• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab 4 ini, peneliti memfokuskan penelitian mengenai penggunaan media audio visual yang ada di Area Traffic Control System sebagai media informasi, imbauan dan sosialisasi disiplin berkendara pada masyarakat kota Bandung. Media audio visual dipilih oleh peneliti karena media audio visual yang paling menonjol dalam memberikan informasi dari Area Traffic Control System Dinas Perhubungan kota Bandung kepada masyarakat. Mulai dari memberikan informasi dan imbauan pelanggaran hingga sosialisasi disiplin berkendara pada masyarakat. Dan pada bab ini peneliti akan menguraikan data-data yang sudah diperoleh dari informan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi.

Dalam penelitian ini, jumlah Informan yang peneliti wawancara berjumlah lima orang, informan ini sangat dibutuhkan peneliti dalam memahami media komunikasi audio visual dalam memperkenalkan sosialisasi dan informasi pada masyarakat dari Area Traffic Control System.

Langkah selanjutnya yaitu penyajian data berarti mendeskripsikan dalam bentuk teks naratif kumpulan informasi yang tersusun untuk selanjutnya dilakukannya penarikan kesimpulan atau kembali ke langkah pengumpulan data maupun mereduksi data. Hal ini dilakukan apabila membutuhkan data-data tambahan yang perlu dan belum terpenuhi ketika menyusun penelitian ini.

(2)

4.1 Profil Area Tarffic Control System

Area Traffic Control System (ATCS) adalah suatu sistem pengendalian lalu lintas berbasis teknologi informasi pada suatu kawasan yang bertujuan untuk mengoptimalkan kinerja jaringan jalan melalui optimasi dan koordinasi pengaturan lampu lalu lintas di setiap persimpangan.

ATCS di bawah Dinas Perhubungan Kota Bandung Bidang manajemen transportasi dan parkir, mulai diresmikan pada 20 Oktober 1997 oleh Walikota Bandung Wahyu Hamijaya. Ruang Pusat Kendali Sistem Lalulintas atau ATCS Dinas Perhubungan Kota Bandung beralamat di Balai Kota Bandung Jalan Wastukencana No.2 Babakan Ciamis. Pada awal tahun 1997 terdapat 135 simpang yang termonitor oleh CCTV yang dikembangkan oleh sistem sketch dari Australia. Setelah itu, diadakan renovasi pada tahun 2009 kemudian diperbaharui kembali pada tahun 2012 menggunakan sistem MARKTEL dengan 41 titik simpang yang terintergrasi.

Kemudian pada tahun 2016 diadakan renovasi dan penambahan 150 kamera di 33 titik simpang kerjasama dengan PT Telkom, pada saat itu terdapat 74 titik simpang yang terpantau kamera. Pada tahun 2019 dilakukan pemeliharaan dan penambahan kamera di beberapa titik ruas. Hingga saat ini perangkat kamera yang terpasang sebanyak 226 buah dan Traffic Light terintegrasi ke ruang kendali sebanyak 40 titik.

Perkembangan Teknologi Area Traffic Control System (ATCS) terakhir di dunia ATCS adalah dikembangkannya sistem ATCS generasi ketiga (3G), yaitu sistem ATCS yang dilengkapi dengan kemampuan melakukan perubahan terus-menerus terhadap signal timings berdasarkan hasil pengukuran arus lalu-lintas saat itu.

(3)

Optimalisasi waktu berbasis kondisi aktual tersebut menghasilkan penurunan delay, memperpendek antrian dan mempersingkat waktu perjalanan.

Beberapa contoh ATCS 3G yang telah diterapkan di dunia, antara lain :

1. SCOOT dari Inggris

2. Sydney Coordinated Adaptive Traffic System (SCATS)

3. Los Angeles Adaptive Traffic Control System (LA-ATCS)

4. MOTION, Microprocessor Optimized Vehicle Actuation

5. Prody

6. UTOPIA

7. OPAC

8. RHODES

Sistem pangendalian lalu lintas seperti ini telah dimiliki hampir disemua kota- kota di negara maju, sedangkan di Indonesia saat ini yang ada baru dapat dikatakan sebagai ATCS (Area Traffic Control System) dan belum dapat dikatakan sebagai ITS.

Dalam sistem pengendalian terpadu ini terdapat tiga unsur yang harus disediakan antara lain :

a. Pengumpulan informasi data lalu lintas seperti volume, lalu lintas, kecepatan kendaraan, kemacetan dengan menggunakan berbagai alat detector.

(4)

b. Pengendalian APILL, untuk menjadikan pengendalian koordinasi dan area dalam mengendalikan lalu lintas.

Informasi yang dapat diberikan kepada pengguna jalan seperti tentang tingkat kemacetan, waktu perjalanan, rute yang dapat dilalui dapat melalui papan informasi, navigasi pada kendaraan. radio, telepon/fax dsb.

Pengemudi mendapat informasi lalu lintas melaiui radio, papan informasi dan navigasi pada kendaraan pada saat mengemudi, sehingga pengemudi dapat mengetahui secara langsung/pasti mengenai kondisi dan situasi jalan yang akan dilalui dengan demikian dia dapat memilih rute-rute alternatif apabila terjadi kemacetan/kecelakaan lalu lintas yang memungkinkan untuk mencapai tempat tujuan lebih cepat.

Pengembangan ITS di negara-negara maju ini pada dasamya adalah untuk mengurangi jumlah kecelakaan lalu lintas dalam usaha meningkatkan keselamatan dan memberikan kenyamanan bagi pengemudi serta mengurangi kemacetan lalu lintas.

Gambar 4.1 Logo Area Traffic Control System Dinas Perhubungan Kota Bandung

(5)

4.1.1 Tujuan ATCS

Tujuan dari Area Traffic Control System adalah sebagai berikut :

a. Untuk mencapai kinerja lalu lintas yang optimal dengan meminimalkan tundaan disetiap simpang yang dikoordinasikan dan mempersingkat waktu tempuh, dan salah satu strategi dalam upaya pengurangan emisi dari sektor trasportasi.

b. Terciptanya optimasi kinerja jaringan jalan

c. Mewujudkan sistem lalu lintas dan angkutan jalan yang aman, selamat dan berwawan lingkungan.

d. Mengurangi jumlah dan beban petugas pengatur lalu lintas di persimpangan.

e. Meningkatnya kualitas pelayanan dalam pengaturan lalu lintas dan angkutan umum Trans Metro Bandung.

4.1.2 Fungsi ATCS

Fungsi dari Area Traffic Control System adalah sebagai berikut :

a. Penyimpanan/ database persimpangan.

b. Memberikan informasi status perangkat-perangkat traffic controller.

c. Menampung beberapa koneksi aplikasi client seperti traffic client dan kamera.

d. Aplikasi traffic server berbasis desktop.

e. Server room dan workstation.

(6)

4.1.3 Struktur Organisasi ATCS

Bagan 4.1 Struktur Organisasi ATCS 2019

4.2 Profil Informan

Dalam penelitian ini terdiri dari empat informan, keempat informan ini adalah subjek dalam penelitian ini, yang memberikan informasi melalui wawancara yang peneliti lakukan sebagai bahan dalam penelitian dan informasi tersebut ialah operator Area Traffic Control Sustem dan staff penanggung jawab.

(7)

Dalam penelitian ini informan akan diberi kode dengan menggunakan inisial A1 dan seterusnya. Pengkodean ini berguna untuk mempermudah penyebutan para informan dalam pembahasan. Berikut tabel penyajian data informan.

Tabel 4.2 Profil Informan

No Kode Informan Jenis Kelamin Pekerjaan Usia

A1 Yance Arvian Laki-laki Penanggung jawab 48

A2 M. Pandu Fauzi Laki-laki Operator 25

A3 Ari Rizki Nugraha Laki-laki Operator 26

A4 Robby S. P. Habibie Laki-laki Operator 27

A5 Sandy M. Bahtiar Laki-laki Operator 26

Sumber : Penelitian Juli 2019

Yance Arvian adalah salah atu staff di Area Traffic Control Sysytem Dinas Perhubungan kota Bandung. Beliau adalah orang yang memiliki kapabilitas dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti. Beliau adalah orang yang bertanggung jawab di CCTV Room atau Control Room dan juga sebagai operator di Area Traffic Control System Bandung.

Muhammad Pandu Fauzi adalah salah satu staff Area Traffic Control System Dinas Perhubungan kota Bandung bagian operator dan staff seksi sarana dan prasarana.

Beliau adalah orang yang memiliki kapabilitas dalam menjawab pertanyaan ini, karena

(8)

beliaulah yang memantau dan mengimbau masyarakat langsung menggunakan camera cctv dari persimpangan kota Bandung.

Ari Rizki Nugraha adalah salah satu staff di Area Traffic Control System Dinas Perhubungan kota Bandung. Beliau adalah orang yang memiliki kapabilitas dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian ini, karena beliau merupakan bagian operator yang bertugas di control room atau CCROOM dan juga sebagai seksi kepegawaian.

Robby Surya Prialdy Habibie adalah staff atau operator di Area Traffic Control System. Beliau juga sebagai salah satu Admin sosial media ATCS yang memiliki kapabilitas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti ini.

Sandy Muhammad Bahtiar adalah salah satu staff di Area Traffic Control System Dinas Perhubungan kota Bandung. Beliau adalah orang yang memiliki kapabilitas dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian ini, karena beliau merupakan bagian operator yang bertugas di control room atau CCROOM dan juga sebagai seksi sarana dan prasarana.

4.3 Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian kualitatif dan Studi Deskriptif peneliti menguraikan tentang data penelitian yang akurat dan akan dihubungkan dengan konsep maupun teori yang sebelumnya telah peneliti bahas. Analisis pada penelitian ini akan di fokuskan pada Pemanfaatan Media Komunikasi Audio Visual Area Traffic Control System dalam mensosialisaikan program Disiplin Berkendara di kota Bandung.

(9)

Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara serta dokumentasi yang sebagian besar di laksanakan di kantor Area Traffic Control System DISHUB Bandung Jln. Wastukencana No. 02 kota Bandung.

Secara umum data penelitian berisikan mengenai bagaimana peran dari Area Traffic Control System dalam menggunakan media komunikasi audio visual sebagai media Informasi pada masyarakat, serta Bagaimana menetukan isi pesan media audio visual Area Traffic Control System dalam memberikan informasi, imbauan dan mensosialisasikan disiplin berkendara. Untuk lebih jelas dan detailnya peneliti menyajikan penelitian kedalam penjelasan-penjelasan beserta analisisnya.

Peneliti melakukan wawancara bersama Penanggung jawab, staff operasional Area Traffic Control Systemdan staff lainnya dengan konteks memberikan informasi dan pemantauan agar tidak adanya pelanggaran yang terjadi di persimpangan.

4.3.1 Bagaimana peran Area Traffic Control System dalam meberikan informasi pada masyarakat melalui media audio visual

Berdasarkan penelitian yang dilakukan terkait peran ATCS dalam memberikan informasi menggunakan media komunikasi audio visual di Area Traffic Control System, peneliti menemukan fakta-fakta di lapangan yang di dapatkan dari hasil wawancara peneliti bersama pihak yang terlibat secara langsung terkait manfaat penggunaan media komunikasi audio visual di Area Traffic Control System.

Berikut hasil wawancara peneliti yang disampaikan oleh informan A1:

Ya….yang menjadi alasan kami menggunakan audio visual jelas mengikuti perkembangan jaman, karena jaman sekarang sudah banyak edukasi atau

(10)

konten-konten kreatif itu munculnya melalui video apalagi di youtube. Tapi kami tidak fokus ke youtube sebenernya, kami fokusnya di Instagram sehingga media audio visual ini cocok sebenernya untuk dijadikan media edukasi apalagi yang sasarannya adalah milenial,sasarannya anak muda jelas ini sesuai dengan perkembangan jaman saat ini (Hasil wawancara informan A1 26 Juli 2019).

Informan A1 mengungkapkan bahwa alasan utama menggunakan media audio visual untuk media komunikasi adalah yang pertama mengikuti perkembangan zaman yang harus di manfaatkan dan hal itu lebih mudah untuk alat mengedukasi bagi masyarakat terutama bagi kaum milenial.

Adapun opini yang diucapkan oleh informan A3 berikut hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan informan A3 :

Landasan sosialnya yang pertama itu lebih efektif sebagai keefektifan dalam memberikan himbauan kepada para pelanggar, karna pendekatan sosial melalui himbauan itu dirasa lebih nyaman atau lebih efektif dibandingkan daripada menegur langsung, kadang kan kalau ditegur langsung hanya pada saat itu saja, tidak ada efek jera kalau dengan audio ini kita lebih ke fokusnya itu ke efek jera. Jadi kalau pake pengeras suara itu kan gak cuma dia yang ngedenger, tapi orang yang disekitarnya juga ngedenger oh yang mana nih yang melanggar.. oh orang itu tuh sambil nunjuk. nah itu lebih ke efek jera sebenernya ( Hasil wawancara A3 26 Juli 2019 ).

Berdasarkan hasil wawncara informan A3 mengungkapkan bahwa lebih efektif memberikan informasi dan imbauan bagi masyarakat jika menggunakan media audio visual dan juga memberikan edukasi kepada masyarakat lain jika ada salah satu masyarakat yang diimbau melalui speaker audio Area Traffic Control System.

(11)

Informan A5 menambahakna pernyataan tentang landasan dari ATCS dalam menggunakan media komunikasi untuk informasi dan imbauan :

Jadi untuk landasan kita, landasan kami untuk menghimbau untuk mensosialisasi itu beberapa landasannya, misalnya contoh himbauan di persimpangan atau kita ada parodi-parodi atau sosialisasi di media sosial itu tidak hanya eeee.. sekedar bikin konten ya, tapi kita disini misal kita ada sosialisasi tentang himbauan untuk menggunakan helm di sosial media, misal. Nah itu ada landasan hukumnya di pasal 291 ayat 1 tentang sanksi bagi pengendara motor yang tidak memakai helm berstandar nasional seperti itu, kemudian contoh lain misal yang nerobos lampu merah, terus melanggar lampu lintas, itu ada beberapa landasan hukumnya, misal di rambu-rabu lalu lintas pelanggaran rambu-rambu itu ada di pasal 287 ayat 1 tentang sanksi melanggar aturan perintah larangan, atau rambu lalu linta itu ya seperti itu. (Hasil wawancara informan 31 Juli 2019).

Selanjutnya peneliti memberikan pertanyaan mengenai alat atau media komunikasi audio visual apa yang digunakan Area Traffic Control System dalam memberikan informasi, berikut opini dari informan A1 :

Medianya kita punya media sosial ada Instagram dan twitter kita memanfaatkan dua media sosial itu nah.. selain itu di instagram kita bisa berkomunikasi lewat live Instagram, bisa berkomunikasi melalui Direct Massage atau DM dan juga untuk masyarakat bertanya kita bisa menjawab, jadi interaksi tanya jawab kita lakukan di media sosial, kalau di twitter kan kita bisa balas membalas mention gitu.. jadi itu media informasi yang digunakan untuk komunikasi dua arah”

Pengeras suara ya.. pengeras suara yang dipasang di lampu merah itu tapi sifatnya satu arah ya.. itu memang pesan dari kami untuk masyarakat. Jadi masyarakat hanya bisa mendengar tidak bisa ada timbal balik, itu selain media sosial ya.. selain itu kami juga selalu memberikan informasi lewat

(12)

radio, sebenernya radio sih yang lebih sering telepon ke kami meminta informasi ataupun laporan tentang arus lalu lintas gitu ( Hasil wawancara informan A1 26 Juli 2019).

Hasil wawancara dengan informan A1 menjelaskan bahwa media audio visual yang digunakan adalah media sosial, pengeras suara yang dipasang di persimpangan jalan dan melalui Radio lokal Bandung.

Sementara opini dari informan A2 yang merupakan seorang penanggung jawab Control Room adalah sebagai berikut :

Oke, pertama itu kita menggunakan Traffic light, dimana traffic light sekarang sudah berkembang, sekarang kita itu sudah memasang CCTV, berdasarkan perkembangan tersebut kemudian kita menggunakan voice amplifier memberikan himbauan yang bisa di dengar oleh pengguna jalan baik roda empat maupun roda dua. ( Hasil wawancara informan A2 26 Juli 2019 ).

Hasil dari opini informan A2 media yang digunakan adalah media langsung satu arah antara lain Traffic Light, CCTV dan speaker yang langsung terkoneksi ke setiap persimpangan jalan di kota Bandung.

Informan A4 menambahakan dalam memberikan pernyataaan tentang media yang digunakan :

Kalo online kita menggunakan medsos ya, apa.. jaman sekarang seperti Instagram, twitter dan youtube ada, kita ada tiga kalau yang offlinenya kadang kita turun ke lapangan bersama para relawan ikut juga mendisiplinkan salah satunya kegiatan disiplin sukajadi simpang surya

(13)

sumantri djundjunan atau Pasteur itu tiap hari sabtu kita kolaborasi, jadi antara petugas ATCS diruangan memberi himbauan, relawan dibawah membawa kaya apa sign board untuk mengingatkan apa pentingnya menggunakan helm, dan apa pentingnya berhenti dibawah garis stop light.

(Hasil wawancara informan 30 Juli 2019).

Dalam penelitian ini, peneliti menemukan beberapa fakta di lapangan terkait dengan peran ATCS dalam memberikan informasi melalui media audio visual bagi masyarakat sangat memngaruhi, bermanfaat dan membantu operator yang bertugas dan melakukan pemantauan. Hal itu disampaikan oleh informan A3 :

Manfaatnya membantu petugas yang bekerja dilapangan untuk mengatur arus lalu lintas, Karena kita selalu koordinasi dengan rekan-rekan yang ada di lokasi kemudian koordinasi juga dengan unit-unit lain seperti polisi, damker, ambulance, yang membutuhkan jalur-jalur prioritas, nah kita pantau lewat cctv dia tersendatnya dimana, kemudian kita memberi himbauan menggunakan pengeras suara bahwa damker melintas tolong berikan jalan seperti itu, jadi cctv untuk memantau kendaraannya dimana, sedangkan pengeras suara untuk memberikan himbauan agar bisa memprioritaskan kendaraan darurat. ( Hasil wawancara informan A3 26 Juli 2019 ).

Manfaat lain juga dirasakan oleh informan A1 yang mana manfaat yang dirasakan cukup banyak, manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat kota Bandung tidak hanya untuk kelancaran Area Traffic Control System saja, berikut opini menurut A1 :

(14)

Manfaat ATCS ini sangat luas ya, apalagi sistem yang ada di ATCS ini bisa diintegrasikan dengan media sosial, kita bisa pakai konten-kontennya untuk media sosial, kalau media sosial kan penggunaannya sangat luas itu tujuan kami gitu untuk menyebarkan informasi seluas-luasnya agar masyarakat juga terbantu gitu jadi istilahnya kami ingin ATCS ini bermanfaat gitu tidak hanya untuk kami sendiri disini tetapi juga untuk masyarakat luas yaitu dengan adanya media masyarakat jadi tau sistem kerja ATCS Seperti apa biar masyarakat jadi lebih tahu lagi sudut pandang yang berbeda dari arus lalu lintas. ( Hasil wawancara informan A1 26 Juli 2019 ).

Keefektifan dalam menggunakan media atau alat komunikasi audio visual juga sangat berpengaruh dalam kinerja mensosialisasikan disiplin berkendara bagi masyarakat, seperti yang dijelaskan oleh informan A1 :

Untuk saat ini sangat efektif, audio visual ini karena menariklah . Ketimbang media-media seperti spanduk, atau media non visual, karna masyarakat sekarang lebih menyukai tontonanlah lebih asik aja gitu ketika menonton sambal mendengar apalagi dengan konten yang menarik. Itu sih efektif sih untuk mengedukasi masyarakat sehingga kalau konten itu menarik pasti masyarakat akan ikut menyebarkan juga konten tersebut. ( Hasil wawancara informan A1 26 Juli 2019).

Dalam menggunakan media audio visual untuk memberikan informasi sangat efektif bagi petugas untuk memberikan sosialisasi pada masyarakat, karena masyarakat lebih

(15)

senang dan menyukai informasi yang berupa gambar dan suara di banding dengan menggunakan tulisan saja, jadi lebih mudah untuk mengedukasi lewat media audio visual mulai dari meia online maupun offline.

Informan A3 menambahkan kalau dalam menggunakan media audio visual itu sangat efektif apalagi menggunakan konten-konten kreatif yang sifatnya untuk mengedukasi masyarakat, seperti yang di utarakan oleh informan A3 :

Saya rasa itu efektif, karena dengan adanya konten konten yang ada sekarang juga, banyak mendapatkan respon positif ya… walaupun ada pro dan kontra, tetapi tetap disini kan kita tujuan utamanya memberikan edukasi. Selama konten edukasi dikolaborasikan dengan parodi tetapi tidak menghilangkan isi pesan yaitu himbauan kepada para pelanggar.

Kemudian, sosial media juga digunakan untuk menerima kritik dan saran dari masyarakat. Misalnya min di daerah sini jam segini banyak pelanggaran nih, lalu kita pantau dan himbau. Apabila himbauan langsung, saya rasa memberikan efek jera yang sangat dalam. Karena pelanggar dapat menerima langsung teguran, sehingga tidak melakukan pelanggaran kembali. ( Hasil wawancara informan A3 26 Juli 2019 ).

Dan menurut informan A2 dengan adanya penggunaan media audio visual sebagai alat untuk komunikasi antara Area Traffic Control System dengan masyarakat sudah membuat beberapa perubahan bagi masyarakat, berikut menurut informan A2 :

(16)

Ya menurut saya efektif sekali, karena dengan melalui media sosial lain seperti di Instagram kemudian kita juga langsung edukasi ada perkembangan dan ada perubahannya. ( Hasil wawancara informan A2 26 Juli 2019 ).

4.3.2 Menetukan isi pesan media audio visual Area Traffic Control System agar menarik dalam memberikan informasi pada masyarakat

Area Traffic Control System DISHUB kota Bandung menjadikan konten- konten kreatif untuk alat edukasi dan sosialisasi pada masyarakat, dimana seluruh konten yang dibuat adalah spontan dari semua petugas yang mana secara tidak langsung petugas memang dituntut untuk lebih kreatif agar bisa menarik minat masyarakat agar lebih peduli dan disiplin dalam berkendara. Hal ini dijelaskan langhsung oleh informan A1 :

Jadi kita punya tim juga disini itu kalau kita bikin konten itu kita mencari apa yang sedang tren saat ini ya kita ikuti sehingga bisa lebih sampailah pesannya. Misalnya kemarin kita bikin video dengan tema Aladdin karena kan sedang rame-ramenya film Aladdin, ya kita buat Apa yang saat ini masyarakat sukai, jadi dengan mudah pesan-pesannya tersampaikan.

Tahapan membuat konten sebenarnya menemukannya itu kita spontan ya karna kita tidak merencanakan konten yang di posting itu, tapi kita sering mendapat konten-konten yang menarik itu pada saat pemantauan tiba-tiba ada hal yang lucu, menarik, Memang untuk video, kita spontan tetapi untuk menentukan konsepnya tema apa yang cocok, dan lagu dipikirkan lagi sampai dengan membuat caption, musik dll dipikirkan, kita mencari-cari

(17)

hal yang sedang tren saat ini, semuanya harus bisa.. kalau disini semuanya harus bisa. ( Hasil wawancara informan A1 26 Juli 2019 ).

Hal yang sama di jelaskan oleh informan A3 yang mengatakan bahwa untuk menentukan isi konten agar bisa sampai pada masyarakat untuk mengedukasi harus kreatif tanpa mengandung unsur SARA, berikut kutipan menurut informan A3:

Kalau yang himbauan langsung, kita pertama lihat dulu situasinya, karena memang kadang kita tidak bisa langsung bercanda atau memberikan himbauan selang seling dengan bercandaan tanpa melihat situasinya, kita harus tau kapan harus memberikan selingan pada pengendara, tidak menyinggung, sopan, tidak menggunakan unsur SARA. Kalau yang online nah ini biasanya kita buat parodi ya.. nah kalo di parodi sendiri, kita menyesuaikan dengan video yang ada, kalau misalkan di videonya ini ternyata pelanggarannya itu menaiki penumpang lebih, tidak menggunakan helm, atau dan yang lainnya, kita lihat dulu alur videonya kemana, lalu kita rangkai seperti apa enaknya, dibuat pantun kah, dibuat puisi kah, tapi tetap, kita sematkan di akhir pesan pesan untuk pelanggar tadi, nah di deksripsinya nanti dijelaskan lebih jelas.

Kalau untuk semua yang bertugas pasti mendapat sebuah konten, karena kita di dalam melakukan himbauan banyak keadaan dan suasana yang berbeda, oleh karena itu video-video yang sudah didapatkan kemudian dikumpulkan oleh yang bertugas lalu diberikan ke bagian editing untuk

(18)

memberikan arahan pada setiap video. ( Hasil wawancara informan A3 26 Juli 2019 ).

Mengedukasi masyarakat dengan menggunakan media audio visual dalam memberikan informasi dan sosialisasi akan berhasil jika melihat adanya respon langsung dari masyarakat. Seperti yang dikatakan oleh informan A3 :

Saya rasa itu efektif, karena dengan adanya konten konten yang ada sekarang juga, banyak mendapatkan respon positif ya… walaupun ada pro dan kontra, tetapi tetap disini kan kita tujuan utamanya memberikan edukasi. Selama konten edukasi dikolaborasikan dengan parodi tetapi tidak menghilangkan isi pesan yaitu himbauan kepada para pelanggar.

Kemudian, sosial media juga digunakan untuk menerima kritik dan saran dari masyarakat. Misalnya min di daerah sini jam segini banyak pelanggaran nih, lalu kita pantau dan himbau. Apabila himbauan langsung, saya rasa memberikan efek jera yang sangat dalam. Karena pelanggar dapat menerima langsung teguran, sehingga tidak melakukan pelanggaran kembali.( hasil wawancara informan A3 26 Juli 2019).

Informan A4 menambahkan tentang bagaimana tahapan dalam pembuatan konten kreatif ATCS :

Sebelum upload kita ya paling kalo misalkan gambar kita di template yah..

kalau video untuk parodi di sesuaikan dengan yang hits sekarang, kadang

(19)

video lama baru di upload kadang nyari kaya kemarin musim kemarin yang Ramadhan yang apa.. yang Ramayana yang Astaghfirullahaladzim nah ketebulan nemu pelanggar yang megang dada yang kaget jadi langsunglah diolah, sambil kita juga bikin lirik-liriknya di edit di becandain kita juga mengikuti jaman yah biar diterima enak diliatnya gitu biar tidak menyinggung instansi atau ke orangnya. Tiap regu beda-beda sih kadang hasilnya juga beda-beda, kalau regu saya yang ngeditnya sandi yang bikin musiknya saya kalau widya bagian himbauan nah kita kan seringnya itu memproduksinya itu parodi lagu, kalau ga parodi lagu kita bikin ceramah, kalau ga bikin ee…puisi dialog bercandalah yang kaya gitu. Kalau regu abdul, regu tiga itu sukanya bikin yang lagi hits, kadang saya juga ga ngerti mungkin karna umur ya yang beda saya ga ngerti korigor, dia tiba- tiba posting korigor. Nah saya kan kadang ga mengerti, tapi warga yang mengertinya kit amah ga membatasi semua tim punya kreativitas masing- masing, punya sudut masing-masing berdasarkan seni asal tidak menyinggung. (hasil wawancara informan 30 Juli 2019).

Informan A1 juga mengatakan bahwa respon masyarakat sangat positif apalagi dengan di sajikannya konten kreatif untuk masyarakat, yang dimana selalu beranggapan bahwa meberikan informasi itu selalu dengan cara yang berat, namun ini bisa sangat ringan untuk diterima, berikut kutipannya :

(20)

Baik, tanggapannya baik apalagi ini dibuktikan semakin banyaknya followers ya.. kalau kaitannya dengan media sosial makin banyak orang yang tahu tentang ATCS ini seperti apa, makin banyak orang yang tahu ATCS itu tugasnya apa, dan banyak juga orang yang tahu pelanggaran yang terjadi itu disorot lah. Jadi kalau tanggapan masyarakat ya positif lah Apalagi ketika kami membuat konten-konten kreatif, konten-konten video tentang edukasi yang dikemas dengan parodi misalnya nah yang biasa kita posting.. itu masyarakat kalau kita ga posting seminggu dua minggu itu pasti nanyain, jadi memang respon masyarakat sangat bagus apalagi ketika video di posting langsung banyak yang repost dan banyak yang komen juga.( Hasil wawancara informan A1 Juli 2019 ).

Selama ini yang kami lakukan, untuk pengukuran efektif atau tidaknya diukur dari respon masyarakat dari apa yang kami posting. Kalau kaitannya dengan melihat apa yang kami posting, itu respon masyarakat cukup baik, berarti ini efektif. Apabila respon masyarakat baik pada video/konten yang kami posting maka itu efektif. Kemudian melihat dari komentar-komentar masyarakat dari video yang kami posting. Apalagi youtubenya kita kurang aktif di youtube tapi adalah beberapa orang yang nanya kapan bikin youtube gitu. Itu pasti efektif. Kalo dipersimpangan kita himbau jadi ya gitulah ya pasti malu, tapi intinya kalau lihat respon masyarakat sih cukup efektif ya efektif. ( Hasil wawancara informan A1 26 Juli 2019).

(21)

Tabel 4.3 Temuan Penelitian

No Pertanyaan Penelitian Temuan Penelitian

1. Bagaimana peran Area Traffic Control System dalam meberikan informasi pada masyarakat melalui media audio visual ?

1. Area Traffic Control System merupakan program Kerja dari Dinas Perhubungan Kota Bandung

2. ATCS Mengikuti perkembangan zaman agar bisa lebih diterima masyarakat saat menbeikan edukasi, informasi dan sosialisasi 3. Menggunakan media audio visual

lebih gampang untuk diterima oleh masyarakat terutama untuk kaum milenial

4. Untuk lebih menggencarkan program disiplin berkendara di kota Bandung dan lebih gampang dalam melakukan pendekatan sosial kepada masyarakat dengan menggunakan media audio visual atau media digital.

(22)

5. Melalui media audio visual dan koten kreatif Informasi yang disampaikan oleh ATCS dapat dengan mudah difahami oleh masyarakat, karena media digital dapat dengan mudah dan selaluu dapat diakses setiap waktu.

6. Media audio visual Memudahkan petugas dalam bekerja untuk berkoordinasi dengan petugas lapangan

7. ATCS dalam menggunakan media audio visual Memudahkan

masyarakat mendapat informasi dimana saja dan kapan saja 8. Penggunakan Media audio visual

Sangat efektif untuk memberikan edukasi, informasi dan sosialisasi karena sangat mudah diterima oleh masyarakat

3. Bagaimana Menetukan isi pesan media audio visual Area Traffic Control System

1. Penyampaian pesan harus ringan salah satunya dengan membuat

(23)

agar menarik dalam memberikan

informasi, imbauan dan mensosialisasikan disiplin berkendara

konten video parodi yang sedang Happening

2. Mengumpulan video rekaman cctv untuk membuat sebuah ide cerita/konten kreatif

3. Mengolah file video, editing, mengisi suara untuk dijadikan informasi berupa konten kreatif 4. Menemukan ide kreatif konten

oleh seluruh petugas atau operator secara on the spot dan langsung dilakukan editing dari video yang sudah terkumpul

5. Informasi pesan tidak boleh mengandung unsur SARA

4.4 Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat bahwa Pemanfaatan media audio visual Area Traffic Control Sytem dalam memberikan informasi pada masyarakat terdapat beberapan tahapan untuk mencapai tujuannya.

(24)

Berikut adalah pembahasan serta analisa penelitian yang peneliti dapatkan dari berbagai sumber terkait pada manfaat penggunaan media audio visual, yang disusun secara konstruktif dari hasil penelitian yang dilaksanakan menggunakan metode wawancara bersama para narasumber terkait.

Dengan metode analisis deskriptif peneliti juga dapat mengetahui hal-hal yang belum diketahui. Analisa penelitian ini akan berfokus pada Pemanfaatan Area Traffic Control System sebagai media informasi dan sosialisasi program disiplin berkendara Dinas Perhubungan kota Bandung.

Dengan teori Public Information peneliti juga dapat mengetahui dan menganalisis permasalahan lebih dalam menggunakan teori ini. Karena teori Public Information merupakan komunikasi satu arah yang digunakan oleh Instansi pemerintah yang memiliki isi pesan tentang perusahaan dan lebih banyak kebenaran. Model ini relevan dengan hasil penelitian karena model komunikasi yang digunakan oleh Area Traffic Control System merupakan model komunikasi satu arah yang dilakukan bukan untuk promosimelainkan untuk memberikan informasiyang dibutuhkan publik, seperti indormasi lalu lintas, imbauan dan sosialisasi.

Selain relevan dengan teori diatas, penelitian ini juga relevan dengan teori Media Baru, karena dalam penelitian ini objek penelitian yang merupakan Area Traffic Control System menggunakan model komunikasi satu arah yang sifatnya mengatur dan meberikankan informasi dari operator atau petugas Area Traffic Control System melalui sistem komputer yang telah terlihat dari layar monitor yang terkoneksi di lapangan langsung dengan masyarakat. Hal ini sesuai dengan asumsi teori Media Baru

(25)

yaitu interaksi menggunakan media komputer atau media digital lainnya seakan-akan berinteraksi langsung dengan media atau masyarakat yang dituju untuk memberikan informasi yang ingin disampaikan. Dan dalam relevan dalam penggunaan media sosial yang sangat mudah memberikan informasi dan dapat diakses oleh masyarakat kpan saja dengan mudahnya.

4.4.1 Analisis Peran Area Traffic Control System dalam memberikan informasi pada masyarakat melalui media audio visual

Kota Bandung telah mengalami perubahan dari pembangunan insfrastruktur hingga pelayanan masyarakat oleh pemerintah kota Bandung. Baik dari segi pendidikan, kependudukan, program kerja hingga estetika kota. Segala jenis program kerja telah dilakukan dan sangat terasa perubahannya bagi masyarakat. Maka dari itu pemerintah di bantu oleh Dinas Perhubungan kota Bandung dengan program kerja Area Traffic Control System yang berfokus pada program disiplin berkendara untuk masyarakat, pemerintah sedang gencar melaksanakan lebih giat lagi program tersebut.

Cara yang digunakan Dishub kota Bandung dalam menarik masyarakat untuk lebih peduli dan disiplin pada saat berkendara dalah dengan menggunakan alat komunikasi media digital atau media audio visual berbentuk camera cctv dan speaker imbauan yang tersambung di setiap persimpangan jalan kota Bandung. Dan agar lebih menarik lagi kepedulilan masyarakat Area Traffic Control System menggunakan strategi edukasi dan sosialisasi dengan menggunakan media audio visual online atau biasa disebut dengan media sosial. Setelah masyarakat mulai tertarik dengan gerakan yang dilakukan

(26)

pemerintah, rencana untuk program disiplin berkendara mulai terealisasikan dikit demi sedikit.

Pemerintah berfikir bahwa strategi untuk memnafaatkan media audio visual sebagai alat komunikasi memberikan informasi dan sosialisasi pada masyarakat yang sesuai dan kreatif akan semakin mempengaruhi kesdaran masyarakat akan pentingnya disiplin saat berkendara. Sesuai dengan teori media klasik Donald Ellis mencatat bahwa media yang terbesar pada suatu waktu akan membentuk perilaku dan pemikiran.

Ketika media berubah, demikian juga dengan cara berfikir kita, cara kita mengatur informasi dan berhubungan dengan orang lain. Dan dalam teori media baru juga disebutkan dari buku The second Media Age, yang menandai periode baru dimana teknologi interaktif dan komunikasi jaringan, khusunya dunia maya akan mengubah masyarakat.

Dalam hal ini selain memanfaatkan media audio visual, Area Traffic Control System juga sangat berperan aktif sebagai pemberi informasi kepada masyarakat.

Secara tidak langsung pihak operator ATCS merupakan komunikator dalam pemberian informasi dan sosialisasi program kerja Dinas Perhubungan kota Bandung. dengan menggunakan alat komunikasi yaitu media digital yang dapat dengan mudah menyampaikan informasi dan pesan yang ingin disampaikan oleh operator ATCS dan sangat dengan mudah pula masyarakat mendapatkan informasi yang dibutuhkan dengan cara mengakses media digital atau platform yang sudah pihak ATCS pergunakan.

Dalam menarik masyarakat untuk lebih peduli terhadap keselamatan dan disiplin berkendara, pemerintah kota Bandung menggunakan media Audio visual sebagai

(27)

landasan untuk memberikan imbauan dan sosialisasi dengan cara memberikan peringatan lewat microfon di setiap persimpangan kota Bandung yang sudah dipantau oleh petugas Area Traffic Control System Bandung. Selain itu juga menggunakan strategi kumpulan video parodi yang unik dan kreatif melalui media sosial instagram, youtube dan twitter agar lebih mudah di fahami dan lebih ringan untuk diterima masyarakat terutama kaum milenial pada zaman sekarang. Apabila pesan yang disampaikan melalui format yang telah dilakukan baik dari microfon imbauan langsung dan sosialisasai audio visual sosial media telah tersampaikan dengan sangat baik, maka strategi Area Traffic Control System kota Bandung dalam memanfaatkan media Audio Visual telah berhasil dilaksanakan.

Dan Landasan yang sangat mendukung dengan adanya penggunaan media audio visual oleh Area Traffic Control System adalah dengan adanya dasar hukum pelanggaran yang menjadi tujuan utama dibuatnya program disiplin berkendara di kota Bandung antara lain Pasal 291, 287 dan lainnya.

Alat komunikasi berupa media digital yang digunakan oleh area Traffic Control System Dinas Perhubungan kota Bandung ada beberapa jenis, diantaranya Komputer, Micropfon, Speaker, CCTV, Wall Display ( Big screen display), dan Media sosial seperti Instagram, Youtube dan Twitter.

Segala informasi yang disampaikan oleh Area Traffic Control System kota Bandung melalui media audio visual merupakan hasil dari startegi pemanfaatan media audio visual itu sendiri. Proses pemanfaatan media audio visual yang dilakukan Area Traffic Control System ini ternyata efektif karena dapat diterima dan di pahami oleh masyarakat. Area Traffic Control System menyampaikan pesan-pesan yang ingin

(28)

disampaikan melalui media baru seperti microfon, cctv dan media sosial lainnya yang manarik perhatian masyarakat. Setiap konten dari sosialisasi selalu mengandung makna dari pemerintah mulai dari peraturan rambu hingga peraturan perundang- undangan. Dan apabila makna tersebut diterima dan dipahami oleh masyarakat itu mengartikan bahwa pemanfaatan media atau alat komunikasi untuk memberikan informasi tentang disiplin berkendara ini efektif dan berhasil. Hal ini diperkuat dengan teori media baru dari buku The second mariage age oleh Mark poster 1990 bahwa yang menandai periode baru dimana teknologi interaktif dan komunikasi jaringan, khusunya dunia maya akan mengubah masyarakat.

Untuk mencapai efektivitas suatu proses pemanfaatan dan penggunaan media komunikasi selain tergantung pada isi pesan yang menarik perhatian haruslah di sesuaikan dengan bentuk media yang dapat dipahami oleh masyarakat. Karena hal itu turut memengaruhi keberhasilan penyampaian pesan pemerintah kepada masyarakat.

Selain tugas pokok dan fungsi Area Traffic Control System, adapun beberapa kegiatan untuk mendukung keselamatan dan ketertiban berlalulintas dijalan raya khususnya di kawasan jalan Kota Bandung dengan menggunakan media atau alat komunikasi, diantaranya melakukan imbauan menggunakan fasilitas perangkat ATCS pengeras suara dengan dipantau melalui kemera pengawas yang dipasang di persimpangan jalan, melakukan rekapan pelanggaran yang terekam kamera pengawas di persimpangan, sosialisasi menggunakan media sosial, program sosialisasi dengan relawan budaya disiplin, program kunjungan tamu di lingkungan kantor ATCS Dinas Perhubungan Kota Bandung dan beberapa kegiatan lainnya.

(29)

4.4.2 Analisisi menentukan isi pesan media audio visual Area Traffic Control System agar menarik dalam memberikan informasi, imbauan dan

mensosialisasikan disiplin berkendara

Dalam analisa ini peneliti penyajikan bagaimana media audio visual Area Traffic Control System dari segi penentuan jenis media audio visual yang digunakan sebagai daya tarik masyarakat untuk program disiplin berkendara di kota Bandung.

media sendiri adalah segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan informasi atau pesan. Media menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak.

Media audio visual menyampaikan pesan atau informasi secara teknik dan kreatif yang mana menampilkan gambar, grafik, suara serta tata dan letaknya jelas sehingga penerima pesan dan gagasan dapat diterima sasaran.

Hal ini sesuai dengan asumsi teori Media Baru yaitu interaksi menggunakan media komputer atau media digital lainnya seakan-akan berinteraksi langsung dengan media atau masyarakat yang dituju untuk memberikan informasi yang ingin disampaikan. Dan dalam relevan dalam penggunaan media sosial yang sangat mudah memberikan informasi dan dapat diakses oleh masyarakat kpan saja dengan mudahnya.

Proses pembuatan konten kreatif oleh Area Traffic Control System Bandung perlu adanya peran masyarakat, serta hal apa saja yang dibutuhkan masyarakat, sehingga pada akhirnya komunikasi yang dilakukan pemeintah melalui media audio visual dan konten kreatif itu tidak lain adalah untuk menjawab segala apa yang menajadi sosialisasi dan imbaun kepada masyarakat.

(30)

Hal pertama yang dilakukan Area Traffic Control System dalam menyampaikan informasi melalui konten kreatif adalah mengumpulkan berbagai video pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Setelah itu menetukan konsep ide kreatif yang sesuai dengan video yang sudah dikumpulkan dan di sambungkan dengan berita yang sedang happeninng agar kaum milenial tetap bisa menerima informasi tanpa merasa bahwa informasinya teralu berat. Kemudian setelah terdapat ide kreatif dan video sudah ada, masuk ke tahap editing oleh operator Area Traffic Control System yang juga merupakan bagian staff untuk editing video. Setelah itu video akan melalui tahap uploading dengan caption yang selalu di lampirkan perundang-undangan atau informasi penting lainnya.

Konten dibuat untuk menyampaikan informasi atau pesan kepada masyrakat melalu bentuk foto, gambar, video, audio, dan lain sebagainya. Penyampaian pesan biasanya akan disesuaikan dengan konsep apa yang akan diangkat melalui konten.

Pesan tersebut bisa berupa video parodihimbauan, dan konten untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dengan konsep konten yang unik, dan terkadang konten dibuat hanya sekadar menghibur karena sesuai dengan momentum.

Oleh sebab itu media audio visual sangat berpesan penting dalam menyalurkan isi pesan dari sumber ke penerima pesan. Pesan yang disampaikan ditugaskan ke dalam simbol-simbol visual dan audio. Selain itu, fungsi media audi visual adalah menarik perhatian, memperjelas sajian ide, menggambarkan atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat terlupakan jika tidak di visualkan.

Maka dari itu komunikator atau pemberi pesan harus selalu memperhatikan apa yang akan disampaikan kepada audiens atau khalayak sasaran agar dapat menghasilkan

(31)

tanggapan yang diharapkan. Dalam menentukan isi pesan yang baik pada media audio visual harus mencari daya tarik, ide dan juga tema.

Konten juga dianggap dapat menciptakan kedekatan dengan masyarakat kota Bandung atau masyarakat pengguna jalan raya sehingga dapat mencapai tujuan dari kegiatan program kerja Disiplin Berkendara dan dalam hal memanfaatkan media audio visual sebagai medai informasi dengan maksimal. Pembuatan konten yang direlevansikan dengan masyarakat, konten berisi pertanyaan, dan bisa dijawab oleh banyak orang yang berbentuk video streaming di Instagram merupakan keingian pihak ATCS yang ingin program kerja terrealisasi dengan baik dan ATCS dapat benar-benar berperan altif dalam pemberian informasi tentang lalu lintas di kota Bandung.

(32)

Kerangka Hasil Penelitian

Teori Public Information

Teori Media Baru

Peran ATCS dalam memberikan informasi pada masyarakat melalui media audio visual

Manfaat penggunaan media Audio Visual sebagai media

informasi

Menentukan isi pesan media Audio Visual agar menarik perhatian dalam memberikan informasi

Area Traffic Control System merupakan program Kerja dari Dinas Perhubungan Kota Bandung yaitu Displin Berkendara Memberikan informasi pada masyarakat sesuai program kerja melalui media audio visual

ATCS berperan aktif sebagai komunikator yang telah melaksanakan kewajibannya dengan adanya penurunan angka pelanggaran di persimpangan kota Bandung

Microhone

Speaker

CCTV Wall Display Media Sosial

Efektif dalam memberikan

Informasi, Imabauan dan Sosialisasi

Menentukan Ide

Mencari Objek Video

Menentukan Tema

Pengolahan File dan Uploading atau Sharing

Memudahkan Petugas dalam bekerja

Memudahkan masyarakat mendapatkan informasi

Bentuk konten Mengikuti semua yang sedang trend atau populer agar lebih mudah diterima masyarakat.

Tidak

mengandung unsur SARA.

Referensi

Dokumen terkait

Dari semua aspek yang diamati secara umum peserta didik menyukai audio visual tetapi untuk perhatian anak-anak terhadap materi yang disampaikan masih cukup baik,

Setelah peneliti memberikan pertanyaan mengenai Pandangan, untuk wawancara selanjutnya peneliti memberikan pertanyaan kepada informan mengenai bagaimana wanita

Berdasarkan hasil deskripsi data menunjukkan bahwa kelompok eksperimen dengan menggunakan media audio visual lebih meningkatkan hasil belajar siswa, hal itu terlihat dari

Dari paparan data wawancara 1 dan paparan data wawancara 2, diperoleh kesesuaian yakni subjek mengalami kesulitan dalam memahami menentukan strategi untuk

Pada sub ini peneliti akan mendeskripsikan dan membahas data serta informasi yang diperoleh melalui observasi dan wawancara secara mendalam kepada beberapa

Pembelajaran yang dilaksanakan pada kelas eksperimen yaitu kelas 1VA adalah menggunakan media Audio Visual dengan metode Reading Aloud. Adapun langkah-langkah model

Siswa-siswa lain yang berjumlah 15 belum bisa memahami materi yang disajikan oleh guru hanya dengan ceramah saja karena kemampuan belajar mereka rendah jika

Terus juga di sini ada dua orang yang normal” (Wawancara dengan Wantiyah, 19 Januari 2013) Berdasarkan pernyataan beberapa informan diatas, peneliti menemukan