o ;(*,
"B0ll0llllYA llu"
"llu DlB0ll0Hl"p am
Jejak Langkah NU Era Reformasi:
M e n
s uj i Kh itta h'
M e n ero po n'
ffi,11i:i,1;;i'''
*
EDITER:
Sirsaeba Alafsana
Orang.o€ng lain ramai-ramai membodohkan orang- orang NU. 'Mereka ini hk tahu politjf kab seorang
cedik di kamamya yang penuh tumpukan buku kepada s€oBng wartawan. 'Mereka orang NU tjdak
bisd menegang negara', kata yang lain dengan perasaan linggi hati. 'Mana bisa negara diatJr dengan cara pesantren", ujar seorang pengamat dengan nada sinis. Seorang cerdik lain yang sudah lama jengkel pada NU mengatakan, 'Dasar Nu!'.
Kalimat itu dimuat besar+esar di koran*oran. orang
orang NU yang meskjpun dicap 'bodoh'lehp bemiat
belajar dan membaca koran itu, marah dan dongkol.
DiseTtai CATATAN GETIR 'berapi-api' dari:
ULIL ABSHAR.ABDALLA AGUS YAHYA dan CATATAN AKHIR "menjotos" dari:
DR. AINUR ROFIQ, MA.
(Ulil Abh.r.Abdalla dala n Konpas 13 Febuai 2001)
I
,"4
\
l/
/sa/rrat'utrrn
"B0ll0HllY[ llu", .,llu ala
lllB0ll0lll"p
Menguii Khtttafi,
Meneropong'Pergeseran' Paradigma Politik
n#*, \z
Ar.Ruzz adalah lintas komunitas yang didirikan sebagai usaha bersama unruk memajukan perkembangan masyarakat. Ddirikan oleh sekelompok anak muda yang berciu.cita ingin memajukan sebuah masyarakat srptl yang cerdas, kreatif dan kritis. Komunitas
ini
bergerak pada bidang penerbitan, penelitian dan pengembangan Sumber Daya Manusia."B0lloHllYA llu",
"llu DlBoll0Hl"fl am
Menguji Khiftah,
Meneropong "Pergeseran"
Paradigma Politik
BflllRUL'ULUM
Catatan Getir:
UlilAbshar-Abdalla AgusYahya
Editor:
Sirsaeba Alafsana
M @
PEI{ERBII AR.RUZZ PRESS Khazanah R staka lndoflesia
PW IPI{U JAWA TENGAH Lembaga Pers dan Penerbitan
"BODOHNYA NU" APA "NU DIBODOHI''?
Jejal Langkah NU Era Refo@il
M€Esuji I(Littal MeoNpoog PedigE Politik FI"k Cipta 6 Bahrul 'Ulum
Fist publrhcd 2002 by Ar-Rua Prs Djosakarue lndonerii ARRLIZZ0l.00r.6789l0.M2K
Hak cipt. &lindurSi urrl.nr-udaD8
AI .thr. .6ered
"Nop,rt 4 thlj W.nq b. rcFo&e4 sLqdin *atiaA
'1r,,,r\ d $@!rnn,a'd 6 @1,l^ - b -'t
meas, tu:&dts dzaoic,,[email protected]\f}ddqtiy, nt,dtuniry, t.c'ilbi€ d d\NL\.@th< pennn- sia fttu' !-Faa&a' Oiqi&,atd
Rodis: Bahrul't.llum, M.{.
Cata.an Gtic Ulil At har-Abdalla, .A,eu Yshya Cahran ALhir: DE Ainur Ronq, MA.
Ediror Si6a.ba Alaf.ana
Enytlarar Bahsa: fahmi Anf E Mmiry, A. Mujib Sacsi
Proof Fcadcr ISmcug Alcadrmy Sdtingflry Ouc Stldio 23 Deain Covcn Sndio 2l
Pa Cttalc Ahan d, Eo! NA [tra Mutuin, I:zilu' Sal<hd M PENERD T AR.RIZZ PRESS
Rned( Blo& K, CK. I, M. 795 Doetrbrta 552 2 I HP 061 642? 22J4,
hr
(02111 56E2(6E-mil: arruaaena@yahocm
No Rc!. BanL l',{andiri YKT CG,aFr: I l?{@2 149914, a/n: Abdrn }Jastur No Rck. BCA KCU Yogyaltarta: 0172141 105, a/n: Aldul Mslrut
Btkcrjg,sma dcnsan:
hmpinan Vilaph lbtan Pum Nahdlatul Ulans Pw IPNU I.ra TeDs.[
Jl. D&tcr Crpto 180 Scmaratrg 50125
Clp. (024) 8450?55, Er (024) 841076 Celtlen Apdl 2001
ISBN 979-96856-3,X Saobt PcLB*.ED Prrrl 44:
Un&n3Uo&ng Nomc ? Ghtm 196? Tnrane ftmhahan atas Undang-Undang Nornc 6Ghun 1982 'Enrang llak Crpta:
l. Baangliap. dcn€an s.n8ajo ds$ renF hal m.nsmurnlan aceu mcmpcrbanyal sotu ciptaan atsu m<mh.n Ein untuk itq dipid,M d.ryan pidaE Fniats palins larna 7 (ruiuh) tahm .lad
etau dcn& paling LanyaL Rp. 100.000.00 Gcrqru. iua n+i!h).
I Barnneliapa d6san rcnsaja mcny.ohk{n, mcmn d.an, m.nF&.Lan, atau ncnjel Lcpada
umum !'rAtu cbtarn .6u barnos ha6il Fllnssaran H.L CQU scbasliruau dnnilG,rd dalam a,llr (l), dipidaM d.nsEn pi&us p.nid.a p.lins lam6 5 oirna) tahun &rvat u dcn& paling hanpl Rp. 50.000.000.O (ima puluh jute nrpish).
Unnrk istriku Siti
Rardlaai
lannah, anak kami Muhorruud Fadlli Mybarak dar. bayi petenyran kami yang belum kami namai.CATATAN PENGHAMPIRAN EDITOR:
YANG TEBUS DIBURU IIIU ITU BEBNAMA "JENIS KEIAMIN"!
Srrsaeba A/afsana'r
da rvaktu membuat
tulisan
pengantarini,
NU ang menggelar "acara akbar" berupa Konferensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Nasional (Munas) Alinr Ulama NU tanggal 25-28 lu1i 2002 di Jakarta. Konon salah satu agenda utama acara itu adalah membahas lJrittai. NU hendak mempertegas kembali"jati diri"
atau "jenis kelamin"-nya.Lalu...bersamaan dengan
itu, kami
secara "kebetulan"menemukan beberapa komentar lepas tentang
NU
dari tokoh- tokoh "papan atas"-nya di berbagai sumber.-Andaikata
kami boleh membayangkan, sebelum tokoh- tokoh papan atasitu
mengeluarkan komentar lepasnya, pastilah terlebih dulu didahului dengan pertanyaan-pertanyaan ihwal NU*r Sirsoebo Alaf.-ola adalah wisudawan terbaik Fakultas Syari'atr IAIN Valisongr Semarang tahun 2002, dan mantan Pemimpin Redaksi Jumal lvlahasisrva JUSTISIA. Selepas wisuda ia tercatat sebagai "pengan!€uran in te le ktual", c uma se se kali menjadi edi tor di Pe ne rbi t Ar- Ruzz. Seka ra ng dipercaya menjadi Koordinator Lembaga Persdan Penerbitan PW IPNU
J arva Tlngah.
1
Bahrul'Ulum : "BodohnJaNU" apa "NU Dibodohi"!
dari para "nyamuk pers" atau para peneliti
NU.
Dus, sejurus kemudian,'Apa pendapat Anda tentangNUl"
tanya mereka pada tokoh-tokoh radi."Diakui atau tidak, PBNU terasa
gagap, sehingga menjadikan orang-orangNU
ngarang-ngarang memberikan tafsiran sendiri-sendiri atas khituh," iawab RAIS Syuriah PBNU, K.H. Muchith Muzadi."Saya kira NU harus melakukan politik secara benar dengan berpihak pada rakyat, bangsa dan negara, demokrasi dan keadilan, dan bertujuan demi kemaslahatan umat. Kalau meminjam istilah Subhan ZE, itulah yang disebut quality politics," timpal Mantan Kerua PBNU Chalid Mawardi.
"Ketika Muktamar
NU tahun
1984di
Situbondo, saya pernah bertanya apakah yang akan didahulukan olehNU
ke depan, penataan atau wawasan. Saya sendiri yang waktuitu
berpikir penataan harus didahulukan, sedang yang lain berpikir wawasan sehingga Gus Dur yang dipilih menjadi pimpinan," sahut K.H. Mustofa Bisri."\Uarga NU itu mempunyai 'natiu' bahkan 'syahwaC politik yang cukup besar. Khittah 1926 sebenarnya bagian dari sikap
politik
wargaNU
trntuk menyiasati keadaan saatitu.
Ketika Soeharto lengser, nafsupolitik itu
tercurah dalam keinginan membuat partai. Saya ingat betul, dalam pertemuan pertama di Rembang yang digelar sekitar setengah bulan setelah Soeharto lengser, ulama dan tokohNU
dari semua aliran, hadirdi
sana", celetuk K.H. Yusuf Muhammad."Di era multi parcai ini, NU harus memiliki kendaraan politik yarg undcr control NU. Karena kepentingan
NU
tidak munghn tumbuh dalam sebuah aliran politik yang kepentingannya berbeda secara diametral, baik dari aspek ideologi maupun bentuk visi perfuangannya. Bahkan kalau hal ini dibiarkan, suara dan aspirasi warga NU yang disalurkan ke partaipolitik
lain, bukan tidak mungkin akan membesarkan orang lain yang uiung-ujungnya iustru menyulitkanNU
sendiri. Karenanya mau tidak mau, NU8
Carara Pargialr.p&
a
Editolharus memiliki 'rumah politik' sendiri untuk kepentingan aspirasi politik umatnya, sekaligus sebagai alat perjuangan NU", sela sang Ketua Umum PBNU K.H. Hasyim Muzadi.
"Kami (anak-anak muda
NU di
lalurkultural)
tidak rela jika NU dibawa lebih jauh ke wilayah polirik praktis. Dan untukitu, kami
akan berusaha dengan segala kemampuan untuk menyuarakan pentingnyaNU
lebih berkonsentrasi pada hal-hal kemasyarakatan guna membangun dan memberdayakan orang- orang keci[", serobot intelektual muda NU,Ulil
Abshar-Abdalla lantang.Cuplikan pendapat yang kebanyakan kami ambil dari harian Kompas
itu,
masih pula mendapat tambahan "masukan" dari pengamat politik Kacung Marijan. Katanya, "Bahwa kepentinganpolitik
wargaNU
harus lebih diperjuangkan oleh para politisi NU, bukan PBNU. Kepentingan politik itu, misalnya, bagaimana mengalokasikankue pembangunan
yangtercermin
lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Saya belum melihat perjuanganpolitisi
NU bagr upaya peningkatan budget di bidang pertanian, subsidi buat sekolah atau madrasah, nelayan, atau kalangan bawah lainnya, yang sebagian besar adalah warga NU".Mengamati
hal itu,
sang penulis buku yang ada dalam genggaman Andaini,
dengan datar menulis, "Munculnya sikappro dan kontra di kalangan NU menunjukkan
adanya ketidaksamaan visi dalam soal memperjuangkan kepentingan NU secara besar. Ada yang menginginkan agarNU
tetap tampilsebagai organisasi sosial kemasyarakatan an srch. Ada pula yang
ingin membawanya ke arena
politik
praktis, sebagaimana yang pernah dialami padatahun
1952. Ada pula yang memadukan kedua-duanya".Lebih lanjut dia menilai
bahwauntuk tampil
sebagai organisasi sosial an sich adalah hal yangsulit
bagi NU, karena dalam sistem politik nasional yang bercirikanmulti
partaiini-
& mana wama politik aliran menjadi suatu keniscayaan-seolah-
9
Bahrd 'Ubm : "Bddnqa NU" qa "NU Dibod&i" !
olah mewajibkan siapa saia unnrk memilih warna
politik
aliran itu secara menonjol. Bila NU tidak memiliki satu kekuatan politik, dipastikan kekuatan massanya akan menjadi incaran dan rebutan bagi partai [ain. Hal ini jelas akan merugikan NU yang memilikimassa yang cukup besar. Sebaliknya bila NU tampil secara penuh sebagai kekuatan
politik
atau berubah menjadi partaipolitik
seperti padatahun
1955,ini
juga tidak mungkin dilakukan, karena bisa dianggap melencengdari
komitmen awal sosial keagamaannya. Meskipun sejarah telah mencatat bahwa NU pemah berhasil menduduki urutan ketiga pada Pemilu 1955.Benang
merah
apakah yanghendak kita tarik
dariserangkaian pendapat di atas? Bila diperkenankan menebak, kami berpendapat bahwa
NU hingga
saatini masih
bingung, kedodoran, dan kesulitan dalam mempertegas "jenis kelamin"atau "jati diri".nya. Hendak ke wilayah sosial keagamaan murni (kembali ke khittah 1926) dirasa berat. Hendak ke politik praktis Lok berat juga. Maunva sifi barangkali, ya khittah, ya politik. Tlpi
kritik
bertubi-tubi datang juga dari luar, dan persoalan intemal organisasi pun tak kunjung usai. Sungguh berat "cobaan" yang diberikan Tirhan terhadap makhluk bernama"NU"
ini.Memang, sepertinva
NU
dari :aman bahulea hinggakini masih saja berkutat dengan persoalan
penegasan jenis kelaminnya. Antara khittah murni dan politik praktis. Persis laik dikumandangkan Dr. Ainur Roliq, dalam "CatatanAkhir"
bukuini.
Katanya, "Dengan melihat kondisi real masyarakat dan tantangan vang ada, baik tantangan global (intemasional), re- gional, nasional, maupun lokal, maka circle NU dari 'mumi sosial keagamaan'ke'politik
praktis' kemudian kembali lagi, atau bahkan nantinya kembali lagi kepolitik
praktis, sudah dapat dipahami dari sejarah perjalanan NUitu
sendiri. Ibarat orang Jawa bilarrg, u':r-s ora aneh, rrutlo mb\en rrwrnang ngonokuu,ilah NLi(rukan hal aneh, sejak dulu memang begitulah NU)".
l0
Caanm PenghanPi an E ditm
Sebetulnya, kalau
kita
maujujur
denganhati
kecil kita, bukan saja NU yang bingung mencari jenis kelaminnya. Kita pun sebagai person yang berakal,dari dulu
hingga sekarang juga bergelut dengan persoalan pencarian jati diri. \X4r cm I?, siapakah aku? adalah pertanyaan yang kerap kita lontarkan sendiri dalam benak kita. Bukankah demikian? Hanya masalahnya, akan benar- benar meniadi persoalan manakala kita dalam pencarian iati diriitu kita kerap jatuh dalam "lubang"
yang sama. Sekadar pengibaratan, kita itu sudah tahu kalau dalam sebuah seni peran,kita
tidak bisa dan tidak cocok menjadi "pemeran antagonis"melainkan cocok menja& "pemeran protagonis", kenapa mesti
kita
memaksakandiri
berperan antagonis? Kalau dulu dengan memerankan"tokoh antagonis" film kita itu ielek, lalu
ditinggalkan
&n
dibenci penggemar, kenapa pula sekarang kita ulangi lagi. Bukankahitu
sama artinya "bunuh &ri"? Bukankahitu
sama artinyakita
"bodon-' karena jatuh dalam lubang sama sampai dua kaliBarangkali, metafor
itulah
yang saatini
pasdituiukan
kepada NU khususnya, dan kita semua pada umumnya--dengan catatan
jika
pernah sekadar "merasa" sepertiitu.
Dalam matra itu, tampaknya buku yang tengah Anda kencani ini, disusun lebih sebagai"pengingat" atau "tongkat" bagi NU
agar"tidak
tergelincir" dalam lubang yang pernah menjatuhkannya. Selain itu, buku ini sepertinya disusun juga unnrk memenuhi
harapan-
harap-harap cemas (!)-mudah-mudahan bisa membantu, pal-
ing tidak, menjadi "pertimbangan" NU dalam
terus bermetamorfosis dalam mencari jenis kelaminnya. Singkatnya, lebih tepar sebagai waming harian saja.Jauh
dari
maksud-maksud tersebut, bukuini
seiatinya menyisakan sepenggal maksud, bairwa dalam jangka instan agarNU
tidak pemah berhend mengoreksi dan mengevaluasi dirinya sendiri riada henri, dan dalam jangka panjang supaya NU menjadi lebih baik.Lebih
memaparkan sejarah perjalananNU
sepanjangll
Bahtul'Ull,!,4 : "BdolryaNU" $a"NU Diboddi" ?
reformasi (1988-2000), sang penulis buku ini gigih sekali menguak selarah
NU-yang
ditulis dalam lima bagian. Bagian pertamalebih bersifat
"Pendahuluan". Bagian kedua memaparkan 'Dinamika Folidk NU dan Problematika Khftrah". Bagian ketiga mengupas ihwal 'Artikulasi Politik NU Era BJ. Habibie". Bagian keempat mencoba "Menguli Khittah dan Meneropong Pergeseran Paradigma FolitikNU
Era AbdurrahmanVahid".
Dan bagian akhir lebih merupakan "Epil.C".Bagi
pernbacayang intens mengamati laju
gerak perkembangan buku yang membahas tentang NU, sepintas lalu mungkin menganggap remeh buku ini, karena "seolah-olan' " tidak berbedajauh
dengan buku-buku yangjauh-jauh hari
telah membabat habis perpolitikanNU.
Thpi benarkah demikian?Hemat kami, penilaian seperti
itu
akan segera sirna manakala menyimak "kekuatan&ta"
yang disaiikan bukuini,
terutama dalam menyitir pernyataan-pernyataan tokoh-tokoh NU dan no- NU dalam menyoroti organisasi bentukan K.H. Hasyim Asy'ariitu
dengan "vulger" dan "blak-blakan". Dengan katalain,
ada secercah "sinar" yang dipancarkan bukuini
ke hadapan Anda, yang sama sekaliberHa
dengan buku-buku lain yang bertema hampir sama..+:t+
O&z-lah, perlu pula diinformasikan bahwa buku
ini
semula adalah tesis 52 penulisnya diIAIN
Syarif Hidayanrllah Jakarta, yang berhasil dipertahankan pada medio 20 Agustus 2001. Untuk pemenuhan "konsumsi" buku dan "pasar" ada beberapa hal yang dengan "amat terpaksa" perlu kami sesuaikan. Seperti dalam hal"kelezatan" bahasa dan "sistematika penulisan". Jadi, harap maklum saja! Bukankah mengenai "orisinalitas" buku
ini,
sangempunya telah menawarkan kepada Anda agar memeriksa teks aslinya?
++
+t2
Caatan Pengfiar.Pn or Editor
Akhimya, sebagai sebuah kerja nrelelahkan, buku
ini
tidak akan tersaji manakalatidak
ada bantuan, pertama-tama dari Saudara FahmiArif
ElMuniry
yang mula-mula menunjukkan tesisitu
pada kami. Selanjutnya terimakasih pun juga terucap kepada MasBahrul'Ulum
yang memercayakan penerbitan tesisnya kepada kami, meskipun sebelumnya tesisitu
pernah"nongkrong riga bulan" di Penerbit Pustaka Indonesia Satu (PIS) Jakarta. Apa boleh buat.
Ucapan terimakasih pun seyogianya dilayangkan kepada kawan-kawan "aktifis kajian", para intelektual muda SENSAZi' dan MaKAR Gputat. Mereka adalah Mujib, Reza, Ferry Amin, Nasir, Pay, Orega, Iqbal, dan Ishom Elsaha yang mengajari kami cara berpetualang dan menjelajah secara
intelektual.
Yangkarena lecutan semangat merekalah, ide menerbitkan buku im juga bisa muncul. Meskipun boleh dibilang bermodal "nekad", toh akhirnya menjadi realita juga.
Ucapan terimakasih yang
tulus
iugakami
kuntumkan kepada kedua "intelektual senior" kami, Mas Rumadi, dan Romo Sumanto AI Qurtuby (si "Mrosalleng daiNc
Robar" ztau "Rorno Mbehng dan 1-altpesdan"), yang terus memompa semangat kami untuk tidak takut menghadapi hidup yang kian "semrawut" ini.'Ihk lupa kepada Mas
Ulil
Ab'shar-Abdalla, Mas Agus Yahya, dan MasAinur
Rofiq, kami ucapan alfusrykn karena berkenanmemberikan "Catatan Cetir" dan "Catatan Akhir"
bagi kelengkapan wacana bukuini.
Di
atas segalanya, terimakasih pun tercurah buat kawan Imam Kuncung dari Ar.Ruzz Press, dan Agus Yahya (kami sebutuntuk kali kedua) dari PW IPNU
Jatengyang
berkenan menerbitkan buku ini. Semoga Allah membalas kebaikan mereka semua. Kepada jam'i11ahNU,
mudah-mudahan bukuini
bisamenjadi kado indah tak terlupakan.
*
ai
N galian- Semarang-Pengok-Djogjakarta, Medio 28 Juli 2002
"Ketika tiada gading yang
tak
retakl"13
Bohtul'Ulurr "WmyaNU" qa"NU
Dik
i"?t4
habta dat U caq@'fifir.a Kasih
PRAKATA
DAIU UCAPAN TERIMAKASIH
tf,)u;i syukur kepada Allah Swt. parut
penulis(rA-lpanjatkan
hingga kapan saja. Bagaimana tidak?11.r,
Betapa berkat kasih, rahmat, dan karunia-Nyalah penulisan bukuini
bisa rampung sesuai plafliflg, tanpa sebuah kendala yang berarti sama sekali: Buku yang sekarang tersaji di hadapan segenap pembaca, semula merupakan tesis penulis di Pro- gram PascasarjanaIAIN
Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebuah tesis penelitian yang semula berludul, "Pergesetan Parudigna Politik Nahdawl ULnna Era Refonrasi (1998-2W)".Dalam penelitian itu,penulis
berupaya menjawab beberapa pertanyaan krusial:Bagaimana dinamika politik
NU
dalam sejarah percaturan politik nasionaldi
Indonesia? Mengapa terjadi "pergeseran" paradigma politik NU di era reformasi? Lantas, bagaimana kalangan NU sendiri menanggapi pergeseran paradigmapolitik itu,
dalam kaitannya dengan persoalan Lhitah-"persoalan klasik" yang tak kunjung usai dibicarakan dan diperdebatkan? Bagaimana pula posisi NUera reformasi, semenjak B.J. Habibie sampai AMurrahman Wahidl Jawaban atas serentetan peraanyaan
di
atas telah penulisl5
Balmt'Ufun : "BdofuqaNU" aDa "NU Dibodohi"t
upayakan penguakannya dalam buku ini dengan-paling
tidak-
memakai metodologi desknptif-analitis, uia pendekatan sejarah (hamrical dpprodch). Selain
itu,
untuk mendapatkan beberapa referensi data yang dibutuhkan, maka penulis tak lupa membubuhi penelitian kepustakaan (library research\ dan penelitian lapangan (ieLd research) melalui wawancara dengan beberapa tokoh NU.Dus, dalam mengolah dan menganalisis data yang terkumpul itu, penulis memakai metode analisis
isi
(content anallsis), yaitudengan menilai dan mengidentifikasi data,
kemudian menganalisisnya lebih lanjut.Perlu penulis informasikan di sini, judul yang tertera dalam buku
ini
merupakan usulan dari penerbit, yang konon katanya, terinspirasi dari tulisan intelektual mudaNU
kenamaan, LIli[Abshar-Abdalla, dalam harian Kompas, yar.g sekaligus menjadi
"Gtatan
Getir" dalam buku ini.Syahdan, barangkali bila penulis
diperbolehkan menyarankan, bagi siapa saja yang menghendaki keaslian edisi ini, sebaiknya menengok saia karya asli tesis penulis yang mungkin bisa <iit.mukandi
PerpustakaanIAIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.Juiur penulis akui, buku
ini
bisa tersaji dengan "apik","manis", dan 'menarik"
di
hadapan pembaca sekalian tak bisa lepas dari bantuan banyak orang yang tidak mungkin penulis sebu&an satu per satu. Sekurang-kurangnya, penghargaan yang tulus dan penuh hormat penulis sampaikan kepada Bapak DR.H. Asafri Jaya Bakri, MA, Rektor
IAIN
Sulthan Thaha Saifud&n Jambi, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untukmelaniutkan studi di
Program PascasarjanaIAIN Syarif
Hidayanrllah Jakarta.Penghargaan yang setulus-tulusnya juga
patut
penulis sampaikan kepada DR. Bahtiar Effendy, MA. dan DR. Masykuri AMillah, MA. yang telah membimbing penulis dengan sikap yang amat biiaksana. Gpada Bapak Prof. DR. H. Said Agil HusinAl-
Munawar,
MA, Direktur
Program PascasarjanaIAIN
Syarifl6
P,rokata dan U cqar Tetira Kasih
Hidayatullah Jakarta, yang sekarang meniabat sebagai Menteri Agama kita, penulis "wajiH' mengucapkan terimakasih atas bekal ilmu dan pengetahuannya yang diberikan kepada penulis. DR.
A. \fahid Mu'thi, di samping
sebagaiAsisten Direktur
I PascasarjanaIAIN
Jakarta, beliau juga telah banyak memberikan bimbingan dan petunjuk selama mengikuti perkuliahan&
Pro.gram Pascasarjana. "Thar*'s a lot Pak, atas bimbingannya".
Penghargaan dan ucapan terimakasih yang
tak
terhingga, juga penulis sampaikan kepada para dosenpenulis
selama mengikuci pendidikandi
Program Pascasarjanadi IAIN
SyarifHidayatullah Jakarta. Mereka adalah DR. Satria
Effendi (Almarhum), DR. Mukhtar Aziz, Prof. DR. Fathurrahman Djamil,MA,
Prof DR. Ahmad Sukarja,M4,
DR. Mulyadi Kartanegara.DR. Hamdani Anwar, Prof. DR. Huzaimah T Yanggo, DR. Rusmin Ti.rmanggor. Penghormatan yang tinggi, penulis sampaikan kepada
seluruh jajaran dan staf pada program Pascasarjanan
IAIN
Jakarta, kepada jajaran dan staf Perpustakaan
IAIN
Jakarta,Perpustakaan Iman Jama', Lebak Bulus-Jakarta Selatan, dan Perpustakaan l,akpesdam NU Jakarta.
Selanjutnya, penulis tidak dapat melupakan bantuan dan motivasi dari kawan-kawan Pascasarjana yang telah memberikan bantuan secara tulus, tanpa pamrih Mereka adalah Khamami Zada, Heri Junaidi, Promono U. Thntowi, Ahmad Munir, dan
Irfan
Jamil. Terimakasihtak
terhingga juga penulis ucapkan kepadaadik
penulisZainal Abidin,
atasbantuan
duit-nya, terutama ketika beasiswa penulis mengalami kemacetan.Sembah sujud dan sunglem yang sedalam-dalamnya penulis persembahkan kepada Ibunda
Hj.
Nadirah dan Ayahanda H.Bustamin, yang tiada henti-hentinya memanjatkan do'a kehadirat Ilahi, memohon keselamatan dan kesuksesan bagi anak-anaknya.
Semoga
Allah
Swt. dapat mengampuni segala dosa-dosa beliau berdua. Selanjutnya persembahan do'a dan ucapan terimakasih luga penulis sampaikan kepada mertua penulis,H.M.
Ashaf Shaleh (Almarhum), yang selama hidupnya banyak memberikanl7
Bahr 'Ulun : "BodohnyaNU" apa"NU Dibodchi"t
bimbingan dan motivasi kepada penulis.
Thk lupa,
dari
relunghati
yang paling dalam, penulis menyampaikan terimakasih yang rulus kepadaistri
tercinta, Siti Raudatul Jannah, S.Ag. M.Pd.L, yang penuh kesetiaan dankesabaran berpisah untuk sementara, sampai
penulis menyelesaikan studi di Jakarta. Begitu pula kepada putra penulis, Muhammad Fadhli Mubarak, dan sang "jabang bayi" yang belum kami beri nama, yang rela penulis tinggalkan dan menerima kenyataan kurangnya perhatian dan kebersamaan dengan penulis sebagai ayahnya. Kepada mereka penulis persembahkan buku ini.Do'a penulis, semoga Allah Swt. senantiasa memberikan petunjuk dan jalan yang lurus kepada
kita
semua.Ucapan terimakasih dengan segenap jiwa dan perasaan, sebesar-besarnya penulis kado buat Penerbit Ar-Ru11 Press Djogiakarta dan Lembaga Pers dan Penerbitan
PV
IPNU Jawa Gngah yang berkenan menerbitkan karya sederhana ini, terutama kepada Mas AdeMunif
Andonesy, Mas Abdullah Masrur, dan Mas Agus Yahya. Thnpa bantuan mereka, mana mungkin karya ini bisa terbit secepat ini. Semoga Allah Swt. berkenan membalas kebaikan merekadi
duniaini,
dan kelakdi akhirat.
Mudah- mudahan karya sederhana bisa bermanfaat bagikita
semua.Amienl
Jambi, 27 Juli 2002
"Ketika penulis dan putra penulis saflta-saflul sedang nvralakan Ulang
Tilwt'
Bahrrrl
'IIum
l8
Daltar lsi
Catatan Penghampiran Editor
-
7Snsaeba Alafsam
Prakata dan Ucapan Terimakasih
-
15Daftar Isi
-
19Daftar Thbel dan Lampiran
-
21Catatan Getir
-
23Ulil Abshar-Abdallt fu*sYolrya
Bagran Pertama:
Sesobek Catatan Awal
- 4l
Bagian Kedua:
Dnamika Politik NU
dan Problematika Klnfioh-
55r
Latar Belakang dan Dinamika PolitikNU
(1926.
l95Z)-
55o
Dinamika PolidkNU
(1952.
1984)-
62o NU
Keluar dari Masyumi dan Menjadi Partai Politik-
62r NU
Berfusi dalam PPP-
81r
Kembali ke Khituth 1926-
86t9
Bahrul'Ulum: "Bddtnlo NU" dpa "NU Dbodofu"a
.
Paradigma Politlk NU Pasca.IGmbali ke Khituh (1984-
1998). _94
Penguatan Cioil Sociecy-
110Bagian Ketiga:
Artikulasi Politik
NU
Era Pemerintahan B.J. Habibie-
123e
Kondisi Pemerintahan B.J. Habibie-
123o
Artikulasi PolitikNU
Era Pemerintahan B.J. Habibie-
127o
Pembentukan Partai Politik dan Posisi Khiuth-
132r
Pro Kontra Berdirinya PKB-
136r
Mencermati Munculnya Partai.Partai Islam-
1.13r
Pemilu 1999, Pemilu Era Tiansisi-
153o
Terpilihnya Abdunahman \Uahid-
158Bagian Keempat:
Menguji
Khittah,
Meneropong Pergeseran ParadigmaPolitik NU
Era Pemerintahan Abdurrahman Wahid-
169o
Pergeseran Makna Kluttah-
170o
Pergeseran Paradigma Politik NU-
182o
Posisi PKB Era Pemerintahan Abdurrahman Wahid-
188o
Posisi NU Era Pemerintahan Abdurrahman \Uahid-
192o
NU dan Agenda Civil Sociery-
205Bagian IGlima:
Sesobek Catatan Akhir:
"Kebodohan
NU", atau'Dbodohinya
NU"?-
213Catatan
Akhir-
219Dr. Ainur RofiS,
MA.
Daftar Pustaka
-
237lndeks
-
247Lampiran
-
252Mengakrabi Penulis
-
251n
Daftar Tahel dan Lampiran
Tlbel:
1.
Hasil Pemilu 1995-
712.
Daftar Perolehan Suara Pemil,t 19973.
Jumlah Perolehan Suara dan Kursi DPR RI-84 -
1554.
Jenis Penyimpangan dalam Pemilu Tahun 1999 danTindak
lanjumya-
1585.
Klasifikasi Sosiologis \VargaNU
Pasca-Khicah 1926 zz?-
Lampiran:
Matrik
Pokok.Pokok Program PBNU Periode 1999- 2004-252
zt
GIIfiIT GTIIR
"Soalnya sederhana saja.
NU
sudah lama merasa diperlakukan tidak adil oleh dominasi golongan dan perorangan yang kuatkedudukannya lantaran struktur organisasi yang berlaku"
tK.H.SaefuddlnZuhml
z
CATATAN GETIR PERTAMA:
OBAIIIG IIIU DIBODOH!, PINTARNYA OBANG TAIN
Ulil Abshar-Abdalla*t
Orang.orang lain ramai-ramai membodohkanorang-orang NU.
"Mereka ini tak tahu polirik", kata seorang cerdik di kamamya yang penuh tumpukan buku kepada seorang wartawan. "Mereka
orang NU trdak bisa memegang negara", kata yanglain dengan perasaan tinggi hati. "Mana bisa negara diaturdengan cara pesantren", ujar seoran g pengamat dengan nada sinis. Seorang cerdik lain yangsudah lama iengkelpada NU mengatakan, "Dasar
NU l" Kalimat itu dimuat besar-be saran di koran-koran. Orang- orang NU yangnrskipun dicap "bodolf' tetap bemiatbelajar dan
memhaca koran itu, marah dan dongkol" .
rang-orang
pintar
dancerdik-pandai
mengutuk ame-rame orang.orangNU
yang dicap bodoh di desa-desa karena bertaklid "buta" pada pemimpinnya,*)
U
Absh<n Abddlradalah intelektual muda NU "Garda Depan", pemah menjabat Ketua Lakpesdam-NU dan Project Director ICRf; Jakarta.TiJisa[ tersebut pemah dimuatdi tr?,mpas pada medio 13 Februari 2001, dan diterbitkan kembali dalam "Catatan Gerir' ini, atas izin dan kemurahan hati penulisnya.
25
Bohtul'Ulum : "BodolnryaNu" apa"NU Dibodahi"?
dan kemudian berbuat kerusakan, menebangi
pohon,
dan membakar gedung-gedung. Berita tentangitu
dimuat besar- besarandi
koran-koran kota, dan tiba-tiba orang-orang NU menajdi "pesakitan", tertuduh dan dicap bodoh.'\Uarga
NU memang, kebanyakan orang kampung yang tidak
terdidik, tidak
bisa mengontrol perasaan,tidak
mempunyai keterampilan menyalurkan kemarahan secara "beradab" seperti cerdik.pandaidi
Jakarta. Dan ketika orang-orangdi
Jakarta"menyalahkari' mereka karena berbuat "kekerasan", mereka tak punya kemampuan menjawab secara canggih
di media
massa:kenapa mereka berbuat begitu.
Sementara para orang
pintar
yang dekat dengan media, meskipun tak mempunyai basis massa yang luas&
bawah, bisadengan
enak dan "canggih", dan pintar, dan "teoretis",
memberikan komentar ringan, "Bagaimana mungkin orang-or- angitu
berbuat kerusakan.lni
akan membahayakan prospek demokrasi. Demokrasitak
bisa dibangun dengan kultus, dan seterusnya dan seterusnya".Sementara elite-elite yang mampu membangun segala rupa manuver dengan "beradaH' dan
'tantik"
mendapat pujian dari para pengamat iht, "Nah,begitu seharusnya demokrasi. Demokrasiitu
kan artinya kita harus berjalan sesuai aturan main, damai.Demokrasi itu ya berapa suara yang Anda punya, and so and so".
Yah...memang nasib orang kecil yang bodoh, yang ridak trisa berbicara atas nama mereka sendiri, kecuali hanya mendengar dan menonton komentar orang--orang pintar yang berbicara "atas nama" (dan kadang, atau sering, menyakiti) mereka. Ketika me&a disanggah bahwa mereka telah menyebabkan orang-orang kecil yang tak pintar
itu
marah, para pengasuh media mengatakan,"Kami hanya memberikan
Fakta. Kami hanya alat pengangkut barang, kami tidak menciptakan barang
itu
sendiri".Dari
semulaorang NU
sudah maumenjalani
proses demokrasi yang benar, mendukung Megawati Soekamoputri, lalu,%
Caatan Oerir
"dibujuki"
oranglain
yang"pintar" dan
"beradab"untuk
meninggalkan Mega,lalu
(karena bodoh dan kurang "pintar") mau mendukung Abdurrahman Wahid (Gus Dur) jadi presiden, Ialu "tokohnya"itu
disakiri, lalu mereka tak bisa membela, lalu mereka marah, lalu mereka "dikutuk" karena marah, lalu orang yang dulu "menipu" mereka itu mendapat nama dan kemasyhuran dan reputasi karena berbuat segala "kelicikan" dengan "beradab"dan "sopan" dan "cantik" di mata media.
Maswadi Rau( dalam sebuah talJ<shoru yang secara "beradaU' diadakan oleh sebuah stasiun televisi swasta untuk mengomentari siaran ulang dialog Gus
Dur
dan mahasiswa pada tanggal 8 Februari 2001 di Hotel Indonesia, mengatakan, "ltulahpolitikl"
Jadi, seolah-olah politik adalah keharusan menerima "kelicikan' yang dilakukan secara "beradab".
Kadang-kadang saya berpikir, betapa celakanya menjadi orang-orang kecil yang jauh dari Jakarta, lauh dari "alaC' yang memungkinkan mereka berbicara atas nama mereka sendiri.
Ribuan orang desa berkumpul, memprotes, dan merusak, dan media
tak
pernahbercerita
tentang perasaan mereka dan"kegondokan' mereka, sementara seratus demonstran di Jakarta mendapat perhartian yang berlebih. Inikah "versi" lain dari kisah Zulkarnain yang diceritakan oleh Noam Chomsky: seorang Zulkamain menumpang kapal besar, menaklukkan negeri-negeri lain, mendapat pujian sebagai pahlawan, tetapi sekelompok bajak kecil, karena hanya membawa perahu kecil, disumpahi sebagai
"perompaP' dan bajak [aut.
Salah siapa mereka tinggal
di
desa, dan tidak pintar, dan ridak terdidik? Saya ingat salah satu kata yang sering digunakan oleh paraaktivis
LSMdi Afrika
Selatan, victimifing uictim, mengorbankan orang-orang yang sudah menjadi korban. Orang kecil yang selalu menjadi korban, karena tidak mempunyai "alat' untuk mengatakan bahwa mereka korban, selalu "dikorbankari' kembali oleh mereka yang, karena mempunyai alat itu, kemudian bisa "berbicara" atas nama korban-korban iru.27
Bol:,nul'Ultn: "Boddrnr4 NU" apd "NU Dbodohi"l
Saya jadi ingat Edward Said yang bercerita dalam Orieaulis, tentang Flaubert yang menulis sebuah novel, dan berkisah (untuk publik Barat yang haus akan "eksotisme" Timur yang dibuat-buat) mengenai wanita Mesir, Honum, dan dengan mudahnya menjadr
"tokoh" wanita
ini
sebagai"tipe
wanitatimur".
Orang-orang pintar mereka sering berkata "mengenai" orang-orang lain yang kebetulan lemah, dan tidak pemah merasa perlu untuk menilik kembali, apakah kata-katanya persis mengenai apa yang dipikirkan oleh orang-orang lemahitu. Di titik
inilah sering terjadi uictim- izatianof
vicdm.Saya tidak tahu harus berkata apa, dan menyalahkan siapa, tentang orang-orang kecil di desa yang hidup sekian puluh tahun dalam suatu keadaan yang
tidak
memungkinkan merekaitu
membangun "alat" dan "perkumpulan" yang bisa menjadi sarana
untuk
mengungkapkanisi hati
mereka dengan damai. Ketika alat-alat dan sarana-sarana untuk bicaraitu
tak mereka miliki, sebaliknya malahdimiliki
oleh mereka yang"pintar" di
kota- kota, mereka lalu frustasi dan putus asa. Apa yang mereka punya adalah hanya "hati" dan "perasaan".Dengan
itu
mereka bisa tahu bahwa ada yang tidak adil, ada yang tidak beres, ada yang bacin, ada yang borok. Tetapi karena mereka tidak sekolah, tidak pandai menggunakan kata- kata, mereka tidak bisa membuktikan, menjelaskan, menganalisis tentang ketidakadilanitu.
Orang-orang sekolah yang "pintar"bisa membolak-balik kalimat dan paragraf untuk membuktikan bahwa ketidakadilan yang mereka rasakan
itu
tidak ada. Lalu mereka tidak punya alat lain kecuali hati yang dongkol. Ketika mereka mulai marah, mereka disalahkan sebagai orang-orang yang tidak beradab, bermental "primordial", tidak rasional, taklid buta sama pemimpin, dan segala macam. Mereka lalu bingung sendiri. Mereka lalu seperti "terpenjara" oleh kebodohan mereka.Celakanya lagi adalah bahwa orang-orang NU ini
mempunyai presiden yangdari
segala segi memangtidak
mencerminkan seorang "superman" yangdibutuhkan untuk
28
Cataar Getir
melakukan mission impossible guna menyelamatkan Indonesia yang sedang sakit keras. Mereka juga tidak tahu, kenapa pemimpin mereka yang memang dari awal sudah ketahuan bukan "super- man"
itu
diangkatjadi
"raja"untuk
memimpin sebuah negeri yang karena besamya masalahdi
dalamnya, sedang butuh "su- perman". Orang-orang NU itu, cepat berkesimpulan bahwa "kiai"mereka memang mau diangkat sekadar untuk disakiti oleh para tokoh cerdik-pandai yang
lihai
menggunakan kata-kata, "Kami telah keliru memilihnya. Apa kelirunya orang salah mengoreksi trndakannya sendiri".Lalu orang-orang
lain
ramai-ramai membodohkan orang- orang NU. "Merekaini
tak tahu politik", kata seorang cerdik di kamamya yang penuh tumpukan buku kepada seorang wartawan."Mereka orang
NU
tidak bisa memegang negara", kata yang lain dengan perasaan tinggi hati. "Mana bisa negara diatur dengan cara pesantren",ujar
seorang pengamat dengan nada sinis.Seorang
cerdrk lain yang sudah lama jengkel pada NU
mengatakan, "DasarNU!"
Kalimatitu
dimuat besar-besaran di koran-koran. Orang-orangNU
yang meskipun dicap "bodoh"tetap bemiat belajar dan membaca koran itu, marah dan dongkol.
Sedap hari orang-orang yang dicap "bodoh"
itu
mendengar orang.orang cerdik-pandai di Jakarta "membodohkan" mereka, dan mereka hanya "bengong" di depan televisi, dan tak bisa apa- apa. '[btapi, anehnya, orang-orang bodoh yang tak terdidik ini, lrka pemrlihan umum tiba, mendadak mendapat tamu orang-or- ang "pintar" dari Jakarta untuk meminta "suara" mereka. Seperticalo-calo yang gigih mencari TK\V di pedusunan
yang kebanyakan dihuni orang-orang NU itu, para cerdikpandai kota tersebut mengobral janji, bermulut manis, bermuka cerah, tangan mereka pun ringan menebar duit.Gtapi, setelah pemilihan usai, dan seluruh kursi dibagi rata,
"suara" orang-orang bodoh
itu
hanya dianggap sebagai "kentut"yang segera berlalu. Kalau orang-orang bodoh
itu
protes, orang- orang pintaritu
akan mengatakan, "Suara kalian hanya 'sampel'29
Bahrul'Ulua. "Bodohnla NU" apa "NU D,bodohi"'l
saja dari suara rakyat, dan belum tentu mewakili seluruh rakyat.
Jadi, tolong jangan paksakan kehendak, maka kalian melawan aturan main demokrasi". Orang-orang yang dibodohkan
itu
pun tidak bisa menjawab apa-apa. Dan kalimat orang.orang pintaritu akan dimuat
besar-besarandi media, dan
kemudian dikomentari oleh orang-orangpintar
yanglain,
dan begitu seterusnya.Yang orang.orang NU makin tidak tahu dan bingung adalah
bahwa tindakan.tindakan yang mereka lakukan
selalu"menghantam" dirinya sendiri, persis seperti senjata bumerang
di
tangan para Aborilin yang juga "bodoh"itu.
Mereka mengira bahwa dengan marah besar dan menghancurkan gelas dan piring, semua orang akan menoleh dan memberikan perhartian, atau takut dan kemudian mendengarkan apa yang mereka suarakan.IGbalikan dari apa yang mereka harapkan, kemarahan itu iustru menjadi "amunisi" buat orang-orang pintar untuk berbuat hal.
hal lain yang menambahi sakit hati mereka. Bukan diperhatikan atau didengarkan keluhannya, mereka malah "dikutuk" untuk
"disumpahi".
Yang ada di benak mereka itu, boleh jadi, hanya satu: kalau orang lain boleh manjatuhkan "raja" mereka dengan cara dan prosedur (yang "beradab") apa pun, kenapa mereka tak boleh membela si raja itu. Orang-orang pintar akan mengatakan kepada mereka, "Kaliah sih pakai kekerasan. Kalau mau ikut'main pulitil', kalian harus gunakan cara yang demokratis". Karena mereka
ini
bodoh, mereka.taktahu
apa yang dimaksud dengan "cara demokratis'itu.
Yang mereka tahu adalahbahwa
orang lain yang kebetulan "pintar" juga "menghalalkan" segala cara utnuk berbuat apa saja. Ketika mereka maumengikuti
"langgam bermain" orang-orang pintar yang bisa "menghalalkan" segala halitu,
tiba.tiba mereka "dihardik" orang [ain, bahkan dimarahi.Mereka tak tahu: siapa yang salah, siapa yang benar.
Rupanya "per.pulitik-an" terlalu canggih buat orang-orang
NU
yangtak terdidik itu.
Setiap selangkah, mereka selalul0
Cabrn Getir
"diskak" terus. Ketika papan catur itu mereka hancurkan, karena sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi, mereka &kutuk ramai- ramai, "Kalau kalian hancurkan papan catur, bagaimana kita bisa main catur. Kalau kalian mau menang, ikutilah aturan main, dan marnlah hrngga habis". Ketika mereka dengan sadar mau main lagi, mereka "di
-Frliril-i"
kembali.Jadi, nasihat yang baik buat orang-orang
NU
barangkali dengan mengatakan, "Diamlah kalian, karena kalian kalah pintar dari yang lain. Kalau kalian 'marah', orang-orangpintar
akan'memluntir'
kemarahan kalian untuk'membodoh-bodohkan' kalian. Jangan berbuat kerusakan, karena orang-orang pintar akan 'mengutuk' kalian sebagai tidak tahu demokrasi. Belaiarlah pada orang-orang pintar di kota itu; mereka berbuat 'kerusakan' secara 'beradab' danlicin,
tetapi merekadipuji
semua orang.Kalau kalian sudah bisa berbuat kerusakan secara'beradaH seperti mereka, barulah kalian boleh
ikut
main. Jangan lupa, itulah aturan mainnya".* * *
31
Catatan Getir Kedua:
TRAGEDI lllU: "DlB0D0Hl 0BANG NU"
DATII
"DIBODOHI OBAilG IAIN" (?}
Agus Yahya't
" Be tapa menghiba kan, ke tika dalam beberapa soal, kejujuran selalu kalah oleh permainan.permainau pencitraan. Antara watak
normatifdan e kspresi ptm bisa me niadi pandoks manakala 'kelicinarf yang ditopang modal kecanggihan in&astruktur lebih
mampu'bermain' ketimbang kepolosan-kepolosanyang hanya mengandalkan kapital 'rasa' dan 'kultur'.'
fAmir Mahmnd NS, SuaraMerdel,a, 15
F&rai20ol]
tul lllama (NU), dengan jumlah warga selcitar
empat puluh iuta orang merupakan
sebuahorganisasi sosial keagamaan (j am' iyy
ah
dinfu1 ah) terbesardi
Indonesia, bahkan mungkindi
dunia. Seperti itulah pendapat Aryumardi Azra dalam mengawali tulisan pengantarnya di buku"NU
Liberal". Sungguh t'antastik bukan?*) Agus Yohyo adalah Ketua Umum Pimpinan Wilayah Ikatan Putra Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Jawa lengah. Saatini masih aktifsebagai mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (UNNES), dan dosendi Llniversiras Wahid Hasyim (LiWH) Semarang.
33
Bahrd'Ulum: "Bodolmla NU" apa"NU Dibodohi"t
Sayang, potensi yang demikian besar itu, paling tidak secara
kuancitad( sepanjang perjalanan seiarahnya dalam melenggang
di
atas panggung politik, selalu "dikibuli" dan "di-pulirrJ<-i" oleh rival-rivalnya. Dkatakan selalu "di-pultik-i" karena fakta yangkita
saksikan naga-naganya memang menunjukkan demikian.Paling tidak, sepanjang refemsi yang saya ketahui, setidaknya ada tiga kekalahan NU dalam berpolitik.
Pertana, saat
NU
berhasil"dihbuli"
oleh Masyumi. Awal mulanya, oleh para aktivis penggagas Masyumi, tokoh-tokoh NU, lantaran kekuatan massa besamya, "dirayu" untuk ikut man&gani Masyumi dengan "&iming-imingi" jabatan strategis berupa ketua Majelis Syuro atau "Dewan Konsultatifl' yangmemilih
otoritas penuh dalam mengarahkan laju gerak Masyumi. Benar memang, kalau saat itu yang menjadi ketua Majelis Syuro Masyumi adalahK.H.
HasyimAsy'ari. Namun
sayang, perandan
fungsinya"dimandulkan". "Omongan-omongan"-nya tak pemah "digubris.
Farwa-fa rwanya selalu diabaikan.
Dalam kondisi seperti itu, para tokoh NU masih juga "diejex"' oleh para aktivis Masyumi non-Nu. "Politik itu Saudara-saudara, tidak hsa dibicarakan sambil memegang tasbih, urusan
politik
ini cukup luas, tidak hanya berada di sekeliling pondok pesantren.Politik itu luas menyebar ke seluruh dunia", sindir tokoh Masyumi yang juga Valikota Yogyakarta Muhammad Saleh.
Bukan
hal
aneh karenanya,jikalau
pada MuktamarNU
ke-19 di Palembang tahun 1952, NU menyatakan diri keluar dari Masyumi. Yah, karena merasa "dikibuli", karena merasa "di.apusi", karena merasa "dibodohi", dan karena merasa "dieiek". Dalam keadaan "jengkel", "dongkol", dan "kecewa",
K.H.
Saifuddin Zuhri menjelaskan mengapaNU
keluar dari Masyumi. Katanya,"Soalnya sederhana saja.
NU
sudah lama merasa diperlakukan tidak adil oleh dominasi golongan dan perorangan yang kuat kedudukannya lantaran struktur organisasi yang berlaku".Kekalahan kedua, rerladt pada saat
NU
berfusi dalam PPPApa lacur, memang nasib
NU
tak pernah mujur, pada Pemilu34
CaatanGeth
1982, PPP
di
bawah kepemimpinanHJ.
Naro, orang-orang NU"disikat"
semua secara kasar.Hampir
seluruh Caleg (Calon LegislaeiQNU
paling berpengaruh, diposisikan dalam deretan"kursi tidak jadi" alias "cadangan". Lahirlah kemudian, kepurusan
"mahapenting" dalam sejarah perjalanan sejarah NU. Yaitu, pada Muktamar NU ke-2? di Situbondo, tanggal 8-12 Desember 1984, NU menyatakan diri kembali ke lJritraJr 1926. Dan itu sama halnya bahwa
NU
menarik diri dari hiruk-pikuk politik, dan lebih con- cem&
wilayah sosial keagamaan.Dan kekalahan ketiga te4adi menyusul keputusan tokoh-
tokoh NU untuk menuruti
aspirasipolitik
warganya dalam mendirikan partaipolitik
lagidi
era reformasi. Usai Soehartolengser, PBNU memfasilitasi berdirinya PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Berangkat
dari sinilah
"peristiwa pengibulanNU"
kembali te4adi. Gpamya ketika tokoh utama NU, Abdurrahman Wahid oleh "orang lain" ramai-ramai "diangkat" menjadi presiden menggantikan Habibie pada SU MPR 1999. Namun belum genap usia kepemimpinannya,
ia
"dilengserkan dengan tidak hormat"dan "ramai-ramai" pula oleh "orang lain"
itu,
yang dulu gigih mengegolkannya menjadi presiden. Sebut saja Amien Rais, dan kawan-kawan!Dari
serentetan kekalahanitu,
hemat saya, kekalahanketigalah yang paling menyakitkan dan masih
terasa kepedihannya hingga sekarang. Tiagis dan dramatis, seorang AMurrahman Wahid (GusDur)
yang dikenal "piawai" dalam berpolitik diturunkan "dengan paksa" dari kursi kepresidenan.Sebelum diturunkan, amunisi.amunisi
politik'totor"
berkali-kali dan bertubi-tubi dilemparkan oleh rival-rival politiknya. Entahitu
persangkaan ferselingkuhan (kasus Ariantigate). Entahitu
persangkaan korupsi (kasus Buloggate). Entah
itu
persangkaan kesehatanjiwa
(mental GusDur dinilai
sudahtidak
waras lantaran pernyataan-pernyataan kontroversialnya tidak pernah terbukti). Entah itu persangkaan-persangkaanlain-yang
naifnya, hingga sekarang, seluruh persangkaanitu
belum juga terbukti-35
Bohtul'Ulum: "Bodohrqa NU" aba"NU Dibodofii"?
Dari tilikan psikososial, hal
itu
sudah menjamah "wilayah rawan" yang kalau siapa pun berani menyinggungnya, orang yang sopan sekali pun akan menjadi beringas, orang yang penakut sekali pun akan meniadi pemberani. Wilayah rawanitu
adalah persoalan "hargadiri".
Yah, orangNU
merasa harga dirinya diiniak-injak!Orang NU tentu saja sangat "tersinggung" atas segala cacian dan pencitraan yang diterimanya. Namun apa boleh dikata, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Mereka serba salah. Maju kena, mundur pun kena. Pemah memang suatu kali, sebelum Gus Dur benar-benar diturunkan, di Jawa Timur teriadi aksi "penebangan pohon" oleh massa NU, sebagai luapan "rasa kesal" dan "tidak terima" atas penghinaan yang diterima oleh kiainya. Namun apa yang terjadi kemudian, massa
NU
yang sebagian besar "orang.orang bodoh" alias
"tak
berpendidikan"itu
harus menerima pencitraan tidak mengenakkan.NU
bagai masuk sebuah perangkap yang sudah lama dipersiapkan oleh musuh-musuhnya, mereka Iantas dicitrakan brutal, berbahaya, anarkhis, biadab, dan "kampungan". Padahal tidak demikian adanya, mereka hanya "memberontak" karena diperlakukan tidak adil, harga dirinya diinjak.injak. Dan siapa pun yang mengalami hal seperti iru, pastilah akan memiliki reaksi lang tak jauh berbeda sebetulnya. Grjadilah sebuah pembunuhan karakter (cAcracter
ossasinatbn\ terhadapNU
yang dilakukan oleh "oranglairi'.
Dalam konteksitu,
wargaNU
yang sedikit"pandai" pastilah bergumam, "Karena
NU
yangterlalu'iujur',
terlalu 'polos', dan terlalu 'bodoh', karenaNU
'tidak bisa liciP, 'tidak bisa bermain politik canggih', tidak 'pintar ngaplsi'. Maka kareanaitu
pulalah akhimya mereka mati sendiri".Mengomentari hal itu,
Amir
Machmud, seorang wartawan senior Slara Merdeka menulis, "Betapa menghibakan, ketika dalam beberapa soal, kejujuran selalu kalah oleh permainan- permainan pencitraan. Antara watak normatif dan ekspresi pun menjadi paradoks manakala 'kelicinan' yang ditopang modal%
Cdatnr Geti kecanggihan
infrastrukur lebih mampu'bermain'
ketimbang kepolosan-kepolosan yang hanya mengandalkan kapital'rasa' dan'kultur'."
Itulah
sepenggal kisah-kisah menarik dan memilukan sepanjang perjalanan NU. Pertanyaannya, harus bagaimanakahkita
menyikapinyauntuk
kebaikanNU di
masa saatini
danmendatang? Apakah seIamanya kita menghujat
dan menyalahkan 'brang lain"? Ataukah kita akan sedikit arif dengan mengoreksi dan mengintrospeksi diri sendiri? Ataukah kita hanya akan menganggapnya biasa-biasa saja, cwek bebek, dan selanjutnya tidak perlu berbuat apa-apa lagi? Saya kira, ffrman Tilhan yang berbunyi, "Uhatlah masa lalumuuttuk
(kcbaikan) masa dcpaurut"dan
firman
yang berbunyi,"Korekilah
dirimu sebelum engkau dikmekiuanghiri'
adalah jawaban yang menarik dan lebih bijak.Dengan
bahasa yang berbeda,akan lebih arif
kalau kemudian, kita warga NU segera melakukan evaluasi diri, sembari berpikir jangka panjang. Dan membodoh-bodohkandiri
sendiri terasa lebih biiak bila dibandingkan selalu mengaku benar.Gntu
hal ini dalam konteks mengurai benang yang sudah kusut perihal apa yang menyebabkan NU menjadi demikian terpuruk. Setelahitu,
selanjumya apa yang harus dirombak demi kebaikan NU di masa mendatang; itulah yang harus dipikirkan.Untuk itu, kiranya dua pemyataan dan sekaligus pertanyaan saya di berikut ini tidak ada salahnya bila kita renungkan bersama- samai Perlaflta, mungkinkah "kekalahan-kekalahan'
NU itu-
jangan-jangan-benar-benar karena "kebodohan
NU".
Yang lantaran kebodohannya itu, orang NU justru gampang 'dibodohi"tidak hanya oleh "orang
lairf', tapi-iangan-jangan-iuga
oleh"orang
NU"
sendirilKedaa, mungkinkah "kekalahan-kekalahan" NU itu, karena
NU
selalu bingung menempatkan posisinya, antara sebagai organisasi sosial keagamaanmurni
(kembalike khituh
1926) araukah sebagai organisasipolitik
seperti masa Pemilu 19551Gmpaknya kedua pernyataan dan sekaligus pertanyaan
itu
37
Balrrul 'Ulum : "Bodofrn1aNU" abo"NU DiboA&i"?
tidaklah mudah kita jawab. Karena
itu,
menjadi PR (Pekerjaan Rumah) kita semua untuk meniawabnya, termasuk PR bagi Bahrul'Ulum
sang empunya buku yang ada dalam genggaman Andaini.***
Semarang, 29 Juli 2002
"Ketika matahari bertengger
di
atas Jl. Dr.Gpto
180"38
Blcllt PE[rlitl
"NU
mungkin bukan suatu gerakan politik, tetapi ia tetap akan menjadi suatu kekuatan politik. Dengan demikian iatidak bisa meniauh dari