• Tidak ada hasil yang ditemukan

"llu llu"

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan ""llu llu""

Copied!
256
0
0

Teks penuh

(1)

o ;(*,

"B0ll0llllYA llu"

"llu DlB0ll0Hl"p am

Jejak Langkah NU Era Reformasi:

M e n

s uj i Kh itta h'

M e n e

ro po n'

ffi,11i:i,1;;i'''

*

EDITER:

Sirsaeba Alafsana

Orang.o€ng lain ramai-ramai membodohkan orang- orang NU. 'Mereka ini hk tahu politjf kab seorang

cedik di kamamya yang penuh tumpukan buku kepada s€oBng wartawan. 'Mereka orang NU tjdak

bisd menegang negara', kata yang lain dengan perasaan linggi hati. 'Mana bisa negara diatJr dengan cara pesantren", ujar seorang pengamat dengan nada sinis. Seorang cerdik lain yang sudah lama jengkel pada NU mengatakan, 'Dasar Nu!'.

Kalimat itu dimuat besar+esar di koran*oran. orang

orang NU yang meskjpun dicap 'bodoh'lehp bemiat

belajar dan membaca koran itu, marah dan dongkol.

DiseTtai CATATAN GETIR 'berapi-api' dari:

ULIL ABSHAR.ABDALLA AGUS YAHYA dan CATATAN AKHIR "menjotos" dari:

DR. AINUR ROFIQ, MA.

(Ulil Abh.r.Abdalla dala n Konpas 13 Febuai 2001)

I

,"4

\

l/

(2)
(3)

/sa/rrat'utrrn

"B0ll0HllY[ llu", .,llu ala

lllB0ll0lll"p

Menguii Khtttafi,

Meneropong'Pergeseran' Paradigma Politik

(4)

n#*, \z

Ar.Ruzz adalah lintas komunitas yang didirikan sebagai usaha bersama unruk memajukan perkembangan masyarakat. Ddirikan oleh sekelompok anak muda yang berciu.cita ingin memajukan sebuah masyarakat srptl yang cerdas, kreatif dan kritis. Komunitas

ini

bergerak pada bidang penerbitan, penelitian dan pengembangan Sumber Daya Manusia.

(5)

"B0lloHllYA llu",

"llu DlBoll0Hl"fl am

Menguji Khiftah,

Meneropong "Pergeseran"

Paradigma Politik

BflllRUL'ULUM

Catatan Getir:

UlilAbshar-Abdalla AgusYahya

Editor:

Sirsaeba Alafsana

M @

PEI{ERBII AR.RUZZ PRESS Khazanah R staka lndoflesia

PW IPI{U JAWA TENGAH Lembaga Pers dan Penerbitan

(6)

"BODOHNYA NU" APA "NU DIBODOHI''?

Jejal Langkah NU Era Refo@il

M€Esuji I(Littal MeoNpoog PedigE Politik FI"k Cipta 6 Bahrul 'Ulum

Fist publrhcd 2002 by Ar-Rua Prs Djosakarue lndonerii ARRLIZZ0l.00r.6789l0.M2K

Hak cipt. &lindurSi urrl.nr-udaD8

AI .thr. .6ered

"Nop,rt 4 thlj W.nq b. rcFo&e4 sLqdin *atiaA

'1r,,,r\ d $@!rnn,a'd 6 @1,l^ - b -'t

meas, tu:&dts dzaoic,,[email protected]\f}ddqtiy, nt,dtuniry, t.c'ilbi€ d d\NL\.@th< pennn- sia fttu' !-Faa&a' Oiqi&,atd

Rodis: Bahrul't.llum, M.{.

Cata.an Gtic Ulil At har-Abdalla, .A,eu Yshya Cahran ALhir: DE Ainur Ronq, MA.

Ediror Si6a.ba Alaf.ana

Enytlarar Bahsa: fahmi Anf E Mmiry, A. Mujib Sacsi

Proof Fcadcr ISmcug Alcadrmy Sdtingflry Ouc Stldio 23 Deain Covcn Sndio 2l

Pa Cttalc Ahan d, Eo! NA [tra Mutuin, I:zilu' Sal<hd M PENERD T AR.RIZZ PRESS

Rned( Blo& K, CK. I, M. 795 Doetrbrta 552 2 I HP 061 642? 22J4,

hr

(02111 56E2(6

E-mil: arruaaena@yahocm

No Rc!. BanL l',{andiri YKT CG,aFr: I l?{@2 149914, a/n: Abdrn }Jastur No Rck. BCA KCU Yogyaltarta: 0172141 105, a/n: Aldul Mslrut

Btkcrjg,sma dcnsan:

hmpinan Vilaph lbtan Pum Nahdlatul Ulans Pw IPNU I.ra TeDs.[

Jl. D&tcr Crpto 180 Scmaratrg 50125

Clp. (024) 8450?55, Er (024) 841076 Celtlen Apdl 2001

ISBN 979-96856-3,X Saobt PcLB*.ED Prrrl 44:

Un&n3Uo&ng Nomc ? Ghtm 196? Tnrane ftmhahan atas Undang-Undang Nornc 6Ghun 1982 'Enrang llak Crpta:

l. Baangliap. dcn€an s.n8ajo ds$ renF hal m.nsmurnlan aceu mcmpcrbanyal sotu ciptaan atsu m<mh.n Ein untuk itq dipid,M d.ryan pidaE Fniats palins larna 7 (ruiuh) tahm .lad

etau dcn& paling LanyaL Rp. 100.000.00 Gcrqru. iua n+i!h).

I Barnneliapa d6san rcnsaja mcny.ohk{n, mcmn d.an, m.nF&.Lan, atau ncnjel Lcpada

umum !'rAtu cbtarn .6u barnos ha6il Fllnssaran H.L CQU scbasliruau dnnilG,rd dalam a,llr (l), dipidaM d.nsEn pi&us p.nid.a p.lins lam6 5 oirna) tahun &rvat u dcn& paling hanpl Rp. 50.000.000.O (ima puluh jute nrpish).

(7)

Unnrk istriku Siti

Rardlaai

lannah, anak kami Muhorruud Fadlli Mybarak dar. bayi petenyran kami yang belum kami namai.

(8)
(9)

CATATAN PENGHAMPIRAN EDITOR:

YANG TEBUS DIBURU IIIU ITU BEBNAMA "JENIS KEIAMIN"!

Srrsaeba A/afsana'r

da rvaktu membuat

tulisan

pengantar

ini,

NU ang menggelar "acara akbar" berupa Konferensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Nasional (Munas) Alinr Ulama NU tanggal 25-28 lu1i 2002 di Jakarta. Konon salah satu agenda utama acara itu adalah membahas lJrittai. NU hendak mempertegas kembali

"jati diri"

atau "jenis kelamin"-nya.

Lalu...bersamaan dengan

itu, kami

secara "kebetulan"

menemukan beberapa komentar lepas tentang

NU

dari tokoh- tokoh "papan atas"-nya di berbagai sumber.-

Andaikata

kami boleh membayangkan, sebelum tokoh- tokoh papan atas

itu

mengeluarkan komentar lepasnya, pastilah terlebih dulu didahului dengan pertanyaan-pertanyaan ihwal NU

*r Sirsoebo Alaf.-ola adalah wisudawan terbaik Fakultas Syari'atr IAIN Valisongr Semarang tahun 2002, dan mantan Pemimpin Redaksi Jumal lvlahasisrva JUSTISIA. Selepas wisuda ia tercatat sebagai "pengan!€uran in te le ktual", c uma se se kali menjadi edi tor di Pe ne rbi t Ar- Ruzz. Seka ra ng dipercaya menjadi Koordinator Lembaga Persdan Penerbitan PW IPNU

J arva Tlngah.

1

(10)

Bahrul'Ulum : "BodohnJaNU" apa "NU Dibodohi"!

dari para "nyamuk pers" atau para peneliti

NU.

Dus, sejurus kemudian,'Apa pendapat Anda tentang

NUl"

tanya mereka pada tokoh-tokoh radi.

"Diakui atau tidak, PBNU terasa

gagap, sehingga menjadikan orang-orang

NU

ngarang-ngarang memberikan tafsiran sendiri-sendiri atas khituh," iawab RAIS Syuriah PBNU, K.H. Muchith Muzadi.

"Saya kira NU harus melakukan politik secara benar dengan berpihak pada rakyat, bangsa dan negara, demokrasi dan keadilan, dan bertujuan demi kemaslahatan umat. Kalau meminjam istilah Subhan ZE, itulah yang disebut quality politics," timpal Mantan Kerua PBNU Chalid Mawardi.

"Ketika Muktamar

NU tahun

1984

di

Situbondo, saya pernah bertanya apakah yang akan didahulukan oleh

NU

ke depan, penataan atau wawasan. Saya sendiri yang waktu

itu

berpikir penataan harus didahulukan, sedang yang lain berpikir wawasan sehingga Gus Dur yang dipilih menjadi pimpinan," sahut K.H. Mustofa Bisri.

"\Uarga NU itu mempunyai 'natiu' bahkan 'syahwaC politik yang cukup besar. Khittah 1926 sebenarnya bagian dari sikap

politik

warga

NU

trntuk menyiasati keadaan saat

itu.

Ketika Soeharto lengser, nafsu

politik itu

tercurah dalam keinginan membuat partai. Saya ingat betul, dalam pertemuan pertama di Rembang yang digelar sekitar setengah bulan setelah Soeharto lengser, ulama dan tokoh

NU

dari semua aliran, hadir

di

sana", celetuk K.H. Yusuf Muhammad.

"Di era multi parcai ini, NU harus memiliki kendaraan politik yarg undcr control NU. Karena kepentingan

NU

tidak munghn tumbuh dalam sebuah aliran politik yang kepentingannya berbeda secara diametral, baik dari aspek ideologi maupun bentuk visi perfuangannya. Bahkan kalau hal ini dibiarkan, suara dan aspirasi warga NU yang disalurkan ke partai

politik

lain, bukan tidak mungkin akan membesarkan orang lain yang uiung-ujungnya iustru menyulitkan

NU

sendiri. Karenanya mau tidak mau, NU

8

(11)

Carara Pargialr.p&

a

Editol

harus memiliki 'rumah politik' sendiri untuk kepentingan aspirasi politik umatnya, sekaligus sebagai alat perjuangan NU", sela sang Ketua Umum PBNU K.H. Hasyim Muzadi.

"Kami (anak-anak muda

NU di

lalur

kultural)

tidak rela jika NU dibawa lebih jauh ke wilayah polirik praktis. Dan untuk

itu, kami

akan berusaha dengan segala kemampuan untuk menyuarakan pentingnya

NU

lebih berkonsentrasi pada hal-hal kemasyarakatan guna membangun dan memberdayakan orang- orang keci[", serobot intelektual muda NU,

Ulil

Abshar-Abdalla lantang.

Cuplikan pendapat yang kebanyakan kami ambil dari harian Kompas

itu,

masih pula mendapat tambahan "masukan" dari pengamat politik Kacung Marijan. Katanya, "Bahwa kepentingan

politik

warga

NU

harus lebih diperjuangkan oleh para politisi NU, bukan PBNU. Kepentingan politik itu, misalnya, bagaimana mengalokasikan

kue pembangunan

yang

tercermin

lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Saya belum melihat perjuangan

politisi

NU bagr upaya peningkatan budget di bidang pertanian, subsidi buat sekolah atau madrasah, nelayan, atau kalangan bawah lainnya, yang sebagian besar adalah warga NU".

Mengamati

hal itu,

sang penulis buku yang ada dalam genggaman Anda

ini,

dengan datar menulis, "Munculnya sikap

pro dan kontra di kalangan NU menunjukkan

adanya ketidaksamaan visi dalam soal memperjuangkan kepentingan NU secara besar. Ada yang menginginkan agar

NU

tetap tampil

sebagai organisasi sosial kemasyarakatan an srch. Ada pula yang

ingin membawanya ke arena

politik

praktis, sebagaimana yang pernah dialami pada

tahun

1952. Ada pula yang memadukan kedua-duanya".

Lebih lanjut dia menilai

bahwa

untuk tampil

sebagai organisasi sosial an sich adalah hal yang

sulit

bagi NU, karena dalam sistem politik nasional yang bercirikan

multi

partai

ini-

& mana wama politik aliran menjadi suatu keniscayaan-seolah-

9

(12)

Bahrd 'Ubm : "Bddnqa NU" qa "NU Dibod&i" !

olah mewajibkan siapa saia unnrk memilih warna

politik

aliran itu secara menonjol. Bila NU tidak memiliki satu kekuatan politik, dipastikan kekuatan massanya akan menjadi incaran dan rebutan bagi partai [ain. Hal ini jelas akan merugikan NU yang memiliki

massa yang cukup besar. Sebaliknya bila NU tampil secara penuh sebagai kekuatan

politik

atau berubah menjadi partai

politik

seperti pada

tahun

1955,

ini

juga tidak mungkin dilakukan, karena bisa dianggap melenceng

dari

komitmen awal sosial keagamaannya. Meskipun sejarah telah mencatat bahwa NU pemah berhasil menduduki urutan ketiga pada Pemilu 1955.

Benang

merah

apakah yang

hendak kita tarik

dari

serangkaian pendapat di atas? Bila diperkenankan menebak, kami berpendapat bahwa

NU hingga

saat

ini masih

bingung, kedodoran, dan kesulitan dalam mempertegas "jenis kelamin"

atau "jati diri".nya. Hendak ke wilayah sosial keagamaan murni (kembali ke khittah 1926) dirasa berat. Hendak ke politik praktis Lok berat juga. Maunva sifi barangkali, ya khittah, ya politik. Tlpi

kritik

bertubi-tubi datang juga dari luar, dan persoalan intemal organisasi pun tak kunjung usai. Sungguh berat "cobaan" yang diberikan Tirhan terhadap makhluk bernama

"NU"

ini.

Memang, sepertinva

NU

dari :aman bahulea hingga

kini masih saja berkutat dengan persoalan

penegasan jenis kelaminnya. Antara khittah murni dan politik praktis. Persis laik dikumandangkan Dr. Ainur Roliq, dalam "Catatan

Akhir"

buku

ini.

Katanya, "Dengan melihat kondisi real masyarakat dan tantangan vang ada, baik tantangan global (intemasional), re- gional, nasional, maupun lokal, maka circle NU dari 'mumi sosial keagamaan'

ke'politik

praktis' kemudian kembali lagi, atau bahkan nantinya kembali lagi ke

politik

praktis, sudah dapat dipahami dari sejarah perjalanan NU

itu

sendiri. Ibarat orang Jawa bilarrg, u':r-s ora aneh, rrutlo mb\en rrwrnang ngonokuu,ilah NLi

(rukan hal aneh, sejak dulu memang begitulah NU)".

l0

(13)

Caanm PenghanPi an E ditm

Sebetulnya, kalau

kita

mau

jujur

dengan

hati

kecil kita, bukan saja NU yang bingung mencari jenis kelaminnya. Kita pun sebagai person yang berakal,

dari dulu

hingga sekarang juga bergelut dengan persoalan pencarian jati diri. \X4r cm I?, siapakah aku? adalah pertanyaan yang kerap kita lontarkan sendiri dalam benak kita. Bukankah demikian? Hanya masalahnya, akan benar- benar meniadi persoalan manakala kita dalam pencarian iati diri

itu kita kerap jatuh dalam "lubang"

yang sama. Sekadar pengibaratan, kita itu sudah tahu kalau dalam sebuah seni peran,

kita

tidak bisa dan tidak cocok menjadi "pemeran antagonis"

melainkan cocok menja& "pemeran protagonis", kenapa mesti

kita

memaksakan

diri

berperan antagonis? Kalau dulu dengan memerankan

"tokoh antagonis" film kita itu ielek, lalu

ditinggalkan

&n

dibenci penggemar, kenapa pula sekarang kita ulangi lagi. Bukankah

itu

sama artinya "bunuh &ri"? Bukankah

itu

sama artinya

kita

"bodon-' karena jatuh dalam lubang sama sampai dua kali

Barangkali, metafor

itulah

yang saat

ini

pas

dituiukan

kepada NU khususnya, dan kita semua pada umumnya--dengan catatan

jika

pernah sekadar "merasa" seperti

itu.

Dalam matra itu, tampaknya buku yang tengah Anda kencani ini, disusun lebih sebagai

"pengingat" atau "tongkat" bagi NU

agar

"tidak

tergelincir" dalam lubang yang pernah menjatuhkannya. Selain itu, buku ini sepertinya disusun juga unnrk memenuhi

harapan-

harap-harap cemas (!)-mudah-mudahan bisa membantu, pal-

ing tidak, menjadi "pertimbangan" NU dalam

terus bermetamorfosis dalam mencari jenis kelaminnya. Singkatnya, lebih tepar sebagai waming harian saja.

Jauh

dari

maksud-maksud tersebut, buku

ini

seiatinya menyisakan sepenggal maksud, bairwa dalam jangka instan agar

NU

tidak pemah berhend mengoreksi dan mengevaluasi dirinya sendiri riada henri, dan dalam jangka panjang supaya NU menjadi lebih baik.

Lebih

memaparkan sejarah perjalanan

NU

sepanjang

ll

(14)

Bahtul'Ull,!,4 : "BdolryaNU" $a"NU Diboddi" ?

reformasi (1988-2000), sang penulis buku ini gigih sekali menguak selarah

NU-yang

ditulis dalam lima bagian. Bagian pertama

lebih bersifat

"Pendahuluan". Bagian kedua memaparkan 'Dinamika Folidk NU dan Problematika Khftrah". Bagian ketiga mengupas ihwal 'Artikulasi Politik NU Era BJ. Habibie". Bagian keempat mencoba "Menguli Khittah dan Meneropong Pergeseran Paradigma Folitik

NU

Era Abdurrahman

Vahid".

Dan bagian akhir lebih merupakan "Epil.C".

Bagi

pernbaca

yang intens mengamati laju

gerak perkembangan buku yang membahas tentang NU, sepintas lalu mungkin menganggap remeh buku ini, karena "seolah-olan' " tidak berbeda

jauh

dengan buku-buku yang

jauh-jauh hari

telah membabat habis perpolitikan

NU.

Thpi benarkah demikian?

Hemat kami, penilaian seperti

itu

akan segera sirna manakala menyimak "kekuatan

&ta"

yang disaiikan buku

ini,

terutama dalam menyitir pernyataan-pernyataan tokoh-tokoh NU dan no- NU dalam menyoroti organisasi bentukan K.H. Hasyim Asy'ari

itu

dengan "vulger" dan "blak-blakan". Dengan kata

lain,

ada secercah "sinar" yang dipancarkan buku

ini

ke hadapan Anda, yang sama sekali

berHa

dengan buku-buku lain yang bertema hampir sama..

+:t+

O&z-lah, perlu pula diinformasikan bahwa buku

ini

semula adalah tesis 52 penulisnya di

IAIN

Syarif Hidayanrllah Jakarta, yang berhasil dipertahankan pada medio 20 Agustus 2001. Untuk pemenuhan "konsumsi" buku dan "pasar" ada beberapa hal yang dengan "amat terpaksa" perlu kami sesuaikan. Seperti dalam hal

"kelezatan" bahasa dan "sistematika penulisan". Jadi, harap maklum saja! Bukankah mengenai "orisinalitas" buku

ini,

sang

empunya telah menawarkan kepada Anda agar memeriksa teks aslinya?

++

+

t2

(15)

Caatan Pengfiar.Pn or Editor

Akhimya, sebagai sebuah kerja nrelelahkan, buku

ini

tidak akan tersaji manakala

tidak

ada bantuan, pertama-tama dari Saudara Fahmi

Arif

El

Muniry

yang mula-mula menunjukkan tesis

itu

pada kami. Selanjutnya terimakasih pun juga terucap kepada Mas

Bahrul'Ulum

yang memercayakan penerbitan tesisnya kepada kami, meskipun sebelumnya tesis

itu

pernah

"nongkrong riga bulan" di Penerbit Pustaka Indonesia Satu (PIS) Jakarta. Apa boleh buat.

Ucapan terimakasih pun seyogianya dilayangkan kepada kawan-kawan "aktifis kajian", para intelektual muda SENSAZi' dan MaKAR Gputat. Mereka adalah Mujib, Reza, Ferry Amin, Nasir, Pay, Orega, Iqbal, dan Ishom Elsaha yang mengajari kami cara berpetualang dan menjelajah secara

intelektual.

Yang

karena lecutan semangat merekalah, ide menerbitkan buku im juga bisa muncul. Meskipun boleh dibilang bermodal "nekad", toh akhirnya menjadi realita juga.

Ucapan terimakasih yang

tulus

iuga

kami

kuntumkan kepada kedua "intelektual senior" kami, Mas Rumadi, dan Romo Sumanto AI Qurtuby (si "Mrosalleng dai

Nc

Robar" ztau "Rorno Mbehng dan 1-altpesdan"), yang terus memompa semangat kami untuk tidak takut menghadapi hidup yang kian "semrawut" ini.

'Ihk lupa kepada Mas

Ulil

Ab'shar-Abdalla, Mas Agus Yahya, dan Mas

Ainur

Rofiq, kami ucapan alfusrykn karena berkenan

memberikan "Catatan Cetir" dan "Catatan Akhir"

bagi kelengkapan wacana buku

ini.

Di

atas segalanya, terimakasih pun tercurah buat kawan Imam Kuncung dari Ar.Ruzz Press, dan Agus Yahya (kami sebut

untuk kali kedua) dari PW IPNU

Jateng

yang

berkenan menerbitkan buku ini. Semoga Allah membalas kebaikan mereka semua. Kepada jam'i11ah

NU,

mudah-mudahan buku

ini

bisa

menjadi kado indah tak terlupakan.

*

a

i

N galian- Semarang-Pengok-Djogjakarta, Medio 28 Juli 2002

"Ketika tiada gading yang

tak

retakl"

13

(16)

Bohtul'Ulurr "WmyaNU" qa"NU

Dik

i"?

t4

(17)

habta dat U caq@'fifir.a Kasih

PRAKATA

DAIU UCAPAN TERIMAKASIH

tf,)u;i syukur kepada Allah Swt. parut

penulis

(rA-lpanjatkan

hingga kapan saja. Bagaimana tidak?

11.r,

Betapa berkat kasih, rahmat, dan karunia-Nyalah penulisan buku

ini

bisa rampung sesuai plafliflg, tanpa sebuah kendala yang berarti sama sekali: Buku yang sekarang tersaji di hadapan segenap pembaca, semula merupakan tesis penulis di Pro- gram Pascasarjana

IAIN

Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebuah tesis penelitian yang semula berludul, "Pergesetan Parudigna Politik Nahdawl ULnna Era Refonrasi (1998-2W)".Dalam penelitian itu,

penulis

berupaya menjawab beberapa pertanyaan krusial:

Bagaimana dinamika politik

NU

dalam sejarah percaturan politik nasional

di

Indonesia? Mengapa terjadi "pergeseran" paradigma politik NU di era reformasi? Lantas, bagaimana kalangan NU sendiri menanggapi pergeseran paradigma

politik itu,

dalam kaitannya dengan persoalan Lhitah-"persoalan klasik" yang tak kunjung usai dibicarakan dan diperdebatkan? Bagaimana pula posisi NU

era reformasi, semenjak B.J. Habibie sampai AMurrahman Wahidl Jawaban atas serentetan peraanyaan

di

atas telah penulis

l5

(18)

Balmt'Ufun : "BdofuqaNU" aDa "NU Dibodohi"t

upayakan penguakannya dalam buku ini dengan-paling

tidak-

memakai metodologi desknptif-analitis, uia pendekatan sejarah (hamrical dpprodch). Selain

itu,

untuk mendapatkan beberapa referensi data yang dibutuhkan, maka penulis tak lupa membubuhi penelitian kepustakaan (library research\ dan penelitian lapangan (ieLd research) melalui wawancara dengan beberapa tokoh NU.

Dus, dalam mengolah dan menganalisis data yang terkumpul itu, penulis memakai metode analisis

isi

(content anallsis), yaitu

dengan menilai dan mengidentifikasi data,

kemudian menganalisisnya lebih lanjut.

Perlu penulis informasikan di sini, judul yang tertera dalam buku

ini

merupakan usulan dari penerbit, yang konon katanya, terinspirasi dari tulisan intelektual muda

NU

kenamaan, LIli[

Abshar-Abdalla, dalam harian Kompas, yar.g sekaligus menjadi

"Gtatan

Getir" dalam buku ini.

Syahdan, barangkali bila penulis

diperbolehkan menyarankan, bagi siapa saja yang menghendaki keaslian edisi ini, sebaiknya menengok saia karya asli tesis penulis yang mungkin bisa <iit.mukan

di

Perpustakaan

IAIN

Syarif Hidayatullah Jakarta.

Juiur penulis akui, buku

ini

bisa tersaji dengan "apik",

"manis", dan 'menarik"

di

hadapan pembaca sekalian tak bisa lepas dari bantuan banyak orang yang tidak mungkin penulis sebu&an satu per satu. Sekurang-kurangnya, penghargaan yang tulus dan penuh hormat penulis sampaikan kepada Bapak DR.

H. Asafri Jaya Bakri, MA, Rektor

IAIN

Sulthan Thaha Saifud&n Jambi, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk

melaniutkan studi di

Program Pascasarjana

IAIN Syarif

Hidayanrllah Jakarta.

Penghargaan yang setulus-tulusnya juga

patut

penulis sampaikan kepada DR. Bahtiar Effendy, MA. dan DR. Masykuri AMillah, MA. yang telah membimbing penulis dengan sikap yang amat biiaksana. Gpada Bapak Prof. DR. H. Said Agil Husin

Al-

Munawar,

MA, Direktur

Program Pascasarjana

IAIN

Syarif

l6

(19)

P,rokata dan U cqar Tetira Kasih

Hidayatullah Jakarta, yang sekarang meniabat sebagai Menteri Agama kita, penulis "wajiH' mengucapkan terimakasih atas bekal ilmu dan pengetahuannya yang diberikan kepada penulis. DR.

A. \fahid Mu'thi, di samping

sebagai

Asisten Direktur

I Pascasarjana

IAIN

Jakarta, beliau juga telah banyak memberikan bimbingan dan petunjuk selama mengikuti perkuliahan

&

Pro.

gram Pascasarjana. "Thar*'s a lot Pak, atas bimbingannya".

Penghargaan dan ucapan terimakasih yang

tak

terhingga, juga penulis sampaikan kepada para dosen

penulis

selama mengikuci pendidikan

di

Program Pascasarjana

di IAIN

Syarif

Hidayatullah Jakarta. Mereka adalah DR. Satria

Effendi (Almarhum), DR. Mukhtar Aziz, Prof. DR. Fathurrahman Djamil,

MA,

Prof DR. Ahmad Sukarja,

M4,

DR. Mulyadi Kartanegara.

DR. Hamdani Anwar, Prof. DR. Huzaimah T Yanggo, DR. Rusmin Ti.rmanggor. Penghormatan yang tinggi, penulis sampaikan kepada

seluruh jajaran dan staf pada program Pascasarjanan

IAIN

Jakarta, kepada jajaran dan staf Perpustakaan

IAIN

Jakarta,

Perpustakaan Iman Jama', Lebak Bulus-Jakarta Selatan, dan Perpustakaan l,akpesdam NU Jakarta.

Selanjutnya, penulis tidak dapat melupakan bantuan dan motivasi dari kawan-kawan Pascasarjana yang telah memberikan bantuan secara tulus, tanpa pamrih Mereka adalah Khamami Zada, Heri Junaidi, Promono U. Thntowi, Ahmad Munir, dan

Irfan

Jamil. Terimakasih

tak

terhingga juga penulis ucapkan kepada

adik

penulis

Zainal Abidin,

atas

bantuan

duit-nya, terutama ketika beasiswa penulis mengalami kemacetan.

Sembah sujud dan sunglem yang sedalam-dalamnya penulis persembahkan kepada Ibunda

Hj.

Nadirah dan Ayahanda H.

Bustamin, yang tiada henti-hentinya memanjatkan do'a kehadirat Ilahi, memohon keselamatan dan kesuksesan bagi anak-anaknya.

Semoga

Allah

Swt. dapat mengampuni segala dosa-dosa beliau berdua. Selanjutnya persembahan do'a dan ucapan terimakasih luga penulis sampaikan kepada mertua penulis,

H.M.

Ashaf Shaleh (Almarhum), yang selama hidupnya banyak memberikan

l7

(20)

Bahr 'Ulun : "BodohnyaNU" apa"NU Dibodchi"t

bimbingan dan motivasi kepada penulis.

Thk lupa,

dari

relung

hati

yang paling dalam, penulis menyampaikan terimakasih yang rulus kepada

istri

tercinta, Siti Raudatul Jannah, S.Ag. M.Pd.L, yang penuh kesetiaan dan

kesabaran berpisah untuk sementara, sampai

penulis menyelesaikan studi di Jakarta. Begitu pula kepada putra penulis, Muhammad Fadhli Mubarak, dan sang "jabang bayi" yang belum kami beri nama, yang rela penulis tinggalkan dan menerima kenyataan kurangnya perhatian dan kebersamaan dengan penulis sebagai ayahnya. Kepada mereka penulis persembahkan buku ini.

Do'a penulis, semoga Allah Swt. senantiasa memberikan petunjuk dan jalan yang lurus kepada

kita

semua.

Ucapan terimakasih dengan segenap jiwa dan perasaan, sebesar-besarnya penulis kado buat Penerbit Ar-Ru11 Press Djogiakarta dan Lembaga Pers dan Penerbitan

PV

IPNU Jawa Gngah yang berkenan menerbitkan karya sederhana ini, terutama kepada Mas Ade

Munif

Andonesy, Mas Abdullah Masrur, dan Mas Agus Yahya. Thnpa bantuan mereka, mana mungkin karya ini bisa terbit secepat ini. Semoga Allah Swt. berkenan membalas kebaikan mereka

di

dunia

ini,

dan kelak

di akhirat.

Mudah- mudahan karya sederhana bisa bermanfaat bagi

kita

semua.

Amienl

Jambi, 27 Juli 2002

"Ketika penulis dan putra penulis saflta-saflul sedang nvralakan Ulang

Tilwt'

Bahrrrl

'IIum

l8

(21)

Daltar lsi

Catatan Penghampiran Editor

-

7

Snsaeba Alafsam

Prakata dan Ucapan Terimakasih

-

15

Daftar Isi

-

19

Daftar Thbel dan Lampiran

-

21

Catatan Getir

-

23

Ulil Abshar-Abdallt fu*sYolrya

Bagran Pertama:

Sesobek Catatan Awal

- 4l

Bagian Kedua:

Dnamika Politik NU

dan Problematika Klnfioh

-

55

r

Latar Belakang dan Dinamika Politik

NU

(1926

.

l95Z)

-

55

o

Dinamika Polidk

NU

(1952

.

1984)

-

62

o NU

Keluar dari Masyumi dan Menjadi Partai Politik

-

62

r NU

Berfusi dalam PPP

-

81

r

Kembali ke Khituth 1926

-

86

t9

(22)

Bahrul'Ulum: "Bddtnlo NU" dpa "NU Dbodofu"a

.

Paradigma Politlk NU Pasca.IGmbali ke Khituh (1984

-

1998)

. _94

Penguatan Cioil Sociecy

-

110

Bagian Ketiga:

Artikulasi Politik

NU

Era Pemerintahan B.J. Habibie

-

123

e

Kondisi Pemerintahan B.J. Habibie

-

123

o

Artikulasi Politik

NU

Era Pemerintahan B.J. Habibie

-

127

o

Pembentukan Partai Politik dan Posisi Khiuth

-

132

r

Pro Kontra Berdirinya PKB

-

136

r

Mencermati Munculnya Partai.Partai Islam

-

1.13

r

Pemilu 1999, Pemilu Era Tiansisi

-

153

o

Terpilihnya Abdunahman \Uahid

-

158

Bagian Keempat:

Menguji

Khittah,

Meneropong Pergeseran Paradigma

Politik NU

Era Pemerintahan Abdurrahman Wahid

-

169

o

Pergeseran Makna Kluttah

-

170

o

Pergeseran Paradigma Politik NU

-

182

o

Posisi PKB Era Pemerintahan Abdurrahman Wahid

-

188

o

Posisi NU Era Pemerintahan Abdurrahman \Uahid

-

192

o

NU dan Agenda Civil Sociery

-

205

Bagian IGlima:

Sesobek Catatan Akhir:

"Kebodohan

NU", atau'Dbodohinya

NU"?

-

213

Catatan

Akhir-

219

Dr. Ainur RofiS,

MA.

Daftar Pustaka

-

237

lndeks

-

247

Lampiran

-

252

Mengakrabi Penulis

-

251

n

(23)

Daftar Tahel dan Lampiran

Tlbel:

1.

Hasil Pemilu 1995

-

71

2.

Daftar Perolehan Suara Pemil,t 1997

3.

Jumlah Perolehan Suara dan Kursi DPR RI

-84 -

155

4.

Jenis Penyimpangan dalam Pemilu Tahun 1999 dan

Tindak

lanjumya

-

158

5.

Klasifikasi Sosiologis \Varga

NU

Pasca-Khicah 1926 zz?

-

Lampiran:

Matrik

Pokok.Pokok Program PBNU Periode 1999- 2004

-252

zt

(24)
(25)

GIIfiIT GTIIR

"Soalnya sederhana saja.

NU

sudah lama merasa diperlakukan tidak adil oleh dominasi golongan dan perorangan yang kuat

kedudukannya lantaran struktur organisasi yang berlaku"

tK.H.SaefuddlnZuhml

z

(26)
(27)

CATATAN GETIR PERTAMA:

OBAIIIG IIIU DIBODOH!, PINTARNYA OBANG TAIN

Ulil Abshar-Abdalla*t

Orang.orang lain ramai-ramai membodohkanorang-orang NU.

"Mereka ini tak tahu polirik", kata seorang cerdik di kamamya yang penuh tumpukan buku kepada seorang wartawan. "Mereka

orang NU trdak bisa memegang negara", kata yanglain dengan perasaan tinggi hati. "Mana bisa negara diaturdengan cara pesantren", ujar seoran g pengamat dengan nada sinis. Seorang cerdik lain yangsudah lama iengkelpada NU mengatakan, "Dasar

NU l" Kalimat itu dimuat besar-be saran di koran-koran. Orang- orang NU yangnrskipun dicap "bodolf' tetap bemiatbelajar dan

memhaca koran itu, marah dan dongkol" .

rang-orang

pintar

dan

cerdik-pandai

mengutuk ame-rame orang.orang

NU

yang dicap bodoh di desa-desa karena bertaklid "buta" pada pemimpinnya,

*)

U

Absh<n Abddlradalah intelektual muda NU "Garda Depan", pemah menjabat Ketua Lakpesdam-NU dan Project Director ICRf; Jakarta.

TiJisa[ tersebut pemah dimuatdi tr?,mpas pada medio 13 Februari 2001, dan diterbitkan kembali dalam "Catatan Gerir' ini, atas izin dan kemurahan hati penulisnya.

25

(28)

Bohtul'Ulum : "BodolnryaNu" apa"NU Dibodahi"?

dan kemudian berbuat kerusakan, menebangi

pohon,

dan membakar gedung-gedung. Berita tentang

itu

dimuat besar- besaran

di

koran-koran kota, dan tiba-tiba orang-orang NU menajdi "pesakitan", tertuduh dan dicap bodoh.

'\Uarga

NU memang, kebanyakan orang kampung yang tidak

terdidik, tidak

bisa mengontrol perasaan,

tidak

mempunyai keterampilan menyalurkan kemarahan secara "beradab" seperti cerdik.pandai

di

Jakarta. Dan ketika orang-orang

di

Jakarta

"menyalahkari' mereka karena berbuat "kekerasan", mereka tak punya kemampuan menjawab secara canggih

di media

massa:

kenapa mereka berbuat begitu.

Sementara para orang

pintar

yang dekat dengan media, meskipun tak mempunyai basis massa yang luas

&

bawah, bisa

dengan

enak dan "canggih", dan pintar, dan "teoretis",

memberikan komentar ringan, "Bagaimana mungkin orang-or- ang

itu

berbuat kerusakan.

lni

akan membahayakan prospek demokrasi. Demokrasi

tak

bisa dibangun dengan kultus, dan seterusnya dan seterusnya".

Sementara elite-elite yang mampu membangun segala rupa manuver dengan "beradaH' dan

'tantik"

mendapat pujian dari para pengamat iht, "Nah,begitu seharusnya demokrasi. Demokrasi

itu

kan artinya kita harus berjalan sesuai aturan main, damai.

Demokrasi itu ya berapa suara yang Anda punya, and so and so".

Yah...memang nasib orang kecil yang bodoh, yang ridak trisa berbicara atas nama mereka sendiri, kecuali hanya mendengar dan menonton komentar orang--orang pintar yang berbicara "atas nama" (dan kadang, atau sering, menyakiti) mereka. Ketika me&a disanggah bahwa mereka telah menyebabkan orang-orang kecil yang tak pintar

itu

marah, para pengasuh media mengatakan,

"Kami hanya memberikan

Fakta. Kami hanya alat pengangkut barang, kami tidak menciptakan barang

itu

sendiri".

Dari

semula

orang NU

sudah mau

menjalani

proses demokrasi yang benar, mendukung Megawati Soekamoputri, lalu

,%

(29)

Caatan Oerir

"dibujuki"

orang

lain

yang

"pintar" dan

"beradab"

untuk

meninggalkan Mega,

lalu

(karena bodoh dan kurang "pintar") mau mendukung Abdurrahman Wahid (Gus Dur) jadi presiden, Ialu "tokohnya"

itu

disakiri, lalu mereka tak bisa membela, lalu mereka marah, lalu mereka "dikutuk" karena marah, lalu orang yang dulu "menipu" mereka itu mendapat nama dan kemasyhuran dan reputasi karena berbuat segala "kelicikan" dengan "beradab"

dan "sopan" dan "cantik" di mata media.

Maswadi Rau( dalam sebuah talJ<shoru yang secara "beradaU' diadakan oleh sebuah stasiun televisi swasta untuk mengomentari siaran ulang dialog Gus

Dur

dan mahasiswa pada tanggal 8 Februari 2001 di Hotel Indonesia, mengatakan, "ltulah

politikl"

Jadi, seolah-olah politik adalah keharusan menerima "kelicikan' yang dilakukan secara "beradab".

Kadang-kadang saya berpikir, betapa celakanya menjadi orang-orang kecil yang jauh dari Jakarta, lauh dari "alaC' yang memungkinkan mereka berbicara atas nama mereka sendiri.

Ribuan orang desa berkumpul, memprotes, dan merusak, dan media

tak

pernah

bercerita

tentang perasaan mereka dan

"kegondokan' mereka, sementara seratus demonstran di Jakarta mendapat perhartian yang berlebih. Inikah "versi" lain dari kisah Zulkarnain yang diceritakan oleh Noam Chomsky: seorang Zulkamain menumpang kapal besar, menaklukkan negeri-negeri lain, mendapat pujian sebagai pahlawan, tetapi sekelompok bajak kecil, karena hanya membawa perahu kecil, disumpahi sebagai

"perompaP' dan bajak [aut.

Salah siapa mereka tinggal

di

desa, dan tidak pintar, dan ridak terdidik? Saya ingat salah satu kata yang sering digunakan oleh para

aktivis

LSM

di Afrika

Selatan, victimifing uictim, mengorbankan orang-orang yang sudah menjadi korban. Orang kecil yang selalu menjadi korban, karena tidak mempunyai "alat' untuk mengatakan bahwa mereka korban, selalu "dikorbankari' kembali oleh mereka yang, karena mempunyai alat itu, kemudian bisa "berbicara" atas nama korban-korban iru.

27

(30)

Bol:,nul'Ultn: "Boddrnr4 NU" apd "NU Dbodohi"l

Saya jadi ingat Edward Said yang bercerita dalam Orieaulis, tentang Flaubert yang menulis sebuah novel, dan berkisah (untuk publik Barat yang haus akan "eksotisme" Timur yang dibuat-buat) mengenai wanita Mesir, Honum, dan dengan mudahnya menjadr

"tokoh" wanita

ini

sebagai

"tipe

wanita

timur".

Orang-orang pintar mereka sering berkata "mengenai" orang-orang lain yang kebetulan lemah, dan tidak pemah merasa perlu untuk menilik kembali, apakah kata-katanya persis mengenai apa yang dipikirkan oleh orang-orang lemah

itu. Di titik

inilah sering terjadi uictim- izatian

of

vicdm.

Saya tidak tahu harus berkata apa, dan menyalahkan siapa, tentang orang-orang kecil di desa yang hidup sekian puluh tahun dalam suatu keadaan yang

tidak

memungkinkan mereka

itu

membangun "alat" dan "perkumpulan" yang bisa menjadi sarana

untuk

mengungkapkan

isi hati

mereka dengan damai. Ketika alat-alat dan sarana-sarana untuk bicara

itu

tak mereka miliki, sebaliknya malah

dimiliki

oleh mereka yang

"pintar" di

kota- kota, mereka lalu frustasi dan putus asa. Apa yang mereka punya adalah hanya "hati" dan "perasaan".

Dengan

itu

mereka bisa tahu bahwa ada yang tidak adil, ada yang tidak beres, ada yang bacin, ada yang borok. Tetapi karena mereka tidak sekolah, tidak pandai menggunakan kata- kata, mereka tidak bisa membuktikan, menjelaskan, menganalisis tentang ketidakadilan

itu.

Orang-orang sekolah yang "pintar"

bisa membolak-balik kalimat dan paragraf untuk membuktikan bahwa ketidakadilan yang mereka rasakan

itu

tidak ada. Lalu mereka tidak punya alat lain kecuali hati yang dongkol. Ketika mereka mulai marah, mereka disalahkan sebagai orang-orang yang tidak beradab, bermental "primordial", tidak rasional, taklid buta sama pemimpin, dan segala macam. Mereka lalu bingung sendiri. Mereka lalu seperti "terpenjara" oleh kebodohan mereka.

Celakanya lagi adalah bahwa orang-orang NU ini

mempunyai presiden yang

dari

segala segi memang

tidak

mencerminkan seorang "superman" yang

dibutuhkan untuk

28

(31)

Cataar Getir

melakukan mission impossible guna menyelamatkan Indonesia yang sedang sakit keras. Mereka juga tidak tahu, kenapa pemimpin mereka yang memang dari awal sudah ketahuan bukan "super- man"

itu

diangkat

jadi

"raja"

untuk

memimpin sebuah negeri yang karena besamya masalah

di

dalamnya, sedang butuh "su- perman". Orang-orang NU itu, cepat berkesimpulan bahwa "kiai"

mereka memang mau diangkat sekadar untuk disakiti oleh para tokoh cerdik-pandai yang

lihai

menggunakan kata-kata, "Kami telah keliru memilihnya. Apa kelirunya orang salah mengoreksi trndakannya sendiri".

Lalu orang-orang

lain

ramai-ramai membodohkan orang- orang NU. "Mereka

ini

tak tahu politik", kata seorang cerdik di kamamya yang penuh tumpukan buku kepada seorang wartawan.

"Mereka orang

NU

tidak bisa memegang negara", kata yang lain dengan perasaan tinggi hati. "Mana bisa negara diatur dengan cara pesantren",

ujar

seorang pengamat dengan nada sinis.

Seorang

cerdrk lain yang sudah lama jengkel pada NU

mengatakan, "Dasar

NU!"

Kalimat

itu

dimuat besar-besaran di koran-koran. Orang-orang

NU

yang meskipun dicap "bodoh"

tetap bemiat belajar dan membaca koran itu, marah dan dongkol.

Sedap hari orang-orang yang dicap "bodoh"

itu

mendengar orang.orang cerdik-pandai di Jakarta "membodohkan" mereka, dan mereka hanya "bengong" di depan televisi, dan tak bisa apa- apa. '[btapi, anehnya, orang-orang bodoh yang tak terdidik ini, lrka pemrlihan umum tiba, mendadak mendapat tamu orang-or- ang "pintar" dari Jakarta untuk meminta "suara" mereka. Seperti

calo-calo yang gigih mencari TK\V di pedusunan

yang kebanyakan dihuni orang-orang NU itu, para cerdikpandai kota tersebut mengobral janji, bermulut manis, bermuka cerah, tangan mereka pun ringan menebar duit.

Gtapi, setelah pemilihan usai, dan seluruh kursi dibagi rata,

"suara" orang-orang bodoh

itu

hanya dianggap sebagai "kentut"

yang segera berlalu. Kalau orang-orang bodoh

itu

protes, orang- orang pintar

itu

akan mengatakan, "Suara kalian hanya 'sampel'

29

(32)

Bahrul'Ulua. "Bodohnla NU" apa "NU D,bodohi"'l

saja dari suara rakyat, dan belum tentu mewakili seluruh rakyat.

Jadi, tolong jangan paksakan kehendak, maka kalian melawan aturan main demokrasi". Orang-orang yang dibodohkan

itu

pun tidak bisa menjawab apa-apa. Dan kalimat orang.orang pintar

itu akan dimuat

besar-besaran

di media, dan

kemudian dikomentari oleh orang-orang

pintar

yang

lain,

dan begitu seterusnya.

Yang orang.orang NU makin tidak tahu dan bingung adalah

bahwa tindakan.tindakan yang mereka lakukan

selalu

"menghantam" dirinya sendiri, persis seperti senjata bumerang

di

tangan para Aborilin yang juga "bodoh"

itu.

Mereka mengira bahwa dengan marah besar dan menghancurkan gelas dan piring, semua orang akan menoleh dan memberikan perhartian, atau takut dan kemudian mendengarkan apa yang mereka suarakan.

IGbalikan dari apa yang mereka harapkan, kemarahan itu iustru menjadi "amunisi" buat orang-orang pintar untuk berbuat hal.

hal lain yang menambahi sakit hati mereka. Bukan diperhatikan atau didengarkan keluhannya, mereka malah "dikutuk" untuk

"disumpahi".

Yang ada di benak mereka itu, boleh jadi, hanya satu: kalau orang lain boleh manjatuhkan "raja" mereka dengan cara dan prosedur (yang "beradab") apa pun, kenapa mereka tak boleh membela si raja itu. Orang-orang pintar akan mengatakan kepada mereka, "Kaliah sih pakai kekerasan. Kalau mau ikut'main pulitil', kalian harus gunakan cara yang demokratis". Karena mereka

ini

bodoh, mereka.tak

tahu

apa yang dimaksud dengan "cara demokratis'

itu.

Yang mereka tahu adalah

bahwa

orang lain yang kebetulan "pintar" juga "menghalalkan" segala cara utnuk berbuat apa saja. Ketika mereka mau

mengikuti

"langgam bermain" orang-orang pintar yang bisa "menghalalkan" segala hal

itu,

tiba.tiba mereka "dihardik" orang [ain, bahkan dimarahi.

Mereka tak tahu: siapa yang salah, siapa yang benar.

Rupanya "per.pulitik-an" terlalu canggih buat orang-orang

NU

yang

tak terdidik itu.

Setiap selangkah, mereka selalu

l0

(33)

Cabrn Getir

"diskak" terus. Ketika papan catur itu mereka hancurkan, karena sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi, mereka &kutuk ramai- ramai, "Kalau kalian hancurkan papan catur, bagaimana kita bisa main catur. Kalau kalian mau menang, ikutilah aturan main, dan marnlah hrngga habis". Ketika mereka dengan sadar mau main lagi, mereka "di

-Frliril-i"

kembali.

Jadi, nasihat yang baik buat orang-orang

NU

barangkali dengan mengatakan, "Diamlah kalian, karena kalian kalah pintar dari yang lain. Kalau kalian 'marah', orang-orang

pintar

akan

'memluntir'

kemarahan kalian untuk'membodoh-bodohkan' kalian. Jangan berbuat kerusakan, karena orang-orang pintar akan 'mengutuk' kalian sebagai tidak tahu demokrasi. Belaiarlah pada orang-orang pintar di kota itu; mereka berbuat 'kerusakan' secara 'beradab' dan

licin,

tetapi mereka

dipuji

semua orang.

Kalau kalian sudah bisa berbuat kerusakan secara'beradaH seperti mereka, barulah kalian boleh

ikut

main. Jangan lupa, itulah aturan mainnya".

* * *

31

(34)
(35)

Catatan Getir Kedua:

TRAGEDI lllU: "DlB0D0Hl 0BANG NU"

DATII

"DIBODOHI OBAilG IAIN" (?}

Agus Yahya't

" Be tapa menghiba kan, ke tika dalam beberapa soal, kejujuran selalu kalah oleh permainan.permainau pencitraan. Antara watak

normatifdan e kspresi ptm bisa me niadi pandoks manakala 'kelicinarf yang ditopang modal kecanggihan in&astruktur lebih

mampu'bermain' ketimbang kepolosan-kepolosanyang hanya mengandalkan kapital 'rasa' dan 'kultur'.'

fAmir Mahmnd NS, SuaraMerdel,a, 15

F&rai20ol]

tul lllama (NU), dengan jumlah warga selcitar

empat puluh iuta orang merupakan

sebuah

organisasi sosial keagamaan (j am' iyy

ah

dinfu1 ah) terbesar

di

Indonesia, bahkan mungkin

di

dunia. Seperti itulah pendapat Aryumardi Azra dalam mengawali tulisan pengantarnya di buku

"NU

Liberal". Sungguh t'antastik bukan?

*) Agus Yohyo adalah Ketua Umum Pimpinan Wilayah Ikatan Putra Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Jawa lengah. Saatini masih aktifsebagai mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (UNNES), dan dosendi Llniversiras Wahid Hasyim (LiWH) Semarang.

33

(36)

Bahrd'Ulum: "Bodolmla NU" apa"NU Dibodohi"t

Sayang, potensi yang demikian besar itu, paling tidak secara

kuancitad( sepanjang perjalanan seiarahnya dalam melenggang

di

atas panggung politik, selalu "dikibuli" dan "di-pulirrJ<-i" oleh rival-rivalnya. Dkatakan selalu "di-pultik-i" karena fakta yang

kita

saksikan naga-naganya memang menunjukkan demikian.

Paling tidak, sepanjang refemsi yang saya ketahui, setidaknya ada tiga kekalahan NU dalam berpolitik.

Pertana, saat

NU

berhasil

"dihbuli"

oleh Masyumi. Awal mulanya, oleh para aktivis penggagas Masyumi, tokoh-tokoh NU, lantaran kekuatan massa besamya, "dirayu" untuk ikut man&gani Masyumi dengan "&iming-imingi" jabatan strategis berupa ketua Majelis Syuro atau "Dewan Konsultatifl' yang

memilih

otoritas penuh dalam mengarahkan laju gerak Masyumi. Benar memang, kalau saat itu yang menjadi ketua Majelis Syuro Masyumi adalah

K.H.

Hasyim

Asy'ari. Namun

sayang, peran

dan

fungsinya

"dimandulkan". "Omongan-omongan"-nya tak pemah "digubris.

Farwa-fa rwanya selalu diabaikan.

Dalam kondisi seperti itu, para tokoh NU masih juga "diejex"' oleh para aktivis Masyumi non-Nu. "Politik itu Saudara-saudara, tidak hsa dibicarakan sambil memegang tasbih, urusan

politik

ini cukup luas, tidak hanya berada di sekeliling pondok pesantren.

Politik itu luas menyebar ke seluruh dunia", sindir tokoh Masyumi yang juga Valikota Yogyakarta Muhammad Saleh.

Bukan

hal

aneh karenanya,

jikalau

pada Muktamar

NU

ke-19 di Palembang tahun 1952, NU menyatakan diri keluar dari Masyumi. Yah, karena merasa "dikibuli", karena merasa "di.apusi", karena merasa "dibodohi", dan karena merasa "dieiek". Dalam keadaan "jengkel", "dongkol", dan "kecewa",

K.H.

Saifuddin Zuhri menjelaskan mengapa

NU

keluar dari Masyumi. Katanya,

"Soalnya sederhana saja.

NU

sudah lama merasa diperlakukan tidak adil oleh dominasi golongan dan perorangan yang kuat kedudukannya lantaran struktur organisasi yang berlaku".

Kekalahan kedua, rerladt pada saat

NU

berfusi dalam PPP

Apa lacur, memang nasib

NU

tak pernah mujur, pada Pemilu

34

(37)

CaatanGeth

1982, PPP

di

bawah kepemimpinan

HJ.

Naro, orang-orang NU

"disikat"

semua secara kasar.

Hampir

seluruh Caleg (Calon LegislaeiQ

NU

paling berpengaruh, diposisikan dalam deretan

"kursi tidak jadi" alias "cadangan". Lahirlah kemudian, kepurusan

"mahapenting" dalam sejarah perjalanan sejarah NU. Yaitu, pada Muktamar NU ke-2? di Situbondo, tanggal 8-12 Desember 1984, NU menyatakan diri kembali ke lJritraJr 1926. Dan itu sama halnya bahwa

NU

menarik diri dari hiruk-pikuk politik, dan lebih con- cem

&

wilayah sosial keagamaan.

Dan kekalahan ketiga te4adi menyusul keputusan tokoh-

tokoh NU untuk menuruti

aspirasi

politik

warganya dalam mendirikan partai

politik

lagi

di

era reformasi. Usai Soeharto

lengser, PBNU memfasilitasi berdirinya PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Berangkat

dari sinilah

"peristiwa pengibulan

NU"

kembali te4adi. Gpamya ketika tokoh utama NU, Abdurrahman Wahid oleh "orang lain" ramai-ramai "diangkat" menjadi presiden menggantikan Habibie pada SU MPR 1999. Namun belum genap usia kepemimpinannya,

ia

"dilengserkan dengan tidak hormat"

dan "ramai-ramai" pula oleh "orang lain"

itu,

yang dulu gigih mengegolkannya menjadi presiden. Sebut saja Amien Rais, dan kawan-kawan!

Dari

serentetan kekalahan

itu,

hemat saya, kekalahan

ketigalah yang paling menyakitkan dan masih

terasa kepedihannya hingga sekarang. Tiagis dan dramatis, seorang AMurrahman Wahid (Gus

Dur)

yang dikenal "piawai" dalam berpolitik diturunkan "dengan paksa" dari kursi kepresidenan.

Sebelum diturunkan, amunisi.amunisi

politik'totor"

berkali-kali dan bertubi-tubi dilemparkan oleh rival-rival politiknya. Entah

itu

persangkaan ferselingkuhan (kasus Ariantigate). Entah

itu

persangkaan korupsi (kasus Buloggate). Entah

itu

persangkaan kesehatan

jiwa

(mental Gus

Dur dinilai

sudah

tidak

waras lantaran pernyataan-pernyataan kontroversialnya tidak pernah terbukti). Entah itu persangkaan-persangkaan

lain-yang

naifnya, hingga sekarang, seluruh persangkaan

itu

belum juga terbukti-

35

(38)

Bohtul'Ulum: "Bodohrqa NU" aba"NU Dibodofii"?

Dari tilikan psikososial, hal

itu

sudah menjamah "wilayah rawan" yang kalau siapa pun berani menyinggungnya, orang yang sopan sekali pun akan menjadi beringas, orang yang penakut sekali pun akan meniadi pemberani. Wilayah rawan

itu

adalah persoalan "harga

diri".

Yah, orang

NU

merasa harga dirinya diiniak-injak!

Orang NU tentu saja sangat "tersinggung" atas segala cacian dan pencitraan yang diterimanya. Namun apa boleh dikata, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Mereka serba salah. Maju kena, mundur pun kena. Pemah memang suatu kali, sebelum Gus Dur benar-benar diturunkan, di Jawa Timur teriadi aksi "penebangan pohon" oleh massa NU, sebagai luapan "rasa kesal" dan "tidak terima" atas penghinaan yang diterima oleh kiainya. Namun apa yang terjadi kemudian, massa

NU

yang sebagian besar "orang.

orang bodoh" alias

"tak

berpendidikan"

itu

harus menerima pencitraan tidak mengenakkan.

NU

bagai masuk sebuah perangkap yang sudah lama dipersiapkan oleh musuh-musuhnya, mereka Iantas dicitrakan brutal, berbahaya, anarkhis, biadab, dan "kampungan". Padahal tidak demikian adanya, mereka hanya "memberontak" karena diperlakukan tidak adil, harga dirinya diinjak.injak. Dan siapa pun yang mengalami hal seperti iru, pastilah akan memiliki reaksi lang tak jauh berbeda sebetulnya. Grjadilah sebuah pembunuhan karakter (cAcract

er

ossasinatbn\ terhadap

NU

yang dilakukan oleh "orang

lairi'.

Dalam konteks

itu,

warga

NU

yang sedikit

"pandai" pastilah bergumam, "Karena

NU

yang

terlalu'iujur',

terlalu 'polos', dan terlalu 'bodoh', karena

NU

'tidak bisa liciP, 'tidak bisa bermain politik canggih', tidak 'pintar ngaplsi'. Maka kareana

itu

pulalah akhimya mereka mati sendiri".

Mengomentari hal itu,

Amir

Machmud, seorang wartawan senior Slara Merdeka menulis, "Betapa menghibakan, ketika dalam beberapa soal, kejujuran selalu kalah oleh permainan- permainan pencitraan. Antara watak normatif dan ekspresi pun menjadi paradoks manakala 'kelicinan' yang ditopang modal

%

(39)

Cdatnr Geti kecanggihan

infrastrukur lebih mampu'bermain'

ketimbang kepolosan-kepolosan yang hanya mengandalkan kapital'rasa' dan

'kultur'."

Itulah

sepenggal kisah-kisah menarik dan memilukan sepanjang perjalanan NU. Pertanyaannya, harus bagaimanakah

kita

menyikapinya

untuk

kebaikan

NU di

masa saat

ini

dan

mendatang? Apakah seIamanya kita menghujat

dan menyalahkan 'brang lain"? Ataukah kita akan sedikit arif dengan mengoreksi dan mengintrospeksi diri sendiri? Ataukah kita hanya akan menganggapnya biasa-biasa saja, cwek bebek, dan selanjutnya tidak perlu berbuat apa-apa lagi? Saya kira, ffrman Tilhan yang berbunyi, "Uhatlah masa lalumu

uttuk

(kcbaikan) masa dcpaurut"

dan

firman

yang berbunyi,

"Korekilah

dirimu sebelum engkau dikmeki

uanghiri'

adalah jawaban yang menarik dan lebih bijak.

Dengan

bahasa yang berbeda,

akan lebih arif

kalau kemudian, kita warga NU segera melakukan evaluasi diri, sembari berpikir jangka panjang. Dan membodoh-bodohkan

diri

sendiri terasa lebih biiak bila dibandingkan selalu mengaku benar.

Gntu

hal ini dalam konteks mengurai benang yang sudah kusut perihal apa yang menyebabkan NU menjadi demikian terpuruk. Setelah

itu,

selanjumya apa yang harus dirombak demi kebaikan NU di masa mendatang; itulah yang harus dipikirkan.

Untuk itu, kiranya dua pemyataan dan sekaligus pertanyaan saya di berikut ini tidak ada salahnya bila kita renungkan bersama- samai Perlaflta, mungkinkah "kekalahan-kekalahan'

NU itu-

jangan-jangan-benar-benar karena "kebodohan

NU".

Yang lantaran kebodohannya itu, orang NU justru gampang 'dibodohi"

tidak hanya oleh "orang

lairf', tapi-iangan-jangan-iuga

oleh

"orang

NU"

sendiril

Kedaa, mungkinkah "kekalahan-kekalahan" NU itu, karena

NU

selalu bingung menempatkan posisinya, antara sebagai organisasi sosial keagamaan

murni

(kembali

ke khituh

1926) araukah sebagai organisasi

politik

seperti masa Pemilu 19551

Gmpaknya kedua pernyataan dan sekaligus pertanyaan

itu

37

(40)

Balrrul 'Ulum : "Bodofrn1aNU" abo"NU DiboA&i"?

tidaklah mudah kita jawab. Karena

itu,

menjadi PR (Pekerjaan Rumah) kita semua untuk meniawabnya, termasuk PR bagi Bahrul

'Ulum

sang empunya buku yang ada dalam genggaman Anda

ini.***

Semarang, 29 Juli 2002

"Ketika matahari bertengger

di

atas Jl. Dr.

Gpto

180"

38

(41)

Blcllt PE[rlitl

"NU

mungkin bukan suatu gerakan politik, tetapi ia tetap akan menjadi suatu kekuatan politik. Dengan demikian ia

tidak bisa meniauh dari

politik

sama sekali"

IAniheFeilluil]

L

! 1l

{r

(42)

Referensi

Dokumen terkait

Menurut saya penting untuk memadai guna mendukung berbagai hal yang meningkatkan pertumbuhan dan

PENGARUH PERMAINAN FINGER PAINTING TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS AWAL SISWA TUNALARAS KELAS I SLB-E BHINA PUTERA SURAKARTA TAHUN AJARAN 2016/2017.. Skripsi,

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan: (1) kemandirian siswa kelas X MIPA SMA Negeri 1 Teras Boyolali tahun pelajaran 2016/2017 semester genap pada materi reaksi redoks

Penelitian ini bertujuan untuk melengkapi data tentang aspek biologi ular yang dilindungi dan untuk mengetahui biologi reproduksi dan konsumsi pakan ular sanca sawah putih

Sebuah Tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Humaniora Bidang Linguistik (M.Hum.) pada Sekolah Pascasarjana. Universitas

This fact attracts many scholars in the fields of religious tolerance and pluralism such as Budhi Munawar-Rachman who wrote Islam dan Pluralisme Nurcholish Madjid

Tujuan dibuatnya Pemantau Keamanan menggunakan Webcam berbasis Aplikasi J2ME adalah Sistem Camera (Webcam) yang memantau keadaan sekitar objek yang didapat, dan

Hasil penelitian membuktikan bahwa (1) Persentase ketuntasan individual meningkat dari 17 siswa yang tuntas pada siklus I, 19 siswa tuntas di siklus II, dan 21