KEUTUHAN NATURE-HAKEKAT ALLAH-MANUSIA DI DALAM PRIBADI YESUS KRISTUS TUHAN
Joubert Sumanti
Sekolah Tinggi Theologi Indonesia [email protected],
Abstract
The wholeness of the nature of God-Man in the Person of Jesus Christ the Lord. This thought is the subject of research to understand who Jesus is. The subject of this research arises because of the development of understanding or discussion both internally in STTIndonesia and in the organization of Baptist churches in Manado. The discussion that developed was about the actions and words of Jesus while He was on earth, say thirty-three years when He humbled Himself. (Phil 2: 6-7).
The initial stage puts forward the Old Testament and the New Testament. The Old Testament is a book of God's people that outlines the framework of God's plan (Father, Son, and Holy Spirit), which foretells the coming of a release for God's people whose fulfillment to a new age. The New Testament tells of the fulfillment of the Old Testament only in Jesus Christ the Lord. In particular the four Gospels, four versions of the existence and ministry of Jesus on earth were emphasized.
The next stage outlines aspects of Jesus 'deity and Jesus' humanity. This description is based on examining and exposing several passages from Paul's writings. Both of these nature are in the person of Jesus Christ the Lord. Both of these realms are intact in the sense of hypostatic union, wholeness that does not blend, mingle, merge, but still maintain each other's existence in the one person of Jesus Christ the Lord.
The next stage outlines pre-existence, service, death-resurrection, and ascending to heaven surveyed in the book of John. The goal is on the basis of hypostatic union in the person of Jesus, then the entire scope of life, service, in deeds and words, all done in one person or person of Jesus Christ God. The deeds and words of Jesus did not occur or were done because of the nature or nature of his God or man, but all those actions in one person or person of Jesus Christ the Lord. So, those who teach, heal, make things spectacular, cry, thirsty, hungry, moved by compassion, even crucified, die-rise from the dead are the persons of the Lord Jesus Christ.
John Stott, in The Authentic Jesus states that Chalcedonian Christology is the only perfect synthesis of biblical data. In fact, the expression of the two nature-essence in one Person is more than the synthesis of the New Testament; the phrase is the foundation of the New Testament documents (cf. Mk 13:32).
Keywords: The wholeness of God-Human nature, the person of Jesus Christ the Lord.
I. Introduksi
Ajaran dan theologi mengenai pribadi Yesus akan selalu memikat para umat yang ingin belajar Alkitab, baik penganut Kristen maupun yang bukan. Ada orang meneliti
demi mendalami pemahaman guna menguatkan iman, komitmen seseorang,
namun ada orang lain mencari kelemahan-kelemahan atau kesalahan
▸ Baca selengkapnya: sebutkan 4 contoh pelayanan tuhan yesus kepada manusia
(2)kesalahan agar dapat mendiskreditkan pihak penganut kepecayaan tersebut.
Landasan yang melatarbelakangi penulisan ini terjadi dalam proses ‘belajar- mengajar’ dalam konteks kelas di STT Indonesia, dan dalam pertemuan seminar- seminar para pemimpin gereja Baptis di daerah kami. Para mahasiswa terus mendengungkan pemikiran melalui bertanya, mendiskusikan dengan teman mahasiswa yang lain, demikian juga para pemimpin gereja baik secara meraba-raba atau langsung bertanya dan mendiskusikan, menyampaikan pendapat. Lebih dari itu, mulai mengarah pada bertanya dari manakah ajaran ini? Siapakah yang menyampaikannya? Bahkan sampai pada pimpinan gereja Baptis.
Dari banyak pokok yang beredar baik dalam lingkup mahasiswa STT maupun para pemimpin gereja, hal yang membingungkan dan memunculkan beragam pendapat adalah bagaimanakah Yesus yang adalah ‘fully God—sungguh- sungguh Allah’ dan ‘fully man—sungguh- sungguh manusia,’ namun satu persona atau pribadi? Nampaknya permasalahan pokok adalah seputar nature-hakekat Allah- Manusia dari Yesus Kristus Tuhan. Hal ini terlihat atau terdengar baik dalam pertanyaan maupun dalam pembahasan misalnya Yesus itu, jikalau menangis dan merasa lapar dan haus berarti hakekat manusianya yang berperan, tetapi jikalau Yesus itu mengadakan, melakukan mujizat, perbuatan-perbuatan spektakuler tentulah keAllahannya yang berperan. Akibatnya banyak orang yang berkesimpulan meskipun ada yang sementara bahwa Yesus itu pada saat di bumi khususnya saat melayani ada waktu berperan sebagai manusia dan ada waktu berperan sebagai Allah. Banyak yang lain berpikiran bahwa pribadi Yesus itu terdapat dua hakekat atau nature yang berfungsi sendiri-sendiri.
Bahkan ada yang tak dapat membedakan antara istilah pribadi dan kepribadian Yesus. Tentulah riak-riak dan beragamnya pendapat mengenai Yesus sangat luas, maka dalam kiat memberikan penjelasan berupa pemikiran kepada baik mahasiswa
maupun para pemimpin gereja, terlihatlah fokusnya serta batasannya.
Fokus penelitian ini tertuju pada keutuhan dua nature-hakekat di dalam pribadi Yesus. Dalamnya akan meneliti
‘keutuhan dua nature itu’ dari beberapa konteks Alkitab. Juga akan meneliti
‘pribadi Yesus’ yang tampil mulai pembaptisannya sampai Dia terangkat ke surga. Batasannya adalah tentunya tidak akan membahas seluruh aspek Kristologi, melainkan hanya pada keutuhan dua nature- hakekat Yesus yang terlihat dan direpresentasikan dalam semua tindakan dan perkataan di dalam pribadi Yesus Kristus Tuhan selama di bumi.
PEMBAHASAN
I. Kesaksian Alkitab Mengenai Yesus (survei)
Studi theologi alkitabia mengenai Yesus Kristus harauslah mulai dari Perjanjian Lama. Pada satu pihak, nampak jelas bahwa kerangka pemikiran orang Kristen awal disiapkan melalui wahyu Allah dalam sejarah dan pengalaman Yahudi. Lebih dari itu isi theologi Kristen umunya didasarkan pada suatu pengertian terhadap teks-teks dan konsep dari Perjanjian Lama dalam asumsi bahwa Perjanjian Lama merupakan kitab yang menyiapkan dan menubuatkan mengenai kedatangna Mesias dan umat Allah (melalui Dia). Di lain pihak, haruslah dipahami bahwa Perjanjian Lama merupakan bagian dari Alkitab Kristen yang menyaksikan Yesus Kristus.
Patutlah kita memahami cerita Perjannjai Lama dalam hubungan dengan Yesus. Banyak cerita orang Yahudi memiliki hubungan dengan Allah yang didasarkan pada perjanjian Mosaik, yang dipelihara melalui sistem korban, dan yang berfokus pada hubungan raja pada Allah.
Di dalam masyarakat itu setiap individu dapat memiliki hubungan dengan Allah.
Dari masa-pembuangan dan seterusnya terdapat satu pengharapan masa depan yang menempati tempat penting dalam tulisan para nabi. Nampak kepercayaan mengenai
kedatang Allah di masa depan pada ‘hari Tuhan’ untuk penghakiman orang berdosa dan keselamatan bagi umatnya yang setia menjadi poin integral pengharapan ini.50
Jelas, untuk menyebut Perjanjian Lama sebagai ‘buku mengenai Yesus’ memang sulit. Namun, dimana ada pengharapan masa depan, maka hal itu berpusat pada Allah sendiri dan pada pokok lain berfokus pada figur mesianis yang belum diidentifikasi. Yesus bukanlah secara eksplisit tidak ada. Tetapi perlu pikirkan dua-poin: pertama, Perjanjian Lama menyaksikan kesaksian proses wahyu Allah yang terus meneurus dan hubungan dengan manusia (lebih khusus dengan orang Yahudi) di mana dari pemandangan Kristen mencapai puncaknya pada kedatangan Yesus dan pemulaian gereja. Kedua, Penggenapan beragam pengharapan masa- depan Israel, berfokus secara khusus pada Mesias dan pembaharuan umat Allah, yang bisa-dapat dipahami dipenuhi di dalam pengalaman para pengikut Yesus.51
Dalam Perjanjian Lama terdapat kitab- kitab, sekumpulan perikop, khususnya nabi-nabi dan Mazmur yang menyiapkan referensi pada Kristus sebagai penggenapan (lih. Yes 53). Jelas, Perjanjian Lama bukanlah yang terbaik untuk mendeskripsikan sebagai ‘kitab mengenai Yesus’ melainkan dilihat sebagai buku Kristen oleh orang Kristen. Tanpa Perjanjian Lama para penulis Perjanjian Baru tidak bisa memiliki sumber-sumber yang mereka perlukan untuk mengekspresikan pengertian mereka mengenai Yesus.52
Perjanjian Baru adalah buku mengenai Yesus Kristus mulai dari awal sampai akhir.
50 I. H. Marshall, “Jesus Christ,”
dalam New Dictionary of Biblical Theology, eds. T. Desmond Alexander, Brian S. Rosner, D. A. Carson, dan Graeme Goldsworthy (Leicester, England and Downers Ggrove, Illinois: 200), 594.
51 I. H. Marshall, “Jesus Christ,” 594.
52 I. H. Marshall, “Jesus Christ,” 595.
Sebuah kitab yang mana Yesus Kristus sebagai pokok eksplisit baik keberadaannya maupun dalam pengaruhnya. Yesus Kristus menjadi pusat dari semua kejadian yang dijelaskan Perjanjian Baru. Donald J.
Shelby dalam membahas Injil-Injil sebagai Firman Allah mengedepankan bawah;
Ketika perpisahan antara Gereja dan Synagoge menjadi lebih-luas dan tak-dapat- diperbaiki, material ini ini menjadi lebih dari ‘midrashim’ dan ‘targumim,’ dan langkah final untuk mengkanonkan Injil- Injil sebagai ‘Firman-Allah’ tak-dapat- dihindari. Maka praktek Gereja kemudian dalam membaca empat pelajaran yang dimulai dengan Hukum dan simpulkan dengan Injil sangatlah bermakna yang melebihi sekedar tambahan dari ‘Firman- Allah’ Kristen yang baru terhadap yang lama milik Yahudi; hal-itu mengekspresikan hubungan-hubungan secara-teologis di antara keduanya. Hukum dan Injil adalah permulaan dan akhir dari
‘wahyu-ilahi’ yang para-Nabi dan Surat- surat berdiri-berdmpingan sebagai komentari. Karena itu, Injil-Injil merepresentasikan posisi Yesus sebagai
‘tindakan final Allah yang klimatis untuk melepaskan umatNya.53
Allah telah bertindak dalam penyataan- pribadi sendiri dan dalam penebusan, dan kejadian ilahi ini berpusat hanya pada Satu saja, yaitu oknum/persona/pribadi Yesus Kristus. Dalam Yesus Kristus, Allah telah bertindak dan telah berfirman. Dalam Yesus Kristus Allah telah datang. Ia adalah Firman yang berinkarnasi; Ia imanuel, Allah beserta kita. Aktifitas penebusan Allah telah datang melalui ekspresi utamanya dalam Yesus, dan gereja adalah ciptaanNya.54
53 Donald J. Selby, Introduction to the New Testament: The Word Became Flesh, (New York: Macmillan dan London:
Collier Macmillan, 1971), 28-30.
54 Frank Stagg, New Testament Theology, (Nashville, Tennessee:
Broadman, 1962), 35.
Tiga Injil pertama menjadikan Yesus Kristus sebagai sentral dalam penulisan masing-masing Injil. Yesus Kristus menjadi subyek utama dan pembicara dalam hampir setiap unit dalam Injil.
Masing-masing Injil menceritakan cerita bagian yang bermakna dari kehidupan Yesus, yang dimulai dari tibanya Yohanes Pembaptis yang mempersiapkan jalan bagiNya dan berakhir dengan kematian dan kebangkitanNya. Sebagian besar memberikan tempat mengenai periode akhir yang digunakan di Yerusalem; ‘narasi kesabaran-penderitaan.’
Kemudian semua tulisan Perjanjian Baru merefleksikan penekanan ini. Injil yang dikhotbahkan oleh Paulus disimpulkan seperti ini: ‘Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas muridNya’
(1Kor 15:3-5).
Injil Yohanes menawarkan pendekatan yang berbeda dengan Synoptis. Yohanes mendasarkan Injilnya pada dasar fondasi tradisi yang tidak dijumpai dalam Synoptis, tetapi pada dasarnya memiliki karakter yang sama sebagaimana yang ditekankan dalam Synoptis. Tujuan Yohanes adalah mengungkapkan arti dari dalam cerita Yesus. Tujuan seluruh Injil Yohanes diikatkan pada Kristologi. Yohanes mendemonstrasikan bahwa Yesus adalah Anak Allah, Kristus (bnd. 20:30-31). Oleh karena tujuan ini Yesus mempresentasikan dirinya melalui tujuh kata “Aku Adalah”
(Psl. 2-11). Bahkan dalam pembukaan
‘prologue’ Injil ini meletakkan sebuah hubungan antara tindakan penciptaan Allah melalui Firmannya dan tindakannya dalam menyediakan keselamatan melalui Firman yang incarnal—menambahkan daging,
55 Andreas J. Kostenberger, Encountering John: The Gospel in Historical, Literary, and Theological Perspective, dalam seri Encountering Biblical Studies, gen.ed. Walter A. Elwell
yaitu Yesus. Yesus dipresentasikan sebagai Anak dari Bapa, yang kemudian secara unik dipercayai setia dalam membawakan tugasnya dari Bapa (lih. Yoh 10:17-18).55
Penunjukkan Yesus sebagai Anak menggabungkan dua elemen, kemanusiaan dan keilahiannya dan elemen lain dari Kristologis Yohanes lebih berfokus secara eksplisit pada sifat keilahian Yesus seperti:
(1) Pre-eksistensi Yesus “Firman” (1:1, 14) dan klaimnya sebagai pre-eksistensi (8:58;
12:41; 17:5); (2) “Signs--Tanda-Tanda”
dari Yesus (cont. 2:11); (3) Kata-kata “Aku adalah” yang menghubungkan pada nama Allah dalam Perjanjian Lama (bnd. Kel 3:14); (4) Yesus memiliki pengetahuan supernatural (1:48: Natanael di bawah pohon arah; 2:19: sifat kematian Yesus;
bnd. juga 12:24; 11:14: kematian Lazarus;
13:38: Penyangkalan Petrus; 21:18-19: sifat kematian Petrus); (5) Pengakuan Tomas
“Allahku dan Tuhanku” (20:28).
Walaupun demikian, sementara Yohanes menekankan keilahian dan preeksistensi Yesus, Yohanes tidak mengabaikan untuk mempresentasikan Yesus juga manusia: (1) ia memiliki keluarga (1:45; 2:12; 6:42; 7:3-8; 19:25- 26); (2) ia merasa lelah dan haus (4:6-7;
19:28); (3) ia menangis ketika kehilangan teman (11:33, 35); (4) ia dipahami oleh orang lain sebagai manusia: Pilatus “ecce homo’ (19:5); (5) ia mati (19:30; dan dikuburkan (19:38-42).56
II. Keilahian dan Kemanusiaan Yesus Kristus dalam Kristology Paulus
Paulus dalam apresiasi kepantasan bahasa ‘Christological hymns’meneguhkan bahwa Kristus adalah ilahi sebelum mengambil atau menambahkan wujud manusia. Paulus memberikan beberapa perikop yang menunjukkan keilahian Yesus sebelum ambil rupa manusia.
(Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 1999), 39.
56Kostenberger, Encountering John, 39-40.
A. Keilahian Kristus
1. Kristus -- Hikmat Allah (1 Kor 1:24, 30; 8:6)
Dalam perikop ini berkembang ide kosmik Kristus dari Paulus. Yesus bukan saja Tuhan atas alam semesta tapi juga terlibat langsung dalam penciptaannya.
Konsep ini berkembang lebih baik dalam pujian Kristologis dalam Kolose 1:1-20 dimana Kristus disebut sebagai “gambar wujud Allah yang tak kelihatan.” “yang sulung dari semua ciptaan dan oleh dia dan melalui dia segala sesuatu terjadi.”
Teks Wisdom of Solomom 7:25-2657 sebagai suatu atribut Yudaisme untuk Hikmat di dalam penantian dan penggenapan kedepan. Paulus mengangkat dan menempatkan pengertian Hikmat yang ilahi ini kepada Kristus.58 Apakah Paulus berpikir bahwa Yesus adalah yang ilahi?
Perhatikan dua perikop yang sukar berikut ini.
2. Mesias . . . diberkati Allah (Rom 9:5).
Teks ini dalam pokok bahasan Paulus mengenai keuntungan bangsa Israel, tetapi teks ini dalam perdebatan karena tidak ada
‘tanda baca’ seperti yang ditunjukkan dalam teks Grika awal. Dalam New Revised Standard Version (NRSV) “Messiah, who is over all, God blessed forever.” Dalam New English Bible (NEB) “Messiah, may God supreme over all be blessed for ever.”
Bahasa Indonesia “. . . Yang menurunkan
57 For she is the breath of the power of God, and a pure emanation of the glory of the almighty; therefore nothing defiled gains entrance into her. For she is a reflection of eternal light, a spotless mirror of the working of God, and an image of his goodness (NRSV).
58 B. Witherington III, “Christology,”
dalam Dictionary of Paul and his Letters:
A Compendium of Contemporary Biblical Scholarship, eds Gerald F. Howthorne dan Ralph P. Martin (Downer Grove, Illinois dan Leicester, England: InterVarsity, 1993), 105.
Mesias dalam keadaanNya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu . . . .”
Pertama, Roma 9:5a terdapt frase
“Mesias dalam keadaanNya sebagai manusia.” (ho Christos to kata sarka).
Tujuan frase “kata sarka--dalam keadaanNya sebagai manusia” adalah mengusulkan suatu kontras pada keadaan sebelumnya atau sebenarnya.59 Maka Kristus, sebelum ‘dalam keadaan sebagai manusia’ Dia adalah ilahi.
Kedua, Roma 9:5a terdapa frase “yang ada” (ho ōn), ini normalnya sebagai bagian yang perkenalkan anak kalimat yang menerangkan jati diri Mesias itu.60 Dalam ayat ini Paulus menyebut Kristus itu Allah.
Bila ditanyakan mengapa Paulus tidak secara eksplisit menyebut Kristus itu Allah?
WitheringtonIII mengutip Metzger bahwa alasan mengapa hanya ada beberapa ungkapan yang esensil mengenai Kristus dalam surat Paulus adalah tanpa-keraguan dikaitkan dengan kebijakan orang lain seperti para rasul, karena tujuan pengajaran guna pemeliharaan orang Kristen, biasanya mereka terus berbicara kaitan dengan fungsional dari pada hubungan ontologis Kristus.61
3. “Yang walaupun dalam rupa Allah . . .”
(Fil 2:6-7).
Sebagian dari “christological hymn”
dalam Filipi 2 menyodorkan beberapa istilah dan frase kunci seperti: (1) morphé
59 Metzger dalam saduran
Witherington bahwa frase kata sarka dan kata pneuma--’menurut roh’ seperti dalam Roma 1:3-4 keduanya dikontraskan.
Witherington III, “Christology,” 105.
60 Contoh lain penggunaan frase ini yang paralel dengan Roma 9:5a adalah 2 Korintus 11:31 “Allah, yaitu Bapa dari Yesus, Tuhan kita, yang adalah terpuji sampai selama-lamanya.”
61 Witherington III, “Christology,” 105
“form--rupa, wujud atau bentuk,” dalam PB hanya ditemukan dalam ayat ini (dengan pengcualian dalam Markus 16:12 yang ditambahkan kemudian); (2) to einai isa theō “to be equal with God--yang sama dengan Allah” dan (3) harpagmos “a snatching, grasping”; “ a desire to acquire-- memegang; mempertahankan.”
Nampaknya istilah morphé (form-- wujud, rupa, bentuk) memberi arti sama dalam ayat 7 sebagaimana dalam ayat 6.
Penambahan kata alla (but--tetapi) pada awal ayat 7 mengusulkan suatu kontras yang diambil antara sebelum dan sesudah Yesus mengambil rupa manusia. Kata morphé diterjemahkan sebagai “form-- rupa, wujud,” “appearance--terlihat, tampak” “condition--kondisi, keadaan,”
“status--status,” “image--gambar.” Apabila kata morphé diterjemahan sebagai “status,”
“condition,” atau “appearance,” maka akan indikasikan bahwa wujud-rupa Yesus, status, appearance atau function tidak sama dengan keberadaannya yang sungguh.
Paulus dalam Filipi 2:7 tidak mengatakan bahwa Yesus dalam pelayanannya di bumi hanya “seperti kelihatan” atau “tampak terlihat” atau “berfungsi” seperti hamba.
Melainkan, ia sungguh menjadi hamba.
Kesejajaran antara dua keadaan adalah tidak tepat karena teks mengatakan bahwa ia dalam wujud-rupa Allah, tapi kemudian mengambil-tambahkan wujud-rupa seorang hamba. Bagi Paulus inilah bagian dan paket dari arti Kristus yang mengambil kondisi dan status manusia.
Kedua, perhatikanlah bahwa Paulus tidak mengatakan bahwa Yesus adalah rupa-wujud Yesus “image--gambar” atau
“likeness--serupa” Allah. Melainkan seperti uraian G.F. Howthorne mengedepankan bahwa dari teks Grika awal kata morphé digunakan untuk ungkapkan
62 G. F. Howthorne, Philippians, dalam Word Biblical Commentary.
Libronix Digital Library System, Computer Program.
63 Howthorne, Philippians.
cara dimana sesuatu, keadaan yang sebenarnya, yang nampak dalam pengertian kita. Morphé selalu memaknai suatu wujud-bentuk yang sunguh-sungguh dan secara utuh mengekspresikan sesuatu keadaan yang menggarisbawahinya.62 Jadi, apabila kata ini diaplikasikan pada Allah, maka morphé-nya harus menunjuk pada kedalaman keadaannya, kepada relita dirinya yang sebenarnya. Morphé theoû secara benar dimengerti sebagai ‘natur dan karakter esensil’ Allah.63 Maka Filipi 2:6a dan 7a dapat diterjemahkan “yang dalam rupa-wujud Allah (yaitu “karakter” “natur”) Allah . . . Ia mengambil-tambahkan dalam karakter, natur hamba.
Ketiga, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan” (Fil 2:6). Dua frase kata yang perlu diperhatikan; (1) to einai isa theō “kesetaraan dengan Allah,” dalam bahasa asli terdapat kata sandang/artikel the yang menunjuk dan menegaskan keberadaan Kristus sebenarnya yaitu kesetaraan ke-Allah-an itu. (2) harpagmos
“memegang, pertahankan.” Kata ini menegaskan tindakan Kristus yang tidak
‘ambil keuntungan apa-apapun pada apa yang secara hakiki miliknya.’64 Hymne Kristus ini menggambarkan Yesus yang
‘merendahkan atau memberikan diri sendiri.’ Terjemahan Kitab Suci Injil terjemahkan “sekalipun Ia bersifat ilahi, kesetaraan dengan Allah itu tidak dianggapNya sebagai sesuatu yang harus dimanfaatkan.”65 Jadi, dalam Filipi 2:6-7 indikasikan bahwa Paulus melihat Yesus memiliki ‘preexistensi--keberadaan sebelumnya dan kesamaan/kesetaraan dengan Allah, tapi dalam preexistensinya Ia
64 WitheringtonIII mengutip penegasan dari R.W. Hoover, dalam WitheringtonIII, “Christology,” 107.
65 Filipi 2:6 dalam Kitab Suci Injil, Dwibahasa Indonesia-Yunani (Jakarta:
LAI, 2007).
tidak ambil keuntungan semua prerogatif ilahi itu.66
Kempat, “melainkan telah mengosongkan dirinya sendiri” (Fil 2:7).
Ayat ini dimulai dengan kata alla (melainkan, tetapi) yang mengusulkan suatu kontras yang diikuti suatu kata kerja dan obyeknya yaitu heauton ekenōsen
“telah mengosongkan dirinya.” Frase ini memunculkan pertanyaan ‘mengosongkan dirinya, apanya yang dikosongkan?’ Dalam argumentsi Howthorne bahwa dari ayat ini saja siapapun tidak dapat menentukan apa yang Kristus telah kosongkan, (karena Paulus tidak sebutkan) walaupun konteks dapat memberikan beberapa petunjuk.67 Dari pihak ‘kenotic christology’ usulakan melalui teks ini bahwa Yesus mengosongkan diri dari atribut-atribut ilahi tertentu seperti: mahatahu, mahakuasa, dan mahahadir ketika ia menjadi manusia. Teks ini hanya dihubungkan pada apa yang Kristus lakukan atau ambil ketika menjadi manusia, bukan pada kematiannya.68
Jadi, Filipi 2, Paulus bermaksud dua hal: (1) Yesus mengosongkan dirinya dari prerogatif dan kemuliaan hakekat ilahinya atau mengosongkan diri dari hak untuk mengklaim prerogatif tersebut (dimana Fiipi 2:6 nampak mengusulkan jika kita mengerti kata harpagmos dengan benar).
Hal prerogatif ini akan mengakibatkan kemuliaan dan keTuhanan, yang memang milik Kristus oleh karena kesetaraannya dengan Allah.69 (2) Yesus semata-mata secara total menyerahkan dirinya, menuangkan dirinya sendiri dalam kerendahan komitmennya yang penuh.70
66 WitheringtonIII, “Christology,” 107.
67 Howthorne, Philippians,
68 R, P, Martin, Carmen Cristi:
Philippians 2:5-11 in Recent Interpretation and the Setting of Early Christian
Worship, (Grand Rapids: Eerdmans, 1976), 97.
B. Kemanusiaan Kristus 1. Kristus sebagai Anak
Topik ini memaknai suatu hubungan yang unik antara Kristus yang ditinggikan dan Allah. Marshall dalam saduran Witherington bahwa: adalah anak yang menjadi tema injil (Rom 1:3, 9) dan melalui titel inilah Paulus menekankan nilai tertinggi dari kematian Dia yang berada dekat dengan Allah sebagai cara untuk mendamaikan manusia dengan Allah (Rom 5:10; 8:32; Gal 2:20; Kol 1:13 dst. Bagi Paulus Yesus adalah Anak Allah semasa kehidupannya di bumi dan dalam status Anak Allah ia telah mati. Sejujurnya, Ia tidak berhenti ilahi di dalam keberadaannya di bumi, dan ketika merendahkan atau mengosongkan dirinya sendiri tidak barmaksud bahwa ia menyerahkan atau berhenti dalam natur ilahi agar mendapat natur manusia.71
2. Dilahirkan seorang Wanita (Gal 4:4) Paulus tegaskan bahwa Yesus dilahirkan seorang wanita. Keberadaannya di dunia ini adalah sebagai manusia normal, yang diahirkan dari rahim seorang ibu ke dalam dunia. Kata genomenon adalah pilihan Paulus untuk diaplikasikan pada siapapun yang dilahirkan seorang wanita.72 3. Dilairkan dalam keberadaan manusia (Fil 2:7)
Yesus dilahirkan mengambil rupa manusia, menjadi manusia yang rentan pada keterbatasan, keberdosaan, bahkan sampai mati. Dalam Roma 8:3 mengindikasikan bahwa Yesus tidak berpartisipasi dalam keberdosaan daging.
C. K. Barrett dalam pengutipan Witherington menegaskan bahwa ‘satu
69 WitheringtonIII, “Christology,” 107.
70 Howthorne, Philippians,
71 WitheringtonIII, “Christology,” 109.
72 F. F. Bruce dalam saduran dari Witherington. WitheringtonIII,
“Christology,” 109.
kemungkinan usulan bahwa Paulus membedakan antara daging sebagaimana diciptakan Allah, dan ‘daging dosa,’ yaitu, daging yang telah jatuh dalam kuasa dosa.
Kristus (dalam paham ini) memliki yang sempurna, daging yang tak jatuh, yang sama sekali tak terbedakan dari keberadaan
‘daging berdosa’ ia datang tambahkan daging atau manusia, supaya inkarnasi menjadi sempurna nyata, tetapi hanya dalam keberadaan manusia, sehingga ia tetap tidak berbuat dosa,73atau memilih untuk tidak berbuat dosa.
4. Adam Terakhir (1 Kor 15:21-23, 44-49).
Paulus menggunakan tipologi Adam, dan menyebut Yesus itu Adam akhir.
Dalam Roma 5:17 secara jelas terimplikasi bahwa hidup orang percaya dalam Kristus bukan semata-mata lebih kuat dari pada kematian yang Adam akibatkan pada seluruh manusia. 1 Korintus 15 membuatnya jelas, kehidupan itu datangnya dari Roh dan surga, dan hal sepertiitulah yang mengubahkan kehidupan natural dan menang atas kematian natural. Roma 5:10 selanjutnya menegaskan bahwa ketaatan Kristus bahkan sampai mati (dari kebenaran dan kektidak berdosaannya) membuat mungkin untuk menyelesaikan semua yang diakibatkan oleh ketidak-taatan Adam pertama.74
III. Keutuhan Allah-Manusia di dalam Pribadi-oknum Yesus Kristus Tuhan
Kristologi Perjanjian Baru prihatin dengan oknum-persona-pribadi Yesus Kristus, tetapi pendekatannya adalah melalui fungsi, pewahyuan historis, dari pada spekulasi lainnya mengenai nature- hakekat (atau dua nature-hakekat) Kristus yang merupakan milik dari perdebatan kristologis yang kemudian. Tentulah, pertanyaan mengenai identitas Yesus
73 WitheringtonIII, “Christology,” 110.
74 Ide dari Cranfield dan Barrett dalam saduran Witherington. WitheringtonIII,
“Christology,” 112.
dimunculkan di masa-kehidupan Yesus dan menjadi utama dalam Perjanjian Baru. Ia dikenali oleh banyak orang sebagai ‘fully God—sungguh-sungguh Allah’ dan ‘fully man—sungguh-sungguh manusia.’
Perjanjian Baru dalam banyak ayat-ayat yang explisit menyebut Yesus “Allah” dan
“Tuhan” dan banyak titel keilahian menunjuk padaNya, banyak perikop yang tindakan atributnya atau perkataannya yang meneguhkan keIlahian Yesus Kristus.75 Banyak yang mengetahuinya sebagai ‘trully man—sungguh-sungguh manusia’ juga menyembahnya sebagai yang ilahi. Yesus tidak menyerahkan atau melepaskan nature- hakekat manusianya setelah kematian dan kebangkitan, karena ia tampak pada para murid sebagai seorang yang bangkit, bahkan ada tanda luka paku di tangannya (Yoh 20:25-27), bahkan sampai pulang terangkat ke surga.76
Bagi mereka Ia adalah “Anak Allah.”
Paulus mendeklarasikan bahwa “God was in Christ—Allah ada di dalam Kristus”
(2Kor 5:19). Yohanes menegaskan bahwa
“The Word was God—Firman adalah Allah” (Yoh 1:1) dan “the Word became flesh—Firman telah menjadi manusia”
(Yoh 1:14). Tomas menyembahnya sebagai “Tuhan dan Allah-nya” (Yoh 20:28). Tetapi untuk semuanya ini, tidak ada spekulasi secara metafisik yang nyata mengenai nature atau hakekatnya sifatnya.
Orang percaya mula-mula memulai dengan satu kejadian yang terjadi disekitar mereka.
Dalam kejadian itu mereka melihat Allah bertindak dan Allah hadir di dalam penyataan-pribadi dan penebusan oleh Kristus. Allah bertindak secara-eskatologis atau yang akhir dan Ia bertindak dalam penghukuman dan keselamatan. Tindakan
75 Wayne Grudem, Systematic Theology: An Intriduction to Biblical Doctrine (Leicester, England: Inter-Varsity Press, 1994), 552.
76 Ibid., 542-3.
ilahi ini nampak dalam Yesus Kristus pusatnya.77
Dalam Yohanes 1:1 ‘Logos yaitu Yesus, telah exist sebelum adanya- permulaan, Ia bersama-sama dengan Allah dan Logos adalah Allah.’ Pada ayat 14 ditegaskan ‘Logos itu menjadi daging atau tambahkan daging pada existensinya yang sudah ada sebelum adanya-permulaan segala sesuatu.’ Inilah keberadaan Yesus Kristus Tuhan yang adalah Allah-Manusia yang tampil dalam satu-pribadi, atau satu- persona, atau satu-oknum kepada para murid dan orang-banyak. Yohanes Pembaptis menyaksikan bahwa “aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati dan Ia tinggal di atasNya . . . dan aku telah melihatNya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah” (Yoh 1:32- 34).
Setelah memanggil murid-murid
“ikutlah Aku,” Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya “kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret” (Yoh 1:43-45). Bersama-sama dengan para murid menghadiri pernikahan di Kana dan buat
‘tanda’ supaya mereka percaya kepadaNya (Yoh 2:1-11), mereka pergi ke bait-Allah, Ia membersihkan bait-Allah dan penanggungjawab tempat itu meminta tanda (ay.18), tetapi Ia memberi jawaban yang mengarah pada ‘kematian- kebangkitanNya’(ay. 19-21), dalam masa tiga hari. Yesuspun menantang Nikodemus untuk dilahirkan kembali dari Roh (Yoh 3), wanita Samaria untuk menjadi penyembah dalam roh dan Kebenaran (Yoh 4), Ia melakukan penyembuhan orang lumpuh selama tigapuluh delapan tahun pada hari Sabat yang kemudian menjadi perdebatan dengan para pemimpin Yahudi (5:1-19) bahwa Yesus menyamakan diriNya sebagai Allah (ay.17-18), sehingga para pemimpin ingin membunuhNya.
77 Frank Stagg, New Testament Theology, (Nashville, Tennessee:
Broadman, 1962), 37.
Dalam kisah memberi-makan limaribu orang (Yoh 6) Yesus menggaris bawahi diriNya sebagai “Akulah roti hidup” atau manna yang telah turun dari sorga, dan Ia tegaskan “Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (ay. 48, 51). “Barang siapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (ay. 54).
Di tengah pertentangan mengenai Yesus (Yoh 7:40-44) Yesus kemudian mengatakan diriNya sebagai “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia akan tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yoh 8:12). Dalam Yohanes 10 Yesus tegaskan diriNya sebagai “Akulah pintu ke domba-domba” dan “Akulah Gembala yang baik, yang memberikan nyawanya bagi domba-domba” (ay. 7, 11- 18). Setelah itu Yesus mendemonstrasikan kebangkitan orang mati melalui kisah kematian Lazarus temannya (Yoh 11:1-44) dan menegaskan “Akulah kebangkitan dan hidup, barangsiapa percaya kepadaKu ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (ay.
25).
Aspek lain dari kisah membangkitkan Lazarus yaitu “masygullah hatiNya”
(ay.33). Yesus begitu terharu dengan kedukacitaan dsari kakak-beradik itu, bahkan setelah tempat penguburan ditunjukkan padaNya, dikattakan “Maka menangislah Yesus” (ay. 35). Tetapi setelah memberi penguatan untuk ‘percaya padaNya sebagai kebangkitan dan hidup,’
Ia dengan suara keras berkata “Lazarus, marilah keluar” (ay.43). setelah membrikan teladan dan beebrapa pengajaran mengenai roh Kudus, dan menegaskan ‘jalan ke rumah Bapa’ (Yoh 14:6), serta menatang mereka untuk ‘tetap berdiam dalam Dia’
(Yoh 15) dan mendoakan dan menyerahakn para murid dalam perlindungan Bapa (Yoh
17), maka Ia berkata kepada Petrus yang berusaha membela Yesus “Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepadaKu?”
(Yoh 18:11).
Kemudian Yesus memasuki proses pengadilan Hanas, Imam besar (Yoh 18:12- 27), Pilatus, dan sampai ia disalibkan dan mati (Yoh 18-19). Tetapi Yohanes 20 mengatakan “pada hari pertama minggu itu” telah terjadi kebangkitan Yesus (ay. 1- 10), Ia menampakkan dirinya, terakhir pada Tomas, yang tidak percaya adanya kebangkitan orang mati (Yoh 20:24-29), dan mengakuiNya “Ya Tuhanku dan Allahku!” (ay.28).
Dari seluruh perbuatan dan semua perkataan Yesus, semuanya dilakukanNya dalam pribadi, atau oknum, Yesus Kristus Tuhan. Tidak ada kesan dalam pelayananNya dalam kontroversiNya dengan para pemimpin Yahudi dan orang banyak bahkan kepada para muridNya yang mengindikasikan bahwa tindakan ini, atau perkataan ini, bahkan perdebatan ini Yesus lakukan dari pihak keAllahan saja atau keManusiaan saja. Semua perbuatan dan perkataan Yesus mulai dari kelahiran dan mati-bangkit-naik ke surga adalah tindakan dalam pribadi, oknum itu, karena Yesus Kristus Tuhan adalah Allah-Manusia yang tampil bertindak dan berkata-kata dalam pribadi yang utuh tersebut.
IV.BERKEMBANGNYA KRISTOLOGIS
Ungkapan mendasar sehubungan dengan berkembangnya Kristologis adalah bagaimanakah Yesus yang adalah ‘fully God—sungguh-sungguh Allah’ dan ‘fully man—sungguh-sungguh manusia’ namun satu persona-pribadi? Pada dasarnya, ajaran alkitabia mengenai persona-pribadi
78Bruce, L. Shelly, Theology for Ordinary People (Downers Grove, Illinois:
InterVaristy, 1993), 100.
79 G. L. Carey, “Nicea, Council of (325),” dalam The New International Dictionary of the Christian Church, ed J.
Yesus Kristus bahwa Yesus Kristus adalah benar-benar Allah dan benar-benar manusia dalam satu oknum-pribadi-persona, dan akan demikian sampai selama-lamanya.
Ajaran Kristen mengenai Kristus—
disebut Kristologi—berkembang mulai di abad ketiga dan melalui proses yang panjang sampai puncaknya di pertengahan abad ke lima. Ada seri konsili (keputusan) gereja dicetuskan yang dikerjakan oleh sejumlah ahli pikir Kristen yang baik.
Klimaks konsili di Chalcedon di Asia Kecil (sekarang Turki) menegaskan bahwa Yesus sungguh-sungguh manusia, juga menegaskan bahwa Yesus sungguh- sungguh Allah. Akhirnya, konsili ini mengakui bahwa manusia yang sungguh dan Allah yang sungguh ini adalah secara lengkap dalam satu persona-oknum atau pribadi yang utuh. Dalam kata lain, Yesus menggabungkan dua nature-hakekat, manusia dan Ilahi, dalam satu oknum- pribadi yang unik.78
Pada konsili Nicea tahun 325 oleh Konstantinus yang melawan Arianisme karena ada ancaman untuk keutuhan gereja Kristen. Penekanan utama pada konsili Nicea bahwa: (1) “sonship” Kristus dihubungkan pada konsep Logos; (2) tambahan frase bahwa Kristus sama ousia-- substansi (Allah) dengan Bapa; (3) pada frase “begotten--memperanakkan atau anak tunggal” ditambah “not made--tidak diciptakan atau dibuat, karena pernyataan Arianus bahwa ‘Logos itu diciptakan.’79 Di sini kata hypostasis digunakan untuk
‘oknum-pribadi’ untuk memberikan perbedaan yang ‘substansial’ antra ‘oknum- pribadi’ dari ke-Allahan.80
Pada perdebatan kristologi Kalsedon, istilah hypostatic union mulai dimengerti sebagai kesatuan atau keutuhan dari natur kemanusiaan dan keilahian Kristus. Juga D. Douglas, (Grand Rapids, Michigan:
Zondervan, 1974, 1978), 706.
80 Dictionary of Cults, Sects, Religions, and the Occult, Pradis CD- ROM:Articles/H/Hypostatic; Hypostasis, Book Version: 5.1.50
pada Konsili Chalcedon menulis [terjemahan].
. . . satu dan Kristus yang sama, Anak, Tuhan, satu-satunya-anak yang tunggal, untuk diketahui (dipahami) dalam dua sifat, tidak berbaur, tidak berubah, tidak terbahagi-bahagi, tidak terpisah-pisah;
keberbedaan dari dua sifat bukan berarti telah diambil oleh kestuan, melainkan milik-hakikinya dari masing-masing sifat tetap dipertahankan, dan dipertemukan dalam satu oknum-pribadi-persona dan satu substansi, tidak dipisah atau dibahagi kedalam dua persona-pribadi, melainkan satu dan Anak yang sama, dan yang diperanakkan, Allah, Firman, Tuhan Yesus Kristus, sebagai nabi sejak awalnya [telah diproklamirkan] mengenai dia, dan Tuhan Yesus Kristus sendiri telah mengajarkan kita, dan kredo (keputusan) para Bapa yang suci telah meneruskan hal ini pada kita.81
Dalam konsili ini menegaskan bahwa dalam satu pribadi-pesona, dua sifat, tidak berbaur, tidak berubah, tidak terbahagi- bahagi, tidak terpisah-pisah. Juga ada frase
“property of each nature were preserved entire and came together to form one person—milik-hakiki dari masing-masing sifat tetap dipertahankan dan menyatu, membentuk satu pribadi.” Kemanusiaan dan kemuliaan, kelemahan dan kekuatan,
81 We, then, following the holy
Fathers, all with one consent, teach men to confess one and the same Son, our Lord Jesus Christ, the same perfect in Godhead and also perfect in manhood; truly God and truly man, of a reasonabla [rational]
soul and body; consubstantial
[coessential] with the Father according to the Godhead, and consubstantial with us according to the Manhood; in all things like unto us, without sin; begotten before all ages of the Father according to the Godhead, and these latter days, for us and for our salvation, born of the Virgin Mary, the Mother of God, according to Manhood;
one and the same Christ, Son, Lord, Only begotten, to be acknowledged in two natures, inconfusedly, unchangeably, indivisibly, inseparably; the distinction of
mortalitas dan kekekalan (imortalitas); dan untuk membayar hutang yang kita berikan, maka suatu sifat yang tidak dapat dilanggar telah dipersatukan dalam sifat yang tidak dapat menderita.82
Pengertian kita haruslah mulai dengan mengesahkan bahwa Yesus adalah manusia yang nyata dan manusia seutuhnya. Ia diidentifikasikan dengan ras manusia saat ia sungguh-sungguh menjadi manusia. (Posisi ini terjadi saat inkarnasiNya, mengambil rupa seorang hamba). Ia dilahirkan, ia bertumbuh menjadi dewasa, tubuhNya berada dalam kondisi secara fisik seperti kita, Ia makan dan minum, tidur dan berkeringat, menjadi lelah dan merasa sakit, menderita, mati dan dikuburkan mengalami kematian seperti mahluk manusia lainnya.
Ia juga mengalami kasih, dan amarah, belas kasihan, dukacita dan sukacita. Dan PB menjelaskannya sebagai ‘manusia Yesus Kristus’ (1Tim 2:5).
Tetapi keyakinan Kristen bahwa manusia Yesus Kristus juga adalah Allah.
Bukan manusia dalam kualitas ilahi, bukan menyamar Allah, melainkan Allah, Anak yang kekal (Firman) yang benar-benar
‘menjadi daging/manusia’ (Yoh 1:14).
Konsili Oikumenis abad ke empat dan kelima bergumul dengan misteri pertanyaan Kristologis dan masing-masing natures being by no means taken away by the union, but rather the property of each nature being preserved, and concurring in one Person and one Subsistence, not parted or divided into two persons, but one and the same Son, and only begotten, God, the Word, the Lord Jesus Christ, as the prophets from the beginning [have declared] concerning him, and the Lord Jesus Chirst himself has taught us, and the the Creed of the holy Fathers has been handed down to us. Dikutip dari Wayne Grudem, Systematic Theology: An Introduction to Biblical Doctrine
(Leicester, England: InterVarsity, 1994), 556.
82 Shelly, Theology for Ordinary People, 100.
merefleksikan pada pokok ini. Konsili Nicea (AD 325) mengesahkan bahwa Ia adalah sungguh-sungguh Allah, Konsili Constantinopel (AD 381) mengesahkan bahwa Ia sungguh-sungguh manusia.
Konsili Efesus (AD 431) menambahkan bahwa, walaupun Allah dan manusia, ia adalah satu Pribadi, sementara Konsili Chalcedon (AD 451) mengklarifikasi bahwa, walaupun Pribadi, Ia adalah Allah dan manusia yang sempurna.
Chalcedonian Christology satu-satunya sintesis yang sangat sempurna mengenai data alkitabia. Sesungguhnya, ungkapan tentang dua nature-hakekat dalam satu Pribadi itu lebih dari sekedar sintesis Perjanjian Baru; ungkapan itu adalah fondasi dokumen-dokumen Perjanjian Baru (lih. Mk 13:32).83
KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN
Pada dasarnya dalam kisah cerita Alkitab yang ditulis para penulis Alkitab mengenai Yesus tidak secara gamblang dan menggaris bawahi bahwa pada waktu Yesus berada di bumi inilah pokok-pokok atau perbuatan serta perkataan yang dalam aspek ilahi dan aspek manusiawi. Tidak ada data masa kanak-kanak, kecuali saat umur duabelas tahun Dia datangi synagogue dan berdiskusi dengan banyak orang di situ yang membuat orang tuanya tercengang (Lk 2:46-52).
Alkitab satu-satunya sumber yang menguraikan Yesus Kristus Tuhan. Mulai dari Perjanjian Lama tahap demi tahap membukakan mengenai prediksi akan tampilnya seorang yang diperkenan Allah.
Dalam proses yang penjang tersebut menimbulkan banyak reaksi dan respon dari pihak orang Yahudi.
Dalam Perjanjian Baru menguraikan mengenai penggenapan, mulai dari pre- eksistensi Yesus, kelahiran dan
83 Diterjemahkan dari Stott, The Authentic Jesus, (Downers Grove, Illinois:
InterVaristy, 1993), 28-34.
peprtumbuhanNya, pelayananNya sampai pada kembaliNya kepada Bapa. Progres mulai dari awal sampai akhir hidupnya menjadi focus seluruh penulis Alkitab khusunya PB. Banyak orang yang menolakNya, tapi banyak orang juga yang menerimaNya. Hal ini terjadi sesuai ungkapan berkat dari Simeon saat berkata kepada maria ibu Anak itu “sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbuklan perbantahan” (Luk 2:34).
Dalam perkembangan sejarah theologi, Yesus inipun menjadi sentral. Dari abad ke abad, banyak ahli pikir berjibaku untuk meraih puncak pengajarannya secara theologis, namun banyak juga yang kandas.
Hal ini nampak jelas melalui proses pengambilan keputusan-keputusan melalui konsili atau kongres di masa lampau.
Kiranya semua ini menjadi bagian perenungan dalam hal arah dan kiat untuk mempelajari dan menyelidiki mengenai pribadi Yesus Kristus Tuhan dalam Alkitab.
SARAN
Theologi Kristologi sangatlah luas dan masih terus terbuka untuk penelitian dan pengkajian. Hal ini terjadi karena banyak generasi muda Kristen berkerinduan untuk berusaha memahami atau ada pemahaman seputar siapakah Yesus itu. Selain generasi muda, banyak juga ahli-ahli theologia dan para hamba Tuhan terus meneliti agar penyampaian mereka berupa pengajaran dan proklamasi Firman mengenai Yesus itu patut.
Melalui kiat dan niat serta kerinduan ini maka nampak penelitian seputar siapakah Yesus dan Kristologi masih terbuka luas.
Kiranya kita bisa mengambil bagian dalam mencerahkan pengajaran kepada para generasi muda bahkan kepada seluruh pelayan baik dalam lingkup organisasi sendiri maupun secara luas.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Carey, G.L. 1978. The New International Dictionary of the Christian Church. Zondervan. Michigan.
Dictionary of Cults, Sects, Religions, and the Occult, Pradis CD- ROM:Articles/H/Hypostatic; Hypostasis, Book Version: 5.1.50.
Grudem. Wayne. 1994. Systematic Theology. InterVarsity. England
Howthorne, G.F. Word Biblical Commentary. Libronix Digital Library Syatem, Computer Program.
Kostenberger, A.J. 1999. The Gospel in Historical, Literary, and Theological Perspective. Baker Academic. Michigan.
Marshall, I. H. 2000. New Dictionary of Biblical Theology. Downers Ggrove, Illinois. England.
Martin, R.P. 1976. Recent Interpretation and the Setting of Early Christian Worship. Eerdmans. Grand Rapids.
Selby, D.J. 1971. Introduction to the New Testament. Macmillan dan London Collier Macmillan. New York.
Shelly, Bruce L. Theology for Ordinary People. Downers Grove, Illinois:
InterVaristy, 1993.
Stagg, Frank. New Testament Theology. Nashville, Tennessee:
Broadman, 1962.
Stott. 1993. The Authentic Jesus.
InterVaristy. Illinois
Witherington III. 1993. Dictionary of Paul and his Letter. InterVarsity.
England.