pangan (World Bank, 2021). (b) Terdapat potret kontradiktif dari situasi kerawanan pangan, karena pada saat yang bersamaan dunia menyaksikan kecenderungan meningkatnya limbah makanan (food waste and loss). Rata- rata limbah makanan setiap tahunnya adalah sebesar 931 juta ton yang berasal dari tiga jenis sumber limbah, yaitu 569 juta ton limbah makanan berasal dari rumah tangga, 244 juta ton berasal dari layanan makanan, dan 118 juta ton berasal dari bisnis ritel (UNEP, 2021). (c) Produktivitas sektor pertanian yang berkelanjutan menjadi salah satu solusi, namun secara global penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian terus menurun dari 43% pada 1991 menjadi 26% pada 2019 (World Bank, 2021) yang mengindikasikan potensi terjadinya krisis regenerasi petani dunia.

5. Kesetaraan Gender

Isu ini menunjukkan dua potret besar, yaitu (a) ketimpangan gender masih terlihat nyata di hampir semua bidang kehidupan – ekonomi, kesehatan, pendidikan, politik, sosial budaya, sumber daya alam – khususnya di negara-negara berkembang; (b) pandemi global COVID-19 memperparah ketimpangan gender ini; (c) upaya kesetaraan gender memerlukan kebijakan institusional yang bersifat afirmatif.

6. Perubahan Iklim

Terdapat dua fakta penting tentang isu ini: yakni (a) pemanasan global itu nyata, dengan

dampak yang bersifat katostrofik yang sudah bisa kita rasakan; (b) tanpa upaya yang bersifat

sistematis, global, dan berkeadilan, sulit mencegah kenaikan suhu Bumi melewati ambang

batas 1,5 derajat pada 2100.

(7)

7. Tata Kelola Ekonomi Global

Ada sejumlah poin sentral terkait isu ini: (a) perlambatan ekonomi global menjadi tantangan yang harus dihadapi bahkan sebelum pandemi, dan menjadi semakin parah karena pandemi;

(b) pentingnya peningkatan peran negara berkembang dalam rantai nilai global, dengan nilai tambah yang dapat dinikmati oleh negara berkembang; (c) pariwisata adalah sektor penting yang perlu mendapatkan perhatian karena kontribusinya yang besar pada perekonomian dan ketenagakerjaan serta potensi dampak sosial dan ekologisnya; (d) pentingnya memanfaatkan potensi ekonomi digital, termasuk dengan mengatasi kesenjangan digital antar negara maupun di dalam negara; (e) keberlanjutan dan inklusivitas perekonomian global harus menjadi prinsip yang melandasi tata kelola ekonomi global ke depan.

Isu-Isu Prioritas Presidensi G20 Indonesia: Lima Prioritas

Berdasarkan analisis terhadap masalah-masalah global dan keterkaitan di antara beragam masalah tersebut, di bawah tema besar “Recover Together, Recover Stronger” , isu-isu prioritas Presidensi G20 Indonesia dikemas ke dalam skema lima prioritas, mencakup:

Hasil kajian terhadap isu-isu prioritas tersebut menunjukkan bahwa isu-isu tersebut pada dasarnya dihadapi oleh banyak negara di seluruh dunia, termasuk sebagian negara-negara anggota G20. Isu-isu tersebut juga memperlihatkan adanya kelanjutan (continuity) dari isu-isu prioritas dalam presidensi G20 sebelumnya, yang mengindikasikan bahwa G20 belum sepenuhnya mampu mengatasi permasalahan global yang dengan efektif sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan utama G20.

Prioritas (1): Mempromosikan Produktivitas (Promoting Productivity), mencakup sektor pemuda dan ketenagakerjaan, pertanian, ekonomi digital, pendidikan vokasi, pemberdayaan perempuan;

Prioritas (2): Meningkatkan Ketahanan dan Stabilitas (Increasing Resiliency and Stability), terdiri dari isu ketahanan pangan, kesejahteraan masyarakat, perlindungan sosial, ketahanan energi, perlindungan lingkungan hidup;

Prioritas (3): Menjamin Pertumbuhan yang Berkelanjutan dan Inklusif (Ensuring Sustainable and Inclusive Growth), meliputi isu pengentasan kemiskinan, penghapusan ketimpangan, penerapan pertumbuhan hijau dan biru; pariwisata, serta perdagangan-industri, investasi dan inklusi keuangan;

Prioritas (4): Iklim dan Kemitraan yang Memungkinkan (Enabling Environment and Partnership);

terdiri dari isu tata kelola pemerintahan yang baik dan anti korupsi, mata rantai nilai global (global value chains), kemitraan multipihak, pembiayaanTPB/SDGs; dan

Prioritas (5): Menguatkan Kepemimpinan Kolektif Global (Forging Collective Global Leadership),

untuk mengefektifkan penanganan krisis COVID-19 dan memperkuat sistem perdagangan

multilateral yang terbuka dan adil.

(8)

Besarnya cakupan isu-isu prioritas tersebut mencerminkan tantangan yang berat bagi kepemimpinan Indonesia. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya tantangan ini bukan saja berasal dari konteks global, terutama kehadiran pandemi COVID-19 yang telah melumpuhkan perekonomian dunia, tetapi juga dikarenakan karakter permasalahan yang kompleks dan saling keterkaitan (cross-cutting) di antara berbagai sektor atau isu kunci (key issue) di setiap prioritas, yang bersifat multidimensional dan multilevel.

Selain itu, tantangan hadir dari perkembangan faktual terkini dari situasi dan kondisi Indonesia di level domestik, antara lain terkait stabilitas politik, isu vaksin dan vaksinasi, tingkat pertumbuhan ekonomi yang fluktuatif, kondisi utang luar negeri yang semakin tinggi, serta meningkatnya angka kemiskinan dan tingkat pengangguran akibat terdampak COVID-19 dengan segala implikasi sosialnya.

Dari kesimpulan umum tersebut, menjadi penting bagi Indonesia untuk menetapkan skala prioritas atau key deliverables serta strategi atau pendekatan yang tepat. Langkah-langkah Indonesia harus terukur dengan pertimbangan modalitas, kapasitas, kapabilitas, dan prioritas untuk dapat memainkan peran kepemimpinan yang efektif dan transformatif. Terlepas dari besarnya tantangan yang akan dihadapi oleh Indonesia, berbagai pamangku kepentingan, termasuk dari kalangan masyarakat sipil, memberikan dorongan sekaligus menaruh optimisme atas peran kepemimpinan Indonesia.

Rekomendasi

Rekomendasi ini disusun dengan merujuk dari hasil kajian isu-isu prioritas dengan latar belakang karakter permasalahan global yang kompleks, dinamis dan saling terkait, serta adanya misi untuk menjembatani tiga level kepentingan sekaligus, yakni kepentingan nasional Indonesia, kepentingan G20 serta kepentingan global. Dalam konteks kepentingan nasional, rekomendasi ini juga mempertimbangkan relevansinya dengan berbagai prioritas kepentingan sektoral kementerian/kelembagaan yang tercermin dalam aspirasi setiap working group. Rekomendasi ini juga memperhatikan urgensi bagi Indonesia untuk memerankan kepempimpinan transformatif yang tidak sekedar membawa dunia melewati tantangan pandemi COVID-19 tetapi juga meletakkan dasar-dasar kebijakan yang fundamental untuk menuju pembangunan internasional yang inklusif, berkeadilan dan berkelanjutan sesuai dengan visi TPB/SDGs 2030. Berikut ini adalah pokok- pokok rekomendasi yang dapat dibawa dalam Presidensi G20 Indonesia yang disusun berdasarkan skala prioritas (key deliverables):

1. Mendorong langkah konkrit (call to action) untuk memperkuat tata kelola kesehatan dunia yang berbasis pada prinsip konstitusional WHO, yaitu: hak asasi manusia, kesehatan komprehensif (fisik dan mental), dan peran sentral negara dalam memimpin kemitraan strategis dari semua pemangku kepentingan untuk memberikan layanan kesehatan. Pada intinya rekomendasi ini bertujuan untuk memastikan distribusi vaksin yang cepat, merata, terjangkau, dan aman, mengatasi berbagai “building blocks” dalam pelayanan kesehatan publik, baik terkait infrastruktur, sumber daya manusia, sistem dan vaksin serta obat-obatan, serta untuk meningkatkan standar universal health coverage dan digitalisasi pelayanan kesehatan yang mampu mengatasi berbagai macam penyakit dan kemungkinan pandemi baru.

2. Mendorong komitmen global (framework on cooperation) untuk memperkuat multilateralisme yang

inklusif dalam proses pengambilan keputusan dan substansi keputusan untuk pencapaian

tujuan G20 sekaligus penyelesaian masalah-masalah global strategis. Rekomendasi ini penting

untuk mengembangkan kepemimpinan global kolektif yang efektif dan berkelanjutan sekaligus

bersifat inklusif. Dengan demikian, dapat tercipta relasi dan interaksi yang konstruktif antar

aktor negara dan non-negara agar G20 benar-benar dapat berperan sebagai “jembatan

penghubung” antara kepentingan lokal/nasional dan kepentingan global.

(9)

3. Mendorong langkah konkrit (call to action) untuk pencapaian visi pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif melalui implementasi green and blue growth di sejumlah sektor strategis terdampak COVID-19 secara signifikan tetapi mempunyai potensi besar terhadap produktivitas nasional dan pertumbuhan ekonomi global, serta perlindungan lingkungan hidup global dan isu perubahan iklim. Rekomendasi ini dalam jangka pendek dan menengah diprioritaskan pada sektor pariwisata, pertanian, dan industri perdagangan (termasuk di dalamnya UMKM, ekonomi digital, dan industri kreatif) dengan tujuan untuk pemulihan ekonomi dan mendukung pencapaian pembangunan yang inklusif, berkeadilan (terutama secara sosial dan ekologis) dan berkelanjutan.

4. Mendorong langkah konkrit (call to action) untuk mengembangkan ekonomi digital yang inklusif dalam rangka penguatan UMKM untuk mampu pulih lebih kuat dan berdaya saing dalam perdagangan dunia sekaligus pemberdayaan kelompok pemuda, perempuan dan penyandang disabilitas untuk mampu produktif secara sosial dan ekonomis. Penguatan UMKM harus menjadi tujuan sentral dalam upaya pengembangan ekonomi digital karena peran kontributifnya yang signifikan bagi perekonomian nasional penyerapan tenaga kerja, serta basis atau tulang punggung dari sektor-sektor strategis yang terdampak COVID-19, seperti pariwisata dan pertanian, sehingga upaya pemulihannya akan memberi daya ungkit bagi aktivitas penawaran dan permintaan di dalam mata rantai industrinya.

5. Mendorong langkah konkrit (call to action) untuk meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya pendidikan vokasi, melalui strategi kemitraan multipihak di tingkat nasional maupun kolaborasi internasional dalam rangka meningkatkan kualitas SDM yang pada gilirannya mampu memperkuat pertumbuhan ekonomi global sekaligus meningkatkan stabilitas sosial. Kualitas SDM perlu ditingkatkan melalui pendidikan karena menjadi kunci dari semua aktivitas ekonomi dan sosial serta kunci dari kemajuan peradaban suatu bangsa yang pada gilirannya juga akan memberi ketahanan (resiliency) serta stabilitas sosial dan politik yang akan berpengaruh terhadap stabilitas pertumbuhan ekonomi global.

6. Mendorong langkah konkrit (call to action) untuk mengimplementasikan prinsip-prinsip pembangunan internasional yang inklusif, berkeadilan dan berkelanjutan. Rekomendasi ini diharapkan dapat mendukung pemulihan negara-negara berkembang berkebutuhan khusus, seperti least developing countries (LDCs) di Afrika dan small island developing states (SIDS) di kawasan Karibia dan Pasifik Selatan, menuju stabilitas pertumbuhan ekonomi melalui skema-skema bantuan pembangunan yang inovatif, terarah dan berkelanjutan.

7. Mendorong langkah konkrit (call to action) untuk mengembangkan sumber-sumber pembiayaan TPB/SDGs baik di tingkat nasional maupun global guna mengatasi kesenjangan pembiayaan yang ada saat ini dan mengakselerasi pencapaian target TPB/SDGs. Rekomendasi ini untuk memastikan bukan saja semakin meningkat sumber-sumber pembiayaan dan semakin signifikan jumlah dana yang dapat dikumpulkan untuk menutup kesenjangan pembiayaan, tetapi juga bagaimana dana yang terkumpul dapat didistribusikan dan dialokasikan tepat sasaran dan memiliki dampak besar (“high-impact”) terhadap pencapaian target TPB/SDGs.

8. Mendorong komitmen bersama (framework of cooperation) untuk mengarustamakan

kesetaraan gender dalam rangka mengatasi berbagai permasalahan pembangunan global

yang dalam realitanya banyak berdampak kepada kaum perempuan. Rekomendasi ini ingin

bertujuan agar kesadaran gender dapat menjadi salah satu langkah kebijakan transformatif dalam

Presidensi G20 Indonesia karena perempuan dapat berperan sebagai kunci perubahan untuk

kemajuan dalam kehidupan sosial dan ekonomi yang berdampak luas baik secara nasional maupun

global.

(10)

9. Mendorong komitmen bersama (framework on coorperation) untuk membangun sistem perdagangan multilateral yang lebih terbuka dan adil untuk menunjang pemulihan ekonomi global yang kuat dan berkelanjutan. Rekomendasi ini diantaranya bertujuan untuk terus mendukung perdagangan global yang dapat menjaga stabilitas rantai nilai yang membantu banyak pihak, khususnya membantu negara-negara mengakses makanan dan pasokan medis penting selama krisis akibat pandemi, dan secara umum untuk menuju perekonomian dunia yang lebih tangguh, inklusif dan lebih hijau.

10. Mendorong kesepakatan (framework of cooperation) untuk memperkuat norma-norma

internasional tentang antikorupsi dan internalisasinya di tingkat nasional dalam rangka

pencegahan dan pemberantasan korupsi secara lebih mengakar, terinstitusionalisasi,

sistematis dan berkelanjutan untuk mendukung produktivitas nasional, pembangunan yang

berkeadilan dan pertumbuhan ekonomi global yang stabil dan berkelanjutan. Rekomendasi

ini memiliki sasaran strategis, antara lain untuk pengembangan kapasitas institusional

lembaga-lembaga pemerintahan yang berfungsi untuk pencegahan segala bentuk praktik korupsi,

baik di sektor publik maupun swasta, terutama terkait sistem audit terhadap laporan keuangan

dan perpajakan.

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

LEMBAR JUDUL ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RINGKASAN EKSEKUTIF ... v

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR GRAFIK ... xiii

DAFTAR TABEL... xiv

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Fokus Kajian ... 4

1.3 Metode Kajian ... 4

1.4 Kerangka Kerja dan Konteks Global ... 5

1.4.1 Kerangka Utama: Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/Sustainable Development Goals (SDGs). ... 5

1.4.2 Konteks Global: Kekuatan-Kekuatan Transformatif ... 6

1.4.2.1 Pandemi Global COVID-19 ... 6

1.4.2.2 Transformasi Digital ... 7

1.4.2.3 Urbanisasi Global ... 7

1.4.2.4 Tata Kelola Global ... 8

1.5. Struktur Laporan ... 8

BAB 2 PERMASALAHAN GLOBAL: FAKTA DAN DATA ... 9

2.1. Kesehatan Publik ... 9

2.2 Kemiskinan ... 11

2.3 Ketenagakerjaan dan Pendidikan ... 12

2.4 Pangan dan Malnutrisi ... 14

2.5 Perubahan Iklim ... 16

2.6 Kesetaraan Gender ... 17

2.7 Tata Kelola Ekonomi Global ... 19

BAB 3 ANALISIS ISU-ISU PRIORITAS PRESIDENSI G20 INDONESIA ... 23

3.1 Pemaparan Lima Isu Prioritas Presidensi G20 Indonesia ... 23

3.1.1 Mempromosikan Produktivitas ... 23

3.1.1.1 Kepemudaan dan Ketenagakerjaan ... 24

3.1.1.2 Pertanian yang Berkelanjutan ... 26

3.1.1.3 Pengembangan Ekonomi Digital dan UMKM ... 26

3.1.1.4 Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Vokasi ... 28

(12)

3.1.2 Meningkatkan Ketahanan dan Stabilitas... 32

3.1.2.1 Ketahanan Pangan ... 32

3.1.2.2 Kesehatan Masyarakat ... 33

3.1.2.3 Perlindungan Sosial ... 37

3.1.2.4 Ketahanan Energi ... 39

3.1.2.5 Perlindungan Lingkungan Hidup ... 40

3.1.3 Menjamin Pertumbuhan Berkelanjutan dan Inklusif ... 42

3.1.3.1 Pengentasan Kemiskinan ... 42

3.1.3.2 Pertumbuhan Hijau dan Biru ... 44

3.1.3.3 Pariwisata... 46

3.1.3.4 Perdagangan, Industri, dan Investasi yang Berkelanjutan dan Inklusif ... 48

3.1.3.5 Inklusi Keuangan ... 49

3.1.4 Iklim dan Kemitraan yang Memungkinkan ... 51

3.1.4.1 Good Governance dan Pemberantasan Korupsi ... 51

3.1.4.2 Rantai Nilai Global ... 53

3.1.4.3 Kemitraan Multipemangku Kepentingan ... 54

3.1.4.4 Pendanaan TPB/SDGs ... 54

3.1.5 Menguatkan Kepemimpinan Kolektif Global ... 56

3.1.5.1 Memperkuat Multilateralisme untuk Penanganan dan Pemulihan Krisis ... 57

3.1.5.2 Memperkuat Sistem Perdagangan Multilateral yang Adil ... 60

3.2. Analisis Cross-Cutting Issues ... 60

3.2.1 Penguatan UMKM ... 63

3.2.2 Pemberdayaan Pemuda dan Perempuan ... 65

3.2.3 Penguatan Pendidikan Vokasi ... 66

3.2.4 Pemberian Hak Kaum Difabel... 67

3.2.5 Pengembangan Ekonomi Digital... 68

3.2.6 Pengembangan Ekonomi Hijau dan Pembangunan Rendah Karbon ... 69

BAB 4 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 77

4.1 Kesimpulan ... 77

4.2 Rekomendasi ... 78

DAFTAR REFERENSI ... 84

LAMPIRAN: DAFTAR FOCUS GROUP DISCUSSIONS ... 89

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Peta Keanggotaan G20 ... 1

Gambar 1.2 Fenomena Global yang menjadi Konteks Kajian Isu-Isu Prioritas Presidensi G20 ... 6

Gambar 3.1 Ketahanan Pangan Global 2020 ... 32

Gambar 3.2 Penyebab Kematian Tertinggi Negara Anggota Uni Eropa Tahun 2017 ... 34

Gambar 3.3 Tingkat Perlindungan Hak Pekerja dalam Global Rights Index 2020 ... 39

Gambar 3.4 Penerima Vaksin COVID-19 Dosis Pertama di Tingkat Global ... 59

(14)

DAFTAR GRAFIK

Grafik 2.1 Tren COVID-19 Global: Tingkat Kasus Positif ... 9

Grafik 2.2 Tren Jumlah Penerima Vaksin COVID-19 di Tingkat Global ... 10

Grafik 2.3 Penyebab Kematian Tertinggi Tahun 2019 ... 11

Grafik 2.4 Tingkat Kemiskinan Ekstrem di Tingkat Global (1820—2015) ... 11

Grafik 2.5 Dampak COVID-19 terhadap Kemiskinan Ekstrem Global ... 12

Grafik 2.6 Tren Partisipasi Tenaga Kerja dalam Lapangan Kerja secara Global (1990-2020) ... 13

Grafik 2.7 Tren Global terkait Kondisi Malnutrisi (2005-2019) ... 15

Grafik 2.8 Tingkat Penyerapan Tenaga Kerja di Sektor Pertanian (1995—2015) ... 16

Grafik 2.9 Kecenderungan Temperatur Global Rata-Rata (1850-2020). ... 17

Grafik 2.10 Kondisi Ke(tidak)setaraan Gender di tingkat Global dalam Aspek Ekonomi, Politik dan Pendidikan Periode 2020-2021. ... 18

Grafik 2.11 Indeks Global Ketimpangan Gender berdasarkan Negara Tahun 2020 ... 18

Grafik 2.12 Partisipasi LDCs dan Negara Berkembang dalam Perdagangan Barang (Kiri) dan Perdagangan Jasa (Kanan) di Tingkat Global ... 20

Grafik 2.13 Jumlah Aliran Masuk FDI Global dan di Beberapa Kelompok Ekonomi Negara ... 20

Grafik 3.1 Tingkat Pengangguran Pemuda di Negara-Negara G20 Tahun 2020 ... 24

Grafik 3.2 Perbandingan antara UMKM dan Perusahaan Besar dalam Mode Inovasi Internet di Seluruh Dunia Tahun 2016 atau Tahun yang Tersedia. ... 27

Grafik 3.3 Indeks Kelaparan di Indonesia (2000-2019) ... 33

Grafik 3.4 Penyebab Kematian Tertinggi di Amerika Serikat tahun 2021 ... 34

Grafik 3.5 Sistem Kesehatan Terbaik di Dunia Berdasarkan Negara ... 36

Grafik 3.6 Pemanfaatan Teknologi Digital untuk Kesehatan ... 36

Grafik 3.7 Dampak COVID-19 Terhadap Jumlah Pertambahan Angka Penduduk Miskin di 12 Sampel Negara. ... 43

Grafik 3.8 Grafik Kecenderungan Peningkatan Angka Kemiskinan Akibat COVID-19 di Indonesia (2019-2020). ... 43

Grafik 3.9 Preferensi Global terhadap Industri Pariwisata yang Berwawasan Lingkungan ... 45

Grafik 3.10 Ranking Indonesia dalam Daya Saing di Sektor Perjalanan dan Pariwisata Global (2015 dan 2017). ...46

Grafik 3.11 Persepsi Korporasi Secara Global terhadap Korupsi ... 52

Grafik 3.12 Prediksi Kerugian Rantai Nilai Global Setiap Sektor Industri Akibat Terganggunya Rantai Pasokan pada 2020. ... 53

Grafik 3.13 Kesenjangan Pembiayaan TPB/SDGs dengan Berbagai Instrumen ... 55

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Prioritas dan Fokus Presidensi G20 Tahun 2020 dan 2021... 3 Tabel 3.1 Keterkaitan Isu-Isu Prioritas 1 dengan Working Group, TPB/SDGs, dan

Capaian yang Diharapkan. ... 30 Tabel 3.2 Keterkaitan Isu-Isu Prioritas 2 dengan Working Group, TPB/SDGs, dan

Capaian yang Diharapkan. ... 41 Tabel 3.3 Keterkaitan Isu-Isu Prioritas 3 dengan Working Group, TPB/SDGs, dan

Capaian yang Diharapkan. ... 50 Tabel 3.4 Keterkaitan Isu-Isu Prioritas 5 dengan Working Group, TPB/SDGs, dan

Capaian yang Diharapkan... 55 Tabel 3.5 Keterkaitan Isu-Isu Prioritas 5 dengan Working Group, TPB/SDGs, dan

Capaian yang Diharapkan... 60

(16)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada tahun 2022, Indonesia akan memegang tampuk kepemimpinan (Presidensi) Group of 20 (G20), sebuah forum kerja sama internasional yang beranggotakan 19 negara dan Uni Eropa. G20 merupakan forum multilateral yang prestisius karena gabungan dari seluruh negara anggotanya merepresentasikan 90% Produk Domestik Bruto (PDB) dunia, 80% perdagangan dunia, dua pertiga populasi dunia, dan separuh luas lahan yang ada di bumi. Melalui peta keanggotaan G20 (Gambar 1.1), arti strategis dari peran kepemimpinan global Indonesia dalam forum G20 dapat dipahami. Negara-negara anggota G20 tersebar di berbagai kawasan dan mereka umumnya merupakan negara dengan kekuatan politik dan ekonomi yang strategis di kawasannya masing-masing. Negara-negara anggota G20 berasal dari baik negara maju maupun negara berkembang.

Negara-negara anggota dari kelompok negara maju (Group of Seven atau G7) meliputi Amerika Serikat, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Inggris dan Jepang. Sementara itu, negara anggota dari negara berkembang di antaranya adalah Tiongkok, Brazil, India, Afrika Selatan dan Indonesia (yang merupakan satu-satunya negara ASEAN yang menjadi anggota G20). Dengan wilayah yang luas, jumlah penduduk keempat terbesar di dunia, kekayaan sumber daya alam yang melimpah serta pengaruh sistemik di kawasan, Indonesia dianggap sebagai “the emerging economy” yang pantas menjadi anggota G20.

Gambar 1.1 Peta Keanggotaan G20

Sumber: Maps of World. (n.d.). G20 Countries. (https://www.mapsofworld.com/world-maps/g20-countries.html)

(17)

G20 dibentuk pada 26 September 1999. Ada tiga tujuan utama yang dipromosikannya, yaitu (1) melakukan koordinasi kebijakan di antara para anggota dalam rangka memastikan stabilitas dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi global; (2) mempromosikan regulasi-regulasi finansial yang dapat mengurangi berbagai risiko dan mencegah krisis keuangan global; dan (3) menciptakan arsitektur keuangan internasional.

Namun demikian, keberhasilan G20 untuk mencapai kepentingan utamanya tersebut, terbukti secara faktual sangat tergantung pada bagaimana masalah-masalah global yang bersumber pada faktor-faktor non-ekonomi seperti kemiskinan, ketimpangan, pemerataan pendidikan, kerusakan lingkungan, layanan kesehatan korupsi, urbanisasi, dan lain sebagainya, dapat ditangani dengan efektif. Hal ini karena masalah-masalah tersebut dapat berpengaruh signifikan terhadap kemampuan negara untuk memajukan perekonomian nasionalnya sekaligus menghadirkan tantangan bagi kerja sama multilateral. Hadirnya pandemi global COVID-19 di awal 2020 semakin menegaskan adanya keterkaitan kritis (critical linkages) antara faktor-faktor ekonomi dan non- ekonomi yang mempengaruhi stabilitas perekonomian dunia karena menggoyahkan kapasitas institusional negara maupun organisasi-organisasi internasional.

Presidensi Indonesia tahun 2022 ditetapkan dalam KTT G20 ke-15 di Riyadh, Arab Saudi pada 22 November 2020. Kesempatan menjabat Presidensi G20 tentunya memberikan peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia. Sebagai Presidensi G20 tahun 2022, Indonesia akan berkesempatan untuk menunjukkan kepemimpinannya dalam mengarahkan, bahkan menentukan, isu-isu utama yang dapat dijadikan agenda prioritas G20 untuk mencapai tujuan utamanya, selain diharapkan untuk dapat serta mengedepankan kepentingan nasional Indonesia dan kemitraan global. Namun, dengan keanggotaan G20 yang cukup beragam dan merepresentasikan bukan saja negara-negara industri maju, tetapi juga negara berkembang, kepemimpinan Indonesia yang efektif akan menghadapi tantangan yang tidak mudah. Pandemi COVID-19 telah membuat banyak negara terpuruk dan meningkatkan keparahan dan kompleksitas masalah-masalah global yang dunia hadapi. Oleh karena itu, dibutuhkan rumusan komprehensif atas isu prioritas yang akan diusulkan dalam Presidensi G20 Indonesia tahun 2022.

Merujuk pada tujuan kajian ini, menjadi penting untuk melihat terlebih dahulu beberapa isu prioritas yang telah dibahas setidaknya dua pertemuan G20 sebelumnya. Hal ini penting untuk menegaskan pentingnya keselarasan isu-isu yang telah dibahas dan relevansinya dengan situasi terkini, serta sekaligus untuk mengidentifikasi hal-hal yang belum terakomodasi dan menghasilkan sebuah key deliverables yang unik yang dapat diusulkan dalam Presidensi G20 Indonesia.

Sebagaimana tampak pada Tabel 1.1, pada Presidensi Arab Saudi, terdapat 14 prioritas yang menjadi fokus capaian pada periode 2020-2021. Keempat belas prioritas tersebut adalah ekonomi dunia dan ikhtisar jalur keuangan, pembangunan berkelanjutan, ketenagakerjaan, pemberdayaan perempuan, pendidikan, kesehatan, perdagangan dan investasi, iklim, energi, pertanian, lingkungan, ekonomi digital, dan antikorupsi.

Pada Presidensi Arab Saudi, terdapat tantangan-tantangan signifikan terkait penurunan harga minyak yang tinggi yang mengakibatkan perang harga minyak antara Rusia dengan Arab Saudi, kemudian terdapat tantangan perang dagang Tiongkok dan Amerika Serikat, pandemi yang berkepanjangan, serta tantangan dalam mencapai target inflasi 2% agar dapat pulih dari aktivitas perekonomian yang turun sejak tahun 2019.

Pada Presidensi Arab Saudi, kurangnya penindaklanjutan terhadap subsidi bahan bakar fosil dan pemulihan

pasca pandemi tidak menyebutkan isu iklim atau menempuh“green measures.” Hal yang paling signifikan pada

kepemimpinan Arab Saudi adalah kurang berhasilnya menggalang persatuan 20 anggota dalam menghadapi

pandemi. Sebagai contoh, banyak di antara negara G20 yang angka persebaran COVID-19 lebih tinggi dari

negara-negara lainnya, seperti Italia, Tiongkok, dan Amerika Serikat.

(18)

Tabel 1.1

Prioritas dan Fokus Presidensi G20 Tahun 2020 dan 2021

PRIORITAS

ARAB SAUDI (2020) ITALIA (2021)

Health Response-Saving Lives Health as A Global Common

Economic and Financial Response – Support the Vulnerable and Maintain Conditions for a Strong Recovery

Supporting dan Shaping the Recovery Returning to Strong, Sustainable, Balanced and Inclusive Growth Supporting Vulnerable Economies

International Support to Countries in Need Protecting the Planet Lessons Learned

FOKUS World Economy and Overview of

Finance Track

Finance Track

Sustainable Development Sustainable Development

Employment Education

Women’s Empowerment Health

Education Trade

Health Climate Sustainability and Energy Transition

Trade and Investment Agriculture

Climate Environment

Energy Anti-Corruption

Agriculture Tourism

Environment Culture

Digital Economy Digital Economy and Digital Government

Anti-Corruption Labour

Tourism Researcher and Higher Education

Sumber: Hasil Olahan Tim Riset

Pada Presidensi Italia, tantangan signifikannya adalah lonjakan kasus COVID-19 dan dampaknya pada berbagai sektor. Tantangan-tantangan lainnya adalah kesulitan dalam menciptakan pertumbuhan inklusif, perkembangan kelompok yang rentan, memastikan kestabilan keuangan dunia, perubahan iklim dan pembiayaannya, meningkatkan kesadaran digital dan finansial, meningkatkan peringanan utang, dan memulihkan perekonomian dunia terhadap kerugian dan kerusakan akibat pandemi. Presidensi Italia menghadapi sejumlah kesulitan, antara lain kesulitan untuk menyetujui penulisan dari komitmen perubahan iklim, terutama terkait dengan kesepakatan penghapusan pembangkit listrik tenaga batu bara dan target penurunan suhu global.

Di balik tantangan dan kesulitan yang dihadapi kedua Presidensi, terdapat capaian yang patut untuk

diapresiasi. Pada Presidensi Arab Saudi, capaian utama yang terlihat jelas adalah terciptanya kesepakatan

untuk memberikan koreksi terhadap status dari tenaga kerja, meningkatkan efektivitas monitoring dan

pelaporan proteksi sosial pekerja melalui G20 Labour and Employment Ministerial Declaration serta mencapai

konsensus dari penciptaan G20 Behavioral Insight Knowledge Exchange Network. Pada Presidensi Italia, capaian

yang dapat diapresiasi adalah tercapainya komitmen untuk memperpanjang pembayaran utang negara-

negara miskin selama 6 bulan. Ministerial Meeting Climate Finance juga telah memperlihatkan kemajuan dalam

Task Force on Access to Climate Finance dan City Climate Finance Gap Fund telah berhasil diresmikan.

(19)

Menelusuri pertemuan G20 di Arab Saudi (2020) dan Italia (2021) nampaknya isu prioritas yang diusulkan masih terfokus juga pada isu kesehatan dan pemulihan ekonomi khususnya terkait dampak COVID-19. Tidak hanya itu, keseimbangan antara lingkungan dan pertumbuhan juga masih menjadi isu dominan dalam dua pertemuan tersebut. Namun, penting dicatat bahwa dari sisi fokus, terdapat dua fokus yang berbeda dari kedua pertemuan tersebut yaitu, di tahun 2020, isu pemberdayaan perempuan (women empowerment) dan lapangan kerja (employment) disebutkan secara spesifik, namun tidak demikian di tahun 2021. Pertemuan G20 tahun 2021 memasukkan tiga usulan yaitu budaya (culture), buruh/tenaga kerja (labour), dan pendidikan tinggi.

1.2 Fokus Kajian

Presidensi G20 Indonesia mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger”. Ada sejumlah usulan isu-isu prioritas yang disusun secara sistematis ke dalam lima isu prioritas, yaitu (1) Mempromosikan Produktivitas (Promoting Productivity); (2) Meningkatkan Ketahanan dan Stabilitas (Increasing Resiliency and Stability); (3) Menjamin Pertumbuhan yang Berkelanjutan dan Inklusif (Ensuring Sustainable and Inclusive Growth); (4) Iklim dan Kemitraan yang Memungkinkan (Enabling Environmentand Partnership), serta (5) Menguatkan Kepemimpinan Kolektif Global (Forging Collective Global Leadership). Dengan isu-isu prioritas ini, diharapkan bahwa Indonesia dapat memainkan peran kepemimpinan dan solidaritas global untuk menghadapi berbagai dampak COVID-19 terhadap keberlanjutan pembangunan global.

Untuk mendapatkan dukungan yang luas, isu-isu prioritas tersebut tentunya perlu memiliki karakter inklusif, berkelanjutan dan inovatif. Inklusif artinya isu tersebut memiliki implikasi strategis multisektor dan multidimensi serta menjadi perhatian utama dari semua negara anggota G20, bahkan dunia. Berkelanjutan berarti isu tersebut merepresentasikan gagasan-gagasan yang sudah dirintis dalam kepemimpinan (troika) G20 sebelumnya dan menunjukkan relevansi dengan apa yang menjadi tantangan baru ke depan. Inovatif artinya memunculkan suatu terobosan baru (breakthrough) ataupun gagasan visioner yang belum tersentuh, tetapi menjadi kepentingan bersama. Oleh karena itu, diperlukan sebuah kajian untuk memperoleh data-data pendukung yang relevan serta kajian keilmuan yang dapat memberikan basis rasionalitas yang kuat tentang signifikansi isu-isu prioritas yang diusulkan oleh Indonesia.

Hasil kajian dengan eksplorasi data yang memadai diharapkan dapat memperkuat gagasan yang dibawa dalam Presidensi Indonesia sehingga mendapat dukungan dari para negara anggota G20 maupun organisasi internasional yang relevan, seperti PBB dan Bank Dunia (World Bank). Selain itu, di level domestik, hasil kajian juga diharapkan dapat digunakan untuk mendukung komunikasi publik yang lebih efektif sehingga manfaat dari Presidensi Indonesia di G20 dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia secara lebih luas dan lebih nyata.

1.3 Metode Kajian

Untuk memastikan bahwa isu-isu prioritas dalam Presidensi G20 Indonesia memiliki relevansi dan berkarakter inklusif, berkelanjutan serta inovatif, perlu dilakukan kajian yang komprehensif. Untuk itu, sejumlah tahapan telah dilakukan untuk memperoleh data pendukung, menelaah data, serta merekonstruksi dan mensinergikan berbagai data yang diperoleh dari berbagai sumber melalui empat kegiatan utama. Pertama, menelaah daftar usulan isu prioritas yang telah diidentifikasi dalam TOR serta menelaah latar belakang serta memahami sejumlah konteks global yang dapat menjadi acuan untuk menganalisis urgensi dan signifikansi usulan.

Kedua, menelaah dokumen yang berisi gagasan-gagasan yang telah dikedepankan oleh dua negara yang

menjadi troika kepemimpinan G20 sebelumnya, yaitu Italia dan Arab Saudi. Ketiga, melakukan eksplorasi data

dari berbagai sumber sekunder, seperti hasil kajian terdahulu, situs resmi, dan publikasi resmi dari lembaga-

lembaga terkait, baik nasional maupun internasional yang dianggap dapat diandalkan, kredibel dan suportif

dengan tema dan tujuan Presidensi Indonesia. Keempat, melakukan konsultasi/ focused group discussion (FGD)

dengan pihak P3K Kemlu RI, Satgas G20 Kemlu RI, Tim Ahli United Nations Department of Economic and Social

(20)

Affairs (UN DESA), dan Tim Ahli Univesity of Toronto untuk konsolidasi data dan eksplorasi data pada level global serta penajaman perspektif nasional melalui diskusi terbatas dengan pemangku kepentingan lainnya.

Para pemangku kepentingan lain yang dijadikan mitra konsultasi adalah akademisi (Universitas Indonesia dan Universitas Parahyangan), lembaga swadaya masyarakat (International NGO Forum on Indonesian Development [INFID], Center for Indonesia Strategic Development Initiatives [CISDI], dan Centre for Strategic and International Studies [CSIS]), kelompok bisnis (Sustainable Management Group [SMG] dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia [KADIN]), serta beberapa kementerian yang relevan dengan working group G20 (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Ketenagakerjaan, Badan Pembangunan Nasional, Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan).

1.4 Kerangka Kerja dan Konteks Global

1.4.1 Kerangka Utama: Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/Sustainable Development Goals (SDGs)

Isu-isu prioritas yang dikedepankan Indonesia dalam Presidensi G20 Indonesia perlu didasari suatu kerangka berpikir sekaligus kerangka kerja yang jelas sehingga semua gagasan yang berkembang dalam formulasi kebijakan dan implementasinya dari pihak manapun dapat diterima baik oleh berbagai pihak dan diterima secara politik (politically well-accepted).

Ada sejumlah alasan mengapa TPB/SDGs perlu menjadi kerangka utama untuk landasan berpikir dan pelaksanaan kesepakatan G20. Pertama dan utama, TPB/SDGs merupakan hasil kesepakatan internasional di tahun 2015 untuk menjadi agenda pembangunan global hingga tahun 2030. Dengan ke-17 tujuan dan 169 target pembangunan yang merepresentasikan lima pilar pembangunan Prosperity, People, Planet, Peace dan Partnership dan prinsip “tidak ada satupun yang tertinggal” (“no one left behind”), TPB/SDGs telah memberikan common platform dalam kebijakan pembangunan negara bangsa yang lebih komprehensif, terukur dan terutama berkarakter melampaui kepentingan pertumbuhan ekonomi (beyond-economic growth). Oleh karenanya, semua negara bangsa, organisasi internasional dan berbagai pemangku kepentingan lainnya (termasuk sektor swasta) harus ikut berkomitmen untuk mewujudkan target-target pencapaiannya.

Menjadi penting bagi Indonesia untuk menawarkan isu-isu prioritas yang konsisten dengan target dan prinsip

TPB/SDGs dalam Presidensi G20 di tahun 2022 mendatang. TPB/SDGs adalah kesepakatan global yang secara

politis diterima dengan baik oleh berbagai pihak, tetapi juga substansinya masih relevan sebagai kerangka

utama bagi kerja sama multilateral G20 untuk mengatasi kondisi pasca-COVID-19. Target-target yang telah

dirumuskan dalam TPB/SDGs merupakan kunci bagi terbentuknya fondasi yang tangguh bagi keberhasilan

tujuan utama G20. Sementara itu, dalam proses sepuluh tahun ke depan (2020–2030), TPB/SDGs diperkirakan

menghadapi periode kritis dalam proses pencapaian tujuan dan target-targetnya karena kehadiran pandemi

global COVID-19 telah membatasi dengan sangat signifikan kapasitas finansial dan institusional pemerintahan

negara bangsa di seluruh dunia. Dengan demikian, pencapaian TPB/SDGs perlu menjadi dasar rujukan untuk

melakukan langkah-langkah pemulihan pasca-COVID-19.

(21)

1.4.2 Konteks Global: Kekuatan-Kekuatan Transformatif

Selain menjadikan TPB/SDGs sebagai rujukan sentral, perumusan isu-isu prioritas Presidensi Indonesia tentunya perlu memperhatikan kecenderungan dinamika global yang berkembang. Ada empat fenomena global yang perlu diperhatikan sebagai konteks yang membingkai relevansi isu-isu prioritas Indonesia, yaitu (1) pandemi global COVID-19, (2) transformasi digital, (3) urbanisasi global yang cepat, dan (4) tata kelola global (Gambar 1.2).

Gambar 1.2

Fenomena Global yang menjadi Konteks Kajian Isu-Isu Prioritas Presidensi G20 Sumber: Hasil olahan tim riset

1.4.2.1 Pandemi Global COVID-19

Pandemi COVID-19 adalah fenomena global terkini yang memberikan tantangan terberat bagi Presidensi Indonesia. COVID-19 yang muncul di akhir 2019 telah berkembang lebih dari sekedar sebagai masalah kesehatan publik, tetapi lebih jauh lagi, telah menjadi krisis multidimensional yang menyentuh aspek ekonomi, sosial, budaya dan hukum. Begitu banyak bidang kehidupan manusia yang telah terdampak secara signifikan, seperti pendidikan, perdagangan, dan pariwisata. Dengan luasnya dampak yang terjadi, COVID-19 telah memukul perekonomian dan menyajikan tantangan bagi kepemimpinan politik dan kapasitas institusional negara bangsa di setiap level pemerintahan. Pilihan-pilihan kebijakan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sambil tetap mengedepankan keselamatan warga dari ancaman COVID-19 (economic growth vs human security) menjadi sangat dilematis bagi para pemimpin di negara manapun.

Dengan menurunnya kapasitas individual mayoritas negara-negara di dunia, maka prospek pertumbuhan

perekonomian global terancam mengalami stagnasi. Hal lain yang juga perlu digarisbawahi dari kehadiran

pandemi COVID-19 dengan segala implikasinya adalah bahwa adanya kesenjangan pembangunan

(development gap) di level nasional maupun di level internasional, semakin jelas terlihat. Hal ini khususnya

terkait dengan kapasitas untuk memberikan pelayan kesehatan publik dan lemahnya sistem tata kelola yang

turut berkontribusi terhadap tren kenaikan kasus COVID-19.

(22)

1.4.2.2 Transformasi Digital

Transformasi digital (digital transformation) merupakan fenomena penting dalam era globalisasi saat ini yang mendorong terjadinya transformasi sosial yang meluas dan mendasar. Fenomena ini ibarat “pedang bermata dua” karena dapat memberikan manfaat positif sekaligus juga membawa dampak negatif. Pada sisi positif, transformasi digital berpotensi untuk mengefisiensikan proses-proses produksi dan transaksional dalam kehidupan bisnis dan sosial guna meningkatkan secara lebih signifikan produktivitas dalam arti yang seluas- luasnya (Sanchez and Zuntini, 2018). Lebih jauh, menurut laporan PBB (2020), transformasi digital dapat meningkatkan produktivitas, mendorong konektivitas, menciptakan inklusi secara finansial, serta memberikan akses yang lebih luas untuk aktivitas perdagangan dan pelayanan publik. Teknologi yang menjadi basis dari transformasi digital berperan penting untuk mendukung terciptanya pemerataan kesempatan dan keadilan, termasuk melalui pengembangan ekonomi digital para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UNCTAD, 2019).

Namun demikian, di sisi lain, transformasi digital juga dapat menghadirkan dampak negatif ataupun tantangan yang cukup kompleks, khususnya di dunia bisnis seperti, penolakan dari pegawai (employee pushback), perubahan struktural-organisasional, dan pelanggaran terhadap hak kekayaan intelektual intelektual (OECD, 2019). Industri-industri tertentu merasakan dampak negatif secara cukup signifikan. Menjelang tahun 2030, diproyeksikan ada potensi hilangnya lebih dari 2,6 juta pekerjaan akibat berkembangnya fenomena ini (World Economic Forum, 2020). Selain aspek ekonomi, dampak negatif transformasi digital ini juga cukup serius terhadap anak-anak dan remaja (UNICEF, 2017). Dengan demikian, menjadi penting bagi G20 untuk mengelola isu prioritas di sektor ekonomi digital dengan kehati-hatian dan tetap dalam kerangka tujuan pembangunan berkelanjutan agar potensi dampak negatif dapat ditekan seminimal mungkin sementara produktivitas dapat ditingkatkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi global.

1.4.2.3 Urbanisasi Global

Seperti halnya transformasi digital, urbanisasi yang cepat (rapid urbanization) yang mendunia merupakan fenomena yang merupakan kekuatan transformatif yang potensial membawa banyak perubahan mendasar dan meluas, baik pada tataran kebijakan institusi publik maupun kehidupan individu dan komunitas. Berbagai organisasi internasional telah mengulas secara intensif fenomena global ini. Proyeksi global menunjukkan bahwa lebih dari 50% penduduk dunia saat ini menghuni kawasan urban, khususnya di negara-negara berkembang. Daerah urban berkontribusi sekitar 15—25% pada PDB global (250—450 miliar Dolar AS) setiap tahunnya (McKinsey, 2014).

Selain berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi yang signifikan, berbagai implikasi sosial kultural

berkaitan erat dengan agenda-agenda global yang krusial, seperti kemiskinan, perubahan iklim dan degradasi

lingkungan. Pertumbuhan populasi di daerah urban secara signifikan meningkatkan risiko kota-kota di

seluruh dunia pada krisis pasokan air, energi, dan makanan. Tata kelola yang buruk, urbanisasi yang terlalu

cepat, distribusi kekayaan yang tidak merata, dan pengangguran kaum muda dapat berdampak pada stres

sosial yang melanda penduduk kota. Masalah ini penting diperhatikan karena selama dua dekade terakhir,

migrasi antarkota telah mengaburkan batas-batas geografis. Beberapa kota telah menjadi kota kosmopolitan,

sedangkan beberapa kota lain sedang secara aktif mengembangkan kebijakan dan infrastruktur untuk

menarik orang-orang asing untuk tinggal. Besarnya mobilitas penduduk di daerah perkotaan sebagai pusat

interaksi individu dari beragam latar belakang negara telah mengaburkan sekat-sekat geografis, sehingga isu

di suatu kota metropolitan bisa jadi memiliki dampak besar terhadap kota di negara-negara lain. Kaburnya

batas-batas ini memiliki konsekuensi ekonomi yang penting.

(23)

Dalam konteks global ini, patut dipertimbangkan pentingnya mendudukkan pemerintah kota sebagai mitra strategis untuk menjadi basis dukungan bagi kebijakan G20 karena banyaknya target TPB/SDGs dan terbatasnya kapasitas pemerintah pusat. Di tingkat global, berbagai jejaring transnasional pemerintah kota telah hadir untuk memperkuat peran mereka dalam berkontribusi pada masalah-masalah pembangunan global yang terutama terkait dengan tantangan perubahan iklim dan perwujudan agenda pembangunan berkelanjutan. Beberapa contoh yang cukup mapan adalah United Cities and Local Governments (UCLG), C40 Cities, dan Climate Alliance.

1.4.2.4 Tata Kelola Global

Tata kelola global (global governance) merupakan paradigma politik alternatif yang dapat terus dikembangkan untuk menjamin keterlibatan semua aktor, baik aktor negara maupun non-negara, dalam relasi yang berbasis pada nilai dan norma yang dianut bersama (shared norms and values) serta prinsip co-responsibilities dan burden-sharing dalam mengatasi masalah-masalah global yang semakin nyata sehingga tujuan bersama dapat lebih mudah tercapai.

Namun demikian, tata kelola global mengalami tekanan untuk dapat menjadi lebih fungsional karena ketiadaan kepemimpinan global yang efektif. Sementara itu, dampak COVID-19 cenderung berpotensi menghidupkan paradigma realis dengan dikotomi Utara vs Selatan yang tidak menjawab persoalan mendasar. Oleh karenanya, tata kelola global perlu dihadirkan karena fakta menunjukkan bahwa tak ada satupun negara yang secara individual dapat mengatasi masalah-masalah kemanusiaan dan keberlanjutan saat ini yang berkarakter lintasbatas negara, sangat teknis, dan saling terkoneksi (transnational boundaries, high technicalities and interconnected).

Dalam perspektif tata kelola global, hal terpenting bagi G20 adalah melakukan reorientasi dalam konteks penguatan prinsip multilateralisme. Dengan prinsip ini, diharapkan tercapai kemitraan global yang lebih partisipatoris dengan keterlibatan yang lebih konstruktif dari masyarakat sipil, termasuk kelompok muda, perempuan dan akademisi serta para pemangku kepentingan lainnya dari sektor bisnis atau swasta dan pemerintah lokal (khususnya pemerintah kota). Perlu dipertimbangkan juga penggunaan pendekatan yang lebih inklusif berbasis jejaring untuk akor-aktor non-negara ini karena memungkinkan mekanisme yang lebih fleksibel, setara dan fungsional. Lebih dari itu, perlu diyakini bahwa otoritas negara tidak akan runtuh karena pendekatan tata kelola global seperti ini. Sebaliknya, negara dapat menjadi lebih transformatif dalam menjawab tantangan masalah-masalah global yang semakin variatif dan kompleks.

1.5. Struktur Laporan

Laporan ini memaparkan hasil kajian dari isu-isu prioritas Presidensi G20 Indonesia melalui eksplorasi data dan analisis memberikan rasionalitas ataupun justifikasi dalam penetapan skala prioritas. Secara keseluruhan, laporan ini diawali dengan Bab 1 yang berisi latar belakang, fokus kajian, metode kajian dan kerangka analisis.

Kemudian dilanjutkan ke Bab 2 yang memaparkan data dan fakta serta ulasan terhadap konteks global

mutakhir yang merujuk pada sejumlah fenomena global yang telah (dan berpotensi) memberikan pengaruh

fundamental dan signifikan terhadap berbagai kebijakan negara bangsa, baik secara individual maupun

kolektif. Bab 3 memberikan paparan lebih dalam dan komprehensif mengenai isu-isu yang dimasukkan dalam

skema lima isu prioritas Presidensi G20 Indonesia. Eksplorasi data-data faktual dilakukan untuk memperkuat

analisis dalam paparan Bab 3 ini. Pada bagian akhir Bab 3 ditampilkan analisis yang lebih jauh terkait cross-

cutting issues dengan menampilkan berbagai pendapat ahli dan rujukan data faktual lainnya dari berbagai

sumber. Terakhir, Bab 4 berisi kesimpulan dan rekomendasi kebijakan yang juga memaparkan sasaran-sasaran

strategis yang diharapkan di setiap poin rekomendasi.

(24)

BAB 2

PERMASALAHAN GLOBAL: FAKTA DAN DATA

Bab 2 ini berisi fakta dan data mengenai sektor-sektor utama yang perlu dikedepankan dalam Presidensi G20 Indonesia tahun 2022. Seperti yang telah dijelaskan di Bab 1, kerangka utama yang menjadi dasar perumusan isu prioritas Presidensi G20 Indonesia adalah TPB/SDGs sebagai agenda pembangunan global. TPB/SDGs yang terdiri dari 17 tujuan, seyogyanya tidak dipahami sebagai tujuan yang berdiri sendiri. Ketujuhbelas tujuan tersebut perlu ditempatkan dalam kerangka pemahaman cross-cutting issues atau saling keterkaitan (inter- linkages) yang membutuhkan pendekatan multidisipliner untuk merumuskan strategi pencapaiannya.

Kerangka pembangunan melalui perspektif cross-cutting issues dapat kita lihat misalnya dalam masalah lingkungan dan kesetaraan gender. Di samping perspektif keadilan ekologis (ecological justice perspective), perspektif gender juga merupakan salah satu perspektif kritis yang dapat membantu mengupas akar permasalahan yang ada sehingga kebijakan afirmatif yang komprehensif dapat dirumuskan dengan baik.

Pengarusutamaan pendekatan ini tentu menjadi signifikan.

Mengamati perkembangan isu global dan dinamika internasional yang berkembang dalam satu dekade terakhir, kajian ini mengidentifikasi 7 (tujuh) permasalahan global yang penting untuk menjadi basis argumentasi atas pengajuan isu-isu prioritas Presidensi Indonesia yang perlu dipahami dalam kerangka cross- cutting issues. Permasalahan-permasalahan tersebut dapat digolongkan berdasarkan sektor sebagai berikut:

(1) kesehatan publik; (2) kemiskinan; (3) ketenagakerjaan dan pendidikan; (4) pangan dan malnutrisi; (5) kesetaraan gender; (6) perubahan iklim; serta (7) tata kelola ekonomi global.

2.1. Kesehatan Publik

Pentingnya sektor kesehatan publik tidak lepas dari fenomena pandemi COVID-19 yang muncul pada tahun 2019 dan yang masih terus menjadi tantangan global hingga hari ini. Berdasarkan data yang dikeluarkan WHO pada 1 Juni 2021 (Grafik 2.1), terdapat 170.426.245 kasus COVID-19 yang terkonfirmasi di seluruh dunia dan 3.548.628 kasus kematian akibat COVID-19 (WHO, 2021). Ilustrasi data berikut ini (Statista, 2021) menunjukkan bahwa tren penyebaran COVID-19 di berbagai kawasan dunia cenderung meningkat di pertengahan tahun 2021. Ada lebih dari 141 juta kasus COVID-19 di seluruh dunia yang telah terkonfirmasi dari awal tahun 2020 hingga pertengahan 2021.

Grafik 2.1

Tren COVID-19 Global: Tingkat Kasus Positif

Sumber: Statista. 2021. New COVID-19 cases surge to pandemic high (https://www.statista.com/chart/22067/daily-new-cases-by-world- region/)

(25)

Dalam rangka mengatasi pandemi COVID-19, WHO mencatat sudah ada sekitar 2.412.226.768 dosis vaksin yang telah didistribusikan kepada masyarakat dunia (WHO, 19 Juni 2021). Jumlah vaksin yang didistribusikan itu terbilang besar, namun jangkauan distribusinya secara global masih belum maksimal. Hingga bulan Juli 2021, baru sekitar 10% populasi dunia yang mendapatkan vaksinasi dan meningkat hingga mencapai 14,8%

pada awal bulan Agustus 2021 (Grafik 2.2). Persentase tersebut menunjukkan kenaikan jumlah vaksinasi hingga sebesar 5%. Namun, distribusi vaksin ini belum menjangkau ke seluruh negara di dunia secara merata (Our World in Data, 2021). Data tersebut menunjukkan adanya ketimpangan global yang signifikan.

Grafik 2.2

Tren Jumlah Penerima Vaksin COVID-19 di Tingkat Global

Sumber: Our World in Data. 2021. Share of people who received at least one dose of COVID-19 vaccine.(https://ourworldindata.org/

grapher/share-people-vaccinated-covid)

Tidak hanya itu, merujuk pada pernyataan WHO, negara-negara yang lebih maju atau lebih kaya telah menerima porsi pendistribusian vaksin yang jauh lebih banyak daripada negara berkembang, negara berpendapatan rendah, dan negara-negara dalam kategori least developed countries (LDCs). Dari sekitar 700 juta lebih dosis vaksin yang didistribusikan ke seluruh dunia, negara maju tercatat telah menerima lebih dari 87% dari total vaksin yang didistribusikan, sedangkan negara dengan pendapatan rendah hanya sebesar 0,2% saja (WHO, 2021). Selanjutnya, menurut OECD (2021), sebagian besar penduduk orang dewasa di negara maju sudah akan divaksinasi pada pertengahan 2022. Namun, negara-negara berpenghasilan menengah baru akan dapat memenuhi target vaksinasi pada akhir 2022 atau awal 2023, sedangkan negara-negara miskin diperkirakan baru dapat memenuhi target pada 2024. Dari data tersebut, tampak bahwa masih ada kesenjangan yang besar dalam konteks pendistribusian dan proses vaksinasi ke negara-negara secara global di mana negara maju ternyata jauh lebih banyak menerima pendistribusian dan proses vaksinasi yang lebih cepat dibandingkan negara berkembang atau negara yang berpendapatan rendah.

Sejauh ini, kita dapat melihat bahwa pandemi COVID-19 yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir (2019-2021) telah memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kesehatan publik sebagai basis ketahanan dan stabilitas, baik terkait aspek ekonomi maupun sosial. Kesehatan menjadi kunci bagi produktivitas manusia dalam berbagai aktivitas kehidupan ekonomi maupun sosial di berbagai level, dari tingkat individu hingga tingkat global.

Namun, perlu dicatat bahwa masalah kesehatan publik di dunia bukan hanya diakibatkan oleh pandemi

COVID-19. Masalah kesehatan publik di banyak negara berkembang umumnya lebih banyak didominasi oleh

penyakit akibat faktor lingkungan hidup yang buruk (kolera, demam berdarah, tipes, tuberkulosis) dan faktor

gaya hidup (kanker, diabetes dan penyakit jantung).

(26)

Grafik 2.3

Penyebab Kematian Tertinggi Tahun 2019

Sumber: World Economic Forum. 2021. The World’s Leading Causes of Death. (https://www.statista.com/chart/23755/total-number-of- people-who-died-from-the-following-conditions/

)

Sebagaimana tampak pada Grafik 2.3, maka selain COVID-19, terdapat penyakit-penyakit penyebab kematian lainnya yang memerlukan perhatian serius. Beberapa penyakit tidak menular yang menjadi faktor penyebab kematian tertinggi di dunia adalah leukemia dan stroke. Oleh karena itu, pelayanan kesehatan primer untuk menangani permasalahan kesehatan publik di atas sangat diperlukan dan tidak boleh luput dari pengambilan kebijakan yang saat ini terfokus pada penanganan COVID-19.

Selain penting untuk melihat isu kesehatan publik dari sudut pandang yang lebih besar (mempertimbangkan masalah-masalah kesehatan lain selain COVID-19), kita juga perlu melihat isu kesehatan dari sudut pandang yang lebih holistik dan multidimensional. Masalah kesehatan publik juga terkait erat dengan sektor kemiskinan.

Kemiskinan berpotensi membatasi akses ke pusat-pusat kesehatan yang berkualitas, rendahnya produktivitas karena kualitas kesehatan yang rendah, dan sebagainya, sebagaimana yang akan dibahas di bawah ini.

2.2 Kemiskinan

Pengentasan kemiskinan masih menjadi agenda utama pembangunan internasional yang hingga hari ini masih mengalami tantangan berat, terutama dengan kehadiran pandemi global COVID-19. Grafik 2.4 menunjukkan bahwa angka kemiskinan dunia dalam kurun waktu 50 tahun terakhir (1950—2000) cenderung meningkat dengan signifikan – sampai dengan tahun 2015, terlihat angka kemiskinan secara umum sampai mencapai angka 7 miliar jiwa. Namun, angka kemiskinan ekstrem menurun sampai di bawah 1 miliar jiwa (Our World in Data, 2018). Adapun angka kemiskinan ekstrem dihitung dari jumlah penduduk yang berpenghasilan di bawah 1,9 Dolar AS per hari.

Grafik 2.4

Tingkat Kemiskinan Ekstrem di Tingkat Global (1820—2015) Sumber: Our World in Data. 2018. World Population Living in Extreme Poverty.

(https://ourworldindata.org/grapher/world-population-in-extreme-poverty-absolute).

Gambar

Gambar 1.1  Peta Keanggotaan G20
Grafik 2.7 memperlihatkan data yang menunjukkan estimasi kondisi global terkait jumlah penduduk dunia  yang mengalami kekurangan gizi pada periode 2005—2018, serta proyeksi kondisi pada periode 2019—2030

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah untuk memberikan gambaran Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai kegiatan

Menurut H.B Sutopo, “teknik observasi digunakan untuk menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, tempat atau lokasi, dan benda, serta rekaman gambar.”

Gambar 4 menunjukkan plot dari line profile pada garis uji ke-7 untuk seluruh citra dengan menggunakan metode I (nilai piksel tanpa normalisasi) yang memperlihatkan bahwa variasi

Dari penelitian ini yaitu dari 30 sampel yang diujikan, dalam masing-masing faktor yaitu COD, BOD dan TSS didapatkan 3 kondisi stabil, dimana pada kondisi stabil pertama dan

TABEL.2 JUMLAH KUNJUNGAN WISATAWAN MANCANEGARA MENURUT PINTU MASUK DAN KEBANGSAAN BULAN MARET TAHUN 2020 (ANGKA TETAP)

Saya telah menggunakan kaedah imlak dalam membantu murid-murid untuk menguasai penggunaan imbuhan awalan, akhiran dan apitan yang betul dalam struktur ayat. Saya

Merujuk kepada amalan pengajaran dan pembelajaran Tilawah al-Quran yang berkesan, maka guru Pendidikan Islam juga perlu jelas dari segi strategi, pendekatan, kaedah dan teknik

Berlangsungnya pendidikan sebagai salah satu upaya mengembangkan potensi peserta didik dengan berbagai kegiatan perlu dukungan dari berbagai pihak, salah satunya